Ini Manfaat Lahan Basah bagi Kehidupan

Ilustrasi Foto Hari Lahan Basah Sedunia 2023.

Setiap tanggal 2 Februari diperingati sebagai Hari Lahan Basah Sedunia (WORLD WETLANDS DAY) lho teman-teman.

Lahan basah ternyata sangat banyak memberikan manfaat Bagi ragam tumbuhan dan satwa yang ada di muka bumi ini. Selain itu, lahan basah juga bisa mencegah erosi tanah dan memberikan perlindungan terhadap banjir.

Lalu, apa yang dimaksud dengan Lahan Basah?

Lahan basah adalah kawasan dan wilayah daratan yang selalu tergenang air secara permanen atau musiman. Baca selengkapnya di Apa itu lahan basah?

Apa saja manfaat lahan basah selain sebagai makan atau tempat hidup satwa, lahan basah juga memiliki beberapa manfaat lain sebagai; penyimpanan karbon,  Sumber cadangan air bersih,  Mengurangi risiko bencana,  Habitat keanekaragaman hayati dan Kawasan mencari nafkah. Baca selengkapnya di Lahan Basah

Di Indonesia, lahan basah tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi hingga Papua. Wetland terbesar berada di benua Amerika dan Asia. Kurang lebih terdapat 30 juta hektar sebaran lahan basah di Indonesia. (sumber : Lindungi hutan).

Sejarah Hari Lahan Basah Sedunia

Hari Lahan Basah Sedunia pertama kali diselenggarakan oleh sekelompok pecinta lingkungan yang ingin merayakan dan melindungi lahan basah. Tanggal 2 Februari juga menandai tanggal ketika Konvensi Lahan Basah diadopsi di kota Ramsar, Iran pada tahun 1971. Selamat Hari Lahan Basah Sedunia.

Tulisan diolah dari berbagai sumber

Pit-Yayasan Palung

ORANGUTAN SAHABAT HUTAN DAN KONSERVASI

Foto Ilustrasi : Hutan dan Orangutan. (Foto dok. Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Seperti diketahui, hutan merupakan wilayah daratan yang ditumbuhi berbagai jenis pepohonan dan menjadi tempat tinggal dan berkembang biaknya ragam hewan dan tumbuhan.

Sebagai penghasil oksigen terbesar di bumi maka dari itu hutan disebut sebagai paru-paru dunia yang menjadi sangat penting dan bermanfaat untuk kehidupan segala mahluk di bumi ini, karena hutan membantu menstabil iklim dunia.

Namun apa yang sekarang terjadi pada nasib hutan dan orangutan?

Kondisi hutan sekarang sudah mulai berubah, tidak lagi rimbun dan raya seperti dulu dikarenakan adanya pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab dan cenderung mengorbankan alam ini.

Tidak sedikit bencana alam yang terjadi seperti kerusakan hutan misalnya disebabkan oleh ulah manusia. Hilangnya sebagian besar hutan sedikit banyak berpengaruh kepada habitat yang menjadi ruang hidup dan berkembangnya makhluk hidup.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hutan banyak sekali memberi manfaat yang bagi kehidupan kita. Maka dari itu sangatlah penting bagi kita untuk menjaga kelestarian hutan yang ada di sekitar kita.

Beberapa upaya konservasi yang dapat kita lakukan kepada hutan dan orangutan antara lain; Melakukan reboisasi atau penanaman kembali hutan-hutan yang telah rusak, walaupun reboisasi tidak sepenuhnya bisa mengembalikan kerusakan yang telah terjadi akan tetapi kegiatan reboisasi bisa sedikit mengembalikan fungsi ekosistem, membantu mengurangi karbondioksida yang ada diudara dan membangun kembali habitat satwa liar.

Keindahan alam adalah anugerah yang menumbuhkan penghargaan dan rasa syukur jagalah kehijauannya,kebersihannya,dan nikmati keindahannya maka dari itu mari kita menyelamatkan alam dimulai dari langkah kecil dari dalam diri.

Hutan dan orangutan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hutan perlu orangutan sebagai agar ia boleh berlanjut. Orangutan perlu hutan sebagai habitat sekaligus ruang hidup untuk berkembang biak.

Lalu, apa yang kita ketahui tentang orangutan?

Orangutan merupakan salah satu spesies kera besar yang hanya terdapat di Kalimantan dan Sumatera. Morfologi orangutan dapat dilihat berdasarkan warna bulu yang identik bewarna coklat kemerahan yang menutupi seluruh badannya. Orangutan jantan dewasa memiliki berat sekitar 75 kg sedangkan betina sekitar 37 kg. Orangutan jantan cenderung mengembangkan bantalan pipi mereka dan mengeluarkan seruan panjang atau disebut juga dengan long call (Panggilan panjang) untuk menarik perhatian dari lawan jenisnya.

Taukah kamu orangutan juga disebut sebagai petani hutan?

Orangutan disebut juga sebagai petani hutan karena setiap harinya mereka selalu menyemai dan memakan biji-bijian yang ada di pohon-pohon sehingga tumbuhlah tajuk-tajuk baru di pepohonan.

Baca juga : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/55e021c55697736714b8caa3/apa-saja-yang-menarik-dari-orangutan?page=1&page_images=1

Mengapa kita harus tahu tentang Orangutan?

Orangutan adalah spesies dasar bagi konservasi disebut umbrella species karena hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan. Orangutan adalah penyebar biji, memegang peranan sangat penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan.

Penulis : Program PPS dan Kristina Clara- magang dari SMK St. Petrus Ketapang, kelas XI, Jurusan Multimedia
Editor : Pit
(Yayasan Palung)

Setiap Primata Itu Berarti dan juga Unik, Yuk Kita Mengenal Primata yang Ada di Indonesia

Foto : Monpai (Macaca fascicularis) atau di Indonesia dikenal dengan nama Monyet Ekor Panjang. Foto dok. (Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Setiap primata itu berarti karena ia memiliki manfaat dan fungsi sebagai pemilihara bagi kesehatan, kelestarian ibu bumi dan nafas bagi sebagian besar makhluk lainnya. Primata juga ternyata memiliki keunikan dan perilaku masing-masing berdasarkan peran baik mereka, satu diantaranya sebagai petani di hutan.
Tanggal 30 Januari diperingati sebagai Hari Primata Indonesia (HPI). Tahun ini, HPI mengusung tema : “Setiap Primata Itu Berarti”.

Tidak sedikit Lembaga atau instansi dan komunitas berkolaborasi untuk peduli terhadap primata karena ia begitu berarti bagi tatanan kehidupan yang harus boleh berlanjut hingga nanti.
Mengutip dari TOR panitia Hari Primata Indonesia 2023, Ikon HPI 2023 adalah Monpai (Macaca fascicularis) atau di Indonesia dikenal dengan nama Monyet Ekor Panjang.

Monpai dipilih sebagai ikon HPI 2023 untuk mempromosikan dan menyuarakan perlindungannya secara lebih luas, sehingga menjadi sebuah kesadaran bagi siapapun untuk berpartisipasi dalam upaya perlindungan dan pelestariannya secara lebih bijak, dan membuatnya tetap berarti bagi alam.

Walau primata ini belum dilindungi di Indonesia, status konservasi Monpai telah meningkat ke Endangered oleh IUCN pada tahun lalu. Sebagai primata no. 1 yang paling banyak diperdagangkan, kisah pilu Monpai semakin beragam dengan konflik habitat, tren pemeliharaan, hingga konten penyiksaan sadis dan mengerikan.
Tingkah laku Monpai yang lucu sekaligus menyebalkan adalah refleksi akan dinamika kehidupan kita. Namun kemampuannya untuk beradaptasi, di lingkungan terburuk sekalipun, mengajarkan kita untuk mampu menyesuaikan diri dan bertahan di segala situasi.

Teman-teman konservasi, mengapa primata begitu penting bagi lingkungan? Satu diantaranya adalah karena primata berperan sebagai penyeimbang ekosistem. Selain itu juga, tidak bisa disangkal, primata seperti orangutan dan Owa memiliki peranan yang sangat penting bagi regenerasi hutan atau dengan kata lain orangutan merupakan si petani hutan (karena tanpa lelah dan tidak pamrih, setiap hari ia selalu menyemai biji-bijian yang nanti disebut tajuk-tajuk pohon (pohon-pohon baru) yang bermanfaat bagi keberlanjutan napas kehidupan hingga nanti.

sejarah Hari Primata Indonesia dilatar belakangi kampanye primata Indonesia oleh ProFauna Indonesia pada Januari 2001. Dalam kampanye bertema “Primate Freedom tour” itu bertujuan untuk mempromosikan perlindungan primata Indonesia.

Kampanye primata Indonesia tersebutlah yang kemudian banyak memberikan inspirasi bagi masyarakat maupun kelompok lain untuk turut melakukan kampanye primata Indonesia. Selanjutnya tanggal 30 Januari diperingati sebagai Hari Primata di Indonesia.

Nama-nama primata yang ada di Indonesia :
Dengan keragaman primata terbesar ketiga di seluruh dunia, keberadaan primata merupakan sebuah kebanggaan Indonesia terhadap kekayaan hayatinya. Setidaknya ada 64 jenis spesies primata Indonesia tersebar di seluruh nusantara.
Dari yang berukuran kecil seperti Tarsius, hingga yang berukuran besar seperti Orangutan. Dari yang bersembunyi di kegelapan malam seperti Kukang, hingga menikmati senja seperti Bekantan. Primata Indonesia selayaknya cerminan kehidupan sosial kita. Hidup dalam komunitas yang besar seperti Yaki, atau hidup dalam keluarga kecil nan harmonis selayaknya Siamang. Bahkan, kisah-kisah primata erat dengan budaya manusia, seperti tarian Turuk Uliat Bilou yang bercerita akan kegembiraan, hingga dongeng Lutung kasarung yang memberikan pesan akan cinta dan ketulusan.
Setiap primata Indonesia memiliki keunikannya, dan itu yang menjadikan mereka begitu berarti, untuk kita jaga, untuk kita lestarikan, untuk tetap menjadi kebanggaan Indonesia.
#HariPrimataIndonesia #PrimataDukungPrimata #PrimataItuBerarti
Baca juga :
https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/63d76a814e54945bd001d8b2/setiap-primata-itu-berarti-dan-juga-unik-yuk-kita-mengenal-primata-yang-ada-di-indonesia

Setiap Primata Itu Berarti dan juga Unik, Yuk Kita Mengenal Primata yang Ada di Indonesia


Foto dok : Erik Sulidra
Sumber tulisan : TOR Panitia Hari Primata Indonesia 2023
Ditulis ulang dan dirangkum oleh Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Orangutan Primata Endemik, Ternyata ia Vegetarian dan Frugivora, Ini Alasannya

Orangutan dikenal sebagai Primata endemik (hanya ada di Indonesia, sebagian Malaysia) dan sangat dilindungi, ternyata ia vegetarian dan frugivora lho, ini alasannya.

Sebagai primata/satwa terbesar yang menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon (arboreal) orangutan sangat suka memakan tumbuh-tumbuhan dan memakan buah-buahan.

Dikatakan sebagai vegetarian karena orangutan memakan sumber makan dari tumbuh-tumbuhan berupa daun muda dan kulit kayu. Sedangkan dikatakan sebagai frugivora karena orangutan sangat suka memakan buah-buahan yang ada di hutan. Orangutan bisa dikatakan hewan frugivora karena alasan ia suka berpindah-pindah tempat dan mencari wilayah/area yang banyak pohon buah.

Orangutan sangat suka menjelajahi hutan dan ia selalu membuat sarang setiap harinya. Sangat jarang sekali orangutan tinggal di sarang yang lama. Hampir dipastikan setiap sarang orangutan selalu berdekatan dengan sumber pakan (sumber makanan) berupa buah-buahan dan tumbuhan.

Orangutan bisa kembali ke lokasi awal dimana ia mencari buah ketika di wilyah tersebut banyak buah. Tidak hanya orangutan, ada pula hewan frugivora lainnya diantaranya adalah kelelawar.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di :
https://kumparan.com/petrus-kanisius/orangutan-primata-endemik-ternyata-ia-vegetarian-dan-frugivora-ini-alasannya-1zibbZWP7S0/full
Tulisan diolah dari berbagai sumber
Foto dok : Erik Sulidra
Penulis : Pit
Yayasan Palung

Kerjasama YP dengan Lembaga Mitra, Penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Pembahasan Naskah Perjanjian Kerjasama

Penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Pembahasan Naskah Perjanjian Kerjasama (PKS) telah dilakukan oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong, Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Alam Hijau, Desa Pemangkat dan dan Yayasan Palung (YP) di kantor KPH Kayong, Kabupaten Kayong Utara, Rabu (18/1/2023) pekan lalu.

Asisten Field Officer Program Hutan Desa Yayasan Palung, Robi Kasianus, mengatakan, pada penyusunan Rencana Kerja Tahunan untuk Lembaga Pengelola Hutan Desa Alam Hijau tersebut ada 5 poin yang menjadi kesepakatan Bersama diantaranya adalah: Pertama, Rencana konservasi, perlindungan, pengamanan hutan dengan rencana kegiatan adalah patroli dan penanaman. Kedua, Rencana pemanfaatan Kawasan dan pemungutan hasil hutan bukan kayu (hhbk). Ketiga, Rencana pemanfaatan Kawasan hutan. Keempat, Rencana pemanfaatan jasa lingkungan dan kelima, terkait Kearifan lokal.

Lebih lanjut, Robi mengatakan, dalam Pembahasan Naskah Perjanjian Kerjasama (PKS) antara LDPHD Alam Hijau Desa Pemangkat sebagai pemilik ijin hak kelola hutan desa menjalin kersama dengan pelaku usaha rotan, dalam hal ini pengusaha rotan.
Baca juga :

Setelah pembahasan ada juga penandatanganan naskah perjanjian tersebut oleh Euis Herawati, S.Hut selaku Kepala UPT KPH wilayah Kayong, pelaku usaha rotan, dan ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) rotan hutan.

Dalam hal ini KPH Kayong sebagai pemangku kebijakan dan Yayasan Palung sebagai pendamping mandiri.
Tulisan ini dimuat di :https://pontianak.tribunnews.com/2023/01/25/kerjasama-yp-dengan-lembaga-mitra-susun-rkt-dan-pembahasan-naskah-perjanjian-kerjasama#

Foto dok : Robi Kasianus
Penulis : Petrus Kanisius
(Yayasan Palung)

6 Satwa Dilindungi di Indonesia ini sudah sangat terancam punah!

Ilustrasi foto : (Petrus Kanisius/Yayasan Palung)

Tidak sedikit satwa dilindungi dan terancam/sangat terancam punah di Indonesia.

Enam satwa seperti Orangutan, Badak Jawa, Harimau Sumatera, Anoa, Komodo dan Cendrawasih mewakili dari banyak sekali satwa dilindungi yang ada di Indonesia.

Selain enam (satwa/hewan) ini tentu saja ada satwa-satwa lainnya yang sangat dilindungi dan terancam punah.

Yuk, sebutkan apa-apa saja satwa yang dilindungi dan yang ada di daerah kalian?

Selamatkan satwa dilindungi dari ancaman kepunahan!!!.

Baca juga :

Sumber : https://www.iucnredlist.org & permen-jenis-satwa-dan-tumbuhan-dilindungi

#satwadilindungi#satwa#satwadilindungi🐵#orangutan#komodo#anoa#harimau#cendrawasih#badak#badakjawa#dilindungidiindonesia#konservasi#konservasialam#selamatkansatwa

(Pit/Yayasan Palung)

Ini Keseruan Kami pada Rapat Tahunan Yayasan Palung tahun 2023

Foto bersama Keluarga Besar Yayasan Palung tahun 2023

Serangkaian kegiatan rapat tahunan (Annual Meeting) telah dilakukan oleh Yayasan Palung (YP) dari tanggal 10-14 Januari 2023.

Pada rapat tahunan kali ini, semua tim/program dari semua program yang ada di Yayasan Palung (Program SL, PL, PPS, Admin, Hutan Desa, dan Riset) mempresentasikan semua capaian kegiatan yang dilalukan pada tahun 2022 lalu. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan rencana kegiatan yang akan dilakukan pada tahun 2023 ini.

Yuk intip keseruan dari serangkaian kegiatan yang kami lakukan selama lima hari tersebut bisa dilihat pada foto dan video berikut ini.

Sedangkan dalam foto, adalah foto bersama ini dilakukan setelah rapat hari pertama, rapat tahunan 2023 di kantor YP Ketapang.

Dalam video ini adalah kekompakan tim riset dan tim konservasi Yayasan Palung yang menyempatkan rekreasi bersama di pantai Air Mata Permai, setelah beberapa hari sebelumnya rapat dan kegiatan pelatihan tentang gender. Sebagai narasumber pada pelatihan tentang Gender tersebut adalah Umi Reni.

Di Pantai Air Mata Permai, kegiatan yang kami lakukan adalah Gathering untuk semakin mempererat kekeluargaan. Kegiatan selanjutnya yang kami lakukan adalah game/permainan kekompakan, tentang kekompakan tim dalam permainan dan game menahan tawa. Game/permainan tersebut dibawakan oleh Simon Tampubolon.

Semoga di tahun ini dan selanjutnya semua rencana dan kegiatan Yayasan Palung bisa sesuai harapan serta lebih baik lagi.

Sehat dan sukses selalu buat kita semua. Amin…

Dokumen  foto & video : Wahyu Susanto (@waysusanto), Sumihadi, Simon, Pit dan Hendri.

@yayasan_palung @savewildorangutans

Pilot drone : Gene Estrada @thisgenef4

(Yayasan Palung)

Cerpen | Pongo Rindu Rimba yang Raya

Orangutan. Foto dok : Erik Sulidra/Yayasan Palung

Seperti terlihat secara kasat mata, dari dulu sampai sekarang ini, rimba yang tak lagi raya, tidak lagi ramah dan tidak menjadi satu kesatuan yang harmoni. Seharusnya, Pongo dan rimba tidak terpisahkan dan satu rumah sekaligus sebagai asa penyambung napas kehidupan bagi si Pongo ataupun pula makhluk lainnya.

Berayun-ayun di antara ranting pohon atau pada batang liana, itu yang menjadi kesukaan si pongo yang tidak lain adalah orangutan. Si pongo yang sangat suka menjelajahi hutan itu ternyata memiliki peran mulia.Tidak hanya berayun, pongo juga sangat suka memakan pucuk daun, kulit muda dan buah-buahan hutan.

Tidak hanya suka menjelajah hutan, si pongo kini sudah semakin merindu rimbunnya hutan yang raya juga harmoni saling menyapa bukan saling acuh kepada sesama ciptaan.

Konon, si pongo yang memiliki hobi menjelajah hutan itu saban waktu dari ke hari sampai hari ini sudah semakin rindu rimba raya.

Rindunya pongo pada rimba yang raya bukan tanpa alasan. Nada-nada rimba yang menanti asa., asa kepada semua makhluk untuk saling harmoni itu yang selalu ada sebagai harapan nyata kepada nasib yang mendiami semesta ini.   

Saat ini, nasib hidup pongo sudah semakin sulit berkelana, mencari makan dan menabur benih.

Julukan sebagai petani hutan yang melekat pada pongo pun kian rentan hilang menjelang rimba yang semakin sulit untuk raya, tetapi bukan berarti tidak ada asa.

Suatu ketika, rombongan burung riuh hilir mudik, mereka hendak bertemu dengan si pongo. Rombongan burung itu ternyata ingin berdiskusi dengan pongo terkait nasib hidup mereka di rimba raya.

Burung-burung yang hilir mudik itu ternyata adalah burung enggang, mereka dari waktu ke waktu ternyata bertanya-tanya tentang peran mereka selama ini. Resah dan gelisah tak menentu mereka pun wajar sejatinya, karena burung-burung itu sama seperti pongo yang menanti asa. Peran si Pongo dan burung-burung enggang itu tak kurang karena sebagai petani hutan.

Si Petani hutan menyebarkan benih-benih itu tak lain sebagai cikal bakal tunas baru belantara. Tunas bukan sekedar tunas, tapi tunas itu adalah harapan akan segala makhluk. Dari tunas-tunas baru itu ragam satwa dan tumbuhan bisa bernapas lega. Dari tunas-tunas itu pula segala bernyawa boleh beroleh ketenangan bukan riuh yang tanpa batas tanpa rasa peduli.

Celoteh enggang dan pongo seperti menuai rindu yang harus disambut damai tanpa menuai haru biru.

Cerita dulu tentang rimba raya yang harmoni kiranya tetap harus selalu ada, karena lestrarinya bumi, semesta raya ini tergantung kita manusia sebagai sesama makhluk ciptaan Ilahi.

Keutuhan ciptaan menjadi akar yang harus tertanam berdiri kokoh bukan tercerabut. Seperti asa pongo dan enggang ini, inginkan rimba raya tetap selalu ada. Si Pongo tidak kurang kiranya menyandang banyak julukan bukan saja sebagai petani hutan, tetapi juga sebagai spesies payung. Tidak terbayang bila hutan rimba (rimba raya) menjadi hilang tak berbekas. Tentu, nasib pongo dan segenap napas segala bernyawa lainnya akan menjadi taruhan bahkan hilang tak berkas.

Bagaimana jadinya bila hutan tanpa pongo (orangutan) atau sebaliknya? Tentu, tidak sedikit yang terpengaruh. Hutan dan orangutan tanpa kita boleh dikata tidak apa-apa. Tetapi, mampukah kita tanpa hutan dan orangutan?

Orangutan perlu hutan, hutan perlu orangutan untuk terus menumbuhkan tunas-tunas baru yang tidak lain ialah tajuk-tajuk pepohon yang disebut juga sebagai hutan.  

Cerita dulu dan sekarang sudah semakin jauh berbeda. Tentu ini tentang cerita pongo yang sejujurnya hidup begitu tulus sebagai petani hutan hingga tajuk-tajuk itu masih boleh berdiri kokoh walau tak sama seperti dulu yang pernah ada.

Raung pongah sumpah serapah kerap kali saling beradu. Beradu tentang cerita yang tidak pernah usai tentang nasib hidup si pongo dan satwa lainnya yang tak pernah berujung didera sengsara.

Sengsara di rumah yang juga habitat hidup dari satwa lainnya, itu yang terjadi pada nasib pongo saat ini dan ini menjadi bukti pongo perlu tangan-tangan tidak telihat untuk berjabat erat bukan saling menghujat.

Pongo butuh ruang hidup berupa hutan yang luas untuk menjelajah, bermain, berayun dan menyemai. Ruang hidup yang luas sebagai tanda pongo masih aman nyaman berdiam.

 Melihat, merasa dan menyana. Pongo tanpa ibu sungguh kasihan. Hutan dan ibu satu satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Ujung pena dan senapan tidak jarang menjadi ancaman nyata jiwa pongo, ujung pena dan senapan memberi napas itu bisa terampas tak berbekas.

Ujung pena pun bisa menggores luka yang tidak terlihat namun terasa di depan mata. Raung suara menggema merampas belantara. Tidak jarang pongo hilir mudik tanpa arah mencari atau kehilangan arah.

Koar kelakar tangan-tangan tidak terlihat seolah beradu nyali dan beradu domba. Tidak pernah salah, dogma yang selalu sama berujar dan terucap. Koar kelakar itu pun berujung pada nasib pongo dan manusia yang tinggal di sekitar hutan yang sama-sama berujung trusir di rumah sendiri.

Rumah pongo yang dulu tidak seperti yang ada sekarang ini. Pohon, ranting dan dahan yang kokoh semakin sulit dijumpai.

Pakan makanan semakin sulit pongo dapatkan di rimba raya yang tidak bertuan itu. Bagaimana tidak, rimba yang raya semakin sulit dijumpai, semakin sulit pongo semai. Tajuk-tajuk sudah semakin sulit bersaing dengan bangunan gedung, dengan tanaman sejenis tetapi bukan hutan.

Pasrah menyerah para satwa, itu seolah-olah tetapi itu menjadi tanda nyata yang tersaji dari mentari mulai memancar hingga senja menyapa saban hari. Ruang hidup kita (masyarakat lokal) penjaga rimba raya semakin sulit berdaya. Titah tak terbantahkan menjadi bumerang dan buah simalakama.

Bukankah, Pongo dan hutan itu penting?  Nasib sebagian besar makhluk hidup bergantung dan tergantung kepada hutan dan pongo.

Pongo perlu manusia untuk menjaga asa, asa akan semua yang peduli bukan pongah serakah tanpa arah membabi buta, bukan suara deru mesin, tetapi suara sapa yang menyambut harmoni semua secara bersatu bersuara bersuara menyerukan kata peduli dengan aksi nyata. 

Si petani hutan rindu ceria, bahagia, menanam dan menuai panen pakan buah raya agar tak paaceklik yang mencekik, jiwa yang meronta tanpa kata.                    

Kini pongo menanti asa, asa aka nada tangan-tangan mulia yang bisa menuai damai dan harmoni agar boleh kiranya peduli kepada nasib semesta sebagai ciptaan Ilahi agar boleh berlanjut sampai nanti.

Nasib pongo pun kurang lebih sama dengan anak cucu dari kita, ruang hidup menjadi prioritas, hutan yang harmoni saling menyapa, saling menyatu menjadi satu.

Asa Pongo tidak lain rimba yang raya, pakan yang melimpah dan jelajah yang luas, aman terkendali. Satu harap, semoga impian akan rimbunnya hutan, belantara yang raya dengan tindakan nyata serta kepedulian kita semua bisa mengobati dan menjadi penawar sakit penyakit yang diderita pongo serta semua napas makhluk selama ini. Mengingat, semua nafas memiliki hak yang sama untuk hidup yang harmoni di rimba yang raya.

Baca juga :

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/63c76e4308a8b537bc2ff472/asa-si-pongo-rindu-rimba-yang-raya

https://www.kosakata.org/2023/01/asa-pongo-rindu-rimba-raya.html#lcomment

Petrus Kanisius-YP

Kaleidoskop Kegiatan Yayasan Palung (YP) 2022

Berikut ini foto-foto kegiatan Yayasan Palung (YP) sepanjang tahun 2022

Baca juga :

Baca juga :

https://www.tiktok.com/@yayasan_palung

(Yayasan Palung)

PERUBAHAN IKLIM: APAKAH DAPAT BERDAMPAK PADA REGENARASI HUTAN?

Ilustrasi Foto : Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Desa Penjalaan, KKU yang terjadi pada tahun 2019. (Foto Yayasan Palung).

Perubahan iklim sering terdengar akhir-akhir ini serta menjadi masalah global. Iklim didefiniskan sebagai pola cuaca dalam periode waktu yang panjang, biasanya merupakan rata-rata lebih dari 30 tahun (IPCC, 2021). Setidaknya berbagai media banyak menyoroti permasalahan tersebut. Mengutip dari (National Geographic) perubahan iklim didefinisikan sebagai pergeseran iklim global atau regional dalam jangka panjang, seringkali perubahan iklim terkait dengan kenaikan suhu dari pertengahan abad 20 hingga sekarang. Kerap kali diberbagai media kita mendengar tentang pemanasan global, peristiwa ini satu diantaranya dipengaruhi oleh pelepasan karbon (C) dalam bentuk karbon dioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO). Energi radiasi matahari (UV) diterima oleh objek di bumi, emisi energi dipantulkan kembali ke atmosfer namun akumulasi gas yang terdapat di atmosfer juga berperan dalam kenaikan dan penurunan suhu permukaan bumi. Mengutip dari (Columbia climate School, 2021) beberapa gas seperti CO2,  menyerap radiasi inframerah dan melepaskannya kembali ke berbagai arah. Dampaknya adalah terjadinya kenaikan temperatur permukaan bumi, berbagai unsur cuaca dan iklim dipengaruhi oleh temperatur.

Ketika terjadi deforestasi dan alih fungsi lahan menyebabkan berbagai spesies tumbuhan dihilangkan di atas permukaan bumi. Kita secara tidak langsung mengganggu proses penyerapan CO2 tumbuhan, faktanya CO2 juga  merupakan produk sampingan aktivitas respirasi paru-paru manusia. Berbagai mesin yang menggunakan energi fosil, minyak bumi menghasilkan emisi CO. Setidaknya selain masalah emisi karbon, unsur lain seperti chlor/ klor (Cl) misalnya terdapat pada PVC (polyvinyl chloride) plastik, ketika Cl dilepaskan dalam bentuk gas dan bereaksi dengan ozon, yang terjadi adalah kerusakan lapisan ozon (O3) (Greesnwood & Earnshaw, 1997).

Mengutip dari The Lancet Planetery Health, kematian yang disebabkan karena suhu ekstrim banyak terjadi di negara dunia. Bukan hanya itu, jurnal The  Royal Society Publishing mengungkapkan ternyata terdapat korelasi antara temperatur dan kortisol pada hewan. Dimuat dalam buku Nussey & Whitehead yang berjudul “ Endocrinology: An Integrated Approach’ ,  kortisol berperan penting dalam proses katabolisme di jaringan otot dan anabolisme di hati, melibatkan perubahan glukosa menjadi makromolekul yang lebih kompleks yaitu glikogen. Kita mengetahui bahwa glukosa berperan penting bagi berbagai jenis organisme hidup memperoleh energi (dalam bentuk ATP) untuk beraktivitas. Bagaimana jika temperatur/suhu ekstrim? Apakah kita mampu bertahan?

Tumbuhan memiliki organ vegetatif dan generatif, pada tumbuhan berbunga (Angiospermae). organ generatif terdiri atas bunga, buah dan biji. Mungkin masih banyak yang belum mengetahui bahwa proses pembentukan bunga pada tumbuhan juga dipengaruhi oleh temperatur (Proietti et al., 2022). Terdapat temperatur optimum yang memicu aktivitas pembungaan pada tumbuhan (Wilkie et al., 2008). Contoh kasus pada tumbuhan, Sangat memungkinkan terjadi stress ketika temperatur rata-rata naik atau turun. Sehingga kita mengenal adanya istilah cekaman kekeringan pada tumbuhan (Cybext, 2019).

Bukan rahasia khusus ketika terjadi kenaikan suhu pada siklus kemarau panjang sempat menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan, terlebih diperparah oleh berbagai penyebab kemunculan titik api. Selain itu banyak negara di dunia mengalami serangan gelombang panas dan menyebabkan banyak kematian pada manusia (WHO). Gelombang panas juga dapat menyebabkan stres pada tumbuhan (Futureearth). Temperatur tinggi tidak terlalu bagus untuk pertumbuhan banyak jenis tumbuhan. Hal tersebut terkait dengan kecepatan fotosintesis, jika temperatur tinggi berlangsung selama satu minggu dapat menyebabkan kematian pada banyak jenis tumbuhan. Suhu tinggi dapat menyebabkan kehilangan air yang parah “dessication‘ ketika proses proses pelepasan air ke atmosfer terjadi (transpirasi) (IOWA State University) . Pada tumbuhan berbunga juga terdapat istilah inisiasi pembungaan. Istilah inisiasi pembungaan dapat diartikan sebagai proses transisi pertumbuhan vegetatif ke arah pertumbuhan generatif tumbuhan berbiji (Lang et Nitsch,), sehingga dapat diartikan sebagai proses pembentukan bunga, buah dan biji. Pada dasarnya buah dihasilkan oleh bunga, sedangkan biji merupakan bagian dari buah. Setiap tumbuhan memiliki temperatur optimum untuk menghasilkan bunga (Khodoroval & Boitel-Conti, 2013). Sadar atau tidak dampak perubahan iklim telah berada disekitar kita, mulai dari curah hujan yang sulit di prediksi, kenaikan dan penurunan temperatur ekstrim. Nah,  jika tidak ada bunga, biji tumbuhan berbunga dari mana? Mengingat bahwa regenerasi hutan juga tergantung pada ketersediaan biji.

  Apakah kita akan memilih untuk menjaga hutan atau sudah siap dengan teknologi canggih pengganti proses alam beregenarasi?

Kurva rata-rata temperatur meningkat pada tahun 2022 dan memperlihatkan kenaikan suhu global ( NASA GISS, NOAA, Hadcrut, Japan Meteorological, Berkeley Earth). Penguapan dan pergerakan angin dipengaruhi oleh temperatur, hal ini akan terkait dengan proses pembentukan hujan (presipitasi). Sedangkan inisiasi pebungaan juga dipengaruhi oleh peristiwa tersebut. Bagaimana apakah kita yakin pengaruh perubahan iklim belum terjadi di sekitar kita dan nyata berdampak?

Referensi :

Greenwood, NN & Earnshaw, A. Chemistry the Elements: second edition (1997) p. 422.

IPCC, 2021: Annex VII: Glossary [Matthews, J.B.R., V. Möller, R. van Diemen, J.S. Fuglestvedt, V. Masson-Delmotte, C.  Méndez, S. Semenov, A. Reisinger (eds.)]. In Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Masson-Delmotte, V., P. Zhai, A. Pirani, S.L. Connors, C. Péan, S. Berger, N. Caud, Y. Chen, L. Goldfarb, M.I. Gomis, M. Huang, K. Leitzell, E. Lonnoy, J.B.R. Matthews, T.K. Maycock, T. Waterfield, O. Yelekçi, R. Yu, and B. Zhou (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA, pp. 2215–2256, doi:10.1017/9781009157896.022.

Penulis : Gunawan Wibisono /PPS,Yayasan Palung)