Mata, Kata, Kita dan Alam Ini

Ilustrasi deforstasi. (Foto dok. SHUTTERSTOCK/Rich Carey via kompas.com).

Mata melihat, kata berujar dan Kita bertindak.Ada mata yang sembab memikirkan tentang hidup, tentang realita akibat kata dan tidakan kita.

Mata melihat indah rona hijau daun dari tajuk-tajuk yang menjulang berdiri kokoh dari sisa-sisa keperkasaan mesin dan tangan-tangan tak terlihat.

Mata membelalak melihat realita tentang kata kita. Ulah kita yang juga tak jarang nyinyir dengan tingkah polah.

Tingkah dan polah tentang realita kata hingga menjadi tindakan kita yang disebut ulah. Lihat, dari mata kita bisa melihat tetapi seolah tertutup atau buta karena takut. Takut bukan tidak berani, tetapi ditutup-tutupi,

Tengoklah, lihatlah lapang lindang rimba raya yang dibuka itu menjadi linangan air mata harapan.

Mata air tumpah menjadi air mata. Tangis air mata bersanding dengan suara deru mesin yang tanpa ampun meratakan bukit hingga gunung-gunung yang menjulang tinggi dan kokoh, sama seperti kita yang semakin gamang dengan bumi, dengan hujan, dengan angina dan dengan kemarau.

Mata kita selalu ingin melihat semua bersahabat dengan alam ini, tetapi lihatlah;

Pongahnya kita yang selalu menyalahkan alam yang tidak bersahabat ketika hujan, ketika banjir, ketika longsor dan ketika hutan gundul, ketika kekeringan.

Berharap alam lestari, tetapi kata-kata menjadi tanda nyata kita tentang perbuatan yang acap kali menuduh keadilan seadil-adilnya membuncah di tengah rekonsiliasi para pencari sesuap nasi, yang berdiam di sisa-sisa rimba yang tak lagi raya.

Semua mempunyai mimpi, tetapi mimpi itu dibunuh oleh kata dan tindakan nyata kita, kita sengaja dibelenggu diri yang tidak berani, padahal rimba yang tak bertuan itu perlu harmoni oleh kita dan sesama kita.

Mata bisa membuat sinis dan terluka, bahkan gelap mata karena ketamakan kita,

Kata terkadang menjadi senjata yang bisa membunuh siapa saja, kawan ataupun lawan,

Kita yang harmoni dengan sesama, Sang Pencipta, alam raya bisa menjadi pongah karena merasa diri yang paling besar tanpa sabar, sadar dengan ego diri yang selalu menguasai entah sampai kapan. Alam ini selalu memberi, tetapi tindakan kita menyakitinya hingga mengorbannya hingga lupa diri untuk nanti.

Bunyi sapaan yang bersahutan di rimba raya semakin jarang terdengar karena salah bersaing dengan suara raung mesin yang tanpa lelah dan tanpa henti menggerogoti alam ini.

Suara tangisan yang sering memecah kesunyian selalu sering muncul di pelupuk mata hingga lupaatau sengaja berterima kasih kepada Sang Pencipta karena ego diri kita.

Alam ini memberi kita apa saja tanpa pamirih dan tanpa kata-kata, tetapi nampak di pelupuk mata.

Kisah sengsara kita sudah semakin sering tersaji ketika bencana yang disebabkan karena ulah pongah kita,

kembali mengingat; sudah sadar/tersadar kah kita dengan apa yang terjadi mendera kita dan sesama?

Mata, kata dan kita menjadi tanda nyata bahwa alam yang ada ini boleh dipelihara, bukan dibasmi hingga tinggal cerita.

Celoteh hingga tangis para seisi dan penjaga rimba seolah di pandang sebelah mata. Ada yang mengatakan; jika ia baik, peliharalah, tetapi realitanya hutan alam yang baik ini semakin sering didera dengan tingah, polah kita.

Hutan, alam ini, seperti tidak lagi mampu menahan perebutan oleh tangan-tangan tak terlihat. Nada kata dan kita terkadang tak jarang menjadi luka baru bagi akar rumput yang mendiami setiap sudut hutan dari sisa-sisa yang ada, suara harmoni budaya yang kini tak lagi bisa didengar karena ulah egonya kita yang selalu memandang remeh rona cahaya keharmonisan budaya yang acap kali terganjar norma-norma dan titah baru.

Kehidupan yang ingin selalu ingin harmoni, tetapi mata kita enggan melihat, kata kita yang semakin sering congkak karena dengan perbuatan kita yang kadang memandang remeh penjaga-penjaga rimba raya.

Kita sering mendengar cerita yang menyebut hutan sebagai nadi dan nafas kehidupan tetapi ia acapkali dibasmi hingga membuat mata menjadi silau oleh lembaran-lembran hijau hingga merah tetapi bukan daun. Mengaduh sampai gaduh terkadang sering sebagi refleksi tetapi setelahnya lupa karena terlanjur cinta karena kata-kata dan rayuan manis si empunya titah yang terlalu amanah hingga menginjak akar rumput hingga terbakar dan tersulut api keserakahan yang kita pun semakin lirih di mata sesama. Padahal; mata, kata kita, dan alam ini titahkan untuk harmoni. Alam menjaga, tetapi kita yang semakin lupa hingga membuatnya (alam ini) semakin sulit berdiri seperti dulu.

Satwa dan rimba yang tak lagi raya semakin malu menampakan diri dan memanjakan mata karena malu oleh ulah dan pongahnya kita.

Hutan alam ini sungguh bersahabat hingga memberi dirinya seutuhnya bagi semua nafas kehidupan, tetapi kita yang lupa diri karena katanya tak berguna membina harmoni karena tak tulus kalah fulus menggerogoti nurani. Tetapi sepertinya, itulah kita yang semakin sulit menahan mata, kata hingga alam yang raya ini semakin memerlukan tindakan nyata bukan janji tetapi aksi. Mengingat, hutan, alam ini memberi tapi kita lupa membalas dengan apa yang bisa kita lakukan. Bukankah Sang Pencipta menciptakan Alam semesta, hutan, alam ini memberi untuk kita. Pertanyaannya adalah; apa yang bisa kita lakukan dan berikan untuk alam ini? Entahlah tergantung masing-masing melihatnya dengan mata, menentukannya dengan kata dan perbuatan nyata pula. Semoga saja…

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana; Mata, Kata, Kita dan Alam Ini

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Yayasan Palung

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca