(Puisi) Jalani Masa Puasa Ramadhan

Foto ilustrasi : Puasa. dok: tribunnews

Dari Subuh, menjelang senja menyapa untuk sobat sekalian menjalankan ibadah puasa

Hari demi hari teduh, melaksanakan kewajiban dari Yang Maha Pencipta untuk menahan lapar juga dahaga.

Sobat berpuasa menyambut Ramadhan, bulan yang penuh Suci dan ampunan

Menunaikan sholat sebagai penanda untuk bersyukur juga memohon ampun atas dosa dan perbuatan.

Sebulan penuh, masa-masa yang harus dijalani

Dalam waktu sebulan sudah pasti tak sedikit rintangan, cobaan, tantangan yang menghadang.

Berpuasa dengan seiklhas hati, sepenuh jiwa untuk membuka saling memahami

Waktu demi waktu tidak terasa pasti terus belalu membentang menjelang

Untuk Ramadhan nan Fitri Suci Kembali untuk memaafkan dan saling mengampuni

Bersama berharap hadai taulan menanti kasih dengan silaturahmi.

Selamat menjalankan Ibadah puasa buat sobat yang menjalankannya.

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di kompasiana.com : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/575930e01293730e07ecff76/puisi-buat-sobat-yang-sedang-menjalankan-puasa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Cabang Panti Surganya Ekologi, Satwa dan Data

Camp Cabang Panti, di TNGP sebagai tempat (rumah) bagi para peneliti yang melakukan penelitian . Foto M.Syainullah

Stasiun Riset Cabang Panti adalah salah satu stasiun riset yang berada di Kalimantan Barat, tepatnya berada di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantar Barat. Tak Salah kiranya jika Cabang Panti boleh dikata sebagai surganya ekologi, satwa dan data karena flora dan fauna yang ada di wilayah tersebut sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Stasiun riset yang memiliki area penelitian seluas 2,100 hektare ini dibangun pada awal tahun 1985 yang ketika pada saat itu area Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) masih berstatus suaka marga satwa. Sebelum mengulik lebih dalam tentang Stasiun Riset Cabang Panti atau yang biasa disingkat SRCP ini mari kita melihat kebelakang periodisasi perjalanan terbentuknya Taman Nasional Gunung Palung.

Para peneliti (peneliti dari dalam dan luar negeri) yang melakukan penelitian di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok : M. Syainullah.

Sebelum ditetapkan sebagai Taman Nasional, Gunung Palung harus melewati beberapa tahapan (proses) terlebih dahulu seperti; Cagar Alam, Suaka Marga Satwa dan barulah ditetapkan sebagai Taman Nasional.

Pada tahun 1937, Ditetapkan Sebagai Cagar Alam. Melalui SK Het Zelfbertuur Van Het Landschap Simpang pada 15 april tahun 1937 yang dimana cikal bakal TNGP ini ditetapkan sebagai Cagar alam yang mencakup wilayah Sukadana dan wilayah Simpang, kemudian ditegaskan lagi pada 1939 cagar alam ini memiliki wilayah administratif seluas 30,000 hektare, kemudian pada 1978 ditetapkan lagi tata batas definitif seluas 37,750 hektare oleh Direktorat Bina Program Bogor.

Hanya membutuhkan waktu hanya 4 tahun atau tepatnya pada tahun 1981, ketika wilayah Cagar Alam ditunjuk menjadi Suaka Marga Satwa oleh kelompok Gunung Pekayang, Gunung Seberuang Sei. TANAGUPA pun secara resmi berubah status dari status Cagar Alam menjadi Suaka Marga Satwa. Lekahan dan Labuan Batu dengan luasan wilayah 90.000 hektare dan berakhir dengan pengesahan BA Tata Batas oleh Mentri Kehutanan dengan luasan terakhir pada saat itu seluas 95.940 Hektare (Tata Batas Definitif) yang di tetapkan oleh Brigade Planologi Kehutanan BIPHUT Wilayah II Palembang pada tahun 1983.

