Cerita tentang Kehidupan Orangutan

orangutan-nan-rawan-foto-capture-sampul-majalah-natgeo-indonesia

Keadaan (nasib) hidup orangutan saat ini dalam ancaman serius. Satwa endemik ini keberadaanny dialam bebas lebih khusus di hutan Kalimantan dan Sumatera semakin terancam punah.Orangutan Sangat Terancam Punah, Apa yang Harus Dilakukan

Bergantung di Dahan nan Lapuk

Perilaku yang sukar dipahami dan unik membuat orangutan selalu untuk selalu dinantikan oleh para peneliti baik dari dalam ataupun dari luar negeri. Mengingat, orangutan merupakan satwa yang memiliki peranan paling penting sebagai spesies payung.

Ini Istimewanya orangutan sebagai Spesies Payung

Tetapi, saat ini ancaman kepunahan selalu mengancam kehidupan oragutan dan satwa lainnya. Beberapa ancaman terhadap keberlanjutan makhluk hidup lebih khusus orangutan adalah semakin sempitnya area (wilayah) karena pembukaan lahan skala besar.

Perlu perhatian dari semua pihak untuk terus menjaga dan melindungi orangutan yang disebut juga sebagai kera besar yang ada di Asia, lebih tepatnya di hutan Kalimantan dan Sumatera (Indonesia).

Baca juga : (Dongeng) Namaku Pongo, Aku Tinggal di Hutan,

Selamatkan Hutan, Sayangi Orangutan

 

Bahan bacaan

Berikut beberapa bahan bacaan :

Persentasi  jamur di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung : presentation_ogi-mahasiswa-untan-yang-mengidentifikasi-jamur-di-cp-gunung-palung

Majalah Yayasan Palung MIas 20 Halaman

Brosur BOCS Brosur_brochure 2016  bocs-brosur_brochure-2016

Stiker PPO stiker PPO(1)

orangutan-caring-week-2016

baner-ppo-2016

Peraturan Menteri tentang Adiwiyata permen-adiwiyata

lampiran-iv-permen-adiwiyatalampiran-iii-permen-adiwiyatalampiran-ii-permen-adiwiyata

Laporan tahunan :  GPOCP ANNUAL REPORT 2014

Laporan tahunan Laporan tahunan Yayasan Palung, tahun 2015

Persentasi tentang orangutan manfaatnya bagi hutan dan manusia

 

Undang-Undang

Undang-undang tentang Perkebunan 121_uu-no-18-th-2004_perkebunan

Undang- undang ttg konservasi dan SDA dan Ekosistem undang-undang-tentang-konservasi-sumber-daya-alam-hayati-dan-ekosistem

Tentang Moratorium pinjam pakai suatu kawasan moratorium_ijin_pinjam_pakai_kawasan_hutan

uu_4_tahun_2009

uu_7_2004_sumber_daya_air

uu_24_2007_penanggulangan_bencana

uu32-2009

Yayasan dan Greenpeace Adakan Pelatihan GIS dan Investigasi Bagi Masyarakat Lokal

img-20161206-wa0003
Pemateri menyampaikan materi tentang investigasi dan GIS

Bertempat di kantor Yayasan Palung, sekitar 23 peserta  terlihat sangat antusias dan semangat ketika mengikuti pelatihan (belajar) Global Iinformation System (GIS) dan Investigasi sebagai panduan dasar bagi masyarakat lokal ketika bertugas di lapangan. Pelatihan yang diselenggarakan tersebut berlangsung sejak hari selasa hingga rabu (6-7 Desember 2016), kemarin.

Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama yang terjalin antara Yayasan Palung dan Greenpeace tidak lain sebagai panduan singkat, pengetahuan dasar bagi peserta pelatihan untuk meningkatkan pengetahun bagi masyarakat lokal dengan harapan mampu menererpkannya ketika bertugas di lapangan.

Pengenalan tentang dasar-dasar GIS dan Investigasi diharapkan dapat berguna dan diaplikasikan ketika di lapangan melakukan pemetaan titik api, investigasi dan lain sebagainya. Demikian dikatakan oleh Sapta, salah satu pemateri pada saat pelatihan berlangsung.

Sebelum penyampaian materi pelatihan, diawali dengan maksud dan tujuan diadakannya pelatihan. Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan ini tidak lain adalah, menciptakan SDM yang handal dalam bidang GIS serta menciptakan SDM yang mampu menerapkan informasi dan teknologi spasial secara profesional. Selain itu juga bertujuan untuk membangun SDM yang handal dibidang investigasi dalam mengungkap suatu kejadian atau fakta di lapangan serta menyiapkan tenaga-tenaga yang handal dalam menjalankan investigasi.

Dalam kegiatan tersebut, hari pertama, Selasa (6/12/2016), pemateri dari Greenpeace, Gex Alzaman menyampaikan materi terkait tehnik investigasi. Bagimana cara melakukan tugas investigasi yang baik salah satunya dengan melakukan berbagai cara seperti penyamaran. Selain itu juga dalam melakukan investigasi harus dilengkapi dengan berbagai alat pendukung antara lain seperti kamera dan Global Positioning System (GPS) dan perlengkapan lainnya termasuk bagaimana mengatasi resiko yang harus dihadapi ketika sedang bertugas di lapangan.

Pada hari ke dua pelatihan, Rabu (7/12/2016), peserta diajak untuk mengenal, menggunakan alat-alat seperti GPS, peserta pelatihan diajak mempraktekannya dengan mencari lokasi dan mengambil titik-titi koordinat yang telah ditentukan oleh pemateri melalui peta GPS yang ada di handphone. Selanjutnya peserta memasukan data yang dipraktekkan tersebut kedalam program GIS.

Dalam melakukan praktek peserta dibagi dalam tiga kelompok, ketiga kelompok diwajibkan dengan berjalan kaki, di tengah teriknya mentari untuk mengambil titik-titik koordinat sesuai petunjuk berdasarkan peta yang telah ditentukan dengan jarak pengambilan titik keseluruan di area 2-3 km di wilayah Ketapang (di mulai dari Jl. Kol. Sugiyono- Jembatan Pawan I). Para peserta tampak bersemangat ketika  diminta oleh panitia untuk mengambil titik-titik koordinat dan memotret tempat yang ditentukan titik, seperti misalnya; titik pertama pertama memulai pengambilan titik, penentuan titik jalan, bundaran ataupun tempat ibadah dan lain sebagainya. Tujuan dari praktek ini tidak lain, ketika di lapangan peserta pelatihan dapat mengambil titik dan menentukan titik koordinat suatu wilayah, tempat dan lain sebagainya sebagai sebuah data dalam melakukan investigasi selanjutnya masing-masing dari tiga kelompok mempresentasisikan hasil dari praktek pengambilan titik-titik koordinat mereka dimasukkan (ditransfer) kedalam peta data pada program GIS. Adapun sebagai pemateri di hari kedua adalah Sapta dari Greenpeace Indonesia.

Peserta yang ikut dan hadir sebagai peserta, terdiri dari masyarakat lokal seperti perwakilan dari Aliansi Masyarakat Adat (AMA) Kendawangan, Jelai Hulu, Pasukan Pemadam Api, Yayasan Palung dan Relawan, Yayasan IAR Indonesia dan Balai Konservasi Wilayah 1 Ketapang dan Manggala Agni.

Agus Trianto dari GPOCP/YP, salah seorang peserta pelatihan mengutarakan pendapatnya terkait pelatihan yang dia ikuti, “Pelatihan GIS dan Investigasi yang diselenggarakan ini sangat bermanfaat bagi peserta khususnya diri saya yang terkadang terlibat dengan kegiatan yang berkaitan dengan GIS”.

Selain itu menurut Nun Fauzen salah seorang peserta dari Relawan RebonK  mengatakan, “pelatihan ini sangat membantu masyarakat lokal khususnya saya karena hasil dari pelatihan ini bisa diterapkan dapat membantu masyarakat lokal dalam melindungi lahan dan hutan yang dikelola dan dijaga oleh masyarakat”.

Sedangkan Terri Breeden selaku Direktur Yayasan Palung, mengatakan; Yayasan Palung sangat senang bekerjasama dan berkoordinasi dengan Greenpeace Indonesia untuk memberikan pengetahuan tentang GPS dan GIS dan pelatihan Investigasi kepada masyarakat lokal. Selain itu, keahlian yang diperoleh dari pelatihan ini akan sangat menguntungkan masyarakat di Seluruh Kalbar dengan manajemen lahan yang lebih baik, ujar Terri lebih lanjut.

Pelatihan GIS dan Investigasi yang diselenggarakan selama dua hari tersebut mendapat sambutan baik dari para peserta dan berjalan sesuai dengan rencana. Selanjutnya juga Tim Yayasan Palung dan Greenpeace Indonesia mengadakan pelatihan bagi masyarakat lokal di wilayah hutan lindung Gambut Sungai Paduan diadakan pelatihan dan kampanye pemadaman api dari tanggal 9 hingga 14 Desember 2016.

Tulisan ini juga dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/masyarakat-lokal-belajar-gis-dan-investigasi-sebagai-panduan-singkat-ketika-bertugas_584a6ff709b0bde50e6f5bf2

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 Berjumpa Tumbuhan Keluarga Dekatnya Bunga Bangkai

foto-bunga-amorphophallus-paeoniifolius-foto-dok-terri

Foto bunga Amorphophallus paeoniifolius. Foto dok. Terri

Minggu lalu, seorang teman mengirimkan foto tentang tumbuhan yang ia dapat di sekitaran pekarangan rumah Jimi Aksesoris, tak jauh dari Rumah Sakit Agoes Djam, Ketapang.

Untuk memastikannya, kami menggoogling. Setelah dicari infonya diketahui ternyata tumbuhan ini termasuk dalam keluarga dekatnya bunga bangkai.

Tidak biasa,  itu istimewanya. Karena tumbuhan ini jarang-jarang dijumpai  di tempat di perkotaan atau di belakang pekarangan rumah.

Mengingat tumbuhan ini lebih sering tumbuh di wilayah yang lembab. Aroma bau busuk  dari bunganya dari tumbuhan ini yang sedang mekar pun cukup tajam tercium, demikian kira-kira menurut penuturan Rudi Tabuti yang secara langsung berjumpa dengan tumbuhan dengan nama Amorphophallus paeoniifolius.

Lebih lanjut, menurut Rudi, tumbuhan tersebut tingginya kurang lebih 60 cm dan lebarnya kurang lebih 40 cm.

Beberapa teman-teman pun berkesempatan untuk mengabadikan foto dari tumbuhan yang sedang berbunga ini, salah satunya Terri Breeden. Ia mengatakan, ia tidak menolak untuk berbagi keindahan dari foto bunga ini.

Selengkapnya dapat dibaca di link : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ternyata-tumbuhan-ini-keluarga-dekatnya-bunga-bangkai_583695b35493732607a3a659

Aku Lutung Merah, Rumahku di Rimba

foto-kelasi-di-tngp-rizal-alqadrie
Kelasi yag tinggal di hutan Gunung Palung. Foto Rizal Alqadrie

Haii… aku lutung merah, karena rambutku berwarna merah. Rimba raya atau hutan adalah rumahku. Tertawaku lebar dan sedikit nyaring, demikian aku dikatakan oleh banyak orang.

Aku tertawa katanya sich mirip tertawanya manusia. kak… kak… kak… kak… kak… kak… Berulang-ulang biasanya aku tertawa.

O iya, aku tinggal selalu beramai-ramai. Dengan beramai-ramai  atau berkelompok aku bisa dengan leluasa mencari makan dan bermain di rimba. Rimba tidak lain ialah hutan. Dalam satu  kelompokku biasanya kami berjumlah 8 ekor.

Biasanya juga, kami dipimpin oleh pejantan dewasa.  Aku memiliki ekor yang panjang lho, maka aku disebut kelompok monyet atau orang mengenalku lutung merah.

Makanan kesukaanku buah-buahan dan pucuk daun. Saban waktu dari pagi hingga menjelang senja aku menjelajah hutan untuk mengisi perutku ketika aku lapar dan saat aku ingin bermain dengan teman-temanku.

Kini, kami hidup semakin tidak aman dan tidak tentram. Kami sering diusir, diburu hingga ada yang tega membunuh kami.

Tidak hanya itu, rumah kami berupa hutan juga sudah semakin sedikit. Aku dan teman-temanku semakin terhimpit di tempat asal kami berdiam. Keberadaan kami di hutan Kalimantan memang belum terancam punah, tetapi kami dalam bahaya. Jumlah kami mungkin sedikit lebih banyak dari teman kami Pongo. Nama asliku adalah Kelasi, Presbytis rubicunda,itu nama latinku.

Aku tinggal dihutan bersama teman-temanku yang saling ramah dan bertegur sapa, biasanya kami bersama-sama mencari buah.

Hilangnya hutan menjadi kekhatiran kami hanya satu sekarang ini. Kami takut harus berpindah atau terusir. Karena, rumahku berupa hutan merupakan yang paling istimewa.

Mengapa rimba atau hutan sebagai rumah yang begitu istimewa?. Dari hutan, kami bisa memperoleh sumber makanan dengan gratis.

Demikian juga kata teman-temanku manusia, jika hutan bisa terjaga maka sumber air mereka bisa terus tersedia.

Karena, hutan yang merupakan rumah kami itu, sebagai sumber dari segala sumber kehidupan semua mahluk hidup.

Aku ingin, semua kita bisa bersama makhluk lainnya termasuk manusia bisa menjaga kami. Dengan demikian kita bisa hidup dengan damai dan bisa terus senang ria hutan rimba.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Tulis ini juga dapat dilihat di link : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/aku-lutung-merah-rumahku-di-rimba_58355ba063afbd141258c467

Di Desa Ini Orang Utan Terakhir Kali Terlihat Tahun 80-an

induk-dan-bayi-orangutan-di-gunung-palung-sedang-bercengkrama-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung
Bayi orangutan dan Induknya di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung dan Tim Laman

“Kami mendapatkan informasi di Desa yang kami kunjungi, mereka (masyarakat) terakhir kali melihat orangutan pada tahun 1980-an”.

Pekan lalu, seperti biasanya di bulan November, tepatnya dari tanggal (13-19/11/2016) Yayasan Palung memperingati Pekan Peduli Orangutan. Ragam kegiatan yang kami Yayasan Palung lakukan terkait nasib orangutan yang sangat terancam punah, salah satunya dengan melakukan kampanye penyadartahuan kepada masyarakat dan dilingkup sekolah dengan berbagai kegiatan.

Kami mendapatkan informasi di desa tersebut mereka (masyarakat) terakhir kali melihat orangutan pada tahun 1980-an. Namun saat ini,tidak ada lagi dikarenakan salah satunya oleh perburuan untuk di konsumsi. Selain juga karena disebabkan hilangnya hutan karena konversi perusahaan sawit.

Menurut pemaparan bapak Margono, Kadus Kalam, Desa Sinar Kuri mengatakan dalam sesi diskusi; nilai ekonomi dari hasil hutan seperti buahan, rotan, dan hasil hutan lainnya masih ada di desanya. seperti ginseng dan pasak bumi. Selain itu, bapak Anton, selaku Kaur Desa mengatakan, ada obat ginjal tanaman seperti kumis kucing, daun simpur dan putri malu direbus menjadi satu. Sedangkan untuk Obat typus, urat leletup yang digunakan akarnya dibersihkan dan diminum.

Selengkapnya dapat dibaca dan dilihat di link : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/di-desa-ini-orang-utan-terakhir-kali-terlihat-tahun-80-an_58342981537a61220ba8867a

PPO 2016 :Orangutan Kalimantan dan Sumatera Sangat Terancam Punah, Ini yang Yayasan Palung Bisa Lakukan

foto-bersama-setelah-kegiatan-ppo-2016-di-sman-1-sungai-laur

Foto bersama setelah kegiatan PPO 2016, di SMAN 1 Sungai Laur. Foto Yayasan Palung

Dalam Rangka Pekan Peduli Orangutan 2016, dengan mengusung tema “Critically Endangered and Critically In Need atau Terancam Punah dan Sangat Membutuhkan Perhatian”.

http://pontianak.tribunnews.com/2016/11/11/orangutan-terancam-punah-di-hutan-kalimantan-dan-sumatera

Rangkaian kegiatan PPO yang dimulai dari tanggal 13 hingga 19 November 2016 seperti;
– Lomba pembuatan komik orangutan bagi siswa SMA/MA yang ada di Kec. Delta Pawan Ketapang dan Puppet Show dan perpustakaan keliling oleh relawan Tajam Yayasan Palung.

relawan-tajam-puppet-show-dan-perpustakaan-keliling-dalam-kegiatan-ppo-2016-foto-dok-yp

Relawan Tajam puppet show dan perpustakaan keliling dalam kegiatan PPO 2016 . Foto dok. YP

relawan-rebonk-saat-melakukan-aksi-long-march-foto-dok-yp

Relawan RebonK saat melakukan aksi long march. Foto dok. YP

– Relawan RebonK dan Penerima beasiswa orangutan (BOCS) melakukan long march dan Baksos untuk membrsihkan sampah di sepanjang jalan dari Tugu Durian ke sekitar taman dan sekitar Masjid. sedangkan penerima BOCS melakukan pawai dari GOR, Stadion SSA sampai Bundaran Bambu di Kota Pontianak yang pada hari Minggu, (13/11) pukul 06.30 hingga 11.00 WIB. Kegiatannya seperti orasi, pembacaan puisi dan pembacaan syair gulung.

dsc_0214
Penerima Beasiswa BOCS melakukan aksi dalam kegiatan PPO 2016. Foto Yayasan Palung dan BOCS

membaca-syair-gulung-dan-kampanye-ttg-orangutan

Membaca syair gulung dan kampanye tentang orangutan. Foto Yayasan Palung
Kemudian Tim Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung mengadakan Ekspedisi Pendidikan ke Kecamatan-kecamatan di Ketapang. Seperti PPO 2016 kegiatan bersamaan dengan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Kecamatan Sungai Laur (di Desa Sinar Kuri) dan Kecamatan (di Desa Mekar Raya) Simpang Dua.

sebelum-pemutaran-film-kami-menyempatkan-untuk-menyampaikan-materi-tentang-satwa-dilindungi-foto-dok-yayasan-palung

Sebelum pemutaran film, kami menyempatkan untuk menyampaikan materi tentang satwa dilindungi. Foto dok. Yayasan Palung

Inilah sebagian pesan dari siswa di SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Inilah sebagian pesan dari siswa di SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung

saat-pemutaran-film-lingkungan-di-desa-sinar-kuri-foto-dok-yayasan-palung

Salah satu pesan dari kreasi menggambar dan pesan untuk hutan dan orangutan dari siswa-siswi SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Salah satu pesan dari kreasi menggambar dan pesan untuk hutan dan orangutan dari siswa-siswi SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung

_MG_2571.JPG
Edward Tang saat memberikan materi dan diskusi tentang manfaat dari hutan bagi kehidupan. Foto Yayasan Palung
_MG_2608.JPG
Foto bersama masyarakat di Desa Sinar Kuri, Kec. Sungai Laur. Foto Yayasan Palung

Baca selengkapnya juga tulisan tentang kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2016 di beberapa tempat yang Yayasan Palung lakukan : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/orangutan-sangat-terancam-punah-di-desa-ini-orangutan-terakhir-terlihat-tahun-1980-an_58342981537a61220ba8867a

#OrangutanCaringWeek2016 #PPO2016 #YayasanPalung #Orangutan#OCW2016

 

Memperingati Pekan Peduli Orangutan 2016, Yayasan Palung Akan Adakan Serangkaian Kegiatan

Baner PPO 2016.png
Banner PPO 2016

Tahun ini, untuk memperingati Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2016, Yayasan Palung mengetengahkan tema; Critically Endangered and Critically In Need (Terancam Punah dan Sangat Membutuhkan Perhatian). Setidaknya tema ini menjadi tanda keprihatinan tentang keberadaan hidup dan tempat orangutan di alamnya saat ini, di hutan Kalimantan dan Sumatera.

Adapun rangkaian kegiatan PPO 2016 kali ini bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang status keterancaman Orangutan di alam liar saat ini. Selain itu juga mengajak masyarakat untuk peduli terhadap pelestarian dan habitat orangutan.

Adapun Rangkaian kegiatan yang akan Yayasan Palung dilaksanakan dalam kegiatan PPO kali ini dimulai dari tanggal 13 hingga tanggal 19 November 2016. Selain Yayasan Palung, Rangkaian kegiatan lainnya juga akan dilakukan oleh Relawan Konservasi Tajam di Ketapang,  Relawan REBONK di Kayong Utara, Penerima Beasiswa Orangutan (BOCS) yang sedang studi di Pontianak.

Relawan Konservasi Taruna Penjaga alam (RK-Tajam) Yayasan Palung akan mengadakan lomba pembuatan komik, dengan tema “Upaya Pelestarian Perlindungan Terhadap Orangutan dan Habitatnya yang Terancam Punah”. Siswa-Siwi SMA/MA/SMK di Kec. Delta Pawan. Maksimal diwakili 3 orang perwakilan dari setiap sekolah di Wilayah Kota Ketapang. Kompetisi komik ini dilaksanakan pada hari Senin, 14 – 17 November 2016. Pengumpulan komik dan biodata diri pada Jumat, 18 November 2016, di Kantor Yayasan Palung, Jl. Kolonel Sugiono, Gg. H. Tarmizi No.05, Kelurahan Sampit, Kec. Delta Pawan, Kab. Ketapang.

Sedangkan Relawan REBONK,  pada tanggal 13 November 2016 akan mengadakan rangkaian kegiatan di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Rencananya Relawan REBONK bersama beberapa perwakilan dari  dari SMKN 1 Sukadana, SMK Al-Aqwam, SMAN 1 dan SMAN 2 Sukadana akan mengadakan Orasi dan Long march dari Siduk Menuju Tugu Durian, selanjutnya melakukan aksi Treatrikal. Dilanjutkan dengan kegiatan Bakti Sosial dengan membersihkan sampah di sepanjang jalan dari Tugu Durian, Sekitar Taman hingga Pantai Pulau Datok. Diperkirakan akan dihadiri oleh peserta kurang lebih 50 orang dalam kegiatan ini.

Tidak hanya itu, Penerima Beasiswa Orangutan (BOCS) yang sedang studi di Pontianak juga akan melakukan kegiatan hampir serupa. Kegiatan Pawai dari GOR, Stadion SSA sampai Bundaran Bambu. Kegiatan rencananya dilaksanakan pada hari Minggu, 13 november 2016 pukul  06.30 wib -11.00 Wib. Adapun rangkaian acara adalah seperti; Orasi, Pembacaan puisi dan Pembacaan syair gulung.

Selain itu, Tim Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye  Yayasan Palung mengadakan Ekspedisi Pendidikan ke Kecamatan-kecamatan di Lingkup wilayah Ketapang dan KKU. Seperti PPO 2016 yang kegiatan bersamaan dengan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Kecamatan Sungai Laur dan Kecamatan Simpang Dua. Hal ini dilaksanakan sebagai bentuk ajakan, kepedulian bersama melalui kampanye penyadartahuan dan Pendidikan  kepada masyarakat dan pihak sekolah dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan di bulan November ini. Adapun bentuk kegiatan, Diskusi Masyarakat, Lecture (ceramah lingkungan), puppet show (panggung boneka)  di sekolah dan pemutaran film lingkungan serta kegiatan puncak Pekan Peduli Orangutan 2016 di Kecamatan Sungai Laur pada tanggal 18 November 2016.

Direktur Yayasan Palung Terri Breeden, mengatakan;  pada kegiatan PPO tahun 2016, Yayasan Palung berharap dan mengajak melalui pendidikan konservasi dan kampanye penyadartahuan kepada masyarakat tentang spesies orangutan yang sangat terancam punah, semoga ada kesadaran dan kepedulian lebih dari kita semua. Lebih lanjut, Terri, demikian ia disapa menegaskan, Yayasan Palung ingin menampilkan aksi lokal bagi orang untuk secara aktif melindungi hutan hujan untuk orangutan, tetapi juga untuk diri mereka sendiri.

Semoga kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2016 bisa berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

OCW_PPO 2016.jpg
Banner OCW 2016

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

[Dongeng] Namaku Pongo, Aku Tinggal di Hutan

induk-dan-bayi-orangutan-di-gunung-palung-sedang-bercengkrama-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Induk dan Bayi Orangutan di Gunung Palung sedang bercengkrama. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung


Perkenalkan namaku Pongo. Saban waktu aku selalu tinggal di wilayah hutan Kalimantan dan sahabatku  ada juga yang tinggal hutan Sumatera. Selama aku di hutan, aku selalu bermain setiap harinya, dari pagi hingga menjelang malam hari.

Semaktu aku kecil, aku selalu bersama dengan ibuku hingga aku berusia 7-8 tahun. Aku didalam kandungan ibuku sama halnya dengan saudara/saudariku manusia lho, usia aku didalam kandungan 8,5 bulan hingga 9 bulan.

Aku selalu bersama ibuku, setiap kali ibu mencari makan. Aku juga selalu belajar dan diajari tentang kehidupan oleh ibu seperti membuat sarang, mencari makan dan menjelajahi hutan. Aku tidak bersama bapakku. Karena bapakku hidupnya menyendiri.

Lain halnya dengan ibukku yang selalu bersamaku hingga aku menginjak masa remaja. Makanan favoritku adalah buah-buahan hutan, daun-daun muda, umbi-umbian, rayap dan kulit kayu. Aku sangat suka bergelantungan di pohan satu ke pohon yang lainnya.

Apabila aku sudah dewasa, jika aku jantan maka aku siap mencari pasangan dan bila aku betina aku siap untuk melahirkan. Biasanya umurku mulai dewasa pada usia 8 tahun. Sewaktu aku masih kecil aku tinggal disarang dengan ibuku.

Tetapi setelah aku dewasa, aku tinggal sendiri dan membuat sarang setiap harinya ketika aku ingin berisirahat, makan dan tidur. Di Dunia aku hanya ada di dua tempat di Indonesia, Aku tinggal di hutan Kalimantan dan hutan Sumatera. Aku saat ini sangat terancam punah, alasannya karena tempat tinggalku berupa hutan sudah semakin sedikit.

Aku takut, ketakutan aku tidak lain ketika rumahku tidak ada lagi maka aku akan sulit untuk bertahan hidup. Jika aku tidak diperhatikan maka aku akan semakin terancam punah dan suatu ketika jika tidak diperdulikan oleh sesamaku manusia maka aku akan punah. Mengingat aku adalah satwa endemik. Orang bilang sich, aku adalah kera besar yang langka satu-satunya yang ada di Asia. Sesamaku manusia menyebutku adalah primata (satwa) penyebar biji-bijian yang bisa untuk membantu tumbuhnya pohon-pohon.

Biasanya aku bersama burung enggang sebagai penyebar biji. Aku saat ini juga dilindungi oleh undang-undang no 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Aku tidak boleh dipelihara, tidak boleh dibunuh, tidak boleh juga diperjualbelikan (tidak boleh diperdagangkan) lho. Jika terbukti dari sahabat/saudaraku manusia ada yang memilihara, membunuh atau memperjualbelikan aku ada sanksi dan denda. Sanksinya 5 tahun penjara dan denda 100 juta.

Aka harap aku diperhatikan oleh sesamaku manusia untuk hidup bebas di hutan jik boleh. O iya, Pongo itu nama panggilanku. Nama lengkapku Pongo pygmaeus,karena aku tinggal di Kalimantan. sedangkan saudara/saudariku di Sumatera, nama lengkap mereka adalah Pongo abelii. Setiap hari aku selalu mencari makan, membuat sarang dan menyebar biji-bijian.

Kata sesasamaku manusia aku berperan besar untuk membantu manusia. bila biji-bijian yang aku sebar (semai) pohon-pohon bisa tumbuh dan manusia terbantu karena pohon bisa melindungi dari panas sinar matahari. Pohon yang tumbuh dari semaianku itu juga dapat membantu para petani dan masyarakat untuk memperoleh air. Karena pohon banyak menyimpan sumber air. Semoga ya, aku bisa lebih lama tinggal di hutan hingga selama-lamanya dan aku harap aku dan sesamaku manusia bisa untuk saling menghargai sehingga kita bisa lestari hingga nanti. Demikian perkenalan singkat aku. Sampai nanti ya, aku ingin bermain lagi di hutan bersama dengan sesesamaku satwa lainnya. Aku ingin selalu bahagia hutan. 🙂

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tulisan ini ditulis kembali, setelah sebelumnya dimuat di Fiksiana Kompasiana. Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/dongeng-namaku-pongo-aku-tinggal-di-hutan_581acd1e727a61a6434662b6  

Mengintip Relawan RebonK Belajar Silsilah Tumbuhan Secara Langsung di Hutan

Penjelasan dari Edward Tang kepada relawan saat praktek identifikasi daun. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Penjelasan dari Edward Tang kepada relawan saat praktek identifikasi daun. Foto dok. Yayasan Palung

Antusiasme dari Relawan RebonK tampak terlihat ketika mereka belajar tentang silsilah tumbuhan saat mereka mengikuti kegiatan penguatan kapasitas sekaligus pelantikan mereka, pada  tanggal 5-6 November 2016  pekan lalu. Kegiatan ini dilaksankan di Kantor Yayasan Palung di Desa Pampang Harapan, Kabupaten kayong Utara.

Sebelum dilantik, para Relawan Bentangor Untuk Konservasi (Relawan RebonK) diajak untuk belajar bersama tentang beberapa materi, diantaranya tentang keorganisasian, dasar-dasar jurnalistik lingkungan dan belajar tentang Taksonomi tumbuhan yang tidak lain adalah silsilah tumbuhan.

Dalam pemberian materi taksonomi tumbuhan tersebut, sebagai pemateri Edward Tang dari Yayasan Palung menjelaskan tentang beberapa hal terkait taksonomi tumbuhan. Salah satunya mereka (Relawan RebonK) setelah diberikan materi, selanjutnya mereka diajak untuk praktek mengidentifikasi ciri-ciri fisik daun dan bentuk daun serta penamaan daun di sekitar hutan yang ada di belakang kantor Yayasan Palung.

Untuk lebih lanjutnya, dapat dilihat selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/mengintip-relawan-rebonk-belajar-silsilah-tumbuhan-secara-langsung-di-hutan_5821a976ee9673bb1867436a