Melihat View Menarik Hutan Desa Binaan Yayasan Palung

Hutan dan Sungai Cabang Tiga di Hutan Desa Padu Banjar. (Foto Capture dari video Hutan Desa Padu Banjar/Hendri, YP).

Ya, view (pemandangan) menarik terkadang bisa menjadi pilihan sebagai obat penawar dan bisa menjadi penenang (menenangkan) jiwa karena keindahannya.

Seperti misalnya, Hutan Desa binaan Yayasan Palung itu berada di Hutan Desa (HD) Padu Banjar di wilayah Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat pun menawarkan keindahan yang memanjakan mata.

Pemandangan menarik itu tentu saja karena keindahan hutannya yang masih terlihat rimbun nan hijau dan sungai-sungai yang berada di sekitarnya.

Menariknya lagi, menurut cerita masyarakat setempat, di bagian timur wilayah HD ini ada tiga (3) sungai yang masyarakat setempat menyebutnya Sungai Cabang Tiga yang saling terhubung.

Lihat juga video di Instagram :

Adapun nama-nama dari Sungai Cabang Tiga itu  antara lain adalah :

Pertama, Sungai Nasir sungai lurus. Disebut Sungai Nasir karena orang pertama yang menemukan sungai itu bernama Nasir.

Kedua, Sungai Meranti  sungai sebelah kiri. Disebut Sungai meranti karena dulunya di wilayah itu banyak pohon meranti.

Ketiga, Sungai Purang Sungai sebelah kanan. Disebut purang di wilayah itu diperkirakan banyak kayu purang.

Di ujung Timur Hutan Desa Padu Banjar juga terdapat Sungai Rawa Gambut yang menjadi habitat (rumah) yang nyaman bagi ikan, buaya muara dan beberapa burung air. 

Seperti diketahui, luas Hutan Desa Padu Banjar kurang lebih 2.883 Ha.

 Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hutan Menyapa Menanti Asa

Deforestasi yang terjadi di Kalimantan. (Foto : Rhett A Butler/ mongabay.co.id).

Hutan  semestinya satu itu yang aku tahu

Kini andai boleh lagi menyatu

Peduli itu kata yang ku tahu, tapi aku hanya benalu

Aku (kita manusia) sekarang benalu, benalu yang selalu menjadi parasit dari waktu ke waktu

Lihatlah, hutan yang tak lagi mampu kuat menopang

Kering kerontang yang tak jarang menjadi bomerang

Gaduh mengaduh tak ubah seperti perang

Lihatlah hutan diserang, diterjang dan semakin sulit diperjuang

Hutan dan aku semestinya satu, bukan rebah tak berdaya tetapi kokoh berdiri

Kita sebagai bagian dari satu kesatuan hutan selalu punya mimpi

Menjadi hutan berarti menjadi payung dan penopang yang harus lestari

Hingga kini yang ku tahu dari dulu adalah kata untuk selalu harmoni

Hutan, kita dan satwa, itu yang katanya harus satu dan harmoni selalu

Mengapa hingga kini tak sedikit yang megeluh dan mengadu

Mengadu tentang riuh hutan dan satwa  yang menangis sendu

Ruang rindu hutan yang kokoh tersisa tak lagi mampu  

Hutan dan kita sama-sama terjepit dalam sunyi sepi tanpa banyak yang peduli

Congkak mulut dan tangan-tangan tak terlihat berteriak, bersorak selalu mengintai

Nada-nada bijaksana berganti fatamorgana yang mengintai

Menanti pongah serapah, seingatku hutan dan kita sama tidak sedang baik-baik saja kini

Puisi ini juga dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/6253dbbe3794d170b22bbc32/hutan-dan-aku-bersorak-menanti-asa

Ketapang, Kalbar, 11 April 2022

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Agro forestry Kopi Dataran Rendah Kalimantan

Kopi Merupakan Komoditi yang cukup potensial dan menjanjikan bagi petani kopi yang ada di Kabupaten Kayong Utara Khususnya di Desa Penjalaan Kecamatan Simpang Hilir.

Komoditi yang termasuk Dalam Tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu ini cukup banyak di wilayah Kecamatan Simpang Hilir begitu banyak peminat kopi Robusta ini, akan tetapi masih lemahnya pemahaman tentang budidaya kopi dengan hasil kwalitas tinggi,menyebabkan terkendalanya upaya pemasaran keluar Kayong Utara.

