Pelatihan Pemadam Kebakaran untuk Desa dan Kelompok Dampingan Yayasan Palung

Para Peserta yang mengikuti pelatihan Pemadam Kebakaran. (Foto : Edi Rahman/Yayasan Palung).

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk masyarakat untuk peduli Api. Seperti misalnya yang dilakukan oleh Program Sustainable Livelihood (mata pencaharian berkelanjutan) dan didukung oleh Program Hutan Desa Yayasan Palung (YP) Salah satunya dengan mengadakan pelatihan pemadam kebakaran hutan dan lahan bagi masyarakat dampingan Yayasan Palung.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor YP Bentangor Education Center, di Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, pada Rabu (22/6/2022).

Kegiatan tersebut ditujukan bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera. Sebagai peserta dalam kegiatan tersebut selain dari Masyarakat Peduli Api, juga diikuti oleh Kelompok Budidaya Ikan, perwakilan dari 5 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) binaan Yayasan Palung seperti dari LPHD Desa Padu Banjar, LPHD Desa Pulau Kumbang, LPHD Penjalaan, LPHD Nipah Kuning, LPHD Desa Pemangkat. Selain itu, ikut serta juga dari Kelompok Tani Meteor Garden.  

Dalam serangkaian kegiatan pelatihan tersebut, beberapa materi pelatihan yang disampaikan kepada para peserta antara lain seperti teori tentang Materi Dasar Karhutla dan Taktik Stategi Pemadam Kebakaran. Selain itu, peserta pelatihan juga diajak untuk melakukan Praktek dan Simulasi menggunakan alat pemadam kebakaran.

Sebagai pemateri yang dipercaya dalam kegiatan itu adalah Manggala Agni Daops Kalimantan X / Ketapang.

Desi Kuniawati, selaku Manager HRD & Comdev Yayasan Palung, mengatakan, “Pelatihan ini sebagai salah satu upaya meningkatkan atau membantu masyarakat dalam pencegahan Karhutla karena selama ini diberikan pelatihan tetapi belum didukung dengan peralatan pemadam kebakaran.“

Selain itu, Desi sapaan akrabnya lebih lanjut mengatakan, diharapkan pula dengan adanya alat dan pelatihan ini masyarakat bisa lebih aktif untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lingkungan mereka, karena alat yang dibantu oleh Yayasan Palung ini ringan, hanya 11 kilogram jadi sangat mudah untuk dibawa kemana-mana untuk pecegahan dan pemadaman dini.

Selanjutnya juga Desi berharap, dan terbuka kepada pihak lain di luar YP juga bisa untuk berkontribusi untuk perawatan dan biaya operasional atau pun juga penambahan alat karena ini tujuannya untuk peduli kepada pencegahan karhutla.

Kita juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Manggala Angni Daops Kalimantan X / Ketapang yang telah memberikan pelatihan berupa teori dan praktek tentang Pelatihan Pemadam Kebakaran untuk kepada masyarakat binaan Yayasan Palung, kata Desi.

Ucapan terima kasih juga untuk Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai Tanagupa) yang telah mendukung kegiatan ini.

Serangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di kumparan.com : https://kumparan.com/petrus-kanisius/pelatihan-pemadam-kebakaran-untuk-desa-dan-kelompok-dampingan-yayasan-palung-1yLvoptkl7j

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Yayasan Palung Serahkan Alat Pemadam Kebakaran di Lima Desa di KKU

Penyerahan alat pemadam kebakaran di lima desa di KKU (15/6). (Foto : Hendri/Yayasan Palung).

Untuk Antisipasi kebakaran hutan dan Lahan, Yayasan Palung (YP) menyerahkan alat pemadam kebakaran di Lima Desa di Kabupaten Kayong Utara (KKU), Rabu (15/6/2022).

Desi Kuniawati, selaku Manager HRD & Comdev Yayasan Palung, mengatakan, adapun desa-desa yang menerima bantuan alat kebakaran tersebut adalah Desa Penjalaan, Desa Pulau Kumbang, Desa Pemangkat, Desa Padu Banjar. Keempat desa ini merupakan wilayah hutan desa binaan dari Program Hutan Desa Yayasan Palung di Simpang Hilir.

Satu Desa lainnya penyerahan alat akan menyusul dilakukan, yaitu di Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, yang merupakan binaan Yayasan Palung dari Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan), ujarnya.

Lebih lanjut Desi, saapaan akrabnya mengatakan, alat pemadam kebakaran ini merupakan alat pemadam dini, mudah dibawa kemana-mana karena ringan hanya 11 kg, sehingga sangat memudahkan ketika melakukan pemadaman, asal ada sumber air.

Penyerahan alat pemadam kebakaran ini diserahkan langsung oleh Edi Rahman, Direktur Lapangan Yayasan Palung dan didampingi oleh ibu Dwi Erlina Susanti, Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Kayong.

Berharap bantuan alat pemadam kebakaran ini bisa membantu masyarakat untuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah mereka masing-masing.

Tulisan ini dimuat di : https://kumparan.com/petrus-kanisius/yayasan-palung-serahkan-alat-pemadam-kebakaran-di-lima-desa-di-kku-1yJw6UwgYps/full

Pit

(Yayasan Palung)

Video Dokumentasi : Pelepasliaran Orangutan Kumbang di Hutan Lindung Sungai Paduan

Video Dokumentasi : Pelepasliaran Orangutan Kumbang di Hutan Lindung Sungai Paduan

Akhirnya orangutan Kumbang kembali ke rumah (habitatnya) di wilayah hutan lindung Sungai Paduan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Sabtu (11/6/2022).

Pelepasliaran orangutan tersebut dilaksanakan berkat adanya kerjasama yang baik oleh beberapa pihak, yaitu BKSDA SKW 1 Ketapang, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kayong, Yayasan Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung (YP), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nipah Kuning dan LPHD Padu Banjar.

Untuk menuju ke lokasi pelepasliaran bukan pekara mudah. Tim berangkat dari desa Padu Banjar, kemudian melakukan perjalanan susur sungai menuju titik pelepasan di hutan desa Nipah Kuning. Selain air sungai yang agak surut, perahu yang cukup besar karena harus memuat kerangkeng untuk mengangkut orangutan, juga menjadi kendala ketika tim menuju lokasi.  Memerlukan waktu kurang lebih tiga setengah jam untuk bisa sampai di titik pelepasliaran dengan perahu mesin.

Adapun kronologi tentang orangutan Kumbang ini berawal pada tanggal 17 Februari 2022 lalu, tim Rescue YIARI bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah 1 Resort Sukadana  berhasil menyelamatkan satu individu orangutan jantan remaja di desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara yang kemudian diberi nama “Kumbang” sesuai dengan lokasi ditemukannya orangutan. Sebelumnya, anggota LPHD Pulau Kumbang (binaan Yayasan Palung) yang melakukan monitoring di lapangan menemukan orangutan masuk ke perkebunan masyarakat. Kemudian mereka melaporkan kejadian tersebut kepada Yayasan Palung. YP kemudian langsung melapor kepada BKSDA SKW 1 Ketapang mengenai kejadian ini, dan melaporkan juga bahwa berdasarkan pantauan di lapangan satwa tersebut lengan kirinya terkena jerat pemburu. Kemudian setelah di rescue orangutan tersebut dirawat di PPKO YIARI. Setelah kondisi orangutan benar-benar pulih, kemudian dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk proses pengembalian satwa tersebut ke habitatnya.

Hutan desa Nipah Kuning yang termasuk dalam wilayah hutan lindung Sungai Paduan, menjadi lokasi yang dianggap cocok sebagai lokasi relokasi si Kumbang. Hal ini berdasarkan dari hasil survei habitat yang telah dilakukan oleh YP pada tahun 2021. Sebelum dikembalikan ke daerah tersebut, tim pelepasliaran juga sudah melakukan sosialisasi kepada masyarat mengenai rencana ini.

Di Wilayah Hutan lindung Sungai Paduan yang juga merupakan Hutan Desa Nipah Kuning ini terdapat banyak pakan/makanan orangutan. Erik Sulidra, Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, Yayasan Palung (YP), mengatakan, hutan desa Nipah Kuning memiliki komposisi pohon makanan orangutan sekitar 70%.

Lihat juga :

Lebih lanjut untuk kondisi wilayah hutan desa Nipah Kuning yang memiliki luas 2.051 Ha yang menjadi rumah baru Kumbang, Erik  mengatakan secara umum bila dilihat dari empat hutan desa yang ada di kawasan Hutan Lindung Sungai Paduan, hutan desa Nipah Kuning ini adalah kawasan hutan yang paling baik. Selain ketersediaan pohon makanan yangn cukup banyak, tutupan hutan di sana juga lebih baik. Karena kita tahu bahwa orangutan lebih banyak beraktivitas di atas pohon, sehingga tutupan hutan yang lebat akan sangat membantu ketika orangutan melakukan perpindahan.

Video dokumen : Erik Sulidra, Robi Kasianus

Video Editor : Erik Sulidra

Penulis : Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Ini Serangkaian kegiatan yang YP dan para Relawan Lakukan  dalam Rangka Hari Lingkungan Hidup

Siswa-siswi dari SDN 15 15 Mentubang, Sukadana, Kayong Utara sedang menyusun puzzle tentang gambar Orangutan. (Foto : Riduwan/Yayasan Palung)

Dalam rangka memperingati hari Lingkungan Hidup, Yayasan Palung (YP) bersama dengan para relawan yang ada di Kabupaten Ketapang dan di Kabupaten Kayong Utara (KKU) yaitu Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) melakukan berbagai kegiatan. 

Seperti misalnya yang dilakukan oleh YP bersama REBONK di SDN 15 Mentubang, Sukadana, Kayong Utara dengan serangkaian kegiatan seperti mengadakan berbagai perlombaan seperti lomba menyusun puzzle gambar hewan, menebak nama hewan dengan melihat ciri-cirinya, TTS, dan soal rebutan tentang materi lingkungan hidup yang pernah diberikan oleh Yayasan Palung di sekolah tersebut, kegiatan ini dilakukan pada hari Kamis (16/6/2022).

Foto dokumen : Simon dan Riduwan,Yayasan Palung

Kemudian, RK-TAJAM di Ketapang, pada Minggu (12/6/2022), bekerjasama dengan Pokdarwis Celincing Bersatu mengajak adik adik siswa siswi SD dan SMP untuk belajar sambil bermain dan membuat video pesan kampanye peduli lingkungan di Wisata Mangrove Pantai Celincing. Cara ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya perlindungan dan pelestarian alam.

Foto dokumen : Simon Tampubolon, Yayasan Palung

Selanjutnya, Sabtu (18/6/2022) YP melakukan pemutaran film lingkungan, adapun film yang diputar adalah film dokumenter dengan judul; Pulau Plastik, kegiatan ini dilakukan di kantor Yayasan Palung Education Center di Desa Pampang Harapan, KKU.

Selain itu kegiatan lainnya, Yayasan Palung ikut berpartisipasi dalam TALKSHOW RKU 101.5 FM, program dialog daerah di Radio RKU Kayong Utara.

Bersama Narasumber:

1. Mahendra (Staf YP)
2. Riko Wibowo (Penerimaan Beasiswa WBOCS)

yang hadir membahas tema:
” Hari Hutan Hujan Sedunia 22 Juni 2022 “

Dapat #sahabatrku dengarkan pada:
Kamis, 23 Juni 2022 Pukul 09.30 – Selesai.

Selanjutnya juga Kegiatan Lomba memperingati Hari Hutan Hujan Bentangor Kids yang dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung, Bentangor Education Center di Desa Pampang, Kamis (23/6/2022).

Foto Kegiatan : Simon Tampubolon

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berjumpa dengan Bunga Bangkai di Pojok Dapur Rumah

Bunga Bangkai yang dijumpai oleh kakek Nur Ani di Pojok Dapur Rumah. (Foto : Istimewa/Hendri-YP).

Penemuan bunga Bangkai raksasa ini bermula ketika warga mencium aroma bau busuk, di Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Pertama kali bunga itu dijumpai oleh Nur Ani, seorang kakek berumur 67 tahun warga dusun Pebahan Raya Desa Pulau Kumbang yang kaget saat menemukan tumbuhan berbau busuk itu, tumbuhan itu memiliki bentuk bunga yang indah tepat di pojok bagian dapur rumahnya.

Cerita penemuan bunga bangkai ini bermula pada Minggu sore (5/6/ 2022) sekira pukul 17. 45 WIB, kakek ini bersama menantunya yang bernama Sagita (25) sedang berjalan menuju pekarangan belakang rumah untuk melihat bibit sawit yang telah mereka  semai di belakang rumah, namun dikejutkan dengan melihat tumbuhan yang selama ini tumbuh di pekarangan rumahnya berbunga besar dan cantik, namun mengeluarkan bau yang tidak sedap.

 “Tumbuhan itu sudah tumbuh sejak 4 tahun lalu tapi sering saya pangkas, ujar kakek Nur Ani. Awalnya bunga ini muncul seperti jantung pisang, di hari kedua, tanaman ini sudah mulai mekar dan hari ketiga mekar dengan sempurna, sampai hari keempat ini bau nya sudah hilang dan udah mulai layu,” tambah si kakek.

Setelah dicek ternyata diketahui nama lokal dari tumbuhan ini adalah suweg atau nama latinnya dikenal dengan nama Amorphophallus paeoniifolius yang memang berkerabat dekat dengan bunga bangkai raksasa.

Warga di Pulau Kumbang pun berbondong-bondong berkunjung ke lokasi tumbuhnya bunga bangkai tersebut karena pensaran ingin melihat karena selama puluhan tahun tinggal di dusun Pebahan Raya desa Pulau Kumbang baru kali ini melihat bunga tersebut.

Andri, selaku ketua pokdarwis desa Pulau Kumbang mengatakan, ini merupakan moment yang langka dan unik sehingga kita sebagai warga desa pulau kumbang patut berbangga karena telah mendapatkan fenomena langka seperti ini. Fenomena langka ini menunjukkan bahwa kita wajib bersyukur bahwa alam kita memiliki keanekaragaman biodiversitas yang tinggi sehingga kita wajib merawat dan memelihara kekayaan alam kita, agar tetap lestari, ujar pria yang berambut plontos selaku penggerak kelompok wisata desa Pulau Kumbang.

Hendri Gunawan-Yayasan Palung

Pelepasliaran Orangutan Kumbang di Hutan Lindung Sungai Paduan

Saat Pelepasliaran Orangutan Kumbang di Wilayah Hutan Lindung Sungai Paduan , di titik Pelepasliar di Hutan Desa Nipah Kuning. (Foto : Robi Kasianus/Yayasan Palung).

Akhirnya orangutan Kumbang kembali ke rumah (habitatnya) di wilayah hutan lindung Sungai Paduan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Sabtu (11/6/2022).

Pelepasliaran orangutan tersebut dilaksanakan oleh beberapa lembaga, yaitu BKSDA SKW 1 Ketapang, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kayong, Yayasan Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung (YP), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nipah Kuning dan LPHD Padu Banjar.

Untuk menuju ke lokasi pelepasliaran bukan pekara mudah. Tim berangkat dari desa Padu Banjar, kemudian melakukan perjalanan susur sungai menuju titik pelepasan di hutan desa Nipah Kuning. Selain air sungai yang agak surut, perahu yang cukup besar karena harus memuat kerangkeng untuk mengangkut orangutan, juga menjadi kendala ketika tim menuju lokasi.  Memerlukan waktu kurang lebih tiga setengah jam untuk bisa sampai di titik pelepasliaran dengan perahu mesin.

Adapun kronologi tentang orangutan Kumbang ini berawal pada tanggal 17 Februari 2022 lalu, tim Rescue YIARI bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah 1 Resort Sukadana  berhasil menyelamatkan satu individu orangutan jantan remaja di desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara yang kemudian diberi nama “Kumbang” sesuai dengan lokasi ditemukannya orangutan. Sebelumnya, anggota LPHD Pulau Kumbang (binaan Yayasan Palung) yang melakukan monitoring di lapangan menemukan orangutan masuk ke perkebunan masyarakat. Kemudian mereka melaporkan kejadian tersebut kepada Yayasan Palung. YP kemudian langsung melapor kepada BKSDA SKW 1 Ketapang mengenai kejadian ini, dan melaporkan juga bahwa berdasarkan pantauan di lapangan satwa tersebut lengan kirinya terkena jerat pemburu. Kemudian setelah di rescue orangutan tersebut dirawat di PPKO YIARI. Setelah kondisi orangutan benar-benar pulih, kemudian dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk proses pengembalian satwa tersebut ke habitatnya.

Hutan desa Nipah Kuning yang termasuk dalam wilayah hutan lindung Sungai Paduan, menjadi lokasi yang dianggap cocok sebagai lokasi relokasi si Kumbang. Hal ini berdasarkan dari hasil survei habitat yang telah dilakukan oleh YP pada tahun 2021. Sebelum dikembalikan ke daerah tersebut, tim pelepasliaran juga sudah melakukan sosialisasi kepada masyarat mengenai rencana ini.

Foto bersama saat pelepasliaran orangutan kumbang. (Foto : Robi Kasianus/Yayasan Palung).

Direktur YIARI, Dr. Karmele Llano Sánchez, mengatakan bahwa dia sangat senang sekali karena bisa melakukan pelepasliaran orangutan Kumbang ini. Karmele bercerita, ketika Pandemi Covid 19 pihaknya tidak bisa melakukan pelepasliaran orangutan, baru sekarang bisa, ujarnya. Karmele pun berharap keadaan orangutan Kumbang baik-baik saja karena cukup jauh dari gangguan ataupun aktivitas manusia.

Terkait dengan adanya pelepasliaran orangutan ini,  Dwi Erlina Susanti, dari Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Kayong, mengatakan, “Sebagaimana yang kita ketahui bahwa orangutan ini merupakan salah satu satwa yang sudah langka dan merupakan satwa yang dilindungi oleh Undang-undang no. 5 tahun 1990 dimana masalah utamanya yaitu habitatnya yang semakin menurun.”

Lebih lanjut Dwi, sapaan akrabnya mengatakan, “Kami KPH Wilayah Kayong sangat mendukung kegiatan translokasi (pelepasliaran) orangutan ini di hutan lindung Sungai Paduan, kami sangat berterima kasih kepada pihak yang telah memberikan kepercayaan kepada kami sebagai pemilik lokasi untuk pelepasliaran orangutan ini yang mana kawasan hutan ini dikelola oleh LPHD Nipah Kuning dan kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada BKSDA Provinsi Kalbar, Pemerintah Kabupaten Kayong Utara dan masyarakat Nipah Kuning, YIARI dan YP, dan kepada semua pihak lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Selanjutnya, saya juga berharap  pada lokasi Hutan Lindung Sungai Paduan habitatnya tetap ada dan terjaga,  jangan sampai ada lagi orangutan yang keluar wilayah  dan merusak kebun masyarakat.”

Ditanya apakah di wilayah itu ada banyak pakan/makanan orangutan, Erik Sulidra, Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, Yayasan Palung (YP), mengatakan, hutan desa Nipah Kuning memiliki komposisi pohon makanan orangutan sekitar 70%.

Lebih lanjut untuk kondisi wilayah hutan desa Nipah Kuning yang memiliki luas 2.051 Ha yang menjadi rumah baru Kumbang, Erik  mengatakan secara umum bila dilihat dari empat hutan desa yang ada di kawasan Hutan Lindung Sungai Paduan, hutan desa Nipah Kuning ini adalah kawasan hutan yang paling baik. Selain ketersediaan pohon makanan yangn cukup banyak, tutupan hutan di sana juga lebih baik. Karena kita tahu bahwa orangutan lebih banyak beraktivitas di atas pohon, sehingga tutupan hutan yang lebat akan sangat membantu ketika orangutan melakukan perpindahan. Dalam perjalanan menuju lokasi, kita juga berjumpa dengan satu individu jantan dewasa orangutan di tepian sungai. Paling tidak si Kumbang sudah ada teman di sini, pungkasnya.

Pada kesempatan pelepasliaran orangutan tersebut juga dihadiri oleh Erniwati yang merupakan istri dari Kepala Kejaksaan Negeri Ketapang. Ibu Erniwati juga merupakan seorang dosen Fakultas Kehutanan Universitas Bengkulu. Ia mengaku sangat senang dan luar biasa sekali bisa ikut ambil bagian dalam kegiatan (pelepasliaran orangutan) seperti ini, karena sangat jarang orang luar bisa ikut melihat.

“Saya beruntung sekali bisa berkesempatan hadir. Saya berterima kasih kepada BKSDA SKW 1 Ketapang, YIARI dan Yayasan Palung karena memberikan kesempatan kepada saya untuk ikut. Pesan saya untuk si Kumbang (orangutan Kumbang), semoga si kumbang kembali ke habitatnya dan bisa mendapatkan pasangannya. Pelepasliaran orangutan si Kumbang ini menunjukkan bahwa konservasi telah berhasil,” ujar Erniwati.

Jauhari, selaku Ketua LPHD Nipah Kuning mengaku sangat mendukung kegiatan ini. Ia berpesan dan mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga hutan desa Nipah Kuning. Selanjutnya juga ia merasa senang karena sepanjang sejarahnya baru kali ini ada pelepasliaran orangutan di kawasan hutan desa Nipah Kuning. Ia pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah  menjaga hutan di wilayahnya dan mendukung kegiatan ini.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta dalam keterangannya memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam upaya penyelamatan satwa endemik Kalimantan ini. “Kerja dan upaya-upaya konservasi terhadap satwa liar telah dilakukan selama bertahun-tahun. Namun demiklian sebenarnya tanggung jawab sepenuhnya terhadap kelestarian satwa liar bukan semata dibebankan kepada pemerintah. Sudah saatnya kita merubah cara pandang terhadap konservasi. Dibutuhkan sebuah konsep pengembangan yang bisa menjadi solusi permanen dan memberikan penyelesaian yang berjangka panjang dengan mempertimbangkan perkembangan dan pertumbuhan lanskap dan sosial masyarakat kita. Manusia harus mulai membiasakan diri dengan kehadiran satwa liar di sekitarnya. Manusia harus bisa hidup ‘berdampingan’ dengan satwa liar untuk menjamin keberlangsungan kelestarian,” Imbuhnya.

Semua rangkaian kegiatan pelepasliaran orangutan Kumbang Berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari semua pihak yang ikut ambil bagian dari kegiatan itu.

Tulisan ini dimuat di :

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/62a8478bfdcdb45d562abf52/pelepasliaran-orangutan-kumbang-di-kawasan-hutan-lindung-sungai-paduan

https://kumparan.com/petrus-kanisius/pelepasliaran-orangutan-kumbang-di-hutan-lindung-sungai-paduan-1yGjo8WhoI8

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Malam Penganugerahan Penerima Beasiswa WBOCS Tahun 2022

Enam Penerima Beasiswa WBOCS 2022 berfoto dengan para tamu undangan. (Foto : Robi Kasianus).

Yayasan Palung bekerjasama dengan Orang Utan Republik Foundation menyediakan kesempatan beasiswa kepada putra putri Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang memenuhi kualifikasi untuk menempuh pendidikan Strata 1 di Universitas Tanjungpura melalui Program Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship) sejak tahun 2012 hingga tahun 2022 dengan jumlah 54 orang mahasiswa penerima beasiswa WBOCS dan 17 orang yang telah lulus menjadi sarjana.

Senin (6/6/2022), pukul 18.00-21.10 WIB, telah dilaksanakan malam penganugerahan di Hotel Nevada Ketapang bagi enam penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) tahun 2022. Malam penganugerahan WBOCS tersebut enam penerima beasiswa WBOCS melakukan penandatangan kesepakatan beasiswa WBOCS bersama Yayasan Palung dan Orang Utan Republik Foundation, selain melakukan penandatangan kesepakatan, dilakukan juga presentasi perkembangan terkait beasiswa peduli orangutan yang telah dilakukan sejak tahun 2012 hingga 2022.

Enam penerima beasiswa WBOCS tahun 2022  adalah Noni dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir, Elin Saputri dari SMA Negeri 1 Sungai Laur, Iqbal Aryanto dari SMA Negeri 3 Ketapang, Maria Angela Canthika Putri dari SMA Negeri 1 Ketapang, Rianti Sandriani dari SMA Negeri 2 Sukadana dan Galih Triyoga Putra dari SMA Negeri 1 Sandai.

Noni, Elin Saputri dan Galih Triyoga Putra telah lulus di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, tiga orang sedang menunggu pengumuman UTBK Rianti Sandriani mengambil Prodi Kehutanan, Iqbal Aryanto Prodi Hukum dan Maria Angela Canthika Putri Prodi Hubungan Internasional FISIP UNTAN.

Galeri Foto kegiatan :

Dokumen Foto WBOCS 2022 oleh : Simon dan Robi, Yayasan Palung

Sambutan Direktur Yayasan Palung Edi Rahman, mengucapkan selamat kepada enam penerima Beasiswa WBOCS tahun 2022, berpesan kepada penerima WBOCS untuk selalu focus belajar sesuai target empat tahun kuliah, menjaga nama baik Yayasan Palung dan berkontribusi untuk peduli pada lingkungan dan orangutan, dan yang paling penting adalah menjaga nama baik orangtua, YP,  OURF dan almamater. Edi sapaan akrabnya juga menambahkan, bagi penerima WBOCS nantinya yang akan melakukan penelitian, sudah bisa melakukan penelitian di Wilayah Hutan Desa binaan Yayasan Palung yang ada di wilayah Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Gary Shapiro selaku president Orangutan Republik Foundation (OURF) yang berkesempatan hadir dalam acara malam penganugerahan WBOCS menyampaikan apresiasinya kepada Yayasan Palung yang telah bekerjasama dalam menjalanan Program Beasiswa WBOCS  dengan sangat baik. Ia pun berharap, semoga program WBOCS bisa terus berlanjut dan menciptakan sarjana-sarjana yang memiliki komitmen peduli terhadap lingkungan dan orangutan. Pak Gary, sapaan akrabnya pun sembari berharap kepada penerima WBOCS 2022 untuk menyelesaikan tanggung jawabnya selama menjalani kuliah. Selanjutnya juga Pak Gary  menambahkan sekaligus berharap, semoga semakin banyak orang yang mendukung dan membantu  program beasiswa WBOCS dan ia pun bercita-cita semoga penerima program ini bisa terus bertambah dari tahun ke tahun.

Widiya Octa Selfiany, Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung mengatakan, Maksud dan tujuan Malam penganugerahan WBOCS ini di laksanakan sebagai program Yayasan Palung yang sangat diharapkan dan berkelanjutan oleh bapak ibu orang tua mahasiswa yang anaknya berprestasi terutama masyarakat yang bermukim disekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, penerima Beasiswa WBOCS untuk selalu menjadi perpanjangan tangan Yayasan Palung untuk menyebarkan virus-virus konservasi di Tanah Kayong, selain itu juga semoga penerima WBOCS bisa menjadi agen perubahan di masyarakat.

Pada kesempatan tersebut juga, Sumihadi, alumni WBOCS tahun 2014 yang saat ini  bekerja di Stasiun Riset Cabang Panti berkesempatan berbagi cerita suka duka selama kuliah dan memberikan motivasi kepada WBOCS 2022.

Acara malam penganugerahan WBOCS  tahun 2022 dihadiri oleh orang tua atau wali dari enam orang penerima beasiswa WBOCS, Staf Yayasan Palung, Yudo Sudarto selaku Pembina Yayasan Palung, Adi Mulia Pengawas Yayasan Palung dan tamu undangan yang hadir perwakilan dari Balai TANAGUPA, Tropenbos Indonesia, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, dan Fauna & Flora International Indonesia Programme.  

Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di Pontinak Post dan di Kumparan :

https://kumparan.com/petrus-kanisius/malam-penganugerahan-penerima-beasiswa-wbocs-tahun-2022-1yElbr8iYKA

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ekspedisi Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi di Wilayah Hutan Desa Binaan Yayasan Palung

Lecture di SMPN 5 Padu Banjar saat Yayasan Palung Melakukan Ekspedisi. (Foto : Pit/Yayasan Palung).

Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung melakukan kegiatan “Ekspedisi” yang dilaksanakan oleh Tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung  di Wilayah Hutan Desa Binaan Yayasan Palung yaitu di  Desa Padu Banjar dan Desa Pulau Kumbang,  kegiatan tersebut dilakukan pada 17 hingga 21 Mei 2022, pekan lalu.

Padu Banjar dan Pulau Kumbang merupakan Desa yang berada di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Desa Padu Banjar dan Desa Pulau Kumbang adalah Desa yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kayong Utara Nomor 4 Tahun 2015 tentang Penetapan Desa.

Kegiatan ekspedisi dilaksanakan selama lima hari di dua Desa yang ada di Kecamatan Simpang Hilir. Tim Pendidikan Lingkungan melakukan diskusi masyarakat dan sosialisasi mengenai satwa yang dilindungi ke lima sekolah yang ada di Kecamatan Simpang Hilir yaitu SDN 25 Padu Banjar, SMPN 05 Simpang Hilir, SDN 14 Pulau Kumbang, SDN 15 Pulau Kumbang dan SMAN 02 Simpang Hilir.

Diskusi masyarakat dilaksanakan di Kantor Desa Padu Banjar dan di Gedung Serbaguna Pulau Kumbang. Sambutan baik dari masyarakat sebagai bentuk kepedulian Yayasan Palung terhadap pengetahuan mengenai satwa-satwa yang dilindungi. Informasi yang didapatkan bahwa ditemukan tiga Orangutan masuk ke kawasan kebun masyarakat (kebun karet) di Desa Padu Banjar harapan yang di sampaikan oleh Kepala Desa Padu Banjar agar Orangutan tersebut bisa segera di rescue.

Masyarakat juga membahas mengenai batas wilayah antara kawasan hutan lindung dengan batas wilayah hutan desa yang belum ada batas jelasnya. Masyarakat di Desa Padu Banjar dan Pulau Kumbang memberikan masukan kepada Yayasan Palung sebagai bentuk apresiasi terhadap perlindungan satwa yang dilindungi dan lingkungan dalam bentuk papan informasi tentang satwa yang dilindungi diharapkan masyarakat sebagai bentuk partisipasi agar masyarakat berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian.

Foto-foto kegiatan :

Sekolah yang ada di Kecamatan Simpang Hilir khususnya  SDN 25 Padu Banjar, SMPN 05 Simpang Hilir, SDN 14 Pulau Kumbang, SDN 15 Pulau Kumbang dan SMAN 02 Simpang Hilir yang merupakan tujuan dari kegiatan “Ekspedisi” yaitu memberikan informasi mengenai satwa yang dilindungi dengan program pembelajaran secara langsung dengan teknik Puppet Show ditingkat SD, Lecture di tingkat SMP dan SMA. Proses pembelajaran yang diberikan dilakukan Pre-Test dan Post-Test untuk mengetahui tingkat keberhasilan teknik yang dilaksanakan yaitu dengan menilai sebelum dan sesudah diberikan materi tentang konservasi orangutan dan satwa yang dilindungi. Teknik tersebut sangat efektif diterapkan sebagai bentuk awal pengetahuan sejak dini bahwa semua manusia wajib menjaga dan melestarikan lingkungan dan satwa yang dilindungi.

Siswa dan guru sangat mengapresiasi tentang program pendidikan lingkungan yang dilaksanakan oleh Yayasan Palung sebagai masukan guru berharap Yayasan Palung bisa menyediakan modul sebagai wadah pembelajaran yang bisa diberikan kepada siswa khususnya sebagai penambahan materi pembelajaran ilmu pengetahuan dibidang lingkungan.

Penulis : Widiya Octa Selfiany (Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung)

Yayasan Palung Ajak Lembaga Pengelola Hutan Desa Binaan Belajar Smart Patrol

Saat mereka belajar mengambil data menggunakan metode smart mobile. (Foto : Pit/Yayasan Palung).

Beberapa orang dari pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) terlihat begitu antusias ketika mereka belajar mengambil data menggunakan metode smart mobile, kegiatan itu  dilaksanakan oleh Yayasan Palung (YP) pada Sabtu-Senin (14-16 Mei 2022), pekan lalu.

Pada kegiatan tersebut, ada 2 LPHD yang mengikuti pelatihan atau belajar smart patrol tersebut adalah LPHD Hutan Bersama (Desa Nipah Kuning) dan LPHD Simpang Keramat (Desa Penjalaan) di Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara.

Pada hari pertama, Sabtu (14/5/2022) kegiatan dilaksanakan bagi LPHD Hutan Bersama. Dalam kegiatan itu sebagai peserta adalah Juhari, Junaidi dan Sarkawi.

Sedangkan Hari kedua dan ketiga, Minggu-Senin (15-16/5/2022) kegiatan dilanjutkan di LPHD Simpang Keramat. Sebagai peserta antara lain; Anwar, Abdulah, Ario dan Akram.

Sebagai pemateri, Hendri Gunawan dan Robi Kasianus dari Yayasan Palung menyampaikan materi tentang Pengenalan aplikasi smart patrol hingga praktek patroli.  

Terlihat, Robi dan Hendri dari YP selaku pelatih sangat asyik sekaligus bersemangat memberikan materi dan praktek dalam belajar smart patrol itu, demikian juga dengan peserta yang mengikuti.

Foto-foto kegiatan pelatihan :

Menurut Hendri Gunawan, selaku Koordinator Program Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, adapun tujuan dari belajar Smart Patrol ini sebagai langkah awal proses belajar dan pemahaman kepada tim patrol hutan desa.

Selanjutnya, Hendri, menambahkan, Pada pelatihan ini ditekankan pada pada praktek untuk pengambilan data patrol menggunakan mobile phone dengan metode smart mobile oleh tim patroli dua LPHD Simpang Keramat dan LPHD Hutan Bersama. Sebelum mereka dilepas langsung untuk patroli ke lapangan di Wilayah Hutan Desa masing-masing.

Sebagai informasi, smart patrol berfungsi untuk memudahkan petugas patroli dalam melakukan monitoring kawasan hutan desa.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://kumparan.com/petrus-kanisius/yp-ajak-lphd-binaan-belajar-smart-patrol-1y8UgQGkhYu/full 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Membuat Pakan Ikan Alternatif Sebagai Salah Satu Cara Kurangi Biaya Pembelian

Kelompok budidaya ikan membuat pakan ikan alternatif. Foto : Tim SL/Yayasan Palung).

Membuat pakan  ikan alternatif merupakan salah satu cara untuk mengurangi biaya pembelian.

Seperti misalnya yang dilakukan oleh Kelompok Budidaya Ikan Mina Segua pada Selasa (26/4/2022) kemarin, di lokasi BB 06, Dusun Segua, Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara.

Ranti Naruri, selaku Manager Program Sustainable Livelihood (SL) Yayasan Palung, mengatakan Kelompok Mina Segua membuat pakan ikan alternatif dengan menggunakan bahan-bahan seperti ikan busuk atau sisa-sisa ikan yang tidak terpakai, ampas tahu, tepung tapioka dan dedak.

Selanjutnya, bahan-bahan itu mereka masukan kedalam mesin cetak pakan ikan yang mereka (kelompok) peroleh dari bantuan dari  Pemerintah Desa Pampang Harapan.

Menariknya lagi, kelompok ini mengajak kelompok lainnya juga untuk membuat pupuk. Pada kesempatan tersebut, kelompok Mina Segua di Pampang mengajak kelompok lainnya untuk bersama-sama ambil bagian membuat pakan ikan, kelompok yang mereka ajak untuk bersama-sama membuat pakan ikan alternatif ini adalah Mina Sehati dari Desa Tanjung Gunung.

Lebih lanjut, Ranti, sapaan akrabnya, mengatakan, Kelompok Mina Segua dan Mina Sehati merupaan kelompok binaan Yayasan Palung melalui Program Sustainable Livelihood (SL).

Cara yang mereka lakukan ini merupakan salah satu solusi untuk alternatif mengurangi biaya pembelian pakan ikan, kata Ranti.

Dalam kesempatan itu, setidaknya ada 12 orang yang ikut ambil bagian dala kegiatan pembuatan pakan ikan itu. Pakan ikan alternatif yang sudah mereka buat selanjutnya mereka bagi-bagikan kepada sesama kelompok.  Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana.

Sebelumnya tulisan ini dimuat di : https://pontianak.tribunnews.com/2022/05/11/kelompok-budidaya-ikan-mina-segua-buat-pakan-ikan-alternatif

Petrus Kanisius-Yayasan Palung