Lowongan Kerja di Yayasan Palung

Lowongan Kerja di Yayasan Palung,

Yayasan Palung sedang mencari staff yang bermotivasi tinggi, berkualitas dan berpengalaman untuk mengisi posisi yang kosong sebagai Manager Sustainable Livelihood.

Staf yang akan dipilih akan berbasis di Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara dengan tugas di kantor Yayasan Palung dan tempat lain di Kab. Ketapang.

untuk informasi lebih lengkap, silakan lihat pada gambar dibawah ini

(Cerita) Namaku Pongo, Aku Tinggal di Hutan

Induk dan Bayi Orangutan di Gunung Palung sedang bercengkrama. Foto dok. Tim Laman

Perkenalkan namaku Pongo. Saban waktu aku selalu tinggal di wilayah hutan Kalimantan dan sahabatku  ada juga yang tinggal hutan Sumatera. Selama aku di hutan, aku selalu bermain setiap harinya, dari pagi hingga menjelang malam hari.

Semaktu aku kecil, aku selalu bersama dengan ibuku hingga aku berusia 7-8 tahun. Aku didalam kandungan ibuku sama halnya dengan saudara/saudariku manusia, usia aku didalam kandungan 8,5 bulan hingga 9 bulan. Aku selalu bersama ibuku, setiap kali ibu mencari makan. Aku juga selalu belajar dan diajari tentang kehidupan oleh ibu seperti membuat sarang, mencari makan dan menjelajahi hutan.

Seperti di Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa), aku orangutan perkenalkan aku ya, namaku bayi orangutan; Bayas, Tawni dan Winnie. Kami adalah penghuni rimba raya di Gunung Palung.

Aku tidak bersama bapakku. Karena bapakku hidupnya menyendiri. Lain halnya dengan ibukku yang selalu bersamaku hingga aku menginjak masa remaja.

Makanan favoritku adalah buah-buahan hutan, daun-daun muda, umbi-umbian, rayap dan kulit kayu. Aku sangat suka bergelantungan di pohan satu ke pohon yang lainnya.

Apabila aku sudah dewasa, jika aku jantan maka aku siap mencari pasangan dan bila aku betina aku siap untuk melahirkan. Biasanya umurku mulai dewasa pada usia 8 tahun.

Sewaktu aku masih kecil aku tinggal disarang dengan ibuku. Tetapi setelah aku dewasa, aku tinggal sendiri dan membuat sarang setiap harinya ketika aku ingin berisirahat, makan dan tidur.

O iya, Pongo itu nama panggilanku. Nama lengkapku Pongo pygmaeus, karena aku tinggal di Kalimantan. sedangkan saudara/saudariku di Sumatera, nama lengkap mereka adalah Pongo abelii dan ada pula Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Di Dunia aku hanya ada di dua tempat di Indonesia, Aku tinggal di hutan Kalimantan dan hutan Sumatera.

Aku saat ini sangat terancam punah, alasannya karena tempat tinggalku berupa hutan sudah semakin sedikit. Aku takut, ketakutan aku tidak lain ketika rumahku tidak ada lagi maka aku akan sulit untuk bertahan hidup. Jika aku tidak diperhatikan maka aku akan semakin terancam punah dan suatu ketika jika tidak diperdulikan oleh sesamaku manusia maka aku akan punah.

Mengingat aku adalah satwa endemik. Orang bilang sich, aku adalah kera besar yang langka satu-satunya yang ada di Asia.

Sesamaku manusia menyebutku adalah primata (satwa) penyebar biji-bijian yang bisa untuk membantu tumbuhnya pohon-pohon. Biasanya aku bersama burung enggang sebagai penyebar biji.

Aku saat ini juga dilindungi oleh undang-undang no 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Aku tidak boleh dipelihara, tidak boleh dibunuh, tidak boleh juga diperjualbelikan (tidak boleh diperdagangkan) lho. Jika terbukti dari sahabat/saudaraku manusia ada yang memilihara, membunuh atau memperjualbelikan aku ada sanksi dan denda. Sanksinya 5 tahun penjara dan denda 100 juta. Aku harap aku diperhatikan oleh sesamaku manusia untuk hidup bebas di hutan jika boleh.

Setiap hari aku selalu mencari makan, membuat sarang dan menyebar biji-bijian. Kata sesasamaku manusia aku berperan besar untuk membantu manusia. bila biji-bijian yang aku sebar (semai) pohon-pohon bisa tumbuh dan manusia terbantu karena pohon bisa melindungi dari panas sinar matahari. Pohon yang tumbuh dari semaianku itu juga dapat membantu para petani dan masyarakat untuk memperoleh air. Karena pohon banyak menyimpan sumber air.

Semoga ya, aku bisa lebih lama tinggal di hutan hingga selama-lamanya dan aku harap aku dan sesamaku manusia bisa untuk saling menghargai sehingga kita bisa lestari hingga nanti. Demikian perkenalan singkat aku. Sampai nanti ya, aku ingin bermain lagi di hutan bersama dengan sesesamaku satwa lainnya. Aku ingin selalu bahagia hutan. 🙂

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mengenal Tumbuhan Dipterocarpus sublamellatus Foxw.(Dipterocarpaceae)

Dipterocarpus sublamellatus Foxw.(Dipterocarpaceae)/ Keruing. Foto dok : Andre Ronaldo/Yayasan Palung

Dipterocarpus sublamellatus ditemukan berukuran tinggi mencapai 30 meter dan diameter mencapai 80 cm, tumbuh berkelompok pada habitat Sandtone (batu berpasir) dengan ketinggian 200 m dpl di Riam Berasap, Taman Nasional Gunung Palung.

Jenis ini ditemukan sedang berbuah tepatnya pada bulan November 2019. Masyarakat lokal lebih mengenalnya dengan sebutan Keruing. 

Keruing jenis ini biasanya tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl. Tersebar dari Semenanjung Malaysia, Kalimantan hingga Sumatera. Kayu keruing biasa digunakan sebagai kayu pertukangan. Tingginya tingkat eksploitasi terhadap jenis kayu ini, sehingga saat ini keberadaannya di alam semakin berkurang. Menurut catatan IUCN Redlist, Status Konservasi jenis tersebut tergolong “Endangered” atau terancam punah. 

Keruing tumbuh di hutan perawan (primer) pada pelbagai habitat dari permukaan laut hingga ketinggian 1.500 m dpl. Sebagian besar jenisnya tumbuh tersebar, akan tetapi beberapa spesiesnya kerap ditemukan berkelompok atau hidup pada habitat yang khas. Misalnya D. oblongifolius di tepi sungai yang berarus deras, D. elongatus di tanah endapan tepi sungai, D. borneensis di tanah gambut di atas pasir putih, D. gracilis di wilayah beriklim musim, dan beberapa jenis lain yang berspesialisasi tumbuh di punggung-punggung bukit.

Sebaran dari tumbuhan keruing seperti di Malaya, Sumatera (Aceh), Kalimantan (Brunei, Sarawak, Sabah) dan Filipina.

Perlu adanya tindakan konservasi untuk meningkatkan ketersediaan jenis Dipterocarpus sublamellatus pada habitat aslinya. Mari kita mengenal dan mempelajarinya sehingga kita semua dapat melestarikannya.

Sumber tulisan : Dari berbagai sumber

Editor : Pit

Penulis : Andre Ronaldo-Yayasan Palung

Yayasan Palung Hadiri Acara Monitoring Evaluasi Perhutanan Sosial di Pontianak

Acara monitoring evaluasi Perhutanan Sosial yang diadakan pada tanggal 19 hingga 20 November 2019 kemarin, di Pontianak. Foto dok : Yayasan Palung

Desi Kurniawati dan Hendri Gunawan dari tim PPS Hukum Yayasan Palung ketika mengikuti acara monitoring evaluasi Perhutanan Sosial yang diadakan pada tanggal 19 hingga 20 November 2019 kemarin, di Pontianak.

Pada acara tersebut dihasilkan poin-poin antara lain tentang evaluasi yang telah dilaksankan sampai dimana kemajuan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dan membahas kendala dilapangan yang dihadapi kemudian bagaimana rencana untuk kedepannya.

Selain Itu juga ada pembahasan tentang role model aturan main pendampingan perhutanan sosial, kelola usaha perhutanan sosial dan pemasaran produk usaha pergutanan sosial.

Hendri Gunawan berharap, kegiatan pendampingan perhutanan sosial memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Seperti diketahui, Yayasan Palung mendampingi 5 desa binaan di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. 5 desa hutan desa binaan/dampingan Yayasan Palung adalah; Desa Penjalaan, Desa Pemangkat, Desa Nipah Kuning, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar.

Adapun Peserta selain Yayasan Palung, ada pula Sampan Kalimantan, Dinas Kehutanan Provinsi kalbar, Tropenbos Indonesia, KPH, dan beberapa NGO yang bekerja di wilayah Kalimanan Barat, sedangkan dan sebagai narasumber dalam kegiatan itu adalah Balai Perhutanan Sosial Kemitraan Lingkungan (BPSKL) wilayah Kalimantan.

Semua Peserta yang Mengikuti Acara monitoring evaluasi Perhutanan Sosial yang diadakan pada tanggal 19 hingga 20 November 2019 kemarin, di Pontianak

Sebelum mengakhiri kegiatan, semua peserta menyempakan untuk berfoto Bersama. Semua rangkaian kegiatan tersebut pun mendapat sambutan baik dari 50 orang peserta yang hadir.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

PPO 2019: Banyak Cara yang Bisa Dilakukan untuk Menghargai Hak Satwa Sangat Terancam Punah

Taman Baca yang disuguhkan oleh teman-teman RK-Tajam saat memperingati PPO 2019 beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung

Kemeriahan, keseruan dan kegembiraan dari peserta yang merayakan terlihat dari serangkaian Kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2019 telah usai dilakukan oleh Yayasan Palung dan para relawan (RK-TAJAM dan RK-REBONK), BOCS dan bersama para pihak lainnya. Banyak cara dengan beragam kegiatan pun telah dilaksanakan untuk satwa terancam punah itu (orangutan). 

Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap bulan November itu sebagai cara kami untuk peduli, menghargai hak asasi spesies terancam punah. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rentang waktu 15-17 November 2019.

Seperti misalnya Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) melakukan kegiatan dilaksanakan selama 3 hari, setiap harinya dimulai pukul 15.00 sampai pukul 17.00 Wib.

Kegiatan perpustakaan, buku bacaan digelar diatas meja beralaskan terpal ataupun banner bekas, pengunjung bebas membaca di tempat. Panitia juga menyediakan boneka dan dialog, pengunjung diperbolehkan untuk memainkan boneka dengan dialog yang disediakan.

Terlihat pengunjung dari masyarakat umum (orang tua dan anak-anak) bersedia memainkan boneka atau puppet show di Taman Kota Ketapang, 15-17 November 2019, kemarin. Bagi mereka yang berani memainkan boneka diberikan hadiah buku tulis YP dan majalah MIaS. Pengunjung juga akan diminta untuk swafoto ataupun berfoto di photo booth, dan mengunggah foto tersebut di instagram dengan menandai instagram RK-TAJAM.  Kegiatan ini terlihat diikuti oleh 30 anak anak yang membaca dan mendengarkan cerita orangutan lewat puppet show selama 3 hari kegiatan. Pada kegiatan tersebut, puluhan Relawan Tajam ikut terlibat dalam semua rangkaian kegiatan.

Sedangkan Relawan Bentangor untuk Konservasi (RK-REBONK), pada hari Sabtu (16/11) kemarin, Di puncak Bukit Mendale, REBONK melakukan pembentangan spanduk yang berisikan tulisan Pekan Peduli Orangutan 2019 dan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya dan melakukan bakti sosial (baksos) membersihkan samph di sekitar. Pada kegiatan tersebut ikut hadir diikuti oleh staf Yayasan Palung 2 orang, staf TNGP 1 orang, BOCS 1 orang, Sispala CARE 5 orang, Sispala LAND 1 orang dan Relawan Rebonk 26 orang. mempublikasikan di media sosial kepada masyarakat mengenai wisata di Bukit Mendale, Kayong Utara. Menyadarkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan terutama sampah di sekitar.


Teman-teman dari Bornean Orangutan Caring Scholarship atau lebih dikenal dengan BOCS yang merupakan salah satu program beasiswa dari Yayasan Palung juga mengadakan serangkaian kegiatan pada tanggal 14 dan 16 November 2019 kemarin dan bekerjasama dengan Pongo Ranger community dan UKM Hiber Untan.

Pada hari pertama (14/11) kemarin, kegiatan diawali dengan Diskusi buku Menjaga Yang Tersisa karya Yohanes Terang dan nonton film Before The Flood sukses dilaksanakan pada rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2019 di Canopy Center di Pontianak. 

“Pemantik pada diskusi kali ini kak Mariamah Achmad (Yayasan Palung) dan kak Yeni Mada. Total keseluruhan dalam diskusi buku dan film ada 73 orang yang terdiri 43 peserta dan selebihnya panitia. Semua rangkaian kegiatan ini berjalan dengan lancar dan antusias peserta yang luar biasa. Buku menjaga yang tersisa menggambarkan keprihatinan penulis akan keadaan lingkungan dan alam disekitar desa Laman Satong. Selain itu, pada buku ini juga terdapat pesan untuk kita para generasi penerus bangsa agar menjaga, melindungi, dan melestarikan alam baik itu flora dan faunanya. Pada kegiatan ini juga terdapat diskusi tentang bagaimana menerapkan green lifestyle dikehidupan sehari-hari. Selain itu, sharing diskusi tentang kecintaan dengan orangutan juga membangkitkan semangat peserta untuk tetap terus menjaga keberadaan orangutan yang statusnya hampir terancam punah”, ujar Hanna Runtu (penerima BOCS sekaligus ketua panitia). 

Dari kedua pemantik diskusi juga berharap kedepannya semua generasi dapat ikut melestarikan lingkungan, alam, dan orangutan agar kelak kita dapat menikmati dan nyaman untuk tinggal dibumi dan dapat juga mengetahui dan mencintai satwa langka yang mempunyai kedekatan DNA dengan manusia, tutur Hanna lagi. 

Teman-teman BOCS yang melakukan kegiatan di Pontianak saat memperingati PPO 2019 beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung.

Kegiatannya talkshow dengan mengetengahkan topik pembahasan; Menghormati Hak Satwa Terancam Punah. Sebagai Narasumber pada talkshow tersebut adalah Ibu Eni Ratnawati dari BKSDA, Ibu Mariamah Achmad dari Yayasan Palung dan Kakak Harnes dari Yayasan Titian.

Para Narasumber saat menyampaikan materi pada talkshow tentang; Menghormati Hak Satwa Terancam Punah . Foto dok: Yayasan Palung

Selain itu ada juga kegiatan games kahoot.id, tujuannya untuk menguji pengetahuan peserta tentang orangutan dan ada pentas seni dengan penampilan tarian, puisi, dan akustik. Suasananya asik pada sesi talkshow dan game, karena peserta antusias sekali, Ilham Pratama satu dari panitia kegiatan mengatakan PPO 2019 di Pontianak.

Selain itu, ada dua puisi yang disampaikan oleh Pradono Singkawang judulnya Hutan dan Orangutan, tarian pohon, tarian Dayak kreasi, tarian Melayu opening. Selain itu juga ada Akustikan dari D’ERA band dan Merah Jingga. Adapun peserta yang mengikuti kegiatan tersebut diikuti oleh 72 orang peserta.

Victoria Gehrke, Direktur Program Yayasan Palung, mengatakan Karena semakin jelas bahwa melindungi satwa liar melalui hukum mungkin tidak cukup untuk melindungi spesies langka yang membahayakan secara global, kita harus mencari integritas moral kita dan menerapkan etika kita untuk menghormati hak-hak semua hewan liar untuk hidup bebas dan merasa terlindungi. Satwa liar yang terancam punah berarti mereka semua lebih rentan dan lebih jarang, dan ini adalah yang harus kita hargai dan lindungi sebelum mereka sepenuhnya hilang. Terima kasih semua yang telah berpartisipasi dalam pengorganisasian, menghadiri, berbagi, dan berpartisipasi dalam acara untuk Pekan Peduli Orangutan 2019. Ini adalah sukses besar!, kata Victoria lagi.

Semua rangkaian kegiatan PPO 2019 berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta yang hadir.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung