Merusak Alam Lingkungan Sama Saja dengan Merusak Kehidupan

Ilustrasi Kerusakan Lingkungan. Foto dok. Freepik via KOMPAS.com

Merusak alam lingkungan sama saja dengan merusak kehidupan

Kita Dititahkan oleh Sang Pencipta untuk saling harmoni bukan merusak sesama kehidupan, ragam makhluk hidup, tidak terkecuali lingkungan. Merusak Lingkungan, sama saja dengan merusak kehidupan.

Lingkungan yang baik (hutan, alam, bumi ini) memberikan kita tidak sedikit ragam manfaat yang tak ternilai harganya. Dari alam, hutan, bumi ini kita beroleh sumber air yang melimpah, oksigen yang gratis dan ragam manfaat lainnya tidak terkecuali ia (lingkungan yang baik) memberi tanpa pamrih kepada kita semua. Akan tetapi ketika ia (lingkungan, alam, hutan ini) dirusak/disakiti hingga dimusnahkan maka ia pun tak lagi bisa memberi lagi. Atau dengan kata lain, alam lingkungan yang rusak pasti akan berimbas pula kepada sendi-sendi kehidupan ragam makhluk yang ada.

Sang Pencipta menitipkan alam ciptaan ini dengan ragam isinya, yang salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan hidup ragam makhluk hidup tetapi dengan syarat kebijksaan bukan keserakahan. Tidak hanya itu, alam ini perlu dirawat, dijaga dan dipelihara bukan dimusnahkan dengan ragam dalil dan kilah yang mengorbankannya hingga hilang tak berbekas hingga mengorbankan bagi sendi-sendi ragam kehidupan makhluk hidup kini dan nanti.

Hutan, alam ini membutuhkan harmoni dari kita sebagai makhluk yang paling mulia, akan tetapi kitalah yang tak jarang membuat keharmonisan dengan alam ciptaan ini yang semakin renggang hingga tercerai berai. Hutan alam ini memberikan kita sumber hidup dan kehidupan, tetapi kita membalasnya dengan air tuba yang bernama keserakahan yang kini semakin merajalela. Hutan alam ini kini semakin sulit dan pelit memberi kita karena ulah kita pula. Tumbuhan-tumbuhan obat, tumbuhan asli/tumbuhan langka semakin terhimpit dan diantaranya rebah tak berdaya karena ulah kita.

Kita saat ini dihadapkan dengan realita, kicauan suara burung tidak tercuali enggang dan satwa seperti orangutan, kelempiau, kelasi dan satwa lainnnya semakin jarang terdengar bersahut-sahutan bercengkrama di hutan rimba. Semakin sunyi sepi tak berani karena habitat sudah semakin terhimpit dalam jerit tangis tetapi ditahan dalam diam.

Udara segar dan keindahan alam yang kini semakin jarang terlihat tumbuh menaungi lagi karena semakin rebah tak tentu arah karena ulah serakah dari segelintir kita manusia yang lupa harmoni dengan alam dan sesama makhluk lainnya karena memikirkan sesaat bukan keberlanjutan sampai nanti.

Ketika alam (hutan ini) rusak, banjir datang, tanah longsor mendera alam dikata tak bersahabat. Alam atau kita yang tak bersahabat?

Bencana alam yang semakin sering mendera kita pun sejatinya sebagai tanda bahwa merusak alam lingkungan sama saja dengan merusak kehidupan.

Berapa nyawa makhluk hidup, korban harta benda dan mungkin juga korban nyawa yang hilang ketika bencana alam terjadi.

Kita tidak menginginkan terjadinya bencana. Tetapi, bencana alam yang terjadi beberapa diantaranya karena ulah serakah kita manusia pula. Semestinya kita tidak bisa menyalahkan alam. Ingatlah, alam dan kehidupan itu sejatinya harmoni, tetapi karena keegoan kita manusia justru mengorbankan alam, hutan ini tanpa memikirkan dampak setelahnya.

Bayangkan saja, berapa mahalnya biaya yang harus ditebus/ditanggung ketika kerusakan dan pasca terjadi bencana alam yang terjadi karena ulah/polah tangan-tangan terlihat (disebabkan oleh ulah serakah manusia) tidak terkecuali persoalan sampah yang hingga kini tak kunjung henti mendera. karena ulah pongah kita juga.

Tingkah polah hingga pongahnya kita manusia pun tak jarang menjadi jengah bermuara semakin sulitnya lagi kita untuk saling harmoni dengan alam ciptaan ini.

Keutuhan ciptaan yang sejatinya dijaga justru didera tanpa ampun. Kita pun menunggu hingga kapan ada rasa untuk saling menyapa hingga realita berpadu bersatu agar hutan alam ini di pelihara, dijaga, ditanam, dirawat bukan disakiti hingga diujung bayang-bayang hilang lenyap.

Bukan tidak mungkin, rusaknya hutan alam, lingkungan ini merusak pula sendi-sendi kehidupan kita secara perlahan-lahan ataupun tanpa henti (semakin sulit air bersih, udara segar dan semakin tandus dilahan yang semkin gersang dan mati di lumbung padi). Jika tidak ada asa untuk berubah dan berbenah maka hampir dipastikan hutan alam akan semakin rusak dan juga hampir pasti itu juga akan merusak kehidupan.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/684a5c2534777c16212c8645/merusak-alam-lingkungan-sama-saja-dengan-merusak-sendi-dan-nadi-kehidupan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Yayasan Palung

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca