YP dan UNTAN Jalin Kerja Sama untuk Mewujudkan Mode Baru Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat

Dr. Farah Diba, S. Hut., M.Si selaku Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN melakukan kerjasama bersama Yayasan Palung terkait Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat. (Foto : Riduwan/Yayasan Palung)

Yayasan Palung (YP) bersama dengan Universitas Tanjungpura (UNTAN) melakukan kerja sama Perjanjian kerja sama  (MoU) di tingkat Universitas, Perjanjian Kerja Sama (PKS) tingkat Fakultas dan Arrangements Implementations tingkat Program Studi di Bidang Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan di Ruang Pertemuan Dekan dan Ruang Bidang Kerjasama  UNTAN, pada  Jumat 24 Juni dan 27 Juni 2022.

Yayasan Palung merupakan lembaga yang mengemban amanat dari Orang Utan Republik Foundation (OURF) untuk menyalurkan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship/WBOCS) dikhususkan untuk mahasiswa berasal dari Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara yang terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Tanjungpura sesuai kriteria beasiswa WBOCS.

Sejak tahun 2012-2022 sudah 54 orang sebagai penerima beasiswa WBOCS, 18 orang diantaranya kini sudah lulus menjadi Sarjana.

Foto-foto :

Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi merupakan program yang mengelola beasiswa WBOCS, melakukan formula baru pada manajemen beasiswa WBOCS melakukan kerja sama antara Yayasan Palung (YP) dengan Universitas Tanjungpura (UNTAN) melalui Perjanjian kerja sama  (MoU) di tingkat Universitas, Perjanjian Kerja Sama (PKS) tingkat Fakultas dan Arrangements Implementations tingkat Program Studi di Bidang Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan harapan kerjasama yang terjalin ini sebagai awal menuju program beasiswa yang menjadi mode penyelamat masa depan putra-putri daerah khususnya yang berasal dari Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara di tingkat pendidikan serta sebagai bentuk dedikasi dalam penyelamatan keberadaan Orangutan di Kalimantan Barat.

Terkait kerja sama ini, Widiya Octa Selfiany, Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan, “Peran pendidikan sangat penting bagi dunia. Melalui pendidikan, satu orang dengan sendirinya bisa mengubah dunia ke arah yang jauh lebih baik. Oleh karena itu, selalu berusaha untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi dan luas agar kita mampu menjadikannya sebagai senjata untuk membawa perubahan yang baik kepada dunia. Melalui program beasiswa WBOCS Yayasan Palung mewujudkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sebagai upaya perubahan bagi masa depan putra-putri daerah khususnya di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara serta sebagai bentuk dedikasi dalam penyelamatan lingkungan terutama bagi satwa-satwa yang dilindungi.”

Tulisan ini dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/62beb2b8bd09461390373273/yp-dan-untan-jalin-kerja-sama-untuk-mewujudkab-mode-baru-beasiswa-peduli-orangutan-kalimantan-barat

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

YP dan Kelompok Mina Sehati Membuat Kolam Ikan Menggunakan Media Terpal dengan Cara Gotong-Royong

YP dan Kelompok Mina Sehati Membuat Kolam Ikan Menggunakan Media Terpal. (Foto : Samad/Yayasan Palung).

Ternyata budaya gotong-royong di masyarakat kita masih ada sampai saat ini.  Seperti misalnya, Kelompok Mina Sehati yang baru saja dibentuk di Desa Sejahtera Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, Kabupaten Kayong Utara (KKU) melakukan kegiatan gotong royong bersama seluruh anggota dan Tim Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung (YP) di kediaman Bapak Saparudin selaku ketua kelompok dan pemilik lahan kolam yang akan dibentuk, pada Selasa (7/6/ 2022). 

Kegiatan gotong-royong ini dimulai pukul 07.00 WIB-11.30 WIB, kemudian istirahat makan siang dan kembali lagi melakukan kegiatan gotong royong pukul 13.00 WIB – pukul 16.30 WIB hari pertama dan kedua.

Salmah, Asisten Field Officer Program SL Yayasan Palung, mengatakan, adapun kegiatan gotong-royong yang dilakukan pada hari pertama antara lain seperti membelah bambu yang akan digunakan untuk melapisi terpal yang akan dijadikan kolam ikan agar terpal tersebut tidak menggelembung dan lebih kokoh apabila telah diisi air. Gotong royong ini berbagi peran, ada yang membelah bambu, ada yang membersihkan lahan untuk letak lokasi kolam dan ada juga yang akan memasang tiang dari bambu untuk pembuatan kolam tersebut.

Selanjutnya, pada hari kedua, Rabu (8/6/2022), kegiatan gotong-royong dilanjutkan kembali dengan menyelesaikan pekerjaan pertama yang belum selesai. Setelah semua bahan bambu yang dibelah telah siap dan tiang juga sudah terpasang, maka dilanjutkan dengan memasang bambu yang dibelah tersebut pada pinggiran tiang untuk penyangga terpal, pemasangan ini sangat memakan waktu sehingga sampai jam istirahat siang belum juga selesai dipasang, dikarenakan jam istirahat telah sampai maka seluruh anggota istirahat makan siang bersama dahulu kemudian dilanjutkan kembali pada pukul 13.00 WIB, kata Salmah.

Lebih lanjut kata Salmah, Setelah jam istirahat usai, para anggota kelompok bersama tim dari SL Yayasan Palung melanjutkan pemasangan dinding bambu dan setelah dinding bambu selesai dipasang yang rencana awalnya akan dilakukan pemasangan terpal tetapi dibatalkan karena hujan yang sangat deras hingga sore. Sehingga aktivitas pemasangan terpal dan selang pengaturan volume air dilanjutkan kembali pada hari berikutnya. Setelah semua selesai dipasang maka jadilah tiga buah kolam dengan ukuran 2×4 meter untuk satu kolam dan dua kolam ukuran 4×6 meter .Tiga buah kolam ikan tersebut telah diisi dengan ikan nila.

Seperti diketahui, Kelompok Mina Sehati merupakan kelompok dampingan tim Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung. Kelompok Mina Sehati dibentuk pada Maret 2022, Fokus dari kegiatan kelompok ini adalah budidaya ikan  di wilayah kawasan Taman Nasional Gunung Palung, tepatnya di Desa Sejahtera Dusun Tanjung Gunung.

Tulisan ini dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/62c26dd0bb448625801de612/yp-dan-kelompok-mina-sehati-buat-kolam-ikan-menggunakan-media-terpal-dengan-cara-gotong-royong

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

LPHD Binaan Yayasan Palung Lepasliaran Trenggiling ke Habitatnya di Hutan Desa Padu Banjar

Trenggiling yang dilepasliarkan ke habitanya di Hutan Desa Padu Banjar. (Foto : Samsidar/LPHD Padu Banjar/YP).

Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Padu Banjar yang merupakan binaan dari Yayasan Palung (YP) melakukan Pelepasliaran trenggiling ke habitatnya di Hutan Desa Padu Banjar, Pada Selasa (28/6/2022).

Informasi tentang trenggiling ini berawal dari informasi Kepala Dusun A1 desa Padu Banjar, Suparman (38) yang saat itu tidak sengaja menjumpai seekor trenggiling di halaman masjid tepat dia melaksanakan sholat magrib.

Menurut penuturan Suparman, Trenggiling yang memiliki jenis kelamin betina, memiliki berat 2 kg  dan panjang 65 cm tersebut dijumpainya dalam keadaan menggulung dan dalam keadaan lemah karena trenggiling tersebut setelah sebelumnya diserang oleh anjing liar dimana pertama kali ia menjumpainya.

Saat mengetahui bahwa trenggiling tersebut merupakan satwa yang dilindungi, Suparman langsung mengamankan trenggiling tersebut dan dibawa pulang ke rumah. Setelah 2 hari berada di rumahnya, tepatnya hari Senin (27/6/2022) Tim patroli LPHD Padu Banjar yang diketuai langsung oleh Samsidar melakasanakan patroli ke Hutan Desa dan tidak sengaja dijalan berjumpa dengan bapak Suparman kemudian Samsidar menyerahkan trenggiling tersebut kepada LPHD, kata Hendri Gunawan,  Koordinator program Hutan Desa Yayasan Palung.

Lebih lanjut Hendri, sapaan akrabnya mengatakan, Diperkirakan, trenggiling tersebut berasal keluar dari Habitanya yang ada di Hutan Desa,  Selanjutnya tim patroli membawa pulang hewan langka tersebut dan diamankn kemudin mengkoordinasikan kejadian tersebut kepada Yayasan Palung dan BKSDA SKW 1 Ketapang untuk proses penanganan lebih lanjut.

Samsidar selaku Ketua LPHD Selanjutnya menghubungi Hendri untuk berkoordinasi dengan BKSDA dan menjelaskan kondisinya trenggiling tersebut yang sudah lemah, dan dari BKSDA merekomendasikan dan mempesilakan agar trenggiling tersebut langsung lepasliarkan saja ke dalam kawasan Hutan Desa. Mereka pun langsung berangkat untuk melepaskan ke dalam Hutan Desa.

Trenggiling tersebut lalu mereka namai Madu. Setelah menghubungi pihak Yayasan palung dan BKSDA dan mendapatkan mandat untuk melepasliarkan hewan tersebut ke dalm Kawasan Hutan Desa Padu Banjar. Selanjutnya dengan mandat secara lisan dari BKSDA tim Patroli melepaskan hewan dilindungi tersebut ke dalam kawasan hutan desa padu Banjar tepatnya pada Selasa (28/6/2022), pukul 09.30 WIB.

Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, Yayasan Palung (YP), Erik Sulidra, mengatakan, Hal ini salah satu bentuk keberhasilan program konservasi khususnya dari Yayasan Palung YP) karena selama ini YP fokus kepada pembinaan dan penyadartahuan  mengenai habitat dan satwa liar yang dilindungi, terlebih di Wilayah Hutan Desa Padu Banjar yang sudah menjadi dampingan Yayasan Palung.

Ketua LPHD Padu Banjar, Samsidar, mengatakan, Terkait dengan pelepasliarkan salah satu satwa yang di lindungi di dalam kawasan hutan desa Padu Banjar yaitu tenggiling yang diberi nama madu, kami sebagai LPHD “Banjar Lestari” berharap agar madu  bisa hidup bebas seperti hewan-hewan lainnya dan dapat berkembang biak lagi hingga populasinya terus meningkat dan berkembang.

Selain itu, kepada seluruh Masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan desa agar bisa sama-sama menjaga dan melindungi semua satwa yang ada di dalam kawasan, kususnya jenis satwa yang dilindungi oleh pemerintah yang sudah termuat di dalam Undang-undang tentang Perlindung satwa, kata Samsidar.

Lebih lanjut Samsidar , mengatakan, dari LPHD juga selalu memberikan sosialisasi kepada masyarat akan pentingnya menjaga satwa yang dilindungi dengan harapan tidak ada lagi ancaman terhadap satwa yang dilindungi tersebut.

Foto-foto :

Dari data IUCN (International Union for Conservation of Nature) memasukkan trenggiling dalam daftar sangat terancam punah/kritis di habitatnya (Critically Endangered-CR) dan pemerintah Indonesia menetapkan hewan ini sebagai hewan yang dilindungi oleh Undang-undang nomor 5 tahun 1990 Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Dalam UU tersebut secara jelas melarang siapa untuk memelihara dan memperjualbelikan satwa dilindungi. Bagi yang melanggar ketentuan akan dipidana penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.

Tulisan ini Sebelumnya dimuat di : https://pontianak.tribunnews.com/2022/07/03/lphd-binaan-yp-lepasliaran-trenggiling-ke-habitatnya-di-hutan-desa-padu-banjar

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pelatihan Pemadam Kebakaran untuk Desa dan Kelompok Dampingan Yayasan Palung

Para Peserta yang mengikuti pelatihan Pemadam Kebakaran. (Foto : Edi Rahman/Yayasan Palung).

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk masyarakat untuk peduli Api. Seperti misalnya yang dilakukan oleh Program Sustainable Livelihood (mata pencaharian berkelanjutan) dan didukung oleh Program Hutan Desa Yayasan Palung (YP) Salah satunya dengan mengadakan pelatihan pemadam kebakaran hutan dan lahan bagi masyarakat dampingan Yayasan Palung.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor YP Bentangor Education Center, di Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, pada Rabu (22/6/2022).

Kegiatan tersebut ditujukan bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera. Sebagai peserta dalam kegiatan tersebut selain dari Masyarakat Peduli Api, juga diikuti oleh Kelompok Budidaya Ikan, perwakilan dari 5 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) binaan Yayasan Palung seperti dari LPHD Desa Padu Banjar, LPHD Desa Pulau Kumbang, LPHD Penjalaan, LPHD Nipah Kuning, LPHD Desa Pemangkat. Selain itu, ikut serta juga dari Kelompok Tani Meteor Garden.  

Dalam serangkaian kegiatan pelatihan tersebut, beberapa materi pelatihan yang disampaikan kepada para peserta antara lain seperti teori tentang Materi Dasar Karhutla dan Taktik Stategi Pemadam Kebakaran. Selain itu, peserta pelatihan juga diajak untuk melakukan Praktek dan Simulasi menggunakan alat pemadam kebakaran.

Sebagai pemateri yang dipercaya dalam kegiatan itu adalah Manggala Agni Daops Kalimantan X / Ketapang.

Desi Kuniawati, selaku Manager HRD & Comdev Yayasan Palung, mengatakan, “Pelatihan ini sebagai salah satu upaya meningkatkan atau membantu masyarakat dalam pencegahan Karhutla karena selama ini diberikan pelatihan tetapi belum didukung dengan peralatan pemadam kebakaran.“

Selain itu, Desi sapaan akrabnya lebih lanjut mengatakan, diharapkan pula dengan adanya alat dan pelatihan ini masyarakat bisa lebih aktif untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lingkungan mereka, karena alat yang dibantu oleh Yayasan Palung ini ringan, hanya 11 kilogram jadi sangat mudah untuk dibawa kemana-mana untuk pecegahan dan pemadaman dini.

Selanjutnya juga Desi berharap, dan terbuka kepada pihak lain di luar YP juga bisa untuk berkontribusi untuk perawatan dan biaya operasional atau pun juga penambahan alat karena ini tujuannya untuk peduli kepada pencegahan karhutla.

Kita juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Manggala Angni Daops Kalimantan X / Ketapang yang telah memberikan pelatihan berupa teori dan praktek tentang Pelatihan Pemadam Kebakaran untuk kepada masyarakat binaan Yayasan Palung, kata Desi.

Ucapan terima kasih juga untuk Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai Tanagupa) yang telah mendukung kegiatan ini.

Serangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di kumparan.com : https://kumparan.com/petrus-kanisius/pelatihan-pemadam-kebakaran-untuk-desa-dan-kelompok-dampingan-yayasan-palung-1yLvoptkl7j

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Yayasan Palung Serahkan Alat Pemadam Kebakaran di Lima Desa di KKU

Penyerahan alat pemadam kebakaran di lima desa di KKU (15/6). (Foto : Hendri/Yayasan Palung).

Untuk Antisipasi kebakaran hutan dan Lahan, Yayasan Palung (YP) menyerahkan alat pemadam kebakaran di Lima Desa di Kabupaten Kayong Utara (KKU), Rabu (15/6/2022).

Desi Kuniawati, selaku Manager HRD & Comdev Yayasan Palung, mengatakan, adapun desa-desa yang menerima bantuan alat kebakaran tersebut adalah Desa Penjalaan, Desa Pulau Kumbang, Desa Pemangkat, Desa Padu Banjar. Keempat desa ini merupakan wilayah hutan desa binaan dari Program Hutan Desa Yayasan Palung di Simpang Hilir.

Satu Desa lainnya penyerahan alat akan menyusul dilakukan, yaitu di Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, yang merupakan binaan Yayasan Palung dari Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan), ujarnya.

Lebih lanjut Desi, saapaan akrabnya mengatakan, alat pemadam kebakaran ini merupakan alat pemadam dini, mudah dibawa kemana-mana karena ringan hanya 11 kg, sehingga sangat memudahkan ketika melakukan pemadaman, asal ada sumber air.

Penyerahan alat pemadam kebakaran ini diserahkan langsung oleh Edi Rahman, Direktur Lapangan Yayasan Palung dan didampingi oleh ibu Dwi Erlina Susanti, Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Kayong.

Berharap bantuan alat pemadam kebakaran ini bisa membantu masyarakat untuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah mereka masing-masing.

Tulisan ini dimuat di : https://kumparan.com/petrus-kanisius/yayasan-palung-serahkan-alat-pemadam-kebakaran-di-lima-desa-di-kku-1yJw6UwgYps/full

Pit

(Yayasan Palung)

Video Dokumentasi : Pelepasliaran Orangutan Kumbang di Hutan Lindung Sungai Paduan

Video Dokumentasi : Pelepasliaran Orangutan Kumbang di Hutan Lindung Sungai Paduan

Akhirnya orangutan Kumbang kembali ke rumah (habitatnya) di wilayah hutan lindung Sungai Paduan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Sabtu (11/6/2022).

Pelepasliaran orangutan tersebut dilaksanakan berkat adanya kerjasama yang baik oleh beberapa pihak, yaitu BKSDA SKW 1 Ketapang, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kayong, Yayasan Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung (YP), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nipah Kuning dan LPHD Padu Banjar.

Untuk menuju ke lokasi pelepasliaran bukan pekara mudah. Tim berangkat dari desa Padu Banjar, kemudian melakukan perjalanan susur sungai menuju titik pelepasan di hutan desa Nipah Kuning. Selain air sungai yang agak surut, perahu yang cukup besar karena harus memuat kerangkeng untuk mengangkut orangutan, juga menjadi kendala ketika tim menuju lokasi.  Memerlukan waktu kurang lebih tiga setengah jam untuk bisa sampai di titik pelepasliaran dengan perahu mesin.

Adapun kronologi tentang orangutan Kumbang ini berawal pada tanggal 17 Februari 2022 lalu, tim Rescue YIARI bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah 1 Resort Sukadana  berhasil menyelamatkan satu individu orangutan jantan remaja di desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara yang kemudian diberi nama “Kumbang” sesuai dengan lokasi ditemukannya orangutan. Sebelumnya, anggota LPHD Pulau Kumbang (binaan Yayasan Palung) yang melakukan monitoring di lapangan menemukan orangutan masuk ke perkebunan masyarakat. Kemudian mereka melaporkan kejadian tersebut kepada Yayasan Palung. YP kemudian langsung melapor kepada BKSDA SKW 1 Ketapang mengenai kejadian ini, dan melaporkan juga bahwa berdasarkan pantauan di lapangan satwa tersebut lengan kirinya terkena jerat pemburu. Kemudian setelah di rescue orangutan tersebut dirawat di PPKO YIARI. Setelah kondisi orangutan benar-benar pulih, kemudian dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk proses pengembalian satwa tersebut ke habitatnya.

Hutan desa Nipah Kuning yang termasuk dalam wilayah hutan lindung Sungai Paduan, menjadi lokasi yang dianggap cocok sebagai lokasi relokasi si Kumbang. Hal ini berdasarkan dari hasil survei habitat yang telah dilakukan oleh YP pada tahun 2021. Sebelum dikembalikan ke daerah tersebut, tim pelepasliaran juga sudah melakukan sosialisasi kepada masyarat mengenai rencana ini.

Di Wilayah Hutan lindung Sungai Paduan yang juga merupakan Hutan Desa Nipah Kuning ini terdapat banyak pakan/makanan orangutan. Erik Sulidra, Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, Yayasan Palung (YP), mengatakan, hutan desa Nipah Kuning memiliki komposisi pohon makanan orangutan sekitar 70%.

Lihat juga :

Lebih lanjut untuk kondisi wilayah hutan desa Nipah Kuning yang memiliki luas 2.051 Ha yang menjadi rumah baru Kumbang, Erik  mengatakan secara umum bila dilihat dari empat hutan desa yang ada di kawasan Hutan Lindung Sungai Paduan, hutan desa Nipah Kuning ini adalah kawasan hutan yang paling baik. Selain ketersediaan pohon makanan yangn cukup banyak, tutupan hutan di sana juga lebih baik. Karena kita tahu bahwa orangutan lebih banyak beraktivitas di atas pohon, sehingga tutupan hutan yang lebat akan sangat membantu ketika orangutan melakukan perpindahan.

Video dokumen : Erik Sulidra, Robi Kasianus

Video Editor : Erik Sulidra

Penulis : Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Ini Serangkaian kegiatan yang YP dan para Relawan Lakukan  dalam Rangka Hari Lingkungan Hidup

Siswa-siswi dari SDN 15 15 Mentubang, Sukadana, Kayong Utara sedang menyusun puzzle tentang gambar Orangutan. (Foto : Riduwan/Yayasan Palung)

Dalam rangka memperingati hari Lingkungan Hidup, Yayasan Palung (YP) bersama dengan para relawan yang ada di Kabupaten Ketapang dan di Kabupaten Kayong Utara (KKU) yaitu Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) melakukan berbagai kegiatan. 

Seperti misalnya yang dilakukan oleh YP bersama REBONK di SDN 15 Mentubang, Sukadana, Kayong Utara dengan serangkaian kegiatan seperti mengadakan berbagai perlombaan seperti lomba menyusun puzzle gambar hewan, menebak nama hewan dengan melihat ciri-cirinya, TTS, dan soal rebutan tentang materi lingkungan hidup yang pernah diberikan oleh Yayasan Palung di sekolah tersebut, kegiatan ini dilakukan pada hari Kamis (16/6/2022).

Foto dokumen : Simon dan Riduwan,Yayasan Palung

Kemudian, RK-TAJAM di Ketapang, pada Minggu (12/6/2022), bekerjasama dengan Pokdarwis Celincing Bersatu mengajak adik adik siswa siswi SD dan SMP untuk belajar sambil bermain dan membuat video pesan kampanye peduli lingkungan di Wisata Mangrove Pantai Celincing. Cara ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya perlindungan dan pelestarian alam.

Foto dokumen : Simon Tampubolon, Yayasan Palung

Selanjutnya, Sabtu (18/6/2022) YP melakukan pemutaran film lingkungan, adapun film yang diputar adalah film dokumenter dengan judul; Pulau Plastik, kegiatan ini dilakukan di kantor Yayasan Palung Education Center di Desa Pampang Harapan, KKU.

Selain itu kegiatan lainnya, Yayasan Palung ikut berpartisipasi dalam TALKSHOW RKU 101.5 FM, program dialog daerah di Radio RKU Kayong Utara.

Bersama Narasumber:

1. Mahendra (Staf YP)
2. Riko Wibowo (Penerimaan Beasiswa WBOCS)

yang hadir membahas tema:
” Hari Hutan Hujan Sedunia 22 Juni 2022 “

Dapat #sahabatrku dengarkan pada:
Kamis, 23 Juni 2022 Pukul 09.30 – Selesai.

Selanjutnya juga Kegiatan Lomba memperingati Hari Hutan Hujan Bentangor Kids yang dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung, Bentangor Education Center di Desa Pampang, Kamis (23/6/2022).

Foto Kegiatan : Simon Tampubolon

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berjumpa dengan Bunga Bangkai di Pojok Dapur Rumah

Bunga Bangkai yang dijumpai oleh kakek Nur Ani di Pojok Dapur Rumah. (Foto : Istimewa/Hendri-YP).

Penemuan bunga Bangkai raksasa ini bermula ketika warga mencium aroma bau busuk, di Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Pertama kali bunga itu dijumpai oleh Nur Ani, seorang kakek berumur 67 tahun warga dusun Pebahan Raya Desa Pulau Kumbang yang kaget saat menemukan tumbuhan berbau busuk itu, tumbuhan itu memiliki bentuk bunga yang indah tepat di pojok bagian dapur rumahnya.

Cerita penemuan bunga bangkai ini bermula pada Minggu sore (5/6/ 2022) sekira pukul 17. 45 WIB, kakek ini bersama menantunya yang bernama Sagita (25) sedang berjalan menuju pekarangan belakang rumah untuk melihat bibit sawit yang telah mereka  semai di belakang rumah, namun dikejutkan dengan melihat tumbuhan yang selama ini tumbuh di pekarangan rumahnya berbunga besar dan cantik, namun mengeluarkan bau yang tidak sedap.

 “Tumbuhan itu sudah tumbuh sejak 4 tahun lalu tapi sering saya pangkas, ujar kakek Nur Ani. Awalnya bunga ini muncul seperti jantung pisang, di hari kedua, tanaman ini sudah mulai mekar dan hari ketiga mekar dengan sempurna, sampai hari keempat ini bau nya sudah hilang dan udah mulai layu,” tambah si kakek.

Setelah dicek ternyata diketahui nama lokal dari tumbuhan ini adalah suweg atau nama latinnya dikenal dengan nama Amorphophallus paeoniifolius yang memang berkerabat dekat dengan bunga bangkai raksasa.

Warga di Pulau Kumbang pun berbondong-bondong berkunjung ke lokasi tumbuhnya bunga bangkai tersebut karena pensaran ingin melihat karena selama puluhan tahun tinggal di dusun Pebahan Raya desa Pulau Kumbang baru kali ini melihat bunga tersebut.

Andri, selaku ketua pokdarwis desa Pulau Kumbang mengatakan, ini merupakan moment yang langka dan unik sehingga kita sebagai warga desa pulau kumbang patut berbangga karena telah mendapatkan fenomena langka seperti ini. Fenomena langka ini menunjukkan bahwa kita wajib bersyukur bahwa alam kita memiliki keanekaragaman biodiversitas yang tinggi sehingga kita wajib merawat dan memelihara kekayaan alam kita, agar tetap lestari, ujar pria yang berambut plontos selaku penggerak kelompok wisata desa Pulau Kumbang.

Hendri Gunawan-Yayasan Palung

Pelepasliaran Orangutan Kumbang di Hutan Lindung Sungai Paduan

Saat Pelepasliaran Orangutan Kumbang di Wilayah Hutan Lindung Sungai Paduan , di titik Pelepasliar di Hutan Desa Nipah Kuning. (Foto : Robi Kasianus/Yayasan Palung).

Akhirnya orangutan Kumbang kembali ke rumah (habitatnya) di wilayah hutan lindung Sungai Paduan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Sabtu (11/6/2022).

Pelepasliaran orangutan tersebut dilaksanakan oleh beberapa lembaga, yaitu BKSDA SKW 1 Ketapang, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kayong, Yayasan Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung (YP), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nipah Kuning dan LPHD Padu Banjar.

Untuk menuju ke lokasi pelepasliaran bukan pekara mudah. Tim berangkat dari desa Padu Banjar, kemudian melakukan perjalanan susur sungai menuju titik pelepasan di hutan desa Nipah Kuning. Selain air sungai yang agak surut, perahu yang cukup besar karena harus memuat kerangkeng untuk mengangkut orangutan, juga menjadi kendala ketika tim menuju lokasi.  Memerlukan waktu kurang lebih tiga setengah jam untuk bisa sampai di titik pelepasliaran dengan perahu mesin.

Adapun kronologi tentang orangutan Kumbang ini berawal pada tanggal 17 Februari 2022 lalu, tim Rescue YIARI bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah 1 Resort Sukadana  berhasil menyelamatkan satu individu orangutan jantan remaja di desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara yang kemudian diberi nama “Kumbang” sesuai dengan lokasi ditemukannya orangutan. Sebelumnya, anggota LPHD Pulau Kumbang (binaan Yayasan Palung) yang melakukan monitoring di lapangan menemukan orangutan masuk ke perkebunan masyarakat. Kemudian mereka melaporkan kejadian tersebut kepada Yayasan Palung. YP kemudian langsung melapor kepada BKSDA SKW 1 Ketapang mengenai kejadian ini, dan melaporkan juga bahwa berdasarkan pantauan di lapangan satwa tersebut lengan kirinya terkena jerat pemburu. Kemudian setelah di rescue orangutan tersebut dirawat di PPKO YIARI. Setelah kondisi orangutan benar-benar pulih, kemudian dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk proses pengembalian satwa tersebut ke habitatnya.

Hutan desa Nipah Kuning yang termasuk dalam wilayah hutan lindung Sungai Paduan, menjadi lokasi yang dianggap cocok sebagai lokasi relokasi si Kumbang. Hal ini berdasarkan dari hasil survei habitat yang telah dilakukan oleh YP pada tahun 2021. Sebelum dikembalikan ke daerah tersebut, tim pelepasliaran juga sudah melakukan sosialisasi kepada masyarat mengenai rencana ini.

Foto bersama saat pelepasliaran orangutan kumbang. (Foto : Robi Kasianus/Yayasan Palung).

Direktur YIARI, Dr. Karmele Llano Sánchez, mengatakan bahwa dia sangat senang sekali karena bisa melakukan pelepasliaran orangutan Kumbang ini. Karmele bercerita, ketika Pandemi Covid 19 pihaknya tidak bisa melakukan pelepasliaran orangutan, baru sekarang bisa, ujarnya. Karmele pun berharap keadaan orangutan Kumbang baik-baik saja karena cukup jauh dari gangguan ataupun aktivitas manusia.

Terkait dengan adanya pelepasliaran orangutan ini,  Dwi Erlina Susanti, dari Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Kayong, mengatakan, “Sebagaimana yang kita ketahui bahwa orangutan ini merupakan salah satu satwa yang sudah langka dan merupakan satwa yang dilindungi oleh Undang-undang no. 5 tahun 1990 dimana masalah utamanya yaitu habitatnya yang semakin menurun.”

Lebih lanjut Dwi, sapaan akrabnya mengatakan, “Kami KPH Wilayah Kayong sangat mendukung kegiatan translokasi (pelepasliaran) orangutan ini di hutan lindung Sungai Paduan, kami sangat berterima kasih kepada pihak yang telah memberikan kepercayaan kepada kami sebagai pemilik lokasi untuk pelepasliaran orangutan ini yang mana kawasan hutan ini dikelola oleh LPHD Nipah Kuning dan kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada BKSDA Provinsi Kalbar, Pemerintah Kabupaten Kayong Utara dan masyarakat Nipah Kuning, YIARI dan YP, dan kepada semua pihak lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Selanjutnya, saya juga berharap  pada lokasi Hutan Lindung Sungai Paduan habitatnya tetap ada dan terjaga,  jangan sampai ada lagi orangutan yang keluar wilayah  dan merusak kebun masyarakat.”

Ditanya apakah di wilayah itu ada banyak pakan/makanan orangutan, Erik Sulidra, Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, Yayasan Palung (YP), mengatakan, hutan desa Nipah Kuning memiliki komposisi pohon makanan orangutan sekitar 70%.

Lebih lanjut untuk kondisi wilayah hutan desa Nipah Kuning yang memiliki luas 2.051 Ha yang menjadi rumah baru Kumbang, Erik  mengatakan secara umum bila dilihat dari empat hutan desa yang ada di kawasan Hutan Lindung Sungai Paduan, hutan desa Nipah Kuning ini adalah kawasan hutan yang paling baik. Selain ketersediaan pohon makanan yangn cukup banyak, tutupan hutan di sana juga lebih baik. Karena kita tahu bahwa orangutan lebih banyak beraktivitas di atas pohon, sehingga tutupan hutan yang lebat akan sangat membantu ketika orangutan melakukan perpindahan. Dalam perjalanan menuju lokasi, kita juga berjumpa dengan satu individu jantan dewasa orangutan di tepian sungai. Paling tidak si Kumbang sudah ada teman di sini, pungkasnya.

Pada kesempatan pelepasliaran orangutan tersebut juga dihadiri oleh Erniwati yang merupakan istri dari Kepala Kejaksaan Negeri Ketapang. Ibu Erniwati juga merupakan seorang dosen Fakultas Kehutanan Universitas Bengkulu. Ia mengaku sangat senang dan luar biasa sekali bisa ikut ambil bagian dalam kegiatan (pelepasliaran orangutan) seperti ini, karena sangat jarang orang luar bisa ikut melihat.

“Saya beruntung sekali bisa berkesempatan hadir. Saya berterima kasih kepada BKSDA SKW 1 Ketapang, YIARI dan Yayasan Palung karena memberikan kesempatan kepada saya untuk ikut. Pesan saya untuk si Kumbang (orangutan Kumbang), semoga si kumbang kembali ke habitatnya dan bisa mendapatkan pasangannya. Pelepasliaran orangutan si Kumbang ini menunjukkan bahwa konservasi telah berhasil,” ujar Erniwati.

Jauhari, selaku Ketua LPHD Nipah Kuning mengaku sangat mendukung kegiatan ini. Ia berpesan dan mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga hutan desa Nipah Kuning. Selanjutnya juga ia merasa senang karena sepanjang sejarahnya baru kali ini ada pelepasliaran orangutan di kawasan hutan desa Nipah Kuning. Ia pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah  menjaga hutan di wilayahnya dan mendukung kegiatan ini.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta dalam keterangannya memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam upaya penyelamatan satwa endemik Kalimantan ini. “Kerja dan upaya-upaya konservasi terhadap satwa liar telah dilakukan selama bertahun-tahun. Namun demiklian sebenarnya tanggung jawab sepenuhnya terhadap kelestarian satwa liar bukan semata dibebankan kepada pemerintah. Sudah saatnya kita merubah cara pandang terhadap konservasi. Dibutuhkan sebuah konsep pengembangan yang bisa menjadi solusi permanen dan memberikan penyelesaian yang berjangka panjang dengan mempertimbangkan perkembangan dan pertumbuhan lanskap dan sosial masyarakat kita. Manusia harus mulai membiasakan diri dengan kehadiran satwa liar di sekitarnya. Manusia harus bisa hidup ‘berdampingan’ dengan satwa liar untuk menjamin keberlangsungan kelestarian,” Imbuhnya.

Semua rangkaian kegiatan pelepasliaran orangutan Kumbang Berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari semua pihak yang ikut ambil bagian dari kegiatan itu.

Tulisan ini dimuat di :

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/62a8478bfdcdb45d562abf52/pelepasliaran-orangutan-kumbang-di-kawasan-hutan-lindung-sungai-paduan

https://kumparan.com/petrus-kanisius/pelepasliaran-orangutan-kumbang-di-hutan-lindung-sungai-paduan-1yGjo8WhoI8

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Malam Penganugerahan Penerima Beasiswa WBOCS Tahun 2022

Enam Penerima Beasiswa WBOCS 2022 berfoto dengan para tamu undangan. (Foto : Robi Kasianus).

Yayasan Palung bekerjasama dengan Orang Utan Republik Foundation menyediakan kesempatan beasiswa kepada putra putri Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang memenuhi kualifikasi untuk menempuh pendidikan Strata 1 di Universitas Tanjungpura melalui Program Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship) sejak tahun 2012 hingga tahun 2022 dengan jumlah 54 orang mahasiswa penerima beasiswa WBOCS dan 17 orang yang telah lulus menjadi sarjana.

Senin (6/6/2022), pukul 18.00-21.10 WIB, telah dilaksanakan malam penganugerahan di Hotel Nevada Ketapang bagi enam penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) tahun 2022. Malam penganugerahan WBOCS tersebut enam penerima beasiswa WBOCS melakukan penandatangan kesepakatan beasiswa WBOCS bersama Yayasan Palung dan Orang Utan Republik Foundation, selain melakukan penandatangan kesepakatan, dilakukan juga presentasi perkembangan terkait beasiswa peduli orangutan yang telah dilakukan sejak tahun 2012 hingga 2022.

Enam penerima beasiswa WBOCS tahun 2022  adalah Noni dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir, Elin Saputri dari SMA Negeri 1 Sungai Laur, Iqbal Aryanto dari SMA Negeri 3 Ketapang, Maria Angela Canthika Putri dari SMA Negeri 1 Ketapang, Rianti Sandriani dari SMA Negeri 2 Sukadana dan Galih Triyoga Putra dari SMA Negeri 1 Sandai.

Noni, Elin Saputri dan Galih Triyoga Putra telah lulus di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, tiga orang sedang menunggu pengumuman UTBK Rianti Sandriani mengambil Prodi Kehutanan, Iqbal Aryanto Prodi Hukum dan Maria Angela Canthika Putri Prodi Hubungan Internasional FISIP UNTAN.

Galeri Foto kegiatan :

Dokumen Foto WBOCS 2022 oleh : Simon dan Robi, Yayasan Palung

Sambutan Direktur Yayasan Palung Edi Rahman, mengucapkan selamat kepada enam penerima Beasiswa WBOCS tahun 2022, berpesan kepada penerima WBOCS untuk selalu focus belajar sesuai target empat tahun kuliah, menjaga nama baik Yayasan Palung dan berkontribusi untuk peduli pada lingkungan dan orangutan, dan yang paling penting adalah menjaga nama baik orangtua, YP,  OURF dan almamater. Edi sapaan akrabnya juga menambahkan, bagi penerima WBOCS nantinya yang akan melakukan penelitian, sudah bisa melakukan penelitian di Wilayah Hutan Desa binaan Yayasan Palung yang ada di wilayah Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Gary Shapiro selaku president Orangutan Republik Foundation (OURF) yang berkesempatan hadir dalam acara malam penganugerahan WBOCS menyampaikan apresiasinya kepada Yayasan Palung yang telah bekerjasama dalam menjalanan Program Beasiswa WBOCS  dengan sangat baik. Ia pun berharap, semoga program WBOCS bisa terus berlanjut dan menciptakan sarjana-sarjana yang memiliki komitmen peduli terhadap lingkungan dan orangutan. Pak Gary, sapaan akrabnya pun sembari berharap kepada penerima WBOCS 2022 untuk menyelesaikan tanggung jawabnya selama menjalani kuliah. Selanjutnya juga Pak Gary  menambahkan sekaligus berharap, semoga semakin banyak orang yang mendukung dan membantu  program beasiswa WBOCS dan ia pun bercita-cita semoga penerima program ini bisa terus bertambah dari tahun ke tahun.

Widiya Octa Selfiany, Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung mengatakan, Maksud dan tujuan Malam penganugerahan WBOCS ini di laksanakan sebagai program Yayasan Palung yang sangat diharapkan dan berkelanjutan oleh bapak ibu orang tua mahasiswa yang anaknya berprestasi terutama masyarakat yang bermukim disekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, penerima Beasiswa WBOCS untuk selalu menjadi perpanjangan tangan Yayasan Palung untuk menyebarkan virus-virus konservasi di Tanah Kayong, selain itu juga semoga penerima WBOCS bisa menjadi agen perubahan di masyarakat.

Pada kesempatan tersebut juga, Sumihadi, alumni WBOCS tahun 2014 yang saat ini  bekerja di Stasiun Riset Cabang Panti berkesempatan berbagi cerita suka duka selama kuliah dan memberikan motivasi kepada WBOCS 2022.

Acara malam penganugerahan WBOCS  tahun 2022 dihadiri oleh orang tua atau wali dari enam orang penerima beasiswa WBOCS, Staf Yayasan Palung, Yudo Sudarto selaku Pembina Yayasan Palung, Adi Mulia Pengawas Yayasan Palung dan tamu undangan yang hadir perwakilan dari Balai TANAGUPA, Tropenbos Indonesia, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, dan Fauna & Flora International Indonesia Programme.  

Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di Pontinak Post dan di Kumparan :

https://kumparan.com/petrus-kanisius/malam-penganugerahan-penerima-beasiswa-wbocs-tahun-2022-1yElbr8iYKA

Petrus Kanisius-Yayasan Palung