Selanjutnya Gunung Palung ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Palung ini dimulai pada 1990, yang dideklarasikan oleh Menteri Kehutanan melalui Pernyataan Menteri Kehutanan Nomor: 185/Kpts-II/1997 pada tanggal 31 maret 1997, hingga terakhir pengesahan penetapan Kawasan Taman Nasional Gunung Palung dengan luas wilayah 108.043,90 hektare pada 10 juni 2014 melalui SK Menhut Nomor : SK4191/Menhut-VII/KUH/2014.

Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) adalah salah satu stasiun riset terlama yang hingga saat ini masih aktif, SRCP memiliki kekayaan akan ekologi yang luas biasa dimana paling tidak ada 8 tipe habitat yang berbeda di dalam kawasan penelitian nya yaitu, hutan rawa gambut, hutan air tawar, kerangas, tanah alluvial, granit dataran rendah, granit dataran tinggi, batuan berpasir dataran rendah, dan pegunungan. Tidak sampai di situ SRCP juga memiliki populasi orangutan (Pongo pigmaeus wrumbii) yang lumayan banyak yaitu sekitar 515 individu orangutan yang sudah di identifikasi dan 395 orangutan yang belum teridentifikasi serta data ini masih terus bertambah.

M. Syainullah saat melakukan penelitian di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok : Yogi Saputra.

Sampai saat ini, di Taman Nasional Gunung Palung ada 2 proyek penelitian yang aktif hingga saat ini yaitu; Gunung Palung Orangutan Project (GPOP) yang berfokus pada penelitian mengenai orangutan. One Forest Project (OFP) yang dimana proyek penelitian ini fokus pada penelitian ekologi, dua-duanya memiliki rentang pengalaman yang relatif lama seperti GPOP yang saat ini sudah berumur 20 tahun. Ada lebih dari 113 peneliti luar negeri dan lebih dari 95 peneliti dalam negeri hingga saat ini, ada lebih dari 19.017 tumbuhan (pohon, liana, dan ficus) yang di amati sepanjang tahun oleh para peneliti dai 60 petak fenologi. Ada 80 jalur penelitian dengan total panjang 96.692 km dengan 230 jenis burung yang sudah terekam sepanjang jalur penelitian tersebut. Dan masih banyak lagi aspek kekayaan alam yang ada di Cabang Panti yang hingga saat ini masih banyak yang belum  dijelajahi. Semua hanya masalah waktu.

Sumber bahan  dan data tulisan : Data dari Balai Taman Nasional Gunung Palung

Baca juga tulisan :https://yayasanpalung.com/2017/02/20/mengenal-lebih-dekat-stasiun-penelitian-cabang-panti-dan-ini-yang-menarik-disana/

Penulis : Muhammad Syainullah- Asisten Peneliti GPOCP

Editor : Pit-YP

Inilah Pemenang Tantangan Kreativitas #dirumahaja, Selamatkan Bumi dari Rumah

10 pemenang Tantangan Kreativitas #dirumahaja dalam rangka Hari Bumi 2020. Foto dok : Yayasan Palung

Pada Perayaan Hari Bumi Bulan lalu, Yayasan Palung mengadakan lomba (Tantangan Kreativitas #dirumahaja) dengan Tema: “Selamatkan Bumi dari Rumah” khusus di Wilayah Kalbar, dalam rangka hari bumi bulan lalu.

Pada lomba tersebut, Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain, tantangan kreativitas #DiRumahAja #SaveOurEarthFromHome #HariBumi2020 #YayasanPalung, khusus untuk masyarakat Kalbar, membuat kerajinan tangan yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari dari barang bekas. Ada pun penjaringan peserta lomba dilakukan dari 1-30 April 2020 dan periode penilaian pemenang lomba : 1-9 Mei 2020 untuk memilih 10 pemenang.

Selamat kepada 10 pemenang Tantangan Kreativitas #dirumahaja dalam rangka Hari Bumi 2020, Selamatkan Bumi dari Rumah. Selanjutnya dilombakan pula karya siapa yang paling banyak mendapat like di Instagram.

Berikut adalah nama-nama pemenang Tantangan Kreativitas #dirumahaja Selamatkan Bumi dari Rumah dalam rangka hari bumi, April lalu :

Juara Pertama pada lomba tersebut adalah Brian Mccarthy dari Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara. Karya yang ia sertakan dalam lomba tantangan kreativitas #dirumahaja adalah Lampu tidur dengan asesoris dari botol plastik kemasan sekali pakai. Pada karyanya Brian Mccarhy  mendapat 185 like pada karyanya tersebut. Brian pun berhak mendapatkan hadiah berupa; t-shirt, tumbler, tote bag, sertifikat dan sticker.

Juara Pertama pada lomba tersebut adalah Brian Mccarthy. Karyanya : Lampu tidur dengan asesoris dari botol plastik kemasan sekali pakai. Foto dok : Simon/YP

Sedangkan Juara 2 adalah Egi Iskandar dari Kecamatan Matan Hilir Utara, Kab. Ketapang. Adapun karya yang ia lombakan adalah membuat tempat pensil terbuat dari kardus dan kertas bekas. Egi mendapat 174 like.  t-shirt, tumbler, sertifikat dan stiker.

Sedangkan Juara 2 adalah Egi Iskandar. Karya yang ia lombakan adalah membuat tempat pensil terbuat dari kardus dan kertas bekas. Foto dok : Simon/YP

Dan Juara 3  adalah  Sela Sevira  Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Sela membuat karya; Lampu tidur dan tempat pensil dengan asesoris terbuat dari stik ice cream bekas. Ia mendapatkan 141like. Sebagai hadiah ia berhak mendapatkan t-shirt, tote bag, sertifikat dan sticker.

Juara 3  adalah  Sela Sevira. Karyanya Lampu tidur dan tempat pensil dengan asesoris terbuat dari stik ice cream bekas. Foto dok : Simon/YP

Sedangkan juara 4 – 10 adalah  (Meilani Utari, Dini Safitri, Darwis Yustosio, Holikmhmmdptra, Wijaya Windra, Saptiana Nur Prahasti dan  Shafa Fakhira) berhak mendapatkan hadiah berupa : tumbler, sertifikat dan sticker. Hadiah sudah dikirimkan ke alamat masing-masing.

Terima kasih sudah ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Tetap semangat untuk berkreasi. Salam Lestari!!.

Penulis : Pit & Simon

Induk Orangutan Pengasuh yang Baik bagi Anaknya

Orangutan Ibu dan anak. Foto dok : Tim Laman

Tidak bisa disangkal, kasih sayang seorang ibu begitu besar bagi anaknya. Tidak terkecuali ibu orangutan yang juga memberikan kasih sayang kepada anaknya namun mereka banyak yang hilang. MOM-Missing Orangutan Mothers (Induk Orangutan yang Hilang).

Setiap tahun, bersamaan dengan Hari Ibu di AS, Orangutan Outreach mengadakan kampanye Missing Orangutan Mothers (M.O.M.). Ini adalah waktu yang terfokus untuk mendidik tentang pentingnya hubungan ibu-anak orangutan dan meningkatkan kesadaran akan jumlah orangutan yatim di pusat perawatan di seluruh Indonesia.

Seluruh kampanye kami akan ONLINE TAHUN INI. Untuk minggu berikutnya, dan terutama pada hari Minggu 10 Mei, tolong bantu kami mendidik orang lain melalui media sosial. Bahkan satu atau dua posting FaceBook akan memberikan pendidikan dan kesadaran bagi orangutan.

Nasib hidup orangutan lebih khusus di habitatnya berupa hutan semakin hari keadaannya semakin memprihatinkan. Tidak sedikit induk orangutan yang hilang dan membuat anak-anaknya menjadi telantar dan yatim bahkan mati. Keadaan inilah yang menjadi dasar kenapa kita memperingati hari ibu orangutan atau dengan kata lain The MOM-Missing Orangutan Mothers.

Hal ini juga mengingtkan kepada kita semua agar selalu ingat untuk menjaga, melindungi dan melestarikan orangutan lebih khusus induknya. Karena induk orangutan sebagai nafas utama keberlanjutan dari generasi anak-anaknya menjadi generasi baru nantinya.

Luasan tutupan hutan yang semakin terhimpit sempit akibat kalah bersaing dengan perluasan area untuk perkebunan, pertambangan dan pembangunan berskala besar membuat orangutan dewasa semakin hilang.

