MENJAGA RAWA GAMBUT, MENGAPA PENTING?

Foto Rawa Gambut; Blackwater river di rawa gambut. Foto : Gunawan Wibisono/Yayasan Palung

Pernahkah anda menjelajahi atau singgah di Rawa gambut? Berbagai kegiatan yang melibatkan ekosistem rawa gambut di sekitar atau justru lingkungan tempat tinggal?

Definisi tentang rawa gambut sangat bervariasi, mengutip dari EPA rawa didefinisikan sebagai berbagai tipe lahan basah yang didominasi oleh tumbuhan berkayu. Sebagai bagian dari tipe lahan basah gambut berperan dalam mengendalikan banjir dan siklus regenarasi air tanah (Hugron et al. 2013). Terdapat karakteristik khusus yang ditemukan di rawa gambut yaitu keberadaan air hitam (blackwater), degradasi warna ini disebabkan akumulasi tanin yang berasal dari daun dan gambut. Mengutip dari Wetlands international Berbagai jenis tumbuhan , avifauna (burung), pisces (ikan), primata dan organisme hidup lainnya hidup di Rawa Gambut. Blackwater  miskin nutrisi dibandingkan dengan whitewater .Terdapat kondisi dimana konsentrasi ionik lebih tinggi dibandingkan air hujan (Sioli, 1975).

Cara observasi rawa gambut dapat melalui jalur darat atau air. Seringkali penggunaan sampan, perahu atau kendaraan air lain dipilih berdasarkan lebar sungai dan debit air permukaan daratan yang di jelajahi. Mengutip dari “Wetlands international“, Hutan rawa gambut tropis merupakan rumah bagi ribuan hewan dan tumbuhan, termasuk banyak spesies langka dan terancam punah, satu diantaranya adalah orangutan yang habitatnya terancam oleh deforestasi lahan gambut. Rawa gambut juga merupakan rumah bagi Primata lainnya seperti “bekantan’ (Nasalis larvatus Wrumb. 1787), “beruk’ (Macaca nemestrina Linnaeus, 1766), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles, 1821), “lutung merah’ (Presbytis rubicunda Muller, 1838). Umumnya ketika pagi hari tiba pada hutan rawa gambut akan terdengar suara owa/ ungko/ kelawat/ klempiau (Hylobates albibarbis Lyon, 1911). Berbagai jenis hewan lainnya  seperti “trenggiling sunda’ (Manis javanica Desmarest, 1822) termasuk dalam katagori kritis.

Jenis hewan yang terdapat di sungai blackwater seperti “buaya muara/buaya kodok/katak” (Crocodylus porosus Schneider, 1801) yang dikenal sebagai hewan buas ternyata memiliki peran yang sangat penting. Mengutip dari World Animal Protection, buaya berperan dalam regulasi populasi hewan lain dan mencegah kepadatan berlebih yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Beberapa kasus yang dimuat oleh seperti pencemaran sungai oleh plastik menjadi pemicu naiknya buaya hingga ke pemukiman (UN Environtment programme), hal yang serupa dapat terjadi di sungai blackwater habitat rawa gambut.

Gangguan yang memungkinkan untuk terjadinya kebakaran merupakan penyebab utama emisi CO2 dari hutan rawa gambut regional dan dapat berdampak pada ekosistem di seluruh dunia terkait kontribusinya terhadap perubahan iklim. CO2 di atsmorfer akan menyerap radiasi balik dari permukaan bumi dalam bentuk gelombang infra merah, sehingga menyebabkan kenaikan suhu permukaan bumi. Melangsir dari NLM (2019), terdapat efek negatif ketika alih fungsi lahan untuk kultivasi tumbuhan non native dalam skala besar dan berlebih terhadap microclimate.

Area gambut tropis yang berdampingan dengan rawa di dalam bioma hutan, dimana tumbuhan di dalamnya memiliki daun lebar dalam keadaan lembab di daerah tropis dan subtropis menyimpan dan mengakumulasi sejumlah besar karbon sebagai bahan organik tanah. jumlah bahan organik tersebut lebih banyak dibandingkan yang terkandung oleh hutan alam. Stabilitas hutan rawa gambut sangat berpengaruh pada perubahan Iklim karena merupakan satu contoh cadangan karbon terbesar di permukaan bumi diantara contoh lainnya. Kita dapat sedikit memahami bagaimana kerusakan dan pencemaran lingkungan sekitar dapat berdampak terhadap makhluk hidup termasuk manusia di Bumi. Apakah kita yakin rawa gambut disekitar kita masih dalam keadaan yang baik-baik saja? Bagaimana dengan peristiwa seperti banjir, terutama di area delta? Bagaimana dengan ikan di tambak sungai yang mati oleh intrusi air laut yang melebihi ambang batas?

Silahkan baca juga: Perubahan iklim, Pencemaran sungai

Referensi:

Hugron, S., Bussières, J. and Rochefort, L. 2013. Tree plantations within the context of ecological restoration of peatlands: a practical guide, Peatland Ecology Research Group, Université Laval, Québec. 88 pages.

Rieley, JO. Ahmad-Shah, AA. & Brady, MA (1996). The Extent and Nature of Tropical Peat Swamp. In: Maltby, E., Immirzi, CP. and Safford, RJ. (eds). Tropical Lowland Peatlands of Southeast Asia, Proceedings of a Workshop on Integrated Planning and Management of Tropical Lowland Peatlands Held at Cisarua, Indonesi, 3-8 July 1992. IUCN, Gland, Switzerland.

Penulis : Gunawan Wibisono /PPS,Yayasan Palung)

ANAK MUDA HARUS SADAR! KEPUNAHAN SPESIES BUKAN SEKEDAR ANCAMAN, JIKA BUKAN SEKARANG BERTINDAK KAPAN LAGI?

Salah satu aksi nyata kepedulian terhadap nasib bumi dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang pro lingkungan. (Foto : M. Syainullah).

Indonesia adalah salah satu negara dengan status “Mega Biodiversitas” terbesar kedua didunia setelah negara Brazil dengan hutan hujan Amazonnya. Bagaimana tidak, Indonesia itu sendiri memiliki kurang lebih sekitar 25.000 spesies tumbuhan dan 400.000 jenis hewan dan ikan dimana menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) secara spesifik Indonesia memiliki 10% spesies tumbuhan dunia, 12% spesies satwa, serta terdapat 2.273 spesies fungi yang telah diidentifikasi di Indonesia. Jumlah ini terhitung masih sangat sedikit. Sekitar 1.9% dari fungi yang ada di dunia. Indonesia diperkirakan memiliki 86.000 spesies fungi dari 1,5-3 juta fungi dunia. Saat ini, baru 120.000 spesies teridentifikasi. Dan spesies-spesies tersebut tersebar membentang mulai dari Sabang sampai Merauke, Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Menurut data terbaru dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) red list Indonesia dari total 1.225 spesies yang terdaftar, ada di antaranya 192 sangat terancam punah yang mana diantaranya adalah spesies Orangutan Kalimantan dan Sumatra (Pongo pygmaeus, P. Abelli P. Tapanuliensis), 361 terancam punah, dan 672 rentan dan 3 spesies sudah dinyatakan punah. Selain itu ada 126 tumbuhan Indonesia yang memiliki status keterancaman tertinggi yaitu Critically Endangered dimana diantaranya adalah tumbuhan Kantong Semar atau Nephentes sp, dimana diantaranya adalah Nepenthes aristolochioides; N. clipeata; N. dubia; N. lavicola; N. rigidifolia; dan N. sumatrana..

Ancaman kepunahan spesies ini bukan tanpa sebab, hal ini buntut dari permasalahan yang amat sangat kompleks. Salah satu latar belakang penyebab terjadinya ancaman pengurangan spesies ini adalah rusaknya ekosistem hutan sebagai habitat banyak spesies tersebut. Rusaknya habitat merupakan alasan utama yang membahayakan status spesies, baik hewan maupun tumbuhan.

Kerusakan umumnya dilakukan karena faktor ekonomi, seperti deforestasi, penambangan, dan migrasi manusia sehingga menjadikan habitat tersebut tempat tinggal mereka. Akibat yang ditimbulkan dari aktivitas manusia tersebut adalah tergusurnya satwa. Satwa akan menjauh dan mencari habitat lain namun kendala yang dihadapi adalah terkadang habitat baru bisa saja tidak cocok untuk mereka. Selain itu, perburuan serta perdagangan satwa juga menjadi penyebab terjadinya ancaman kepunahan spesies satwa. Intinya eksploitasi yang berlebihan berdampak buruk pada kekayaan ekosistem sehingga menciptakan efek domino pada aspek-aspek lain nya. Tentu juga akan berpengaruh pada manusia itu sendiri, seperti banjir dan longsor akan sering terjadi karena hutan sebagai pondasi dan ruang serapan air menjadi terganggu fungsinya. Panas juga akan semakin parah karena pelepasan karbon dan efek rumah kaca karena polusi berlebihan dan tak dapat ditanggulangi oleh hutan yang semakin sedikit sehingga berpotensi mencairkan sumber air beku di kutub utara yang menyebabkan naiknya ketinggian permukaan air di bumi. Tentu akan merugikan sekali bagi umat manusia.

Lantas apa yang bisa dilakukan oleh kita sebagai anak muda untuk mengambil peran dalam memutus rantai siklus kepunahan spesies tersebut? Jika kita membahas mengenai solusi apa yang tepat tanpa memahami metode dan segmentasi yang tepat tentu menjadi tidak akan maksimal. Tentunya kita sebagai anak muda terutama yang terklasifikasi sebagai generasi milenial yang sarat akan dunia cyber seperti menjadi bagian dari hidup generasi tersebut. Ada banyak opsi dalam menentukan metode yang tepat untuk menjadi bagian dari perlawanan menolak kepunahan spesies tersebut, akan tetapi kampanye terutama pada ruang cyber menjadi sangat efektif, efisien, relevan dan paling murah (zero cost) untuk generasi milenial. Jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 205 juta pada Januari 2022. Ini berarti ada 73,7% dari populasi Indonesia yang telah menggunakan internet, dengan melihat data tersebut kita tahu ruang cyber atau dunia maya seharusnya menjadi keuntungan tersendiri untuk melakukan kampanye konservasi  alam.

Solusi lainnya adalah bergabung dengan komunitas atau organisasi yang memiliki pandangan sejalan guna mengedepankan kepentingan dan tujuan sang sama seperti bergabung dengan komunitas atau organisasi yang berkaitan dengan misi dan visi pro konservasi sehingga upaya yang dilakukan menajdi lebih terarah dan lebih efisien jika dibandingkan dengan berjuang sendirian. Selain itu bergabung dengan organisasi yang sejalan juga memiliki keuntungannya sendiri, dengan bergabung di organisasi kita bisa lebih terarah dengan tujuan yang akan dicapai. Kapasitas atau kemampuan yang kita miliki akan meningkat karena biasanya wadah-wadah tersebut menghadirkan kegiatan peningkatan kapasitas baik melalui pelatihan ataupun diskusi.

Selain kampanye pada dunia maya, kampanye secara luring juga sangat efisien, namun juga membutuhkan cost tertentu. Beberapa kegiatan kampanye nyata yang dapat kita lakukan adalah seperti melakukan penanaman pohon atau restorasi habitat baik sendiri maupun berkelompok sama-sama berdampak, melakukan program bakti sosial, dan kampanye orasi dikesempatan yang sesuai. Apapun cara yang akan dipilih dalam upaya memerangi laju kepunahan spesies ini sama-sama berdampak, kita sebagai anak muda hanya perlu memilih salah satu yang paling enak dan sesuai untuk dilakukan. Lebih baik terlambat menyadari namun bertindak daripada tidak sama sekali. Sebagai anak muda pelopor, pendobrak dan pionir penting hal nya untuk peka pada keadaan dan melakukan sesuatu sebagai penggerak. Semua ada ditangan kita, hanya perlu ambil langkah pertama dan lakukan.

Penulis : M. Syainullah (WOBCS 2021/YP)

Berjumpa dengan Orangutan Saat Survei Biodiversitas di Hutan Desa Nipah Kuning

Kegiatan survei biodiversitas ini dilaksanakan oleh tim survei Yayasan Palung (YP) bersama dengan Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Nipah Kuning, pada Sabtu hingga Selasa (3-6/12/ 2022).

Pada survei kali ini, tim survei sangat beruntung sekali karena bisa berjumpa secara langsung dengan dua individu orangutan di wilayah hutan desa.

Selain itu, mereka juga berjumpa dengan sarang orangutan.

Terima kasih Erik Sulidra yang sudah mendokumentasikan dan mengedit video ini.

Lihat juga :

Video dokumen & Video Editor : Erik Sulidra @erik_de_borneo@savewildorangutans@yayasan_palung

#orangutan#hutandesa#nipahkuning#villageforest#hutan#forest#simpanghilir#kayongutara#yayasanpalung

YP Serahkan 30 Ribu Benih Kopi Kepada 6 LDPHD Binaan di Simpang Hilir

YP Saat menyerahkan benih kopi kepada 6 LDPHD Binaan di Simpang Hilir. (Foto : Hendri Gunawan/Yayasan Palung).

Sebanyak 30 ribu Benih Kopi diserahkan oleh Yayasan Palung (YP) kepada 6 Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) di Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada Kamis-Jumat  (8-9/12/2022).

Penyerahan pertama benih kopi dilakukan pada Kamis (8/12/2022) kepada LDPHD Rantau Panjang dan penjalaan, jumlah benih yang diberikan masing-masing 10 ribu benih (5 ribu benih kopi exelsa dan 5 ribu benih kopi liberika).

Setelah itu YP melanjutkan perjalanan ke Desa Penjalaan untuk menyerahkan mulsa dan dolomit ke KUPS pertanian Desa Penjalaan. Selanjutnya juga menyerahkan 10 ribu benih kopi (5 ribu bibit liberika dan 5 ribu bibit exelsa), 50 unit pot tray dan 10 ribu polybag. Bantuan tersebut diserahkan langsung kepada Anwar (Ketua LDPHD Simpang Keramat).

Robi Kasianus, selaku Asisten Field Officer Program Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, YP tidak hanya menyerahkan benih kopi tetapi juga menyerahkan pot tray dan juga polybag untuk membantu LDPHD menyemai kopi.

Selanjutnya Robi juga mengatakan,  Kopi yang diserahkan ke LDPHD juga dapat dibagikan ke masyarakat yang ingin menanam dan memelihara kopi tersebut.

Penyeraha benih kopi selanjutnya dikakukan pada Jumat (9/12/2022) di Desa Nipah Kuning. Benih kopi tersebut diserahkan kepada 4 (empat) LDPHD yang terdiri dari LPHD Banjar Lestari, Hutan Bersama, Koembang Betedoeh, dan Alam hijau. Bentuk dan jumlah barang yang diserahkan yaitu:

LDPDH Banjar Lestari: 1.600 benih kopi yang terbagi 1000 Liberika dan 600 Exelsa, 10 unit pot tray, dan 8 Kg polybag.

LDPDH Hutan Bersama: 1.000 benih kopi yang terbagi 300 Liberika dan 700 Exelsa, dan 10 unit pot tray

LDPDH Alam Hijau: 1.600 benih kopi yang terbagi 500 Liberika dan 600 Exelsa, 10 unit pot tray, dan 8 Kg polybag.

LDPDH Koembang Betedoeh: 1.600 benih kopi yang terbagi 600 Liberika dan 1000 Exelsa, 10 unit pot tray, dan 8 Kg polybag.

Foto-foto kegiatan :

Direktur Lapangan Yayasan Palung, Edi Rahman, menyampaikan bahwa beliau sudah bertemu dengan Bupati Kayong Utara, dimana satu hal yang disinggung adalah terkait kopi Kayong yang sudah sampai di Turki dan Spanyol. Sehingga kemungkinan aka nada permintaan besar terhadap kopi.

Selain itu, Edi Rahman mengatakan, mengapa YP menyerahkan benih kopi kepada 6 LDPHD diantaranya adalah ingin menerapkan kepada LDPHD, karena sebelumnya mereka (6 LDPHD) sudah pernah mengikuti Sekolah Lapang Agroforestri Kopi di KKU yang dilaksanakan oleh Balai PSKL Wilayah Kalimantan, pada  bulan Juli lalu.

Selanjutnya, Edi menyampaikan, bantuan bibit kopi yang diberikan kepada LDPHD juga terkait fakta integritas tentang pengembangan agro forestri kopi di Desa Penjalaan sebanyak 30 hektar. Fakta integritas ini dilakukan pada Juli 2022 dan ditandatangani oleh BPSKL Kalimantan, Yayasan Palung, KOJAL Indonesia, KPH, LDPHD Penjalaan dan Kades Penjalaan.

Penandatangan MoU YP, LDPHD Penjalaan dan , KOJAL Indonesia di Banjar Baru, Kalimantan Selatan, tentang Pengembangan Agroforestri Kopi di Zona pemanfaatan. (Foto dok : BPSKL Kalimantan).

Edi Juga menambahkan, pada bulan November 2022 sudah dilakukan penandatangan MoU di Banjar Baru, Kalimantan Selatan, tentang Pengembangan Agroforestri Kopi di Zona pemanfaatan sebanyak 30 ha.

Baca juga :

YP Serahkan 30 Ribu Benih Kopi Kepada 6 LDPHD Binaan di Simpang Hilir

https://pontianak.tribunnews.com/2022/12/14/10-ribu-benih-kopi-diserahkan-yayasan-palung-kepada-enam-ldphd-di-kayong-utara

https://pontianak.tribunnews.com/2022/12/14/10-ribu-benih-kopi-diserahkan-yayasan-palung-kepada-enam-ldphd-di-kayong-utara

https://pontianak.tribunnews.com/2022/12/13/yayasan-palung-salurkan-ribuan-benih-kopi-kepada-6-ldphd-binaan-di-simpang-hilir-kayong-utara

https://pontianak.tribunnews.com/2022/12/13/ini-alasan-yayasan-palung-salurkan-ribuan-benih-kopi-di-kayong-utara

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

EFEK PENCEMARAN SUNGAI TERHADAP ORANGUTAN DAN MANUSIA

Ilustrasi: Tim gabungan menemukan peralatan PETI saat patroli di Kabupaten Sekadau. Foto dok: ruai tv)

Berbagai kerusakan habitat terjadi di sekitar kita. Pencemaran air merupakan satu diantara berbagai masalah terkait lingkungan. Pencemaran air dapat berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan karena beberapa faktor contohnya, limbah cair dan campuran IPAL yang tidak sesuai prosedur dan baku mutu, sampah anorganik non liquid; plastik, limbah kelompok usaha dengan filter yang tidak memenuhi baku mutu, limbah pupuk tumbuhan, limbah pertambangan (termasuk pertambangan tanpa izin). Dampaknya  menyebabkan kualitas air memburuk dan tidak dapat dimanfaatkan oleh manusia. Air dibutuhkan oleh berbagai unsur biotik di lingkungan, karena baik struktur dan fungsi tubuh organisme melibatkan molekul air.  Struktur tubuh manusia, hewan, bakteri, tumbuhan dan organisme hidup lain juga disusun oleh air dengan persentase yang berbeda-beda. Dikutip dari Food and Agriculture Organization (FAO, 2008) terdapat keterkaitan antara keberadaan tumbuhan dengan siklus air tanah, penguapan dan hujan.

Kualitas air di sungai akan sangat buruk dan berdampak pada tidak tersedianya air untuk dikonsumsi dan  MCK pada daerah yang terpapar limbah. Mengutip dari (Suara Kalbar, 2021), “perubahan warna air sungai di Kalimantan Barat sempat terjadi beberapa waktu silam, air sungai menjadi keruh dan tidak bisa digunakan untuk MCK”. Mengutip dari (Antara News Kalbar, 2022), bawasannya “permasalahan pencemaran sungai sangatlah kompleks tidak hanya semata melarang namun juga harus ada solusi permanen untuk alternatif penghidupan bagi masyarakat mengingat  harga emas yang tergolong tinggi’. Pertambangan emas secara tradisional merupakan salah satu upaya penghidupan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perizinan tidak resmi (illegal) menjadi masalah yang semakin memperburuk  keadaan. Satu sisi kita di hadapkan pada permasalahan lingkungan khususnya pencemaran sungai. Di sisi lain, cara tradisional masih menggunakan metode manual dengan standar keselamatan yang sangat minim, sehingga sangat mengancam keselamatan jiwa para penambang. Tentunya hal ini masih menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus segera diselesaikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Sisa dari proses pertambangan, bila tidak dilakukan perlakuan khusus akan sangat berpotensi menimbulkan masalah lingkungan. Masalah yang sering terjadi adalah vegetasi tumbuhan sukar untuk tumbuh diatas pasir, ketika suspensi mengering menyisakan hamparan pasir putih di atas permukaan. Masalah lainnya menyebabkan sungai menjadi keruh dan tercemar oleh campuran suspensi dan koloid. Mengutip dari (IDN Times, 6/2021) bahaya percemaran diperparah karena pemakaian merkuri (hydragyrum).  Tumpahan pelumas mesin (engine oil) dan pemakaian solar. Mesin dengan sistem pembakaran tidak efektif sehingga gas buangan (gaseous exhaust) tergolong berbahaya lebih tinggi (ACS, 2015). IARC (International Agency for Research on Cancer) mengklasifikasikan bahwa gas tersebut termasuk ke dalam karsinogenik kelompok pertama. Vegetasi yang mampu tumbuh di atas permukaan setelah proses kolam tambang ditinggalkan seringkali merupakan tumbuhan invasif. Jenis invasif (bukan asli) yang sering ditemukan adalah cengkodok (Melastoma malabathricum L.) dan jambu monyet (Bellucia pentamera Naudin).

Kelangsungan hidup orangutan dan satwa liar lainnya sangat bergantung pada ketersediaan pakan di areal hutan. Apabila terdapat tambang tak berizin di kawasan habitat satwa liar, khususnya orangutan, tentu menjadi ancaman serius bagi mereka. Kolam yang tersisa setelah proses pertambangan memiliki kualitas air yang buruk, kandungan timah hitam, tembaga, mercuri dan Zinc / seng tergolong tinggi.

Mengingat peranan penting orangutan sebagai spesies payung (umbrella species), ketika orangutan hilang regenarasi hutan juga akan tertanggu. Ketika hutan terganggu maka dampaknya adalah siklus air juga akan terganggu. Air bersih, oksigen, unsur hara tanah, mineral, tumbuhan yang dapat dimakan melibatkan proses yang kompleks. Regenarasi hutan dipengaruhi oleh orangutan dan satwa liar lain di dalamnya, ketika kita menjaga ekosistem hutan tersebut secara tidak langsung kita telah menjaga air dan sungai untuk kita wariskan kepada generasi saat ini dan nanti.

Referensi:

Hamilton, LS; with contribution Dudley, N. Greminger, G. Hassan, N. Lamb, D. Stolton, S & Togneti, S in  Water and Forest, FAO (2008)  p. 3, f. 1

Editor : Erik Sulidra

Penulis : Gunawan Wibisono /PPS,Yayasan Palung)

Yayasan Palung Mengikuti Kegiatan Pameran BIMP-EAGA  ke-25 di Pontianak

Ibu Kartini saat menjelaskan kepada seorang pengunjung yang berkunjung tentang produk hhbk dan produk panganan lokal di stan pameran. (Foto : Salmah/Yayasan Palung).

Yayasan Palung (YP) berkesempatan mengikuti Pameran BIMP-EAGA  ke-25 di Pontianak, pada 23 hingga 26 November 2022.

Dalam kesempatan itu, Yayasan Palung, Disperindag KKU dan Perajin dampingan YP mengikuti pameran dengan menampilkan, mempromosikan dan menjual produk hasil hutan bukan kayu dan produk panganan lokal.

 Selama pameran berlangsung, perajin binaan YP selalu menampilkan aktivitas menganyam (demo menganyam) serta mempromosikan produk anyaman pandan dan produk panganan lokal kepada delegasi dan tamu undangan yang berkunjung ke stan pameran.

Pada kegiatan pameran itu, Kartini berkesempatan menampilkan aktivitas menganyam langsung tikar pandan di stan produk UMKM Kabupaten Kayong Utara, saat melakukan pameran di lokasi pertemuan forum kerja sama ekonomi Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Philipines East ASEAN Growth Area atau BIMP-EAGA ke-25 di Kota Pontianak.

Sumber Video : Kompas TV Pontianak

Kartini, seorang perajin tikar pandan asal Desa Pangkalan Buton, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Kartini yang merupakan perajin binaan Yayasan Palung, berharap tikar pandan tradisional bisa menjadi produk yang dikenal hingga mancanegara.

Baca juga :

YP Mengikuti Pameran BIMP-EAGA ke-25 di Pontianak

Penulis : (Salmah- Assisten Field Officer Program SL Yayasan Palung)

Kelompok Tani Meteor Garden Berhasil Panen Cabai  100 Kg di Lahan yang Mereka Olah

Saat Kelompok Tani Meteor Garden panen Cabai. (Foto : Asbandi/Yayasan Palung).

Pada Rabu (7/12/2022) kemarin, Kelompok Tani Meteor Garden berhasil panen 100 kg Cabai di kebun mereka di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara.

Sekarang tidak perlu bercocok tanam di daerah gunung lagi dan tanpa merusak hutan, kini kelompok tani Meteor Garden telah memanfaatkan lahan dibelakang rumah  mereka masing-masing secara produktif yang kini menjadi pilihan kelompok dampingan Yayasan Palung binaan dari Program Sustainable Livelihood.

Penanaman cabe (Capsicum frutescens) menjadi primadona bagi kelompok tani kami untuk ditanam di karenakan harga jual cabe masih tergolong tinggi. Pada awal pertengahan Agustus sudah melakukan penyemaian dengan luasan lahan 20 x 20 m2 dan jumlah bibit cabe yang ditanam sekitar 1.220 pohon, selain itu juga, mereka menanam tanaman lain seperti jagung, mentimun, terong sebagai tanaman tumpang sari.  

Dan sekarang mereka berhasil memanen hasil dari yang mereka lakukan selama ini, sebanyak 100 kg cabe telah di panen dan di jual seharga Rp. 65.000 sampai Rp. 75.000/Kg ke pengepul maupun pembeli yang langsung dari kebun mereka di bulan Desember ini.

Foto-foto saat panen cabai/cabe :

Abdul Samad, Field Officer dari Program Sustainable Livelihood YP, mengatakan bahwa ini adalah upaya kerja keras mereka dalam menjaga lingkungan dan hutan mereka. Apalagi monitoring rutin yang kami lakukan di setiap bulannya itu membuat mereka memiliki tanggung jawab untuk kami tahu seberapa banyak yang mereka tanam dan mereka hasilkan dari apa yang sudah mereka lakukan selama ini terutama sebagai petani. Dari binaan ini, kami hanya membantu mereka untuk mendapatkan bantuan dari berbagai pihak terkait seperti Pemerintah Desa maupun Pemerintah Daerah dalam bentuk bantuan benih atau peralatan untuk mendukung pertanian mereka.

Seperti diketahui, Mereka selalu gotong royong ketika mengolah lahan, menanam ataupun saat panen. Berharap mereka (kelompok tani Meteor Garden) bisa semakin maju, mandiri dan berkembang.

Baca juga :

https://pontianak.tribunnews.com/2022/12/08/kelompok-tani-meteor-garden-kayong-utara-bersama-yp-berhasil-panen-cabai-100-kg

Pit-Yayasan Palung

YP Adakan Pelatihan Bisnis Plan Bagi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial di Wilayah Hutan Desa

Semua peserta yang mengikuti pelatihan Bisnis Plant berfoto bersama. (Foto : Hendri Gunawan/Yayasan Palung).

Yayasan Palung bekerjasama dengan Fauna and Flora International (FFI) melakukan kegiatan pelatihan Bisnis Plan terhadap KUPS di beberapa wilayah hutan desa di Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara, pada Senin hingga Selasa, (28-29/11/ 2022).

Kegiatan pelatihan Bisnis Plan dibuka langsung oleh Ibu Nurmala, Perwakilan dari kecamatan Simpang Hilir.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Pertemuan Kantor Kecamatan Simpang Hilir  tersebut dihadiri oleh 27 peserta yang merupakan perwakilan dari  Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS)  perwakilan dari 6 Hutan Desa (Padu Banjar, Pulau Kumbang, Pemangkat, Nipah Kuning,   Penjalaan,  dan Rantau Panjang) di wilayah hutan desa di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Hadir pula perwakilan dari Bumdes Desa Pulau Kumbang dan Padu Banjar.

Hendri Gunawan, selaku Koordinator Program Hutan Desa, mengatakan, adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain adalah untuk Membekali KUPS dan Bumdes di wilayah hutan desa agar memiliki pemahaman dan pengetahuan secara mendalam tentang pentingnya perencanaan dan pengelolaan usaha yang tepat serta manfaat bisnis plan. Selain itu, KUPS dan Bumdes dapat menyusun dan memahami perencanaan dan pengelolaan usaha bagi usaha yang telah dijalankan. Selanjutnya juga, KUPS dan Bumdes memahami konsep manajemn produksi dan operasi, manajemen sumber daya manusia dan manajemen keuangan kelompok. KUPS dan Bumdes memahami tehnik analisis investasi dan manajemen strategi terkait  pengembangan kinerja kelompok. Berharap peserta pelatihan dapat memahami tehnik penyusunan business plan yang efektif. Selanjutnya juga pelatihan ini sebagai forum bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan usaha.

Sebagai pemateri pada pelatihan tersebut adalah ibu Ningrum. Ningrum merupakan salah satu penggiat UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut, peserta pelatihan dibekali dengan ragam materi diantaranya adalah materi tentang ; Analisis Pasar dan Pemasaran(Segmentasi Konsumen, Nilai-nilai Produk yang Ditawarkan, Saluran Distribusi, Sumber Pendapatan Utama, Hubungan dengan Pelanggan/Pasar, Kegiatan Kunci, Sumber Daya Kunci Yang Dimiliki, Mitra Kunci dan Struktur Biaya).

Selain itu ada pula ibu Ningrum selaku pemateri menyampaikan materi tentang  (Kerangka Manajemen Produksi, Perencanaan dan Penjadwalan Operasi, Manajemen Persediaan , Manajemen Mutu, Anggaran Biaya Operasi dan lain-lain).

Selanjutnya juga disampaikan materi tentang Analisis Keuangan (proyeksi, pendapatan dan pengeluaran. Disampaikan pula materi tentang Pengembalian modal, pengembalian atas investasi, perhitungan penggunaan Biaya dan lain sebagainya. Ada pula materi tentang Analisis Rencana Pengembangan Usaha dan Pemasaran.

Pada hari kedua pelatihan, Selasa (29/11), ibu Ningrum selaku pemateri memberikan materi pelatihan kepada peserta pelatihan tentang Pembuatan Packaging Produk Dalam Upaya Meningkatkan Produk Usaha Kecil Menengah.

Sebagai moderator dalam pelatihan bisnis plan tersebut adalah Edi Rahman yang juga merupakan Direktur Yayasan Palung.

Disampaikan pula materi tentang Pelatihan Pengembangan Produk Makanan Berbahan Baku Nanas. Ada pula Praktek Pengembangan Produk Makanan Berbahan Baku Nanas yang berupa stik nanas dan kerupuk nanas.

Diakhir kegiatan, peserta diajak untuk diskusi dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) oleh Yayasan Palung (YP) dan Fauna and Flora International (FFI).

Baca juga :

https://pontianak.tribunnews.com/2022/12/07/pelatihan-business-plan-yp-harap-kups-di-kayong-utara-pahami-pengelolaan-dan-rencana-usaha

https://kumparan.com/petrus-kanisius/yp-adakan-pelatihan-bisnis-plan-bagi-kups-di-wilayah-hutan-desa-1zNz2i03M2B

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

YP Adakan Pelatihan Guru, Ajak Guru Implementasikan Pendidikan Konservasi di Sekolah

Cerita Bernita Purba, S.Hut dari TANAGUPA saat menyampaikan materi pada pelatihan Guru yang diselenggarakan oleh Yayasan Palung di SD Negeri 28 Penjalaan. (Foto : Rudi-Yayasan Palung)

Tidak kurang 12 guru berkesempatan mengikuti Pelatihan (training) Guru, pada Rabu (30/11/2022). Kegiatan tersebut diadakan oleh Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung di SD Negeri 28 Penjalaan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Pelatihan Guru tersebut sebagai salah satu ajakan kepada guru untuk mengimplementasikan pendidikan konservasi di sekolah.

Manajer Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung, Widiya Octa Sefiany, pada kesempatan tersebut mengucapkan berterima kasih kepada pihak sekolah yang telah memberikan tempat untuk berkegiatan.

Lebih lanjut Widiya, sapaan akrabnya mengatakan, “Bulan November merupakan bulan spesial bagi pahlawan tanpa tanda jasa ialah guru, 25 November merupakan hari guru, hari dimana seluruh dunia mengenang jasa seorang guru. Program pendidikan lingkungan Yayasan Palung ikut serta mengucapkan terimakasih kepada seluruh guru yang ada di Indonesia. Sebagai bentuk dedikasi program pendidikan lingkungan terhadap pendidikan, program pendidikan lingkungan telah melaksanakan kegiatan Training Guru, dengan harapan guru sebagai perpanjangan tangan mengimplementasikan pendidikan konservasi ke siswa-siswi karena guru adalah sumber ilmu yang mendidik generasi bangsa.”

Dalam pelatihan guru tersebut, tidak hanya diikuti oleh SDN 28 Penjalaan tetapi juga diikuti oleh MIS Insan Kamil.

Sebagai pemateri dalam kegiatan pelatihan Guru tersebut antara lain adalah Cerita Bernita Purba dari pihak dari Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) yang menyampaikan materi tentang; Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Palung Sebagai Habitat Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii).

Materi kedua pada pelatihan guru disampaikan adalah Simon Tampubolon dari Yayasan Palung, yang menyampaikan materi tentang; Konservasi Orangutan dan Habitatnya.

Tidak hanya itu, pada kesempatan tersebut Riduwan dari Yayasan Palung menyampaikan materi tentang;  Gaya Hidup Ramah Lingkungan.

Foto-foto kegiatan :

Selanjutnya juga semua peserta pelatihan guru di ajak untuk berdiskusi tentang Implementasikan Pendidikan Konservasi di Sekolah.

Dari diskusi tersebut, pihak sekolah menyambut baik dengan diadakannya pelatihan guru. Mashadi, selaku kepala SDN 28 Penjalaan, sangat berharap di tahun-tahun mendatang kegiatan serupa bisa terus dilakukan di sekolahnya.

Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah.

Baca juga :

https://pontianak.tribunnews.com/2022/12/06/gelar-pelatihan-di-kayong-utara-yp-ajak-guru-implementasikan-pendidikan-konservasi-di-sekolah

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/638eaec54addee39f95889d2/yp-adakan-pelatihan-guru-ajak-guru-implementasikan-pendidikan-konservasi-di-sekolah

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

PENTINGNYA KEBERADAAN ORANGUTAN  UNTUK REGENARASI HUTAN

Orangutan. (Foto : Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Orangutan termasuk ke dalam keluarga kera besar atau disebut sebagai bagian dari Hominidae.  Penelitian tentang divergensi genetik menunjukan kekerabatan (phylogenetic)  orangutan 97% mirip dengan manusia (Locke et al., 201). Terlepas dari adanya kemiripan tersebut, terdapat perbedaan yang membantu kita memahami hubungan antara orangutan dan manusia. Orangutan memiliki persebaran yang luas terkhusus di Asia Tenggara termasuk Kalimantan Barat untuk jenis dengan nama ilmiah Pongo pymaeus (Ancrenaz et al., 2016). Secara spesifik terbagi menjadi dua subspesies yaitu Pongo pygmaeus ssp. pymaeus dan Pongo pygmaeus ssp. wrumbii . Masyarakat lokal di Kalimantan akrab mengenal dengan berbagai nama diantaranya mayas dan untek (Ancrenaz et al., 2016a, 2016b). Keberadaan orangutan di Kalimantan bahkan diabadikan sebagai nama Bukit (Bt. Mayas). Berdasarkan IUCN (2016) status Pongo pygmaeus terancam kritis (Critically Endangered: CR).

Orangutan merupakan satwa dengan makanan utama buah-buahan (frugivora). Mereka memiliki hubungan yang sangat penting dengan kelestarian hutan. Istilah penebar biji (seed-dispersing effect) tidak diragukan lagi melekat pada satwa berbulu merah kecoklatan ini, bahwa orangutan berperan penting dalam menjaga kelestarian jenis tumbuhan hutan. Efek yang berkebalikan juga berlaku yaitu proses memenuhi kebutuhan nutrisi harian orangutan juga bergantung pada hutan. Kesinambungan antara orangutan dan hutan memang tidak dapat dipisahkan. Keseharian orangutan tidak lepas dari menganyam sarang untuk tempat berteduh dan istrihat. Jenis pohon yang dijadikan sebagai tempat untuk menganyam sarang sangat bervariasi, seringkali ditemukan pada pohon yang memiliki elastisitas tinggi dan kokoh, contohnya ulin atau belian (Eusideroxylon zwageri), Meranti (Shorea; Shorea dasyphylla, Shorea leprosula) dan Kumpang (Myristicaceae). Masalah yang terjadi adalah diantara pohon tersebut memiliki nilai komersial terkait potensi kayu yang kokoh dan berkualitas.

Beberapa jenis yang dapat ditemukan di gambut dan sering menjadi target illegal logging untuk diambil kayunya yaitu nyatoh (Palaquium spp.) dan meranti (Shorea platycarpa). Jenis tersebut juga merupakan pohon yang buahnya dikonsumsi oleh orangutan. Selain itu pohon penyusun hutan yang hilang dapat menyebabkan terancamnya populasi berbagai liana dan tumbuhan epifit yang sering ditemukan di batang dan tajuk pohon. Berbagai dampak negatif seperti hilangnya ekosistem tertentu dapat terjadi dan mengakibatkan ketidakstabilan lingkungan. Sebagai contoh, regenerasi gambut dapat terganggu, berdampak pada minimnya resapan, sehingga berpotensi menimbulkan banjir. Hutan beserta isinya menyediakan berbagai hasil alam yang dapat dinikmati umat manusia. Beberapa contoh yang paling dekat dengan kita adalah oksigen untuk bernafas, air bersih dengan tingkat keasaman yang aman untuk diminum, mencuci serta berbagai kegiatan di kehidupan sehari-hari. Berbagai aspek yang saling terkait tersebut menjadi alasan petingnya menjaga orangutan dan hutan itu sendiri.

Beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk menjaga habitat orangutan antara lain restorasi habitat, yaitu penanaman bibit pohon secara insitu, kemudian tidak melakukan illegal logging, serta penyadartahuan  masyarakat terkait fungsi hutan, menumbuhkan kecintaan akan alam sekitar sedari dini. Menjaga dan melestarikan habitat orangutan berarti secara tidak langsung kita telah terlibat dalam menjaga kelangsungan kehidupan di bumi.

Baca juga :

https://monga.id/2022/11/pentingnya-keberadaan-orangutan-untuk-regenarasi-hutan/

Penulis : Gunawan Wibisono- Ahli Botani dan  Koordinator Survei Yayasan Palung