Mahasiswa Luar Negeri Berikan Kuliah Umum di Dua Kampus di Ketapang

Andrew Bernard, Mahasiswa dari Luar Negeri saat memberikan kuliah umum di Kampus Politeknik Negeri Ketapang. Foto dok : Yayasan Palung

Adalah Andrew Bernard Mahasiswa dari luar negeri yang berkesempatan memberikan kuliah umum di dua kampus yang ada di Kabupten Ketapang.

Pada kesempatan pertama, pada tanggal (9/10/2019) kemarin, Andrew Bernard memberikan kuliah umumnya di Kampus Politeknik Negeri Ketapang. Pada kesempatan tersebut, Andrew menyampaikan kuliah umumnya dengan mengangkat tema; “Effect of Climate Change on Vertebrates Their Food and Forest Health” (Efek Perubahan Iklim pada Vertebrata, Makanannya dan Kesehatan Hutan). Sedangkan pada kesempatan kedua dilaksanakan pada tanggal (10/10/2019) di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hauld Ketapang.

Materi yang Andrew sampaikan tersebut terkait tentang penelitiannya di Taman Nasional Gunung Palung. Andrew Bernard merupakan kandidat PhD dari Universitas Michigan, Amerika Serikat.

Andrew Bernard mengatakan, “ Saya sangat senang atas kesempatan untuk datang dalam undangan di dua universitas di Ketapang untuk berbagi mengenai penelitian saya di Cabang Panti. Senang terutama pada waktu itu kempatan untuk melibatkan asisten penelitian saya, Robi Kasianus dan Ahmad Dalim yang mempresentasikan sebagian dari materi. Keduanya baru dalam berbicara tentang hal ilmiah di depan umum dan sekarang mereka muncul sebagai pemimpin pemula dalam pelibatan masyarakat dan inisiatif konservasi. Kami berharap pembicaraan tentang ekologi, masyarakat dan peruban iklim terus berlanjut dan menantikan lebih banyak peluang membagikan pengalaman kami”.

Pada kesempatan pertama di Kampus Politeknik Negeri Ketapang, peserta yang ikut ambil bagian dalam kuliah umum tersebut diikuti 96 peserta yang terdiri 80 mahasiswa dan 16 dosen. Sedangkan di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hauld Ketapang, peserta yang hadir dalam kuliah umum berjumlah 200 orang peserta.

Kuliah umum  tersebut dibuka oleh kepala institusi masing-masing. Di Politeknik Negeri Ketapang oleh Direkturnya Endang Kusmana, SE.,MM.Ak.CA.  Dan di Kampus STAI Al-Hauld dibuka langsung oleh Drs. H.M. Mansyur, M.Si, selaku Kepala STAI Al-Hauld.

Andrew Bernard, Mahasiswa dari Luar Negeri saat memberikan kuliah umum di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hauld Ketapang. Foto dok : Yayasan Palung

Dalam kesempatan kuliah umum tersebut, hadir pula Victoria Gehrke, selaku Direktur Program Yayasan Palung dan Mariamah Achmad selaku Manager Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung yang pada kegiatan tersebut sebagai moderator. Sedangkan sebagai penerjemah dalam kuliah umum tersebut adalah Monalisa Pasaribu.

Pada kuliah umum tersebut, tidak sedikit mahasiswa/i yang bertanya mengapa peneliti dari luar negeri banyak meneliti di Indonesia, lebih khusus di Gunung Palung. Apakah ada alasan positif atau pun negatif untuk meneliti di Indonesia?. negatifnya, apakah di Indonesia perubahan iklim terlalu buruk? . Positifnya, apakah Indonesia berpotensi bisa menahan laju perunahan iklim. Intinya Andrew dekat dengan isu perubahan iklim, selain itu, ia (Andrew Bernard) memiliki profesor Antropologi yakni Andrew J. Marshall yang telah meneliti terkait vertebtrata jangka panjang di Gunung Palung sehingga Andrew Bernard lebih mudah untuk meneliti dan mencari solusi-solusi terkait masalah perubahan iklim yang ada.

Semua rangkaian kegiatan kuliah umum di dua Perguruan Tinggi (di Politeknik Negeri Ketapang,  dan di  Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hauld Ketapang) berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta yang hadir.  (Petrus Kanisius-Yayasan Palung).