Perlunya kerjasama dari semua pihak dalam pengembangan komoditi kopi sangat diharapkan pemahaman dan pengetahuan lebih oleh petani kopi sangat diperlukan agar komoditi kopi bisa menjadi salah satu komoditi yang mampu bersaing dalam era globalisasi ini.

Evoria pada tanaman sawit juga menjadi salah satu tantangan bagi petani kopi sebab masyarakat pada umumnya lebih memilih tanaman sawit dibandingkan menanam pohon kopi, walau demikian adanya hampir disetiap rumah didesa penjalaan memiliki pohon kopi walau hanya tinggal beberapa pohon.

Didesa penjalaan kopi mempunyai nilai budaya dikalangan masyarakat desa penjalaan,salah satu contohnya hingga saat ini masyarakat masih menggunakan biji kopi ketika ada beruahan/kenduri di mana biji kopi digunakan untuk membaca surah Al-Ikhlas dan setelah beberapa hari kedepan biji kopi tersebut di giling menjadi tepung kopi dan di minum kembali oleh warga yang hadir saat kenduri,masyarakat juga menggunakan bubuk kopi sebagai obat luka menghentikan darah serta menggunakan bubuk kopi pada saat ada yang terkena penyakit stip demikian adanya kopi di kalangan masyarakat desa penjalaan kecamatan simpang hilir.

Pada beberapa waktu yang lalu Saya diberangkatkan Oleh KPH Kayong bekerja sama dengan Yayasan Palung ke Jakarta untuk menghadiri acara Festival Agroforestry kopi di Jakarta, begitu banyak informasi serta pengalaman yang saya dapatkan pada saat acara vestival agroforestry kopi di Jakarta yang di adakan oleh kementrian LHK,beberapa informasi yang dapat saya bagikan seperti saya tulis di bawah ini.

Beberapa jenis kopi Kalimantan yang cukup dikenal di Indonesia, diantaranya Robusta, Arabika, Exelsa dan Liberica. Sementara varietas yang cukup banyak di Indonesia adalah Robusta, walau demikian Liberika maupun Exelsa juga tergolong banyak dan cukup laku keras di Indonesia.

Hingga kini, berdasarkan likwit (yang tercatat penghasil kopi dunia), Indonesia belum termasuk penghasil kopi Dunia, Padahal dilihat dari perdagangan Dunia, Kopi termasuk nomor Dua (2) Dunia yang di perdagangkan setelah minyak.

Transportasi yang tergolong mahal menjadi kendala kopi di Indonesia  masuk ke pasaran Dunia, ditambah Kualitas yang masih perlu ditingkatkan di kalangan petani kopi juga menjadi salah satu masalah yang perlu diperhatikan bersama.

Kini Peminat kopi semangkin bertambah di Indonesia,terutama bagi kaum milenial,walau demikian penikmat kopi Pada kalangan umur empat puluh (40) han hingga empat puluh tahun keatas tetap lebih banyak.

Semoga natinya Komoditi Kopi Akan Menjadi Komoditi Unggulan Di Indonesia dan semoga Indonesia Bisa menjadi negara penghasil kopi nomor Satu (1) tingkat Dunia.

Ilham- Sekretaris LPHD Simpang Keramat, Desa Penjalaan

Kualitas Habitat Orangutan di Kawasan Hutan Desa Binaan Yayasan Palung

Andre sedang mencatat data di lapangan. (Foto : Andre/Yayasan Palung)

Hutan Desa (HD) merupakan hutan yang telah diberikan hak pengelolaannya kepada masyarakat yang bertujuan untuk kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat disekitarnya. Hutan desa memiliki peran penting dalam upaya mendukung kelestarian keanekaragaman hayati termasuk kelangsungan hidup berbagai jenis satwa liar didalamnya. Dalam upaya pengelolaan hutan desa, kami rutin melakukan survei mengenai populasi orangutan dan kualitas habitat orangutan setiap tahunnya.

