Kita yang Dijajah oleh Diri Kita Sendiri, Lawan Terberat adalah Diri Sendiri karena BOMAL

Ilustrasi: BOMAL. (Foto dok. shutterstock).

Kita sekarang dan mungkin sejak lama telah dijajah oleh diri kita sendiri dan lawan terberat diri sendiri adalah diri kita sendiri, salah satu alasannya karena BOMAL.

Kita sendiri yang sering dijajah oleh diri sehingga terkadang lupa diri. Kita sering dijajah oleh pikiran kita, kelalaian kita hingga menunda dan menjadi malas hingga BOMAL (bolek dan malas). Bolek dalam bahasa daerah di Ketapang, Kalbar, berarti: tidak mau melakukan sesuatu. Kata BOMAL dipopulerkan oleh guru sekaligus teman/sahabat kami almarhum Al. Yan Sukanda. Semasa hidupnya beliau selalu mengingatkan kami; jadi orang jangan BOMAL.

Pesan tentang BOMAL juga selalu mengingatkan tentang diri kita yang sejatinya tidak bodoh, tetapi bolek dan malas.

Kita terkadang sadar dengan apa yang sudah terjadi yang tak lain karena dijajah oleh diri kita sendiri. Kita atau diri sendiri yang masih sering dijajah oleh rasa malas.

Kita sering malas dan selalu menunda-nunda apa yang sejatinya tidak boleh terjadi. Tetapi itulah diri kita. Kita yang sering BOMAL dengan tidakan kita.

Tidak hanya itu, terkadang kita dijajah oleh rasa takut oleh diri sendiri bahkan tidak jarang menjadi katak dalam tempurung. Kita cenderung terkungkung dengan diri yang lebih memilih ego diri dari pada memilah rasa saling rendah hati dan mengalah.

Kita dijajah dan kalah dengan diri sendiri karena keinginan, bukan kebutuhan. Kita pun sering dijajah oleh rasa iri dengki, tidak menerima diri apa adanya atau karena pencapaian orang lain yang sejatinya kita harus ikut bersyukur.

Kita sering meratap apa yang terjadi tanpa ingin merubah pola diri yang BOMAL menjadi ingin melakukan walaupun terkadang berat atau pun bahkan tidak mungkin. Kita acap kali menjadi orang lain ketimbang menjadi diri sendiri. Sejatinya dari masing-masing diri kita/kita sendiri adalah diciptakan unik diciptakan berdasarkan talenta masing-masing sesuai gambaran Sang Pencipta.

Kita pun semakin sering congkak hati kepada orangtua, teman, pasangan, anak-anak hingga kepada sahabat kita karena pencapaian dan ego yang sulit terlepas dalam diri kita karena belenggu kesombongan yang tak dirubah karena adab terkikis oleh diri sendiri yang BOMAL berbenah hingga tak mendengarkan nasehat/pepatah tetua dulu yang syarat makna seperti “semakin tinggi, semakin merunduk” tetapi terkadang kita lupa atau sengaja lupa di atas langit masih ada langit.

Diri kita (diri sendiri) yang terkungkung dan dalam bayang-bayang dengan masa lalu suram yang harusnya berlalu dan menatap dan menata hari esok lebih baik.

Kita pun semakin sering dijajah oleh pikiran-pikiran yang tidak karuan yang terkadang pula belum tahu kebenarannya. Kita sering termakan dan digoreng oleh isu dari pada fakta. Kita yang semakin mudah diadu domba oleh diri sendiri hingga tak mau membuka diri tentang arti rasa ingin mencoba karena lara tak mampu diolah karena terkikis sendu diri terpatri dokma yang merusak toleransi dan kesatuan.

Akhirnya diri kita pun terkadang dibentuk, diolah dan ditempa oleh lingkungan dimana kita berada. Singkat kata, lingkunganmu, relasimu membentuk jati dirimu.

Lawanmu adalah dirimu sendiri. lawanlah dirimu agar tak lagi terus dijajah oleh diri sendiri.  Masa depan kita/diri kita lah yang membentuk. Hilangkan/tinggalkan BOMAL yang selalu menjajah diri dan bukalah diri untuk mendengarkan petuah-petuah/makna yang membangun agar kiranya diri bisa menerima yang seutuhnya. Seutuhnya diri sendiri bukan kata orang. Karena kata orang belum tentu bisa diaplikasikan oleh diri atau terpaksa keterpaksaan.

Berhrap kepada diri sendiri, kepada semua semoga saja kita jangan terkungkung dengan ego diri yang selalu bermuara kepada BOMAL. Akan tetapi, jadilah diri seutuhnya bukan menjadi orang lain.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/683e7a27ed641571ff52c5c2/kita-yang-dijajah-oleh-diri-kita-sendiri-dan-lawan-terberat-adalah-bomal

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Yayasan Palung

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca