
Pada Jumat (21/2/2025) pagi, Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung dan RK-TAJAM bersama siswa-siswi dan guru MIS Islamiyah Kuala Satong, Ketapang, kalimantan Barat mengadakan kegiatan edukasi lingkungan dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional.
Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) diperingati setiap tanggal 21 Februari sebagai pengingat kepada kita semua terkait kepedulian terhadap sampah.
Adapun tema yang diambil dalam kegiatan HPSN kali ini adalah; “Dari Sampah Menjadi Karya: Wujudkan Sekolah Bersih dan Kreatif”.
Widiya Octa Selfiany, Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung, mengatakan, dalam kesempatan tersebut, kami berbagi ilmu tentang bagaimana kita bisa mengurangi sampah dalam kehidupan sehari-hari dan berkreasi dengan bahan bekas. Siswa-siswi antusias belajar dan mempraktikkan cara membuat bingkai foto dari kertas bekas, membuktikan bahwa sampah bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai.
Setidaknya ada 102 orang siswa-siswi yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Dalam kesempatan itu, siswa-siswi berhasil membuat bingkai foto yang cantik dari kertas bekas.
Sedangkan di Kayong Utara, dalam rangka memperingati HPSN 2025, pada Jumat (14/2/2025) lalu, Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan di Kayong Utara bekerjasama dengan REBONK mendampingi kelompok belajar anak Simpang Keramat Kids dan Bentangor Kids membuat bunga dengan memanfaatkan kantong plastik bekas, kata Simon Tampubolon selaku Koordinator Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung.
Widiya, sapaan akrabnya, berharap, semoga setiap langkah kecil kita untuk mengelola sampah dengan bijak adalah kontribusi besar bagi lingkungan. Mari bersama menjaga bumi kita !!!…
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung mengadakan Pelatihan Edukasi Ecoprint bersama Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang, pada Minggu (23/2/2025) pagi.
Pada kesempatan tersebut Yayasan Palung mengundang dari pihak Balai TANAGUPA sebagai pemateri. Dari Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) yang hadir sebagai pemateri adalah; Fadlun Arrayyan Bonde, S.I.P., Pujiastuti dan Yadi.
Dari Yayasan Palung (YP) yang hadir dalam kegitan tersebut adalah; Widiya Octa Selfiany, Sela Darmiyati dan Rudi Hartono.
Dalam kesempatan praktek tersebut, ibu-ibu terlihat begitu bersemangat untuk mengikuti arahan dari pemateri sehingga saat melakukan praktek mereka berhasil membuat/menciptakan motif yang cantik dan menarik di kain dan baju. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 18 orang peserta Kelompok Edukasi Kembang Desa.
Lihat juga:
Widiya Octa Selfiany, Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan, Melalui pelatihan ini, peserta belajar teknik ecoprint-seni mencetak motif alami dari tumbuhan sebagai bentuk kreativitas sekaligus upaya ramah lingkungan.
Lebi lanjut, Widiya, mengatakan, tidak hanya sekadar pelatihan, ini juga menjadi wujud kolaborasi dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional. Dengan memanfaatkan bahan alami, kita turut mengurangi limbah dan mendukung keberlanjutan lingkungan!
Terima kasih kepada semua yang telah berpartisipasi! Semoga ilmu hari ini bisa terus dikembangkan dan menginspirasi lebih banyak orang, ujar Widiya.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Kreasi dan kreativitas dari ibu-ibu perajin binaan Yayasan Palung seolah tidak ada matinya. Ya, seperti terlihat, mereka bisa membuat kreasi dan kreativitas dengan membuat boneka orangutan ketika mengikuti pelatihan menjahit di Aula Kantor Yayasan Palung Bentangor Education Center, di Desa Pampang Harapan, Kayong Utara, pada Sabtu hingga Minggu (22-23/2/2025).
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB diawali dengan pembukaan dan arahan dari staf Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung yang mendampingi kegiatan tersebut. Kegiatan diawali dengan pembukaan serta arahan terkait kegiatan pelatihan dan peserta pun langsung memulai kegiatan.
Adapun peserta yang ikut serta dalam pelatihan tersebut antara lain terdiri dari 8 orang (perempuan), dimana 4 peserta berasal dari Desa Penjalaan Kecamatan Simpang Hilir, 2 peserta berasal dari Desa Pangkalan Buton Kecamatan Sukadana dan 2 peserta berasal dari Desa Sejahtera Kecamatan Sukadana.
Pada hari pertama kegiatan, Sabtu (22/2), kegiatan pertama yang dilakukan yaitu pembuatan pola boneka orangutan menggunakan bahan karton yang telah disiapkan. Setelah semua pola selesai digunting dengan total jumlah keseluruhan peserta, lanjut lagi untuk pemotongan bahan kain menggunakan ukuran pola yang telah digunting sebelumnya. Setelah semua bahan digunting dengan ukuran pola, semua bahan yang digunting terpisah untuk bentuk badan boneka orangutan dijahit manual terlebih dahulu agar memudahkan pada saat mereka menjahit menggunakan mesin jahit. Dan pada hari pertama kegiatan selesai pada pukul 16.00 WIB dan berhasil membuat satu boneka.
Hari kedua kegiatan, Minggu (23/2), pelatihan dilanjutkan untuk menyelesaikan pembuatan boneka orangutan dengan bahan yang masih ada, para peserta pun berbagi tugas agar proses pengerjaan berjalan lancar dan mendapatkan semua bagian pengerjaan. Ada yang melanjutkan memotong bahan, ada yang melanjutkan menjahit manual, ada yang melanjutkan menjahit menggunakan mesin jahit. Pada proses pembuatan boneka orangutan ini, mereka mengalami kendala yaitu pada proses pembuatan bentuk mulut, bentuk telinga dan bentuk kening yang terkadang ada kekeliruan saat menjahit sehingga harus dibongkar beberapa kali agar menghasilkan boneka yang lebih baik.
Setelah mengalami beberapa kendala mereka menjadi lebih baik lagi dalam proses pengerjaan, karena mereka menjadikan kesalahan sebagai suatu pengajaran bukan sebagai beban yang membuat mereka lelah pada saat proses kegiatan.
Pada pelatihan pembuatan boneka orangutan ini, para peserta dibantu oleh ibu Saparidah yang pada kesempatan tersebut menjadi trener (pelatih). Dalam kesempatan itu, peserta berhasil membuat boneka orangutan sebanyak 14 boneka. Setelah kegiatan pembuatan boneka selesai, staf program SL memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pendapat tentang pelatihan yang mereka lakukan selama dua hari. Kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan diakhiri dengan sesi foto bersama.
Salmah-Yayasan Palung

Pada Sabtu-Minggu (8-9/2/2025) lalu, Tim Hutan Desa Yayasan Palung mengadakan evaluasi dan peningkatan kapasitas tim SMART Patrol LPHD dampingan Yayasan Palung, bertempat di Kantor Yayasan Palung Bentangor Education Center, di Desa Pampang Harapan, Kayong Utara.
Dalam kesempatan tersebut, para peserta yang mengikuti kegiatan dibekali dengan beberapa materi pelatihan seperti; Pelatihan Peningkatan Kapasitas anggota SMART Patrol seperti, Pelatihan Identifikasi Sarang Orangutan dan Identifikasi satwa (sarang, jejak, kotoran, cakar) yang disampaikan oleh Erik Sulidra dari Yayasan Palung. Selain itu disampaikan pula Pelatihan identifikasi tumbuhan (pohon, buah, bunga) disampaikan oleh Gunawan Wibisono dari Yayasan Palung. Selanjutnya para peserta diberikan Pelatihan penggunaan Alat Pantau Passive (camera trap, hobo, curah hujan, bioacoustics) yang di sampaikan oleh Mahendra dari Yayasan Palung. Dilanjutkan dengan Pelatihan Penggunaan aplikasi radar hotspot (sipongi) yang disampaikan oleh Rustami, dari Brigade UPT KPH Wilayah Kayong.
Selain itu, dalam kegiatan tersebut, dilakukan pula evaluasi hasil kegiatan SMART Patrol yang telah dilakukan pada tahun 2024 lalu, Evaluasi dilakukan tersebut dilakukan oleh Robi Kasianus dari Yayasan Palung.
Dalam evaluasi tersebut, disampaikan hasil SMART Patrol Tahun 2024 yang terdiri dari; Jangkauan Patroli (capaian great), Jam Patroli, Pengambilan data yang akurat (titik Lokasi, foto, video), Temuan lapangan selama patroli, Kedisiplinan (Pelaksanaan SOP Patroli) dan Pembentukan SOP SMART Patrol 2025.
Hendri Gunawan, Manager Program Hutan Desa Yayasan Palung mengatakan, Kegiatan ini terselengga atas kerjasama yang baik antara Yayasan Palung (YP) bersama UPT KPH Wilayah Kayong.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh 29 peserta yang terdiri dari beberapa perwakilan seperti dari; Tim Smart Patrol LPHD Padu Banjar 4 orang, Tim Smart Patrol LPHD Alam Hijau 4 orang, Tim Smart Patrol LPHD Hutan Bersama 4 orang, Tim Smart Patrol LPHD Muara Palong 4 orang, Tim Smart Patrol LPHD Simpang Keramat 4 orang, Tim Smart Patrol LPHD Lubuk Batu Betuah 3 orang, Tim Smart Patrol LPHD Matan Jaya 4 orang dan Brigade KPH Kayong 2 orang.
Lebih lanjut Hendri sapaan akrabnya mengatakan, tujuan kegiatan tersebut antara lain adalah untuk Mengevaluasi hasil kegiatan SMART Patrol tahun 2024 dan Memberikan pelatihan peningkatan Kapasitas anggota tim SMART Patrol.
Selanjutnya, Hendri, berharap anggota tim SMART Patrol pada tahun 2025 dapat melaksanakan kegiatan patrol dengan maksimal serta menerapkan hasil pelatihan sesuai dengan SOP yang telah disepakati.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mengajak siswa-siswi peduli kepada nasib satwa dilindungi sebagai salah satu cara sederhana yang bisa kami Yayasan Palung dan Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) lakukan.
Dari Pihak Balai TANAGUPA yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain adalah; Bapak Ahmad Sirojudin, S.Hut selaku Kepala SPTN Wilayah II Teluk Melano. Selain itu ada pula Bapak M. Arif Pratama Putra, S.H. (Polisi Kehutanan Ahli Pertama), Bapak Andrianus Mulyadi (Polisi Kehutanan Terampil) dan Bapak Luthpi Izudin (Tenaga Pengaman Hutan Lainny) yang ikut ambil bagian dalam serangkaian kegiatan ekspedisi.
Sedangkan dari Yayasan Palung yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut antara lain adalah Petrus Kanisius, Simon Tampubolon, Riduwan, Adittia dan Rudi Hartono.
Ya, Yayasan Palung (YP) menggelar kegiatan bersama Balai TANAGUPA bertajuk Ekspedisi Pendidikan Lingkungan dan berkesempatan mengunjungi sekolah-sekolah yang ada di Desa Sempurna dan Desa Teluk Bayur, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat, pada Senin hingga Jumat (17- 21/2/2025).
Dalam serangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama lima hari tersebut, kami berkesempatan mengunjungi beberapa sekolah yang ada di dua desa yaitu di Desa Sempurna dan Desa Teluk Bayur untuk melakukan lecture (ceramah lingkungan), Puppet show (pertunjukan boneka) dan melakukan pemutaran film lingkungan.
Hari pertama kegiatan ekspedisi, kami lakukan pada Selasa (18/2) di SMPN 3 Sungai Laur, pada kesempatan tersebut, kegiatan lecture pertama disampaikan oleh pihak dari Balai TANAGUPA yang memberikan materi tentang Kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang memiliki peran besar bagi konservasi. Dalam kesempatan itu, materi presentasi disampaikan oleh Bapak Ahmad Sirojudin, S.Hut selaku Kepala SPTN Wilayah II Teluk Melano.
Selanjutnya pada sesi dua, lecture disampaikan oleh Simon Tampubolon selaku Koordinator Pendidikan Lingkungan dari Yayasan Palung yang menyampaikan materi tentang Orangutan Biologi, Ancaman dan Perlindungannya.
Pada Rabu (19/2), kami berkesempatan melakukan kegiatan Puppet show dan lecture di SDN 02 Sungai Laur. Saat melakukan Puppet show kami berkesempatan menyampaikan informasi tentang satwa dilindungi dengan cara bertutur atau bercerita dengan menggunakan media boneka terkait satwa dilindungi seperti orangutan, kelasi, bekantan, dan trenggiling.
Adapun materi Lecture yang disampakan adalah materi tentang kawasan TANAGUPA, dalam kesempatan tersebut disampaikan oleh Bapak Ahmad Sirojudin, S.Hut dari Balai TANAGUPA. Selanjutnya dalam kesempatan itu juga disampaikan materi tentang orangutan yang disampaikan oleh Simon Tampubolon.
Materi yang sama juga disampaikan saat kami melakukan puppet show dan lecture di SDN 22 Sungai Laur, pada Kamis (20/2/2025) dan SDN 06 Teluk Bayur, pada Jumat (21/2/2025).
Dalam kesempatan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan tersebut, kami juga berkesempatan melakukan pemutaran film lingkungan (mobile cinema) sebagai hiburan masyarakat sekaligus sebagai media kampanye dan penyadartahuan bagi masyarakat. Beberapa film dokumenter lingkungan yang diputar dalam kesempatan tersebut antara lain adalah; 100% Indonesia, Borneo, Amazonnya Indonesia, Mengapa Orangutan Hanya Ada di Indonesia, Prilaku Orangutan Merawat Anaknya dan Lagu Si Pongo.
Saat cuaca kurang mendukung (sedikit gerimis) tetapi tidak menyurutkan niat kami melakukan pemutaran film. Pada kesempatan itu, kami juga berkesempatan untuk berinteraksi dengan para penonton yang menyaksikan pemutaran film yang kami lakukan. Kami juga berkesempatan melakukan tanya jawab kepada para penonton, beberapa penonton yang bisa menjawab pertanyaan dari kami mendapatkan bingkisan/doorprize yang sudah kami siapkan sebelumnya. Seperti terlihat, masyarakat tampak sangat antusias saat menyaksikan film-film yang kami suguhkan.
Lihat juga:
YP mengucapkan terima kasih kepada pihak Balai TANAGUPA yang telah melakukan kegiatan bersama-sama (berkolaborasi), berharap semoga kerjasama yang baik seperti ini bisa terus terjalin. Terima kasih juga kepada pihak sekolah dan para pihak yang sudah mengijikan kami berkegiatan.
Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hari kasih sayang setidaknya mengingatkan atau juga sebagai pengingat kepada kita semua tentang arti kasih sayang kepada orang yang kita kasihi dan yang kita sayangi. Lalu, siapakah yang kita kasihi? Selain ibu, bapak, saudara/I kita, sesama kita dan tentu ada orang yang kita sayangi/kasihi yaitu pasangan kita (suami/istri ataupun pacar kita). Tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah sudahkah kita sayang kepada nasib bumi ini?
Kasih sayang kita kepada ibu, bapak, pasangan kita sudah menjadi hal yang biasa. Tetapi, sayang kepada nasib bumi, mungkin belum tentu semua sudah lakukan.
Kasih sayang jika boleh diartikan adalah sikap kita untuk saling mengasihi dan menghormati ciptaan Allah tanpa pilah dan tanpa pilih kasih. Jika demikian, sikap kita tidak boleh pamrih.
Mengutip dari Wikipedia, hari Valentin (bahasa Inggris: Valentine’s Day), disebut juga Hari Kasih Sayang, dirayakan tiap tanggal 14 Februari.
Tidak terlihat tetapi nyata adanya. Kita bisa menyayangi orang-orang yang kita kasihi, tetapi kita kadang lupa kasih/mengasihi dan sayang kepada nasib bumi.
Lalu mengapa demikian? Sikap kita tidak jarang acuh tak acuh kepada nasib bumi ini. Keutuhan ciptaan yang seharusnya kita jaga bersama justru disakiti dengan tingkah polah kita pula. Lihatlah yang tersaji dalam realita kehidupan kita saat ini; hutan alam ini tak lagi banyak mampu sepenuhnya menopang (menyangga)/menahan dan menyerap air ketika hujan, hingga deru banjir tak jarang menghampiri pemukiman masyarakat hingga membuat gaduh dan tidak sedikit yang mengaduh sembari menyalahkan alam karena tidak bersahabat. Apakah alam atau kita yang tidak bersahabat? tingkah polah kitalah yang sejatinya membuat nasib bumi seperti kurang disayangi atau bahkan sepertinya kita sengaja lupa untuk menyayangi nasib bumi ini.
Aku dan kamu yang sering lupa atau sengaja lupa tentu menjadi refleksi bersama. Cara-cara sederhana kita agar peduli pada nasib bumi ini menjadi tanda nyata agar kiranya sudahkah kita melakukan kasih sayang pada nasib bumi ini dengan tidak menyakitinya (merusak/memusnahkan) diganti dengan sikap kita yang jika boleh memilihara atau bahkan menanam pohon untuk kehidupan.
Tidak hanya itu, kita masih sering boros dengan air, listrik dan membuang sisa-sisa makanan yang kita makan. Dan masih banyak lagi contoh lainnya, tidak terkecuali lupa mencabut charger telepon genggam atau laptop, dan lupa mematikan kipas angin hingga AC.
Kita sudah semakin sulit mengontrol tingkah polah kita. Tidak sedikit diantara kita termasuk saya juga dengan mudah dan santainya membuang sampah sembarangan. Bahkan beberapa diantara kita membung sampah begitu saja, apa lagi di tempat umum walapun di tempat umum sudah ada tempat sampah, tetapi sampah tetap saja dibuang begitu saja oleh oknum kita. Lagi-lagi ini tentang kesadaran kita, karena kita sudah hilang rasa sayang kepada nasib bumi ini.
Semestinya kita tidak lagi membuang sampah sembarang. Tetapi lihatlah,tidak sedikit sampah-sampah bertebaran di selokan, di tepi jalan raya, di sungai atau di tempat umum lainnya. Jika ada kegiatan yang berskala besar, seperti konser atau pun kampanye misalnya. Tidak jarang sampah-sampah bertumpuk-tumpuk tersisa dan dibiarkan begitu saja.
Hal lainnya, ada kasih sayang kepada nasib bumi ini tetapi tak lagi menjadi mampu karena bumi sebagai tempat kita berdiam ini sudah semakin tua menjelang renta. Kita hanya bisa berkata bumi ini perlu disayangi oleh semua, tetapi tidak sedikit yang semakin menyakiti bumi ini dengan prilaku/tingkah polah yang tanpa lelah membuat bumi ini semakin merana nasibnya.
Masih ada asa kiranya yang masih bisa kita lakukan bersama untuk mengasihi/sayang kepada nasib bumi ini, yaitu mengubah tingkah polah kita dengan cara-cara yang kita miliki. tentunya dengan kesadaran dan tindakan nyata yang kita miliki.
Yuk kita sayangi bumi dengan memulai meruah tingkah polah kita agar semakin peduli kepada nasib bumi sebagai rumah kita bersama ini boleh berlanjut hingga nanti. Peliharalah, sayangilah dan cintailah bumi ini karena bumi ini sebagai rumah kita bersama. Semoga….
Tulisan ini sebelumnya dimuat di: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/67aee4ab34777c28a44622a4/hari-kasih-sayang-sudahkah-aku-dan-kamu-sayang-kepada-nasib-bumi
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal, radio merupakan salah satu media komunikasi arus utama yang memiliki jangkauan luas di seluruh dunia dan semakin berkembang dari masa ke masa hingga saat ini.
Ya, sebagai pengingat, setiap tanggal 13 Februari masyarakat dunia memperingati Hari Radio Sedunia. Seperti diketahui, radio memiliki peran/berperan sebagai media untuk menyampaikan pesan (berita, informasi dan hiburan) kepada masyarakat luas di sebagian besar negara termasuk Indonesia.
Hari Radio Sedunia ditetapkan oleh UNESCO sebagai perayaan resmi pada tahun 2011, dan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkannya pada tahun 2013.
Mengutip dari RRI.co.id, menyebutkan, Pada tahun 1920, kota Pittsburgh, Amerika Serikat, menjadi saksi berdirinya stasiun radio pertama di dunia.
Sedangkan di Indonesia, berbagai sumber menyebutkan, Stasiun Radio pertama di Indonesia adalah Bataviase Radio Vereniging (BRV) yang mulai bersiaran pada tanggal 16 Juni 1925. Selain BRV, ada juga beberapa stasiun radio lainnya seperti Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) di Jakarta, Solossche Radio Vereniging (SRV) di Solo, dan beberapa lainnya kala itu.
Pada tahun 1980-1990 an, Radio termasuk menjadi salah satu pilihan utama masyarakat lebih khusus di pedesaan. Tidak bisa disangkal lewat Radio, masyarakat bisa beroleh informasi berupa berita, hiburan dan informasi yang disampaikan hanya lewat radio. Karena waktu itu di kampung-kampung belum banyak warga atau masyarakat yang memiliki radio, apa lagi televisi. Sumber informasi, hiburan dan berita bagi masarakat hanya bisa diperoleh ketika mereka mendengarkan radio.
Saya jadi ingat ketika tahun 1990 hingga tahun 97an, saya bersama Alm. ayah saya sering mendengar berita yang disampaikan oleh RRI, berita keluarga yang di sampaikan oleh Radio Pro 1 Kalbar waktu itu. dan MPL (Musik Pelepas Lelah) ketika siang hari.
Selain itu, yang selalu di tunggu-tunggu adalah mata acara ketika di hari minggu, sekitar pukul 10.00 Wib yang menyuguhkan mata acara Sandiwara Radio seperti Saur Sepuh dan Butir-Butir Pasir di Laut dan lain sebagainya.
Sedangkan pada Pagi, pukul 05.00-06.00 Wib ayah saya ketika itu suka memutar radio dengan berita dari BBC London versi Bahasa Indonesia dan kadang-kadang memutar VOA Indonesia.
Sedangkan saya senang memutar radio untuk medengarkan berita olah raga yang bisa didengar di RRI pada pukul 10.00 hingga 11.00 WIB.
Kembali ke cerita awal, Radio sebagai media arus utama yang bisa digunakan dalam penyampaian pesan apapun itu. Saampai pada akhirnya pemancar Radio menjamur hingga ke pelosok tanah air dengan visi dan misinya masing-masing, baik itu Radio Komunitas ataupun radio pemerintah daerah ataupun radio swasta.
Tentu, dari masa ke masa ada perkembangan dan pasang surut dari radio itu sendiri. Misalnya, tidak sedikit dari radio-radio yang tutup karena sulit bersaing atau harus berubah haluan ke era digital dengan cara penyampaian pesan sudah semakin canggih, lewat Streaming/pengiriman konten audio dan video ke perangkat (ponsel, tablet, komputer, TV) melalui koneksi internet.
Di era sekarang, tidak sedikit radio baik milik pemerintah, swasta dan radio Komunitas yang berlomba-lomba meyebarluaskan informasi, berita dan hiburan lewat streaming radio. Jadi kapan pun dan dimana pun warga masyarakat bisa mendengarkan radio, dengan syarat di suatu wilayah tersebut sudah ada koneksi internet.
Sedangkan kelemahan radio di era digital saat ini adalah belum bisa menjangkau pelosok tanah air. Selain keterbatasan koneksi internet, tentu juga belum semua masyarkat memiliki perangkat yang bisa mendukung untuk mendengarkan radio secara streaming/digital. Di kota-kota besar Radio Era Digital sudah sangat menjanjikan sebagai salah satu pilihan yang bisa mendatangkan profit (cuan) jika visi dan misi radio adalah bisnis, dari iklan dan lain sebagainya mereka memperoleh keuntungan. Lain lagi ceritnya jika itu radio komunitas yang tentu fungsinya sebatas menyuarakan kepentingan masyarakat kebanyakan dan tidak beroleh profit, tetapi tetap saja, kehadiran radio komunitas bisa menjadi jejaring bagi radio swasta dan pemerintah dalam mempeoleh sumber informasi, dan sebaliknya juga radio komunitas pun beroleh juga sumber informasi yang bisa dijadikan acuan dan mungkin juga sangat penting disampaikan kepada khalayak.
Sumber dari :RKUFM.
Sumber : RKK Ketapang
Seperti misalnya, Yayasan Palung sebagai lembaga non profit, bisa saling bekerjasama dengan radio yang ada di dua Wilayah Ketapang bekerjasama dengan Rkk Ketapang 95,2 FM dan Kayong Utara, bekerjasama dengan Radio Kayong Utara 101,5 FM, untuk menyampaikan informasi terkait konservasi, lingkungan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh YP atau pun terkait isu-isu lingkungan dan informasi terkait special event lingkungan.
Berharap semoga Radio masih bisa tetap eksis selamanya dalam menyampaikan informasi, hiburan dan berita yang menarik bagi khalayak luas. Semoga saja…
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Bertempat di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara telah dilaksanakan kegiatan Rapat Koordinasi sekaligus penandatanganan kerjasama antara Yayasan Palung (YP) dan Dinas Pendidikan Kayong Utara, Kalimantan Barat, Selasa (11/2/2025) pagi.
Widiya Octa Selfiany, selaku Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung, mengatakan, Dalam rapat tersebut, Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkugan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung berkesempatan melakukan Presentasi Realisasi Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2024 Program Pendidikan Lingkungan dan RKT 2025 serta permohonan dukungan kepada Dinas Pendidikan KKU terkait aktivitas Program Pendidikan Lingkungan dan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) / nota kesepakatan tahun 2025.
Nota kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Kabupaten Kayong Utara, Rahadi Usman, M.Pd dan Widiya Octa Selfiany, S.Hut., M.Hut selaku Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung.
Widiya, sapaan akrabnya mengatakan, “Kerja sama ini mencerminkan komitmen bersama dalam menciptakan generasi yang peduli terhadap lingkungan dan siap berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam Kayong Utara.”
Lebih lanjut, Widiya, menerangkan, Kami percaya bahwa melalui sinergi ini, pendidikan lingkungan bukan hanya menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah, tetapi juga menjadi gaya hidup bagi masyarakat. Mari bersama membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan semoga dengan adanya kerjasama serta berkolaborasi ini, berharap Pendidikan di Kabupaten Kayong Utara semakin maju lagi.
Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di kompasiana:https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/67aaf7f7ed641562d9382e64/yp-dan-dinas-pendidikan-kku-lakukan-kerjasama-untuk-generasi-yang-peduli-lingkungan
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Beberapa waktu lalu, tepatnya, pada tanggal 3 hingga 5 Februari 2025 Yayasan Palung (YP) berkesempatan melakukan kegiatan puppet show (pertunjukan boneka) di beberapa Sekolah Dasar, selain itu juga, kami berkesempatan melakukan Lecture (ceramah lingkungan) di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Pada kesempatan pertama, Senin (3/2/2025) kami melakukan kegiatan Puppet Show di SDN 1 Teluk Melano. Hari kedua, Selasa (4/2/2025) kami melakukan Puppet Show di SDN 2 Teluk Melano dan pada Rabu (5/2/2025) melakukan Puppet Show di SDN 3 Teluk Melano. Sedang Lecture disampaikan pada Kamis (6/2/2025) di SMPN 1 Simpang Hilir.
Lewat puppet show (pertunjukan boneka) sampaikan pesan penting mengenalkan dan menjaga satwa dilindungi. Kegiatan ini dilakukan oleh Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung.
Kami berkesempatan bercerita dan mengenalkan tentang satwa dilindungi seperti orangutan, kelasi, burung enggang, trenggiling, Bekantan dan Kelempiau.
Beberapa cerita tentang satwa yang kami ceritakan seperti nasib satwa dilindungi saat ini dalam ancaman nyata, perlu peran dari semua pihak untuk melindunginya.
Selain itu diceritakan juga tentang perilaku, sebaran, DNA dan reproduksi orangutan. Diceritakan pula tentang habitat hidup satwa dilindungi keberadaannya semakin hari semakin menurun drastis karena berbagai persoalan diantaranya pembukaan lahan berskala besar.
Setelah bertutur, siswa-siswi diajak untuk bernyanyi. Dalam kesempatan itu, dari Tim PL YP mengajak siswa-siswi menyanyikan lagu si pongo.
Sedangkan materi lecture yang disampaikan pada kesempatan tersebut adalah tentang orangutan.
Dalam kesempatan tersebut, juga disampaikan Undang-Undang No. 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Adapun isi dari UU tersebut adalah;
Pasal 21 ayat 2 :
“Barangsiapa dengan sengaja memburu, menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan/atau memperdagangkan satwa yang dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati”.
Pasal 40A ayat 1:
“Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama (15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (Dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000,- (Lima Miliar Rupiah)”.
Berharap, semoga ada tumbuh kecintaan dari siswa-siswi untuk peduli kepada satwa yang dilindungi.
Petrus Kanisius
Yayasan Palung

Setidaknya ada 50 puluh bibit tanaman yang ditanam oleh Kelompok Muda Yayasan Palung (YP) yaitu Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM), pada Jumat (31/1/2025) pagi di Lingkungan Sekolah SMKN 3 Ketapang.
Dalam kesempatan tersebut, 60 orang ikut serta berpartisipasi melakukan penanaman pohon. Penanaman pohon tersebut dilakukan dalam rangka memperingati hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia yang diperingati setiap tanggal 10 Januari.
Walaupun hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia sudah lewat, tetapi tidak menyurutkan semangat dari rekan-rekan RK-TAJAM dan siswa-siswi yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Seperti diketahui, RK-TAJAM yang ikut ambil bagian dalam penanaman pohon ini adalah siswa-siswi perwakilan dari SMAN 3 Ketapang, SMKN 1 Ketapang yang juga beberapa diantara mereka merupakan anggota dari RK-TAJAM serta siswa-siswi perwakilan dari tuan rumah SMKN 3 Ketapang. Dalam kesempatan itu, RK-TAJAM dan siswa-siswi perwakilan dari sekolah dikoordinir oleh Sela Darmiyati, selaku Asisten Field Officer Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung.
Adapun bibit yang ditanam adalah bibit Matoa. Bibit tersebut merupakan bantuan dari Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang.
Menanam untuk Kehidupan. Berharap dengan kegiatan menanam seperti ini, bisa memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Rangkaian kegiatan penanman pohon tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta. (Pit-Yayasan Palung).