Cerita Pendidikan Lingkungan di Masa Pandemi

Siswa-siswi SDN 20 Nanga Tayap saat belajar tumbuhan di sekitar Hutan. (Foto : Yayasan Palung).

Setidaknya inilah cerita kami di masa pandemi. Tahun ini, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya Yayasan Palung mengadakan kegiatan Pendidikan Lingkungan. Perbedaannya, sekarang kami harus membatasi kegiatan dan meminimalisir berkumpul dengan banyak orang. Tetapi kami tetap melaksanakannya walau harus mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi covid-19.

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 10-12 November 2020 kemarin, Yayasan Palung mengadakan serangkaian kegiatan bertajuk ekspedisi Pendidikan Lingkungan yang dilaksanakan di dua tempat yaitu di Dusun Pangkalan Jihing dan Dusun Bayangan, Kecamatan Nanga Tayap.

Cukup sulit memang untuk menjangkau wilayah Pangkalan Jihing dan Bayangan. Beberapa tempat di wilayah itu keadaan jalannya bila boleh dikata adalah jalan tanah (belum aspal) dan di sekeliling wilayah itu didominasi oleh lahan perkebunan sawit, jalan yang dilalui pun sedikit banyak berdebu.   

Saat melakukan kegiatan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di dua dusun tersebut Yayasan Palung bersama Yayasan ASRI yang melaksanakan tugas mulia mereka yaitu kesling (kesehatan lingkungan).

Pada hari pertama (11/11/2020), kami berkegiatan di Dusun Pangkalan Jihing, kami melakukan kegiatan pendidikan lingkungan di Sekolah Dasar Negeri 20 Nanga Tayap. Kegiatan yang kami lakukan adalah fieldtrip bersama murid-murid kelas 4-6 SDN 20 di wilayah hutan, di dusun itu.

Foto-foto kegiatan :

Kami mengajak  25 orang murid dari SDN 20 Nanga Tayap yang ikut serta bersama kami mengadakan fieldtrip di hutan sekunder di dekat sekolah. Pada saat fieldtrip, siswa-siswi juga didampingi oleh bapak ibu guru mereka. Tak sekedar fieldtrip, tetapi siswa-siswi juga diajak untuk mengenal tumbuhan-tumbuhan. Dalam kesempatan belajar tentang tumbuh-tumbuhan (taksonomi tumbuhan) yang disampaikan oleh Simon Franz Tampubolon. Siswa-siswi yang terdiri dari kelas 4-6 yang mengikuti kegiatan fieldtrip tersebut diajak untuk mengidentifikasi tumbuhan. Selanjutnya mereka mempresentasikan hasil identifikasi tumbuhan yang mereka jumpai di jalur fieldtrip. Sebagai pemateri pun Simon, sapaan akrabnya mengajak siswa-siswi yang telah dibagi menjadi 4 kelompok  masing-masing melakukan presentasi.

Pada hari kedua (12/11/2020), kami berkegiatan di SDN 28  Nanga Tayap  dan di SMPN 7 Satap Nanga Tayap. Di SDN 28 Nanga Tayap, ekspdisi pendidikan lingkungan kami isi dengan materi tentang sampah. Materi tersebut disampaikan oleh Haning Pertiwi. Pada kesempatan tersebut, Haning Pertiwi mengajak siswa-siswi di sekolah tersebut untuk berperilaku ramah lingkungan dengan berharap mereka peduli persoalan sampah.

Sedangkan di SMPN 7 siswa-siswi diajak untuk mengidentifikasi tumbuhan. Sebagai pemateri adalah Simon. Sebelum melakukan identifikasi tumbuhan, terlebih dahulu materi dasar dasar tentang tumbuhan. Selanjutnya Simon mengajak siswa siswi mengidentifikasi tumbuhan seksligus juga melaksanakan fieldtrip di hutan sekitar sekolah. Setelah mereka (siswa-siswi) melakukan identifikasi tumbuhan, mereka yang terdiri dari 5 kelompok tersebut pun selanjutnya melakukan presentasi.

Pada dua hari kegiatan, malam harinya kami pun melakukan pememutarkan film tentang lingkungan di rumah pak Sukri, seorang  warga setempat yang rumahnya biasa tempat kami menginap. Film lingkungan tersebut kami putar di dalam ruangan untuk meminimalisir jumlah kerumunan. Beberapa film lingkungan kami suguhkan kepada anak-anak di dusun Pangkalan Jihing. Film-film lingkungan yang disuguhkan kepada anak-anak antara lain film tentang beberapa kegiatan kami di Sekolah mereka (film tentang aktivitas YP di SDN 20 Nanga Tayap) yang sengaja kami dokumentasikan dan selanjutnya ditampilkan kepada mereka. Seperti terlihat, mereka sangat senang sekali ketika mereka menonton film tentang kegiatan yang ada di sekolah mereka. Beberapa film lainnya adalah film tentang informasi covid-19 yang mengajak semua menjaga kesehatan, selalu mencuci tangan, jaga jarak dan menjauhi kerumunan.

Pada waktu bersamaan, teman-teman dari Yayasan ASRI melakukan pelayanan kesehatan berupa pengobatan kepada warga di Dusun Jihing. Pengobatan tersebut dilakukan dengan sistem pembayaran tukar bibit pohon.

Mochtar, selaku Kepala Sekolah SDN 20 Nanga Tayap mengatakan, sangat berterima dengan Yayasan Palung dan Yayasan ASRI yang bersedia memberikan pendidikan lingkungan dan kesehatan kepada anak didiknya. Kegiatan fieldtrip yang Yayasan Palung lakukan bersama anak-anak (siswa-siswi) ini merupakan kali pertama di sekolahnya. Ia merasa bersyukur sekolahnya diberi kesempatan terkait informasi dan pendidikan kepada anak-anak di sekolahnya.

Semua rangkaian kegiatan yang kami lakukan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah.  Kami pun menyudahi rangkaian kegiatan ekspedisi yang dilakukan di dusun Pangkalan Jihing dan Bayangan tersebut.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5fb5fa13c6f0ba54eb045082/jejak-ekspedisi-pendidikan-lingkungan-di-masa-pandemi

Tulisan ini juga di muat di Pontianak Post :

https://pontianakpost.co.id/ekspedisi-pendidikan-lingkungan-di-masa-pandemi

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Rayakan Pekan Peduli Orangutan 2020, Para Relawan Yayasan Palung Adakan Berbagai Kegiatan

Para relawan sampaikan pesan untuk nasib keberlanjutan orangutan dalam rangka PPO 2020. (Foto : Yayasan Palung).

Setiap tahun, pada bulan November selalu diperingati sebagai pekan peduli orangutan.  Seperti misalnya pada Sabtu dan Minggu, 14-15 November 2020 kemarin, Relawan Tajam dan Relawan Rebonk (TABONK) melakukan beberapa kegiatan untuk merayakan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2020 di kantor lapangan Yayasan Palung (Bentangor) dan Pantai Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana. Begitu juga dengan Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (WBOCS) di Ketapang mengadakan serangkaian kegiatan kampanye via daring tentang isu-isu lingkungan dan orangutan.

Selaku ketua Panitia kegiatan PPO 2020 di Sukadana, Riduwan mengatakan, Pekan Peduli Orangutan kali ini diisi dengan beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh para relawan Yayasan Palung antara lain adalah  membuat pesan kampanye tentang orangutan, bermain game menyusun puzzle satwa, bermain kuis, belajar tentang satwa dilindungi dan tentang morfologi tumbuhan. Selain itu juga teman-teman relawan melakukan  bakti sosial membersihkan sampah di sekitar Kantor Desa Pampang Harapan dan penanaman 200 bibit mangrove di sekitar Pantai Pasir Mayang, kata Riduwan.

Saat melakukan serangkaian kegiatan PPO 2020, relawan baru TABONK didampingi oleh Staf dari Yayasan Palung dan relawan senior yang menjadi panitia PPO 2020.

Sementara itu, Penerima WBOCS (West Bornean Orangutan Caring Scholarship) bersama dengan Pongo Ranger Community  yang didukung oleh Yayasan Palung, Orang Utan Republik Foundation dan Yayasan Titian merayakan Pekan Peduli Orangutan 2020 di Ketapang dengan serangkaian kegiatan. Menurut Ari Marlina, Penerima WBOCS yang merupakan mahasiswa Kehutanan UNTAN, selaku ketua pelaksana PPO 2020 di Kabupaten Ketapang, PPO adalah special event sedunia, yang diperingati setiap tahun pada bulan November, biasanya pada pertengahan November. Kenapa diperingati setiap tahun, karena awalnya event PPO itu dibuat seluruh dunia, setiap lembaga yang fokus ke Orangutan, termasuklah Yayasan Palung dan Orang Utan Republik Fondation. Dimulai sebagai pekan kesadaran tentang keberadaan orangutan, karena setiap tahun polulasinya mengalami penurunan dari berbagai faktor. Seperti diketahui, orangutan sudah masuk dalam daftar merah berdasarkan data dari IUCN.

Rangkaian kegiatan yang dilakukan WBOCS adalah live Instagram : Menelisik tentang Orangutan, Apa itu Pekan Peduli Orangutan, dan Mengapa Diperingati Setiap Tahun?. Kemudian WBOCS juga mengadakan Photo Challenge sebagai bentuk kepedulian kita terhadap Orangutan, kegiatan lainnya adalah Kenalan Bareng WBOCS dari Masa ke Masa.

Selanjutnya  menyelenggarakan Webinar tentang Orangutan and Biodiversity, What Happen?. Sebagai pemateri dalam Webinar tersebut adalah Alys Granados dari University of British Columbia mengetengahkan materi tentang : “Orangutan Conservation in Disturbed Forest Ecosystem” (Konservasi Orangutan di Ekosistem yang Terganggu), Alys Granados sebelumnya adalah salah satu peneliti Stasiun Research Cabang dan mantan manager Proyek OH (Orangutan) Yayasan Palung. Sedangkan pemateri kedua adalah Juanisa Andiani dari Yayasan KEHATI yang mengetengahkan  materi tentang “Biodiversity in Actions!” (Biodiversitas dalam Aksi), sedangkan sebagai moderator dalam kegiatan tersebut adalah Muhammad Syainullah (Penerima WBOCS 2020), kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal (14/11/2020) kemarin.

Rangkaian kegiatan PPO 2020 berlanjut  pada tanggal (15/11/2020) kemarin, WBOCS melakukan kegiatan Talkshow  dengan tema “Sustainable Livelihood dan Klinik, Inovasi Manajemen Konservasi Masa Kini” via aplikasi Zoom. Adapun sebagai pemateri pada kegiatan tersebut yaitu Ranti Naruri (Manager Program Sustainable Livelihood Yayasan Palung) dan Mahardika Putra P. (Direktur Program Yayasan ASRI) sebagai moderator adalah Reni Riasari (Penerima WBOCS 2018).

Mariamah Achmad, selaku Manager Yayasan Palung mengatakan terkait kegiatan PPO adalah sesi kampanye publik Yayasan Palung yang dilakukan oleh para relawan Yayasan Palung pada hampir setiap tahunnya. Pada PPO 2020 ini relawan Yayasan Palung yang dimaksud adalah RK-TAJAM dan RK-REBONK yang kalau berkegiatan bersama disingkat TABONK, dan Penerima WBOCS. Setiap kegiatan special event, para relawan dengan didukung oleh Yayasan Palung dan beberapa lembaga lainnya berkreativitas membuat kegiatan kampanye kesadaran untuk mengingatkan kepada masyarakat tentang kondisi kritis habitat dan populasi orangutan, sekaligus mengajak untuk lebih peduli melestarikannya.

Semua rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan tahun 2020 berjalan sesuai dengan rencana, berharap orangutan dan hutan bisa berlanjut hingga nanti.

Tulisan ini dimuat di Tribun Pontianak :

https://pontianak.tribunnews.com/2020/11/21/rayakan-pekan-peduli-orangutan-2020-ini-kegiatan-yang-digelar-relawan-yayasan-palung

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung Adakan Workshop Guru tentang Lingkungan Hidup di SDN 12 Delta Pawan

Semua peserta yang mengikuti pelatihan guru, mereka terdiri dari bapak dan ibu guru di SDN 12 Delta Pawan, 4-5 November 2020. (Foto : Yayasan Palung).

Pada tanggal 4 hingga 5 November 2020 kemarin, Yayasan Palung melakukan Workshop Guru di Sekolah Dasar Negeri 12 Delta Pawan, Ketapang. Selama dua hari kegiatan tersebut, Yayasan Palung berkesempatan untuk memberikan beberapa materi dan praktek terkait lingkungan hidup.

Pada hari pertama (4/11) kegiatan Workshop,  peserta mendapatkan materi tentang Keanekaragaman Hayati Dan Identifikasi Tumbuhan yang disampaikan oleh Andre Ronaldo, Botanis Yayasan Palung.  Dalam penyampaiannya Andre berbagi pengetahuan tentang keanekaragaman hayati yang ada di Taman Nasional Gunung Palung, bagaimana mengenal jenis tumbuhan, baik  jenis tumbuhan endemik Kalimantan maupun jenis tumbuhan yang ada di sekitar lingkungan kita. Dengan disampaikan materi tersebut, Andre pun berharap agar para guru mendapat keterampilan dasar dan dapat berbagi ilmu pengetahuan ini terutama tentang tumbuhan  kepada siswa/i agar mereka mendapat pengetahuan tentang kekayaan alam di daerah sendiri sejak usia dini.

Andre Ronaldo selalu botanis Yayasan Palung ketika menyampaikan materi dan praktek tentang tumbuhan dari ciri fisik morfologi (sifat fisik yang tampak) pada daun. Materi tersebut disampaikan kepada bapak dan ibu guru di SDN 12 Delta Pawan. (Foto : Yayasan Palung).

Setelah penyampaian materi, Andre sapaan akrabnya bersama dengan Tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung juga memandu  para guru untuk praktik tentang identifikasi tumbuhan.

Lebih lanjut Andre mengatakan, tujuan mengajak praktik bapak dan ibu guru di SDN 12 Delta Pawan ini  untuk mengenal tumbuhan dari ciri fisik morfologi (sifat fisik yang tampak) pada daun. Selain itu juga berharap mereka mampu membedakan mana jenis tumbuhan yang endemik (jenis tumbuhan asli) seperti belimbing darah, durian kura-kura, saga  dan tengkawang. Selanjutnya juga bisa membedakan mana tumbuhan invasif (tumbuhan yang asing yang mengancam tumbuhan asli) seperti jambu monyet, pohon terompet, akasia berduri dan ekor tikus, dengan tujuan agar tidak salah dalam memilih tumbuhan untuk penghijauan karena tumbuhan invasif ini berbahaya, dapat mematikan tanaman lokal karena sifatnya yang mudah tumbuh dan menyebar.  Ada kekeliruan seperti yang sudah dilakukan oleh pemerintah kota misalnya di area Bandara Pontianak ada ditanam pohon terompet (Cepropia peltata), dan juga menanam pohon butak-butak (Exocaria agallocha) di ruas jalan Ampera Pontianak, yang getah buah pohon jika terkena mata dapat menyebabkan kebutaan, ada potensi bahaya bagi warga.

Pada hari kedua (5/11) kegiatan workshop, peserta diajak untuk belajar bersama tentang Pengelolaan Sampah Di Sekolah, materi tersebut disampaikan oleh tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung. Adapun tujuan dari penyampaian materi pengelolaan sampah tersebut adalah agar sekolah dapat menerapkan sekolah berwawasan lingkungan terutama dalam hal pengelolaan sampah di Sekolah dan lingkungan sekitar sekolah.

Selanjutnya juga ada materi tentang pembuatan MOL (Mikro Organisme Lokal) yang disampaikan oleh Simon Franz Tampubolon, Koordinator Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung. Dalam penyampaian materi MOL, peserta diajak untuk membuat pupuk yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan sisa-sisa sampah organik rumah tangga. Peserta pun setelah menerima materi diajak untuk mempraktikkan membuat MOL. Menurut Simon, sapaan akrabnya MOL dapat berfungsi sebagai starter pembuatan kompos dan pupuk organik cair. Kemudian juga sebagai penyedia nutrisi bagi media tanam, dan membantu tanaman dalam penyerapan unsur hara.

Simon Franz Tampubolon, Koordinator Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung saat memberikan materi tentang MOL (Mikro Organisme Lokal) bapak dan ibu guru di SDN 12 Delta Pawan. (Foto : Yayasan Palung)

Bapak Sunli, Selaku Kepala SDN 12 Delta Pawan mengatakan, SDN 12 Delta Pawan merupakan penerima Anugerah Sekolah Adiwiata tahun 2019 tingkat kabupaten, dengan predikat Sekolah Adiwiata tersebut membuat Ia dan para guru lebih termotivasi mengembangkan budaya ramah lingkungan di sekolahnya, satu diantaranya sangat memerlukan kerjasama dengan semua pihak tidak terkecuali yang sudah terjalin kerjasama dengan Yayasan Palung. Sunli pun seraya mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Palung yang telah mengadakan pelatihan bagi guru-guru disekolahnya serta sudah bekerjasama selama kurang lebih dua tahun ini dengan pihak sekolahnya.

Semua peserta yang mengikuti pelatihan guru, mereka terdiri dari bapak dan ibu guru di SDN 12 Delta Pawan.

Selanjutnya, Manajer Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Mariamah Achmad mengatakan Yayasan Palung memiliki program pendidikan lingkungan yang sasaran penerima manfaatnya selain siswa juga para guru. Menurut Mayi sapaan akrabnya, para guru sangat penting mendapatkan masukan pengetahuan, wawasan dan keterampilan tentang konservasi hutan dan spesies, gaya hidup ramah lingkungan dan sejenisnya dikarenakan sangat erat konteksnya dengan keadaan geografis Kabupaten Ketapang yang kaya akan sumber daya alam. Juga agar para guru dapat menjadikan lingkungan hidup sekolah dan sekitarnya sebagai laboratorium alam untuk proses belajar di sekolah. Ia juga menambahkan workshop guru yang biasa dilakukan oleh Yayasan Palung setiap tahunnya adalah workshop yang pesertanya dari banyak sekolah di Ketapang ataupun Kayong Utara, namun dengan situasi pandemi Covid-19 ini kami mengubah peserta menjadi per sekolah saja dan menerapkan protokol kesehatan pandemi. Selanjutnya workshop yang sama juga akan kami lakukan di sekolah di Kayong Utara masih pada tahun 2020 ini. Workshop ini juga dimaksudkan oleh Yayasan Palung untuk mendukung program pemerintah yaitu Gerakan PBLHS (Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah) yang sebelumnya bernama program Adiwiyata. Mayi dalam kesempatan ini mengucapakan terima kasih kepada pihak sekolah dan semua yang membantu terlaksananya workshop guru ini.

Semua rangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta pelatihan yang berjumlah 24 guru tersebut.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berjumpa dengan Kelempiau Muda Mengunjungi Hutan Mini Bentangor

Kelempiau muda (Hylobates albibarbis) yang menunjungi hutan mini Bentangor Yayasan Palung . (Foto : Sidiq/ REBONK)

Minggu (8/11/2020) kemarin, saya sangat beruntung karena berjumpa dengan satu individu kelempiau yang masih muda (Hylobates albibarbis) mengunjungi Hutan mini di Bentangor. Seperti diketahui, kelempiau muda itu sedang mencari makan  berupa pucuk muda kenari (Canarium) dan rotan tikus (Flagellaria indica).

Bentangor sendiri adalah singkatan dari Belajar Tentang Hutan dan Orangutan. Nama Bentangor juga merupakan nama lain dari kantor Yayasan Palung yang ada di Desa Pampang Harapan (Bentangor Pampang Center) yang menjadi  pusat pendidikan lingkungan/ tempat untuk belajar tentang satwa dilindungi, hutan dan lingkungan.

Kelempiau muda ini terlihat sedang mencari makan. (Foto : Sidiq/ REBONK)

Seperti diketahui, kelempiau umumnya hidup berkelompok (kelompok kecil) sebagai cara menghindari predatornya di alam liar. Akan tetapi, tampaknya kelempiau muda ini terpisah dari kelompoknya, dan mencari makan sendirian.

Kelempiau muda (Hylobates albibarbis) yang menunjungi hutan mini Bentangor Yayasan Palung . (Foto : Sidiq/ REBONK)

Kelempiau adalah hewan yang aktif di siang hari (Diurnal) jadi hewan ini mencari makanannya disaat siang dan kelempiau sangat berperan penting dalam proses penyebar biji dihutan (penyemai hutan), karena kelempiau hewan yang sangat cepat pergerakannya dan jauh jelajahnya.

Berdasarkan data IUCN Red List menyebutkan kelempiau (Hylobates albibarbis) termasuk primata yang terancam punah (endangered), jadi peran masyarakat sangat penting demi kelestarian keanekaragaman hayati terutama satwa dilindungi dengan melakukan hal-hal kecil seperti edukasi lingkungan secara aktif dan semoga primata ini masih tetap kita jumpai dimasa yang akan datang.

Dengan berkunjungnya kelempiau ini menjadi tanda, hutan mini di Bentangor masih baik. Berharap hutan dan kelempiau bisa lestari hingga ke anak cucu kita.

Penulis : Sidiq Nurhasan – Relawan Bentangor untuk  Konservasi (REBONK)

Editor : Pit-YP

Kelompok Binaan Yayasan Palung Tanam Mangrove yang Difasilitasi oleh BPDASHL


Pentingnya rehabilitasi lahan mangrove salah satu tujuannya diketahui sangat besar manfaatanya bagi nelayan. Karena mangrove menjadi tempat berkembang biakan berbagai jenis ikan, udang dan tersedianya lahan mangrove untuk mencegah abrasi. (Foto : Yayasan Palung).

Beberapa waktu lalu dan hingga sekarang, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Provinsi Kalimantan Barat melakukan rehabilitasi Mangrove di beberapa desa di Kecamatan Simpang Hilir dan Kecamatan Sukadana. Dalam proses rehabilitasi tersebut BPDASHL salah satunya bekerjasama dengan  kelompok  Binaan Yayasan Palung yang terdiri dari beberapa Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Kecamatan Simpang Hilir dan kelompok tani Meteor Resam di Kecamatan Sukadana.

Direktur Yayasan Palung, Edi Rahman, mengatakan : “Beberapa alasan mengapa rehabilitasi lahan sangat diperlukan saat ini, salah satu alasannya adalah untuk memilihara, menyelamatkan dan memulihkan/memilihara mangrove.  

Pentingnya rehabilitasi lahan mangrove salah satu tujuannya diketahui sangat besar manfaatanya bagi nelayan. Karena mangrove menjadi tempat berkembang biakan berbagai jenis ikan, udang dan tersedianya lahan mangrove untuk mencegah abrasi.

Sedangkan rehabilitasi mangrove yang kita lakukan dengan melibatkan LPHD dan Kelompok Meteor Resam dilakukan di beberapa wilayah seperti di Nipah Kuning, Pemangkat, Pulau Kumbang, Padu Banjar di Kecamatan Simpang Hilir dan di wilayah Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana”.

Lebih lanjut menurut Edi, sapaan akrabnya menambahkan, beberapa wilayah yang menyiapkan lahan rehabilitasi antara lain di  Nipah Kuning di lahan 5 hektar dengan bibit 25 ribu bibit, Pemangkat 9 hektar dengan bibit 45 ribu bibit, Pulau Kumbang 16 hektar dengan bibit  80 ribu bibit, Padu Banjar 17 hektar dengan 85 ribu bibit. Selain itu ada di Wilayah Pampang Harapan 5 hektar dengan 25 ribu bibit.

Bibit-bibit tersebut ditanam dengan metode ajir (metode tanam dengan dikurung dengan kayu atau bambu). Seperti diketahui, metode tersebut dipakai agar tanaman mangrove yang ditanam bisa aman dari terpaan gelombang.

View this post on Instagram

Kelompok Binaan Yayasan Palung Tanam Mangrove yang Difasilitasi oleh BPDASHL Beberapa waktu lalu dan hingga sekarang, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Provinsi Kalimantan Barat melakukan rehabilitasi Mangrove di beberapa desa di Kecamatan Simpang Hilir dan Kecamatan Sukadana. Dalam proses rehabilitasi tersebut BPDASHL salah satunya bekerjasama dengan  kelompok  Binaan Yayasan Palung yang terdiri dari beberapa Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Kecamatan Simpang Hilir dan kelompok tani Meteor Resam di Kecamatan Sukadana. Direktur Yayasan Palung, Edi Rahman, mengatakan : “Beberapa alasan mengapa rehabilitasi lahan sangat diperlukan saat ini, salah satu alasannya adalah untuk memilihara, menyelamatkan dan memulihkan/memilihara mangrove.   Pentingnya rehabilitasi lahan mangrove salah satu tujuannya diketahui sangat besar manfaatanya bagi nelayan. Karena mangrove menjadi tempat berkembang biakan berbagai jenis ikan, udang dan tersedianya lahan mangrove untuk mencegah abrasi. Sedangkan rehabilitasi mangrove yang kita lakukan dengan melibatkan LPHD dan Kelompok Meteor Resam dilakukan di beberapa wilayah seperti di Nipah Kuning, Pemangkat, Pulau Kumbang, Padu Banjar di Kecamatan Simpang Hilir dan di wilayah Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana”. Lebih lanjut menurut Edi, sapaan akrabnya menambahkan, beberapa wilayah yang menyiapkan lahan rehabilitasi antara lain di  Nipah Kuning di lahan 5 hektar dengan bibit 25 ribu bibit, Pemangkat 9 hektar dengan bibit 45 ribu bibit, Pulau Kumbang 16 hektar dengan bibit  80 ribu bibit, Padu Banjar 17 hektar dengan 85 ribu bibit. Selain itu ada di Wilayah Pampang Harapan 5 hektar dengan 25 ribu bibit. Bibit-bibit tersebut ditanam dengan metode ajir (metode tanam dengan dikurung dengan kayu atau bambu). Seperti diketahui, metode tersebut dipakai agar tanaman mangrove yang ditanam bisa aman dari terpaan gelombang. Bibit-bibit mangrove tersebut merupakan bantuan dari BPDAS Provinsi Kalimantan Barat. 📸 : Yayasan Palung Narasi : Pit @nafas_hidupalamraya @yayasan_palung @savewildorangutans #menanam #mangrove #dipantai #petani #masyarakat #lphd #hutandesa

A post shared by Yayasan Palung (YP) (@yayasan_palung) on

Bibit-bibit mangrove yang telah ditanam tersebut selanjutnya menjadi tanggung jawab dari masing-masing LPHD dan dari kelompok tani.

Bibit-bibit mangrove tersebut merupakan bantuan dari BPDAS Provinsi Kalimantan Barat.

Berharap tanaman mangrove yang ditanam bisa tumbuh dan dapat memberi manfaat bagi masyarakat di sekitar pantai, kata Edi.  

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2020/10/23/kelompok-binaan-yayasan-palung-tanam-mangrove-yang-difasilitasi-oleh-bpdashl

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung Berikan Beberapa Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bagi Relawan

 

Mita Anggraini (Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura dan Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan tahun 2017) saat memberikan materi public speaking kepada Relawan Tajam. (Foto : Yayasan Palung)

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) binaan Yayasan Palung (YP) berkesempatan mendapatkan materi peningkatan kapasitas tentang public speaking, jurnalistik dan fasilitator game. Kegiatan tersebut dilaksanakan di alam terbuka, Pantai Tanjung Belandang, Sabtu (17/10/2020) kemarin.

Peserta kegiatan ini adalah anggota RK-TAJAM lintas angkatan. Pada kesempatan pertama, materi Public Speaking disampaikan oleh Mita Anggraini (Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura dan Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan tahun 2017). Mita sapaan akrabnya mengajak adik-adik Relawan Konservasi Tajam untuk membiasakan diri untuk percaya diri saat melakukan presentasi atau pun saat berbicara dan berhadapan dengan orang banyak. Mita juga mengajak teman-teman relawan ketika melakukan public speaking agar selalu menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh khalayak (orang banyak) agar pesan yang disampaikan bisa tersampaikan dengan baik.

Selanjutnya, Mita meminta 10 peserta anggota RK-TAJAM  yang ikut dalam pelatihan tersebut untuk mempraktekkan public speaking satu persatu. Beberapa dari relawan terlihat ada yang sudah biasa tampil di depan orang banyak, beberapa diantaranya masih terlihat canggung dan belum terbiasa.

Pada kesempatan kedua, materi yang diketengahkan adalah tentang jurnalistik. Sebagai pemateri adalah Petrus Kanisius (Staf Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung). Petrus Kanisius mengajak adik-adik relawan untuk belajar bersama tentang apa itu Jurnalistik, apa yang bisa dilakukan oleh kita untuk menyampaikan informasi yang terjadi di sekitar kita dengan menggunakan rumus 5 W 1 H.  Selain itu juga, mereka diminta untuk menyampaikan informasi terkait lingkungan dan informasi yang ada di sekitar mereka, tentu informasinya harus benar (tidak hoax). Sebagai relawan dibawah binaan Yayasan Palung, RK-TAJAM harus terus mengasah kemampuan menulis terlebih karena mereka sering terlibat dalam kegiatan kampanye lingkungan bersama Yayasan Palung, minimal mereka dapat membuat status tentang persoalan-persoalan lingkungan hidup di media sosial dengan baik.

Di materi ketiga, peserta pelatihan diberikan materi tentang fasilitator game. Tujuan dari materi ini adalah sebagai meningkatkan keterampilan dan kreatifitas dalam berkampanye dan pendidikan lingkungan. Materi Fasilitator Game ini disampaikan oleh Mita dan Haning Pertiwi (Staf Pendidikan Lingkungan YP / Pembina RK-TAJAM).

Menurut Mariamah Achmad, selaku Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan; “peningkatan kapasitas relawan selalu dilakukan sepanjang tahun oleh Yayasan Palung, hal ini untuk memberikan mereka bekal keterampilan dan pengetahuan dalam mereka melakukan kegiatan-kegiatan kampanye publik dan pendidikan lingkungan. Keterampilan pendukung yang dimakud adalah seperti public speaking, jurnalistik dan game, juga pengetahuan tentang konservasi alam dan lingkungan hidup. Dengan demikian kita dapat berharap banyak para relawan yang terdiri dari pemuda-pemudi peduli lingkungan ini akan melaksanakan pembangunan yang lebih ramah terhadap lingkungan hidup di masa mendatang”.

Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari relawan yang mengikuti kegiatan tersebut.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Pontianak Post versi cetak, tanggal 24 Oktober 2020 dengan judul : YP Latih Peningkatan Kapasitas Relawan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Keliling Kampung Sampaikan Pendidikan Lingkungan ke Sekolah-sekolah

Saat Mariamah Achmad (Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung) menyampaikan materi tentang hutan di SMPN 7 Satu Atap di Dusun Bayangan (16/10) kemarin. Foto dok : Yayasan Palung.

Keliling kampung berkunjung ke sekolah-sekolah untuk sampaikan pendidikan lingkungan, kegiatan tersebut dilakukan oleh Yayasan Palung di Dusun Pangkalan Jihing dan Dusun Bayangan, Desa Pangkalan Teluk, Kecamatan Nanga Tayap,  pada 13-15 Oktober 2020 kemarin.

Beberapa rangkaian kegiatan pendidikan lingkungan yang Yayasan Palung lakukan diantaranya adalah berkunjung ke sekolah-sekolah di SDN 20 Nanga Tayap di Dusun Pangkalan Jihing, dan selanjutnya di SDN  28 dan SMPN 7 Satu Atap di Dusun Bayangan.

Seperti di Dusun Pangkalan Jihing pada 13-14 Oktober 2020, kunjungan ke sekolah kami lakukan di pagi hingga siang hari, pada sore hari kami mengumpulkan anak-anak untuk berkegiatan bersama di pelataran masjid setempat, dan pada malam harinya kami melakukan pemutaran film di rumah kepala dusun. Pemutaran film dilakukan di dalam ruangan, tidak seperti biasanya yang dilakukan di luar ruangan karena situasi pandemi Covid-19.

Pada saat melaksanakan  kegiatan lecture atau ceramah lingkungan di sekolah, kami membagi peserta didik menjadi 3 kelas, yaitu kelas satu dan kelas dua disatukan menjadi 1 kelas, kelas empat dan lima juga disatukan menjadi 1 kelas serta kelas enam, sehingga 3 kali kegiatan dengan peserta pada setiap kelas dibawah 20 siswa. Materi yang disampaikan untuk 14 siswa  kelas 1 dan 2 adalah mengenal satwa yang ada disekitar kita dan di hutan, disini beberapa siswa berhasil mengidentifikasi satwa-satwa yang biasa mereka lihat ada di sekitar mereka seperti kucing, ayam, musang, ular, burung pipit, bahkan satwa liar yang hidup di hutan seperti kelempiau, ayam sempidan, kelasi dan burung enggang. Dusun ini memang terletak di sekitar hutan sehingga tidak heran mereka biasa melihat satwa yang tidak pernah dilihat oleh anak-anak yang tinggal di perkotaan.

