Anomali Cuaca, Kesiapan dan Kewaspadaan Kita

Anomali cuaca yang terjadi saat ini sedikit banyak berpengaruh kepada sendi-sendi kehidupan kita. Tidak bisa disangkal pula ini menjadi kesiapan dan kewaspadaan kita semua.

Masyarakat akar rumput, seperti Nelayan dan Petani sudah pasti sangat merasakan dampak dari apa yang terjadi dengan adanya anomali cuaca ini.

Cuaca yang selalu berubah-ubah dan sulit ditebak menjadi satu tanda nyata bahwa perubahan iklim itu benar-benar terjadi di tengah-tengah kehidupan kita.

Anomali cuaca yang terjadi menuntut bagaimana kesiapan dan kewaspadaan kita pula untuk bersikap atau pun juga antisipasi mitigasi terkait hal ini. (Pit-YP).

Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di kompasiana.com
Baca Selengkapnya di: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/6710c88734777c07ac3a8532/anomali-cuaca-kesiapan-dan-kewaspadaan-kita

https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5428811775782749

Catatan, Pangan dan Kita

Pangan dan kita merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Bagaimana jadinya apabila dalam tatanan kehidupan kita tidak ada pangan? Mungkin, sangat sulit bagi kita, karena pangan menjadi salah satu sumber utama dalam pemenuhan hidup kita dalam menjalanani kehidupan.

Tanggal 16 Oktober 2024 diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia (World Food Day).  Hari Pangan Sedunia memiliki tema yang berbeda-beda setiap tahunnya. Situs resmi FAO, menyebutkan, Adapun tema Hari Pangan Sedunia tahun ini adalah; Right to foods for a better life and a better future (Hak atas pangan untuk kehidupan dan masa depan yang lebih baik).

Mengutip dari kompas.com, Hari Pangan Sedunia sudah ada sejak konferensi FAO ke 20, sejak bulan November tahun 1976 di Roma. 147 negara termasuk Indonesia setuju dicetuskannya resolusi Nomor 179 mengenai World Food Day. Akhirnya mulai tahun 1981 semua negara anggota FAO memperingati Hari Pangan Sedunia setiap tanggal 16 Oktober.

Suatu negara bisa disebut sebagai negara agraris jika profesi penduduknya sebagian besar adalah bertani. Indonesia sendiri memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Sebagian besar masyarakatnya mengandalkan sektor pertanian yang memberikan kontribusi sangat tinggi dan sangat penting sebagai sumber hidup, mata pencaharian dan ekonomi masyarakat.

Bagaimana dengan ketersediaan pangan kita?

Kemandirian pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia sepertinya belum sepenuhnya bisa mencukupi. Sebagai contoh misalnya beras. Tak jarang Indonesia melakukan impor beras dan mungkin juga pangan lainnya seperti kedelai dan tepung terigu.

Maraknya pangan luar yang di impor oleh Indonesia tentu menjadi sebuah kekhawatiran bagi eksistensi pangan lokal. Ditambah lagi dengan minat dari Masyarakat Indonesia yang minim menjadi petani.

Mungkin, petani yang ada saat ini adalah generasi yang pada usia 40-60 tahun. Sedangkan generasi milenial tidak banyak yang tertarik menjadi petani karena berbagai faktor, diantaranya karena banyak pilihan dunia kerja selain menjadi petani, ini pun pasti akan berdampak kepada ketersediaan pangan lokal yang memadai di masa-masa yang akan datang. Minimnya minat dari generasi saat ini menjadi petani tentu menjadi kekhatiran yang tidak terelakkan. Kekhawatiran akan hilang atau berkurangnya pangan lokal karena minimnya minat menjadi petani di jaman ini pun tentu menjadi perhatian bagi semua kita pula.

Lalu, bagaimana jika semisal tidak ada petani di negeri ini?

Tidak terbayangkan, bagaimana jadinya apabila di negeri ini tidak ada petani. Hampir semua produk pangan lokal kita dapatkan dari si patani. Adanya petani bisa menyediakan kebutuhan masyarakat kita sehari-hari.

Suatu yang pasti, masyarakat kita akan kekurangan pangan lokal dan semua akan tergantung pada impor dari luar negeri. Selain itu, kita akan dibebankan dengan biaya yang tinggi dan masyarakat kita akan dibebani oleh harga yang tinggi namun kemampuan yang tidak semua mampu membeli.

Sudah pasti, misalnya, masyarakat kita sangat menyukai produk lokal sejatinya. Akan tetapi, saat ini kita sudah semakin dipengaruhi oleh hal-hal yang instan. Mengingat, kita terkadang kalap mata yang menganggap produk luar lebih istimewa dibandingkan produk pangan lokal. Padahal sebaliknya, produk/pangan lokal lah yang lebih oke. Pangan lokal sudah pasti sehat dan terbebas dari bahan kimia karena produk lokal alami dan langsung dari petani.

Lebih parah lagi, karena pengaruh iklan dan kebiasan baru, membuat masyarakat lebih memilih yang instan dan siap saji tetapi banyak mengandung bahan kimiawi.

Kekhawatiran lain terkait pangan saat ini adalah anomali cuaca yang semakin sulit diprediksi menjadikan para petani semakin sulit pula menentukan waktu bertani, atau lebih parahnya lagi anomali cuaca yang terjadi membuat petani tak jarang menjadi gagal panen. Ditambah lagi misalnya dengan para nelayan yang melaut mencari ikan menjadi semakin sulit ketika musim badai dan ombak tinggi karena faktor cuaca.

Sudah semestinya kita bisa memberikan tawaran akan kemandirian pangan yang berbasis tradisional. Teruslah menjalani tradisi menanam pangan lokal tanpa harus merubahnya/menggantinya dengan produk luar yang belum tentu cocok di suatu wilayah atau tempat tertentu. Mulailah menanam produk pangan lokal di lingkup keluarga misalnya; menanam sayur,cabe/cabai, kunyit di pekarangan rumah. Jika memungkinkan ada lahan kosong, tanamlah dengan ubi/singkong, jangung, pisang dan tanaman buah-buahan lainnya. Atau jika memungkinkan, peliharalah ayam dan ternak lainnya sebagai sumber/pendukung dalam pemenuhan sumber hidup kita sehari-hari. Sejatinya banyak cara yang bisa kita lakukan agar berdaulat pangan di negeri sendiri. Mari nenanam untuk kehidupan.

Ada pangan, ada kehidupan. Berharap kita berdaulat pangan di negeri sendiri. Dengan demikian kita tidak terpengaruh produk/pangan dari luar yang sejatinya belum tentu lebih baik dari produk lokal. Selamat Hari Pangan Sedunia (World Food Day).

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/670e35b8ed64155da751d782/catatan-pangan-dan-kita?page=all

Sumber Tulisan; Diolah dari berbagai sumber

Penulis: Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pasang dan Cek Alat Pasif Monitoring di Kawasan Hutan Desa

Belum lama ini, Yayasan Palung (YP) melalui Program Hutan Desa (Program HD) melakukan pemasangan alat Pasif Monitoring di beberapa Kawasan Hutan Desa.

Seperti yang dilakukan Mahendra Staf Hutan Desa YP bersama dengan Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) di Kawasan Hutan Desa Pemangkat, Nipah Kuning, Pulau Kumbang dan Rantau Panjang.

Beberapa alat pasif yang dipasang di dalam Kawasan Hutan Desa tersebut diantaranya adalah Bioakustik; Song meter dan Audio mute, kamera trap, Hobo; alat pengkur suhu serta alat pengukur curah hujan. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan pengecekan alat yang sudah mereka pasang sebelumnya.

Mahendra, mengatakan, pemasangan alat dilakukan di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning dipasang satu HOBO NFC. Di Kawasan Hutan Desa Rantau Panjang dan Pulau Kumbang dilakukan pemasangan alat baru diantaranya dipasang satu Kamera trap, satu pengukur curah hujan, dan satu HOBO NFC, kemudian pemasangan satu HOBO di Kawasan Hutan Desa Pemangkat.

Sedangkan pengecekan alat dilakukan di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning, beberapa alat dilakukan pengecekan diantaranya adalah dua Kamera Trap, satu pengukur curah hujan satu Pengukur curah hujan, satu Hobo, satu song meter.

Selanjutnya di Kawasan Hutan Desa Pemangkat dilakukan pengecekan alat berupa satu Pengukur curah hujan, satu Hobo yang sudah dipasang sebelumnya, dua Kamera trap dan satu song meter.

Alat Pasif monitoring tersebut dipasang di Kawasan Hutan Desa karena dirasa sangat perlu untuk keperluan penelitian keberagaman fauna yang ada di wilayah tersebut.

Sebagai tambahan informasi, hingga saat ini di enam Hutan Desa dampingan Yayasan Palung sudah dipasang alat pasif monitoring. Enam Hutan Desa yang sudah dipasang alat pasif monitoring adalah di Hutan Desa, seperti di Kawasan Hutan Desa Padu Banjar, Pulau Kumbang, Pemangkat, Nipah Kuning, Penjalaan dan Rantau Panjang. Selajutnya juga nanti akan dipasang alat pasif monitoring di Kawasan Hutan Desa Baru yaitu di Hutan Desa Matan Jaya dan Lubuk Batu.

————————————-

Kawasan Hutan Desa Pemangkat, Nipah Kuning, Pulau Kumbang dan Rantau Panjang dikelola oleh LDPHD Muara Palung yang dibina oleh UPT KPH Wilayah Kayong, dan didukung oleh Yayasan Palung (YP) sebagai Lembaga pendamping.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Menganyam Tikar Pandan Sekaligus Merawat Tradisi

Salah seorang perajin sedang menganyam tikar pandan. (Foto dok. Program SL-YP).

Menganyam tikar pandan sekaligus melestarikan tradisi leluhur dan lingkungan. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh para perajin binaan/dampingan Yayasan Palung (YP).

Ya, benar saja, mewarisi tradisi menganyam yang dilakukan oleh para peranjin tikar pandan ini merupakan warisan yang masih terjaga hingga kini.

Budaya menganyam bagi masyarakat di Tanah Kayong (sebutan untuk masyarakat lokal di Kayong Utara) masih menjalankan tradisi dan budaya ini.

Video dok. Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan)

Konon, menurut cerita, dulu, bagi wanita yang belum bisa menganyam maka belum boleh berkeluarga (menikah). Jadi, jika boleh dikata, ini sudah menjadi tradisi dan budaya masyarakat setempat, dengan demikian secara tidak langsung para wanita yang ingin berkeluarga harus belajar dan harus bisa menganyam. Masyarakat pun masih mewarisi tradisi dan budaya menganyam ini sampai saat ini.

Selain merawat (menjaga) tradisi, para perajin yang menganyam tikar seperti ini juga menjadi salah satu cara untuk menjaga dan merawat lingkungan. Ibu-ibu perajin ini secara tidak langsung mencegah agar tidak lagi merambah hutan karena pekerjaan mereka sudah beralih dengan menganyam tikar.

Saban hari, para perajin binaan selalu menyempatkan waktu untuk menganyam tikar dan produk kerajinan lainnya dari kreasi dan keterampilan mereka sendiri seperti tas dan lain-lain. Beberapa diantara para perajin sudah sangat lincah dan terampil menganyam tikar pandan dan membuat kerajinan lainnya.

Seperti misalnya kelompok perajin tikar pandan, Ibu Ida bersama rekan-rekannya, tidak pula soal menganyamnya, tetapi juga soal motif-motif anyaman yang mereka anyaman. Motif-motif (corak) khas masyarakat setempat (di Tanah Koyong) seperti motif pucuk rebung sebagai ciri khas dan motif-motif anyaman lainnya sesuai keinginan selera perajin.

Sebagai tambahan informasi, setiap bulannya, Yayasan Palung (YP) melalui Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) selalu rutin melakukan pendampingan dan monitoring kepada Kelompok binaan (dampingan). Seperti misalnya, kepada ibu-ibu yang merupakan para perajin penganyam tikar pandan.

Berharap, kreasi anyaman tikar pandan bisa menjadi sumber inspirasi dan dapat dijadikan sebagai penghasilan alternatif masyarakat yang ramah lingkungan serta bisa dicontoh dan mendunia serta lestari hingga nanti.

Selain itu juga, semoga apa yang dilakukan oleh para perajin ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk ikut terlibat dalam hal merawat tradisi khususnya anyaman tikar pandan di masyarakat. Dengan harapan, tradisi menganyam boleh lestari hingga nanti.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berjumpa dengan Orangutan di Hutan Desa Rantau Panjang

Beberapa waktu lalu, Anggota Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Muara Palung berjumpa dengan orangutan remaja di Kawasan Hutan Rantau Panjang, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Orangutan Remaja tersebut terlihat seperti sedang mencari makan di Kawasan hutan desa.

Video dokumen; Robi Kasianus/Program Hutan Desa

————————————-
Kawasan Hutan Desa Rantau Panjang dikelola oleh LDPHD Muara Palung yang dibina oleh UPT KPH Wilayah Kayong, dan didukung oleh Yayasan Palung (YP) sebagai Lembaga pendamping

Ini Peranan dan Fungsi Hewan dalam Ekosistem

Foto Ilustrasi: Orangutan. (Foto Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Hewan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kehidupan. Hewan juga memiliki peran penting bagi makhluk lainnya.  Tidak hanya itu, hewan pun memiliki ragam fungsi dalam ekosistem.

Ya, bagaimana jadinya apabila hewan tidak berperan? atau hilang peranan dan fungsinya di hutan?

Sebagai pengingat, pada tanggal 4 Oktober lalu, diperingati sebagai Hari Hewan Sedunia (World Animal Day).

Tentu, ini tidak hanya menjadi pengingat, tetapi juga bagaimana cara bersama agar kiranya semua boleh harmoni hingga selamanya.

Lalu, apa sih peranan dan fungsi hewan bagi ekosistem?

Hewan merupakan konsumen yang memakan tumbuhan atau bahkan hewan lainnya dalam rantai makanan. Dengan kata lain, hewan merupakan pengendali dalam rantai makanan. Bayangkan apa jadinya jika hewan tidak ada dalam rantai makanan.

Dengan demikian, fungsi hewan sebagai vector regenerasi tumbuhan di hutan. Seperti misalnya; serangga, orangutan dan burung di dalam ekosistem memiliki peran yang tak terhingga.

Serangga sebagai vector penyerbukan dari bunga, jika fertilisasi pada bunga tidak terjadi maka tidak ada buah. Jika tidak terjadi pembentukan buah umumnya tidak ada biji. Dampaknya adalah tidak terjadi regenerasi. Walaupun terdapat fenomena lain perbanyakan tumbuhan dari organ lain seperti gemmae yang muncul dari percabangan akar rhizomatic, namun terbatas khususnya pada Monokotil; Commelinda; misalnya Ordo Zingiberales dan beberapa lainnya.

Satu diantaranya sebagai contoh yaitu, orangutan berperan sebagai Umbrella Species atau spesies payung. Dikatakan sebagai spesies payung karena Keseimbangan ekosistem (stabilnya) keadaan hutan sedikit banyak karena peran serta orangutan sebagai penyebar biji-bijian yang terlibat tanpa diperintah. Dengan kata lain pula, keberadaan orangutan sangat penting sebagai penanda ataupun indikator keberadaan habitat (hutan) masih lengkap ataupun juga utuh. Dengan demikian, apabila orangutan punah maka akan berpengaruh juga kepada makhluk hidup lainnya.

Contoh lainnya yaitu burung enggang. Burung enggang berperan penting sebagai vector biji dalam proses regenerasi individu Ficus spp. Berperan juga dalam materi dan energi dalam ekosistem.

Mengingat, satu kesatuan ekosistem menjadi sangat penting dan kompleks diantara dalam rantai makanan atau jaring-jaring makanan (produsen, prey dan predator), apabila satu populasi spesies rantai makanan terputus maka akan berpengaruh pula bagi populasi lainnya di dalam komunitas dan satu-kesatuan ekosistem. Pada kasus yang lebih kompleks dampak yang ditimbulkan bisa lebih jauh, namun seberapa besar pengaruh tersebut memerlukan studi spesifik, mengingat objek studi biologis yang luas. Satu kesatuan ekosistem pun sejatinya harus bisa saling harmoni, satu dengan yang lainnya. Apabila tidak ada tumbuhan maka hewan akan semakin sulit untuk bertahan di alam liar, efek sebaliknya berlaku pada tumbuhan misalnya dalam hal regenarasi spesies.

Penulis: Petrus Kanisius & Gunawan-Yayasan Palung

Memperingati Hari Ozon Internasional, RK-TAJAM dan Para Pihak Tanam 100 Pohon

Menanam Pohon untuk Kehidupan, mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan. Setidaknya ada 100 pohon yang ditanam oleh para Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) bersama dengan para pihak di jalan Lingkar Kota, Sukaharja, Kabupaten Ketapang, pada Sabtu (28/9/2024).

Kegiatan Penanaman Pohon Pohon tersebut dalam rangka Memperingati Hari Ozon Internasional yang diperingati setiap tanggal 16 September. Namun kegiatan tersebut baru dirayakan pada Sabtu (28/9), dalam kesempatan tersebut, RK-TAJAM Bersama Perwakilan dari sekolah-sekolah yang ada di Ketapang, seperti; SMKN 1 Ketapang, SMKN 2 Ketapang, SMKN 3 Ketapang, SMAN 2 Ketapang, SMAN 3 Ketapang, SMA Antiokhia, SMA PL St Yohanes dan SMA Muhammadiyah Ketapang. Selain itu juga kegiatan tersebut diikuti oleh MBKM Magang di Yayasan Palung yang juga merupakan Mahasiswa/i penerima Beasiswa West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS).

Video penanaman pohon dalam rangka Hari Ozon Internasional. (Video dok. Yadi/RK-TAJAM).

Adapun 100 bibit yang ditanam tersebut terdiri dari tanaman Ketapang Kencana dan Matoa. Bibit -bibit yang ditanam tersebut merupakan bantuan dari Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman Dan Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang (Perkim LH Kab. Ketapang).

Dalam kesempatan itu, setidaknya 75 orang ikut ambil bagian dalam ambil kegiatan penanaman pohon tersebut. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah ikut ambil bagian dalam kegiatan ini, semoga dikegiatan-kegiatan lainnya kita bisa selalu bekerjasama.

Berharap, tanaman yang ditanam ini bisa tumbuh dengan baik dan menjadi tanaman kehidupan yang berguna bagi kehidupan.

Lalu, mengapa kita penting dan perlu meperinngati Hari Ozon Internasional (Hari Ozon Sedunia)?

Sesuai dengan tanggal penandatanganan Protokol Montreal, 16 September 1987. Maksud dari penetapan peringatan Hari Ozon Sedunia untuk selalu mengingatkan kepedulian masyarakat internasional tentang lapisan pelindungi bumi tersebut.

Ozon adalah gas yang terdiri dari tiga atom oksigen. Walaupun ozon hanya sebagian kecil dari atmosfer, ozon memiliki fungsi yang sangat penting bagi Bumi.

Apa fungsi lapisan ozon di atmosfer?

Fungsi lapisan ozon di atmosfer adalah untuk melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet yang berasal dari Matahari. Jika lapisan ozon menipis, ini akan berbahaya untuk manusia. Radiasi ultraviolet berisiko menyebabkan kanker kulit dan mengganggu sistem imun manusia. Oleh karena itu penting untuk menjaga lapisan ozon agar tidak menipis dari atmosfer Bumi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Peningkatan Kapasitas Kelompok Edukasi Kembang Desa, Ajak Ibu-ibu Belajar Sekaligus Praktek Ecoprint

Peningkatan Kapasitas Kelompok Edukasi Kembang Desa dengan mengajak ibu-ibu dari Kelompok Edukasi Kembang Desa untuk belajar sekaligus praktek ecoprint. Kegiatan dilaksanakan di Kantor Desa Rantau Panjang pada Minggu (29/9/2024).

Kegiatan tersebut diadakan oleh Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye (Tim PL). Dalam kesempatan itu, Yayasan Palung (YP) berkesempatan mengajak ibu-ibu dari Kelompok Kembang Desa Rantau Panjang untuk belajar sekaligus praktek Ecoprint.

Pada kesempatan tersebut Yayasan Palung mengundang dari pihak Balai TANAGUPA sebagai pemateri. Dari Balai TANAGUPA yang hadir sebagai pemateri adalah; Fadlun arrayyan Bonde, S.I.P., Pujiastuti dan Yadi.

Dari Yayasan Palung (YP) yang hadir dalam kegitan tersebut adalah Sela Darmiyati, bersama dengan Noni, Riyanti Sandriani dan Elin Saputri MBKM Magang di Yayasan Palung yang juga merupakan Mahasiswa/i penerima Beasiswa WBOCS.

Seperti dalam kesempatan praktek tersebut, ibu-ibu terlihat begitu semangat untuk mengikuti arahan dari pemateri sehingga saat melakukan praktek mereka berhasil membuat/menciptakan motif yang cantik dan menarik di kain dan tas Tote bag.

Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan produk yang ramah lingkungan. (Pit-YP).

Kegiatan P5 di SMPN 9 Ketapang, Belajar Sekaligus Praktik Ecoprint

Foto bersama setelah kegiatan praktek Ecoprint selesai dilakukan. (Foto dok. Ega).

Terlihat semangat dan antusias dari siswa-siswi yang mengikuti kegiatan P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, di SMPN 9 Ketapang, Kamis (27/9/2024) kemarin.

Ya, semangatnya mereka karena pada kesempatan tersebut, Yayasan Palung (YP) berkesempatan mengajak Siswa-siswi di SMPN 9 Ketapang belajar materi sekaligus melakukan praktik Ecoprint.

Dalam kesempatan tersebut, Yayasan Palung mengundang dari Pihak Balai TANAGUPA sebagai pemateri. Dari Balai TANAGUPA yang hadir sebagai pemateri adalah; Fadlun Arrayyan Bonde, S.I.P., Fuji dan Yadi.

Seperti dalam kesempatan belajar materi sekaligus praktek tersebut, siswa-siswi terlihat sangat bersemangat dan mengikuti arahan dari pemateri sehingga saat melakukan praktik mereka (siswa/siswi) berhasil membuat/menciptakan motif yang cantik di kain dan tas tote bag.

Dari Yayasan Palung (YP) yang hadir dalam kegitan tersebut adalah Sela Darmiyati, Rudi Hartono bersama dengan Noni, Riyanti Sandriani dan Elin Saputri, MBKM Magang di Yayasan Palung yang juga merupakan Mahasiswa/i penerima Beasiswa WBOCS.

Sebagai informasi, ecoprint adalah teknik cetak yang menggunakan bahan alami, seperti dedaunan, bunga, batang, atau ranting, untuk mencetak motif pada kain. Kata ecoprint berasal dari kata eco yang berarti ekosistem (alam) dan print yang berarti mencetak.

Dalam teknik ecoprint, bahan alami seperti daun, bunga, dan kulit kayu digunakan sebagai pewarna alami, menggantikan pewarna sintetis yang berpotensi merusak lingkungan. Dengan mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya, kain ecoprint membantu menjaga kualitas air dan mengurangi polusi lingkungan.

Ecoprint penting karena memiliki banyak manfaat, di antaranya:  Pertama, Ramah lingkungan; Ecoprint menggunakan bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia sintetis, sehingga tidak mencemari air, tanah, dan udara. Kedua, Mengurangi polusi lingkungan; Ecoprint mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya yang biasanya digunakan dalam pencetakan kain, sehingga membantu menjaga kualitas air. (Pit/YP).

Lakukan Ekspedisi Mini, Ajak Adik-adik di Sekolah Peduli Lingkungan dan Satwa Dilindungi 

Riduwan saat menyampaikan materi tentang perubahan iklim. (Foto dok. Sela/YP).

Ada banyak cara sederhana yang bisa dilakukan untuk peduli dengan lingkungan dan satwa dilindungi. Salah satunya mengajak adik-adik (siswa/siswi) lewat lecture (ceramah lingkungan) di sekolah-sekolah.

Seperti yang dilakukan oleh Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye (Tim PL), YP menggelar/melakukan Ekspedisi Mini di Desa Matan Jaya, Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara, pada Senin (23/9/2024) hingga Rabu (25/9/2024).

Serangkaian kegiatan yang kami lakukan adalah melakukan lecture (ceramah lingkungan) ke sekolah-sekolah. Ada empat sekolah yang kami kunjungi saat melakukan ekspedisi mini tersebut.

Hari Senin (23/9) pagi, kami berangkat dari Ketapang menuju Kayong Utara, tepatnya kami melakukan ekspedisi mini di sekolah-sekolah di Matan Jaya. Kami pun harus berangkat pagi karena pertimbangan tempat yang kami tuju cukup jauh, kami tiba di tempat tujuan, sekira pukul 14.20 WIB.

Pada hari pertama kegiatan ekspedisi mini, atau pada Selasa (24/9/2024) pagi, kami isi dengan melakukan kegiatan lecture (ceramah lingkungan) di SDN 31 Seringgit. Pada lecture tersebut, materi disampaikan oleh Riduwan. Adapun materi yang disampaikan adalah materi tentang Perubahan Iklim. Dalam kesempatan tersebut, Riduwan sebagai pemateri menjelaskan tentang pengertian dari perubahan iklim, bagaimana proses terjadinya perubahan iklim, penyebab dan dampak apa yang terjadi dari perubahan iklim. Disampaikan pula dalam kesempatan tersebut bagaimana cara sederhana yang bisa dilakukan untuk peduli terhadap lingkungan lebih khusus untuk mengurangi perubahan iklim.

Selanjutnya, Selasa (24/9) siang, kami melakukan lecture di SMPN 8 Simpang Hilir. Dalam kesempatan tersebut, materi lecure yang disampaikan adalah materi tentang Orangutan. Materi presentasi disampaikan oleh Simon Tampubolon. Dalam kesempatan tersebut, Simon sapaan akrabnya menyampaikan terkait peran penting orangutan di hutan, mengapa orangutan perlu dilindungi dan Orangutan: Manfaatnya bagi Manusia dan Hutan.

Keesokan harinya, Rabu (25/9/2024) pagi, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan lecture di SDN 17 Matan. Adapun materi yang sampaikan adalah materi tentang Perubahan Iklim. Materi lecture disampaikan oleh Sela Darmiyati.

Pada Rabu (25/9) siang, lecture disampaikan SMAN 04 Simpang Hilir. Materi disampaikan oleh Petrus Kanisius tentang Perubahan Iklim.

Galeri foto kegiatan :

Berharap, dengan disampaikan materi lecture tentang lingkungan dan orangutan tersebut ada tumbuh semangat dan kepedulian dari siswa-siswi terhadap lingkungan dan satwa dilindungi seperti orangutan.

Sebagai tambahan informasi, Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye (Tim PL) Yayasan Palung rutin selalu rutin melakukan ekspedisi di beberapa tempat di wilayah Kayong Utara atau pun di wilayah Ketapang setiap tahunnya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), karena kemaruhan mereka, kami diijinkan untuk menginap di Resort Matan. Terima kasih atas kerjasama yang baik ini.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Dinas Pendidikan Kayong Utara dan pihak sekolah yang kami kunjungi, karena telah memberikan ijin berkegiatan di sekolah.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai dilakukan, sekira pukul 14.00 WIB dan kami pun memutuskan untuk pulang ke Ketapang. Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah dan dewan guru.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung