
Hari Primata jika boleh dikata sangat relevan untuk selalu kita peringati/rayakan setiap tahunnya, mengingat setiap tanggal 30 Januari karena perannya yang sangat penting sekali bagi ekosistem (satu kesatuan) yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya di alam ini.
Ya, tentu saja peran primata tidak sedikit memberi manfaat bagi tatanan kehidupan makhluk hidup lainnya. Ada primata sedikit banyak memberi sumber hidup bagi makhluk hidup lainnya.
Lalu apa sajakah peran primata yang dimaksud?
Menurut Pusat Studi Satwa Primata, menyebutkan, setidaknya ada 59 spesies satwa primata dari 11 genus yang mendiami habitat hutan Indonesia. Dari sekian banyak spesies primata satwa yang disebutkan berdasarkan data, ada beberapa primata yang sudah sangat terkenal di Indonesia karena peran dan fungsi mereka. Salah satunya adalah orangutan (kera besar/Hominidae). Selain itu ada monyet ekor panjang (Cercopithecidae), owa (Hylobatidae), kukang (Lorisidae), dan tarsius (Tarsiidae).
Orangutan dan Owa/kelempiau misalnya, mereka memiliki peran sebagai petani hutan. Sebagai petani di hutan, orangutan dan owa tidak sedikit berperan serta dalam keberlanjutan tajuk-tajuk pepohonan (hutan) terus berdiri kokoh. Sebagai petani, orangutan dan owa tanpa lelah menanam di hutan alam ini.
Ada orangutan, ada hutan. Ada orangutan, owa dan primata lainnya di hutan alam ini maka hutan masih boleh berdiri kokoh. Ada orangutan, owa dan primata lainnya berarti ada kehidupan.
Semua yang mendiami hutan alam ini sebagian besar menggantungkan hidupnya kepada peran primata. Tidak sedikit tajuk-tajuk pepohonan/hutan yang tumbuh menjadi makanan/pakan dari primata itu sendiri satwa lainnya.
Pohon-pohon yang tumbuh itu pun berdaun, berbunga dan berbuah yang tentu saja menjadi penyedia sumber makanan satwa ketika mungkin di tempat lain paceklik buah. Akan tetapi jika tajuk-tajuk pepohonan masih boleh berdiri kokoh maka sudah hampir pasti sumber makanan/pakan akan berlimpah tersedia di hutan alam yang menjadi rumah bagi sebagian besar makhluk hidup lainnya pula.
Pertanyaannya adalah bagaimana apabila hutan alam ini tidak ada yang menanam? Sanggupkah kita seperti mereka (primata) yang tanpa henti dan tanpa pamrih menanam siap waktu, dengan syarat mereka masih ada di wilayah hutan alam yang di maksud. Mengingat, nasib sebagian besar dari primata tidak jarang selalu dalam ancaman nyata. Masih seringnya kasus perburuan, pemiliharaan, konsumsi primata ataupun satwa yang dilindungi serta ditambah dengan semakin menyempitnya habitat yang tak lain juga menjadi rumah dari ragam primata dan satwa lainnya tentu menjadi salah satu sebab terkait bagaimana dengan keberlanjutan nafas kehidupan mereka selanjutnya.
Sesungguhnya, ada banyak tantangan akan keberlanjutan nafas hidup dari para primata saat ini yang sudah dan akan terjadi apabila dari semua kita acuh bahkan tidak peduli.
Tidak hanya itu, kekhawatiran lainnya adalah apabila hutan alam ini dan primata sudah semakin berkurang tentu akan berpengaruh/berdampak kepada ekosistem lainnya.
Tidak sedikit yang mengatakan, apabila hutan alam ini semakin berkurang atau bahkan hilang lenyap maka akan berdampak kepada sendi-sendi kehidupan tidak terkecuali kita manusia akan menerima dampak langsung.
Primata, satwa dan hutan alam ini sejatinya merupakan satu kesatuan yang jangan sampai terpisahkan satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain harmoni antara hutan, primata, dan sebagian besar makhluk yang mendiami bumi jangan sampai ada yang terancam, hilang atau punah, jika terjadi demikian akan berpengaruh besar kepada makhluk lainnya. Sumber hidup yang ada di muka bumi ini sebagai titipan yang sesungguh harus kita jaga bersama. Semoga saja…
Selamat Hari Primata Indonesia !!!….
Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Berkesempatan langka, mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan ketika bisa berkunjung ke Taman Nasional Gunung Palung. Ya, dikatakan kesempatan langka karena tidak semua orang bisa berkunjung ke sana (Taman Nasional Gunung Palung).
Kunjungan kami kali ini tentunya sudah mendapatkan izin masuk Kawasan (SIMAKSI) dari Pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai TANAGUPA) yang juga mitra kerja dari Yayasan Palung (YP).
Pada kesempatan tersebut, kami dari YP melakukan serangkaian kegiatan diantaranya adalah untuk menyelenggarakan Rapat tahunan 2025 yang bertempat di Stasiun Riset Cabang Panti, TANAGUPA. Selama lima hari berkegiatan (Senin 13-17 Januari 2025).
Pada Senin (13/1/2025), kami berangkat menuju Taman Nasional Gunung Palung. Ada yang berangkat dari jalur air menggunakan long boat (perahu sampan bermesin, masyarakat setempat menyebutnya kato) dan ada yang berjalan kaki. Pada kesempatan tersebut, yang berangkat menggunakan long boat harus berangkat dari Dusun Semanjak, Desa Benawai Agung, Kabupaten Kayong Utara. Sedangkan yang berjalan kaki berangkat dari Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, Kabupaten Kayong Utara.
Untuk sampai di Taman Nasional Gunung Palung, jika berjalan kaki membutuhkan waktu kurang lebih 4-5 jam perjalanan. Dan jika menggunakan long boat membutuhkan waktu 5 jam atau lebih, apa lagi jika air sungai surut bisa sampai 7-8 jam baru sampai tujuan.
Setelah sampai di TANAGUPA yang jika boleh diibaratkan adalah surga kecil yang tersembunyi yang ada di Gunung Palung. Rasa lelah/capek terobati oleh ragam tumbuhan-tumbuhan yang ada di sekitar.
Ya, Gunung Palung jika boleh kukatan adalah surga kecil karena di tempat ini surganya ragam tumbuhan Dipterocarpaceae seperti tumbuhan yang mendoninasi seperti meranti termasuk tengkawang dan tekam), keruing, resak dan merawan; mata kucing. Selain itu ada rambai hutan; kapol, tampoi, pangal, kelentit nyamuk (Baccaurea spp.), terap, kubing, kepuak, mentawak (Atocarpus spp.) asam (mangga, lembawang), durian hutan (teratong dan temperanang, temberanang).
Tidak hanya itu, ada jantak/limat, menjalin (Xanthophyllum), berbagai jambu hutan (Syzygium spp.) dan kayu ara (Ficus spp.), buah kempening, mempening dan tempilik, kenari hutan, keminting (bukan kemiri; Blumeodendron), dan berangan. Serta tumbuhan yang bisa membuat iritasi berat yaitu rengas (Gluta, Melanochyla).
Selain itu, tempat ini juga menjadi tempat hidup ragam satwa tidak terkecuali orangutan, kelempiau, kelasi, ragam jenis burung, tidak terkecuali Burung Rangkong/Enggang.
Hawa sejuk sudah terasa saban waktu, rinai rintik hujan yang kadang tiba-tiba datang tanpa diundang, tapi itulah penanda bahwa tempat ini adalah hutan hujan tropis mega biodiversitas karena keaneragaman hayatinya tinggi.
Kembali ke cerita rapat tahunan, pada hari kedua kami berada di TANAGUPA, Selasa (14/1/2025) kegiatan hari pertama rapat tahunan dimulai.
Pada kesempatan itu, semua Program baik Riset dan Konservasi Yayasan Palung melakukan presentasi terkait apa-apa kegiatan yang sudah dilakukan dan capaian apa saja yang sudah dicapai.
Sebelum kegiatan rapat tahunan dimulai, diawali oleh kata sambutan dari Prof. Dr. Cheryl Knott. Kegiatan rapat tahunan 2025 ini juga dihadiri oleh Ketua Yayasan Palung, Wahyu Susanto dan diadiri pula oleh Field Direktur Yayasan Palung, Edi Rahman. Selain itu juga, dihadiri pula oleh oleh Kepala Resort di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung, Endro Setiawan, M.Si.
Dalam rapat tahunan tersebut, Program Riset mendapat kesempatan pertama untuk memaparkan terkait kegiatan dan capaian serta evaluasi kegiatan di tahun 2024. Selanjutnya pemaparan dari pemaparan dari Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, Selanjutnya dilanjutkan oleh Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan), Program Hutan Desa, dan dilanjutkan dengan presentasi dari Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye dan yang terakhir dari Program Admin Yayasan Palung. Dilanjutkan pada malam harinya diskusi yang dipandu oleh Beth Jane Barrow.
Pada hari kedua Rapat tahunan, Rabu (15/1/2025), semua program YP (Konservasi dan Riset) menyampaikan presentasi rencana kerja tahunan (RKT) tahun 2025. Semua manager program Yayasan Palung berkesempatan memaparkan presentasi tentang rencana kegiatan.
Malam harinya (15/1), kami diajak oleh Tim Laman untuk menonton film seri BBC yang berjudul “The Mating Game” yang salah satu videonya tentang burung ruai (Argusianus argus) yang ada di Taman Nasional Gunung Palung. Kami juga diajak untuk menonton film singkat tentang burung surga (burung cendrawasih) yang ada di Papua.
Keesokan harinya, Kamis (16/1) Kami berkesempatan untuk melakukan fieldtrip (kunjungan lapangan) sekaligus mandi di air terjun LC yang berlokasi tidak jauh dari Camp (Stasiun Riset Cabang Panti) tempat kami berkegiatan.
Semua rangkaian kegiatan rapat tahunan 2025 yang dilaksanakan dengan sukses, kami pun menyempatkan untuk berfoto bersama. Pada malam harinya kami berkesempatan untuk ramah tamah dan malam keakraban.
Pada Jumat (17/1), kami harus menyudahi semua rangkaian kegiatan (semua rangkaian sudah selesai dilakukan), dan kami semua kembali ke Kayong Utara dan Ke Ketapang, menggunakan jalur air dan darat. Kami mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung atas kesempatan yang luar biasa bagi Yayasan Palung hingga kami bisa menggelar kegiatan di TANAGUPA.
————————————-
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Biologi Universitas Nasional dan Boston University.
#exploringbeuaty #conservingdiversity #supportingprosperity #tamannasionalgunungpalung
Tulisan ini dimuat juga di Kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/679312d534777c4d1c3e6104/berkunjung-ke-surga-kecil-yang-tersembunyi-di-gunung-palung
(Petrus Kanisius-Yayasan Palung).

Berharap, dan terus berharap, tentang tajuk (hutan/pohon) yang menjulang selalu kokoh bukan tumbang luluh layu.
Harapan masih selalu ada, hutan alam ini sudah terlanjut banyak terbuang, rebah dan tidak mudah tumbuh kembali.
Semua tahu, mungkin sudah tidak rahasia lagi, sebab tajuk-tajuk yang rebah itu ada tangan-tangan tak terlihat yang bermain. Tetapi sejatinya tidak hanya tentang hutan, tetapi tentang isi bumi yang semakin sering di keruk oleh deru mesin yang tiada henti saban waktu tanpa mengenal siang dan malam.
Tajuk-tajuk yang mulanya berjejer rapi kini tinggal sedikit yang mampu berdiri kokoh. Ada yang terlihat, ada yang tersembunyi tak ubah seperti mimpi. Setiap tahun hutan alam (tajuk-tajuk) yang menjulang tinggi itu sengaja direbahkan hingga semakin sulit berdiri kokoh kembali.
Sedihku bersama dengan harapan semua. Aku (hutan, satwa dan ragam tumbuhan) selalu bertanya, siapakah yang peduli saat ini hingga nanti.
Tajuk-tajuk tak lagi tersusun rapi, melainkan rebah semakin tak berdaya bersama tangis para seisi rimba yang bertanya, mengapa terus terjadi begini.
Raung deru mesin bersahutan dengan suara lantang penentang yang berjuang menyuarakan alam ini agar harus selalu ada untuk anak cucu, sekarang sampai nanti.
Kelakar yang disusun rapi cenderung mengelabuhi akar rumput yang selalu (ter/di)injak oleh semua yang menganggap remeh.
Dilema bersama karma para tuan, berjanji tetapi menuai tangis derita, lihat sengketa lahan, lihat akar dan tajuk-tajuk yang terpotong-potong dan ranting-ranting yang dibakar dan menjadi arang dan debu.
Tuaian bencana banjir, tanah longsor itu yang semakin sering mendera. Dilema yang tidak pernah usai dan selalu terjadi sepanjang waktu.
Harap, berharap tetapi cemas. Sebab, bila tajuk-tajuk tak lagi kokoh berdiri sudah semakin sulit untuk mengira, ya semakin sulit untuk mengira karena semua sudah semakin sulit diprediksi.
Tajuk-tajuk pepohonan sejatinya menjadi naungan semua nafas kehidupan agar semua bisa tumbuh dan berkembang bersama berlanjut bukan sengkarut.
Tajuk-tajuk yang kokoh itu penghidupan semua, tanpa terkecuali bagi yang bernafas atau pun sebagai pelengkap abiotik.
Semua nada dan nyanyian indah dan harmoni di alam raya pun semakin sulit kini dijumpai. Pertanda tajuk-tajuk yang kokoh itu tidak sedang baik-baik saja.
Petuah tentang hutan alam ini adalah TITIPAN dan BUKAN WARISAN tentu saja menjadi refleksi semua kita wajib menjaga agar tidak hilang lenyap ditelan waktu. Tetapi lihatlah, waktu terus berjalan hingga kita (di/ter)sadarkan oleh situasi bagaimana tentang pemaknaan menjaga, memilihara titipan yang tersisa ini.
Semua kita sepakat tidak untuk serakah dengan semua hal, tidak terkeculi dengan hutan alam ini. Lestari menjadi selogan dan harusnya menjadi tindakan nyata agar boleh kiranya menjaga agar yang tersisa ini harmoni bagi semua pula. Ada hutan, ada kehidupan. Hutan hilang maka semua akan semakin sulit, termasuk bencana yang akan datang secara tiba-tiba tanpa kita tahu, ia akan mendera kapan saja.
Semua kita sama perlu harmoni, bila kita bisa harmoni dengan alam ciptaan, maka alam ciptaan akan dan sesungguhnya bisa saling memberi tanpa pamrih bukan menyakiti.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/678e199834777c3f8a341402/harapan-tentang-tajuk-yang-menjulang-itu-selalu-kokoh
Ketapang, Kalbar, 20 Januari 2025
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Beberapa waktu lalu, Yayasan Palung (YP) melalui program Pendidikan Lingkungan berkesempatan melakukan kegiatan Puppet Show (Pertunjukan Boneka) di Taman Kanak-kanak Negeri 2 Matan Hilir Selatan, Ketapang, pada Selasa (10/12/2024) kemarin.
Pada kesempatan penyampaian puppet show tersebut, terlihat kecerian dan kegembiraan dari anak-anak TK yang mengikuti kegiatan tersebut.
Menariknya lagi, dalam kesempatan tersebut, tidak hanya siswa-siswi dari TK Negeri 2 MHS saja yang hadir, tetapi hadir pula siswa-siswi dari tiga sekolah TK lainnya yang ikut bergabung dalam kegiatan itu menambah ramai, semangat, keseruan dan kehebohan dalam serangkaian kegiatan puppet show yang kami lakukan kali ini.
Beberapa dari siswa-siswi TK yang mengikuti kegiatan tersebut sesekali memegang boneka saat kami sedang bercerita menggunakan media boneka.
Lihat juga:
Kami berkesempatan bercerita dan mengenalkan tentang satwa dilindungi seperti orangutan, kelasi, burung enggang, Bekantan dan Kelempiau.
Anak-anak TK terlihat antusias mengikuti setiap adegan yang ditampilkan. Pada kesempatan tersebut, kami juga memutarkan film-film singkat tentang keseharian dari orangutan di alam liar.
Berharap, semoga ada tumbuh kecintaan dari siswa-siswi TK untuk peduli kepada satwa yang dilindungi. (Pit-YP).

Senang dan asyik itulah kata yang bisa saya katakan, ketika kami mengikuti kegiatan Outbond Session 4 tahun 2024 yang dilaksanakan di Bisa Camping Singkawang.
Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, satu malam. Kegiatan dimulai dari tanggal 13 Desember sampai 14 Desember 2024.
Kegiatan seperti ini selalu rutin dilaksanakan oleh BAK Universitas Tanjungpura. Kegiatan ini adalah kegiatan pembinaan rutin yang diikuti Mahasiswa penerima beasiswa KIP dan beasiswa lainnya, termasuk kami penerima Beasiswa WBOCS (West Bornean Orangutan Caring Scholarship).
Berbagai game yang mengasikan dilakukan selama kami berkegiatan dan membuat canda tawa bagi kami. Selain juga pembelajaran yang ada di dalam game yang dimainkan selalu berkelompok dan membutuh kan kerja sama tim.
Foto-foto:
Rasa terharu dan senang, terharu yang saya rasakan karena pertama kali datang ke Bisa Camp tempat yang begitu indah. Rasa senang pun saya rasakan karena dalam kegiatan tersebut saya bisa berkenalan dan mendapat teman baru serta mendapatkan pengalaman serta wawasan baru yang didapatkan dari beberapa game yang saya ikuti tersebut.
Lihat juga video:
Saya berharap semoga BAK Untan semakin jaya untuk kedepannya, sehingga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan dirasakan juga oleh generasi berikutnya.
Penulis: Elin Saputri/WBOCS 2022
(Yayasan Palung)

Awal bulan ini, Yayasan Palung (YP) mendapat undangan dari panitia untuk mengikuti pelatihan yang bertajuk “Pelatihan How to be a Botanist” yang dilaksanakan pada Senin 2 Desember hingga Sabtu 7 Desember 2024 kemarin, dilaksanakan di Universitas Tanjungpura dan Kawasan Konservasi Alam Rumah Pelangi Pontianak.
Pada pelatihan tersebut, ikut hadir dalam kegiatan adalah Ari Marlina (Ii) yang merupakan staf riset Yayasan Palung (YP) karena lolos seleksi untuk mengikuti kegiatan.
Pelatihan dilaksanakan dalam rangka peningkatan kapasitas ilmu botani pemuda Indonesia, maka Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) dan Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara (YTAN) serta F & F Nature Together yang didukung oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Fahutan Untan) menyelenggarakan kegiatan pelatihan tersebut.
Foto-foto kegiatan:
Dalam kesempatan tersebut, peserta yang mengikuti pelatihan berkesempatan belajar tentang taksonomi, ekologi dan pentingnya pelestarian tumbuhan sambil mengeksplorasi di dua lokasi kawasan konservasi Ex-Situ, Arboretum Sylva Universitas Tanjungpura dan Kawasan Konservasi Alam Rumah Pelangi.
lihat juga:
Sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut antara lain adalah: Iyan Robiansyah (Pakar Konservasi), Randi Agusti (Pakar Botani), Prof. Tukirin Partomiharjo (Pakar Ekologi Botani), Prima Hutabarat (Pakar Botani), Wisnu Ardi (Pakar Botani) Arif Hamidi (Pakar Botani) dan Prof. Cam Webb (Pakar Ekologi Botani).
Kegiatan tersebut diikuti oleh 13 orang perwakilan dari seluruh Indonesia yang sebelumnya sudah lolos seleksi dan delapan orang peserta khusus. (Pit-YP).

Hujan gerimis tidak menyurutkan semangat siswa-siswi dari SMP Negeri 7 Satap Nanga Tayap untuk datang dan mengikuti serangkaian kegiatan fieldtrip (kunjungan lapangan). Mereka terlihat sangat antusias dan bersemangat.
Dalam kesempatan tersebut, Yayasan Palung (YP) bekerjasama dengan SMP Negeri 7 Satap Nanga Tayap berkesempatan mengadakan field trip dan memberikan materi-materi serta praktek untuk mendukung peningkatan kapasitas siswa-siswi. Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut juga siswa-siswi diajak untuk melakukan bersih-bersih sampah dan melakukan penanaman pohon.
Kegiatan field trip tersebut dilaksanakan di Agrowisata Air Terjun Nibung Lestari, Dusun Sebuak, Desa Nanga Tayap, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, pada Rabu (11/12/2024).
Pada kesempatan fieldtrip tersebut, selain bersih-bersih sampah dan penanaman pohon, tetapi disampaikan pula materi tentang Keanekaragaman Hayati yang disampaikan oleh Simon Tampubolon yang pada kesempatan tersebut sebagai pemateri sekaligus penanggung jawab kegiatan.
Kepala SMP Negeri 7 Satap Nanga Tayap, Andri Pradana, S.Pd, Gr., mengatakan, kegiatan fieldtrip ini keren. Kegiatan yang mereka ikuti ini merupakan kali pertama oleh sekolah kami. Meraka anak-anak terlihat bersemangat untuk mengikuti fieldtrip ini. Selama ini mereka belajar di kelas, dan hari ini Rabu (11/12) mereka belajar secara langsung di alam.
Foto-foto kegiatan:
Setidaknya ada 20 bibit pohon (pohon Ketapang Kencana dan Matoa) yang ditanam di sekitar Agrowisata Air Terjun Nibung Lestari tersebut. Setelah melakukan penanaman pohon, siswa-siswi melakukan operasi semut (bersih-bersih sampah) di sekitar Kawasan tersebut.
Siswa-siswi juga dalam kesempatan tersebut diajak untuk eksplore di sekitar Kawasan ekowisata Air Terjun Nibung Lestari yang di kelola oleh LPHD Rimbak Sangiang, Earthqualizer, KPH Ketapang Selatan dan BGA.
Simon Tampubolon, selaku Koordinator Pendidikan Lingkungan di Kayong Utara, mengatakan, terkait kegiatan tersebut; “Adapun tujun Kegiatan field trip ini antara lain adalah; Pertama, Memberikan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati di wilayah Agrowisata Air Terjun Nibung Lestari. Kedua, Siswa belajar tentang potensi sumber daya alam daerah sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan hidup daerah.”
Kegiatan fieldrip tersebut diikuti oleh sekitar 59 siswa-siswi, 3 orang guru dan dari Yayasan Palung yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Simon Tampubolon, Sela Darmiyati, Petrus Kanisius dan Rudi Tabuti, serta M. Iqbal anak magang dari SMKN 1 Ketapang di YP.
Berharap dengan diadakannya serangkaian kegiatan ini ada tumbuh semangat dari siswa-siswi untuk semakin mencintai dan peduli lingkungan.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/675a9923c925c41a80265312/adakan-fieldtrip-sekaligus-belajar-secara-langsung-di-alam-bersih-bersih-sampah-dan-tanam-pohon
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung (YP) melalui Program Hutan Desa memfasilitasi pembentukan Pengurus Lembaga Desa Pengelola Hutan (LDPH) Natai Langgai Lalong (Pangkalan Jihing), pada Rabu 4 Desember hingga Kamis 5 Desember 2024 kemarin.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor Desa Pangkalan Telok, Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang.
Hendri Gunawan, Manager Program Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah Pembentukan Hutan Desa dan Pengurus Lembaga Desa Pengelola Hutan. Dalam kesempatan tersebut, Hendri sekaligus juga menjadi pemateri.
Hendri, dalam kesempatan tersebut, mengatakan, Hutan Lindung Gunung Tarak yang berada di wilayah administrasi dusun Pangkalan Jihing telah disepakati untuk diajukan sebagai hutan desa dengan luas ± 1.800 Ha, untuk itu perlu dibentuk pengurus Lembaga Desa Pengelola Hutan yang disahkan oleh Pemerintah Desa.
Baca juga:
Berita acara pembentukan dan Surat Keputusan Kepala desa merupakan salah satu berkas administrasi yang harus dilengkapi sebagai salah satu syarat pengusulan hak Kelola hutan desa kepada Kemerintrian Kehutanan Republik Indonesia.
Lebih lanjut, Hendri, menerangkan, hasil yang capai dalam kegiatan tersebut diantranya; Pertama, Terbentuknya pengurus Lembaga Desa Pengelola Hutan Natai Langgai Lalong sebagai Pengelola Hutan Desa di Dusun Pangkalan Jihing desa Pangkalan Telok. Kedua, Terbentuknya Berita Acara Pembentukan Hutan Desa.

Kegiatan yang diikuti oleh 31 orang tersebut, menyepakati rencana tindak lanjut (RTL) diantaranya adalah menyelesaikan berkas administrasi tambahan untuk pengusulan hutan Desa Natai Langgai Lalong dusun Pangkalan Jihing, Desa Pangkalan Telok, seperti; Perdes, SK Kepala Desa Tentang LDPHD, Gambaran Umum Wilayah, KK dan KTP Pengurus LDPH, Peta Usulan dan Dokumen Pendukung lainnya.
Kegiatan ini terselenggara berkat adanya kerjasama yang baik antara Yayasan Palung, UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan, dan Pemerintah Desa Pangkalan Telok.
Tulisan ini sebelumnya sudah terbit di Tribun Pontianak: https://pontianak.tribunnews.com/2024/12/06/yayasan-palung-fasilitasi-pembentukan-pengurus-lembaga-desa-pengelola-hutan-natai-langgai-lalong
(Pit-YP).

Tidak ada lagi senyum dan tawa yang selalu menyambut pagi ketika kami di tempat kerja. Tidak ada lagi canda dan tawa, petuahmu yang tulus itu. Kini engkau telah pergi menghadap Sang Pencipta untuk selama-lamanya.
Berita duka itu mengejutkan dan datang tiba-tiba pada Senin tanggal 25 November malam, sekira pukul 23.45 WIB. Kami keluarga Besar Yayasan Palung (YP) turut Berdukacita yang mendalam atas Wafatnya rekan kami Desi Kurniawati.
Bagi kami Keluarga besar Yayasan Palung (YP) kepergian kak Desi untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta sungguh duka cita yang sangat mendalam dan rasa kehilangan serta sedih yang tak terkira.

Kak Desi Kurniawati dalam Kenangan
Selama bekerja di Yayasan Palung (YP) dan dari Awal YP berdiri, sosok Kak Desi Kurniawati telah ada, dikenal dengan sebutan orang paling senior di YP.
Awal Kak Desi bekerja di Yayasan Palung adalah membantu kampanye radio di Radio Kabupaten Ketapang (RKK) serta bekerja secara partime dan sambil mengajar di SMA Negeri 1 teluk Melano sebagai guru kontrak di SMA 1 Melano, kala itu.
Pada tahun 2003, Desi Kurniawati menjadi Staff Yayasan Palung dan bekerja secara full time dan berhenti sebagai guru kontrak.
Tidak sedikit suka duka kak/mba/mbok Desi yang selama ini ia lalui. Semasa hidupnya, kak Desi adalah sosok yang ramah, ceria, sabar dan tidak pernah lelah membantu, peduli, menasehati kami dalam dunia kerja. Tidak hanya sebagai rekan, teman, sahabat, guru, tetapi bagi kami Kak Desi sudah kami anggap sebagai keluarga karena sikap dan kepeduliannya yang sangat baik.
Foto-foto kak Desi semasa hidup, (Foto dokumen: Hendri Gunawan/Yayasan Palung).
Di Yayasan Palung (YP), Desi Kurniawati, S.H., jabatan terakhirnya adalah Manager HRD & Comdev. Desi, demikian sapaan akrabnya, pekerjaan sehari-harinya seperti pendampingan masyarakat di desa-desa binaan Yayasan Palung dan urusan kerjasama. Desi termasuk orang senior di Yayasan Palung, ia bekerja di YP lebih dari 20-an tahun. Almarhum dalam biodatanya menuliskan; sangat menyukai film dokumenter, discovery dan film-film tentang alam liar. Ia juga menyukai warna hitam putih dan merah. Semasa hidupnya Kak Desi sering kali mengisi untuk kampanye lingkungan lewat radio, mengurus urusan internal dan eksternal kantor, mengurusi kerjasama dengan mitra kerja dan membantu kegiatan di hutan desa. Almarhum kak Desi sangat menyukai kucing. Pendidikan terakhir almarhum Kak Desi adalah Sarjana Hukum di Universitas Tanjungpura Pontianak, angkatan 1995. Desi juga semasa kuliah aktif sebagai anggota MAKUMPALA (Mahasiswa Hukum Pencinta Alam).
Desi Kurniawati, lahir pada 25 Desember 1975 dan meninggal dunia karena sakit di Rumah Sakit Sudarso Pontianak, pada 25 November 2024 malam. Kak Desi meninggalkan suami dan seorang anak laki-laki.
Kak Desi Kurniawati dalam berita selama bekerja di Yayasan Palung
https://pontianak.tribunnews.com/2014/11/20/ajak-masyarakat-peduli-nasib-orangutan?page=all
Video dok. Bang Oman.

Foto-foto:
Kami sering menyapamu dengan sebutan Mbak Desi, Mbok Desi, Ibu Desi. Kak Desi, Kak Desi orang baik dan orang sabar. Terima kasih atas jasamu yang tanpa lelah dari awal sampai akhir hayatmu untuk Yayasan Palung. Kebaikanmu selalu kami kenang.
Selamat jalan kak Desi Kurniawati menuju Sang Pencipta untuk Selama-lamanya. Surga menantimu orang baik. Beristirahatlah dengan damai dan tenang. Maafkan salah dan dosanya semasa hidup. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan Kekuatan dan ketabahan.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Dalam rangka memperingati Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2024, Program Hutan Desa Yayasan Palung bersama dengan LPHD Padu Banjar dan LPHD Pemangkat, KPH Kayong, TNI dan POLRI melakukan penanaman pohon untuk merehabilitasi Hutan Desa Padu Banjar, kegiatan tersebut dilaksanakan pada 22 November 2024.
Baca selengkapnya di: https://yayasanpalung.com/2024/11/18/ini-semua-rangkaian-kegiatan-yang-yp-lakukan-dalam-rangka-pekan-peduli-orangutan-2024
(Pit-YP)