Siswa kelas 4 dan 5 belajar mengenal satwa yang dilindungi dengan menggunakan poster mamalia dan primata. Sedangkan siswa kelas enam yang berjumlah hanya 7 orang, mereka diajak untuk menceritakan kehidupan di sekitar lingkungan tempat tinggal dengan menulis cerita 1-2 paragraf. Satu persatu siswa diminta maju kedepan kelas, beberapa bercerita tentang banyaknya sampah yang berserakan di lingkungan rumah dan kampung mereka, dan juga di sungai. Tetapi ada juga yang bercerita tentang keindahan hutan dan pernah melihat satwa di hutan ataupun kesenangan mendengar suara burung dan kelempiau di pagi hari. Setelah presentasi, siswa diajak mengidentifikasi persoalan lingkungan dari cerita yang mereka buat, dan apa solusinya, seperti ada salah satu siswa yang mengatakan bahwa ada gotong royong untuk memungut sampah dan membersihkan lingkungan.

Kegiatan di sore hari adalah berkreasi dengan memanfaatkan barang-barang bekas menjadi barang bermanfaat. Seperti pada kesempatan itu, mereka diajak memanfaatkan botol kemasan sekali pakai dan kaleng susu menjadi pot bunga, tempat pensil, dan wadah lilin.

Pada pagi 15 Oktober 2020 kami meninggalkan Dusun Pangkalan Jihing menuju Dusun Bayangan sekaligus arah pulang ke Ketapang. Kami mampir meaksanakan kegiatan di SD dan SMP satu atap di Dusun Bayangan. Seperti di SDN 28 Nanga Tayap misalnya, materi yang disampaikan adalah pengenalan tentang satwa dilindungi. Selanjutnya di SMPN 7 Nanga Tayap materi lecture yang disampaikan adalah tentang Manfaat Hutan Bagi Manusia dan Lingkungan Hidup.

Menurut Mariamah Achmad, selaku Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung yang juga ikut dalam kegiatan tersebut mengatakan, “Sangat senang sekali kami masih dapat melaksanakan pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah, memberikan pengetahuan dan wawasan lingkungan hidup kepada siswa, sudah 7 bulan sejak Maret 2020 kami tidak melakukannya karena situasi pandemi Covid-19. Kegiatan pendidikan lingkungan di masa pandemi Covid-19 ini cukup penuh tantangan, kami harus menerapkan protokol kesehatan bahwa semua yang terlibat memakai masker, memakai hand sanitizer ataupun mencuci tangan sebelum kegiatan, mengurangi jumlah orang dalam kelas, khususnya kami sebagai orang yang datang dari luar harus menjaga jarak terhadap siswa, dan juga tidak bersalaman.  Kami berharap situasi pendemi cepat berakhir, agar aktivitas kehidupan sehari-sehari kembali hidup, atau kita tetap dapat berkegiatan dengan menerapkan secara ketat protokol kesehatan”.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah dan masyarakat.

Sebelumnya tulisan ini telah dimuat di Suara Pemred Kalbar : https://www.suarapemredkalbar.com/read/ketapang/20102020/yayasan-palung-keliling-kampung-sampaikan-pendidikan-lingkungan-di-sekolah 

Pit-YP

Dibutuhkan Segera-For Immediate Hire

Yayasan Palung adalah lembaga organisasi non profit yang berada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat dengan fokus kerja untuk melindungi populasi orangutan dan keanekaragaman hayati di dalam dan sekitar Taman Nasional Gunung Palung dengan visi untuk mengembangkan komunitas masyarakat melalui kesadaran dan motivasi untuk konservasi orangutan dan habitatnya serta keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Palung. Yayasan Palung bekerjasama dengan pihak terkait untuk konservasi orangutan termasuk pemerintah, private sector, dan masyarakat lokal. Yayasan Palung memiliki 5 strategi untuk mengatasi ancaman kelangsungan hidup orangutan di sekitar Taman Nasional Gunung Palung yaitu Sustainable Livelihood, Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi, Hukum Konservasi (Hutan Desa), Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, dan Pusat Penelitian yang berada di Stasiun Penelitian Cabang Panti.-Yayasan Palung is a non-profit organization in the Ketapang and Kayong Utara Regencies of West Kalimantan with the mission to conserve orangutan populations and biodiversity in and around Gunung Palung National Park with a vision to develop a human community that is motivated to protect orangutans and their conservation. Yayasan Palung collaborates with relevant stakeholders for orangutan conservation including the government, private sector and local communities. Yayasan Palung has 5 strategies to overcome the threat of orangutan in and around Gunung Palung National Park consisting of Sustainable Livelihoods, Environmental Education and Conservation Awareness Campaign, Conservation Law (Customary Forest), Animal Protection, and Scientific Research, located at Cabang Panti Research Station.

Yayasan Palung sedang mencari staf yang bermotivasi tinggi, berkualitas dan berpengalaman untuk mengisi posisi yang kosong sebagai Manajer Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi. Staf yang akan dipilih akan berbasis di kantor Yayasan Palung di Kota Ketapang, Kabupaten Ketapang dengan tugas di Kab. Ketapang dan Kab. Kayong Utara. – Yayasan Palung is looking for a highly motivated, qualified and experienced person to fill the vacant position as Environmental Education and Conservation Awareness Campaign Manager. The position is based in Yayasan Palung’s office in Ketapang, with assignments in Ketapang Regency and Kayong Utara Regency.

Tujuan secara umum Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta kesadaran masyarakat terhadap kelestarian kehidupan liar, hutan dan lingkungan secara umum dengan orangutan sebagai ikon program untuk keberlangsungan kehidupan yang lebih baik. – The general purpose of the Environmental Education Program and Conservation Awareness Campaign is to increase knowledge and skills as well as public awareness of the preservation of wildlife, forests and the environment in general with orangutans as program icons for a better life sustainability.

Persyaratan Umum – Generally requirements

1.            Wanita / Pria. – female / male

2.            Latar belakang pendidikan S1 diutamakan dari biologi, kehutanan, ilmu komunikasi dengan minimum 8 tahun pengalaman kerja secara umum, dan 5 tahun di konservasi dan lingkungan hidup, lebih disukai relevan dengan bidang pendidikan lingkungan dan peningkatan kesadaran konservasi / lingkungan masyarakat. – University degree in relevant areas (Biology, Forestry, Communication and equivalent) With a minimum of 8 years work experience, including 5 years in conservation and environmental issues, preferably relevant with education and conservation awareness for students and communities.

3.            Memiliki keahlian di berbagai aplikasi MS Office, dan lebih disukai jika mempunyai keahlian aplikasi design berbasis aplikasi computer. – Proficient computer skills in various MS Office applications (excel, word, powerpoint), preferably also has design application skill such as corel draw, etc.

4.            Memiliki pengetahuan konservasi keanekaragaman hayati dan lebih disukai konservasi orangutan. – Knowledable of biodiversity conservation and preferably orangutan conservation.

5.            Bisa menulis dengan kualitas baik (laporan, artikel, kerangka acuan kerja, dll), dan membuat anggaran. – Able to write of high standard (report, article, term of reference, etc), creating and maintaining budgets.

6.            Motivasi diri tinggi dan mampu bekerja secara mandiri maupun tim. – High Self-motivated and able to work independently and with a team.

7.            Mampu bekerja dibawah tekanan dan tenggat waktu yang tepat. – Able to work under pressure and with tight deadlines.

8.            Bisa berkomunikasi dan menulis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. – Ability to communicate and write in Bahasa Indonesia and English.

9.            Keterampilan interpersonal yang kuat dan kemampuan memecahkan masalah. – Strong interpersonal skills and problem solving abilities.

10.          Mempunyai kemampuan mengelola staf dan sumber daya manusia organisasi. – Capable to manage staffs and human resource.

11.          Mempunyai kemampuan komunikasi dan bicara di depan umum yang baik. – Capable communicate and public speaking.

12.          Sudah menerapkan gaya hidup ramah lingkungan sehari-hari. – Applied eco friendly lifestyle in daily life.

13.          Bersedia bekerja di hari libur dan pekerjaan lapangan (desa-desa di perhuluan dan hutan). – Be able to work in holiday and field work in rural areas and forests.

14.          Bisa membangun kerjasama dan melakukan pertemuan dengan pemerintah, private sector, NGO lain, dan masyarakat lokal. – Able to collaborate and carry out meetings with government, private sector, other NGO’s, and local communities.

Tanggung Jawab – Responsibilities

Manajer Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi bertanggung jawab mengelola tim untuk membuat perencanaan dan melaksanakan program jangka pendek dan jangka panjang dengan supervisi dari Direktur Program. Memantau, mengevaluasi, mengelola data sesuai kebutuhan Yayasan Palung. Mendampingi penerima manfaat program. – Manager of Environmental Education and Conservation Awareness Campaign is responsible for managing the team for planning and implementing short- and long-term programs under the supervision of the Program Director. For monitoring, evaluating, and managing data according to the needs of Yayasan Palung. For holding and assisting program beneficiaries.

Mengkoordinasikan secara internal dan eksternal dengan Program Director dan Koordinator Pendidikan Lingkungan di Kabupaten Kayong Utara agar bisa sinergi dan berjalan lancar. – Coordinate and communicate with the Program Director and Coordinator of Environmental Education in Kayong Utara Regency in order to coordinate schedules and joint activities.

Melaporkan perkembangan terbaru kepada Direktur Program, membuat laporan bulanan program yaitu naratif dan keuangan. – Report the latest developments to the Program Director, make monthly reports of program about targets and finances.

Kirimkan aplikasi Anda beserta resume dan dokumen pendukung lainnya yang relevan ke: -Please send your application, along with a full resume and other relevant supporting documents to:

edirahman@gmail.com, mayi.eugenia@gmail.com subject: EE Manager

Batas waktu pengiriman 25 Oktober 2020. Hanya kandidat terpilih yang akan dihubungi untuk wawancara. – Deadline for submission by October 25, 2020.  Only short listed candidates will be contacted for an interview.

Yayasan Palung

Mengenal Peran Hylobates albibarbis (Si Gesit) di Habitatnya

Hylobates albibarbis (Si gesit ) di habitat hidupnya berupa hutan. (Foto : Erik Sulidra).

Seperti diketahui, seluruh mahluk di dunia ini memiliki perannya masing-masing, salah satunya adalah Kelempiau (Hylobates spp) ditambah dari fakta yang telah didapat kelempiau adalah Primata arboreal tercepat (gesit) di kelas hylobatidae dan bahkan primata lainnya, sehingga peran nya sebagai penyebar biji di hutan lebih efisien jika ditinjau dari kajian daerah jelajah dan waktu tempuhnya. Primata cantik ini memiliki nama latin Hylobates spp, paling tidak ada 9 jenis dalam suku Hylobates yang tersebar di sepanjang Selat Malaka, yaitu mulai dari Malaysia, Brunei, dan Indonesia.

Di Indonesia sendiri primata ini tersebar di tiga pulau besar yaitu Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Didalam jurnal “Behavioural Ecology of Gibbons (Hylobates albibarbis) in a Degraded Peat-Swamp Forest” yang ditulis oleh Susan M. Cheyne, menyebutkan; di Kalimantan saja ada dua spesies kelempiau yaitu Hylobates muelleri yang terbentang hampir di seluruh pulau Kalimantan kecuali dibagian barat daya seperti di sepanjang Sungai Kapuas yang dominan dihuni oleh kelempiau spesies Hylobates albibarbis. Primata ini dapat dikatakan juga bersifat dimorfisme (setiap gender mudah dikenali dengan ciri-ciri fisiknya) seperti owa berjenggot putih atau kelempiau (Hylobates albibarbis) yang dapat dibedakan jenis kelaminnya dari postur tubuh, jantan cenderung lebih besar dari pada betina.

Hylobates albibarbis (si gesit) di habitat hidupnya berupa hutan. (Foto 2 : Erik Sulidra).

Kelempiau hidup berkelompok (kelompok kecil) sebagai cara menghindari predatornya di alam liar, hewan yang aktif pada siang hari ini (diurnal) tidak bisa berjalan dengan dua kaki atau bipedal karena ukuran tangannya yang cenderung lebih panjang dari pada kaki. Paling tidak keluarga kelempiau (Hylobatidae) terbagi menjadi empat genera (empat suku dalam klasifikasi kelempiau) yang tersebar dari mulai India, China, hingga Indonesia yaitu, Hylobates spp, Namascus spp, Hoolock spp, dan symphalangus syndactylus atau yang biasa kita kenal dengan siamang. Beruntung di Indonesia sendiri terdapat sekitar lima spesies Owa atau Hylobates dan satu spesies tunggal siamang (symphalangus syndactylus) yang uniknya hanya ada di pulau Sumatera.

Siamang. (Foto : alamendah.org)

Dilihat dari perannya, kelempiau juga dikenal sebagai penyebar biji di hutan, kelempiau atau di Sumatera disebut juga dengan owa ini dinilai paling efektif karena daerah jelajahnya yang jauh dan pergerakannya yang sangat cepat. Di Jawa sendiri owa memiliki spesies yang berbeda, owa jawa (Hylobates moloch) dikenal dengan kesetiaan nya terhadap pasangan atau monogami yang semakin hari populasinya semakin sedikit, hal ini dibuktikan dengan statusnya dinyatakan EN (endangered) atau terancam punah dalam daftar IUCN.

Bukan tanpa sebab, terancamnya primata ini dari kepunahan semakin terasa, dikarenakan rusaknya habitat mereka dialam liar yang disebabkan oleh Konversi lahan secara masif dan terang-terangan menjadi daerah pemukiman, perkebunan, dan lahan pertambangan yang dinilai semakin lama semakin membuat primata gesit ini semakin terancam di habitat hidupnya.

Fungsi kebijakan yang pro lingkungan dan kontrol yang baik sangat dibutuhkan saat ini, primata dalam hal ini kelempiau sangat berperan sebagai penyebar biji yang tak lain sebagai penyemai hutan. Tentu kita tidak ingin primata sebagai aset bangsa seperti kelempiau ini punah. Mengingat, kita sudah pernah kehilangan satwa yang sangat penting, seperti dulu kita kehilangan harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus).

Peran serta masyarakat untuk penduli dan ambil bagian untuk tindakan dalam isu konservasi sebagai salah satu cara menghindari kepunahan spesies yang cenderung merugikan kita sebagai negara dengan sejuta keanekaragaman hayati. Tak perlulah kiranya untuk ambil tindakan yang besar dulu diawal, cukup melakukan hal-hal kecil seperti mengikuti kampanye lingkungan secara aktif serta mendukung kebijakan yang bersifat pro lingkungan (good forest governance).

Penulis : Muhammad Syainullah-Penerima Beasiswa WBOCS 2020

Editor : Pit-YP

(Cerpen ) Ketika Aku Cerita Hutan

Hutan sebagai sumber hidup makhluk hidup (Foto dok. Tim Laman).
“Ketika aku bercerita hutan, pasti banyak yang bertanya kepadaku. Bertanya mengapa tentang hutan dan tidak yang lain?”

Jujur, aku tidak melupakan yang lain, tetapi aku suka hutan. Hutan tidak sedikit orang memujinya, karena perannya bagi semua, tetapi ada pula yang mencelanya karena akibat yang ditimbulkan.

Untuk nafas hidup, sumber hidup dan keberlanjutan hidup, itu yang orang rasakan dan katakan sesungguhnya jika bercerita tentangmu (hutan).

Sejatinya tak hanya engkau hutan, tetapi seisi hutan juga patut aku diceritakan pula. Mengapa hutan dan sesisi hutan perlu kuceritakan?

Mungkin juga bumi tempat kita berpijak ini pun demikian adanya, ingin bicara dan bercerita. Bercerita tentang apa-apa saja yang mereka rasa, tentang apa-apa saja ulah kita yang menimbulkan derita mereka karena kita pula.

Mungkin kita sangaja dan tidak sengaja melukai mereka. Mungkin kita menanti mereka tumbuh dan berkembangnya mereka, tidak sedikit dari kita yang tega dan sengaja membiarkan mereka terluka dan terlupakan.

Lihatlah, tidak sedikit diantara  mereka (hutan) menginginkan tumbuh menghijaumu yang berbanding lurus membabat mereka.Tangisku, tangismu pula karena rasaku ingin bercerita tanpa paksaan berharap ada asa dan rasa.

Tanpa paksa mendera rasa yang kualami saat ini, tidak berbanding lurus dengan apa yang semestinya dilakukan.

Ceritaku hari ini dan nanti mungkin tidak akan lagi sama. Bercerita bersama akan apa yang akan terjadi. Harmonis sudah lenyap ditelan oleh keserakahan. Keserakahan tentang keberlanjutan, apakah boleh berlanjut sampai kapan tentang apa itu nafas semua makhluk.

Suara-suara lestari tidak lagi sama. Memulai lestari berarti memberi kata tentang arti apa itu harapan. Harapan baru akan apa itu tentang perbuatan. Perbuatan kita tentang apa yang kita rasakan. Bumi menangis seisi bumi terlihat cerabut akibat ulah apa yang kita lakukan kepadanya. Lihatlah banjir, lihatlah longsor dan tanah kering kerontang pun bersatu  seolah tidak henti-henti menyapa kita.

Hutan, tanah dan air seperti cerita yang selalu berpadu. Berpadu memacu akan terjadi hari ini. Hari ini berarti cerita yang sedang berlangsung dan menyuguhkan apa yang dirasakan. Kata rasa begitu terasa menjelma. Menuduh, tertuduh hingga gaduh menerawang tawa atau apa yang orang katakan tentang bencana yang  berdampingan dengan kita. Lihatlah tanah gersang, hutan rimba yang tidak lagi rimbun. Semua kata tentang semesta, seolah berubah kata menjadi asas pemanfaatan hasil bumi tanpa banyak yang ingat lagi akan apa yang seharusnya berlanjut.

Sumpah serapah terkadang tidak jarang terdengar yang mencela tentang ini dan itu; tentang alam,  tentang rimba raya (hutan belantara).

Apabila aku bertanya, salahkah aku sebagai hutan yang tanpa dosa yang sengaja engkau ambil atau rampas. Atau setelah aku tidak banyak lagi tersedia, bahkan semakin sulit engkau (hutan) berdiri kokoh justru banyak yang menyalahkanmu. Tidak sedikit yang berkata; semua karena salah alam (hutan). Sesungguhnya salah engkau hutan alam rayaku ?

Ceritaku akan hari ini dan nanti sepertinya membuat kita tidak lagi sama. Tidak lagi sama karena kita memang terlihat membuat jarak, bukan pengikat agar selalu harmoni sampai nanti. Aku hanya tahu sampai nanti, jika hal-hal seperti ini akan terus terjadi tidak membuat bumi ini bisa damai dan terus berlanjut.

Berlanjut berarti harus ada cara, cara agar kita boleh mencari cara agar bagaimana kita bijaksana (menghadirkan kebijaksanaan). Memperbaiki, menata  yang sudah tidak  lagi sama. Aku, kamu dan saya ubahlah kiranya agar boleh kiranya berubah menjadi kita semua atau kita bersama untuk semua pula agar boleh berlanjut sesuai keinginan semua secara bersama pula. Ketika ku bercerita hutan, kuingin hutan boleh berlanjut, lestari sampai nanti.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5f7d2afcd541df0b2d554e12/cerpen-ketika-aku-cerita-tentang-hutan

 Petrus Kanisius-Yayasan Palung