
Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan melaksanakan kegiatan Go To Campus di Politeknik Negeri Ketapang. Kegiatan ini menjadi momen istimewa, karena sekaligus menjadi kegiatan terakhir Bang Piet (Petrus Kanisius) bersama Program Pendidikan Lingkungan. Acara ini juga diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Cipta Puspa dan Satwa Nasional serta Pekan Peduli Orangutan. Kegiatan tersebut dilaksanakan, pada Kamis (27/11/2025).
Acara dibuka dengan sambutan dari Edi Rahman, S.Sos, Field Director Yayasan Palung. Dalam sambutannya, Edi Rahman menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai generasi penerus yang mampu membawa perubahan bagi kelestarian hutan tropis dan habitat orangutan. Ia juga memperkenalkan program-program Yayasan Palung. Edi Rahman berharap kerja sama dengan kampus dapat terus berlanjut dan melahirkan aksi nyata dalam pelestarian lingkungan.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. Anto Susanto, S.ST., MP, Wakil Direktur Politeknik Negeri Ketapang. Dr. Anto Susanto memberikan apresiasi yang tinggi kepada Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung atas upaya konsisten dalam membangun kolaborasi antara institusi pendidikan dan organisasi konservasi. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat relevan untuk membangun kesadaran mahasiswa sejak dini mengenai isu lingkungan dan konservasi. Ia berharap kerja sama ini dapat berkembang menjadi kolaborasi yang lebih kuat di masa mendatang.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan materi pertama yaitu Pengenalan Yayasan Palung, kembali disampaikan oleh Edi Rahman. Ia memaparkan sejarah organisasi, visi, misi, serta berbagai kegiatan konservasi yang dilakukan di lanskap Gunung Palung. Penjelasan yang lugas dan disertai pengalaman lapangan membuat mahasiswa sangat antusias mengikuti sesi ini.
Foto-foto kegiatan:
Materi kedua disampaikan oleh Petrus Kanisius, Koordinator Media Yayasan Palung, dengan topik Biologi Orangutan, Ancaman, dan Upaya Perlindungannya. Materi ini terasa spesial karena menjadi materi terakhir Bang Piet bersama Program Pendidikan Lingkungan. Dalam penyampaian yang hangat dan penuh dedikasi, Bang Piet menjelaskan karakteristik orangutan sebagai satwa kunci ekosistem, berbagai ancaman nyata yang mereka hadapi, dan pentingnya upaya perlindungan yang berkelanjutan. Banyak mahasiswa yang turut memberikan tepuk tangan penghormatan untuk Bang Piet setelah pemaparan materinya.
Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung sangat dinamis. Mahasiswa menunjukkan antusiasme luar biasa, mengajukan berbagai pertanyaan mendalam terkait isu konservasi, keterlibatan masyarakat, hingga peluang magang di Yayasan Palung. Suasana diskusi yang hidup memperlihatkan tingginya kepedulian generasi muda terhadap lingkungan.
Pada akhir kegiatan seluruh mahasiswa bersama-sama menyanyikan lagu “Orangutan Kelasi, Bekantan, dan Si Beruk” yang dipimpin oleh Widiya Octa Selfiany Manajer Program Pendidikan Lingkungan sebagai persembahan khusus untuk Bang Piet. Momen ini menjadi penuh haru dan kehangatan, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi Bang Piet selama ini.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama sebagai kenangan dari kegiatan yang berjalan sukses dan penuh makna. Selain memberikan pengetahuan dan inspirasi, kegiatan ini juga menjadi momen emosional bagi seluruh Tim Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, karena menandai berakhirnya perjalanan Bang Piet dalam Program Pendidikan Lingkungan sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam edukasi konservasi. Kegiatan Yayasan Palung Go To Campus diharapkan dapat terus menumbuhkan kesadaran mahasiswa untuk menjaga puspa, satwa, dan habitatnya, serta menginspirasi generasi muda agar aktif berkontribusi dalam upaya konservasi di masa mendatang.
Foto dok: Sela, Lioni, Rudi, YP dan Politeknik Negeri Ketapang
Penulis: Widiya Octa Selfiany (Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung)

Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan bekerja sama dengan UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan telah menyelenggarakan kegiatan Field Trip (Kunjungan Lapangan) dan Pembelajaran Lapangan di Air Terjun Batu Hitam, Desa Simpang Tiga Sembelangaan, Kecamatan Nanga Tayap, pada Sabtu hingga Minggu (15-16/11/ 2025).
Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung, Widiya Octa Selfiany, mengatakan, Selama dua hari pelaksanaan, para peserta mendapatkan berbagai materi pembelajaran lapangan mulai dari pengenalan navigasi darat, teknik survival dasar, hingga identifikasi tumbuhan hutan di sekitar kawasan Air Terjun Batu Hitam. Peserta juga diajak untuk melakukan jelajah alam yang memberikan pengalaman langsung dalam mengenal ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di lokasi tersebut. Di samping itu, peserta mempelajari morfologi dan fisiologi tanaman jagung sebagai bentuk pengayaan pengetahuan mengenai tanaman pertanian.
Selanjutnya, pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan api unggun dan pendidikan karakter yang bertujuan membangun kerja sama, kepemimpinan, kedisiplinan, serta kebersamaan antar peserta. Kegiatan ini memberikan ruang bagi peserta untuk saling mengenal, berdiskusi, dan memperkuat solidaritas melalui kegiatan refleksi bersama, ujar Widiya.
Lebih lanjut, Widiya mengatakan, Keesokan harinya, peserta fieldtrip mengikuti sesi lomba kreativitas seperti membaca puisi dan bercerita bertema alam. Lomba ini tidak hanya mengasah kemampuan seni peserta, tetapi juga memperkuat pesan-pesan konservasi yang menjadi inti dari kegiatan. Kegiatan ditutup dengan evaluasi dan refleksi menyeluruh untuk melihat sejauh mana pengetahuan dan pengalaman baru yang diperoleh selama mengikuti rangkaian aktivitas.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 66 peserta yang terdiri dari 19 orang dari KPH Ketapang Selatan, 10 orang mahasiswa magang Fahutan UNTAN yang ditempatkan di KPH Ketapang Selatan, 4 mahasiswa magang Fahutan UNTAN yang berada di TKL, 19 peserta Calon RK Tajam Angkatan 14, 3 peserta RK Tajam Angkatan 13, 4 siswa PKL Yayasan Palung, 1 peserta PKL dari YIARI, 4 peserta PKL dari TKL, serta 2 pendamping dari TKL.
Foto-foto kegiatan:
Secara keseluruhan, kegiatan Field Trip di Air Terjun Batu Hitam berjalan lancar dan memberikan banyak manfaat bagi seluruh peserta. Selain menambah wawasan mengenai lingkungan dan kehutanan, kegiatan ini juga menjadi ruang pembentukan karakter, peningkatan kepedulian terhadap alam, serta mempererat kolaborasi antara Yayasan Palung, KPH Ketapang Selatan, dunia pendidikan, dan mitra lembaga lainnya. Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam menumbuhkan generasi muda yang peduli, tangguh, dan berbudaya lingkungan, kata Widiya.
Penulis: Widiya Octa Selfiany (Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung)

Dalam rangka memperingati Hari Cipta Puspa dan Satwa Nasional serta Pekan Peduli Orangutan, Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung telah melaksanakan rangkaian Kunjungan Edukasi di dua sekolah, yaitu SDN 17 Matan pada tanggal 18 November 2025 dan SMPN 08 Simpang Hilir, Kayong Utara, pada Selasa hingga Rabu (18-19/11/2025).
Pada kegiatan kunjungan edukasi kali ini, menghadirkan narasumber Ahmad Sirojudin, S.Hut selaku Kepala SPTN Wilayah II Teluk Melano, dari Balai Taman Nasional Gunung Palung, yang pada kesempatan tersebut memberikan materi edukasi tentang pentingnya melestarikan satwa dan tumbuhan Indonesia, khususnya ekosistem hutan hujan tropis dan orangutan sebagai spesies payung di lanskap Gunung Palung. Penyampaian materi berlangsung interaktif, diiringi dengan diskusi dan tanya jawab sehingga siswa dapat mengenal lebih dekat peran hutan, ancaman terhadap habitat, serta bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam upaya pelestarian.
Foto-foto kegiatan:









Selain materi lingkungan dan konservasi dari Balai Taman Nasional Gunung Palung, kegiatan juga diisi dengan praktik ecoprint, yang dipandu oleh Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang. Melalui aktivitas kreatif ini, siswa mempelajari pemanfaatan daun dan tumbuhan sebagai pola alami untuk membuat karya seni ramah lingkungan. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung yang mendukung pemahaman siswa mengenai hubungan antara kreativitas, budaya lokal, dan kelestarian lingkungan.
Antusiasme siswa di kedua sekolah terlihat dari keaktifan mereka dalam mengikuti materi dan praktik. Para guru menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini, karena memberikan pengetahuan baru yang relevan serta memperkuat kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
Yayasan Palung berharap, kegiatan edukasi ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah, sebagai bagian dari upaya bersama dalam melahirkan generasi yang peduli lingkungan dan berperan aktif dalam menjaga hutan serta habitat orangutan di kawasan Gunung Palung.
Penulis: Widiya Octa Selfiany (Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung)

Tidak terasa, tahun ini adalah tahun terakhir saya bekerja di Yayasan Palung (YP). 15 tahun bekerja di Yayasan Palung terhitung sejak tahun 2010 silam. 15 tahun bukanlah waktu yang singkat, namun serasa baru kemarin.
Memilih berhenti bekerja di Yayasan Palung merupakan keputusan dan pilihan yang sangat sulit bagi saya. Ya, karena dihadapkan dengan keputusan dan pilihan antara kerjaan atau keluarga. Jujur, saya memilih keluarga. Alasan ini saya pilih karena saya ingin dekat dan bersama dengan ibu saya yang usianya sudah tua. Buat saya, hidup hanya sekali, buatlah berarti.

Waktu berlalu begitu cepat, tidak sedikit cerita (suka, duka, kekeluargaan dan persaudaraan) yang saya peroleh selama saya bekerja di Yayasan Palung.
Di Yayasan Palung (YP), saya banyak ditempa dan dibangun dengan hal-hal baik seperti; tentang arti kehidupan, saling toleransi dan keberagaman, kekeluargaan, persaudaraan dan lain sebagainya. Di Yayasan Palung ini juga menjadi awal (permulaan) bagaimana saya dibentuk, saya banyak belajar dan diajarkan tentang konservasi, lebih khusus terkait orangutan, hutan dan lain sebagainya lewat kegiatan puppet show (pertunjukan boneka) dan lecture (ceramah lingkungan) saat ke sekolah-sekolah dan kampanye media lewat tulisan.

Saya juga banyak beroleh arti hidup bermasyarakat, bersosial dengan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan dan program yang Yayasan Palung lakukan. Di sini pula saya semakin diasah untuk terus mengembangkan hobi menulis saya, lebih khusus terkait lingkungan, konservasi, Penyadartahuan, Pendidikan dan orangutan. Lewat tulisan-tulisan pula, saya boleh berkreasi bercerita dan menuliskan apapun yang berkaitan dengan kegiatan atau aktivitas yang Yayasan Palung lakukan. Jujur, saya sangat nyaman, betah dan menyukai pekerjaan saya di Yayasan Palung.
Baca Juga: Cerita Singkatku Saat Mengikuti Acara Kompasianival 2024
Bagi saya, Yayasan Palung sudah menjadi rumah kedua. Dan Kawan-kawan di Yayasan Palung sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri.
Banyak cinta, suka dan duka, persaudaraan dan kekeluargaan yang saya peroleh selama 15 tahun bekerja dan saya merasa sangat bersyukur. Banyak hal-hal baik yang saya dapatkan selama saya bekerja di Yayasan Palung.

Teman-teman di Yayasan Palung sangat berarti buat saya karena selalu mendukung dengan tulus dan menerima saya apa adanya dalam pekerjaan dan semua hal, apapun itu. Kalau boleh jujur, saya adalah seorang difabel/cacat secara fisik. Tetapi, teman-teman di Yayasan Palung memperlakukan saya dengan baik dan tidak membeda-bedakan. Saya sangat beruntung dan bersyukur bisa bekerja di Yayasan Palung.
Saya hanya bisa mengucapkan grazie mille (Ribuan ucapan terima kasih) kepada teman-teman semua di Yayasan Palung (YP). Saya tidak bisa membalas budi baik Kawan-kawan semua, semoga budi baik dari Kawan-kawan semua di Yayasan Palung dibalas oleh Sang Kuasa, Tuhan Yang Maha Esa.
Saya juga memohon maaf kepada semua karena selama saya bekerja tak luput dari salah, banyak tutur kata saya yang salah kepada teman-teman semua. Maaf lahir dan batin. Kalian semua adalah saudaraku dan keluargaku.
Saya akan selalu mengingat semua kebaikan, dari teman-teman semua. Maaf saya belum bisa membalas budi baik dari teman-teman semuanya.

Saya juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Cheryl Knott selaku Direktur Eksekutif GPOCP (Yayasan Palung), Mas Wahyu Susanto (Direktur Riset dan Ketua Yayasan Palung), Edi Rahman (Field Direktur Yayasan Palung), Caitlin, Kak Elizabeth J. Barrow dan Widiya Octa Selfiany (Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung) dan teman-teman di program Pendidikan Lingkungan (Simon dan Sela) serta kawan-kawan semua di Program Riset dan Konservasi Yayasan Palung. Saya juga mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada Alm. Om Al. Yan Sukanda dan Bibi Theresia Novita Yans atas segala jasa dan dukungannya kepada saya yang tidak bisa saya balas.
Terima kasih atas segala Jasa dan Cinta, kebaikan, pengalaman, kepercayaan, persaudaraan dan kekeluargaan yang membuat saya merasa diterima tanpa membeda-bedakan.
“Aku adalah aku, tetapi Aku tanpa Dia dan Mereka bukanlah siapa-siapa.”
Teman-teman semua luar biasa buatku. Tanpa kalian (Kawan-kawan) semua, saya bukanlah siapa-siapa.
Saya akan selalu mengingat semua kebaikan dari Yayasan Palung dan kawan-kawan semua. Saya juga akan selalu menjaga nama baik Yayasan Palung. Sampai jumpa lagi dilain waktu dan kesempatan.
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat Kompasiana: Kisah15 Tahun Bekerja di Yayasan Palung Banyak Cinta Suka dan Duka, Persaudaraan dan Kekeluargaan
Penulis: Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tema: “Focusing on Hope and Positive Action”
Dalam rangka memperingati Orangutan Caring Week 2025, Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung menyelenggarakan kegiatan Webinar Orangutan Caring Week 2025 dengan mengusung tema “Focusing on Hope and Positive Action”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan komitmen publik terhadap upaya konservasi orangutan serta pelestarian habitatnya.
Sambutan:
1. Prawono Meruanto, S.P., M.Si. (Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung)
2. Edi Rahman, S.Sos. (Field Director Yayasan Palung)
Narasumber:
1. Dr. Hari Prayogo, S.Si., M.Si. (Ketua Program Studi S2 Ilmu Kehutanan Universitas Tanjungpura)
2. Astri Zulfa, S.Si., M.Si. (Ketua Unit Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama, Fakultas Biologi dan Pertanian, Universitas Nasional)
3. Sulidra Fredrik Kurniawan, S.T. (Manajer Program Penyelamatan Satwa, Yayasan Palung)
Moderator:
Anggy Riskha Putri Setyadi, S.Si., M.Si.
Waktu Pelaksanaan:
Hari/Tanggal: Sabtu, 29 November 2025
Waktu. : 09.00 – 12.00 WIB
Media Pelaksanaan:
Zoom Meeting
Meeting ID: 910 5510 8645
Passcode: OCW2025
Live Streaming YouTube: FahutanUntan

Kami mengundang seluruh peserta, siswa, mahasiswa, akademisi, pemerhati lingkungan, serta masyarakat umum untuk hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Semoga webinar ini dapat menjadi ruang pembelajaran dan mendorong lahirnya berbagai aksi positif untuk mendukung upaya konservasi orangutan. (Widiya/YP).

Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan Yayasan Palung (YP) melalui Program Sustainable Livelihood-SL (mata pencaharian berkelanjutan) bersama berkolaborasi menggelar kegiatan Workshop terkait Kesehatan Lingkungan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Aula Kantor Desa Sejahtera, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, pada Selasa hingga Rabu (18-19/11/2025).
Kegiatan workshop ini diawali dengan penyampaian kata sambutan oleh Muhamad Haris Zona, selaku Kepala Desa Sejahtera. Dan Selanjutnya kegiatan Workshop dibuka secara resmi oleh pihak Balai TANAGUPA, yang pada kesempatan tersebut diwakili Bapak Faizal Riza, selaku Kepala Resort Tanjung Gunung.
Dalam kata sambutannya, Muhamad Haris Zona, Kepala Desa Sejahtera, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Yayasan Palung karena telah melakukan kegiatan workshop terkait kesehatan lingkungan. Ia pun berharap, dengan adanya kegiatan ini masyarakat lebih paham dan peka terhadap lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, kepala Desa Sejahtera juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Balai TANAGUPA karena ikut andil dalam kegiatan ini dan juga mendampingi masyarakat di Desa Sejahtera.
Lebih lanjut, dalam kata sambutannya, Kepala Desa Sejahtera, mengatakan; “Pemerintah Desa Sejahtera ikut menguatkan program pemberdayaan di desa semoga ada kerjasama yang baik antar pemerintah Desa, Balai TANAGUPA dan Yayasan Palung.”
Ia pun lalu menghimbau dan berharap kepada para peserta untuk aktif mengikuti kegiatan workshop sampai selesai dan berharap bisa mengambil ilmu pengetahuan tentang materi yang disampaikan narasumber.
Foto-foto:




Kades Sejahtera juga menyampaikan pesan dan memohon agar adanya kerjasama para pihak dalam upaya penanganan masalah stunting yang ada di Desa Sejahtera, karena di desanya ada 19 anak yang terdampak stunting.
Dalam kata sambutan, pihak Balai TANAGUPA menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala Desa Sejahtera, karena telah megizinkan dan memfasilitasi gedung serbaguna desa sebagai tempat kegiatan workshop. Pihak Balai TANAGUPA juga mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Palung telah melakukan kegiatan workshop ini dan melibatkan mitra konservasi binaan Balai TANAGUPA karena ini bentuk program kerjasama dengan Yayasan Palung, semoga apa yang didapatkan dalam kegiatan ini bisa bermanfaat untuk peserta yang hadir.
Pihak Balai TANAGUPA juga menyampaikan salam dan permohonan maaf dari Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung yang tidak bisa hadir, karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan.
Selanjutnya, dalam kata sambutan, Balai TANAGUPA menyampaikan tentang kegiatan yang sudah mereka lakukan, baik itu penyelamatan hutan dan pembinaan kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Balai TANAGUPA mengajak masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan yang sehat, penggunaan bahan organik, memanfaatkan sampah yang bukan organik agar bisa diolah menjadi sumber pendapatan, dan juga melakukan pemilahan di rumah sampah organik dan yang bukan organik. mengajak masyarakat memanfaatkan hasil hutan dengan tidak merusak dan membakar lahan apalagi yang berada di Zonasi Taman Nasional Gunung Palung.
Balai TANAGUPA juga mengajak peserta yang hadir untuk mengikuti kegiatan sampai selesai karena banyak ilmu dan pengetahuan baru, terkait kesehatan lingkungan yang disampaikan oleh Yayasan Asri, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kayong Utara ilmu dan pengetahuannya bisa dipraktikkan.
Abdul Samad, Koordinator Program Sustainable Livelihood-SL (mata pencaharian berkelanjutan) Yayasan Palung, mengatakan, dalam konteks perubahan iklim, ancaman terhadap kesehatan manusia semakin meningkat, seperti perubahan cuaca, kenaikan suhu dan penyebaran penyakit. Oleh karena itu, pemahaman dan kesadaran tentang kesehatan lingkungan sangat penting untuk melindungi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. dalam upaya peningkatan kapasitas tersebut, bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung dan Program Sustainable Livelihood-SL (mata pencaharian berkelanjutan) Yayasan Palung melaksanakan kegiatan Kesehatan Lingkungan tersebut.
Lebih lanjut Samad, sapaan akrabnya, mengatakan, Dalam Kegiatan Workshop kali ini, kami melibatkan peserta dari kelompok dampingan kemitraan konservasi dampingan Balai Taman Nasional Gunung Palung dan kelompok dampingan program SL.
Adapun sebagai pemateri atau narasumber dalam kegiatan worksop ini adalah dari Yayasan ASRI dan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kayong Utara.
Yayasan ASRI, pada kesempatan tersebut menyampaikan topik tentang kesehatan planetary. Sedangkan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kayong Utara menyampaikan topik tentang pengolahan limbah yang telah dihasilkan oleh kelompok dampingan baik limbah dapur maupun dari hasil olahan produksi.
Pemahaman dan tindakan yang bijak dalam menjaga kesehatan lingkungan adalah kunci menciptakan dunia yang berkelanjutan dan berdampingan harmonis dengan alam, kata Samad.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak: https://pontianak.tribunnews.com/kalbar/1150711/balai-tanagupa-dan-yayasan-palung-gelar-kegiatan-workshop-kesehatan-lingkungan
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Saya Sawitri, mahasiswa semester lima di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura dengan bidang minat Budidaya Hutan. Pada semester ini, saya mengikuti Program Kampus Magang Berdampak selama dua bulan satu minggu yang dilaksanakan di Yayasan Palung dan salah satu program nya yaitu di Stasiun Riset Cabang Panti. Kantor Yayasan Palung terletak di dua lokasi yaitu di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, sedangkan Stasiun Riset Cabang Panti terletak di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Magang ini saya laksanakan dari tanggal 29 September 2025 hingga tanggal 05 Desember 2025.
Program magang yang saya lakukan ini bertujuan untuk mengimplementasikan ilmu dan mata kuliah yang diambil pada semester 5 serta memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa. Dalam kegiatan ini, saya mengikuti magang bersama rekan saya, Tengku Nesya Aulia yang berasal dari bidang minat Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata.
Selama satu bulan pertama magang, kegiatan magang dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung, sebuah lembaga yang berfokus pada konservasi Orangutan dan habitatnya. Terdapat beberapa program di Yayasan Palung, antara lain Program Pendidikan Lingkungan, Program Hutan Desa, Program Sustainable Livelihood, Program Penyelamatan Satwa, dan Program Riset. Pada minggu pertama magang, saya berkesempatan melakukan presentasi rencana kegiatan yang akan saya dan teman saya dilakukan selama magang di Yayasan Palung. Kemudian Orientasi dan perkenalan kepada semua staf yang ada di Yayasan Palung sekaligus pengenalan lingkungan kerja di Yayasan Palung.
Pada Minggu berikutnya, saya mulai belajar dan mengikuti beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung. Saya pun berkesempatan belajar tentang Tracking GPS dan Avenza Maps, lalu memindahkan datanya dari format GPX ke SHP menggunakan ArcGIS bersama Gunawan Wibisono, manajer Botani di Kantor Yayasan Palung.
Selain itu, dalam kesempatan magang ini, saya berkesempatan melakukan Siaran Radio Bersama bang Riduwan dan Mbak Wilia selaku Reporter dari Radio Kabupaten Ketapang, diskusi mengenai apa itu Magang Berdampak.
Saya juga berkesempatan berkunjung dan melakukan wawancara pada staf Yayasan Palung tentang pembibitan dan persemaian tanaman yang ada di Kantor Yayasan Palung di Kabupaten Kayong Utara.
Pada kesempatan lainnya, saya pun berkesempatan mengikuti Kegiatan Pelatihan Perencanaan Bisnis dan Analisis Pasar Kepada Kelompok Masyarakat di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Pelatihan ini membahas pentingnya karakteristik wirausaha, tantangan dalam mengembangkan usaha berbasis hasil hutan, serta potensi ekonomi dari hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Selanjutnya, saya berkesempatan mengikuti Kegiatan Kolaborasi Gerakan Hijau Pesisir, penanaman bibit mangrove di pantai celincing dan berkolaborasi dengan Tajuk Kalimantan. Kemudian, saya juga mengikuti Kegiatan Pelatihan Demplot Konservasi dan Perekrutan RK-TAJAM di UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan. Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung Bersama dengan UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan.

Foto: Kegiatan Pelatihan Demplot Konservasi Perekrutan RK Tajam di UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan.
Kegiatan lainnya yang saya lakukan Adalah sharing dan diskusi penerbangan Drone di Kantor Yayasan Palung yang ada di Kabupaten Kayong Utara.
Memasuki bulan kedua, saya melanjutkan kegiatan magang di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung. Di lokasi ini, saya berkesempatan terlibat dalam kegiatan penelitian lapangan yang berfokus pada perilaku dan ekologi Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii). Aktivitas lapangan yang dilakukan mencakup pencarian individu Orangutan, pengamatan perilaku makan, serta pengambilan sampel makanan, feses, microbiome dan urine untuk dianalisis di laboratorium. Kegiatan ini memberikan pengalaman baru bagi saya, terutama dalam memahami keterkaitan antara vegetasi hutan, ketersediaan pakan, serta habitat satwa liar yang menjadi bagian penting dalam sistem ekologi hutan tropis.
Hingga saat ini, saya dan rekan saya telah menjalani magang selama kurang lebih dua minggu di Stasiun Riset Cabang Panti dari total waktu satu bulan. Banyak hal yang masih kami pelajari, baik dari segi teknis penelitian lapangan maupun kemampuan beradaptasi dengan lingkungan hutan yang penuh tantangan. Pengalaman magang ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengasah kemampuan bekerja dalam tim, belajar untuk tetap disiplin, bertanggung jawab serta ketahanan dalam menghadapi kondisi lapangan yang lumayan sulit. Saya berharap pengalaman ini dapat menjadi bekal penting untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu kehutanan yang lestari dan berkelanjutan.
Saya juga merupakan salah satu mahasiswa penerima beasiswa WBOCS (West Bornean Orangutan Caring Scholarship). Melalui kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada Yayasan Palung yang telah memberikan kesempatan magang dan bimbingan selama kegiatan, serta kepada Bapak Garry Saphiro selaku pemberi beasiswa WBOCS (West Bornean Orangutan Caring Scholarship) atas dukungan dan kepercayaannya. Bantuan dan kesempatan ini menjadi motivasi besar bagi saya untuk terus belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam pelestarian hutan serta keberlanjutan konservasi Orangutan di Kalimantan Barat.
Penulis: Sawitri – Mahasiswa Magang Berdampak, Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura di Yayasan Palung

Perkenalkan kami berempat (Angga Saputra, Lioni Pratiwi, Maya Sulastri, dan Randi Tampati), kami berasal dari sekolah SMK Negeri 1 Ketapang, Jurusan Usaha Layanan Wisata. Saat ini kami sedang melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Yayasan Palung.
Seperti diketahui, PKL adalah: program pendidikan yang memberikan pengalaman praktis kepada siswa di dunia kerja. Adapun durasi kami PKL di sini cukup lama, yaitu selama enam (6) bulan. Sebelum kami melakukan PKL, kami terlebih dahulu mempresentasikan maksud dan tujuan kami PKL di Yayasan Palung.
Pada kesempatan itu, kami berkesempatan mempresentasikan tujuan kami PKL di Yayasan Palung (YP) dengan judul; “PKL: SEBUAH PENGALAMAN BERHARGA UNTUK MASA DEPAN” yang dihadiri oleh beberapa staf Yayasan Palung. Di dalam presentasi tersebut kami menyampaikan Asal Sekolah, Nama Jurusan, Jumlah Jurusan yang Ada di SMKN 1 Ketapang, Durasi PKL, dan Kesimpulan.
PKL di Yayasan Palung merupakan pengalaman yang berharga untuk kami. Sementara ini, (selama satu bulan ini) kami banyak mengikuti kegiatan dari beberapa kegiatan dari program yang Yayasan Palung lakukan.
Saya Lioni, saya berkesempatan diajak oleh kakak Sela dari Program Pendidikan Lingkungan untuk mengisi materi kepada Sispala REPATONES, SMA PL Santo Yohanes. Saat mengikuti kegiatan ini, saya dapat melatih kemampuan saya untuk berbicara di depan banyak orang (Publik Speaking), saya diberikan tugas untuk memberi game atau yang biasa di sebut ice breaking, mengambil dokumentasi dan saya memberikan kuis kepada anak-anak Sispala REPATONES, SMA PL. St. Yohanes.

Saya Maya Sulastri, saya berkesempatan mengikuti kegiatan Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung ke Kantor Dinas Pendidikan Kayong Utara menemui Bapak Jumadi Gading selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara untuk meminta izin berkegiatan di sekolah yaitu Program sekolah Hijau yang akan dilaksanakan awal tahun 2026, dan kebijakan baru dari dinas dan Pembaharuan MOU.

Kami berempat (Lioni, Maya Randi dan Angga) juga mengikuti beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan di Padu Banjar dan mengikuti kegiatan Pelatihan Demplot Konservasi dan Perekrutan RK-TAJAM Wujud Nyata Pembinaan Generasi Muda Peduli Lingkungan yang diadakan pada Selasa (21/10/2025).
Selanjutnya, kami (Maya dan Randi) mengikuti kegiatan dari Program Hutan Desa terkait kegiatan mediasi para pihak dan penyelesaian konflik di Desa Padu Banjar. Kegiatan kami lakukan, pada Kamis (16/10/2025). Itulah cerita singkat yang bisa kami ceritakan.
Penulis : Angga Saputra, Lioni Pratiwi, Maya Sulastri dan Randi Tampati – PKL SMK Negeri 1 Ketapang

Kalau ditanya apa pengalaman paling berharga selama kuliah di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, saya akan menjawab tanpa ragu: magang di Yayasan Palung (YP) tempat di mana saya belajar bahwa hukum juga tumbuh bersama alam. Bukan di ruang kuliah atau kantor pemerintahan, tetapi di sebuah Lembaga non pemerintah pada bidang konservasi yang fokus pada orangutan dan habitatnya yang artinya saya kadang beraktivitas di tengah pepohonan, mendangar suara burung, dan melihat semangat orang-orang yang berjuang menjaga lingkungan hidup.
Magang ini saya jalani dari 11 Agustus hingga 31 Oktober 2025, selama dua bulan lebih yang penuh cerita, pelajaran, dan pengalaman berharga. Bagi saya, magang ini bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga kesempatan untuk benar-benar memahami bagaimana hukum lingkungan bekerja di dunia nyata.
Selama magang, saya terlibat dalam berbagai program dan aktivitas di Yayasan Palung. Salah satu yang paling berkesan adalah Program Pendidikan Lingkungan, di mana saya ikut dalam ekspedisi di Simpang Dua dan puppet show di Simpang Hilir yang disertai lecture di sekolah-sekolah. Melihat anak-anak tertawa sambil belajar tentang pentingnya menjaga alam menjadi pengalaman yang menyentuh. Saya sadar bahwa menanamkan nilai-nilai lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana bahkan lewat boneka tangan dan cerita lucu.

Saya juga berpartisipasi dalam Program Hutan Desa, yang menjadi fokus utama penelitian saya. Penelitian ini membahas penyelesaian konflik tenurial antara Lembaga Desa Pengelola Hutan Banjar Lestari dengan masyarakat di kawasan Hutan Desa Padu Banjar. Dari kegiatan ini, saya belajar bahwa hukum bukan hanya kumpulan pasal, tetapi juga alat untuk menjaga keseimbangan antara hak masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Selain itu, saya mengikuti Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, di mana saya belajar teori dan praktik penerbangan drone untuk memantau kawasan hutan dan habitat satwa liar. Awalnya saya agak gugup mengendalikan drone takut salah arah dan mendarat di pohon tapi ternyata kegiatan ini seru dan membuka wawasan baru tentang bagaimana teknologi bisa membantu konservasi alam.
Diluar program-program utama itu, saya juga ikut berbagai aktivitas bersama lembaga lainnya, seperti diskusi internal, rapat koordinasi program, dan kegiatan administrasi. Dari sini saya memahami bahwa kerja di lembaga lingkungan menuntut sinergi antara pengetahuan, kerja tim, dan dedikasi terhadap misi bersama.
Pesan dan kesan selama magang di Yayasan Palung sangat membekas bagi saya. Lingkungan kerja di sini hangat, terbuka, dan penuh semangat. Setiap staf tidak hanya menjadi rekan kerja, tetapi juga mentor yang membimbing saya dengan sabar. Saya belajar bahwa menjaga alam bukan hanya pekerjaan, tetapi panggilan hati.

Bagi saya, magang di Yayasan Palung menjadi titik penting dalam perjalanan akademik dan pribadi. Saya tidak hanya belajar tentang hukum lingkungan, tetapi juga menemukan makna baru tentang tanggung jawab, kepedulian, dan keindahan bekerja untuk bumi. Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa masa depan hukum lingkungan tidak hanya ada di ruang sidang, tetapi juga di lapangan di antara masyarakat yang hidup bersama alam.
Foto dok. Iqbal Ariyanto
Penulis : Iqbal Ariyanto – Magang dan Penelitian dari Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura di Yayasan Palung

Semua kita pasti memiliki harapan dan berharap agar semua makhluk hidup baik serta harmoni adanya. Tidak hanya kita, tetapi orangutan juga adalah sebagai harapan yang boleh terus berlanjut selamanya.
Orangutan dan hutan menjadi harapan terakhir bagi kita dan sebagian besar makhluk hidup saat ini, ketika kita disuguhkan oleh realita kehidupan. Realita itu tak lain adalah tentang harapan yang ada (sudah ada) dan akan selalu ada serta terjaga, terawatt dan terlindungi, kiranya hingga selamanya.
Tidak terelakkan orangutan dan hutan menjadi harapan terakhir bagi kita. Hutan tidak hanya menjadi rumah dan nafas kehidupan bagi manusia dan orangutan. Orangutan dan hutan yang sudah pasti menjadi harapan untuk masa depan. Dan ini sudah pasti pula menjadi harapan terakhir terkait keberlanjutan nafas hidup sebagian besar makhluk hidup lainnya pula.
Sudah semakin seringnya kita melihat, merasakan tentang semua fakta yang terjadi, orangutan tak lagi hidup bebas, aman dan nyaman tinggal dan hidup di alam liar (hutan/habitat hidupnya). Demikian pun kita manusia yang sudah tak lagi seperti dulu (tidak untuk membandingkan), namun peristiwa demi peristiwa yang terus mendera dan terjadi, kiranya sudah cukup menjadi Gambaran dasar, refleksi bersama dengan tindakan nyata, dengan apa yang harusnya dilakukan. Kita sudah semakin sering dirundung duka nestapa oleh ulah polah yang sudah melampaui batas, bukankah kita yang tak jarang dan terlalu jauh merampas hak-hak hidup lainnya kini sudah semakin terasa dan mengemuka.
Hutan alam dan segala yang mendiaminya (tumbuhan, satwa dan segala makhluk hidup dan tak hidup) yang semestinya tak terpisahkan, namun sudah semakin sedikit yang tersisa. Tentu ini pun menjadi sebuah tanggung jawab bersama siapa saja dari kita untuk peduli kepada nasib hutan, alam dan orangutan sebagai harapan, tindakan-tindakan sederhana yang kita semua miliki. Ada hutan, ada kehidupan, ada hutan ada orangutan. Tentu juga kita diingatkan untuk tetap terus harmoni satu dengan yang lainnya (hutan dan satwa) lebih khusus orangutan sebagai primata yang memiliki peran besar bagi keberlanjutan sebagian besar nafas kehidupan. Kita berharap, orangutan sebagai primata yang sangat dilindungi dan memiliki peran yang tidak bisa diganti sebagai petani ini pun sejatinya terus berharap untuk bisa terus berlanjut, dengan harapan hutan dan orangutan terjaga. Tidak hanya itu saja, kita pun diajak bersama, berkolaborasi dengan para pihak untuk memiliki harapan dan berharap pula agar kiranya kita semua bisa berperan dengan melakukan aksi nyata dengan tindakan apa yang bisa kita lakukan pula.
Sebagai pengingat, bulan November ini, masyarakat dunia merayakan Orangutan Caring Week (Pekan Peduli Orangutan) diperingati setiap tahun pada minggu kedua bulan November sebagai momentum global untuk meningkatkan kepedulian terhadapupaya pelestarian orangutan dan habitatnya.
Yayasan Palung, sebagai lembaga yang telah lama berperan aktif dalam konservasi orangutan dan pelestarian hutan di Lanskap Gunung Palung, turut memperingati Pekan Peduli Orangutan.
Adapun tema Orangutan Caring Week (Pekan Peduli Orangutan) tahun ini adalah Focusing on Hope and Positive Action (Berfokus pada Harapan dan Aksi Positif).
Tema ini tentu saja mengajak semua pihak/semua kita untuk menatap masa depan konservasi dengan semangat positif, berlandaskan ilmu pengetahuan, dan tindakan nyata di lapangan. Selain itu, ajakan bagi seluruh lapisan Masyarakat untuk tetap optimis dan mengambil langkah nyata dalam menjaga kelestarian alam, khususnya hutan hujan tropis Kalimantan dan Sumatera yang menjadi rumah bagi orangutan.
Widiya Octa Selfiany, selaku Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung, mengatakan, Yayasan Palung (YP), sebagai lembaga yang telah lama berperan aktif dalam konservasi orangutan dan pelestarian hutan di Lanskap Gunung Palung, turut memperingati Pekan Peduli Orangutan tahun ini melalui kegiatan Webinar Online.
Adapun rencananya kegiatan Webinar interaktif melalui platform Zoom Meeting dan Live Streaming YouTube, pada Sabtu (29/11/ 2025), pukul 09.00 – 12.00 WIB.
Lebih lanjut Widiya, sapaan akrabnya, mengatakan, Kegiatan ini bertujuan untuk membuka wawasan masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem serta menginspirasi mereka untuk terlibat dalam aksi nyata di bidang konservasi.
Widiya menambahkan, adapun hasil yang diharapkan dari kegiatan Webinar Online dalam rangka Pekan Peduli Orangutan ini, antara lain adalah; Pertama, Peserta memahami pentingnya sinergi antara sains, kebijakan, dan aksi lapangan dalam konservasi. Kedua, Meningkatnya kepedulian dan partisipasi masyarakat terhadap pelestarian orangutan dan habitatnya. Ketiga, Terjalinnya jejaring antara Yayasan Palung dengan dunia akademisi untuk kolaborasi pendidikan dan penelitian. Dan yang keempat, Publikasi positif melalui media sosial sebagai bentuk kampanye edukatif.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung