Mengenal Kukang, Si Malu-malu yang Kini Nasibnya Terancam Punah

Kukang jenis Nycticebus borneanus . (Foto : Toto/Yayasan Palung).

Kukang pada foto ini merupakan jenis Nycticebus borneanus. Pada mulanya semua penamaan untuk kukang adalah Nycticebus menagensis.

Kukang atau disebut juga dengan nama malu-malu merupakan satwa yang saat ini keberadaannya kini terancam punah di alam liar karena beberapa sebab misalnya karena perburuan, pemiliharaan, dan perdagangan.

Data IUCN pada tahun 2020 menyebutkan, kukang jenis Nycticebus borneanus masuk dalam daftar terancam punah atau Vulnerable (VU).

Tidak hanya terancam punah, tetapi si malu-malu alias kukang juga merupakan satwa yang dilindungi. Berdasarkan Undang-undang no 5 tahun 1990 menyebutkan kukang tidak boleh di buru, tidak boleh di pelihara dan tidak boleh diperjualbelikan (tidak boleh diperdagangkan). Apabila melanggar maka akan dikenakan hukuman penjaara selama 5 tahun dan denda 100 juta.

Kukang  biasanya mendiami hutan dan bergerak sangat lamban. Kukang dikenal memiliki gigitan berbisa.

Melansir dari Kukangku menyebutkan, Bisa kukang cukup berbahaya bagi manusia. Apabila tergigit oleh kukang, manusia bisa mengalami infeksi serius, demam tinggi dan reaksi anafilaksis. Bisa berbahaya pada kukang tersembunyi di bagian ketiaknya. Pada saat kukang melakukan grooming atau membersihkan diri, kukang akan menjilati tubuhnya sehingga bisa dari ketiaknya akan menempel di lidah. Hal tersebut lah yang bisa menginfeksi manusia atau predator kukang lainnya seperti ular, orangutan dan elang.

Primata ini biasanya aktif pada malam hari (hewan nokturnal). Kukang memiliki rata-rata ukuran tubuh 20-30 centimeter.

Kukang ternyata dapat menularkan penyakit kepada manusia. Penyakit tersebut adalah cacingan. Hal ini bisa saja terjadi ketika kita kontak langsung dengan kukang (memilihara/memegang kukang). Penularan dapat melalui telur yang tertelan atau pun terhirup langsung oleh manusia.

Setidaknya ada 4 jenis kukang di Indonesia yaitu Nycticebus menagensis, Nycticebus bancanus, Nycticebus borneanus dan  Nycticebus kayan.

Berikut taksonomi kukang

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Primates

Famili :  Lorisidae

Genus : Nycticebus

Beberapa waktu lalu, Toto (@alongtoto_cp), asisten peneliti di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (@btn_gn_palung ) berhasil mengabadikan Video menarik tentang “Nycticebus borneanus (Kukang)”.

Lihat video di Istagram Yayasan Palung

Video kukang ini merupakan primata yang sebelumnya pernah dimainkan (bermain) dengan orangutan betina dewasa bernama bibi di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung.

Sumber tulisan : Diolah dari berbagai sumber

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

RK-TAJAM Adakan Diskusi Online Lintas Organisasi Memperingati Hari Ozon

Peserta yang mengikuti diskusi online lintas organisasi (bersama organisasi atau komunitas yang ada di Tanah Kayong) yang diselenggarakan oleh RK-TAJAM melalui google meet. (Foto : Haning Pertiwi/Yayasan Palung).

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) mengadakan diskusi online lintas organisasi (bersama organisasi atau komunitas yang ada di Tanah Kayong) untuk bergerak bersama-sama menyadarkan masyarakat tentang pentingnya gaya hidup ramah ozon dengan mengangkat tema “OZON FOR LIFE (ozon untuk kehidupan)” melalui google meet, Senin (13/9/2021) kemarin.

Adapun organisasi yang diundang yaitu; Relawan Konservasi untuk Bentangor (REBONK), Impact Circle School, KAMIPALA dan KPK Kayong.

Forum diskusi online ini juga dibuat untuk menyatukan pendapat dengan organisasi lainnya dan mencari solusi tentang permasalahan lapisan ozon.

 Kegiatan dimulai dengan pembukaan dari moderator Rahn Siti Aqila Azzahra dan disambung dengan pertanyaan dari moderator kepada pemantik diskusi Mariamah Ahcmad (praktisi lingkungan) dengan pertanyaan, untuk apa hari ozon diperingati? Mayi sapaan akrab menjawab, mempertingati hari ozon sama saja dengan memperingati hari lainnya, yaitu pasti dengan tujuan tertentu seperti hari ozon diperingati karena untuk mengajak masyarakat akan tahu pentingnya lapisan ozon yang semakin menipis akibat pola hidup mereka.

Sleain Mayi ada juga vanesa sebagai pemantik kedua yang berbagi membandingkan gaya hidup kita yang sekarang dengan negara yang lebih maju salah satunya Jerman, kebetulan  Vanessa salah satu pemantik yang pernah tinggal di Jerman.

Vanessa menjelaskan untuk program di Jerman pemerintah dan masyarakat di sana mengikuti gaya hidup ramah lingkungan seperti penggunaan panel surya dan juga Jerman sebagai negara maju ingin membantu pemerintah Indonesia mencapai target pengurangan emisi GRK.

Lebih lanjut menurut Vanessa, Jerman telah sepakat berkerja sama untuk mendukung upaya Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan, kerja sama ini dilaksanakan dalam DA-REDD+ program Forest and Climate Change programme (FORCLIME) disambut kata terima kasih dari moderator atas jawaban Vanessa.

Diskusi pun berlanjut dari para pemantik hingga peserta saling bertukar pendapat tentang isu permasalahan lapisan ozon salah satu pendapat dari perwakilan organisasi yaitu Chandra Kurniawan dari Impact Circle School mengatakan, dari pola hidup saja kita itu susah untuk menjadi ramah lingkungan karena saat organisasi maupun kelompok masyarakat lainnya di Indonesia itu masih menggunakan air minum gelas plastik dan itu sama sekali bukan salah satu gaya hidup ramah lingkungan.

Dan diskusi pun terus berjalan sehingga sampailah pada tahap diskusi  tentang kolaborasi kegiatan untuk memperingati hari ozon, diskusian tersebut dibuka oleh ketua RK-Tajam Evinka.

Mayi menyarankan, kegiatan bersepeda bagus untuk kampanye  tentang hidup gaya hidup ramah lingkungan dan sekaligus pengurangan emisi.

Chandra juga menyambut baik saran dari mayi, Wah boleh tuh, soalnya kemarin Impact juga ngadain sepedaan di jembatan kuning sambil melakukan pemungutan sampah dan itu juga akan memberikan dampak besar pada masyarakat. Selanjutnya moderator menanyakan lagi pada peserta, adakah ide lain? Agun dari organisasi REBONK berpendapat, Bagaimana jika kita melakukan penanaman bibit saja. Chandra pun mengatakan, wah boleh juga nih ditambah dengan kampanye penghapusan jejak online karena itu salah satu penyebab penipisan lapisan ozon.

 Evinka Zahra berpendapat, Ide bagus nih temen-temen, jadi dari diskusi yang saya dengar kita mendapat beberapa list nih, salah satunya kampanye online twibbon penghapusan jejak digital, kampanye offline, orasi, pembagian bibit, pesan kampanye, dan nobar untuk menambah wawasan nah jadi itu semua list kegiatan yang akan kita lakukan dari pendapat teman-teman, teman-teman ada yang mau nambahkan saran gak nih teman-teman, nah kalau tidak ada kegiatan diskusi ini akan kita tutup sampai disini.

Penulis : Evinka Zahra (Ketua RK-TAJAM periode 2021-2022)

Editor : Pit & Haning – Yayasan Palung

Adakan Workshop Guru, Ajak Guru Peduli Lingkungan Berbasis Potensi Lokal

kegiatan workshop guru yang diadakan oleh Yayasan Palung di SDN 12 Delta Pawan, Kecamatan Delta Pawan, Ketapang, pada Rabu-Kamis (8-9/9/2021) kemarin. (Foto : Simon Tampubolon/Yayasan Palung)

Selama kegiatan berlangsung, peserta terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan workshop guru yang diadakan oleh Yayasan Palung di SDN 12 Delta Pawan, Kecamatan Delta Pawan, Ketapang, pada Rabu-Kamis (8-9/9/2021) kemarin.

Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Dwi Yandhi Febriyanti, mengatakan, Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru dalam pembelajaran pendidikan lingkungan yang berbasis pada potensi lokal.

Pada hari pertama kegiatan, Rabu (8/9/2021) kegiatan diawali dengan acara pembukaan yang dibuka langsung oleh Korwilcam Delta Pawan, Syahrifudin yang didampingi oleh kepala sekolah SDN 12 Delta Pawan, Sunli.

Dalam kata sambutannya, kepala SDN 12 mengatakan, tahun ini merupakan tahun kedua Yayasan Palung memberikan pelatihan guru di Sekolahnya. Lebih lanjut menurutnya, kegiatan ini sangat baik sekali bagi guru-guru yang ada di sekolahnya, ia pun sembari berharap semoga dengan adanya pelatihan ini para guru juga bisa mentransfernya kepada siswa-siswi di sekolahnya untuk selalu peduli dengan lingkungan hidup yang kiranya boleh dipraktekan juga di lingkup terkecil seperti di rumah dan di sekolah.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan materi tentang Konservasi Flora dan Fauna Indonesia yang disampaikan oleh Dwi Yandhi Febriyanti.

Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Dwi Yandhi Febriyanti saat menyampaikan materi tentang Konservasi Flora dan Fauna Indonesia. (Foto : Pit/Yayasan Palung).

Pada materi tentang konservasi Flora dan Fauna Indonesia menjelaskan sekaligus mengajak peserta workshop untuk mengenal flora dan fauna yang dilindungi di Indonesia. Selain itu, Yandhi sapaan akrabnya mengajak guru-guru untuk berperilaku yang mengacu kepada konservasi. Yandhi juga mengenalkan flora dan fauna yang masuk dalam status konservasi. Kita boleh memanfaatkan tetapi biarkan tetap lestari (memanfaatkan sumber daya alam secara lestari dan bijaksana), kata Yandhi.

Selanjutnya, materi kedua dalam kegiatan itu dilanjutkan dengan materi tentang Praktek Keanekaragaman Hayati yang disampaikan oleh Haning Pertiwi. Tak hanya materi, tetapi juga melakukan praktek pengenalan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar sekolah. Peserta satu persatu melakukan pengamatan di lingkungan sekolah dengan dibagi menjadi 5 kelompok. Beberapa peserta menemukan beberapa keanekaragaman hayati di sekitar sekolah seperti ragam jenis bunga dan tanaman obat-obatan (toga).

Materi tentang Praktek Keanekaragaman Hayati yang disampaikan oleh Haning Pertiwi. (Foto : Pit/Yayasan Palung)

Pada hari kedua, Kamis (9/9/2021) kegiatan workshop guru dilajutkan dengan materi tentang Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang dibawakan oleh Riduwan dari Yayasan Palung. Pada meteri yang disampaikan, Riduwan mengajak guru-guru untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan seperti hemat energi, peduli terhadap sampah dan diet kantong plastik.

Riduwan saat menyampaikan materi tentang Gaya Hidup Ramah Lingkungan. (Foto : Pit/Yayasan Palung).

Pada materi terakhir, peserta diajak untuk Membuat PSB (Photosintesis Bacteria) yang merupakan cara membuat pupuk organik yang disampaikan oleh Simon Tampubolon. Peserta diajak untuk praktek membuat pupuk organik dengan bahan utama seperti telur, micin/msg dan air putih yang dicampurkan menjadi satu.  

PSB merupakan bakteri yang mampu melakukan fotosintesis sendiri, dapat mengubah bahan organik menjadi asam amino/bioaktif dengan dengan bantuan sinar matahari.

Simon Tampubolon saat menyampaikan materi dan praktek tentang PSB (Photosintesis Bacteria). Foto : Pit/Yayasan Palung.

Cara Membuat PSB :

  • Campurkan telur dan micin, kocok hingga tercampur rata
  • Masukkan 3 sendok makan campuran bahan ke dalam botol mineral 1500 ml
  • Isi botol mineral dengan air bersih (air sumur, air kolam)
  • Jemur dibawah matahari langsung hingga berwarna kemerahan (dikocok sekali sehari)

Manfaat PSB untuk Tanaman :

  • Membantu menambahkan nitrogen ke tanaman
  • Mempercepat pertumbuhan tanaman
  • Meningkatkan pertumbuhan akar, batang dan daun tanaman
  • Memperkuat tanaman dari serangan  hama dan penyakit

Adapun sebagai peserta dalam workshop adalah 32 guru dari SDN 12 Delta Pawan, Kecamatan Delta Pawan, Ketapang.

Saat praktek PSB (Photosintesis Bacteria). Foto : Pit/Yayasan Palung.

Kita sedang menghadapi menurunnya daya dukung lingkungan hidup dan perubahan iklim beserta akibat dan dampaknya. Dimana hal itu terjadi dikarenakan berkurangnya luasan hutan, tercemarnya perairan baik laut maupun sungai, sampah makin mengerikan, kepunahan spesies, dan lain-lain, kata Yandhi.

Lebih lanjut Yandi menambahkan, “Bumi perlu pemulihan yang radikal, baik oleh manusia yang mendiaminya maupun oleh dirinya sendiri. Namun manusia sangat berperan besar, karena dua sisi peran yang dimilikinya yaitu sebagai penjaga atau perusak. Pendidikan dalam bentuk apapun termasuklah pendidikan lingkungan amat berperan dalam pembentukan cara berpikir dan perilaku manusia baik terhadap sesama manusia, mahluk hidup lainnya maupun dengan alam.

Foto-foto kegiatan workshop guru di SDN 12 Delta Pawan Ketapang

Ada 4 pilar belajar yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk melakukan (learning to do), belajar untuk bertoleransi (learning to live together), dan belajar untuk menjadi/terus berubah (learning to be). Hal tersebut seperti tahapan hasil belajar, menurut Mezirow (1978) Hasil Pembelajaran adalah knowledge (pengetahuan), attitude (perilaku), skills (keterampilan), dan behaviour (tindakan sehari-hari/kebiasaan bertindak). Bagaimana mewujudkan pendidikan yang dapat memberikan hasil pembelajaran yang demikian? Jawabannya bisa jadi tidak hanya satu, tetapi sudah pasti salah satunya itu adalah peningkatan kapasitas terus menerus seluruh warga belajar dalam hal pendidikan formal, yaitu guru dan siswa,” jelasnya.

Semua rangkaian kegiatan Workshop guru yang diadakan selama dua hari tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta yang hadir.

Sebelumnya tulisan ini dimuat di Pontianak Post : https://pontianakpost.co.id/ajak-guru-peduli-lingkungan-berbasis-potensi-lokal

Dimuat juga di : https://ruai.tv/ketapang/32-guru-di-delta-pawan-tambah-pengetahuan-lingkungan/

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pelantikan Pengurus RK-TAJAM Periode 2021-2022

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) mengadakan pelantikan ketua dan kepengurusan RK-TAJAM periode 2021-2022 di kantor Yayasan Palung, Sabtu (4/9/2021).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh anggota RK-TAJAM angkatan 4 , 3 , 9 dan staf dari Yayasan Palung, kegiatan dimulai pukul 15.30-21.00 Wib tersebut diawali dengan pelantikan pengurus dengan secara simbolis menyerahkan pin RK-TAJAM oleh Siti Aisyah ketua RK-TAJAM angkatan 9 kepada Evinka Zahra sebagai ketua RK-TAJAM periode 2021-2022.

Serah terima jabatan dari ketua RK-TAJAM yang lama ( Siti Aisyah ) ke RK-TAJAM yang baru ( Evinka Zahra ). Foto dok : Evinka/RK-TAJAM/YP).

Pada puncak acara Evinka Zahra selaku ketua RK-TAJAM yang baru menjelaskan tentang Visi dan Misinya selama menjabat serta pembagian pengurus RK-TAJAM periode 2021-2022 .

Adapun pengurus RK-TAJAM periode 2021-2022 adalah sebagai berikut;

Evinka Zahra (Ketua RK-TAJAM)


Raihan Fathoni (Sekertaris)


Yuni Ramadani (Bendahara)


Rhn Siti Aqila P. (Koor. Program)


M Rico R.P (Koor. Invetaris)


Fahmi (Humas online)


Alan Reja F. (Humas offline)


Iqbal Aryanto (Koor. Pengembangan SDM)


Acara tersebut berjalan dengan lancar dan meriah, salah satu acara favorit dari berbagai rangkaian acara yaitu nobar (nonton bareng) tentang permasalahan lingkungan dari film “Tenggelam dalam Diam” Watchdoc dokumentary.

Lihat di : https://www.youtube.com/watch?v=v6hp3i2ydrI

Seperti terlihat, beberapa dari peserta sangat serius dan menyimak film yang diputarkan tersebut.


Pada akhir kegiatan dilanjutkan dengan diskusi permasalahan lingkungan yang dipimpinan oleh Pembian RK-TAJAM dimana peserta mengeluarkan pendapat dari film yang di tonton.

Suasana ketika pelantikan penurus baru RK-TAJAM yang baru. (Foto : Sola/Okta/RK-TAJAM/YP).


Evinka Zahra selaku ketua RK-TAJAM yang baru berpendapat, dengan menonton film tersebut bahwa penyebab banjir bukan hanya sampah plastik yang dibuang ke sungai, tetapi juga disebabkan oleh pemanasan global. Penyebab pemanasan global ini biasanya diakibatkan oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar dengan fasilitas yang memadai hal ini menyebabkan permukaan air laut naik ke darat dan terjadi abrasi yang berdampak pada kehidupan dan mata pencaharian masyarakat kecil di sekitar pantai.

lihat juga : https://www.instagram.com/p/CTgnTEBl_TX/

Ada pun maksud dengan diadakan pemutaran film tersebut diantaranya adalah untuk; meningkatkan kesadaran permasalahan lingkungan, berfikir kritis terhadap permasalahan yang dihadapi, selain itu juga untuk meningkatkan aksi dan rencana solusi permasalahan lingkungan. Pada akhir acara di akhiri dengan salam penutup dari Pembina RK-TAJAM.

Penulis : Fahmi – RK-TAJAM angkatan 10

Editor : Pit & Yandhi

(Yayasan Palung)

Ini Nama-nama Pemenang Lomba Menulis dan Membaca Puisi

(Nama-nama Pemenang Selamat kepada para pemenang Lomba Menulis dan Membaca Puisi Dalam Rangka Hari Konservasi Alam Nasional 2021. Foto : Pit/Yayasan Palung).

Selamat kepada para pemenang Lomba Menulis dan Membaca Puisi Dalam Rangka Hari Konservasi Alam Nasional 2021 dengan Tema: “Kecintaan Pada Alam dan Budaya Kalimantan Barat” yang diselenggarakan oleh Yayasan Palung.

Berikut ini nama-nama pemenangnya :

Pemenang Pertama : Iqbal (@iqbalarrynto )

Pemenang Kedua : Raisa (@rrraishaaa )

Pemenang Ketiga : Fahmi (@fahmi.s.u )

Favorit Pertama : Agun (@agun_prayoga4766 )

Favorit Kedua : Sela ( @sella_sesee )

Terima kasih sudah berpartisipasi dalam lomba ini. Selalu semangat untuk berkreasi. Salam budaya dan salam lestari!!!.

(Yayasan Palung)

Berikut Ini Nama-nama Pemenang Lomba Komik Digital

Lomba komik. (Foto : Haning Pertiwi/Yayasan Palung)

Selamat Kepada Selamat kepada para pemenang Lomba Komik Digital Dalam Rangka Hari Orangutan Internasional 2021 dengan tema: “RESTORASI HABITAT: Melestarikan Orangutan, Merawat Peradaban” yang diselenggarakan oleh Yayasan Palung.

Juara pertama dakiddo69

Juara Kedua fahmi .s.u

Juara Ketiga zahra_f_p_k

Terima kasih sudah ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Selalu semangat untuk berkreasi. Salam Lestari!!.

#RestorasiHabitat #IOD2021 #YayasanPalung #HariOrangutanInternasional

(Yayasan Palung)

Memanfaatkan Lahan Tidur, Tanam Sayur Organik dengan Sistem Merandep

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk bercocok tanam (bertani), seperti misalnya Kelompok Rintis Betunas memanfaatkan lahan tidur untuk menanam ragam sayur organik dengan sistem merandep.

Salmah, selaku staff Program Suistainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung, mengatakan, Kelompok Rintis Betunas bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan tidur untuk menanam ragam sayur organik.

Menariknya kelompok tani Rintis Betunas masih memegang budaya gotong royong yang masyarakat setempat sebut sistem merandep (Gotong royong bergantian) dilahan anggota kelompok Rintis Betunas, sistem yang mereka lakukan seperti ini agar pekerjaan lebih mudah dan ringan, menjaga keakraban sesama kelompok, cepat selesai dan secara tidak langsung tetap menjaga budaya gotong royong agar tidak hilang, kata Salmah.

Kelompok tani  menanam ragam sayur organik di beberapa lahan, tidak hanya di  lahan tidur,  mereka juga memanfaatkan lahan mereka yang mereka biasa bertani dan membuka lahan baru.

Ada pun bibit yang mereka tanam antara lain seperti ; bibit timun, terong hijau, terong ungu, labu, cabe dan kacang panjang.

Kelompok tani memulai bercocok sejak bulan Juli lalu, beberapa tanaman diantaranya sudah  tumbuh, seperti tanaman timun misalnya.

Seperti diketahui, Kelompok Tani Rintis Betunas yang berlokasi di Pal 5, Desa Riam Berasap Jaya, Kabupaten Kayong Utara merupakan kelompok binaan Program Suistainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung.

Kelompok tani Rintis Betunas dibentuk pada bulan Oktober tahun lalu, mereka beranggotakan 10 orang.

Tulisan ini dimuat di ruai.tv : https://ruai.tv/kayong-utara/manfatkan-lahan-tidur-poktan-ini-tanam-sayur-organik/

Penulis : Pit

Editor : Yandhi

(Yayasan Palung)

Ini Alasan Mengapa Orangutan Disebut Sebagai Petani Hutan?

Orangutan si Petani hutan. (Foto : Erik Sulidra).

Tidak sedikit orang mengakui orangutan sebagai petani hutan karena perannya yang besar dalam hal melakukan konservasi hutan.

Mengapa demikian? Orangutan dikenal sebagai si petani hutan karena perannya selalu menyemai hingga tumbuhnya tajuk-tajuk pepohonan sebagai keberlanjutan semua nafas kehidupan, tidak terkecuali kita manusia.

Orangutan dikatakan sebagai petani hutan karena tanpa lelah dan tidak pamrih, setiap hari ia selalu menyemai biji-bijian yang nanti disebut tajuk-tajuk pohon (pohon-pohon baru). Tidak bisa disangkal pula orangutan dan hutan sebagai nafas semua makhluk.

Tidak hanya orangutan, ada pula burung enggang atau rangkong. Si Petani hutan (enggang dan orangutan) ternyata berperan penting untuk meregenerasi (membangun kembali) hutan. Dengan kata lain orangutan dan burung enggang memainkan peran penting dalam menyediakan jasa ekosistem bagi hutan dan bentang alam kita.

Beberapa buah-buah hutan yang menjadi makanan favorit orangutan antara lain buah jantak (Whillughbeia), asam kandis (Garcinia), buah ara/jejawi (Ficus), buah kuning (Artocarpus), Kelembayau (Dacryodes), buah keranji (Dialium), buah mempisang (Polyalthia), durian burung (Durio exleyanus) buah dan daun rengas (Gluta renghas), Buah sempal hidung (Microcos).

Ada pula buah perut kelik (Alangium sp.), buah teratong (Durio oxleyanus), buah kapol (Baccaurea macrocarpo),buah tampui (Baccaurea edulis), ubah (Syzygium), mahang (Macaranga sp.) buah kembang semangkok (Scaphium sp.), buah menteng (Baccaurea maingayi).

Selain buah, ada juga kulit kayu, daun muda dan rayap yang menjadi makanan kesukaan orangutan.

Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa); orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari: 60% terdiri dari buah, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap).

Buah-buahan hutan yang menjadi makanan orangutan. (Foto Ishma Yayasan Palung).

Buah-buah dari sisa makanan yang dimakan orangutan tersebutlah yang selanjutnya tumbuh menjadi tajuk-tajuk pepohonan. Singkatnya, orangutan merupakan si petani hutan yang bisa menabur, menyebar dan menyemai benih kembali atau merestorasi (memulihkan kembali hutan).

Kehadiran si petani hutan berfungsi untuk meregenarasi hutan juga sebagai penyeimbang ekosistem sekaligus pula sebagai spesies payung (Apabila mereka hilang maka akan berpengaruh/berdampak pula bagi bagi makhluk lainnya) termasuk kita manusia.

Hadirnya si petani sedikit banyak memberikan arti akan pentingnya mereka (orangutan dan hutan) untuk terus ada. Peran dan fungsi dari petani hutan tak mungkin mampu kita ikuti atau kita samakan. Kesetiaan si petani hutan dalam melakukan koservasi hutan tidak diragukan lagi. Saban waktu mereka menyemai.

Melestarikan orangutan berarti menyelamatkan hutan dan semua nafas kehidupan hingga nanti. Jangan biarkan mereka punah, biarkan mereka lestari dengan kebijaksanaan kita.

Hutan perlu orangutan agar ia bisa selalu tegak berdiri. Orangutan perlu hutan untuk terus berkembang biak dan berlanjut.

Mengingat, tidak sedikit fungsi hutan yang sangat bermanfaat bagi semua makhluk hidup. Bukankah, hutan, orangutan dan manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Lestarinya hutan dan orangutan berarti memberi harapan bagi makhluk lainnya pula untuk terus berlanjut hingga nanti.

Sebagai pengingat, apabila hutan dan orangutan si petani hutan itu tetap terjaga maka masih ada asa dari semua makhluk untuk terus harmoni.

Secercah harapan agar kiranya si petani hutan boleh berlanjut dengan semua nada dengan kebijaksanaan semua kita manusia. Dengan demikian, semua boleh harmoni hingga selamanya dan si petani hutan tetap boleh menabur, menyebar dan menyemai benih hingga mereka pun merdeka, lestari selamanya.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/611f635d0101907a671fe292/mengapa-orangutan-disebut-sebagai-petani-hutan 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mengapa Orangutan Perlu Diselamatkan?

Selamat Hari Orangutan Sedunia (World Orangutan Day) 2021. (Foto dok : Haning).

Orangutan merupakan salah satu kera besar yang ada di Asia, lebih khusus di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sayangnya, orangutan yang merupakan satwa endemik saat ini sangat terancam punah keberadaannya di habitat hidupnya.

Keberadaan Orangutan Kalimantan dan Orangutan Sumatera adalah salah satu kebanggaan Indonesia.

Kebanggaan tersebut tidak lain karena orangutan menjadi simbol (tanda) bahwa keberadaan hutan memiliki keunikan dan kelengkapan keanekaragaman hayati yang melimpah. Namun, sayangnya saat ini keberadaan hutan tersebut mengalami penurunan drastis (deforestasi) akibat pembukaan lahan yang masif.

Orangutan dan orang rimba (orang yang hidup tinggal di hutan/orang kampung/masyarakat adat; mereka yang tidak terpisahkan dari hutan, hutan sebagai sumber hidup dan mereka adalah penjaga sejati hutan) memiliki peran atau berperan besar sebagai penyebar dan penanam tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi, saat ini orangutan dan orang rimba yang tinggal di sekitar hutan mulai terhimpit di habitat hidup mereka, salah satunya karena kalah bersaing dan mengorbankan jutaan hektar hutan. Hal ini tidak jarang membuat makhluk hidup lain juga terancam.

Hutan sebagai sumber kehidupan, demikian dikatakan. Orangutan sebagai spesies payung dan petani hutan, sedangkan manusia (masyarakat di sekitar hutan) sebagai penjaga yang semestinya pula untuk diperhatikan.

Dari tahun ke tahun keadaan orangutan sangat memprihatinkan keberadaannya di habitat hidupnya. Selain semakin sulitnya mereka untuk berkembang biak, juga keberadaan mereka yang tersisa berada dalam ancaman nyata sehingga kini orangutan menjadi satwa yang sangat terancam punah.

Berharap, orangutan dan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan bisa berharmoni dan lestari hingga nanti.

Selamat Hari Orangutan Sedunia (World Orangutan Day) 2021.

Penulis : Pit

Editor : Yandhi

(Yayasan Palung)

Mengapa Kita Perlu Melakukan Konservasi

Keterangan Foto : Tipe habitat hutan dataran rendah Aluvial, dimana terdapat banyak ditumbuhi tumbuhan Dipterocarpaceae di Taman Nasional Gunung Palung. (Foto : Wahyu Susanto, Yayasan Palung/GPOCP).

Saat ini sebagian besar masyarakat dunia menggaungkan tentang apa yang disebut dengan konservasi. Apa itu konservasi dan mengapa kita perlu melakukan konservasi?

Secara umum konservasi merupakan pelestarian, perlindungan dan pemanfaatan terhadap sumber daya alam yang berkelanjutan serta lestari.

Sebuah pertanyaan mengapa kita perlu melakukan konservasi? Satu jawaban yang pasti karena Sumber Daya Alam (SDA) kita saat ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan dengan tindakan pelestarian, perlindungan dan dengan pemanfaatan secara bijaksana.

Beberapa alasan mengapa kita perlu melakukan konservasi diantaranya adalah;

Pertama, keadaan lingkungan kita saat ini menjadi penentu. Dengan kata lain apabila kita melakukan konservasi berarti ada harapan keharmonisan kita bersama flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) boleh berlanjut hingga nanti. Tentu kita masih ingat keberlanjutan dari nafas hidup tumbuhan dan satwa menjadi sangat penting untuk terus dilakukan. Mengingat, beberapa alasan pula semua makhluk, tidak terkecuali manusia saat ini memerlukan tangan-tangan yang peduli jika semua boleh harmoni dan lestari.

Kedua, Hewan yang mendiami hutan memerlukan ruang untuk berkembang biak. Ruang berarti hutan yang masih baik. Semisal, orangutan memerlukan kurang lebih 1 kilometer daya jelajah hariannya. Bagaimana jika ruang berupa hutan itu semakin sedikit? Jawabannya sedapat mungkin hutan masih boleh tersisa dan tersedia, dengan demikian orangutan masih bisa berkembang biak dan berlanjut dengan syarat ada ada asa untuk melakukan reboisasi atau menjaga hutan yang masih ada.

Ketiga, konservasi setidaknya menjadi sebuah harapan bagi kita semua agar tumbuhan dan hewan (satwa) boleh berlanjut hingga nanti. Kita manusia butuh hutan walau sebetulnya hutan tidak butuh kita.  

Tetapi jika kita butuh hutan maka kita berhak untuk menjaga, merawat, melestarikannya.

Selanjutnya, hutan sebagai ibu dari kita karena ia memilihara dan menjaga kita. Sebagai ibu, hutan sudah selayaknya juga kita jaga dan rawat. Sebab, hutan tanpa pamrih memberi kita manfaat yang tidak terhingga sepanjang waktu.

Dengan demikian pula, hutan yang kita jaga dan lestarikan adalah nafas hidup bagi semua. Apabila luasan tutupan hutan terjaga maka semua nafas hidup termasuk kita manusia dan hutan bisa terus berlanjut. Tidak hanya itu, jika semua terjaga maka akan tercipta keharmonisan antara kita dan alam semesta.

Berharap antara kita dan konservasi tidak hanya selogan semata, tapi tindakan nyata yang mampu menjadi contoh bagi siapa saja dengan memulai hal-hal kecil dari diri kita masing-masing pula lingkungan yang terkecil misalnya menanam, menjaga, memilihara tanaman di lingkungan rumah tangga kita.

Bukankah, apabila kita menjaga alam lingkungan kita maka ia (alam lingkungan) pun akan terus menjadi sahabat dan memberi kita dengan tanpa paksa. Semoga saja kita boleh kiranya mulai saat ini dengan tanpa terpaksa (tulus) menanam, menjaga dan merawat yang tersisa.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/611244c401019020ec5a6ff3/kita-dan-konservasi

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)