Berjumpa dengan Anak Orangutan di Hutan Desa Nipah Kuning

Tim Smart Patrol sangat beruntung sekali karena bisa berjumpa dengan anak orangutan di Wilayah Hutan Desa Nipah Kuning, Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara, pada awal bulan Oktober ini.

Perjumpaan dengan anak orangutan tersebut ketika tim smart patrol dari Program Hutan Desa Yayasan Palung (YP) bersama dengan Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) melakukan smart patrol di Wilayah Hutan Desa Nipah Kuning, kata Supianto selaku anggota LDPHD Hutan Bersama Nipah Kuning.

Awalnya, kami melihat dari kejauhan, ibu dan anak orangutan sedang sama-sama memanjat. Tak lama kemudian, anak orangutan tersebut terjatuh dari pohon dan terlihat tercelup (tercebur) ke air gambut, kata Supianto yang saat itu bersama rekan-rekan patroli, salah satunya Sarkawi.

Selanjutnya, mereka berdua (Supianto dan Sarkawi) berinisiatif untuk menyelamatkan anak orangutan itu dan melepas liarkannya kembali.

Hendri Gunawan, Kordinator Program Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, terkait anak orangutan yang diketahui berjenis kelamin jantan tersebut diperkirakan sedang tahap belajar belimbar (memanjat pohon).

Lokasi perjumpaan dengan orangutan di wilayah Hutan Desa Nipah Kuning. (Foto : Yayasan Palung).

Lebih lanjut kata Hendri sapaan akrabnya mengatakan, Seperti diketahui, Hutan desa Nipah Kuning merupakan habitat orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang memiliki luasan 2.051 ha sejak penetapan SK KemenKLHK tahun 2017 silam. Berbagai upaya perlindungan dan penyelamatan habibat terus dilakukan salah satunya dengan program smart patrol yang dilaksanakan selama 7 hari setiap bulannya.

Ketika mereka melakukan smart patrol mereka juga berjumpa dengan sarang orangutan kelas A di blok D 36. Ada dua sarang orangutan yang mereka jumpai saat mereka melakukan smart patrol tersebut, kata Supianto.

Smart Patrol (patroli pintar) menggunakan alat namanya smart. Pada patroli tersebut mereka lakukan selama 1 minggu.

Pengelolaan Hutan Desa dilakukan oleh Yayasan Palung bekerjasama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH Wil Kayong) dan Lembaga Desa Pengelola Hutan desa (LDPHD). Setiap berkegiatan di wilayah hutan desa YP, KPH Kayong dan LDPHD selalu berkordinasi.  

Tulisan ini dimuat juga di kompasiana

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Kegiatan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Tumbang Titi

Kegiatan ekspedisi Pendidikan Lingkungan (PL) Yayasan Palung dilaksanakan oleh Tim PL YP di Tumbang Titi. Kegiatan ini dilakukan selama 5 hari (tanggal 26-30 September 2022).

Beberapa sekolah yang kami kunjungi dalam rangka ekspedisi Pendidikan Lingkungan tersebut antara lain adalah ; SMAN 1 Tumbang Titi, SMPN 1 Tumbang Titi, SDN 1 Tumbang Titi, SDN 3 Tumbang Titi, MI Al-Amin dan SMP Pangudi Luhur Tumbang Titi.

Pada ekspedisi Pendidikan Lingkungan tersebut, Yayasan Palung berkesempatan memberikan sosialisasi tentang satwa yang dilindungi.

Di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) kami memberikan materi lingkungan berupa lecture (ceramah lingkungan).

Sedangkan di tingkat Sekolah Dasar (SD) kami memberikan materi sosialisasi lewat puppet show (pertunjukan boneka) dan melalui cerita Si Pongo dan Kawan-kawan yang didengarkan kepada anak-anak di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang kami kunjungi saat kami melakukan Ekspedisi.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Camat Tumbang Titi, KORWILCAM Tumbang Titi, Kepala Desa Tumbang Titi dan kepada Sekolah-sekolah yang kami kunjungi selama kami saat melakukan kegiatan ekspedisi PL YP.

Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah.

Narasi : Pit @petruskanisiuspit
Video Editor : Riduwan @mas_duwan20
Yayasan Palung @savewildorangutans

#ekspedisipendidikanlingkungan#lecture#puppetshow#orangutan#sekolah#pendidikan#pendidikanlingkungan#yayasanpalung#tumbangtiti#ketapang#kalbar#indonesia

Ekstrakurikuler Praktik Pembuatan Kompos dan MOL di SMAN 03 Simpang Hilir

Video praktik pembuatan pupuk kompos dan MOL. (Video dok : Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Sispala GREPALA (Gerakan Remaja Pecinta Alam) di SMAN 03 Simpang Hilir, Kayong Utara berkesempatan mendapatkan Ilmu baru berupa kegiatan ekstrakurikuler dengan kegiatan praktik pembuatan kompos dan MOL (Mikro Organisme Lokal)/Pupuk Cair.  Kegiatan tersebut dilaksankan, pada Sabtu (1/10/2022).

Sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Asbandi, dari program Sustainable Livelihood (Program mata pencaharian berkelanjutan) Yayasan Palung (YP) bersama dengan Ishak dari Kelompok Petani Meteor Garden binaan YP berkesempatan memberikan materi dan praktek pembuatan pupuk kompos dan juga MOL.

Seperti diketahui, Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan dan SMAN 03 Simpang Hilir memiliki kerjasama dibidang pendidikan lingkungan.

Pupuk kompos  dan MOL yang mereka buat tersebut nantinya akan mereka gunakan untuk demplot pertanian Sekolah.

Video Dok : Simon Tampubolon

Narasi : Pit

(Yayasan Palung)

Anak-anak Sudah Bebas Menggunakan Gawai hingga Membuat Cemas

Keterangan gambar: Terkadang kita ataupun anak-anak enggan lepas dari gawai (telepon pintar). Foto : Istimewa/iprice.co.id

Informasi dan komunikasi dengan menggunakan media gawai itu penting. Tetapi, jangan sampai gadget yang menguasai kita hingga kita lupa bahwa yang punya hak untuk mengatur gawai (gadget) adalah kita. Tidak hanya itu, anak-anak pun sudah semakin bebas hingga membuat cemas.

Tulisan ini hadir sebagai keprihatinan saya terhadap anak-anak yang menggunakan gawai hingga membuat cemas.

 Apa benar ya, jaman sekarang ada yang bilang jika tidak memiliki gedget yang canggih nggak gaul, deh…  Gawai canggih dan terbaru menjadi godaan yang selalu ditawarkan disetiap arus informasi ataupun iklan yang ada. Bahkan, tidak sedikit  pula saat ini yang mengatakan, orang kebanyakan enggan  melepaskan gawai dalam genggaman. Ada juga yang bilang, dengan gadget selain bisa gaul juga keren. Anggapan lain juga muncul, gawai acap kali mempengaruhi sekaligus mengatur kita. Pada hal kitalah yang berhak untuk mengatur gawai.

Dari pagi setelah bangun tidur, hampir dipasikan setiap orang yang memiliki gadget disibukan untuk membuka gadgetnya untuk membalas atau mengirim pesan dan lain-lain. Menyampaikan selamat pagi kepada orang-orang terdekat hingga urusan pekerjaan dan lain sebagainya. Bagi anak muda (putra-putri, menjelang dewasa)  juga menggunakan gadget sebagai selfi bangun tidur, pamer muka cantik ataupun ganteng. Celakanya selfi-selfi itu ada diantaranya yang tidak selayaknya dipamerkan dan menampilkan foto-foto yang tidak sewajarnya untuk ditampilkan kepada khalayak di media sosial.

Semakin menjamur dan murahnya harga gawai membuat setiap orang hampir dipastikan sudah memiliki gawai. Fenomena ini telah terjadi di sini (sebab-akibat adanya gadget). Tren baru yang saat ini telah, sedang dan terus terjadi menyangkut gadget menjadi isyarat baru. Apakah kita sebagai pengguna gadget bisa bijaksana menggunakannya. Atau malah gawai menjadi pengikat (mengikat) sekaligus menjerumuskan?.

Sejatinya, hadirnya teknologi dan arus informasi menjadi sebuah harapan baru sebagai jendela untuk mendapakan pengetahuan yang tidak terbatas hingga gadget dijadikan sebagai media pendukung dalam tumbuh dan berkembang dalam hal bisnis, pekerjaan ataupun juga relasi. Bagi anak muda atau ABG (putra-puri menjelang dewasa/anak baru gede), jika gadget digunakan secara positif banyak manfaat yang didapatkan. Misalnya saja untuk mempermudah komunikasi, menambah informasi dan perkembangan teknologi. Selanjutnya juga mendapatkan informasi untuk hiburan yang bisa bagi mereka dalam tumbuh dan berkembang (berkreasi).

Namun, hadirnya informasi yang mudah diperoleh melalui gadget tidak sedikit pula menjadi kekhawatiran bersama. Kekhawatiran yang dimaksud ketika gawai digunakan tidak sesuai dengan kegunaannya. Mengingat, tidak sedikit anak-anak TK, SD, SMP hingga SMA yang menggunakan gawai sebagai fungsi yang salah arah (terlampau bebas hingga bablas) hingga selalu membuat cemas. Akses informasi, konten kekerasan, pornografi, video game dan video pornografi masih saja bisa dengan bebas berseliweran didapatkan dengan mudah. Hal lainnya, fungsi pengawasan di rumah oleh orangtua sudah semestinya dilakukan.

Perilaku buruk (dampak negatif) dari penggunaan gadget yang berlebihan bisa berdampak pada proses belajar dan prestasi siswa-siswi. Misalnya saja, dengan adanya gadget kecenderungan lupa belajar hingga prestasi menurun. Lupa waktu, itu penyebab utamanya. Belajar yang seharusnya prioritas menjadi (di/ter) kesampingkan.

Tidak hanya itu, hadirnya gadget bila tidak digunakan secara bijaksana dan diawasi oleh orangtua akan mengganggu hubungan keakraban, kebersamaan dan sosialisasi di ruang lingkup keluarga menjadi berkurang.

Beberapa hal yang menyangkut penggunaan gadget, kiranya bila boleh dikata dua mata pisau yang siap menghadang jika kita sebagai pengguna gadget tidak bijak. Tentu, hal ini menjadi kekhawatiran bersama pula. Arus informasi, sosialisasi dan kecanggihan teknologi dari gadget begitu leluasa berkembang dan silih berganti mudah diperoleh  serta berkembang setiap saat. Arus informasinya inilah yang terkadang menjadi bias ataupun pangaruh jika tidak serta merta disaring. Kecenderungan yang ada malah tidak sedikit yang terbuai dan semakin terjerumus/menjerumuskan pengguna gadget itu sendiri.

Sudah saatnya bagi kita semua, lebih khusus anak muda (Putra-puri, anak baru gede) untuk dapat memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk dari setiap informasi.  Peran orangtua sangat diperlukan untuk pengawasan bagi anak-anak mereka yang menggunakan gadget. Sesungguhnya penggunaan gadget yang bijaksana kita yang berhak mengatur, menyaring (memfilter) setiap informasi yang hilir mudik melalui gadget. Semua tergantung kepada seberapa bijaksananya kita dengan menggunakan gadget yang kita miliki untuk mengatur dan menyaring setiap arus informasi yang ada?. Jangan sampai gadget yang mengatur kita. Kiranya, gunakanlah gadget untuk hal-hal yang bermanfaat dan positif. Bolehlah kiranya kita bijaksana dan membatasi penggunaan gawai.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kumparan dan MONGA.ID

Petrus Kanisius

( Yayasan Palung)

Mengapa Kita Harus Peduli dengan Satwa?

Orangutan yang merupakan satwa yang dilindungi dan sangat terancam punah. (Foto : Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Saat ini, nasib hidup dari satwa, terlebih yang dilindungi dan sangat terancam punah memerlukan kepedulian bersama dari kita semua.

Tidak bisa disangkal beragam jenis satwa dilindungi dan sangat terancam punah memiliki satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lainnya.

Seperti misalnya, di Kalimanan ada fauna karismatik yaitu orangutan, kelempiau dan rangkong (burung enggang) memiliki peranan yang sangat besar bagi lingkungan sekitarnya, satu diantaranya karena mereka adalah petani hutan.

Tidak hanya orangutan sebetulnya sebagai satwa yang dilindungi, tetapi ada pula satwa-sawa lainnya seperti gajah, harimau, dan badak yang memiliki peranan besar bagi lingkungan hidup dan makhluk lainnya pula.

Hutan, tanah dan air sejatinya memberi arti harmoni dan nafas hidup yang harus seirama tentang kehidupan. Hutan perlu ragam satwa yang dilindungi dan terancam punah agar bisa terus berdiri kokoh.

Tanda nyata ini terjadi ketika satwa nasibnya kini semakin sulit untuk bertahan hidup. Orang bilang, hutan tak lagi ramah. Sesungghnya manusialah yang tidak ramah dengan alam. Satwa semakin terusir dari rimba raya tak bertuan yang kini nasibnya pun semakin terampas. Demikian juga bencana yang tak jarang mendera berupa banjir dan lain sebagainya.

Satwa dilindungi memiliki hak yang sama sebagai makhluk ciptaan Ilahi untuk dihargai haknya sebagai makhluk hidup yang memiliki fungsi tak sedikit bagi lingkungan dan makhluk lainnya sebagai rantai makanan yang jangan sampai salah satunya putus atau hilang.

Bila satu diantaranya hilang maka akan ada yang akan dikorbankan. Singkatnya, satwa yang terancam punah dan satwa dilindungi begitu penting sebagai penyeimbang ekosistem yang ada.

Foto : Erik Sulidra

Penulis : Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Mengapa Orangutan Selalu Berpindah Sarang Setiap Harinya?

Orangutan selalu berpindah sarang. Foto : Tim Laman

Orangutan tidak seperti burung atau pun binatang lain yang bersarang dan selalu menetap di sarang-sarang mereka. Orangutan hampir dipastikan selalu berpindah sarang setiap harinya.

Apa yang menyebabkan orangutan selalu berpindah sarang setiap harinya?. Ada beberapa alasan yang mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Satu di antaranya mungkin karena DNA orangutan mendekati DNA manusia sehingga memiliki tingkat kecerdasan maka orangutan ingin selalu higienis.

Orangutan ingin selalu bersih maka ia selalu berpindah sarang setiap harinya. Selain itu, orangutan dikenal sebagai primata yang selalu berpindah-pindah (tidak berdiam di satu tempat). Orangutan selalu menjelajah hutan/berpindah-pindah dari wilayah satu ke wilayah lainnya.

Orangutan selalu mencari tempat yang dekat dengan pakan mereka, dengan demikian mereka akan mendiami wilayah tersebut hingga beberapa hari karena selain sebagai sumber tetapi juga cadangan makanan.

Daya jelajah orangutan 2-10 km setiap harinya sehingga waktu makan di pagi hari dan siang hari dipastikan di wilayah yang berbeda.

Orangutan jantan atau pun betina selalu menjelajahi hutan dari pohon satu ke pohon lainnya untuk mencari sumber makanan.

Baca Juga :

Biasanya juga, apabila orangutan jantan menjelajahi hutan satu dari banyak tujuan utamanya mencari makan juga adalah mencari pasangan (mencari orangutan betina) apabila dimusim kawin apa lagi ketika musim buah raya (musim buah melimpah).

Orangutan disebut  sebagai spesies payung, karena apabila orangutan punah maka akan berdampak pula kepada makhluk lainnya (jika orangutan punah maka makhluk lainnya akan mengikuti/punah pula).

————————————–

Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Universitas Nasional dan Boston University.

Penulis : Pit

Foto : Tim Laman

#orangutan #sarangorangutan #orangutans #hutan #borneo #kalimantan #indonesia #gunungpalung #yayasanpalung

Komik Si Pongo dan Kawan-kawan

Ilustrasi gambar. dok : Widiya/Yayasan Palung

Teman-teman, Yayasan Palung ada Komik yang bercerita tentang Si Pongo dan Kawan-kawan.

Komik ini ditulis oleh Riduwan dan gambar Komik didesain oleh Widiya

Yuk baca komik cerita tentang Si Pongo dan Kawan-kawan berikut ini atau klik link:

Monitoring Kelompok Budidaya Ikan di Dusun Tanjung Gunung

Monitoring Kelompok Budidaya Ikan Binaan di Dusun Tanjung Gunung. (Foto : Salmah/Yayasan Palung).

Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung (YP) melakukan Monitoring kepada Kelompok Budidaya Ikan binaan, beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan tersebut, monitoring dilakukan kepada Kelompok Mina Sehati di Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, Kabupaten Kayong Utara (KKU).

Dari hasil monitoring ini, budidaya ikan oleh Kelompok Mina Sehati tergolong berhasil. Hal itu ditandai dengan semakin bertambahnya ikan karena sudah berkembang biak.

Menurut anggota Kelompok Mina Sehati, Bapak Abdul Hamid, mengatakan, semula ikan yang berada di tiga kolam jumlahnya 1000 ekor. Saat ini, ikan sudah berkembang biak yang diperkirakan ada sekitar 5000 hingga 6000 ekor.

Asisten Field Officer Program SL Yayasan Palung, Salmah, mengatakan, Adapun jenis ikan yang dibudidayakan oleh kelompok ini adalah ikan nila merah dan nila hitam. Ikan-ikan dari hasil budidaya tersebut nantinya akan disortir (dipilah-pilah) sesuai ukuran. Nantinya juga, hasil dari penyortiran ini akan dijual untuk modal pengembangan selanjutnya, kata Salmah.

Lebih lanjut, Salmah menerangkan, pengembangan-pengembangan budidaya ikan tersebut nantinya digunakan untuk pembuatan kolam baru dan biaya perawat dan pakan ikan.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2022/09/18/yayasan-palung-monitor-kelompok-budidaya-ikan-dusun-tanjung-gunung-kayong-utara 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

(Puisi) Ketika Kita Tertawa Melihat Bumi Menangis

Foto Ilustrasi : Twitter/Ajay Indian

Sorak sorai kita terus menggema

Tertawa tak terasa itu ada

Menyana tanya tentang apa yang dirasa

Mengapa biarkan bumi menangis itu nyatanya

Tawa rasa tiada kata menertawa

Kata ibarat sampah tak berguna

Risau, gundah gulana, bertanya

Mengapa biarkan bumi menangis, kata siapa?

Berkaca pada tanda nyata yang orang bilang itu bencana

Bukankah itu artinya biarkan bumi menangis merana?

Bumi porak poranda ketika tingkah polah bicara

Bukan lagi mengada-ada karena itu ada

Pepatah lama, pepatah baru tentang dokma rasa

Kata bicara dalam nyata karena mungkin kita lupa?

Bencana mendera lekang membentang asa masa membara

Membara mendera kepada kita

Tengoklah bumi semakin renta

Kita pun semakin tua

Tau arti menjaga?

Atau hanya khayalan belaka

Panas mentari yang semakin terik

membakar begitu pula rimba raya

Para satwa semakin pelit bersuara

Lauk pauk semakin jalang di sungai-sungai belantara

Arus haus semakin meraja sebab serakah mengalahkan kokohnya Ciptaan Sang Pencipta

Hembusan angin sepoi-sepoi kini berganti karena membeku disetiap sudut ruang kota

Nyanyian rindu akan bumi yang lestari mencari tuannya

Tangan-tangan tak terlihat tak henti berlomba seolah bumi kepunyaan sendiri saja

Getar nada akan tanda rasa peringatan tak jarang menjadi penanda kemana kita

karena bumi semakin senja

Semakin senja apakah ia (bumi) masih mampu sebagai pembina

Sebagai penopang, penyeimbang penguat dan penyejuk jiwa

Bila ingin ia (bumi) terus ada bingkailah rasa untuk merenda asa agar bumi tak tinggal cerita.

Foto Ilustrasi : Twitter/Ajay Indian

Penulis : Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa Banjar Lestari Tanam Pohon di Lokasi Hutan Desa

Samsidar ( Ketua LDPHD Banjar Lestari) saat melakukan penanaman pohon di lokasi Hutan Desa. (Foto : Samsidar/Yayasan Palung).

Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Banjar Lestari, Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara melakukan penanaman pohon di lokasi Hutan Desa, beberapa waktu lalu.

Samsidar yang merupakan Ketua LDPHD Banjar Lestari, mengatakan, penaman pohon tersebut mereka lakukan secara rutin untuk menyulam kawasan bekas kebakaran di area itu.

Lebih lanjut, Samsidar, menuturkan, sembari melakukan penanaman pohon mereka juga melakukan patroli rutin di kawasan Hutan Desa Banjar Lestari.

Pada kesempatan itu, LDPHD Banjar Lestari melakukan penanaman pohon seperti tanaman buah (manga, cempedak dan durian) serta tanaman lainnya seperti karet. Setidaknya ada 100 tanaman yang mereka tanam pada kesempatan tersebut.

Seperti biasanya, setiap melakukan patroli, LDPHD Banjar Lestari selalu melakukan penanaman di kawasan Hutan Desa.

Baru-baru ini Yayasan Palung mendapatkan bantuan 11 ribu bibit tanaman jengkol dari Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Kapuas. Nantinya, 11 ribu bibit tersebut akan dibagi-bagi. Enam ribu bibit tersebut untuk 6 hutan desa (Pemangat, Rantau Panjang, Penjalaan, Pulau Kumbang, Padu Banjar dan Nipah Kuning). Masing-masing 6 hutan desa mendapat 1000 bibit. Lima ribu bibit untuk dibagikan kepada Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan). Tanaman yang dibagikan ke program SL YP akan ditanam di lokasi eks longsor pada tahun 2021, nantinya akan ditanam 2500 bibit. Sisanya akan ditanam di lokasi eks kebakaran di Dusun Tanjung Gunung.

Asisten Field Officer Hutan Desa, Robi Kasianus, mengatakan,  adapun tujuan dari patroli yang diadakan adalah sebagai pengamanan kawasan dari aktifitas illegal dan mencatat temuan biodiversitas yang di hutan desa.

Di wilayah hutan desa Banjar Lestari seperti diketahui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) mengelola Pertanian organik. Kelompok KUPS yang mngelola adalah KUPS Padi Lestari.

Selain itu budidaya lebah madu dengan cara memasang tikung untuk budidaya lebah madu. Tikung-tikung tersebut dipasang di sekitar/pinggir sungai. Tikung-tikung tersebut dipasang dengan maksud agar bisa menjadi tempat yang nyaman bagi lebah madu untuk bersarang. KUPS yang mengelola adalah Kelompok Madu Lestari.

Selanjutnya juga, ada KUPS Banjar Ceria yang mengelola dan mengolah berbagai kreasi anyaman hasil hutan bukan kayu (hhbk) melalui beberapa perajinnya.

Kawasan Hutan Desa Padu Banjar merupakan Kawasan Lindung Gambut Sungai Paduan. Adapun luasan wilayah Hutan Desa Padu Banjar adalah 2883,54 ha.

Tulisan ini juga dimuat di :

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/6321549b4addee65b76aa192/ldphd-banjar-lestari-tanam-pohon-di-lokasi-hutan-desa

https://kumparan.com/petrus-kanisius/ldphd-banjar-lestari-tanam-pohon-di-lokasi-hutan-desa-1yqlDwiMGAh

Petrus Kanisius-Yayasan Palung