Sampaikan Presentasi Tentang Metode Penelitian Baru Pada Konferensi Internasional di UNAS

Muhammad Syainullah ketika menyampaikan presentasinya yang berjudul : “Fecal Temprature of Wild and Captive Bornean Orangutans As a Proxy For Body Temprature” konferensi internasional di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Foto dok : Yayasan Palung/GPOCP

Pada 21 Oktober 2019 kemarin, saya berkesempatan menghadiri konferensi internasional di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Konferensi yang bertajuk “INTERNATIONAL CONFERENCE ON BIODIVERSITY FOR LIFE: SUSTAINABLE DEVELOMPMENT OF INDONESIA BIODIVERSITY” dengan tujuan membawakan presentasi sebagai pengenalan metode penelitian baru kami di Stasiun Riset Cabang Panti tentang suhu tubuh orangutan, presentasi yang saya bawakan berjudul “Fecal Temprature of Wild and Captive Bornean Orangutans As a Proxy For Body Temprature”

Penting halnya memantau kesehatan orangutan di alam liar untuk kita lebih jauh memahami bagaimana cara mereka bertahan hidup dialam liar, nah bagaimana caranya?, yaitu salah satunya dengan cara memantau kesehatan tubuh orangutan melalui suhu tubuhnya sebagai indikator kesehatan tubuh pada orangutan. Hal ini dikarenakan orangutan sebagai primata yang “homeothermic” atau dapat menghasilkan panas tubuhnya sendiri sebagai adaptasi terhadap lingkungannya di alam liar .

Orangutan sebagai hewan yang arboreal cenderung cukup sulit untuk mengambil suhu tubuh nya secara langsung, hal ini membuat kami menggunakan cara lainya untuk mengukur suhu tubuhnya yaitu dengan mengukur suhu feses orangutan sebagai proksi estimasi suhu tubuh.

Beberapa rekan para peneliti dan Direktur penelitian juga hadir pada saat konferensi. Foto dok : Yayasan Palung/GPOCP

Tidak hanya sendiri, saya juga ditemani beberapa rekan para peneliti dan Direktur penelitian juga hadir pada saat itu, sebut saja ada Agus Trianto, Ahmad Rizal, Amy Scott, Andrea Blackburn, Endro Setiawan (rekan staf TNGP yang melanjutkan studi pascasarjana di UNAS), hadir pula Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian GPOP dan OFP.

Saya mempresentasikan metode baru mengenai pengukuruan suhu tubuh orangutan melalui media feses tersebut secara detil tentang bagaimana itu berkerja dan hasil sementara yang kami dapatkan dari tahun 2017 sampai sekarang. Banyak respon positif yang saya dapatkan setelah presentasi saya usai, salah satunya adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu peserta konferensi yang berasal dari UNAS yaitu “apakah kebakaran hutan dan lahan mempengaruhi suhu tubuh orangutan dialam liar?” dan saya jawab dengan memuaskan.

Sebelumnya ada beberapa pakar-pakar sains, para profesor-frofesor yang ahli dibidangnya memmerikan presentasi, salah satunya adalah bapak Prof.Dr.Dedy Darnaedi sebagai keynote dari lembaga LIPI yang membawakan presentasi bertajuk “Diversity and the beauty of tropical fern: A new paradigm in managing Indonesian Biodiversity” yang secara khusus waktu itu menjelaskan tentang tumbuhan pakis Asplenium nidus atau yang biasa dikenal dengan nama lokal pakis bakah, tentang pesebaran dan manfaatnya. Dan masih banyak lagi presenter-presenter hebat lainnya.

Konferensi yang dimulai dari pukul 08.30 – 18.00 WIB tersebut, berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik, tak lupa foto bersama dengan para peserta lainnya yang hadir pada hari itu. Harapan saya adalah suatu saat saya akan menjadi bagian dari para pakar-pakar sains yang memberikan presentasi super hebat pada hari ini. Terima kasih.

Editor : Petrus Kanisius

Penulis : Muhammad Syainullah -Yayasan Palung (GPOCP)

Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2019, Ajakan untuk Menghargai Hak Asasi Spesies Terancam Punah

Pekan Peduli Orangutan 2019 : “Respecting The Rights Of Critically Endangered Spesies” (Menghargai Hak Asasi Spesies Terancam Punah) . Foto dok : Tim Laman.

Setiap tahunnya di bulan November selalu diperingati sebagai Pekan Peduli Orangutan (PPO). Pekan Peduli Orangutan sebagai cara untuk peduli, Menghargai Hak Asasi Spesies Terancam Punah

Pada PPO Tahun ini, rencana serangkaian kegiatan akan dilaksanakan dalam rentang waktu 15-17 November 2019. Adapun tema kampanye global untuk PPO 2019 adalah “Respecting The Rights Of Critically Endangered Spesies” (Menghargai Hak Asasi Spesies Terancam Punah). Dan sub tema dari PPO di Ketapang adalah “Generasi Milenial Peduli Orangutan dan Habitatnya”.

Seperti misalnya, Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) Yayasan Palung akan mengadakan serangkaian kegiatan di Taman Kota Ketapang, pada 15-17 November 2019. Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain, seperti; Perpustakaan, Puppet Show interaktif dan Photo Booth. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 3 hari, setiap harinya dimulai pukul 15.00 sampai pukul 17.00 WIB. Kegiatan perpustakaan, buku bacaan digelar diatas meja beralaskan terpal ataupun banner bekas, pengunjung bebas membaca di tempat. Panitia juga menyediakan boneka dan dialog, pengunjung diperbolehkan untuk memainkan boneka dengan dialog yang disediakan. Bagi pengunjung yang bersedia memainkan boneka / puppet show akan diberikan hadiah buku tulis YP dan majalah MIaS. Pengunjung juga akan diminta untuk swaphoto ataupun berfoto di photo booth, dan mengunggah foto tersebut di instagram dengan menandai instagram RK-TAJAM. Publikasi di media sosial akan dilakukan saat dan setelah kegiatan dilaksanakan berupa status dengan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya, foto dan video 1 menit untuk dipublikasikan di media sosial Yayasan Palung dan RK-TAJAM (Instagram, Facebook, Whatsapp, Youtube, dll) yang akan menyertakan beberapa hastag #OrangutanCaringWeek2019 #RespectingTheRights #CriticallyEndangeredSpesies #Orangutan #OrangutanBorneo #SaveOrangutanHabitat #NoForestFire #Volunteer #TAJAM #Ketapang #YayasanPalung, dll.

Sedangkan Relawan Bentangor Untuk Konservasi (RK-REBONK) Yayasan Palung akan melakukan kegiatan pendakian di Bukit Mendale, Kayong Utara, pada tanggal 16 atau 17 November 2019. Di puncak Bukit Mendale, rencananya REBONK akan melakukan pembentangan spanduk yang berisikan tulisan Pekan Peduli Orangutan 2019 dan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya. Kegiatan peringatan PPO 2019 berupa pendakian di Bukit Mendale, Kayong Utara. Pada puncak Bukit Mendale, REBONK akan melakukan pembentangan spanduk yang berisikan tulisan Pekan Peduli Orangutan 2019 dan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya. Publikasi di media sosial akan dilakukan saat dan setelah kegiatan dilaksanakan berupa status dengan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya, foto dan video 1 menit untuk dipublikasikan di media sosial Yayasan Palung dan RK-REBONK (Instagram, Facebook, Whatsapp, Youtube,dll) yang akan menyertakan beberapa hastag seperti : #OrangutanCaringWeek2019 #RespectingTheRights #CriticallyEndangeredSpesies #Orangutan #OrangutanBorneo #SaveOrangutanHabitat #NoForestFire #Volunteer #REBONK #KayongUtara #YayasanPalung, dll.

Selanjutnya teman-teman Bornean Orangutan Caring Scholarship atau lebih dikenal dengan BOCS yang merupakan salah satu program beasiswa dari Yayasan Palung akan mengadakan serangkaian kegiatan di Pontianak. Adapun rangkaian kegiatan yang akan mereka lakukan seperti kegiatan diskusi yang akan dilaksanakan, pada Kamis 14 November 2019, pukul 19.00 –22.00 WIB di Canopy Center . Kegiatan Talkshow yang rencananya akan dilakukan pada Sabtu, 16 November 2019 di Canopy Center, pukul 07.30 –11.00 WIB. Kemudian Kegiatan Malam Puncak pada Sabtu, 16 November 2019 di Canopy Center, pukul 19.00 –22.00 WIB. Publikasi di media sosial akan dilakukan saat dan setelah kegiatan dilaksanakan berupa status dengan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya, foto dan video 1 menit untuk dipublikasikan di media sosial Yayasan Palung, RK-TAJAM dan RK-REBONK (Instagram, Facebook, Whatsapp, Youtube, dll) yang akan menyertakan beberapa hastag: #OrangutanCaringWeek2019 #RespectingTheRights #CriticallyEndangeredSpesies  #Orangutan #OrangutanBorneo #SaveOrangutanHabitat #NoForestFire #Volunteer #BOCS #KalimantanBarat #YayasanPalung, dll.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan dan meningkatkan kesadartahuan tentang konservasi orangutan dan habitatnya. Selain itu juga, Mempublikasikan di media sosial kepada masyarakat mengenai wisata di Bukit Mendale, Kayong Utara. Menyadarkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan terutama sampah di sekitar.

Berharap, semoga semua rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan sebagai cara untuk peduli dengan nasib satwa dilindungi bisa berjalan sesuai harapan dan dapat meningkatkan penyadartahuan tentang konservasi orangutan dan habitatnya.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Booklet Katalog IDACRAFT

Foto dokumen : YP & LH KKU/ Salmah (Yayasan Palung), Rayendra dan Mamad (Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kayong Utara).

Ini adalah booklet katalog IDACRAFT yang berisi tentang informasi harga jual produk-produk dari hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Jika anda berminat untuk membeli produk-produk hhbk tersebut silakan menghubungi kami.

Terima kasih

Cerita Singkat Mengikuti Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah 2019 di Bali

Sela Darmiayati ketika mengikuti Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah 2019 di Bali, beberapa waktu lalu. Foto dok : Sela RK-Rebonk/YP

Saya Sela Darmiayati salah seorang dari Relawan Bentangor untuk Konservasi (RK-REBONK) Yayasan Palung berkesemaan mengikuti Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah 2019 dilaksanakan dilaksanakan pada tanggal 10-12 Oktober 2019 bulan lalu, di Bali.

Satu hari sebelum acara dimulai, tepatnya pada 09 Oktober 2019 pukul 10.00 WITA, kami para peserta telah ditunggu oleh panitia di bandara I Ngurah Rai,Bali.

Para peserta dijemput menggunakan bus di dua titik penjemputan, yaitu Bandara Ngurah Rai dan Terminal Mengwi. Kami pun diantar ke lokasi Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah 2019 di Bumi Perkemahan Margarana, Jalan Tunjuk Marga, Nomor 28, Marga Dauh Puri, Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Lokasi ini memiliki luas kawan luar 3,5 hektar dan luas kawasan dalam 4 hektar, serta kawasan parkir 800 hekar. 

Jarak tempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai ke Bumi Perkemahan Pramuka Margarana sekitar 38.6 km dengan kisaran waktu 1,5 jam dan dapat di akses dengan transportasi roda empat. Sesampai di lokasi Jambore kami disambut panitia yang sangat ramah. 

Sela bersama teman-temannya peserta jambore berfoto bersama. Foto dok : Sela RK-Rebonk/YP

Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah 2019 dijadikan sebagai wadah berkumpulnya seluruh Penggerak dan Relawan yang peduli persoalan Persampahan di Indonesia. Kali ini Jambore bertema “Membangun Sinergi dan Kolaborasi Lintas Sektor Untuk Keberlanjutan Pengelolaan Sampah di Indonesia”.

Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah 2019 merupakan Jambore keempat yang dihadiri 400 peserta dari berbagai komunitas yang ada di Kabupaten/Kota di Indonesia.Provinsi Kalimantan Barat diwakili oleh 4 orang peserta yaitu saya yang bernama Sela Darmiyati dari OrganisasiREBONK (Relawan Bentangor Untuk Konservasi) Yayasan Palung, dan teman saya yang bernama Rio Friyadi dari komunitas SKKU (Sekumpulan Komunitas Kayong Utara) kemudian 2 orang teman lagi berasal dari Pontianak, mereka merupakan DLH Pontianak. Usia peserta Jambore yaitu di atas 17 tahun dan telah melakukan pendaftaran peserta secara Online. 

Sebelumnya, Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah dilaksanakan di Solo pada tahun 2016 di Banda Aceh tahun 2017, dan di Malang pada tahun 2018. Jambore ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan sampah sejenis sampah Rumah Tangga,terciptanya jaringan Strategis Nasional yang Mengimplementasikan gerakan Indonesia Bersih dan Bebas Sampah,terciptanya Rencana Aksi Forum Komunikasi Provinsi Bebas Sampah dalam jangka waktu pendek,menengah,dan panjang. Serta terdatanya pegiat peduli persampahan di berbagai wilayah di Indonesia.

Kegiatan Jambore ini sangat penting sekali untuk saya ikuti sebagai salah satu pegiat sampah karna pada Jambore ini membahas 13 Isu-isu penting mengenai persampahan Nasional yang menjadi hasil dari pembahasan Jambore tahun-tahun sebelumnya. 13 Isu persampahan tersebut yaitu:

  1. Isu Pendidikan Karakter
  2. Masalah Sampah Berceceran
  3. Strategi Pengurangan Sampah
  4. Isu Sampah Organik
  5. Keberlanjutan/Sustainable
  6. Teknologi yang Tepat
  7. Gerakan/Melalui Jambore dan Komunitas
  8. Penegakan Hukum
  9. Kelembagaan (Kapasitas SDM Lembaga Terkait)
  10. Wilayah Terluar
  11. Isu Sampah Organik
  12. Isu Pembiayaan Berkeadilan
  13. Solusi Pengelolaan Akhir
Sela (RK-REBONK) dan temannya perwakilan dari Kalbar. Foto dok : Sela RK-Rebonk/YP

Saya pribadi sangat senang ketika mengikuti kegiatan Jambore Indonesia Bersih dan Bebas sampah 2019 di Bali, karena dengan kegiatan tersebut saya bisa bertemu dan bertukar pikiran dengan orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan, tentu hal itu menjadi pengalaman yang luar biasa buat diri saya pribadi.

Sela Darmiayati- RK-REBONK

Bagaimana Caranya Mengukur Suhu Tubuh Orangutan Tanpa Harus Bersentuhan Langsung?

Codet si orangutan di Gunung Palung. Foto dok : Tim Laman

“Penyakit memainkan peran penting dalam demografi kera besar dan memantau kesehatannya adalah bagian vital dalam mengkonservasikan spesies yang hampir punah ini”, (Leendertz et all.,2006; lonsdorf et al., 2006)

Sangat penting kiranya memantau kesehatan orangutan untuk membantu mereka agar tetap ada selain juga untuk antisipasi dalam proses penyembuhan dan menemukan penyakit serta obat-obatan baru pada perlindungan orangutan. Orangutan sebagai salah satu mamalia serta primata yang memiliki kelebihan karena mampu menghasilkan sumber panas sendiri dalam tubuhnya dan menyesuaikan suhu tubuhnya terhadap lingkungan sekitar serta menjaga suhu tubuhnya secara konstan agar tetap hangat dalam kondisi apapun (Homeothermic).

Nah, dalam hal ini bisa ditarik kesimpulan secara ilmiah bahwa panas tubuh memiliki peranan penting sebagai indikator kesehatan pada tubuh orangutan.

Orangutan di alam liar sebagai hewan kanopi atau arboreal adalah individu yang cukup sulit untuk dimonitor kesehatannya, berbagai kendala dalam usaha memantau kesehatan orangutan yang salah satunya adalah kebiasaan hidup mereka yang sebagian besar dihabiskan di atas pohon. Pertanyaannya adalah bagaimanakah memantau kesehatan orangutan tanpa bersentuhan langsung dengan mereka?.

Siv Aina Jensen dan kawan-kawan melakukan penelitian tentang memantau kesehatan Simpanse (Pan troglodytes verus) di Afrika, tepatnya di negara Pantai Gading (Coˆ te d’Ivoire) dengan metode mengukur sampel feses sebagai proksi suhu tubuh simpanse pada tahun 2009, dan penelitian ini membuahkan hasil yang cukup memuaskan dengan estimasi rata-rata suhu tubuh 37,2 C. Dan tentunya metode ini sudah digunakan sebelumnya dengan subjek manusia.

Simpanse. Foto dok : Pixabay

Pada bulan Mei dua tahun lalu, metode ini sudah mulai diterapkan pada penelitian Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) liar oleh Gunung Palung Orangutan Proggrame (GPOP) di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung, KKU, Kalimantan Barat.

Dengan mereplikasi metode pengukuran suhu feses sebagai proksi estimasi suhu tubuh ini yang awalnya diterapkan pada Simpanse yang cenderung hidup di daratan (teresterial), sedangkan orangutan yang hidup di atas kanopi pohon membuat kami memodifikasi beberapa tahapan teknis metode ini sehingga dapat di sesuaikan pada gaya hidup orangutan dan pada saat itu metode ini masih dalam tahap uji coba kelayakan.

Muhammad Syainullah ketika melakukan aktivitas penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, TANAGUPA. Foto dok : YP/GPOCP

Kami juga menggunakan metode pengukuran suhu feses orangutan rehabilitasi di Yayasan International Animal Rescue, Ketapang-Kalimantan Barat pada tahun 2018 dengan tujuan membandingkan subuh tubuh antara orangutan yang tinggal di pusat rehabilitasi dan oranguran di alam liar dan melihat seberapa efisien penerapan metode penelitian ini, dan hasilnya cukup menarik. Dengan mengambil 30 sampel feses di pusat rehabilitasi dan 224 feses di alam liar, berakhir dengan hasil dan kesimpulan bahwa suhu tubuh orangutan di pusat rehabilitasi lebih tinggi ketimbang saudaranya yang berada di alam liar.

Orangutan sistem metabolisme tubuh yang sangat rendah dengan tujuan beradaptasi bertahan hidup ketika ketersediaan pakan menurun”, (Pontzer et al,2010).

Hal ini dikarenakan orangutan harus beradaptasi untuk bertahan hidup ketika sumber pakan mengurang di habitatnya, jadi kesimpulannya adalah suhu tubuh yang rendah mencerminkan sistem metabolisme tubuhnya yang rendah pula dengan tujuan mengurangi pemakaian energi yang dibutuhkan sehingga orangutan masih bisa bertahan hidup ketika sumber makanannya tidak mencukupi.

Dengan adanya penelitian ini kami berharap untuk lebih memahami pola perilaku orangutan untuk mengantisipasi ancaman-ancaman yang menunggu mereka dikemudian hari, dan juga kami berharap dengan ditemukannya hasil penelitian tentang orangutan akan menghasilkan pertanyaan-pertanyaan lainnya sehingga berujung penelitian baru lainnya pula.

“Aku tak bisa menjaga semua aspek kehidupan di bumi ini agar tetap baik seperti sedia kala, mungkin dengan melakukan hal-hal kecil pada poros tanggung jawabku terhadap konservasi dan alam ini akan menghasilkan hal-hal baik di sekelilingku pula, dan itulah pertanggung jawabanku terhadap alam”, Muhammad Syainullah.

Muhammad Syainullah- Yayasan Palung/GPOCP

Ekspedisi di Dua Desa, Sampaikan Informasi Tentang Satwa Dilindungi

Saat memberikan materi puppet show (panggung boneka) tentang satwa dilindungi kepada siswa-siswi di SDN 2 Sungai Laur . Foto dok : Simon/ Yayasan Palung

Selama 5 hari ekspedisi Pendidikan lingkungan kami lakukan di dua desa, Desa Sempurna dan Desa Teluk Bayur terkait tentang informasi satwa dilindungi kepada masyarakat dan pihak sekolah.

Ketika kami mengadakan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Desa Sempurna dan Desa Teluk Bayur, Kecamatan Sungai Laur, kami melakukan kegiatan tersebut pada 21-25 Oktober 2019 kemarin, kami mengadakan diskusi dengan masyarakat, kunjungan ke sekolah-sekolah dan melakukan pemutaran film lingkungan.

Kami mengadakan ceramah lingkungan dan puppet show di SMPN 3 Sungai Laur, SDN 2 Sungai Laur, SDN 6 Sungai Laur dan SDN 22 Sungai Laur. Kami juga mengadakan diskusi masyarakat, pemutaran film lingkungan dan pemasangan plang informasi satwa yang dilindungi di 2 desa tersebut.

Saat berdiskusi dengan masyarakat, ada beberapa persoalan yang mereka hadapi di desa mereka terkait lingkungan satu diantaranya adalah persoalan perburuan oleh orang dari luar desa mereka.

Seperti yang diceritakan, ada cukup sering orang dari luar desa mereka yang berburu di Wilayah Desa Sempurna untuk berburu babi dan satwa lainnya di wilayah tersebut. Bahkan, hal yang sama terjadi di Desa Teluk Bayur. “Para pemburu terkadang datang pada malam hari sehingga sulit untuk diketahui dan terkadang hanya melihat mereka setelah mereka pulang berburu”, demikian tutur salah seorang yang enggan Namanya disebutkan di desa Sempurna saat menuturkan ketika berdiskusi.

Satu kekhawatiran mereka saat ini terkait perburuan adalah hilangnya ragam satwa yang ada diwilayah mereka dan bahaya dari senapan yang bisa saja mengancam nyawa ketika beraktifitas di hutan.

Foto-foto dapat dilihat di : https://www.instagram.com/p/B4OsE0yg5Ca

Sedangkan di sekolah-sekolah kami menyampaikan informasi terkait perlindungan satwa lewat lecture (ceramah tentang lingkungan) dan puppet show (pertunjukan boneka) di kelas tentang satwa dilindungi.

Saat kami berkegiatan di Desa Sempurna, kami ditemani oleh Lufti, staf dari BTNGP resort Sempurna. Kami juga menginap di Resort Tanagupa yang ada di Sempurna. Kami juga ditemani Junardi seorang penerima beasiswa orangutan Kalimantan (BOCS) yang ikut serta dalam kegiatan ekspedisi.

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk memasang plang terkait satwa-satwa yang dilindungi. Selain juga informasi tentang Undang-undang perlindungan satwa, UU no. 5 tahun 1990.

Semua rangkaian kegiatan yang kami lakukan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari warga masyarakat di dua desa dan dari pihak sekolah.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung