Ida Saparida, Peraih Penghargaan Disney Conservation Fund 2019

Ida Saparida terpilih menjadi salah satu pahlawan konservasi Disney Conservation Fund (DCF) 2019. Ida merupakan peserta dari Indonesia yang mendapatkan penghargaan untuk 50 orang dari 50 negara di seluruh dunia ini.

Perjalanan Ida bermula pada Agustus 2011, ketika mengikuti pelatihan dan lokakarya dari Program Konservasi Orangutan Gunung Palung (Gunung Palung Orangutan Conservation Program/ GPOCP). Ia pun mulai mengembangkan komunitas pengrajin. Berkat dukungan jaringan dari GPOCP, Ibu Ida mampu mengembangkan strategi untuk meraih pembeli yang lebih luas melalui kerja sama dengan distributor swasta dan pemerintah.

Sumber Berita, Artikel Kompas.com dengan judul “Ida Saparida, Peraih Penghargaan Disney Conservation Fund 2019”, https://lifestyle.kompas.com/read/2020/02/07/091637820/ida-saparida-peraih-penghargaan-disney-conservation-fund-2019

Catatan Perjalanan Field Trip Kelas UPW1 SMKN 1 Ketapang di Lubuk Baji

Peserta Field Trip dari SMKN 1 Ketapang di Lubuk Baji beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung

Kegiatan Field Trip SMKN 1 Ketapang berlangsung selama 3 hari 2 malam, pada tanggal 28-30 Januari 2020, di Lubuk Baji, Taman Nasional Gunung Palung. Kegiatan ini diikuti oleh peserta berjumlah 21 orang merupakan siswa/i kelas XII UPW 1 SMKN 1 Ketapang, 1 guru pendamping (Bapak Syarifudin) dan alumni UPW (Wahyu). Kegiatan ini didampingi oleh Tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung yang terdiri dari staf dan relawan yaitu Riduwan (Yayasan Palung), Ari Marlina (Penerima WBOCS), Nun Ahmad dan Ahmad Siddiq Nur Hasan (RK-REBONK).

Pada jam 8 pagi sebelum keberangkatan, siswa/i dibantu oleh tim pendamping dari YP (Ari Marlina) untuk mengecek barang bawaan dan packing siswa. Setelah itu bersiap-siap untuk berangkat menuju Bentangor (kantor lapangan Yayasan Palung), lama perjalanan kurang dari 2 jam untuk menjemput tim pendamping dari YP yang lain yaitu yaitu Riduwan, Siddiq dan Nun. Sesampainya di Bentangor, rombongan dipersilahkan untuk istirahat sejenak, makan dan melaksanakan sholat bagi yang muslim. Setelah semua siap, semuanya melanjutkan perjalanan menuju Lubuk Baji.

Tiba di Dam Begasing (kaki Lubuk Baji), peserta dibriefing oleh Riduwan dari YP, menyampaikan poin-poin terkait yang akan dilaksanakan selama kegiatan fieldtrip,  sambil mengabsen peserta yang sudah dibentuk menjadi 4 kelompok, yaitu Bekantan (Eko, Radino, Lilis, Nani, Aulia, Novi), Ulat Bulu (Abdus, Fathurahman, Kartini, Vita, Meli), Undur-Undur (Fathurrahim, Maulana, Ammar, Nita, Yuni), Orangutan (Guntur, April, Sendi, Yopi dan Alipa). Dilanjutkan perkenalan tim dari Balai TNGP yaitu Toni Herpandes, Rama dan 2 lainnya. Toni menyampaikan hal-hal penting terkait Lubuk Baji seperti tidak boleh  membuang sampah sembarangan, berkata kotor dan tetap menjaga kebersihan area camp selama kegiatan berlangsung, setelah itu semuanya melanjutkan perjalanan menuju camp. Selama dalam perjalanan, peserta diarahkan untuk mengamati dan melihat-lihat spot-spot menarik bagi wisatawan, sampai akhirnya tiba dicamp. Hal itu bertujuan untuk mengajarkan peserta tentang potensi wisata yang dimiliki kawasan Lubuk Baji, yang nantinya akan dikemas menjadi sebuah paket wisata.

Setibanya di camp, peserta melakukan bersih-bersih camp, membongkar barang bawaan, termasuk mengumpulkan logistik untuk menjadi bahan makanan selama fieldtrip berlangsung.

Materi dalam kegiatan ini adalah pengamatan satwa malam, pengamatan satwa pagi, inventarisasi tumbuhan, dan membuat paket wisata tentang Lubuk Baji. Semua materi, selain penyampaian teori juga terdapat praktek dan presentasi. Ekksplorasi ke batu bulan gagal dikarenakan kondisi hujan lebat hingga tengah hari.

Materi di hari pertama adalah pengamatan satwa malam, diawali dengan penjelasan dari Nun sekitar jam 7 malam, dilanjutkan dengan turun lapangan setiap kelompok berbeda jalur pengamatan, terdapat 4 kelmpok sehingga juga terdapat 4 jalur pengamatan. Metode yang digunakan adalah metode point census, yaitu dengan menyusuri jalur utama yang dibuat hanya 50 meter (sebenarnya 100 meter), dengan masuk sub plot maksimal sebelah kanan 5 meter dan kiri 5 meter. Data lapangan ditulis pada tally sheet yang terdiri dari nomor, nama binatang, lokasi pengamatan, keadaan lokasi pengamatan, waktu ditemukannya, ciri-ciri satwa dan aktivitas satwa. karena di malam hari, mereka juga harus berhati-hati selama pengamatan. Setelah kembali ke camp siswa mempresentasikan hasil pengamatan menggunakan kertas plano, hasilnya sebagian besar kelompok menemukan serangga, ada juga yang menemukan kelelawar, siput, katak, laba-laba, ulat, kecoa hutan, sejenis bunglon, dan jangkrik. Setelah sesi presentasi, Riduwan menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan keesokan harinya, yaitu pengamatan satwa  siang atau diurnal mengenai metode dan apa saja yang perlu dipersiapkan.

Hari Kedua, sekitar pukul 05.00 WIB, mereka bersiap-siap untuk melakukan pengamatan. Pengamatan satwa pagi kurang lebih sama metodenya, satwa yang ditemukan juga sebagian besar serangga, keriang dan tupai, namun ada juga kelompok yang menemukan kelempiau dan burung tetapi tidak melihat langsung hanya dari mendengar. Dengan 2 pengamatan satwa berbeda waktu ini diharapkan siswa dapat pembelajaran tentang satwa nocturnal dan diurnal di type habitat yang sama.

Saat peserta melakukan pengamatan satwa pada malam hari di jalur sekitar Camp Lubuk Baji. Foto dok : Yayasan Palung

Setelah istirahat untuk masak, makan dan mandi, materi yang disampaikan adalah Inventarisasi pohon. Metode yang digunakan adalah metode petak ganda, yaitu dengan menggunakan plot 40 m persegi saja untuk simulasi (sebenarnya 20 x 20 m). Tabel tally sheet adalah nomor, nama tumbuhan, keliling pohon, diameter, dan kategori (tumbuhan kategori pancang / tiang / pohon besar). Peserta juga mendapat penjelasan tentang bagaimana pohon normal, bercabang dan berbanir, bagaimana cara menghitung kelilingnya, bagaimana cara menentukan diameter serta alat dan bahan apa saja yang diperlukan. Peserta tampak antusias dan terlihat tertarik sekali dengan materi inventarisasi pohon ini, karena banyak yang bertanya dan rasa penasaran mereka sangat tinggi, mereka juga tampak bersemangat mulai dari mendengarkan materi yang disampaikan sampai praktek di lapangan. Dari presentasi yang disampaikan oleh semua kelompok, rata-rata hasil inventarisasi setiap kelompok sebagian besar menemukan tingkatan jenis tiang (diameter 11-19cm) sampai pohon (> 20cm), hanya beberapa saja yang menemukan pohon besar (> 40cm). Karena memang vegetasi di Lubuk Baji masih tergolong padat dengan tajuk pohon yang lebat.

Peserta fieldtrip saat melakukan pengukuran pohon. Foto dok : Yayasan Palung

Sore hari di hari kedua, peserta mulai memasuki materi sesuai dengan jurusan mereka yakni Pariwisata, sebelumnya pihak Balai TNGP, Rama dan Toni sebagai pengantar materi, menjelaskan tentang Taman Nasional, kemudian tentang kawasan Lubuk Baji. Rama menyampaikan terkait biaya-biaya yang dikenakan ketika akan memasuki kawasan tersebut, seperti biaya administrasi, tiket masuk, penginapan di camp, sampai akhirnya peserta diberi tugas untuk menyusun paket wisata sesuai dengan yang telah mereka pelajari di sekolah. Setelah itu pak Syarifudin pun menyampaikan materi bagaimana cara presentasi yang baik dan benar, bagaimana cara mempromosikan paket wisata yang benar, dan cara menawarkan paket wisata yang telah dibuat.

Pada penyusunan paket wisata, kita perlu memperhatikan beberapa aspek, dimulai dari akses perjalanan, transportasi, akomodasi, biaya administrasi dan fasilitas, dimana semua itu digabung menjadi satu yang biasa disebut produk (paket wisata). Kali ini Lubuk Baji menjadi objek utama yang akan ditawarkan, dengan biaya administrasi yang sudah dijelaskan, lalu dikemas. Peserta menyusun paket wisata dengan menonjolkan potensi Lubuk Baji yang menarik dengan biaya yang sudah ditotalkan.

Pada malam ketiga, sesi presentasi paket wisata yang telah disusun oleh peserta, peserta yang tampil akan dianggap sebagai Biro Perjalanan Wisata dan peserta lain sebagai calon wisatawan. Semuanya berjalan dengan baik, kesalahan menjadi bahan evaluasi, dan setiap peserta yang bertanya, pertanyaannya menjadi bahan diskusi. Peserta banyak menawarkan paket wisata, dengan potensi yang menarik dilihat dari jenis Flora yaitu Liana, Ficus, pohon Ulin/Belian, Dipterocarpaceae/meranti-merantian. Dan Fauna diantaranya Orangutan, Kelasi, dan masih banyak lagi. Tim Pendamping dari YP dan Balai TNGP juga ikut berpartisipasi dengan menjadi calon wisatawan sebagai salah satu cara untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan ketika peserta presentasi.

Sebelum beristirahat, Nun menjelaskan tentang beberapa pertanyaan peserta tentang liana dan orangutan. Salah satu peserta bertanya, kenapa orangutan itu tidak berwarna hitam, kenapa hanya ada berwarna merah atau coklat? Dan Nun menjawab kalau hitam itu ada, yaitu Gorilla, dan Orangutan memang warna spesifiknya merah/coklat maupun jingga tergantung spesiesnya.

Pada hari ketiga, ada satu kegiatan yang tidak terlaksana, yaitu mendaki ke Batu Bulan, dikarenakan hujan deras dan berlangsung hingga siang, maka hal itu tidak dilaksanakan demi keamanan dan kenyamanan bersama. Sebelum meninggalkan camp Lubuk Baji, pak Syarifudin mengarahkan seluruh peserta untuk bersiap-siap dan membereskan barang-barang baik pribadi maupun kelompok. Dan setelah itu, peserta dan seluruh komponen berkumpul. Pak Syarifudin selaku guru pembimbing mengucapkan terimakasih kepada Yayasan Palung dan BTNGP atas waktu dan bimbingan yang diberikan kepada sekolah untuk mengajarkan siswa/i selama Field Trip berlangsung, dan permohonan maaf apabila ada kesalahan yang dilakukan baik disengaja maupun tidak. Pihak Yayasan Palung yang diwakili oleh Riduwan, menyampaikan hormat dan terimakasih atas ikut sertanya peserta dan kesabaran mereka dalam mengikuti kegiatan, walaupun ada kekecewaan yang terjadi seperti peserta yang terlambat datang ketika disuruh berkumpul, namun itulah proses belajar. Toni sebagai perwakilan dari Balai Taman Nasional Gunung Palung juga mengucapkan banyak terimakasih karena sudah mau mendengarkan dan tetap menjaga alam dan berkegiatan sebagaimana porsinya. Setelah itu, dari sekolah mengadakan aksi bersih-bersih camp, dengan memungut sampah anorganik dan dimasukan kedalam plastik sampah besar dan dibawa turun kebawah. Kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan ditutup dengan doa.

Ditulis oleh Riduwan (YP) dan Ari Marlina (WBOCS)

Editor : Mariamah Achmad (YP)

Yayasan Palung Gelar Pelatihan Peningkatan Kualitas Produk Pandan di Kabupaten Kayong Utara

Sebanyak 31 peserta mengikuti pelatihan yang bertajuk “Pelatihan Peningkatan Kualitas Produk Pandan”, di Galeri Dekranasda Kabupaten Kayong Utara. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yaitu 29 Januari hingga 30 Januari 2020.

Kegiatan tersebut diselenggarakan Tim Sustainable Livelihood Yayasan Palung, yang terdiri dari F Wendi Tamariska, Abdul Samad, Salmah, dan Asbandi. Mereka berkegiatan melibatkan para kelompok pengrajin binaan. Kelompok tersebut memanfaatkan hasil hutan bukan kayu atau HHBK di Kabupaten Kayong Utara.

Salmah, Asisten Program SL Yayasan Palung mengatakan, “Pada kegiatan pelatihan tersebut diikuti 4 kelompok dampingan Yayasan Palung seperti dari IDA Craft, Peramas Indah, ResamKU dan Karya Sejahtera.”

Sedangkan yang menjadi pelatih dalam kegiatan tersebut adalah Ibu Saparida dan asistnenya Sadik dari Sanggar Lubuk Baji. Dalam kegiatan itu, dihadiri pula oleh perwakilan Dinas Perdagangan Kabupaten Kayong Utara dan Dekranasda Kabupaten Kayong Utara dan ibu Meri Tobing dan Andi Perwakilan dari NTFP-EP Indonesia sebagai lembaga mitra bagi Yayasan Palung.

Beberapa kreasi cantik anyaman pun tercipta pada kegiatan pelatihan untuk peningkatan kualitas produk pandan itu, seperti lampion, alas piring, alas gelas dan anyaman motif tikar Pandan seperti motif Tukuk Garam dan motif Corak Serong, kata Salmah.

Pada hari kedua kegiatan pelatihan (30/1), walaupun kondisi hujan lebat tapi tidak menurunkan semangat peserta. Mereka tetap semangat datang demi mendapatkan ilmu agar bisa belajar dan memperbaiki kualitas produk yang akan mereka buat.

Selain itu, berharap pula bagi peserta yang mengikuti pelatihan bisa mendapatkan ilmu baru (mempraktikkan) apa disampaikan oleh pelatih dan asisten pelatih dalam kegiatan tersebut”, ujar Salmah.

Semua peserta yang hadir mengikuti serangkaian pelatihan itu pun sangat bersemangat dan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut pun berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta. Diakhir kegiatan semua peserta berkesempatan untuk berfoto bersama.

Tulisan ini dimuat juga di :

https://pontianak.tribunnews.com/2020/02/04/yayasan-palung-gelar-pelatihan-peningkatan-kualitas-produk-pandan-di-kku

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Asyiknya Bisa Belajar Langsung di Alam Bersama Relawan

Para Relawan Rebonk Saat melakukan Survei dan menghitung keliling pohon. Foto Dok : Yayasan Palung

Sesekali relawan Rebonk berseloroh satu dengan yang lainnya, mereka terlihat begitu asyiknya bercerita sepanjang perjalanan menuju Camp Lubuk Baji, pada  25-26 Januari 2020, kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, mereka (relawan Rebonk) bisa belajar bersama secara langsung. Mungkin kata itu yang cocok untuk dikatakan, ketika Relawan Bentangor untuk Konservasi (Rebonk) mengadakan fieldtrip (belajar langsung di alam) di Lubuk Baji, di Kawasan Penyangga TANAGUPA (Taman Nasional Gunung Palung).

Beberapa kegiatan seperti bagaimana cara mengukur diameter, keliling pohon dan berapa rata-rata ukuran pohon. Mereka (relawan) juga diajak untuk menentukan kategori pohon, seperti; tiang, pancang dan pohon. Pada kesempatan tersebut, Riduwan dari Yayasan Palung yang juga sebagai Pembina relawan rebonk berkempatan memberikan ilmunya untuk belajar bersama relawan.

Berikut beberapa foto kegiatan :

Pada kesempatan kedua, sebagai pemateri adalah Simon Tampubolon dari Yayasan Palung berkesempatan memberikan materi tentang survei satwa. Pada survei satwa, relawan Rebonk diajak untuk mengetahui dasar-dasar survei satwa. Mereka diajak untuk melakukan simulasi survei tentang satwa. Masing-masing peserta diajak untuk mengidentifikasi satwa seperti satwa tersenyum dan satwa sedih (simulasi; mengadaikan satwa dengan menggunakan kertas dengan tanda senyum dan tanda sedih). Selanjutnya, tugas dari dari peserta adalah mencari hewan-hewan tersebut.

Kegiatan ini merupakan dua kegiatan inti yang mereka lakukan selama dua hari berkegiatan (fieldtrip), selain itu juga ada kegiatan seperti diskusi terkait konservasi yang dipandu oleh Petrus Kanisius dan Simon Tampubolon, Riduwan dan Toni rekan dari BTNGP yang pada saat itu mendampingi kami selama berkegiatan. Teman-teman relawan diajak melakukan diskusi tentang hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk konservasi.

Pada kegiatan survei satwa misalnya, para relawan Rebonk angkatan ke 8 dan 9 diberikan materi (pengetahuan dasar) tentang konservasi belajar secara langsung di alam sekaligus pengembangan kapasitas mereka sebagai relawan. Selain juga sebagai pengetahuan tambahan bagi mereka tentang konservasi lebih khusus tentang survei satwa dan survei pohon. Kegiatan fieldtrip yang dilakukan ini sebagai bentuk apresiasi dari Yayasan Palung kepada para relawan Rebonk.

Pada pagi hari, di hari kedua (26/1/2020) kegiatan fieldtrip, 24 peserta yang ikut kegiatan tersebut berkesempatan untuk berekreasi sekaligus melakukan pengamatan pagi. Beberapa orang yang beruntung berhasil berjumpa dengan si sirene rimba ( Kelempiau) di Batu Bulan dan Batu Gerbang yang satu jalur serta Batu Pahat sebagai tempat melihat kelempiau, di Kawasan Lubuk Baji.  Selanjutnya mereka melakukan operasi semut/bersih-bersih  (membersihkan sampah-sampah) di sekitar Camp dan jalan pulang.

Selanjutnya setelah melakukan bersih-bersih kami menyudahi semua rangkaian kegiatan fieldtrip. Di tengah perjalanan pulang, beberapa orang peserta berhasil berjumpa dengan orangutan induk dan anakan (orangutan betina dan anaknya) sedang  bermain-main di pohon, tetapi sayangnya tidak sempat mengabadikan fotonya karena cukup jauh.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta. Berharap ada waktu lagi untuk berkunjung ke Lubuk Baji.

Tulisan ini dimuat di :

https://pontianak.tribunnews.com/2020/01/29/belajar-langsung-di-alam-relawan-rebonk-berjumpa-kelempiau

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berbagi Cerita tentang Perilaku dan Pakan Orangutan Liar di Gunung Palung pada Kegiatan Kolokium di Kalimantan Timur

Pembukaan kegiatan Kolokium oleh Kepala Balitek KSDA Samboja, Kaltim, Bapak Dr. Ishak Yassir. Foto dok : Yayasan Palung

Yayasan Jejak Pulang (Four Paws) bekerjasama dengan Balitek KSDA Samboja mengadakan kegiatan Kolokium yang juga mengundang Yayasan Palung. Kegiatan ini dilaksanakan di Balitek KSDA Samboja, Kalimantan Timur dari tanggal 18-20 Januari 2020, kemarin.

Adapun tema dari Kolokium ini adalah “Pengembangan Kompetensi Pakan Orangutan dalam Rehabilitasi Orangutan”.

Materi yang disampaikan diantaranya; Pertama, Pengembangan kompetensi pakan dalam rehabilitasi orangutan oleh Yayasan Jejak Pulang. Selanjutnya, Ukuran ketersediaan makanan di sekolah hutan KHDTK oleh Balitek KSDA Samboja. Ada pula materi tentang Ekologi pohon pakan orangutan liar di Gunung Palung dan cara mengidentifikasi jenis pakan orangutan oleh Yayasan Palung.

Adapun tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kerja sama antar lembaga terkait konservasi orangutan. Selain itu, tujuan utama dari kegiatan ini adalah sharing tentang ekologi pohon pakan Orangutan liar di Gunung Palung, Mengetahui jenis dan bagian apa saja yang di makan Orangutan liar dan mengetahui bagaimana perilaku Orangutan liar.

Simulasi identifikasi jenis pohon dan phenology yang dilakukan di KHDTK Samboja. Foto dok : Yayasan Palung

Pada kesempatan tersebut, Ella Brown, Manager Stasiun Riset Cabang Panti Yayasan Palung (GPOCP) menyampaikan materi tentang Ekologi Pohon Pakan Orangutan liar di gunung Palung. Sedangkan Andre Ronaldo, botanis dari Yayasan Palung (GPOCP) menyampaikan materi tentang Identifikasi Jenis Pohon Pakan Orangutan di Gunung Palung.

Ella Brown saat menyampaikan presentasi dalam kegiatan Kolokium di Balitek KSDA Samboja. Foto dok : Yayasan Palung

Ella sapaan akrabnya mengatakan, “Pada saat musim berbuah (Masting) Orangutan di Gunung Palung lebih suka mengkonsumsi buah bahkan hampir 90 % mereka mengkonsumsi buah, sementara jika musim buah berakhir Orangutan akan mencari alternatif makanan lain seperti daun muda, kulit pohon dan rayap”

Ella menambahkan “Orangutan Liar di Gunung Palung juga lebih senang hidup pada habitat rawa gambut karena disana jenis tumbuhan lebih bervariasi untuk mencukupi kebutuhan makan Orangutan”

Kemudian, Andre Ronaldo juga mengatakan, “Orangutan merupakan hewan frugivora, makanan utamanya merupakan buah, makanan lain hanya selingan saja. Orangutan sangat menyukai buah yang bertekstur lembut, namun sama seperti manusia, setiap individu Orangutan punya selera makan yang berbeda-beda, jadi tidak bisa di simpulkan Orangutan satu dan yang lain punya makanan favorit dari jenis yang sama”.

Andre Ronaldo, saat menyampaikan presentasi dalam kegiatan Kolokium di Balitek KSDA Samboja. Foto dok : Yayasan Palung

“Beberapa makanan yang umum disukai oleh Orangutan diantaranya adalah Nangka hutan (Artocarpus fulvicortex), kayu ara (Ficus dubia), Teratung (Durio oxcleyanus), Jantak (Willugbheia angustifolia), Punak (Tetramerista glabra), Jambu-jambuan (Syzygium spp), Belimbing darah (Baccaurea angulata), Mempisang (Maasia sumatrana), Kayu batu (Irvingia malayana), Rengas (Melanochyla fulvinervis), Daun emas (Fordia splendidissima), Nyatoh (Madhuca kingiana), Keruing (Dipterocarpus sublamellatus) dan masih banyak yang lainnya. Buah-buahan tersebut sangat penting untuk memenuhi kebutuhan Orangutan dalam pertumbuhan dan perkembangbiakannya”, jelas Andre.

Sementara itu, Dr. Signe Preuschoft, selaku Direktur Yayasan Jejak Pulang, mengatakan, “Kami bukan ahli ekologi dan botani, kami hanya ahli perilaku Orangutan, kami melakukan rehabilitasi saja, maka kami sangat perlu sharing dengan teman-teman Yayasan Palung agar rehabilitasi Orangutan kami bisa berhasil”.

Tidak hanya itu, selain Kolokium, adapula kegiatan simulasi identifikasi jenis pohon dan phenology yang dilakukan di KHDTK Samboja, kemudian kunjungan ke Herbarium Wanariset Samboja.

Dari kegiatan ini Yayasan Jejak Pulang berharap bisa belajar dari Riset yang dilakukan oleh Yayasan Palung terhadap Orangutan liar sebagai acuan pengembangan pengelolaan Rehabilitasi Orangutan yang mereka lakukan.

Penulis : Andre Ronaldo-Yayasan Palung

Editor : Pit-YP