Ini Cara Kami Rayakan HUT ke75 Kemerdekaan Republik Indonesia

Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) saat melakukan perayaan HUT RI yang ke 75 tahun di Bukit Begentar, Desa Sungai Belit, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara (17/8), kemarin.

Senin 17 Agustus 2020 kemarin, Bertepatan dengan hari ulang tahun negeri ini,  Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) melakukan perayaan HUT RI yang ke 75 tahun di Bukit Begentar, Desa Sungai Belit, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

Kegiatan yang dimulai pada pukul 08.00 Wib tersebut diikuti oleh 11 orang peserta dari Relawan Rebonk dan didampingi oleh Riduwan, selaku staf Yayasan Palung, sekaligus pembina Relawan Rebonk.

Adapun beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan antara lain seperti  kegiatan berfoto bersama dibarengi dengan pengibaran bendera merah putih. Sayangnya selama proses pendakian, kami menemukan ada banyak sekali sampah ditempat wisata bukit Begentar.

Beberapa sampah yang ada kebanyakan dari plastik, bungkus makanan dan botol minum. Selesai kegiatan, kami melakukan baksos memungut sampah yang ada disana.

Semua rangkaian kegiatan perayaan HUT RI yang ke 75 tahun yang dilaksanakan di Bukit Begentar, Desa Sungai Belit, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara berjalan sesuai rencana.

Berharap kepada kita semua r boleh kiranya kita menjaga Indonesia agar terhindar dari sampah dengan cara tidak membuang sampah sembarangan.

Penulis : Riduwan – Yayasan Palung

Editor : Pit -YP

TECHNICAL MEETING LOMBA MENGGAMBAR POSTER INTERNATIONAL ORANGUTAN DAY 2020

Ilustrasi: Foto Anak Orangutan di Gunung Palung. Foto dok : Tim Laman

Terima kasih kami sampaikan kepada para peserta yang sudah mendaftar Lomba Menggambar Poster Perlindungan Orangutan dalam rangka International Orangutan Day 2020 yang diselenggarakan oleh Yayasan Palung. Berikut merupakan hal-hal yang terkait dengan lomba ini yang harus peserta ketahui:

TUJUAN LOMBA POSTER
Kampanye penyadartahuan kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi orangutan dan habitatnya, dan sebagai ajang menumbuhkan bakat dan meningkatkan kemampuan seni generasi muda khususnya pada isu konservasi satwa dan alam.

TEMPAT DAN WAKTU KEGIATAN
Kantor Yayasan Palung, Jl. Kolonel Sugiono Gg. H. Ikram No. 1 Ketapang, pada 14–17 Agustus 2020.

TEKNIS DAN KETENTUAN LOMBA

  1. Peserta memakai baju seragam sekolah dan masker.
  2. Peserta datang 15 menit sebelum waktu lomba, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan per peserta yaitu sesi pagi jam 08:00 – 11:00 WIB, dan sesi siang jam 14:00 – 17:00 WIB.
  3. Peserta mencuci tangan sebelum masuk ke kantor Yayasan Palung, wadah cuci tangan terletak disamping pintu samping depan kantor Yayasan Palung. Yayasan Palung juga menyediakan hand sanitizer.
  4. Peserta duduk di tempat yang ditentukan oleh panitia.
  5. Peserta mengisi daftar hadir peserta yang diberikan oleh panitia.
  6. Panitia menyediakan minuman dan makanan ringan.
  7. Peserta membawa tumbler atau botol air minuman sendiri.
  8. Panitia menyediakan peralatan lomba berupa pensil, penghapus, kertas gambar ukuran A3, dan crayon.
  9. Peserta membawa sendiri alat gambar yang dibutuhkan.
  10. Peserta memberi nama peserta dan asal sekolah pada kertas gambar.
  11. Peserta membuat poster sesuai dengan tema kegiatan yaitu “Orangutan Sahabat Alam, Lindungi Hak Mereka”. Poster bisa terdiri atas gambar dan pesan kampanye. Pesan kampanye adalah ajakan yang kuat tidak lebih dari 7 kata.
  12. Panitia mengambil foto peserta dengan poster yang sudah diselesaikan kemudian dengan bibit pohon, kemudian peserta menyerahkan poster tersebut kepada panitia.
  13. Peserta mencuci tangan sebelum pulang.

