Sampaikan Arti Penting Menjaga Satwa Dilindungi Kepada Masyarakat dan Anak Sekolah Lewat Ekspedisi Pendidikan Lingkungan

Vanessa saat menyampaikan Puppet show bercerita tentang Satwa Dilindungi kepada Anak-anak Sekolah Dasar. (Foto : Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Satwa menjadi salah satu elemen terpenting yang ada di bumi ini. Peran penting satwa dilindungi menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kehidupan. Orangutan misalnya memiliki peran sebagai petani hutan di bumi ini.  

Seperti misalnya, Yayasan Palung melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Dua Desa yakni Desa Mata-Mata dan Desa Medan Jaya di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Dalam kegiatan tersebut, Yayasan Palung melakukan serangkaian kegiatan Diskusi masyarakat. Selain itu, kami juga memberikan lecture (ceramah lingkungan) dan Puppet Show (pertunjukan boneka) di dua desa tersebut.

Dokumentasi Foto-foto kegiatan saat kami melakukan diskusi di Desa Mata-Mata dan Medan Jaya, Kecamatan Simpang Hilir :

Hari pertama kami melakukan kegiatan, pada Selasa (16/11/2021), kegiatan yang kami lakukan adalah puppet show di SDN 09 Tanjung Pelanduk. Saat puppet show, kami berkesempatan untuk menyampaikan informasi tentang satwa dilindungi dengan cara bertutur (bercerita).

Beberapa cerita tentang satwa yang kami ceritakan seperti nasib satwa dilindungi saat ini dalam ancaman nyata, perlu peran dari semua pihak untuk melindunginya. Dalam cerita puppet show tersebut juga diceritakan beberapa satwa dilindungi seperti orangutan, bekantan dan kelasi.

Selain itu diceritakan juga tentang perilaku, sebaran, DNA dan reproduksi orangutan. Diceritakan pula tentang  habitat hidup satwa dilindungi keberadaannya semakin hari semakin menurun drastis karena berbagai persoalan diantaranya pembukaan lahan berskala besar.   

Pada sore harinya, kami berkesempatan untuk berdiskusi dengan masyarakat di Desa Mata-Mata tentang satwa-satwa yang dilindungi di Indonesia dan malamnya kami melakukan mobile cinema (pemutaran film lingkungan).

Beberapa film lingkungan yang kami putar pada kesempatan tersebut antara lain adalah 10 Hewan langka yang dilindungi, Hari Esok yang Hilang dan Semesta.

Hari berikutnya, Rabu (17/11) puppet show kami laksanakan di SDN 03 Teluk Melano. Cerita yang kami sampaikan pun tentang satwa dilindungi. Setelah Puppet show selesai di hari itu, kami lanjutkan untuk melakukan lecture di SMAN 1 Simpang Hilir dengan mengetengahkan materi tentang Orangutan Manfaatnya Bagi Manusia dan Hutan.   

Kamis (18/11) puppet show dilakukan di SDN 08 Rangkap dan lecture kami lakukan di SMPN 2 Simpang Hilir. Materi yang disampaikan sama seperti di SMAN 1 Simpang Hilir. Sore harinya kami berdiskusi dengan masyarakat di Desa Medan Jaya. Kami juga melakukan pemutaran film lingkungan di desa itu. Di Desa Medan Jaya, film lingkungan yang diputarkan adalah film A Hidden Paradise, Film How to Find an Orangutan at Cabang Panti in Gunung Palung National Park, 10 Hewan Langka Yang Dilindungi Di Indonesia dan Film Research Activities.

Hari terakhir kegiatan, Jumat (19/11) kegiatan yang kami lakukan adalah puppet show di SDN 7 Mata-Mata.

Puppet show tentang satwa dilindungi disampaikan oleh Haning, Vanessa, Petrus Kanisius dan Wawan. Sedangkan lecture disampaikan oleh Simon Tampubolon.

Pada saat puppet show, lecture dan diskusi masyarakat disampaikan pula tentang Undang-undang tentang Perlindungan Orangutan dan Satwa Liar yang Dilindungi. Undang-Undang nomor 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem pasal 21 ayat 2 “Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan atau memperjual belikan binatang/hewan yang dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati”.
Undang-Undang nomor 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem pasal 40 ayat 2 “Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (Seratus juta rupiah)”.

Semua rangkaian kegiatan yang kami lakukan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Rayakan Pekan Peduli Orangutan 2021, Yayasan Palung Bersama Para Relawan dan Komunitas Melakukan Serangkaian Kegiatan

Anak-anak dari Bentangor Kids saat merayakan PPO 2021, pada Selasa (9/11/2021) kemarin. (Foto : Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Pekan Peduli Orangutan (PPO) merupakan salah satu kegiatan rutin yang disebut juga dengan spesial event (kegiatan khusus) setiap tahunnya. Kegiatan Pekan Peduli Orangutan sebagai salah satu bentuk kepedulian kepada nasib satwa (primata) yang dilindungi dan sangat terancam punah yaitu orangutan.

Setiap tahunnya kegiatan PPO dilaksanakan pada minggu kedua bulan November, tahun ini kegiatan ini mulai tanggal 7 November 2021 dengan puncaknya tanggal 13 November 2021. Tema yang diangkat adalah “Menghormati alam untuk menyelamatkan orangutan, keanekaragaman hayati dan masa depan kita bersama”.

Yayasan Palung sebagai lembaga yang bergerak dibidang konservasi hutan dan orangutan di Kalimantan setiap tahunnya selalu mengadakan serangkaian kegiatan untuk merayakan PPO bersama dengan para relawan muda seperti RK-TAJAM ( @rk_tajam ) , REBONK ( @rebonk_yp ) dan WBOCS ( @wbocs_update ) serta pihak sekolah.

PPO 2021 juga dirayakan oleh Yayasan Palung di SMPN 9 Ketapang. Beberapa rangkaian kegiatan antara lain mengajak siswa-siswi di sekolah tersebut untuk memahami tentang manfaat orangutan dan hutan. Selain itu juga mengajak siswa-siswi mengenal dan mengidentifikasi jenis tumbuhan yang ada di sekitar sekolah. Rencana awal kami akan melakukan fieldtrip di hutan Kota Ketapang tetapi kami batalkan karena cuaca buruk (hujan yang sangat lebat).

Di Kabupaten Ketapang, RK-TAJAM misalnya pada Sabtu (13/11/2021) kemarin, saat merayakan PPO dengan berbagai kegiatan  diantaranya seperti Pertunjukan boneka orangutan, Mewarnai dan membuat Sablon dan Bagi ToteBag Gratis.

Pada PPO kali ini juga diadakan Webinar/kuliah daring dengan materi tentang orangutan dan beberapa kegiatan lainnya dilakukan pada tanggal 12 November lalu.

Sebagai pemateri dalam webinar dalam rangka PPO tersebut adalah Siti Roqayah, S.Si dari Taman Nasional Gunung Palung. Pemateri kedua Ahmad Rizal dari Yayasan Palung (YP) dan Rahn Siti Aqila A. dari RK-TAJAM. Sedangkan sebagai moderator  adalah Muhammad Syainullah dari WBOCS 2020.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Rizal dari Yayasan Palung mengatakan, “Penelitian secara berkelanjutan merupakan salah satu upaya kita untuk melestarikan orangutan dan habitatnya,  dengan seperti itu kita akan selalu tau bagaimana kondisi keduanya saat ini dan kemungkinan kedepan, untuk mendukung penelitian terus berjalan baik tidak akan lepas dari kemauan generasi muda untuk terus belajar, ingin tau dan menjadi bagian di dalamnya.”

Hadirnya webinar dari YP merupakan “Moment yang saya rasa sangat tepat ya bertepatan dengan hari PPO, menghadirkan webinar dan mengajak generasi muda untuk lebih tau, dan ayo berpartisipasi untuk menghormati alam demi masa depan keanekaragaman hayati yang kita punya demi masa depan bersama, semoga acara seperti ini terus bisa dikembangkan sebaik mungkin,” kata Ahmad Rizal.

Di Kayong Utara, pada tanggal 13 hingga 14 November 2021, REBONK dan WBOCS Kayong Utara melakukan kegiatan dalam rangka memeriahkan Pekan Peduli Orangutan yang di selenggarakan di setiap tahunya pada bulan November. Dalam memeriahkan Pekan Peduli Orangutan REBONK dan WBOCS mengundang Sispala TAPAL SMK Negeri 1 Simpang Hilir untuk berpartisipasi dalam memeriahkan Pekan Peduli Orangutan. Kegiatan lainnya adalah NOBAR ( Nonton Bareng) sekaligus juga bedah film yaitu film Kinipan, Nusantara dan Lahan Sejuta Harapan. Pemutaran film dilakuka di Kantor Yayasan Palung Bentangor.

Adapun kegiatan yang dilakukan yaitu Nonton Bareng yang dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung, BENTANGOR dan Penanaman bibit pohon sebanyak 20 bibit (bibit jengkol dan buah-buahan) di Bukit Mendale, Desa Sejahtera, kecamatan Sukadana.

