Sejarah Yayasan Palung

Sejarah Berdirinya Yayasan Palung (YP)

Berdirinya Yayasan Palung mulanya diawali dari sebuah proyek penelitian ilmiah di Taman Nasional Gunung Palung pada tahun 1992 yang dikenal dengan nama Gunung Palung Orangutan Project dan berkembang menjadi sebuah organisasi penelitian dan konservasi khususnya pada bentang alam Taman Nasional Gunung Palung.

Pada dekade 90-an juga sedang marak terjadi perambahan hutan secara ilegal (Ilegal Logging, Ilegal Mining), perburuan, pemeliharaan serta perdagangan berbagai jenis satwa dilindungi termasuk orangutan. Ancaman terbesar khususnya orangutan memang banyak terjadi di luar Taman Nasional Gunung Palung namun tidak menutup mata akan terjadi juga di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Palung.

Keprihatinan terhadap ancaman habitat dan populasi orangutan ini khususnya di TNGP, memanggil kepedulian beberapa penelitian asing, Peneliti dalam negeri serta beberapa orang pengiat konservasi. Diantaranya Ibu Cheryl Knott, Bapak Darmawan Liswanto, Ibu Sri Suci Utami Atmoko, Barita Oloan Manullang. Dari hasil diskusi beberapa pengiat konservasi ini pada tahun 1999 lahirlah sebuah organisasi nirlaba di Kabupaten Ketapang yang bergerak pada konservasi orangutan dan habitatnya dengan nama Gunung Palung  Orangutan Conservasi Program atau lebih dikenal dengan sebutan GPOCP. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan pertamanya adalah demi melindungi TNGP serta kawasan penyangganya serta memastikan keberadaan kera besar (orangutan) untuk hidup aman dan anyaman di dalam dan sekitar TNGP.  

Untuk mendukung program penyelamatan orangutan dan habibatnya, maka GPOCP membentuk satu Program Pendidikan Lingkungan (PPL). Program ini melakukan beberapa kegiatan penyadaran melalui kegiatan Pendidikan Lingkungan Ke sekolah-Sekolah (Puppet Show, Lecture) serta kampanye penyadaran kepada masyarakat melalui kampanye radio, pemutaran film, penyebaran komik dan buletin dan berbagai bentuk dan peraga kampanye penyadar lainnya. Sejak awal dibentuknya kegiatan Program Pendidikan Lingkungan tidak hanya fokus dilakukan sekitar TNGP namun dilakukan di seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Ketapang.

Seiring berjalannya waktu maka pada tanggal 10 Mei 2002 GPOCP berganti nama menjadi Yayasan Palung atau lebih dikenal dengan sebut YP  dengan Akta Notaris Nomor 37 tertanggal 23 Oktober 2002. Serta pada tahun 2002 itu juga, Yayasan Palung menambah satu program lagi yaitu Program Penyelamatan Satwa atau lebih dikenal dengan PPS. Program ini dibentuk karena melihat serta keprihatinan semakin tingginya ancaman terhadap habitat orangutan (Illegal Logging, Illegal Mining) serta ancaman Individu orangutan (Perburuan, Pemeliharaan, Perdagangan).

Pada awalnya kegiatan Program Penyelamatan Satwa (PPS) fokus pada kegiatan investigasi kejahatan terhadap orangutan baik kejahatan terhadap habitat maupun individu orangutan. Selain itu juga, PPS membantu pihak berwewenang (BKSDA, Kepolisian) dalam kegiatan konviskasi orangutan serta melakukan pengelolaan Kandang Transit Satwa (KTS). Namun sekarang Program Penyelamatan Satwa (PPS) fokus pada penyelamatan habitat orangutan melalui inisiasi Hutan Desa serta pendampingan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Hingga tahun 2018 ada 5 desa yang telah mendapat telah mendapat Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia serta ada 2 kawasan Hutan Desa yang saat ini pada tahap pengusulan.

Terkait dengan pengelolaan KTS, dimana orangutan maupun satwa dilindungi lainnya hasil konviskasi maupun hasil penyerahan dari masyarakat sebelum di kirim ke pusat rehabilitasi atau dilepasliarkan ke habitatnya maka satwa tersebut dititip sementara di KTS untuk dilakukan perawatan sementara. Sedangkan lokasi KTS berada di Kungsi 8 Kelurahan Kauman Kecamatan Benua Kayong. Setelah dilakukan perawatan sementara khusus orangutan selanjutnya dikirim ke pusat rehabilitasi di Orangutan Foundation International (OFI) di Pangkalan Bun Kalimantan Tengah dan Nyaru Menteng. Namun sejak pertengahan tahun 2009 pengelolaan KTS diserahkan pengelolaanya kepada International Animal Rescue (IAR/YIARI).

Pada tahun 2007 terjadi pemekaran Kabupaten Ketapang menjadi menjadi 2 Kabupaten yaitu Kabupaten Kayong Utara. Sejak dari itu Yayasan Palung sudah mulai memikirkan untuk membangun sebuah pusat pendidikan lingkungan. Pada tahun 2010 berdirilah pusat pembelajaran di Desa Pampang Harapan Kecamatan Sukadana. Pusat pembelajaran ini diberi nama BENTANGOR (Belajar tentang  orangutan). Pada tahun yang sama dibentuklah Program Sustainable Livelihood. Di pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung Bentangor Pampang Center. Di Bentangor juga memberikan pendidikan lingkungan dengan berbagai kegiatan diantaranya; Pertanian Organik, Pendampingan Kelompok Kerajinan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Untuk mendukung berbagai program yang ada, baik sejak bernama GPOCP hingga sekarang bernama Yayasan Palung telah beberapa kali mengalami perpindahan kantor. Ketika bernama GPOCP berkantor di Kelurahan Kauman dan Jalan KS. Tubun, dan ketika beralih nama menjadi Yayasan Palung berkantor di Jalan Saunan, Jalan Sutan Syahril dan sekarang beralamat di Kalinilam, Gg. H. Tarmizi, Gg. H. Ikram (hingga sekarang). 

Saat ini, di Yayasan Palung ada 3 program besar yang dilakukan yaitu Program Pendidikan Lingkungan, Program Sustainable Livelihood dan Program Penyelamatan Satwa.  Dalam menjalankan berbagai program tersebut, Yayasan Palung bekerjasama dengan berbagai pihak baik instansi pemerintah di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara diantaranya Dinas Pendidikan, Dinas perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM, Dekranasda, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Barat  dan lembaga mitra lainnya seperti instansi pemerintah, NGO dan swasta.