TEKNIS KAMPANYE MEDIA
Tema: “Orangutan Sahabat Alam, Lindungi Hak Mereka”

Setiap peserta berfoto dengan bibit pohon / sedang menanam pohon di halaman sekolah atau rumah, dan membuat status di akun instagram pribadi dengan menyertakan caption sesuai dengan tema kegiatan, menyertakan hastag: #InternationalOrangutanDay #YayasanPalung #OrangutanBorneo #LoveOrangutan #SaveOrangutan dan maksimal 2 hastag yang dibuat sendiri, dan juga tagging atau menandai akun instagram @yayasan-palung dan minimal ke 5 akun teman.

Setiap hari saat berlangsungnya lomba, Yayasan Palung akan membuat video 30 detik – 1 menit untuk kampanye di media sosial, dan live streaming selama 30 menit di Instagram @yayasan_palung.

Pada 19 Agustus 2020 atau pada Hari Orangutan Internasional semua foto poster peserta akan diupload ke akun media sosial Yayasan Palung dengan menyertakan nama dan asal sekolah peserta.

Yayasan Palung juga akan menyediakan pesan-pesan kampanye perlindungan orangutan untuk dipakai pada sesi foto oleh peserta di kantor Yayasan Palung.

TERIMA KASIH! SALAM ADIL DAN LESTARI!

Membuat MOL Nasi sebagai Pupuk Organik Cair

MOL (Mikro Organisme Lokal) yang sudah melalui proses permentasi dan siap digunakan sebagai pupuk cair. Foto dok : Simon Tampubolon/Yayasan Palung

Beberapa waktu lalu, teman-teman dari program Pendidikan lingkungan di Kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center di Desa Pampang Harapan membuat beberapa pupuk cair, diantaranya adalah MOL (Mikro Organisme Lokal).

Cara ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti nasi yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk sehingga tidak merusak lingkungan.

Adapun beberapa manfaat dari MOL Nasi antara lain adalah sebagai :

  1. Sebagai langkah awal untuk pengurai kompos,
  2. Sebagai pupuk organik cair,
  3. Sebagai penyedia nutrisi tanah (media tanam) yang bisa membantu penyerapan unsur hara.  

Bagi teman-teman silakan mencoba dan menerapkannya di lingkungan terkecil kita dari diri sendiri, lingkungan keluarga dan masyarakat.

Berikut ini adalah video bagaimana cara membuat MOL ;     

Berharap kita semakin banyak menggunakan (memanfaatkan) bahan-bahan lokal (organik) sebagai pupuk sehingga lingkungan bisa terjaga dan yang pasti adalah menghemat biaya karena tidak membeli (bisa dibuat sendiri). Selamat mencoba dan salam lestari

Sumber Foto dan Video dokumen Yayasan Palung

Petrus Kanisius -Yayasan Palung

Lomba Menggambar Poster Perlindungan Orangutan “Orangutan Sahabat Alam, Lindungi Hak Mereka”

Poster WOD 2020. Dok : Yayasan Palung

Hari Orangutan Internasional diperingati setiap tanggal 19 Agustus oleh para pelaku konservasi orangutan di seluruh dunia, tahun ini Yayasan Palung kembali menyelenggarakan kegiatan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya yang dikemas dalam Lomba Menggambar Poster Perlindungan Orangutan Tingkat SMA Se-kota Ketapang.

Tahun ini Yayasan Palung memperingati Hari Orangutan Internasional atau World Orangutan Day (WOD) 2020 dengan mengambil tema “Orangutan Sahabat Alam, Lindungi Hak Mereka”

Kegiatan ini akan dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung, Jl. Kolonel Sugiono Gg. H. Ikram No. 1 Ketapang, selama 4 hari yaitu 14–17 Agustus 2020. Per hari dibagi menjadi 2 sesi yaitu Sesi pagi jam 08.00-11.00 WIB, dan sesi siang jam 14.00-17.00 WIB, dengan jumlah peserta maksimal 6 orang per sesi.

Penjurian dan pengumuman hasil lomba akan dilakukan pada 18 Agustus 2020, penyerahan hadiah akan dilaksanakan pada 19 Agustus 2020 atau pada hari orangutan internasional di kantor Yayasan Palung.

Segera daftarkan diri melalui pesan whatsapp ke Sdri. Haning Pertiwi (0852-4552-7935) dengan format: lomba poster-nama sekolah-nama peserta(nomor wa). Pendaftaran dapat dilakukan pada 6-13 Agustus 2020. Teknis lomba akan disampaikan melalui whatsapp group mulai 12 Agustus 2020.

Dapatkan hadiah menarik!

  • Setiap peserta yang mengikuti kegiatan lomba ini mendapatkan 1 bibit pohon, majalah MIaS dan sticker.
  • Juara 1-3 : Piala, Backpack, Tumbler, Paket alat tulis menulis, Sertifikat
  • Juara Harapan 1-3 : Piala, Tumbler, Paket alat tulis menulis, Sertifikat
  • 5 hadiah hiburan menarik bagi peserta yang memuat foto dengan bibit pohon dengan caption terbaik di instagram.
View this post on Instagram

AYO IKUTI LOMBA MENGGAMBAR POSTER TINGKAT SMA Ayo, #ikuti #lomba #menggambar #poster dalam rangka World Orangutan Day (WOD) 2020. Lomba ini dikhususkan untuk pelajar setingkat SMA yang berada di wilayah Kabupaten Ketapang. Pelaksanaan lomba ini di laksanakan di Kantor Yayasan Palung, pada 14-17 Agustus 2020. Sesi pagi jam 08.00-11.00 WIB, dan sesi siang jam 14.00-17.00 WIB, jumlah peserta maks 6 orang per sesi. Penjurian dan pengumuman hasil lomba pada 18 Agustus 2020, penyerahan hadiah pada 19 Agustus 2020. Pendaftaran melalui pesan whatsapp ke Haning Pertiwi (0852-4552-7935) dengan format: lomba poster-nama sekolah-nama peserta(nomor wa) pada 6-14 Agustus 2020 Dapatkan hadiah menarik! • Setiap peserta mendapat 1 bibit pohon, majalah MIaS dan sticker • Juara 1- 3 : Piala, Backpack, Tumbler, Paket alat tulis, Sertifikat • Juara Harapan 1- 3 : Piala, Tumbler, Paket alat tulis, Sertifikat • 5 hadiah hiburan bagi peserta yang memuat foto dengan bibit pohon dengan caption terbaik di instagram Saksikan video dan live streaming setiap hari saat berlangsungnya lomba, dan #semua #foto hasil poster pada 19 Agustus 2020 di akun instagram @yayasan_palung Lomba ini menjalankan #protokol #kesehatan pakai #masker, cuci tangan dan jaga jarak! Narasi : @mayi_eugeniaa 📸 : @erik_borneo_bird_watching @yayasan_palung @savewildorangutans #lomba #poster #wod2020 #saveorangutan #orangutans #savewildorangutans

A post shared by Yayasan Palung (YP) (@yayasan_palung) on

Setiap peserta berfoto dengan bibit pohon / sedang menanam pohon di halaman sekolah atau rumah, dan membuat status di akun instagram pribadi dengan menyertakan caption sesuai dengan tema kegiatan, menyertakan hastag: #InternationalOrangutanDay #YayasanPalung #OrangutanBorneo #LoveOrangutan #SaveOrangutan dan maksimal 2 hastag yang dibuat sendiri, dan juga menandai akun instagram @yayasan-palung dan minimal 5 akun teman.

Saksikan akun instagram @yayasan_palung setiap hari saat berlangsungnya lomba (14-17 Agustus 2020), Yayasan Palung akan mengupload video 30 detik-1 menit, dan live streaming selama 30 menit. Pada 19 Agustus 2020 atau pada Hari Orangutan Internasional semua foto poster dengan menyertakan nama dan asal sekolah peserta akan diupload instagram @yayasan_palung.

Lomba ini akan menjalankan protokol kesehatan yaitu pakai masker, cuci tangan (hand sanitizer) dan jaga jarak untuk pencegahan penyebaran Covid-19.

Petrus Kanisius dan Mariamah Achmad-Yayasan Palung

Berbagi Kebahagiaan dalam Kesederhanaan

Saat Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) melakukan bakti sosial (Baksos) berbagi kebahagiaan dalam kesederhanaan di Panti Asuhan Al-Akbar Kalinilam Ketapang, pada (29/7) kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Pada tanggal 29 Juli 2020 akhir bulan lalu, Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) melakukan bakti sosial (Baksos) berbagi kebahagiaan dalam kesederhanaan.

Bakti sosial yang bertema; “Berbagi Kebahagiaan dalam Kesederhanaan“ tersebut dilaksanakan di Yayasan Panti Asuhan Al-Akbar Kalinilam Ketapang, Kalimantan Barat.

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) yang merupakan relawan binaan Yayasan Palung. Dalam kesempatan tersebut, Relawan Tajam yang diwakili oleh 6 orang relawan berkesempatan untuk menyerahkan tali kasih (berbagi kebahagiaan dalam kesederhanaan) berupa; pakaian layak pakai, uang tunai, beras dan susu UHT.

Foto-foto kegiatan Baksos yang dilakukan oleh Relawan Tajam pada 29 Juli 2020 lalu

Di Panti Asuhan Al-Akbar Kalinilam Ketapang dihuni oleh 32 orang.  Perwakilan dari pihak panti asuhan mengucapkan terima kasih kepada para Relawan Tajam yang telah menyerahkan tali kasih kepada mereka.

Pembina Relawan Tajam Yayasan Palung, Haning Pertiwi berharap, “dengan diadakannya kegiatan seperti baksos ini diharapkan bisa menumbuhkan kepedulian terhadap sesama”.

Seperti diketahui, Bakti sosial merupakan kegiatan rutin dari program kerja yang relawan tajam laksanakan setiap tahunnya. Sedangkan bentuk dari kegiatan baksos yang relawan tajam lakukan setiap tahunnya bisa bermacam seperti membersihkan sampah di pantai atau di tempat-tempat umum. Sedangkan tahun ini mereka melaksanakan baksos dengan cara berbagi kebahagiaan dalam kesederhanaan ke panti asuhan.

Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak panti asuhan.  Sebelum kegiatan berakhir, semua peserta tidak lupa berfoto bersama.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pertemuan dengan Kelompok Pengrajin dan Petani Binaan Yayasan Palung

Mariamah Achmad sebagai fasilitator saat menyampaikan materi kepada pengrajin dan petani binaan Yayasan Palung. Foto dok: Yayasan Palung

Kamis dan Jumat (27-28Juli 2020) kemarin, diadakan pertemuan dengan kelompok pengrajin dan petani binaan di kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center sebagai cara penguatan kelompok.

Beberapa kelompok pengrajin dan petani binaan Yayasan Palung yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain adalah : RESAMKU, Peramas Indah, IDA CRAFT, Karya Sejahtera dan Petani Meteor Garden.

Dalam pertemuan tersebut dibahas beberapa hal seperti bagaimana perkembangan mereka (kelompok pengrajin dan petani) hingga saat ini. Selain itu, diadakan pertemuan tersebut sebagai penguatan kepada kelompok pengrajin dan petani, kata Ranti Naruri, selaku Manager program Suistainable Livelihood (SL).

Lihat foto di Instagram Yayasan Palung :

View this post on Instagram

Pertemuan dengan Kelompok Pengrajin dan Petani Binaan @yayasan_palung Kamis dan Jumat (27-28Juli 2020) kemarin, diadakan pertemuan dengan kelompok pengrajin dan petani binaan @yayasan_palung @savewildorangutans di kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center sebagai cara penguatan kelompok. Beberapa kelompok pengrajin dan petani binaan @yayasan_palung @savewildorangutans yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain adalah : RESAMKU, Peramas Indah, IDA CRAFT, Karya Sejahtera dan Petani Meteor Garden. Dalam pertemuan tersebut dibahas beberapa hal seperti bagaimana perkembangan mereka (kelompok pengrajin dan petani) hingga saat ini. Selain itu, diadakan pertemuan tersebut sebagai penguatan kepada kelompok pengrajin dan petani, kata Ranti Naruri @naruriranti @rantinaruri selaku Manager program Suistainable Livelihood (SL). Lebih lanjut, Ranti Naruri berharap; pengrajin dan petani perlu mendapatkan pengetahuan sebagai bahan tambahan untuk membangun kesadaran kritis mereka dalam menciptakan inisiatif-inisiatif konservasi yang tujuannya untuk melihat peluang dalam memanfaatkan SDA dan mitra seperti pemerintah di Kabupaten Kayong Utara sebagai upaya memajukan potensi SDA yang berkelanjutan. Sebagai fasilitator dalam kegiatan tersebut adalah Mariamah Achmad @mayi_eugeniaa . Sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Mayi sapaan akrabnya mengatakan; kelompok-kelompok ini (pengrajin dan petani) diharapkan dapat mewujudkan cita-cita mereka dengan mandiri. Kegiatan tersebut diikuti oleh 9 peserta dari perwakilan kelompok pengrajin dan petani. Kegiatan tersebut pun berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang hadir. Foto dan Narasi : @petruskanisiuspit @petruskanisiuspit @yayasan_palung @savewildorangutans #hhbk #suitainable #livelihood #saveorangutan #petani #pengrajin #perajin #yayasan_palung #yayasanpalung #hutan #forest

A post shared by Yayasan Palung (YP) (@yayasan_palung) on

Lebih lanjut, Ranti Naruri berharap; pengrajin dan petani perlu mendapatkan pengetahuan sebagai bahan tambahan untuk membangun kesadaran kritis mereka dalam menciptakan inisiatif-inisiatif konservasi yang tujuannya untuk melihat peluang dalam memanfaatkan SDA dan mitra seperti pemerintah di Kabupaten Kayong Utara sebagai upaya memajukan potensi SDA yang berkelanjutan.

Sebagai fasilitator dalam kegiatan tersebut adalah Mariamah Achmad. Sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Mayi sapaan akrabnya mengatakan; kelompok-kelompok ini (pengrajin dan petani) diharapkan dapat mewujudkan cita-cita mereka dengan mandiri.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 9 peserta dari perwakilan kelompok pengrajin dan petani. Kegiatan tersebut pun berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang hadir.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ternyata Orangutan Sebagai Primata Penyebar Biji, Ini Buktinya

Jumlah biji setiap jenis tumbuhan dalam kotoran orangutan. Capture dari slide presentasi Rizal. Foto dok. Rizal_Yayasan Palung.

Tidak bisa disangkal, orangutan merupakan primata penyebar biji tumbuhan di hutan. Beberapa bukti nyata (fakta) terkait orangutan ini (sebagai penyebar biji) seperti yang disampaikan oleh Ahmad Rizal, pada seminar hasil penelitiannya di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), Rabu pagi (22/7/2020) kemarin, via virtual Zoom Meeting.

Rizal, sapaan akrabnya dalam presentasinya yang berjudul : “Penyebaran Biji Tumbuhan Oleh Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii Tiedemann, 1808) Di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung” menjelaskan di depan para dosen penguji.

Beberapa foto saat Ahmad Rizal menyampaikan presentasi seminar hasil penelitiannya Rabu pagi (22/7/2020) kemarin, via virtual Zoom Meeting

Dalam pembukaan presentasinya yang disaksikan 70 peserta via virtual Zoom tersebut, Rizal memaparkan beberapa hal seperti ; penyebaran biji sebagai proses pemeliharaan habitat hutan, potensi primata sebagai agen penyebar biji, orangutan salah satu primata agen penyebar biji, potensi TNGP, studi kasus di SRCP sebagai habitat orangutan.

Dari penjelasannya, ia telah melakukan penelitian selama setengah tahun (6 bulan) di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).  Rizal dalam penelitiannya, melakukan pemeriksaan  biji yang diambil dari kotoran individu orangutan.  Dari seluruh sampel kotoran orangutan yang didapatkan, didapatkan presentase sampel pada 10 sampel kotoran orangutan dan ternyata mengandung biji tumbuhan sebanyak 80,40 %.

Pada penelitian sebelumnya, orangutan merupakan primata frugivora (pemakan buah), kesehariannya memakan buah (Knott,1998) dan proporsi isi kotoran primata terbanyak adalah biji buah (Setia, 2008),  keberadaan orangutan di suatu habitat dipengaruhi produktivitas buah (Susanto,2012), semakin menegaskan bahwa orangutan tidak bisa disangkal adalah sebagai primata penyebar biji.

Pada saat ujian seminar hasil penelitiannya, selaku penguji adalah; Dr. Priyanti, M. Si dan Dr. Iwan Aminudin, M. Si. Sedangkan sebagai dosen pembimbing adalah; Dr. Fahma Wijayanti, M. Si dan Dr. Tatang Mitra Setia, M. Si.

Saat ditanyai selepas seminar hasil penelitiannya, Rizal mengaku sangat senang dan masih harus berjuang lagi selanjutnya dalam ujian skripsi yang dilaksanakan dalam beberapa waktu kedepan.

Selanjutnya Rizal juga mengatakan pengalamannya selama melakukan penelitian, lebih khusus di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Rizal bercerita, SRCP merupakan tempat yang sangat menarik untuk melakukan penelitian. “Selama melakukan penelitian, sejujurnya banyak hal yang ia dapatkan.

Tidak hanya penelitiannya saja, tetapi kita juga banyak belajar tentang budaya dan tradisi  dari semua teman-teman yang ada di Camp Cabang Panti. Kita bisa belajar  dari mereka (Para Peneliti dari dalam dan dari luar negeri)”, ujar  Rizal Juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung, Gunung Palung Orangutan Project, Yayasan Palung dan Universitas Nasional Jakarta.

Seperti diketahui, Ahmad Rizal adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, namun penelitiannya di SRCP, dalam afiliasi dengan Universitas Nasional (UNAS) Jakarta.

Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5f182239d541df46c1163076/orangutan-sebagai-penyebar-biji-ini-buktinya?page=1

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Kita dan Persoalan Banjir

Warga yang berusaha melewati banjir di Desa Setipayan, Kecamatan Jelai Hulu. Foto dok : Bonifasius Rionaldo

“Dulu air banjir masih bisa tertahan, sekarang air banjir tidak ada yang menahan”.

Banjir dulu dan sekarang. Dulu banjir, sekarang juga banjir (sama-sama banjir). “Dulu air banjir masih bisa tertahan, sekarang air banjir tidak ada yang menahan”. Tertahan karena hutan masih bisa berdiri kokoh. Sedangkan saat ini air banjir tidak ada yang menahan karena hutan tak banyak lagi berdiri kokoh akibat banyak sebab.

Hujan tak berhenti mengguyur selama 2 hari, dari 10-12 Juli 2020 kemarin, berimbas pada terjadinya banjir di beberapa wilayah di Kecamatan Jelai Hulu, Ketapang, Kalimantan Barat.

Terjadinya banjir sedikit banyak berdampak kepada sendi kehidupan (aktivitas) sehari-hari masyarakat. Masyarakat mau tidak mau akrab dengan banjir.

Seperti penuturan Natalis, selaku Sekdes Desa Penyarang saat dihubungi melalui pesan WA, mengatakan; “Banjir terjadi di beberapa desa seperti di Desa yang terendam banjir di Kecamatan Jelai Hulu, seperti di Desa Kesuma Jaya, Desa Riam Danau Kanan, Desa Pasir Mayang, Desa Perigi, Desa Tebing Berseri, Desa Periangan, Desa Penyarang, Desa Asam Jelai dan Desa Biku Sarana”.

Berikut beberapa foto banjir yang terjadi di Desa Riam Kota dan Setipayan di Kecamatan Jelai Hulu :

Akibat cuaca ekstrem sesuai pantauan BMKG dari tanggal 8 sampai 13 juli. Di tambah lagi akibat banyaknya alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit di wilayah hulu, kata Natalis.

Lebih lanjut kata Natalis, “Dampak utama dari terjadinya banjir membuat warga harus mengungsi, tapi kesulitan alat transportasi hanya sebatas rakit, jadi kesulitan untuk evakuasi, sedangkan bantuan dari pemerintah berupa sembako itu pun sampai saat ini belum ada sampai karena keterbatasan akses. Fasilitas seperti perahu sangat mereka perlukan saat ini. Untuk fasilitas umum pun terganggu akibat tergenang banjir ataupun rusak akibat banjir”. Dari  informasi Natalis ini, bisa dibayangkan kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat setempat.

Belum lagi perubahan tanah di perumahan masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai, menyebabkan rumah miring dan turn. Penurunan tanah, tanah pondasi rumah warga menjadi lembut menyebabkan pondasi  tanah menjadi miring, katanya lagi.

Desi Kurniawati, Koordinator Program Perlindungan Satwa (PPS-Hukum) Yayasan Palung, mengatakan terkait terjadinya banjir, menurutnya, “Banjir yang terjadi di beberapa wilayah Jelai Hulu disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya karena diperparah oleh adanya perubahan bentang alam (luasan tutupan hutan yang semakin banyak berkurang). Faktor lainnya karena perubahan iklim (cuaca yang semakin tidak menentu/ anomali cuaca)”.

Desi sapaan akrabnya lebih lanjut mengatakan, “banjir dulu dan sekarang”, dulu banjir juga sering terjadi di lingkungan masyarakat kita, tetapi dampaknya tidak separah seperti sekarang ini. Pada Dasarnya kata Desi, Kalimantan sejatinya sudah sangat akrab dengan banjir, tetapi dulu itu sebenarnya air pasang karena biasanya hanya beberapa jam sudah surut. Desi mencontohkan pada masyarakat kita terdahulu (jaman dulu) di kampung lebih arif dan bijaksana dengan alam sekitar kita (lebih memuliakan alam/peduli dengan alam). Bahkan orang tua (masyarakat) kita dulu kata Desi, sudah tahu cara memitigasi (langkah-langkah mengurangi resiko dengan melakukan pencegahan) dengan cara seperti membangun rumah harus tinggi (rumah panggung) di dataran yang tinggi pula. Sedangkan sekarang sangat berbeda, kebanyakan orang membangun rumah sesuai keinginan saja yang tidak terlalu banyak memikirkan mitigasi banjir. Hal lainnya lagi yang memperparah adalah terkait Andal (analisis dampak lingkungan) yang terkadang hanya copas (copy paste / salin tempel), KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Srategis) tidak dijalankan dengan benar, atau pun perusahaan-perusahaan perkebunan sawit di sekitar lokasi banjir tidak menjalankan prinsip-prinsip sawit berkelanjutan.

Selanjutnya juga Desi menegaskan, “Dulu hujan lebat sekalipun bisa sangat cepat diserap (tertahan) oleh akar-akar pohon. Sedangkan sekarang air hujan turun sudah tidak banyak yang tertahan karena tidak ada banyak pohon di hutan yang menahan. Kalau dulu, ketika banjir terjadi, air sungai masih bisa dikonsumsi, sekarang air sungai sudah mengandung racun bekas dari pupuk dan sebagainya”.

Sesuatu yang pasti dan yang selalu terjadi, penerima dampak adalah masyarakat kecil di wilayah sangat rentan terjadinya banjir.

Saat ini kita semua, pemerintah, pihak swasta dan masyarakat saatnya untuk kembali memuliakan alam dengan sisa-sisa kebijaksanaan yang kita miliki, dengan demikian tidak ada lagi bencana yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Selamat Atas Pelantikan Relawan Konservasi TAJAM Angkatan ke-9

Pantia memberikan pengarahan kepada Anggota baru RK-TAJAM angkatan ke-9 yang akan di Lantik. Foto dok : Yayasan Palung

Sabtu (11/7/2020) kemarin, telah dilaksanakan kegiatan pelantikan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) angkatan ke-9 tahun 2020 yang dilaksanakan di Pantai Tanjung Belandang, Kabupaten Ketapang.

Rombongan dimulai berangkat menuju lokasi pada pukul 08.40 WIB dan tiba di Pantai Tanjung Belandang pada pukul 09.02 WIB.  Semua Peserta calon  RK-TAJAM  diarahkan panitia untuk  berbaris rapi karna akan persiapan senam bersama. Setelah kegiatan senam selesai, peserta diarahkan untuk  sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatan yang sudah dijadwalkan oleh panitia. Setelah selesai sarapan pada pukul 09.45 WIB, peserta calon RK-TAJAM diberi arahan oleh panitia (Tajam Senior) untuk berbaris rapi mendengarkan intruksi dari pembina kegiatan RK-TAJAM.  

Selanjutnya setelah pengarahan selesai, seluruh peserta semangat dan siap untuk menuju pos-pos (ada lima pos) yang disiapkan oleh panitia. Pada pos pertama,  peserta diarahkan oleh panitia menuju pos satu untuk mengikuti intruksi mencari harta yang hilang sesuai petunjuk yang telah di berikan kepada masing-masing peserta.

Berikut beberapa foto kegiatan Pelantikan Relawan Tajam angkatan ke-9 yang dilaksanakan di Tanjung Belandang

Pos satu telah selesai, peserta melanjutkan perjalanan lagi ke pos dua untuk menghafalakan visi dan misi RK-Tajam, seputar organisasi Yayasan Palung, hutan, orang hutan, alam, dan Profil RK-TAJAM  yang ditulis dikertas  peserta mengisi kuis. Setelah selesai mengisi kuis peserta melanjutkan menuju pos tiga, di pos tiga peserta menyerahkan jawaban kuis dan peserta siap uji mental untuk melewati tantangan (halang rintang) yang disiapkan oleh panitia. Setelah selesai melewati halang rintang peserta melanjutkan perjalanan menuju pos empat, di pos empat peserta diminta alasan mengapa mau bergabung dengan RK-TAJAM.

Setelah selesai di pos empat, selesai peserta melanjudkan menuju pos lima. Di pos lima, mereka disuruh mencari slayer yang sengaja disembunyikan panitia di semak-semak dan di pohon. Adapun tujuanya untuk menambah kejelian dan ketelitian peserta saat berada di dalam hutan setelah semua intruksi  selesai  peserta pun diarahkan untuk persiapan pelantikan pada pukul 16.02 WIB, peserta sebelum dilantik diberikan pecerahan terlebih dahulu oleh pembina dan pj acara untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap menjaga alam dan upaya yang harus mereka lakukan dan tujuan yang akan dicapai RK-TAJAM ketapang dan Yayasan Palung. Pada pukul 16.30 WIB peserta RK-TAJAM baru resmi dilantik secara simbolis dengan mengenakan selayer RK-TAJAM baru oleh  panitia RK- TAJAM (RK-Tajam Senior) dan pembina Relawan Tajam, Haning Pertiwi.

Pelantikan pun selesai dilaksanakan dengan lancar. Setelah pelantikan selesai dilaksanakan, peserta melaksanakan bakti sosial (baksos) membersihkan sampah di sekitar pantai. Acara selanjutnya adalah makan bersama dengan tujuan untuk menambah keakraban panitia dan peserta baru yang telah dilantik. Setelah makan bersama selesai, panitia mengarahkan peserta untuk membuat kreasi dari alam dengan mebuat kreasi bahan dari alam dari ranting kayu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Setelah pukul 17.39 WIB, peserta diarahkan oleh pembina untuk persiapan sayonara, Kegiatan pelantikan RK-TAJAM angkatan ke-9  tahun 2020 selesai dilaksanakan dengan lancar.

Semua rangkaian kegiatan selesai dilaksanakan pada pukul 18.00 WIB setelah itu pembina memberi arahan pada peserta agar kembali kerumah masing-masing.

Selamat dan sukses atas pelantikan RK-TAJAM angkatan ke-9, dengan demikian mereka resmi bergabung sebagai Relawan muda Yayasan Palung. Pada tahun ini, ada (5) lima  anggota Baru RK-Tajam yang resmi dilantik. Berharap RK-TAJAM angkatan ke-9 bisa menjadi penyambung lidah yang mampu menyuarakan isu-isu konservasi, lebih kreatif dan mampu mengajak masyarakat untuk lebih perduli pada alam  sekitar.

Penulis : Fransiska Suhaimi- BOCS angkatan 2019

Editor : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pasang Banner Himbauan di 3 Titik Konflik Manusia dan Orangutan

Melalui tim PPS-Hukum Yayasan Palung (YP) melakukan pemasangan banner (baliho) himbauan di titik konflik antara manusia dan orangutan di 3 titik, (22/6) kemarin.

Kemarin (22/6), tim PPS-Hukum Yayasan Palung (YP) melakukan pemasangan banner (baliho) himbauan di titik konflik antara manusia dan orangutan di 3 titik.

Adapun 3 titik konflik antara manusia dan orangutan tersebut adalah 2 titik di Desa Pelang dan 1 titik di Desa Sungai Bakau, di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, Kalimantan Barat.

Pemasangan Banner di 3 titik konflik antara manusia dan orangutan sebagai himbauan bagi kita semua agar tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap satwa yang dilindungi.

Berikut isi dari himbauan tersebut : “SELAMATKAN SATWA DILINDUNGI DAN HABITATNYA” ; Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memilihara, mengangkut, memperniagakan, satwa yang dilindungi. (UU no. 5 tahun 1990, pasal 21, Ayat 2).

Hukuman bagi yang melakukan kejahatan terhadap satwa yang dilindungi : penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. (UU no. 5 tahun 1990, pasal 40, Ayat 2).

Baca juga di :

View this post on Instagram

Yayasan Palung Pasang Banner Himbauan di 3 Titik Konflik Manusia dan Orangutan ————————————————————————- ————————————————————————- Kemarin (22/6), tim PPS-Hukum melakukan pemasangan banner (baliho) himbauan di titik konflik antara manusia dan orangutan di 3 titik. Adapun 3 titik konflik antara manusia dan orangutan tersebut adalah 2 titik di Desa Pelang dan 1 titik di Desa Sungai Bakau, di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, Kalimantan Barat. Pemasangan Banner di 3 titik konflik antara manusia dan orangutan sebagai himbauan bagi kita semua agar tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap satwa yang dilindungi. Berikut isi dari himbauan tersebut adalah : "SELAMATKAN SATWA DILINDUNGI DAN HABITATNYA" ; Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memilihara, mengangkut, memperniagakan, satwa yang dilindungi. (UU no. 5 tahun 1990, pasal 21, Ayat 2). Hukuman bagi yang melakukan kejahatan terhadap satwa yang dilindungi : penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. (UU no. 5 tahun 1990, pasal 40, Ayat 2). Saat pemasangan banner tersebut, Yayasan Palung @yayasan_palung @savewildorangutans dibantu oleh pihak Kepolisian dan TNI yang kebetulan sedang bertugas patroli di wilayah tersebut. Berharap dengan adanya himbauan tersebut konflik antara manusia dan orangutan tidak terjadi lagi. Narasi : @petruskanisiuspit @nafas_hidupalamraya @yayasan_palung @savewildorangutans 📸 : @yayasan_palung @savewildorangutans @hendri_gunawan_kabara @andre_botanis #saveorangutan #saveorangutans #orangutanwildlife #satwaliar #satwadilindungi #kalimantanbarat #ketapang #kalbar #Borneo #Indonesia #wild #wildlife @tribunpontianak

A post shared by Yayasan Palung (YP) (@yayasan_palung) on

Saat pemasangan banner tersebut, Yayasan Palung dibantu oleh pihak Kepolisian dan TNI yang kebetulan sedang bertugas patroli di wilayah tersebut.

Berharap dengan adanya himbauan tersebut konflik antara manusia dan orangutan tidak terjadi lagi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung