PENTINGNYA KEBERADAAN ORANGUTAN  UNTUK REGENARASI HUTAN

Orangutan. (Foto : Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Orangutan termasuk ke dalam keluarga kera besar atau disebut sebagai bagian dari Hominidae.  Penelitian tentang divergensi genetik menunjukan kekerabatan (phylogenetic)  orangutan 97% mirip dengan manusia (Locke et al., 201). Terlepas dari adanya kemiripan tersebut, terdapat perbedaan yang membantu kita memahami hubungan antara orangutan dan manusia. Orangutan memiliki persebaran yang luas terkhusus di Asia Tenggara termasuk Kalimantan Barat untuk jenis dengan nama ilmiah Pongo pymaeus (Ancrenaz et al., 2016). Secara spesifik terbagi menjadi dua subspesies yaitu Pongo pygmaeus ssp. pymaeus dan Pongo pygmaeus ssp. wrumbii . Masyarakat lokal di Kalimantan akrab mengenal dengan berbagai nama diantaranya mayas dan untek (Ancrenaz et al., 2016a, 2016b). Keberadaan orangutan di Kalimantan bahkan diabadikan sebagai nama Bukit (Bt. Mayas). Berdasarkan IUCN (2016) status Pongo pygmaeus terancam kritis (Critically Endangered: CR).

Orangutan merupakan satwa dengan makanan utama buah-buahan (frugivora). Mereka memiliki hubungan yang sangat penting dengan kelestarian hutan. Istilah penebar biji (seed-dispersing effect) tidak diragukan lagi melekat pada satwa berbulu merah kecoklatan ini, bahwa orangutan berperan penting dalam menjaga kelestarian jenis tumbuhan hutan. Efek yang berkebalikan juga berlaku yaitu proses memenuhi kebutuhan nutrisi harian orangutan juga bergantung pada hutan. Kesinambungan antara orangutan dan hutan memang tidak dapat dipisahkan. Keseharian orangutan tidak lepas dari menganyam sarang untuk tempat berteduh dan istrihat. Jenis pohon yang dijadikan sebagai tempat untuk menganyam sarang sangat bervariasi, seringkali ditemukan pada pohon yang memiliki elastisitas tinggi dan kokoh, contohnya ulin atau belian (Eusideroxylon zwageri), Meranti (Shorea; Shorea dasyphylla, Shorea leprosula) dan Kumpang (Myristicaceae). Masalah yang terjadi adalah diantara pohon tersebut memiliki nilai komersial terkait potensi kayu yang kokoh dan berkualitas.

Beberapa jenis yang dapat ditemukan di gambut dan sering menjadi target illegal logging untuk diambil kayunya yaitu nyatoh (Palaquium spp.) dan meranti (Shorea platycarpa). Jenis tersebut juga merupakan pohon yang buahnya dikonsumsi oleh orangutan. Selain itu pohon penyusun hutan yang hilang dapat menyebabkan terancamnya populasi berbagai liana dan tumbuhan epifit yang sering ditemukan di batang dan tajuk pohon. Berbagai dampak negatif seperti hilangnya ekosistem tertentu dapat terjadi dan mengakibatkan ketidakstabilan lingkungan. Sebagai contoh, regenerasi gambut dapat terganggu, berdampak pada minimnya resapan, sehingga berpotensi menimbulkan banjir. Hutan beserta isinya menyediakan berbagai hasil alam yang dapat dinikmati umat manusia. Beberapa contoh yang paling dekat dengan kita adalah oksigen untuk bernafas, air bersih dengan tingkat keasaman yang aman untuk diminum, mencuci serta berbagai kegiatan di kehidupan sehari-hari. Berbagai aspek yang saling terkait tersebut menjadi alasan petingnya menjaga orangutan dan hutan itu sendiri.

Beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk menjaga habitat orangutan antara lain restorasi habitat, yaitu penanaman bibit pohon secara insitu, kemudian tidak melakukan illegal logging, serta penyadartahuan  masyarakat terkait fungsi hutan, menumbuhkan kecintaan akan alam sekitar sedari dini. Menjaga dan melestarikan habitat orangutan berarti secara tidak langsung kita telah terlibat dalam menjaga kelangsungan kehidupan di bumi.

Baca juga :

https://monga.id/2022/11/pentingnya-keberadaan-orangutan-untuk-regenarasi-hutan/

Penulis : Gunawan Wibisono- Ahli Botani dan  Koordinator Survei Yayasan Palung

(Puisi) Sang malang, Petani hutan

Orangutan. (Foto dok : Erik Sulidra)

Kemana lagi nafasnya bernaung?

Hutan nya tandus tak berpenghuni

Daun menyala api sewarna senja yang berani

Meneror habis makhluk yang menghuni

Asap menggumpal menyerang di segala sisi

Menebar siksa yang tak berperi

Tanahnya berlumpur di hantam besi yang tajam

Tak henti henti sengkuni menghujam

Suara resah menggema di sepanjang malam

Merintih dan melolong dalam diam

Tersisih dari mata gergaji yang tajam

Kepada siapa lagi mereka berlindung?

Sang petani hutan yang tersandung

Melolong Dalam harapan hampa, di nista, di paksa asing demi sebuah tahta, manusia tak habis habis berkuasa

Punah, binasa, ada di depan mata

Pekat, nyawanya tersekat

Terjebak di antara kuasa yang  mengikat

Parunya membiru mengoyak ngoyaknya dalam taat

Terkapar si petani hutan sekarat

Terdiam ,Terlempar dalam kuasa yang terlibat

Tergeletak sang petani hutan menjadi mayat.

Banjir longsor segera datang melayat

Kepada siapa lagi mereka berlindung?

hijau yang menjadi arang

daun menyala api bagai tajamnya pedang

Menjadi racun begitu garang

Menguliti nafas orang-orang

Bencana datang karena hutan yang melayang

Mahendra-Yayasan Palung

BAGAIMANA HUTAN TUMBUH ?

Hutan. (Foto : Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Bagi sebagian orang, hutan hanyalah hamparan lahan yang cukup luas dan didalamnya terdapat pepohonan serta hewan-hewan liar. Hutan adalah tempat pohon-pohon yang dapat ditebang untuk keperluan manusia. Hutan menyediakan hewan-hewan yang dapat diburu untuk konsumsi atau sekedar hobi. Atau, hutan hanyalah lahan tak berpenghuni yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan. Hal ini tentunya tidak terlalu benar, karena hanya memikirkan tindakan eksploitatif. Apabila ini dibiarkan terus menerus, generasi mendatang tidak akan memiliki hutan lagi.

Kita perlu berkaca kepada beberapa masyarakat tradisional yang bermukim di sekitar hutan. Dari Mereka ada yang dengan bijak memanfaatkan alam di sekitarnya, terutama hutan. Karena hutan adalah sumber hidup mereka (sebenarnya hutan adalah penopang hidup manusia), sehingga pola-pola pemanfaatan hutan dikembangkan secara berkelanjutan, agar hutan tetap lestari dan anak cucu mereka masih terus dapat menikmati manfaat hutan tersebut.

Untuk memanfaatkan hutan secara bijak, kita harus memahami bagaimana hutan tersebut. Bagaimana hutan tumbuh? Apa saja isi di dalam hutan? Bagaimana saling keterikatan mahluk-mahluk yang ada di dalam hutan tersebut?. Sehingga tidak ada satu bagian yang terlalu tidak seimbang di dalam interaksi kompleks unsur-unsur penyusun hutan.

Pohon-pohon buah akan mengeluarkan nektarnya ketika masa penyerbukan tiba. Disinilah dimulai rantai penyebaran benih-benih pohon yang menjadi penopang utama ekosistem di hutan. Nektar ini akan memancing kupu-kupu, lebah, maupun burung untuk datang bagi pohon yang penyerbukannya dibantu oleh hewan. Ketika penyerbukan berlangsung dengan sukses, pohon-pohon akan menghasilkan benih (biji) yang akan dibungkus dengan banyak nutrisi, yang kita kenal dengan sebutan buah. Inilah tahap kedua dari rantai itu. Didorong oleh naluri bertahan hidup, hewan-hewan pemakan buah akan mengambil buah yang masak dari pohon induk dan memakannya. Beberapa hewan memiliki sistem pencernaan yang unik, sehingga ketika terjadi proses pencernaan di dalam usus mereka, biji (benih) dari pohon tersebut tidak rusak, zat kimia di dalam usus mereka akan membantu proses perkecambahan lebih cepat dari biji tersebut. Inilah tahap ketiga dari rantai itu. Setelah memakan buah Kemudian satwa (misalnya orangutan dan burung enggang) berpindah jauh dari pohon induk buah tersebut, dan melakukan defikasi (buang kotoran). Biji/benih yang ikut keluar dari proses pencernaan hewan akan tersebar jauh dari pohon induknya, kemudian berkembang untuk menjadi pohon baru dan mengisi relung-relung hutan di sepanjang perjalanan satwa tersebut. Inilah tahap ke empat dari rantai itu, dan dari proses ini hutan akan terus meregenerasi dirinya sendiri.

Satwa mengambil fungsi penting dalam keberlangsungan hutan. Selain sebagai pemencar benih, beberapa satwa juga dapat menjadi bioindikator terhadap kesehatan sebuah kawasan hutan. Misalnya saja kehadiran jenis katak tertentu dapat menjadi indikator bahwa air sungai di dalam hutan tersebut belum tercemar. Atau kehadiran burung Ruai (Kuwau Raja) dan jenis sempidan menandakan bahwa hutan tersebut masih bagus, karena burung-burung ini sangat sensitif terhadap perubahan hutan. Kehadiran raptor (burung pemangsa) menandakan kawasan hutan tersebut cukup memiliki jenis vertebrata kecil sebagai buruannya, dan masih banyak lagi.

Hutan hujan tropis di Kalimantan memang menjadi salah satu gudang biodiversitas terbaik di dunia, namun tanah di hutan ini sangat tidak subur (lapisan humus sangat tipis). Hal ini mengakibatkan persaingan mendapatkan unsur hara sangat ketat.  Ekologi di pulau yang sangat kaya namun rentan ini dan peranannya bagi kehidupan masyarakat setempat perlu sekali dipahami, sehingga pembangunan dapat direncanakan dengan cara yang masuk akal dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan (Mckinnon Kathy et all. The Ecology of Kalimantan, 2000). Hutan mampu menopang kehidupannya sendiri, yang mereka butuhkan hanyalah air dan sinar matahari, Kebutuhan lain khususnya nutrisi didapat dari metode daur ulang yang efektif. Artinya, tanpa kehadiran manusia pun hutan pasti akan tetap ada. Justru kita manusia lah yang sangat memerlukan hutan sebagai penyokong kehidupan.

Baca juga : https://ruai.tv/opini/opini-bagaimana-hutan-tumbuh/

Erik Sulidra, Animal & Habitat Protection, Yayasan Palung

Yayasan Palung Menghadiri Asian Primate Symposium ke-8 di Vietnam

Peserta dari Indonesia yang menghadiri Asian Primate Symsosium ke-8 di Vietnam. (Foto : Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Baru-baru ini, Yayasan Palung menghadiri Asian Primate Symsosium ke-8 yang diselenggarakan di Hanoi, Vietnam pada 13 -16 November 2022. Acara ini adalah simposium primata terbesar di Asia, dimana para ahli dan pemangku kepentingan di bidang konservasi primata bertemu dan berdiskusi mengenai beragam topik. Etologi, ekologi, genetika, taksonomi, dan konservasi merupakan topik utama yang diangkat untuk dibicarakan oleh 190 peserta dalam forum ini. Yayasan Palung mengirim dua perwakilan, Erik Sulidra (Animal and Habitat Protectionn Manager) dan Ishma Fatiha Karimah (Asisten Laboratorium di SRCP) untuk mempresentasikan topik konservasi orangutan pada forum tersebut. Dalam kegiatan ini, Yayasan Palung dibantu oleh FORINA. Tuan rumah untuk simposium ini adalah Vietnam National University of Forestry yang pelaksanaannya bekerjasama dengan Three Monkey Wildlife Conservacy.

Plenary talk di hari pertama dibawakan oleh Christian Roos dari German Primate Center mengenai Genomics of Asian Primates. Setelah itu peserta bebas memilih topik presentasi mana yang menurut mereka menarik untuk diikuti.  Ishma sangat tertarik mengikuti presentasi metode survei primata dengan menggunakan drone. Karena selama 3 bulan terakhir mereka juga menggunakan drone untuk mencari orangutan di Stasiun Riset Cabang Panti. Menarik untuk melihat metode yang sama digunakan pada primata lain selain orangutan, selain itu juga bisa belajar bagaimana cara yang efektif untuk menggunakan metode dengan drone. Sedangkan Erik, selain tertarik dengan metode survei drone, juga tertarik dengan topik Konservasi dan Edukasi, dimana metode pendekatan kepada masyarakat dimulai dari sejak usia dini dengan mendorong mereka mengamati fenomena-fenomena sederhana dari alam. Sehingga menumbuhkan rasa penasaran bagi mereka dan semakin tertarik untuk mempelajari dan memahaminya.

Galeri Foto kegiatan :

Saat Ishma dan Erik menyampaikan presentasi pada Asian Primate Symsosium ke-8 di Vietnam. (Foto : Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Para peserta simposium berkesempatan mengunjungi Endangered Primate Rescue Center (EPRC), untuk mendapatkan wawasan mengenai pekerjaan konservasi baik in-situ maupun ex-situ, serta kekayaan fauna primata Vietnam yang unik. Di tempat inilah Erik dan Ishma melihat lutung terlangka di dunia, Cat Ba Langur, dimana populasinya hanya tinggal 70 individu yang tersisa di dunia. Setelah itu, peserta diajak mengunjungi Van Long Nature Reserve salah satu habitat asli langur, namun begitu sampai di lokasi hujan turun sangat deras. Pada akhirnya para peserta kembali ke hotel tanpa bisa menikmati pemandangan Van Long Nature Reserve yang kabarnya begitu indah tersebut.

Yayasan Palung berkesempatan memberikan presentasi pada 16 November 2022. Assessment of Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) Habitat and Populations Within Village Forest in West Kalimantan, Indonesia adalah judul yang dipresentasikan oleh Erik Sulidra. Dalam presentasi ini dibahas mengenai perkiraan populasi orangutan pada dua lansekap hutan desa (Sungai Paduan dan Sungai Purang), penilaian komposisi hutan dan identifikasi pohon pakan orangutan, perekaman kehadiran biodiversitas lainnya (mamalia, burung), identifikasi potensi gangguan terhadap orangutan dan biodiversitas lainnya serta usaha pencegahannya. Sedangkan Ishma Fatiha membawakan presentasi berjudul Soil-transmitted helminths in Wild Bornean Orangutans (Pongo pygmaeus wurmbii), yang membahas mengenai prevalensi soil-tranmitted helminths dan hubungan antara ketinggian orangutan di kanopi dengan jumlah soil-transmitted helminths yang ditemukan dalam sampel. Presentasi berlangsung dinamis, banyak peserta yang hadir dan banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan untuk memicu diskusi.

Erik dan Ishma merupakan segelintir perwakilan Indonesia di konferensi internasional ini, dan mereka merasa senang dapat menjadi bagian di dalamnya. Disela-sela acara formal, para peserta dari berbagai negara berdiskusi ringan mengenai tantangan konservasi yang mereka hadapi, serta kemungkinan-kemungkinan kolaborasi mengenai penanganan konservasi primata kedepan.

Tulisan : Erik & Ishma-Yayasan Palung

Bupati Kayong Utara Hadiri Acara Pekan Peduli Orangutan 2022 di Bentangor

Bupati Kayong Utara, Citra Duani saat membuka acara Pekan Peduli Orangutan 2022 di Bentangor. (Foto : Gunawan/Yayasan Palung)

Ada yang istimewa pada acara Festival Pekan Peduli Orangutan 2022 yang diselenggarakan oleh Yayasan Palung pada tanggal 15 sampai dengan 16 November 2022 di Kantor Yayasan Palung Bentangor Education Center, Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Ya, istimewanya adalah pada PPO 2022 kali ini dihadiri langsung oleh Bupati Kayong Utara, Citra Duani. Pada kesempatan tersebut, Bupati Citra juga sekaligus membuka acara Pekan Peduli Orangutan.

Direktur Lapangan Yayasan Palung, Edi Rahman menyampaikan bahwa momentum pekan peduli Orangutan tahun 2022 ini sebagai cara untuk menumbuhkan kepedulian kita semua (semua pihak) terhadap Orangutan.

Ia menilai, secara sadar dan paham serta diketahui bersama kepedulian ini sangat dibutuhkan karena Orangutan juga merupakan satwa yang dilindungi.

Yayasan Palung mengajak semua pihak bersama sama menyelamatkan orangutan dengan meningkatkan kepedulian terhadap habitatnya di wilayah hutan lindungi maupun hutan desa.

Dalam sambutannya, Bupati Citra menyampaikan bahwa pekan peduli orangutan ini merupakan langkah dan upaya mengkampanyekan peduli orangutan.

“Festival pekan peduli orangutan merupakan salah satu langkah yang dapat kita lakukan bersama, untuk memberikan edukasi dan pemahaman kepada siswa-siswi dan masyarakat khalayak ramai tentang pentingnya kita melestarikan keberadaan orangutan, sehingga keberadaannya akan selalu terjaga dan tidak akan punah,” kata Bupati Citra.

Dengan begitu, kegiatan ini juga selain kampanye peduli orangutan juga menampilkan produk-produk pendampingan Yayasan Palung yakni hasil hutan bukan kayu (hhbk).

Ranti Naruri, selaku ketua panitia kegiatan PPO 2022, mengatakan,  Festival Pekan Peduli Orangutan 2022 Yayasan Palung mengusung tema Orangutan Si Petani Hutan yang diambil dari tema besar “Orangutan Superheroes Don’t Wear Capes”.  Maksud dari tema yang kami ambil ini adalah Orang yang memberikan kontribusi kepada alam tanpa pamrih untuk menyebarkan benih didalam hutan sehingga kita dapat menghirup udara bersih untuk bernafas serta memanfaatkan hasil hutan bagi kelangsungan hidup kita semua.  

“Melakukan perlindungan terhadap hutan tidak bisa dilakukan secara instan, apalagi generasi milenial yang merupakan ujung tonggak masa depan ini. Generasi milenial harus diberikan kesempatan  terbukti selama kegiatan berlangsung selama 2 hari mereka membuktikan kepedulian terhadap lingkungan untuk pelestarian Orangutan melalui karya seni kreativitas menggambar, pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (hhbk) untuk dijadikan sebuah anyaman dan kedepan ini bisa menjadi pendapatan bagi mereka kemudian pengetahuan umum yang dibuktikan melalui lomba cerdas cermat  dengan perayaan festival ini kita bisa menanamkan benih dan rasa cinta akan kepedulian terhadap lingkungan untuk pelestarian orangutan dan satwa yang dilindungi,” jelasnya lagi.

Kegiatan PPO 2022 diawali dengan pembukaan dan penanaman pohon di lokasi Bentangor Education Center, Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, pada Selasa 15 November 2022.

Adapun serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka PPO 2022 antara lain adalah seperti Lomba Kerajinan Anyaman, peserta lomba adalah sekolah-sekolah tingkat SD, SMP, SLTA (SMA)/SMK sederajat yang berada di Kecamatan Sukadana dengan partisipan setiap 2 orang dari perwakilannya masing-masing.

Lomba menggambar, kategori SD (Kelas V atau VI), SMP dan SMA/SMK sederajat yang berada di Kecamatan Sukadana dengan tiga orang siswa perwakilan masing-masing sekolah di Aula Desa dan Bentangor.

Kemudian, digelar lomba cerdas cermat. Partisipan lomba cerdas cermat dari sekolah tingkat SMA/SMK sederajat yang berada di Kecamatan Sukadana dan 1 (satu) sekolah di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara dengan mengirim perwakilan masing-masing 3 orang dari setiap sekolah.

Workshop ataupun lecture singkat tentang orangutan kepada peserta lomba menggambar dan menganyam.

Selain itu, juga ada talkshow dalam rangka PPO 2022 dari Yayasan Palung nantinya dilaksanakan dengan metode diskusi Hybrid (Offline dan online) melalui siaran langsung media social pada Rabu 16 November 2022, di Aula Bentangor.

Dalam talkshow tersebut menghadirkan tersebut menghadirkan beberapa narasumber dari beberapa lembaga/kelompok atau pun instansi mitra Yayasan Palung seperti dari ;

materi yang disampaikan antara lain seperti ;

  1. Pengelolaan Kawasan secara hukum dan peran serta fungsi Taman Nasional terhadap Konservasi Orangutan dan habitatnya. Sebagai narasumber adalah Siti Roqayah, S.Si dari Balai Taman Nasional Gunung Palung.
  2. Orangutan dan habitatnya di mata hukum, Konflik? Bagaimana pengelolaannya. Sebagai narasumber : Nurwahyudi, S.Pd dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam.
  3. Pengelolaan Hutan Desa secara hukum dan peran serta fungsi KPH terhadap Konservasi Orangutan dan habitatnya. Sebagai narasumber: Euis Herawati, S.Hut dari Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan  Wilayah Kayong.
  4. Kegiatan konservasi orangutan dan habitatnya dibidang penelitian. Sebagai narasumber adalah Ahmad Rizal dari Tim Research dari Yayasan Palung.
  5. Kegiatan konservasi orangutan dan habitatnya di Hutan Desa. Sebagai narasumber adalah  Samsidar dari Tim Patroli LDPHD dari Padu Banjar.

Dan tak kalah seru yakni lomba memasak, perlombaan masak tradisional akan melibatkan masyarakat di sekitar Desa Pampang Harapan.

Kriteria lomba masak adalah berasal dari bahan makanan atau minuman, dari hutan sekitar yang halal dan tidak boleh dibeli dari pasar, yang dilaksanakan pada rabu tanggal 16 November 2022.

Selanjutnya, dilakukan pemutaran film lingkungan di lokasi Bentangor. Pada acara puncak, diisi dengan suguhan teatrikal yang rencananya akan dibawakan oleh RK-TAJAM dan REBONK dan pembagian hadiah pemenang lomba sekaligus penutupan kegiatan PPO.

Berikut nama-nama pemenang lomba dalam rangka Pekan Peduli Orangutan 2022 yang diselenggarakan oleh Yayasan Palung :

Lomba Menggabar :

Pemenang Lomba Menggambar Tingkat Sekolah Dasar (SD) ;

Juara Pertama : Muhammad Kamal Azzon dari SDN 02 Sukadana

Juara kedua : Aula Azzahra Indra Putri  dari SDN 04 Pangkalan Buton

Juara ketiga : Zevita Azka dari SDN 02 Sukadana

Pemenang Lomba Menggambar Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP);

Juara Pertama : Dwiyanti H. dari  SMPN 02 Sukadana

Juara kedua : Arel Kurniwan dari SMPN 02 Sukadana

Juara Ketiga : Hawa Fuji Rahayu dari SMPN 04 Sukadana

Pemenang Lomba Menggambar Tingkat SMA/SMK;

Juara Pertama : Marselino Naza dari SMKN 01 Sukadana

Juara kedua : Yusup Legi Darmanto dari MAN Kayong Utara

Juara Ketiga : Muhammad Hakim dari SMAN 03 Sukadana

  • Lomba Cerdas Cermat

Pemenang Lomba Cerdas Cermat Tingkat SMA/SMK :

Juara Pertama : SMAN 01 Sukadana

Juara kedua : SMKN 01 Sukadana

Juara Ketiga : SMAN 03 Sukadana

  • Pemenang Lomba Memasak :

Juara Pertama : Kelompok Mekar Maju

Juara kedua : Kelompok Ramban

Juara ketiga : Kelompok Matoa

  • Lomba Kerajinan Anyaman

Pemenang  Lomba Kerajinan Anyaman Tingkat Sekolah Dasar (SD)

Juara Pertama : Oktaviana dari SDN 4 Pangkalan Buton

Juara kedua : Riskawati  dari SDN 05 Sukamaju

Juara ketiga : Qurrata A’yuni dari SDN 6 Tanjung Gunung

Pemenang  Lomba Kerajinan Anyaman Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Juara Pertama : Pina Wahyuni dari SMP 2 Sukadana

Juara kedua : Kiara Destianti dari SMPIT Baitul Qur’an

Juara ketiga : Nasyiafanur A dari SMPN  1 Sukadana

Pemenang  Lomba Kerajinan Anyaman Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)

Juara Pertama : Amelia Pratama P dari SMAN 01 Sukadana

Juara kedua : Cindi Marianti dari SMAN 02 Sukadana

Juara ketiga : Ilham dari dari SMAN 03 Sukadana

Semua rangkaian kegiatan acara Pekan Peduli Orangutan 2022 yang diselenggarakan oleh Yayasan Palung  sukses dilakukan.

Baca juga :

https://pontianak.tribunnews.com/2022/11/08/yayasan-palung-akan-suguhkan-beragam-kegiatan-seru-pada-pekan-peduli-orangutan-2022

https://kalbar.antaranews.com/berita/529313/bupati-kku-populasi-orangutan-makin-berkurang

https://pontianak.tribunnews.com/2022/11/15/yayasan-palung-lestarikan-keberadaan-orangutan-melalui-pekan-peduli-orangutan-2022-di-kayong-utara

https://pontianak.tribunnews.com/2022/11/16/momentum-pekan-peduliorangutantahun2022-tingkatkan-kepedulian-terhadaporangutan

https://pontianak.tribunnews.com/2022/11/16/yayasan-palung-gelar-pekan-peduli-orangutan-ini-pesan-bupati-kayong-utara

https://pontianak.tribunnews.com/2022/11/16/produk-lokal-hasil-hutan-bukan-kayu-oleh-masyarakat-hadir-bupati-kayong-utara-beri-apresiasi

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ini Serangkaian Kegiatan Yayasan Palung pada Pekan Peduli Orangutan 2022

(E-Flayer PPO 2022, Haning/Yayasan Palung)

Dalam rangka memperingati Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2022, Yayasan Palung rencananya akan mengadakan serangkaian kegiatan pada 15-16 November 2022, kegiatan akan dipusatkan di Kantor Yayasan Palung Bentangor Education Center, Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Adapun  tema PPO tahun 2022 adalah “Orangutan Si Petani Hutan

Pekan Peduli Orangutan merupakan kegiatan rutin yang digelar oleh Yayasan Palung setiap bulan November, sejak 2008, di Kalimantan Barat.

Terkait rencana kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2022, Edi Rahman, Direktur Lapangan Yayasan Palung, mengatakan ; “PPO yang  diperingati setiap tahun menjadi momentum para pemerhati konservasi baik secara kelembagaan maupun individual untuk terus melestarikan orangutan yang merupakan satu dari empat kera besar yang ada di dunia. Menjadi tanggung jawab kita semua untuk melestarikan orangutan dan habitatnya yang tersisa. Ini tidak lepas dari ulah dari berbagai aktivitas manusia di habitat orangutan yang mengakibatkan orangutan terus tergusur dari habitatnya. “

Lebih lanjut Edi, sapaan akrabnya, mengatakan, Kita tidak menginginkan orangutan yang menjadi kebanggaan Indonesia bahkan dunia hanya tinggal cerita. Yayasan Palung melakukan berbagai upaya untuk tetap terus melestarikan orangutan dan habitatnya melalui berbagai program.

Kegiatan PPO 2022 akan diawali dengan pembukaan dan penanaman pohon di lokasi Bentangor Education Center, Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, pada Selasa 15 November 2022, pukul 08.00- 09.30 WIB.

Adapun serangkaian kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka PPO 2022 antara lain adalah seperti;

  1. Lomba Kerajinan Anyaman

Adapun peserta lomba adalah sekolah-sekolah tingkat SD, SMP, SLTA (SMA)/SMK sederajat yang berada di Kecamatan Sukadana dengan partisipan setiap 2 orang dari perwakilannya masing-masing. Peserta akan membuat anyaman berbahan baku dari pandan dengan aspek penilaian ide, estetika, dan finishing.

Kegiatan ini akan diadakan pada : Selasa 15 November 2022, pukul 09.45-12.00 WIB, lokasi di Aula Desa dan Bentangor.

2. Lomba Menggambar, kategori SD (Kelas V atau VI), SMP dan SMA/SMK sederajat yang berada di Kecamatan Sukadana dengan tiga orang siswa perwakilan masing-masing sekolah.

Kegiatan ini akan diadakan pada : Selasa 15 November 2022, pukul 09.45-12.00 WIB, lokasi di Aula Desa dan Bentangor.

3. Lomba Cerdas Cermat

Partisipan lomba cerdas cermat ini merupakan sekolah tingkat SMA/SMK sederajat, yang berada di Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara dengan mengirim perwakilan masing-masing 3 orang dari setiap sekolah.

Kegiatan ini akan diadakan pada ; Selasa 15 November 2022, pukul 13.30-16.00 WIB, lokasi di Aula Bentangor.

4. Workshop ataupun lecture singkat tentang orangutan kepada peserta lomba menggambar dan menganyam 

Kegiatan ini akan diadakan pada ; Selasa 15 November 2022, pukul 09.30-09.45

WIB, lokasi di Aula Kantor Desa Pampang Harapan.

5.Talkshow

Dalam rangka PPO 2022, Yayasan Palung akan mengadakan talkshow dengan menghadirkan pemateri dari Yayasan Palung dan lembaga mitra.

Adapun materi yang disampaikan antara lain seperti ;

–  Pengelolaan Kawasan secara hukum dan peran serta fungsi Taman Nasional terhadap Konservasi Orangutan dan habitatnya (Pemateri : Balai Taman Nasional Gunung Palung).

– Orangutan dan habitatnya di mata hukum, Konflik? Bagaimana pengelolaannya (Pemateri : Balai Konservasi Sumber Daya Alam).

–  Pengelolaan Hutan Desa secara hukum dan peran serta fungsi KPH terhadap Konservasi Orangutan dan habitatnya (Pemateri: Kesatuan Pengelolaan Hutan).

  Kegiatan konservasi orangutan dan habitatnya dibidang penelitian (Pemateri : Tim Research Yayasan Palung).

– Kegiatan konservasi orangutan dan habitatnya di Hutan Desa (Pemateri :Tim Patroli LPHD)

Kegiatan dilaksakan dengan metode diskusi Hybrid (Offline dan online) melalui siaran langsung media social.

Kegiatan ini dilaksanakan pada ;  Rabu 16 November 2022, pukul 08.00-10.00 WIB, Aula Bentangor.

6. Lomba Memasak

Perlombaan masak tradisional akan melibatkan masyarakat di sekitar Desa Pampang Harapan bekerjasama dengan BUMDES Pampang Harapan. Dari desa akan mengirimkan kandidat masing-masing dari Dusun Segua, Dusun Pampang Harapan, Dusun Pasir Mayang sebanyak 2 kelompok dimana setiap kelompok itu terdiri dari 3 orang, dengan demikian ada 6 kelompok yang akan terlibat dalam lomba memasak tersebut.

Kriteria lomba masak adalah berasal dari bahan makanan atau minuman dari hutan sekitar yang halal dan tidak boleh dibeli dari pasar

Kegiatan ini akan diadakan pada : Rabu 16 November 2022, pukul 10.00-12.00 WIB, Aula Bentangor.

Selanjutnya, pada Selasa 15 November 2022, pukul 19.30-21.30 WIB dilakukan pemutaran film lingkungan di lokasi Bentangor.

Pada acara puncak kegiatan PPO diisi dengan suguhan teatrikal yang rencananya akan dibawakan oleh RK-TAJAM dan REBONK dan pembagian hadiah pemenang lomba sekaligus penutupan kegiatan PPO.

Kegiatan ini akan diadakan pada : Rabu 16 November 2022, pukul 13.30 hingga selesai.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut, rencananya juga diadakan pameran Stand yang menampilkan ragam informasi kegiatan dan program  yang dijalankan oleh Yayasan Palung.

Tulisan ini dimuat juga di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/6368ae2612d50f0e720a7312/ini-serangkaian-kegiatan-yayasan-palung-pada-pekan-peduli-orangutan-2022

Petrus Kanisius -Yayasan Palung

Bentangor Kids Belajar tentang keanekaragaman tumbuhan di sekitar Hutan Mini Yayasan Palung

Keterangan foto: Adik-adik dari Bentangor Kids saat menempelkan jenis-jenis daun dari hutan mini Yayasan Palung. (Foto : Simon/Yayasan Palung).

Ada yang seru ni, beberapa waktu lalu, adik-adik Bentangor Kids berkesempatan belajar tentang keanekaragaman tumbuhan di sekitar hutan mini Yayasan Palung, Education Center Yayasan Palung Bentangor.

Simon Tampubolon, Koordinator Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung di Sukadana, mengatakan, Adik-adik Bentangor Kids terlihat asyik mengumpulkan beberapa daun yang beranekaragam baik dari bentuk daun, tepi daun, ujung daun dan perbedaan lainnya. Daun-daun tersebut kemudian ditempelkan di kertas plano sebagai bahan presentasi. Setiap kelompoknya menemukan sekitar 40 sampai 50 daun yang berbeda.

Foto-foto kegiatan :

Foto dokumen; Simon/ Yayasan Palung

Lebih lanjut, Simon sapaan akrabnya,  mengatakan,  Banyaknya variasi daun-daun yang mereka temukan menjadi salah satu indikator bahwa keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada di sekitar hutan mini Yayasan Palung masih sangat tinggi.

Kegiatan pengamatan keanekaragaman tumbuhan ini didampingi oleh kakak-kakak REBONK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) dengan arahan dari Simon Tampubolon.

Bentangor Kids merupakan anak-anak yang berusia 8-12 tahun (anak-anak seusia Sekolah Dasar dan mereka masih aktif sekolah). Sebagai bagian dari peningkatan kapasitas masyarakat yang berdiam di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Palung bekerjasama dengan Relawan Konservasi RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) menjalankan Program Bentangor Kids.

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mengenalkan Orangutan kepada Siswa-siswi di Sekolah

(Lecture di SDN 11 Muara Pawan. Foto: Yayasan Palung)

Mengenalkan orangutan kepada siswa-siswi di sekolah menjadi salah satu cara bagi kami untuk menyebarkan  virus-virus konservasi  di Tanah Kayong (Sebutan untuk kabupaten Ketapang dan Kayong Utara).

Seperti misalnya, pada Jumat (21/10/2022) pagi, Program Pendidikan Lingkungan (PL) Yayasan Palung (YP) berkesempatan mengenalkan orangutan  lewat lecture (ceramah lingkungan) kepada siswa-siswi  kelas 4-6 di SDN 11 Muara Pawan, Ketapang, Kalimantan Barat. 

Pada kesempatan itu, materi yang disampaikan adalah tentang “Orangutan: Biologi, Ancaman dan Perlindungannya.”

Pertanyaan pertama yang disampaikan kepada siswa-siswi adalah Mengapa kita belajar tentang Orangutan?

Beberapa siswa-siswi terlihat tampak bingung dan ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan itu.

Lalu, Widiya Octa Selfiany, selaku Manager Program (PL) Yayasan Palung yang saat itu menyampaikan materi lecture menjelaskan bahwa; “Orangutan merupakan  satu-satunya kera besar yang hidup di Asia, aset Bangsa Indonesia.  Selain itu, menjelaskan juga bahwa orangutan merupakan primata yang cerdas sehingga menarik untuk diteliti.”

Selanjutnya juga, Widiya menyampaikan bahwa orangutan merupakan petani hutan, penyebar biji dan meregenerasi hutan secara efektif dan orangutan merupakan umbrella species (spesies payung), kata Widiya.

Mengapa  orangutan disebut spesies payung? karena hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan.

Lebih lanjut dalam penyampian materi itu, Widiya menjelaskan juga bahwa Orangutan merupakan empat kera besar yang ada di dunia. Adapun empat kera besar tersebut terdapat di dua benua; Afrika dan Asia. Kera besar tersebut adalah Gorilla, Simpanse, Bonobo yang mendiami benua Afrika. Sedangkan kera besar lainnya adalah orangutan, yang terdapat di Asia, lebih tetapnya di Indonesia (Pulau Sumatera dan Kalimantan).

Orangutan sangat dilindungi salah satunya karena nasibnya saat ini dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan. Ruang hidup dari satwa yang sangat dilindungi ini semakin sempit.

Ruang hidup (habitat hidup berupa hutan) semakin menyempit membuat orangutan semakin sulit untuk berkembang biak.  Mengingat, orangutan memerlukan waktu yang lama untuk berkembang biak, memerlukan waktu 6  hingga 8 tahun baru berkembang biak. 

Sedangkan sang bayi bersama ibu (induk orangutan) memerlukan waktu yang sama (6-8 tahun) hingga bayi menjadi remaja.

Orangutan memiliki DNA (deoxyribonucleic acid) yang mendekati DNA manusia yaitu 97 % DNA orangutan mirip manusia.

Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan) memiliki 3 subspesies; Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo Pygmaeus Wrumbii, Pongo pygmaeus morio.

Orangutan Kalimantan tersebar di seluruh wilayah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Orangutan memiliki tiga sub spesies yaitu; Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo wrumbii yang sebarannya di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan di Kalimantan Timur adalah Pongo pygmaeus morio. Sedangkan di luar wilayah Indonesia, orangutan terdapat di Malaysia yaitu di wilayah Sabah; Pongo pygmaeus morio dan di Sarawak; Pongo pygmaeus pygmaeus.

Orangutan Sumatera (Sumatran Orangutan) Orangutan dengan nama latin Pongo abelli, habitat hidupnya di Sumatera. Pada bulan Oktober 2017 lalu, para peneliti dunia menemukan spesies baru orangutan dengan nama Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) habitat hidupnya di Sumatra Utara.

Orangutan masuk dalam daftar satwa yang sangat dilindungi (Critically Endangered/CR) menurut daftar International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List.

Orangutan juga masuk dalam daftar satwa dilindungi, menurut UU no 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Lecture di SDN 11 Muara Pawan disampaikan di depan 65 orang  siswa-siswi, kelas 4,5 dan 6.

Sebelumnya juga, Program PL YP telah melakukan lecure di beberapa sekolah seperti di SMP PGRI 03 Muara Pawan dan di MTS Darul Falah. Di SMP PGRI 03 Muara Pawan, siswa-siswi yang hadir adalah 143 orang siswa siswi. Sedangkan di MTS Darul Falah di hadiri oleh 75 orang siswa-siswi. 

Kegiatan lecure seperti ini juga rutin dilakukan oleh Program PL YP di Kayong  Utara ke sekolah-sekolah.

Kami pun berharap, semoga dengan disampaikannya materi tentang orangutan ini, ada tumbuh kecintaan mereka (siswa-siswi) terutama terhadap orangutan dan habitanya (hutan) serta lingkungan yang ada di sekitar mereka.

Tulisan ini juga dimuat di : KOMPASIANA

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Lewat  Cerita  Boneka Sampaikan Pesan  untuk Peduli pada Satwa Dilindungi

Saat menyampaikan cerita tentang satwa dilindungi di SDN 16 Delta Pawan, Ketapang, Kalbar, Senin (17/10). (Foto : Pit/YP).

Hai teman-teman…. Namaku Pongo, aku tinggal di hutan. Aku tinggal bersama ibuku hingga usiaku menjelang 6-7 tahun. Setelah aku dewasa, aku tinggal sendiri hingga usiaku dewasa. Di dalam hutan, aku hidup bersama-sama dengan temanku seperti kelasi, kelempiau, enggang dan satwa lainnya. Kami merupakan satwa yang sangat dilindungi.  Kami juga disebut sebagai petani hutan lho…

Itu merupakan beberapa  penggalan cerita yang disampaikan oleh teman-teman saat menyampaikan puppet show (pertunjukan boneka) di Sekolah  Dasar Negeri 16 Delta Pawan,Ketapang, Kalbar, pada Senin (17/10/2022) pagi.   

Dalam kesempatan tersebut, Program Pendidikan Lingkungan (PL) Yayasan Palung menyampaikan sosialisasi untuk mengenalkan satwa dilindungi kepada Adik-adik di tingkat Sekolah Dasar.

Beberapa boneka yang dipakai sebagai media antara lain boneka orangutan yang disebut Pongo dan ibu Pongo. Selain itu ada pula boneka kelasi dan boneka bekantan.

Pada kesempatan itu, Haning Pertiwi dari Yayasan Palung sebagai narator cerita boneka mengawali cerita. Haning mengawali cerita dengan menyebut, jauh di tengah hutan yang luas dan lebat hiduplah bermacam-macam satwa liar. Suatu hari anak orangutan yang sedang mencari makan bersama induknya bertemu dengan satwa-satwa yang lainnya.

Selanjutnya Iis, Pit, Randi dan Marsya bercerita tentang kisah dan nasib satwa yang dilindungi. Iis sebagai Pongo bercerita ia selalu bersama ibunya hingga Ia berumur remaja. Ibu Pongo diperankan oleh Marsya. Ibu Pongo bercerita, ia merawat pongo dari kecil hingga remaja, saat pongo bersama ibu, Pongo diajarkan membuat sarang, memanjat pohon dan mencari makan berupa pucuk daun dan buah-buahan hutan.

Bekantan diperankan oleh Randi. Bekantan bercerita tentang perbedaannya dengan orangutan (pongo). Perbedaannya adalah bekantan merupakan jenis monyet karena memiliki ekor. Sedangkan orangutan merupakan jenis kera karena tidak memiliki ekor.

Kelasi diperankan oleh Pit. Kelasi bercerita tentang keresehannya karena hutan sebagai tempat hidup saat ini sudah semakin berkurang sehingga mereka yang disebut sebagai monyet merah tersebut sudah semakin dalam ancaman nyata di habitat hidup mereka.

Disampaikan pula oleh narator, sebagian besar satwa dilindungi, terutama orangutan, kelasi, kelempiau dan enggang adalah si petani hutan.

Dikenal sebagai si petani hutan karena perannya selalu menyemai hingga tumbuhnya tajuk-tajuk pepohonan sebagai keberlanjutan semua nafas kehidupan, tidak terkecuali kita manusia.

Orangutan dikatakan sebagai petani hutan karena tanpa lelah dan tidak pamrih, setiap hari ia selalu menyemai biji-bijian yang nanti disebut tajuk-tajuk pohon (pohon-pohon baru).

Lalu, dalam cerita itu semua satwa yang sangat dilindungi seprti orangutan dan satwa lainnya (kelasi, bekantan, kelempiau dan enggang) harus dilindungi oleh kita semua, termasuk adik-adik yang ada di sekolah agar peduli dengan satwa dilindungi dan di lingkungan sekitar mereka, seperti di sekolah dan rumah mereka masing-masing dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Pada akhir cerita, disampaikan pula oleh narator bahwa satwa tersebut sudah masuk dalam daftar satwa yang dilindungi, menurut Undang-undang no 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Saat kami menyampaikan informasi sosialisasi tentang satwa dilindungi tersebut, kami mendampatkan sambutan baik dari adik-adik SDN 16 Delta Pawan. Pada sempatan itu dihadiri oleh 60 orang, mereka merupakan siswa-siswi, kelas 5 dan 6.

Sebelumnya, pada Kamis (13/10), kami juga melakukan kegiatan serupa di sekolah yang berbeda yaitu di  Sekolah Dasar Negeri 20 Delta Pawan.

Semua rangkaian kegiatan ini berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah terlebih adik-adik yang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terlihat sangat antusias sekali mengikuti serangkaian kegiatan yang kami sampaikan.

Sembari berharap, semoga apa yang kami sampaikan ini bisa menumbuhkan kecintaan dari siswa-siswi untuk semakin peduli dengan nasib satwa yang dilindungi dan lingkungan di sekitar mereka, terutama peduli terkait persoalan sampah.

Tulisan ini juga dimuat di kompasiana.com

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Alam Selalu Disalahkan Ketika Bencana Terjadi?

Banjir yang terjadi di beberapa Kecamatan di Ketapang, Kalbar. (Foto dok : BPBD Kalbar).

Alam tidak bersahabat dengan kita.  Mungkin Tuhan mulai bosan. Itu beberapa kalimat yang sering terdengar. Bahkan, lagu pun ada yang menybutkan demikian. Tetapi, apa benar alam yang salah dan Tuhan yang mulai bosan? Atau itu kalimat untuk pembenaran bahwa manusia tidak mau disalahkan.

Setiap bencana alam, alam yang disalahkan. Sejujurnya, bumi dan alam ini kian menangis dari waktu ke waktu. Itu tak lebih karena ulah pongah kita manusia.

Tidak ada asap jika tidak ada api. Ada sebab, ada akibat. Banjir biasa hingga banjir bandang sudah semakin sering mendera beberapa wilayah di Indonesia, tidak terkecuali wilayah Kalimantan, lebih khusus di beberapa wilayah Kabupaten di  Kalimantan Barat (Kalbar).

Seperti misalnya, baru-baru ini di Wilayah Kabupaten Ketapang, Kalbar, banjir mendera wilayah Kecamatan seperti ; Simpang Hulu, Sandai, Jelai Hulu Tumbang Titi, Nanga Tayap, dan beberapa kecamatan  lainnya Seperti Sungai Laur, Manis Mata dan Pemahan.

Tentu saja, banjir yang terjadi ini ketika curah hujan yang tinggi dan daya resapan air yang semakin menurun akibat luasan hutan yang semakin sedikit dan tak mampu lagi menyerap air ketika hujan turun terus menerus sepanjang hari. Bahkan, ketika hujan yang terjadi 2-3 hari maka sudah dipastikan banjir siap mendera tiba-tiba.

Benar saja, persoalan banjir ini dari tahun ke tahun terus berulang. Entah kapan akan berakhir. Tetapi sekiranya, bila terjadi bencana bukan alam  (janganlah) alam yang disalahkan.

Tentu kita ingat, Sang Kuasa (Tuhan Yang Maha Esa) memberikan hutan, tanah air (bumi/alam) ini sebagai titipan bukan warisan.

Ketika ia (bumi/alam) ini sebagai titipan, tentu ia harus digunakan sesuai kebutuhan, bahkan kiranya dirawat, bukan karena ketamakan untuk mengasai hingga menyakiti bumi/alam ini. Bukankah,  kita dan alam ini sejatinya harus harmoni untuk selalu seiring sejalan.

Melihat banjir yang mendera dan melanda, tentu ini bukan sejalan lagi, tetapi nilai-nilai harmoni itu sudah semakin terkikis ibarat sama nasibnya dengan alam ini pada hari ini.

Bumi atau alam ini usianya sudah semakin tua renta, sudah semakin sulit untuk sembuh dari sakit penyakit yang ia dera dan terima karena sedikit banyak ulah kita manusia.

Was-was, sumpah serapah dan lain sebagainya acap kali kita dengar ketika bencana mendera. Alam yang tak berdosa disalahkan karena tidak bersahabat. Atau malah Tuhan Sang Kuasa yang dibilang mulai bosan?

Alam tidak berdosa dan Tuhan Yang Maha Kuasa tidak pernah bosan memberikan apapun kebaikan kepada umatnya. Karena, Tuhan Sang Kuasa tidak akan menguji HambaNya melebihi kemampuannya.

Jika demikian, siapa sesungguhnya yang salah. Alam atau kita yang salah?

Sesungguhnya yang pasti, alam tidaklah salah. Alam, bumi ini menangis. Menangisi nasibnya karena derita sakit penyakit yang semestinya bisa disembuhkan oleh manusia. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika egoisnya manusia yang semakin ingin melebihi kuasa Sang Pencipta hingga alam berkata-kata dalam tangisnya karena tidak mampu menahan ulah pongah oknum kita manusia yang semakin serakah.

Alam, bumi ini menangisi pula karena nasibnya yang tak kunjung sehat, entah kapan akan bisa pulih kembali.

Kita semua menjadi penerima dari apa yang juga diderita oleh alam dan bumi ini. Semua ingin agar alam dan bumi ini tak lagi sama-sama menangis. Tetapi boleh kiranya untuk harmoni kembali seperti semula.

Sebagai pengingat, alam dan bumi ini ibarat ibu. Sebagai ibu ia menjadi pemilihara dan penjaga bagi kita semua. Jika ibu kita disakiti maka ia akan manangis, maka bolehlah kiranya kita pun menjaga dan memilihara bukan sebaliknya.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di kompasiana

Petrus Kanisius-Yayasan Palung