Mengapa Orangutan Selalu Berpindah Sarang Setiap Harinya?

Orangutan selalu berpindah sarang. Foto : Tim Laman

Orangutan tidak seperti burung atau pun binatang lain yang bersarang dan selalu menetap di sarang-sarang mereka. Orangutan hampir dipastikan selalu berpindah sarang setiap harinya.

Apa yang menyebabkan orangutan selalu berpindah sarang setiap harinya?. Ada beberapa alasan yang mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Satu di antaranya mungkin karena DNA orangutan mendekati DNA manusia sehingga memiliki tingkat kecerdasan maka orangutan ingin selalu higienis.

Orangutan ingin selalu bersih maka ia selalu berpindah sarang setiap harinya. Selain itu, orangutan dikenal sebagai primata yang selalu berpindah-pindah (tidak berdiam di satu tempat). Orangutan selalu menjelajah hutan/berpindah-pindah dari wilayah satu ke wilayah lainnya.

Orangutan selalu mencari tempat yang dekat dengan pakan mereka, dengan demikian mereka akan mendiami wilayah tersebut hingga beberapa hari karena selain sebagai sumber tetapi juga cadangan makanan.

Daya jelajah orangutan 2-10 km setiap harinya sehingga waktu makan di pagi hari dan siang hari dipastikan di wilayah yang berbeda.

Orangutan jantan atau pun betina selalu menjelajahi hutan dari pohon satu ke pohon lainnya untuk mencari sumber makanan.

Baca Juga :

Biasanya juga, apabila orangutan jantan menjelajahi hutan satu dari banyak tujuan utamanya mencari makan juga adalah mencari pasangan (mencari orangutan betina) apabila dimusim kawin apa lagi ketika musim buah raya (musim buah melimpah).

Orangutan disebut  sebagai spesies payung, karena apabila orangutan punah maka akan berdampak pula kepada makhluk lainnya (jika orangutan punah maka makhluk lainnya akan mengikuti/punah pula).

————————————–

Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Universitas Nasional dan Boston University.

Penulis : Pit

Foto : Tim Laman

#orangutan #sarangorangutan #orangutans #hutan #borneo #kalimantan #indonesia #gunungpalung #yayasanpalung

Komik Si Pongo dan Kawan-kawan

Ilustrasi gambar. dok : Widiya/Yayasan Palung

Teman-teman, Yayasan Palung ada Komik yang bercerita tentang Si Pongo dan Kawan-kawan.

Komik ini ditulis oleh Riduwan dan gambar Komik didesain oleh Widiya

Yuk baca komik cerita tentang Si Pongo dan Kawan-kawan berikut ini atau klik link:

Monitoring Kelompok Budidaya Ikan di Dusun Tanjung Gunung

Monitoring Kelompok Budidaya Ikan Binaan di Dusun Tanjung Gunung. (Foto : Salmah/Yayasan Palung).

Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung (YP) melakukan Monitoring kepada Kelompok Budidaya Ikan binaan, beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan tersebut, monitoring dilakukan kepada Kelompok Mina Sehati di Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, Kabupaten Kayong Utara (KKU).

Dari hasil monitoring ini, budidaya ikan oleh Kelompok Mina Sehati tergolong berhasil. Hal itu ditandai dengan semakin bertambahnya ikan karena sudah berkembang biak.

Menurut anggota Kelompok Mina Sehati, Bapak Abdul Hamid, mengatakan, semula ikan yang berada di tiga kolam jumlahnya 1000 ekor. Saat ini, ikan sudah berkembang biak yang diperkirakan ada sekitar 5000 hingga 6000 ekor.

Asisten Field Officer Program SL Yayasan Palung, Salmah, mengatakan, Adapun jenis ikan yang dibudidayakan oleh kelompok ini adalah ikan nila merah dan nila hitam. Ikan-ikan dari hasil budidaya tersebut nantinya akan disortir (dipilah-pilah) sesuai ukuran. Nantinya juga, hasil dari penyortiran ini akan dijual untuk modal pengembangan selanjutnya, kata Salmah.

Lebih lanjut, Salmah menerangkan, pengembangan-pengembangan budidaya ikan tersebut nantinya digunakan untuk pembuatan kolam baru dan biaya perawat dan pakan ikan.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2022/09/18/yayasan-palung-monitor-kelompok-budidaya-ikan-dusun-tanjung-gunung-kayong-utara 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

(Puisi) Ketika Kita Tertawa Melihat Bumi Menangis

Foto Ilustrasi : Twitter/Ajay Indian

Sorak sorai kita terus menggema

Tertawa tak terasa itu ada

Menyana tanya tentang apa yang dirasa

Mengapa biarkan bumi menangis itu nyatanya

Tawa rasa tiada kata menertawa

Kata ibarat sampah tak berguna

Risau, gundah gulana, bertanya

Mengapa biarkan bumi menangis, kata siapa?

Berkaca pada tanda nyata yang orang bilang itu bencana

Bukankah itu artinya biarkan bumi menangis merana?

Bumi porak poranda ketika tingkah polah bicara

Bukan lagi mengada-ada karena itu ada

Pepatah lama, pepatah baru tentang dokma rasa

Kata bicara dalam nyata karena mungkin kita lupa?

Bencana mendera lekang membentang asa masa membara

Membara mendera kepada kita

Tengoklah bumi semakin renta

Kita pun semakin tua

Tau arti menjaga?

Atau hanya khayalan belaka

Panas mentari yang semakin terik

membakar begitu pula rimba raya

Para satwa semakin pelit bersuara

Lauk pauk semakin jalang di sungai-sungai belantara

Arus haus semakin meraja sebab serakah mengalahkan kokohnya Ciptaan Sang Pencipta

Hembusan angin sepoi-sepoi kini berganti karena membeku disetiap sudut ruang kota

Nyanyian rindu akan bumi yang lestari mencari tuannya

Tangan-tangan tak terlihat tak henti berlomba seolah bumi kepunyaan sendiri saja

Getar nada akan tanda rasa peringatan tak jarang menjadi penanda kemana kita

karena bumi semakin senja

Semakin senja apakah ia (bumi) masih mampu sebagai pembina

Sebagai penopang, penyeimbang penguat dan penyejuk jiwa

Bila ingin ia (bumi) terus ada bingkailah rasa untuk merenda asa agar bumi tak tinggal cerita.

Foto Ilustrasi : Twitter/Ajay Indian

Penulis : Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa Banjar Lestari Tanam Pohon di Lokasi Hutan Desa

Samsidar ( Ketua LDPHD Banjar Lestari) saat melakukan penanaman pohon di lokasi Hutan Desa. (Foto : Samsidar/Yayasan Palung).

Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Banjar Lestari, Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara melakukan penanaman pohon di lokasi Hutan Desa, beberapa waktu lalu.

Samsidar yang merupakan Ketua LDPHD Banjar Lestari, mengatakan, penaman pohon tersebut mereka lakukan secara rutin untuk menyulam kawasan bekas kebakaran di area itu.

Lebih lanjut, Samsidar, menuturkan, sembari melakukan penanaman pohon mereka juga melakukan patroli rutin di kawasan Hutan Desa Banjar Lestari.

Pada kesempatan itu, LDPHD Banjar Lestari melakukan penanaman pohon seperti tanaman buah (manga, cempedak dan durian) serta tanaman lainnya seperti karet. Setidaknya ada 100 tanaman yang mereka tanam pada kesempatan tersebut.

Seperti biasanya, setiap melakukan patroli, LDPHD Banjar Lestari selalu melakukan penanaman di kawasan Hutan Desa.

Baru-baru ini Yayasan Palung mendapatkan bantuan 11 ribu bibit tanaman jengkol dari Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Kapuas. Nantinya, 11 ribu bibit tersebut akan dibagi-bagi. Enam ribu bibit tersebut untuk 6 hutan desa (Pemangat, Rantau Panjang, Penjalaan, Pulau Kumbang, Padu Banjar dan Nipah Kuning). Masing-masing 6 hutan desa mendapat 1000 bibit. Lima ribu bibit untuk dibagikan kepada Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan). Tanaman yang dibagikan ke program SL YP akan ditanam di lokasi eks longsor pada tahun 2021, nantinya akan ditanam 2500 bibit. Sisanya akan ditanam di lokasi eks kebakaran di Dusun Tanjung Gunung.

Asisten Field Officer Hutan Desa, Robi Kasianus, mengatakan,  adapun tujuan dari patroli yang diadakan adalah sebagai pengamanan kawasan dari aktifitas illegal dan mencatat temuan biodiversitas yang di hutan desa.

Di wilayah hutan desa Banjar Lestari seperti diketahui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) mengelola Pertanian organik. Kelompok KUPS yang mngelola adalah KUPS Padi Lestari.

Selain itu budidaya lebah madu dengan cara memasang tikung untuk budidaya lebah madu. Tikung-tikung tersebut dipasang di sekitar/pinggir sungai. Tikung-tikung tersebut dipasang dengan maksud agar bisa menjadi tempat yang nyaman bagi lebah madu untuk bersarang. KUPS yang mengelola adalah Kelompok Madu Lestari.

Selanjutnya juga, ada KUPS Banjar Ceria yang mengelola dan mengolah berbagai kreasi anyaman hasil hutan bukan kayu (hhbk) melalui beberapa perajinnya.

Kawasan Hutan Desa Padu Banjar merupakan Kawasan Lindung Gambut Sungai Paduan. Adapun luasan wilayah Hutan Desa Padu Banjar adalah 2883,54 ha.

Tulisan ini juga dimuat di :

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/6321549b4addee65b76aa192/ldphd-banjar-lestari-tanam-pohon-di-lokasi-hutan-desa

https://kumparan.com/petrus-kanisius/ldphd-banjar-lestari-tanam-pohon-di-lokasi-hutan-desa-1yqlDwiMGAh

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

(Puisi)Rinduku Rimba Raya yang Bahagia

Rimba raya. (Foto : Erik Sulidra).

Rindu rimba raya, rindu bahagianya

Bahagia akan tajuk-tajuk yang rimbun

Rimba yang raya memberi napas bagi sebagian besar makhluk hidup

Ku merindu rimba karena ku tahu ia harus bahagia

Ku rindu rimba raya karena ia tidak baik-baik saja kini

Bahagianya tak jarang berganti tangis dan derai air mata

Rimbun berganti rebah tak berdaya

Dilema yang ada selalu mendera entah hingga kapan berakhir

Tetapi, jerit tangis satwa acap kali terdengar atau nyata dipelupuk mata

Tangis itu menjadi gundah gulana segala bernyawa saban waktu

Lihatlah yang sering mendera; kebakaran lahan, asap, tanah longsor dan banjir bandang

Apakah rimba raya, satwa, dan manusia bahagia?

Bahagia berarti riang yang menyenangkan, menggembirakan bagi sebagian bersar makhluk hidup

Napas sebagian besar makhluk hidup tergantung/bergantung kepada kita semua hari ini

Bila rimba raya boleh rimbun hingga nanti, napas semua makhluk boleh bangga bahagia

Harapku, rimba raya, kita bisa harmoni dan senantiasa bahagia bersama selamanya.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/631ef1ffa65da8273f2930b2/rinduku-rimba-raya-yang-bahagia?page=2&page_images=1 

Ketapang, Kalimantan Barat, 12 September 2022

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mengenal Si Pongo, Primata Kunci yang Sangat Dilindungi Itu

Foto Orangutan. (Foto : Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Mendiami hutan hujan Kalimantan dan Sumatera, itulah orangutan primata kunci yang sangat dilindungi itu.

Orangutan merupakan satu dari empat kera besar yang ada di dunia selain Gorilla, Simpanse, Bonobo yang mendiami benua Afrika.

Mengapa Si Pongo (orangutan) disebut dengan primata kunci?

Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi atau disebut sebagai spesies kunci atau biasa juga disebut spesies payung karena hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan.

Peran penting orangutan sebagai petani hutan tidak bisa disangkal, dari biji-bijian dan buah-buahan dari sisa-sisa makanan yang mereka makan kemudian tumbuh menjadi tajuk-tajuk pepohonan yang baru (hutan-hutan baru). Dengan kata lain, orangutan memiliki peran penting sebagai regenerasi hutan.

Orangutan juga menjadi penopang bagi satwa atau spesies lainnya. Apabila orangutan punah maka akan berpengaruh pula bagi satwa lainnya pula.

Orangutan sangat dilindungi salah satunya karena nasibnya saat ini dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan. Ruang hidup dari satwa yang sangat dilindungi ini semakin sempit.

Ruang hidup (habitat hidup berupa hutan) semakin menyempit membuat orangutan semakin sulit untuk berkembang biak. Mengingat, orangutan memerlukan waktu yang lama untuk berkembang biak, memerlukan waktu 6  hingga 8 tahun baru berkembang biak. 

Demikian juga sang bayi bersama ibu (induk orangutan) memerlukan waktu 6-8 tahun sampai bayi menjadi remaja. Dalam kurun waktu tersebut, bayi orangutan pun perlu belajar banyak untuk selanjutnya siap bertahan hidup di alam liar/hutan yang sangat sulit diprediksi.

Orangutan memiliki DNA (deoxyribonucleic acid) yang mendekati DNA manusia, 97 % DNA orangutan mirip manusia.

Orangutan betina sama halnya dengan perempuan dewasa karena mengalami masa menstruasi. Ibu orangutan juga selalu bersama bayi atau anaknya menjelang masa dewasa.

Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan) memiliki 3 subspesies; Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo Pygmaeus Wrumbii, Pongo pygmaeus morio.

Baca Juga :

Orangutan Kalimantan tersebar di seluruh wilayah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Orangutan memiliki tiga sub spesies yaitu; Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo wrumbii yang sebarannya di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan di Kalimantan Timur adalah Pongo pygmaeus morio. Sedangkan di luar wilayah Indonesia, orangutan terdapat di Malaysia yaitu di wilayah Sabah; Pongo pygmaeus morio dan di Sarawak; Pongo pygmaeus pygmaeus.

Orangutan Sumatera (Sumatran Orangutan) Orangutan dengan nama latin Pongo abelli, habitat hidupnya di Sumatera. Pada bulan Oktober 2017, para peneliti dunia menemukan spesies baru orangutan dengan nama Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) habitat hidupnya di Sumatra Utara.

Orangutan masuk dalam daftar satwa yang sangat dilindungi (Critically Endangered/CR) menurut daftar International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List.

Orangutan juga masuk dalam daftar satwa dilindungi menurut undang-undang no. 5 tahun 1990.

Sumber tulisan, diolah dari berbagai sumber

Foto : Erik Sulidra

Tulisan : Pit-Yayasan Palung

Sosialisasi Mitigasi Konflik Manusia dan Orangutan di Sekitar Kawasan Hutan Desa Binaan Yayasan Palung

Erik Sulidra saat menyampaikan materi tentang Kelas Sarang Orangutan. (Foto : Istimewa.Yayasan Palung).

Tidak bisa disangkal, interaksi antara manusia dan orangutan saat ini sudah sering terjadi. Seperti misalnya, orangutan masuk dalam kawasan atau pemukiman masyarakat karena orangutan semakin terhimpit di habitat hidupnya.

Untuk meminimalisir hal tersebut, Yayasan Palung mengadakan kegiatan yang bertajuk mitigasi konflik manusia dan orangutan di sekitar kawasan Hutan Desa Binaan Yayasan Palung. Kegiatan tersebut dilakukan pada Kamis (25/8/2022) pekan lalu.

Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, Erik Sulidra, menuturkan, Orangutan merupakan spesies payung yang keberadaannya sudah kritis (CR) menurut IUCN Red List. Pemerintah Indonesia melindungi satwa ini melalui Permen LHK nomor P.106 / 2018. Spesies ini hidup di hutan-hutan  Kalimantan dan Sumatera. Untuk di Kalimantan sendiri, khususnya di Ketapang dan Kayong Utara terdapat beberapa kantong populasi orangutan, diantaranya hutan lindung, kawasan hutan desa, dan Tanagupa (Taman Nasional Gunung Palung).

“Desa-desa yang bersebelahan dengan kawasan taman nasional Gunung Palung dan desa-desa di sekitar hutan lindung Sungai Paduan berpotensi sebagai jalur koridor orangutan dari dan ke Tanagupa maupun hutan lindung ketika orangutan melakukan aktivitas. Telah terjadinya beberapa kasus perjumpaan dan penyelamatan orangutan yang berada di luar kawasan Hutan (Kebun Masyarakat) di kabupaten Kayong Utara, adalah contoh puncak interaksi manusia dan orangutan. Untuk mengurangi efek negatif dari kejadian-kejadian tersebut, perlu adanya cara penanganan tertentu ketika terjadi interaksi manusia dan orangutan di luar kawasan hutan,” kata Erik.

Sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut antara lain adalah, Erik Sulidra dari Yayasan Palung yang menyampaikan materi tentang; Kelas sarang orangutan (YP). Muhadi dari Yayasan IAR Indonesia (YIARI) yang menyampaikan materi tentang; Mitigasi konflik manusia dan orangutan. Selanjutnya juga disampaikan juga materi tentang; Perilaku Orangutan yang disampaikan oleh Ahmad Rizal dan Natalie Robinson dari Yayasan Palung.

Ahmad Rizal dan Natalie Robinson dari Yayasan Palung saat menyampaikan materi tentang Perilaku Orangutan. (Foto : Istimewa/Yayasan Palung).

Sebagai peserta dalam kegiatan tersebut berasal dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) masing-masing Hutan Desa binaan Yayasan Palung di Kayong Utara.

Kegiatan sosialisasi mitigasi konflik manusia dan orangutan bertujuan agar masyarakat mampu menghalau orangutan ketika terjadi interaksi dengan manusia. Sedangkan hasil yang diharapkan mampu untuk mengurangi konflik negatif dari interaksi manusia dan orangutan, ujarnya lagi.

Semua Peserta yang mengikuti kegiatan sosialisasi mitigasi konflik manusia dan orangutan. (Foto : Istimewa/Yayasan Palung).

Pada kesempatan tersebut, Yayasan Palung mengundang lembaga mitra seperti; Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai TANAGUPA), Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah 1 Kabupaten Ketapang (BKSDA SKW 1) dan Kesatuan Pengelola Hutan Wilayah (KPH) Kayong.

Tulisan ini juga dimuat di :

https://kumparan.com/petrus-kanisius/lakukan-sosialisasi-mitigasi-konflik-manusia-dan-orangutan-1yndMHnMltZ

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Patroli Bersama di Kawasan Hutan Desa Rantau Panjang

Yayasan Palung dan Fauna Flora International-Indonesia Program melaksanakan patroli bersama tim SMART Patrol dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Muara Palung di Hutan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara Kalimantan Barat. Kegiatan tersebut berlangsung selama 5 hari (20-24/8/2022).

Yayasan Palung dan Fauna Flora International-Indonesia Program bekerjasama mendampingi tim smart patroli LPHD Muara Palung.

Pelaksanaan patroli ini bertujuan untuk menjaga keamanan kawasan serta mencatat potensi bidiversitas yang ada di dalam hutan desa.

Lihat juga :

Selama kegiatan berlangsung, tim patroli dari LPHD Muara Palung terlihat cukup bersemangat mengingat kegiatan ini merupakan patroli perdana bagi mereka.

Kegiatan SMART Patrol seperti ini akan menjadi kegiatan rutin yang akan dilaksanakan setiap bulan oleh tim patroli LPHD Muara Palung.

Tulisan & Video: Robi Kasianus

(Yayasan Palung)

Berjumpa Ragam Biodiversitas Saat Survei di Kawasan Hutan Desa Penjalaan dan Rantau Panjang

Kegiatan survei biodiversitas ini dilakukan oleh Yayasan Palung bekerjasama dengan Fauna Flora Internasiol-Indonesia Program. Kegiatan ini dilaksanakan selama satu pekan (tanggal 7 hingga 13 Agustus 2022).

Menariknya, selama mereka melakukan survei, tidak sedikit aneka biodiversitas yang mereka dijumpai, seperti; tumbuhan dan satwa.

Adapun tumbuhan yang mereka jumpai seperti pohon medang yang sedang berbuah. Buah medang merupakan salah satu pakan orangutan. Ada pula pohon beringin pencekik tumbuh besar.

Selain itu, mereka menjumpai 25 sarang orangutan di dua wilayah hutan hutan desa (Penjalaan dan Rantau Panjang). Mereka berjumpa pula dengan beberapa jenis burung enggang, burung kengkareng perut putih yang baru pertama kali mereka jumpai di Hutan Desa Rantau Panjang. Enggang lainnya yang mereka jumpai seperti enggang badak dan enggang kelihingan.

Lihat Juga :

Mereka pun ada bersua dengan pelanduk napu, babi hutan, beruk, tarsius, ular viper dan bajing kerdil telinga hitam.

Di sela-sela mereka survei, mereka juga menyempatkan diri untuk mengisi waktu luang dengan memancing. Beberapa ikan yang berhasil mereka dapatkan seperti ikan lele rawa gambut.

Narasi : Pit

Video : Erik

(Yayasan Palung)