
Relawan Konservasi REBONK Yayasan Palung telah membuat film edukasi lingkungan hidup yang berjudul “Si Otan dan Putri”. Film berdurasi 32 menit dan 32 detik ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Orangutan Sedunia atau biasa dikenal dengan nama World Orangutan Day (WOD) tahun 2020, yang diperingati setiap 19 Agustus.
Film ini, inspirasinya didapat dari sebuah buku komik yang berjudul “Dori dan Delima” karya Yayasan Palung pada tahun 2006 silam. Namun dalam film tidak sepenuhnya mengambil dari buku komik tersebut, ada beberapa alur atau adegan yang sedikit dirubah, namun tidak begitu melenceng dari buku komik yang dibuat Yayasan Palung. Tujuan dibuatnya film ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan orangutan dan habitatnya serta mengingatkan tentang adanya sanksi hukuman penjara dan denda berupa uang bagi siapapun yang melanggar UU No. 5 1990 tantang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Pasal 40 ayat 2. Tujuan lainnya adalah meningkatkan kreativitas anggota REBONK (Relawan Bentangor Untuk Konservasi) dengan kegiatan yang positif di masa pandemi Covid-19 ini.
Pengambilan gambar film dilakukan pada 8-18 Agustus 2020, sebagian besar di Pondok Kebun Bapak Asbandi, merupakan salah satu staf Yayasan Palung, yang lokasinya tepat dibelakang Bentangor, lokasi shooting lainnya adalah Aula Bentangor dan Kawasan Hutan Bentangor.
Selama proses shooting yaitu sekitar 10 hari, anggota REBONK sangat bersemangat dan antusias, mereka datang sesuai jadwal yang ditentukan, dan melakukan adegan sesuai dengan arahan dari Pembina yaitu Yayasan Palung. Pembuatan film ini melibatkan 20 anggota REBONK, mereka berperan sebagai pemain (Pemeran utama, pameran tim BKSDA, Kepolisian, dan masyarakat) dan Kru film seperti Cameraman.
Film ini dibuat dengan peralatan shooting yang bisa dibilang masih sederhana hanya menggunakan kamera DSLR tanpa tripod sehingga kadang saat gambar tidak stabil dan para pemain tidak menggunakan mikropon sehingga pada pengambilan gambar dengan jarak yang jauh suara tidak terdengar secara maksimal.
Berikut ini Sinopsis Film Si Otan dan Putri :
Film ini diangkat dari sebuah komik yg berjudul Dori dan Delima karya Yayasan Palung pada tahun 2006 silam. Walaupun pada adegan film tersebut tidak sepenuhnya mengambil dari cerita dori dan delima namun cerita dori dan delima merupakan awal kisah film ini dibuat.
Pada suatu desa hiduplah keluarga kecil yang sangat bahagia. Keluarga tersebut memiliki seorang anak yang bernama putri, pada film tersebut anak ini sedang duduk dibangku SMP.
Mi’an ayah dari putri hari-harinya bekerja sebagai petani dan siti sebgai ibu putri sebgai ibu rumah tangga.
Putri memiliki hewan peliharaan yang bernama otan. Otan merupakan anak orangutan yang didapat dari hasil berburu ayah putri. Putri sangat sayang dengan otan. Setiap hari diberimakan dan bahkan diajak bermain oleh putri.
Namun suatu hari ketika putri pulang sekolah siotan mati. Putri menangis tak henti-hentinya. Akhirnya ibu si putri berusaha untuk mendiamkannya.
Keesokan harinya mi’an ayah siputri berburu kehutan untuk mencari orangutan lagi agar si putri tidak menangis, pada waktu itu ditemani oleh si ujang.
Nah, untuk melihat keseruan pada film tersebut, mari kita saksikan di chanel youtube Yayasan Palung, GP Orangutans.
Yuk tonton filmnya :
Penulis : Riduwan-Yayasan Palung

“Alam mendekapku dengan kehangatannya. Menyapaku dengan orkestranya, nyaman kurasa. Hingga aku tak ingin beranjak”
Irama khas hutan yang berasal dari kolaborasi berbagai jenis bangsa burung, serangga dan makhluk hidup lainnya masih terdengar sama, tak ubah itu adalah orkestra di tengah hutan dan itu selalu memberi kedamaian.
Ranting-ranting pohon menyapa dengan ramah kala aku melewatinya. Air sungai mengarus ke hilir tak lupa tersenyum kepadaku. Ikan-ikan yang hilir mudik berenang juga tak ingin dianggap sombong. Mereka beramai-ramai membentuk barisan untuk menyambut kehadiranku.

Setiap langkah yang kulalui sembari melewati jalan setapak ditengah hutan tak pernah kurasakan sepi. Hutan yang di dalam pikiran banyak orang adalah suatu tempat yang penuh dengan cerita menakutkan, buas dan horor benar-benar ku ingkari hipotesis mereka. Disini, aku menumpang hidup, kurang lebih satu bulan tak sekalipun aku merasa sepi.
Pecayalah kawan, Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) Taman Nasional Gunung Palung telah menyihirku dengan segala pesonanya. Aku bukanlah gadis kota yang asing dengan suasana hutan. Aku adalah gadis desa yang sudah biasa keluar masuk hutan, meskipun sudah tergolong hutan tersier. Disini, aku merasakan hal yang berbeda. Hutan disini terasa sangat unik, mempesona dan selalu membuatku kagum dengan segala yang ada di dalamnya.
Tak bosan aku terkagum-kagum ketika aku ikut bersama Tim OH untuk mengikuti orangutan. Pohon-pohon besarnya, serangganya, burung-burungnya, hewan, mamalianya, serta semua makhluk hidup disini serasa begitu ramah. Meski sulit melihat mereka yang bersembunyi dibalik kanopi, namun aku tahu mereka tersenyum ramah kearahku. Mereka selalu menyambut kehadiranku dengan meriah. Mereka adalah bangsa pribumi yang baik hati.
Kegiatan magangku yang hanya satu bulan disini sebelumnya telah kubayangkan akan terasa membosankan. Bukan berburuk sangka kawan, hanya saja membayangkan diri akan berada di tengah hutan yang jauh dari hiruk pikuk dunia, serasa akan sangat membosankan. Namun, sejak hari pertama aku berada disini segala apa yang ku pikirkan sebelumnya hanyalah hipotesis yang tak bisa dibuktikan. Nyatanya, selama aku disini, aku menikmati setiap detak waktu yang berjalan. Apa yang ada disini adalah surga dunia, dan aku tenggelam di dalamnya.
Dimasa depan, aku ingin kembali ke tempat ini lagi. Mengirup aroma hutannya lagi, menyapa pohon-pohonnya dan juga hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Aku berharap kekayaan alam yang ada disini tetap terjaga hingga anak cucu kita nanti. Mereka harus bisa menikmati orkestra di tengah hutan yang dipersembahkan oleh bangsa-bangsa penghuni hutan ini dan menemukan kedamaian persis seperti yang aku rasakan. Tentu saja bangsa-bangsa penghuni hutan yang aku sebutkan ini adalah mereka para makhluk hidup yang terdiri dari mikroorganisme, tumbuhan dan hewan-hewan. Bukan bangsa-bangsa dari makhluk asral seperti yang terlintas dibenak kalian.
Sekian kilas cerita hari ini. Perjalanan ini akan segera berakhir. Aku akan pergi dari tempat ini. Namun semua yang terjadi kuabadikan dalam catatan perjalanan ini. Semoga sedikit memberikan pembelajaran bahwa hutan adalah tempat yang harus dijaga kelestariannya. Segala apa yang ada di dalamnya adalah harta berharga yang tak ternilai harganya. Mari jaga hutan, jaga keanekaragamannya, jauhkan ia dari kelangkaan. Kelangkaan berarti kita akan kehilangan mereka dan kita tidak akan bisa melihatnya lagi. Dan aku tidak menginginkan itu. Aku harap kalian juga….
Siti Nurbaiti (Penerima WBOCS tahun 2017)

Kamis, 3 September 2020 di kantor Yayasan Palung Ketapang diadakan Award Day WBOCS 2020 bagi 6 penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship / WBOCS).

Adapun 6 penerima beasiswa WBOCS tersebut adalah Vera Frestia dari SMAN Sandai, Sisilia dari SMAN 1 Sungai Laur, Winda Lasari dari SMAN 1 Sungai Laur, Rizal SMK Al-Aqwam Sukadana, Muhammad Syainullah dari MAS Hidayaturrahman Ketapang dan Sonia Utami dari MAS Babussaadah.
Vera Frestia mengambil jurusan Hubungan Internasional FISIP UNTAN, Sisilia dan Sonia Utami mengambil jurusan Sosiologi FISIP UNTAN, Winda Lasari, Rizal dan Muhammad Syainullah mengambil Jurusan Kehutanan FAHUTAN UNTAN. Program beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) pada tahun 2020 ini telah memasuki tahun ke Sembilan.
Edi Rahman selaku Direktur Lapangan Yayasan Palung berpesan kepada para penerima beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship / WBOCS) tahun 2020 ; “Generasi saat ini harus peduli dengan nasib satwa dilindungi seperti orangutan. Kita jangan kalah dengan dunia/orang luar negeri. Mereka (orang luar negeri ) sangat peduli dengan orangutan, kita dari dalam negeri pun seharusnya dituntut untuk peduli dengan orangutan dan habitatnya. Selanjutnya bagi penerima beasiswa orangutan Kalimantan tahun 2020 untuk ikut ambil bagian bersama Yayasan Palung dalam upaya mendukung konservasi, terlebih bagi penerima beasiswa yang berada di sekitar hutan desa binaan Yayasan Palung untuk bisa ambil bagian dan mendukung konservasi yang ada di wilayah Indonesia, lebih khusus di wilayah Kalimantan Barat dan di Tanah Kayong (sebutan untuk wilayah kabupaten Ketapang dan Kayong Utara)”.
Menurut Mariamah Achmad selaku Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung “program WBOCS merupakan program andalan kami, karena dengan program ini kita dapat berharap ada regenerasi pegiat konservasi yang mempunyai kemampuan akademis sekaligus memiliki komitmen yang kuat terhadap pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat. Kemudian melalui program ini, Yayasan Palung berperan meningkatkan pendidikan masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan Indonesia”.
Yayasan Palung merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan yang sama untuk perlindungan orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship). Hingga tahun 2020 sudah terdapat 43 Penerima BOCS yang diantaranya 9 orang sudah menjadi sarjana.
Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2020/09/13/berikut-nama-nama-penerima-beasiswa-peduli-orangutan-kalimantan-barat-tahun-2020
Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Berikut Nama Pemenang Challenge KAMPANYE MEDIA dalam Rangka Hari Orangutan Internasional 2020. Pemenang diumumkan pada tanggal 31 Agustus 2020.
Tema: “Orangutan Sahabat Alam, Lindungi Hak Mereka” .
Berfoto dengan bibit pohon / sedang menanam pohon di kebun, halaman sekolah atau rumah, mengupload foto di akun instagram pribadi dengan menyertakan caption sesuai dengan tema kegiatan, menyertakan hastag: #InternationalOrangutanDay #YayasanPalung #OrangutanBorneo #LoveOrangutan #SaveOrangutan dan maksimal 2 hastag yang dibuat sendiri.
Mengupload foto menanam pohon dengan caption menarik, dua orang pemenang adalah :
1. Maria Yovinda (@mariayovinda_ )
2. Keane Owen ( @keane.owen.2002 )
Selamat kepada para pemenang, semoga selalu menjadi agen untuk perubahan terutama dibidang konservasi.
Narasi : Pit-YP

Beberapa waktu lalu, Yayasan Palung melalui Program Sustainable Livelihood (SL) mengadakan pelatihan Studi Banding dan Pelatihan Pemijahan Ikan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 24-26 Agustus 2020 kemarin di Dusun Segua, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara.
kali ini, dalam kegiatan studi Banding dan pelatihan pemijahan ikan, Yayasan Palung bekerjasama dengan P2MKP (Pusat dan Pelatihan Kementerian Kelautan dan Perikanan) Kabupaten Ketapang telah melaksanakan kegiatan studi banding dan pelatihan pemijahan ikan selama 3 hari.

Adapun sebagai narasumber pada pelatihan tersebut adalah Muhammad Abduh atau sehari-hari dikenal dengan nama Kang Acil. Sedangkan peserta yang hadir dalam pelatihan dihadiri oleh 7 orang peserta dari kelompok ikan Mina Segua dari Dusun Segua, Desa Pampang Harapan.
Selama kegiatan berlangsung kelompok mendapatkan pembekalan tentang pemijahan, proses pembesaran, serta pemasaran. P2MKP juga telah menguji kolam ikan kelompok dengan mengambil sampel lumpur dan air, PH (derajat keasaman) mendapatkan nilai 8.1.
Ranti Naruri, selaku Manager dari Program Sustainable Livelihood (SL) mengatakan “Ini menjadi peluang bagi kelompok untuk dapat membudidayakan dari segala jenis ikan yang ada di dusun Segua, apalagi di daerah tersebut tersedia sumber pakan alami yang mudah didapat dari jerami padi dan kotoran ternak”.
Lebih lanjut Ranti mengatakan, melihat anomali masyarakat yang tinggi terhadap budidaya ikan, maka pada hari ke-3 anggota kelompok Mina Segua melakukan pemijahan ikan mas bersama instruktur dari P2MKP dengan berat 1 ekor Ikan betina 8.6 kg dan 4 ekor jantan diperkirakan bisa menghasilkan larva sekitar kurang lebih 100.000 dan akan menjadi bibit kurang lebih 80.000 ekor ikan. Saat ini kami sedang menunggu hasil dari pemijahan tersebut, ujar Ranti lagi.
Semua rangkaian kegiatan studi banding dan pelatihan pemijahan ikan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pada Kegiatan lomba menggambar poster yang dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung tersebut diikuti oleh 15 peserta dari beberapa sekolah tingkat SMA Se-kota Ketapang.
Seperti biasanya Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day) diperingati setiap tanggal 19 Agustus oleh para pelaku konservasi orangutan di seluruh dunia.
Tahun ini, Yayasan Palung menyelenggarakan kegiatan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya yang dikemas dalam Lomba Menggambar Poster Perlindungan Orangutan tingkat SMA Se-kota Ketapang, dengan mengambil tema “Orangutan Sahabat Alam, Lindungi Hak Mereka”.
Lomba Menggambar Poster ini telah dilaksanakan pada14-15 Agustus 2020, penjurian dan pengumuman lomba pada 18 Agustus 2020, sedangkan hadiahnya diserahkan hari ini, pada 26 Agustus 2020, semua rangkaian kegiatan dilaksanakan bertempat di kantor Yayasan Palung, Ketapang, Kalimantan Barat. Adapun para pemenang adalah sebagai berikut ;
Juara 1 : Regina Ronauli, asal sekolah dari SMA St. Petrus Ketapang
Juara 2 : Zahra Fajar Putri, asal sekolah dari SMA Negeri 1 Ketapang
Juara 3 : Salsa Bila Pasya, asal sekolah dari SMK Negeri 1 Ketapang
Juara Harapan 1 : Azymah Qur’aniah, asal sekolah MAN 1 Ketapang
Juara Harapan 2 : Mutiara Mulan, asal sekolah SMA Pangudi Luhur St. Yohanes
Juara Harapan 3 : Evinka Zahra, asal sekolah SMA Negeri 2 Ketapang
Dalam kata sambutannya, sebelum penyerahan hadiah, Edi Rahman, selaku Direktur Lapangan Yayasan Palung mengucapkan selamat kepada para pemenang lomba menggambar poster orangutan dalam rangka hari orangutan internasional 2020.
Lebih lanjut Edi sapaan akrabnya mengatakan; “Saat ini, orangutan sebagai satwa yang sangat dilindungi dan terancam punah memerlukan perhatian kita semua. Termasuk seperti teman-teman pemenang lomba hari ini memiliki kewajiban untuk peduli dengan lingkungan sekitar dan orangutan. Sesungguhnya banyak cara kampanye yang bisa lakukan untuk peduli dengan lingkungan, seperti misalnya menuliskan pesan ke media sosial dan disampaikan kepada teman dan orang lain, itu artinya juga salah satu cara kita untuk peduli dengan lingkungan sekitar kita. Orang luar negeri saja peduli dengan orangutan, apa lagi kita orang asli Indonesia harus lebih peduli dengan nasib orangutan. Masa depan lingkungan saat ini juga ada pada adik-adik, jadi sangat berharap sekali, teruslah kalian mengasah kemampuan kalian dibidang menggambar dan sampaikanlah pesan-pesan postif lingkungan untuk menggugah kepedulian kepada semua”.
Penyerahan hadiah kepada para pemenang disampaikan oleh Edi Rahman selaku Direktur Yayasan Palung dan juga oleh Erik Sulidra yang mewakili para juri lomba.
Para pemenang lomba berhak menerima hadiah berupa piala, backpack, Tumbler dan bingkisan alat tulis dari Yayasan Palung.
Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta dan diakhiri dengan berfoto bersama.
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2020/08/27/daftar-pemenang-lomba-menggambar-poster-hari-orangutan-internasional-2020-yayasan-palung
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Panti asuhan kambing ini dikelola oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kumbang Mandiri yang ada di Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Panti Asuhan Kambing ini terbentuk atas kerjasama kelompok yang berjumlah 15 orang pada tahun 2019.
Atas dasar terbentuknya panti asuhan kambing ini adalah sebagai bentuk (cara) dari masyarakat/kelompok panti asuhan kambing agar kambing tidak bebas berkeliaran di jalan dan bisa ditampung di panti asuhan kambing untuk dipelihara dengan pembagian hasil penjualan dan bagi anak antara kelompok dan pemilik kambing.
Lihat juga informasi serupa di Instagram Yayasan Palung
Selain itu juga, adanya panti asuhan kambing ini sebagai sarana edukasi di desa itu (Desa Pulau Kumbang) bagi pemuda-pemudi agar bisa menjadi contoh bagaimana cara beternak yang baik.
Sampai saat ini ada sekitar 47 kambing yang ada di panti asuhan kambing. Dari 47 kambing, kambing tersebut adalah milik KUPS , Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan milik milik masyarakat. Saat ini yang mengelola panti asuhan kambing adalah KUPS yang diketuai oleh bapak Aspar Edi. Sedangkan LPHD Pulau Kumbang yang mengurus panti asuhan kambing adalah Syapirin.
Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kumbang Mandiri merupakan binaan Yayasan Palung dan Perhutanan Sosial.
Seperti diketahui, UKM tersebut juga bergerak dalam bidang kerajinan hasil hutan bukan kayu (hhbk) seperti tempurung kelapa, asap cair, dodol kelapa, keripik pisang. Selain kelompok ini memiliki demplot kunyit yang diberi nama Cabe Liak Bawang Kunyit (CLBK).
Berharap, panti asuhan kambing ini bisa menjadi pilihan atau alternatif, dapat berkembang dan dapat membantu masyarakat di sekitar hutan.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tidak sedikit yang menyuarakan agar hutan dan orangutan harus lestari hingga nanti. Akan tetapi, sebaliknya juga bagaimana cara agar hutan dan orangutan bisa berlanjut sampai nanti?.
Hutan dan orangutan betapa mereka memerlukan kita saat ini dan nanti. Memerlukan kita untuk peduli sebagai keberlanjutan sumber kehidupan bagi semua pula sampai nanti.
Nafas-nafas keberlanjutan itu tidak hanya hutan dan orangutan sejatinya, tetapi semua yang bernafas tidak terkecuali kita manusia. Ada kita, ada hutan dan orangutan. Tetapi mampukah hutan dan orangutan bisa berlanjut tanpa kita?
Sejujurnya, hutan dan orangutan bisa hidup dan berlanjut tanpa kita andai saja mereka tidak diganggu oleh kita manusia. Keadaan saat ini justru sangat terlihat dan menjadi keharusan kita pula agar hutan, orangutan, dan kita kiranya harmoni dan berlanjut.
Entah apa ceritanya bila tidak ada hutan bagi kehidupan kita pada umumnya masyarakat di Indonesia. Beribu-ribu hingga berjuta manfaat kita terima setiap waktu dari hutan. Nafas kehidupan berupa udara dan air bersih.
Tidak hanya itu, masih tersedianya luasan tutupan hutan yang kaya akan keanekaragaman hayati pun memberikan ruang yang luas dan bebas bagi penghuni hutan yang tak lain orangutan dan satwa lainnya sebagai penyemai dan penjaga hutan.
Tersedianya keanekaragaman hayati yang masih melimpah sebagai tanda kesejahteraan manusia dan itu kunci dari planet ini. Peran penting dari satwa seperti orangutan dan burung enggang sebagai penyemai pun tidak bisa disangkal.
Hadirnya orangutan dan burung enggang sebagai cara yang luar biasa dari Sang Kuasa agar hutan boleh harmoni dan berlanjut dengan cara-cara sederhana yang kita miliki. Hilangnya hutan berarti harus siap menghadapi berbagai persoalan yang ada.
Setidaknya keharmonisan hutan dan orangutan bersama satwa lainnya serta manusia sejak dulu itu telah ada, namun perlahan tetapi pasti semakin luntur.
Hutan semakin sulit untuk berdiri kokoh, demikian pula penghuninya tidak terkecuali orangutan dan satwa lainnya bersama manusia pula sudah semakin sulit bertahan saat ini karena memang saat ini keharmonisan itu semakin memudar. Perlu kita manusia untuk memupuk kembali rasa peduli agar semua boleh berlanjut hingga nanti.
Seperti terlihat, bila keharmonisan itu terus memudar maka semakin sulit bagi kita untuk merajutnya kembali. Kita memerlukan hutan dan orangutan karena manfaat mereka bagi kita yang tiada tara.
Selama ini kita sesungguhnya menyadari apa yang terjadi namun selalu mengadu setelah semuanya semakin sedikit atau hilang. Yang tersisa pun sudah semestinya dijaga, dirawat dan disemai kembali.
Kita semua sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna di muka bumi ini oleh Sang Pencipta setidaknya bisa mencari cara-cara sederhana agar hutan dan orangutan boleh berlanjut.
Menjaga yang tersisa (hutan dan orangutan) serta satwa lainnya menjadi sesuatu yang semakin utama oleh kita dan siapa saja. Sejatinya hutan dan orangutan bisa berlanjut sampai kapanpun tanpa campur tangan kita manusia. Tetapi karena ulah kita, hutan dan orangutan harus kita perhatikan (pedulikan).
Sekadar mengingat, hutan hilang sudah semestinya harus diperbaiki karena sumber kerusakannya tak lain karena ulah manusia dan tangan-tangan tak terlihat.
Kita yang terkadang tanpa ampun mengikis habis hutan yang tidak lain sebagai habitat orangutan, tetapi di satu sisi kita menyalahkan alam karena tidak bersahabat dengan kita.
Tetapi apakah benar demikian adanya?. Apakah alam tak bersahabat dengan kita atau kitanya yang tidak bersahabat dengan mereka (hutan dan orangutan) dan satwa lainnya.
Mungkin yang sudah terjadi adalah kita tidak bisa berlanjut andai saja tidak ada hutan dan orangutan. Hadirnya hutan sebagai keberlanjutan nafas hidup hingga nanti, itu slogan yang harus ada dan terpatri bagi kita semua. Slogan lain yang juga harus selalu ada adalah hutan terjaga masyarakat sejahtera.
Ragam tumbuhan, satwa yang hidup tidak terkecuali hutan yang tumbuh selalu memberi warna bagi planet ini untuk membalut kerinduan agar semua pengisi semesta ini harmoni sampai nanti dan bisa saling memberi manfaat tanpa memanfaatkan, karena hutan alam ini merupakan titipan yang harus dijaga oleh siapa saja tanpa terkecuali.
Bila hutan, alam ini bisa terus kita jaga maka ia pun akan memberikan manfaat yang tak terhingga kepada kita semua. Berharap hutan dan orangutan bisa berlanjut dengan rasa rasa harmoni yang kita miliki.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5f436cd73e5f1173a7061384/hutan-dan-orangutan-bolehlah-kiranya-harmoni-dan-berlanjut-sampai-nanti
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day) diperingati setiap tanggal 19 Agustus oleh para pelaku konservasi orangutan di seluruh dunia.
Tahun ini, Yayasan Palung menyelenggarakan kegiatan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya yang dikemas dalam Lomba Menggambar Poster Perlindungan Orangutan tingkat SMA Se-kota Ketapang, dengan mengambil tema “Orangutan Sahabat Alam, Lindungi Hak Mereka”.
Pada Kegiatan lomba menggambar yang dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung tersebut diikuti oleh 15 peserta dari beberapa sekolah yang ada di tingkat SMA Se-kota Ketapang.
Kegiatan lomba menggambar poster orangutan yang dilaksanakan selama dua hari (14-15 Agustus 2020) kemarin di kantor Yayasan Palung.
Berikut hasil penjurian dan pengumuman hasil lomba akan dilakukan pada 18 Agustus 2020, penyerahan hadiah akan dilaksanakan pada 19 Agustus 2020 atau pada hari orangutan internasional di kantor Yayasan Palung.
Adapun para pemenang dari lomba tersebut adalah; Regina Ronauli (Skor 740), sedangkan Juara 2 adalah Zahra Fajar Putri (Skor 735), sebagai Juara 3 adalah Salsa Bila Pasya (Skor 728). Sedangkan sebagai Juara Harapan 1 yaitu; Azymah Qur’aniah (Skor 720), Juara Harapan 2 adalah Mutiara Mulan (Skor 716) dan Juara Harapan 3 adalah Evinka zahra (Skor 698).
Untuk melihat gambar para pemenang dapat di lihat di Instagram Yayasan Palung :
Juara 1
Juara 2
Juara 3
Juara harapan 1
Juara harapan 2
Juara harapan 3
Untuk pembagian hadiah kepada para pemenang akan dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2020, sedangkan untuk waktu akan diinformasikan kembali kepada para pemenang.
Selamat kepada para pemenang lomba, terus berkarya untuk mendukung konservasi hutan dan orangutan.
Terima kasih kepada para dewan juri dan para peserta lomba yang telah mengikuti semua rangkaian kegiatan Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day) 2020.
TERIMA KASIH! SALAM ADIL DAN LESTARI!
Petrus Kanisius -Yayasan Palung

Dalam rangka rencana pengelolaan hutan desa yang baru, Yayasan Palung, melakukan survei Biodiversitas di dua desa (Batu Barat dan Rantau Panjang) yang terletak di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Ketika melakukan survei, tim Survei dari Yayasan Palung (YP) yang terdiri dari Erik Sulidra, Andre Ronaldo, dan Hendri Gunawan bersama 4 anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) berjumpa dengan tumbuhan dan satwa langka saat survei biodiversitas di 2 hutan desa baru tersebut.
Tumbuhan dan satwa langka yang mereka jumpai saat melakukan survei tersebut antara lain seperti: Di Hutan Desa Batu Barat, tumbuhan yang ditemukan seperti 2 jenis pohon yang berstatus Critically Endangered (CR)/ sangat terancam punah, berdasarkan IUCN redlist yaitu meranti payak (Shorea platycarpa) dan ramin (Gonystylus bancanus) .
Sedangkan di Hutan Desa Rantau Panjang yang di temukan adalah; 1 jenis pohon yang berstatus Critically Endangered (CR) berdasarkan IUCN redlist yaitu ramin (Gonystylus bancanus) dan 1 jenis Endangered (EN) /terancam punah yaitu Keruing (Dipterocarpus grandiflorus)…..
Baca Arikel Selengkapnya di : tribunpontianak.co.id
Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul : Survei Biodiversitas Yayasan Palung Berjumpa Tumbuhan dan Satwa Langka di Hutan Desa, https://pontianak.tribunnews.com/2020/08/14/survei-yayasan-palung-berjumpa-tumbuhan-dan-satwa-langka-di-hutan-desa
Lihat juga :
Petrus Kanisius-Yayasan Palung