BTNGP Raih Juara 3 Peserta Terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata di Bali

(BTNGP)/TANAGUPA atas raihan sebagai juara 3 peserta terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA) yang berlangsung di Bali pada 19-21 Juli 2019. Foto dok : BTNGP dan YP

Ucapan selamat kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP)/TANAGUPA atas raihan sebagai juara 3 peserta terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA) yang berlangsung di Bali pada 19-21 Juli 2019, kemarin.

Pada kesempatan tersebut, BTNGP bersama Yayasan ASRI ikut ambil bagian pada pameran yang berlangsung selama 3 hari itu.

Yayasan Palung juga pada kesempatan tersebut menitipkan beberapa produk hasil hutan bukan kayu seperti madu, tas, gelang resam kepada teman-teman dari TNGP untuk dipamerkan di Stand TNGP. Boneka Si Pongo pun ikut ambil bagian pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA).

Boneka Si Pongo dan beberapa tas, produk madu hutan dan gelang resam yang di pajang di Stand BTNGP saat Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam di Bali. Foto dok : BTNGP dan YP

TNGP  mengajak kita semua untuk berkenalan lebih dekat.  Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) merupakan kawasan pelestarian alam yang berada di Kalimantan Barat http://tngunungpalung.org/letak-luas .

Seperti dikatakan oleh bapak Bambang Hari Trimarsito, selaku Kepala SPTN 1 Sukadana, mengatakan; Kenali! Lihat! dan Kalian akan mencintainya.

Sebagai informasi, Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA) merupakan sarana untuk memperkenalkan secara lebih luas lagi dan mempromosikan  kepada masyarakat Indonesia dan dunia mengenai wisata konservasi yang ada di Indonesia. Ditengah homogenitas obyek wisata yang ditawarkan Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam Indonesia justru menyajikan obyek wisata unik, menantang, mengedukasi dan memberikan pengalaman yang berbeda tanpa meninggalkan konsep pemanfaatan taman nasional sebagai pusat wisata konservasi alam. 

Untuk melihat foto lebih banyak :

Sekali lagi, selamat kepada TNGP atas raihan sebagai peserta terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA). Semoga TNGP semakin baik dan semakin dikenal.

Petrus Kanisius -Yayasan Palung

Banyak Cara yang Bisa Dilakukan untuk Bijak Terhadap Sampah

Mengolah Botol plastik menjadi barang-barang yang bermanfaat (membuat tempat pensil, lampion dan planter dari botol bekas). Foto dok. Mayi/Yayasan Palung

Selama 2 hari (15-16 Juli 2019) kemarin, Tim PPL Yayasan Palung menjalankan kegiatan lecturing (ceramah lingkungan) di SMA Negeri 3 Simpang Hilir. Hari pertama pukul 10.00-12.00 WIB, kegiatan dimulai dengan penyampaian materi terlebih dahulu berjudul Bijak Terhadap Sampah.

Kegiatan dibuka oleh Bapak Rahmad mewakili pihak dari SMAN 3 Simpang HIlir. Selanjutnya Fitri Melyana, penerima BOCS memberikan game (permainan) Sugesti dan dilanjutkan oleh Riduwan dengan memberikan game Cermin. Dua permainan ini dimaksudkan untuk meningkatkan konsentrasi peserta. Peserta amat antusias dalam mengikuti permainan, dan ruangan dipenuhi oleh tawa siswa. Seusai permainan, Mariamah Achmad memberikan materi mulai dari pengenalan apa itu sampah, asal sampah, dampak, dan solusi mengatasi sampah.

Materi tersebut berkenaan dengan isu-isu terkini mengenai lingkungan, yang menjadi trending topic dunia internasional, seperti berita dimana perut paus sperma penuh dengan sampah. Peserta aktif dalam menjawab pertanyaan selingan yang berguna untuk mengukur wawasan mereka mengenai permasalahan di sekitarnya yang berkaitan dengan sampah.

Dari 50 siswa, 7 diantaranya mendapatkan hadiah berupa buku dan botol karena dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan benar. Selesai penyampaian materi, peserta diberikan pengarahan untuk kegiatan praktek reuse botol kemasan sekali pakai esok harinya, yaitu siswa diminta membawa botol bekas berbahan plastik (2 buah berukuran 600 ml, dan 1 buah berukuran 1500 ml), 12 buah tutup botol, resleting, jarum, benang, gunting, cutter, dan pelubang kertas. Bahan dan alat lainnya disediakan oleh Yayasan Palung.

Hari kedua, pada pukul 09.00-12.00 WIB, Peserta amat antusias dalam melakukan Praktek Reuse yang meliputi pembuatan tempat pensil, lampion dan planter dari botol bekas. Sebelum praktek dilakukan, 2 penerima BOCS yaitu Mega Oktavia Gunawan memberikan game Bis dan Reni Riasari memberikan game Tepuk Filipina, melakukan permainan untuk membuat suasana gembira. Peserta bersemangat untuk memulai kegiatan, ruangan dipenuhi oleh tawa setelah permainan selesai.

Kegiatan dimulai oleh Mariamah Achmad dengan melakukan praktek dan  mencontohkan cara membuat tempat pensil. Sambil memberikan prosedur pembuatan tempat pensil, anggota tim lainnya ikut membantu peserta yang merasa kesulitan, serta memberikan tips dan trik untuk pemotongan botol, melubangi botol dengan alat pelubang kertas, dan style menjahit resleting pada botol baik secara horizontal maupun vertikal.

Tempat pensil, lampion dan planter dari botol bekas. Foto dok : Mayi/Yayasan Palung

Selanjutnya, praktek dilakukan untuk membuat planter, mengutamakan kreativitas agar botol bekas tersebut dibuat semenarik mungkin dan fungsional sebagai wadah tanaman. Yang disarankan akan lebih baik jika pada bagian bawah botol dapat menampung air sehingga jika tidak rutin menyiram setiap hari tanaman tidak mengering. Terakhir, pembuatan lampion. Lampion ini dibuat dengan 10 tutup botol sebagai lingkaran, dan 2 tutup botol sebagai pengapit secara vertikal. Semua siswa berhasil membuat wadah pensil dan hampir setengah dari siswa juga berhasil membuat lampion dan planter.

Dari 37 siswa yang mengikuti kegiatan ini, 5 siswa diantaranya mendapatkan hadiah untuk Kategori Terinovatif, produk yang dihasilkan tidak biasa dan lain dari siswa lainnya, dan Kategori Produk Terbanyak diberikan karena ketiga produk yang dihasilkan dapat dikerjakan dengan baik. Evaluasi dari kegiatan ini adalah kesiapan peserta masih kurang untuk menyediakan alat dan bahan praktek dikarenakan kurang menangkap arahan yang disampaikan oleh tim PPL pada hari sebelumnya, dan kurangnya kesiapan beberapa anggota staf untuk membantu peserta karena belum mendapat pelatihan dalam pembuatan produk. Kegiatan ini adalah bagian dari pembinaan sekolah Adiwiyata Kayong Utara sehingga juga dihadiri oleh Bapak Hadi dari Dinas PerKimLH Kayong Utara. Kegiatan ditutup oleh Bapak Mugi selaku Ketua Tim Adiwiyata SMAN 3 Simpang Hilir.

Mariamah Achmad-Yayasan Palung

Dua Ilmuan Luar Negeri Berikan Kuliah Umum dan Pelatihan di UNAS

Cheryl Knott , Ph.D saat memberikan kuliah umum di UNAS bersama dengan Andrew J. Marshall, Ph.D , pekan lalu di Universitas Nasional (UNAS) . Foto dok : Wahyu Susanto/YP/GPOCP

Dua ilmuan luar negeri berkesempatan untuk memberikan kuliah umum dan pelatihan di Universitas Nasional (UNAS) tentang konservasi, beberapa waktu lalu.

Mereka adalah Cheryl Knott , Ph.D dan Andrew J. Marshall, Ph.D. Dua ilmuan ini sudah tidak asing di Taman Nasional Gunung Palung karena aktivitas penelitian mereka.

Selaku Direktur Eksekutif GPOCP Yayasan Palung (Gunung Palung Orangutan Conservation Program)/ Gunung Palung Orangutan Project, Cheryl Knott mengatakan; “Saya merasa terhormat untuk berbicara di UNAS (Universitas Nasional, Indonesia, di Jakarta) 9-11 Juli 2019, minggu lalu”.

Pada kesempatan tersebut, Cheryl Knott, Ph.D yang juga dosen dari Universitas Boston, USA dan Andrew J. Marshall, Ph.D selaku anggota dewan pengawas GPOCP dan sebagai Direktur  One Forest Project dan dosen di Universitas Michigan, USA berkesempatan memberikan materi kuliah umum dan pelatihan kepada Mahasiswa Pascasarjana, Fakultas Biologi, Universitas Nasional.

Sedangkan Andrew J. Marshall membahas tentang ekologi vertebrata di Taman Nasional Gunung Palung ketika memberikan kuliah umum di UNAS pekan lalu. Foto dok : Wahyu Susanto/YP/GPOCP

Pada kesempatan memberikan kuliah umum (9/7/2019) kemarin, Cheryl Knott mengupas (membahas) tentang perkembangan orangutan remaja di Taman Nasional Gunung Palung. Sedangkan Andrew J. Marshall membahas tentang ekologi vertebrata di Taman Nasional Gunung Palung.

“Kami sangat senang melihat begitu banyak rekan-rekan di Indonesia yang selama ini telah banyak mendukung kami”, ujar Cheryl.

Pada hari kedua dan ketiga  (10-11 Juli 2019) dilanjutkan dengan pelatihan yang diberikan oleh Andrew J. Marshall kepada mahasiswa Pascasarjana Biologi UNAS tentang Statistik “R”.

Statistik R merupakan analisis yang sudah umum digunakan atau dipakai oleh peneliti dunia selain metode, analisis penelitiannya. “Statistik R  akan  sangat membantu  mahasiswa dalam menganalisis hasil penelitian mereka”, ujar Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung (GPOCP).

Peserta yang mengikuti Kuliah umum dan Pelatihan. Foto dok. Wahyu Susanto/YP/GPOCP

Lebih lanjut Wahyu Susanto mengatakan, “Terselenggaranya kuliah umum dan Pelatihan di UNAS tersebut juga berkat adanya kerjasama antara Univertas Nasional (UNAS),  Universitas Boston dan Universitas Michigan sebagai kontribusi peneliti asing”.

Pada kesempatan tersebut pula Endro Setiawan dari (BTNGP) mendapatkan beasiswa pada program Pascasarjana di Program Biologi Universitas Nasional.

Endro Setiawan, Cheryl Knott dan Andrew J. Marshall. Foto dok : Wahyu Susanto/ YP/GPOCP

Setidaknya 50 orang peserta mengikuti kuliah umum dan 30 orang mengikuti pelatihan Statistik R.

Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang mengikuti kuliah dan pelatihan tersebut.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Kuliah Lapangan di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung

Beberapa peserta yang mengikuti kuliah lapangan sedang melakukan pengamatan. Foto dok : Simon Tampubolon/YP/GPOCP

Kuliah Lapangan (Field Course)

Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung bekerjasama dengan University of Michigan, USA mengadakan kuliah lapangan (pelatihan) selama 12 (dua belas) hari. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Kuliah lapangan pada tahun 2019 merupakan kegiatan ke-5 yang dilaksanakan di SRCP.

Peserta kegiatan ini berjumlah 15 orang; peserta dari Taman Nasional Gunung Palung (3 orang), dari Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (3 orang), Yayasan Palung (2 orang), Taman Nasional Kayan Mentarang (1 orang), Yayasan Planet Indonesia (1 orang), Yayasan Alam Sehat Lestari (1 orang), Orangutan Foundation (1 orang), Sebumi (1 orang), Yayasan Titian (1 orang) dan dari Yayasan IAR Indonesia (1 orang).

Pemateri pada kuliah lapangan ini yaitu Prof. Andrew J. Marshall (seorang antropolog biologi, ahli ekologi tropis, biologi konservasi dari Universitas Michigan, Amerika Serikat), Endro Setiawan (seorang parataxonomist yang bekerja sebagai Pengendali Ekosistem Hutan di BTNGP dan Kepala Unit Stasiun Riset Cabang Panti), Kiki Prio Utomo (seorang dosen pada program studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura dan sangat berpengalaman dalam masalah hidrologi dan konservasi air).

Pembukaan Kuliah Lapangan dan Perjalanan ke Lokasi Kegiatan

Pembukaan kuliah lapangan dilakukan pada hari pertama (24/6/2019) di Kantor Balai Taman Nasional Gunung Palung, Ketapang. Diawali dengan sesi perkenalan dan dilanjutkan dengan penyampaian materi awal tentang Pengenalan Hutan Hujan Tropis oleh Andrew J. Marshall dan Perjalanan Fotografi Keanekaragaman Hayati TNGP oleh Endro Setiawan.

Foto-foto kegiatan saat kuliah lapangan di SRCP. Foto dok : Simon Tampubolon/YP/GPOCP

Pada Selasa (25/6/2019) kami melakukan perjalanan menuju tempat kegiatan di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP). Kami berangkat dari Ketapang menuju Dusun Tanjung Gunung dengan perjalanan sekitar 1,5 jam menggunakan mobil. Dari Tanjung Gunung kami mulai berjalan kaki menuju Camp SRCP. Di awal perjalanan kami melewati lahan gambut bekas kebakaran sekitar 40 menit hingga kemudian memasuki hutan yang sejuk. Kami menghabiskan waktu tidak lebih dari 5 jam dengan 3 kali istirahat hingga tiba di Camp SRCP. Menurut panitia, ini merupakan perjalanan yang tercepat dibanding angkatan kuliah lapangan sebelumnya.

Kami disambut jembatan gantung yang ada di depan Camp dengan sungai jernih yang ada di bawahnya. Ingin rasanya langsung terjun ke sungai, namun apa daya badan sudah kelelahan. Sambutan hangat para asisten dan peneliti yang ada di Camp SRCP  juga sejenak mengurangi rasa lelah kami.

Materi Kuliah Lapangan

Adapun Materi yang diberikan pada kuliah lapangan diantaranya Ekologi tumbuhan dan vertebrata hutan hujan tropis, Interaksi tumbuhan dan satwa, Pengenalan survey vertebrata, Kamera Trap, Melacak satwa dan jejak kaki, Evolusi dan taksonomi tumbuhan, Karakteristik Tumbuhan, Fotografi Tumbuhan, Pengenalan penelitian ilmiah, Orangutan, Desain pengambilan sampel dan dasar statistik, Hidrologi dan Konservasi Air.

Secara keseluruhan, materi yang disampaikan sangat berhubungan dengan pekerjaan kami di bidang konservasi. Materi yang sangat menguras konsentrasi kami adalah tentang taksonomi tumbuhan. Dalam waktu yang singkat kami dikenalkan 15 family tumbuhan beserta ciri-ciri umumnya. Kami diajarkan untuk mengidentifikasi tumbuhan dengan melihat jenis daun, letak duduk daun, stipule, getah, dan bau.

Ketika di lapangan kami sangat sulit untuk mengidentifikasi tumbuhan berdasarkan teori yang sudah dijelaskan. Untuk pemula yang baru belajar identifikasi tumbuhan, banyak jenis tumbuhan yang terlihat sama walaupun nyatanya berbeda family.

Di akhir materi ini diadakan kuis identifikasi tumbuhan. Pemateri menyiapkan 15 sampel tumbuhan dengan mengambil tangkai beserta daunnya dan diletakkan di atas meja. Masing-masing peserta diberi waktu untuk menentukan family dari masing-masing sampel tumbuhan tersebut. Dari 15 sampel tumbuhan, hanya 1 peserta yang berhasil mengidentifikasi sebanyak 13 sampel.

Materi berikutnya yang cukup menarik bagi kami adalah tentang hidrologi yang disampaikan oleh Kiki Prio Utomo dari Fakultas Teknik UNTAN. Hal yang baru kami ketahui dari materi ini adalah bahwa ternyata hutan sangat mempengaruhi curah hujan di wilayah hutan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pada tahun 2015 silam, ketika kebakaran besar terjadi di Kalimantan, curah hujan di SRCP sangat tinggi berbeda dengan daerah lainnya.  

Suasana Belajar di Kelas dan Lapangan

Berada di tengah hutan Gunung Palung tidak menyurutkan semangat kami untuk belajar. Dengan suasana belajar yang lebih bebas dan santai membuat kami tidak canggung. Di hari pertama suasana kelas sedikit kaku karena peserta yang belum saling kenal. Namun di hari berikutnya kekakuan itu berubah total menjadi suasana yang hangat dan akrab. Baik di kelas maupun di lapangan kami selalu berhasil membuat suasana menjadi santai dengan gurauan kami.

Ada satu kata yang menjadi jargon kami selama mengikuti kuliah lapangan, yaitu “interesting”yang artinya menarik. Kata ini muncul karena setiap hal yang kami lihat dan kami pelajari disana sangat menarik. Hampir setiap saat kami mengucapkan kata ini baik ketika belajar di kelas maupun disaat istirahat, disaat serius maupun sedang bercanda.

Eksplorasi Habitat Hutan

Pada Minggu (30/6/2019) kami berkesempatan untuk eksplorasi habitat hutan. Kami diberikan pilihan, perjalanan menuju puncak Gunung Palung, GP 90 atau perjalanan menuju air terjun LC. Ada 7 peserta yang memilih perjalanan ke GP 90 dan yang lainnya ke air terjun LC. Dalam perjalanan menuju GP90 kami dipandu oleh Andrew J. Marshall. Sambil melakukan perjalanan kami dikenalkan beberapa tipe vegetasi di hutan tempat kami berdiri. Kami bisa melihat jelas perbedaan antara vegetasi yang satu dengan yang lainnya melalui jenis tanaman yang tumbuh, ketinggian tempat dan kerapatan pepohonan dalam hutan tersebut.

Kami juga menemukan beberapa kamera trap yang terpasang di jalur menuju GP90. Ada yang dipasang di bagian bawah dekat tanah dan dipasang di dahan pohon. Kamera trap ini dipasang untuk memantau satwa-satwa yang ada di hutan Gunung Palung.

Perjalanan ke GP90 cukup melelahkan dengan trek 90% tanjakan. Kami menghabiskan waktu tidak lebih dari 4 jam untuk sampai di GP90. Tidak ada pemandangan yang bagus di sana karena tertutup oleh pepohonan yang masih asri. Di GP90 kami foto bersama dan istirahat makan siang sekitar satu jam. Kami segera turun karena cuaca yang tiba-tiba mendung. Perjalanan turun menuju Camp sedikit lebih cepat, kami hanya perlu waktu tidak lebih dari 3 jam untuk sampai Camp.

Penelitian Ilmiah

Salah satu materi yang kami dapatkan pada kuliah lapangan ini adalah tentang penelitian ilmiah. Kami diajarkan bagaimana tahapan membuat suatu penelitian ilmiah, mulai dari menyusun pertanyaan, membuat hipotesa dan prediksi, pengambilan data dan analisa data.

Selama 4 hari terakhir di SRCP kami mendapatkan tugas yang sangat menarik. Sebagai tamu di Stasiun Riset, kami harus melakukan penelitian terkait dengan materi yang telah kami dapatkan. Kami dibagi menjadi 4 kelompok dengan topik penelitian yang berbeda. Hari pertama masing-masing kelompok mendiskusikan topik penelitian dan mempresentasikan proposal penelitian kepada pemateri dan kelompok lainnya. Ada yang meneliti tentang ngengat, penelitian epifit, penelitian kupu-kupu dan penelitian air. Hari kedua dan ketiga penelitian di lapangan, pengujian sampel, dan menganalisa data yang didapatkan. Hari terakhir saatnya mempresentasikan hasil penelitian.

Empat topik penelitian yang kami kerjakan terbilang sederhana tapi cukup memerlukan keseriusan untuk penyelesaiannya. Beberapa kali kami harus konsultasi kepada Andrew J. Marshall (pemateri penelitian ilmiah) untuk setiap permasalahan yang kami temukan terkait topik penelitian kami. Kami berhasil menyelesaikan penelitian sederhana tersebut dan mempresentasikannya kepada pemateri dan kelompok lainnya.

Binatang di Sekitaran Camp SRCP

Ada seekor babi hutan yang sering datang ke sekitar Camp SRCP. Babi hutan ini diberi nama Edi. Edi terlihat seperti babi peliharaan, berbeda dengan babi hutan lainnya yang akan lari ketika melihat manusia. Edi selalu datang memakan sisa-sisa makanan yang sengaja dibuang untuk babi tersebut. Babi hutan itu terlihat santai walau kita hanya berjarak 5 meter dengannya.

Selain babi hutan, ada juga seekor biawak besar yang sering datang ke sekitar Camp SRCP. Biawak ini juga terlihat santai mencari makanan di bawah lantai Camp seakan-akan tidak terganggu dengan manusia yang ada di Camp.

Di sungai tempat mandi yang berada di depan Camp juga ada banyak penghuninya. Di sungai ini terdapat banyak sekali ikan dan beberapa diantaranya cukup besar. Setiap hari ikan-ikan ini diberi makan nasi sisa. Sayangnya ada larangan untuk menangkap atau memancing di sungai itu. Selain ikan, kadang-kadang juga muncul sepasang labi-labi di sungai tersebut.

Waktu Luang dan Malam Hari

Di waktu luang atau saat malam hari ada banyak sekali hal yang kami lakukan sehingga tidak bosan. Ada yang memanfaatkan waktu luang tersebut untuk belajar mengayam gelang dari bahan resam, mengukir biji buah Canarium menjadi mata kalung, bermain jenga (menyusun balok kayu), bermain catur, bermain tenis meja, ada yang bermain gitar dan bernyanyi bersama dan ada juga yang berbakat untuk membantu tim dapur (memotong sayuran dan mengiris bawang). Sejenak kami melupakan gadget, urusan pekerjaan dan kesibukan lainnya.

Namun terkadang virus gadget juga sangat kuat mempengaruhi sehingga kami harus berusaha mendapatkan jaringan internet meskipun sangat sulit. Ada tempat khusus yang sedikit lebih baik untuk mendapatkan jaringan internet di Camp. Teman-teman asisten sudah menyediakan tempat khusus untuk ponsel, stand holder yang dibuat dari kayu dan pipa. Ketika ada teman yang mendapatkan jaringan internet di ponselnya, maka harus berbagi dengan ikhlas melalui tethering.

Perjalanan Pulang dari CP ke Tanjung Gunung

 Jumat (5/7/2019) pagi, kami harus pulang dari Camp SRCP karena kuliah lapangan sudah selesai. Kami pun berpamitan dengan teman-teman asisten dan peneliti yang ada di Camp. Sebenarnya sedikit sedih untuk meninggalkan mereka dengan pertemanan yang begitu akrab selama kurang dari 2 minggu. Begitu juga dengan peserta dan pemateri, kami harus berpisah dan kembali ke habitat masing-masing.  

Simon Tampubolon – Yayasan Palung