Nasib malang ibu orangutan di hutan-hutan Kalimantan dan Sumatera. Seringkali mereka mengalami nasib tragis, tak hanya tempat hidup dan populasi mereka yang menjadi ancaman nyata tetapi juga nasib keberlanjutan anak-anak orangutan yang kehilangan ibu mereka karena berbagai ancaman yang terjadi di sekitar tempat hidup mereka berupa hutan yang semakin hilang dan perburuan liar terhadap mereka.

Seperti diketahui, ini 7 keistimewaan induk (ibu) orangutan bagi anak-anaknya:

  1. Induk orangutan mengandung anaknya, hampir sama dengan manusia. orangutan mengandung anaknya 8 hingga 8,5 bulan.
  2. Induk orangutan mengalami masa menstruasi sama halnya seperti manusia.
  3. Induk orangutan selalu bersama anaknya hingga anaknya dewasa. Ibu orangutan selalu mengajari anaknya bagaimana mencari makan dan membuat sarang. Induk orangutan selalu bersama anaknya dari bayi hingga usianya 8-9 tahun. Bayi orangutan sulit mandiri apabila Ia hidup tanpa ibunya.
  4. Sedangkan jarak waktu melahirkan bayi paling lama di antara semua mamalia.
  5. Rata-rata induk orangutan hanya memiliki tiga keturunan sepanjang hidupnya dan hanya melahirkan satu anak setiap tujuh sampai delapan tahun sekali.
  6. Induk orangutan dan anaknya selalu menghabiskan waktu untuk bermain dan menjelajahi hutan.
  7. Induk orangutan dan anaknya hidup dalam satu sarang, kecuali ketika anaknya sudah dewasa. Bila menjelang dewasa, maka ia akan hidup mandiri.

Apabila induk orangutan hilang maka bisa jadi generasi (populasi) atau keturunan orangutan bisa terputus alias semakin langka dan sangat terancam punah atau bahkan punah.

Perlu perhatian dari semua pihak untuk saling menyayangi, melindungi dan melestarikan orangutan. Jika tidak, orangutan tinggal cerita. Semoga saja orangutan bisa lestari hingga selamanya.

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

“Mengenang Sang Penjaga Yang Tersisa”, Hari Ini Ia Berpulang untuk Selamanya. Selamat Jalan Pejuang Konservasi

Yohanes Terang semasa hidupnya dikenal sebagai tokoh pengabdi lingkungan di Tanah Kayong. Foto Dokumen :Yayasan Palung, via mongabay.id

Yohanes Terang, demikian ia disapa sehari-harinya. Hari Ini Ia Berpulang untuk Selamanya. Selamat Jalan Pejuang Konservasi, tokoh pengabdi lingkungan di Tanah Kayong.

Kami Keluarga Besar Yayasan Palung, Berduka Cita atas meninggalnya seorang Guru, Teman dan Sahabat kami yaitu Bapak Yohanes Terang, pada hari Rabu, 6 Mei 2020. Beliau adalah salah seorang Dewan Pembina Yayasan Palung (YP) dan tokoh pengabdi lingkungan di tanah Kayong.

Semoga segala kebaikan beliau dimasa hidupnya, mendapatkan balasan yang  terbaik dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selamat jalan pak Terang, damai selalu menyertaimu. Rest In Peace (RIP) Selamat Jalan Pejuang Konservasi

Salam hormat dari kami Yayasan Palung.

Berikut Cerita Singkat Beliau semasa hidupnya :

Menyemai, memilihara, sekaligus sebagai penjaga hutan Laman Satong, lebih tepatnya hutan di kawasan Dusun Manjau. Setidaknya itu yang ia lakukan dalam mengisi hari-harinya.

Tahun 2016 silam, saya berkesempatan untuk mengintip aktivitas sang penyemai, pemelihara, dan penjaga yang tersisa. Lalu, siapakah sosok tersebut?.

Tanpa paksaan, tanpa disuruh ia terus melakukannya. Sang penyemai, pemelihara yang tersisa tersebut adalah Yohanes Terang.

Hari-harinya dikenal selalu bersyukur. Mengingat, setiap aktivitas Kek Alui begitu ia sehari-hari disapa karena cucu tertuanya bernama Alui selalu memulai dengan doa dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Demikian pula saat tidur dan bangun tidur. Boleh dikata, beliau sangat religius.

Hari pertama mengikuti aktivias Yohanes Terang, saya diajak untuk berkeliling tanaman buah-buahan, kebun pisang, dan ragam tanaman seperti durian, cempedak, dan tanaman gaharu (garu, demikian masyarakat setempat menyebutnya).

Tidak hanya itu, tanaman karet dan berhektar-hektar hutan di belakang rumahnya terlihat menjulang kokoh berjejer rapi, hutan tersebut miliknya. Kolam ikan dan beribu-ribu jenis bibit tertata rapi di tempat pembibitannya. Beragam bibitnya seperti tanaman gaharu, kopi, bibit tanaman buah serta bambu tertata, demikian pula dengan pepohonan rimbun yang tumbuh di sekitar rumahnya.

Setiap pagi menjelang dan senja menyapa, Yohanes Terang selalu rutin untuk menyirami bibit-bibitnya. Di hari kedua, saya bersama dengan Yohanes Terang berkunjung di kebun pisangnya miliknya. Hari itu, kami memanen dua tandan pisang. Terlihat, beberapa pohon pisang sedang berbuah, tetapi belum semuanya matang. Ada pisang raja, ada pisang ambon, pisang nipah. Ketiga, di pagi hari, saya berkempatan untuk melihat karya-karya puisi yang ia tulis.

Saya juga berkesempatan untuk mengetikkan karyanya ke dalam bentuk dokumen. Karena, banyak karyanya yang ditulis tangan. Hari keempat, saya berkesempatan berkeliling-keliling, mungkin kata yang cocok. Berkeliling-keliling untuk melihat hamparan hutan miliknya dan beberapa tanaman buah yang keberadaannya berbatasan dengan perusahaan-perusahaan. Tercatat terdapat perusahaan perkebunan yang mendiami wilayah Laman Satong. Di hari terakhir, bertepatan dengan hari Minggu, saya mengikuti aktivitas Bapak Yohanes Terang untuk misa hari Minggu di Gua Kiderun. Setelah misa selesai, saya diajak melakukan panen buah jeruk bali dan melihat Viktor, Bapak Alui, anak sulung Pak Yohanes Terang saat melakukan penyuntikan (inokulasi) untuk beberapa gaharunya. Ia pun berharap, semoga ada hasil yang baik dari penyuntikan gaharunya satu tahun mendatang.

Berikut sekilas tentang Yohanes Terang, kakek usia  60 tahun tersebut sedikit banyak memberikan makna kata dan makna kehidupan yang tertuang beberapa karyanya dan perbuatan nyatanya di masyarakat lebih khusus di wilayah Desa Laman Satong. Boleh dikata, Bapak Yohanes Terang sebagai perintis pertama untuk mendiami wilayah Manjau dan mempertahankan beberapa wilayahnya dari himpitan sawit dan bauksit. Pak Terang juga sebelumnya di era 1980 hingga tahun 2006 pernah dipilih oleh masyarakatnya menjadi kepala desa selama dua periode. Saat ini beliau juga menjadi pengawas di Yayasan Palung.

Hutan, manusia dan satwa sejatinya merupakan satu kesatuan. Menurut Yohanes Terang, hutan sebagai sumber kehidupan bagian semua makhluk hidup. Demikian juga, bumi sebagai sumber hidup bagi makhluk yang mendiaminya. Lebih lanjut, ia berujar, dari hasil buah-buahan di hutan miliknya menjadikan kakek dari 4 orang cucunya itu merasa alam dan lingkungan sebagai sumber kehidupan. Cikal bakal hadirnya Hutan Desa Manjau juga tidak luput dari andilnya. Setidaknya, ada hutan desa 10.70 ha di sana dan beliau menjadi salah seorang yang memiliki keikhlasan untuk menyemai, memilihara, dan menjaga bumi untuk terus berlanjut melalui karya-karyanya.

Beberapa renungan dan puisi Yohanes Terang yang sedikit banyak memiliki arti dan makna dalam tentang alam, karya dan kepedulian sosialnya :

Puisi : Hidup Lama Bersama Karya

 Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.

Manusia mati meninggalkan nama dan karyanya.

Nama dan karya dua kata tak terpisakan yang memaknai pelaku dan hasil dalam karyanya yang nyata.

 Bagi orang bijak berpandangan luas dan jauh kedepan, berbuat sesuatu tidak semata bagi dirinya sendiri, tindakannya selalu berguna bagi sesama.

Segala tindakan, yang kurang bijak akan membuat seseorang, nama dan karya tahan lama.

Pejuang sejati, berbuat dengan hati, saling berbagi, mencari solusi menciptakan sesuatu bernilai tinggi dapat diingat dikenang generasi ke generasi, tak habis ditelan waktu, tak hilang digerus usia.

Hari ini, kita semua, tunjukan pada dunia tindakan nyata, menanam tanaman yang berguna pakanan satwa serta menghargai bumi dimana kita sekarang berada.

Laman Satong, 10 Februari 2015 Penyampai pesan, Yohanes Terang

Puisi : Jalan Pintas

Sempurna adalah harapan setiap manusia tak peduli apapun caranya.

 Bagi yang lupa jalan pintas merupakan sebuah pilihan sederhana.

Budak oleh rasa cemas gelisah, kosong hampa dan putus asa.

Nirwana agung, racun, ketamakan orang-orang  buta  arti (narkoba) Bagi yang percaya “narkoba” sebuah bayangan hitam media pencabut nyawa.

 Derita panjang, kurang percaya diri, lemah, duka derita hina.

Bisa terjadi dimana-mana, kota sampai  desa  tak pilih  penguasa, kaya maupun papa.

Dampak dari lemahnya Iman, mencari surga sektika. Ibarat cancer ganas, virusnya menyebar kemana-mana.

Banyak cara yang dipakai untuk mencegahnya namun sia-sia. Orangtua, agama, aparatur negara, sekolah, sebuah baca dapat diguna untuk menghentikan itu semua.

Laman Satong, 10 November 2015 Penyampai pesan, Yohanes Terang (Berjuang tidak dengan kekerasan).            

Satu karya kumpulan puisi dan renungan bapak Yohanes Terang pernah diterbitkan oleh Gramedia, tentang “Menjaga Yang Tersisa Dari Laman Satong”.

Siang menjelang sore, saya menyudahi mengikuti aktivitas Si penyemai, pemelihara dan penjaga yang tersisa dari Laman Satong dengan dibekali dengan buah-buahan seperti pisang dan buah srikaya naga untuk kembali ke Ketapang. Saya merasa beruntung bisa mengintip aktivitasnya dengan kesederhanaan, kepedulian dan kerendahan hati serta kepedulian yang belum tentu banyak orang yang memilikinya.

Tulisan ini juga dimuat di blog kompasiana, selengkapnya dapat dilihat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/mengintip-aktivitas-si-penyemai-pemelihara-dan-penjaga-yang-tersisa-dari-desa-laman-satong_5746a57ec222bdbe068e2dc7

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

SANG PENJAGA YANG TERSISA ITU TELAH BERPULANG

Dokumen Yayasan Palung

Kami Keluarga Besar Yayasan Palung, Berduka Cita atas meninggalnya seorang Guru, Teman dan Sahabat kami yaitu Bapak Yohanes Terang, pada hari Rabu, 6 Mei 2020. Beliau adalah salah seorang Dewan Pembina Yayasan Palung (YP) dan tokoh pengabdi lingkungan di tanah Kayong.

Semoga segala kebaikan beliau dimasa hidupnya, mendapatkan balasan yang  terbaik dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selamat jalan pak Terang, damai selalu menyertaimu

Rest In Peace (RIP)

Salam hormat dari kami Yayasan Palung

Tulisan tentang Yohanes Terang : https://www.mongabay.co.id/2014/07/02/yohanes-terang-penjaga-hutan-desa-di-antara-sawit-dan-bauksit/amp/?fbclid=IwAR2KkosaUmOCeO-t8RynvnSPx_6hChPzWEhhGXyIBLq2HpbFOBBJssTNBo4