Hujan Telah Tiba

Ilustrasi Hujan. Foto dok : Thinkstock_Sasiistock

Hujan datang di awal bulan pertama

Datang berarti tiba sebagai penanda

Untuk mengalahkan api yang sedang membara

Setelah sebelumnya hujan selalu dinanti panasnya bara

Api telah kurasa hingga menyesakan dada hingga memusingkan kepala

Berbulan-bulan kutunggu akhirnya engkau datang jua

Engkau datang mengundang riang semua nafas berirama sama

Nafas penyambung nyawa

Nyawa segala bernyawa

Ketapang, Kalbar, 3 Oktober

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ada Makanan Karena Ada Petani

Para petani lokal masyarakat Dayak Simpang Dua sedang melakukan tradisi menanam padi. Mereka selalu menanam padi setiap bulan Agustus-September, tetapi mereka bukanlah penjahat. Mereka tahu adat dan tradisi membakar yang baik. Foto dok : Michael Yundaliza

Petani, siapa tak kenal dengan petani. Saya pun petani karena ayah-ibu, kakek dan nenek adalah petani. Ada yang mengatakan petani adalah segalanya dan memiliki tempat istimewa. Ada pula yang bilang, tak ada nasi jika tak ada petani.

Semua negara, hampir pasti memiliki petani. Petani padi, petani kopi, petani jagung, petani sayur, petani buah-buahan, petani cabe dan petani-petani lainnya yang memiliki peranan penting bagi penyambung nafas (pemenuhan/penyedia kebutuhan) kehidupan di bumi nusantara Indonesia ini.

Petani Indonesia pun tergolong sangat ulet dan berperan besar sebagai penyedia bagi semua kebutuhan hidup hingga saat ini sejak berpuluh-puluh tahun lalu.

Ada petani, maka semua terpenuhi. Kira-kira demikian adanya. Kita tak mengenal nasi mungkin jika tak ada petani sawah/ladang. Tak ada kopi, jika tak ada petani kopi dan seterusnya.

Para petanilah yang saban waktu selalu menyediakan waktu tanpa mengenal lelah mereka untuk bertani (bercocok tanam) bekerja dari pagi hingga senja menyapa.

Ada petani buah, ada petani sayur, ada petani beras dan ada petani kopi dan semua petani. Mereka bisa dikata sebagai penyedia sumber hidup kita dari generasi ke generasi.

Wajar kiranya, Indonesia disebut sebagai negara agraris karena satu diantaranya karena hadirnya petani. Penyedia sumber tanaman pangan boleh dikata adalah petani Indonesia rajanya.

Sumber sayur, sumber buah-buahan dan makanan pun jadi sangat mudah didapat di Indonesia karena adanya petani kita Indonesia.

Ada petani kita bisa menikmati makanan dan sayuran segar, demikian pula dengan buah-buahan dari hasil para petani. Semua wilayah di Indonesia, memiliki kekhasan masing-masing dari hasil pertanian seperti buah-buah, padi dan sayur-sayuran.

Bagaimana para petani di Kalimantan misalnya, mereka melaksanakan tradisi menanam padi, sayuran dan buah-buahan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sistem berladang/bertani yang menggunakan syarat-syarat penghargaan terhadap alam begitu menjadi perhatian mereka. 

Tata aturan berladang pun menjadi syarat mutlak agar saat membakar agar tidak meluas, dengan cara/sistem perladangan sekat bakar. Tetapi terkadang, petani acap kali menjadi tertuduh karena dianggap sebagai penjahat dan biang dari sumber kebakaran. Pada intinya masyarakat di pedalaman menggunakan tata aturan yang boleh dikata sangat menghargai hak-hak semua nafas kehidupan.

Para petani di pedalaman atau di kampung  menggunakan adat dan tradisi (tidak sembarangan membakar/membuka lahan). Mereka (para petani) terlebih dahulu menggunakan ritual tertentu terebih dahulu baru membuka ladang sebagai ijin permisi kepada Duata/Duwata (Sang Pencipta).

Hampir 80% masyarakat adat (Indigenous Peoples) Dayak di Kalimantan mata pencahariannya berladang. Berladang bukan sekedar untuk hidup tapi ladang turut membentuk peradaban orang Dayak. Karena dari membuka lahan hingga akhir panen ada aturan yang hatus ditaati, adatnya inilah yang membentuk kebudayaan Dayak. Tidak benar aktivitas ladang berpindah sama dengan kegiatan merusak hutan. Istitut Dayakologi menyebutkan bahwa sistem ladang berpindah itu sebagai sistem pertanian asli terpadu (integrated indigenous farming system). Bukan ladang berpindah tetapi ladang bergilir. Selengkapnya baca disini

Bagi masyarakat petani, bertani sudah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan sejak dulu hingga saat ini yang harus lestari. Dengan bertani maka pemenuhan akan kebutuhan hidup terpenuhi. Hidup dari alam dan makan dari alam. Hargai alam karena ia memberi sumber hidup. 

Hormati hutan dan tanah air agar ia bisa juga menghormati kita agar kita semua bisa lestari. Ada petani maka kita hingga hari ini bisa menikmati sumber makanan berupa sayur-sayuran dan buah-buahan. Selamat hari petani dan teruslah maju para petani di negeriku.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Oh Hujan Turunlah, Kalahkan Api dan Asap yang Menyerang Kami

Api dan Asap yang mendera semoga segera berakhir dan berharap turunnya engkau hujan. Foto dok : YP/Rzl

Tak terasa, kemarau yang mendera sudah berlangsung lama

Kering, kerontang, itu sudah pasti karena engkau enggan turun

Air semakin surut mendangkal

Lahan-lahan hutan terbuka lebar dan terbakar karena diserang

Aku mengadu tak tahu harus seperti apa

Pun aku merasa mengaduh gaduh karena ini tak kunjung berhenti

Karena negara api menyerang tak kunjung berhenti

Kepulan asap mendera tiada tara tanpa ampun kepada siapapun

Tak bisa kami kata harus seperti apa lagi

Negara api sungguh menyerang tanpa henti kini

Lahan, hutan bahkan pemukiman ia serang tanpa peduli

Bau asap kini menjadi biasa kami hirup

Kami lebih sering batuk ketimbang hari-hari biasanya

Aktivitas di luar ruang pun semakin terbatas karena jarak pandang terhalang

Pengelihatan kami perih, tak disadari lelatu (jerebu) menghampiri

Kami menyadari, paru-paru kami bukan besi atau pun baja

Entahlah hingga kapan akan segera berakhir mendera

Segala upaya terus dilakukan tanpa henti oleh para pahlawan api yang mempertaruhkan nyawa demi berperang melawan negara api

Tak henti, saban waktu terus berjuang satu tujuan mereka bisa mengaalahkan api

Segala upaya pun kini terus dilakukan, berharap turunlah engkau hujan, engkaulah yang menjadi kekuatan terakhir kami

Seluruh nafas merindukan kesejukan dari tetesan demi tetesanmu hujan

Ingin riang gembira bersama karena telah terlalu lama kering menguning

Hadirnya engkau kini sangat kami nanti-nanti

Agar tak lagi menjadi ketakutan kami

Negara api sungguh perkasa mendera

Turunnya engkau hujan berarti pahlawan bagi kami

Turunmu pun kami harap bisa deras

Hadirmu pula sebagai tanda kita harus merdeka dari kabut asap yang mendera karena kami tahu engkaulah pahlawan sejati yang bisa mengalahkan serangan dari negara api

Hanya itu harap kami, secepatnya engkau turun untuk membasahi bumi ini karena kami pun rindu engkau hujan.

Ketapang, Kalbar, 23 September 2019

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Debu atau Bara

Debu, lelatu (jerebu), asap dan bara api. Foto dok : Sidiq Rebonk/YP

Rapuh tubuh ku tak sekuat kata-katamu yang penuh makna dan dogma

Rapuh itu tak lebih seperti debu yang akan rapuh hilang lenyap ditiup angin

Lagi dan lagi aku bingung, debu atau kah bara aku ini

Bila disapu maka aku akan musnah atau menjadi bara baru

Tak sekuat dogmamu meramu perantara yang mendera jiwa

Debu lelatu dari api yang terbakar, yang menyala siap menyergap bahkan mendera

Rapuh jiwaku tak kuat menahan panas bara api

Aku tak tahu debu atau bara kah aku ?

Bila ku debu aku akan hilang lenyap

Tetapi jika aku bara maka aku akan menjadi dan mendera tak kunjung usai melanda

Jika ku jadi debu bahkan menjadi lelatu pun aku tak tahu akan seperti apa aku

Bukan mengadu tapi tahu

Debu, Lelatu, bara api menjadi satu yaitu aku?

Sungguh tak tahu aku

Debu dan bara

Menanti hujan penjejuk jiwa

Kering kerontang rindu penawar dahaga

Menanti disapa apakah debu atau bara

Debu dan bara, apakah aku akan memilih keduanya

atau aku akan pergi tanpa memilih sama sekali

Ketapang, Kalbar 20 September 2019

Petrus Kanisius-Yayasan Palung