Rayakan Hari Sumpah Pemuda, Relawan REBONK Lakukan Serangkaian Kegiatan

Pesan kampanye yang dibuat oleh relawan REBONK Saat merayakan hari Sumpah Pemuda. (Foto : Demi/REBONK/YP)

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang terjadi pada tanggal 28 Oktober, Yayasan Palung bersama Relawan REBONK kembali melaksanakan kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tanggal 30-31 Oktober 2021 di Kantor Yayasan Palung (Bentangor), Desa Pampang Harapan.

Kegiatan ini memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa semangat dan cinta pemuda kepada bangsa dan tanah air ini. Seperti halnya kata Presiden pertama Indonesia Bapak Ir. Soekarno, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah)” artinya sebagai generasi pemuda penerus bangsa jangan sesekali melupakan jasa para pahlawan bangsa ini. adapun kegiatan ini diikuti oleh sekitar 35 orang yang terdiri dari 20 orang peserta (calon anggota REBONK angkatan 11) dan 15 panitia (REBONK angkatan 10).

Adapun bentuk kegiatannya adalah pertama yaitu lomba cerdas cermat yang terdiri dari mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan pengetahuan umum.

Foto-foto kegiatan :

Khusus Pendidikan Kewarganegaraan soal-soal yang dijabarkan adalah berkaitan dengan sumpah pemuda. kemudian lomba selanjutnya adalah lomba kelereng, kemudian lomba menyusun puzzle, lomba memasukkan paku dalam botol, lomba makan kerupuk dan lomba balon dangdut. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian hadiah lomba. Setelah semua rangkaian kegiatan lomba selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama dengan membawa beberapa pesan kampanye yang berkaitan dengan hari sumpah pemuda.

Sebagai pemenang lomba rayakan hari sumpah pemuda adalah kelompok dua, juara dua kelompok satu dan juara tiga kelompok tiga.

Sedangkan pesan-pesan kampanye yang dibuat diantaranya seperti; Selamat Hari Sumpah Pemuda, Masa Depan Bangsa dalam Genggaman Para Pemuda, Berikan Aku Satu Pemuda Niscaya akan Kuguncangkan Dunia, dan beberapa pesan kampanye lainnya. semua rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun.

Baca juga :

Semua rangkaian kegiatan perayaan sumpah pemuda dilaksanakan sesuai dengan rencana dan berjalan dengan baik.

Penulis : Riduwan-Yayasan Palung

Ini Fakta Tumbuhan Liana yang Banyak Memberikan Manfaat Bagi Satwa

Tumbuhan Liana. (Foto : Yayasan Palung).

Tumbuhan ini jika boleh dikata adalah tumbuhan pemanjat (merambat pada pohon), mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan kepada tumbuhan liana. Liana banyak memberikan manfaat bagi satwa.

Ia bukan pohon, tetapi tumbuhan. Hidup menempel (menumpang) serta menjalar pada pohon sebagai penopangnya untuk mendapakan cahaya matahari. Tumbuhan liana bukan tumbuhan parasit (tumbuhan yang merugikan tumbuhan lain) seperti ficus sp (kayu ara) misalnya.

Menariknya, tumbuhan liana ternyata banyak memberikan manfaat bagi satwa. Seperti misalnya akar liana yang menjalar atau menggantung bisa menjadi arena bermain bagi satwa dan buah dari liana menjadi makanan favorit satwa.

Tidak hanya buah, tetapi satwa seperti orangutan sangat suka memakan daun muda dan kulit dari liana. Untuk buah, orangutan sangat senang memakan buah liana jenis Willugbeia sp. (buah jantak) karena rasanya manis.

Beberapa satwa seperti monyet ekor panjang, kelempiau, kelasi dan orangutan diketahui sangat menyukai tumbuhan liana sebagai makanan. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum sp, dan lain-lain.

Seperti diketahui, kelimpahan liana di Stasius Riset Cabang Panti (SRCP) di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Diketahui pula, keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

Baca juga :

Tumbuhan liana merupakan tumbuhan yang memiliki batang yang keras namun untuk mendapatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis (proses pertukaran CO2 dan O2), liana membutuhkan tumbuhan lain seperti pohon. Akar liana berbeda dengan Ficus sp.   Organ tubuhnya menempel pada pohon.

Berharap, tumbuhan liana yang ada ini harus tetap terjaga kelestariannya, karena tumbuhan liana sangat banyak manfaatnya terutama untuk satwa (primata).

Penulis : Petrus Kanisius

Editor : Dwi Yandhi F.

(Yayasan Palung)

Ajakan untuk Peduli Lingkungan, YP Lakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan Ke Masyarakat dan Sekolah

Riduwan saat menyampaikan presentasi tentang Perlindungan Satwa Orangutan. (Foto : Pit/Yayasan Palung).

Ekspedisi Pendidikan Lingkungan menjadi salah satu cara Yayasan Palung (YP) untuk mengajak masyarakat dan sekolah untuk peduli lingkungan. Seperti misalnya, Yayasan Palung melaksanakan Ekspedisi pada Senin (11/10/2021) hingga Jumat (15/10/2021) di Desa Petai Patah dan Desa Muara Jekak, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang. 

Serangkaian kegiatan yang dilakukan selama Ekspedisi antara lain seperti pemutaran film lingkungan, diskusi dengan masyarakat untuk menyampaikan sosialisasi tentang satwa dilindungi, pengenalan satwa dilindungi melalui pertunjukan boneka (Puppet Show) di Sekolah Dasar (SD), Ceramah lingkungan (Lecture) tentang pengenalan dan perlindungan satwa orangutan di tingkat SMP/SMA/SMK.

Saat melakukan ekspedisi, kami menyambangi sekolah-sekolah yang ada di dua desa tersebut, mengingat sekolah sudah mulai dibuka kembali, namun tetap mematuhi protokol kesehatan.

Pada malam harinya, kami melakukan pemutaran film lingkungan. Beberapa orang terlihat sangat antusias saat kami melakukan pemutaran film. Beberapa film yang diputarkan antara lain seperti; Film dokumenter tentang Alam Indonesia Diambang Kepunahan, Hidden Paradise, dan film tentang satwa yang dilindungi.

Beberapa sekolah yang kami kunjungi antara lain adalah SDN 10 Sandai, SDN 4 Sandai dan SDN 5 Sandai melakukan kegiatan Puppet show. Selain itu, kami juga berkunjung ke SMPN 3 Sandai dan SMKN 1 Sandai untuk melakukan lecture.

Ketika kami mengadakan diskusi dengan masyarakat di Desa Petai Patah, beberapa uraian dari mereka menyebutkan terkait lingkungan yang ada di wilayah mereka. Persoalan banjir yang sudah mulai mendera, luasan tutupan hutan dan ancamanya karena dikelilingi oleh perusahaan tambang  serta sudah semakin sulitnya mereka berjumpa (melihat) satwa yang dilindungi di sekitar mereka menjadi cerita baru yang kami dapatkan.

Sedangkan di Desa Muara Jekak, kegiatan diskusi masyarakat membahas tentang lingkungan sekitar desa tersebut. Masyarakat menceritakan, di desa Muara jekak ada hutan yang masih tersisa yaitu Bukit Keladan. Bukit Keladan sebagai salah satu hutan yang menurut masyarakat adalah hutan konservasi, di hutan tersebut sering dijaga dan dijadikan tempat untuk berkegiatan di alam oleh komunitas Penjaga Alam Kompas (Komunitas Pencinta Alam Sandai).

Setelah diskusi, kami lanjutkan dengan pemutaran film lingkungan, beberapa film yang kami putarkan antara seperti film dokumenter Alam Indonesia Diambang Kepunahan, Film tentang satwa Dilindungi dan film hiburan Godzilla vs Kong.

Pada saat ekspedisi pendidikan lingkungan tersebut yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut adalah Riduwan, Haning Pertiwi, Petrus Kanisius, Gusti Irawan, Wawan dan Oting.

Selama kami berkegiatan, semua rangkaian kegiatan ekspedisi yang kami laksanakan berjalan sesuai rencana.

Penulis : Pit

Editor : Dwi Yandhi F.

(Yayasan Palung)

Yayasan Palung Adakan Lomba Desain Stiker

Ilustrasi gambar Lomba (Foto : Haning/Yayasan Palung)

Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2021, Yayasan Palung mengadakan Lomba Desain Stiker dengan tema Cinta Puspa dan Satwa Kalimantan.

Info lomba desain stiker dalam rangka Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2021. (Foto desain : Haning/Yayasan Palung).

Syarat :

  • Terbuka untuk Umum
  • Wajib Follow IG Yayasan Palung @yayasan_palung
  • Akun IG peserta aktif dan tidak terkunci
  • Tidak berlaku untuk Staf Yayasan Palung

Ketentuan :

  • Minimal 3 desain, Maksimal 5 desain
  • Sesuai dengan tema
  • Periode lomba 25 Oktober-05 November 2021
  • Tag di Feed IG masing-masing
  • Tag IG Yayasan Palung @yayasan_palung
  • Tag 5 teman di Caption
  • Sertakan tagar #HCPSN #yayasanpalung #satwakalimantan #puspadansatwa
  • Karya asli dan belum pernah dilombakan
  • Pemenang akan diumumkan pada Webinar Pekan Peduli Orangutan

Hadih Pemenang :

  • Juara 1 : Uang pembinaan Rp 500.000 + Sertifikat + Tumbler
  • Juara 2 : Uang pembinaan Rp 300.000 + Sertifikat + Tumbler
  • Juara 3 : Uang pembinaan Rp 200.000 + Sertifikat + Tumbler
  • Juara Favorite : Sertifikat + Tumbler + Kaos

*Hasil Karya akan menjadi hak Yayasan Palung untuk dicetak/diperbanyak

Baca juga di Instagram Yayasan Palung

(Yayasan Palung)

Upaya Perlindungan Habitat Orangutan Melalui Skema Perhutanan Sosial

Temuan Sarang Orangutan kelas A di lokasi survei Hutan Desa. (Foto : Andre Ronaldo/ Yayasan Palung).

Berdasarkan PHVA Orangutan (2016) populasi orangutan saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu yang tersisa di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimantan, Sabah, dan Serawak) di habitat seluas 181.773 km². Populasi orangutan pada kawasan Taman Nasional Gunung Palung diperkirakan mencapai 2500 individu, dengan kepadatan orangutan rata-rata adalah 3 individu/km², dengan kepadatan berkisar dari 2,4 individu/km² pada habitat hutan pegunungan, sampai 4,1 individu/km²  pada habitat hutan rawa gambut primer (Johnson et al., 2005).

Seperti dikethui saat ini, populasi orangutan saat ini semakin menurun. Berdasarkan IUCN redlist, orangutan dikategorikan sebagai satwa yang sangat terancam punah secara global (critically endangered). Penyebab utama berkurangnya populasi orangutan adalah karena kehilangan habitat akibat pembukaan wilayah hutan dan kebakaran hutan. Selain itu ada faktor gangguan dari aktifitas manusia seperti perburuan liar dan illegal logging. Habitat orangutan umumnya berupa hutan dataran rendah rawa gambut hingga perbukitan yang memiliki ketersediaan pohon makanan yang melimpah dan bebas dari gangguan. Kondisi ini mendorong kegiatan konservasi orangutan berfokus pada perlindungan habitat.

Yayasan Palung merupakan lembaga non-profit yang bergerak dibidang konservasi orangutan dan habitatnya. Adapun wilayah kerja Yayasan Palung yaitu wilayah yang berada di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, terutama wilayah sekitar Taman Nasional Gunung Palung. Salah satu upaya Yayasan Palung dalam konservasi orangutan adalah perlindungan habitat orangutan melalui skema perhutanan sosial. Skema perhutanan sosial yang digunakan adalah dengan dibentuknya hutan desa pada daerah yang diperkirakan menjadi habitat bagi orangutan.

Dengan adanya hutan desa, masyarakat diberikan hak pengelolaan hutan yang bertujuan agar masyarakat bisa sejahtera dan hutan tetap lestari. Hutan desa memiliki peran penting dalam upaya mendukung kelestarian keragaman hayati, termasuk kelangsungan hidup berbagai jenis kehidupan satwa liar. Harapannya masyarakat sekitar hutan juga ikut berperan dalam upaya konservasi orangutan.

Saat ini, Yayasan Palung memiliki tujuh hutan desa binaan, diantaranya adalah hutan desa Batu Barat Jaya, Padu Banjar, Pulau Kumbang, Pemangkat, Nipah Kuning, Penjalaan dan Rantau Panjang. Ketujuh hutan desa tersebut berada di wilayah administrasi kecamatan Simpang Hilir, kabupaten Kayong Utara. Hutan desa tersebut terbagi menjadi tiga lanskap bila dilihat dari letak lokasinya: (1) Lanskap hutan produksi Batu Barat Jaya; (2) Lanskap hutan lindung gambut Sungai Paduan (hutan desa Padu Banjar, Nipah Kuning, Pemangkat, Pulau Kumbang); (3) lanskap hutan produksi Sungai Purang (hutan desa Penjalaan dan Rantau Panjang).

Dalam upaya pengelolaan hutan desa, terutama perlindungan orangutan dan habitatnya, Yayasan Palung mendorong Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) melakukan survei biodiversity secara rutin setiap tahunnya. Adapun tujuan survei tersebut adalah mengumpulkan database terkait estimasi populasi dan kepadatan orangutan, kualitas habitat dan keberadaan jenis-jenis pohon yang menjadi sumber makanan orangutan, serta parameter lainnya seperti keberadaan satwa penting lainnya, tutupan hutan dan gangguan-gangguan yang mengancam keberadaan orangutan. Selain itu LPHD juga melakukan patroli rutin untuk pengamanan kawasan. Dengan adanya data-data tersebut diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengelolaan hutan desa dalam upaya konservasi orangutan.

Jungkang (Palaquium leiocarpum) salah satu pakan Orangutan di lokasi survei Hutan Desa. (Foto : Andre/YP)

Kawasan hutan desa binaan Yayasan Palung merupakan salah satu habitat bagi orangutan. Berdasarkan hasil survei tahun 2020, pada lanskap hutan lindung gambut Sungai Paduan diperkirakan terdapat 33 individu orangutan dengan kepadatan 0,5 orangutan/km². Kemudian pada lanskap hutan produksi Sungai Purang diperkirakan terdapat 3 individu orangutan dengan kepadatan 0,4 orangutan/km², kawasan ini merupakan koridor bagi orangutan karena berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung. Sedangkan di hutan desa Batu Barat Jaya hanya ditemukan sedikit sarang orangutan, walaupun demikian kawasan ini sangat penting untuk koridor orangutan karena menyambungkan antara hutan produksi Batu Barat Jaya dengan lanskap hutan lindung gambut Sungai Paduan.

Andre saat sedang mendata pohon di lokasi survei Hutan Desa. (Foto : Andre.YP)

Kondisi habitat orangutan di hutan desa binaan Yayasan Palung jika dilihat dari ketersediaan pohon makanannya, masih memiliki daya dukung untuk memenuhi kebutuhan hidup orangutan. Rata-rata proporsi ketersediaan pohon makanan orangutan mencapai 70 % di masing-masing hutan desa. Beberapa jenis pohon makanan orangutan diantaranya adalah mempening (Lithocarpus bancanus), medang (Litsea gracilipes), mahang (Macaranga pruinosa), jungkang (Palaquium leiocarpum), kayu ara (Ficus sp), ubah (Syzygium sp) dan punak (Tetramerista glabra). Kondisi hutan secara umum berupa hutan rawa gambut sekunder, banyak ditemukan hutan bekas terbakar, semak paku-pakuan, pohon bekas tebangan, celah hutan (Canopy gap), dan banyak ditumbuhi pohon perintis (pioneer). Kerusakan hutan ini yang dapat menyebabkan terjadinya konflik antara orangutan dan manusia.

Dalam pengelolaan hutan desa tentunya terdapat ancaman-ancaman bagi keberadaan orangutan, diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Konfik Orangutan dan manusia, (2) Kebakaran hutan dan lahan, (3) Illegal logging, (4) Perburuan satwa liar, (5) Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap hutan dan orangutan. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut tentunya diperlukan strategi-strategi yang tepat agar orangutan bisa diselamatkan.

Adapun beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam upaya konservasi orangutan, diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Strategi kebijakan, tentunya kegiatan konservasi orangutan perlu didukung dan dipayungi oleh kebijakan-kebijakan baik dari tingkat nasional maupun daerah; (2) Strategi pengelolaan kawasan, yaitu dengan ditetapkannya kawasan hutan desa agar area tersebut dapat terlindungi, kemudian dapat dilakukan kegiatan pengelolaan seperti survei biodiversity, rehabilitasi kawasan dan patroli kawasan secara rutin; (3) Strategi multipihak, yaitu dengan melibatkan pihak-pihak seperti pemerintahan, lembaga konservasi, perusahaan, peneliti dan masyarakat agar dapat bersinergi dalam upaya konservasi orangutan; (4) Strategi penguatan peran serta masyarakat, hal mendasar yang perlu dibangun kepada masyarakat yaitu tentang pentingnya menjaga kawasan hutan dan perlindungan orangutan, selain itu perlu adanya program pemberdayaan masyarakat agar terciptanya ekonomi mandiri tanpa merusak hutan.

Tulisan ini dimuat di : https://monga.id/2021/10/ini-upaya-yang-bisa-dilakukan-untuk-perlindungan-habitat-orangutan/

Penulis : Andre Ronaldo- Botanis Yayasan Palung

Mengapa Orangutan Selalu Berpindah Sarang ?

Orangutan saat berada di sarangnya di Taman Nasional Gunung Palung. Foto : (Tim Laman).

Orangutan tidak seperti burung atau pun binatang lain yang bersarang dan selalu menetap di sarang-sarang mereka. Orangutan hampir dipastikan selalu berpindah sarang setiap harinya.

Apa yang menyebabkan orangutan selalu berpindah sarang setiap harinya?. Ada beberapa alasan yang mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Satu di antaranya mungkin karena DNA orangutan mendekati DNA manusia sehingga memiliki tingkat kecerdasan maka orangutan ingin selalu higienis.

Ada rasa jijik (tidak ingin sarangnya kotor) mungkin itu kata yang tepat untuk dikatakakan maka ia (orangutan) selalu berpindah sarang setiap harinya (orangutan ingin selalu bersih).

Selain itu, orangutan dikenal sebagai primata yang selalu berpindah-pindah (tidak berdiam di satu tempat). Orangutan selalu menjelajah hutan/berpindah-pindah dari wilayah satu ke wilayah lainnya.

Selanjutnya, orangutan selalu mencari tempat yang selalu dekat dengan pakan (sumber makanan) mereka, dengan demikian mereka akan mendiami wilayah tersebut hingga beberapa hari karena selain sebagai sumber tetapi juga cadangan makanan.

Dengan kata lain, daya jelajah orangutan 10 hingga 20 kilometer setiap harinya sehingga waktu makan di pagi hari dan siang hari dipastikan di wilayah yang berbeda.

Biasanya orangutan jantan atau pun betina selalu menjelajahi hutan dari pohon satu ke pohon lainnya hanya untuk mencari sumber makanan.

Biasanya juga, apabila orangutan jantan menjelajahi hutan satu dari banyak tujuan utamanya mencari makan juga adalah mencari pasangan (mencari orangutan betina) apabila dimusim kawin apa lagi ketika musim buah raya (musim buah melimpah).

Fakta lainnya, orangutan merupakan satwa yang sangat dilindungi dan memiliki peranan penting untuk keberlanjutan nafas semua makhluk hidup dan orangutan juga dikenal sebagai penyebar biji (petani hutan).

Dikhawatirkan apabila jumlah populasi orangutan semakin berkurang maka akan sangat berdampak pada semakin sulitnya tunas-tunas baru pepohonan untuk tumbuh.

Orangutan selain hidup bersih/higienis, ia juga sangat berperan penting bagi makhluk lainnya. Alasanya adalah karena orangutan disebut sebagai spesies payung.

Disebut spesies payung karena apabila orangutan punah maka akan berdampak pula kepada makhluk lainnya (jika orangutan punah maka makhluk lainnya akan mengikuti/punah pula).

Demikian juga sebaliknya, apabila semua makhluk bisa saling harmoni, maka semua bisa abadi selamanya.

Dengan kata lain semua makhluk hidup sangat membutuhkan/memerlukan hutan sebagai sumber dari segalanya agar berlanjut hingga selamanya.

Hilangnya hutan dan orangutan di habitatnya sedikit banyak berdampak kepada tatanan kehidupan manusia. Hilangnya sebagian luasan tutupan hutan akan berdampak kepada tersedianya pakan orangutan, atau pun hilangnya habitat mereka untuk berkembang biak.

Selain itu juga, hilangnya akan berdampak kepada lingkungan lainnya (bencana alam). Hilangnya luasan tutupan hutan akan bermuara kepada sulitnya mendapatkan sumber air bersih, banjir atau pun tanah longsor.

Orangutan perlu hutan, hutan juga perlu orangutan. Demikian juga makhluk lainnya tidak terkecuali manusia sangat memerlukan hutan dan orangutan agar nafas boleh berlanjut.

Apakah kita masih boleh melihat hutan bisa tumbuh dan orangutan masih boleh menyemai biji-bijian hutan?

Jika ya, mari kita jaga dan lindungi mereka.

Semua nafas semua makhluk hidup di muka bumi ini sesungguhnya tergantung bagaimana tugas dari kita semua apakah bisa hidup selalu berdampingan dan bijaksana ataukah semakin serakah dengan sesama kita berupa hutan dan orangutan.

Sebagai harapan, bolehkah kita selamatkan mereka, sebelum mereka tinggal cerita. Lestarikan mereka (hutan dan orangutan) agar  makhluk boleh berlanjut hingga nanti. Bukankah kita semua yang mendiami bumi ini dititahkan untuk selalu hidup berdampingan dan harmoni hingga lestari selamanya.

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Mengapa Orangutan Selalu Berpindah Sarang Setiap Harinya?”, Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5d3aa1300d823002c35d23e2/mengapa-orangutan-selalu-berpindah-sarang-setiap-harinya?page=all

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sampaikan Sosialisasi tentang Satwa Dilindungi ke Sekolah dan Masyarakat

Pertunjukan boneka (Puppet Show) tentang Satwa Dilindungi kepada murid di Sekolah Dasar , di Desa Betenung dan Desa Kayong Hulu, di Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang, Senin (27/9/2021) hingga Jumat (1/10/2021). (Foto : Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Satwa liar menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kehidupan kita. Satwa liar menjadi penting untuk dilestarikan dan dilindungi karena perannya di alam.

Ketika melakukan ekspedisi pendidikan lingkungan, Yayasan Palung (YP) berkesempatan melakukan Sosialisasi tentang satwa dilindungi menjadi satu bagian terpenting untuk disampaikan kepada anak-anak usia dini dan kepada masyarakat luas di Desa Betenung dan Desa Kayong Hulu, di Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang, Senin (27/9/2021) hingga Jumat (1/10/2021).

Setiap kali melakukan ekspedisi, YP selalu memberikan materi tentang pengenalan satwa dilindungi melalui pertunjukan boneka (puppet Show) di tingkat Sekolah Dasar.

Selain itu kami menyampaikan ceramah lingkungan (lecture) tentang pengenalan dan perlindungan satwa orangutan di tingkat SMP/SMA/SMK tentang sosialisasi perlindungan satwa kepada perangkat desa dan masyarakat. Kami juga berkesempatan melakukan pemutaran film lingkungan di dua desa itu.

Pada kesempatan pertama, Selasa (28/9/2021) YP menyambangi Sekolah Dasar Negeri 02 Nanga Tayap di Betenung. Di SDN 20 materi yang disampaikan adalah tentang pengenalan satwa dilindungi seperti orangutan, kelempiau, kelasi, bekantan dan trenggiling.

Dalam kesempatan pertunjukan boneka, cerita yang diketengahkan adalah cerita orangutan, kelempiau, kelasi, bekantan dan trenggiling saat ini nasibnya sedang mengalami ancaman nyata karena habitatnya yang banyak beralih fungsi hingga mereka (satwa) semakin sulit untuk bertahan dan berlanjut. Diceritakan pula tentang satwa seperti trenggiling yang nasibnya tak terlalu manis karena sering diburu dan diperdagangkan.

Selanjutnya disampaikan lecture di SMPN 4 Nanga Tayap. Materi lecture yang disampaikan tentang orangutan; manfaatnya bagi manusia dan hutan. Seperti diketahui, orangutan merupakan petani hutan. Sebagai petani hutan, orangutan berfungsi sebagai penyebar benih dari sisa-sisa makanan yang ia makan berupa buah dan biji. Buah atau biji dari sisa makanan itu lalu dibuang oleh orangutan ke lantai hutan dan menjadi pohon. Pohon bermanfaat bagi kehidupan tidak terkecuali manusia.

Lihat juga :

Dalam lecture dijelaskan pula tentang perbedaan kera dan monyet, perbedaan kera dan monyet. Jika kera tidak memiliki ekor dan monyet memiliki ekor.

Di desa tempat kami berkegiatan, kami mengadakan diskusi dengan masyarakat. Desa pertama kami melakukan diskusi yaitu di desa Betenung. Di Betenung beberapa hasil diskusi antara lain adalah masyarakat sudah sangat jarang bertemu dengan satwa dilindungi seperti orangutan di hutan.

Sebelum melakukan diskusi, kami berkesempatan untuk menyampaikan sosialisasi tentang satwa dilindungi. Salah satu materi yang diberikan tentang satwa yang dilindungi antara lain seperti orangutan, kelasi, kelempiau, bekantan, trenggiling dan enggang masuk dalam daftar satwa dilindungi menurut UU no 5 tahun 1990.

Desa selanjutnya kami kunjungi adalah Desa Kayong Hulu. Di desa Kayong Hulu, beberapa kegiatan yang kami sampaian sama seperti di desa Betenung.

Di SDN 23 Kayong Hulu, Nanga Tayap kami juga menyampaikan pertunjukan boneka tentang satwa dilindungi.

Yang cukup menarik perhatian kami saat menyampaikan pertunjukan boneka, di SDN 24 Nanga Tayap, di Desa Kayong Hulu adalah jumlah muridnya dari kelas 1-6 hanya memiliki 22 orang siswa saja. Tetapi mereka sangat antusias saat mengikuti kegiatan yang kami sampaikan.

Kami juga bersempatan menyampikan lecture di SMPN 12 Nanga Tayap di Desa Kayong Hulu dan di SMKN 1 Nanga Tayap. Di SMKN 1 selain lecture, kami juga menyampaikan materi tentang beasiswa orangutan.

Pada saat diskusi di Desa Kayong Hulu, masyarakat desa sangat menyambut baik saat kami berdiskusi di desa mereka. Beberapa diskusi menarik pun terjadi. Dari presentasi tentang kegiatan yang YP lakukan, satu yang menurut mereka sangat menarik minat mereka yaitu mengaharapkan pendampingan di desa mereka seperti kegiatan matapencaharian berkelanjutan. Mereka juga memiliki hutan lindung, harapan mereka bisa dijadikan sebagai hutan desa. Dalam diskusi, untuk dijadikan hutan desa harus dipastikan apakah hutan tersebut hutan lindung atau tidak. Harus dicek terlebih dahulu melalui peta Peta Indikatif Areal Perhutanan Sosial (PIAPS).

Setelah melakukan diskusi, baik di Betenung dan Kayong Hulu kami juga berkesempatan melakukan pemutaran film lingkungan. Beberapa film lingkungan yang kami putarkan antara lain; film Hari Esok Yang Hilang, Alam Indonesia di Ambang kepunahan,10 Hewan Langka Yang Dilindungi Di Indonesia dan KINIPAN. Di dua desa itu kami melakukan pemutaran film di rumah Adat.

Tim Pendidikan Lingkungan yang ikut dalam kegiatan ekspedisi pendidikan lingkungan antara lain; Dwi Yandhi Febriyanti, Simon Tampubolon, Petrus Kanisius dan Haning Pertiwi. Semua rangkaian kegiatan ekspedisi yang dilakukan oleh YP di Desa Betenung dan Desa Kayong Hulu tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik di dua desa.

Penulis : Petrus Kanisius

Editor : Dwi Yandhi Febriyanti

(Yayasan Palung)

YP Pasarkan Produk Lokal Lewat Mobile Market

YP pasarkan produk hhbk lewat mobile market. (Foto dok : Samad/YP).

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memasarkan produk lokal hasil hutan bukan kayu dari perajin (HHBK), selama ini Yayasan Palung (YP) telah melakukan pemasaran di media sosial melalui WhatsApp, Instagram dan melalui Gerai Bentangor serta Gerai kelompok dampingan. Dimasa pandemi  perlu juga memikirkan strategi untuk pelaku usaha kelompok dampingan sebagai cara mempromosikan produk dengan cara berjualan keliling menggunakan mobil atau bahasa kerennya Mobile Market.

Kegiatan tersebut dilakukan oleh Tim Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung (YP) di Pantai Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, Minggu 3 Oktober 2021.

Ragam produk hhbk seperti tikar, tempat tisu, tempat hantaran, Tikar Sejadah, Tas Kerang Besar, Tas Jinjing pandan, Cincin Resam, dompet pandan, Keranjang bambu, keranjang bambu bertutup, karung cabang, Sampul Tumbler, bakul penjuru 6 dan juga topi. Ada pula produk keripik pisang dari LPHD Simpang Keramat, Desa Penjalaan yang dipasarkan dalam mobile market tersebut.

Beberapa produk hhbk yang berhasil terjual dari mobile market tersebut diantaranya Keripik pisang 5 bungkus, keranjang bambu 1 dan 3 karung cabang.

Manager program Program Mata Pencaharian Berkelanjutan YP, Ranti Naruri, mengatakan, kegiatan ini dilakukan dengan tujuan sebagai upaya strategi pemasaran produk yang efektif untuk meningkatkan perkembangan usaha dan promosi sebagai daya tarik masyarakat kayong utara di masa pandemi.

Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) YP merupakan program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung sejak tahun 2010.

Adapun kegiatan utama dari Program SL antara lain seperti inisiasi  dan pendampingan dalam mengolah hasil hutan bukan kayu (HHBK), pertanian masyarakat dan Aquakultur (budidaya ikan air tawar).

Tulisan ini dimuat di ruai.tv : https://ruai.tv/kayong-utara/dekati-pasar-yp-fasilitasi-pengrajin-jualankeliling/

Penulis : Petrus Kanisius

Yayasan Palung

18 Warga Perwakilan dari 5 LPHD Binaan YP Belajar tentang Patroli Hutan

Peserta dari perwakilan 5 LPHD saat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan Palung. (Foto dok: Sidiq/YP).

18 warga desa yang merupakan perwakilan dari 5 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) berkesempatan belajar (mengikuti pelatihan kapasitas dan pemantapan materi Smart Patrol). Peserta mendapatkan beberapa materi dari para narasumber yang menyampaikan materi pelatihan di Resort  Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara, Rabu (22/9/2021).

Yayasan Palung (YP) berkesempatan menyelenggarakan pelatihan kapasitas dan pemantapan materi smart patrol tersebut untuk lima desa dari LPHD desa Padu Banjar, Pulau Kumbang, Pemangkat, Nipah Kuning dan Penjalaan.

Pada kesempatan pertama, peserta pelatihan diberikan materi tentang Pengelolaan Kawasan yang disampaikan oleh Hendarto selaku kepala KPH Kayong. Beliau menegaskan tentang bagaimana kolaboratif dengan mitra dalam hal penelolaan Hutan Desa.

Selain itu ada penyampaian materi tentang orangutan yang disampaikan oleh Erik Sulidra selaku Manager Perlindungan dan Penyelamatan Satwa Yayasan Palung. Pada kesempatan itu Erik Sapaan akrabnya memberikan pemahaman agar masyarakat dapat hidup berdampingan dengan orangutan. Erik berpesan, kita sebagai manusia yang memiliki akal dan budi hendaknya dapat memahami perilaku mereka (orangutan), misalnya mengapa mereka sampai masuk dan berinteraksi dengan manusia di kebun mereka? Bisa saja kebun tersebut dulunya adalah hutan yang beralih fungsi yang awalnya merupakan hutan habitat satwa kera besar tersebut karena mereka (satwa liar) bergerak berdasarkan insting untuk mencari makan, bisa saja saat itu makanan (buah-buah hutan) sedang tidak berbuah tetapi tanaman di kebun sedang berbuah. Juga diharapkan masyarakat tidak memandang orangutan sebagai hama dan hewan buas yang menakutkan karena sebenarnya orangutan adalah satwa yang cukup pemalu dan tidak buas.

Selanjutnya Nur Wahyudi dari BKSDA SKW 1 Kabupaten Ketapang berkesempatan menyampaikan regulasi tentang satwa yang dilindungi.  Selain itu, mereka juga menghimbau jika ada satwa liar dilindungi apabila terjadi interaksi negatif dengan manusia segeralah menghubungi mereka sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan konflik satwa liar dan manusia.  

Tidak hanya materi, peserta yang mengikuti pelatihan juga melakukan praktek. Praktek yang mereka lakukan adalah praktek smart patrol. Peserta diajak praktek penggunaan smart (spasial monitoring and reporting tool). Pertama, praktek penggunaan alat GPS, praktek mengisi Tally sheet. Selain itu, penggunaan avensa.

Koordinator Program Hutan Desa Yayasan Palung, Hendri Gunawan, mengatakan, Tujuaan dari pelatihan dan peneningkatan kapasitas tersebut adalah LPHD memiliki kemampuan penggunaan alat-alat smart patrol dengan baik, mengetahui aturan-aturan yang berlaku dan rool model pengelolaan kawasan hutan desa, dengan demikian diharapkan para anggota LPHD dapat melaksanakan smart patrol secara mandiri dan berkelanjutan di wilayah hutan desa masing-masing.

Adapun rencana tindak lanjut (RTL) dari kegiatan pelatihan ini, pada bulan depan LPHD akan turun di Hutan Desa mereka masing-masing.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://ruai.tv/kayong-utara/18-warga-desa-di-kayong-utara-belajar-patroli-hutan 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Rayakan Hari Ozon, RK-TAJAM dan REBONK Bersama Beberapa Komunitas Tanam Pohon di Sekitar Pantai Mutiara

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam ( RK- TAJAM) menindaklanjuti diskusi online lintas organisasi pada tanggal 13 kemarin, bersama organisasi atau komunitas yang ada di Tanah Kayong dengan melakukan kegiatan penanaman pohon untuk memperingati hari ozon bersama organisasi lainnya secara langsung di Pantai Mutiara, Gunung Sembilan, Kayong Utara, Sabtu hingga Minggu (25-26/9/2021).
Adapun organisasi yang melakukan kegiatan penanaman pohon dalam kegiatan bersama tersebut RK-TAJAM bersama dengan RElawan BentangOr uNtuk Konservasi (REBONK), Impact Circle School, Pokdarwis Gunung Sembilan, KAMIPALA dan KPK Kayong.

Kegiatan ini juga dilakukan untuk meningkatkan rasa solidaritas antar organisasi dan menambah wawasan pentingnya menjaga lapisan ozon.

Kegiatan dimulai dengan keberangkatan anggota RK-TAJAM dan Impact Circle School dari kantor Yayasan Palung ke Bengtangor, setelah sampai di Bentangor para anggota dari masing masing organisasi berkumpul dan saling mengenal kan diri sekaligus pembagian tugas.

Tiap tugas di bagi per tim yaitu tim pertama adalah bagian konsumsi, tim 2 adalah bagian bersih-bersih, tim 3 bagian penanaman. Pembagian tim berakhir para anggota bersiap untuk ke acara selanjutnya yaitu nonton bareng dengan film yang disiapkan oleh Impact Circle School “Diam dan Dengarkan” dari Anatman pictures :

https://www.youtube.com/watch?v=NvNLumlAJX0
Setelah film berakhir para anggota dari masing masing organisasi saling bertukar pendapat sambil menunggu makan malam.

Keesokan harinya (26/9) para anggota dari setiap tim sudah bersiap siap untuk kegiatan penanaman bersama di Pantai Mutiara, Gunung sembilan, masing-masing organisasi sudah mendapatkan plang nama yang sudah disiap kan oleh anggota RK-TAJAM.

Pada acara penanaman, setiap orang mendapatkan kesempatan menanam bibit yang sudah diatur oleh teman-teman REBONK.

Foto-foto kegiatan Penanaman Pohon di sekitar Pantai Mutiara :

Foto dok : REBONK/YP

Saat penanaman pohon para anggota dipersilahkan beristirahat sambil menyantap cemilan yang sudah disediakan, selanjutnya sesi swafoto bersama untuk menggampanyekan hari ozon. Acara penanaman berakhir para anggota pulang ke Bengtangor untuk beristirahat dan makan siang.
Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan acara penanaman pohon untuk memperingati hari ozon pun diakhiri.


Penulis : Evinka Zahra (Ketua RK-TAJAM periode 2021-2022)
Editor : Pit
Yayasan Palung