Yayasan Palung Berkolaborasi dengan KPH Wilayah Kayong Adakan Pelatihan Teknis Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan

Yayasan Palung (YP) Berkolaborasi dengan KPH Wilayah Kayong mengadakan Pelatihan Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan bagi Lembaga Pegelola Hutan Desa (LPHD) Lubuk Batu Betuah dan Matan Jaya di Lokasi Gedung serbaguna Desa Lubuk Batu, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada Selasa (6/4/2025).

Manager Program Hutan Desa Yayasan Palung, Hendri Gunawan, mengatakan, “Adapun maksud dan tujuan dari dilakukannya kegiatan ini diantaranya adalah; Kegiatan pelatihan ini dimakasudkan sebagai upaya peningkatan kapasitas Lembaga Pengelola Hutan Desa dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di wilayah desa Lubuk Batu dan desa Matan Jaya.”

Lebih lanjut kata Hendri, Dengan pelatihan ini diharapkan Lembaga Pengelola Hutan Desa terampil dalam menggunakan mesin pemadam kebakaran sehingga mampu melakukan pencegahan dini jika terjadi kebakaran hutan dan lahan di daerah mereka.

Setidaknya ada 10 Orang yang mengikuti kegiatan terdiri dari: satu orang perwakilan dari ketua LPHD Lubuk Batu Betuah, Desa Lubuk Batu, satu orang perwakilan dari ketua LPHD Lubuk Batu Betuah, Desa Lubuk Batu, empat orang perwakilan dari anggota LPHD Lubuk Batu Betuah (tim SMART Patrol), Desa Lubuk Batu dan empat orang perwakilan dari anggota LPHD Matan Jaya (tim SMART Patrol, Desa Matan Jaya).

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan pelatihan ini adalah empat orang Brigade dari KPH Wilayah Kayong.

Dalam kesempatan tersebut, peserta diberikan materi dan praktek (simulasi) melakukan pemadaman kebakaran.

Video dok. Mahendra/Yayasan Palung

Sebagai pengingat, kebakaran hutan dan lahan sering kali menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang sering sekali terjadi dan dianggap penting sehingga menjadi perhatian lokal maupun global.

Selain itu, Tinggi dan rendahnya curah hujan dapat mengindikasikan adanya titik panas (hotspot) yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kecamatan Simpang Hilir di Kabupaten Kayong Utara tidak terlepas dari kebakaran hutan dan lahan terutama di beberapa desa dampingan Yayasan Palung yang secara alami memiliki ekosistem gambut. Hutan Desa Lubuk Batu dengan luas ± 941 Ha dan hutan desa Matan Jaya dengan luas ± 2.200 Ha juga tidak terlepas dari ancaman kebakaran, untuk itu partisipasi masyarakat setempat secara penuh sangat diperlukan dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, kata Hendri.

Serangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta.

——————————————

Kawasan Hutan Desa Matan Jaya dan Hutan Desa Lubuk Batu dibina oleh UPT KPH Wilayah Kayong, dan didukung oleh Yayasan Palung (YP) sebagai Lembaga pendamping.

Penulis: Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung Ajak Kelompok Dampingan Membuat Pupuk Kompos

Saat mengajak kelompok dampingan membuat Pupuk Kompos bersama kelompok Petani Meteor Garden dan kelompok Petani Rintis Betunas. (Foto dok. Abdul Samad/YP).

Yayasan Palung (YP) melalui Program Sustainable Livelihood / Program SL (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) mengajak kelompok dampingan membuat Pupuk Kompos bersama kelompok Petani Meteor Garden dan kelompok Petani Rintis Betunas.

Kegiatan pembuatan pupuk kompos dilakukan di dua tempat yang berbeda, dimana di kelompok Meteor Garden di laksanakan Rabu (28/4/2025) di rumah Pak Ishak ketua kelompok Meteor Garden Desa Pampang Harapan dan di kelompok Rintis Betunas dilaksanakan pada Kamis (29/4/2025) di kediaman rumah Pak Milu anggota kelompok Rintis Betunas Desa Riam Berasap Jaya, Kabupaten Kayong Utara.

Dalam kesempatan tersebut, Asbandi dari Yayasan Palung (YP) sekaligus sebagai pendamping kelompok petani, berkesempatan memberikan materi pembuatan pupuk kompos kepada kedua kelompok tersebut.

Pada sesi pembelajaran, Asbandi menjelaskan materi tentang bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk kompos, kemudian dilanjutkan praktek kelapangan untuk pembuatan pupuk kompos. Selain bahan-bahan yang digunakan, Pak Asbandi juga menjelaskan tentang perlakuan yang harus diberikan kepada pupuk kompos selama menunggu pupuk kompos siap digunakan.

Adapun bahan-bahan untuk pembuatan pupuk kompos antara lain adalah; Kotoran sapi, sekam padi yang sudah dibakar, batang pisang, jerami, rumput kering, rumput basah dan bahan pengurai.

Dari kedua praktek yang diberikan oleh Pak Asbandi, masing-masing kelompok mempunyai hasil yang berbeda. Dimana pembuatan pupuk kompos bersama kelompok Meteor Garden menghasilkan kurang lebih dua ton pupuk kompos padat dan praktek bersama kelompok Rintis Betunas menghasilkan kurang lebih satu ton pupuk kompos padat.

Salmah-Yayasan Palung

Ajak Generasi Peduli Konservasi, Lakukan Fieldtrip Sekaligus Pelantikan Relawan TABONK di ODTWA Batu Penage TANAGUPA

Foto bersama saat pelantikan Relawan TABONK. (Foto dok. Simon Tampubolon).

Mengajak generasi untuk peduli pada konservasi, setidaknya itu yang di lakukan oleh Yayasan Palung (YP) bersama 20 orang Relawan TABONK Angkatan ke-13 melakukan fieldtrip (kunjungan lapangan) sekaligus pelantikan yang bertempat di Objek dan daya tarik wisata alam (ODTWA) Penage, Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), pada Jumat hingga Minggu (25-27/4/2025) kemarin.

Seperti diketahui, Yayasan Palung (YP) memiliki kelompok muda binaan yang ada di dua Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Di Ketapang, Kelompok Muda tersebut adalah Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM). Sedangkan Kelompok Muda yang ada di KKU adalah RElawan BentangOr uNtuk Konservasi (REBONK). Dalam serangkaian kegiatan pelantikan kemarin, RK-TAJAM dan REBONK bergabung, dengan demikian mereka disebut TABONK (TAJAM REBONK).

Bagi YP Relawan (RK-TAJAM dan REBONK) sebagai penyambung lidah (corong) dalam menyampaikan ide gagasan, kegiatan tekait konservasi dan kemanusian, dan lain sebagainya.

Selama tiga hari berkegiatan, beberapa materi atau rangkaian kegiatan pun disampaikan kepada para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, antara lain;

Pada hari Pertama kegiatan, Jumat (25/4/2025), peserta melakukan perjalanan/fieldtrip dari Pantai Pasir Mayang melakukan operasi semut (memungut sampah) menuju lokasi kegiatan di Lokasi ODTWA Penage TANAGUPA.

Setiba di lokasi kegiatan, para peserta membuat bivak (tenda), setelah mendirikan bivak, peserta melanjutkan rangkaian materi yang disampaikan. Relawan TABONK diajak untuk bersih-bersih di sekitar lokasi kegiatan. Selanjutnya diadakan acara bendera sekaligus pembukaan kegiatan yang dihadiri oleh semua peserta.

Pada kesempatan tersebut, peserta yang mengikuti fieldtrip juga melakukan penanaman pohon sebanyak 15 bibit pohon. Penanaman pohon tersebut juga sekaligus merayakan hari Bumi. Bibit-bibit tersebut berasal dari pihak Perkim LH Ketapang.

Setelah upacara bendera selesai dilakukan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian beberapa materi terkait konservasi, diantaranya disampaikan oleh rekan-rekan dari senior RK-TAJAM dan REBONK serta dari staf Yayasan Palung maupun dari pihak Balai TANAGUPA.

Foto-foto dokumentasi kegiatan:

Dalam kegiatan tersebut, Yayasan Palung (YP) sangat bersyukur karena dihadiri dan didampingi oleh dua orang pendamping dari pihak dari TANAGUPA.

Adapun pendamping dari pihak Balai TANAGUPA yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut adalah; Roni Eka Satria dan Abdul Rahman.

Dari 20 orang anggota TABONK yang dilantik, 13 orang dari RK-TAJAM dan 7 orang REBONK yang dilantik dalam kesempatan tersebut.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak dan Kompasiana; Baca Selengkapnya di:

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/6814586e34777c271a58e4d2/ajak-generasi-peduli-konservasi-lakukan-fieldtrip-sekaligus-pelantikan-relawan-tabonk-di-odtwa-penage-tanagupa?source_from=notification_activity

https://pontianak.tribunnews.com/2025/05/02/ajak-generasi-peduli-konservasi-yayasan-palung-lakukan-fieldtrip-dan-pelantikan-relawan-tabonk

Foto dok. Simon Tampubolon/YP, Mahendra dan Leoni/RK-TAJAM

Tulisan: Petrus Kanisius

Yayasan Palung

Kalimantan Barat Orangutan Regional Meeting, Kolaborasi Multi Pihak yang Peduli pada Nasib Orangutan

Peserta yang mengikuti kegiatan Kalimantan Barat Orangutan Regional Meeting yang di selenggarakan di Pontianak, Pada Rabu (16/4/2025). (Foto: Susanto/PPS YP).

Yayasan Palung (YP) melalui Program Animal and Habitat Protection berkesempatan ikut berpartisipasi dalam kegiatan Kalimantan Barat Orangutan Regional Meeting yang di selenggarakan di Pontianak, Pada Rabu (16/4/2025).

Kegiatan tersebut jika boleh dikata merupakan kegiatan Kolaborasi multi pihak yang peduli kepada nasib orangutan.

Dalam serangkaian kegiatan yang diadakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar tersebut membahas beberapa topik pembahasan diantaranya;

  • Pemaparan kebijakan konservasi orangutan oleh Direktur Konservasi Sumberdaya Genetik (KSG)
  • Pemaparan potret terkini konservasi orangutan Kalimantan Barat oleh BKSDA Kalimantan Barat.
  • Selanjutnya topik tentang Pemetaan ketersediaan data populasi dan habitat di Kalimantan Barat.
  • Dilanjutkan dengan diadakannya diskusi atau Focus group discussion (FGD) region dengan pengelompokan berdasarkan landskap untuk seluruh peserta yang terlibat.
  • Kemudian serangkaian dilanjutkan dengan Diskusi kesepakatan multipihak hasil rangkuman FGD, koreksi kesepakatan dari setiap sektor yang terlibat. kePenandatanganan kesepakatan oleh setiap sektor yang terlibat.

Dalam serangkaian kegiatan tersebut diikuti oleh 171 undangan yang terdiri dari perwakilan dari Perguruan Tinggi dan Lembaga NGO serta Pihak swasta/Privat sektor. Dari Yayasan Palung, yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah; Erik Sulidra, Gunawan Wibisono, dan Susanto dari Program Animal and Habitat Protection Yayasan Palung. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara luring (offline) dan daring (online).

Foto-foto kegiatan:

Foto dokumen: Erik. Santo, Gunawan-Tim PPS-YP

Mengutip dari Laman Pontianak Post, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, RM. Wiwied Widodo, mengatakan, Kalimantan Barat (Kalbar) memegang peran penting dalam upaya konservasi orangutan di Indonesia. Hal ini berkaitan erat terkait habitat dua subspesies orangutan; Pongo pygmaeus pygmaeus dan Pongo pygmaeus wurmbii, yang tersebar di 13 metapopulasi.

Lebih lanjut dalam kesempatan tersebut, Widodo, mengatakan, berdasarkan hasil Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) tahun 2016, terdapat sekitar 18.490 individu orangutan di seluruh kawasan tersebut.

Namun, karena sebagian wilayah konservasi berada di perbatasan dengan provinsi lain yakni Kalimantan Tengah dan negara tetangga, Malaysia, maka populasi orangutan yang benar-benar berada di wilayah Kalbar diperkirakan hanya sekitar 9.280 individu. “Ini dugaan karena memerlukan perhitungan lebih lanjut,” kata Widodo.

Mengutip dari laman Antara News, Direktur Jenderal KSDAE Satyawan Pudyatmoko, mengingatkan, Indonesia adalah rumah bagi tiga spesies orangutan yang seluruhnya kini berstatus critically endangered (CR) menurut IUCN, sudah dalam daftar merah. Status ini bukan sekadar label, tapi peringatan yang mengetuk hati ahwa waktu terus berjalan, dan tindakan nyata tak boleh tertunda.

“Perlindungan habitat dan pencegahan perdagangan ilegal adalah tantangan utama kita,” kata Satyawan.

Sejak 2006 hingga 2024, tak kurang dari 91 individu orangutan yang menjadi korban perdagangan ilegal telah dipulangkan ke tanah air, sebagian dari Malaysia dan sebagian lainnya dari Thailand. Proses repatriasi ini menjadi pengingat bahwa rantai kejahatan satwa liar masih terus membelit, dan harus dilawan dari hulu hingga hilir.

Tulisan: Diolah dari resume catatan kegiatan dan dari berbagi sumber

Petrus Kanisius dan Gunawan Wibisono-Yayasan Palung

Rayakan Hari Bumi, Yayasan Palung Bersama SDN 20 Payak Itam Lakukan Penanaman Pohon di Lingkungan Sekolah

Saat adik-adik dari SDN 20 Payak Itam, Sukadana, Kayong Utara melakukan penanaman pohon dalam rangka hari Bumi. (Foto dok. Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Momen perayaan Hari Bumi yang dirayakan setiap tanggal 22 April dirayakan dengan bermacam-macam cara, seperti di SD Negeri 20 Payak Itam, Sukadana, Kayong Utara, misalnya. Pada kesempatan tersebut, dalam rangka merayakan Hari Bumi 2025, Yayasan Palung (YP) bersama pihak sekolah melakukan kegiatan penanaman pohon di lingkungan sekolah, pada Selasa (22/4/2025).

Simon Tampubolon selaku Koordinator Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung di Kayong Utara, mengatakan kegiatan tersebut diikuti 30 orang siswa kelas III-VI dan didampingi oleh guru.

Sebelum kegiatan penanaman pohon, kegiatan pertama yang dilakukan adalah penyampaian materi tetang hari bumi (bagaimana kondisi bumi saat ini, hal-hal yang berpengaruh buruk terhadap bumi, beberapa tindakan sederhana yang bisa dilakukan siswa untuk menjaga bumi). Siswa-siswi juga diajak menonton video pendek tentang lingkungan.

Kegiatan penanaman pohon dilakukan di lingkungan sekolah. Dalam kesempatan itu, ada 10 pohon peneduh yang ditanam, 5 pohon pucuk merah (Syzygium myrtifolium) dan 5 pohon ketapang kencana (Terminalia mantaly).

Foto galeri:

Kepala Sekolah SDN 20 Payak Itam, Bapak Mat Nasir menyambut baik kegiatan yang diadakan Yayasan Palung (YP) ini dan ikut serta membantu menentukan titik lokasi untuk penanaman pohon.

Simon sapaan akrabnya, menambahkan, dengan melibatkan siswa-siswi untuk menanam pohon di sekitar sekolah mereka, akan menumbuhkan dan meningkatkan rasa kepedulian mereka untuk menjaga dan merawatnya kelak.

Baca juga:

Dalam perayaan Hari Bumi yang dilakukan tersebut, siswa-siswi dari SDN 20 Payak Itam terlihat sangat antusias saat menanam pohon, walaupun cuacanya panas.

Tulisan ini juga dimuat di:

https://pontianak.tribunnews.com/2025/04/23/rayakan-hari-bumi-yayasan-palung-bersama-sdn-20-payak-itam-tanam-pohon-di-lingkungan-sekolah

Petrus Kanisius dan Simon Tampubolon-Yayasan Palung

Info Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (WBOCS) tahun 2025

Info Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat. (Foto/dok. Widiya/ Yayasan Palung).

Berikut ini informasi tentang Program Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) pada tahun 2025

Yayasan Palung merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat.

Yayasan Palung (YP) bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship).

Selanjutnya, pada tahun 2022, Yayasan Palung (YP), Universitas Tanjungpura (UNTAN) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama terkait program WBOCS ini.

Hingga tahun 2025 terdapat 67 Penerima WBOCS, dan 37 orang sudah menjadi sarjana.

📅 Timeline Pendaftaran:

🔹 21 April – 31 Mei 2025: Pendaftaran

🔹 1 – 5 Juni 2025: Seleksi Administrasi

🔹 6 Juni 2025: Pengumuman Lolos Administrasi

🔹 7 – 15 Juni 2025: Wawancara

🔹 16 Juni 2025: Pengumuman Akhir

🎓 Persyaratan:

✅ Mahasiswa aktif Fakultas Kehutanan UNTAN T.A. 2025/2026 (Calon mahasiswa angkatan 2025)

✅ Berasal dari Kab. Ketapang atau Kab. Kayong Utara

✅ Bersedia melakukan penelitian skripsi tentang orangutan dan habitatnya

💰 Benefit Beasiswa:

Biaya pendaftaran: Rp 500.000

UKT semester I-VIII (8 semester): Rp 1.550.000

Biaya buku (8 semester): Rp 600.000

Biaya penelitian: Rp 2.000.000

Biaya skripsi: Rp 1.000.000

📲 Daftar Sekarang!

Scan QR code di poster dan dapatkan informasi melalui nomor di Bawah ini:

📞 Riduwan (0815-2157-4106)

📞 Widiya (0856-5087-9373)

Dapatkan kesempatan langka ini dan jadilah bagian dari generasi yang peduli pada konservasi orangutan dan hutan tropis Kalimantan Barat! 🌳🐵

Mata, Kata, Kita dan Alam Ini

Ilustrasi deforstasi. (Foto dok. SHUTTERSTOCK/Rich Carey via kompas.com).

Mata melihat, kata berujar dan Kita bertindak.Ada mata yang sembab memikirkan tentang hidup, tentang realita akibat kata dan tidakan kita.

Mata melihat indah rona hijau daun dari tajuk-tajuk yang menjulang berdiri kokoh dari sisa-sisa keperkasaan mesin dan tangan-tangan tak terlihat.

Mata membelalak melihat realita tentang kata kita. Ulah kita yang juga tak jarang nyinyir dengan tingkah polah.

Tingkah dan polah tentang realita kata hingga menjadi tindakan kita yang disebut ulah. Lihat, dari mata kita bisa melihat tetapi seolah tertutup atau buta karena takut. Takut bukan tidak berani, tetapi ditutup-tutupi,

Tengoklah, lihatlah lapang lindang rimba raya yang dibuka itu menjadi linangan air mata harapan.

Mata air tumpah menjadi air mata. Tangis air mata bersanding dengan suara deru mesin yang tanpa ampun meratakan bukit hingga gunung-gunung yang menjulang tinggi dan kokoh, sama seperti kita yang semakin gamang dengan bumi, dengan hujan, dengan angina dan dengan kemarau.

Mata kita selalu ingin melihat semua bersahabat dengan alam ini, tetapi lihatlah;

Pongahnya kita yang selalu menyalahkan alam yang tidak bersahabat ketika hujan, ketika banjir, ketika longsor dan ketika hutan gundul, ketika kekeringan.

Berharap alam lestari, tetapi kata-kata menjadi tanda nyata kita tentang perbuatan yang acap kali menuduh keadilan seadil-adilnya membuncah di tengah rekonsiliasi para pencari sesuap nasi, yang berdiam di sisa-sisa rimba yang tak lagi raya.

Semua mempunyai mimpi, tetapi mimpi itu dibunuh oleh kata dan tindakan nyata kita, kita sengaja dibelenggu diri yang tidak berani, padahal rimba yang tak bertuan itu perlu harmoni oleh kita dan sesama kita.

Mata bisa membuat sinis dan terluka, bahkan gelap mata karena ketamakan kita,

Kata terkadang menjadi senjata yang bisa membunuh siapa saja, kawan ataupun lawan,

Kita yang harmoni dengan sesama, Sang Pencipta, alam raya bisa menjadi pongah karena merasa diri yang paling besar tanpa sabar, sadar dengan ego diri yang selalu menguasai entah sampai kapan. Alam ini selalu memberi, tetapi tindakan kita menyakitinya hingga mengorbannya hingga lupa diri untuk nanti.

Bunyi sapaan yang bersahutan di rimba raya semakin jarang terdengar karena salah bersaing dengan suara raung mesin yang tanpa lelah dan tanpa henti menggerogoti alam ini.

Suara tangisan yang sering memecah kesunyian selalu sering muncul di pelupuk mata hingga lupaatau sengaja berterima kasih kepada Sang Pencipta karena ego diri kita.

Alam ini memberi kita apa saja tanpa pamirih dan tanpa kata-kata, tetapi nampak di pelupuk mata.

Kisah sengsara kita sudah semakin sering tersaji ketika bencana yang disebabkan karena ulah pongah kita,

kembali mengingat; sudah sadar/tersadar kah kita dengan apa yang terjadi mendera kita dan sesama?

Mata, kata dan kita menjadi tanda nyata bahwa alam yang ada ini boleh dipelihara, bukan dibasmi hingga tinggal cerita.

Celoteh hingga tangis para seisi dan penjaga rimba seolah di pandang sebelah mata. Ada yang mengatakan; jika ia baik, peliharalah, tetapi realitanya hutan alam yang baik ini semakin sering didera dengan tingah, polah kita.

Hutan, alam ini, seperti tidak lagi mampu menahan perebutan oleh tangan-tangan tak terlihat. Nada kata dan kita terkadang tak jarang menjadi luka baru bagi akar rumput yang mendiami setiap sudut hutan dari sisa-sisa yang ada, suara harmoni budaya yang kini tak lagi bisa didengar karena ulah egonya kita yang selalu memandang remeh rona cahaya keharmonisan budaya yang acap kali terganjar norma-norma dan titah baru.

Kehidupan yang ingin selalu ingin harmoni, tetapi mata kita enggan melihat, kata kita yang semakin sering congkak karena dengan perbuatan kita yang kadang memandang remeh penjaga-penjaga rimba raya.

Kita sering mendengar cerita yang menyebut hutan sebagai nadi dan nafas kehidupan tetapi ia acapkali dibasmi hingga membuat mata menjadi silau oleh lembaran-lembran hijau hingga merah tetapi bukan daun. Mengaduh sampai gaduh terkadang sering sebagi refleksi tetapi setelahnya lupa karena terlanjur cinta karena kata-kata dan rayuan manis si empunya titah yang terlalu amanah hingga menginjak akar rumput hingga terbakar dan tersulut api keserakahan yang kita pun semakin lirih di mata sesama. Padahal; mata, kata kita, dan alam ini titahkan untuk harmoni. Alam menjaga, tetapi kita yang semakin lupa hingga membuatnya (alam ini) semakin sulit berdiri seperti dulu.

Satwa dan rimba yang tak lagi raya semakin malu menampakan diri dan memanjakan mata karena malu oleh ulah dan pongahnya kita.

Hutan alam ini sungguh bersahabat hingga memberi dirinya seutuhnya bagi semua nafas kehidupan, tetapi kita yang lupa diri karena katanya tak berguna membina harmoni karena tak tulus kalah fulus menggerogoti nurani. Tetapi sepertinya, itulah kita yang semakin sulit menahan mata, kata hingga alam yang raya ini semakin memerlukan tindakan nyata bukan janji tetapi aksi. Mengingat, hutan, alam ini memberi tapi kita lupa membalas dengan apa yang bisa kita lakukan. Bukankah Sang Pencipta menciptakan Alam semesta, hutan, alam ini memberi untuk kita. Pertanyaannya adalah; apa yang bisa kita lakukan dan berikan untuk alam ini? Entahlah tergantung masing-masing melihatnya dengan mata, menentukannya dengan kata dan perbuatan nyata pula. Semoga saja…

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana; Mata, Kata, Kita dan Alam Ini

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Asyiknya Bisa Belajar Secara Langsung di Hutan

Jika boleh dikata, bisa belajar secara langsung di hutan merupakan salah satu hal yang sangat mengasyikan. Ya, tidak semua orang bisa berkesempatan belajar secara langsung di hutan.

Seperti misalnya, pada Sabtu (12/4/2025) kemarin, adik-adik dari SDN 08 Siduk, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara berkesempatan melakukan field trip atau kunjungan lapangan (belajar secara langsung) di Hutan Mini Yayasan Palung (YP).

Sebelum mereka turun langsung ke hutan, mereka dibekali beberapa materi tentang hutan oleh teman-teman dari Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung (YP). Beberapa materi yang disampaikan antara lain adalah manfaat hutan bagi kehidupan, keanekaragaman hayati dan pengenalan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang disampaikan oleh Simon Tampubolon, selaku Koordinator Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung di Kayong Utara. Kegiatan tersebut juga didampingi oleh teman-teman REBONK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) binaan Yayasan Palung.

Setelah dibekali pengetahuan tentang hutan, selanjutnya adik-adik (siswa-siswi) melakukan kunjungan lapangan ke hutan mini Yayasan Palung sekaligus mengamati satwa dan tumbuhan HHBK yang ada di sekitar hutan tersebut.

Baca juga :

Dalam kesempatan tersebut, siswa-siswi juga diajak bermain game (ice breaking), membuat yel-yel kelompok, dan masing-masing kelompok berkesempatan untuk mempresentasikan hasil dari pengamatan yang mereka lakukan di hutan.

Berharap, semoga saja siswa-siswi yang mengikuti field trip bisa semakin tumbuh semangat cinta akan lingkungan lebih khusus lingkungan sekitarnya. Semoga saja… (Pit-Yayasan Palung).

Tiga Tips Sederhana Menjaga Bumi

Setidaknya ada tiga (3) tips sederhana yang bisa kita lakukan untuk menjaga bumi

  1. Membuang sampah pada tempatnya

        Sudahkah kita peduli dengan sampah? atau masih acuh tak acuh dengan persoalan sampah?

        Seperti diketahui, persoalan sampah menjadi hal yang sangat sulit ditanggulangi. Tidak sedikit dari antara kita yang masih membuang sampah sembarangan (tidak pada tempatnya).

        Di Negeri kita tercinta ini, kita sangat mudah menemukan/menjumpai sampah-sampah yang terkadang selalu ada di setiar kita; lingkungan kita, jalan raya atau di sudut-sudut lahan kosong.

        Bungkus plastik makanan, tisu, puntung rokok, botol plastik kemasan, hingga wadah makanan streofom pun sering dijumpai di jalan-jalan raya. Sepertinya itu bukan salah petugas kebersihan, karena mereka pun (petugas kebersihan) tak mungkin sepanjang waktu membersihkan ruas jalan.  

        Buanglah sampah pada tempatnya. Mulailah dari diri sendiri. Pilah dan olahlah sampahmu. Mulai sekarang yuk kita peduli pada sampah.

        Baca selengkapnya di: Sampah antara Musuh atau Sahabat

        2. Hemat menggunakan air

        Tidak terbayangkan bagaimana jadinya apabila di bumi tidak ada air?

        Jika boleh dikata, air adalah sumber Hidup. Bagaimana jadinya apabila di Bumi tidak ada air. Mungkin sebagian bear makhluk hidup akan mati.

        Tetapi terkadang kita sering kali tidak peduli dengan air (boros air) di rumah atau di tempat kita karena kurangnya kesadaran kita. Singkatnya, tidak ada air tidak ada kehidupan.

        Baca selengkapnya di: Air (dan/untuk) Kehidupan

        3. Kurangi memakai kantong plastik

        Saat ini nasib bumi sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ya, nasib bumi kini bergelut melawan sampah pastik yang tidak kunjung usai persoalannya karena satu diantaranya karena ulah kita manusia.

        Ternyata semakin banyak penggunaan kantong plastik dan sedotan plastik sedikit banyak berdampak (memiliki dampak) kepada/bagi tatanan kedidupan baik secara langsung atau pun tak langsung.

        Dari data dari Eco Watch menyebutkan; manusia di dunia menggunakan (mengkonsumsi) 5 milyar kantong plastik/tahun atau 1 juta kantong plstik/menit.

        Apa sesungguhnya bahaya kantong plastik dan sedotan plastik?

        Bahaya kantong plastik

        Pertama, semakin banyak kantong plastik yang kita gunakan maka akan berdampak pada munculnya persoalan baru yaitu sampah plastik. Sampah plastik yang dimaksud apabila sudah menumpuk maka akan menciptakan sumber penyakit.

        Hampir dipastikan sampah-sampah plastik bekas yang (ter/di) buang tersebut akan dikerumuni oleh lalat.

        Seperti diketahui, pada tubuh lalat lebih khusus lengan dan tungkai (ekstremitas pada lalat/Drosopila) memiliki banyak bakteri yang bisa menyebabkan/menularkan kuman penyakit seperti sakit perut dan diare ketika dia hinggap pada tubuh manusia.

        Kedua, kantong plastik dari sisa-sisa pemakaian baik yang (di/ter) buang ke tanah atau pun ke sungai atau juga ke lautan sangat berdampak kepada makhluk hidup (hewan) yang mendiami wilayah darat, sungai, maupun lautan.

        Sebut saja seperti burung yang bisa saja tak sengaja memakan plastik yang mereka kira adalah makanan.

        Sama halnya dengan ikan dan penyu yang bisa saja memakan plastik yang dibuang oleh tangan-tangan tidak kelihatan.

        Atau apabila mereka tidak sengaja memakan plastik, bisa saja mereka terperangkap kantong plastik yang (di/ter)buang  tersebut.

        Ketiga, pembuatan kantong plastik dan sampah plastik sangat berbahaya karena bisa memicu peningkatan suhu bumi atau pun boleh dikata juga sebagai pemicu perubahan iklim.

        Keempat, penggunaan kantong plastik untuk wadah makanan sedikit banyak bisa mempengaruhi kesehatan manusia karena zat pewarna dari kantong plastik bisa menyerap pada makanan.

        Kelima, sampah plastik yang menumpuk di tanah akan terurai sangat lama karena membutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun.

        Selain itu juga sampah plastik dapat mempengaruhi tanaman yang ada di sekitar (menghambat/menghalangi/membunuh pertumbuhan tanaman) karena tanaman tidak bisa tumbuh maksimal. 

        Sampah plastik jika boleh dikata sudah semakin sulit untuk dikendalikan. Yuk kita sama-sama kurangi menggunakan kantong plastik, gunakan tas ketika berbelanja ke pasar.

        Baca selengkapnya di: Bahaya Kantong Plastik Bagi Kehidupan

        Petrus Kanisius-Yayasan Palung

        Refleksi Pengetahuan Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang Menapaki Jejak Pembelajaran

        Kegiatan Refleksi Pengetahuan Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang: Menapaki Jejak Pembelajaran, Minggu (13/4) kemarin.

        Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang menggelar kegiatan yang bertajuk “Refleksi Pengetahuan Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang: Menapaki Jejak Pembelajaran” kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor Desa Rantau Panjang, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada Minggu (13/4/2025).

        Kegiatan ini menjadi ruang reflektif untuk menelusuri perjalanan belajar yang telah ditempuh, sekaligus memperkuat semangat kolektif dalam membangun desa yang berdaya dan berkelanjutan.

        Di dalamnya, perempuan memainkan peran penting, bukan hanya sebagai penggerak edukasi, tapi juga penjaga nilai-nilai pelestarian lingkungan. Dari pengalaman lokal hingga aksi nyata di lapangan, perempuan hadir sebagai motor perubahan, menyuarakan harapan dan solusi bagi bumi yang lebih lestari.

        Baca juga :

        https://pontianak.tribunnews.com/2024/11/18/peduli-pada-nasib-bumi-yp-lakukan-tanam-pohon-baksos-serta-membuat-kerajinan-dari-sampah-plastik

        Kembang Desa adalah bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari desa, dan dipimpin oleh mereka yang tulus mencintainya. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 18 orang peserta.

        Seperti diketahui, Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang merupakan kelompok binaan Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung, sejak tahun 2024 lalu.

        Penulis: Widiya Octa Selfiany (Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung)

        #KembangDesa #RefleksiPembelajaran #PerempuanPenggerak #EdukasiLingkungan #RantauPanjang #DesaBerkelanjutan #MenapakiJejakPembelajaran #fyp #fyi #edukasi #pendidikan #kelompokedukasi