Mengenal Tumbuhan Dipterocarpus sublamellatus Foxw.(Dipterocarpaceae)

Dipterocarpus sublamellatus Foxw.(Dipterocarpaceae)/ Keruing. Foto dok : Andre Ronaldo/Yayasan Palung

Dipterocarpus sublamellatus ditemukan berukuran tinggi mencapai 30 meter dan diameter mencapai 80 cm, tumbuh berkelompok pada habitat Sandtone (batu berpasir) dengan ketinggian 200 m dpl di Riam Berasap, Taman Nasional Gunung Palung.

Jenis ini ditemukan sedang berbuah tepatnya pada bulan November 2019. Masyarakat lokal lebih mengenalnya dengan sebutan Keruing. 

Keruing jenis ini biasanya tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl. Tersebar dari Semenanjung Malaysia, Kalimantan hingga Sumatera. Kayu keruing biasa digunakan sebagai kayu pertukangan. Tingginya tingkat eksploitasi terhadap jenis kayu ini, sehingga saat ini keberadaannya di alam semakin berkurang. Menurut catatan IUCN Redlist, Status Konservasi jenis tersebut tergolong “Endangered” atau terancam punah. 

Keruing tumbuh di hutan perawan (primer) pada pelbagai habitat dari permukaan laut hingga ketinggian 1.500 m dpl. Sebagian besar jenisnya tumbuh tersebar, akan tetapi beberapa spesiesnya kerap ditemukan berkelompok atau hidup pada habitat yang khas. Misalnya D. oblongifolius di tepi sungai yang berarus deras, D. elongatus di tanah endapan tepi sungai, D. borneensis di tanah gambut di atas pasir putih, D. gracilis di wilayah beriklim musim, dan beberapa jenis lain yang berspesialisasi tumbuh di punggung-punggung bukit.

Sebaran dari tumbuhan keruing seperti di Malaya, Sumatera (Aceh), Kalimantan (Brunei, Sarawak, Sabah) dan Filipina.

Perlu adanya tindakan konservasi untuk meningkatkan ketersediaan jenis Dipterocarpus sublamellatus pada habitat aslinya. Mari kita mengenal dan mempelajarinya sehingga kita semua dapat melestarikannya.

Sumber tulisan : Dari berbagai sumber

Editor : Pit

Penulis : Andre Ronaldo-Yayasan Palung

Yayasan Palung Hadiri Acara Monitoring Evaluasi Perhutanan Sosial di Pontianak

Acara monitoring evaluasi Perhutanan Sosial yang diadakan pada tanggal 19 hingga 20 November 2019 kemarin, di Pontianak. Foto dok : Yayasan Palung

Desi Kurniawati dan Hendri Gunawan dari tim PPS Hukum Yayasan Palung ketika mengikuti acara monitoring evaluasi Perhutanan Sosial yang diadakan pada tanggal 19 hingga 20 November 2019 kemarin, di Pontianak.

Pada acara tersebut dihasilkan poin-poin antara lain tentang evaluasi yang telah dilaksankan sampai dimana kemajuan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dan membahas kendala dilapangan yang dihadapi kemudian bagaimana rencana untuk kedepannya.

Selain Itu juga ada pembahasan tentang role model aturan main pendampingan perhutanan sosial, kelola usaha perhutanan sosial dan pemasaran produk usaha pergutanan sosial.

Hendri Gunawan berharap, kegiatan pendampingan perhutanan sosial memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Seperti diketahui, Yayasan Palung mendampingi 5 desa binaan di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. 5 desa hutan desa binaan/dampingan Yayasan Palung adalah; Desa Penjalaan, Desa Pemangkat, Desa Nipah Kuning, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar.

Adapun Peserta selain Yayasan Palung, ada pula Sampan Kalimantan, Dinas Kehutanan Provinsi kalbar, Tropenbos Indonesia, KPH, dan beberapa NGO yang bekerja di wilayah Kalimanan Barat, sedangkan dan sebagai narasumber dalam kegiatan itu adalah Balai Perhutanan Sosial Kemitraan Lingkungan (BPSKL) wilayah Kalimantan.

Semua Peserta yang Mengikuti Acara monitoring evaluasi Perhutanan Sosial yang diadakan pada tanggal 19 hingga 20 November 2019 kemarin, di Pontianak

Sebelum mengakhiri kegiatan, semua peserta menyempakan untuk berfoto Bersama. Semua rangkaian kegiatan tersebut pun mendapat sambutan baik dari 50 orang peserta yang hadir.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

PPO 2019: Banyak Cara yang Bisa Dilakukan untuk Menghargai Hak Satwa Sangat Terancam Punah

Taman Baca yang disuguhkan oleh teman-teman RK-Tajam saat memperingati PPO 2019 beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung

Kemeriahan, keseruan dan kegembiraan dari peserta yang merayakan terlihat dari serangkaian Kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2019 telah usai dilakukan oleh Yayasan Palung dan para relawan (RK-TAJAM dan RK-REBONK), BOCS dan bersama para pihak lainnya. Banyak cara dengan beragam kegiatan pun telah dilaksanakan untuk satwa terancam punah itu (orangutan). 

Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap bulan November itu sebagai cara kami untuk peduli, menghargai hak asasi spesies terancam punah. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rentang waktu 15-17 November 2019.

Seperti misalnya Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) melakukan kegiatan dilaksanakan selama 3 hari, setiap harinya dimulai pukul 15.00 sampai pukul 17.00 Wib.

Kegiatan perpustakaan, buku bacaan digelar diatas meja beralaskan terpal ataupun banner bekas, pengunjung bebas membaca di tempat. Panitia juga menyediakan boneka dan dialog, pengunjung diperbolehkan untuk memainkan boneka dengan dialog yang disediakan.

Terlihat pengunjung dari masyarakat umum (orang tua dan anak-anak) bersedia memainkan boneka atau puppet show di Taman Kota Ketapang, 15-17 November 2019, kemarin. Bagi mereka yang berani memainkan boneka diberikan hadiah buku tulis YP dan majalah MIaS. Pengunjung juga akan diminta untuk swafoto ataupun berfoto di photo booth, dan mengunggah foto tersebut di instagram dengan menandai instagram RK-TAJAM.  Kegiatan ini terlihat diikuti oleh 30 anak anak yang membaca dan mendengarkan cerita orangutan lewat puppet show selama 3 hari kegiatan. Pada kegiatan tersebut, puluhan Relawan Tajam ikut terlibat dalam semua rangkaian kegiatan.

Sedangkan Relawan Bentangor untuk Konservasi (RK-REBONK), pada hari Sabtu (16/11) kemarin, Di puncak Bukit Mendale, REBONK melakukan pembentangan spanduk yang berisikan tulisan Pekan Peduli Orangutan 2019 dan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya dan melakukan bakti sosial (baksos) membersihkan samph di sekitar. Pada kegiatan tersebut ikut hadir diikuti oleh staf Yayasan Palung 2 orang, staf TNGP 1 orang, BOCS 1 orang, Sispala CARE 5 orang, Sispala LAND 1 orang dan Relawan Rebonk 26 orang. mempublikasikan di media sosial kepada masyarakat mengenai wisata di Bukit Mendale, Kayong Utara. Menyadarkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan terutama sampah di sekitar.


Teman-teman dari Bornean Orangutan Caring Scholarship atau lebih dikenal dengan BOCS yang merupakan salah satu program beasiswa dari Yayasan Palung juga mengadakan serangkaian kegiatan pada tanggal 14 dan 16 November 2019 kemarin dan bekerjasama dengan Pongo Ranger community dan UKM Hiber Untan.

Pada hari pertama (14/11) kemarin, kegiatan diawali dengan Diskusi buku Menjaga Yang Tersisa karya Yohanes Terang dan nonton film Before The Flood sukses dilaksanakan pada rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2019 di Canopy Center di Pontianak. 

“Pemantik pada diskusi kali ini kak Mariamah Achmad (Yayasan Palung) dan kak Yeni Mada. Total keseluruhan dalam diskusi buku dan film ada 73 orang yang terdiri 43 peserta dan selebihnya panitia. Semua rangkaian kegiatan ini berjalan dengan lancar dan antusias peserta yang luar biasa. Buku menjaga yang tersisa menggambarkan keprihatinan penulis akan keadaan lingkungan dan alam disekitar desa Laman Satong. Selain itu, pada buku ini juga terdapat pesan untuk kita para generasi penerus bangsa agar menjaga, melindungi, dan melestarikan alam baik itu flora dan faunanya. Pada kegiatan ini juga terdapat diskusi tentang bagaimana menerapkan green lifestyle dikehidupan sehari-hari. Selain itu, sharing diskusi tentang kecintaan dengan orangutan juga membangkitkan semangat peserta untuk tetap terus menjaga keberadaan orangutan yang statusnya hampir terancam punah”, ujar Hanna Runtu (penerima BOCS sekaligus ketua panitia). 

Dari kedua pemantik diskusi juga berharap kedepannya semua generasi dapat ikut melestarikan lingkungan, alam, dan orangutan agar kelak kita dapat menikmati dan nyaman untuk tinggal dibumi dan dapat juga mengetahui dan mencintai satwa langka yang mempunyai kedekatan DNA dengan manusia, tutur Hanna lagi. 

Teman-teman BOCS yang melakukan kegiatan di Pontianak saat memperingati PPO 2019 beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung.

Kegiatannya talkshow dengan mengetengahkan topik pembahasan; Menghormati Hak Satwa Terancam Punah. Sebagai Narasumber pada talkshow tersebut adalah Ibu Eni Ratnawati dari BKSDA, Ibu Mariamah Achmad dari Yayasan Palung dan Kakak Harnes dari Yayasan Titian.

Para Narasumber saat menyampaikan materi pada talkshow tentang; Menghormati Hak Satwa Terancam Punah . Foto dok: Yayasan Palung

Selain itu ada juga kegiatan games kahoot.id, tujuannya untuk menguji pengetahuan peserta tentang orangutan dan ada pentas seni dengan penampilan tarian, puisi, dan akustik. Suasananya asik pada sesi talkshow dan game, karena peserta antusias sekali, Ilham Pratama satu dari panitia kegiatan mengatakan PPO 2019 di Pontianak.

Selain itu, ada dua puisi yang disampaikan oleh Pradono Singkawang judulnya Hutan dan Orangutan, tarian pohon, tarian Dayak kreasi, tarian Melayu opening. Selain itu juga ada Akustikan dari D’ERA band dan Merah Jingga. Adapun peserta yang mengikuti kegiatan tersebut diikuti oleh 72 orang peserta.

Victoria Gehrke, Direktur Program Yayasan Palung, mengatakan Karena semakin jelas bahwa melindungi satwa liar melalui hukum mungkin tidak cukup untuk melindungi spesies langka yang membahayakan secara global, kita harus mencari integritas moral kita dan menerapkan etika kita untuk menghormati hak-hak semua hewan liar untuk hidup bebas dan merasa terlindungi. Satwa liar yang terancam punah berarti mereka semua lebih rentan dan lebih jarang, dan ini adalah yang harus kita hargai dan lindungi sebelum mereka sepenuhnya hilang. Terima kasih semua yang telah berpartisipasi dalam pengorganisasian, menghadiri, berbagi, dan berpartisipasi dalam acara untuk Pekan Peduli Orangutan 2019. Ini adalah sukses besar!, kata Victoria lagi.

Semua rangkaian kegiatan PPO 2019 berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta yang hadir.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sampaikan Presentasi Tentang Metode Penelitian Baru Pada Konferensi Internasional di UNAS

Muhammad Syainullah ketika menyampaikan presentasinya yang berjudul : “Fecal Temprature of Wild and Captive Bornean Orangutans As a Proxy For Body Temprature” konferensi internasional di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Foto dok : Yayasan Palung/GPOCP

Pada 21 Oktober 2019 kemarin, saya berkesempatan menghadiri konferensi internasional di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Konferensi yang bertajuk “INTERNATIONAL CONFERENCE ON BIODIVERSITY FOR LIFE: SUSTAINABLE DEVELOMPMENT OF INDONESIA BIODIVERSITY” dengan tujuan membawakan presentasi sebagai pengenalan metode penelitian baru kami di Stasiun Riset Cabang Panti tentang suhu tubuh orangutan, presentasi yang saya bawakan berjudul “Fecal Temprature of Wild and Captive Bornean Orangutans As a Proxy For Body Temprature”

Penting halnya memantau kesehatan orangutan di alam liar untuk kita lebih jauh memahami bagaimana cara mereka bertahan hidup dialam liar, nah bagaimana caranya?, yaitu salah satunya dengan cara memantau kesehatan tubuh orangutan melalui suhu tubuhnya sebagai indikator kesehatan tubuh pada orangutan. Hal ini dikarenakan orangutan sebagai primata yang “homeothermic” atau dapat menghasilkan panas tubuhnya sendiri sebagai adaptasi terhadap lingkungannya di alam liar .

Orangutan sebagai hewan yang arboreal cenderung cukup sulit untuk mengambil suhu tubuh nya secara langsung, hal ini membuat kami menggunakan cara lainya untuk mengukur suhu tubuhnya yaitu dengan mengukur suhu feses orangutan sebagai proksi estimasi suhu tubuh.

Beberapa rekan para peneliti dan Direktur penelitian juga hadir pada saat konferensi. Foto dok : Yayasan Palung/GPOCP

Tidak hanya sendiri, saya juga ditemani beberapa rekan para peneliti dan Direktur penelitian juga hadir pada saat itu, sebut saja ada Agus Trianto, Ahmad Rizal, Amy Scott, Andrea Blackburn, Endro Setiawan (rekan staf TNGP yang melanjutkan studi pascasarjana di UNAS), hadir pula Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian GPOP dan OFP.

Saya mempresentasikan metode baru mengenai pengukuruan suhu tubuh orangutan melalui media feses tersebut secara detil tentang bagaimana itu berkerja dan hasil sementara yang kami dapatkan dari tahun 2017 sampai sekarang. Banyak respon positif yang saya dapatkan setelah presentasi saya usai, salah satunya adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu peserta konferensi yang berasal dari UNAS yaitu “apakah kebakaran hutan dan lahan mempengaruhi suhu tubuh orangutan dialam liar?” dan saya jawab dengan memuaskan.

Sebelumnya ada beberapa pakar-pakar sains, para profesor-frofesor yang ahli dibidangnya memmerikan presentasi, salah satunya adalah bapak Prof.Dr.Dedy Darnaedi sebagai keynote dari lembaga LIPI yang membawakan presentasi bertajuk “Diversity and the beauty of tropical fern: A new paradigm in managing Indonesian Biodiversity” yang secara khusus waktu itu menjelaskan tentang tumbuhan pakis Asplenium nidus atau yang biasa dikenal dengan nama lokal pakis bakah, tentang pesebaran dan manfaatnya. Dan masih banyak lagi presenter-presenter hebat lainnya.

Konferensi yang dimulai dari pukul 08.30 – 18.00 WIB tersebut, berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik, tak lupa foto bersama dengan para peserta lainnya yang hadir pada hari itu. Harapan saya adalah suatu saat saya akan menjadi bagian dari para pakar-pakar sains yang memberikan presentasi super hebat pada hari ini. Terima kasih.

Editor : Petrus Kanisius

Penulis : Muhammad Syainullah -Yayasan Palung (GPOCP)

Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2019, Ajakan untuk Menghargai Hak Asasi Spesies Terancam Punah

Pekan Peduli Orangutan 2019 : “Respecting The Rights Of Critically Endangered Spesies” (Menghargai Hak Asasi Spesies Terancam Punah) . Foto dok : Tim Laman.

Setiap tahunnya di bulan November selalu diperingati sebagai Pekan Peduli Orangutan (PPO). Pekan Peduli Orangutan sebagai cara untuk peduli, Menghargai Hak Asasi Spesies Terancam Punah

Pada PPO Tahun ini, rencana serangkaian kegiatan akan dilaksanakan dalam rentang waktu 15-17 November 2019. Adapun tema kampanye global untuk PPO 2019 adalah “Respecting The Rights Of Critically Endangered Spesies” (Menghargai Hak Asasi Spesies Terancam Punah). Dan sub tema dari PPO di Ketapang adalah “Generasi Milenial Peduli Orangutan dan Habitatnya”.

Seperti misalnya, Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) Yayasan Palung akan mengadakan serangkaian kegiatan di Taman Kota Ketapang, pada 15-17 November 2019. Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain, seperti; Perpustakaan, Puppet Show interaktif dan Photo Booth. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 3 hari, setiap harinya dimulai pukul 15.00 sampai pukul 17.00 WIB. Kegiatan perpustakaan, buku bacaan digelar diatas meja beralaskan terpal ataupun banner bekas, pengunjung bebas membaca di tempat. Panitia juga menyediakan boneka dan dialog, pengunjung diperbolehkan untuk memainkan boneka dengan dialog yang disediakan. Bagi pengunjung yang bersedia memainkan boneka / puppet show akan diberikan hadiah buku tulis YP dan majalah MIaS. Pengunjung juga akan diminta untuk swaphoto ataupun berfoto di photo booth, dan mengunggah foto tersebut di instagram dengan menandai instagram RK-TAJAM. Publikasi di media sosial akan dilakukan saat dan setelah kegiatan dilaksanakan berupa status dengan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya, foto dan video 1 menit untuk dipublikasikan di media sosial Yayasan Palung dan RK-TAJAM (Instagram, Facebook, Whatsapp, Youtube, dll) yang akan menyertakan beberapa hastag #OrangutanCaringWeek2019 #RespectingTheRights #CriticallyEndangeredSpesies #Orangutan #OrangutanBorneo #SaveOrangutanHabitat #NoForestFire #Volunteer #TAJAM #Ketapang #YayasanPalung, dll.

Sedangkan Relawan Bentangor Untuk Konservasi (RK-REBONK) Yayasan Palung akan melakukan kegiatan pendakian di Bukit Mendale, Kayong Utara, pada tanggal 16 atau 17 November 2019. Di puncak Bukit Mendale, rencananya REBONK akan melakukan pembentangan spanduk yang berisikan tulisan Pekan Peduli Orangutan 2019 dan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya. Kegiatan peringatan PPO 2019 berupa pendakian di Bukit Mendale, Kayong Utara. Pada puncak Bukit Mendale, REBONK akan melakukan pembentangan spanduk yang berisikan tulisan Pekan Peduli Orangutan 2019 dan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya. Publikasi di media sosial akan dilakukan saat dan setelah kegiatan dilaksanakan berupa status dengan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya, foto dan video 1 menit untuk dipublikasikan di media sosial Yayasan Palung dan RK-REBONK (Instagram, Facebook, Whatsapp, Youtube,dll) yang akan menyertakan beberapa hastag seperti : #OrangutanCaringWeek2019 #RespectingTheRights #CriticallyEndangeredSpesies #Orangutan #OrangutanBorneo #SaveOrangutanHabitat #NoForestFire #Volunteer #REBONK #KayongUtara #YayasanPalung, dll.

Selanjutnya teman-teman Bornean Orangutan Caring Scholarship atau lebih dikenal dengan BOCS yang merupakan salah satu program beasiswa dari Yayasan Palung akan mengadakan serangkaian kegiatan di Pontianak. Adapun rangkaian kegiatan yang akan mereka lakukan seperti kegiatan diskusi yang akan dilaksanakan, pada Kamis 14 November 2019, pukul 19.00 –22.00 WIB di Canopy Center . Kegiatan Talkshow yang rencananya akan dilakukan pada Sabtu, 16 November 2019 di Canopy Center, pukul 07.30 –11.00 WIB. Kemudian Kegiatan Malam Puncak pada Sabtu, 16 November 2019 di Canopy Center, pukul 19.00 –22.00 WIB. Publikasi di media sosial akan dilakukan saat dan setelah kegiatan dilaksanakan berupa status dengan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya, foto dan video 1 menit untuk dipublikasikan di media sosial Yayasan Palung, RK-TAJAM dan RK-REBONK (Instagram, Facebook, Whatsapp, Youtube, dll) yang akan menyertakan beberapa hastag: #OrangutanCaringWeek2019 #RespectingTheRights #CriticallyEndangeredSpesies  #Orangutan #OrangutanBorneo #SaveOrangutanHabitat #NoForestFire #Volunteer #BOCS #KalimantanBarat #YayasanPalung, dll.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan dan meningkatkan kesadartahuan tentang konservasi orangutan dan habitatnya. Selain itu juga, Mempublikasikan di media sosial kepada masyarakat mengenai wisata di Bukit Mendale, Kayong Utara. Menyadarkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan terutama sampah di sekitar.

Berharap, semoga semua rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan sebagai cara untuk peduli dengan nasib satwa dilindungi bisa berjalan sesuai harapan dan dapat meningkatkan penyadartahuan tentang konservasi orangutan dan habitatnya.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Booklet Katalog IDACRAFT

Foto dokumen : YP & LH KKU/ Salmah (Yayasan Palung), Rayendra dan Mamad (Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kayong Utara).

Ini adalah booklet katalog IDACRAFT yang berisi tentang informasi harga jual produk-produk dari hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Jika anda berminat untuk membeli produk-produk hhbk tersebut silakan menghubungi kami.

Terima kasih