Cerita Ikut Sensus dan Penologi di Stasiun Riset Cabang Panti Selama Sepekan

Selama sepekan saya berkesempatan untuk belajar tentang kegiatan penelitian di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung

Minggu, 22 Maret 2020, adalah hari pertama menuju Camp Stasiun Riset Cabang Panti. Perjalan menuju Camp Cabang Panti kurang lebih menempuh waktu 5 jam dengan berjalan kaki di rimbunnya hutan, dan ditemani hujan.. kadang kami berhenti sejenak untuk melepaskan pacat yang mengigit,, dan melanjutkan perjalanan kembali,, dalam perjalan kami berbincang-bincang dan Azmi berkata “saya belum pernah melihat orangutan secara langsung dialam liar” tak lama kemudian langsung menjumpai 3 ekor Orangutan jantan di jalur RANGKONG, kelasi, babi, kelimpiau dan beruk

Waktu telah menunjukan pukul 18.30 Wib kami sampai di Camp Penelitian Cabang Panti, kami istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah setelah perjalanan,

Setelah lelah hilang, mandi dan makan malam, kami melakukan diskusi kecil tentang apa saja yang akan dilakukan disana.

 Hari ke-2 di Cabang Panti, Senin, 23 Maret 2020, Di pagi hari yang sedikit hujan, Kami juga diskusi kecil dengan peneliti dari India, yaitu Swapna dan Assistennya Rindu tentang penelitiannya, setelah hujan reda kami langsung menuju lokasi dimana sample biji di letakan, (biji telah dikasih tanda taging) dan ada beberapa sample yang hilang (dibawa hewan) jadi kami harus mencarinya, ini yang sedikit sulit kita harus teliti karena harus mencari di lantai hutan yang penuh dengan dedaunan, ada yang dibawah pohon tumbang dan ada juga yang hilang hingga 10 meter, setelah semua lokasi sample di cek, Kami kembali ke Camp untuk istirahat.

Cek plot biji dan mencari taging di jalur PR

Hari  ke-3 di Cabang Panti, Selasa, 24 Maret 2020, Waktu menunjukan pukul 03.30 Wib kami sudah siap untuk melakukan sensus dan Cek Cuaca di jalur MR 13 hingga GP 107 + Phenology Di MR 0 bersama Asisten One Forest Project (OFP), dikegelapan malam kami sudah harus berjalan menuju lokasi sensus, dengan jalur menanjak cukup menguras tenaga, namun dalam perjalanan sensus kami ditemani nyayian burung yang saling bersahutan dan juga disuguhkan pemandangan dari ketinggian di Jalur GP 80 dan GP 90 dan finish di GP 107, Kami juga mengukur suhu dan curah hujan yang ada di Gunung Palung (di beberapa lokasi) setelah semua lokasi dicek kami kembali turun untuk membuat Phenology (cek pohon di transek MR 0) melihat keadaanya apakah sedang berbuah, tunas baru atau mati, Kami cek satu persatu pohon yang telah ditandai, tak terasa hari telah sore, seharian berjalan untuk sensus dan Phenology, setelah selesai kami kembali turun dan sampai di camp jam 16.30 Wib dan istirahat.

Malamnya kami diskusi bersama Ziva untuk kegiatan diesok hari dan setelah selesai diskusi kami seru seruan dengan bermain kartu Remi.

Hari ke-4 di Cabang Panti, Rabu, 25Maret 2020, Kami terbangun kemudian membuat persiapan dan berangkat pukul 04.30 Wib untuk melakukan Phenology di jalur TK dan ML lagi-lagi di Jalur gunung, dan setelah selesai kembali turun ke camp sampai jam 13.45 Wib dan istirahat. Setiap malam kami selalu briefing (pengarahan) untuk rencana esok harinya.

Hari ke-5,  Kamis, 26 Maret 2020, Kami dibagi untuk Sensus dan cek kamera di jalur Rawa, pukul 04.30 Wib kami sudah berjalan menuju lokasi sensus dalam perjalanan kami menjumpai pelanduk (kancil) dan di Jalur sensus juga menjumpai monyet ekor panjang, enggang dan burung burung kecil, dan  selesai pukul 12.00 Wib, kami kembali ke camp dan istirahat.

Hari ke-6 di Cabang Panti, Jumat 27Maret 2020, Sembari menunggu hujan reda kami membantu untuk mengemaskan barang dari camp Nyamuk ke camp induk karena mau di renovasi. Sekitar pukul 08.25 Wib kami berangkat menuju lokasi. Kami melakukan sensus dan cek kamera di jalur GP dan Phenology di MR 14 setelah selesai semuanya, kami menyempatkan untuk berkunjung di Air terjun LC dan beberapa mencoba terjun dari atas batu yang cukup tinggi dan beberapa hanya menikmati suasana di sekitar.

Hari ke-7 di Cabang Panti, Sabtu 28 Maret 2020, Hari terkahir di Pusat Penelitian Cabang Panti kami tak mau melewatkan untuk belajar dan mengetahui satwa yang dapat dijumpai di jalur jalur sensus jadi kami ikut kembali sensus di jalur TZ jalur Rawa yang jarang dilewati dan di jalur ini kami menjumpai burung-burung kecil, kelimpiau, enggang raja, kura-kura yang cukup besar dan juga mendengar suara ORANGUTAN namun sayang tidak ketemu setelah semua jalur sensus selesai kami kembali ke camp untuk persiapan turun ke kampong.

Pada malam hari, saya menemukan ular Bungarus (welang) dan pada hari Sabtu pagi (hari terakhir saya di Cabang Panti) ada ular didepan camp lagi santuy di tepi sungai, ular tersebut adalah ular tunggu (viper).

Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman peneliti di Cabang Panti dan kawan-kawan Balai Taman Nasional Gunung Palung atas kebersamaan kita. Berharap ada kesempatan lagi untuk berkunjung kembali.

Penulis : Sidiq Nurhasan (Relawan REBONK, Angkatan ke-3)

Editor : Pit-YP

(Cerita Pendek)Hutan sebagai Rumah Bersama Kini dan Nanti

Hutan yang tak lain sebagai rumah bersama. Hutanku dulu dan sekarang/saat ini (kini).  Begitu juga dari hutan, banyak manfaat yang kami peroleh dari dulu hingga saat ini.

Hutanku kini dan sekarang tampaknya sudah semakin berbeda. Padahal ia (hutan) merupakan rumah bersama. Rayuan maut bertubi-tubi datang kepadanya. Rayuan itu untuk membuatku rebah tak berdaya hingga enggan bertunas kembali karena terus tergerus saban hari, dari waktu ke waktu.

Dari rumah bersama kita beroleh ruang dan waktu untuk sekedar makan dan bertahan hidup juga memadu kasih agar semua bisa berdampingan serta saling menjaga. Selorohku, selorohmu juga tentang nasib semua makhluk saat ini dan nanti.

Dulu merdunya kicauan memberi sejuta harap tentang cerita manis bagi semua yang mendiami rumah bersama itu (hutan). Hamoni, itu kata yang penah ada. Semua nafas bisa saling bahu-membahu bersama agar tetap boleh dan lestari hingga nanti.

Riang gembira ragam satwa menyapa dengan kata-kata tentang mereka yang saat ini menati kasih. Kasih tentang bagaimana hutanku (hutan kita bersama) kini bisa hingga nanti terus berdiri tanpa berseloroh tentang nasibnya.

Seloroh ragam satwa yang ada sebagai penanda bahwa sesungguhnya hutan itu selalu memberikan keindahan. Keindahan akan ragam manfaat kepada seluruh  penghuni yang menghuni rumah bersama yang tak lain hutan rimba belantara.

Tetapi pertanyaannya sekarang, masih adakah asa untuk menyelamatkan rumah bersama, rumah kita semua nafas segala bernyawa?

Saat sekarang, rumah bersama kini tak lagi rumah namun tak ubah gubuk derita yang semakin sepi penghuni.

Segala isi dari rumah bersama itu kini, sepertinya semakin sulit ditinggal karena memang sudah membuat tak betah untuk menetap. Panas terik berbanding lurus dengan robohnya segala tajuk-tajuk pepohonan yang semakin  sering tumbang karena kalah bersaing untuk terus dibuka dan diganti dengan tanaman pengganti atau kami digali, namun sudah pasti tak sama.

Riuh rendah kalang kabut tentang bencana pun tak jarang bergema sembari bercerita tentang rumah bersama. Rimba raya yang tak lain juga adalah hutan sebagai rumah bersama kini cenderung dirundung malang.

Cerita riang gembira penghuni rimba raya (hutan) belantara sebagai rumah bersama pun berubah jauh. Bukan ia (hutan) yang tak bersahabat, tetapi sejatinya kita semualah yang membuat rimba raya (hutan) sebagai rumah bersama dan memiliki segalanya bagi keberlajutan semua makhluk pula semestinya. Fakta bercerita dalam bahasanya memberi tanda akan bagaimana sesungguhnya kita bersikap dengan semua ini.

Semua berharap rumah yang ramah itu selalu ada dan tidak berganti gubuk derita yang membuat semua nafas semakin terluka dan menderita, yang sulit bertumbuh dan berkembang karena acap kali rebah tak berdaya.

Bila ia (hutan) sebagai rumah bersama itu tak kunjung dikasihi dengan rasa dan tidakan kasih yang kita semua miliki dengan menanam, memilihara, menjaga dan menuai tanpa harus merusak.

Hutan belantara sebagai rumah bersama yang tak lain pula menjadi tanggung jawab bersama sudah semestinya menjadi perhatian agar kita semua bisa selalu harmoni hingga selamanya. Sebagai pengingat, bukankah kita semua sesungguhnya diciptakan untuk saling harmoni satu dengan yang lain. Hutan perlu penyemai seperti beragam satwa seperti orangutan dan burung enggang. Agar mereka selalu ada, bolehlah kiranya kita semua untuk bersama-sama menjaga sembari berharap kita semua bisa terus hidup berdampingan hingga selamanya. Berharap pula ada asa dan rasa bagi kita semua agar semua bisa harmoni dan lestari hingga nanti. Hutan terjaga, masyarakat sejahtera.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5e69fd77097f362b5c070ca2/cerpen-hutan-sebagai-rumah-bersama-kini-dan-nanti

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Keren Sekali, RK-Tajam Membuat Plang Informasi Tentang lama sampah terurai

Relawan Tajam saat menyerahkan plang informasi tentang Lamanya Sampah Terurai. Foto dok : RK-TAJAM/YP

Keren sekali, Selasa (11/2) kemarin, Relawan Tajam @rk_tajam @relawan konservasi Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-Tajam) membuat plang Informasi tentang Lama Sampah Terurai.

Mereka (teman-teman relawan) membuat plang informasi tentang lamanya sampah terurai (berapa lama umur sampah baru hancur) sebagai salah satu cara dan ajakan bagi kita semua peduli dengan persoalan sampah dan tentu saja lingkungan kita.

Selanjutnya, pada Rabu (12/2) kemarin, para relawan menyerahan plang Informasi “Lamanya Sampah Terurai” kepada pihak sekolah SMKN 2 Ketapang. Kegiatan tersebut dilakukan pada sore (12/2) kemarin.

Berharap semoga dengan adanya plang informasi tentang sampah ini semakin menumbuhkan semangat kepedulian kita semua untuk semakin bisa dan peduli dengan persoalan sampah.

Buatlah lingkungan disekitar kita terbebas dari sampah dan selalu bersih serta indah. (Pit-YP).

CERITA PENDEK : SIAPA TAU JADI PENULIS

Menulis merangkai kata untuk kehidupan. Foto dok : IDN Times

Judul tulisan yang kutulis ini adalah “SIAPA TAU JADI PENULIS”. Mewakili perasaaanku menjadi seorang penulis menjadikan sebuah buku sebagai media curhat. Entah pagi ini kenapa aku bercita cita menjadi seorang penulis. Aku tidak jago dalam merangkai atau meracik kata menjadi komplit, penempatan subjek atau objek, bahasa baku bahkan bahasa anak muda yang menjadi tren.

Saat ini aku tidak memiliki kuota internet untuk membaca artikel atau googling atau apalah media pendukung dalam merangkai kata. Semua tulisan ini ku tulis dengan kata kata sendiri tanpa memikir alur akan menjadi sebuah tulisan yang menarik. Terlintas ada kata “OPTIMIS”, ya mungkin kata yang tepat mewakili curhatan ku diawal kalimat sampai terakhir kata ini, optimis akan dipublikasikan dan bahkan optimis menjadi sebuah buku. Kata di unek-unek ku sudah mengantri untuk ditulis sebagai bahan tulisan. Sejenak berfikir apakah ini lebay? Lanjut menulis.

Puluhan kata mungkin sudah ku hapus karena rasanya tidak sesuai untuk dijadikan tulisan. Bahkan seorang penulis sekali pun akan melakukan hal yang sama. Saya bingung memulai dari mana intisari dari tulisan saya ini agar kamu tidak kebingungan. Berangkat dari media sosial PENDIDIKAN. Pendidikan dijadikan senjata untuk menyerang millenial yang seolah tidak punya akal serta moral, instastory yang ku lihat dari katanya disebut mahasiswa berpendidikan membuatku semakin yakin bahwa tidak semua yang berpendidikan akan mendidik yang bawahan. Terangkai kata yang ku baca dari instastory “KITA ORANG BERPENDIDIKAN, ANAK KULIAHAN, EMANGNYA LO YANG NGGAK KULIAH NGGAK BERPENDIDIKAN”. Pesan moral untuk siapapun membaca tulisan ini tolong jangan jadikan pendidikan sebagai senjata untuk menyerang yang tidak berpendidikan kaum muda khususnya, karna kita tahu tidak selayaknya lontaran kata tersebut keluar dari mulut seorang yang berpendidikan.

Manusia itu diciptakan sama, sama sama mahkluk sosial yang membutuhkan satu sama lain, Cuma jalannya aja yang beda. Kampung halaman ku yang dulu bisa saling menghargai kini saling asing untuk saling menghargai karna adanya seorang mahkluk yang bernama MAHASISWA. Aku mewakili rekan mahasiswa minta maaf kepada siapapun yang merasa tersinggung oleh mahkluk kasat mata yag bernama MAHASISWA atas sikap serta tutur kata yang tidak berkenan di hati saudara. Sekali lagi kita sama cuma jalannya aja yang beda, diasumsikan begini “kalau misalnya isi bumi Indonesia ini presiden semua siapa yang jadi rakyat? So jangan tersinggung sahabat. Kata ini juga ku rangkai berdasarkan kisah nyata curhatan seorang teman bukan cerita fiktif atau mengada ada. Satu diantara kalian mungkin beranggapan bahwa saya bisanya ngomong dibelakang, ya mungkin melalui tulisan ini saya bisa menceritakan apa yang kamu tidak kamu ketahui di sekeliling mu.

Beberapa diantara kita juga memiliki karakter yang berbeda, ada yang sama ada yang beda, ada yang bisa bergurau ada yang mudah tersinggung. Tidak semuanya yang kamu lihat bisa kamu nilai benar atau salah. Meluruskan curhatan dari seorang yang hebat yang ku ketahui saat ini, merasa tersinggung karena diasingkan masalah tidak pendidikan. 8 tahun terakhir isu pendidikan di domisili tempatku berada memang sudah nampak bahwa pendidikan adalah suatu masalah yang nantinya akan menjadi alat untuk menyudutkan polemik lemah yang seolah tak terarah kemana akan melangkah.

Bukan kamu yang hanya menyandang status menjadi seorang mahasiswa yang berfoya foya menghabiskan uang orangtua bangga dengan bisa minum mabuk, pesta pora, ganja, narkotika serta narkoba yang menjadi kebanggan desa melainkan dia mahasiswa yang lulus tepat pada waktunya dan seorang tidak berpendidik yang bisa membanggakan kedua orangtua tanpa menyakiti hatinya. Terima kasih untuk kamu yang sudah lulus dan bisa membuat orangtua bangga.

Terima kasih untuk kamu yang bisa menghargai dan tidak membedakan teman yang tidak berpendidikan. Terima kasih untuk satu desa yang menjadi cerminan dari ceritaku ini. Salah satu desa yang membuat saya iri yang bertolak belakang dengan domisiliku. Desa yang bisa menghargai dengan kutipan “di tempat ku orang yang nggak kuliah sama yang kuliah merangkul menjadi satu, didalam forum kami tidak pernah membahas akademik”, sejenak berfikir kok berbanding terbalik ya dari temaptku? Sekali lagi terima kasih desa yang ku maksud. Diakhir kata tema pendidikan ini mungkin ada sebuah kutipan yang menurutku itu benar sebagai ingatan untuk millenial mahluk kasat mata yang disebut mahasiswa “manusia diciptakan dari tanah dan kembali ketanah yang bertuliskan nisan tanpa pangkat sarjana”.

Setelah membahasa pendidikan mungkin lanjut ke tema selanjutnya, mumpung masih ingat, karna penulis hebat sepertiku susah mencari kata kata.

Kali ini temanya CINTA. Semua orang aku rasa membutuhkan yang namanya cinta. Mengangkat topik ini karena saya sedang merasakan apinya asmara, membahas soal cinta memang aku bukan pakarnya. Kata anak muda zaman sekarang bucin namanya, berangat dari pengalaman dong.

Penyemangat saat kuliah itu perlu pacar katanya? Kalo aku nebak seorang psikologis beranggapan bahwa ada beberapa manusia memang butuh penyemangat untuk kelancaran studinya. Tuh kan aku melebihi psikolog. Walaupun tidak semua orang sih ngalamin hal tersebut. Kalo pacaran saling support dong biar semangat satu sama lain. Sebenarnya topik bahasannya tidak kesini ya karna kata kata yang sudah dirancang tetiba hilang. Menurutku cinta itu seperti buku, dimulai dari nol sampai menjadi sebuah buku yang didalamnya terangkai kata kata indah namun biasaya ada konflik, entah itu salah tulis atau bahkan baik baik saja.

Parah sih hilang semua yang mau dibahas, mau dihapus udah setengah mau dilanjutin ragu. Tapi yakin dong menjadi sebuah buku. Mahasiswa itu katanya kreatif katanya sih, tapi ada tipe mahasiswa yang baik dalam akademik tetapi tidak pada organisasi dan sebaliknya. Kembali ke cinta, kalo putus nyawanya jangan ikutan ya, masa iya mahasiswa pikirannya dangkal. Beranjak dari pengalaman ku lagi, kalo misalnya pasangan kamu terutma cowok nih, ceweknya bilang ”jalani aja dulu”, udah nggak usah dilanjutin pasti bakalan sakit hati. “jangan pernah mengubah perpustakaan hati seseorang yang pacaran tahunan lamanya dalam waktu dekat” karna berkas kenangan masih terselip dilembaran pada halaman metodologi. Katanya cewek itu kayak teori atom, sulit untuk dimengerti. Menurut ku wajar sih cewek itu matre, ya kalo nggak ngeliatin isi dompet cewek mana yang mau diajak hidup susah.

Buat para cowok nih, sadar diri dong, maunya cewek cantik tapi pengangguram, gimana tuh? Tapi cewek jangan mandang fisik juga dong, selain isi dompet hatinya juga dilihat, kalo udah dapat yang mapan berusaha iklas. Bangun tuh sama sama keluarga. Untuk cewek dan cowok yang masih berjuang saat ini semangat ya karirnya, semoga selalu dipermudah dalam segala urusan. “PACARAN SEHAT UNTUK MENDUKUNG BOLEH, PACAR SAKIT JANGAN NGGAK ENAK TUH”. Curhatan seorang cewek yang nggak aku kenal via DM Instagram, berkeluarga itu ngga nyelesaiin masalah keuangan, biasanya masih minta sama orangtua. Makanya jangan buru-buru, kerja dulu baru berkeluarga.

BIKIN ORANGTUAKU MENANGIS, itu cita citaku, nangis melihat anaknya mendapatkan predikat cumlaude dibangku kuliah. Mahasiswa semester akhir itu yang aku rasain serba gengsi terhadap orangtua, gengsi minta uang misalnya. Diriku pribadi apabila ditanyain orangtua keadaan keuangan via telpon jawabnya selalu masih ada walaupun tidak ada sepeser pun, ada nggak nih yang sejalan dengan pembohong seperti diriku.

Nggak tau ya pikiran anak semester akhir itu sama atau tidak,yang pastinya yang aku rasain sekarang mikir nya dapat kerjaan setelah kuliah, bantu orangtua terus bangun keluarga, mulia nggak tuh? Aku saranin ya sama teman-teman yang ekonomi keluarganya sejalan denganku, ekonomi bawah tepatnya, aku minta tolong ya jangan bikin beban orangtua di kampung untuk kamu yang merantau khususnya, bikin orangtua dikampung bahagia, kalo sakit nggak parah jangan ceritain, perihal cari uang nggak gampang, taruh nyawa biasanya.

Untuk kamu yang nggak makan ayam satu minggu jangan khwatir aku yang makannya nggak beraturan juga masih hidup. Sekali lagi tolong ya untuk mahasiswa rantau semangat belajarnya, kamu itu jago. Berusaha,dan berdoa nggak cukup tanpa restu dari orangtua.

BERSAMBUNG……………………………………..

Penulis : Victor Samudra (WBOCS)

“Balek Kampong Project WBOCS di Simpang Hilir” Suarakan & ajakan Pentingnya Menjaga Lingkungan Kepada Generasi Muda di Sekolah-sekolah

Rafikah Indah dan Albab (WBOCS) ketika menyampaikan lecture di Sekolah-sekolah tentang lingkungan, beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung

Pada tanggal 21-29 Januari 2020 kemarin, program Balek Kampong Project melaksanakan kegiatan ke sekolah-sekolah oleh penerima WBOCS untuk menyuarakan sekaligus mengajak generasi muda untuk peduli lingkungan. Penerima WBOCS yang melaksanakan kegitan tersebut adalah Rafikah dan Ahmad Albab yang berdomisili di Kabupaten Kayong Utara.

Balek Kampong Project adalah salah satu program dari WBOCS yang baru diluncurkan pada tahun 2020. Meskipun Project ini baru dikenal, namun sudah banyak mendapati kesan positif dari setiap Sekolah khususnya Sekolah yang berada di Kabupaten Kayong Utara. Mereka keliling dari Sekolah ke Sekolah lainnya untuk menyampaikan sosialisasi tentang Informasi WBOCS (West Borneo Orangutan Caring Scholarship) dan Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan).

Mereka (siswa-siswi yang mengikuti kegiatan) mengatakan, sangat senang sekali melaksanakan project ini dan ingin project ini terus berlanjut agar Sekolah yang berada di Kab. Kayong Utara mendapatkan informasi yang detail terkait WBOCS dan tidak awam lagi tentang Karhutla dan tahu bagaimana cara mencegahnya. Sekolah yang pertama yang mereka kunjungi adalah SMK Al-Aqwam berjumlah 28 siswa, SMA Negeri 1 Teluk Batang  berjumlah 84 siswa, SMA Negeri 2 Teluk Batang berjumlah 49 siswa. MA Nurul Hasani berjumlah 24 siswa dan MA Babussa’dah berjumlah 17 siswa.

Berikut beberapa foto kegiatan WBOCS Balek Kampong Project di Simpang Hilir :

Adapun rangkaian kegiatan sosialisasinya adalah Pembukaan, Game Konsentrasi, Materi WBOCS dan Karhutla, sesi tanya jawab, sesi foto bersama serta penyerahan cinderemata sebagai kenang-kenangan untuk pihak sekolah.  Sosialisasi ini berjalan sangat lancar meskipun saat yang bersamaan mengalami beberapa kendala ketika pemadaman listrik terjadi, sehingga tidak bisa menggunakan sounds system dan power point.

Walaupun demikian tidak mematahkan semangat fasilitator karena mereka memang menyediakan media kreatif seperti spidol warna warni, krayon, kertas origami, kertas plano dan double tipe sebagai  penyampaian materi.

Mereka juga mengatakan bahwa media ini sangat baik agar peserta didik lebih aktif dan tidak bosan mendengarkan materi. Pada sesi materi kami memberikan kesempatan siswa untuk bertanya, ada satu pertanyaan yang menarik perhatian yakni; “Kak kenapa WBOCS menyediakan hanya FMIPA, Fahutan, FKIP dan FISIP saja?”, Kami menjawab: karena Fakultas yang disediakan tentu saja tidak sembarangan dipilih, melainkan karena alasan yang lebih mendasar yakni Fakultas tersebut sangat berkontrobusi langsung dengan Konservasi. Contoh Kehutanan tentunya mempelajari tentang hutan dan tahu bagaimana menjaga hutan. Begitu juga dengan Fakultas lainnya mempunyai peran masing-masing dalam menjaga kelestarian hutan dan orangutan.

Kami sebagai fasilitator bukanlah orang yang hebat namun, tujuan kami adalah membuat siswa  menjadi aktivis lingkungan yang terhebat bisa menjadi panutan bagi kampungnya.

Meskipun Balek Kampong Projcet ini menyita waktu liburan semester, kami tidak merasa terganggu sedikit pun dikarenakan kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan public speaking dan memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penerus aktivis lingkungan (Generasi Muda Konservasi).

Tidak pernah lupa juga kami menyampaikan tentang Kampanye Stop Sampah Plastik yakni dengan membawa botol minuman yang bukan  sekali pakai, tempat makanan dan sedotan stainless. Kampanye seperti ini memang bukan hal yang asing ditelinga namun, tanpa dipungkiri tindakan untuk melakukan kampanye ini sangat berdampak besar bagi keselamatan hutan dan bumi. Salam Konservasi!.

“Tunas Kayong” Ajakan Bagi Generasi Muda untuk Peduli Lingkungan di Sekolah

Masih di Tanah Betuah Kayong, namun berbeda Sekolah, beberapa penerima WBOCS seperti Rafikah, Ratiah, Fitri Melyana dan Gilang Ihsan Pratama melaksanakan lecture di SD Negeri 20 Simpang Hilir pada tanggal 23-27 Januari 2020. Mereka memberi nama project ini “Tunas Kayong” dengan harapan menanamkan jiwa konservasi pada generasi muda.

Adapun rangkaian kegiatan ini antara lain seperti Pembukaan, Game, Materi tentang; Jenis Sampah dan Gaya Hidup Peduli Lingkungan, pembagian doorprize, membuat pohon harapan yang berisikan perjanjian tindakan yang akan mereka lakukan besoknya setelah mendapatkan materi, membuat poster kampanye stop sampah plastik, sesi foto bersama dan penyerahan cinderamata.

 Kegiatan ini berjalan sangat baik dan mendapatkan pujian dari pihak Sekolah. “Ibu Kepala Sekolah mengatakan memang benar Jiwa peduli lingkungan harus ditanamkan sejak usia anak-anak agar kelak mereka dewasa bisa menjadi generasi konservasi”.

Tunas Kayong ini dilaksanakan untuk kelas V yang berjumlahkan 22 siswa, mengingat keterbatasan waktu dan tenaga. Namun, antusias belajar satu Sekolah ini saja sudah luar biasa dan mereka sangat aktif dalam bertanya dan mempunyai responsif yang baik.

Salah satu perkataan yang membekas dihati kami dari seorang anak yang masih belum paham betul apa sih konservasi yakni “Kak, saya nih suka beli jajanan yang berbahan plastik. Namun, setelah mendapatkan materi dari kakak, saya janji akan mengurangi jajan berbahan plastik, membawa tempat makanan sendiri, botol kesayangan sendiri dan minuman tanpa sedotan karena sekarang saya sudah tahu bahwa tindakan kecil ini bermanfaat untuk bumi  yang tersayang ini.” Didalam lubuk hati kami menaruh harapan besar pada tunas-tunas Kayong ini agar kelak menggantikan posisi kami dalam memberikan ilmu konservasi. Jika tak mampu menjaga keselamatan bumi maka kontribusi sekecil-kecilnya adalah mencegah penumpukan sampah plastik dimulai dari kesadaran diri sendiri. Salam Tunas Kayong!..

Penulis : Tim Simpang Hilir;  Rafikah dan Ratiah (WBOCS 2017), Fitri Melyana (WBOCS 2018) dan Gilang Ihsan Pratama (WBOCS 2019)

Editor : Pit-YP

“Cerpen” Perkenalkan Aku Bekantan Satwa Endemik Kalimantan

Aku Satwa Endemik, Namaku Bekantan. Foto dok: Rizal Alqadrie

Perkenalkan, aku adalah Bekantan, aku berasal dari Kalimantan. Aku binatang endemik (aku hanya ada di Kalimantan saja lho, tidak ada di tempat lain). Aku seekor monyet berhidung mancung, Selain mancung, hidungku panjang dan besar. Karena hidungku yang mancung, aku disebut orang sebagai monyet belanda. Aku memiliki nama latin Nasalis Larvatus.

Aku (bekantan) berbeda dengan monyet biasanya, hidungku yang mancung membuatku lebih unik dari monyet biasanya. Hidungku yang mancung ini membuat bekantan betina tertarik akan memilihku untuk menjadi pasangannya.

O iya, ukuran panjang badanku kurang lebih 75 cm dengan berat mencapai 24 -30 kg. Sedangkan yang betina berukuran 60 cm dengan berat 12 kg. 

Aku (bekantan) lebih banyak menghabiskan waktu keseharianku di atas pohon, dan aku hidup secara berkelompok di pinggiran sungai. Di dalam satu kelompok ku terdiri dari satu bekantan jantan, beberap betina, dan anak-anakku. Aku sangat suka memakan sehingga perutku besar alias buncit. Aku sangat suka memakan pucuk daun (banyak dedaunan), aku juga suka memakan biji-bijian dan buah-buahan hutan di pinggir sungai.

Aku (bekantan) mempunyai kemampuan berenang dan dapat menyelam dalam beberape menit. Di sela-sela jari kakiku terdapat selaput yang dapat membantuku berenang, dan di hidungku terdapat katup yang dapat membantuku untuk menyelam.

Saat ini, keberadaan aku dan teman-temanku bekantan yang lain dalam keadaan terancam karena  rumah tempat tinggal kami berdiam semakin berkurang karena pembukaan lahan sehingga nafas alias nywa kami pun menjadi taruhannya. Kami takut, takut jikalau kami semakin terancam dan semakin langka bahkan punah.

Sampai saat ini aku (bekantan) ditetapkan sebagai hewan/satwa yang teracam punah dan di lindungi oleh undang-undang No. 5 tahun 1990 pasal 21 ayat 2. Barang siapa yang membunuh, menangkap, mengkonsumsi, memelihara dan memperjualbelikan aku (bekantan), akan di pidana paling lama 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Berharap aku bisa dilindungi dan bisa selalu hidup bebas di tepian sungai hingga hidup selamanya, hanya itu harapku.

Editor : Petrus Kanisius

Penulis: Egi Iskandar (Relawan Konservasi REBONK Yayasan Palung, angkatan 8)