Ternyata Orangutan Sebagai Primata Penyebar Biji, Ini Buktinya

Jumlah biji setiap jenis tumbuhan dalam kotoran orangutan. Capture dari slide presentasi Rizal. Foto dok. Rizal_Yayasan Palung.

Tidak bisa disangkal, orangutan merupakan primata penyebar biji tumbuhan di hutan. Beberapa bukti nyata (fakta) terkait orangutan ini (sebagai penyebar biji) seperti yang disampaikan oleh Ahmad Rizal, pada seminar hasil penelitiannya di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), Rabu pagi (22/7/2020) kemarin, via virtual Zoom Meeting.

Rizal, sapaan akrabnya dalam presentasinya yang berjudul : “Penyebaran Biji Tumbuhan Oleh Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii Tiedemann, 1808) Di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung” menjelaskan di depan para dosen penguji.

Beberapa foto saat Ahmad Rizal menyampaikan presentasi seminar hasil penelitiannya Rabu pagi (22/7/2020) kemarin, via virtual Zoom Meeting

Dalam pembukaan presentasinya yang disaksikan 70 peserta via virtual Zoom tersebut, Rizal memaparkan beberapa hal seperti ; penyebaran biji sebagai proses pemeliharaan habitat hutan, potensi primata sebagai agen penyebar biji, orangutan salah satu primata agen penyebar biji, potensi TNGP, studi kasus di SRCP sebagai habitat orangutan.

Dari penjelasannya, ia telah melakukan penelitian selama setengah tahun (6 bulan) di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).  Rizal dalam penelitiannya, melakukan pemeriksaan  biji yang diambil dari kotoran individu orangutan.  Dari seluruh sampel kotoran orangutan yang didapatkan, didapatkan presentase sampel pada 10 sampel kotoran orangutan dan ternyata mengandung biji tumbuhan sebanyak 80,40 %.

Pada penelitian sebelumnya, orangutan merupakan primata frugivora (pemakan buah), kesehariannya memakan buah (Knott,1998) dan proporsi isi kotoran primata terbanyak adalah biji buah (Setia, 2008),  keberadaan orangutan di suatu habitat dipengaruhi produktivitas buah (Susanto,2012), semakin menegaskan bahwa orangutan tidak bisa disangkal adalah sebagai primata penyebar biji.

Pada saat ujian seminar hasil penelitiannya, selaku penguji adalah; Dr. Priyanti, M. Si dan Dr. Iwan Aminudin, M. Si. Sedangkan sebagai dosen pembimbing adalah; Dr. Fahma Wijayanti, M. Si dan Dr. Tatang Mitra Setia, M. Si.

Saat ditanyai selepas seminar hasil penelitiannya, Rizal mengaku sangat senang dan masih harus berjuang lagi selanjutnya dalam ujian skripsi yang dilaksanakan dalam beberapa waktu kedepan.

Selanjutnya Rizal juga mengatakan pengalamannya selama melakukan penelitian, lebih khusus di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Rizal bercerita, SRCP merupakan tempat yang sangat menarik untuk melakukan penelitian. “Selama melakukan penelitian, sejujurnya banyak hal yang ia dapatkan.

Tidak hanya penelitiannya saja, tetapi kita juga banyak belajar tentang budaya dan tradisi  dari semua teman-teman yang ada di Camp Cabang Panti. Kita bisa belajar  dari mereka (Para Peneliti dari dalam dan dari luar negeri)”, ujar  Rizal Juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung, Gunung Palung Orangutan Project, Yayasan Palung dan Universitas Nasional Jakarta.

Seperti diketahui, Ahmad Rizal adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, namun penelitiannya di SRCP, dalam afiliasi dengan Universitas Nasional (UNAS) Jakarta.

Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5f182239d541df46c1163076/orangutan-sebagai-penyebar-biji-ini-buktinya?page=1

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Kita dan Persoalan Banjir

Warga yang berusaha melewati banjir di Desa Setipayan, Kecamatan Jelai Hulu. Foto dok : Bonifasius Rionaldo

“Dulu air banjir masih bisa tertahan, sekarang air banjir tidak ada yang menahan”.

Banjir dulu dan sekarang. Dulu banjir, sekarang juga banjir (sama-sama banjir). “Dulu air banjir masih bisa tertahan, sekarang air banjir tidak ada yang menahan”. Tertahan karena hutan masih bisa berdiri kokoh. Sedangkan saat ini air banjir tidak ada yang menahan karena hutan tak banyak lagi berdiri kokoh akibat banyak sebab.

Hujan tak berhenti mengguyur selama 2 hari, dari 10-12 Juli 2020 kemarin, berimbas pada terjadinya banjir di beberapa wilayah di Kecamatan Jelai Hulu, Ketapang, Kalimantan Barat.

Terjadinya banjir sedikit banyak berdampak kepada sendi kehidupan (aktivitas) sehari-hari masyarakat. Masyarakat mau tidak mau akrab dengan banjir.

Seperti penuturan Natalis, selaku Sekdes Desa Penyarang saat dihubungi melalui pesan WA, mengatakan; “Banjir terjadi di beberapa desa seperti di Desa yang terendam banjir di Kecamatan Jelai Hulu, seperti di Desa Kesuma Jaya, Desa Riam Danau Kanan, Desa Pasir Mayang, Desa Perigi, Desa Tebing Berseri, Desa Periangan, Desa Penyarang, Desa Asam Jelai dan Desa Biku Sarana”.

Berikut beberapa foto banjir yang terjadi di Desa Riam Kota dan Setipayan di Kecamatan Jelai Hulu :

Akibat cuaca ekstrem sesuai pantauan BMKG dari tanggal 8 sampai 13 juli. Di tambah lagi akibat banyaknya alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit di wilayah hulu, kata Natalis.

Lebih lanjut kata Natalis, “Dampak utama dari terjadinya banjir membuat warga harus mengungsi, tapi kesulitan alat transportasi hanya sebatas rakit, jadi kesulitan untuk evakuasi, sedangkan bantuan dari pemerintah berupa sembako itu pun sampai saat ini belum ada sampai karena keterbatasan akses. Fasilitas seperti perahu sangat mereka perlukan saat ini. Untuk fasilitas umum pun terganggu akibat tergenang banjir ataupun rusak akibat banjir”. Dari  informasi Natalis ini, bisa dibayangkan kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat setempat.

Belum lagi perubahan tanah di perumahan masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai, menyebabkan rumah miring dan turn. Penurunan tanah, tanah pondasi rumah warga menjadi lembut menyebabkan pondasi  tanah menjadi miring, katanya lagi.

Desi Kurniawati, Koordinator Program Perlindungan Satwa (PPS-Hukum) Yayasan Palung, mengatakan terkait terjadinya banjir, menurutnya, “Banjir yang terjadi di beberapa wilayah Jelai Hulu disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya karena diperparah oleh adanya perubahan bentang alam (luasan tutupan hutan yang semakin banyak berkurang). Faktor lainnya karena perubahan iklim (cuaca yang semakin tidak menentu/ anomali cuaca)”.

Desi sapaan akrabnya lebih lanjut mengatakan, “banjir dulu dan sekarang”, dulu banjir juga sering terjadi di lingkungan masyarakat kita, tetapi dampaknya tidak separah seperti sekarang ini. Pada Dasarnya kata Desi, Kalimantan sejatinya sudah sangat akrab dengan banjir, tetapi dulu itu sebenarnya air pasang karena biasanya hanya beberapa jam sudah surut. Desi mencontohkan pada masyarakat kita terdahulu (jaman dulu) di kampung lebih arif dan bijaksana dengan alam sekitar kita (lebih memuliakan alam/peduli dengan alam). Bahkan orang tua (masyarakat) kita dulu kata Desi, sudah tahu cara memitigasi (langkah-langkah mengurangi resiko dengan melakukan pencegahan) dengan cara seperti membangun rumah harus tinggi (rumah panggung) di dataran yang tinggi pula. Sedangkan sekarang sangat berbeda, kebanyakan orang membangun rumah sesuai keinginan saja yang tidak terlalu banyak memikirkan mitigasi banjir. Hal lainnya lagi yang memperparah adalah terkait Andal (analisis dampak lingkungan) yang terkadang hanya copas (copy paste / salin tempel), KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Srategis) tidak dijalankan dengan benar, atau pun perusahaan-perusahaan perkebunan sawit di sekitar lokasi banjir tidak menjalankan prinsip-prinsip sawit berkelanjutan.

Selanjutnya juga Desi menegaskan, “Dulu hujan lebat sekalipun bisa sangat cepat diserap (tertahan) oleh akar-akar pohon. Sedangkan sekarang air hujan turun sudah tidak banyak yang tertahan karena tidak ada banyak pohon di hutan yang menahan. Kalau dulu, ketika banjir terjadi, air sungai masih bisa dikonsumsi, sekarang air sungai sudah mengandung racun bekas dari pupuk dan sebagainya”.

Sesuatu yang pasti dan yang selalu terjadi, penerima dampak adalah masyarakat kecil di wilayah sangat rentan terjadinya banjir.

Saat ini kita semua, pemerintah, pihak swasta dan masyarakat saatnya untuk kembali memuliakan alam dengan sisa-sisa kebijaksanaan yang kita miliki, dengan demikian tidak ada lagi bencana yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Selamat Atas Pelantikan Relawan Konservasi TAJAM Angkatan ke-9

Pantia memberikan pengarahan kepada Anggota baru RK-TAJAM angkatan ke-9 yang akan di Lantik. Foto dok : Yayasan Palung

Sabtu (11/7/2020) kemarin, telah dilaksanakan kegiatan pelantikan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) angkatan ke-9 tahun 2020 yang dilaksanakan di Pantai Tanjung Belandang, Kabupaten Ketapang.

Rombongan dimulai berangkat menuju lokasi pada pukul 08.40 WIB dan tiba di Pantai Tanjung Belandang pada pukul 09.02 WIB.  Semua Peserta calon  RK-TAJAM  diarahkan panitia untuk  berbaris rapi karna akan persiapan senam bersama. Setelah kegiatan senam selesai, peserta diarahkan untuk  sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatan yang sudah dijadwalkan oleh panitia. Setelah selesai sarapan pada pukul 09.45 WIB, peserta calon RK-TAJAM diberi arahan oleh panitia (Tajam Senior) untuk berbaris rapi mendengarkan intruksi dari pembina kegiatan RK-TAJAM.  

Selanjutnya setelah pengarahan selesai, seluruh peserta semangat dan siap untuk menuju pos-pos (ada lima pos) yang disiapkan oleh panitia. Pada pos pertama,  peserta diarahkan oleh panitia menuju pos satu untuk mengikuti intruksi mencari harta yang hilang sesuai petunjuk yang telah di berikan kepada masing-masing peserta.

Berikut beberapa foto kegiatan Pelantikan Relawan Tajam angkatan ke-9 yang dilaksanakan di Tanjung Belandang

Pos satu telah selesai, peserta melanjutkan perjalanan lagi ke pos dua untuk menghafalakan visi dan misi RK-Tajam, seputar organisasi Yayasan Palung, hutan, orang hutan, alam, dan Profil RK-TAJAM  yang ditulis dikertas  peserta mengisi kuis. Setelah selesai mengisi kuis peserta melanjutkan menuju pos tiga, di pos tiga peserta menyerahkan jawaban kuis dan peserta siap uji mental untuk melewati tantangan (halang rintang) yang disiapkan oleh panitia. Setelah selesai melewati halang rintang peserta melanjutkan perjalanan menuju pos empat, di pos empat peserta diminta alasan mengapa mau bergabung dengan RK-TAJAM.

Setelah selesai di pos empat, selesai peserta melanjudkan menuju pos lima. Di pos lima, mereka disuruh mencari slayer yang sengaja disembunyikan panitia di semak-semak dan di pohon. Adapun tujuanya untuk menambah kejelian dan ketelitian peserta saat berada di dalam hutan setelah semua intruksi  selesai  peserta pun diarahkan untuk persiapan pelantikan pada pukul 16.02 WIB, peserta sebelum dilantik diberikan pecerahan terlebih dahulu oleh pembina dan pj acara untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap menjaga alam dan upaya yang harus mereka lakukan dan tujuan yang akan dicapai RK-TAJAM ketapang dan Yayasan Palung. Pada pukul 16.30 WIB peserta RK-TAJAM baru resmi dilantik secara simbolis dengan mengenakan selayer RK-TAJAM baru oleh  panitia RK- TAJAM (RK-Tajam Senior) dan pembina Relawan Tajam, Haning Pertiwi.

Pelantikan pun selesai dilaksanakan dengan lancar. Setelah pelantikan selesai dilaksanakan, peserta melaksanakan bakti sosial (baksos) membersihkan sampah di sekitar pantai. Acara selanjutnya adalah makan bersama dengan tujuan untuk menambah keakraban panitia dan peserta baru yang telah dilantik. Setelah makan bersama selesai, panitia mengarahkan peserta untuk membuat kreasi dari alam dengan mebuat kreasi bahan dari alam dari ranting kayu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Setelah pukul 17.39 WIB, peserta diarahkan oleh pembina untuk persiapan sayonara, Kegiatan pelantikan RK-TAJAM angkatan ke-9  tahun 2020 selesai dilaksanakan dengan lancar.

Semua rangkaian kegiatan selesai dilaksanakan pada pukul 18.00 WIB setelah itu pembina memberi arahan pada peserta agar kembali kerumah masing-masing.

Selamat dan sukses atas pelantikan RK-TAJAM angkatan ke-9, dengan demikian mereka resmi bergabung sebagai Relawan muda Yayasan Palung. Pada tahun ini, ada (5) lima  anggota Baru RK-Tajam yang resmi dilantik. Berharap RK-TAJAM angkatan ke-9 bisa menjadi penyambung lidah yang mampu menyuarakan isu-isu konservasi, lebih kreatif dan mampu mengajak masyarakat untuk lebih perduli pada alam  sekitar.

Penulis : Fransiska Suhaimi- BOCS angkatan 2019

Editor : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pasang Banner Himbauan di 3 Titik Konflik Manusia dan Orangutan

Melalui tim PPS-Hukum Yayasan Palung (YP) melakukan pemasangan banner (baliho) himbauan di titik konflik antara manusia dan orangutan di 3 titik, (22/6) kemarin.

Kemarin (22/6), tim PPS-Hukum Yayasan Palung (YP) melakukan pemasangan banner (baliho) himbauan di titik konflik antara manusia dan orangutan di 3 titik.

Adapun 3 titik konflik antara manusia dan orangutan tersebut adalah 2 titik di Desa Pelang dan 1 titik di Desa Sungai Bakau, di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, Kalimantan Barat.

Pemasangan Banner di 3 titik konflik antara manusia dan orangutan sebagai himbauan bagi kita semua agar tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap satwa yang dilindungi.

Berikut isi dari himbauan tersebut : “SELAMATKAN SATWA DILINDUNGI DAN HABITATNYA” ; Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memilihara, mengangkut, memperniagakan, satwa yang dilindungi. (UU no. 5 tahun 1990, pasal 21, Ayat 2).

Hukuman bagi yang melakukan kejahatan terhadap satwa yang dilindungi : penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. (UU no. 5 tahun 1990, pasal 40, Ayat 2).

Baca juga di :

View this post on Instagram

Yayasan Palung Pasang Banner Himbauan di 3 Titik Konflik Manusia dan Orangutan ————————————————————————- ————————————————————————- Kemarin (22/6), tim PPS-Hukum melakukan pemasangan banner (baliho) himbauan di titik konflik antara manusia dan orangutan di 3 titik. Adapun 3 titik konflik antara manusia dan orangutan tersebut adalah 2 titik di Desa Pelang dan 1 titik di Desa Sungai Bakau, di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, Kalimantan Barat. Pemasangan Banner di 3 titik konflik antara manusia dan orangutan sebagai himbauan bagi kita semua agar tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap satwa yang dilindungi. Berikut isi dari himbauan tersebut adalah : "SELAMATKAN SATWA DILINDUNGI DAN HABITATNYA" ; Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memilihara, mengangkut, memperniagakan, satwa yang dilindungi. (UU no. 5 tahun 1990, pasal 21, Ayat 2). Hukuman bagi yang melakukan kejahatan terhadap satwa yang dilindungi : penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. (UU no. 5 tahun 1990, pasal 40, Ayat 2). Saat pemasangan banner tersebut, Yayasan Palung @yayasan_palung @savewildorangutans dibantu oleh pihak Kepolisian dan TNI yang kebetulan sedang bertugas patroli di wilayah tersebut. Berharap dengan adanya himbauan tersebut konflik antara manusia dan orangutan tidak terjadi lagi. Narasi : @petruskanisiuspit @nafas_hidupalamraya @yayasan_palung @savewildorangutans 📸 : @yayasan_palung @savewildorangutans @hendri_gunawan_kabara @andre_botanis #saveorangutan #saveorangutans #orangutanwildlife #satwaliar #satwadilindungi #kalimantanbarat #ketapang #kalbar #Borneo #Indonesia #wild #wildlife @tribunpontianak

A post shared by Yayasan Palung (YP) (@yayasan_palung) on

Saat pemasangan banner tersebut, Yayasan Palung dibantu oleh pihak Kepolisian dan TNI yang kebetulan sedang bertugas patroli di wilayah tersebut.

Berharap dengan adanya himbauan tersebut konflik antara manusia dan orangutan tidak terjadi lagi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yuk Ikuti Seminar Online (Webinar)- Mengulas tentang Restorasi Hutan Hujan di Dunia

Pada Senin, 22 Juni 2020 pukul 9 pagi PST atau pukul 23:00 WIB, bergabung dengan Health In Harmony, Mongabay, dan panelis ahli dari Blue Ventures, Medical Center Alam Sehat Lestari (ASRI), International Animal Rescue (IAR), dan Gunung Palung Orangutan Conservation Project (GPOCP) untuk diskusi tepat waktu mengenai restorasi hutan hujan di seluruh dunia.

Kami telah mengundang organisasi-organisasi ini untuk berkumpul dan berbagi pekerjaan mendesak yang mereka lakukan untuk melindungi dan menumbuhkan hutan hujan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat hutan hujan, orangutan yang terancam punah, dan semua orang yang mendapat manfaat dari paru-paru Bumi. Sekarang, lebih dari sebelumnya, pendekatan holistik kami untuk konservasi sangat penting, setelah krisis iklim, COVID-19, dan gerakan keadilan rasial yang menegaskan bahwa tidak ada satu tantangan yang dapat diselesaikan tanpa komunikasi dan kolaborasi.

Bergabunglah dengan kami untuk tanya jawab yang penting ini dengan panelis dari AS, Inggris, dan Indonesia. Kemudian, ambil tindakan untuk manusia, margasatwa, dan planet ini pada Hari Hutan Hujan Dunia dan setiap hari.

Daftar diskusi ini di https://healthinharmony.org/webinar

Publikasi oleh : Yayasan Palung

Selamat dan Sukses untuk Ibu Prof. Cheryl Knott

Prof. Cheryl Knott

Direktur Eksekutif GPOCP (Yayasan Palung) Dr. Cheryl Knott baru-baru ini dipromosikan menjadi Profesor Antropologi Penuh di Universitas Boston. 

Prestasi yang Prof. Cheryl Knott raih ini sebagai bukti nyata dan dedikasinya meneliti fisiologi dan perilaku orangutan dan kera besar, dengan fokus pada bagaimana primata mengatasi perubahan lingkungan, terutama yang mengakibatkan ketersediaan pangan yang berfluktuasi.

Beliau adalah National Geographic Emerging Explorer, yang telah menulis lusinan bab buku dan artikel jurnal yang mencatat hasil penelitiannya. Selain itu, Prof. Cheryl sering menjadi pembicara utama di konferensi dan forum lain tentang orangutan, kera besar, dan konservasi hutan hujan. Pada 2017, Prof. Cheryl menerima Penghargaan Lingkungan Pongo Yayasan Orang Utan Republik untuk upaya konservasi yang berkelanjutan di Kalimantan, Indonesia.

Prof. Cheryl memiliki penelitian orangutan jangka panjang di Taman Nasional Gunung Palung yang difokuskan pada perilaku dan biologi orangutan baik sebagai cara untuk meningkatkan pemahaman kita tentang sejarah kehidupan kera besar yang terancam punah dan untuk memberikan petunjuk bagi sejarah evolusi manusia. Proyek Orangutan Gunung Palung mengumpulkan informasi tentang banyak aspek ekologi orangutan, perilaku sosial, perkembangan, fisiologi, kognisi, dan perilaku mulai. Secara khusus, proyek penelitian twrsebut terfokus pada fisiologi reproduksi orangutan jantan dan betina dengan metode yang Prof. Cheryl kembangkan untuk pemantauan steroid non-invasif melalui pengambilan sampel urin. Studi-studi ini, termasuk analisis nutrisi makanan orangutan, telah menjelaskan pengaruh ketersediaan makanan pada sistem reproduksi orangutan yang sensitif dan telah memberikan petunjuk tentang pola teka-teki pertumbuhan dan perkembangan jantan.

Prof Cheryl juga terlibat aktif dalam upaya melindungi spesies yang terancam punah ini dan habitat hutan hujan mereka melalui Program Konservasi Orangutan Gunung Palung, termasuk pendidikan, kesadaran publik, sensus populasi orangutan dan habitat, serta interaksi aktif dengan organisasi pemerintah Indonesia untuk memerangi kegiatan pembalakan liar.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang penelitian, pengajaran, dan publikasi Prof. Cheryl, dapat mengunjungi halaman websitenya di http://cherylknott.wordpress.com  .

Sumber Tulisan, Dari Berbagai tulisan :

http://www.bu.edu/articles/2020/charles-river-campus-bu-faculty-promotions/?utm_campaign=bu_today&utm_source=email_20200527_full&utm_medium=2_must_read_3&utm_content=faculty&fbclid=IwAR2UD1ImZSMmUf4qq4fnHu3dmAnm1lmaCDaCMrivtvVhx1lwaS9kfg-FbWs

https://yayasanpalung.com/2017/10/16/cheryl-knott-raih-pongo-award-2017-atas-konservasi-orangutan-di-kalimantan https://yayasanpalung.com/2017/09/22/ilmu-pengetahuan-tentang-primata-oleh-cheryl-knott

http://tz.ucweb.com/10_1Eeta https://pontianak.tribunnews.com/2017/09/21/gpocp-beri-kuliah-umum-tentang-observasi-oraangutan https://pontianak.tribunnews.com/2017/08/21/profesordariboston-universityberikan-pembelajaran-di-ketapang?page=all

Petrus Kanisius dan Wahyu Susanto-Yayasan Palung

Adakan Workshop Tutorial untuk WBOCS 2020 Secara Virtual

Adakan Workshop Tutorial untuk WBOCS 2020 Secara Virtual. Foto dok : Yayasan Palung

Selasa (19/5/2020) kemarin, workshop tutorial untuk WBOCS 2020  telah selesai diadakan dan diikuti oleh semua penerima Program Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) angkatan 2020.

Kegiatan yang dilaksanakan pukul 09.00-12.00 WIB tersebut, dilaksanakan secara virtual. Pada kesempatan diadakan workshop tutorial untuk WBOCS 2020 itu juga sekaligus juga menyampaikan video ucapan selamat dari pak Gary L Shapiro.

Ucapan selamat juga disampaikan oleh Cheryl D. Knott, PhD (Executive Director GPOCP atau Yayasan Palung) dan Victoria Gehrke ( Direktur Yayasan Palung) kepada penerima WBOCS 2020.

Manajer Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Mariamah Achmad mengatakan; Workshop tutorial untuk WBOCS 2020 diberikan kepada penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (WBOCS) tahun ini dilakukan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Ditengah pandemi Covid-19, kami melakukan perubahan cara kegiatan dengan mengadakan workshop yang biasanya tatap muka dengan secara online, hal ini untuk antisipasi penyebaran covid-19 dengan social distancing,” kata Mariamah.

Foto 6 Penerima beasiswa WBOCS tahun 2020 :

  1. Rizal (SMKS Al-Agwam)
  2. Vera Frestia (SMAN 1 Sandai)
  3. Sonia Utami (MAS Babussa’adah)
  4. Muhammad Syainullah (MAS Hidayaturrahman)
  5. Sisilia (SMAN 1 Sungai Laur)
  6. Winda Lasari (SMAN 1 Sungai Laur)

Gary L Shapiro mengatakan; “Program beasiswa ini terselenggara berkat kerjasama antara Yayasan Palung dan Orang Utan Republik Foundation (OURF). Dr. Gary Shapiro sebagai pendiri dan presiden OURF tidak bisa berada di Indonesia karena pandemic covid-19, ini tidak seperti biasanya yang pada setiap bulan Mei bersama dengan Yayasan Palung memberikan anugrah beasiswa kepada penerima beasiswa baru”. Sebagai gantinya bapak Gary mengirimkan video ucapan selamat kepada para pemenang beasiswa WBOCS 2020 sekaligus mempresentasikan tentang perkembangan program Orangutan Caring Scholarship di 4 wilayah yaitu Sumatera Utara, Aceh, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Dalam videonya pak Gary menyampaikan komitmennya atas keberlanjutan program beasiswa ini, bahwa penerima beasiswa ini akan mencapai jumlah 200 penerima beasiswa pada tahun 2021, 20 penerima baru pada tahun 2020 terdiri dari 6 orang di Aceh, 6 orang di Sumatera Utara, 6 orang di Kalimantan Barat, dan 2 orang di Kalimantan Tengah. Serta hingga tahun 2019 sudah terdapat 104 penerima beasiswa yang sudah menjadi sarjana S-1.

Pak Gary juga menyampaikan untuk melandaikan kurva pasien positif dan mengurangi kematian di masa wabah virus corona ini, agar kita semua menjalankan protokol tinggal dirumah, menjaga jarak sosial, mencuci tangan, pembatasan perjalanan dan visa.

Lebih lanjut menurut Mayi, sapaan akrabnya mengatakan; “Biasanya Yayasan Palung melaksanakan tahapan program WBOCS dengan tatap muka namun saat ini dikarenakan kondisi wabah ini, kami memodifikasi dengan melalui online meeting. Sehingga terlaksanalah workshop tutorial program WBOCS untuk para pemenang WBOCS 2020 melalui aplikasi google meet pada 19 Mei 2020 selama 3 jam (pukul 09.00-12.00 WIB). Karena keterbatasan meeting online ini, sebelumnya peserta sudah dikirimkan video presentasi tutorial untuk mereka pelajari dan menyiapkan pertanyaan untuk bahan diskusi saat meeting online. Pada kesempatan workshop ini juga disampaikan video ucapan selamat dari pak Gary L Shapiro dari Orang Utan Republik Foundation (OURF) selaku partner kerja Yayasan Palung yang membiayai program beasiswa ini. Biasanya kami memberikan ucapan selamat kepada para pemenang beasiswa setiap tahun melalui sebuah acara Malam Anugrah Beasiswa. Workshop ini berjalan cukup lancar dengan beberapa kali peserta putus sambung masuk ke dalam meeting dikarenakan sinyal internet yang kurang bagus di wilayah masing-masing peserta juga beberapa kali suara yang kurang terdengar jelas”.

Sebagaimana diketahui para pemenang beasiswa tahun ini berasal dari Teluk Batang (Sonia Utami), Simpang Hilir (Rizal), Sungai Laur (Winda Lasari dan Sisilia), Ketapang (Muhammad Syainullah), dan Sandai (Vera Frestia).

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

(Puisi) Jalani Masa Puasa Ramadhan

Foto ilustrasi : Puasa. dok: tribunnews

Dari Subuh, menjelang senja menyapa untuk sobat sekalian menjalankan ibadah puasa

Hari demi hari teduh, melaksanakan kewajiban dari Yang Maha Pencipta untuk menahan lapar juga dahaga.

Sobat berpuasa menyambut Ramadhan, bulan yang penuh Suci dan ampunan

Menunaikan sholat sebagai penanda untuk bersyukur juga memohon ampun atas dosa dan perbuatan.

Sebulan penuh, masa-masa yang harus dijalani

Dalam waktu sebulan sudah pasti tak sedikit rintangan, cobaan, tantangan yang menghadang.

Berpuasa dengan seiklhas hati, sepenuh jiwa untuk membuka saling memahami

Waktu demi waktu tidak terasa pasti terus belalu membentang menjelang

Untuk Ramadhan nan Fitri Suci Kembali untuk memaafkan dan saling mengampuni

Bersama berharap hadai taulan menanti kasih dengan silaturahmi.

Selamat menjalankan Ibadah puasa buat sobat yang menjalankannya.

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di kompasiana.com : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/575930e01293730e07ecff76/puisi-buat-sobat-yang-sedang-menjalankan-puasa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Cabang Panti Surganya Ekologi, Satwa dan Data

Camp Cabang Panti, di TNGP sebagai tempat (rumah) bagi para peneliti yang melakukan penelitian . Foto M.Syainullah

Stasiun Riset Cabang Panti adalah salah satu stasiun riset yang berada di Kalimantan Barat, tepatnya berada di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantar Barat. Tak Salah kiranya jika Cabang Panti boleh dikata sebagai surganya ekologi, satwa dan data karena flora dan fauna yang ada di wilayah tersebut sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Stasiun riset yang memiliki area penelitian seluas 2,100 hektare ini dibangun pada awal tahun 1985 yang ketika pada saat itu area Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) masih berstatus suaka marga satwa. Sebelum mengulik lebih dalam tentang Stasiun Riset Cabang Panti atau yang biasa disingkat SRCP ini mari kita melihat kebelakang periodisasi perjalanan terbentuknya Taman Nasional Gunung Palung.

Para peneliti (peneliti dari dalam dan luar negeri) yang melakukan penelitian di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok : M. Syainullah.

Sebelum ditetapkan sebagai Taman Nasional, Gunung Palung harus melewati beberapa tahapan (proses) terlebih dahulu seperti; Cagar Alam, Suaka Marga Satwa dan barulah ditetapkan sebagai Taman Nasional.

Pada tahun 1937, Ditetapkan Sebagai Cagar Alam. Melalui SK Het Zelfbertuur Van Het Landschap Simpang pada 15 april tahun 1937 yang dimana cikal bakal TNGP ini ditetapkan sebagai Cagar alam yang mencakup wilayah Sukadana dan wilayah Simpang, kemudian ditegaskan lagi pada 1939 cagar alam ini memiliki wilayah administratif seluas 30,000 hektare, kemudian pada 1978 ditetapkan lagi tata batas definitif seluas 37,750 hektare oleh Direktorat Bina Program Bogor.

Hanya membutuhkan waktu hanya 4 tahun atau tepatnya pada tahun 1981, ketika wilayah Cagar Alam ditunjuk menjadi Suaka Marga Satwa oleh kelompok Gunung Pekayang, Gunung Seberuang Sei. TANAGUPA pun secara resmi berubah status dari status Cagar Alam menjadi Suaka Marga Satwa. Lekahan dan Labuan Batu dengan luasan wilayah 90.000 hektare dan berakhir dengan pengesahan BA Tata Batas oleh Mentri Kehutanan dengan luasan terakhir pada saat itu seluas 95.940 Hektare (Tata Batas Definitif) yang di tetapkan oleh Brigade Planologi Kehutanan BIPHUT Wilayah II Palembang pada tahun 1983.

Selanjutnya Gunung Palung ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Palung ini dimulai pada 1990, yang dideklarasikan oleh Menteri Kehutanan melalui Pernyataan Menteri Kehutanan Nomor: 185/Kpts-II/1997 pada tanggal 31 maret 1997, hingga terakhir pengesahan penetapan Kawasan Taman Nasional Gunung Palung dengan luas wilayah 108.043,90 hektare pada 10 juni 2014 melalui SK Menhut Nomor : SK4191/Menhut-VII/KUH/2014.

Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) adalah salah satu stasiun riset terlama yang hingga saat ini masih aktif, SRCP memiliki kekayaan akan ekologi yang luas biasa dimana paling tidak ada 8 tipe habitat yang berbeda di dalam kawasan penelitian nya yaitu, hutan rawa gambut, hutan air tawar, kerangas, tanah alluvial, granit dataran rendah, granit dataran tinggi, batuan berpasir dataran rendah, dan pegunungan. Tidak sampai di situ SRCP juga memiliki populasi orangutan (Pongo pigmaeus wrumbii) yang lumayan banyak yaitu sekitar 515 individu orangutan yang sudah di identifikasi dan 395 orangutan yang belum teridentifikasi serta data ini masih terus bertambah.

M. Syainullah saat melakukan penelitian di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok : Yogi Saputra.

Sampai saat ini, di Taman Nasional Gunung Palung ada 2 proyek penelitian yang aktif hingga saat ini yaitu; Gunung Palung Orangutan Project (GPOP) yang berfokus pada penelitian mengenai orangutan. One Forest Project (OFP) yang dimana proyek penelitian ini fokus pada penelitian ekologi, dua-duanya memiliki rentang pengalaman yang relatif lama seperti GPOP yang saat ini sudah berumur 20 tahun. Ada lebih dari 113 peneliti luar negeri dan lebih dari 95 peneliti dalam negeri hingga saat ini, ada lebih dari 19.017 tumbuhan (pohon, liana, dan ficus) yang di amati sepanjang tahun oleh para peneliti dai 60 petak fenologi. Ada 80 jalur penelitian dengan total panjang 96.692 km dengan 230 jenis burung yang sudah terekam sepanjang jalur penelitian tersebut. Dan masih banyak lagi aspek kekayaan alam yang ada di Cabang Panti yang hingga saat ini masih banyak yang belum  dijelajahi. Semua hanya masalah waktu.

Sumber bahan  dan data tulisan : Data dari Balai Taman Nasional Gunung Palung

Baca juga tulisan :https://yayasanpalung.com/2017/02/20/mengenal-lebih-dekat-stasiun-penelitian-cabang-panti-dan-ini-yang-menarik-disana/

Penulis : Muhammad Syainullah- Asisten Peneliti GPOCP

Editor : Pit-YP

Inilah Pemenang Tantangan Kreativitas #dirumahaja, Selamatkan Bumi dari Rumah

10 pemenang Tantangan Kreativitas #dirumahaja dalam rangka Hari Bumi 2020. Foto dok : Yayasan Palung

Pada Perayaan Hari Bumi Bulan lalu, Yayasan Palung mengadakan lomba (Tantangan Kreativitas #dirumahaja) dengan Tema: “Selamatkan Bumi dari Rumah” khusus di Wilayah Kalbar, dalam rangka hari bumi bulan lalu.

Pada lomba tersebut, Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain, tantangan kreativitas #DiRumahAja #SaveOurEarthFromHome #HariBumi2020 #YayasanPalung, khusus untuk masyarakat Kalbar, membuat kerajinan tangan yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari dari barang bekas. Ada pun penjaringan peserta lomba dilakukan dari 1-30 April 2020 dan periode penilaian pemenang lomba : 1-9 Mei 2020 untuk memilih 10 pemenang.

Selamat kepada 10 pemenang Tantangan Kreativitas #dirumahaja dalam rangka Hari Bumi 2020, Selamatkan Bumi dari Rumah. Selanjutnya dilombakan pula karya siapa yang paling banyak mendapat like di Instagram.

Berikut adalah nama-nama pemenang Tantangan Kreativitas #dirumahaja Selamatkan Bumi dari Rumah dalam rangka hari bumi, April lalu :

Juara Pertama pada lomba tersebut adalah Brian Mccarthy dari Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara. Karya yang ia sertakan dalam lomba tantangan kreativitas #dirumahaja adalah Lampu tidur dengan asesoris dari botol plastik kemasan sekali pakai. Pada karyanya Brian Mccarhy  mendapat 185 like pada karyanya tersebut. Brian pun berhak mendapatkan hadiah berupa; t-shirt, tumbler, tote bag, sertifikat dan sticker.

Juara Pertama pada lomba tersebut adalah Brian Mccarthy. Karyanya : Lampu tidur dengan asesoris dari botol plastik kemasan sekali pakai. Foto dok : Simon/YP

Sedangkan Juara 2 adalah Egi Iskandar dari Kecamatan Matan Hilir Utara, Kab. Ketapang. Adapun karya yang ia lombakan adalah membuat tempat pensil terbuat dari kardus dan kertas bekas. Egi mendapat 174 like.  t-shirt, tumbler, sertifikat dan stiker.

Sedangkan Juara 2 adalah Egi Iskandar. Karya yang ia lombakan adalah membuat tempat pensil terbuat dari kardus dan kertas bekas. Foto dok : Simon/YP

Dan Juara 3  adalah  Sela Sevira  Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Sela membuat karya; Lampu tidur dan tempat pensil dengan asesoris terbuat dari stik ice cream bekas. Ia mendapatkan 141like. Sebagai hadiah ia berhak mendapatkan t-shirt, tote bag, sertifikat dan sticker.

Juara 3  adalah  Sela Sevira. Karyanya Lampu tidur dan tempat pensil dengan asesoris terbuat dari stik ice cream bekas. Foto dok : Simon/YP

Sedangkan juara 4 – 10 adalah  (Meilani Utari, Dini Safitri, Darwis Yustosio, Holikmhmmdptra, Wijaya Windra, Saptiana Nur Prahasti dan  Shafa Fakhira) berhak mendapatkan hadiah berupa : tumbler, sertifikat dan sticker. Hadiah sudah dikirimkan ke alamat masing-masing.

Terima kasih sudah ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Tetap semangat untuk berkreasi. Salam Lestari!!.

Penulis : Pit & Simon