Potret Banjir yang Terjadi di Kecamatan Simpang Dua

Potret Banjir yang terjadi (22/9) kemarin di Simpang Dua. Foto dok : Lorensius/Dari berbagai sumber

Ini adalah beberapa foto banjir yang terjadi (22/9) kemarin di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Sampai pagi (23/9) tadi, banjir sudah berangsur surut, namun masih menggenangi rumah warga.

Sedikit banyak aktivitas masyarakat terhenti karena banjir. Kemarin (22/9), ketinggian banjir mencapai pinggang hingga dada orang dewasa.

Menurut informasi, banjir yang terjadi di Simpang Dua kali ini adalah yang terbesar dan yang terparah dalam sejarah Simpang Dua. Diperkirakan, banjir yang terjadi adalah akibat curah hujan yang tinggi beberapa hari ini.

Selain di Kecamatan Simpang Dua, Kecamatan Simpang Hulu dan Sungai Laur juga terjadi banjir.

Berharap banjir segera berlalu dan masyarakat bisa beraktivitas kembali.

Sumber foto dan video : Dari Berbagai Sumber

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Perwakilan LPHD dan Staf YP Mengikuti Sekolah Lapang Petani Gambut yang Diselenggarakan oleh BRG

Saat Peserta mengikuti sekolah lapang petani gambut yang diselenggarakan oleh BRG. Foto dok : Yayasan Palung.

Pada tanggal 15-18 September 2020 kemarin, Badan Restorasi Gambut (BRG)  mengadakan kegiatan sekolah lapang petani gambut, pelatihan lahan tanpa bakar dan pembuatan pupuk organik yang dilaksanakan di Desa Pulau Kumbang.

Pada kesempatan tersebut, 5 orang peserta dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) binaan Yayasan Palung (YP) seperti dari : Desa Penjalaan, Padu Banjar,Pemangkat, Pulau Kumbang dan Nipah Kumbang mengikuti kegiatan tersebut. Selain itu juga ikut serta 2 orang staf dari Yayasan Palung dalam kegiatan tersebut.

Sedangkan BRG dalam kegiatan tersebut menyertakan perwakilan dari 12 desa dampingannya yang ada di wilayah Kalimantan Barat.

Dalam kegiatan  sekolah lapangan, pelatihan lahan tanpa bakar dan pembuatan pupuk organik tersebut, para peserta diajak untuk belajar tentang bagaimana cara mengelola lahan tanpa bakar di lahan gambut dan bagaimana cara membuat pupuk organik.

Saat peserta sekolah lapang petani gambut belajar membuat pupuk organik yang dilaksanakan oleh BRG . Foto dok : Yayasan Palung

Terima kasih kepada Badan Restorasi Gambut (BRG) yang telah bersedia menerima peserta dari Yayasan Palung  dalam pelatihan tersebut. Mengingat, momen ini penting dan sangat bermanfaat maka Yayasan Palung mengutus 5 orang perwakilan dari LPHD dan 2 orang staf dari Yayasan Palung, kata Desi Kurniawati, selaku Koordinator Hutan Desa untuk Yayasan Palung.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Jenis Pohon dan Kandungan Karbon di Pusat Pendidikan Lingkungan Bentangor Yayasan Palung

Staf Yayasan Palung (Riduwan dan Andre Ronaldo) Sedang Melalukan Survey dan Penelitian Identifikasi Pohon. Foto dok : Yayasan Palung

Sejak tahun 2010 Yayasan Palung mempunyai satu lahan sebagai lokasi Pendidikan Lingkungan yang diberi nama BENTANGOR (Belajar Tentang Hutan dan Orangutan) yang berpusat di Desa Pampang Harapan Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara.

Dengan lahan seluas 0,6 Hektar tersebut terdapat 2 buah bangunan sederhana serta dikeliling berbagai jens pohon yang masih terbilang cukup padat. Dengan adanya berbagai jenis tanaman buah-buahan dan tanaman hutan tersebut menjadikan lokasi tersebut sangat tepat untuk dijadikan pusat pendidikan lingkungan bagi pelajar dan masyarakat umum.

Selain itu juga, dilokasi Bentangor juga terdapat sedikit lahan pertanian organik, beberapa kolam budidaya ikan, rumah kompos, Rumah Bibit Tanaman yang dikelola oleh Yayasan Palung bersama Kelompok Meteor Gadren dan Relawan Rebonk. Serta disediakan juga jalur Fieldtrip bagi pelajar ketika berada di lokasi Bentangor.

Dikarenakan lokasi Bentangor masih banyak terdapat berbagai jenis pohon membuat udara disekitarnya terasa sangat sejuk dan segar terutama di waktu pagi hari. Para pengunjung yang berada di lokasi Bentangor akan membuat betah akan kesegaran udaranya dan telinga selalu dimanjakan senandung merdu kicauan berbagai jenis burung. Bahkan ketika musim buah, para pengunjung dan orang yang tinggal di Bentangor selalu asyik memandang berbagai jenis satwa yang selalu bercengkraman sambil menyantap lezatnya berbagai jenis buah tanaman yang ada di Bentangor.

Dikarenakan Bentangor dijadikan salah satu pusat Pendidikan lingkungan, maka pada bulan Agustus 2020 Yayasan Palung melakukan survei dan penelitian kandungan Karbon dan melakukan Identifikasi Jenis pohon yang ada disekitar Bentangor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi yaitu menjelajahi setiap sudut lokasi Bentangor dimana ditemukannya jenis tumbuhan (Rugayah, 2004) dengan mengeksplorasi semua jenis pohon yang berukuran diameter 10 cm ke atas dengan sensus 100 %. Survei dan Penelitian tersebut dilakukan staf Yayasan Palung yaitu Andre Ronaldo dan Riduwan.

Menurut Andre Ronaldo yang sehari-harinya disapa Andre, bahwa Total individu pohon yang didapat pada kawasan Hutan Bentangor adalah 201 individu pohon, yang tergolong kedalam 60 species pohon dan tergolong kedalam 29 famili, jenis-jenis tersebut merupakan jenis pohon hias, pohon buah, pohon pakan satwa dan pohon yang dapat dimanfaatkan kayu dan bagian lainnya. Famili dengan jumlah individu pohon terbanyak adalah famili Moraceae (keluarga nangka-nangka) dengan 37 individu yang tergolong kedalam 9 species.

Rumah Bibit di Lokasi Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung Bentangor Pampang Center. Foto : Yayasan Palung

Pohon dihutan mampu menyerap karbondioksida (CO2) untuk proses fotosintesis dan menyimpannya dalam bentuk karbohidrat pada kantong karbon diakar, batang dan daun sebelum dilepas kembali keatmosfer. Hal ini menumbulkan keterkaitan antara biomassa hutan dengan kandungan karbon. Hutan memiliki setidaknya empat kolam karbon yaitu biomassa atas permukaan, biomassa bawah permukaan, bahan organic mati dan kandungan karbon organic tanah. Pada penelitian ini berfokus pada biomassa atas permukaan yaitu pada batang pohon yang memiliki diameter 10 cm keatas, dari hasil data yang didapatkan selama dilapangan saat ini jumlah pohon yang ditemukan sekitar 201 pohon dengan diameter pohon yang bervariasi.

Menurut Riduwan, Bahwa hasil survei dan Penelitiannya di lokasi Bentangor tersebut, dimana perhitungan karbon didapat hasil sebesar 63.075,78 Kg atau sekitar 63,07 ton Karbon. Artinya kandungan karbon yang tersimpan saat ini pada kawasan hutan bentangor untuk karbon diatas permukaan dengan diameter pohon 10 cm keatas sekitar 63.07 Ton. Penelitian ini baik indentifikasi jenis pohon dan Kandungan Karbon ini dilakukan sebagai data base Yayasan Palung dalam memberikan edukasi kepada pelajar dan masyarakat akan pentingnya melestarikan hutan serta ekosistem di dalamnya, Ujar Riduwan.

Andre Ronaldo menambahkan, bahwa hutan Bentangor dengan luas sekitar 0,6 Ha yang memiliki beberapa jenis tumbuhan yang terdiri dari pohon buah dan pohon hutan. Namun perlu adanya kegiatan penanaman agar dapat memperkaya keanekaragaman jenis tumbuhan di Bentangor karena untuk jumlah keanekaragaman jenis tumbuhan di Bentangor masih bisa dibilang sedikit. Lagi pula masih ada beberapa lahan yang masih terbuka yang bisa dilakukannya kegiatan penanaman.

Edi Rahman – Direktur Lapangan Yayasan Palung

Relawan Konservasi REBONK Membuat Film yang Berjudul “Si Otan dan Putri”

Capture Film Si Otan dan Putri . Foto dok : Yayasan Palung

Relawan Konservasi REBONK Yayasan Palung telah membuat film edukasi lingkungan hidup yang berjudul “Si Otan dan Putri”. Film berdurasi 32 menit dan 32 detik ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Orangutan Sedunia atau biasa dikenal dengan nama World Orangutan Day (WOD) tahun  2020, yang diperingati setiap 19 Agustus.

Film ini, inspirasinya didapat dari sebuah buku komik yang berjudul “Dori dan Delima” karya Yayasan Palung pada tahun 2006 silam. Namun dalam film tidak sepenuhnya mengambil dari buku komik tersebut, ada beberapa alur atau adegan yang sedikit dirubah, namun tidak begitu melenceng dari buku komik yang dibuat Yayasan Palung. Tujuan dibuatnya film ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan orangutan dan habitatnya serta mengingatkan tentang adanya sanksi hukuman penjara dan denda berupa uang bagi siapapun yang melanggar UU No. 5 1990 tantang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Pasal 40 ayat 2. Tujuan lainnya adalah meningkatkan kreativitas anggota REBONK (Relawan Bentangor Untuk Konservasi) dengan kegiatan yang positif di masa pandemi Covid-19 ini.

Pengambilan gambar film dilakukan pada 8-18 Agustus 2020, sebagian besar di Pondok Kebun Bapak Asbandi, merupakan salah satu staf Yayasan Palung, yang lokasinya tepat dibelakang Bentangor, lokasi shooting lainnya adalah Aula Bentangor dan Kawasan Hutan Bentangor.  

Selama proses shooting yaitu sekitar 10 hari, anggota REBONK sangat bersemangat dan antusias, mereka datang sesuai jadwal yang ditentukan, dan melakukan adegan sesuai dengan arahan dari Pembina yaitu Yayasan Palung. Pembuatan film ini melibatkan 20 anggota REBONK, mereka berperan sebagai pemain (Pemeran utama, pameran tim BKSDA, Kepolisian, dan masyarakat) dan Kru film seperti Cameraman.

Film ini dibuat dengan peralatan shooting yang bisa dibilang masih sederhana hanya menggunakan kamera DSLR tanpa tripod sehingga kadang saat gambar tidak stabil dan para pemain tidak menggunakan mikropon sehingga pada pengambilan gambar dengan jarak yang jauh suara tidak terdengar secara maksimal.

Berikut ini Sinopsis Film Si Otan dan Putri :

Film ini diangkat dari sebuah komik yg berjudul Dori dan Delima karya Yayasan Palung pada tahun 2006 silam. Walaupun pada adegan film tersebut tidak sepenuhnya mengambil dari cerita dori dan delima namun cerita dori dan delima merupakan awal kisah film ini dibuat.

Pada suatu desa hiduplah keluarga kecil yang sangat bahagia. Keluarga tersebut memiliki seorang anak yang bernama putri, pada film tersebut anak ini sedang duduk dibangku SMP.

Mi’an ayah dari putri hari-harinya bekerja sebagai petani dan siti sebgai ibu putri sebgai ibu rumah tangga.

Putri memiliki hewan peliharaan yang bernama otan. Otan merupakan anak orangutan yang didapat dari hasil berburu ayah putri. Putri sangat sayang dengan otan. Setiap hari diberimakan dan bahkan diajak bermain oleh putri.

Namun suatu hari ketika putri pulang sekolah siotan mati. Putri menangis tak henti-hentinya. Akhirnya ibu si putri berusaha untuk mendiamkannya.

Keesokan harinya mi’an ayah siputri berburu kehutan untuk mencari orangutan lagi agar si putri tidak menangis, pada waktu itu ditemani oleh si ujang.

Nah, untuk melihat keseruan pada film tersebut, mari kita saksikan di chanel youtube Yayasan Palung, GP Orangutans.

Yuk tonton filmnya :

Penulis : Riduwan-Yayasan Palung

Ketika Orkestra Menyapaku di Tengah Hutan

Saat Melakukan Pengamatan Phenologi bersama Tim OH, sebagai salah satu kegiatan magang di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok : Siti Nurbaiti

“Alam mendekapku dengan kehangatannya. Menyapaku dengan orkestranya, nyaman kurasa. Hingga aku tak ingin beranjak”

Irama khas hutan yang berasal dari kolaborasi berbagai jenis bangsa burung, serangga dan makhluk hidup lainnya masih terdengar sama, tak ubah itu adalah orkestra di tengah hutan dan itu selalu memberi kedamaian.

Ranting-ranting pohon menyapa dengan ramah kala aku melewatinya. Air sungai mengarus ke hilir tak lupa tersenyum kepadaku. Ikan-ikan yang hilir mudik berenang juga tak ingin dianggap sombong. Mereka beramai-ramai membentuk barisan untuk menyambut kehadiranku.

Menyeberangi Sungai Putih saat mengiikuti Tim OH mengikuti orangutan di Stasiun Riset Cabang Panti. Foto dok : Siti Nurbaiti

Setiap langkah yang kulalui sembari melewati jalan setapak ditengah hutan tak pernah kurasakan sepi. Hutan yang di dalam pikiran banyak orang adalah suatu tempat yang penuh dengan cerita menakutkan, buas dan horor benar-benar ku ingkari hipotesis mereka. Disini, aku menumpang hidup, kurang lebih satu bulan tak sekalipun aku merasa sepi.

Pecayalah kawan, Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) Taman Nasional Gunung Palung telah menyihirku dengan segala pesonanya. Aku bukanlah gadis kota yang asing dengan suasana hutan. Aku adalah gadis desa yang sudah biasa keluar masuk hutan, meskipun sudah tergolong hutan tersier. Disini, aku merasakan hal yang berbeda. Hutan disini terasa sangat unik, mempesona dan selalu membuatku kagum dengan segala yang ada di dalamnya.

Tak bosan aku terkagum-kagum ketika aku ikut bersama Tim OH untuk mengikuti orangutan. Pohon-pohon besarnya, serangganya, burung-burungnya, hewan, mamalianya, serta semua makhluk hidup disini serasa begitu ramah. Meski sulit melihat mereka yang bersembunyi dibalik kanopi, namun aku tahu mereka tersenyum ramah kearahku. Mereka selalu menyambut kehadiranku dengan meriah. Mereka adalah bangsa pribumi yang baik hati.

Kegiatan magangku yang hanya satu bulan disini sebelumnya telah kubayangkan akan terasa membosankan. Bukan berburuk sangka kawan, hanya saja membayangkan diri akan berada di tengah hutan yang jauh dari hiruk pikuk dunia, serasa akan sangat membosankan. Namun, sejak hari pertama aku berada disini segala apa yang ku pikirkan sebelumnya hanyalah hipotesis yang tak bisa dibuktikan. Nyatanya, selama aku disini, aku menikmati setiap detak waktu yang berjalan. Apa yang ada disini adalah surga dunia, dan aku tenggelam di dalamnya.

Dimasa depan, aku ingin kembali ke tempat ini lagi. Mengirup aroma hutannya lagi, menyapa pohon-pohonnya dan juga hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Aku berharap kekayaan alam yang ada disini tetap terjaga hingga anak cucu kita nanti. Mereka harus bisa menikmati orkestra di tengah hutan yang dipersembahkan oleh bangsa-bangsa penghuni hutan ini dan menemukan kedamaian persis seperti yang aku rasakan. Tentu saja bangsa-bangsa penghuni hutan yang aku sebutkan ini adalah mereka para makhluk hidup yang terdiri dari mikroorganisme, tumbuhan dan hewan-hewan. Bukan bangsa-bangsa dari makhluk asral seperti yang terlintas dibenak kalian.

Sekian kilas cerita hari ini. Perjalanan ini akan segera berakhir. Aku akan pergi dari tempat ini. Namun semua yang terjadi kuabadikan dalam catatan perjalanan ini. Semoga sedikit memberikan pembelajaran bahwa hutan adalah tempat yang harus dijaga kelestariannya. Segala apa yang ada di dalamnya adalah harta berharga yang tak ternilai harganya. Mari jaga hutan, jaga keanekaragamannya, jauhkan ia dari kelangkaan. Kelangkaan berarti kita akan kehilangan mereka dan kita tidak akan bisa melihatnya lagi. Dan aku tidak menginginkan itu. Aku harap kalian juga….

Siti Nurbaiti (Penerima WBOCS tahun 2017)

Berikut Ini 6 Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat tahun 2020


Ini adalah 6 orang penerima beasiswa WBOCS tahun 2020: Vera Frestia dari SMAN Sandai, Sisilia dari SMAN 1 Sungai Laur, Winda Lasari dari SMAN 1 Sungai Laur, Rizal SMK Al-Aqwam Sukadana, Muhammad Syainullah dari MAS Hidayaturrahman Ketapang dan Sonia Utami dari MAS Babussaadah. Foto dok : Simon/Yayasan Palung

Kamis, 3 September 2020 di kantor Yayasan Palung Ketapang diadakan Award Day WBOCS 2020 bagi 6 penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship / WBOCS).

6 Orang penerima WBOCS 2020 berfoto bersama dengan staf Yayasan Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Adapun 6 penerima beasiswa WBOCS tersebut adalah Vera Frestia dari SMAN Sandai, Sisilia dari SMAN 1 Sungai Laur, Winda Lasari dari SMAN 1 Sungai Laur, Rizal SMK Al-Aqwam Sukadana, Muhammad Syainullah dari MAS Hidayaturrahman Ketapang dan Sonia Utami dari MAS Babussaadah.

Vera Frestia mengambil jurusan Hubungan Internasional FISIP UNTAN, Sisilia dan Sonia Utami mengambil jurusan Sosiologi FISIP UNTAN, Winda Lasari, Rizal dan Muhammad Syainullah mengambil Jurusan Kehutanan FAHUTAN UNTAN. Program beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) pada tahun 2020 ini telah memasuki tahun ke Sembilan.

Video Penerima WBOCS dari tahun ke tahun. dok : Yayasan Palung

Edi Rahman selaku Direktur Lapangan Yayasan Palung berpesan kepada para penerima beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship / WBOCS) tahun 2020 ; “Generasi saat ini harus peduli dengan nasib satwa dilindungi seperti orangutan. Kita jangan kalah dengan dunia/orang luar negeri. Mereka (orang luar negeri ) sangat peduli dengan orangutan, kita dari dalam negeri pun seharusnya dituntut untuk peduli dengan orangutan dan habitatnya. Selanjutnya bagi penerima beasiswa orangutan Kalimantan tahun 2020 untuk ikut ambil bagian bersama Yayasan Palung dalam upaya mendukung konservasi, terlebih bagi penerima beasiswa yang berada di sekitar hutan desa binaan Yayasan Palung untuk bisa ambil bagian dan mendukung konservasi yang ada di wilayah Indonesia, lebih khusus di wilayah Kalimantan Barat dan di Tanah Kayong (sebutan untuk wilayah kabupaten Ketapang dan Kayong Utara)”.

Menurut Mariamah Achmad selaku Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung “program WBOCS merupakan program andalan kami, karena dengan program ini kita dapat berharap ada regenerasi pegiat konservasi yang mempunyai kemampuan akademis sekaligus memiliki komitmen yang kuat terhadap pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat. Kemudian  melalui program ini, Yayasan Palung berperan meningkatkan pendidikan masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan Indonesia”.

Yayasan Palung merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan yang sama untuk perlindungan orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship). Hingga tahun 2020 sudah terdapat 43 Penerima BOCS yang diantaranya 9 orang sudah menjadi sarjana.

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2020/09/13/berikut-nama-nama-penerima-beasiswa-peduli-orangutan-kalimantan-barat-tahun-2020

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berikut Nama Pemenang Challenge KAMPANYE MEDIA dalam Rangka Hari Orangutan Internasional 2020

Berikut Nama Pemenang Challenge KAMPANYE MEDIA dalam Rangka Hari Orangutan Internasional 2020. Pemenang diumumkan pada tanggal 31 Agustus 2020.

Tema: “Orangutan Sahabat Alam, Lindungi Hak Mereka” .

Berfoto dengan bibit pohon / sedang menanam pohon di kebun, halaman sekolah atau rumah, mengupload foto di akun instagram pribadi dengan menyertakan caption sesuai dengan tema kegiatan, menyertakan hastag: #InternationalOrangutanDay #YayasanPalung #OrangutanBorneo #LoveOrangutan #SaveOrangutan dan maksimal 2 hastag yang dibuat sendiri.

Mengupload foto menanam pohon dengan caption menarik, dua orang pemenang adalah :

1. Maria Yovinda (@mariayovinda_ )

2. Keane Owen ( @keane.owen.2002 )

Selamat kepada para pemenang, semoga selalu menjadi agen untuk perubahan terutama dibidang konservasi.

Narasi : Pit-YP

Yayasan Palung Adakan Studi Banding dan Pelatihan Pemijahan Ikan

Berfoto bersama saat Yayasan Palung melalui Program Sustainable Livelihood (SL) mengadakan pelatihan  Studi Banding dan Pelatihan Pemijahan Ikan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 24-26 Agustus 2020 kemarin di Dusun Segua, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara. Foto : Yayasan Palung.

Beberapa waktu lalu, Yayasan Palung melalui Program Sustainable Livelihood (SL) mengadakan pelatihan  Studi Banding dan Pelatihan Pemijahan Ikan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 24-26 Agustus 2020 kemarin di Dusun Segua, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara.

kali ini, dalam kegiatan studi Banding dan pelatihan pemijahan ikan, Yayasan Palung bekerjasama dengan P2MKP (Pusat dan Pelatihan Kementerian Kelautan dan Perikanan) Kabupaten Ketapang telah melaksanakan kegiatan studi banding dan pelatihan pemijahan ikan selama 3 hari.

Saat peserta pelatihan dilatih untuk melakukan pemijahan ikan. Foto dok : Yayasan Palung

Adapun sebagai narasumber pada pelatihan tersebut adalah Muhammad Abduh atau sehari-hari dikenal dengan nama Kang Acil. Sedangkan peserta yang hadir dalam  pelatihan dihadiri oleh 7 orang peserta dari  kelompok ikan Mina Segua dari Dusun Segua, Desa Pampang Harapan.

Selama kegiatan berlangsung kelompok mendapatkan pembekalan tentang pemijahan, proses pembesaran, serta pemasaran. P2MKP juga telah menguji kolam ikan kelompok dengan mengambil sampel lumpur dan air, PH (derajat keasaman) mendapatkan nilai 8.1.

Ranti Naruri, selaku Manager dari Program Sustainable Livelihood (SL) mengatakan “Ini menjadi peluang bagi kelompok untuk dapat membudidayakan dari segala jenis ikan yang ada di dusun Segua, apalagi di daerah tersebut tersedia sumber pakan alami yang mudah didapat dari jerami padi dan kotoran ternak”.

Lebih lanjut Ranti mengatakan, melihat anomali masyarakat yang tinggi terhadap budidaya ikan, maka pada hari ke-3 anggota kelompok Mina Segua melakukan pemijahan ikan mas bersama instruktur dari P2MKP dengan berat 1 ekor Ikan betina 8.6 kg dan 4 ekor jantan diperkirakan bisa menghasilkan larva sekitar kurang lebih 100.000 dan akan menjadi bibit kurang lebih 80.000 ekor ikan. Saat ini kami sedang menunggu hasil dari pemijahan tersebut, ujar Ranti lagi.

Semua rangkaian kegiatan studi banding dan pelatihan pemijahan ikan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berikut Ini Daftar Pemenang Lomba Menggambar Poster Hari Orangutan Internasional 2020 yang Diselenggarakan oleh Yayasan Palung

Foto bersama pemenang lomba menggambar poster Hari Orangutan Internasional 2020 yang diselenggarakan oleh Yayasan Palung

Pada Kegiatan lomba menggambar poster yang dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung tersebut diikuti oleh 15 peserta dari beberapa sekolah tingkat SMA Se-kota Ketapang.

Seperti biasanya Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day) diperingati setiap tanggal 19 Agustus oleh para pelaku konservasi orangutan di seluruh dunia.

Tahun ini, Yayasan Palung menyelenggarakan kegiatan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya yang dikemas dalam Lomba Menggambar Poster Perlindungan Orangutan tingkat SMA Se-kota Ketapang, dengan mengambil tema “Orangutan Sahabat Alam, Lindungi Hak Mereka”.

Lomba Menggambar Poster ini telah dilaksanakan pada14-15 Agustus 2020, penjurian dan pengumuman lomba  pada 18 Agustus 2020, sedangkan hadiahnya diserahkan hari ini, pada 26 Agustus 2020, semua rangkaian kegiatan dilaksanakan bertempat di kantor Yayasan Palung, Ketapang, Kalimantan Barat. Adapun para pemenang  adalah sebagai berikut ;

Juara 1 : Regina Ronauli, asal sekolah dari SMA St. Petrus Ketapang

Juara 2 : Zahra Fajar Putri, asal sekolah dari SMA Negeri 1 Ketapang

Juara 3 : Salsa Bila Pasya, asal sekolah dari SMK Negeri 1 Ketapang

Juara Harapan 1 : Azymah Qur’aniah, asal sekolah MAN 1 Ketapang

Juara Harapan 2 : Mutiara Mulan, asal sekolah SMA Pangudi Luhur St. Yohanes 

Juara Harapan 3 : Evinka Zahra, asal sekolah  SMA Negeri 2 Ketapang

Dalam kata sambutannya, sebelum penyerahan hadiah, Edi Rahman, selaku Direktur Lapangan Yayasan Palung mengucapkan selamat kepada para pemenang lomba menggambar poster orangutan dalam rangka hari orangutan internasional 2020.

Lebih lanjut Edi sapaan akrabnya mengatakan; “Saat ini, orangutan sebagai satwa yang sangat dilindungi dan terancam punah memerlukan perhatian kita semua. Termasuk seperti teman-teman pemenang lomba hari ini memiliki kewajiban untuk peduli dengan lingkungan sekitar dan orangutan. Sesungguhnya banyak cara kampanye yang bisa lakukan untuk peduli dengan lingkungan, seperti misalnya menuliskan pesan ke media sosial dan disampaikan kepada teman dan orang lain, itu artinya juga salah satu cara kita untuk peduli dengan lingkungan sekitar kita.  Orang luar negeri saja peduli dengan orangutan, apa lagi kita orang asli Indonesia harus lebih peduli dengan nasib orangutan. Masa depan lingkungan saat ini juga ada pada adik-adik, jadi sangat berharap sekali, teruslah kalian mengasah kemampuan kalian dibidang menggambar dan sampaikanlah pesan-pesan postif lingkungan untuk menggugah kepedulian kepada semua”.

Penyerahan hadiah kepada para pemenang disampaikan oleh Edi Rahman selaku Direktur Yayasan Palung dan juga oleh Erik Sulidra yang mewakili para juri lomba.

Para pemenang lomba berhak menerima hadiah berupa piala, backpack, Tumbler dan bingkisan alat tulis dari Yayasan Palung. 

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta dan diakhiri dengan berfoto bersama.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak :  https://pontianak.tribunnews.com/2020/08/27/daftar-pemenang-lomba-menggambar-poster-hari-orangutan-internasional-2020-yayasan-palung

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Cerita Singkat tentang Panti Asuhan Kambing

Panti asuhan kambing ini dikelola oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kumbang Mandiri yang ada di Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Foto : Yayasan Palung

Panti asuhan kambing ini dikelola oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kumbang Mandiri yang ada di Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Panti Asuhan Kambing ini terbentuk atas kerjasama kelompok yang berjumlah 15 orang pada tahun 2019.

Atas dasar terbentuknya panti asuhan kambing ini adalah sebagai bentuk (cara) dari masyarakat/kelompok panti asuhan kambing agar kambing tidak bebas berkeliaran di jalan dan bisa ditampung di panti asuhan kambing untuk dipelihara dengan pembagian hasil penjualan dan bagi anak antara kelompok dan pemilik kambing.

Lihat juga informasi serupa di Instagram Yayasan Palung

View this post on Instagram

Cerita Singkat tentang Panti Asuhan Kambing Panti asuhan kambing ini dikelola oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kumbang Mandiri yang ada di Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Panti Asuhan Kambing ini terbentuk atas kerjasama kelompok yang berjumlah 15 orang pada tahun 2019. Atas dasar terbentuknya panti asuhan kambing ini adalah sebagai bentuk (cara) dari masyarakat/kelompok panti asuhan kambing agar kambing tidak bebas berkeliaran di jalan dan bisa ditampung di panti asuhan kambing untuk dipelihara dengan pembagian hasil penjualan dan bagi anak antara kelompok dan pemilik kambing. Selain itu juga, adanya panti asuhan kambing ini sebagai sarana edukasi di desa itu (Desa Pulau Kumbang) bagi pemuda-pemudi agar bisa menjadi contoh bagaimana cara beternak yang baik. Sampai saat ini ada sekitar 47 kambing yang ada di panti asuhan kambing. Dari 47 kambing, kambing tersebut adalah milik KUPS , Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan milik milik masyarakat. Saat ini yang mengelola panti asuhan kambing adalah KUPS yang diketuai oleh bapak Aspar Edi. Sedangkan LPHD Pulau Kumbang yang mengurus panti asuhan kambing adalah Syapirin. Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kumbang Mandiri merupakan binaan Yayasan Palung @yayasan_palung @savewildorangutans dan Perhutanan Sosial. Seperti diketahui, UKM tersebut juga bergerak dalam bidang kerajinan hasil hutan bukan kayu (hhbk) seperti tempurung kelapa, asap cair, dodol kelapa, keripik pisang. Selain kelompok ini memiliki demplot kunyit yang diberi nama Cabe Liak Bawang Kunyit (CLBK). Berharap, panti asuhan kambing ini bisa berkembang dan dapat membantu masyarakat di sekitar hutan. 📸 : @yayasan_palung @savewildorangutans Narasi : Pit @nafas_hidupalamraya @petruskanisiuspit #hutandesa #perhutanansosial #yayasanpalung #YayasanPalung #yayasan_palung #hutan #simpanghilir #pulaukumbang #pantiasuhan #kambing #pantiasuhankambing_kku #lphd

A post shared by Yayasan Palung (YP) (@yayasan_palung) on

Selain itu juga, adanya panti asuhan kambing ini sebagai sarana edukasi di desa itu (Desa Pulau Kumbang) bagi pemuda-pemudi agar bisa menjadi contoh bagaimana cara beternak yang baik.

Sampai saat ini ada sekitar 47 kambing yang ada di panti asuhan kambing. Dari 47 kambing, kambing tersebut adalah milik KUPS , Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan milik milik masyarakat. Saat ini yang mengelola panti asuhan kambing adalah KUPS yang diketuai oleh bapak Aspar Edi. Sedangkan LPHD Pulau Kumbang yang mengurus panti asuhan kambing adalah Syapirin.

Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kumbang Mandiri merupakan binaan Yayasan Palung dan Perhutanan Sosial.

Seperti diketahui, UKM tersebut juga bergerak dalam bidang kerajinan hasil hutan bukan kayu (hhbk) seperti tempurung kelapa, asap cair, dodol kelapa, keripik pisang. Selain kelompok ini memiliki demplot kunyit yang diberi nama Cabe Liak Bawang Kunyit (CLBK).

Berharap, panti asuhan kambing ini bisa menjadi pilihan atau alternatif, dapat berkembang dan dapat membantu masyarakat di sekitar hutan.

Baca juga : https://pontianak.tribunnews.com/2019/06/18/lphd-mencari-penghasilan-alternatif-yang-berkelanjutan-dari-menjaga-hutan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung