Universitas Tanjungpura Sukses Selenggarakan Konferensi KOBI yang Kedua

Yayasan Palung menyertakan dua peneliti dari Boston University, yaitu Natalie Robinson dan Tori Bakley untuk menjadi invited speaker pada Konferensi KOBI yang ke-2 di Untan, beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung

Fakultas MIPA Biologi Universitas Tanjungpura Pontianak menyelenggarakan Konferensi KOBI(Konferensi Konsorsium Biologi Indonesia) yang  kedua, Sabtu 6-8 September 2019, kemarin.

Ada pun beberapa rangkaian kegiatan dalam kegiatan KOBI diantaranya seperti mempresentasikan temun terbaru tentang biologi dan pendidikan biologis.

Sedangkan tujuan dari konferensi KOBI diantaranya mempromosikan, kolaborasi antara ilmuan akademik nasional dan internasional, peneliti-peneliti bidang biologi dan  yang berhubungan dengan biologi.

Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung (GPOCP), mengatakan, “Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak merupakan tuan rumah acara konferensi KOBI yang kedua. Yayasan Palung sebagai mitra kerja dengan senang hati memberikan dukungannya agar kegiatan konferensi ini dapat berjalan. YP juga telah menyertakan dua peneliti dari Boston University, yaitu Natalie Robinson dan Tori Bakley untuk menjadi invited speaker. Mereka memberikan presentasi tentang parasit di Orangutan dan Perilaku makan ibu-anak pada orangutan.

Lebih lanjut, Wahyu mengatakan, selain dari peneliti dari berbagai wilayah di Indonesia, acara ini juga dihadiri oleh para peneliti asing, seperti Australia, Amerika, Singapore dan Malayasia.

Stand pameran Yayasan Palung dalam acara Konferensi KOBI. Foto dok : Yayasan Palung

Dalam Konferensi KOBI menyediakan tempat untuk berpartisipasi membuka stand pameran. Pada kesempatan tersebut, Yayasan Palung memamerkan beberapa produk dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti tas, gelang, cincin, tikar, media informasi (media kampanye Yayasan Palung) seperti stiker dan majalah MiaS. Dalam pameran tersebut, ikut berparisipasi teman-teman penerima beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS).

Konferensi KOBI tahun ini di Untan merupakan yang kedua, setelah dua tahun lalu dilaksanakan untuk pertama kalinya di Universitas Sumatera Utara (USU).

Wahyu, Natalie, Mayi dan Tori saat mengikuti Konferensi KOBI yang ke-2 di Untan. Foto dok : Yayasan Palung
Para peserta yang sangat antusias mengikuti Konferensi KOBI yang ke-2 di Untan. Foto dok : Yayasan Palung

Semua rangkaian kegiatan dalam acara tersebut sukses dilaksanakan dan mendapat sambutan baik dari semua peserta yang hadir.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Merindu Langit Biru

Aktivitas sehari-hari terganggu dengan munculnya asap. Foto dok : ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.

Awan, kemana engkau

Hujan dimana dirimu

Mengapa asap engkau yang ada

Ku tak tahu, ku merindu langit biru

Kenapa asap engkau di langit

Ku sungguh merindu awan hujan

Langit biru ku mencarimu

Pongah lengah kalah dengan si jago merah

Merenda asa sesak mulai mendera sesak di dada

Bernafas dalam asap, minum dalam air asin

Ku tak tahu harus merindu kepada benalu

Benalu rindu awan biru

Bukan awan kelabu atau asap di langit

Sungguh ku tak tahu merindu

karena beningnya pengelihatan terselubung kabut

mencari cara agar mereda

mereda agar merenda asa

secerca harap agar langit tetap selalu biru

Ratusan titik bara api hingga mencapai ribuan menghampiri sunyinya malam hutan belantara

Pagi menjelang siang engkau pun semakin garang

Tak hanya menghampiri tetapi melahap segenap yang engkau lalui

Merindu tuan yang bijak nan ramah agar tak menyulut percik demi percik api lagi

Mereda hingga reda itu perjuangan para penjinak para pantang pulang sebelum padam

Harapku hujan pun segera turun menyapu dan kiranya asap cepat berlalu.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5d71e674097f362ab933dfd2/merindu-langit-biru

Ketapang, Kalbar, 6/8/2019
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hutan dan Kita Satu Kesatuan yang Tak Terpisahkan

Tipe Hutan alluvial di Gunung Palung. Salah satu ciri khas hutan alluvial banyak ditumbuhi tanaman yang rendah (Stacyprinium sp.). Foto dok : Wahyu Susanto, Yayasan Palung (GPOCP)

Hutan dan kita menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Hutan menjadi nafas semua makhluk hidup. Hutan sebagai sumber dari segalanya. Manusia perlu hutan, hutan perlu berlanjut jika semua makhluk ingin berlanjut dan lestari, maka hutan harus tetap ada karena mereka (hutan dan kita) satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Hutan dan kita ibarat selain menjadi satu kesatuan juga sebagai sebagai nafas, demikian singkatnya. Dengan demikian, hutan dan kita memerlukan kebebasan untuk saling harmoni agar bisa terus berlanjut.

Hutan memerlukan kita (manusia) untuk menyemai, memupuk dan melestarikannya. Kita (manusia) bisa berlanjut karena hadirnya hutan.  Bila hutan tetap terjaga maka kita pun masih bisa berlanjut hingga nanti.

Hutan dan manusia yang sejatinya harus harmoni. Keharmonisan kita kepada hutan memberi harapan. Tak sedikit harapan tertuju, hutan memberi berarti kita harus menjaga.

Bukannya membiarkan hutan terus tergadai, tetapi bagaimana cara agar kita bisa menjaga hutan agar tetap ada. Kita (manusia) perlu hutan. Sejatinya hutan tak perlu manusia, tetapi bagaimana hutan yang memberikan berjuta manfaat  kepada makhluk lainnya.

Ada dua pilihan, bagaimana hutan dan kita bisa berlanjut atau sebaliknya. Hutan terjaga kita sejahtera. Adanya hutan, masyarakat pun bisa memanfaatkan hasil dari tersedianya ragam tumbuh-tumbuhan  dan hewan. Tumbuhan yang menyediakan manfaat sebagai obat tradisional dan kebutuhan lainnya. Selain itu, hewan seperti orangutan dan burung enggang berperan sebagai petani hutan.

Beragam manfaat hutan yang boleh kita terima hingga saat ini perlu kita syukuri. Nafas  gratis yang boleh kita terima hari ini dan sebelumnya menjadi dasar bagaimana kita menerima manfaat. Hutan sebagai sumber kehidupan, berarti ia memberi tanpa pamrih. Apakah kita bisa seperti hutan yang memberi tanpa harus menerima.

Tak bisa disangkal, hutan sebagai  satu kesatuan yang harus harmoni hingga selamanya. Semua nafas keberlanjutan makhluk hidup sejatinya harus berlanjut.  Berlanjut berarti harapan pasti semua nafas bisa lestari. Apabila nafas terhenti, maka semua akan tinggal cerita.

Memberi berarti harus mampu memberi harapan. Harapan, agar bagaimana cara kita untuk peduli pada nasib hutan.  Dengan tersedianya hutan berarti pula masih ada harapan agar bumi/ hutan dan tanah air bisa berlanjut hingga nanti. Semoga saja…

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : http://monga.id/2019/09/hutan-dan-kita

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Kisah Kerhutla dan Asap yang Selalu Berulang dan Tak Kunjung Usai

Karhutla yang terjadi di Pelang, Matan Hilir Selatan beberapa waktu lalu. Foto dok : Rsl/Yayasan Palung

Ada Asap Pasti Ada Api, “Kita dan Masalah Asap yang Selalu Berulang dan Tak Kunjung Usai”

Kita dan masalah asap yang selalu berulang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan saat ini. Akan tetapi, kita dan persoalan asap pun  menjadi bagian dari obyek dan tak kunjung usai. Ada asap pasti ada yang membakar.

Beberapa hari lalu hingga kemarin, helikopter hilir mudik mengitari langit yang sedikit mendung. Tujuan mereka tak lain untuk memadamkan beberapa titik api yang ada di beberapa titik karhutla yang ada di Ketapang.

Sebelumnya, tititk api terpantau di beberapa wilayah. seperti di Matan Hilir Selatan, Sungai Melayu Rayak, Kendawangan dan Tumbang Titi terpantau 44 titik api, berdasarkan data BMKG, dua hari lalu. Titik api ini jauh berkurang dibandingkan beberapa hari lalu, tepatnya seminggu lalu yang menyebutkan titik api di Ketapang sebanyak 60 titik api. Berkurangnya jumlah titik api dikarenakan oleh terjadinya hujan beberapa hari ini.

Kita selalu menghisap asap setiap musim kemarau tiba, ini karena sering kali terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kita dan asap seolah sesuatu yang tak terpisahkan bahkan cenderung berulang dan tak kunjung usai sebagai tanda nyata bahwa kita sebagai penerima dampak langsung dan tak langsung.

“Kalimantan terbakar. Kami terbangun setiap pagi oleh helikopter membawa air, hujan abu, dan ada asap di udara menyebabkan banyak staf saya harus pulang karena sakit karena asap”, ujar Victoria Gehrke selaku Direktur Yayasan Palung.

Ia pun prihatin dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Ketapang dan Kayong Utara. Lebih khusus di wilayah hutan desa, beberapa titik api membakar lahan dan mengeringkan lahan pertanian masyarakat dan mengeringnya lahan gambut semakin memperparah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.  Semoga kabut asap segera berakhir dan berharap hujan segera turun, ujar Victoria lagi.

Terjadinya kebakaran hutan dan lahan menjadi tanda-tanda nyata bahwa kita dan persoalan asap seolah berpadu menjadi satu namun memberi dampak yang tidak baik bagi lingkungan sekitar atau diri kita (dampak buruk dari setiap terjadinya kebakaran hutan dan lahan). Dampak dari terjadinya kebakaran itulah yang sering kali berpengaruh kepada kita. Dari (di/ter)bakarnya hutan itulah timbul asap.

Sakit penyakit yang diderita semisalnya ispa dan batuk flu itu sudah pasti. Selain itu, juga asap mengganggu aktivitas sehari-hari dan aktivitas lainnya, tak terkecuali penerbangan dan aktivitas anak sekolah yang acap kali diliburkan ketika musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi.

Tak hanya asap dan sakit penyakit yang dimbulkan dari adanya kebakaran hutan dan lahan. ragam tumbuhan dan satwa bisa saja menjadi korban dari ganasnya api (karhutla). Seperti misalnya beberapa hari lalu, petugas pemadam kebakaran menemukan seekor trenggiling  (Manis javanica) yang terpanggang di lahan yang terbakar di Matan Hilir Selatan, Ketapang.

Kita dan asap dua hal yang tidak bisa disangkal sekaligus menakutkan. Hutan hujan yang kaya akan keanekaragaman hayati menjadi sulit untuk dipertahankan sekaligus menjadi dasar kuat bagaimana mempertahannnya sebagai keberlanjutan nafas semua makhluk hidup. Dua hal yang saling bertentangan tetapi terjadi. Ini fenomena, pada satu sisi, hutan perlu diselamatkan, tetapi disisi lain hutan selalu menjadi korban karena (di/ter)bakar secara berulang dan tak kunjung usai.

Apa penyebab hutan terbakar, kita dan masalah asap yang selalu berulang?. Ada asap pasti ada api. Lalu siapa yang membakar?. Ada penyebab terjadinya kebakaran, mustahil kiranya jika tidak ada penyebab. Perluasan area untuk pembukaan lahan yang selanjutnya (di/ter)bakar menjadi biang timbulnya asap yang sulit pergi hingga berimbas pada sulitnya beraktivitas akibat asap yang terjadi. Selain juga, perilaku manusia yang secara sengaja membuang puntung rokok di sekitaran hutan ketita melintas akan berdampak kepada kebakaran hutan dan lahan.

Sayangnya dan celakanya lagi, setiap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi yang menjadi kambing hitam adalah masyarakat akar rumput/petani kecil. Sedangkan di lahan-lahan berskala besar yang terbakar tak tersentuh. Itu nyata terjadi dan memberi gambaran pasti kenapa kebakaran selalu berulang.

Kenapa persoalan ini terjadi dan selalu berulang. Ini yang menjadi soal, persoalannya adalah ketika asap yang mendera berdampak kepada manusia (kita) secara keseluruhan makhluk hidup tidak terkecuali tumbuhan dan hewan (dampak ekologis).

Jika persoalan ini terjadi dan terus berulang, maka tidak sedikit yang dikorbankan. Semua nafas makhluk hidup menjadi satu kesatuan yang utama dan harus harmoni hingga selamanya. Mengingat, sesungguhnya manusialah yang perlu alam/hutan. 

Berharap, karhutla bisa diatasi dan asap tidak terjadi lagi, sehingga kita semua bisa beraktivitas dengan baik tanpa gangguan. Semoga saja…

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5d64c2eb097f3663db149082/ada-asap-pasti-ada-api-selalu-berulang-dan-tak-kunjung-usai

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mengalami Nasib Tragis, Si Manis Ditemukan Mati di Lokasi Karhutla

Trenggiling yang ditemukan mati di lokasi Krhutla di Pelang, hari Selasa (20/8/2019) kemarin. Foto dok : Brigadir Suhanadi

Nasib tragis harus diterima si manis atau Trenggiling yang dalam bahasa latinnya disebut Manis Javanica ini ditemukan dalam keadaan mati terpanggang oleh ganasnya api akibat Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang di Pelang, hari Selasa (20/8/2019) kemarin.

Saat itu, bermula tim pemadam kebakaran dari tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Daops Ketapang, TNI dan Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) Pelang, Matan Hilir Selatan (MHS) menemukan secara tidak sengaja si manis/Trenggiling di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada pukul 10.00 WIB.

Adapun lokasi ditemukannya trenggiling di lahan perkebunan masyarakat, di jalan Pelang Tumbang Titi, Dusun 4 Kanalisasi Desa Sungai Pelang, Kecamatan, Matan Hilir Selatan.

 Satu ekor trenggiling yang ditemukan terpanggang itu dinyatakan sudah tak bernyawa (mati) tersebut diperkirakan berasal dari hutan sekitar yang terbakar dan terkepung oleh api. Diperkirakan trenggiling tersebut mati karena terjebak api yang melahap wilayah perkebunan milik masyarakat Pelang.

Trenggiling yang ditemukan mati di lokasi Krhutla di Pelang, hari Selasa (20/8/2019) kemarin. Foto 2, dok : Brigadir Suhanadi

Tim gabungan pun selanjutnya langsung menghubungi pihak BKSDA Seksi Wilayah 1 Ketapang. Menurut informasi dari Brigadir Suhanadi, selaku Bhabinkamtibmas Pelang, Matan Hilir Selatan mengatakan; Dari pihak BKSDA meminta agar trenggiling tersebut agar dikubur saja.

Sekedar informasi tentang trenggiling :

Dalam Bahasa Inggris, trenggiling disebut dengan nama Sunda Pangolin atau Malayan Pangolin.

Trenggiling atau disebut juga sebagai trenggiling biasa, merupakan hewan yang hidupnya mendiami wilayah-wilayah sekitar hutan hujan di Asia, termasuk di hutan hujan Indonesia. Di Indonesia, sebaran trenggiling adalah di Kalimantan, Sumatera dan Jawa.

Di dunia, hewan yang tergolong mamalia nokturnal ini memiliki delapan spesies, empat spesies diantaranya terdapat di Asia dan empat spesies lainnya di Afrika.

Untuk menandai wilayah keberadaannya, biasanya trenggiling dengan memberikan tanda berupa kotoran dan air seninya.

Saat ini, keberadaan atau nasib Si Manis semakin laris manis sesuai namanya, karena beberapa hal salah satunya karena masih maraknya perburuan dan hilangnya habitat hidup mereka berupa hutan. Perburuan terhadap daging dan sisik trenggiling untuk diperdagangkan menjadikan hewan ini keberadaannya dari hari ke hari semakin langka hingga terancam punah.

Dari tahun ke tahun, data menyebutkan masih maraknya perdagangan dari sejak dulu hingga saat ini sangat memprihatinkan. Tidak bisa disangkal nasib dari hewan ini kian sulit bertahan dan berkembang biak di habitat hidupnya.

Sebagai contoh, misalnya, hewan atau satwa yang terancam punah ini semenjak 10 tahun terakhir telah diambil kurang lebih satu juta ton dari habitatnya. Hal ini tentunya yang membuat kekhawatiran nantinya apakah trenggiling bisa bertahan hingga nanti.

Sebagian orang mempercayai, sisik trenggiling digunakan sebagai obat yang dipercayai pula berkhasiat menyembuhkan penyakit seperti kelumpuhan. Sedangkan dagingnya diperjualbelikan untuk dikonsumsi.

Beberapa fakta tentang perburuan terhadap hewan berlidah panjang ini juga menjadi kekhawatiran bersama terkait penegakan hukum yang boleh dikata masih lemah dan cenderung diabaikan oleh para pemburu sehingga yang terjadi adalah perburuan dan perdagangan masih saja terjadi.

Dari data IUCN (International Union for Conservation of Nature) memasukkan trenggiling dalam daftar sangat terancam punah/kritis di habitatnya (Critically Endangered– CR).

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2019/08/23/seekor-trenggiling-ditemukan-mati-di-lokasi-karhutla-desa-sungai-pelang-ketapang

Pontianak Post : https://pontianakpost.co.id/trenggiling-terpanggang

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Merayakan IOD 2019: Yayasan Palung Bersama Para Relawan Lakukan Ragam Kegiatan, Ajakan untuk Peduli Terhadap Nasib Orangutan

Salah seorang yang tampil dalam acara IOD 2019 berperan sebagai Orangutan. Foto dok : Yayasan Palung

Ragam kegiatan telah Yayasan Palung (@yayasan_palung @savegporangutans ) bersama relawan Tajam dan relawan RebonK ( @rk_tajam dan @rebonk_yp ) suguhkan dalam rangka merayakan Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day  2019, dengan berbagai kegiatan dengan dan mereka pun melaksanakannya dengan penuh sukacita dan kebersamaan, di Tugu Durian dan Pantai Pulau Datok, KKU, Minggu (18/8) kemarin.

Kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian bersama akan nasib hutan dan orangutan. Sesuai tema Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD) yang diambil tahun ini : “ Melestarikan Orangutan dan Hutan untuk Generasi yang Akan Datang” dengan cara kampanye penyadartahuan kepada semua pihak agar ada kepedulian bersama nasib orangutan dan hutan bisa berlanjut untuk generasi.

Ragam kegiatan dalam rangka IOD 2019 antara lain seperti orasi, teatrikal dan puppet show (panggung boneka) yang bercerita tentang nasib orangutan dan hutan saat ini. Nafas semua makhluk hidup harus berlanjut untuk masa depan. Selain itu rangkaian live music juga suguhkan dengan menyanyikan lagu-lagu lingkungan. Semua itu dilakukan untuk mengingatkan kepada kita semua tentang arti penting hutan dan orangutan bagi masa depan kita. Orangutan perlu hutan. Semua Harus Bisa Lestari untuk Anak Cucu (#orangutans #orangutan #parluhutan. #semuaharusbisalestariuntukanakcucu ).

View this post on Instagram

#internationalorangutanday Saat Kami Merayakan Hari Orangutan Internasional 2019 Ragam kegiatan telah teman-teman @yayasan_palung @savegporangutans bersama relawan @rk_tajam dan @rebonk_yp suguhkan dengan penuh sukacita dan kebersamaan, di Tugu Durian dan Pantai Pulau Datok, KKU, (18/8) kemarin. Adapun ragam kegiatan yang dilakukan adalah orasi, teatrikal dan puppet show (panggung boneka) yang bercerita tentang nasib orangutan dan hutan saat ini. Nafas semua makhluk hidup harus berlanjut untuk masa depan. Selain itu rangkaian live music kami suguhkan. Semua itu dilakukan untuk mengingatkan kepada kita semua tentang arti penting hutan dan orangutan bagi masa depan kita. #orangutans #orangutan #parluhutan . #semuaharusbisalestariuntukanakcucu . Partisipasi dari semua sispala yang ada di KKU dan beberapa Komunitas juga menjadi Pelengkap dan meriahnya kegiatan. Saat-saat yang paling ditunggu dan disukai pada kegiatan tersebut adalah teater dan puppet show yang bercerita tentang nasib orangutan dan hutan yang berada dalam ancaman nyata, tetapi ia (orangutan dan hutan) harus berlanjut demi nafas semua makhluk hidup. 🚶🐈🦁🙉🙀🌵🌱🌾🌷💐 di 🌍 ini. #hutan #perlu #orangutan #manusia #perlu #hutan #semua #all #harus #harmoni #hutanuntukmasadepan #iod2019 #wod2019 #tribunpontianak #pontianakpost #kompasiana #kompas #natgeo #mongabayindonesia #yayasanpalung #orangutans @yayasan_palung @savegporangutans #gpocp @rk_tajam @rebonk_yp Narasi: @petruskanisiuspit 📸 : Pit dan panitia IOD 2019

A post shared by Petrus Kanisius (Pit) (@petruskanisiuspit) on

Saat orasi, mereka (peserta orasi) menyerukan perlunya hutan dan orangutan untuk generasi yang datang. Lebih lanjut mereka juga menyebutkan nasib orangutan saat ini perlu peran dari semua pihak karena berbagai ancaman yang terjadi pada orangutan dan hutan. Luasan hutan semakin berkurang/hilang, sementara orangutan perlu hutan sebagai habitat hidup mereka berupa hutan. Demikian juga dengan manusia yang memerlukan hutan dan orangutan sebagai satu kesatuan makhluk ciptaan yang harus selalu harmoni hingga nanti. Mereka juga tampak membawa pesan yang ditulis saat orasi. Beberapa pesan yang mereka bawa serta dalam orasi diantaranya : “ Lindungi Hutan & Orangutan untuk Masa Depan”,  “Lestarikan Hutan untuk Orangutan & Masa Depan” dan “ Generasi Sekarang Lindungi Hutan dan Orangutan”.

Sedangkan dalam cerita puppet show, mereka bercerita tentang nasib orangutan yang selalu diburu, diperjualbelikan dan dipelihara. Hal yang sama juga terjadi pada hutan yang selalu ditebang sehingga nasib hidup orangutan semakin sulit untuk berkembang biak. Pada akhir cerita, mereka berpesan menyampaikan perlunya mejaga lingkungan dan orangutan.

Selaku ketua panitia kegiatan, Anggi Sapura, dari Relawan RebonK mengatakan, kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian kita semua akan nasib orangutan dan hutan. Anggi menambahkan, semua rangkaian kegiatan ini kami lakukan sebagai bentuk kepedulian agar ada tumbuh kecintaan dari semua kepada nasib mereka (hutan dan orangutan) sebelum terlambat.

Sedangkan Riduwan selaku pembina Relawan RebonK mengatakan, semua yang mereka (relawan Tajam dan RebonK) lakukan ini sangat baik, sama halnya dengan apa yang mereka suguhkan. Kepedulian dari semua pihak menjadi sangat penting saat ini akan nasib satwa endemik ini. Jika bukan kita siapa lagi, ujarnya lagi.

Sementara itu, Rayendra perwakilan dari Dinas PerKim LH KKU mengatakan, Merupakan ide yang bagus untuk merayakan hari orangutan internasional atau hari lingkungan lainnya melalui pertunjukan teater dan pertunjukan hiburan lainnya, sehingga publik dapat menerima pesan dengan mudah. Dua jempol untuk tim Yayasan Palung, ujarnya lagi.

Partisipasi dari semua Sispala yang ada di KKU seperti Sispala Grepala (SMAN 3 Simpang Hilir), Sispala Land (SMKN 1 Sukadana), Sispala Tapal ( SMKN 1Simpang Hilir) dan Sispala Peramas Sakti (SMAN 1 Sukadana). Selain itu ikut serta pula beberapa Komunitas dalam kegiatan tersebut sehingga menjadi Pelengkap dan meriahnya kegiatan. Adapun komunitas yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain seperti; Pandara, Friends Journey, Kamipala Kalbar, Komusa, Explore Alam Kalimantan, Penikmat Senja, ASRI Teens, Kebersamaan Community, Petani Muda Mandiri, dan Amfibi Reptile Indonesia.

Direktur Program Yayasan Palung, Victoria Gehrke, mengucapkan terima kasih banyak kepada para relawan (Relawan Tajam dan Relawan RebonK), para komunitas dan para sispala.Selain itu juga terima kasih kepada Dinas Pariwisata yang telah memberikan tempat untuk kami berkegiatan. Terima kasih pula kepada pihak kepolisian yang telah membantu mengamankan jalannya kegiatan ini.

Lebih lanjut Victoria mengatakan, Teater yang dinamis dan interaktif menyampaikan pesan konservasi kami dengan cepat kepada masyarakat setempat, dan saya sangat terkesan dengan komitmen dan kerja keras para Relawan dan sukarelawan untuk acara ini. Terima kasih juga Laura Brubaker-Wittman untuk ” Workshop teater interaktif untuk perubahan” minggu lalu, ini sudah terbukti efektif.

Saat-saat yang paling ditunggu dan disukai pada kegiatan tersebut adalah teater dan puppet show (panggung boneka) yang bercerita tentang nasib orangutan dan hutan yang berada dalam ancaman nyata, tetapi ia (orangutan dan hutan) harus berlanjut demi nafas semua makhluk hidup.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung