Sampaikan Sosialisasi tentang Satwa Dilindungi ke Sekolah dan Masyarakat

Pertunjukan boneka (Puppet Show) tentang Satwa Dilindungi kepada murid di Sekolah Dasar , di Desa Betenung dan Desa Kayong Hulu, di Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang, Senin (27/9/2021) hingga Jumat (1/10/2021). (Foto : Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Satwa liar menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kehidupan kita. Satwa liar menjadi penting untuk dilestarikan dan dilindungi karena perannya di alam.

Ketika melakukan ekspedisi pendidikan lingkungan, Yayasan Palung (YP) berkesempatan melakukan Sosialisasi tentang satwa dilindungan menjadi satu bagian terpenting untuk disampaikan kepada anak-anak usia dini dan kepada masyarakat luas di Desa Betenung dan Desa Kayong Hulu, di Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang, Senin (27/9/2021) hingga Jumat (1/10/2021).

Setiap kali melakukan ekspedisi, YP selalu memberikan materi tentang pengenalan satwa dilindungi melalui pertunjukan boneka (puppet Show) di tingkat Sekolah Dasar.

Selain itu kami menyampaikan ceramah lingkungan (lecture) tentang pengenalan dan perlindungan satwa orangutan di tingkat SMP/SMA/SMK tentang sosialisasi perlindungan satwa kepada perangkat desa dan masyarakat. Kami juga berkesempatan melakukan pemutaran film lingkungan di dua desa itu.

Pada kesempatan pertama, Selasa (28/9/2021) YP menyambangi Sekolah Dasar Negeri 02 Nanga Tayap di Betenung. Di SDN 20 materi yang disampaikan adalah tentang pengenalan satwa dilindungi seperti orangutan, kelempiau, kelasi, bekantan dan trenggiling.

Dalam kesempatan pertunjukan boneka, cerita yang diketengahkan adalah cerita orangutan, kelempiau, kelasi, bekantan dan trenggiling saat ini nasibnya sedang mengalami ancaman nyata karena habitatnya yang banyak beralih fungsi hingga mereka (satwa) semakin sulit untuk bertahan dan berlanjut. Diceritakan pula tentang satwa seperti trenggiling yang nasibnya tak terlalu manis karena sering diburu dan diperdagangkan.

Selanjutnya disampaikan lecture di SMPN 4 Nanga Tayap. Materi lecture yang disampaikan tentang orangutan; manfaatnya bagi manusia dan hutan. Seperti diketahui, orangutan merupakan petani hutan. Sebagai petani hutan, orangutan berfungsi sebagai penyebar benih dari sisa-sisa makanan yang ia makan berupa buah dan biji. Buah atau biji dari sisa makanan itu lalu dibuang oleh orangutan ke lantai hutan dan menjadi pohon. Pohon bermanfaat bagi kehidupan tidak terkecuali manusia.

Lihat juga :

Dalam lecture dijelaskan pula tentang perbedaan kera dan monyet, perbedaan kera dan monyet. Jika kera tidak memiliki ekor dan monyet memiliki ekor.

Di desa tempat kami berkegiatan, kami mengadakan diskusi dengan masyarakat. Desa pertama kami melakukan diskusi yaitu di desa Betenung. Di Betenung beberapa hasil diskusi antara lain adalah masyarakat sudah sangat jarang bertemu dengan satwa dilindungi seperti orangutan di hutan.

Sebelum melakukan diskusi, kami berkesempatan untuk menyampaikan sosialisasi tentang satwa dilindungi. Salah satu materi yang diberikan tentang satwa yang dilindungi antara lain seperti orangutan, kelasi, kelempiau, bekantan, trenggiling dan enggang masuk dalam daftar satwa dilindungi menurut UU no 5 tahun 1990.

Desa selanjutnya kami kunjungi adalah Desa Kayong Hulu. Di desa Kayong Hulu, beberapa kegiatan yang kami sampaian sama seperti di desa Betenung.

Di SDN 23 Kayong Hulu, Nanga Tayap kami juga menyampaikan pertunjukan boneka tentang satwa dilindungi.

Yang cukup menarik perhatian kami saat menyampaikan pertunjukan boneka, di SDN 24 Nanga Tayap, di Desa Kayong Hulu adalah jumlah muridnya dari kelas 1-6 hanya memiliki 22 orang siswa saja. Tetapi mereka sangat antusias saat mengikuti kegiatan yang kami sampaikan.

Kami juga bersempatan menyampikan lecture di SMPN 12 Nanga Tayap di Desa Kayong Hulu dan di SMKN 1 Nanga Tayap. Di SMKN 1 selain lecture, kami juga menyampaikan materi tentang beasiswa orangutan.

Pada saat diskusi di Desa Kayong Hulu, masyarakat desa sangat menyambut baik saat kami berdiskusi di desa mereka. Beberapa diskusi menarik pun terjadi. Dari presentasi tentang kegiatan yang YP lakukan, satu yang menurut mereka sangat menarik minat mereka yaitu mengaharapkan pendampingan di desa mereka seperti kegiatan matapencaharian berkelanjutan. Mereka juga memiliki hutan lindung, harapan mereka bisa dijadikan sebagai hutan desa. Dalam diskusi, untuk dijadikan hutan desa harus dipastikan apakah hutan tersebut hutan lindung atau tidak. Harus dicek terlebih dahulu melalui peta Peta Indikatif Areal Perhutanan Sosial (PIAPS).

Setelah melakukan diskusi, baik di Betenung dan Kayong Hulu kami juga berkesempatan melakukan pemutaran film lingkungan. Beberapa film lingkungan yang kami putarkan antara lain; film Hari Esok Yang Hilang, Alam Indonesia di Ambang kepunahan,10 Hewan Langka Yang Dilindungi Di Indonesia dan KINIPAN. Di dua desa itu kami melakukan pemutaran film di rumah Adat.

Tim Pendidikan Lingkungan yang ikut dalam kegiatan ekspedisi pendidikan lingkungan antara lain; Dwi Yandhi Febriyanti, Simon Tampubolon, Petrus Kanisius dan Haning Pertiwi. Semua rangkaian kegiatan ekspedisi yang dilakukan oleh YP di Desa Betenung dan Desa Kayong Hulu tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik di dua desa.

Penulis : Petrus Kanisius

Editor : Dwi Yandhi Febriyanti

(Yayasan Palung)

YP Pasarkan Produk Lokal Lewat Mobile Market

YP pasarkan produk hhbk lewat mobile market. (Foto dok : Samad/YP).

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memasarkan produk lokal hasil hutan bukan kayu dari perajin (HHBK), selama ini Yayasan Palung (YP) telah melakukan pemasaran di media sosial melalui WhatsApp, Instagram dan melalui Gerai Bentangor serta Gerai kelompok dampingan. Dimasa pandemi  perlu juga memikirkan strategi untuk pelaku usaha kelompok dampingan sebagai cara mempromosikan produk dengan cara berjualan keliling menggunakan mobil atau bahasa kerennya Mobile Market.

Kegiatan tersebut dilakukan oleh Tim Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung (YP) di Pantai Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, Minggu 3 Oktober 2021.

Ragam produk hhbk seperti tikar, tempat tisu, tempat hantaran, Tikar Sejadah, Tas Kerang Besar, Tas Jinjing pandan, Cincin Resam, dompet pandan, Keranjang bambu, keranjang bambu bertutup, karung cabang, Sampul Tumbler, bakul penjuru 6 dan juga topi. Ada pula produk keripik pisang dari LPHD Simpang Keramat, Desa Penjalaan yang dipasarkan dalam mobile market tersebut.

Beberapa produk hhbk yang berhasil terjual dari mobile market tersebut diantaranya Keripik pisang 5 bungkus, keranjang bambu 1 dan 3 karung cabang.

Manager program Program Mata Pencaharian Berkelanjutan YP, Ranti Naruri, mengatakan, kegiatan ini dilakukan dengan tujuan sebagai upaya strategi pemasaran produk yang efektif untuk meningkatkan perkembangan usaha dan promosi sebagai daya tarik masyarakat kayong utara di masa pandemi.

Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) YP merupakan program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung sejak tahun 2010.

Adapun kegiatan utama dari Program SL antara lain seperti inisiasi  dan pendampingan dalam mengolah hasil hutan bukan kayu (HHBK), pertanian masyarakat dan Aquakultur (budidaya ikan air tawar).

Tulisan ini dimuat di ruai.tv : https://ruai.tv/kayong-utara/dekati-pasar-yp-fasilitasi-pengrajin-jualankeliling/

Penulis : Petrus Kanisius

Yayasan Palung

18 Warga Perwakilan dari 5 LPHD Binaan YP Belajar tentang Patroli Hutan

Peserta dari perwakilan 5 LPHD saat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan Palung. (Foto dok: Sidiq/YP).

18 warga desa yang merupakan perwakilan dari 5 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) berkesempatan belajar (mengikuti pelatihan kapasitas dan pemantapan materi Smart Patrol). Peserta mendapatkan beberapa materi dari para narasumber yang menyampaikan materi pelatihan di Resort  Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara, Rabu (22/9/2021).

Yayasan Palung (YP) berkesempatan menyelenggarakan pelatihan kapasitas dan pemantapan materi smart patrol tersebut untuk lima desa dari LPHD desa Padu Banjar, Pulau Kumbang, Pemangkat, Nipah Kuning dan Penjalaan.

Pada kesempatan pertama, peserta pelatihan diberikan materi tentang Pengelolaan Kawasan yang disampaikan oleh Hendarto selaku kepala KPH Kayong. Beliau menegaskan tentang bagaimana kolaboratif dengan mitra dalam hal penelolaan Hutan Desa.

Selain itu ada penyampaian materi tentang orangutan yang disampaikan oleh Erik Sulidra selaku Manager Perlindungan dan Penyelamatan Satwa Yayasan Palung. Pada kesempatan itu Erik Sapaan akrabnya memberikan pemahaman agar masyarakat dapat hidup berdampingan dengan orangutan. Erik berpesan, kita sebagai manusia yang memiliki akal dan budi hendaknya dapat memahami perilaku mereka (orangutan), misalnya mengapa mereka sampai masuk dan berinteraksi dengan manusia di kebun mereka? Bisa saja kebun tersebut dulunya adalah hutan yang beralih fungsi yang awalnya merupakan hutan habitat satwa kera besar tersebut karena mereka (satwa liar) bergerak berdasarkan insting untuk mencari makan, bisa saja saat itu makanan (buah-buah hutan) sedang tidak berbuah tetapi tanaman di kebun sedang berbuah. Juga diharapkan masyarakat tidak memandang orangutan sebagai hama dan hewan buas yang menakutkan karena sebenarnya orangutan adalah satwa yang cukup pemalu dan tidak buas.

Selanjutnya Nur Wahyudi dari BKSDA SKW 1 Kabupaten Ketapang berkesempatan menyampaikan regulasi tentang satwa yang dilindungi.  Selain itu, mereka juga menghimbau jika ada satwa liar dilindungi apabila terjadi interaksi negatif dengan manusia segeralah menghubungi mereka sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan konflik satwa liar dan manusia.  

Tidak hanya materi, peserta yang mengikuti pelatihan juga melakukan praktek. Praktek yang mereka lakukan adalah praktek smart patrol. Peserta diajak praktek penggunaan smart (spasial monitoring and reporting tool). Pertama, praktek penggunaan alat GPS, praktek mengisi Tally sheet. Selain itu, penggunaan avensa.

Koordinator Program Hutan Desa Yayasan Palung, Hendri Gunawan, mengatakan, Tujuaan dari pelatihan dan peneningkatan kapasitas tersebut adalah LPHD memiliki kemampuan penggunaan alat-alat smart patrol dengan baik, mengetahui aturan-aturan yang berlaku dan rool model pengelolaan kawasan hutan desa, dengan demikian diharapkan para anggota LPHD dapat melaksanakan smart patrol secara mandiri dan berkelanjutan di wilayah hutan desa masing-masing.

Adapun rencana tindak lanjut (RTL) dari kegiatan pelatihan ini, pada bulan depan LPHD akan turun di Hutan Desa mereka masing-masing.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://ruai.tv/kayong-utara/18-warga-desa-di-kayong-utara-belajar-patroli-hutan 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Rayakan Hari Ozon, RK-TAJAM dan REBONK Bersama Beberapa Komunitas Tanam Pohon di Sekitar Pantai Mutiara

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam ( RK- TAJAM) menindaklanjuti diskusi online lintas organisasi pada tanggal 13 kemarin, bersama organisasi atau komunitas yang ada di Tanah Kayong dengan melakukan kegiatan penanaman pohon untuk memperingati hari ozon bersama organisasi lainnya secara langsung di Pantai Mutiara, Gunung Sembilan, Kayong Utara, Sabtu hingga Minggu (25-26/9/2021).
Adapun organisasi yang melakukan kegiatan penanaman pohon dalam kegiatan bersama tersebut RK-TAJAM bersama dengan RElawan BentangOr uNtuk Konservasi (REBONK), Impact Circle School, Pokdarwis Gunung Sembilan, KAMIPALA dan KPK Kayong.

Kegiatan ini juga dilakukan untuk meningkatkan rasa solidaritas antar organisasi dan menambah wawasan pentingnya menjaga lapisan ozon.

Kegiatan dimulai dengan keberangkatan anggota RK-TAJAM dan Impact Circle School dari kantor Yayasan Palung ke Bengtangor, setelah sampai di Bentangor para anggota dari masing masing organisasi berkumpul dan saling mengenal kan diri sekaligus pembagian tugas.

Tiap tugas di bagi per tim yaitu tim pertama adalah bagian konsumsi, tim 2 adalah bagian bersih-bersih, tim 3 bagian penanaman. Pembagian tim berakhir para anggota bersiap untuk ke acara selanjutnya yaitu nonton bareng dengan film yang disiapkan oleh Impact Circle School “Diam dan Dengarkan” dari Anatman pictures :

https://www.youtube.com/watch?v=NvNLumlAJX0
Setelah film berakhir para anggota dari masing masing organisasi saling bertukar pendapat sambil menunggu makan malam.

Keesokan harinya (26/9) para anggota dari setiap tim sudah bersiap siap untuk kegiatan penanaman bersama di Pantai Mutiara, Gunung sembilan, masing-masing organisasi sudah mendapatkan plang nama yang sudah disiap kan oleh anggota RK-TAJAM.

Pada acara penanaman, setiap orang mendapatkan kesempatan menanam bibit yang sudah diatur oleh teman-teman REBONK.

Foto-foto kegiatan Penanaman Pohon di sekitar Pantai Mutiara :

Foto dok : REBONK/YP

Saat penanaman pohon para anggota dipersilahkan beristirahat sambil menyantap cemilan yang sudah disediakan, selanjutnya sesi swafoto bersama untuk menggampanyekan hari ozon. Acara penanaman berakhir para anggota pulang ke Bengtangor untuk beristirahat dan makan siang.
Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan acara penanaman pohon untuk memperingati hari ozon pun diakhiri.


Penulis : Evinka Zahra (Ketua RK-TAJAM periode 2021-2022)
Editor : Pit
Yayasan Palung

Vanessa : Yayasan Palung Menarik Hati Saya untuk  Dijadikan Tempat Belajar

Vanessa saat melakukan pengamatan satwa di Hutan Kota Ketapang. (Foto : Venessa/YP)

Halo, perkenalkan nama saya Vanessa, kelahiran Jakarta tahun 1997. Saya berasal dari kota Cibubur, menghabiskan masa kecil saya di Bekasi, lalu pindah ke Cibubur pada awal masuk SMA. Setelah lulus sekolah, saya berkuliah di Yogyakarta, namun sayangnya tak terselesaikan. Setelah itu saya pergi ke Jerman untuk program pertukaran budaya selama 16 bulan, saya tinggal di kota kecil bernama Diez, Rheinland-Pfalz. Di bulan April lalu saya kembali ke Indonesia, dengan tujuan menjadi relawan di sebuah tempat konservasi, karena saya memiliki keinginan untuk ber-volunteer semenjak saya berumur 14 tahun. Pada saat usia saya 14 tahun, saya menyaksikan seorang tokoh berkebangsaan Prancis menjadi narasumber di sebuah program televisi “Kick Andy”, ialah Aùrelien Francis Brule, atau kerap dipanggil Chanee. Saat itu, ia menceritakan tentang bagaimana dirinya bisa sampai ke Indonesia dan membangun Non-profit foundation yang fokus utamanya adalah Owa, serta menyelamatkan lahan untuk habitat para satwa.

 Saat ini saya berada di Ketapang, Kalimantan Barat, tepatnya di Kecamatan Delta Pawan. Disini saya sedang menjalankan program magang selama 3 bulan di Yayasan Palung. Yayasan Palung adalah sebuah lembaga Non-Profit atau sering disebut sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Awal berdiri sejak tahun 1999 dengan nama GPOCP dan bergerak dibidang konservasi hutan dan orangutan Kalimantan. Ketertarikan saya pada dunia hewan bermula dari tumbuhnya rasa cinta akan sesama makhluk hidup yang dimulai dari kebiasaan keluarga saya mengadopsi kucing liar, memberi perawatan kepada burung yang sakit atau sekedar memberi makanan kepada kucing liar yang kita temukan di tempat umum. Untuk alasan mengapa saya tertarik dengan orangutan, karena orangutan merupakan hewan endemik yang terancam punah.

 Yayasan Palung menarik hati saya untuk saya jadikan tempat belajar karena yayasan ini tidak hanya fokus pada Orangutan, tetapi juga habitat aslinya yaitu hutan. Selain itu, program yang terdapat di dalamnya mencakup semua aspek yang bersangkutan dengan hutan dan orangutan. Mulai dari program pendidikan lingkungan, penyelamatan satwa, monitoring dan investigasi, mata pencaharian berkelanjutan, serta program penelitian dan beasiswa yang diberikan oleh Yayasan Palung, yaitu West Borneoan Orangutan Caring Scholarship (WBOCS). Program-program tersebut juga serupa dengan visi saya pribadi dalam mengembalikan hutan dan pemanfaatan hutan. Karena menurut saya, ada berbagai aspek yang harus diperbaiki dan mengalami perubahan untuk merestorasi hutan. Menurut saya, hal yang paling mendasar adalah mengganti sumber pendapatan negara dalam skala besar, sehingga deforestasi dapat dikendalikan dan dikurangi. Selain itu pendidikan lingkungan juga harus selalu diberikan agar masyarakat selalu meningkatkan kepedualian akan pentingnya lingkungan dan urgensitas perubahan iklim. Pemerintah seharusnya memiliki peran penting dalam upaya mengurangi percepatan perubahan iklim.

Seperti Jerman, yang merupakan salah satu negara dengan tingkat kesadaran akan lingkungan yang cukup tinggi. Tidak hanya menjadikan topik tentang climate change dan pentingnya lingkungan di sekolah, tetapi juga selalu menjadi topik yang menarik untuk menjadi bahan obrolan. Banyak sekali poster, iklan, podcast dan media lainnya yang menjadikan masalah lingkungan sebagai topik untuk selalu mengingatkan manusia akan urgensi perubahan iklim yang semakin tampak dan terasa. Semoga Indonesia juga semakin sadar akan pentingnya lingkungan, hutan dan segala isinya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di ruai.tv : https://ruai.tv/ketapang/vanessa-yang-jatuh-cinta-pada-orangutan/

Penulis : Vanessa ( Magang Yayasan Palung)

Editor : Pit & Yandhi

Yayasan Palung

(Puisi) Alam Raya, Semesta Alam

Tiga ekor kelasi berlindung di rerimbunan hutan. (Foto Petrus Kanisius/Yayasan Palung).

Alam raya, rimba raya itu rumah sekaligus surga bagi semua nafas yang bernaung padanya (alam raya, semesta alam dan juga Sang Pencipta)

Sang Pencipta menciptanya (alam raya, semesta alam) sebagai suara harmoni yang ingin selalu bergembira ria

Hutan alam, rimba raya semestinya semua melihat apa yang terjadi dan tersaji di depan mata

Gema suara alam dan primata bercerita tentang fakta dan realita yang mereka rasakan saban waktu seolah enggan berlalu mendera

Kata tentang alam raya tidak hanya soal rimbunnya hutan, merdunya suara primata dan burung berkicau akan tetapi tentang bagaimana agar mereka selalu ada hingga selamanya untuk terus ada  

Semua nafas harus senada, seiya sekata karena rona alam raya kini memberi tanda kepada kita semua

Tanda akan tindakan nyata bukan selogan belaka

Rimba raya perlu raga dan asa agar bisa dipilihara hingga ia boleh menggema raya menyapa kita

Alam raya dari pencipta bukan warisan tetapi titipan, ini semua agar ia selaras dan senada dalam suara tentang harmoni yang hakiki bukan sesaat

Alam raya, semesta alam tak ubah pula sebagai penopang bagi yang bersandar dan menerima manfaat darinya

Kita butuh alam, alam sebaliknya tak butuh kita namun semestinya kita punya rasa dan asa agar ia selalu mampu menjadi penopang sejati dengan cara-cara yang kita punya

Tak salah kiranya kata alam raya berarti pula alam lingkungan kita yang sejatinya perlu dijaga, dirawat dan dilestarikan oleh semua siapa saja

Apabila alam raya, semesta alam terjaga dan terpilihara maka ia akan selalu memberi tentang semua apapun itu kepada kita, tidak terkecuali nafas hidup yang selalu memberi asa dan penuh harap bagi semua dan sesama pula.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

(Puisi) Hutan

Hutan hujan Kalimantan. (Foto : Andre Ronaldo).

Hijau nan rimbun itu julukan abadimu

Tak bisa disangkal engkau (hutan) segalanya bagi yang merasa hadirmu begitu penting

Bertahun-tahun, semua nafas menggantung dan tergantung padamu

Tak sedikit menyebutmu pusaka titipan yang kini kondisinya sedikit genting

Genting karena hadirmu (hutan) yang tak lagi banyak yang peduli, namun tak sedikit yang mengorbankan, menggadaikanmu hingga membuatmu rebah tak berdaya

Rimbunmu berganti gersang bersama benalu-benalu rindu koar kelakar tajukmu memberi peneduh namun gaduh kala rinai rintik turun dengan derasnya

Masih hijaukah dikau kini hutanku?

Bertanya senada tentang fakta di pelupuk mata

Hijau rimbunmu kini tak lagi senada harmoni

Hutanku tak lain pula sebagai nafasku dan nafasmu pula

Mungkin jua nafas kita semua segala bernyawa di jagat raya ini

Ingatku tertuju padamu (hutan)

Tentang peranmu, tentang manfaatmu

Tetapi…. Masihkah ada asa untuk itu

Entahlah

Harapku dan mungkin pula semua kiranya tajuk-tajukmu masih boleh menjadi peneduh

Berdirimu menjadi penopang penhadang kala deras menerpa

Hutan, Harmoniku, harmonimu tentang hutan yang sejatinya boleh lestari hingga nanti.

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Hutan” : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/6135df7101019009130447d2/hutan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ibarat Ibu Hutan Sangat Penting Bagi Nafas Kehidupan

Tipe habitat hutan dataran rendah Aluvial, dimana terdapat banyak ditumbuhi tumbuhan Dipterocarpaceae di Taman Nasional Gunung Palung. (Foto : Wahyu Susanto, Yayasan Palung/GPOCP)

Bagaimana kiranya bila manusia hidup tanpa hutan? Besar kemungkinan manusia akan menghadapi banyak soal. Sebaliknya hutan tanpa manusia tak jadi soal.

Tidak salah kiranya bila dikatakan kala hutan dirasa penting saat ini dan boleh dikata hutan sebagai ibu bagi hampir semua makhluk yang hidup berdampingan dengannya. 

Dikatakan sebagai ibu karena hutan sebagai sumber hidup yang bisa memilihara, bisa menjaga dan memberi sumber hidup kepada sesamanya.

Tak hanya sebagai ibu, tetapi hutan juga menjadi rumah bagi ragam satwa dan beberapa jenis burung. Bayangkan saja, apa jadinya bila ragam satwa dan burung tak memiliki rumah berupa hutan.

Satu harapan yang masih menggema tak lain adalah tentang gaung hamoni oleh kita semua manusia kepada Ibu. Harmoni berarti tak ada lagi yang tersakiti melainkan saling harmonis untuk sama-sama menanam, memilihara dan menjaga.

Kesinambungan nafas hidup hutan bagi semua begitu penting hingga hari ini. Bagaimana hutan memberikan peranan yang tidak terpisahkan dari elemen-elemen yang ada. Seperti misalnya, tatanan kehidupan masyarakat di sekitar hutan pun sangat paham akan arti penting apa itu harmoni dengan Sang Ibu.

Dari hutan beroleh makan, dari hutan tatanan kehidupan boleh berirama sama tentang kolektivitas kearifan lokal akan pentingnya asa kehidupan bersama yang sama-sama menghargai nilai luhur moyang. Menyakiti ibu bumi berarti akan bersiap menerima konsekuensi dari apa yang diperbuat. Tak ingin hukum rimba yang tercipta. Semua semula hanya ada tentang kebijaksanaan bukan keserakahan. Ada hukum adat masyarakat yang mengikat. Awalnya mulanya seperti itu, hingga hutan yang disebut ibu masih bisa aman.

Tetapi bagaimana hari ini dengan hutan yang disebut sebagai ibu itu? Tangis dan jerit tak jarang menghiasi cerita ibu kini. lihatlah panas bumi, lihatlah lapang lindangnya hingga terkikis menjelang habis atau ketika banjir yang sering menghampiri.

Itu cerita yang belum kunjung usai. Hutan sebagai ibu kini sudah semakin sering didera dengan luka derita yang dicipta oleh manusia. Ibu yang bisa melindungi, bisa menjaga dan memilihara berubah tak ubah seperti cerita malin kundang. Semua harap jangan sampai kita dirundung kutukan.

Ibu bumi dan hutan kini sangat penting agar kiranya ia boleh lestari hingga nanti. Dirasa penting karena hutan harus dituntut agar boleh selamanya berdiri kokoh jangan terjerembab dan jangan rebah tak berdaya tanpa ada dari usaha setiap insan manusia untuk terus menggaungkan hutan sebagi ibu begitu berharga sebagai penghapus dahaga, pemberi rasa aman dan nyaman, memberi arti tanpa pamrih tanpa perih merintih.

Hutan alam ini salah kiranya bila tak dianggap ibu. Hutan pun bila ia terus ada maka ia akan memberi asa bagi semua agar tak takut atau gaduh apabila ada yang menyebutnya bencana tanpa rasa ampun. Hutan sebagai ibu senantiasa dijaga dengan tanda-tanda rasa yang masih tersisa hingga terus membara sampai alam raya menyapa IBU HUTAN ALAM INI BOLEH TERUS ADA AGAR SEMUA MAKHLUK TETAP MEMBERI RASA HARMONI SELAMANYA. Semoga saja…

Tulisan ini dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/61430be301019061ab3c6fd2/kala-hutan-dirasa-penting-sebagai-ibu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mengenal Kukang, Si Malu-malu yang Kini Nasibnya Terancam Punah

Kukang jenis Nycticebus borneanus . (Foto : Toto/Yayasan Palung).

Kukang pada foto ini merupakan jenis Nycticebus borneanus. Pada mulanya semua penamaan untuk kukang adalah Nycticebus menagensis.

Kukang atau disebut juga dengan nama malu-malu merupakan satwa yang saat ini keberadaannya kini terancam punah di alam liar karena beberapa sebab misalnya karena perburuan, pemiliharaan, dan perdagangan.

Data IUCN pada tahun 2020 menyebutkan, kukang jenis Nycticebus borneanus masuk dalam daftar terancam punah atau Vulnerable (VU).

Tidak hanya terancam punah, tetapi si malu-malu alias kukang juga merupakan satwa yang dilindungi. Berdasarkan Undang-undang no 5 tahun 1990 menyebutkan kukang tidak boleh di buru, tidak boleh di pelihara dan tidak boleh diperjualbelikan (tidak boleh diperdagangkan). Apabila melanggar maka akan dikenakan hukuman penjaara selama 5 tahun dan denda 100 juta.

Kukang  biasanya mendiami hutan dan bergerak sangat lamban. Kukang dikenal memiliki gigitan berbisa.

Melansir dari Kukangku menyebutkan, Bisa kukang cukup berbahaya bagi manusia. Apabila tergigit oleh kukang, manusia bisa mengalami infeksi serius, demam tinggi dan reaksi anafilaksis. Bisa berbahaya pada kukang tersembunyi di bagian ketiaknya. Pada saat kukang melakukan grooming atau membersihkan diri, kukang akan menjilati tubuhnya sehingga bisa dari ketiaknya akan menempel di lidah. Hal tersebut lah yang bisa menginfeksi manusia atau predator kukang lainnya seperti ular, orangutan dan elang.

Primata ini biasanya aktif pada malam hari (hewan nokturnal). Kukang memiliki rata-rata ukuran tubuh 20-30 centimeter.

Kukang ternyata dapat menularkan penyakit kepada manusia. Penyakit tersebut adalah cacingan. Hal ini bisa saja terjadi ketika kita kontak langsung dengan kukang (memilihara/memegang kukang). Penularan dapat melalui telur yang tertelan atau pun terhirup langsung oleh manusia.

Setidaknya ada 4 jenis kukang di Indonesia yaitu Nycticebus menagensis, Nycticebus bancanus, Nycticebus borneanus dan  Nycticebus kayan.

Berikut taksonomi kukang

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Primates

Famili :  Lorisidae

Genus : Nycticebus

Beberapa waktu lalu, Toto (@alongtoto_cp), asisten peneliti di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (@btn_gn_palung ) berhasil mengabadikan Video menarik tentang “Nycticebus borneanus (Kukang)”.

Lihat video di Istagram Yayasan Palung

Video kukang ini merupakan primata yang sebelumnya pernah dimainkan (bermain) dengan orangutan betina dewasa bernama bibi di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung.

Sumber tulisan : Diolah dari berbagai sumber

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

RK-TAJAM Adakan Diskusi Online Lintas Organisasi Memperingati Hari Ozon

Peserta yang mengikuti diskusi online lintas organisasi (bersama organisasi atau komunitas yang ada di Tanah Kayong) yang diselenggarakan oleh RK-TAJAM melalui google meet. (Foto : Haning Pertiwi/Yayasan Palung).

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) mengadakan diskusi online lintas organisasi (bersama organisasi atau komunitas yang ada di Tanah Kayong) untuk bergerak bersama-sama menyadarkan masyarakat tentang pentingnya gaya hidup ramah ozon dengan mengangkat tema “OZON FOR LIFE (ozon untuk kehidupan)” melalui google meet, Senin (13/9/2021) kemarin.

Adapun organisasi yang diundang yaitu; Relawan Konservasi untuk Bentangor (REBONK), Impact Circle School, KAMIPALA dan KPK Kayong.

Forum diskusi online ini juga dibuat untuk menyatukan pendapat dengan organisasi lainnya dan mencari solusi tentang permasalahan lapisan ozon.

 Kegiatan dimulai dengan pembukaan dari moderator Rahn Siti Aqila Azzahra dan disambung dengan pertanyaan dari moderator kepada pemantik diskusi Mariamah Ahcmad (praktisi lingkungan) dengan pertanyaan, untuk apa hari ozon diperingati? Mayi sapaan akrab menjawab, mempertingati hari ozon sama saja dengan memperingati hari lainnya, yaitu pasti dengan tujuan tertentu seperti hari ozon diperingati karena untuk mengajak masyarakat akan tahu pentingnya lapisan ozon yang semakin menipis akibat pola hidup mereka.

Sleain Mayi ada juga vanesa sebagai pemantik kedua yang berbagi membandingkan gaya hidup kita yang sekarang dengan negara yang lebih maju salah satunya Jerman, kebetulan  Vanessa salah satu pemantik yang pernah tinggal di Jerman.

Vanessa menjelaskan untuk program di Jerman pemerintah dan masyarakat di sana mengikuti gaya hidup ramah lingkungan seperti penggunaan panel surya dan juga Jerman sebagai negara maju ingin membantu pemerintah Indonesia mencapai target pengurangan emisi GRK.

Lebih lanjut menurut Vanessa, Jerman telah sepakat berkerja sama untuk mendukung upaya Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan, kerja sama ini dilaksanakan dalam DA-REDD+ program Forest and Climate Change programme (FORCLIME) disambut kata terima kasih dari moderator atas jawaban Vanessa.

Diskusi pun berlanjut dari para pemantik hingga peserta saling bertukar pendapat tentang isu permasalahan lapisan ozon salah satu pendapat dari perwakilan organisasi yaitu Chandra Kurniawan dari Impact Circle School mengatakan, dari pola hidup saja kita itu susah untuk menjadi ramah lingkungan karena saat organisasi maupun kelompok masyarakat lainnya di Indonesia itu masih menggunakan air minum gelas plastik dan itu sama sekali bukan salah satu gaya hidup ramah lingkungan.

Dan diskusi pun terus berjalan sehingga sampailah pada tahap diskusi  tentang kolaborasi kegiatan untuk memperingati hari ozon, diskusian tersebut dibuka oleh ketua RK-Tajam Evinka.

Mayi menyarankan, kegiatan bersepeda bagus untuk kampanye  tentang hidup gaya hidup ramah lingkungan dan sekaligus pengurangan emisi.

Chandra juga menyambut baik saran dari mayi, Wah boleh tuh, soalnya kemarin Impact juga ngadain sepedaan di jembatan kuning sambil melakukan pemungutan sampah dan itu juga akan memberikan dampak besar pada masyarakat. Selanjutnya moderator menanyakan lagi pada peserta, adakah ide lain? Agun dari organisasi REBONK berpendapat, Bagaimana jika kita melakukan penanaman bibit saja. Chandra pun mengatakan, wah boleh juga nih ditambah dengan kampanye penghapusan jejak online karena itu salah satu penyebab penipisan lapisan ozon.

 Evinka Zahra berpendapat, Ide bagus nih temen-temen, jadi dari diskusi yang saya dengar kita mendapat beberapa list nih, salah satunya kampanye online twibbon penghapusan jejak digital, kampanye offline, orasi, pembagian bibit, pesan kampanye, dan nobar untuk menambah wawasan nah jadi itu semua list kegiatan yang akan kita lakukan dari pendapat teman-teman, teman-teman ada yang mau nambahkan saran gak nih teman-teman, nah kalau tidak ada kegiatan diskusi ini akan kita tutup sampai disini.

Penulis : Evinka Zahra (Ketua RK-TAJAM periode 2021-2022)

Editor : Pit & Haning – Yayasan Palung