Kukang Liar di Pemukiman Warga Diselamatkan dan Dilepasliarkan ke Habitatnya

Kukang Kalimantan (Nycticebus menagensis) yang ditemukan di pemukiman warga di dusun Menlinsum, desa Sejahtera, Kabupaten Kayong Utara, Selasa (6/4/2021). Foto : Yayasan Palung

Menurut keterangan Abdul Samad, kukang liar tersebut ditemukan sedang berada di pohon mangga di dekat pemukiman warga milik Bapak Moli di dusun Menlinsum, desa Sejahtera, Kabupaten Kayong Utara, Selasa (6/4/2021).

Cerita ditemukannya kukang ini bermula ketika Abdul Samad dan Asbandi dari Yayasan Palung melakukan koordinasi kegiatan ke Desa Sejahtera tiba-tiba mereka dipanggil seorang warga di dusun Melinsum untuk mengabarkan keberadaan Kukang liar yang berada di pohon mangga di dekat halaman rumahnya.

Lebih lanjut kukang tersebut ditemukan pak Moli di pohon mangganya waktu pagi hari, kata Samad.

Yayasan Palung menghubungi pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah 1 Ketapang untuk melaporkan terkait keberadaan kukang tersebut.

Selanjutnya, kukang liar yang ditemukan di pohon mangga milik pak Moli tersebut  dilepasliarkan  ke hutan Tanjung Keranji di Desa Pampang Harapan oleh Simon Tampubolon dari Yayasan Palung bersama dengan Agun Prayoga dari Relawan Bentangor Untuk Konservasi (REBONK).  

Animal and Habitat Protection Yayasan Palung (YP), Erik Sulidra mengatakan, “Dengan adanya kukang liar di pemukiman warga, yang menjadi pertanyaan adalah apakah ada yang salah dengan habitatnya? Mengapa masuk ke pemukiman warga? dan apakah habitat aslinya sudah rusak? ”

Kukang ini diperkirakan adalah jenis Kukang Kalimantan (Nycticebus menagensis) salah satu spesies primata dari genus Nycticebus yang penyebarannya di Indonesia meliputi pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Di Indonesia sendiri ada 3 jenis kukang. Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) dan Kukang Kalimantan (Nycticebus menagensis).

Kukang tergolong satwa pemakan segala (omnivora), seperti halnya dengan primata lainnya pakan utama adalah buah-buahan dan dedaunan.

Dalam status konservasi, Kukang Kalimantan dalam kategori Rentan (Vulnerable/VU) dalam daftar Redlist IUCN. Sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) memasukan kukang ke dalam apendix II.

Sebelumnya tulisan ini dimuat di : https://ruai.tv/ketapang/kukang-liar-muncul-di-pemukiman-warga-kayong-utara/

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Rayakan Lebih dari 1 Dekade, Ini yang Dilakukan RK-TAJAM untuk Konservasi

Rayakan ulang tahun ke-11 (lebih dari 1 dekade) RK-TAJAM lakukan berbagai kegiatan konservasi di Tanah Betuah (Ketapang). Foto : Yayasan Palung

Lebih dari 1 dekade (11 tahun) bukan waktu yang singkat bagi Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) untuk selalu berkontribusi bersama Yayasan Palung (YP) dalam menyampaikan gaung konservasi di Tanah Betuah.

Seperti misalnya, Minggu (21/3/2021) kemarin, puluhan relawan melakukan berbagai kegiatan lingkungan di Pantai Air Mata Permai sembari merayakan ulang tahun dan sekaligus juga memperingati hari Hutan Sedunia.

Dalam kata sambutannya, Mariamah Ahmad mengatakan, Selamat ulang tahun RK-TAJAM yang ke 11, semoga selalu menjadi tempat bagi generasi muda Ketapang berkontribusi dengan cinta terhadap  perlindungan alam dan kemanusiaan.

Foto Galeri serangkaian kegiatan ulang tahun RK-TAJAM yang ke 11 tahun :

Ranti Naruri mengatakan, RK-TAJAM itu relawan YP dimana mereka tidak dibayar tetapi memiliki jiwa sosial dan konservasionis yang tidak dimiliki oleh semua anak-anak muda sekarang. Jiwa mereka yang tinggi mendedikasikan sebagai penyambung lidah atau jembatan YP untuk menjadi pelopor melakukan aksi aksi positif bagi kaum milenial dalam dunia konservasi dan lingkungan.

“Dengan anniversary 11th ini mereka bisa lebih menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas dan mengajak masyarakat terutama di tingkat sekolah untuk mengkampanyekan perlindungan orangutan dan habitatnya”, tururnya lagi.

Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh RK-TAJAM yang dilaksanakan di Pantai Air Mata Permai antara lain seperti melakukan operasi semut (mengadakan bakti sosial membersihkan sampah) dan memasang plang informasi berapa lama sampah teruai.

Beberapa RK-TAJAM bersama Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) yang berkesempatan hadir  dalam undangan kegiatan tersebut, berkesempatan melakukan baksos membersihkan sampah di sekitaran pantai Air Mata Permai. Beberapa plang himbauan agar para pengunjung pantai peduli dengan persoalan sampah pun dipasang. Selain itu juga dipasang plang berapa lama sampah baru terurai.

Manager Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Dwi Yandhi Febriyanti, mengatakan, dengan umur yang sudah lebih dari 1 dekade semoga kedepannnya RK-TAJAM menjadi pelopor anak muda Kabupaten Ketapang untuk melestarikan alam dan lingkungan. Semoga kegiatan-kegiatannya selalu memiliki energi positif dan membawa pesan-pesan konservasi.

Haning Pertiwi (Pembina RK-TAJAM tahun 2018-Sekarang), harapan untuk RK-TAJAM ke depan, semoga semakin aktif di dunia konservasi.

Lebih lanjut Haning menambahkan, Semoga RK-TAJAM bisa menjadi contoh bagi banyak orang untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Direktur Lapangan Yayasan Palung, Edi Rahman, mengatakan, RK-TAJAM sebagai corong bagi YP dalam menyampaikan informasi-informasi lingkungan dan pemuda-pemudi yang peduli lingkungan.

“RK-TAJAM saat ini harus peduli dengan nasib hutan dan satwa dilindungi seperti orangutan, minimal mereka memberikan informasi tentang pentingnya menjaga orangutan dan habitatnya (hutan) kepada orang tua mereka atau orang di sekitar mereka”, kata Edi.

RK-TAJAM merupakan relawan muda binaan Yayasan Palung yang ada di Kabupaten Ketapang. Pada mulanya RK-TAJAM dibentuk oleh 39 Generasi Muda Ketapang, pada Maret 2010 di Tanah Betuah (sebutan untuk kabupaten Ketapang).

Dulu Relawan muda Yayasan Palung namanya adalah Environment Edu-Care Club (EEC) dan sekarang adalah RK-TAJAM yang ada di Kabupaten Ketapang. Sedangkan di Kayong Utara adalah Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK). Saat ini sebagai Pembina dari RK-TAJAM adalah Haning Pertiwi. Sedangkan sebagai Pembina REBONK adalah Riduwan.

Sebelumnya tulisan ini di muat di :

https://ruai.tv/ketapang/10-tahun-lebih-kontribusi-relawan-muda-ketapang-untuk-konservasi

Penulis : Petrus Kanisius

Editor : Dwi Yandhi Febriyanti

Yayasan Palung

Berikut ini 12 Orang yang Lolos Seleksi Tahap I Beasiswa WBOCS tahun 2021

Nama 12 Orang yang Lolos Seleksi Tahap I Beasiswa WBOCS tahun 2021. (Foto : Simon Tampunolon/Yayasan Palung).

12 Orang yang Lolos Seleksi Tahap I Beasiswa WBOCS tahun 2021 adalah urutan 1-12 :

  1. Agun Prayoga dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir
  2. Egi Iskandar dari  SMA Negeri 2 Sukadana
  3. Agus Riyanto dari SMA Negeri 2 Sukadana
  4. Yeli Kurniasari dari SMA Negeri 1 Sandai
  5. Keti Agusti dari SMA Negeri 1 Sandai
  6. Rita Kurniati dari SMA Negeri 3 Ketapang
  7. Riko Wibowo dari SMA Negeri 1 Seponti
  8. Khusnul Khatimah dari SMA Negeri 1 Sungai Laur
  9. Imasuana dari SMA Negeri 2 Pulau Maya
  10. Dea Fitry Nataliya dari MAS AL-ARSYAD
  11. Suhaida dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir
  12. Agim Nastiar SMK Negeri 1 Ketapang

Mereka berhak untuk mengikuti seleksi tahap II pada :

Hari/Tanggal : Sabtu 10 April 2021

Pukul     : 08.00 -17. 00 WIB

Tempat : Kantor Yayasan Palung Ketapang

Dewan juri tahap II berasal dari Universitas Tanjungpura, STAI Al-Hauld dan Politeknik Negeri Ketapang.

Baca juga : https://www.instagram.com/p/CMmLSTYAr4q

Sumber Informasi : Yayasan Palung

PERKIM-LH KKU Bantu Ajukan Proposal untuk Kelompok Tani Meteor Garden

Dinas Perumahan dan Pemukiman Lingkungan Hidup (PERKIM-LH) Kabupaten Kayong Utara (KKU) berkunjung ke komunitas masyarakat Kelompok Tani Meteor Garden, Rabu (3/3/2021). Foto : Ranti/Yayasan Palung.

Pada awal bulan Maret lalu, Dinas Perumahan dan Pemukiman Lingkungan Hidup (PERKIM-LH) Kabupaten Kayong Utara (KKU) berkunjung ke komunitas masyarakat Kelompok Tani Meteor Garden. Mereka datang untuk menanyakan kepada komunitas tentang kebutuhan-kebutuhan apa-apa saja dalam pertanian organik yang diajukan didalam proposal PERKIM-LH untuk komunitas.

Ranti Naruri, Manager Program Mata Pencaharian Berkelanjutan Yayasan Palung (YP), mengatakan, Saat ini dalam proses pengajuan dalam proposal, adapun kebutuhan yang diajukan antara lain adalah bantuan dalam bentuk bibit holtikultura.

Beberapa bibit dan keperluan yang nantinya dibutuhkan oleh para petani  antara lain seperti Kacang panjang, terong Ratih putih 1 boks, cabai rawit merek lentera 1 boks, timun herkolis, 1 boks sawi putih, 1 boks gambas 1 boks waring 6 gulung, pupuk mutiara biru 50 kg, racun hama regen 5 liter, pupuk kcl 50 kg, pupuk mkp10 kg dan kantong 2 kg , kata Ranti.

Lebih lanjut Ranti mengatakan, Rencananya bibit-bibit tersebut akan ditanam di lahan milik petani, Kelompok tani Meteor Garden.

Kelompok Tani Meteor Garden merupakan kelompok tani binaan Program Suistainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung yang ada di Desa Pampang Harapan. Sedangkan Dinas PERKIMLH Kabupaten Kayong Utara (KKU) merupakan Mitra kerja Yayasan Palung.

Pit-YP

Ini Jenis Tumbuhan yang Biasa Dimakan oleh Orangutan

Orangutan merupakan pemakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian) dan pemakan buah-buahan hutan (frugivora). 

Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari 60% buah-buahan, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap). Tumbuhan dominan yang buahnya dikonsumsi oleh orangutan adalah dari family Sapindaceae (rambutan, kedondong, matoa dan langsat), Lauraceae (alpukat, dan medang), Fagaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae (jenis jambu-jambuan), Moraceae (ficus/kayu ara) dan lain-lainnya. Kesemua buah-buahan hutan itulah yang paling digemari oleh orangutan dan satwa lainnya.

Staf Botanis dan Koordinator Survei Yayasan Palung, Andre Ronaldo mengatakan, ada 9 jenis tumbuhan yang biasa dimakan oleh orangutan.

“Adapun 9 jenis tumbuhan yang menjadi makanan/pakan orangutan, diantaranya adalah Kubing (Artocarpus fulvicortex), Kayu Malam (Diospyros diepenhorstii), Punak (Tetramerista glabra), Ampas Tebu (Gironniera nervosa), Sengkuang (Dracontomelon dao), Keruing (Dipterocarpus sublamellatus), Jantak (Willugbheia angustifolia), Tampui (Baccaurea edulis), dan Teratung (Durio oxleyanus)”, kata Andre.

Kelimpahan dan ketersediaan pohon pakan orangutan di hutan menjadi penanda lingkungan di sekitar masih baik sebagai pendukung keberlanjutan nafas hidup orangutan dan hutan. Seperti diketahui, orangutan merupakan petani hutan yang berperan sebagai penyebar biji. Berpuluh-puluh kilometer si petani ini menyebar biji-bijian/buah-buah hutan (sebagai petani hutan) dilakukan setiap hari.

Sebagai informasi, orangutan merupakan satwa yang sangat dilindungi karena keberadaannya saat ini dari tahun ke tahun jumlahnya semakin menurun akibat pembukaan lahan dan hutan berskala besar.

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) atau Bornean Orangutan masuk dalam daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan status sangat terancam punah (critically endangered).

Berharap semoga tumbuhan dan buah-buah hutan tetap ada di hutan. Karena, semakin melimpah buah dan tumbuhan di hutan maka akan semakin membantu orangutan untuk terus berkembang biak di alam liar dan bisa selalu menjadi petani hutan hingga selamanya.

Untuk melihat foto 9 jenis tumbuhan yang menjadi pakan (makanan) orangutan  :

Penulis : Petrus Kanisius

Editor : Dwi Yandhi Febriyanti

Yayasan Palung

Survei Lokasi untuk Rencana Penanaman Bibit dan Pemeliharaan Ternak

Tim Perlindungan dan Penyelamatan Satwa (PPS) Program Hutan Desa Yayasan Palung melakukan survei lokasi di 5 Hutan Desa yang mengajukan proposal dan lolos verifikasi administrasi dari BPSKL (Balai Perhutanan Sosial Wilayah Kalimantan), Senin hingga Rabu (1-3/3/2021) lalu.

Survei tersebut dilakukan untuk memastikan lokasi rencana penanaman bibit pohon dan pemeliharaan ternak yang diajukan oleh 5 kelompok di 5 Hutan Desa di Kecamatan Simpang Hilir yang merupakan binaan Yayasan Palung.

Seperti diketahui, 5 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di 5 Hutan Desa di Kecamatan Simpang Hilir mengajukan proposal ke BPSKL melalui program Pembangunan Perhutanan Sosial Nasional (Bang Pesona).

Beberapa proposal yang diajukan oleh KUPS di 5 Hutan Desa di Kecamatan Simpang Hilir antara lain seperti;

  1. KUPS Batu Barat lestari, Desa Batu Barat mengajukan 2 ekor Sapi, 875 bibit  Petai, 750 bibit jengkol dan 2370 bibit pinang.
  2. KUPS Banjar Ceria, Desa Padu Banjar mengajukan 15 ekor kambing, 3000 bibit karet dan 1000 bibit pinang.
  3. KUPS Tani Makmur Simpang Keramat, Desa Penjalaan mengajukan 20 ekor kambing, 500 bibit petai dan 500 bibit jengkol.
  4. KUPS Gambut Lestari, Desa Pemangkat mengajukan 14 ekor kambing, 56 bibit durian dan 2500 bibit pinang.
  5. KUPS Karya Rapa Sejahtera, Desa Rantau Panjang mengajukan 14 ekor kambing, 500 bibit petai dan 500 bibit jengkol.

Hendri Gunawan, sebagai Pendamping dari Program Hutan Desa Yayasan Palung mengatakan, Sampai saat ini, proposal yang diajukan sedang dalam proses verifikasi teknis, kita berharap semoga saja ajuan proposal ini diterima.

Rencananya, jika proposal ini diterima, bibit tanaman akan ditanam di lokasi hutan desa, demikian juga halnya dengan ternak, kata pria yang biasa disapa Hendri tersebut. (Pit-YP)

Kampanye Lingkungan, RK-TAJAM Adakan Baksos Pembuatan Mural di Pantai Cilincing

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengajak orang peduli dengan lingkungan. Seperti Puluhan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) bersama melakukan kampanye lingkungan lewat mural di Pantai Cilincing, Desa Sukabaru, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Minggu (8/3/2021), kemarin.

RK-TAJAM, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Celincing Bersatu bersama beberapa teman yang peduli dengan persoalan lingkungan menggambar mural yang bertema lingkungan sekaligus membuat pesan ajakan untuk peduli dengan persoalan lingkungan (ekosistem pantai) satu diantaranya adalah ajakan untuk kebersihan pantai.

Beberapa gambar cantik dan menarik pun tercipta dari kreasi mural yang mereka gambar seperti tumbuhan mangrove, ikan, ubur-ubur dan dugong. Tidak hanya gambar, tetapi mereka juga menuliskan pesan ajakan untuk peduli dengan lingkungan, dengan menuliskan tagar (#) #SAVEDUGONGKETAPANG #YomKiteJagePesisir #SAVESEASORE .

