
Minggu (8/11/2020) kemarin, saya sangat beruntung karena berjumpa dengan satu individu kelempiau yang masih muda (Hylobates albibarbis) mengunjungi Hutan mini di Bentangor. Seperti diketahui, kelempiau muda itu sedang mencari makan berupa pucuk muda kenari (Canarium) dan rotan tikus (Flagellaria indica).
Bentangor sendiri adalah singkatan dari Belajar Tentang Hutan dan Orangutan. Nama Bentangor juga merupakan nama lain dari kantor Yayasan Palung yang ada di Desa Pampang Harapan (Bentangor Pampang Center) yang menjadi pusat pendidikan lingkungan/ tempat untuk belajar tentang satwa dilindungi, hutan dan lingkungan.

Seperti diketahui, kelempiau umumnya hidup berkelompok (kelompok kecil) sebagai cara menghindari predatornya di alam liar. Akan tetapi, tampaknya kelempiau muda ini terpisah dari kelompoknya, dan mencari makan sendirian.

Kelempiau adalah hewan yang aktif di siang hari (Diurnal) jadi hewan ini mencari makanannya disaat siang dan kelempiau sangat berperan penting dalam proses penyebar biji dihutan (penyemai hutan), karena kelempiau hewan yang sangat cepat pergerakannya dan jauh jelajahnya.
Berdasarkan data IUCN Red List menyebutkan kelempiau (Hylobates albibarbis) termasuk primata yang terancam punah (endangered), jadi peran masyarakat sangat penting demi kelestarian keanekaragaman hayati terutama satwa dilindungi dengan melakukan hal-hal kecil seperti edukasi lingkungan secara aktif dan semoga primata ini masih tetap kita jumpai dimasa yang akan datang.
Dengan berkunjungnya kelempiau ini menjadi tanda, hutan mini di Bentangor masih baik. Berharap hutan dan kelempiau bisa lestari hingga ke anak cucu kita.
Penulis : Sidiq Nurhasan – Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK)
Editor : Pit-YP

Beberapa waktu lalu dan hingga sekarang, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Provinsi Kalimantan Barat melakukan rehabilitasi Mangrove di beberapa desa di Kecamatan Simpang Hilir dan Kecamatan Sukadana. Dalam proses rehabilitasi tersebut BPDASHL salah satunya bekerjasama dengan kelompok Binaan Yayasan Palung yang terdiri dari beberapa Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Kecamatan Simpang Hilir dan kelompok tani Meteor Resam di Kecamatan Sukadana.
Direktur Yayasan Palung, Edi Rahman, mengatakan : “Beberapa alasan mengapa rehabilitasi lahan sangat diperlukan saat ini, salah satu alasannya adalah untuk memilihara, menyelamatkan dan memulihkan/memilihara mangrove.
Pentingnya rehabilitasi lahan mangrove salah satu tujuannya diketahui sangat besar manfaatanya bagi nelayan. Karena mangrove menjadi tempat berkembang biakan berbagai jenis ikan, udang dan tersedianya lahan mangrove untuk mencegah abrasi.
Sedangkan rehabilitasi mangrove yang kita lakukan dengan melibatkan LPHD dan Kelompok Meteor Resam dilakukan di beberapa wilayah seperti di Nipah Kuning, Pemangkat, Pulau Kumbang, Padu Banjar di Kecamatan Simpang Hilir dan di wilayah Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana”.
Lebih lanjut menurut Edi, sapaan akrabnya menambahkan, beberapa wilayah yang menyiapkan lahan rehabilitasi antara lain di Nipah Kuning di lahan 5 hektar dengan bibit 25 ribu bibit, Pemangkat 9 hektar dengan bibit 45 ribu bibit, Pulau Kumbang 16 hektar dengan bibit 80 ribu bibit, Padu Banjar 17 hektar dengan 85 ribu bibit. Selain itu ada di Wilayah Pampang Harapan 5 hektar dengan 25 ribu bibit.
Bibit-bibit tersebut ditanam dengan metode ajir (metode tanam dengan dikurung dengan kayu atau bambu). Seperti diketahui, metode tersebut dipakai agar tanaman mangrove yang ditanam bisa aman dari terpaan gelombang.
Bibit-bibit mangrove yang telah ditanam tersebut selanjutnya menjadi tanggung jawab dari masing-masing LPHD dan dari kelompok tani.
Bibit-bibit mangrove tersebut merupakan bantuan dari BPDAS Provinsi Kalimantan Barat.
Berharap tanaman mangrove yang ditanam bisa tumbuh dan dapat memberi manfaat bagi masyarakat di sekitar pantai, kata Edi.
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2020/10/23/kelompok-binaan-yayasan-palung-tanam-mangrove-yang-difasilitasi-oleh-bpdashl
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) binaan Yayasan Palung (YP) berkesempatan mendapatkan materi peningkatan kapasitas tentang public speaking, jurnalistik dan fasilitator game. Kegiatan tersebut dilaksanakan di alam terbuka, Pantai Tanjung Belandang, Sabtu (17/10/2020) kemarin.
Peserta kegiatan ini adalah anggota RK-TAJAM lintas angkatan. Pada kesempatan pertama, materi Public Speaking disampaikan oleh Mita Anggraini (Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura dan Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan tahun 2017). Mita sapaan akrabnya mengajak adik-adik Relawan Konservasi Tajam untuk membiasakan diri untuk percaya diri saat melakukan presentasi atau pun saat berbicara dan berhadapan dengan orang banyak. Mita juga mengajak teman-teman relawan ketika melakukan public speaking agar selalu menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh khalayak (orang banyak) agar pesan yang disampaikan bisa tersampaikan dengan baik.
Selanjutnya, Mita meminta 10 peserta anggota RK-TAJAM yang ikut dalam pelatihan tersebut untuk mempraktekkan public speaking satu persatu. Beberapa dari relawan terlihat ada yang sudah biasa tampil di depan orang banyak, beberapa diantaranya masih terlihat canggung dan belum terbiasa.
Pada kesempatan kedua, materi yang diketengahkan adalah tentang jurnalistik. Sebagai pemateri adalah Petrus Kanisius (Staf Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung). Petrus Kanisius mengajak adik-adik relawan untuk belajar bersama tentang apa itu Jurnalistik, apa yang bisa dilakukan oleh kita untuk menyampaikan informasi yang terjadi di sekitar kita dengan menggunakan rumus 5 W 1 H. Selain itu juga, mereka diminta untuk menyampaikan informasi terkait lingkungan dan informasi yang ada di sekitar mereka, tentu informasinya harus benar (tidak hoax). Sebagai relawan dibawah binaan Yayasan Palung, RK-TAJAM harus terus mengasah kemampuan menulis terlebih karena mereka sering terlibat dalam kegiatan kampanye lingkungan bersama Yayasan Palung, minimal mereka dapat membuat status tentang persoalan-persoalan lingkungan hidup di media sosial dengan baik.
Di materi ketiga, peserta pelatihan diberikan materi tentang fasilitator game. Tujuan dari materi ini adalah sebagai meningkatkan keterampilan dan kreatifitas dalam berkampanye dan pendidikan lingkungan. Materi Fasilitator Game ini disampaikan oleh Mita dan Haning Pertiwi (Staf Pendidikan Lingkungan YP / Pembina RK-TAJAM).
Menurut Mariamah Achmad, selaku Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan; “peningkatan kapasitas relawan selalu dilakukan sepanjang tahun oleh Yayasan Palung, hal ini untuk memberikan mereka bekal keterampilan dan pengetahuan dalam mereka melakukan kegiatan-kegiatan kampanye publik dan pendidikan lingkungan. Keterampilan pendukung yang dimakud adalah seperti public speaking, jurnalistik dan game, juga pengetahuan tentang konservasi alam dan lingkungan hidup. Dengan demikian kita dapat berharap banyak para relawan yang terdiri dari pemuda-pemudi peduli lingkungan ini akan melaksanakan pembangunan yang lebih ramah terhadap lingkungan hidup di masa mendatang”.
Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari relawan yang mengikuti kegiatan tersebut.
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Pontianak Post versi cetak, tanggal 24 Oktober 2020 dengan judul : YP Latih Peningkatan Kapasitas Relawan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Keliling kampung berkunjung ke sekolah-sekolah untuk sampaikan pendidikan lingkungan, kegiatan tersebut dilakukan oleh Yayasan Palung di Dusun Pangkalan Jihing dan Dusun Bayangan, Desa Pangkalan Teluk, Kecamatan Nanga Tayap, pada 13-15 Oktober 2020 kemarin.
Beberapa rangkaian kegiatan pendidikan lingkungan yang Yayasan Palung lakukan diantaranya adalah berkunjung ke sekolah-sekolah di SDN 20 Nanga Tayap di Dusun Pangkalan Jihing, dan selanjutnya di SDN 28 dan SMPN 7 Satu Atap di Dusun Bayangan.
Seperti di Dusun Pangkalan Jihing pada 13-14 Oktober 2020, kunjungan ke sekolah kami lakukan di pagi hingga siang hari, pada sore hari kami mengumpulkan anak-anak untuk berkegiatan bersama di pelataran masjid setempat, dan pada malam harinya kami melakukan pemutaran film di rumah kepala dusun. Pemutaran film dilakukan di dalam ruangan, tidak seperti biasanya yang dilakukan di luar ruangan karena situasi pandemi Covid-19.
Pada saat melaksanakan kegiatan lecture atau ceramah lingkungan di sekolah, kami membagi peserta didik menjadi 3 kelas, yaitu kelas satu dan kelas dua disatukan menjadi 1 kelas, kelas empat dan lima juga disatukan menjadi 1 kelas serta kelas enam, sehingga 3 kali kegiatan dengan peserta pada setiap kelas dibawah 20 siswa. Materi yang disampaikan untuk 14 siswa kelas 1 dan 2 adalah mengenal satwa yang ada disekitar kita dan di hutan, disini beberapa siswa berhasil mengidentifikasi satwa-satwa yang biasa mereka lihat ada di sekitar mereka seperti kucing, ayam, musang, ular, burung pipit, bahkan satwa liar yang hidup di hutan seperti kelempiau, ayam sempidan, kelasi dan burung enggang. Dusun ini memang terletak di sekitar hutan sehingga tidak heran mereka biasa melihat satwa yang tidak pernah dilihat oleh anak-anak yang tinggal di perkotaan.
Siswa kelas 4 dan 5 belajar mengenal satwa yang dilindungi dengan menggunakan poster mamalia dan primata. Sedangkan siswa kelas enam yang berjumlah hanya 7 orang, mereka diajak untuk menceritakan kehidupan di sekitar lingkungan tempat tinggal dengan menulis cerita 1-2 paragraf. Satu persatu siswa diminta maju kedepan kelas, beberapa bercerita tentang banyaknya sampah yang berserakan di lingkungan rumah dan kampung mereka, dan juga di sungai. Tetapi ada juga yang bercerita tentang keindahan hutan dan pernah melihat satwa di hutan ataupun kesenangan mendengar suara burung dan kelempiau di pagi hari. Setelah presentasi, siswa diajak mengidentifikasi persoalan lingkungan dari cerita yang mereka buat, dan apa solusinya, seperti ada salah satu siswa yang mengatakan bahwa ada gotong royong untuk memungut sampah dan membersihkan lingkungan.
Kegiatan di sore hari adalah berkreasi dengan memanfaatkan barang-barang bekas menjadi barang bermanfaat. Seperti pada kesempatan itu, mereka diajak memanfaatkan botol kemasan sekali pakai dan kaleng susu menjadi pot bunga, tempat pensil, dan wadah lilin.
Pada pagi 15 Oktober 2020 kami meninggalkan Dusun Pangkalan Jihing menuju Dusun Bayangan sekaligus arah pulang ke Ketapang. Kami mampir meaksanakan kegiatan di SD dan SMP satu atap di Dusun Bayangan. Seperti di SDN 28 Nanga Tayap misalnya, materi yang disampaikan adalah pengenalan tentang satwa dilindungi. Selanjutnya di SMPN 7 Nanga Tayap materi lecture yang disampaikan adalah tentang Manfaat Hutan Bagi Manusia dan Lingkungan Hidup.
Menurut Mariamah Achmad, selaku Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung yang juga ikut dalam kegiatan tersebut mengatakan, “Sangat senang sekali kami masih dapat melaksanakan pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah, memberikan pengetahuan dan wawasan lingkungan hidup kepada siswa, sudah 7 bulan sejak Maret 2020 kami tidak melakukannya karena situasi pandemi Covid-19. Kegiatan pendidikan lingkungan di masa pandemi Covid-19 ini cukup penuh tantangan, kami harus menerapkan protokol kesehatan bahwa semua yang terlibat memakai masker, memakai hand sanitizer ataupun mencuci tangan sebelum kegiatan, mengurangi jumlah orang dalam kelas, khususnya kami sebagai orang yang datang dari luar harus menjaga jarak terhadap siswa, dan juga tidak bersalaman. Kami berharap situasi pendemi cepat berakhir, agar aktivitas kehidupan sehari-sehari kembali hidup, atau kita tetap dapat berkegiatan dengan menerapkan secara ketat protokol kesehatan”.
Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah dan masyarakat.
Sebelumnya tulisan ini telah dimuat di Suara Pemred Kalbar : https://www.suarapemredkalbar.com/read/ketapang/20102020/yayasan-palung-keliling-kampung-sampaikan-pendidikan-lingkungan-di-sekolah
Pit-YP

Yayasan Palung adalah lembaga organisasi non profit yang berada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat dengan fokus kerja untuk melindungi populasi orangutan dan keanekaragaman hayati di dalam dan sekitar Taman Nasional Gunung Palung dengan visi untuk mengembangkan komunitas masyarakat melalui kesadaran dan motivasi untuk konservasi orangutan dan habitatnya serta keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Palung. Yayasan Palung bekerjasama dengan pihak terkait untuk konservasi orangutan termasuk pemerintah, private sector, dan masyarakat lokal. Yayasan Palung memiliki 5 strategi untuk mengatasi ancaman kelangsungan hidup orangutan di sekitar Taman Nasional Gunung Palung yaitu Sustainable Livelihood, Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi, Hukum Konservasi (Hutan Desa), Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, dan Pusat Penelitian yang berada di Stasiun Penelitian Cabang Panti.-Yayasan Palung is a non-profit organization in the Ketapang and Kayong Utara Regencies of West Kalimantan with the mission to conserve orangutan populations and biodiversity in and around Gunung Palung National Park with a vision to develop a human community that is motivated to protect orangutans and their conservation. Yayasan Palung collaborates with relevant stakeholders for orangutan conservation including the government, private sector and local communities. Yayasan Palung has 5 strategies to overcome the threat of orangutan in and around Gunung Palung National Park consisting of Sustainable Livelihoods, Environmental Education and Conservation Awareness Campaign, Conservation Law (Customary Forest), Animal Protection, and Scientific Research, located at Cabang Panti Research Station.
Yayasan Palung sedang mencari staf yang bermotivasi tinggi, berkualitas dan berpengalaman untuk mengisi posisi yang kosong sebagai Manajer Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi. Staf yang akan dipilih akan berbasis di kantor Yayasan Palung di Kota Ketapang, Kabupaten Ketapang dengan tugas di Kab. Ketapang dan Kab. Kayong Utara. – Yayasan Palung is looking for a highly motivated, qualified and experienced person to fill the vacant position as Environmental Education and Conservation Awareness Campaign Manager. The position is based in Yayasan Palung’s office in Ketapang, with assignments in Ketapang Regency and Kayong Utara Regency.
Tujuan secara umum Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta kesadaran masyarakat terhadap kelestarian kehidupan liar, hutan dan lingkungan secara umum dengan orangutan sebagai ikon program untuk keberlangsungan kehidupan yang lebih baik. – The general purpose of the Environmental Education Program and Conservation Awareness Campaign is to increase knowledge and skills as well as public awareness of the preservation of wildlife, forests and the environment in general with orangutans as program icons for a better life sustainability.
Persyaratan Umum – Generally requirements
1. Wanita / Pria. – female / male
2. Latar belakang pendidikan S1 diutamakan dari biologi, kehutanan, ilmu komunikasi dengan minimum 8 tahun pengalaman kerja secara umum, dan 5 tahun di konservasi dan lingkungan hidup, lebih disukai relevan dengan bidang pendidikan lingkungan dan peningkatan kesadaran konservasi / lingkungan masyarakat. – University degree in relevant areas (Biology, Forestry, Communication and equivalent) With a minimum of 8 years work experience, including 5 years in conservation and environmental issues, preferably relevant with education and conservation awareness for students and communities.
3. Memiliki keahlian di berbagai aplikasi MS Office, dan lebih disukai jika mempunyai keahlian aplikasi design berbasis aplikasi computer. – Proficient computer skills in various MS Office applications (excel, word, powerpoint), preferably also has design application skill such as corel draw, etc.
4. Memiliki pengetahuan konservasi keanekaragaman hayati dan lebih disukai konservasi orangutan. – Knowledable of biodiversity conservation and preferably orangutan conservation.
5. Bisa menulis dengan kualitas baik (laporan, artikel, kerangka acuan kerja, dll), dan membuat anggaran. – Able to write of high standard (report, article, term of reference, etc), creating and maintaining budgets.
6. Motivasi diri tinggi dan mampu bekerja secara mandiri maupun tim. – High Self-motivated and able to work independently and with a team.
7. Mampu bekerja dibawah tekanan dan tenggat waktu yang tepat. – Able to work under pressure and with tight deadlines.
8. Bisa berkomunikasi dan menulis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. – Ability to communicate and write in Bahasa Indonesia and English.
9. Keterampilan interpersonal yang kuat dan kemampuan memecahkan masalah. – Strong interpersonal skills and problem solving abilities.
10. Mempunyai kemampuan mengelola staf dan sumber daya manusia organisasi. – Capable to manage staffs and human resource.
11. Mempunyai kemampuan komunikasi dan bicara di depan umum yang baik. – Capable communicate and public speaking.
12. Sudah menerapkan gaya hidup ramah lingkungan sehari-hari. – Applied eco friendly lifestyle in daily life.
13. Bersedia bekerja di hari libur dan pekerjaan lapangan (desa-desa di perhuluan dan hutan). – Be able to work in holiday and field work in rural areas and forests.
14. Bisa membangun kerjasama dan melakukan pertemuan dengan pemerintah, private sector, NGO lain, dan masyarakat lokal. – Able to collaborate and carry out meetings with government, private sector, other NGO’s, and local communities.
Tanggung Jawab – Responsibilities
Manajer Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi bertanggung jawab mengelola tim untuk membuat perencanaan dan melaksanakan program jangka pendek dan jangka panjang dengan supervisi dari Direktur Program. Memantau, mengevaluasi, mengelola data sesuai kebutuhan Yayasan Palung. Mendampingi penerima manfaat program. – Manager of Environmental Education and Conservation Awareness Campaign is responsible for managing the team for planning and implementing short- and long-term programs under the supervision of the Program Director. For monitoring, evaluating, and managing data according to the needs of Yayasan Palung. For holding and assisting program beneficiaries.
Mengkoordinasikan secara internal dan eksternal dengan Program Director dan Koordinator Pendidikan Lingkungan di Kabupaten Kayong Utara agar bisa sinergi dan berjalan lancar. – Coordinate and communicate with the Program Director and Coordinator of Environmental Education in Kayong Utara Regency in order to coordinate schedules and joint activities.
Melaporkan perkembangan terbaru kepada Direktur Program, membuat laporan bulanan program yaitu naratif dan keuangan. – Report the latest developments to the Program Director, make monthly reports of program about targets and finances.
Kirimkan aplikasi Anda beserta resume dan dokumen pendukung lainnya yang relevan ke: -Please send your application, along with a full resume and other relevant supporting documents to:
edirahman@gmail.com, mayi.eugenia@gmail.com subject: EE Manager
Batas waktu pengiriman 25 Oktober 2020. Hanya kandidat terpilih yang akan dihubungi untuk wawancara. – Deadline for submission by October 25, 2020. Only short listed candidates will be contacted for an interview.
Yayasan Palung

Jujur, aku tidak melupakan yang lain, tetapi aku suka hutan. Hutan tidak sedikit orang memujinya, karena perannya bagi semua, tetapi ada pula yang mencelanya karena akibat yang ditimbulkan.
Untuk nafas hidup, sumber hidup dan keberlanjutan hidup, itu yang orang rasakan dan katakan sesungguhnya jika bercerita tentangmu (hutan).
Sejatinya tak hanya engkau hutan, tetapi seisi hutan juga patut aku diceritakan pula. Mengapa hutan dan sesisi hutan perlu kuceritakan?
Mungkin juga bumi tempat kita berpijak ini pun demikian adanya, ingin bicara dan bercerita. Bercerita tentang apa-apa saja yang mereka rasa, tentang apa-apa saja ulah kita yang menimbulkan derita mereka karena kita pula.
Mungkin kita sangaja dan tidak sengaja melukai mereka. Mungkin kita menanti mereka tumbuh dan berkembangnya mereka, tidak sedikit dari kita yang tega dan sengaja membiarkan mereka terluka dan terlupakan.
Lihatlah, tidak sedikit diantara mereka (hutan) menginginkan tumbuh menghijaumu yang berbanding lurus membabat mereka.Tangisku, tangismu pula karena rasaku ingin bercerita tanpa paksaan berharap ada asa dan rasa.
Tanpa paksa mendera rasa yang kualami saat ini, tidak berbanding lurus dengan apa yang semestinya dilakukan.
Ceritaku hari ini dan nanti mungkin tidak akan lagi sama. Bercerita bersama akan apa yang akan terjadi. Harmonis sudah lenyap ditelan oleh keserakahan. Keserakahan tentang keberlanjutan, apakah boleh berlanjut sampai kapan tentang apa itu nafas semua makhluk.
Suara-suara lestari tidak lagi sama. Memulai lestari berarti memberi kata tentang arti apa itu harapan. Harapan baru akan apa itu tentang perbuatan. Perbuatan kita tentang apa yang kita rasakan. Bumi menangis seisi bumi terlihat cerabut akibat ulah apa yang kita lakukan kepadanya. Lihatlah banjir, lihatlah longsor dan tanah kering kerontang pun bersatu seolah tidak henti-henti menyapa kita.
Hutan, tanah dan air seperti cerita yang selalu berpadu. Berpadu memacu akan terjadi hari ini. Hari ini berarti cerita yang sedang berlangsung dan menyuguhkan apa yang dirasakan. Kata rasa begitu terasa menjelma. Menuduh, tertuduh hingga gaduh menerawang tawa atau apa yang orang katakan tentang bencana yang berdampingan dengan kita. Lihatlah tanah gersang, hutan rimba yang tidak lagi rimbun. Semua kata tentang semesta, seolah berubah kata menjadi asas pemanfaatan hasil bumi tanpa banyak yang ingat lagi akan apa yang seharusnya berlanjut.
Sumpah serapah terkadang tidak jarang terdengar yang mencela tentang ini dan itu; tentang alam, tentang rimba raya (hutan belantara).
Apabila aku bertanya, salahkah aku sebagai hutan yang tanpa dosa yang sengaja engkau ambil atau rampas. Atau setelah aku tidak banyak lagi tersedia, bahkan semakin sulit engkau (hutan) berdiri kokoh justru banyak yang menyalahkanmu. Tidak sedikit yang berkata; semua karena salah alam (hutan). Sesungguhnya salah engkau hutan alam rayaku ?
Ceritaku akan hari ini dan nanti sepertinya membuat kita tidak lagi sama. Tidak lagi sama karena kita memang terlihat membuat jarak, bukan pengikat agar selalu harmoni sampai nanti. Aku hanya tahu sampai nanti, jika hal-hal seperti ini akan terus terjadi tidak membuat bumi ini bisa damai dan terus berlanjut.
Berlanjut berarti harus ada cara, cara agar kita boleh mencari cara agar bagaimana kita bijaksana (menghadirkan kebijaksanaan). Memperbaiki, menata yang sudah tidak lagi sama. Aku, kamu dan saya ubahlah kiranya agar boleh kiranya berubah menjadi kita semua atau kita bersama untuk semua pula agar boleh berlanjut sesuai keinginan semua secara bersama pula. Ketika ku bercerita hutan, kuingin hutan boleh berlanjut, lestari sampai nanti.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5f7d2afcd541df0b2d554e12/cerpen-ketika-aku-cerita-tentang-hutan
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ini adalah beberapa foto banjir yang terjadi (22/9) kemarin di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Sampai pagi (23/9) tadi, banjir sudah berangsur surut, namun masih menggenangi rumah warga.
Sedikit banyak aktivitas masyarakat terhenti karena banjir. Kemarin (22/9), ketinggian banjir mencapai pinggang hingga dada orang dewasa.
Menurut informasi, banjir yang terjadi di Simpang Dua kali ini adalah yang terbesar dan yang terparah dalam sejarah Simpang Dua. Diperkirakan, banjir yang terjadi adalah akibat curah hujan yang tinggi beberapa hari ini.
Selain di Kecamatan Simpang Dua, Kecamatan Simpang Hulu dan Sungai Laur juga terjadi banjir.
Berharap banjir segera berlalu dan masyarakat bisa beraktivitas kembali.
Sumber foto dan video : Dari Berbagai Sumber
Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Pada tanggal 15-18 September 2020 kemarin, Badan Restorasi Gambut (BRG) mengadakan kegiatan sekolah lapang petani gambut, pelatihan lahan tanpa bakar dan pembuatan pupuk organik yang dilaksanakan di Desa Pulau Kumbang.
Pada kesempatan tersebut, 5 orang peserta dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) binaan Yayasan Palung (YP) seperti dari : Desa Penjalaan, Padu Banjar,Pemangkat, Pulau Kumbang dan Nipah Kumbang mengikuti kegiatan tersebut. Selain itu juga ikut serta 2 orang staf dari Yayasan Palung dalam kegiatan tersebut.
Sedangkan BRG dalam kegiatan tersebut menyertakan perwakilan dari 12 desa dampingannya yang ada di wilayah Kalimantan Barat.
Dalam kegiatan sekolah lapangan, pelatihan lahan tanpa bakar dan pembuatan pupuk organik tersebut, para peserta diajak untuk belajar tentang bagaimana cara mengelola lahan tanpa bakar di lahan gambut dan bagaimana cara membuat pupuk organik.

Terima kasih kepada Badan Restorasi Gambut (BRG) yang telah bersedia menerima peserta dari Yayasan Palung dalam pelatihan tersebut. Mengingat, momen ini penting dan sangat bermanfaat maka Yayasan Palung mengutus 5 orang perwakilan dari LPHD dan 2 orang staf dari Yayasan Palung, kata Desi Kurniawati, selaku Koordinator Hutan Desa untuk Yayasan Palung.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sejak tahun 2010 Yayasan Palung mempunyai satu lahan sebagai lokasi Pendidikan Lingkungan yang diberi nama BENTANGOR (Belajar Tentang Hutan dan Orangutan) yang berpusat di Desa Pampang Harapan Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara.
Dengan lahan seluas 0,6 Hektar tersebut terdapat 2 buah bangunan sederhana serta dikeliling berbagai jens pohon yang masih terbilang cukup padat. Dengan adanya berbagai jenis tanaman buah-buahan dan tanaman hutan tersebut menjadikan lokasi tersebut sangat tepat untuk dijadikan pusat pendidikan lingkungan bagi pelajar dan masyarakat umum.
Selain itu juga, dilokasi Bentangor juga terdapat sedikit lahan pertanian organik, beberapa kolam budidaya ikan, rumah kompos, Rumah Bibit Tanaman yang dikelola oleh Yayasan Palung bersama Kelompok Meteor Gadren dan Relawan Rebonk. Serta disediakan juga jalur Fieldtrip bagi pelajar ketika berada di lokasi Bentangor.
Dikarenakan lokasi Bentangor masih banyak terdapat berbagai jenis pohon membuat udara disekitarnya terasa sangat sejuk dan segar terutama di waktu pagi hari. Para pengunjung yang berada di lokasi Bentangor akan membuat betah akan kesegaran udaranya dan telinga selalu dimanjakan senandung merdu kicauan berbagai jenis burung. Bahkan ketika musim buah, para pengunjung dan orang yang tinggal di Bentangor selalu asyik memandang berbagai jenis satwa yang selalu bercengkraman sambil menyantap lezatnya berbagai jenis buah tanaman yang ada di Bentangor.
Dikarenakan Bentangor dijadikan salah satu pusat Pendidikan lingkungan, maka pada bulan Agustus 2020 Yayasan Palung melakukan survei dan penelitian kandungan Karbon dan melakukan Identifikasi Jenis pohon yang ada disekitar Bentangor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi yaitu menjelajahi setiap sudut lokasi Bentangor dimana ditemukannya jenis tumbuhan (Rugayah, 2004) dengan mengeksplorasi semua jenis pohon yang berukuran diameter 10 cm ke atas dengan sensus 100 %. Survei dan Penelitian tersebut dilakukan staf Yayasan Palung yaitu Andre Ronaldo dan Riduwan.
Menurut Andre Ronaldo yang sehari-harinya disapa Andre, bahwa Total individu pohon yang didapat pada kawasan Hutan Bentangor adalah 201 individu pohon, yang tergolong kedalam 60 species pohon dan tergolong kedalam 29 famili, jenis-jenis tersebut merupakan jenis pohon hias, pohon buah, pohon pakan satwa dan pohon yang dapat dimanfaatkan kayu dan bagian lainnya. Famili dengan jumlah individu pohon terbanyak adalah famili Moraceae (keluarga nangka-nangka) dengan 37 individu yang tergolong kedalam 9 species.

Pohon dihutan mampu menyerap karbondioksida (CO2) untuk proses fotosintesis dan menyimpannya dalam bentuk karbohidrat pada kantong karbon diakar, batang dan daun sebelum dilepas kembali keatmosfer. Hal ini menumbulkan keterkaitan antara biomassa hutan dengan kandungan karbon. Hutan memiliki setidaknya empat kolam karbon yaitu biomassa atas permukaan, biomassa bawah permukaan, bahan organic mati dan kandungan karbon organic tanah. Pada penelitian ini berfokus pada biomassa atas permukaan yaitu pada batang pohon yang memiliki diameter 10 cm keatas, dari hasil data yang didapatkan selama dilapangan saat ini jumlah pohon yang ditemukan sekitar 201 pohon dengan diameter pohon yang bervariasi.
Menurut Riduwan, Bahwa hasil survei dan Penelitiannya di lokasi Bentangor tersebut, dimana perhitungan karbon didapat hasil sebesar 63.075,78 Kg atau sekitar 63,07 ton Karbon. Artinya kandungan karbon yang tersimpan saat ini pada kawasan hutan bentangor untuk karbon diatas permukaan dengan diameter pohon 10 cm keatas sekitar 63.07 Ton. Penelitian ini baik indentifikasi jenis pohon dan Kandungan Karbon ini dilakukan sebagai data base Yayasan Palung dalam memberikan edukasi kepada pelajar dan masyarakat akan pentingnya melestarikan hutan serta ekosistem di dalamnya, Ujar Riduwan.
Andre Ronaldo menambahkan, bahwa hutan Bentangor dengan luas sekitar 0,6 Ha yang memiliki beberapa jenis tumbuhan yang terdiri dari pohon buah dan pohon hutan. Namun perlu adanya kegiatan penanaman agar dapat memperkaya keanekaragaman jenis tumbuhan di Bentangor karena untuk jumlah keanekaragaman jenis tumbuhan di Bentangor masih bisa dibilang sedikit. Lagi pula masih ada beberapa lahan yang masih terbuka yang bisa dilakukannya kegiatan penanaman.
Edi Rahman – Direktur Lapangan Yayasan Palung