Pada tahun 2021, kami melakukan survei kualitas habitat orangutan di 6 hutan desa binaan Yayasan Palung. Tepatnya di lansekap hutan lindung gambut Sungai Paduan (hutan desa Padu Banjar, Nipah Kuning, Pemangkat, Pulau Kumbang) dan di lansekap hutan produksi Sungai Purang (hutan desa Penjalaan dan Rantau Panjang). Secara administrasi hutan desa ini berada di kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Metode yang kami gunakan dalam survei ini adalah metode jalur berpetak. Peletakan jalur dibuat secara sengaja (purpossive). Sampling dibuat sebanyak 16 jalur dengan panjang masing-masing 1000 meter dan didalamnya terdapat total 64 plot berukuran 10 × 100 meter. Setiap jalur dibagi menjadi 4 plot dengan interval antar plot sepanjang 200 meter. Kami mendata semua jenis pohon berukuran diameter 10 cm keatas, memberi tagging pada pohon karena ini merupakan plot permanen yang akan di monitoring setiap tahunnya.

Habitat pada lokasi survei umumnya berupa habitat hutan rawa gambut sekunder. Berdasarkan hasil survei, terdata 102 jenis pohon di lansekap HLG Sungai Paduan sedangkan di lansekap HP Sungai Purang terdata 94 jenis pohon. Indeks nilai penting (INP) tertinggi pada lansekap HLG Sungai Paduan adalah medang (Litsea gracilipes) dengan INP sebesar 30,82 %, diikuti mempening (Lithocarpus bancanus) dengan INP 22,23 % dan bedaru (Stemonurus secundiflorus) dengan INP 15,96 %. Sedangkan Indeks nilai penting (INP) tertinggi pada lansekap HP Sungai Purang adalah medang (Alseodaphne bancana) dengan INP sebesar 23,51 %, diikuti medang semat (Litsea angulata) dengan INP 17,47 % dan ensibar (Elaeocarpus mastersii) dengan INP 15,96 %.

Ara pencekik, salah satu jenis pakan orangutan. (Foto : Andre Ronaldo/Yayasan Palung)

Tumbuhan dengan nilai INP yang tinggi artinya memiliki daya adaptasi, kompetisi dan kemampuan reproduksi yang lebih baik dibandingan tumbuhan lainnya, sebaliknya tumbuhan dengan nilai INP yang rendah bahkan berpotensi untuk hilang dari ekosistem karena jumlahnya yang sedikit. Jenis-jenis pohon pada kedua lansekap umumnya sudah mengalami gangguan karena jenis dominan khas hutan rawa gambut seperti ramin (Gonystylus bancanus), jelutung (Dyera costulata), punak (Tetramerista glabra), nyatoh (Palaquium spp), meranti (Shorea spp) tidak dominan jika dilihat dari hasil perhitungan INP.

Indeks keanekaragaman jenis (H’) pada kedua lansekap berkisar 3,64-3,89 (artinya keanekaragaman jenisnya tinggi). Indeks keseragaman jenis (E) pada kedua lansekap berkisar 0,79-0,86 (artinya sebaran individu pada setiap jenisnya relatif sama/ merata). Indeks kekayaan jenis (R) pada kedua lansekap berkisar antara 14,01-14,45 (artinya kekayaan jenisnya tinggi). Kemudian indeks dominansi jenis (C) pada kedua lansekap sama yaitu 0,03 (artinya tidak ada jenis yang mendominasi).

Pesentase pohon pakan orangutan pada kedua lansekap berkisar 76,08-76,27% (artinya habitat tersebut ideal bagi orangutan). Habitat yang ideal bagi orangutan adalah hutan yang memiliki pohon pakan orangutan 60-80%, pohon penghasil buah-buahan sekitar 80-90% dan pohon dengan musim buah berbeda serta berbuah sepanjang tahun 30-40 %. Beberapa jenis pohon pakan orangutan yang dominan pada lansekap HLG Sungai Paduan diantaranya adalah medang (Litsea gracilipes) dengan kerapatan 44,17 pohon/ha, mempening (Lithocarpus bancanus) 37,71 pohon/ha dan nyatoh (Palaquium cochleariifolium) 14,58 pohon/ha. Sedangkan pada lansekap HP Sungai Purang jenis pakan Orangutan dominan diantaranya adalah medang (Litsea angulata) dengan kerapatan 30,63 pohon/ha, ensibar (Elaeocarpus mastersii) 23,75 pohon/ha, jungkang (Palaquium leiocarpum) 16,88 pohon/ha. Selain itu ditemukan pula jenis-jenis Ficus yang merupakan pakan favorite orangutan, diantaranya adalah Ficus sundaica, Ficus calophylla, Ficus stupenda dan Ficus variegata.

Penyebaran suatu komunitas orangutan sangat dipengaruhi oleh kondisi habitat terutama produktifitas pohon pakannya. Secara umum berdasarkan hasil analisis, kualitas habitat orangutan pada kedua lansekap relatif sama. Kedua lansekap masih cukup baik untuk mendukung kehidupan orangutan didalamnya karena memiliki ketersediaan pohon pakan orangutan. Namun ditemukan pula gangguan seperti illegal logging dan area bekas terbakar sehingga menyebabkan banyak celah hutan (canopy gap). Gangguan ini juga dapat memicu interaksi negatif orangutan dan manusia di sekitar hutan.

Tulisan ini dimuat di : https://pontianak.tribunnews.com/2022/04/05/yayasan-palung-paparkankualitas-habitat-orangutan-di-kawasan-hutan-desa-binaan

Penulis : Andre Ronaldo, Botanis Yayasan Palung

Ini Nama 6 Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat tahun 2022

Peserta yang mengikuti seleksi tahap akhir beasiswa WBOCS tahun 2022. 6 orang terpilih sebagai penerima Beasiswa. (Foto : Simon/Yayasan Palung).

Yayasan Palung telah melakukan seleksi tahap akhir Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) tahun 2022. Enam orang telah terpilih sebagai penerima beasiswa, (Senin 28/3/ 2022).

Seleksi tahap akhir dilakukan penilaian terhadap presentasi dan wawancara terhadap 12 calon penerima beasiswa oleh dewan juri di Kantor Yayasan Palung.

Pada seleksi tersebut, terpilih 6 orang yang menjadi penerima beasiswa WBOCS tahun 2022.

Enam penerima beasiswa WBOCS tersebut adalah Noni dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir, Elin Saputri dari SMA Negeri 1 Sungai Laur, Iqbal Aryanto dari SMA Negeri 3 Ketapang, Maria Angela Canthika Putri dari SMA Negeri 1 Ketapang, Rianti Sandriani dari SMA Negeri 2 Sukadana dan Galih Triyoga Putra dari SMA Negeri 1 Sandai.

Noni, Elin Saputri, Rianti Sandriani dan Galih Triyoga Putra berencana mengambil jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Untan, Iqbal Aryanto mengambil jurusan Hukum dan Maria Angela Canthika Putri mengambil jurusan Hubungan Internasional Fisip Untan.

Adapun sebagai juri pada seleksi tahap akhir WBOCS 2022 adalah Martanto, ST, MT dari Politeknik Negeri Ketapang, Sarjilah, S.Pd dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, Riyandi, S.Si., M.Si dari Jurusan Biologi Fakultas MIPA Untan dan Widiya Octa Selfiany, S.Hut., M.Hut dari Yayasan Palung.

Widiya Octa Selfiany, Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan, seleksi beasiswa WBOCS ini merupakan salah satu bentuk kepedulian dari porgram terhadap generasi muda yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan harapan generasi muda tersebut dapat menjadi penerus untuk melestarikan keberadaan Orangutan di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang.

Yayasan Palung merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat.

Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan Orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship).

Hingga tahun 2021 terdapat 49 Penerima WBOCS yang diantaranya 12 orang sudah menjadi sarjana. (Pit-YP).

YP Adakan Pelatihan Pengembangan Produk Bambu untuk Para Perajin Dampingan

Yanta dari YBL Yayasan Bambu Lestari sebagai trainer (pelatih) dalam kegiatan itu tampak serius melatih. (Foto : Tim SL/Yayasan Palung).

Tanaman bambu mudah kita dapatkan selain untuk membuat produk yang bisa dipakai namun juga bisa dijadikan sebagai sumber makanan lauk pauk dari bambu muda yang disebut Rebung.

Pada pelatihan pengembangan produk yang diselenggarakan oleh Program Sustainable Livelihood Yayasan Palung (YP) para perajin diajak untuk memanfaatkan produk dari bahan dasar bambu. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Kantor Yayasan Palung Bentangor Education Center, Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, pada Rabu-Kamis (23-24/3/2022).

Ranti Naruri, Manager Program Sustainable Livelihood (SL) Yayasan Palung, mengatakan, Setidaknya ada 11 peserta dari perajin bambu dampingan YP telah mendapatkan pelatihan pengembangan produk baik dari pengawetan bambu supaya tidak patah dan tahan lama serta motif yang belum pernah mereka buat.

YP menghadirkan Yanta dari YBL Yayasan Bambu Lestari sebagai trainer (pelatih) dalam kegiatan itu. kegiatan  yang dilaksanakan selama dua hari tersebut berjalan dengan lancar.

Foto-foto kegiatan :

Semoga ini menjadi alternatif perajin anyaman dalam memanfaatkan hasil hutan bukan kayu selain daun pandan, kata Ranti.

Produk-produk yang dianyam pada pelatihan pengembangan produk dari bahan baku bambu tersebut seperti besek dengan berbagai bentuk dan motif.

Semua rangkaian kegiatan pelatihan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang hadir.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2022/03/27/kembangkan-kreativitas-warga-yayasan-palung-beri-pelatihan-olah-kerajinan-tangan-dari-bambu

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Memperingati Hari Hutan Internasional, Yayasan Palung dan Para Pihak Tanam Pohon

Perwakilan dari setiap LPHD yang berkesempatan melakukan penanaman Pohon. (Foto : Robi Kasianus/Yayasan Palung).

Dalam Rangka memperingati hari Hutan Internasional yang dirayakan pada 21 Maret, Yayasan Palung (YP) bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Kesatuan Pengelolaan Hutan Kayong bersama dengan 7 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) binaan YP melakukan penanaman pohon secara simbolis di halaman kantor Resort KPH Kayong di desa Pemangkat Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Hendri Gunawan, Koordinator Program Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, Setelah kegiatan penanaman selesai dilakukan, kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan pembuatan Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) untuk setiap LPHD dampingan Yayasan Palung yang ada di Kecamatan Simpang Hilir.

Ada tujuh LPHD yang megikuti kegiatan tersebut seperti dari LPHD Simpang Keramat, LPHD Hutan Bersama, LPHD Alam Hijau, LPHD Kumbang Betedoeh, LPHD Banjar Lestari, LPHD Muara Palong, LPHD Batu Barat Jaya.

Foto-foto kegiatan :

Kegiatan yang dimulai pada pukul 08.00 Wib tersebut diawali dengan penanaman pohon secara simbolis di halaman Kantor Resort Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong oleh Kepala KPH Kayong, bapak Hendarto. Selanjutnya penanaman pohon dilakukan oleh Direktur Lapangan Yayasan Palung, Edi Rahman dan dari Penyuluh Kehutanan Provinsi kalimantan Barat, ibu Yuni serta dari perwakilan masing-masing tujuh LPHD kecamatan Simpang Hilir. Kemudian dilanjutkan dengan perancangan RKPS dan RKT tahun 2022 untuk semua LPHD dampingan Yayasan Palung, kata pria yang akrab disapa Hendri tersebut.

Adapun tujuan dari kegiatan Pelatihan pembuatan RKT ini yaitu terbentuknya RKPS dan RKT tahun 2022 untuk 7 LPHD di Kecamatan Simpang Hilir yang difasilitasi oleh Penyuluh kehutanan Provinsi Kalimantan Barat yang diselesnggarakan oleh Yayasan Palung dan KPH Kayong, kata Hendri.

Setidaknya ada 25 bibit pohon yang ditanam pada kegiatan tersebut, bibit pohon yang di tanam adalah matoa dan pohon ketapang.

Hendri berharap, kegiatan ini menyeragamkan dan mensinergikan program kegiatan yang akan dikerjakan secara Bersama oleh  LPHD di tujuh hutan desa kecamatan simpang hilir dengan program yayasan Palung serta program KPH agar kegiatan pengelolaan dan perlindungan hutan desa pada tahun 2022 ini dapat berjalan dengan maksimal sesuai dengan rencana yang telah disusun secara bersama.

Adapun peserta yang mengikuti kegiatan ini terdiri dari 21 orang (setiap LPHD diwakili 3 orang), dari KPH 3 orang, dari YP 3 orang dan dari DLHK Provinsi 1 orang.

tulisan ini juga dimuat di : https://kumparan.com/petrus-kanisius/memperingati-hari-hutan-internasional-yp-dan-para-pihak-tanam-pohon-1xkiU71Ta2d

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Berikut ini 12 Orang yang Lolos Seleksi Tahap I Beasiswa WBOCS tahun 2022

12 orang yang lolos seleksi tahap I WBOCS tahun 2022. (Foto dok : Simon/Yayasan Palung).

12 Orang yang Lolos Seleksi Tahap I Beasiswa WBOCS tahun 2022 adalah urutan 1-12 :

  1. Elin Saputri dari SMA Negeri 1 Sungai Laur
  2. Noni dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir
  3. Putri Adelia dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir
  4. Rianti Sandriani dari SMA Negeri 2 Sukadana
  5. Maria Angela Canthika Putri dari SMA Negeri 1 Ketapang
  6. Saskia Oktaviona dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir
  7. Paulina Miranda dari SMA Negeri 1 Sandai
  8. Avifa Salsabila dari SMA Negeri 1 Ketapang
  9. Iqbal Ariyanto dari SMA Negeri 3 Ketapang
  10. Galih Triyoga Putra dari SMA Negeri 1 Sandai
  11. Indah dari SMA Negeri 4 Ketapang
  12. Noperi dari SMA Negeri 1 Sungai Laur

Mereka berhak untuk mengikuti seleksi tahap II pada :

Hari/Tanggal : Senin 28 Maret 2022

Pukul     : 08.00 -17. 00 WIB

Tempat : Kantor Yayasan Palung Ketapang

(Yayasan Palung)

Adakan Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas untuk LPHD Binaan Yayasan Palung

Praktek pembuatan cuka kayu (asap cair). Foto : Robi/Yayasan Palung.

Setidaknya ada tiga kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung diantaranya pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) binaan yang dilakukan pada (12/3/2021) di Gedung Serba Guna Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Tiga kegiatan yang dilakukan tersebut antara lain adalah Pelatihan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dan Pembuatan pupuk organik padat dan cair, serta teknik memperbanyak herbisida (racun rumput), kata Robi Kasianus, selaku Asisten field Officer Program Hutan Desa Yayasan Palung.

Serangkaian kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang PLTB dan pembuatan pupuk organik, kata Robi.

Dalam kegiatan ini Yayasan Palung bekerjasama dengan DAOPS Manggala Agni Kalimantan X / Ketapang, Skeretaris Desa, LPHD dan Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Desa Padu Banjar dan Pulau Kumbang.

Pada pelatihan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB), sebagai pelatih adalah M. Nasir dari Manggala Agni. Sedangkan sebagai pemateri untuk pelatihan pembuatan pupuk organik adalah Asbandi dari Yayasan Palung.

Pelatihan PLTB terlebih dahulu dilakukan dengan pemaparan materi dan diskusi yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para peserta. Adapun materi yang disampaikan yaitu tentang kebakaran, pencegahan kebakaran, dan proses Pemukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

Foto-foto kegiatan:

Dalam kegiatan ini, Manggala Agni Daops Ketapang memperkenalkan produk asap cair atau cuka kayu untuk pembukaan lahan tanpa bakar. Asap cair merupakan cairan organik yang dihasilkan dari proses kondensasi asap pembakaran biomassa seperti potongan kayu. Alat yang digunakan dalam pelatihan PLTB adalah alat pembuatan cuka kayu. Proses pembuatan cuka kayu dalam pelatihan PLTB yang disampaikan kepada peserta meliputi: Penebasan lahan, pengumpulan hasil tebasan (potongan kayu), Memasukkan potongan kayu ke dalam alat pembuatan cuka kayu, Melakukan pembakaran  dan Melakukan penyulingan dari asap hasil pembakaran, tutur Robi.

Kegiatan selanjutnya adalah materi dan pembuatan pupuk organik yang disampaikan Asbandi. Kegiatan diawali dengan pemaparan sedikit materi. Selanjutnya dilakukan kegiatan pembuatan pupuk menggunakan alat dan bahan yang telah disediakan. Alat yang digunakan berupa cangkul, terpal dan parang. Sedangkan bahan yang diperlukan yaitu kotoran sapi, arang sekam, bongkol pisang, rumput kering, rumput basah, gula, EM4, dan rebung.

Proses pembuatan pupuk dilakukan dengan cara mencampur seluruh bahan yang ada. Setelah 7 minggu, bahan organik yang dicampur tadi dapat digunakan sebagai pupuk.

Selanjutnya, juga Asbandi sebagai pemateri mengajak para peserta pelatihan yang hadir untuk membuat pupuk organik cair / Mikroorganisme Lokal (MOL).

Proses pembuatan MOL tersebut dilakukan dengan memanfaatkan bahan berupa gula pasir dan batang pisang. Batang pisang dipotong hingga menjadi bagian kecil, selanjutnya potongan batang pisang dan gula pasir dengan perbandingan 50:50 dimasukan ke dalam wadah tertutup (toples). setelah 2 minggu kemudian, MOL siap digunakan.

Adapun Peserta yang hadir berjumlah 27 orang yang terdiri dari; Manggala Agni : 3 orang (1 orang sebagai pemateri), dari Pemerintah Desa Padu Banjar: 1 (SekDes), dari Desa Padu Banjar: 14 orang dan dari Desa Pulau Kumbang: 9 orang.

Di akhir kegiatan pelatihan, DAOPS Manggala Agni Kalimantan X / Ketapang menyerahkan satu unit alat pembuat asap cair kepada Edi Rahman selaku Direktur konservasi Yayasan Palung. Selanjutnya alat tersebut diserahkan kepada LPHD Padu Banjar agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Tulisan ini dimuat di : https://kumparan.com/petrus-kanisius/adakan-pelatihan-dan-peningkatan-kapasitas-untuk-lphd-binaan-yayasan-palung-1xhXaHw1wws

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Fieldtrip Peningkatan Kapasitas Relawan di Hutan Desa Simpang Tiga Sembelangaan

Erik Sulidra saat menmberikan penjelasan kepada para relawan yang melakukan identifikasi burung. (Foto : Petrus Kanisius/Yayasan Palung).

15 orang Relawan Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) berkesempatan untuk melakukan fieldtrip peningkatan kapasitas di Hutan Desa (HD) Simpang Tiga Sembelangaan, Kecamatan Nanga Tayap, Sabtu (12/3/2022).

Serangkaian kegiatan dilakukan selama satu hari tersebut diisi dengan materi dan praktek. Ada dua materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut.

Pada kesempatan pertama, Sebagai pemateri adalah Wawan Anggriandi. Wawan sapan akrabnya memberikan materi tentang THAB (Teknik Hidup Alam Bebas). Materi tersebut disampaikan oleh Wawan.

Dalam penyampaian materinya, Wawan menjelaskan tentang pentingnya kita untuk mengetahui teknik hidup di alam bebas. Pada penyampaian materi lebih ditekankan bagi relawan harus bisa menggunakan rumus AMAT (Air, Makanan, Api, dan Tempat Tinggal) saat bertahan hidup di hutan.

Wawan sebagai pemateri saat memberikan materi THAB. (Foto : Petrus Kanisius/Yayasan Palung).

Selain itu, mereka juga melakukan teknik membuat api dan membuat bivak (tempat untuk melindungi diri saat berkemah/tenda). Bivak merupakan salah satu kemampuan wajib survival di alam bebas.

Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Erik Sulidra dari Yayasan Palung. Adapun materi yang disampaikan adalah Teknik Identifikasi Burung.

Erik Sulidra sebagai pemateri berharap dengan adanya penyampaian materi ini relawan bisa meningkatkan pemahaman relawan tentang pentingnya keberadaan burung di alam dan dapat mengenalkan kepada relawan teknik identifikasi burung.

Haning Pertiwi, selaku Pembina Relawan Taruna Penja Alam (RK-TAJAM), mengatakan, semoga dengan adanya pelatihan peningkatan kapasitas ini, wawasan  anggota RK-TAJAM dapat mengajak banyak orang untuk berbuat baik kepada alam.

Foto-foto :

Saat berkegiatan, kami sangat terbantu oleh Pardi selaku pemandu (guide) dari Lembaga Pengelola Hutan Desa Simpang tiga Sembelangaan.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta. Sebelum mengakhiri semua rangkaian kegiatan, kami pun berkesempatan untuk berfoto bersama.

Tulisan ini juga dimuat di: https://kumparan.com/petrus-kanisius/fieldtrip-peningkatan-kapasitas-relawan-di-hutan-desa-simpang-3-sembelangaan-1xgO35rRciV/full

https://pontianak.tribunnews.com/2022/03/17/relawan-konservasi-tajam-tingkatkan-kapasitas-relawan-melalui-field-trip-di-nanga-tayap

Petrus Kanisius-Yayasan Palung