Selain itu, kegiatan Pekan Peduli Orangutan juga dilakukan oleh Bentangor Kids pada Selasa (9/11/2021). Kegiatan ini dilakukan oleh Tim PL Kayong Utara bersama REBONK. Kegiatan ini diikuti oleh 43 anak-anak yang berdomisili di sekitar kantor Yayasan Palung Bentangor. Rangkaian kegiatan yang dilakukan adalah perkenalan dan pembukaan kegiatan oleh Demi dan Siska, Penjelasan tentang Pekan Peduli Orangutan oleh Simon, Penyampaian materi pengenalan orangutan oleh Riduwan, Belajar lagu si pongo oleh Simon, Pemutaran video tentang orangutan oleh Simon, Kuis seputar materi orangutan dan video didampingi oleh Demi dan Siska, kegiatan terakhir aadalah makan bersama dan foto bersama. Anak-anak sangat bersemangat mengikuti kegiatan dan berebut untuk mendapatan hadiah ketika sesi kuis.

Sedangkan di Pontianak, puncak Pekan Peduli Orangutan 2021 dilaksanakan dengan dua agenda sekaligus berupa Penanaman 300 bibit pohon di Hutan Gambut Desa Peniti Dalam 1, Dusun Abo Pinang, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah. Kegiatan ini juga dihadiri oleh UPT KPH Wilayah Mempawah, Poktani Hutan Usaha Parit Tinggal Latong, Dan Sekretaris Desa Peniti Dalam 1.

Selanjutnya juga melakukan siaran di Radio Kharisma Pontianak dengan tema “Konservasi Sumber Daya Alam (SDA) dan Orangutan Dari Sudut Pandang Hukum dan Giat Lingkungan”, sebagai narasumber adalah M. Syainullah (WBOCS 2020) dan Gusti Irawan (WBOCS 2019) di Radio Kharisma 91,6 MHz di Pontianak.

WBOCS juga melaukan lecture edukasi Hutan dan Orangutan di Sekolah Mts Raudlatussa’adah, Siantan Hulu, Pontianak.

Semua rangkaian kegiatan  Pekan Peduli Orangutan 2021 yang dilakukan oleh Yayasan Palung bersama para relawan, komunitas dan pihak sekolah berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana.

Dokumen Foto dok : Yayasan Palung, WBOCS, RK-TAJAM dan REBONK

Penulis : Petrus Kanisius (Yayasan Palung), Agun Prayoga dan Egi Iskandar (WBOCS)

Ternyata Ini Peranan Penting Orangutan dan Hutan Bagi Kehidupan

Anak orangutan bersama Induknya di Taman Nasional Gunung Palung. (Foto : Tim Laman).

Tidak bisa disangkal, orangutan dan hutan memiliki peranan penting bagi kehidupan. Orangutan sebagai petani hutan (penyebar benih) dan hutan sebagai sumber hidup bagi sebagian besar kehidupan.

Hutan sebagai rumah sekaligus sumber hidup bagi orangutan dan manusia. Bayangkan, apa jadinya jika orangutan dan hutan tak tersisa, lalu bagaimana dengan kehidupan? Satu yang pasti adalah satu kesatuan makhluk hidup akan sulit berkembang biak. Ancaman akan hilangnya habitat hidup dari orangutan sudah semakin terasa.

Orangutan boleh dikata sebagai spesies dasar bagi konservasi, hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan.

Orangutan memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian ketika makan. Buah-buhan atau pun biji-bijian itulah yang selanjutnya tumbuh menjadi tajuk-tajuk pepohonan yang disebut juga sebagai hutan.

Hutan primer yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati, dengan menyelamatkan orangutan berarti pula turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman, dan berbagai macam spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia.

Lalu, apa kaitan orangutan dengan manusia? Manusia sangat bergantung terhadap hutan seperti halnya orangutan untuk pemenuhan akan akan sumber hidup seperti sebagai sumber air, pangan dan udara yang bersih. Selain itu, manusia memerlukan sumber ilmu pengetahuan, rekreasi dan mata pencaharian.

Hutan yang baik akan selalu memberikan dampak  baik bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, tidak terkecuali mendatangkan wisatawan dari dampak pariwisata yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

Hal lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah dari adanya orangutan di hutan dapat memberikan informasi tentang pemanfaatan obat-obatan tradisional yang berasal dari tumbuh-tumbuhan di hutan kepada masyarakat dan para peneliti.

Satu harapan agar boleh kiranya orangutan dan hutan boleh berlanjut hingga nanti karena peranannya yang sangat tak ternilai bagi keberlanjutan kehidupan sebagian besar makhluk hidup. Untuk perlindungan dan pelestarian orangutan dan hutan perlu perhatian dari semua pihak tanpa terkecuali. Dengan demikian hutan dan orangutan bisa lestari hingga nanti.

Petrus Kanisius (Pit)

(Yayasan Palung)

Ini Pentingnya Kita Merayakan Pekan Peduli Orangutan

PPO 2021. Desain Gambar : (Egi Iskandar/Yayasan Palung).

Pekan Peduli Orangutan (PPO) merupakan salah satu kegiatan rutin yang disebut juga dengan spesial event (kegiatan khusus) setiap tahunnya. Kegiatan Pekan Peduli Orangutan sebagai salah satu bentuk kepedulian kepada nasib satwa (primata) yang dilindungi dan sangat terancam punah yaitu orangutan.

Setiap tahunnya kegiatan PPO dilaksanakan pada minggu kedua bulan November, tahun ini kegiatan ini mulai tanggal 7 November 2021 dengan puncaknya tanggal 13 November 2021. Tema yang diangkat adalah “Menghormati alam untuk menyelamatkan orangutan, keanekaragaman hayati dan masa depan kita bersama”

Yayasan Palung sebagai lembaga yang bergerak dibidang konservasi hutan dan orangutan di Kalimantan setiap tahunnya selalu mengadakan serangkaian kegiatan untuk merayakan PPO bersama dengan para relawan muda seperti RK-TAJAM ( @rk_tajam ) , REBONK ( @rebonk_yp ) dan WBOCS ( @wbocs_update ).

Serangkaian kegiatan seperti kampanye penyadartahuan ke anak sekolah dan masyarakat serta penanaman pohon. Selain itu juga Webinar/kuliah daring materi tentang orangutan dan beberapa kegiatan lainnya. Serangkaian kegiatan dilakukan dalam rentang waktu 7-14 November.

Sebagai pengingat di Pekan Peduli Orangutan, ini beberapa fakta tentang orangutan :

Orangutan si Petani Hutan. (Foto : Erik Sulidra).

Orangutan merupakan salah satu kera besar yang ada di Asia, lebih khusus di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sayangnya, orangutan yang merupakan satwa sangat terancam punah keberadaannya di habitat hidupnya.

Keberadaan Orangutan Kalimantan dan Orangutan Sumatera adalah salah satu kebanggaan Indonesia.

Kebanggaan tersebut tidak lain karena orangutan menjadi simbol (tanda) bahwa keberadaan hutan memiliki keunikan dan kelengkapan keanekaragaman hayati yang melimpah. Namun, sayangnya saat ini keberadaan hutan tersebut mengalami penurunan drastis (deforestasi) akibat pembukaan lahan yang masif.

Orangutan dan orang rimba (orang yang hidup tinggal di hutan/orang kampung/masyarakat adat; mereka yang tidak terpisahkan dari hutan, hutan sebagai sumber hidup dan mereka adalah penjaga sejati hutan) memiliki peran atau berperan besar sebagai penyebar dan penanam tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi, saat ini orangutan dan orang rimba yang tinggal di sekitar hutan mulai terhimpit di habitat hidup mereka, salah satunya karena kalah bersaing dan mengorbankan jutaan hektar hutan. Hal ini tidak jarang membuat makhluk hidup lain juga terancam.

Keistimewaan orangutan yang mendiami pulau di Kalimantan dan Sumatera, jika boleh dikata karena orangutan disebut sebagai spesies kunci (key species) Hutan sebagai sumber kehidupan, demikian dikatakan. Orangutan sebagai spesies payung dan petani hutan, sedangkan manusia (masyarakat di sekitar hutan) sebagai penjaga yang semestinya pula untuk diperhatikan.

Dari tahun ke tahun keadaan orangutan sangat memprihatinkan keberadaannya di habitat hidupnya. Selain semakin sulitnya mereka untuk berkembang biak, juga keberadaan mereka yang tersisa berada dalam ancaman nyata sehingga kini orangutan menjadi satwa yang sangat terancam punah.

Orangutan memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan (seed disperser). Orangutan dikenal juga sebagai petani hutan.

Keberadaan orangutan di hutan memiliki peran penting bagi ragam satwa lainnya. Orangutan sebagai penopang bagi spesies lainnya.

Orangutan Selalu Berpindah Sarang Setiap Harinya. Orangutan tidak seperti burung atau pun binatang lain yang bersarang dan selalu menetap di sarang-sarang mereka. Orangutan hampir dipastikan selalu berpindah sarang setiap harinya.

Satu di antaranya mungkin karena DNA orangutan mendekati DNA manusia sehingga memiliki tingkat kecerdasan maka orangutan ingin selalu higienis.

Orangutan juga dikenal sebagai primata yang selalu berpindah-pindah (tidak berdiam di satu tempat). Orangutan selalu menjelajah hutan/berpindah-pindah dari wilayah satu ke wilayah lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA); orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari: 60% terdiri dari buah, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap).

Orangutan adalah satwa yang dilindungi undang-undang nomor 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

pasal 21 ayat 2 : “Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan atau memperjual belikan binatang/hewan yang dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati”.

pasal 40 ayat 2 : “Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (Seratus juta rupiah)”.

Orangutan Kalimantan dan Sumatera telah masuk dalam klasifikasi Critically Endangered (spesies sangat terancam punah) dalam daftar IUCN (International Union Consevation Nature).

Menjaga dan melindungi satwa berarti ikut berperan untuk keutuhan ciptaan agar saling harmonis satu dengan yang lainnya sampai nanti. Semoga saja…

#yayasan_palung #yayasanpalung #saveorangutans #savewildorangutans #orangutanwildlife #orangutankalimantan #satwadilindungi #satwaliar #terancampunah #primata #primates #primataindonesia #GunungPalungNationalPark #gunungpalungnationalpark #pekanpeduliorangutan #pekanpeduliorangutan2021

Tulisan : Pit

Sumber Tulisan : Dari berbagai Sumber

(Yayasan Palung)

“Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional” Sudahkah Kita Peduli dengan Cinta pada Puspa dan Satwa?

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. (Foto desain : Gilang Ihsan Pratama/Yayasan Palung).

Setiap tanggal 5 di bulan November diperingati sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa. Hari Cinta Puspa dan Satwa yang kita peringati sekaligus sebagai pengingat kepada kita semua tentang bagaimana rasa peduli dengan tindakan nyata kita berupa cinta kita pada puspa dan satwa saat ini .

Perlunya tindakan nyata berupa kepedulian, perlindungan dan rasa cinta terhadap satwa sudah selayaknya dilakukan, mengapa demikian?

Puspa dan satwa yang ada di muka bumi ini sedikit banyak mengalami berbagai persoalan. Tentunnya persoalan tersebut menyangkut hak-hak hidup mereka seperti layaknya manusia.

Peran dan fungsi mereka (puspa dan satwa) tidak terbatas bagi tatanan kehidupan. Akan tetapi tingkat keterancaman habitat tempat mereka tinggal berupa hutan dan populasi mereka semakin  menurun hingga membuat menurun, semakin punah, semakin terancam, semakin langka bahkan tinggal kenangan, akibat berbagai aktivitas manusia. Nasib mereka dari hari ke hari semakin memprihatinkan dengan semakin seringnya interaksi negatif manusia versus satwa.

Perlindungan serta rasa cinta terhadap satwa telah di dengungkan sejak tahun 1993, ini ditunjukkan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap puspa dan satwa. Dengan demikian sudah berlangsung selama 28 tahun sampai hari ini.

Berbagai cara telah banyak dilakukan oleh kawan-kawan lingkungan yang peduli terhadap satwa yang dilindungi, namun kepedulian ini belum sepenuhnya mendapat dukungan dari berbagai pihak, tetapi nyatanya sangat ironis.

Kepedulian bersama terhadap satwa dilindungi yang menjadi dasar kepeduliaan, cinta terhadap satwa dilindungi cenderung semakin terabaikan khususnya tindakan nyata. 

Hal lainnya yang mendasari semakin memperparah terancamnya satwa dan hutan di sebabkan oleh  tuntutan hidup manusia.

Tidak jarang yang selalu menjadi korban adalah satwa-satwa dilindungi dan keberadaan hutan serta tumbuh-tumbuhan akibat semakin lajunya tingkat kerusakan hutan dan berbagai persoalan lainnya sudah sangat dirasakan dampaknya.

Laju deforestasi juga berdampak langsung terhadap kehidupan manusia, seperti banjir, kekeringan dan kebakaran.

Hutan sebagai tempat berpijak bagi seluruh kehidupan di bumi semakin hari semakin terkikis dan satwa semakin memprihatinkan keberadaannya.

Terhimpitnya habitat sudah barang tentu akibat semakin meluasnya area atau lahan untuk perkebunan dan pertambangan serta pembangunan.

Selain itu, tingkat keterancaman habitat dan populasi satwa seperti orangutan, burung enggang, trenggiling, jenis-jenis burung  dan satwa-satwa dilindungi lainnya akibat perburuan dan pemeliharaan serta masih lemahnya penanganan kasus-kasus terkait kejahatan terhadap satwa.

Bukankah, hutan, tumbuh-tumbuhan dan satwa merupakan satu kesatuan makluk hidup yang tidak terpisahkan di bumi ini.

Sudah barang tentu satu kesatuan, langkah nyata menjadi prioritas utama, kepedulian manusia untuk bersama-sama menjaga dan melindungi serta melaksakan tindakan nyata menjadi suatu keharusan.

Selain itu, pelibatan semua pihak untuk menumbuhkan rasa cinta, peduli dan melindungi harus ada dan kesadaran untuk saling mendukung tetap terjaga dan lestarinya satwa dan lingkungan secara berkelanjutan.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

(Yayasan Palung)

Tumbuhan Ini Cantik dan Menarik tetapi Bertaring, Tahukah Kalian?

Nepenthes bicalcarata yang dijumpai ketika survei di Hutan Desa Ada tumbuhan yang menarik di lokasi survei hutan desa Nipah Kuning, Simpang Hilir, Kayong Utara (KKU), beberapa waktu lalu. (Foto : Andre Ronaldo).

Ada tumbuhan yang menarik di lokasi survei hutan desa Nipah Kuning, Simpang Hilir, Kayong Utara (KKU).

Tidak hanya menarik, tumbuhan ini sangat cantik tetapi bertaring. Iya, kantong semar namanya. Ia juga sangat unik dengan ciri khas memiliki sepasang taring pada bagian bawah tutup kantongnya (lid). Kantong semar bertaring ini dikenal dengan nama ilmiah “Nepenthes bicalcarata”. Nepenthes bicalcarata merupakan kantong semar endemik Pulau Borneo, penyebarannya mulai dari Kalimantan, Sarawak, Brunei sampai ke Sabah.

Baca juga ini :

Adapun untuk data sebaran nepenthes di Indonesia tercatat telah ditemukan di Borneo 32 jenis, Sumatera 29 jenis, Sulawesi 10 jenis, Papua 9 jenis, Maluku 4 jenis dan Jawa 2 jenis (Akhriadi & Hernawati, 2004; Clarke, 2006; Wistuba et al., 2007).

Di Kalimantan Barat ada 7 jenis Nepenthes (kantong semar) yang bisa dijumpai, diantaranya seperti ; Jenis Nepenthes ampullaria, jenis Nepenthes rafflesiana, jenis Nepenthes xneglecta, jenis Nepenthes pilosa, jenis Nepenthes bicalcarata, jenis Nepenthes hirsute dan jenis Nepenthes reinwardtiana.

Baca juga :

Kantong semar bertaring ini sangat umum ditemukan di hutan rawa gambut, selain itu ditemukan pula pada hutan kerangas. Sebagai informasi, status konservasinya menurut IUCN Redlist tergolong kedalam kategori rentan (vulnerable).

Jenis ini sudah mulai langka, sangat jarang ditemukan pada habitat alaminya karena beberapa gangguan. Namun di Hutan Desa Nipah Kuning populasinya cukup melimpah.

Semoga jenis kantong semar unik ini tetap terjaga kelestariannya.

#nephentes #kantongsemar # hutandesa #yayasan_palung #yayasanpalung #YayasanPalung #Borneo #borneobiodiversity #keanekaragamanhayati #tumbuhan

Penulis : Andre Ronaldo

(Yayasan Palung)

Bersua dengan Burung Ruai di Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA)

Bersua (berjumpa) dengan burung ruai di Taman Nasional Gunung Palung. (Foto : Wahyu Susanto/Yayasan Palung).

Agar bisa bersua (berjumpa) dengan burung ruai bukan perkara mudah, tidak semua orang bisa langsung berjumpa dengan burung ini.

Perjumpaannya dengan burung ruai ini memerlukan kesabaran yang luar biasa, membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mendapatkan rekaman video dan foto di Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA).

“Saya mengabiskan 40 hari lamanya untuk bisa memotret dan mengambil video dari jarak dekat burung yang dalam bahasa latinnya disebut Argusianus argus ini,”kata Wahyu Susanto, Direktur Penelitian Yayasan Palung.

Menariknya lagi kata Wahyu, burung yang juga disebut Kuau ini sangat sulit sekali untuk dapat memotret walau dalam rentang waktu 40 hari ia berada dalam tenda kamuflase. Hari ke 40 barulah ia bisa berhasil dengan leluasa memotret dan merekam burung ruai.

Lihat juga :

Saat mengabadikan burung ruai, Wahyu Susanto, menunggu dan membuat tenda kamuflase di sekitar area bermain si burung ruai.

Pengambilan dokumentasi burung ruai ini untuk kebutuhan pembuatan film seri BBC yang berjudul “The Mating Game” dengan tim yang terdiri dari Tim Laman, Wahyu Susanto dan Darmawan dari Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA).

Baca juga :

Melansir dari alamendah.org  menyebutkan,  Burung Ruai di Indonesia mendiami wilayah Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan di tempat lain, Burung ruai tersebar juga di wilayah Thailand, Myanmar, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Habitat yang disukainya adalah hutan primer di dataran rendah hingga ketinggian 1.500 meter dpl.

Suara burung kuau jantan sangat keras sampai terdengar dari jarak lebih dari 1 kilometer Kicauan burung ini berbunyi “ku-wau”.

Burung ruai jantan dikenal dengan hidup soliter (menyendiri) kecuali ketika kawin ia bersama ruai betina.

Burung ruai dalam bahasa inggrisnya disebut Great Argus. Burung ruai masuk dalam daftar Rentan (vurnareble), dalam daftar IUCN Red List.

Burung ruai masuk dalam daftar burung yang dilindungi menurut UU no. 5 tahun 1990 dan PP no. 7 tahun 1999.

Saat ini, habitat hidup dari burung ruai mengalami ancaman serius karena semakin menyempitnya wilayah hutan. Selain itu, kebakaran hutan, perburuan dan perdagangan terhadap ruai menjadi ancaman serius bagi  burung yang memiliki bulu khas ini.  

Tulisan ini dimuat juga di : https://monga.id/2021/11/berjumpa-dengan-burung-ruai-di-taman-nasional-gunung-palung 

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

(Yayasan Palung)

Rayakan Hari Sumpah Pemuda, Relawan REBONK Lakukan Serangkaian Kegiatan

Pesan kampanye yang dibuat oleh relawan REBONK Saat merayakan hari Sumpah Pemuda. (Foto : Demi/REBONK/YP)

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang terjadi pada tanggal 28 Oktober, Yayasan Palung bersama Relawan REBONK kembali melaksanakan kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tanggal 30-31 Oktober 2021 di Kantor Yayasan Palung (Bentangor), Desa Pampang Harapan.

Kegiatan ini memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa semangat dan cinta pemuda kepada bangsa dan tanah air ini. Seperti halnya kata Presiden pertama Indonesia Bapak Ir. Soekarno, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah)” artinya sebagai generasi pemuda penerus bangsa jangan sesekali melupakan jasa para pahlawan bangsa ini. adapun kegiatan ini diikuti oleh sekitar 35 orang yang terdiri dari 20 orang peserta (calon anggota REBONK angkatan 11) dan 15 panitia (REBONK angkatan 10).

Adapun bentuk kegiatannya adalah pertama yaitu lomba cerdas cermat yang terdiri dari mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan pengetahuan umum.

Foto-foto kegiatan :

Khusus Pendidikan Kewarganegaraan soal-soal yang dijabarkan adalah berkaitan dengan sumpah pemuda. kemudian lomba selanjutnya adalah lomba kelereng, kemudian lomba menyusun puzzle, lomba memasukkan paku dalam botol, lomba makan kerupuk dan lomba balon dangdut. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian hadiah lomba. Setelah semua rangkaian kegiatan lomba selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama dengan membawa beberapa pesan kampanye yang berkaitan dengan hari sumpah pemuda.

Sebagai pemenang lomba rayakan hari sumpah pemuda adalah kelompok dua, juara dua kelompok satu dan juara tiga kelompok tiga.

Sedangkan pesan-pesan kampanye yang dibuat diantaranya seperti; Selamat Hari Sumpah Pemuda, Masa Depan Bangsa dalam Genggaman Para Pemuda, Berikan Aku Satu Pemuda Niscaya akan Kuguncangkan Dunia, dan beberapa pesan kampanye lainnya. semua rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun.

Baca juga :

Semua rangkaian kegiatan perayaan sumpah pemuda dilaksanakan sesuai dengan rencana dan berjalan dengan baik.

Penulis : Riduwan-Yayasan Palung

Ini Fakta Tumbuhan Liana yang Banyak Memberikan Manfaat Bagi Satwa

Tumbuhan Liana. (Foto : Yayasan Palung).

Tumbuhan ini jika boleh dikata adalah tumbuhan pemanjat (merambat pada pohon), mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan kepada tumbuhan liana. Liana banyak memberikan manfaat bagi satwa.

Ia bukan pohon, tetapi tumbuhan. Hidup menempel (menumpang) serta menjalar pada pohon sebagai penopangnya untuk mendapakan cahaya matahari. Tumbuhan liana bukan tumbuhan parasit (tumbuhan yang merugikan tumbuhan lain) seperti ficus sp (kayu ara) misalnya.

Menariknya, tumbuhan liana ternyata banyak memberikan manfaat bagi satwa. Seperti misalnya akar liana yang menjalar atau menggantung bisa menjadi arena bermain bagi satwa dan buah dari liana menjadi makanan favorit satwa.

Tidak hanya buah, tetapi satwa seperti orangutan sangat suka memakan daun muda dan kulit dari liana. Untuk buah, orangutan sangat senang memakan buah liana jenis Willugbeia sp. (buah jantak) karena rasanya manis.

Beberapa satwa seperti monyet ekor panjang, kelempiau, kelasi dan orangutan diketahui sangat menyukai tumbuhan liana sebagai makanan. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum sp, dan lain-lain.

Seperti diketahui, kelimpahan liana di Stasius Riset Cabang Panti (SRCP) di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Diketahui pula, keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

Baca juga :

Tumbuhan liana merupakan tumbuhan yang memiliki batang yang keras namun untuk mendapatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis (proses pertukaran CO2 dan O2), liana membutuhkan tumbuhan lain seperti pohon. Akar liana berbeda dengan Ficus sp.   Organ tubuhnya menempel pada pohon.

Berharap, tumbuhan liana yang ada ini harus tetap terjaga kelestariannya, karena tumbuhan liana sangat banyak manfaatnya terutama untuk satwa (primata).

Penulis : Petrus Kanisius

Editor : Dwi Yandhi F.

(Yayasan Palung)

Ajakan untuk Peduli Lingkungan, YP Lakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan Ke Masyarakat dan Sekolah

Riduwan saat menyampaikan presentasi tentang Perlindungan Satwa Orangutan. (Foto : Pit/Yayasan Palung).

Ekspedisi Pendidikan Lingkungan menjadi salah satu cara Yayasan Palung (YP) untuk mengajak masyarakat dan sekolah untuk peduli lingkungan. Seperti misalnya, Yayasan Palung melaksanakan Ekspedisi pada Senin (11/10/2021) hingga Jumat (15/10/2021) di Desa Petai Patah dan Desa Muara Jekak, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang. 

Serangkaian kegiatan yang dilakukan selama Ekspedisi antara lain seperti pemutaran film lingkungan, diskusi dengan masyarakat untuk menyampaikan sosialisasi tentang satwa dilindungi, pengenalan satwa dilindungi melalui pertunjukan boneka (Puppet Show) di Sekolah Dasar (SD), Ceramah lingkungan (Lecture) tentang pengenalan dan perlindungan satwa orangutan di tingkat SMP/SMA/SMK.

Saat melakukan ekspedisi, kami menyambangi sekolah-sekolah yang ada di dua desa tersebut, mengingat sekolah sudah mulai dibuka kembali, namun tetap mematuhi protokol kesehatan.

Pada malam harinya, kami melakukan pemutaran film lingkungan. Beberapa orang terlihat sangat antusias saat kami melakukan pemutaran film. Beberapa film yang diputarkan antara lain seperti; Film dokumenter tentang Alam Indonesia Diambang Kepunahan, Hidden Paradise, dan film tentang satwa yang dilindungi.

Beberapa sekolah yang kami kunjungi antara lain adalah SDN 10 Sandai, SDN 4 Sandai dan SDN 5 Sandai melakukan kegiatan Puppet show. Selain itu, kami juga berkunjung ke SMPN 3 Sandai dan SMKN 1 Sandai untuk melakukan lecture.

Ketika kami mengadakan diskusi dengan masyarakat di Desa Petai Patah, beberapa uraian dari mereka menyebutkan terkait lingkungan yang ada di wilayah mereka. Persoalan banjir yang sudah mulai mendera, luasan tutupan hutan dan ancamanya karena dikelilingi oleh perusahaan tambang  serta sudah semakin sulitnya mereka berjumpa (melihat) satwa yang dilindungi di sekitar mereka menjadi cerita baru yang kami dapatkan.

Sedangkan di Desa Muara Jekak, kegiatan diskusi masyarakat membahas tentang lingkungan sekitar desa tersebut. Masyarakat menceritakan, di desa Muara jekak ada hutan yang masih tersisa yaitu Bukit Keladan. Bukit Keladan sebagai salah satu hutan yang menurut masyarakat adalah hutan konservasi, di hutan tersebut sering dijaga dan dijadikan tempat untuk berkegiatan di alam oleh komunitas Penjaga Alam Kompas (Komunitas Pencinta Alam Sandai).

Setelah diskusi, kami lanjutkan dengan pemutaran film lingkungan, beberapa film yang kami putarkan antara seperti film dokumenter Alam Indonesia Diambang Kepunahan, Film tentang satwa Dilindungi dan film hiburan Godzilla vs Kong.

Pada saat ekspedisi pendidikan lingkungan tersebut yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut adalah Riduwan, Haning Pertiwi, Petrus Kanisius, Gusti Irawan, Wawan dan Oting.

Selama kami berkegiatan, semua rangkaian kegiatan ekspedisi yang kami laksanakan berjalan sesuai rencana.

Penulis : Pit

Editor : Dwi Yandhi F.

(Yayasan Palung)