Gunung Palung Orangutan Conservation Program

Pada hari Selasa, 21 Oktober 2025, halaman dan aula Kantor UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan dipenuhi suasana semangat dan keceriaan. Sejak pagi, para siswa dari berbagai SMA, SMK, dan MA di Kabupaten Ketapang telah berdatangan, membawa antusiasme dan rasa ingin tahu yang besar. Sebanyak 99 siswa hadir mengikuti kegiatan Pelatihan Demplot Konservasi dan Perekrutan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) yang diselenggarakan oleh Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung bekerja sama dengan UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan. Mereka didampingi oleh 8 guru pendamping dari masing-masing sekolah, yang turut berperan penting dalam memberikan dukungan dan motivasi bagi para siswa selama kegiatan berlangsung.
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Yayasan Palung untuk memperkuat kesadaran dan pengetahuan generasi muda tentang pentingnya konservasi alam. Program ini tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mengajak peserta untuk langsung mempraktikkan berbagai teknik pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan melalui kegiatan demplot konservasi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah perekrutan anggota baru Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM), yaitu kelompok muda binaan Yayasan Palung yang selama ini aktif melakukan berbagai kegiatan lingkungan di sekolah dan masyarakat.
Acara dimulai pukul 07.00 WIB dengan registrasi peserta, disusul pembukaan yang berlangsung hangat dan inspiratif. Widiya Octa Selfiany, Manajer Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, membuka kegiatan dengan sambutan yang penuh motivasi. Ia menyampaikan bahwa keberadaan generasi muda merupakan kunci keberlanjutan dalam menjaga alam. “Kami ingin menumbuhkan semangat peduli lingkungan sejak dini. Anak-anak muda harus tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka punya peran penting menjaga bumi ini,” ujarnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kuswadi, SP., M.Hut., Kepala UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan, yang secara resmi membuka kegiatan. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan lembaga kehutanan dalam menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian hutan. “Pelestarian alam tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak. Butuh keterlibatan semua lapisan, terutama generasi muda yang akan menjadi penjaga alam di masa depan,” ucapnya.
Setelah sesi pembukaan, para peserta mendapatkan kesempatan untuk menikmati coffee break sejenak sebelum memasuki sesi utama pelatihan. Tim dari UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan kemudian memaparkan berbagai materi yang menarik dan aplikatif. Materi pertama adalah tentang Mini Demplot Agroforestry, yaitu sistem integrasi tanaman kehutanan dan pertanian yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Peserta diajak memahami bahwa konservasi tidak harus mengorbankan kebutuhan ekonomi masyarakat, justru dapat menjadi solusi yang saling menguntungkan antara alam dan manusia.
Foto-foto kegiatan:




Foto-foto dok. Sela Yayasan Palung
Sesi berikutnya memperkenalkan Silvopastura, sistem kombinasi antara tanaman kehutanan dan peternakan. Para peserta belajar bagaimana tanaman pohon dan hewan ternak bisa hidup berdampingan dalam satu kawasan tanpa saling merugikan, justru saling mendukung secara ekologis. Materi ketiga membahas Silvofishery, pengelolaan tambak perikanan dengan pendekatan konservatif melalui penanaman vegetasi seperti mangrove yang berperan menjaga kualitas air dan habitat ikan.
Setelah itu, peserta dikenalkan dengan Persemaian Permanen, yang mengajarkan teknik pembuatan dan pengelolaan persemaian bibit pohon untuk mendukung kegiatan rehabilitasi lahan. Tidak kalah menarik, materi Woodvinegar (Cuka Kayu atau Asap Cair) menjadi perhatian peserta karena memperlihatkan inovasi ramah lingkungan hasil pembakaran kayu tanpa oksigen yang dapat dimanfaatkan untuk pestisida alami dan pupuk organik. Menjelang siang, kegiatan dilanjutkan dengan Simulasi Brigade Dalkarhutla, di mana peserta belajar mengenai teknik dasar pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Mereka diperkenalkan dengan alat-alat pemadaman sederhana dan prosedur keselamatan di lapangan.
Suasana semakin hidup ketika peserta diajak untuk praktik langsung di lapangan. Dalam sesi praktik ini, mereka dibagi dalam beberapa kelompok kecil dan diarahkan oleh tim fasilitator dari UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan serta tim pendidikan lingkungan Yayasan Palung. Para siswa menanam bibit, mengatur pola tanam agroforestry, dan melihat proses pembuatan woodvinegar secara langsung. Guru pendamping tampak aktif memberi semangat, sementara beberapa siswa mencatat dan mendokumentasikan setiap langkah sebagai bahan pembelajaran di sekolah.
Kegiatan ini juga terasa istimewa karena melibatkan siswa PKL dari SMKN 01 Ketapang dan mahasiswa magang dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura . Mereka berperan membantu panitia dan peserta dalam pendampingan teknis, dokumentasi, serta penyusunan laporan kegiatan. Kolaborasi lintas jenjang pendidikan ini menjadi bukti nyata bahwa kegiatan konservasi dapat menjadi ruang belajar bersama bagi semua kalangan.
Sepanjang kegiatan, antusiasme peserta tidak surut sedikit pun. Mereka aktif bertanya dan berdiskusi dengan narasumber, menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai praktik konservasi yang diajarkan. Beberapa peserta bahkan menyampaikan pengalaman pribadi mereka yang sebelumnya belum pernah mengenal langsung kegiatan kehutanan.
Dari total 99 peserta yang mengikuti pelatihan, tercatat 30 siswa menyatakan kesediaannya untuk bergabung menjadi calon anggota Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM). Menariknya, dari jumlah tersebut 29 adalah perempuan dan 1 laki-laki, menunjukkan bahwa semangat konservasi kini banyak tumbuh di kalangan pelajar perempuan. Mereka akan menjadi bagian dari program pembinaan lanjutan Yayasan Palung yang meliputi kampanye lingkungan, penanaman pohon, kegiatan edukasi, dan advokasi lingkungan di sekolah masing-masing.
Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan penyampaian kesan dari beberapa peserta. Banyak siswa mengaku sangat senang bisa belajar langsung dari para ahli dan merasakan pengalaman baru di luar kelas. “Saya baru tahu ternyata menjaga lingkungan bisa dilakukan dengan cara yang menarik seperti ini. Saya ingin ikut RK-TAJAM agar bisa terus belajar dan berkontribusi,” ujar salah satu peserta dari SMAN 01 Ketapang.
Sesi penutupan dipandu oleh Sela Darmiyati dari Yayasan Palung, yang menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan, mulai dari sekolah, guru pendamping, hingga tim KPH Wilayah Ketapang Selatan. Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada peserta yang antusias dan berkomitmen menjadi bagian dari gerakan konservasi muda di Ketapang.
Dalam kesempatan tersebut, Widiya Octa Selfiany menegaskan kembali pentingnya kolaborasi lintas lembaga dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan pelajar. Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan menjadi langkah awal terbentuknya jaringan relawan muda peduli hutan dan lingkungan. “Kami ingin setiap sekolah memiliki agen-agen perubahan yang berani bertindak untuk alam. RK-TAJAM adalah wadah bagi generasi muda untuk belajar dan bertumbuh menjadi penjaga alam sejati,” tuturnya menutup acara.
Baca juga pontianak.tribunnews.com : Yayasan Palung dan KPH Ketapang Selatan Latih Siswa dan Rekrut Relawan Konservasi
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore ini berjalan lancar dan penuh makna. Selain memberikan pengalaman belajar yang nyata, pelatihan ini juga mempererat kerja sama antara Yayasan Palung, UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan, dan pihak sekolah. Dengan sinergi ini, diharapkan semakin banyak pelajar yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.
Semangat para peserta hari itu menjadi bukti bahwa upaya konservasi tidak hanya tentang menanam pohon, tetapi juga menanam nilai-nilai kepedulian di hati generasi muda. Mereka adalah calon-calon penjaga alam masa depan yang siap menjaga keberlanjutan ekosistem hutan di Kabupaten Ketapang dan sekitarnya. Dengan dukungan berbagai pihak, kegiatan seperti ini akan terus menjadi wadah pembelajaran, kolaborasi, dan inspirasi bagi lahirnya generasi muda pelindung bumi yang tangguh dan berkomitmen.
Dokumen foto & video: Tengku Nesya Aulia/Kuliah Magang Berdampak (KMB) Yayasan Palung
Penulis: Widiya Octa Selfiany-Yayasan Palung