Kita Adalah Bagian dari Solusi untuk Lingkungan yang Lebih Baik

Peserta yang mengikuti Webinar Peringati hari Keanekaraman Hayati. (Foto : Haning/Yayasan Palung)

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) memperingati Hari Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sedunia atau International Day for Biological Diversity yang diperingati setiap tahun pada tanggal 22 Mei.  Pada kersempatan tersebut RK-TAJAM mengadakan Webinar yang bertajuk “Kita adalah bagian dari solusi untuk lingkungan yang lebih baik” diadakan pada Kamis (20/5/2021) kemarin.

Sebagai pemateri dalam Webinar tersebut adalah Annisa Rahmawati dari Advokasi Indonesia Mighty Earth.

Dalam penyampaian materinya, Annisa Rahmawati memaparkan beberapa hal penting diantaranya;

  • Keanekaragaman hayati merupakan solusi untuk mengatasi perubahan iklim
  • Keanekaragaman hayati adalah sumber ekonomi. 40 % ekonomi dunia sangat tergantung pada keanekaragaman hayati. 70 % sistem pangan kita tergantung pada keanekargaman hayati.
  • Keanekaraman hayati adalah bagian dari budaya dan identitas.

Selain itu, Anisa Rahmawati juga menjelaskan tentang deforestasi yang terjadi di Indonesia. Deforestasi yang terjadi berdampak kepada beberapa aspek seperti; bencana dan kerugian, selain itu berpengaruh juga pada hilangnya habitat dari hidup satwa. 

Seperti diketahui, hutan sebagai pelindung dan pengatur keseimbangan iklim. Saat ini kita dituntut agar menjaga hutan (melindungi dan merestorasi) keanekaragaman hayati untuk mengatasi perubahan iklim. Selain itu, menghentikan deforestasi dan melarang jual beli satwa.

Peringatan hari Keanekaragaman Hayati Sedunia juga sebagai pengingat akan pemahaman, kesadaran dan  kecintaan kita terhadap keanekaragaman hayati atau biodiversitas di bumi ini.

Keanekaragaman Hayati sendiri dapat diartikan sebagai keanekaragaman makhluk hidup di muka bumi dan peranan-peranan ekologisnya, termasuk semua jenis tumbuhan, hewan dan mikroba.

Dalam webinar tersebut juga ditekan kepada generasi muda, terlebih relawan muda lingkungan seperti RK-TAJAM untuk terus menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan.

Diakhir materi, Annisa Rahmawati menyampaikan beberapa solusi terkait persoalan keanekaragaman hayati saat ini kepada 27 orang peserta yang mengikuti webinar.

Beberapa solusi yang ditawarkan diantaranya adalah; meningkatkan kesadaran untuk terus melindungi hutan, memerangi kejahatan lingkungan, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan.

Serangkaian kegiatan webinar dalam rangka memperingati hari keanekaragaman hayati sedunia berjalan sesuai dengan rencana walau sedikit terkendala dengan persoalan signal yang tidak stabil.

Penulis : Pit

Editor : Yandhi

(Yayasan Palung)

LPHD Magang, Belajar Smart Patrol dan Pengenalan Biodiversity

Peserta magang smart patrol ketika berjumpa sarang orangutan tipe C. Foto : Hendri Gunawan/Yayasan Palung

5  LPHD binaan Yayasan Palung (YP) berkesempatan melaksanakan magang untuk belajar smart patrol di Hutan Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan Ketapang, pada Senin sampai Selasa (3-4/5/ 2021) lalu.

Beberapa perwakilan LPHD binaan YP (1 orang LPHD Banjar Lestari dari Desa Padu Banjar, 1 orang LPHD Kumbang Beteduh dari Desa Pulau Kumbang, 1 orang LPHD Alam Hijau dari Desa Pemangkat, 1 orang LPHD Hutan Bersama dari Desa Nipah Kuning dan 1 orang LPHD Simpang Keramat Desa Penjalaan) bersempatan untuk belajar smart patrol kepada rekan-rekan Hutan Desa Sungai Besar yang merupakan binaan dari Yayasan IAR Indonesia.

Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut diisi dengan berbagai materi, diantaranya adalah materi tentang Smart Patrol, pengenalan biodiversitas yang ada di kawasan Hutan Desa Sungai Besar, pelatihan pengamatan burung, penggunaan GPS dan pengambilan foto dengan aplikasi Cyber tracker.

Ada beberapa cerita menarik saat mereka magang, diantaranya adalah berjumpa dengan sarang orangutan tipe C. Selain juga mereka berjumpa dengan Kucing Dampak Kucing Dampak (Kucing Tandang) Kucing Hutan Kepala Datar / Flat – Headed Cat (Prionailurus planiceps) dan bekas cakaran beruang pada pohon kayu.

Hendri Gunawan, sebagai Pendamping dari Program Hutan Desa Yayasan Palung berharap setelah perwakilan LPHD mengikuti magang ini nantinya mereka dapat melakukan kegiatan smart patrol di kawasan hutan desa masing-masing, dengan demikian hutan desa dapat terjaga.

Penulis : Petrus Kanisius

Editor : Yandhi

(Yayasan Palung)

Keberadaan Ficus Sebagai Spesies Kunci Dalam Ekosistem

Ficus sundaica. Foto : Andre Ronaldo/Yayasan Palung

Spesies kunci adalah spesies yang punya peranan penting dalam keseimbangan ekosistem. Dalam suatu ekosistem, jika spesies kunci punah maka akan mempengaruhi populasi dan karakteristik spesies lainnya. Beberapa spesies kunci diantaranya adalah satwa penyebar biji seperti Orangutan (Pongo pygmaeus) dan Enggang gading (Rhinoplax vigil). Selain itu, tumbuhan yang menjadi spesies kunci diantaranya adalah tumbuhan dari genus “Ficus”.

Ficus adalah salah satu jenis tumbuhan dari famili moraceae (nangka-nangkaan) dan merupakan marga terbesar dalam famili ini. Masyarakat lokal biasa mengenalnya dengan sebutan “kayu ara” dan ada pula yang menyebutnya “beringin”. Ficus memiliki beragam habitus (bentuk hidup) diantaranya berupa pohon, semak, epifit dan pencekik. Menurut Berg (2005) Ficus umumnya tersebar didaerah tropis, setidaknya tercatat 735 spesies di seluruh Dunia, dan di Kalimantan tercatat mencapai 141 spesies. Beberapa jenis Ficus diantaranya adalah Ficus benjamina, Ficus racemosa, Ficus variegata, Ficus dubia, Ficus uncinata, Ficus sundaica, Ficus punctata, Ficus xylophylla, Ficus deltoidea, Ficus stupenda, Ficus rosulata  dan Ficus hemsleyana.

Lihat juga :

Mengapa Ficus disebut sebagai species kunci? Karena Ficus merupakan sumber makanan bagi beberapa satwa penting seperti Orangutan (Pongo pygmaeus), Kelasi (Presbytis rubicunda), Kelampiau (Hylobates albibarbis), Enggang gading (Rhinoplax vigil) serta beberapa jenis dari mamalia dan burung lainnya. Ditambah lagi, ficus selalu berbuah sepanjang musim dan masa berbuah setiap jenisnya berbeda, sehingga mampu menyediakan sumber makanan bagi satwa secara berkelanjutan. Selain itu, menurut Whitmore (1978)  Ficus memiliki peranan penting dalam ekosistem, karena beberapa organisme hidup tergantung pada keberadaan Ficus, seperti serangga-serangga yang sifatnya spesifik. Kelangsungan hidup serangga polinator dan Ficus ini sangat bergantung satu sama lain.

Ficus merupakan tumbuhan yang memiliki kemampuan hidup dan adaptasi yang baik pada berbagai tipe habitat mulai dari hutan dataran rendah sampai dataran tinggi. Keberadaan Ficus juga disebut sebagai tumbuhan pioneer (perintis), sehingga pada hutan alami dapat digunakan sebagai indikator proses terjadinya suksesi hutan. Maka dari itu, sangat penting untuk mengenal dan mempelajari spesies kunci yang satu ini dalam upaya konservasi.

Sumber Pustaka:

Berg CC, Corner EJH, Jarret FM. 2005. Flora Malesiana Series I: Volume 17, Part 1: Genera Other Than Ficus. Netherland: National Herbarium of the Netherlands.

Whitmore TC. 1978. Tree frora of Malaya Volume Three. Malaysia: Forest Department Ministry of Primary Industries Malaysia.

Andre Ronaldo – Staf Botanis Yayasan Palung

Mengapa Kita Harus Belajar tentang Orangutan?

Foto orangutan yang sedang memanjat pohon memenangkan kompetisi Wildlife Photographer of the Year 2016. (Foto : Tim Laman)

Seperti diketahui, orangutan adalah satwa (primata) yang sangat istimewa dan dilindungi, selain juga merupakan salah satu kera besar di Asia, lebih khusus di Indonesia (di Pulau Kalimantan dan Sumatera), akan tetapi keberadaannya sangat terancam punah di habitatnya saat ini, meski begitu tidak bisa disangkal bahwa ternyata orangutan disebut spesies kunci.

Keistimewaan orangutan yang mendiami pulau-pulau di Kalimantan dan Sumatera, jika boleh dikata karena orangutan disebut spesies kunci (key stone species) atau ada pula yang menyebutnya sebagai spesies payung (umbrella species), mengapa demikian?

Ini Alasan, mengapa kita harus belajar tentang orangutan yang disebut sebagai spesies kunci itu :

Pertama, Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi atau disebut sebagai spesies kunci atau biasa juga disebut spesies payung karena hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan.

Kedua, Orangutan memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan (seed disperser). Hutan primer dunia yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia, dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati, menyelamatkan orangutan turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman, dan berbagai macam spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia.

Keberadaan orangutan di hutan memiliki peran penting bagi ragam satwa lainnya atau dengan arti kata, orangutan sebagai penopang bagi spesies lainnya. Apabila orangutan punah, maka berpengaruh pula bagi satwa lainnya

Ketiga, Data penelitian para peneliti di Stasius Penelitian Cabang Panti, Gunung Palung menyebutkan, setidaknya orangutan memakan 300 jenis tumbuhan yang ada di hutan. 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari 60% berupa buah-buahan, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap).

Tumbuhan dominan yang dikonsumsi buahnya oleh orangutan adalah dari family Sapindaceae/Sapindales (rambutan, kedondong, matoa dan langsat), Lauraceae (alpukat, dan medang), Fabaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae/Myrtales (jenis jambu-jambuan) dan Moraceae (ficus/kayu ara, cempedak dan nangka). Anacardiaceae (Mangga, kweni, sengkuang, kandaria, jambu mente).

Keempat, Orangutan merupakan mamalia terbesar yang hidup dan bergelantungan diatas pohon. Orangutan jantan ukuran berat tubuhnya 80-90 kg, sedangkan ukuran berat tubuh orangutan betina setengah dari ukuran jantan ( 60-70 kg).

Kelima, Daya jelajah orangutan bisa mencapai 100 km selama hidupnya. Dari daya jelajahnya itulah proses konservasi dilakukan oleh orangutan dengan menyebarkan/melemparkan biji-bijian dari sisa makanannya sehingga hutan bisa tetap tumbuh.

Selain itu juga, Orangutan termasuk primata/satwa yang memiliki usia lebih dari 30 tahun. Dengan kata lain, usia orangutan lebih panjang dari usia primata lainnya.

Di dunia, tercatat hanya ada empat kera besar  mendiami bumi  ini dan yang tersisa atau masih bertahan hidup. Empat kera besar yang ada di dunia tersebut terdapat di dua benua; Afrika dan Asia. Kera besar tersebut adalah Gorilla, Simpanse, Bonobo yang mendiami benua Afrika. Sedangkan kera besar lainnya adalah orangutan, yang terdapat di Asia, lebih tetapnya di Indonesia (Pulau Sumatera dan Kalimantan).

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sebarkan Virus Lingkungan, Tingkatkan Kapasitas Relawan Berkampanye Lewat Radio

Desi Kurniawati saat memberikan materi tentang Radio kepada relawan REBONK. (Foto : Simon/YP).

Banyak cara untuk menyebarkan virus lingkungan. Satu diantaranya meningkatkan kapasitas relawan untuk berkampanye lingkungan lewat radio. Itulah kegiatan yang dilaksanakan Yayasan Palung pada Sabtu (8/5/2021) pekan lalu di Bentangor, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

Kegiatan yang bertajuk buka puasa bersama sembari ngabuburit ini Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dengan mengadakan Pelatihan Kampanye Lingkungan melalui Radio, kata Simon Tampubolon, selaku staf Pendidikan Yayasan Palung di Kabupaten Kayong Utara.

Desi Kurniawati dari Yayasan Palung selaku pemateri berbagi tips, diskusi dan bagaimana cara kepada relawan REBONK terkait tentang bagaimana kampanye lingkungan melalui radio.

Para peserta yang mengikuti pelatihan terlebih dahulu diberikan materi dasar radio. Mereka juga diajak untuk bagaimana agar penyiar mengetahui alur dan tips bersiaran agar tidak gugup saat bersiaran. Selain itu juga, peserta diajak untuk menyebarkan informasi (virus) lingkungan lewat radio.

Selanjutnya, peserta pelatihan radio diajak untuk membuat skrip (panduan materi saat siaran) dan satu persatu peserta melakukan praktek siaran radio.

Beberapa diantara peserta yang mengikuti pelatihan radio awalnya tampak ragu untuk mencoba praktik siaran radio karena alasan masih belum biasa dan malu. Tetapi akhirnya mereka berani mencoba untuk praktik siaran.

Setelah pelatihan radio selesai dilakukan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Kegiatan yang diikuti oleh 25 peserta dari REBONK tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Adakan Webinar Peringati Hari Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sedunia

Desain Grafis : Sola Gratia Sihaloho (RK-TAJAM)

Hari Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sedunia atau International Day for Biological Diversity diperingati setiap tahun pada tanggal 22 Mei. Tujuan peringatan hari kehati adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran serta menumbuhkan kecintaan terhadap keanekaragaman hayati atau biodiversitas di bumi.

Keanekaragaman Hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup di muka bumi dan peranan-peranan ekologisnya, termasuk semua jenis tumbuhan, hewan dan mikroba.

Bertepatan dengan itu Relawan Konservasi – Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Yayasan Palung menghadirkan Webinar dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia dengan tema “Kita adalah bagian dari solusi untuk lingkungan yang lebih baik” pada tanggal 20 Mei 2021 dengan narasumber oleh Annisa Rahmawati dari Advokasi Indonesia Mighty Earth.

Anda bisa daftarkan diri untuk dapat bergabung sebagai peserta webinar tersebut pada link dibawah ini:

Daftar di link berikut ini : bit.ly/WebinarRKTajam1

Setelah mengisi google formulir silahkan melakukan konfirmasi pendaftaran melalui WhatsApp pada nomor +6283125486910 (Maryani). Ayo daftarkan diri anda SEGERA.

Muhammad Syainullah-Yayasan Palung

Bawalah ‘Hutan’ ke Dalam Komunitas Paling Kecil Yaitu Keluarga

Hutan. (Foto : Andre Ronaldo/Yayasan Palung).

Penyusutan hutan-hutan alam di berbagai belahan dunia, saat ini terus terjadi. Tak jauh berbeda kondisi hutan alam yang ada di Indonesia. Mengutip berita di Merdeka.com, tanggal 19 Januari 2021, terkait menurunnya luas hutan alam di Kalimantan Selatan, Dirjen KLHK menyebutkan, “Jika kita perhatikan dari tahun 1990 sampai 2019 maka penurunan luas hutan alam itu sebesar 62,8 persen. Yang paling besar itu terjadi antara 1990 sampai 2000 yaitu sebesar 55,5 persen”.

Jauh sebelumnya, seperti dikutip dari Tempo.co, tanggal 24 Juli 2003, direktur Forest Watch Indonesia menyebutkan, Indonesia mengalami laju deforestasi mencapai dua juta hektar per tahun, yang mana angka ini mengalami peningkatan dua kali lipat dibanding periode 1980-an. Sedangkan pada 2020 silam, data dari Direktorat Jendral Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan tren deforestasi di Indonesia relatif lebih rendah dan cenderung stabil, seperti dikutip pada TROPIS.co, tanggal 23 April 2020.

Hal ini salah satunya disebabkan oleh perubahan alih fungsi lahan yang membuka kawasan hutan. Kebutuhan akan lahan perkebunan dan pertambangan, atau fungsi ekonomis lainnya kadang menjadi alasan perubahan status hutan maupun area berhutan yang berada di Area Penggunaan Lain (APL). Belum lagi pembalakan liar dan pertambangan liar yang cukup marak di beberapa wilayah.

  Pembukaan hutan yang merupakan habitat satwa liar, tentu punya resiko. Antara lain semakin mudahnya akses para pemburu liar untuk mencapai lokasi berburu. Semakin menyempitnya ruang gerak hewan liar, akan semakin mempermudah mereka untuk diburu. Semakin sering manusia dan hewan liar berinteraksi maka semakin besar kemungkinan penularan penyakit antara mereka (zoonosis). Semakin terbuka kawasan hutan, maka semakin sedikit keuntungan ekologis dari hutan didapatkan. Salah satu fungsi alami hutan adalah sebagai daerah resapan air dan gudang biodiversitas.

Berbicara mengenai biodiveristas atau keanekaragaman hayati, maka kita berbicara tentang keberlangsungan hidup kita di masa depan. Marilah kita mencoba berfikir bahwa kita ada dalam rantai kesinambungan antara alam dan biodiversitasnya. Berfikirlah bahwa manusia bukan sekedar melakukan eksploitasi, tapi berkewajiban menjaga alam dan isinya tetap lestari. Berfikirlah bahwa sebenarnya alam walau tanpa kehadiran manusia pun mereka akan tetap ada, tetapi tanpa alam manusia tidak akan pernah ada.

Bila kita sudah berfikir dan memiliki kesadaran bersama akan keberlangsungan alam dan isinya di masa depan, maka kita bisa mulai melakukan gaya hidup yang ‘sustainable’ atau berkelanjutan. Mulai dari penggunaan energi yang efisien, menanam lebih banyak pohon, mengurangi konsumsi protein hewan liar (resiko zoonosis), dan yang paling sederhana adalah memanfaatkan pekarangan rumah untuk bercocok tanam sayuran atau buah. Bawalah ‘Hutan’ ke dalam komunitas paling kecil dalam masyarakat yaitu keluarga (tempat tinggal), karena bumi kita sudah banyak sekali kehilangan hutannya.

Tulisan ini juga dimuat di : https://thekalimantanpost.com/2021/05/07/bawalah-hutan-ke-dalam-komunitas-paling-kecil-yaitu-keluarga/

Penulis : Erik Sulidra (Animal and Habitat Protection-Yayasan Palung)

Manfaatkan Lahan Tidur, Kelompok Tani Meteor Garden Panen Sayur di Kebun yang Mereka Olah

Saat Kelompok Tani Meteor Garden panen sayur di kebun yang mereka olah. Beberapa sayur seperti mentimun (timun), terong, gambas (lepang) dan kacang panjang berhasil mereka panen, pekan lalu. Foto : (Tim SL/Yayasan Palung).

Pekan lalu, Kelompok Tani Meteor Garden panen sayur di kebun yang mereka olah. Beberapa sayur seperti mentimun (timun), terong, gambas (lepang) dan kacang panjang berhasil mereka panen.

Anggota Kelompok Tani Meteor Garden yang melakukan panen adalah bapak Idris dan bang Ishak. Setidaknya ada 300 kilogram (kg) timun, 20 kg terong, 38 kg gambas dan 125 kg kacang panjang yang mereka panen. Selanjutnya, hasil panen tersebut mereka jual ke masyarakat yang ada di sekitar desa Pampang Harapan dan ke pasar daerah yang ada di Kabupaten Kayong Utara (KKU).

Panen kacang panjang dan timun . (Foto : SL/ Yayasan Palung).

Dari hasil menjual terong sebanyak 20 kg, bapak Idris berhasil mendapat Rp. 120.000. Sedangkan bapak Ishak, dari hasil panen berupa 300 kg timun, 38 kg gambas dan 125 kg kacang panjang berhasil mendapatkan Rp. 2.854.000 dari hasil penjualan.

Kelompok Tani Meteor Garden bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan tidur yang ada di sekitar rumah mereka. Mereka adalah kelompok tani binaan Yayasan Palung, melalui Program Sustainable Livelihood (SL).

Manager Program Sustainable Livelihood, Ranti Naruri, mengatakan, “Melihat hasil panen sayur komunitas berlimpah di bulan April lalu membuat semangat dalam mendampingi komunitas untuk tetap bercocok tanam dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi menghadap Hari Raya Idul Fitri sebagai sumber rezeki bagi mereka yang akan mempersiapkan kebutuhan di hari raya, semoga petani organik dari Kelompok Meteor Garden tetap bersemangat bertani demi menjaga habitat satwa yang dilindungi, dimana yang kita ketahui petani ini adalah logger sebelumnya”.

Penulis : Pit & Salmah

Editor : Yandhi

Yayasan Palung

Rayakan Hari Bumi, Ajakan Kepada Semua untuk Peduli Bumi Setiap Waktu

Webinar Peringatan Hari Bumi “Restore Our Earth” (Pulihkan Bumi Kita), kegiatan dilaksanakan oleh Tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung , Senin (26/4/2021). Foto : Syainullah/YP.

Semua rangkaian kegiatan Hari Bumi 2021 telah dilaksanakan. Saat merayakan Hari Bumi tahun ini Yayasan Palung (YP) bersama lembaga mitra dan para relawan mengadakan serangkaian kegiatan dan mengajak semua kita untuk peduli dengan nasib bumi tidak hanya pada saat Hari Bumi saja tetapi setiap waktu.

Serangkaian kegiatan yang dilakukan pada Hari Bumi antara lain;

Seperti misalnya, kegiatan Siaran Radio (Dialog Interaktif di Radio RKU bertema Green Ramadhan) dilaksanakan Tim Pendidikan Lingkungan YP KKU dan REBONK pada Kamis, 22 April Pukul 10.00 WIB hingga selesai.

Pada Senin (26/4/2021) YP mengadakan Webinar Peringatan Hari Bumi “Restore Our Earth” (Pulihkan Bumi Kita), kegiatan dilaksanakan oleh Tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung.

Pada webinar tersebut, sebagai pemateri pertama adalah Annisa Dian Ndari dari Greenpeace Indonesia. Dalam kesempatan tersebut menyampaikan materi tentang “Ancaman Krisis Iklim di Pesisir dan Laut Indonesia”. Dalam kesempatan tersebut, Annisa Dian Ndari mengatakan, climate change (perubahan iklim) itu nyata adanya.

Lebih lanjut Annisa menjelaskan, saat ini di wilayah pesisir ada ancaman nyata terjadi seperti kenaikan air laut semakin tinggi yang diakibatkan oleh perubahan iklim yang sangat eksrim, gelombang pasang, dampak sosial (kemiskinan masyarakat di sekitar pantai) dan hilangnya beberapa keanekaragaman hayati (beruang dan pinguin kutub). Gaya hidup dan persoalan sampah juga dapat menyebabkan perubahan iklim.

44 peserta yang mengikuti webiner pun diajak untuk menonton film singkat yang berjudul Tenggelam dalam Diam dan Film Selamat Hari Bumi 2021.

Annisa pun sembari berharap kepada generasi muda untuk peduli pada nasib bumi  dengan aksi-aksi nyata.

Selanjutnya pada materi kedua, sebagai pemateri adalah Maria Theresia dari WWF Kalbar menyampaikan materi tentang; “Bersama Menemukan Pesan dan Sumberdaya untuk Memulihkan Bumi”.

Tere, sapaan akrabnya menjelaskan, Bumi sebagai rumah kita bersama. Bumi menyediakan bagi semua makhluk dibumi seperti oksigen, hasil hutan bukan kayu seperti madu, jasa lingkungan, ekowisata, air bersih, dll.

“Memulihkan bumi, maknanya dalam dan berat. Sering kali kita dihadapkan dengan dua pilihan; Kebutuhan (prioritas) dan keinginan (kemauan).  Kita pun sangat sering memilih keinginan dari pada prioritas. Sebagian besar bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kalau bumi bisa bicara; Apa yang kita lakukan, itu yang kita terima”, kata Tere.

Pada materi ketiga webinar materi disampaikan oleh Yudo Sudarto selaku Pembina Yayasan Palung. Yudo Sudarto mengetengahkan materi tentang “Hobi yang Melestarikan Lingkungan”.

Menurut Yudo, ekonomilah yang saat ini paling cepat merusak bumi, tidak terkecuali persoalan sampah yang ada saat ini.

Dalam penyampaian materinya Yudo Sudarto mengatakan, tugas kita memulihkan bumi. Sehari-hari Yudo Sudarto memanfaatkan sampah-sampah seperti botol minuman mineral, bungkus deterjen, kaleng cat dan lain-lainnya yang ia gunakan sebagai tempat tanaman bunga.

Kegiatan lainnya yang dilakukan saat perayaan hari bumi 2021 oleh Yayasan Palung antara lain seperti;

Di kantor Yayasan Palung Bentangor Education Center, Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara dalam rangka hari bumi Tim Pendidikan Lingkungan YP mengadakan kegiatan buka puasa bersama (Bukber) Bentangor Klub yang dilaksanakan pada Selasa (27/4/2021) kemarin.

Beberapa kegiatan yang dilakukan materi tentang hari bumi (pengenalan hari bumi, hal-hal yang merusak bumi, tindakan-tindakan kecil untuk menjaga bumi, tujuan menjaga bumi. Selain itu kegiatan lainnya seperti lomba menggambar dengan tema bumi, menonton beberapa film pendek tentang lingkungan dan kuis tentang materi dan film yang telah ditonton.

Di Ketapang, Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) bersama para komunitas lingkungan hidup dari kalangan pemuda di kabupaten Ketapang mengadakan dialog interaktif dengan mengusung tema “Menjadi Influencer Peduli Lingkungan”, Kamis (22/4/2021) kemarin.

Tak sekedar dialog Interaktif, RK-TAJAM juga mengadakan kegiatan buka puasa bersama dengan (bukber) mengundang beberapa komunitas lain yang ada di kabupaten Ketapang bertempat di kantor Yayasan Palung (YP), Sabtu (24/04/2021). Komunitas yang diundang antara lain KAMIPALA, Klorofil, PANDARA, ImpACTer, Stand Up Comedy Ketapang, PASAK, GENTA dan WBOCS.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan kata sambutan dari manager program pendidikan lingkungan YP serta ketua panitia penyelenggara acara.

Serangkaian acara yang dilaksanakan oleh RK-TAJAM yang dilaksanakan di kantor YP antara lain dialog interaktif dengan mengundang dua pemateri dari konservasi dan influencer yakni Muhammad Mukhlis Saputra dan Candra Kurniawan. Dalam kegiatan tersebut diisi dengan kultum sebagai renungan bagi anak muda terkait lingkungan di bulan puasa, kultum disampaikan oleh Muhammad Maulana.

M. Muhlis Saputra yang menyampaikan materi konservasi mengatakan konservasi merupakan sebuah tindakan atau aksi menjaga, melestarikan atau melindungi. Sedangkan Konservasionis adalah orang atau pelaku yang mempertahankan kelestarian alam atau lingkungan. Kemudian ia menambahkan bahwa pentingnya mengkampanyekan lingkungan agar deforestasi dapat dihentikan dan lahan hijau agar tetap masih ada dan ia mengajak agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan,sampah bisa dijadikan sebuah pekerjaan entah itu membuat start up dibidang lingkungan pengelolaan sampah seperti PT MallSamapah Indonesia yang berdiri sejak tahun 2015.

“Selama manusia masih ada pencemaran lingkungan akan tetap ada namun bagaimana kita menggunakan sesuatu dengan bijaksana” kata Muhlis.

Pemateri Influencer, Candra Kurniawan mengatakan bahwa menjadi Influencer terlebih dahulu, kita menjadi seorang leader atau green leaders karena leader tidak harus memiliki followers sedangkan influencer harus memiliki followers.

Lebih lanjut Candra mengatakan, “ada beberapa cara yang perlu dilakukan untuk menjadi green leader yakni, tahu dengan fashionnya, empathy, menentukan market, membuat channel, memulai, join komunitas serta konsistensi”, ujarnya.

Dengan dialog interaktif ini diharapkan para anggota komunitas dapat memberikan contoh kepada masyarakat untuk memiliki Gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan berjiwa konservasi terhadap alam dengan memanfaatkan platform sosial media.

Baca juga :

Baca juga : https://thekalimantanpost.com/2021/04/22/yayasan-palung-ajak-lestarikan-bumi

Maryani dari RK-TAJAM sebagai ketua panitia penyelenggara acara mengatakan, dengan adanya acara ini ia berharap beberapa komunitas yang tergabung agar dapat mencontohkan gaya hidup ramah lingkungan kepada masyarakat dan mengkampanyekan peduli lingkungan lewat media sosial, selain juga anak muda bisa menjadikan platform tersebut sebagai kontribusi mengkampanyekan lingkungan.

Manager Program Pendidikan Lingkungan YP, Dwi Yandhi Febriyanti, berharap acara ini dapat menyadarkan masyarakat khususnya anak muda untuk terlibat dalam peduli lingkungan alam sekitar, momentum hari bumi yang diperingati setiap 22 April tersebut menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan RK-TAJAM kemudian ia mengatakan bahwa Hari Bumi ini bukan hanya diperingati setiap tanggal itu saja, namun menjadikan Hari Bumi setiap hari dan kapan saja.

Penulis : Petrus Kanisius (Yayasan Palung) dan Iqbal Ariyanto (RK-TAJAM)

Editor : Yandhi (Yayasan Palung)

Mengapa Kita Penting untuk Merayakan Hari Bumi?

Hari Bumi 2021. (Foto Ilustrasi : Yayasan Palung/Putri & Syainullah).

Tanggal 22 April setiap tahunnya selalu dirayakan sebagai Hari Bumi oleh seluruh masyarakat dunia. Hari bumi begitu penting dirayakan sebagai pengingat bagi kita agar mampu bersikap dengan tindakan-tindakan nyata untuk nasib keberlanjutan bumi.

Usia bumi yang semakin tua dari tahun ke tahun hingga saat ini benar-benar menanti disapa oleh siapa saja (semua orang) untuk peduli padanya.

Sudah saatnya kita beraksi nyata dengan cara-cara sederhana agar bumi terus lestari hingga selamanya. Dengan bumi yang lestari akan mampu memberi nafas kepada semua. Mari kita pelihara, kita jaga dan lestarikan bumi dengan cara-cara sederhana.

Adapun tema hari bumi tahun 2021 adalah Restore our earth (Pulihkan Bumi Kita).

Sebagai lembaga Konservasi, Yayasan Palung selalu rutin untuk merayakan hari bumi. Pada hari bumi tahun 2021 ini misalnya, salah satu kegiatan yang akan dilaksanakan di Bentangor (Belajar tentang hutan dan orangutan) Education Center, Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara adalah buka puasa bersama dengan Bentangor Club dan dilanjutkan dengan putar film lingkungan. Bentangor Club merupakan anak-anak kampung yang ada di Desa Pampang Harapan.

Selain kegiatan dengan Bentangor Club, kegiatan lain yang akan dilaksanakan antara lain Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) di Kayong Utara berencana akan membuat video tentang pesan untuk bumi. Sedangkan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) di Ketapang akan mengadakan acara dialog interaktif dan buka puasa bersama kelompok pecinta alam. Tim Pendidikan Lingkungan akan mengadakan Webinar tentang perubahan iklim.

Berikut jadwal Hari Bumi 2021 yang dilakukan oleh Yayasan Palung :

  • Siaran Radio (Dialog Interaktif di Radio RKU yang bertema Green Ramadhan), kegiatan ini akan dilaksanakan oleh Tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung KKU dan Relawan Konservasi untuk Bentangor (REBONK).

Waktu Kegiatan

Hari/Tanggal : Kamis, 22 April 2021

Pukul : 10.00 WIB – selesai

  • Buka Puasa Bersama Bentangor Klub

Waktu Kegiatan

Hari/Tanggal : Selasa, 27 April 2021

Pukul : 14.00 WIB – selesai

  • Webinar Peringatan Hari Bumi “Restore Our Earth”, kegiatan oleh Tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung

Waktu dan tempat kegiatan

Hari/tanggal : 26 April 2021

Waktu : Pukul 13.30 – selesai WIB

Tempat : Zoom meeting conference

Narasumber :

  1. Annisa Dian Ndari (Greenpeace Indonesia)

  2. Maria Theresia (WWF Kalimantan Barat)

3. Yudo Sudarto (Pembina Yayasan Palung)

  • Dialog  Interaktif (Menjadi Influencer Peduli Lingkungan), kegiatan akan dilaksanakan oleh Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM)

Waktu dan tempat kegiatan

Hari/tanggal : Sabtu, 24 April 2021

Waktu : Pukul 15.00 – 18.30 WIB

Tempat : Kantor Yayasan Palung Ketapang

Narasumber : M. Mukhlis Saputra (Founder Suara Konservasi) dan Candra Kurniawan (Founder Impact Circle School).

Sejarah Singkat Hari Bumi

Mulanya, Hari Bumi pertama kali digalakkan oleh pengajar lingkungan Amerika Serikat Gaylord Nelson pada 1970. Tepatnya pada 1969, Nelson mulai tergerak setelah melihat kerusakan lingkungan akibat tumpahan minyak besar-besaran di Santa Barbara, California.

Hari Bumi 1970 menyuarakan kesadaran demi menyalurkan energi gerakan anti terhadap pencemaran dan untuk menempatkan masalah lingkungan di paling depan.

Pada 22 April 1970, 20 juta orang Amerika turun ke jalan, taman, dan auditorium untuk berdemonstrasi untuk lingkungan yang sehat dan berkelanjutan dalam demonstrasi pantai ke pantai besar-besaran. Ribuan perguruan tinggi dan universitas mengorganisir protes terhadap kerusakan lingkungan.

Selamat Hari Bumi 2021

Tulisan ini juga dimuat di : https://thekalimantanpost.com/2021/04/22/yayasan-palung-ajak-lestarikan-bumi/

Petrus Kanisius-Yayasan Palung