
Berikut ini fakta menarik tentang orangutan:
3. DNA Mirip Manusia: Orangutan memiliki kemiripan DNA dengan manusia sebesar 97%
4. Sangat Terancam Punah: Orangutan terancam oleh perburuan dan kehilangan sebagian besar habitatnya
5. Mamalia Arboreal: Orangutan menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di atas pohon
6. Mengasuh Anaknya: Induk orangutan mengasuh anaknya hingga mandiri selama 6-8 tahun
7. Si Petani Hutan: Meregenerasi hutan dengan menyebarkan biji-bijian dari buah yang dimakan
8. Spesies Payung: Melindungi orangutan secara tidak langsung melindungi spesies lainnya
9. Hewan Soliter: Orangutan liar lebih sering beraktivitas sendiri (tidak berkelompok)
10. Hewan Frugivora: Makanan orangutan terdiri 60% buah-buahan, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu, 10 % serangga (rayap dan semut).
Narasi & Ilustrasi Gambar: Simon Tampubolon
#faktaorangutan #fakta #orangutan #hutan #forest #kalimantan #sumatera #borneo

“Hutan Lestari, Hidup Harmoni”
Manfaat hutan bagi kehidupan antara lain sebagai:
Ada hutan, ada kehidupan. Hutan pun menjadi harapan untuk semua nafas kehidupan hingga boleh berlanjut hingga selamanya.
Hutan hujan tropis sejatinya menjadi rumah semua dan bersama pula bagi ribuan jenis tumbuhan dan hewan.
Narasi & Ilustrasi Gambar: Simon Tampubolon
#manfaathutan #hutandankehidupan #hutan #kehidupan #forest #life #wildlife

Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung kembali melaksanakan pendampingan kepada Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang, kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan rutin bulanan yang dilaksanakan pada Minggu (6/7/2025) di Kantor Desa Rantau Panjang, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Dalam kegiatan tersebut, Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang merampungkan 15 materi edukasi konservasi dan pemberdayaan perempuan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momen penting karena menandai selesainya pelaksanaan 15 materi edukasi yang telah dirancang selama satu tahun sejak kelompok ini dibentuk pada 15 Juli 2024.
Dalam kegiatan pendampingan ini, para peserta yang didominasi oleh ibu-ibu muda desa kembali berdiskusi dan merefleksikan pembelajaran dari 15 topik materi penting yang telah mereka ikuti, antara lain seperti materi:
Tidak hanya fokus pada penyampaian materi di ruangan, kegiatan ini juga mendorong peserta untuk melakukan pengamatan langsung di desa mereka guna menganalisis permasalahan lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya yang terjadi di sekitar mereka.
Widiya Octa Selfiany, S.Hut., M.Hut, selaku Manajer Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan, kegiatan ini menjadi langkah awal yang sangat penting dalam membangun kapasitas perempuan desa dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan secara aktif dan setara.
“Kami melihat antusiasme yang luar biasa dari para peserta, terutama dalam menyuarakan isu-isu lingkungan yang mereka alami sendiri. Ini menjadi bukti bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam konservasi dan pembangunan desa yang berkelanjutan,” ujarnya.
Program ini diharapkan menjadi contoh bagi desa-desa lainnya dalam mendorong partisipasi aktif perempuan dalam pendidikan lingkungan dan konservasi berbasis komunitas.
Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di: pontianak.tribunnews.com , baca selengkapnya di: https://pontianak.tribunnews.com/2025/07/07/kelompok-edukasi-kembang-desa-rantau-panjang-belajar-edukasi-konservasi-dan-pemberdayaan-perempuan?utm_medium=widget-ml-section-page&utm_content=reco-headline&utm_source=pontianak.tribunnews.com
Penulis: Widiya Octa Selfiany-Yayasan Palung

Slide 1: June 2025Keberadaan buah saat ini hanya sedikit, tidak banyak variasi buah yang dimakan oranguatan. Selain buah, bagian yang dimakan oranguatan juga mencakup daun muda dan kulit pohon.
Slide 2: Dokumentasi per genus buah
Ficus masih merupakan genus buah dengan jenis terbanyak yang dimakan bulan ini
Slide 3. Art Fruit
Susunan beberapa sampel pakan yang terkumpul di Juni 2025
Simpulan Genus buah pakan orangutan bulan Juni 2025 :
Narasi: Ari Marlina
Foto: Ari Marlina | Yayasan Palung (GPOCP)
Identifikasi pakan: Ari Marlina | Yayasan Palung (GPOCP)
Lokasi: Taman Nasional Gunung Palung
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Biologi Universitas Nasional dan Boston University.

40 Tahun Bersama Alam: Harmoni Riset dan Konservasi
Refleksi Empat Dekade Penelitian dan Konservasi di Stasiun Riset Cabang Panti
Dalam rangka memperingati 40 tahun (Empat Dekade) berdirinya Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), sebuah pusat penelitian ekologi dan konservasi yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Palung, diselenggarakan serangkaian acara bertajuk “40 Tahun Bersama Alam: Harmoni Riset dan Konservasi.” Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan di Pondopo Bupati Kayong Utara, pada Selasa (24/06/2025).
Acara tersebut dihadiri secara langsung dan dibuka resmi oleh Bupati Kayong Utara Romi Wijaya yang didampingi Kepala Balai TANAGUPA Prawono Meruanto serta Direktur Yayasan Palung, akademisi, para peneliti, serta tokoh-tokoh lingkungan.
Stasiun Riset Cabang Panti tumbuh bersama hutan hujan tropis Gunung Palung menjadi saksi dari ribuan langkah ilmiah, dedikasi para peneliti, dan semangat tak pernah padam untuk menjaga alam selama 40 tahun.
Dalam kata sambutannya, Bupati Romi Wijaya menyampaikan apresiasi atas kontribusi nyata yang telah diberikan oleh para peneliti dan seluruh pengelola SRCP dalam menjaga warisan ekologis Kayong Utara.
“Kami, pemerintah Kabupaten Kayong Utara, menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung dan Yayasan Palung, yang secara konsisten dan kolaboratif mengelola Stasiun Riset Cabang Panti. Konservasi bukan hanya tentang menjaga hutan, tetapi menjaga masa depan generasi melalui ilmu pengetahuan,” ucapnya.
“Komitmen ini telah menempatkan wilayah kita sebagai pusat studi penting bagi para ilmuwan dari berbagai belahan dunia dan telah membawa nama baik Kabupaten Kayong Utara di kancah nasional bahkan internasional,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa eksistensi stasiun riset yang berkelanjutan sejalan dengan visi Kabupaten Kayong Utara yang religius, sehat, cerdas, dan sejahtera, di mana pembangunan dilakukan tanpa mengorbankan lingkungan.
“Kayong Utara adalah rumah dari keanekaragaman hayati luar biasa. Pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung aktivitas ilmiah yang sejalan dengan upaya pelestarian. Ini bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tugas kita bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Program-program penelitian yang dilakukan di stasiun ini telah membantu mengungkap dinamika ekologi hutan hujan, pola perilaku satwa liar, serta dampak perubahan lingkungan terhadap keanekaragaman hayati.
Tidak hanya itu, berbagai penelitian jangka panjang di stasiun ini telah memberikan wawasan mendalam mengenai peran hutan hujan dalam mitigasi perubahan iklim serta hubungan kompleks antara spesies yang hidup di dalamnya.
Kepala Balai TANAGUPA, Prawono Meruanto mengatakan peringatan 40 tahun Stasiun Riset Cabang Panti ini, menjadi momentum penting untuk merefleksikan pencapaian yang telah diraih serta merumuskan strategi kolaboratif guna menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan riset di masa depan.
“Empat dekade perjalanan ini adalah bukti nyata bahwa riset dapat menjadi ujung tombak dalam melindungi keanekaragaman hayati, khususnya Orangutan dan spesies endemik lainnya yang berada di kawasan Taman Nasional,” ungkapnya.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memperkuat komitmen semua pihak dalam melestarikan lingkungan untuk generasi mendatang,” tambahnya.
Dalam kegiatan ini juga diadakan pula talkshow GP40 yang mengangkat semangat kolaborasi riset dan konservasi selama empat dekade terakhir.
Adapun narasumber yang hadir secara hybrid event (tatap muka dan online) dalam kesempatan tersebut antara lain adalah;
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Riset Yayasan Palung Tri Wahyu Susanto, mengungkapkan, selain melakukan program riset, Yayasan Palung juga ada program lainnya, seperti program Hutan Desa, yaitu bersama masyarakat, menyelamatkan hutan yang berada di wilayah Simpang Hilir dan bekerjasama dengan KPH.
“Selain itu ada program pendidikan lingkungan, yaitu kita ke sekolah-sekolah untuk memberikan pendidikan lingkungan ke generasi muda, maupun kepada masyarakat. Ada juga program mata pencaharian berkelanjutan, yang mana kita mengangkat potensi potensi yang ada di sekitar, sebagai pendapatan alternatif bagi masyarakat,” jelas Edi Rahman, selaku Field Direktur Yayasan Palung, menambahkan saat menjawab pertanyaan wartawan. Selain itu, juga ada program penyelamatan satwa, yang berada di wilayah Simpang Hilir, umumnya di Kayong Utara, yaitu terkait konflik Orangutan. Kemudian ada program beasiswa peduli Orangutan, dimana lebih kurang 70 siswa dikuliahkan di Universitas Tanjung Pura, baik dari Kayong Utara, maupun dari kabupaten Ketapang.
Galeri foto kegiatan GP40
Selain talkshow, peringatan ini juga dirangkaikan dengan kunjungan khusus ke SRCP oleh alumni peneliti. Selama kunjungan, para alumni berbagi pengalaman, meninjau perkembangan terbaru stasiun riset, serta merancang strategi keberlanjutan penelitian dan konservasi.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi tonggak penting dalam memotivasi lebih banyak kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah dalam mendukung kelestarian lingkungan.
Yayasan Palung mengucapkan ribuan terima kasih kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang sudah ambil bagian dalam serangkaian kegiatan GP40, yang tanpa lelah menyiapkan dari awal hingga suksesnya kegiatan ini.
————————————-
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Biologi Universitas Nasional dan Boston University.
Baca juga:
Diolah dari rilis berita dan dari berbagai sumber
Penulis: Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Hutan Hujan Sedunia, Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan bersama Yayasan Tajuk Kalimantan Lestari (YTKL) melaksanakan kegiatan kolaboratif yang melibatkan generasi muda dalam aksi nyata pelestarian lingkungan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu (21-22/6/2025) dengan melibatkan peserta dari dua kelompok muda penggerak lingkungan, yakni Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) binaan Yayasan Palung sebanyak 22 orang, dan 9 orang Kader Pangan dari Yayasan TKL.
Hari pertama kegiatan dilaksanakan pada Sabtu (21/6/ 2025), di kawasan Wisata Hutan Mangrove Pantai Celincing. Kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dan diawali dengan pembukaan, menyanyikan Lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan dari Manajer Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung Widiya Octa Selfiany, S.Hut., M.Hut., serta sambutan Direktur Yayasan Tajuk Kalimantan Lestari, Jainuri, S.Hut. Dalam sambutannya, keduanya menekankan pentingnya kolaborasi lintas organisasi dan keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian alam, khususnya di wilayah pesisir dan hutan hujan tropis.
Setelah sesi perkenalan antar peserta dan foto bersama, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan dua kelompok yang terlibat, yakni RK-TAJAM dan Kader Pangan. Peserta kemudian mengikuti sesi materi berjudul “Hutan sebagai Mitigasi Perubahan Iklim” yang disampaikan oleh Mulyadi, S.Hut., M.Hut., seorang fasilitator restorasi dari Tropenbos Indonesia. Materi ini memberikan pemahaman tentang peran penting hutan, termasuk hutan mangrove, dalam menyerap karbon, melindungi garis pantai, serta menjaga keberlangsungan ekosistem. Selanjutnya Jainuri, S.Hut Direktur Yayasan Tajuk Kalimantan Lestari memberikan materi “Restorasi Hutan Mangrove”.
Usai sesi materi, dalam salah satu sesi edukatif pada kegiatan kolaborasi antara Yayasan Palung dan Yayasan Tajuk Kalimantan Lestari, para peserta dibagi menjadi empat kelompok kecil untuk mengikuti kegiatan pembelajaran langsung di alam. Setiap kelompok diarahkan untuk mengamati berbagai jenis daun yang terdapat di sekitar lokasi kegiatan. Peserta diminta untuk mengamati bentuk dan pola tulang daun, lalu mencatat hasil pengamatannya. Fokus utama dari aktivitas ini adalah mengenali letak duduk tulang daun (venasi daun), seperti tulang menyirip, menjari, melengkung, atau sejajar.
Setelah melakukan pengamatan, masing-masing kelompok diberikan waktu untuk mempresentasikan hasil temuan mereka di hadapan peserta lain. Dalam presentasi tersebut, mereka menjelaskan jenis daun yang diamati, ciri-ciri tulang daun yang ditemukan, serta contoh tumbuhan yang memiliki karakteristik tersebut.
Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, tetapi juga melatih kemampuan kerja sama tim, berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi para peserta. Dengan belajar langsung di alam, para peserta lebih mudah memahami materi botani secara kontekstual dan menyenangkan.
peserta langsung diarahkan ke kegiatan praktik lapangan berupa pembibitan mangrove, mulai dari pemilihan propagul, penanaman di polybag, hingga teknik dasar perawatannya. Sebagai bentuk komitmen bersama, Direktur Yayasan TKL memandu seluruh peserta untuk membuat pesan singkat pada Green Commitment Wall, sebagai simbol semangat menjaga lingkungan. Kegiatan hari pertama ditutup sekitar pukul 17.00 WIB dengan sesi refleksi dan foto bersama.
Hari kedua kegiatan, Minggu (22/6/2025), kegiatan dilanjutkan di Pantai Sungai Jawi, Kecamatan Matan Hilir Selatan. Kegiatan ini turut melibatkan lebih banyak peserta, dengan total kehadiran mencapai 60 orang yang terdiri dari peserta kelompok muda dan masyarakat sekitar. Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Sungai Jawi yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif kolaboratif ini serta mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan. Setelah itu, dilakukan pembagian bibit mangrove kepada peserta yang kemudian langsung digunakan untuk kegiatan penanaman di kawasan pesisir pantai.
Tidak hanya melakukan penanaman, peserta juga melaksanakan aksi bersih pantai dengan memungut sampah-sampah yang tersebar di sepanjang garis pantai. Aksi ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan lingkungan laut yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat pesisir. Seluruh kegiatan berlangsung dalam suasana gotong royong dan antusiasme tinggi dari peserta. Setelah seluruh rangkaian selesai, kegiatan ditutup dengan refleksi, pesan-pesan dari peserta, dan dokumentasi foto bersama sebagai kenangan sekaligus penyemangat untuk terus bergerak menjaga lingkungan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan atas dua momen penting bagi bumi, tetapi juga menjadi ajang belajar bersama, berbagi pengalaman, dan membangun semangat kolektif antar generasi muda di Ketapang. Kolaborasi antara Yayasan Palung dan Yayasan Tajuk Kalimantan Lestari membuktikan bahwa ketika elemen masyarakat bersatu, maka upaya pelestarian lingkungan dapat dilakukan dengan lebih kuat, menyeluruh, dan berdampak nyata. Harapannya, kegiatan ini menjadi langkah awal dari lebih banyak aksi bersama yang melibatkan komunitas lokal demi menjaga hutan, laut, dan seluruh ekosistem yang menjadi penopang kehidupan kita bersama.
Foto dok; Sela dkk, YP &YTKL.
Penulis: Widiya Octa Selfiany- Yayasan Palung

40 TAHUN BERSAMA ALAM: HARMONI RISET & KONSERVASI
Dalam rangka memperingati 40 tahun berdirinya Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) di Taman Nasional Gunung Palung, kami mengundang Anda untuk hadir dalam Talkshow GP40 yang mengangkat semangat kolaborasi riset dan konservasi selama empat dekade terakhir.
Hari, Tanggal : Selasa, 24 Juni 2025
Waktu : 09.00 – 15.00 WIB
Lokasi : Tempat masing-masing
Zoom Meeting:
Meeting ID: 829 3088 4313
Passcode: Srcp40th
Link Virtual Background:
Link Pendaftaran & Kehadiran:
Narasumber terkemuka akan hadir, antara lain:
MC & Moderator: Alda Swarni Dewi, S.Pd
Peserta akan mendapatkan e-sertifikat GRATIS.
Mari jadi bagian dari sejarah, refleksi, dan masa depan konservasi Indonesia.

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup dan Hari Hutan Hujan Sedunia, Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung (YP) berkolaborasi dengan Yayasan Tajuk Kalimantan Lestari menyelenggarakan kegiatan edukatif dan inspiratif untuk pelajar SMA/MA/SMK Kabupaten Ketapang.
Kegiatan ini melibatkan kelompok muda binaan Yayasan Palung Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Kader Pangan TKL, sebagai agen perubahan yang peduli akan kelestarian mangrove dan lingkungan.
Tema kegiatan:
“Jelajah Mangrove: Belajar, Menanam, Menjaga”
Topik:
1. Hutan Sebagai Mitigasi Perubahan Iklim
2. Restorasi Hutan Mangrove
3. Praktek Pembibitan Mangrove
4. Praktek Penanaman Mangrove
5. Green Commitment Wall
6. Penanaman dan Aksi Bersih Pantai Sungai Jawi.
Hari, Tanggal : Sabtu-Minggu, 21-22 Juni 2025.
Lokasi : Wisata Hutan Mangrove Pantai Celincing dan Pantai Sungai Jawi
Mari bergerak bersama menjaga bumi dan hutan tropis kita. (Widiya/YP).
#JelajahMangrove#HariLingkunganHidup2025#HariHutanHujan#YayasanPalung#TajukKalimantanLestari#RelawanKonservasiTAJAM#KaderPanganTKL#AnakMudaPeduliLingkungan

Ada Hutan ada nafas hidup, ada sumber kehidupan. Jadi, hutan tak ubanya adalah sumber kehidupan.
Hutan hujan tropis tidak bisa disangkal merupakan nafas terakhir yang harus terus ada hingga selamanya karena perannya yang tak ternilai sebagai sumber kehidupan sebagian besar makhluk hidup di muka bumi ini.
Ada hutan, ada kehidupan dan ada sumber kehidupan. Sumber kehidupan bagi makhluk hidup, tentu ini sebagai bukti nyata keanekaragaman hayati/biodiversitas yang sejatinya harus ada, seimbang dan harmoni satu dengan yang lainnya (satu kesatuan) yang tidak terpisahkan.
Sebaliknya, ketika hutan dan sumber hidup bagi kehidupan sulit berdiri kokoh maka akan berdampak kepada semua sendi dan nadi makhluk lainnya.
Hutan memberi hidup bagi ragam kehidupan makhluk hidup. Hutan sebagai sumber kehidupan berarti memiliki peran yang tak ternilai/tak terkira kepada kita semua.
Tetapi, kita sering kali membalasnya dengan ragam dalil, dalih yang tak jarang memunculkan duka derita, yang memantik riak sedih bagi sesama dan semua (lihat ragam tumbuhan dan satwa) hingga semakin terasing bahkan terjajah di rumahnya sendiri tempat dimana ia tinggal.
Hutan sebagai sumber kehidupan, berarti ia memberi dari apa yang ada dalam dirinya tanpa pamrih walaupun sejatinya ia dalam keadaan luka dan perih karena ulah dan pongah kita manusia.
Hutan sebagai sumber kehidupan pun memberi tanda nyata kepada kita semua untuk mengambil langkah apakah tindakan kita menghentikan langkah tau melanjutkan langkah.
Langkah yang dimaksud tak lain dan tak bukan adalah nafas semua nafas kehidupan apakah boleh berlanjut atau sebaliknya.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di kompasiana, baca selengkapnya di: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/68526035c925c426dd1ca822/hutan-tak-ubahnya-adalah-sumber-kehidupan?source_from=notification_activity

Hallo, sobat konservasi!
Kali ini, Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Asoka yaitu kelompok pengrajin binaan UPT KPH wilayah kayong yang didampingan oleh Yayasan Palung (YP), kelompok ini bergerak dibidang pengolahan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berada di Desa Penjalaan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara berhasil memproduksi tikar pandan sebanyak 20 bidang, tidak hanya sekedar membina kelompok, namun KPH Kayong juga membeli produk anyaman tikar pandan yang seukuran sajadah dengan motif dan warna yang bervariatif.
Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada KPH Kayong yang sudah memesan dan memberikan kepercayaan kepada KUPS Asoka untuk membuatkan pesanan tikar pandan untuk di jual di platfrom media sosial dan juga mengikuti event di Pontianak.
Lihat juga:
Selain dapat membantu perekonomian para perajin, dengan membeli produk tikar pandan disini kita juga bisa ikut terlibat dalam penyelamatan orangutan dan habitatnya, yaitu dengan cara menciptakan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat dan sekaligus melestarikan produk kerajinan tikar pandan yang memiliki nilai seni tinggi.
Oh ya sobat, selain tikar pandan sajadah, KUPS Asoka juga menyediakan berbagai macam jenis tikar pandan lainnya, seperti tikar putih polos dan tikar dengan tulisan nama. Ada juga produk lain seperti lekar, kurung cabang dan juga tas dan dompet yang berbahan dasar pandan. Buat sobat konservasi yang ingin pesan tikar pandan juga, bisa banget loh pesan di tempat kita.
Ratiah-Yayasan Palung