“Cerpen” Perkenalkan Aku Bekantan Satwa Endemik Kalimantan

Aku Satwa Endemik, Namaku Bekantan. Foto dok: Rizal Alqadrie

Perkenalkan, aku adalah Bekantan, aku berasal dari Kalimantan. Aku binatang endemik (aku hanya ada di Kalimantan saja lho, tidak ada di tempat lain). Aku seekor monyet berhidung mancung, Selain mancung, hidungku panjang dan besar. Karena hidungku yang mancung, aku disebut orang sebagai monyet belanda. Aku memiliki nama latin Nasalis Larvatus.

Aku (bekantan) berbeda dengan monyet biasanya, hidungku yang mancung membuatku lebih unik dari monyet biasanya. Hidungku yang mancung ini membuat bekantan betina tertarik akan memilihku untuk menjadi pasangannya.

O iya, ukuran panjang badanku kurang lebih 75 cm dengan berat mencapai 24 -30 kg. Sedangkan yang betina berukuran 60 cm dengan berat 12 kg. 

Aku (bekantan) lebih banyak menghabiskan waktu keseharianku di atas pohon, dan aku hidup secara berkelompok di pinggiran sungai. Di dalam satu kelompok ku terdiri dari satu bekantan jantan, beberap betina, dan anak-anakku. Aku sangat suka memakan sehingga perutku besar alias buncit. Aku sangat suka memakan pucuk daun (banyak dedaunan), aku juga suka memakan biji-bijian dan buah-buahan hutan di pinggir sungai.

Aku (bekantan) mempunyai kemampuan berenang dan dapat menyelam dalam beberape menit. Di sela-sela jari kakiku terdapat selaput yang dapat membantuku berenang, dan di hidungku terdapat katup yang dapat membantuku untuk menyelam.

Saat ini, keberadaan aku dan teman-temanku bekantan yang lain dalam keadaan terancam karena  rumah tempat tinggal kami berdiam semakin berkurang karena pembukaan lahan sehingga nafas alias nywa kami pun menjadi taruhannya. Kami takut, takut jikalau kami semakin terancam dan semakin langka bahkan punah.

Sampai saat ini aku (bekantan) ditetapkan sebagai hewan/satwa yang teracam punah dan di lindungi oleh undang-undang No. 5 tahun 1990 pasal 21 ayat 2. Barang siapa yang membunuh, menangkap, mengkonsumsi, memelihara dan memperjualbelikan aku (bekantan), akan di pidana paling lama 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Berharap aku bisa dilindungi dan bisa selalu hidup bebas di tepian sungai hingga hidup selamanya, hanya itu harapku.

Editor : Petrus Kanisius

Penulis: Egi Iskandar (Relawan Konservasi REBONK Yayasan Palung, angkatan 8)

22 Organisasi dan Komunitas di Kayong Utara Melakukan Aksi Peduli Tsunami Selat Sunda

Foto 1 : Beberapa dari peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin. Foto dok: Yayasan Palung

Tanggal 2-3 Januari 2019 kemarin, sejumlah organisasi dan komunitas di Kabupaten Kayong Utara melakukan aksi peduli  tsunami Selat Sunda. Aksi Kayong peduli tsunami Selat Sunda tersebut merupakan aksi peduli (penggalangan dana) untuk membantu meringankan beban saudara/saudari kita yang mengalami musibah.

Pada saat melakukan aksi peduli (penggalangan dana), peserta dari gabungan organisasi dan komunitas melakukan aksi di beberapa kecamatan yang ada di Kayong Utara, yaitu Kecamatan Sukadana, Kecamatan Simpang Hilir, dan Kecamatan Teluk Batang.

Aksi peduli tersebut dilakukan oleh dari 22 organisasi dan komunitas yang ada di kabupaten Kayong Utara.


Foto 2 : Beberapa dari peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin. Foto dok: Yayasan Palung

Adapun organisasi dan komunitas yang ikut serta dan berpartisipasi dalam aksi Kayong Utara peduli tersebut diikuti oleh 22 organisasi dan komunitas antara lain; Kayong Informasi Peduli, genPi kayong Utara, Ikatan Pemuda Surau Baitussalam, Kayong Visual ART, Friends Journey, Sispala Tapal, POM Kayong Utara, Kayong Mania, Content Creator KKU, Supermoto Kayong Utara, Penikmat Senja, Kayong Utara Skateboard, REBONK, Laskar Berkarya Kalbar, Siapala Grepala, Sispala Garda Pena, EAK, Amfibi Reptile Indonesia, BNP Chapter Kayong Utara, Pandara, Sispala LAND, dan Sispala Gana Sanda. 


Foto 3 : Peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara Berfoto bersama saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin. Foto dok: Yayasan Palung

Aksi gabungan peduli tsunami Selat Sunda ini didukung oleh Kayong Informasi Instagram. Dari 22 organisasi dan komunitas yang berada di Kayong Utara di bagi dibeberapa titik pada saat melakukan penggalangan dana, yaitu di Sukadana, Simpang Hilir, dan Teluk Batang.

Aksi gabungan tersebut dilakukan pada waktu pagi dari pukul 07.00-11.00 WIB dan dilanjut pada pukul 14.00-16.00 WIB. Di hari pertama, kegiatan aksi gabungan peduli tsunami selat sunda, mereka melakukan brifing dan pembagian lokasi selama 15 menit. Di daerah Sukadana terdapat beberapa titik lokasi yaitu di bundaran Tugu Durian, Simpang Empat, Pantai Pulau Datok, dan Gang Serong. Di Simpang Hilir terdapat 2 titik yaitu di tugu simpang empat Polsek, dan Simpang 3 pasar, dan di daerah Teluk Batang terdapat 2 titik yaitu pelabuhan dan simpang empat.


Beberapa dari peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin.

Selama melakukan aksi peduli pada tanggal 2-3 januari 2019 kemarin, ada sesuatu yang unik dari salah satu organisasi saat melakukan aksi, seperti yang dilakukan organisasi REBONK (Relawan Bentangor untuk Konservasi), saat mereka melakukan aksi peduli (penggalangan dana) dengan memakai topeng dengan bentuk salah satu hewan yang dilindungi oleh undang-undang. Alasan mereka memakai topeng pada saat aksi peduli adalah agar terlihat lebih unik dan dapat menghibur masyarakat yang memberi sumbangan.

Selain memakai topeng, organisasi REBONK mempunyai ide untuk melakukan aksi peduli, yaitu dengan cara menghibur pengunjung yang berada di pantai Pulau Datok dengan memainkan gitar dan bernyanyi. Masyarakat Kayong Utara dan sekitanya begitu antusias dengan aksi Kayong Utara peduli tsunami Selat Sunda tersebut, terlihat banyak masyarakat yang menyumbangkan uang mereka dengan iklas saat kami melakukan penggalangan dana, bahkan ada juga masyarakat memberi makanan dan minuman kepada pemuda yang melakukan aksi peduli.

Hari terakhir aksi gabungan Kayong Utara peduli tsunami Selat Sunda pada tanggal 3 Januari 2019, pukul 11.00 WIB, mereka berkumpul di pantai pulau datok untuk melakukan penghitungan dana yang telah terkumpul selama dua hari aksi peduli pada tanggal 2-3 Januari 2019 di tiga titik kecamatan yang ada di kabupaten Kayong Utara. Hasil perhitungan (rekapitulasi) aksi gabungan Kayong Utara peduli tsunami Selat Sunda yang diikuti 22 organisasi dan komunitas yang ada di kabupaten Kayong Utara pada 2-3 Januari 2019 adalah Total dari keseluruhan dana yang terkumpul sebanyak Rp 35.592.600 dan keseluruhan dana yang terkumpul akan disalurkan melalui Rumah Zakat Provinsi Kalbar, agar bisa sampai kepada saudara-saudari kita di Selat Sunda.

Maskur, yang merupakan salah satu panitia aksi peduli mengatakan; Alhamduillah kegiatannya cukup sukses dan hasilnya memuaskan, untuk kedepannya semoga tidak ada lagi bencana yang menimpa Negara Indonesia.

Penulis : Egi Iskandar – Relawan REBONK, Angkatan 8

Editor : Petrus Kanisius – Yayasan Palung

PPO 2018, Ajakan Kepada Semua Pihak untuk Peduli Lingkungan dan Perlindungan Orangutan

WhatsApp Image 2018-11-22 at 11.40.44
Yayasan Palung Memperingati Pekan Peduli Orangutan 2018 Sekaligus melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan ke Sekolah-sekolah di Jelai Hulu. Foto Dok : Yayasan Palung

Serangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2018 telah dilakukan oleh Yayasan Palung dengan para pihak (Para Relawan; Relawan Tajam dan REBONK, penerima beasiswa orangutan kalimantan dan dengan lembaga atau pun juga pihak sekolah) selama sepekan di bebapa tempat sejak tanggal 12-17 November 2017, pekan lalu.

Tidak hanya seru, tetapi juga serangkaian kegiatan PPO tahun ini diperingati oleh Yayasan Palung dibeberapa tempat. Kegiatan utama (kegiatan puncak) yang dilakukan oleh Yayasan Palung seperti di Kecamatan Jelai Hulu, pada tanggal 12-17 November 2018 dengan berbagai kegiatan antara lain; wokshop singkat dengan membuat pesan kampanye tentang lingkungan dan membuat bottle planter (membuat pot bunga dari botol plastik bekas) yang dilakukan SMA 1 Jelai Hulu.

WhatsApp Image 2018-11-22 at 11.56.36
Pekan Peduli Orangutan 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Workshop  singkat dengan membuat pesan kampanye tentang lingkungan sebagai salah satu cara untuk menggugah kepedulian terhadap nasib lingkungan dan perlindungan orangutan. Sama halnya dengan kegiatan bottle planter sebagai salah satu ajakan untuk peduli lingkungan, lebih khusus botol plastik bekas yang sejatinya bisa dimanfaatkan menjadi barang yang berguna jika dikreasikan menjadi sesuatu seperti dijadikan pot bunga yang bisa menjadi hiasan dan dipajang di sekolah.

Untuk melihat lebih banyak foto PPO 2018 

Sedangkan Relawan REBONK Yayasan Palung di Sukadana, pada tanggal 18 November 2018, memperingati Pekan Peduli Orangutan dengan melakukan penanaman pohon bersama dengan Sispala TAPAL (SMKN 1 Simpang Hilir), setidaknya 20 orang yang ikut ambil bagian melakukan penanaman pohon tersebut. Penanam pohon buah dan bakti sosial (mengambil sampah) yang berlokasi halaman SMAN 2 Sukadana.

Setelah selesai penanaman dan baksos, saat menjelang siang  mereka kembali ke bentangor untuk melanjutkan kegiatan diskusi pengelolaan sampah non organik yang lebih tepatnya sampah plastik.  Selanjutnya sampah plastik tersebut dijadikan sebagai bata ringan (eco-brick) yang di sampaikan oleh Egi Iskandar dan Aggi Saputra (Relawan REBONK), dia menyampaikan bagaimana menggelola sampah plastik yang baik, seuatu yang sederhana namun punya manfaat positif. Beberapa plastik bekas dibersihkan dan kemudian di gunting kecil-kecil, selanjutnya dimasukan kedalam botol platik yang sudah bersih, kemudian plastik yang sudah dimasukan harus di pres menggunak tongkat kayu yang berfungsi untuk memadatkan dan tidak adanya ruang udara di dalam botol platik tersebut. Kita semua tau bahwa jika di bakar akan menimbulkan dampak negatif pada polusi udada, namun jika di biarkan begitu saja juga akan sulit terurai sehingga menjadi tumpukan yang sangat tidak enak di pandang oleh mata manusia. Dibuatnya eco-brick dengan maksud bisa dimanfaatkan sebagai bata ringan yang bisa dijadikan kursi, meja dan hiasan.

Pada kesempatan Pekan Peduli Orangutan 2018, di Pontianak, para pihak ikut bersama memperingati PPO, misalnya dengan melakukan aksi pesan kampanye, aksi teatrikal dan musik akustik yang dilakukan oleh Para Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan BOCS di Taman Digulis Universitas Tanjungpura bersama dengan  Pongo Ranger Community (Relawan dari Yayasan IAR Indonesia) dan Yayasan Titian, Sabtu (17/11/2018), pekan lalu. Selain itu juga mereka melakukan pemutaran film dan diskusi tentang film Asimetris di Aboretum Sylva PC UNTAN.

Kegiatan lainnya dilakukan oleh Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Yayasan Palung, mereka membuat film pendek tentang lingkungan dan orangutan. Selain itu juga, pada 21 November 2018, mereka membuat kreasi barang bekas untuk tong sampah dari kreasi bekas-bekas Kaleng cat plastik selanjutnya mereka kreasikan dan mereka cat bersama guru dan  siswa-siswi SDN 12 Delta Pawan. Selanjutnya tong-tong sampah tersebut dipasang di SDN 12 Delta Pawan. Kaleng cat plastik tersebut merupakan sumbangsih dari Putra Ranadiwangsa.

Mariamah Achmad, Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan,  “Bagi pelajar yang ingin berbuat nyata untuk perlindungan orangutan, menanami pohon pakan orangutan di hutan mungkin belum sanggup, melarang orang dewasa berburu satwa liar di hutan mungkin tidak didengar, membuat kebijakan perlindungan orangutan dan habitat belum punya wewenang. Nah yang bisa dilakukan oleh para pelajar untuk memaknai nilai penting orangutan untuk menghindari kepunahan sesuai dengan tema PPO 2018 adalah melakukan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan yang bisa dilakukan dalam kapasitas mereka,  misal kreasi barang bekas”.

Selanjutnya juga Mayi, demikian ia biasa disapa mengatakan, Yayasan Palung memfasilitasi hal tersebut dalam PPO 2018 ini dengan melakukan dua workshop, yakni membuat pot bunga dari bekas botol air mineral dan membuat pesan kampanye perlindungan orangutan untuk disebarkan melalui media sosial. Aksi ini dapat dimaknai sebagai sumbangsih para pelajar bagi upaya perlindungan lingkungan dan alam yang lebih besar.

Sedangkan Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, “Setiap tahun Yayasan Palung merayakan Pekan Peduli Orangutan. Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan kesadaran di seluruh dunia tentang penderitaan orangutan. Tema tahun ini adalah ‘Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan’, Karena penghancuran hutan hujan Indonesia, populasi orangutan menurun drastis. Kami telah kehilangan lebih dari 50% populasi mereka dalam beberapa dekade. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh ekspansi cepat perkebunan kelapa sawit dan pertambangan di seluruh bentang alam”.

Lebih lanjut menurut Terri, beberapa langkah perlu dilakukan, kita perlu membuat pilihan yang berkelanjutan tentang bagaimana kita mengubah lanskap (bentang alam). Kerusakan ini memungkinkan orang kaya untuk menjadi lebih kaya, tetapi masyarakat lokal sering dibiarkan dengan dampak lingkungan yang merusak termasuk kualitas air yang buruk, banjir ekstrim, dan kebakaran. Kami membutuhkan komunitas-komunitas ini untuk mengadvokasi pengelolaan lanskap berkelanjutan yang akan bermanfaat bagi perusahaan, masyarakat dan orangutan yang menyebut Indonesia sebagai rumah.

Selain kegiatan PPO 2018, Yayasan Palung berkesempatan untuk berkunjung ke sekolah-sekolah di Kecamatan Jelai Hulu, seperti di SDN 1 dan SDN 17 di Kecamatan Jelai hulu, SDN 3 dan SDN 5 di Desa Tanggerang, Kec. Jelai Hulu. Beberapa kegiatan kami lakukan adalah puppet show (panggung boneka) terkait satwa dilindungi terutama orangutan. Selain itu juga kami melakukan diskusi dengan masyarakat terkait informasi kekinian yang ada di desa mereka sekaligus sosialisasi tentang perlindungan dan satwa-sawa dilindungi dan pemutaran film lingkungan.

Serangkaian kegian Pekan Peduli Orangutan 2018 berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat dan pihak sekolah. Berharap, dengan diadakan kegiatan PPO 2018 dengan ragam kegiatan tersebut bisa menggugah masyarakat, pihak sekolah untuk semakin peduli lagi terhadap nasib lingkungan hidup dan orangutan.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak :
http://pontianak.tribunnews.com/2018/11/23/ppo-2018-ajakan-kepada-semua-pihak-untuk-peduli-lingkungan-dan-perlindungan-orangutan.

 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Membuat Topi Sulap dari Kardus Bekas untuk Mengurangi Sampah

Banyak cara sebetulnya yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan sampah, seperti misalnya kardus. Kardus bekas bisa dikreasikan menjadi barang-barang bermanfaat (layak pakai) yang cantik seperti topi.

Ayo teman-teman kita berkreasi dengan memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat sebagai cara kita bersama untuk mengurangi sampah-sampah dengan cara-cara sederhana.

Bagaimana cara membuatnya?. Berikut ada beberapa alat dan bahan untuk disiapkan terlebih dahulu sebelum membuat topi.

Ada pun alat dan bahan untuk membuat kreasi ini adalah kardus bekas, kertas lipat (origami), lem lilin (Lem Fox), pulpen, cutter, jangka, gunting, pita kain dan asesoris hiasan lainnya.

Cara membuat topi sebagai berikut:

  1. Ukur lingkar kepala orang yang akan memakai topi sulap. Gunakan jangka untuk menggambar lingkaran seukuran kepala pada kardus. Anda juga bisa menggunakan piring sebagai panduan untuk membantu menggambar lingkaran. Buat 2 lingkaran. Lingkaran bagian dalam dan lingkaran bagian luar.
  2. Potong kardus tersebut mengikuti garis lingkaran luar dan garis lingkaran dalam.
  3. Guntinglah kardus berbentuk persegi panjang. Panjangnya sesuai dengan panjang lingkaran dalam.
  4. Gulung kardus persegi panjang tersebut agar mudah membentuk silinder.
  5. Tempel kardus persegi panjang tersebut pada lingkaran dalam sehingga membentuk silinder.
  6. Setelah menempel dengan baik, tempelkan bagian tutup topi (potongan kardus dari lingkaran dalam).
  7. Topi sulap sudah jadi.
  8. Selanjutnya topi dihias sesuai keinginan.

Semoga tutorial ini bermanfaat ya, berharap dengan cara seperti ini kita semua dapat mengurangi sampah. Semoga saja…

Tulisan dan Video : Simon Tampubolon-Yayasan Palung

Editor : Petrus Kanisius

 

Asyik…. Relawan Berbagi Ilmu tentang P2GD Sebagai Modal Dasar untuk Pertolongan Pertama

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.03.05
Evan Juliansyah (salah seorang Perawat dari Yayasan ASRI sekaligus juga Relawan REBONK) Saat Berbagi ilmu kepada sesama relawan dan Sispala. Foto dok. Simon Tampubolon/YP.

Tidak kurang 25 peserta terlihat hadir dalam acara rutin, yaitu pertemuan relawan RebonK. Kali ini mereka berkesempatan untuk mengadakan pertemuan rutin sekaligus berbagi ilmu tentang P2GD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat) yang berlangsung pada hari Sabtu (13/10/2018) kemarin, di Kantor Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan.

Dalam kesempatan tersebut, Relawan Bentangor Untuk Konservasi (RebonK) ternyata tidak sendiri tetapi juga ternyata mengundang teman-teman dari Sispala Land (SMKN 1 Sukadana) untuk berpartisipasi pada berbagi ilmu tentang P2GD tersebut.

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.23.27
Saat Evan menyampaikan materi (berbagi ilmu) tentang P2GD kepada Relawan RebonK dan Sispala Land. Foto dok. Simon Tampubolon/YP

Evan Juliansyah (salah seorang Perawat dari Yayasan ASRI) berkesempatan untuk berbagi ilmu atau materi terkait pertolongan pertama gawat darurat (P2GD). Evan, demikian ia disapa sehari-hari, dengan sukarela ia berbagi ilmu yang ia miliki. Seperti pada kesempatan tersebut, Evan berbagi ilmu misalnya untuk penangan dan pertolongan pertama pada luka; seperti luka ringan, luka berdarah sedikit, luka berdarah banyak, luka bersih dan luka kotor. Selain itu juga, menjelaskan bagaimana untuk penanganan dan pertolongan pertama terhadap bibit ular, patah tulang, pingsan, sesak nafas, luka bakar dan pertolongan bagi yang mengalami hipotermia (kedinginan).

Beberapa materi tersebut sangat penting untuk disampaikan kepada relawan dan sispala, salah satu alasannya karena mereka sering kali bersentuhan langsung dengan berbagai kegiatan di luar rungan (di hutan), dengan adanya pelatihan (berbagi ilmu) tersebut setidaknya dapat memberikan pemahaman kepada relawan atau pun Sispala agar mereka dapat menolong (pertolongan pertama) bagi sesama mereka jika ada terjadi insiden yang tak terduga seperti luka atau seperti yang lainnya.

Selain materi, mereka (peserta) juga diajak untuk praktek (simulasi) untuk pertolongan pertama/ penanganan. Beberapa relawan terlihat bersedia untuk dibalut tangannya yang mencontohkan bila terjadi patah tulang atau pun juga penanganan bagi yang mengalami sesak nafas.

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.16.35
Praktek Simulasi Pertolongan Pertama Gawat Darurat kepada yang mengalami cidera parah (patah tulang). Foto dok. Simon Tampubolon/YP

Evan, yang juga merupakan salah satu anggota dari Relawan RebonK yang aktif dan sering kali berkegiatan seperti secara sukarela berbagi ilmu kepada sesamanya yang tergabung dalam relawan atau pun sispala.

Kegiatan Pertemuan rutin sekaligus bebagi ilmu tentang P2GD tersebut berlangsung dari pukul 09.00 Wib hingga pukul 12.00 Wib. Setelah itu, pada pukul 13.00 Wib- 15.00 Wib, relawan RebonK yang berjumlah 20 orang dan dari Sispala Land berjumlah 5 orang tersebut diajak untuk menonton film lingkungan yaitu film orangutan. Pada kesempatan tersebut, dari Yayasan Palung yang mendampingi kegiatan itu adalah Simon Tampubolon dan Wawan Anggriandi.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang hadir tampak asyik mengikuti semua rangkaian kegiatan tersebut. Berharap, relawan konservasi bisa saling berbagi ilmu sebagai pengetahuan dasar sekaligus juga sebagai muatan/peningkatan kapasitas mereka sebagai relawan.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Bertutur Tentang Satwa Dilindung dengan Media Boneka (Puppet Show) kepada Anak Sekolah

IMG_20181018_082807
Saat bercerita/bertutur dengan media boneka (Puppet Show) bercerita tentang satwa dilindungi kepada anak-anak di sekolah-sekolah. Foto dok : Yayasan Palung

Kamis (18/10) pagi, Yayasan Palung berkesempatan untuk bertutur kepada anak sekolah tentang satwa dilindungi di SDN 13 Sukabangun, Ketapang, Kalbar. Setelah Rabu(17/10) kemarin, kami juga bertutur di SDN 04 Delta Pawan, Ketapang.
Bertutur dengan media boneka tentang satwa dilindungi sebagai satu cara dari banyak cara yang bisa dilakukan saat ini kepada anak usia dini. Alasannya mereka dapat dengan mudah menerima informasi dari edukasi yang disampaikan dengan cara bertutur. Selain juga, sebagai salah satu  cara kami untuk melakukan pendidikan lingkungan dan penyadartahuan kepada anak usia dini.
Pada kempatan tersebut, kami bertutur  tentang kehidupan satwa dilindungi dialam liar. Mereka (satwa) juga memiliki peranan penting bagi makhluk hidup lainnya untuk terus berlanjut hingga nanti.
Ada pun tokoh-tokoh yg diceritakan dalam cerita tersebut antara lain satwa dilindungi dan terancam punah seperti orangutan, burung enggang/rangkong, kelempiau, selain itu ada bekantan yg tidak hanya dilindungi dan terancam punah tetapi juga satwa yang dikenal dengan sebutan si hidung mancung tersebut merupakan satwa khas (endemik) Kalimantan.
Pada cerita disebutkan satwa seperti orangutan dan enggang adalah petani hutan karena mereka sebagai prnyebar biji-bijian yg nantinya akan tumbuh menjadi tunas pohon-pohon baru (hutan) yang juga memiliki banyak manfaatnya bagi mahkluk hidup lainnya, sebagai contoh, adanya hutan adanya kehidupan, adanya hutan dapat memberi manfaat berupa nafas dan penyedia/penampung air serta penangkal terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Selain juga kami juga bertutur/bercerita bahwa satwa tidak boleh dipelihara dan kontak langsung seperti halnya orangutan karena bisa saja menyebarkan penyakit dan yang terpenting, satwa dilindungi diatur oleh undang-undang dan jika melanggar bisa terkena sanksi berupa denda atau pun hukuman penjara.
Terlihat, antusias dan semangat dari siswa-siswi kelas 4 yang mengikuti kegiatan tersebut.
Pada kesempatan tersebut, penutur yang bercerita dari Yayasan Palung adalah Haning Pertiwi, Petrus Kanisius, dan 4 siswa-siswi magang : Eti, Neneng dan Dewi  dari SMKN 1 Sukadana dan Iin dari SMKN 1 Ketapang.
Berharap dengan adanya puppet show tentang satwa dilindungi ini, siswa-siswi ada informasi dan pengetahuan baru. Selain itu, semoga saja ada tumbuh kecintaan mereka untuk menjaga dan melindungi satwa-satwa dilindungi dengan cara-cara sederhana.
(Petrus Kanisius – Yayasan Palung).