YP Sampaikan Pengenalan tentang Satwa Dilindungi ke Selolah-Sekolah yang Ada di Simpang Hilir Lewat Lecture dan Puppet Show

Saat kami bertutur tentang satwa dilindungi ke sekolah-sekolah yang ada di Kec. Simpang Hilir, KKU bulan lalu. (Foto dok. Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan berkesempatan melakukan kegiatan pengenalan tentang satwa dilindungi lewat puppet show (pertunjukan boneka) dan lecture (ceramah lingkungan) di beberapa Sekolah Dasar yang ada di Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara, pada Senin hingga Jumat (15-19 September 2025).

Pada kesempatan pertama, Senin (15/9/2025) Puppet show dan lecture disampaikan di SDN 05 Rantau Panjang.

Selanjutnya pada Selasa (16/9/2025) Puppet show dan lecture disampaikan di SDN 27 Rantau Panjang. Pada Rabu (17/9/2025) Puppet show dan lecture disampaikan di SDN 22 Penjalaan, hari Kamis (18/9/2025) Puppet show dan lecture disampaikan di SDN 10 Nipah Kumbang. Puppet show dan lecture terakhir disampaikan pada Jumat (19/9/2025) di 04 Teluk Melano.

Dalam kesempatan Puppet show tersebut, YP berkesempatan menyampaikan (mengenalkan) informasi dan bercerita bertutur kepada siswa-siswi tentang satwa dilindungi seperti orangutan, kelasi, burung enggang, trenggiling dan bekantan.

Selain itu diceritakan juga tentang perilaku, sebaran, DNA dan reproduksi orangutan. Diceritakan pula tentang habitat hidup satwa dilindungi keberadaannya semakin hari semakin menurun drastis karena berbagai persoalan diantaranya pembukaan lahan berskala besar. 

Pada kesempatan tersebut, dari Yayasan Palung yang bertutur/bercerita tentang satwa dilindungi adalah Petrus Kanisius, Iqbal Ariyanto (mahasiswa magang dari UNTAN dan penerima Beasiswa WBOCS) dan Wawan (Relawan REBONK).

Setelah bertutur, siswa-siswi diajak untuk bernyanyi. Dalam kesempatan itu, dari Tim PL YP mengajak siswa-siswi menyanyikan lagu si pongo.

Sedangkan materi lecture yang disampaikan pada kesempatan tersebut adalah tentang orangutan. Pada kesempatan itu, lecture disampaikan oleh Simon Tampubolon dari Yayasan Palung. Dalam kesempatan tersebut, Simon menjelaskan beberapa satwa yang dilindungi seperti orangutan, kelasi, burung enggang, trenggiling, kelempiau dan bekantan serta satwa-satwa lainnya.

Simon Tampubolon saat menyampaikan lecture tentang satwa yang dilindungi. (Foto dok. Pit/Yayasan Palung).

Dalam kesempatan itu pula disampaikan terkait Undang-Undang No. 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Adapun isi dari UU tersebut adalah;

 Pasal 21 ayat 2:

“Barangsiapa dengan sengaja memburu, menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan/atau memperdagangkan satwa yang dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati.”

Pasal 40A ayat 1:

 “Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (Dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000,- (Lima Miliar Rupiah).”

Berharap, semoga ada tumbuh kecintaan dari siswa-siswi untuk peduli terhadap satwa yang dilindungi lebih khusus yang ada di wilayah Kalimantan Barat. (Pit-YP)

Foto dok. Simon & Pit

Video editor: Uci dan Sawitri

(Yayasan Palung)

Pengecekan dan Pemasangan Alat Pemantau Pasif di Kawasan Hutan Desa Rantau Panjang, Pemangkat dan Pulau Kumbang

Cek alat di Kawasan Hutan Desa Pulau Kumbang, Kec. Simpang Hilir. (Foto dok. Mahendra/Program HD Yayasan Palung).

Yayasan Palung (YP), melalui Program Hutan Desa mendampingi Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Muara Palung, LPHD Alam Hijau, LPHD Koembang Bertedoeh dalam melakukukan kegiatan pengecekan dan pemasangan alat pantau pasif di hutan desa Rantau Panjang, Pemangkat, dan hutan Desa Pulau Kumbang, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada Rabu hingga Kamis (10-18 September 2025).

Pengecekan dan pelepasan alat  yang dilakukan di 3 Hutan Desa tersebut diantaranya adalah:

  • Kamera trap : 6 unit di cek dan di lepas, Bio acoustic lama: 3 unit di cek dan di lepas
  • Hobo: 3 unit, 2 unit dipindahkan di lokasi baru yaitu Hutan Desa Pemangkat dan Rantau Panjang
  • Curah hujan : 3 unit, 2 alat di pindah kelokasi baru yaitu HD Pemangkat dan Rantau Panjang
  • Bio acoustic Frank: 5 unit di cek dan di lepas, 3 di pulau kumbang 2 di Pemangkat.

Pemasangan alat-alat pada kesempatan tersebut diantaranya:

  • Kamera trap: 6 unit sebagai pengganti alat lama yang di lepas
  • Bio acoustic: 3 unit sebagai pengganti alat lama yang di lepas
  • Pengukur hujan: 2 unit, alat lama hanya dipindah ke lokasi baru
  • Hobo: 2 unit, alat lama hanya dipindah ke lokasi baru
Video pengecekan dan pemasangan alat di kawasan hutan desa. (Video dok. Mahendra).

Adapun waktu pengecekan dan pemasangan alat: 10 September menuju Desa Rantau Panjang. Kemudian, melakukan pengecekan alat (cek) dan pasang alat di Hutan Rantau Panjang, pada hari Kamis dan Jumat (11-12/9/2025).

Dilanjutkan cek dan pasang alat pada Sabtu hingga Minggu (13-14/9/ 2025) di Hutan Desa Pemangkat.

Pada Senin (15/9/2025) mempersiapkan barang dan cek alat yang selanjutnya alat tersebut pasang di Hutan Desa Pulau Kumbang pada Selasa dan Rabu (16-17/9/2025).

Selanjutnya, tim smart patrol melakukan cek dan pemasangan alat pada Rabu hingga kamis (16-17/9/2025) di Pulau Kumbang dan pada Kamis (18/9/2025) melakukan perwatan alat-alat yang di lepas seperti kamera dan Hobo. Setelah membersihkan alat, tim smart patrol yang terdiri dari 4 anggota LPHD dari Rantau panjang, 3 anggota LPHD dari Pemangkat, 4 anggota LPHD dari Pulau Kumbang, Mahendra dari Yayasan Palung dan Taba (porter).

Terkait hal ini, Hendri Gunawan, Manajer Program Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, usaha menjaga kelestarian orangutan dan satwa liar lainnya di dalam kawasan lindung hutan desa perlu dilakukan monitoring salah satunya dengan memasang camera trap yang bermanfaat untuk mengamati keberadaan, jumlah, jenis dan perilaku satwa yang ada disana.

————————————

Kawasan Hutan Desa Rantau Panjang (dikelola oleh LPHD Muara Palung), Pemangkat (dikelola oleh LPHD Alam Hijau) dan hutan Desa Pulau Kumbang (dikelola oleh LPHD Koembang Bertedoeh) dibina oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, UPT KPH Wilayah Kayong, dan didukung oleh Yayasan Palung (YP) sebagai Lembaga pendamping.

Video editor: Mahendra

Narasi: Pit

(Yayasan Palung)

REPATONES Bersama Yayasan Palung Lakukan Field Trip di Pantai Mak Bagok

para peserta yang mengikuti fieldttrip di Pantai Mak Bagok terlihat sedang memasang tenda dalam serangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada pada Jumat hingga Minggu (12-14 September 2025) pekan lalu. (Foto dok. REPATONES/YP).

Belum lama ini, REPATONES bersama Yayasan Palung (YP) mengadakan kegiatan field trip (kunjungan lapangan) di Pantai Mak Bagok. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat hingga Minggu (12-14 September 2025) pekan lalu, di Pantai Mak Bagok.

REPATONES merupakan singkatan dari Remaja Pecinta Alam Santo Yohanes dari SMA PL Santo Yohanes.

 Fieldtrip tersebut diikuti oleh 39 orang peserta dan satu orang pembina REPATONES. Selama kegiatan berlangsung, ada beberapa kegiatan yang dilakukan. Pertama, kegiatan diawali dengan apel pembukaan dimana pada saat sambutan pembina maupun Yayasan Palung menjelaskan kepada para peserta terkait maksud dan tujuan kegiatan field trip tersebut yaitu merupakan kegiatan pendidikan lanjut (dikjut) yang sebelumnya dilakukan pendidikan dasar (diksar) diawal tahun 2025.

Setelah apel pembukaan selesai dilakukan, pada malam harinya, peserta dibekali materi dan praktek tentang pengamatan satwa malam (nokturnal). Dalam kesempatan itu, peserta diajak untuk melakukan observasi ke lapangan sesuai jalur pengamatan yang telah ditentukan. Saat melakukan pengamatan, ada beberapa hal yang harus peserta perhatikan dan lakukan diantaranya; melakukan pengamatan satwa malam mulai dari jenis satwa, perilaku (aktivitas) dan juga melihat tutupan tajuk pohon. Setelah pengamatan selesai peserta selanjutnya melakukan presentasi didepan siswa lainnya.

Dihari kedua tepatnya hari sabtu, kegiatan dilanjutkan dengan materi tentang inventarisasi pohon dimana peserta harus bisa membedakan tingkatan tumbuhan mulai dari semai, pancang, tiang dan pohon dilihat berdasarkan diameter pohon.

Galeri Foto:

Pada siang harinya, tepatnya pukul 14.00 WIB peserta melakukan kegiatan outbound dimana peserta bermain game mulai dari game cerdas cermat, memindahkan karet menggunakan sedotan, memindahkan air menggunakan sedotan dan juga membuat yel-yel kekompakan.

Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan evalusi Bersama terkait kegiatan yang telah dilakukan selama dua hari.  

pada hari Minggu (14/9), kegiatan masih berlanjut yaitu sensus satwa pagi. Kegiatannya hampir sama dengan pengamatan satwa malam, hanya saja yang membedakan waktu pengamatannya yaitu dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB.

Setelah serangkaian kegiatan selesai dilakukan, selanjutnya semua peserta melakukan operasi semut (membersihkan sampah) di sekitar lokasi kegiatan.

Adapun kendala yang dialami selama berkegiatan yaitu; selama dua hari berturut-turut, setiap sore hari hingga malam terjadi hujan yang disertai angin kencang sehingga ada beberapa tenda peserta yang rusak akibat dari angin tersebut. Kemudian kendala selanjutnya adalah ada beberapa materi yang tidak bisa dilaksanakan karna faktor cuaca yang kurang mendukung.

Foto dok. REPATONES/YP

Penulis: Riduwan

(Yayasan Palung)

Pengecekan dan Pemasangan Alat Pasif Monitoring di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning

Yayasan Palung (YP), melalui Program Hutan Desa mendampingi LPHD Hutan Bersama dan LPHD Alam Hijau dalam melakukukan kegiatan pengecekan dan pemasangan alat pantau pasif di hutan desa Nipah Kuning, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada Jumat hingga Senin (19-21 September 2025).

Saat melakukan pengecekan dan pemasangan alat, Sukrianto dan Adittia Saputra dari Yayasan Palung mendampingi 6 orang LPHD Hutan Bersama dan LPHD Alam Hijau yang  berkesempatan melakukan pengecekan (cek alat) dan pememasang alat pantau pasif.

Mahendra, Staf Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, adapun alat-alat yang dicek seperti; melakukan pengecekan  2 pengukur curah hujan (1 di desa, 1 di hutan desa), 2 alat ukur suhu (1 di desa, 1 di hutan desa) 2 perangkap kamera, 4 perekam suara.

Lebih lanjut Mahendra, mangatakan adapun tujuan melepas alat yang lama dan memasang dengan yang baru dengan maksud;

  1. Supaya alat bisa dibersihkan dan disimpan agar tidak rusak,
  2. Memastikan alat agar dapat berfungsi dengan baik,
  3. Memberi jeda waktu agar alat dapat berfungsi maksimal,
  4. Pergantian alat dilakukan setiap 2 bulan sekali untuk treking dan mendata kondisi alat.

Sedangkan alat yang dipasang pada kesempatan tersebut adalah sebagai pengganti yaitu; 2 Kamera trap dan 1 bioakustik.

Terkait hal ini, Hendri Gunawan, Manager Program Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, alat pantau pasif ini seperti perangkap kamera digunakan sebagai metode untuk melihat keanekaragaman hayati yang ada di dalam zona lindung hutan desa yang didampingi oleh Yayasan Palung, sebagai habitat satwa tentunya keberadaan kawasan hutan desa sangat penting dalam konservasi satwa yang di Lindungi di Indonesia, untuk itu salah satu upaya yg dilakukan adalah dengan memantau keberadaan mereka (satwa) di sana. (Pit-YP).

————————————

Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning dikelola oleh LPHD Hutan Bersama dan di Kelola Oleh LPHD Alam Hijau yang dibina oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, UPT KPH Wilayah Kayong, dan didukung oleh Yayasan Palung (YP) sebagai Lembaga pendamping.

Video editor:  Adittia Saputra

(Yayasan Palung)

Hari Ozon Internasional, Sampaikan Edukasi dan Aksi Diskusi Solutif untuk Menjaga Lapisan Ozon

Dalam rangka memperingati Hari Ozon Internasional (Hari Ozon Sedunia) 2025, Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Edukasi dan Aksi Diskusi Solutif untuk Menjaga Lapisan Ozon, pada Minggu (21/9/2025). Foto dok. Sela/Yayasan Palung.

Dalam rangka memperingati Hari Ozon Internasional (Hari Ozon Sedunia) 2025, Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Edukasi dan Aksi Diskusi Solutif untuk Menjaga Lapisan Ozon”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu (21/9/2025) di kantor Yayasan Palung Ketapang.

Adapun tujuan  kegiatan ini antara lain adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya menjaga lapisan ozon sebagai pelindung kehidupan di bumi.

Kegiatan dimulai pada pukul 10.00 WIB tersebut diisi dengan sesi edukasi yang disampaikan oleh salah satu relawan RK-TAJAM angkatan 12, Lioni Pratiwi yang pada kesempatan tersebut memaparkan materi tentang fungsi lapisan ozon, penyebab kerusakannya, serta dampak serius jika ozon terus menipis.

Video:

“Kerusakan ozon bukan hanya isu global, tapi juga tanggung jawab kita bersama. Setiap individu bisa berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan dengan langkah-langkah sederhana seperti menghindari produk yang mengandung CFC dan mengedukasi orang-orang di sekitar kita,” jelas Lioni dalam penyampaiannya.

Setelah sesi edukasi, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengikuti Aksi Diskusi Solutif. Dalam diskusi ini, setiap kelompok diminta untuk mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan kerusakan ozon di kehidupan sehari-hari dan mencari solusi konkret yang bisa dilakukan secara mandiri maupun kolektif.

Beberapa solusi kreatif yang muncul dalam diskusi antara lain kampanye digital bertema “pengurangan penggunaan bahan perusak ozon”, edukasi berkelanjutan ke sekolah sekolah, serta ajakan untuk lebih bijak dalam menggunakan produk rumah tangga yang ramah lingkungan.

“Kami sengaja menggabungkan edukasi dengan diskusi solutif agar peserta tidak hanya menerima informasi, tapi juga dilatih berpikir kritis dan solutif terhadap isu lingkungan,” ujar pembina RK-TAJAM, Sela Darmiyati.

Dengan mengusung semangat partisipatif dan solutif, RK-TAJAM berharap kegiatan ini menjadi langkah awal yang mendorong aksi nyata dalam menjaga bumi dan menciptakan masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Penulis: Sela Darmiyati-Yayasan Palung

Dokumentasi Beberapa Contoh Makanan Orangutan di bulan Agustus 2025

#latepost Komposisi pakan orangutan di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) pada bulan Agustus terdiri atas:

1. Buah diantaranya; Pternandra, Magnolia dan Ampelocissus,
2. Epifit diantaranya; Dischidia dan Bulbophyllum,
3. Serangga yaitu semut dan rayap,
4. Kulit pohon diantaranya Gironniera dan Irvingia,
5. Daun yaitu Knema dan Grewia,
6. Bunga yaitu Madhuca,
7. Umbut yaitu Pandanus dan Korthalsia.

Lokasi: Taman Nasional Gunung Palung
Foto oleh Marcelita
Deskripsi oleh Ishma

————————————-
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Biologi Universitas Nasional dan Boston University.

#pakan#pakanorangutan#orangutan#buahhutan#forest#hutan#makananorangutan#gunungpalung#gunungpalungnationalpark

Belajar Tata Kelola Karbon, YP dan UPT KPH Kayong Ajak Kades dan LPHD Studi Langsung ke LPHD Lubuk Beringin Jambi

Perjalanan menuju hutan desa Lubuk Beringin. (Foto dok. Hendri Gunawan/Yayasan Palung).

Belajar secara langsung, setidaknya itu yang telah dilakukan oleh Yayasan Palung (YP) bersama UPT KPH Kayong dengan mengajak perwakilan Kepala Desa (Kades) dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dampingan YP yang ada di Wilayah Simpang Hilir, Kayong Utara dengan melakukan kegiatan  Studi Langsung ke LPHD Lubuk Beringin Jambi di Desa Lubuk Beringin, Kecamatan Batin III Hulu, Kabupaten Muara Bungo, Provinsi Jambi, pada Kamis hingga Senin (21-25/8/2025).

Selama melakukan studi secara langsung ke LPHD Lubuk Beringin Jambi di Desa Lubuk Beringin, para peserta belajar banyak hal diantaranya adalah; sharing kegiatan yang sudah dilakukan oleh LPHD di wilayah masing-masing, menjalin kerjasama multi pihak dan belajar tentang tata kelola karbon Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak untuk melakukan Praktek pengukuran Karbon. Sebelumnya, peserta dikenalkan dengan alat dan bahan, Penjelasan prosedur pengambilan data stok karbon serta bagaimana cara mengkur stok karbon atas.

Selain itu, dalam kegiatan tersebut, peserta berkesempatan mendapat cerita dan diskusi serta belajar pengembangan usaha agroforestri yang telah dilakukan oleh LPHD Lubuk Beringin Jambi di Desa Lubuk Beringin.

Adapun sebagai fasilitator (pemateri) dalam kegiatan tersebut adalah WARSI Indonesia.

Hendri Gunawan, Manager Program Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, adapun tujuan terkait kegiatan ini antara lain, pertama, dari sisi pendamping, tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas dampingan dalam pengelolaan kawasan, Kelola Lembaga dan Kelola usaha yang ada di hutan desa.

Foto-foto kegiatan:

Selain itu, dari sisi Masyarakat dampingan, tujuannya adalah untuk membangun relasi baru, menunjukaan contoh kegiatan konservasi yang berhasil di Indonesia, menumbuhkan semangat Masyarakat untuk berkolaborasi dan menjalankan komitmen konservasi di wilayah mereka, kata Hendri.

Hendri, sapaan akrabnya, menambahkan, setidaknya ada enam (6) poin yang dihasilkan dari belajar secara langsung LPHD Lubuk Beringin Jambi di Desa Lubuk Beringin, diantaranya yaitu;

Pertama, Pendamping mampu menganalisis sejauh mana keberhasilan pendampingan di wilayah kerja masing-masing,

Kedua, Dalam kegiatan studi banding peserta berdiskusi dan sharing bagaimana Sistem Management pengelolaan LPHD di Desa Lubuk Beringin sehingga mampu mendapatkan sertifikasi sehingga mampu mendapatkan dana imbal jasa Carbon,

Ketiga, Belajar Bagaimana Kerjasama yang baik antara Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Desa, Badan Usaha Milik Desa dan LPHD bisa berkolaboratif untuk menjalankan komitmen konservasi di wilayah mereka,

Keempat, LPHD dan Pemerintah Desa belajar bagaimana Mekanisme persiapan dokumen, perhitungan Cadangan karbon, hingga sampai menerima manfaat Karbon,

Kelima, Capacity Building kelompok dampingandan pengembangan livelihood di kawasan konservasi dengan system agroferestri kopi,

dan yang terakhir, dari hasil agroforestri kopi dibentuk KUPS untuk mengolah kopi dan kopi olahan dipasarkan baik local maupun internasional.

Lebih lanjut, Hendri Gunawan, menyampaikan harapan, dengan adanya kegiatan ini bisa meningkatkan proses pendampingan, penguatan kelompok Masyarakat dan kolaborasi para pihak untuk mempersiapkan proses imbal jasa karbon.

Adapun sebagai fasilitator (pemateri) dalam serangkaian kegiatan tersebut adalah dari WARSI Indonesia.

Rangkaian kegiatan ini berjalan sesuai dengan harapan dan mendapat sambutan baik dari peserta yang mengikuti kegiatan ini. (Petrus Kanisius-Yayasan Palung).

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak: https://pontianak.tribunnews.com/polda-kalbar/1139388/yayasan-palung-dan-upt-kph-kayong-ajak-kades-dan-lphd-studi-langsung-ke-lphd-lubuk-beringin-jambi

YP dan Ibu-ibu PKK Desa Pampang Harapan Membuat Olahan Panganan Lokal  Keripik Rebung

Ibu-ibu membuat panganan lokal kripik dari bahan dasar rebung. (Foto dok. Dewi Ratna Sari/Yayasan Palung).

Yayasan Palung (YP) melalui Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) bersama ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Pampang Harapan berkesempatan membuat olahan panganan lokal  keripik dari bahan dasar Rebung.

Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan di Gedung Serbaguna, Kantor Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kayong Utara, pada Jumat (26/8/2025).

Dalam kesempatan tersebut, ibu-ibu PKK Desa Pampang Harapan diajak untuk membuat olahan panganan lokal keripik dari bahan dasar rebung.

Keripik rebung merupakan salah satu olahan pangan tradisional yang memanfaatkan rebung atau tunas muda bambu sebagai bahan utama. Rebung yang segar terlebih dahulu dibersihkan, diiris tipis, direbus, kemudian ditiriskan sampai airnya mengering dan dibumbui dengan bahan dan rempah tambahan. Setelah itu, rebung digoreng hingga renyah.

Keripik rebung menjadi camilan sehat yang unik sekaligus bernilai ekonomis. Produk ini dapat dikemas menarik untuk menambah daya tarik konsumen, sehingga berpotensi menjadi oleh-oleh khas daerah penghasil bambu. Dengan sentuhan inovasi rasa, seperti balado, atau pedas manis, keripik rebung mampu bersaing dengan produk camilan modern namun tetap mempertahankan keaslian bahan alamnya.

Adapun sebagai trainer (pemateri) dalam kegiatan pelatihan tersebut adalah Ibu Misnah berasal dari Desa Pangkalan Buton, Kecamatan, Sukadana yang merupakan anggota kelompok dampingan Yayasan Palung dan merupakan seorang pengrajin HHBK sekaligus juga sebagai pelaku usaha kerupuk rebung dan keripik singkong.

Kegiatan pelatihan dihadiri oleh 11 orang ibu PKK dari Desa Pampang, 1 orang staf desa dan 2 orang staf dari Yayasan Palung.

Dengan melihat adanya potensi rebung atau tunas bambu muda yang ada di Desa Pampang Harapan, diharapkan bisa menjadi ide usaha yang berkelanjutan.

Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh ibu-ibu PKK yang mau belajar cara membuat olahan pangan tersebut. Dan juga ini menjadi pengalaman mereka dalam mengelola olahan pangan lokal.

Foto: Dewi Ratna Sari

Tulisan: Dewi Ratna Sari

(Yayasan Palung)

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kumparan : https://kumparan.com/petrus-kanisius/melihat-ibu-ibu-pkk-membuat-olahan-panganan-kripik-rebung-25mtZ8SddSD/1

Mahendra Menjadi Pemateri dalam Kegiatan  Pelatihan yang Digelar oleh Tropenbos Indonesia

Mahendra dari Yayasan Palung berkesempatan berbagi ilmu dalam kegiatan Pelatihan Pengelolaan Konservasi Satwa Liar yang diselenggarakan oleh Tropenbos Indonesia bagi Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD). Foto dok. Yoga/Mahenra.

Pada hari Kamis hingga Jumat (28-29/8/2025), Mahendra dari Yayasan Palung (YP) berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Pengelolaan Konservasi Satwa Liar yang diselenggarakan oleh Tropenbos Indonesia bagi Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD).

Acara pelatihan dibuka oleh panitia kegiatan. Adapun yang dihadiri oleh Kepala Desa Sungai Besar sekaligus membuka kegiatan, perwakilan BKSDA, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta rekan-rekan dari Tropenbos Indonesia.

Kegiatan tersebut diikuti oleh LPHD Sungai Besar, LPHD Sungai Pelang, dan LPHD Pangkalan Telok sebagai desa dampingan Tropenbos Indonesia.

Pada hari pertama kegiatan, Kamis 28 Agustus 2025, Mahendra berkesempatan menyampaikan materi dasar mengenai alat pemantau pasif, dengan fokus pada kamera trap. Materi meliputi:

  • Pengertian Alat Pemantau Pasif,
  • Macam-Macam Alat Pemantau Pasif,
  • Pengertian dan Fungsi Kamera Trap,
  • Komponen dan Cara Kerja Kamera Trap,
  • Menampilkan Penayangan Contoh Video Hasil Tangkapan Kamera Trap di lapangan.

Foto-foto kegiatan:

Selanjutnya, pada hari kedua kegiatan, Jumat (29/8/2025), Mahendra memandu praktik langsung lapangan tentang cara memasang dan menyetel kamera trap. Praktik ini diikuti langsung oleh para peserta dari LPHD dampingan Tropenbos Indonesia, sehingga peserta mendapatkan pemahaman teknis sekaligus pengalaman langsung dalam penggunaan alat pemantau passive satwa liar di habitatnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas LPHD dalam pemantauan keanekaragaman hayati dan mendukung upaya konservasi satwa liar di wilayah desa dampingan Tropenbos Indonesia.

Penulis: Mahendra-Yayasan Palung

Konferensi Internasional BioFub 2025: Biodiversitas dan Biologi Masa Depan, Inovasi untuk Konservasi dan Keberlanjutan

Foto bersama di acara International Conference on Biodiversity and Future Biology (ICo-BioFuB) 2025 di Cyber Auditorium, Universitas Nasional, Jakarta, Selasa 26 Agustus 2025. Kegiatan Konferensi internasional tersebut dibuka langsung oleh Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, MM., selaku Gubernur DKI Jakarta. (Foto dok. Panitia, Wahyu/Tatang/UNAS/YP).

Universitas Nasional (UNAS), melalui Fakultas Biologi dan Pertanian, khususnya Prodi Sarjana dan Prodi Magister Biologi yang merupakan anggota Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) Cabang Jakarta yang didukung dan bekerjasama dengan Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI), menyelenggarakan International Conference on Biodiversity and Future Biology (ICo-BioFuB) 2025 di Cyber Auditorium, Universitas Nasional, Jakarta,pada Selasa (26/8/2025).

Konferensi Internasional  BioFub 2025 ini juga dilaksanakan bersama anggota PBI Cabang Jakarta lainnya, seperti dari; Departmen Biologi, Universitas Indonesia; Departmen Biologi, Universitas Negeri Jakarta; Prodi  Biologi, UIN Syarif Hidayatullah; Prodi Pendidikan Biologi, UHAMKA, Jakarta; Prodi  Biotechnologi, Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta; Prodi Biologi, Universitas Islam As’syafiiyah  serta kolaborator dari Department of Anthropology, Rutgers University, Max Planck Institute of Animal Behavior (Development and Evolution of Cognition), dan Department of Biotechnology, UCSI University. Sebagai mitra kerjasama dengan Fakultas Biologi dan Pertanian -UNAS, Yayasan Palung (YP) turut berpartisipasi dalam terselenggaranya kegiatan tersebut.

Kegiatan Konferensi internasional tersebut dibuka langsung oleh Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M., selaku Gubernur DKI Jakarta.

Dalam sambutannya, Gubernur DKI Jakarta menekankan pentingnya forum ini sebagai wadah berbagi pengetahuan, ide, dan inovasi untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. “Konferensi ini adalah kesempatan luar biasa bagi kita semua untuk berbagi pengetahuan, ide, dan inovasi dalam upaya konservasi dan keberlanjutan. Saat ini kita menghadapi ancaman serius berupa deforestasi, perubahan iklim, pencemaran, eksploitasi berlebihan, hingga hadirnya spesies invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem,” katanya.

Foto dok. Panitia, Wahyu/Tatang/UNAS/YP

Kegiatan Konferensi Internasional BioFub 2025 ini dihadiri lebih kurang 200 peserta, terdiri dari peserta undangan dan pemakalah, yang hadir secara on-site maupun on-line. Jumlah narasumber dan peserta pemakalah berjumlah 73 dari beberapa negara (US, German, Malaysia, Hungaria dan Jepang) dan peserta dari Indonesia (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah). Ragam afiliasi terdiri dari: perguruan tinggi, Lembaga Peneliti, instransi pemerintah, praktisi/industri dan NGO.

Adapun tujuan dari diselenggarakannya Konferensi Internasional BioFub 2025 ini antara lain adalah;

Pertama, Menyampaikan hasil riset terbaru di bidang biodiversitas, bioteknologi, dan konservasi keanekaragaman hayati. Kedua, Mendorong kolaborasi lintas disiplin dan internasional dalam konservasi keanekaragaman hayati. Ketiga, menggali peran pendidikan dan komunitas dalam pembangunan berkelanjutan. Dan menjadi wadah dialog antara ilmuwan, pembuat kebijakan, industri, pemerintah daerah dan masyarakat.

Dalam kegiatan Konferensi Internasional BioFub 2025 tersebut ada tiga (3) topik penting yang dibahas, yaitu;

  1. Biodiversitas-eksplorasi biodiversitas untuk kesehatan, ketahanan pangan, industri, mikrobioma, ekosistem laut, serta biodiversitas lokal.
  2. Konservasi Biodiversitas – strategi berbasis bioteknologi, restorasi ekologi, peran kota, kebijakan dan komunitas, serta mitigasi perubahan iklim.
  3. Biologi Masa Depan, rekayasa genetika, CRISPR, bioinformatika, biologi sintetis, bioetika, hingga inovasi berbasis biodiversitas.

Dr. Ence Darmo Jaya Supena, Ketua Perhimpunan Biologi Indonesia, dalam sambutan tertulisnya  memberikan sambutan yang menekankan bahwa keanekaragaman hayati adalah fondasi kehidupan yang kini menghadapi ancaman serius, sehingga diperlukan inovasi, kolaborasi, dan aksi nyata melalui konferensi ini untuk mencari solusi berbasis sains, teknologi, dan keterlibatan masyarakat demi konservasi dan keberlanjutan.

Dalam kegiatan Konferensi Internasional BioFub 2025  menghadirkan pembicara dari luar negeri dan dari Indonesia yang pada kesempatan tersebut berkesempatan menyampaikan presentasinya, seperti;

Prof. Dr. Erin Rebecca Vogel dari Rutgers University, Amerika Serikat sebagai keynote speaker menyampaikan materi ilmiahnya bahwa “Konservasi orangutan tidak hanya tentang menjaga hutannya, tetapi juga memastikan integritas ekosistem dan ketersediaan sumber pakan yang menopang kesehatan serta keberlangsungan hidupnya.”

Hasil penelitian Dr. Caroline Schuppli dari Max Planck Institute of Animal Behavior yang juga tentang orangutan, menunjukkan bahwa perkembangan keterampilan orangutan sangat bergantung pada pembelajaran sosial jangka panjang, yang membentuk repertoar budaya penting bagi kelangsungan hidup dan memiliki implikasi besar bagi strategi konservasi.

Disampaikan pula hasil penelitian Prof. Dr. Dedy Darnaedi, MSc, seorang botanis Guru Besar Biologi Universitas Nasional, menegaskan bahwa taksonomi modern dengan dukungan teknologi dapat mempercepat inventarisasi flora Indonesia, namun keberhasilannya bergantung pada komitmen pemerintah dan kolaborasi multi-pihak.

Makalah lainnya yang tak kalah menarik disampaikan dalam kesempatan tersebut disampaikan oleh narasumber Crystale Lim Siew Ying, PhD dari Department of Biotechnology, Faculty of Applied Sciences, UCSI University, Malaysia, menunjukkan bahwa inovasi bioteknologi pada sistem mikroba, seperti meta-omik, AI, CRISPR, dan biologi sintetis, berpotensi meningkatkan kesehatan manusia, ketahanan ekosistem, serta keberlanjutan lingkungan, namun harus disertai dengan kerangka bioetika agar selaras dengan nilai masyarakat dan kebutuhan planet Selain itu, sejumlah pembicara dari beberapa propinsi dari Indonesia, Jepang dan Hungaria berbagi wawasan serta hasil riset Biologi terkini yang sangat menarik.

Sebagai penutup, Ketua Panitia yang juga Ketua PBI Cabang Jakarta, Dr. Tatang Mitra Setia, M.Si., menyampaikan; “Konferensi ini memperkuat kolaborasi ilmiah dan melahirkan inovasi untuk menjawab tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati.”

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang presentasi riset, tetapi juga sarana memperluas jejaring kolaborasi dan merancang langkah nyata menuju konservasi keanekaragaman hayati dan inovasi berkelanjutan. (Petrus Kanisius dan Wahyu Susanto-Yayasan Palung).

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak:https://pontianak.tribunnews.com/2025/08/28/biofub-2025-kolaborasi-global-untuk-konservasi-biologi-masa-depan-dan-pembangunan-berkelanjutan