Mengenal Peran Hylobates albibarbis (Si Gesit) di Habitatnya

Hylobates albibarbis (Si gesit ) di habitat hidupnya berupa hutan. (Foto : Erik Sulidra).

Seperti diketahui, seluruh mahluk di dunia ini memiliki perannya masing-masing, salah satunya adalah Kelempiau (Hylobates spp) ditambah dari fakta yang telah didapat kelempiau adalah Primata arboreal tercepat (gesit) di kelas hylobatidae dan bahkan primata lainnya, sehingga peran nya sebagai penyebar biji di hutan lebih efisien jika ditinjau dari kajian daerah jelajah dan waktu tempuhnya. Primata cantik ini memiliki nama latin Hylobates spp, paling tidak ada 9 jenis dalam suku Hylobates yang tersebar di sepanjang Selat Malaka, yaitu mulai dari Malaysia, Brunei, dan Indonesia.

Di Indonesia sendiri primata ini tersebar di tiga pulau besar yaitu Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Didalam jurnal “Behavioural Ecology of Gibbons (Hylobates albibarbis) in a Degraded Peat-Swamp Forest” yang ditulis oleh Susan M. Cheyne, menyebutkan; di Kalimantan saja ada dua spesies kelempiau yaitu Hylobates muelleri yang terbentang hampir di seluruh pulau Kalimantan kecuali dibagian barat daya seperti di sepanjang Sungai Kapuas yang dominan dihuni oleh kelempiau spesies Hylobates albibarbis. Primata ini dapat dikatakan juga bersifat dimorfisme (setiap gender mudah dikenali dengan ciri-ciri fisiknya) seperti owa berjenggot putih atau kelempiau (Hylobates albibarbis) yang dapat dibedakan jenis kelaminnya dari postur tubuh, jantan cenderung lebih besar dari pada betina.

Hylobates albibarbis (si gesit) di habitat hidupnya berupa hutan. (Foto 2 : Erik Sulidra).

Kelempiau hidup berkelompok (kelompok kecil) sebagai cara menghindari predatornya di alam liar, hewan yang aktif pada siang hari ini (diurnal) tidak bisa berjalan dengan dua kaki atau bipedal karena ukuran tangannya yang cenderung lebih panjang dari pada kaki. Paling tidak keluarga kelempiau (Hylobatidae) terbagi menjadi empat genera (empat suku dalam klasifikasi kelempiau) yang tersebar dari mulai India, China, hingga Indonesia yaitu, Hylobates spp, Namascus spp, Hoolock spp, dan symphalangus syndactylus atau yang biasa kita kenal dengan siamang. Beruntung di Indonesia sendiri terdapat sekitar lima spesies Owa atau Hylobates dan satu spesies tunggal siamang (symphalangus syndactylus) yang uniknya hanya ada di pulau Sumatera.

Siamang. (Foto : alamendah.org)

Dilihat dari perannya, kelempiau juga dikenal sebagai penyebar biji di hutan, kelempiau atau di Sumatera disebut juga dengan owa ini dinilai paling efektif karena daerah jelajahnya yang jauh dan pergerakannya yang sangat cepat. Di Jawa sendiri owa memiliki spesies yang berbeda, owa jawa (Hylobates moloch) dikenal dengan kesetiaan nya terhadap pasangan atau monogami yang semakin hari populasinya semakin sedikit, hal ini dibuktikan dengan statusnya dinyatakan EN (endangered) atau terancam punah dalam daftar IUCN.

Bukan tanpa sebab, terancamnya primata ini dari kepunahan semakin terasa, dikarenakan rusaknya habitat mereka dialam liar yang disebabkan oleh Konversi lahan secara masif dan terang-terangan menjadi daerah pemukiman, perkebunan, dan lahan pertambangan yang dinilai semakin lama semakin membuat primata gesit ini semakin terancam di habitat hidupnya.

Fungsi kebijakan yang pro lingkungan dan kontrol yang baik sangat dibutuhkan saat ini, primata dalam hal ini kelempiau sangat berperan sebagai penyebar biji yang tak lain sebagai penyemai hutan. Tentu kita tidak ingin primata sebagai aset bangsa seperti kelempiau ini punah. Mengingat, kita sudah pernah kehilangan satwa yang sangat penting, seperti dulu kita kehilangan harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus).

Peran serta masyarakat untuk penduli dan ambil bagian untuk tindakan dalam isu konservasi sebagai salah satu cara menghindari kepunahan spesies yang cenderung merugikan kita sebagai negara dengan sejuta keanekaragaman hayati. Tak perlulah kiranya untuk ambil tindakan yang besar dulu diawal, cukup melakukan hal-hal kecil seperti mengikuti kampanye lingkungan secara aktif serta mendukung kebijakan yang bersifat pro lingkungan (good forest governance).

Penulis : Muhammad Syainullah-Penerima Beasiswa WBOCS 2020

Editor : Pit-YP

(Cerpen ) Ketika Aku Cerita Hutan

Hutan sebagai sumber hidup makhluk hidup (Foto dok. Tim Laman).
“Ketika aku bercerita hutan, pasti banyak yang bertanya kepadaku. Bertanya mengapa tentang hutan dan tidak yang lain?”

Jujur, aku tidak melupakan yang lain, tetapi aku suka hutan. Hutan tidak sedikit orang memujinya, karena perannya bagi semua, tetapi ada pula yang mencelanya karena akibat yang ditimbulkan.

Untuk nafas hidup, sumber hidup dan keberlanjutan hidup, itu yang orang rasakan dan katakan sesungguhnya jika bercerita tentangmu (hutan).

Sejatinya tak hanya engkau hutan, tetapi seisi hutan juga patut aku diceritakan pula. Mengapa hutan dan sesisi hutan perlu kuceritakan?

Mungkin juga bumi tempat kita berpijak ini pun demikian adanya, ingin bicara dan bercerita. Bercerita tentang apa-apa saja yang mereka rasa, tentang apa-apa saja ulah kita yang menimbulkan derita mereka karena kita pula.

Mungkin kita sangaja dan tidak sengaja melukai mereka. Mungkin kita menanti mereka tumbuh dan berkembangnya mereka, tidak sedikit dari kita yang tega dan sengaja membiarkan mereka terluka dan terlupakan.

Lihatlah, tidak sedikit diantara  mereka (hutan) menginginkan tumbuh menghijaumu yang berbanding lurus membabat mereka.Tangisku, tangismu pula karena rasaku ingin bercerita tanpa paksaan berharap ada asa dan rasa.

Tanpa paksa mendera rasa yang kualami saat ini, tidak berbanding lurus dengan apa yang semestinya dilakukan.

Ceritaku hari ini dan nanti mungkin tidak akan lagi sama. Bercerita bersama akan apa yang akan terjadi. Harmonis sudah lenyap ditelan oleh keserakahan. Keserakahan tentang keberlanjutan, apakah boleh berlanjut sampai kapan tentang apa itu nafas semua makhluk.

Suara-suara lestari tidak lagi sama. Memulai lestari berarti memberi kata tentang arti apa itu harapan. Harapan baru akan apa itu tentang perbuatan. Perbuatan kita tentang apa yang kita rasakan. Bumi menangis seisi bumi terlihat cerabut akibat ulah apa yang kita lakukan kepadanya. Lihatlah banjir, lihatlah longsor dan tanah kering kerontang pun bersatu  seolah tidak henti-henti menyapa kita.

Hutan, tanah dan air seperti cerita yang selalu berpadu. Berpadu memacu akan terjadi hari ini. Hari ini berarti cerita yang sedang berlangsung dan menyuguhkan apa yang dirasakan. Kata rasa begitu terasa menjelma. Menuduh, tertuduh hingga gaduh menerawang tawa atau apa yang orang katakan tentang bencana yang  berdampingan dengan kita. Lihatlah tanah gersang, hutan rimba yang tidak lagi rimbun. Semua kata tentang semesta, seolah berubah kata menjadi asas pemanfaatan hasil bumi tanpa banyak yang ingat lagi akan apa yang seharusnya berlanjut.

Sumpah serapah terkadang tidak jarang terdengar yang mencela tentang ini dan itu; tentang alam,  tentang rimba raya (hutan belantara).

Apabila aku bertanya, salahkah aku sebagai hutan yang tanpa dosa yang sengaja engkau ambil atau rampas. Atau setelah aku tidak banyak lagi tersedia, bahkan semakin sulit engkau (hutan) berdiri kokoh justru banyak yang menyalahkanmu. Tidak sedikit yang berkata; semua karena salah alam (hutan). Sesungguhnya salah engkau hutan alam rayaku ?

Ceritaku akan hari ini dan nanti sepertinya membuat kita tidak lagi sama. Tidak lagi sama karena kita memang terlihat membuat jarak, bukan pengikat agar selalu harmoni sampai nanti. Aku hanya tahu sampai nanti, jika hal-hal seperti ini akan terus terjadi tidak membuat bumi ini bisa damai dan terus berlanjut.

Berlanjut berarti harus ada cara, cara agar kita boleh mencari cara agar bagaimana kita bijaksana (menghadirkan kebijaksanaan). Memperbaiki, menata  yang sudah tidak  lagi sama. Aku, kamu dan saya ubahlah kiranya agar boleh kiranya berubah menjadi kita semua atau kita bersama untuk semua pula agar boleh berlanjut sesuai keinginan semua secara bersama pula. Ketika ku bercerita hutan, kuingin hutan boleh berlanjut, lestari sampai nanti.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5f7d2afcd541df0b2d554e12/cerpen-ketika-aku-cerita-tentang-hutan

 Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Potret Banjir yang Terjadi di Kecamatan Simpang Dua

Potret Banjir yang terjadi (22/9) kemarin di Simpang Dua. Foto dok : Lorensius/Dari berbagai sumber

Ini adalah beberapa foto banjir yang terjadi (22/9) kemarin di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Sampai pagi (23/9) tadi, banjir sudah berangsur surut, namun masih menggenangi rumah warga.

Sedikit banyak aktivitas masyarakat terhenti karena banjir. Kemarin (22/9), ketinggian banjir mencapai pinggang hingga dada orang dewasa.

Menurut informasi, banjir yang terjadi di Simpang Dua kali ini adalah yang terbesar dan yang terparah dalam sejarah Simpang Dua. Diperkirakan, banjir yang terjadi adalah akibat curah hujan yang tinggi beberapa hari ini.

Selain di Kecamatan Simpang Dua, Kecamatan Simpang Hulu dan Sungai Laur juga terjadi banjir.

Berharap banjir segera berlalu dan masyarakat bisa beraktivitas kembali.

Sumber foto dan video : Dari Berbagai Sumber

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Perwakilan LPHD dan Staf YP Mengikuti Sekolah Lapang Petani Gambut yang Diselenggarakan oleh BRG

Saat Peserta mengikuti sekolah lapang petani gambut yang diselenggarakan oleh BRG. Foto dok : Yayasan Palung.

Pada tanggal 15-18 September 2020 kemarin, Badan Restorasi Gambut (BRG)  mengadakan kegiatan sekolah lapang petani gambut, pelatihan lahan tanpa bakar dan pembuatan pupuk organik yang dilaksanakan di Desa Pulau Kumbang.

Pada kesempatan tersebut, 5 orang peserta dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) binaan Yayasan Palung (YP) seperti dari : Desa Penjalaan, Padu Banjar,Pemangkat, Pulau Kumbang dan Nipah Kumbang mengikuti kegiatan tersebut. Selain itu juga ikut serta 2 orang staf dari Yayasan Palung dalam kegiatan tersebut.

Sedangkan BRG dalam kegiatan tersebut menyertakan perwakilan dari 12 desa dampingannya yang ada di wilayah Kalimantan Barat.

Dalam kegiatan  sekolah lapangan, pelatihan lahan tanpa bakar dan pembuatan pupuk organik tersebut, para peserta diajak untuk belajar tentang bagaimana cara mengelola lahan tanpa bakar di lahan gambut dan bagaimana cara membuat pupuk organik.

Saat peserta sekolah lapang petani gambut belajar membuat pupuk organik yang dilaksanakan oleh BRG . Foto dok : Yayasan Palung

Terima kasih kepada Badan Restorasi Gambut (BRG) yang telah bersedia menerima peserta dari Yayasan Palung  dalam pelatihan tersebut. Mengingat, momen ini penting dan sangat bermanfaat maka Yayasan Palung mengutus 5 orang perwakilan dari LPHD dan 2 orang staf dari Yayasan Palung, kata Desi Kurniawati, selaku Koordinator Hutan Desa untuk Yayasan Palung.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Jenis Pohon dan Kandungan Karbon di Pusat Pendidikan Lingkungan Bentangor Yayasan Palung

Staf Yayasan Palung (Riduwan dan Andre Ronaldo) Sedang Melalukan Survey dan Penelitian Identifikasi Pohon. Foto dok : Yayasan Palung

Sejak tahun 2010 Yayasan Palung mempunyai satu lahan sebagai lokasi Pendidikan Lingkungan yang diberi nama BENTANGOR (Belajar Tentang Hutan dan Orangutan) yang berpusat di Desa Pampang Harapan Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara.

Dengan lahan seluas 0,6 Hektar tersebut terdapat 2 buah bangunan sederhana serta dikeliling berbagai jens pohon yang masih terbilang cukup padat. Dengan adanya berbagai jenis tanaman buah-buahan dan tanaman hutan tersebut menjadikan lokasi tersebut sangat tepat untuk dijadikan pusat pendidikan lingkungan bagi pelajar dan masyarakat umum.

Selain itu juga, dilokasi Bentangor juga terdapat sedikit lahan pertanian organik, beberapa kolam budidaya ikan, rumah kompos, Rumah Bibit Tanaman yang dikelola oleh Yayasan Palung bersama Kelompok Meteor Gadren dan Relawan Rebonk. Serta disediakan juga jalur Fieldtrip bagi pelajar ketika berada di lokasi Bentangor.

Dikarenakan lokasi Bentangor masih banyak terdapat berbagai jenis pohon membuat udara disekitarnya terasa sangat sejuk dan segar terutama di waktu pagi hari. Para pengunjung yang berada di lokasi Bentangor akan membuat betah akan kesegaran udaranya dan telinga selalu dimanjakan senandung merdu kicauan berbagai jenis burung. Bahkan ketika musim buah, para pengunjung dan orang yang tinggal di Bentangor selalu asyik memandang berbagai jenis satwa yang selalu bercengkraman sambil menyantap lezatnya berbagai jenis buah tanaman yang ada di Bentangor.

Dikarenakan Bentangor dijadikan salah satu pusat Pendidikan lingkungan, maka pada bulan Agustus 2020 Yayasan Palung melakukan survei dan penelitian kandungan Karbon dan melakukan Identifikasi Jenis pohon yang ada disekitar Bentangor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi yaitu menjelajahi setiap sudut lokasi Bentangor dimana ditemukannya jenis tumbuhan (Rugayah, 2004) dengan mengeksplorasi semua jenis pohon yang berukuran diameter 10 cm ke atas dengan sensus 100 %. Survei dan Penelitian tersebut dilakukan staf Yayasan Palung yaitu Andre Ronaldo dan Riduwan.

Menurut Andre Ronaldo yang sehari-harinya disapa Andre, bahwa Total individu pohon yang didapat pada kawasan Hutan Bentangor adalah 201 individu pohon, yang tergolong kedalam 60 species pohon dan tergolong kedalam 29 famili, jenis-jenis tersebut merupakan jenis pohon hias, pohon buah, pohon pakan satwa dan pohon yang dapat dimanfaatkan kayu dan bagian lainnya. Famili dengan jumlah individu pohon terbanyak adalah famili Moraceae (keluarga nangka-nangka) dengan 37 individu yang tergolong kedalam 9 species.

Rumah Bibit di Lokasi Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung Bentangor Pampang Center. Foto : Yayasan Palung

Pohon dihutan mampu menyerap karbondioksida (CO2) untuk proses fotosintesis dan menyimpannya dalam bentuk karbohidrat pada kantong karbon diakar, batang dan daun sebelum dilepas kembali keatmosfer. Hal ini menumbulkan keterkaitan antara biomassa hutan dengan kandungan karbon. Hutan memiliki setidaknya empat kolam karbon yaitu biomassa atas permukaan, biomassa bawah permukaan, bahan organic mati dan kandungan karbon organic tanah. Pada penelitian ini berfokus pada biomassa atas permukaan yaitu pada batang pohon yang memiliki diameter 10 cm keatas, dari hasil data yang didapatkan selama dilapangan saat ini jumlah pohon yang ditemukan sekitar 201 pohon dengan diameter pohon yang bervariasi.

Menurut Riduwan, Bahwa hasil survei dan Penelitiannya di lokasi Bentangor tersebut, dimana perhitungan karbon didapat hasil sebesar 63.075,78 Kg atau sekitar 63,07 ton Karbon. Artinya kandungan karbon yang tersimpan saat ini pada kawasan hutan bentangor untuk karbon diatas permukaan dengan diameter pohon 10 cm keatas sekitar 63.07 Ton. Penelitian ini baik indentifikasi jenis pohon dan Kandungan Karbon ini dilakukan sebagai data base Yayasan Palung dalam memberikan edukasi kepada pelajar dan masyarakat akan pentingnya melestarikan hutan serta ekosistem di dalamnya, Ujar Riduwan.

Andre Ronaldo menambahkan, bahwa hutan Bentangor dengan luas sekitar 0,6 Ha yang memiliki beberapa jenis tumbuhan yang terdiri dari pohon buah dan pohon hutan. Namun perlu adanya kegiatan penanaman agar dapat memperkaya keanekaragaman jenis tumbuhan di Bentangor karena untuk jumlah keanekaragaman jenis tumbuhan di Bentangor masih bisa dibilang sedikit. Lagi pula masih ada beberapa lahan yang masih terbuka yang bisa dilakukannya kegiatan penanaman.

Edi Rahman – Direktur Lapangan Yayasan Palung

Relawan Konservasi REBONK Membuat Film yang Berjudul “Si Otan dan Putri”

Capture Film Si Otan dan Putri . Foto dok : Yayasan Palung

Relawan Konservasi REBONK Yayasan Palung telah membuat film edukasi lingkungan hidup yang berjudul “Si Otan dan Putri”. Film berdurasi 32 menit dan 32 detik ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Orangutan Sedunia atau biasa dikenal dengan nama World Orangutan Day (WOD) tahun  2020, yang diperingati setiap 19 Agustus.

Film ini, inspirasinya didapat dari sebuah buku komik yang berjudul “Dori dan Delima” karya Yayasan Palung pada tahun 2006 silam. Namun dalam film tidak sepenuhnya mengambil dari buku komik tersebut, ada beberapa alur atau adegan yang sedikit dirubah, namun tidak begitu melenceng dari buku komik yang dibuat Yayasan Palung. Tujuan dibuatnya film ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan orangutan dan habitatnya serta mengingatkan tentang adanya sanksi hukuman penjara dan denda berupa uang bagi siapapun yang melanggar UU No. 5 1990 tantang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Pasal 40 ayat 2. Tujuan lainnya adalah meningkatkan kreativitas anggota REBONK (Relawan Bentangor Untuk Konservasi) dengan kegiatan yang positif di masa pandemi Covid-19 ini.

Pengambilan gambar film dilakukan pada 8-18 Agustus 2020, sebagian besar di Pondok Kebun Bapak Asbandi, merupakan salah satu staf Yayasan Palung, yang lokasinya tepat dibelakang Bentangor, lokasi shooting lainnya adalah Aula Bentangor dan Kawasan Hutan Bentangor.  

Selama proses shooting yaitu sekitar 10 hari, anggota REBONK sangat bersemangat dan antusias, mereka datang sesuai jadwal yang ditentukan, dan melakukan adegan sesuai dengan arahan dari Pembina yaitu Yayasan Palung. Pembuatan film ini melibatkan 20 anggota REBONK, mereka berperan sebagai pemain (Pemeran utama, pameran tim BKSDA, Kepolisian, dan masyarakat) dan Kru film seperti Cameraman.

Film ini dibuat dengan peralatan shooting yang bisa dibilang masih sederhana hanya menggunakan kamera DSLR tanpa tripod sehingga kadang saat gambar tidak stabil dan para pemain tidak menggunakan mikropon sehingga pada pengambilan gambar dengan jarak yang jauh suara tidak terdengar secara maksimal.

Berikut ini Sinopsis Film Si Otan dan Putri :

Film ini diangkat dari sebuah komik yg berjudul Dori dan Delima karya Yayasan Palung pada tahun 2006 silam. Walaupun pada adegan film tersebut tidak sepenuhnya mengambil dari cerita dori dan delima namun cerita dori dan delima merupakan awal kisah film ini dibuat.

Pada suatu desa hiduplah keluarga kecil yang sangat bahagia. Keluarga tersebut memiliki seorang anak yang bernama putri, pada film tersebut anak ini sedang duduk dibangku SMP.

Mi’an ayah dari putri hari-harinya bekerja sebagai petani dan siti sebgai ibu putri sebgai ibu rumah tangga.

Putri memiliki hewan peliharaan yang bernama otan. Otan merupakan anak orangutan yang didapat dari hasil berburu ayah putri. Putri sangat sayang dengan otan. Setiap hari diberimakan dan bahkan diajak bermain oleh putri.

Namun suatu hari ketika putri pulang sekolah siotan mati. Putri menangis tak henti-hentinya. Akhirnya ibu si putri berusaha untuk mendiamkannya.

Keesokan harinya mi’an ayah siputri berburu kehutan untuk mencari orangutan lagi agar si putri tidak menangis, pada waktu itu ditemani oleh si ujang.

Nah, untuk melihat keseruan pada film tersebut, mari kita saksikan di chanel youtube Yayasan Palung, GP Orangutans.

Yuk tonton filmnya :

Penulis : Riduwan-Yayasan Palung

Ketika Orkestra Menyapaku di Tengah Hutan

Saat Melakukan Pengamatan Phenologi bersama Tim OH, sebagai salah satu kegiatan magang di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok : Siti Nurbaiti

“Alam mendekapku dengan kehangatannya. Menyapaku dengan orkestranya, nyaman kurasa. Hingga aku tak ingin beranjak”

Irama khas hutan yang berasal dari kolaborasi berbagai jenis bangsa burung, serangga dan makhluk hidup lainnya masih terdengar sama, tak ubah itu adalah orkestra di tengah hutan dan itu selalu memberi kedamaian.

Ranting-ranting pohon menyapa dengan ramah kala aku melewatinya. Air sungai mengarus ke hilir tak lupa tersenyum kepadaku. Ikan-ikan yang hilir mudik berenang juga tak ingin dianggap sombong. Mereka beramai-ramai membentuk barisan untuk menyambut kehadiranku.

Menyeberangi Sungai Putih saat mengiikuti Tim OH mengikuti orangutan di Stasiun Riset Cabang Panti. Foto dok : Siti Nurbaiti

Setiap langkah yang kulalui sembari melewati jalan setapak ditengah hutan tak pernah kurasakan sepi. Hutan yang di dalam pikiran banyak orang adalah suatu tempat yang penuh dengan cerita menakutkan, buas dan horor benar-benar ku ingkari hipotesis mereka. Disini, aku menumpang hidup, kurang lebih satu bulan tak sekalipun aku merasa sepi.

Pecayalah kawan, Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) Taman Nasional Gunung Palung telah menyihirku dengan segala pesonanya. Aku bukanlah gadis kota yang asing dengan suasana hutan. Aku adalah gadis desa yang sudah biasa keluar masuk hutan, meskipun sudah tergolong hutan tersier. Disini, aku merasakan hal yang berbeda. Hutan disini terasa sangat unik, mempesona dan selalu membuatku kagum dengan segala yang ada di dalamnya.

Tak bosan aku terkagum-kagum ketika aku ikut bersama Tim OH untuk mengikuti orangutan. Pohon-pohon besarnya, serangganya, burung-burungnya, hewan, mamalianya, serta semua makhluk hidup disini serasa begitu ramah. Meski sulit melihat mereka yang bersembunyi dibalik kanopi, namun aku tahu mereka tersenyum ramah kearahku. Mereka selalu menyambut kehadiranku dengan meriah. Mereka adalah bangsa pribumi yang baik hati.

Kegiatan magangku yang hanya satu bulan disini sebelumnya telah kubayangkan akan terasa membosankan. Bukan berburuk sangka kawan, hanya saja membayangkan diri akan berada di tengah hutan yang jauh dari hiruk pikuk dunia, serasa akan sangat membosankan. Namun, sejak hari pertama aku berada disini segala apa yang ku pikirkan sebelumnya hanyalah hipotesis yang tak bisa dibuktikan. Nyatanya, selama aku disini, aku menikmati setiap detak waktu yang berjalan. Apa yang ada disini adalah surga dunia, dan aku tenggelam di dalamnya.

Dimasa depan, aku ingin kembali ke tempat ini lagi. Mengirup aroma hutannya lagi, menyapa pohon-pohonnya dan juga hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Aku berharap kekayaan alam yang ada disini tetap terjaga hingga anak cucu kita nanti. Mereka harus bisa menikmati orkestra di tengah hutan yang dipersembahkan oleh bangsa-bangsa penghuni hutan ini dan menemukan kedamaian persis seperti yang aku rasakan. Tentu saja bangsa-bangsa penghuni hutan yang aku sebutkan ini adalah mereka para makhluk hidup yang terdiri dari mikroorganisme, tumbuhan dan hewan-hewan. Bukan bangsa-bangsa dari makhluk asral seperti yang terlintas dibenak kalian.

Sekian kilas cerita hari ini. Perjalanan ini akan segera berakhir. Aku akan pergi dari tempat ini. Namun semua yang terjadi kuabadikan dalam catatan perjalanan ini. Semoga sedikit memberikan pembelajaran bahwa hutan adalah tempat yang harus dijaga kelestariannya. Segala apa yang ada di dalamnya adalah harta berharga yang tak ternilai harganya. Mari jaga hutan, jaga keanekaragamannya, jauhkan ia dari kelangkaan. Kelangkaan berarti kita akan kehilangan mereka dan kita tidak akan bisa melihatnya lagi. Dan aku tidak menginginkan itu. Aku harap kalian juga….

Siti Nurbaiti (Penerima WBOCS tahun 2017)

Berikut Ini 6 Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat tahun 2020


Ini adalah 6 orang penerima beasiswa WBOCS tahun 2020: Vera Frestia dari SMAN Sandai, Sisilia dari SMAN 1 Sungai Laur, Winda Lasari dari SMAN 1 Sungai Laur, Rizal SMK Al-Aqwam Sukadana, Muhammad Syainullah dari MAS Hidayaturrahman Ketapang dan Sonia Utami dari MAS Babussaadah. Foto dok : Simon/Yayasan Palung

Kamis, 3 September 2020 di kantor Yayasan Palung Ketapang diadakan Award Day WBOCS 2020 bagi 6 penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship / WBOCS).

6 Orang penerima WBOCS 2020 berfoto bersama dengan staf Yayasan Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Adapun 6 penerima beasiswa WBOCS tersebut adalah Vera Frestia dari SMAN Sandai, Sisilia dari SMAN 1 Sungai Laur, Winda Lasari dari SMAN 1 Sungai Laur, Rizal SMK Al-Aqwam Sukadana, Muhammad Syainullah dari MAS Hidayaturrahman Ketapang dan Sonia Utami dari MAS Babussaadah.

Vera Frestia mengambil jurusan Hubungan Internasional FISIP UNTAN, Sisilia dan Sonia Utami mengambil jurusan Sosiologi FISIP UNTAN, Winda Lasari, Rizal dan Muhammad Syainullah mengambil Jurusan Kehutanan FAHUTAN UNTAN. Program beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) pada tahun 2020 ini telah memasuki tahun ke Sembilan.

Video Penerima WBOCS dari tahun ke tahun. dok : Yayasan Palung

Edi Rahman selaku Direktur Lapangan Yayasan Palung berpesan kepada para penerima beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship / WBOCS) tahun 2020 ; “Generasi saat ini harus peduli dengan nasib satwa dilindungi seperti orangutan. Kita jangan kalah dengan dunia/orang luar negeri. Mereka (orang luar negeri ) sangat peduli dengan orangutan, kita dari dalam negeri pun seharusnya dituntut untuk peduli dengan orangutan dan habitatnya. Selanjutnya bagi penerima beasiswa orangutan Kalimantan tahun 2020 untuk ikut ambil bagian bersama Yayasan Palung dalam upaya mendukung konservasi, terlebih bagi penerima beasiswa yang berada di sekitar hutan desa binaan Yayasan Palung untuk bisa ambil bagian dan mendukung konservasi yang ada di wilayah Indonesia, lebih khusus di wilayah Kalimantan Barat dan di Tanah Kayong (sebutan untuk wilayah kabupaten Ketapang dan Kayong Utara)”.

Menurut Mariamah Achmad selaku Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung “program WBOCS merupakan program andalan kami, karena dengan program ini kita dapat berharap ada regenerasi pegiat konservasi yang mempunyai kemampuan akademis sekaligus memiliki komitmen yang kuat terhadap pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat. Kemudian  melalui program ini, Yayasan Palung berperan meningkatkan pendidikan masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan Indonesia”.

Yayasan Palung merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan yang sama untuk perlindungan orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship). Hingga tahun 2020 sudah terdapat 43 Penerima BOCS yang diantaranya 9 orang sudah menjadi sarjana.

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2020/09/13/berikut-nama-nama-penerima-beasiswa-peduli-orangutan-kalimantan-barat-tahun-2020

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berikut Nama Pemenang Challenge KAMPANYE MEDIA dalam Rangka Hari Orangutan Internasional 2020

Berikut Nama Pemenang Challenge KAMPANYE MEDIA dalam Rangka Hari Orangutan Internasional 2020. Pemenang diumumkan pada tanggal 31 Agustus 2020.

Tema: “Orangutan Sahabat Alam, Lindungi Hak Mereka” .

Berfoto dengan bibit pohon / sedang menanam pohon di kebun, halaman sekolah atau rumah, mengupload foto di akun instagram pribadi dengan menyertakan caption sesuai dengan tema kegiatan, menyertakan hastag: #InternationalOrangutanDay #YayasanPalung #OrangutanBorneo #LoveOrangutan #SaveOrangutan dan maksimal 2 hastag yang dibuat sendiri.

Mengupload foto menanam pohon dengan caption menarik, dua orang pemenang adalah :

1. Maria Yovinda (@mariayovinda_ )

2. Keane Owen ( @keane.owen.2002 )

Selamat kepada para pemenang, semoga selalu menjadi agen untuk perubahan terutama dibidang konservasi.

Narasi : Pit-YP

Yayasan Palung Adakan Studi Banding dan Pelatihan Pemijahan Ikan

Berfoto bersama saat Yayasan Palung melalui Program Sustainable Livelihood (SL) mengadakan pelatihan  Studi Banding dan Pelatihan Pemijahan Ikan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 24-26 Agustus 2020 kemarin di Dusun Segua, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara. Foto : Yayasan Palung.

Beberapa waktu lalu, Yayasan Palung melalui Program Sustainable Livelihood (SL) mengadakan pelatihan  Studi Banding dan Pelatihan Pemijahan Ikan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 24-26 Agustus 2020 kemarin di Dusun Segua, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara.

kali ini, dalam kegiatan studi Banding dan pelatihan pemijahan ikan, Yayasan Palung bekerjasama dengan P2MKP (Pusat dan Pelatihan Kementerian Kelautan dan Perikanan) Kabupaten Ketapang telah melaksanakan kegiatan studi banding dan pelatihan pemijahan ikan selama 3 hari.

Saat peserta pelatihan dilatih untuk melakukan pemijahan ikan. Foto dok : Yayasan Palung

Adapun sebagai narasumber pada pelatihan tersebut adalah Muhammad Abduh atau sehari-hari dikenal dengan nama Kang Acil. Sedangkan peserta yang hadir dalam  pelatihan dihadiri oleh 7 orang peserta dari  kelompok ikan Mina Segua dari Dusun Segua, Desa Pampang Harapan.

Selama kegiatan berlangsung kelompok mendapatkan pembekalan tentang pemijahan, proses pembesaran, serta pemasaran. P2MKP juga telah menguji kolam ikan kelompok dengan mengambil sampel lumpur dan air, PH (derajat keasaman) mendapatkan nilai 8.1.

Ranti Naruri, selaku Manager dari Program Sustainable Livelihood (SL) mengatakan “Ini menjadi peluang bagi kelompok untuk dapat membudidayakan dari segala jenis ikan yang ada di dusun Segua, apalagi di daerah tersebut tersedia sumber pakan alami yang mudah didapat dari jerami padi dan kotoran ternak”.

Lebih lanjut Ranti mengatakan, melihat anomali masyarakat yang tinggi terhadap budidaya ikan, maka pada hari ke-3 anggota kelompok Mina Segua melakukan pemijahan ikan mas bersama instruktur dari P2MKP dengan berat 1 ekor Ikan betina 8.6 kg dan 4 ekor jantan diperkirakan bisa menghasilkan larva sekitar kurang lebih 100.000 dan akan menjadi bibit kurang lebih 80.000 ekor ikan. Saat ini kami sedang menunggu hasil dari pemijahan tersebut, ujar Ranti lagi.

Semua rangkaian kegiatan studi banding dan pelatihan pemijahan ikan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung