
Dua mahasiswa Fakultas Kehutanan dari Universitas Tanjungpura Pontianak, Riko Wibowo dan Egi Iskandar berkesempatan menyampaikan presentasi rencana penelitian mereka di Kawasan Hutan Desa di Wilayah Simpang Hilir, KKU. Presentasi tersebut disampaikan pada Selasa (8/4/2025) kemarin, di Kantor Yayasan Palung, Ketapang.
Seperti diketahui, Egi dan Riko sapaan akrabnya juga merupakan Mahasiswa penerima beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) Angkatan tahun 2021.
Dalam kesempatan tersebut, Riko mendapatkan kesempatan pertama menyampaikan presentasi terkait rencana penelitiannya di Kawasan Hutan Desa Rantau Panjang, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Adapun judul dari rencana penelitiannya adalah; Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Pakan Orangutan di Hutan Desa Muara Palung Desa Rantau Panjang Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara.
Sementara itu, Egi menyampaikan presentasi tentang rencana penelitiannya dengan judul; Karakteristik Sarang dan Kepadatan Orangutan (Pongo Pygmaeus) di Hutan Desa Nipah Kuning Kabupaten Kayong Utara.
Setelah melakukan presentasi di Kantor Yayasan Palung, Riko dan Egi juga menyampaikan presentasi di kantor UPT KPH Wilayah Kayong, pada Rabu (9/4/2025). Presentasi tersebut dilakukan karena Penelitian dilakukan di wilayah kerja UPT KPH Wilayah Kayong.
(Pit-YP).

Panas bumi yang tak lagi bersahabat, demikian celoteh dari beberapa dari kita
Bumi yang hangat menyengat, tak lagi sejuk dan yang ada panas membakar kulit tetapi bumi masih saja, tetap saja (di/ter)sakiti
Kekeringan, atau banjir bandang yang kerap kali datang seolah dipandang sebelah mata
Bumi semakin sakit, kita semakin senang membuat/menambah luka deritanya yang ada
Rupa-rupa tanam yang tumbuh semakin rebah tak berdaya seolah tak ada daya dari kita
Tanam tumbuh tak lagi subur, tajuk-tajuk yang menjulang tinggi itu telah enggan berdiri kokoh karena ulah kita pula
Kita merana karena ulah kita
Bumi yang disebut rumah tempat tinggal itu kini nasibnya semakin sakit diusianya yang semakin tua renta
Bumi dan kita sama-sama bergantung
Kita bergantung kepada bumi, bumi tergantung kepada kita
Bumi menghangat, kita berkeringat, keluh kesah pun tak jarang menyalahkan alam
Alam disalahkan, karena katanya tidak bersahabat? apa kita yang tidak bersabahat?
Bumi, alam ini, dan kita semakin membuncah
Ya, bumi menangis, kita tertawa melihatnya didera tanpa jeda
Keluh kesah kita tentang bumi terkadang luput dari pandangan karena keinginan kita yang sulit dibendung
Tingah polah tergantung titah sang pemberi kuasa
Bumi dan kita hanya ingin saling harmoni
Sebab, luka derita bumi yang terjadi luka kita pula.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana: Bumi dan Kita yang Sama Bergantung
Tanah Kayong, Tanah Betuah, 08 April 2025
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Pendampingan Akademik dan Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat. Acara yang digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu, (8-9/3/2025), kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa, memperkuat jaringan antar-penerima beasiswa, serta menanamkan kesadaran lingkungan.
Pada hari pertama kegiatan acara dibuka secara resmi oleh Riduwan, dalam kesempatan itu menekankan tentang pentingnya evaluasi akademik dan komitmen mahasiswa dalam mempertahankan prestasi selama menerima beasiswa. Evaluasi laporan mahasiswa penerima beasiswa tahun 2021-2024 menjadi agenda utama di hari pertama, mencakup prestasi akademik, partisipasi dalam kegiatan lingkungan, serta keterlibatan mereka dalam program-program Yayasan Palung. Selain itu, dilakukan pengumpulan dokumentasi kegiatan mahasiswa selama periode laporan April 2024 hingga Maret 2025.
Salah satu momen penting dalam kegiatan ini antara lain adalah sesi motivasi bersama Gusti Irawan, alumni penerima beasiswa tahun 2019 yang kini telah meraih gelar Magister Hukum. Dalam sesi ini, Gusti berbagi pengalaman perjalanan akademiknya, tantangan yang ia hadapi, serta strategi yang ia terapkan untuk mencapai keberhasilan. Ia juga mendorong mahasiswa untuk tetap tekun dalam studi dan mengembangkan kompetensi mereka di berbagai bidang.
Acara berlanjut dengan sesi pendampingan akademik yang dipandu oleh Widiya Octa Selfiany, Manajer Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung dan sebagai penanggung jawab program beasiswa. Dalam sesi ini, mahasiswa diberikan strategi untuk mengatasi kendala dalam perkuliahan, meningkatkan prestasi akademik, serta membangun keterampilan yang mendukung sukses di dunia akademik dan profesional. Hari pertama ditutup dengan buka puasa bersama, yang menjadi momen kebersamaan sekaligus ajang mempererat hubungan antar-mahasiswa dan pembina beasiswa.
Hari kedua kembali diawali dengan pembukaan oleh Riduwan, kemudian dilanjutkan dengan sesi “Diskusi Merancang Masa Depan: Strategi dan Perencanaan Karier bagi Penerima Beasiswa” yang disampaikan oleh Widiya Octa Selfiany. Dalam sesi ini, mahasiswa diajak untuk menyusun strategi dalam membangun masa depan akademik dan karier mereka, baik di sektor akademik, profesional, maupun konservasi lingkungan.
Setelah itu, mahasiswa mendapatkan materi mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk program magang dan penelitian. Pemahaman mengenai tahap-tahap yang harus dilalui dalam program ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa agar dapat mempersiapkan diri lebih baik. Sesi ini dilanjutkan dengan diskusi refleksi diri, di mana mahasiswa diberi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan akademik mereka serta menyusun rencana studi ke depan.
Dalam rangka memperingati Hari Hutan Internasional dan Hari Air Sedunia, Riduwan menyampaikan materi mengenai Hari Hutan Internasional dan Hari Air Sedunia. Mahasiswa turut berpartisipasi dalam kampanye lingkungan dengan membuat pesan serta video kampanye yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan.
Kegiatan ditutup dengan sesi “Suara Mahasiswa: Ide dan Aspirasi untuk Kegiatan 2025”, yang dipandu oleh Iqbal, Noni, dan Maria. Dalam sesi ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan masukan serta harapan mereka terhadap program beasiswa di tahun mendatang. Diskusi ini menjadi wadah penting dalam merancang program yang lebih baik dan lebih relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
Sebagai penanggung jawab program beasiswa, Widiya Octa Selfiany menyampaikan harapannya agar kegiatan pendampingan ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi mahasiswa. Kami berharap mahasiswa penerima beasiswa tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga semakin aktif dalam aksi konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Program ini bukan sekadar bantuan finansial, tetapi juga wadah untuk membentuk pemimpin-pemimpin muda yang peduli terhadap lingkungan. Ke depan, kami ingin memperluas cakupan kegiatan, termasuk program magang yang lebih intensif dan peningkatan kapasitas dalam penelitian lingkungan, ujar Widiya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, alumni, serta berbagai pihak terkait dalam mendukung kelangsungan program beasiswa ini. Kami ingin memastikan bahwa setiap penerima beasiswa mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk berkembang secara akademik dan profesional. Dengan kerja sama yang kuat, saya yakin kita bisa menciptakan generasi yang lebih peduli dan siap berkontribusi bagi lingkungan dan masyarakat,” tambahnya.
Kegiatan pendampingan ini berjalan dengan sukses, berharap kegiatan ini bisa memberikan manfaat besar bagi mahasiswa penerima beasiswa. Selain menjadi ajang evaluasi dan refleksi, kegiatan ini juga memperkuat kapasitas akademik dan kepedulian lingkungan mereka. Dengan adanya sesi motivasi, pendampingan akademik, serta diskusi strategi masa depan, mahasiswa diharapkan semakin siap menghadapi tantangan akademik dan profesional di masa mendatang serta terus berkontribusi dalam konservasi orangutan dan lingkungan sekitar.
Widiya Octa Selfiany-Yayasan Palung

Pada Minggu (16/3/2025) kemarin, bertempat di Kantor Yayasan Palung Ketapang telah diadakan serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas bagi Kelompok muda Yayasan Palung yaitu Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) sekaligus memperingati beberapa hari lingkungan Seperti Hari Hutan Internasional, Hari Air Sedunia dan Hari Perempuan Internasional.
Selain itu, kegiatan peningkatan kapasitas bagi relawan diisi dengan materi membuat pesan kampanye lingkungan dan dalam kesempatan tersebut juga diisi dengan kegiatan buka puasa bersama dengan para relawan.
Dalam serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas bagi relawan tersebut dihadiri oleh 32 orang peserta RK-TAJAM yang terdiri dari berbagai angkatan.
Peserta yang hadir diberikan beberapa materi terkait Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Dalam kesempatan tersebut, Widiya Octa Selfiany dari Yayasan Palung memberikan materi tentang Hari Perempuan Internasional: Merayakan Keberagaman dan Kekuatan Perempuan.

Sebagai informasi, RK-TAJAM berasal dari beragam etnis seperti Melayu, Dayak, Jawa, Tionghoa, Madura, Bugis dan lain sebagainya. Selain itu, puluhan dari anggota RK-TAJAM merupakan perempuan. Jadi beberapa materi sangat relevan diberikan kepada para relawan sebagai penigkatan kapasitas bagi mereka.
Selain materi tentang Perempuan, pada kesempatan tersebut para relawan juga diberikan materi tentang Hutan dan Air, karena di bulan Maret yaitu tanggal 21 Maret diperingati sebagai Hari Hutan Internasional dan pada tanggal 22 Maret diperingati sebagai hari Air Sedunia. Pada kesempatan ini, materi tentang Hari Hutan Inernasional dan Hari Air Sedunia disampaikan oleh Sela Darmiyati dari Yayasan Palung. Peserta dikenalkan tentang arti penting hutan dan air, manfaat hutan dan air bagi sebagian besar makhluk hidup.

Selanjutnya, disampaikan pula materi dan praktek terkait tentang Pembuatan Pesan Kampanye Lingkungan. Pada kesempatan itu, materi disampaikan oleh Petrus Kanisius dari Yayasan Palung. Dalam kesempatan itu, peserta yang hadir diajak untuk mengenal dasar-dasar jurnalistik dan bagaimana Teknik Penyajian Informasi Menjadi Tulisan atau Laporan dan Media Kampanye.

Selain itu, mereka (RK-TAJAM) yang hadir dalam kesempatan tersebut diajak untuk membuat/menuliskan pesan kampanye terkait lingkungan. Beberapa peserta yang dibagi menjadi empat (4) kelompok berhasil membuat beberapa pesan kampanye lingkungan.
Foto-foto pesan kampanye:
Setelah serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas selesai diberikan, selanjutnya mereka (RK-TAJAM) mengadakan kegiatan buka puasa bersama (bukber) di kantor Yayasan Palung, sekaligus silaturahmi dari beberapa Angkatan.

Dalam kesempatan itu juga, RK-TAJAM berkesempatan bersiskusi terkait rencana kegiatan yang akan mereka lakukan pada bulan depan seperti pelantikan bagi anggota baru dan lainnya.
Setelah semua rangkaian kegiatan selesai dilakukan, semua peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut berkesempatan berfoto bersama. Kegiatan tersebut pun berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pada Minggu (9/3/2025) kemarin, bertempat di Kantor Desa Rantau Panjang, Simpang Hilir, KKU Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang berkesempatan belajar bersama tentang Hutan dan Air yang disampaikan oleh oleh Sela Darmiyati dari Yayasan Palung (YP).
Materi tersebut disampaikan dalam rangka memperingati hari Hutan Internasional dan hari Air Sedunia yang sejatinya dirayakan pada tanggal 21 dan 22 Maret, namun rayakan dalam kesempatan itu.
Selanjutnya dalam kesempatan tersebut, peserta yang mengikuti kegiatan dibekali materi dan praktek tentang Cara Membuat Kompos dan Media Tanam, serta dilakukan praktek, yang pertama yaitu Membuat Kompos dari Kotoran Sapi, kemudian praktek kedua yaitu Membuat Media Tanam.
Materi dan praktek pada kesempatan tersebut disampaikan oleh Anggie yang juga merupakan salah satu anggota Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang.
Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan penanaman pohon di lokasi depan kantor desa Rantau Panjang dan sesi terakhir yaitu promosi produk dari beberapa anggota kelompok, seperti serundeng teri kelapa dan abon ikan. (YP).

Bertempat di ruang Aula Bungur, Fakultas Kehutanan UNTAN menjadi saksi semangat luar biasa bagi para mahasiswi penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS), pada Sabtu (8/3/2025) pekan lalu.
Dalam merancang pesan kampanye bertema kesetaraan gender, konservasi lingkungan, dan upaya melawan pelecehan terhadap perempuan.
Perempuan dan Konservasi, Perempuan memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan, termasuk dalam upaya perlindungan orangutan dan habitatnya. Sayangnya, masih banyak perempuan yang mengalami hambatan dalam dunia konservasi, baik dalam bentuk kurangnya akses pendidikan, ketidaksetaraan dalam pengambilan keputusan, maupun pelecehan di lapangan.
Suara Perempuan Melawan Pelecehan, di berbagai sektor, termasuk lingkungan dan konservasi, pelecehan terhadap perempuan masih sering terjadi. Oleh karena itu, kampanye ini juga menekankan pentingnya menciptakan ruang yang aman, inklusif, dan mendukung bagi perempuan untuk berkarya tanpa rasa takut.
Dalam kesempatan tersebut, Widiya Octa Selfiany, selaku Manajer Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan; “Perempuan bukan hanya pelindung alam, tetapi juga pemimpin perubahan. Memastikan hak perempuan dalam konservasi berarti membangun dunia yang lebih lestari, setara, dan aman. Tidak ada tempat bagi pelecehan, diskriminasi, dan ketidakadilan!.”
Mari kita bersama suarakan hak-hak perempuan, lawan pelecehan, dan lindungi bumi kita! …
#HariPerempuanInternasional #BeasiswaPeduliOrangutanKalimantanBarat #WomenForConservation #StopPelecehan #KesetaraanGender #YayasanPalung#KonservasiOrangutan #PerempuanBersuara
Penulis: Widiya Octa Selfiany
Foto dok: Syainullah dan Riduwan
(Yayasan Palung)

Yayasan Palung bersama dengan FAMM Indonesia berkolaborasi dengan LBH Kalimantan Barat, PTK ZINE LIBRARY, YLBHI, Gitujak, Gemawan dan SATU DALAM PERBEDAAN INDONESIA merayakan hari Perempuan Internasional 2025 yang diperingati setiap tanggal 8 Maret setiap tahunnya, pada Sabtu (8/3/2025), bertempat di CublayCan (Cold beer by the river) Pontianak.
Perayaan ini mengingatkan bahwa; perempuan selalu ditempatkan dalam dua nasib: korban yang menderita atau sosok sempurna yang patuh? Padahal, perempuan punya ribuan cerita tentang bertahan, memberontak, mencintai, bekerja keras, dan hidup tanpa harus memenuhi ekspektasi siapa pun.
Dalam rangka International Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional 2025, kami membuat Zine ini sebagai medium refleksi dan selebrasi. Merayakan perempuan dalam segala keberagamannya.
Zine dipilih karena murah, mudah diakses, dan yang paling penting: merdeka. Harapannya, ini bisa menjadi media komunikasi dan dokumentasi gerakan perempuan di Kalimantan Barat.
Kami mengajak semua perempuan untuk berbagi cerita dari pekerja, pelajar, petani, nelayan, perempuan adat, perempuan kota, hingga yang tak ingin diberi label apa pun. Karena keberagaman ini adalah kekuatan yang harus kita rangkul dan rayakan!
Ini rangkaian kegiatan yang dilakukan ;
Dikutip dari laman UN Women, Hari Perempuan Internasional merupakan momen refleksi atas perjuangan kaum perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan hak dan kesempatan di berbagai bidang kehidupan. Peringatan ini juga sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk mencapai kesetaraan gender masih membutuhkan komitmen dan tindakan dari semua pihak.
#internationalwomensday #iwd #iwd2025 #hariperempuaninternasional #hariperempuan
Ilustrasi: @maraksara

Yayasan Palung (YP) bekerjasama dengan KPH Wilayah Kayong mengadakan Pelatihan Budidaya Lebah Madu Hutan (Apis dorsata) Metode Tikung. Kegiatan Pelatihan tersebut dilaksanakan di Desa Padu Banjar, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada Rabu (26/2/2025) pekan lalu.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Yayasan Palung (YP), melalui Program Hutan Desa dan diikuti oleh peserta 18 Orang peserta yang merupakan perwakilan dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Matan Jaya, Lubuk batu, dan Rantau Panjang, KPH Kayong dan KUPS Banjar Lestari. Dari LPHD Lubuk Batu 3 orang, dari LPHD Rantau Panjang 4 orang, dari KPH Kayong 2 orang dan KUPS Banjar Lestari 5 orang.
Pada kegiatan pelatihan tersebut, sebagai narasumber adalah Edi Rahman yang juga merupakan Field Direktur Yayasan Palung. Selain itu, saat materi praktek pembuatan tikung, Pak Edi sapaan akrabnya di bantu oleh Samsidar dari YP.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta dibekali materi dan praktek (membuat tikung) tentang bagaimana melakukan budidaya lebah madu hutan (Apis dorsata) dengan metode tikung.
Para peserta pelatihan juga melakukan praktek dengan pemasangan tikung di lokasi tepian sungai di sekitar Hutan Desa Padu Banjar. Setidaknya ada tujuh (7) tikung yang di pasang sebagai percobaan. Berharap budidaya lebah madu hutan (Apis dorsata) metode tikung bisa berhasil dengan baik dan menjadi sumber tambahan penghasilan bagi masyarakat lebih khusus LPHD dan KUPS.
Setelahmelakukan pemasangan tikung, para peserta pelatihan juga berkesempatan melakukan panen lebah madu di lokasi yang tak jauh dari tempat pemasangan tikung. Panen tersebut di tikung yang sudah lama di pasang sebelumnya oleh teman-teman LPHD Padu Banjar.
Lihat video :
budidaya lebah madu secara lestari boleh dikata sebagai salah satu bentuk (cara) masyarakat mengelola hutan secara berkelanjutan dan lestari.
Rangkaian kegiatan pelatihan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta yang mengikuti pelatihan.
Baca juga:
Penulis: Petrus Kanisius
Foto : Sukrianto
Yayasan Palung

Keberadaan dan keadaan satwa liar sama seperti kita manusia perlu rumah, kehilangan tempat hidup (rumah) maka akan berdampak kepada sendi-sendi kehidupan demi bisa bertahan hidup.
Hari kehidupan satwa liar sedunia tentunya sudah sepantasnya untuk kita peringati. Mengingat keadaan satwa liar keberadaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Hari Satwa Liar Sedunia atau World Wildlife Day adalah sebuah hari peringatan yang diadakan setiap tahun pada tanggal 3 Maret untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat yang diberikan satwa dan tumbuhan liar di dunia untuk kehidupan manusia dan kesehatan planet bumi.
Lalu, bagaimana keadaanya satwa liar saat ini? sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya itu kata singkat yang bisa mewakili dari banyak kata tentang nafas, keberadaan dan nasib mereka saat ini.
Ancaman akan habitat hidup dari satwa liar dari tahun ke tahun yang terjadi tidak pernah berhenti mendera, membuat tidak sedikit satwa liar yang lari terusir hingga kehilangan tempat hidup/rumah yang tak lain juga adalah hutan alam ini karena banyak sebab,satu diantaranya adalah habitat satwa banyak yang beralih fungsi untuk pembukaan lahan berskala besar, digunakan untuk apapaun sudah pasti akan mengorbankan nasib hidup satwa dan tumbuhan.
Tidak bisa disangkal, ada hutan, ada kehidupan. Ada hutan ada satwa liar yang mendiami (hidup). Sebaliknya kehilangan habitat menjadikan satwa liar, tidak terkecuali orangutan, enggang, kelasi, kelempiau, bekantan akan semakin sulit bertahan hidup di alam liar. Hal yang sama juga terjadi kepada keanekaragaman biodiversitas yang ada, pasti akan berdampak jika hutan alam ini hilang tak bersisa apabila tidak ada perhatian dan kepedulian dari semua kita.
Fakta-fakta lain yang terjadi, tidak sedikit satwa liar yang menjadi tawanan/dipelihara dan terkungkung dalam sangkar, diperjualbelikan tanpa melihat nasib dan kebebasan hidup mereka di alam liar. Bagaimana apabila kita dibuat seperti mereka (satwa liar)? Apakah kita sanggup hidup terkungkung dalam penjara dan diperjualbelikan, sungguh malang tanpa harapan.
Pada tahun 2022, menurut update data terbaru dari International Union for Conservation of Nature’s Red List of Threatened Species menyebutkan; tingkat ancaman kepunahan terhadap keanekaragaman hayati cenderung semakin meningkat. Dalam data tersebut menyebutkan lebih dari 40.000 spesies terancam punah. Selain itu, estimasi spesies yang menghadapi ancaman kepunahan (threatened species) disetiap grup, adalah: cycads (sejenis pakis) 63% (63-64%); amfibi 41% (34-51%); dicots tertentu (birches; cacti; magnolias; maples; oaks; protea family; southern beeches; teas) 39% (34-45%); ikan hiu, pari dan hiu hantu (sharks, rays & chimeras) 37% (32-46%); konifera (conifers) 34% (34-35%); batu karang (reef-forming corals) 33% (27-44%); crustaceans tertentu (seperti lobster dan kepiting) 28% (17-56%); mamalia 26% (23-37%); reptil 21% (18-33%); serangga tertentu (dragonflies & damselflies) 16% (11-40%); burung 13% (13-14%); beberapa gastropods (abalones, cone snails) 10% (8-23%); bony fishes tertentu 6% (5-22%); cephalopods (nautiluses; octopuses; squids) 1.5% (1-57%).
Dari data tersebut, tentu ini ancaman nyata yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Hutan alam ini tentunya sangat memerlukan harmoni dari kita semua. Peran hutan, tumbuhan dan satwa liar tentu tidak sedikit sebagai sumber dari segala sumber penghidupan semua kita, rantai makanan yang saling membutuhkan satu sama lainnya semestinya jangan terputus. Apabila itu terjadi maka akan berpengaruh kepada satwa lainnya termasuk dengan kita manusia. Tentu kita sudah merasakan bagaimana panas yang menyengat tubuh sudah sering kita rasakan, ketika kemarau sulit air, ketika hujan kita kebanjiran.
Satu kekhawatiran yang akan terjadi apabila hutan alam, satwa liar dalam ancaman yang tidak terkendali maka semua kita pun semakin sulit untuk bertahan hidup di dunia yang saat ini sudah semakin sulit diprediksi.
Kepedulian kita semua kepada semua makhluk hidup sudah selayaknya dilakukan, sudah sepantasnya didengungkan dengan tidakan nyata dengan cara-cara sederhana yang bisa kita lakukan seperti tidak memilihara satwa dilindungi dan tidak memperjualbelikan satwa dan tumbuh-tumbuhan dilindungi. Sebaliknya, menjaga dan memiliharanya. Biarkan satwa dilindungi dan tumbuh-tumbuhan bisa hidup di alam liar hingga ia bisa selalu memberi kita sumber hidup dan kehidupan.
Sebagai pengingat kepada kita semua, hutan alam, satwa liar sejatinya memiliki hak yang sama untuk hidup di alam bebas, tetapi terkadang manusia dengan tindakannya lalu mengusik mereka (satwa liat) demi memikirkan kepentingan sesaat tanpa memikirkan keberlanjutan nafas kehidupan makhluk hidup yang lainnya.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di:
https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/67c54ed9c925c407355cbcb2/hari-kehidupan-satwa-liar-sedunia-bagaimana-keberadaan-dan-keadaannya-saat-ini
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Slide 1: Februari 2025
Pengantar seputar buah pakan orangutan di Bulan Februari.
Slide 2: Dokumentasi per genus buah
Baccaurea merupakan genus dengan berbagai spesies yang banyak dimakan oleh orangutan bulan ini, dilanjutkan Willughbeia, dan Lithocarpus.
Slide 3: Art Fruit
Susunan buah pakan orangutan
Simpulan Genus buah pakan orangutan bulan Februari 2025:
1. Artocarpus
2. Baccaurea
3. Castanopsis
4. Dacryodes
5. Durio
6. Ficus
7. Garcinia
8. Gnetum
9. Lansium
10. Licania
11. Lithocarpus
12. Mangifera
13. Pometia
14. Strychnos
15. Willughbeia
16. Xanthophyllum
Bagian yang dimakan: Buah dan Biji
Narasi: Ari Marlina
Foto: Ari Marlina | Yayasan Palung (GPOCP)
Identifikasi pakan: Ari Marlina | Yayasan Palung (GPOCP)
Baca juga:
Lokasi: Taman Nasional Gunung Palung
————————————-
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Biologi Universitas Nasional dan Boston University.
#buah #pakan #orangutan #buahhutan #fruit #fruits #pakanorangutan #riset #penelitian
#exploringbeuaty #conservingdiversity #supportingprosperity #tamannasionalgunungpalung