Ini yang Menarik dari Ficus punctata

Ficus punctata (Climber Figs). (Foto : Sumihadi/Yayasan Palung).

Tumbuhan ini hidup di hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, tidak terkecuali di hutan hujan Kalimantan.

Tumbuhan yang memiliki nama Ficus punctata ini mulai tersebar mulai dari Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Filipina, Sulawesi, Sumbawa, Maluku dan Papua. Dalam bahasa Inggris Ficus punctata adalah Climber Figs.

Ficus adalah marga besar dari suku Moraceae dengan anggota jenis yang banyak. Di dunia tercatat 735 jenis, wilayah Malesia 367 jenis, Indonesia 252 jenis, dan Borneo 138 jenis.

Berdasarkan perawakannya, sebagian besar Ficus di Kalimantan memiliki perawakan berupa pohon (83 jenis).

Terdapat sekitar 11 jenis Ficus di Kalimantan yang tersebar luas di Indonesia, yaitu Ficus ampelas, F. benjamina, F. caulocarpa, F. drupacea, F. hispida, F. microcarpa, F. septica, F. subulata, F. tinctoria, F. variegata, dan F. virens. Sementara itu, terdapat 37 jenis ficus endemik di Kalimantan.

Menariknya, Ficus funstata ini selalu berbuah sepanjang musim.

Berharap, Ficus punctata ini bisa selalu ada karena buah dari tumbuhan ini menjadi sumber makanan kesukaan Orangutan, Kelempiau, Enggang dan Kelasi.

Sumber tulisan : dari berbagai sumber

Penulis : Pit dan Andre

(Yayasan Palung)

Tidak Bisa Disangkal Hutan Hujan Merupakan Rumah Sekaligus Nafas Semua Makhluk

Foto untuk Hari Hutan Hujan Sedunia 2021. (Foto : Haning/Yayasan Palung).

Indonesia yang memiliki hutan hujan yang tersebar di beberapa wilayah seperti Papua, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Hutan hujan pun memberikan banyak manfaat bagi semua nafas kehidupan. Hutan hujan pun tidak bisa disangkal merupakan rumah sekaligus nafas bagi semua makhluk.

Sebagai rumah, hutan hujan didiami oleh ribuan hingga jutaan makhluk hidup yang tentunya ingin terus berkembang biak tanpa terhimpit sempit. Berkembang biak untuk terus berlanjut bukan terhalang. Demikian juga nafas, nafas segar tanpa polusi.

Riuh rendah suara satwa berganti suara raung yang tanpa lelah menggerus hutan hujan yang disebut pula sebagai rimba raya itu.

Sesuai tema, hari hutan hujan tahun ini yaitu; Protect Together. Now. Forever (Lindungi Bersama, Sekarang dan Selamanya) tentunya menjadi tugas dan kewajiban semua secara bersama dan untuk menjaganya.

Nafas semua makhluk semestinya menanti disapa oleh semua kita. Lihatlah apa yang terjadi kepada hutan hujan.

Saat ini, tidak sedikit makhluk yang nafasnya tersengal bahkan terhenti karena rumahnya hilang lenyap, terkikis menjelang habis. Tanah semakin tergerus, air yang semakin mengering ketika kemarau dan semakin melimpah, keruh dan tak terbendung ketika hujan.

Sepanjang tahun, peristiwa yang terjadi ketika hutan hujan sedikit banyak sudah terjamah oleh tangan-tangan tidak terlihat.  Hutan hujan selalu memberi tanpa ragu dan tanpa pamrih kepada semua makhluk hidup yang ada di sekitarnya.

Sejatinya hutan hujan memiliki peran utama sebagai penyeimbang iklim dunia sekaligus sebagai mega biodiversitas. Adanya hutan hujan memberi beribu bahkan berjuta manfaat bagi semua ragam kehidupan tetapi juga ada kekhawatiran akan semakin banyaknya luasan tutupan hutan hujan yang hilang akibat semakin meluasnya area untuk penggunaan lain seperti misalnya perkebunan, pertambangan, dan pembangunan sedikit banyak mengorbankan luasan tutupan hutan yang mustahil jika bisa seperti sedia kala.

Lihat juga :

Begitu pentingnya hutan hujan bagi tatanan kehidupan bisa terlihat, ketika ia (hutan hujan) memberi manfaat atau ketika ia tidak banyak lagi tersedia dan sedikit banyak memberikan pengaruh kepada kita atau pun makhluk hidup lainnya. Keberlanjutan nafas hidup semua makhluk hidup dimuka bumi ini juga sedikit banyak karena adanya hutan hujan yang masih ada ini.  

Masih boleh kah kiranya kita berharmoni bersama hutan hujan? Atau kita akan semakin acuh dengan adanya hutan hujan saat ini?

Berharap dan bolehlah kiranya kita beraksi nyata untuk hutan hujan yang lestari hingga nanti. Mengingat, kita butuh hutan hujan yang sampai kapan pun. Sebaliknya hutan bisa tanpa kita, tetapi mampu kah kita bersama makhluk lainnya tanpa hutan hujan?

Penulis : Pit

Editor : Yandhi

(Yayasan Palung)

Latih Kelompok Binaan Membuat Pupuk Organik Cair

Pelatihan pembuatan pupuk organik cair F1 MBO. (Foto : Tim SL/Yayasan Palung).

Sejumlah orang terlihat sangat bersemangat mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik cair F1 MBO yang diselenggarakan oleh tim Sustainable Livelihood (SL) Yayasan Palung, Selasa hingga Rabu (8-9/6/2021) lalu.

“Kegiatan pelatihan tersebut diselenggarakan bagi Kelompok Rintis Betunas Desa Riam Berasap Jaya dengan  jumlah peserta sebanyak 5 orang. Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan di rumah Ibu Wati yang juga merupakan anggota kelompok Rintis Betunas,” kata Salmah, dari tim SL Yayasan Palung.

Foto-foto kegiatan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair F1 MBO :

Lebih lanjut menurut Salmah, pupuk cair F1 MBO dan pupuk cair untuk menjaga tumbuhan dari akar, batang, daun dan juga sebagai perangsang buah. Adapun manfaat pupuk F1 MBO tersendiri hanya untuk tambahan dari pupuk perangsang yang dibuat pada hari kedua pelatihan.

Adapun sebagai pelatih pada kegiatan tersebut adalah Asbandi dari Yayasan Palung serta 2 orang dari Kelompok Meteor Garden.

Tutorial Pembuatan Pupuk Cair F1 MBO :

Pupuk yang dibuat dalam pelatihan tersebut nantinya bisa digunakan oleh kelompok Rintis Betunas untuk  memupuk tanaman yang mereka tanam, kata Salmah.

Semua rangkaian kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organik cair F1 MBO berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang mengikuti kegiatan.

Video Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair :

Video Editor : Mahendra

Penulis : Pit

Editor : Yandhi

(Yayasan Palung)

Saat Hendak Melakukan Rehabilitasi di Kawasan Hutan Desa, Ditemukan Ada Kawasan Hutan yang Dirambah

Beberapa bibit yang di tanam di kawasan hutan desa. (Foto : Yayasan Palung).

Saat hendak melakukan rehabilitasi di kawasan hutan desa Batu Barat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara pada Kamis (10/6/2021) kemarin, kami dikejutkan (dikagetkan) dengan adanya kawasan hutan desa tersebut yang sudah terbuka (dirambah).

Walau ada kawasan hutan desa yang telah dirambah, Tim Hutan Desa Yayasan Palung (YP) bersama BPSKL (Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Wilayah Kalimantan) yang didukung oleh Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kayong Utara, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Batu Barat  dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Batu Barat Lestari bersama-sama melakukan restorasi dengan menanam 2000 bibit di wilayah hutan desa Batu Barat.

Bibit yang kami tanam di kawasan hutan desa tersebut antara lain seperti bibit jengkol dan petai. Masing-masing seribu bibit.

Terkait perambahan yang terjadi di kawasan tersebut hingga berita ini dibuat, kami belum mengetahui pasti siapa yang membuka lahan di sekitar hutan desa. Seperti terlihat, kawasan hutan yang dibuka pun tidak sedikit. Sejauh mata memandang, pohon-pohon di wilayah tersebut rebah tidak berdaya.

Foto-foto saat melakukan rehabilitasi di hutan desa Batu Barat :

Sungguh ironis, disaat kami ingin melakukan restorasi di kawasan hutan desa, tetapi ada yang merambah. Tidak hanya kami yang dikagetkan, tetapi masyarakat di Desa Batu Barat pun sangat kaget dengan adanya perambahan hutan di kawasan hutan desa itu. Jika boleh dikata, di sekitar kurang lebih 6 lapangan sepak bola luas hutan telah terbuka.

Tidak hanya itu, plang nama dan tata batas hutan desa pun tak bersisa. Anehnya lagi, di kawasan tersebut ada nama-nama orang/ perorangan yang mematok (mengakui hutan itu milik pribadi). Ada pula di sekitar kawasan hutan desa yang terbuka itu, telah ditanami oleh oknum yang belum diketahui hingga kini dengan tanaman sawit. Sejatinya kawasan hutan desa tidak boleh dirambah/dibuka untuk alasan apapun.

Pada keesokan harinya, Jumat (11/6/2021) dilanjutkan penanaman bibit pohon di kawasan hutan desa Rantau Panjang dan di kebun masyarakat yang tak jauh dari hutan desa.

Foto-foto saat melakukan rehabilitasi di hutan desa Rantau Panjang :

Di Kawasan Hutan Desa Rantau Panjang, bibit yang di tanam antara lain seperti pinang, rambutan dan petai.

Adapun banyaknya bibit yang ditanam adalah; bibit pinang sebanyak 1640 bibit, rambutan 100 bibit dan petai sebanyak 700 bibit.

Serangkaian kegiatan  berjalan sesuai rencana dan semua yang  ambil bagian dalam kegiatan restorasi hutan di kawasan hutan desa terlihat sangat aktif dan antusias saat melakukan kegiatan.

Penulis : Pit

Editor : Yandhi

(Yayasan Palung)

Ini Serangkaian Kegiatan yang Yayasan Palung Lakukan Dalam Rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Rangkaian kegiatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diselenggarakan oleh Yayasan Pada 5 Juni 2021 kemarin. (Foto : Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Serangkaian kegiatan hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021 telah lakukan. Yayasan Palung dan para relawan mengadakan serangkaian kegiatan dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia tersebut.

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) merayakan dengan mengadakan kegiatan lomba kreasi bahan bekas. Ada pula Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) mengadakan lomba mewarnai sekaligus melakukan kegiatan atas undangan dan kerjasama dengan lintas komunitas. Sedangkan Yayasan Palung  mengadakan kegiatan perlombaan foto.

Seperti tema tahun ini, peringatan hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021 lebih fokus kepada Restorasi Ekosistem. Tentu ini penting bagi kita sebagai ajakan dan pengingat kepada semua untuk selalu diingatkan bagaimana untuk selalu peduli pada nasib lingkungan hidup saat ini dengan cara-cara sederhana. 

Beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka perayaan Hari Lingkungan Hidup antara lain;

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM), pada Sabtu (5/6/2021), merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan mengadakan lomba kreasi barang bekas menjadi barang yang lebih fungsional dan memiliki nilai estetika. Adapun sebagai peserta dari lomba tersebut antara lain adalah anggota RK-TAJAM dari berbagai angkatan.

Dalam kegiatan lomba tersebut, peserta lomba berhasil membuat kotak tisu, tempat pensil, rak kabinet, tas belanja, rak buku dan celengan.

Foto-foto kegiatan :

Sementara itu, REBONK mengadakan lomba menggambar yang dilakukan pada hari Sabtu (5/6) kemarin. Lomba menggambar tersebut diikuti sebanyak 22 peserta dari anak-anak Bentangor Kids.

REBONK mengadakan lomba menggambar yang dilakukan pada hari Sabtu (5/6) kemarin. (Foto : Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Di tempat lain, REBONK mengikuti kegiatan atas undangan dan kerjasama dengan lintas komunitas yang dilaksanakan oleh Yayasan ASRI, ASRI Teen dan Sekumpulan Komunitas KKU untuk mengadakan kampanye penyadartahuan bersama dalam rangka hari Lingkungan Hidup Sedunia di Tugu Durian, Kabupaten Kayong Utara. Peserta menyampaikan orasi dan pesan-pesan lingkungan. Adapun dua anggota REBONK diikutsertakan menjadi panitia lomba foto. Lomba foto tersebut ditujukan untuk anak-anak pengunjung pantai Pulau Datok. Ada pula Lomba mewarnai gambar bagi anak-anak usia dini.

Selain itu diadakan pula kegiatan Bakti Sosial (Baksos) yang diselenggarakan di sekitar tempat kegiatan.

Sedangkan Yayasan Palung mengadakan kegiatan perlombaan foto dengan tema Restorasi Ekosistem yang masih berlangsung hingga 28 Juni nanti.

Untuk syarat dan ketentuan lomba Foto dapat lihat Di sini

Penulis : Pit

Editor : Yandhi

(Yayasan Palung)

Lomba Foto Dalam Rangka Hari Lingkungan Hidup 2021

Pamplet lomba foto dalam rangka hari lingkungan hidup 2021. (Foto : Haning/Yayasan Palung).

Tema: “Restorasi Ekosistem”

Khusus untuk Kalimantan Barat

Info yang sama juga dapat dilihat di Instagram Yayasan Palung

Periode Lomba:

  1. Batas pengiriman (upload) foto, tanggal 6 – 28 Juni, Pukul 23.59 WIB.
  2. Pengumuman 6 (enam) foto paling baik, diposting di instagram Yayasan Palung pada tanggal 01 Juli 2021.
  3. Penentuan 3 (tiga) pemenang utama akan ditentukan dari jumlah like pada masing-masing postingan di Instagram Yayasan Palung dengan batas waktu 06 Juli 2021, Pukul 23.59 WIB.
  4. Pemenang utama akan diberitahukan melalui DM pada 08 Juli 2021.

Syarat Peserta:

  1. Warga Negara Indonesia dan berdomisili di Kalimantan Barat.
  2. Peserta wajib mengikuti instagram @yayasan_palung
  3. Usia peserta lomba mulai dari 15-25 tahun
  4. Akun instagram peserta aktif dan tidak dalam kondisi terkunci atau private
  5. Unggah foto hasil karya kamu ke akun Instagram pribadi kamu. Tag Instagram @yayasan_palung pada foto dan tag minimum 5 teman kamu pada caption
  6. Foto yang diikutsertakan merupakan karya tahun 2019-2021
  7. Upload maksimal 3 foto dalam 1 postingan
  8. Menyertakan caption yang mendukung foto disertai tagar #RestorasiEkosistem #HariLingkungan2021 #YayasanPalung #SaveEcosytem #SelamatkanEkosistem
  9. Semua foto yang diikutsertakan merupakan karya asli (original) dari peserta dan belum pernah diikutsertakan dalam Lomba lain.
  10. Peserta yang melakukan segala bentuk kecurangan dan pemalsuan data akan didiskualifikasi atau dianulir dari Lomba #HariLingkungan2021
  11. Tidak berlaku untuk staff Yayasan Palung.

Hadiah Lomba:

Juara 1-3 Hadiah : Perlengkapan outdoor, tote bag, tumbler, stiker dan sertifikat

Juara harapan 1-3 : tumbler, tote bag, stiker dan sertifikat

Syarat Lomba Foto Hari Lingkungan Hidup 2021 :

Foto yang diikutsertakan dalam Lomba harus merupakan milik peserta sendiri, dan tidak melanggar hak kekayaan intelektual milik pihak mana pun juga (termasuk hak cipta).

Pihak penyelanggara berhak menghapus materi yang diikutsertakan jika dianggap tidak memenuhi salah satu atau lebih Syarat dan Ketentuan ini.

Semua foto karya peserta yang diunggah dalam Lomba #HariLingkungan2021 sepenuhnya dapat digunakan, disesuaikan, dan diubah untuk disebarluaskan, diperbanyak serta dipublikasikan dalam bentuk apa pun, dalam jumlah dan jangka waktu tak terbatas untuk kepentingan Yayasan Palung.

Ketentuan yang dibuat oleh dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Pihak penyelenggara tidak memungut biaya apapun kepada peserta yang mengikuti Lomba #HariLingkungan2021

Yayasan Palung, selaku penyelenggara berhak untuk mendiskualifikasikan peserta maupun pemenang yang tidak memenuhi dan/atau melanggar dan/atau dicurigai melakukan kecurangan terhadap ketentuan ini.

Sumber Informasi : Tim PL Yayasan Palung

Refleksi hari Lingkungan Hidup : Lingkungan dan Kita

Pamlet Hari Lingkungan Hidup. (Foto : Haning/Yayasan Palung).

Secara umum, lingkungan menjadi ruang bagi semua makhluk hidup untuk tumbuh dan berkembang termasuk kita manusia.

Tidak hanya memberikan ruang, tetapi juga selalu memberikan sumber hidup tanpa pamrih dan ikhlas kepada kita.

Bagaimana kiranya hidup kita tanpa lingkungan hidup?

Semua makhluk hidup yang bernafas dan tak bernafas sesungguhnya memerlukan ruang untuk hidup.

Lingkungan hidup yang baik akan memberikan manfaat baik bagi semua makhluk hidup. Sebaliknya jika lingkungan hidup yang rusak akan berdampak tidak baik pula bagi makhluk di sekitarnya.

Saat ini lingkungan hidup kita memerlukan perhatian dari kita semua.  Sesuai tema hari lingkungan hidup tahun ini yaitu Restorasi Ekosistem.

Mengacu pada tema, berarti harus ada langkah nyata kepedulian bersama untuk peduli pada lingkungan yang ada di sekitar kita.

Lihatlah apa yang ada dan terjadi di sekitar kita. Lingkungan hidup dulu dan sekarang sudah pasti berbeda.

Jika boleh dikata, lingkungan hidup saat ini sudah terlanjur banyak terkontaminasi oleh tangan-tangan tak telihat. Jika terlihat pasti kita mengetahui siapa yang melakukannya. Lihat sampah yang (di/ter)buang di sekitar pantai, jalan raya atau bahkan di lingkup rumah tangga kita.

Terkadang himbauan/larangan hanya selogan belaka. Apa mungkin kita sudah terbiasa dan terlanjur biasa membuang sampah tanpa memikirkan dampak buruknya.

Sebagian besar pantai dan lautan pun saat ini sudah darurat dengan persoalan sampah. Sampah-sampah plastik sudah mulai banyak mengapung di lautan. Tentu ini sangat mengancam biota laut, tak terkecuali ikan dan penyu.

Hilangnya sebagian besar luasan tutupan hutan pun tidak disangkal menjadi hal yang paling menyumbang kerusakan lingkungan hidup yang terjadi sejak dulu dan mungkin sampai hari ini masih saja terjadi. Hal ini tentu saja memperparah nasib hidup makhluk hidup yang mendiami hutan karena hutan adalah habitat hidup (rumah) yang nyaman untuk mereka tinggal dan berkembang biak.

Tidak sedikit satwa dilindungi seperti orangutan, kelempiau dan satwa lainnya memerlukan lingkungan yang baik sampai kapan pun.

Dengan hilangnya sebagian luasan hutan maka akan semakin memperparah keadaan. Akan tinggal dimana kelak ragam satwa  selanjutnya. Apakah kita masih bisa menemukan mereka atau hanya dengar nama saja?

Lingkungan hidup kita saat ini memerlukan sentuhan rasa dan asa kepedulian dari semua kita, tanpa terkecuali. Hilangnya lingkungan yang baik akan sedikit berdampak pada semua sendi-sendi kehidupan. Lihatlah apa yang sudah terjadi. Banjir sudah semakin akrab dengan kita. Lingkungan sekitar seperti sungai sudah/telah banyak tercemar tidak terkecuali karena tingkah dan polah kita yang menyebabkan persoalan sampah yang ada semakin merajalela. Sudah adakah kepedulian kita semua untuk ini?

Entahlah, hingga kapan persoalan lingkungan hidup ini akan berakhir dan lahir kepedulian bahwa lingkungan hidup itu amat sangat perlu untuk hidup (tatanan kehidupan).

Sebagai pengingat, lingkungan hidup yang baik pasti akan memberikan yang baik pula bagi semua tanpa terkecuali.

Kepedulian semua bersama menjadi satu langkah kecil yang masih bisa dan asa tersisa pada diri kita jika mau dan ingin bergerak tanpa paksaan. Jika lingkungan hidup tempat hidup ini semakin baik, maka nafas kehidupan akan sangat aman dan nyaman untuk boleh berlanjut hingga nanti.

Lingkungan hidup/alam/hutan bisa tanpa kita, tetapi kita tidak bisa tanpa lingkungan hidup/hutan/alam/hutan yang baik.

Segenap satwa yang mendiami sisa rimba raya pun sangat membutuhkan hutan sebagai rumah untuk berlanjut hingga nanti.  

Penulis : Pit

Editor : Yandhi

Yayasan Palung

Tanam Pohon untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan Eks Kebakaran di Sekitar Hutan Desa Binaan Yayasan Palung

Penanaman pohon untuk rehabilitasi lahan dilakukan di Kawasan Hutan Desa binaan Yayasan Palung. (Foto : Hendri/Yayasan Palung).

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk merehabilitasi hutan dan lahan eks kebakaran di sekitar hutan desa adalah dengan melakukan penanaman  pohon.

Seperti misalnya pada bulan Mei lalu, Selama sepekan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di tiga Hutan Desa binaan Yayasan Palung (YP) melakukan penaman pohon untuk merehabilitasi hutan dan lahan eks kebakaran.

Penanaman pohon untuk rehabilitasi lahan dilakukan di Hutan Desa Padu Banjar.  Ada 2000 bibit pohon yang di tanam di lahan eks kebakaran zona pemanfaatan di desa tersebut. Bibit yang ditanam adalah pohon karet.

Penanaman pohon selanjutnya dilakukan di Hutan Desa Pemangkat. Sebanyak 2000 bibit yang ditanam yang terdiri dari 1000 bibit pinang ditanam di kebun masyarakat yang tak jauh di sekitaran hutan desa.  500 bibit petai dan 500 bibit jengkol di tanam di kawasan hutan desa.

Penaman pohon berikutnya dilakukan di kawasan eks kebakaran yang bersebelahan dengan kawasan Desa Penjalaan.  Ada 2000 pohon petai ditanam di sekitar kebun masyarakat yang berbatasan dengan hutan desa.  

Foto-foto saat melakukan penanaman pohon di lokasi eks kebakaran hutan dan lahan :

Hendri Gunawan selaku Koordinator Program Hutan Desa Yayasan Palung mengatakan, “Dengan adanya penanaman pohon di eks kebakaran semoga dapat memberikan banyak manfaat terutama di dunia konservasi yaitu sebagai sumber oksigen. Pohon dapat mengurangi dampak pemanasan global dan sebagai penyerap polusi udara”.

Lebih lanjut kata Hendri, jika tanaman ini nantinya tumbuh dan dirawat dengan baik tentunya dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar hutan desa.

Seperti diketahui, di 3 wilayah hutan desa tersebut setiap tahunnya sangat rentan dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terlebih di musim kemarau. Selain itu, kawasan hutan tersebut merupakan kawasan gambut.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

8 Orang Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam angkatan ke-10 Resmi Dilantik

8 Orang Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam angkatan ke-10 Resmi Dilantik. Foto : Yandhi/Yayasan Palung

Sebanyak delapan (8) orang Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) Angkatan ke-10 Resmi Dilantik.

Pelantikan RK-TAJAM  tersebut dilaksanakan di Pantai Mak Bagok, Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, pada Jumat – Minggu tanggal 28 – 30 Mei 2021 kemarin.

8 orang anggota RK-TAJAM angkatan ke-10 yang dilantik adalah : Muhammad Rico Ardika Putra,  Alan Reja Fadillah, Daniel Arliston Sitompul, Yuni Ramadani, Fahmi, Iqbal Ariyanto Raihan Fatoni dan Nimrod Gregorius Sihaloho.

Beberapa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam acara pelantikan RK-TAJAM antara lain seperti :

Personal Story (cerita pribadi), peserta dan panitia bercerita tentang pengalaman selama mengikuti RK-TAJAM dan motivasi mengikuti RK-TAJAM.

Sound Scape (suara alam) di tepi pantai yang di bimbing oleh Muhammad Syainullah, kegiatan ini bertujuan menenangkan pikiran dan mendengarkan suara-suara dari alam sekitar dan di lanjutkan lagi dengan senam pagi.

Pentas Seni (Pensi) yang dimana kelompok peserta harus menunjukan bakat mereka seperti bernyanyi, bermain drama dan lain-lainya.

Kegiatan T – Warior dimana peserta harus hiking dan melewati beberapa pos dan setiap pos memiliki tugas dan tantang tersendiri. Adapun tujuan dari kegiatan T-Warior ini untuk mendapatkan sebuah pin RK-TAJAM.

Selanjutnya acara pelantikan pun dimulai dengan memasangkan slayer kepada peserta yang akan di pasangkan oleh Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung Dwi Yandhi Febriyanti, Pembina RK-TAJAM Haning Pertiwi, staf Yayasan Palung, Simon Tampubolon dan Joko dari masyarakat setempat. Selain itu, ada Mahendra senior anggota RK-TAJAM, Sola Gratia Sihaloho, mewakili RK-TAJAM angkatan 3, M. Syainullah mewakili anggota RK-TAJAM angkatan 4, Bambang  mewakili anggota RK-TAJAM angkatan 7, Maryani mewakili RK-TAJAM angkatan 9 .

Setelah pemasangan slayer, selanjutnya panitia dan anggota RK-TAJAM angkatan 10 mengucapkan Visi dan Misi RK-TAJAM secara bersama yang di pandu oleh Andini (anggota RK-TAJAM angkatan 9) .

Penulis : Maryani-Relawan Konservasi TAJAM Angkatan 9 dan Pit-Yayasan Palung

Editor : Yandhi

Malam Penganugerahan Penerima Beasiswa WBOCS Tahun 2021

Enam penerima beasiswa WBOCS berfoto bersama dalam acara Malam Penganugerahan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) tahun 2021. Foto : Yayasan Palung

Pada Selasa (25/5/2021) petang, telah dilaksanakan malam penganugerahan bagi 6 penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) tahun 2021.

Acara yang dilaksanakan di Hotel Nevada tersebut dibuka langsung oleh Wahyu Susanto selaku Ketua Yayasan Palung sekaligus juga Direktur Penelitian Yayasan Palung.

Dalam acara malam penganugerahan WBOCS tersebut 6 penerima beasiswa WBOCS melakukan penandatangan kesepakatan bersama antara penerima, Yayasan Palung dan Orang Utan Republik Foundation. Selain melakukan penandatangan kesepakatan, dilakukan juga presentasi perkembangan terkait beasiswa peduli orangutan yang telah dilakukan sejak 10 tahun silam. Presentasi tersebut dilakukan oleh Dwi Yandhi Febriyanti selaku manager Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung.

Selanjutnya Gary L Shapiro selaku presiden dari Orangutan Republik Foundation (OURF) melalui zoom meeting menyampaikan apresiasinya kepada Yayasan Palung (YP) yang telah bersama dan bekerjasama dalam menjalanan Program WBOCS  dengan sangat baik.

Adapun enam penerima beasiswa WBOCS 2021 adalah Egi Iskandar dari SMA Negeri 2 Sukadana, Keti Agusti dari SMA Negeri 1 Sandai, Agun Prayoga dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir, Yeli Kurniasari dari SMA Negeri 1 Sandai, Riko Wibowo dari SMA Negeri 1 Seponti dan Rita Kurniati dari SMA Negeri 3 Ketapang.

Egi Iskandar, Agun Prayoga, Riko Wibowo dan Rita Kurniati mengambil jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Untan, Keti Agusti mengambil jurusan Biologi Fakultas MIPA Untan, dan Yeli Kurniasari mengambil jurusan Hubungan Internasional Fisip Untan.

6 orang penerima beasiswa WBOCS 2021 memperkenalkan diri mereka satu persatu dalam acara perkenalan.

Tampak hadir dalam acara malam penganugerahan WBOCS  tahun 2021 antara lain adalah orang tua atau wali dari 6 orang penerima beasiswa WBOCS, Staf Yayasan Palung, Yudo Sudarto selaku Pembina Yayasan Palung, Edi Rahman selaku Direktur Lapangan dan Wahyu Susanto selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung.

Seperti diketahui, Program beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) pada tahun 2021 telah memasuki tahun ke sepuluh.

Hingga tahun 2021 terdapat 49 Penerima WBOCS yang diantaranya 12 orang sudah menjadi sarjana.

Sebelumnya berita ini dimuat di : https://pontianakpost.co.id/lagi-enam-pemuda-terima-beasiswa-peduli-orangutan/

Petrus Kanisius-Yayasan Palung