Menariknya lagi, pada kegiatan tersebut hadir pula Galih Hakim Antarnusa, seorang peneliti dugong sekaligus pemerhati pantai, Galih sapaan akrabnya berkesempatan membuat mural tentang dugong.

“Kegiatan seperti ini menarik karena dengan kedekatan intens dengan masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai mitra menurut saya sangat baik. Ditambah pemberdayaan remaja melalui relawan konservasi sangat membantu terbukanya mindset masyarakat bahwa masih banyak dari kita yang perduli dengan mereka”, kata Galih.

Saran saya, buat kegiatan kerjasama dengan masyarakat sebagai mitra, dengan melakukan kegiatan restorasi dan semacamnya. Pendampingan berkala dan intens terhadap masyarakat juga sangat perlu diperhatikan agar masyarakat tidak memiliki pemikiran bahwa kita hanya memanfaatkan mereka, namun kita buat masyarakat berfikir bahwa kita perduli dengan mereka, ujarnya lagi.

Sebelumnya tulisan ini dimuat di : https://monga.id/2021/03/kampanye-lingkungan-lewat-mural-di-pantai-cilincing

Tulisan ini juga dimuat di : https://ruai.tv/ketapang/peduli-duyung-di-perairan-ketapang-relawan-bikin-mural-di-pantai

Penulis : Pit-YP

Ajak Relawan Muda Mengenal Bellucia pentamera Sebagai Tumbuhan Invasif Alien Spesies

Ia tumbuh di sekitar kita, datang dari tempat yang jauh kemudian mampu beradaptasi dan berkembang melebihi jenis asli, Kata Endro Setiawan.  Lalu tumbuhan apakah itu?

Endro Setiawan sebagai pemateri mengajak Relawan Muda Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) di Kantor Bentangor Yayasan Palung Mengenal Tumbuhan Invasif Alien Spesies, pada Jumat hingga Sabtu (19-20/2/ 2021) lalu.  

Dalam kegiatan yang bertajuk Capacity Building (Peningkatan Kapasitas) tentang Survei Invasif Alien Spesies Di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat tersebut pemateri mengajak para relawan mengenal apa itu tumbuhan Invasif Alien Spesies.

Invasif Alien Spesies (IAS) merupakan spesies pendatang di suatu wilayah yang hidup dan berkembang biak di wilayah tersebut dan menjadi ancaman bagi biodiversitas, sosial ekonomi, maupun kesehatan pada tingkat ekosistem, individu, maupun genetik. Berbeda dengan spesies asli yang secara alami hidup di suatu wilayah, spesies pendatang tiba di suatu wilayah dengan campur tangan manusia, baik disengaja atau tidak.

Dalam penyampaian materinya, Endro Setiawan yang juga Staf TNGP yang sedang Karyasiswa pada Prodi  Biologi Sekolah Pascasarjana Unas, juga mengatakan, Invasif alien species (IAS) merupakan ancaman serius bagi keanekaragaman hayati kita, mengenalkan sejak dini kepada generasi muda merupakan salah satu upaya dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati.

Endro Sapaan akrabnya pun sembari berharap, dengan adanya pelatihan tersebut, barangkali ada yang berminat mempelajarinya beserta penanggulangannya.

Manager Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Dwi Yandhi Febriyanti, mengatakan, tumbuhan invasif alien spesies merupakan ancaman ekosistem yang perlahan namun pasti akan merusak suatu ekosistem dari dalam ekosistem itu sendiri.

“Pengetahuan tentang invasif alien spesies terutama Bellucia pentamera  (jambu monyet atau biasa juga disebut jambu Prancis) bagi teman-teman relawan diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat jika menemukan invasif alien spesies ini bisa langsung memusnahkan sebelum lingkungan sekitar kita dikuasai oleh spesies ini”, katanya.

Sebagai informasi, beberapa tumbuhan invasif alien spesies selain jambu monyet, ada juga tumbuhan lainnya seperti ecen gondok dan apu-apu (apung).

Pada saat pelatihan, peserta yang berjumlah 24 orang dari relawan muda Yayasan Palung (Relawan TAJAM dan REBONK) selain materi, mereka juga diajak untuk melakukan survei sebaran jambu monyet yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung dengan menggunakan aplikasi avenza maps.

Menariknya lagi, selain materi tentang tumbuhan invasif alien spesies, para relawan muda mendapatkan sharing informasi tentang Dugong dari Galih Antar Nusa. Mas Galih (mahasiswa Biologi Pascasarjana Unas) bercerita tentang betapa pentingnya kita untuk melakukan konservasi di Area laut penelitian misalnya Dugong yang ia teliti di Pulau Cempedak, Kendawangan. Bagi Ekosistem laut, dugong sangat penting, kata Galih.

Sebelumnya tulisan ini dimuat di :

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/6041a5a8d541df0316764064/apa-itu-tumbuhan-invasif-alien-spesies

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ini Bahaya yang Mengintai Dibalik Konsumsi Daging Trenggiling

Trenggiling. (Foto dok : Erik Sulidra).

Hai sobat konservasi, apakah kalian tahu bahwa di dunia ada 8 jenis trenggiling? 4 spesies hidup di Afrika dan 4 spesies lainnya hidup di Asia. Trenggiling tersebut kini hidupnya makin terancam lho, salah satunya adalah karena perburuan mereka secara illegal. Apakah kalian juga tahu bahwa trenggiling yang hidup di hutan-hutan Indonesia termasuk hutan di Kalimantan, khususnya Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara juga tak luput dari ancaman kepunahan. Bahkan, trenggiling yang ada di Indonesia merupakan satu dari dua spesies trenggiling yang kritis terancam punah menurut daftar merah IUCN. Spesies kritis terancam punah lainnya adalah trenggiling Cina yang hampir punah pada pertengahan tahun 1990.

Trenggiling merupakan satu-satunya mamalia yang seluruh tubuhnya tertutup keratin. Sekitar 20% dari jumlah bobot tubuh mereka datang dari sisik. Sisik ini terbuat dari keratin, material serupa yang membentuk kuku kita. Meskipun demikian, masih banyak orang yang percaya bahwa sisik trenggiling bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit (coba saja kuku mu dijadikan bahan untuk obat). Walaupun sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa bagian tubuh dari trenggiling (apalagi kulitnya) memiliki kandungan untuk keperluan obat-obatan.

Komisi Keselamatan Spesies Pangolin IUCN pada tahun 2020 melansir bahwa seekor trenggiling diambil secara ilegal dari alam liar setiap lima menitnya. Hal ini membuat trenggiling menjadi mamalia liar yang paling sering dan banyak diperdagangkan di seluruh dunia. Ditambah lagi dengan lajunya kerusakan habitat tempat mereka berdiam, tidakkah kita merasa perlu melindungi mereka dari ancaman kepunahan?

Penjaga hutan ini telah bertahan ribuan tahun dari perubahan alam, tetapi sekarang mereka berada di ambang kepunahan karena hilangnya habitat dan perburuan ilegal. Lebih dari 1 juta trenggiling dibunuh secara brutal untuk perdagangan pasar gelap dalam 10 tahun terakhir. Setara dengan 11 trenggiling setiap jam (sumber : Tempo.Co)

Sebenarnya, konsumsi daging yang berasal dari hewan liar juga dapat meningkatkan resiko terpapar zoonosis meningkat. Antraks, Ebola, Sars, Flu Burung H5N1, dan Coronavirus (Covid-19) adalah contoh zoonosis yang telah dihadapi manusia di bumi, bahkan saat ini kita masih berjuang untuk melawan Covid-19. Satwa liar berpeluang menjadi inang dari Coronavirus-19 sebelum menjangkiti manusia, hal ini disinyalir menjadi faktor utama munculnya Covid-19. Mirip dengan SARS dan MERS-CoV, novel coronavirus atau 2019-nCoV diduga berasal dari kelelawar. Sel virus yang ada pada kelelawar tersebut diduga berpindah ke trenggiling dan akhirnya dimakan oleh manusia. 

Pada masa pandemi ini, merupakan momentum yang baik bagi kita untuk mulai mengurangi konsumsi hewan liar, khususnya yang terancam punah dan dilindungi undang-undang seperti trenggiling. Juga marilah kita menjaga habitat asli mereka. Karena tidak mengganggu satwa liar dan tidak merusak habitat alaminya merupakan solusi yang lebih tepat untuk mencegah terjadinya wabah virus di masa mendatang. Selain mengurangi resiko terpapar zoonosis (penularan penyakit dari satwa ke manusia maupun sebaliknya) juga menghindarkan kita dari ancaman jeruji besi (penjara) akibat memburu atau mengkonsumsi dagingnya. Para peneliti di negeri China telah menetapkan bahwa Trenggiling adalah binatang liar pembawa virus yang berhubungan erat dengan Covid-19. Oleh karena itu, dengan mengurangi hingga menghentikan konsumsi satwa liar, anda sudah berkontribusi dalam mencegah kepunahan hewan tersebut dan mengurangi risiko penularan. 

Penulis :Tim Animal and Habitat Protection Yayasan Palung

Peringati Hari Peduli Sampah Nasional 2021, Yayasan Palung Bersama Para Pihak Adakan Serangkaian Kegiatan di Pantai Mutiara

Peringati Hari Peduli Sampah Nasional 2021, Yayasan Palung Bersama Para Pihak Adakan Serangkaian Kegitatan di Pantai Mutiara, Desa Gunung Sembilan, KKU pada Minggu (21/2) kemarin. Foto : Yayasan Palung

Yayasan Palung mengadakan serangkaian kegiatan di Objek Wisata Pantai Mutiara, Desa Gunung Sembilan, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Minggu (21/2/ 2021) lalu. 

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN 2021) yang diperingati setiap tanggal 21 Februari 2021. Pada kegiatan tersebut Yayasan Palung bekerja sama dengan Desa Gunung Sembilan, Relawan REBONK, Sispala TAPAL, Pengelola Pantai Mutiara POKDARWIS Anak Kaki Gunung Sembilan dan masyarakat di sekitar pantai.

Adapun serangkaian kegiatan yang dilakukan antara lain adalah pemasangan plang tentang ajakan untuk peduli sampah dan kegiatan bakti sosial membersihkan sampah di sekitar pantai.

Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan oleh seluruh peserta kegiatan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan baik dari pihak Yayasan Palung, Kepala Desa dan juga Ketua POKDARWIS Pantai Mutiara.

Dalam sambutannya  Kepala Desa Gunung Sembilan dan juga POKDARWIS mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berperan dalam kegiatan Hari Peduli Sampah Nasional tersebut. Pihak Desa dan POKDARWIS berharap dengan adanya kegiatan positif ini dapat memberikan motivasi kepada pengelola Pantai dan juga para pemilik warung sekitar Pantai agar dapat menjaga lingkungan dengan cara membuang sampah pada tempatnya dan juga tetap menjaga kebersihan.

Setelah upacara usai, kegiatan dilanjutkan dengan pemasangan plang tentang lama terurai sampah disebelah kanan dan kiri jalan masuk Pantai Mutiara. Kemudian ada beberapa plang lainnya yang berisi pesan;  Jagalah Kebersihan, Buanglah Sampah pada Tempatnya, dan juga plang yang bertuliskan; Ayo!!!! Ke Pantai Mutiara.

Setelah pemasangan plang sampah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan Bakti Sosial yaitu melakukan aksi bersih-bersih sampah disekitar Pantai, alhasil dari kegiatan baksos tersebut sampah yang terkumpul hanya sedikit saja sekitar 3 kantong sampah. Hal ini membuktikan bahwa sampah yang ada di Pantai Mutiara masih terbilang sedikit jika dibandingkan dengan wisata lainnya. Setelah kegiatan Baksos selesai, semua peserta kegiatan istirahat sambil menikmati snack yang telah disediakan oleh Yayasan Palung dan juga Relawan REBONK.

Pesan dari kegiatan Hari Peduli Sampah Nasional ini adalah Indonesia saat ini merupakan penghasil sampah plastik terbesar nomor dua setelah Cina, jika perbuatan buruk ini akan terus dilakukan maka akan berdampak buruk bagi negara kita, misalnya seperti akan terjadi banjir, menyebabkan beberapa penyakit seperti diare dan juga demam berdarah.

Kita sebagai generasi muda seharusnya ikut berperan aktif dalam hal mengurangi terjadinya sampah. Misalnya seperti membawa botol minum bukan sekali pakai pada saat bepergian, mengurangi kantong plastik pada saat berbelanja dengan membawa tas kain, dan pada saat membeli es/jus di cafe tidak menggunakan plastik dan sedotan tetapi menggunakan gelas. Hal-hal kecil ini mungkin bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam mengurangi terjadinya sampah. 

Semua kegiatan berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun dan diikuti 50 orang peserta.

Penulis : Riduwan-Yayasan Palung

Baca juga : http://ruai.tv/kayong-utara/bersih-bersih-pantai-di-hari-peduli-sampah-nasional