
Merusak alam lingkungan sama saja dengan merusak kehidupan
Kita Dititahkan oleh Sang Pencipta untuk saling harmoni bukan merusak sesama kehidupan, ragam makhluk hidup, tidak terkecuali lingkungan. Merusak Lingkungan, sama saja dengan merusak kehidupan.
Lingkungan yang baik (hutan, alam, bumi ini) memberikan kita tidak sedikit ragam manfaat yang tak ternilai harganya. Dari alam, hutan, bumi ini kita beroleh sumber air yang melimpah, oksigen yang gratis dan ragam manfaat lainnya tidak terkecuali ia (lingkungan yang baik) memberi tanpa pamrih kepada kita semua. Akan tetapi ketika ia (lingkungan, alam, hutan ini) dirusak/disakiti hingga dimusnahkan maka ia pun tak lagi bisa memberi lagi. Atau dengan kata lain, alam lingkungan yang rusak pasti akan berimbas pula kepada sendi-sendi kehidupan ragam makhluk yang ada.
Sang Pencipta menitipkan alam ciptaan ini dengan ragam isinya, yang salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan hidup ragam makhluk hidup tetapi dengan syarat kebijksaan bukan keserakahan. Tidak hanya itu, alam ini perlu dirawat, dijaga dan dipelihara bukan dimusnahkan dengan ragam dalil dan kilah yang mengorbankannya hingga hilang tak berbekas hingga mengorbankan bagi sendi-sendi ragam kehidupan makhluk hidup kini dan nanti.
Hutan, alam ini membutuhkan harmoni dari kita sebagai makhluk yang paling mulia, akan tetapi kitalah yang tak jarang membuat keharmonisan dengan alam ciptaan ini yang semakin renggang hingga tercerai berai. Hutan alam ini memberikan kita sumber hidup dan kehidupan, tetapi kita membalasnya dengan air tuba yang bernama keserakahan yang kini semakin merajalela. Hutan alam ini kini semakin sulit dan pelit memberi kita karena ulah kita pula. Tumbuhan-tumbuhan obat, tumbuhan asli/tumbuhan langka semakin terhimpit dan diantaranya rebah tak berdaya karena ulah kita.
Kita saat ini dihadapkan dengan realita, kicauan suara burung tidak tercuali enggang dan satwa seperti orangutan, kelempiau, kelasi dan satwa lainnnya semakin jarang terdengar bersahut-sahutan bercengkrama di hutan rimba. Semakin sunyi sepi tak berani karena habitat sudah semakin terhimpit dalam jerit tangis tetapi ditahan dalam diam.
Udara segar dan keindahan alam yang kini semakin jarang terlihat tumbuh menaungi lagi karena semakin rebah tak tentu arah karena ulah serakah dari segelintir kita manusia yang lupa harmoni dengan alam dan sesama makhluk lainnya karena memikirkan sesaat bukan keberlanjutan sampai nanti.
Ketika alam (hutan ini) rusak, banjir datang, tanah longsor mendera alam dikata tak bersahabat. Alam atau kita yang tak bersahabat?
Bencana alam yang semakin sering mendera kita pun sejatinya sebagai tanda bahwa merusak alam lingkungan sama saja dengan merusak kehidupan.
Berapa nyawa makhluk hidup, korban harta benda dan mungkin juga korban nyawa yang hilang ketika bencana alam terjadi.
Kita tidak menginginkan terjadinya bencana. Tetapi, bencana alam yang terjadi beberapa diantaranya karena ulah serakah kita manusia pula. Semestinya kita tidak bisa menyalahkan alam. Ingatlah, alam dan kehidupan itu sejatinya harmoni, tetapi karena keegoan kita manusia justru mengorbankan alam, hutan ini tanpa memikirkan dampak setelahnya.
Bayangkan saja, berapa mahalnya biaya yang harus ditebus/ditanggung ketika kerusakan dan pasca terjadi bencana alam yang terjadi karena ulah/polah tangan-tangan terlihat (disebabkan oleh ulah serakah manusia) tidak terkecuali persoalan sampah yang hingga kini tak kunjung henti mendera. karena ulah pongah kita juga.
Tingkah polah hingga pongahnya kita manusia pun tak jarang menjadi jengah bermuara semakin sulitnya lagi kita untuk saling harmoni dengan alam ciptaan ini.
Keutuhan ciptaan yang sejatinya dijaga justru didera tanpa ampun. Kita pun menunggu hingga kapan ada rasa untuk saling menyapa hingga realita berpadu bersatu agar hutan alam ini di pelihara, dijaga, ditanam, dirawat bukan disakiti hingga diujung bayang-bayang hilang lenyap.
Bukan tidak mungkin, rusaknya hutan alam, lingkungan ini merusak pula sendi-sendi kehidupan kita secara perlahan-lahan ataupun tanpa henti (semakin sulit air bersih, udara segar dan semakin tandus dilahan yang semkin gersang dan mati di lumbung padi). Jika tidak ada asa untuk berubah dan berbenah maka hampir dipastikan hutan alam akan semakin rusak dan juga hampir pasti itu juga akan merusak kehidupan.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/684a5c2534777c16212c8645/merusak-alam-lingkungan-sama-saja-dengan-merusak-sendi-dan-nadi-kehidupan
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sampai hari ini, sudahkah kita bijak menggunakan media sosial? Atau sebaliknya kita yang cenderung terkungkung bermedia sosial (bermedsos) dengan hal-hal yang tidak perlu?
Saat ini, media sosial hadir luas tanpa batas dan menjadi corong/saluran bagi siapa saja dalam hal menyebarkan informasi kepada masyarakat luas (khalayak ramai). Namun, ada sebuah pertanyaan terkait Medsos ini, yaitu sudahkah kita bijak menggunakan/ bermedia sosial?
Setiap tanggal 10 Juni, masyarakat Indonesia memperingati hari Media Sosial. Hal ini pun sebagai pengingat karena peran media sosial yang begitu besar pengaruhnya bagi masyarakat kita tentunya lebih khusus dalam tatanan kehidupan yang tak lain dalam hal semakin memudahkan satu sama lainnya ketika berinteraksi dan bersosialisasi satu dengan lainnya tanpa dibatasi lagi oleh ruang dan waktu.
Dari media sosial (medsos) kita dengan mudah beroleh informasi. Dari medsos pun kita dihadapkan pilihan bagaimana dengan kebijaksanaan kita pula.
Tidak bisa disangkal, arus informasi dari pesan yang kita terima dari media sosial tentu ada dampak baik dan sebaliknya.
Tentu saja, arus informasi di jaman ini bebas, luas tanpa batas yang semestinya juga sudah semestinya disaring (difilter) sebelum dikirim atau disampaikan kepada penerima pesan. Atau celakanya lagi, kita terkungkung/dikuasai oleh media sosial itu sendiri hingga sulit terbebas karena pengaruh-pengaruhnya yang tak lain adalah candu. Candu game, candu internet, judol dan gaya hidup.
Sebagian besar masyarakat Indonesia sudah sangat akrab dengan telepon pintar (smartphone) yang sering kali pula membuat sebagian besar anak-anak, remaja dan mungkin juga orang dewasa (orang tua) sulit atau enggan terlepas karena sudah semakin dimanjakan oleh si telepon pintar yang menyediakan fitur-fitur sesuai selera masing-masing pula hingga lupa dampak pengaruh dari isi pesan yang disampaikan oleh komunikator yang terkadang pula mempengaruhi/mengajak semua kita apapun itu tanpa terkecuali.Yuk kita bijak menggunakan media sosial untuk hal-hal baik.
Tulisan ini sebelumnya ditulis di kompasiana.com, Baca selengkapnya di: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/6847d08aed6415640f472a32/hari-media-sosial-sudahkah-kita-bijak-menggunakan-media-sosial

Kita Selalu dihadapkan dengan ragam persoalan yang mungkin tak kunjung usai dalam tatanan kehidupan ini. Salah satunya persoalan karut marut terkait lingkungan hidup saat ini.
Setiap tanggal 5 Juni masyarakat dunia memperingati hari lingkungan hidup sedunia. Lingkungan hidup boleh diartikan sebagai ruang kehidupan bagi sebagian besar makhluk hidup yang mendiami bumi ini.
Lingkungan hidup berarti pula ada kehidupan yang seharusnya bisa saling timbal balik dan tetap harmoni secara berkelanjutan, karena sejatinya satu kesatuan yang tak terpisahkan. Akan tetapi terkadang atau sering kali ruang lingkup sistem tatanan kehidupan ini sering kali di rusak oleh perilaku oleh manusia yang katanya paling sempurna tetapi bertindak semau hati hingga tak jarang mengorbankan lingkungan hidup yang ada.
Mengingat, ruang lingkup lingkungan hidup kita saat ini pun sudah semakin rusak dan semakin sulit diperbaiki karena tingkah polah ego manusia yang selalu seenaknya betindak dan tanpa melihat lingkungan sekitar, tanpa melihat dampak setelahnya.
Tema global Hari Lingkungan Hidup sedunia tahun ini mengingatkan kita kepada: “Ending Plastic Pollution” atau “Hentikan Polusi Plastik” .
Persoalan polusi dan sampah plastik sudah semakin merajalela mendera dan menjajah kita karena perbuatan kita.
Tingkah polah kita yang masih acuh tak acuh dan semahu hati membuang sampsh sembarangan, terutama sampah plastik semakin menyulitkan persoalan sampah plastik itu sendiri berakhir. Mungkin sangat sulit, tetapi jika ada niat untuk mencoba dan peduli kemungkinan masih bisa, tetapi jika acuh tak acuh, sampai kiamat pun sampah plastik sulit dikendalikan.
Muncul istilah Ego dan Eco. Sikap Ego kita mengabaikannya bahkan mempermainkan Ekologi, Ekosistem. Benarkah demikian adanya?.
Karena Ego kita ekosistem rusak. Karena Ego kita laut, sungai tercemar. Karena ego kita satwa tdi alam liar kian terancam di habitat/lingkungan hidupnya hingga ruang lingkup dan ruang geraknya pun semakin semakin sempit hingga tak bersisa karena ulah dan pongahnya kita yang semau hati tanpa ada lagi kata peduli kepada sesama, sebagian besar makhluk lainnya yang mendiami bumi ini.
Tata kelola lingkungan hidup pun sejatinya sudah saatnya menjadi perhatian dari semua tanpa terkecuali. Jika tidak, ruang lingkungan hidup yang ada ini perlu perhatian semua, karena lingkungan hidup yang ada ini pula menjadi rumah bersama yang harus dijaga.
Berharap ada asa untuk peduli dengan lingkungan sekitar, karena lingkungan hidup yang ada ini sudah semestinya harmoni hingga nanti, tentu dengan sikap dan tingkah polah kita yang jangan lagi kiranya ego bahkan acuh tak acuh, serakah dengan lingkungan sekitar, sesama kita dan satwa yang mendiami bumi ini. Semoga saja.. (Pit-YP).

Kita sekarang dan mungkin sejak lama telah dijajah oleh diri kita sendiri dan lawan terberat diri sendiri adalah diri kita sendiri, salah satu alasannya karena BOMAL.
Kita sendiri yang sering dijajah oleh diri sehingga terkadang lupa diri. Kita sering dijajah oleh pikiran kita, kelalaian kita hingga menunda dan menjadi malas hingga BOMAL (bolek dan malas). Bolek dalam bahasa daerah di Ketapang, Kalbar, berarti: tidak mau melakukan sesuatu. Kata BOMAL dipopulerkan oleh guru sekaligus teman/sahabat kami almarhum Al. Yan Sukanda. Semasa hidupnya beliau selalu mengingatkan kami; jadi orang jangan BOMAL.
Pesan tentang BOMAL juga selalu mengingatkan tentang diri kita yang sejatinya tidak bodoh, tetapi bolek dan malas.
Kita terkadang sadar dengan apa yang sudah terjadi yang tak lain karena dijajah oleh diri kita sendiri. Kita atau diri sendiri yang masih sering dijajah oleh rasa malas.
Kita sering malas dan selalu menunda-nunda apa yang sejatinya tidak boleh terjadi. Tetapi itulah diri kita. Kita yang sering BOMAL dengan tidakan kita.
Tidak hanya itu, terkadang kita dijajah oleh rasa takut oleh diri sendiri bahkan tidak jarang menjadi katak dalam tempurung. Kita cenderung terkungkung dengan diri yang lebih memilih ego diri dari pada memilah rasa saling rendah hati dan mengalah.
Kita dijajah dan kalah dengan diri sendiri karena keinginan, bukan kebutuhan. Kita pun sering dijajah oleh rasa iri dengki, tidak menerima diri apa adanya atau karena pencapaian orang lain yang sejatinya kita harus ikut bersyukur.
Kita sering meratap apa yang terjadi tanpa ingin merubah pola diri yang BOMAL menjadi ingin melakukan walaupun terkadang berat atau pun bahkan tidak mungkin. Kita acap kali menjadi orang lain ketimbang menjadi diri sendiri. Sejatinya dari masing-masing diri kita/kita sendiri adalah diciptakan unik diciptakan berdasarkan talenta masing-masing sesuai gambaran Sang Pencipta.
Kita pun semakin sering congkak hati kepada orangtua, teman, pasangan, anak-anak hingga kepada sahabat kita karena pencapaian dan ego yang sulit terlepas dalam diri kita karena belenggu kesombongan yang tak dirubah karena adab terkikis oleh diri sendiri yang BOMAL berbenah hingga tak mendengarkan nasehat/pepatah tetua dulu yang syarat makna seperti “semakin tinggi, semakin merunduk” tetapi terkadang kita lupa atau sengaja lupa di atas langit masih ada langit.
Diri kita (diri sendiri) yang terkungkung dan dalam bayang-bayang dengan masa lalu suram yang harusnya berlalu dan menatap dan menata hari esok lebih baik.
Kita pun semakin sering dijajah oleh pikiran-pikiran yang tidak karuan yang terkadang pula belum tahu kebenarannya. Kita sering termakan dan digoreng oleh isu dari pada fakta. Kita yang semakin mudah diadu domba oleh diri sendiri hingga tak mau membuka diri tentang arti rasa ingin mencoba karena lara tak mampu diolah karena terkikis sendu diri terpatri dokma yang merusak toleransi dan kesatuan.
Akhirnya diri kita pun terkadang dibentuk, diolah dan ditempa oleh lingkungan dimana kita berada. Singkat kata, lingkunganmu, relasimu membentuk jati dirimu.
Lawanmu adalah dirimu sendiri. lawanlah dirimu agar tak lagi terus dijajah oleh diri sendiri. Masa depan kita/diri kita lah yang membentuk. Hilangkan/tinggalkan BOMAL yang selalu menjajah diri dan bukalah diri untuk mendengarkan petuah-petuah/makna yang membangun agar kiranya diri bisa menerima yang seutuhnya. Seutuhnya diri sendiri bukan kata orang. Karena kata orang belum tentu bisa diaplikasikan oleh diri atau terpaksa keterpaksaan.
Berhrap kepada diri sendiri, kepada semua semoga saja kita jangan terkungkung dengan ego diri yang selalu bermuara kepada BOMAL. Akan tetapi, jadilah diri seutuhnya bukan menjadi orang lain.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/683e7a27ed641571ff52c5c2/kita-yang-dijajah-oleh-diri-kita-sendiri-dan-lawan-terberat-adalah-bomal
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan berkesempatan melakukan kegiatan Puppet Show (pertunjukan boneka) di TK RA. AL- Ikhlas, Ketapang, pada Selasa pagi (27/5/2025).
Pada kesempatan tersebut, melalui pertunjukan boneka kami bertutur/bercerita, berbagai informasi tentang satwa dilindungi seperti Orangutan🦧, Kelasi, Bekantan, Burung Enggang dan Trenggiling.
Dalam kesempatan itu pula kami bercerita tentang peran dan fungsi dari orangutan dan burung enggang sebagai petani hutan, karena mereka (orangutan, kelasi dan enggang) bisa menyebarkan benih-benih dari sisa biji-bijian yang mereka makanan. Selanjutnya biji-bijian tersebut akan tumbuh menjadi tunas-tunas baru yaitu pohon yang bisa menjadi rumah bagi sebagian besar makhluk hidup yang mendiami hutan.
Terlihat antusias dan semangat dari adik-adik TK RA. AL- Iklhas yang mengikuti kegiatan tersebut.
Berharap, dengan apa yang kami sampaikan ini bisa menjadi informasi baru dan mengedukasi/penyadartahuan bagi adik-adik, dengan demikian pula bisa menumbuhkan semangat cinta lingkungan dan kepedulian terhadap nasib satwa-satwa yang dilindungi.
Video & foto : Egi Iskandar (@egiiskandar_)
Narasi : Pit
(Yayasan Palung)
Yayasan Palung (YP) bersama beberapa petani kopi binaan YP dan UPT KPH Wilayah Kayong berkesempatan melakukan Studi Banding Budidaya dan Pengolahan Kopi di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, selama sepekan, Minggu hingga Sabtu (25-31/5/ 2025).
Pada Minggu (25/5/2025), Peserta tiba di Dusun Sawahan (lokasi studi banding). Warga dusun yang sangat ramah dan murah senyum menyambut kedatangan peserta dan langsung disuguhkan makan malam. Walaupun ada beberapa jenis sayur yang mungkin baru dilihat dan dirasakan oleh peserta, namun semua jenis sayur dan makanan sangat cocok dilidah para peserta pada dasarnya juga berasal dari Desa.
Senin (26/5/2025), ini merupakan awal dari rangkaian kegiatan. Peserta berkumpul dan berkenalan diruang pertemuan. Pertemuan ini dipandu oleh Mas Sidiq dan Mas Bayu dari (Yayasan Swara Owa). Selain peserta studi banding, turut hadir juga Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo.
Setelah berkenalan, peserta mendapat kesempatan untuk mencicipi dan menilai perbedaan antara kopi robusta dan arabika. Hasilnya, Sebagian besar peserta sepertinya cenderung cocok dengan kopi robusta mungkin karena sudah terbiasa menyeruput kopi robusta. Selanjutnya, Swara Owa dan PPM Mendolo berbagi cerita tentang budidaya dan pengolahan kopi di Dusun Sawahan.
Selasa (27/5/2025), kami mendapatkan kesempatan berkunjung ke kebun kopi miliki warga Dusun Sawahan, Desa Mendolo. Kelompok Ibu-Ibu Jawa Brayan Urip juga ikut memandu peserta. Dalam kunjungan ke kebun kopi yang meripakan wilayah kerja Perhutani ini, peserta melihat budidaya kopi yang dipadukan dengan beberapa jenis tumbuhan kehutanan dan perkebunan seperti sengon, durian, pinus, hingga kakao. Pada kesempatan yang sama, peserta berdiskusi dengan para petani kopi tentang budidaya tahap awal hingga proses panen. Selanjutnya, Pendamping dari Lembaga “Swara Owa” menujukkan bagaimana cara penyortiran coffee bean dan pemipilan dengan mesin manual. Setelah itu, peserta melakukan sangrai atau roasting kopi dengan cara tradisonal dan modern.
Foto-foto:
Rabu (28/5/2025), Petani muda Dusun Sawahan berbagi pengalaman kepada peserta tentang bagaimana melakukan sambung pucuk dan sambung sisip untuk tanaman kopi. kegiatan ini dilakukan di kebun warga. Semua peserta mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik sambung pucuk dan sisip. Antusiasme peserta sangat terlihat jelas dari pertanyaan yang tak henti dilontarkan. Setelah kegiatan dilapangan, setiap peserta menyampaikan rencana yang akan mereka lakukan ketika Kembali ke kampung halaman.
Kamis (29/5/2025), merupakan hari dimanan peserta meninggalkan dusun Sawahan. Perasaan bercampur aduk karena pasti akan merindukan ketentraman Dusun ini. Pada tanggal yang sama, peserta meninggalkan dusun sawahan menuju Dusun Soko Kembang, Desa Kayu Puring, Kecamatan Petung Kriyono. Sembari diperjalanan, tepatnya di kawasan hutan produksi di Desa Petung Kriyono, peserta disambut oleh panggilan “Owa Jawa” yang merpupakan satwa endemic di Pulau Jawa. Peserta berkesempatan melihat secara langsung 2 individu owa jawa yang sedang bergelantungan yang seolah mengucapkan selamat datang kepada peserta. Setibanya di Dusun Soko Kembang, peserta berkesempatan berdiskusi dengan pak Tasuri (petani kopi) tentang budidaya dan pengelolaan kopi di Dusun tersebut.
Pada Jumat (30/5/2025), peserta berkesempatan mengunjungi gudang kopi miliki “Swara Owa” yang berada di Kabupaten Sleman. Disana, peserta disambut langsung oleh Direktur Yayasan Swara Owa “Bapak Arif Setiawan atau Mas Wawan”. Mas Wawan menyampaikan bahwa salah satu hal yang dapat meningkatkan nilai kopi adalah histori dari kopi itu sendiri.
Pada Sabtu (31/5/2025) kami menyudahi semua rangkaian kegiatan studi banding. Kami mengucapkan terima kasih kepada Swara Owa atas ilmu dan wawasan yang dibagi kepada kami dan apresiasi besar juga untuk PPM Mendolo dan kelompok ibu-ibu Brayan Urip. Sampai jumpa di lain waktu.
Penulis: Robi Kasianus
Video dok. Swara Owa
Foto dok. Robi
(Yayasan Palung)

Slide 1: May 2025
Buah sedang tidak begitu banyak, sehingga bagian yang dimakan orangutan cukup bervariasi. Tidak hanya buah, orangutan juga makan kulit pohon, daun muda, umbut rotan dan tumbuhan epifit.
Slide 2: Dokumentasi per genus buah
Ficus masih merupakan genus buah dengan jenis terbanyak yang dimakan bulan ini.
Simpulan Genus buah pakan orangutan bulan May 2025 :
Artocarpus, Tetramerista, Garcinia, Pternandra, Epifit, Rotan, Ficus, Mangifera, Dialium, Strychnos, Maasia dan Koompassia.
Foto: Ari Marlina | Yayasan Palung (GPOCP)
Identifikasi pakan: Ari Marlina | Yayasan Palung (GPOCP)
Lokasi: Taman Nasional Gunung Palung
————————————-
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Biologi Universitas Nasional dan Boston University.
#buah #pakan #orangutan #buahhutan #fruit #fruits #pakanorangutan #riset #penelitian
#exploringbeuaty #conservingdiversity #supportingprosperity #tamannasionalgunungpalung

Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung kembali melaksanakan Ekspedisi ke-2 tahun 2025 ke wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) sebagai bentuk komitmen menghadirkan edukasi lingkungan yang inklusif, kreatif, dan menyenangkan, pada Senin hingga Jumat 19 hingga 23 Mei 2025.
Menyemai kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga hutan dan melindungi orangutan satwa ikonik Kalimantan yang kini terancam punah.
Selama lima hari di Desa Penjawaan, Kecamatan Sandai, tim kami menyapa ratusan siswa dari berbagai jenjang pendidikan melalui berbagai metode edukasi.
Berikut serangkaian kegiatan Ekspedisi yang kami lakukan:
Pada Senin (19/5/2025) Perjalanan dari Ketapang kami harus singgah terlebih dahulu ke kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center, Kayong Utara karena kami harus menjemput teman-teman Yayasan Palung yang ada disana. Selanjutnya kami melakukan perjalanan menuju Sandai.
Hari Selasa (20/5/2025), kami melakukan kegiatan Puppet Show (pertunjukan boneka) di SDN 09 Sandai dan Lecture (cerarmah lingkungan) di SMPN 02 Sandai.
Selanjutnya, pada Rabu (21/5/2025) kami melakukan kegiatan Puppet Show di SDN 03 Sandai dan Mobile Cinema (pemutaran film lingkungan) di Halaman Kantor Desa Penjawaan.
Kemudian kegiatan kami lanjutkan pada Kamis (22/5/2025) dengan kegiatan Lecture yang kami laksanakan di SMAN 02 Sandai.
Hari terakhir kegiatan ekspedisi, Jumat (23/5/2025) kami melakukan kegiatan Puppet Show di SDN 01 Sandai. Siang harinya kami menyudahi serangkaian kegiatan ekspedisi yang kami lakukan dan kembali ke Kayong Utara dan Ketapang.
Berharap, melalui serangkaian kegiatan Puppet Show, anak-anak diajak menyaksikan pertunjukan boneka satwa dilindungi seperti orangutan, kelasi, bekantan, trenggiling, burung enggang, disertai materi singkat dan tayangan video edukatif.
Sementara itu, Lecture menyasar siswa SMP dan SMA untuk memperdalam pemahaman tentang ancaman terhadap hutan dan orangutan, serta peran generasi muda dalam upaya konservasi.
Ekspedisi ini bukan sekadar kunjungan. Ini adalah upaya bersama untuk membangun kesadaran ekologis dan membuktikan bahwa pendidikan lingkungan bisa hadir di mana saja, kami ingin menumbuhkan cinta pada alam dan semangat menjaga hutan rumah bagi orangutan dan banyak makhluk lainnya.
Hutan lestari, orangutan terlindungi, masa depan bumi terjaga.
“Pendidikan adalah hak semua orang. Konservasi dimulai dari pengetahuan. Dan harapan untuk bumi yang lestari lahir dari generasi muda yang peduli.”
Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan menyambut kami dengan hangat di Sandai.
Foto dok: Simon, Sela
Penulis: Widiya Octa Selfiany (Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung)

Yayasan Palung (YP) mengadakan kegiatan field trip (kunjungan lapangan) sekaligus belajar bersama di Wisata Hutan Mangrove Sukadana kolaborasi antara Relawan Bentangor uNtuk Konservasi (REBONK) dan Organisasi Langit Senja, pada Sabtu (25/5/2025).
Kegiatan ini memiliki manfaat dan tujuan untuk mengenal jenis-jenis vegetasi serta mengenal satwa yang ada didalam hutan mangrove.
Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menjalin kerja sama antara REBONK dan juga Langit Senja. Langit Senja sendiri merupakan organisasi yang memang bergerak dibidang lingkungan yang kebetulan memiliki latar belakang yang sama dengan REBONK yang merupakan binaan Yayasan Palung. Kegiatan diawali dengan perkenalan Masing-masing Pembina, baik dari Pembina REBONK maupun Pembina Langit Senja.
Pembina REBONK sendiri diwakili oleh Riduwan dan Adit, sedangkan Pembina Langit Senja diwakili oleh Nor Rohim dan Budi. Kegiatan kali ini diisi dengan penyampaian materi tentang hutan mangrove, seperti; mangajak/ belajar bersama mengenal apa itu hutan mangrove, manfaat hutan mangrove baik secara ekologi maupun ekonomi, kemudian dijelaskan juga terkait dampak negatif yang akan terjadi apabila hutan mangrove rusak misalnya seperti abrasi dan juga hilangnya habitat satwa yang ada di hutan mangrove itu sendiri.
Setelah penyampaian materi selesai. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan pengamatan dilapangan dengan metode observasi sesuai jalur pengamatan yang telah ditentukan. Sebelumnya masing-masing peserta dibagi kelompok dimana kelompok tersebut berjumlah 5 kelompok yang terdiri 5-6 peserta. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 32 orang.









Selanjutnaya peserta mempresentasikan hasil pengamatan yang mereka amati di lapangan kepada para peserta lainnya. Dalam presentasi tersebut, setidaknya ada 8 jenis mangrove yang teridentifikasi, yaitu mangrove dari jenis Bakau (Rhizophora sp.), Lindur (Bruguiera spp.), Nipah (Nypa sp.), Waru laut (Thespesia populnea), Nyiri/nyirih (Xylocarpus moluccensis), Pandan laut (Pandanus odorifer), Teruntum Putih (Lumnitzera racemosa), Lindur, Nipah dan Teruntum Merah (Lumnitzera littorea). Sedangkan yang tidak ditemukan adalah dari jenis Gedabuk (Sonneratia sp) dan Api-api (Avicennia spp.). Selain mengamati jenis-jenis pohon mangrove dari buah, batang dan juga bunga, mereka juga mengenali jenis-jenis perakaran hutan mangrove misalnya seperti akar tunjang, serabut, nafas, papan/banir, serta akar lutut. Adapun jenis-jenis fauna atau satwa yang ditemukan seperti keramak, tembakul, burung, kadal, siput dan beberapa jenis satwa lainnya.
Nor Rohim, selaku Pembina Langit Senja mengatakan, kegiatan seperti ini sangat penting dilakukan selain menjalin silaturahmi juga dapat berbagi ilmu baik dari Langit Senja sendri maupun dari REBONK. Ia berharap kegiatan kolaborasi tidak hanya berhenti sampai disini saja namun dapat berlanjut bukan hanya dikegiatan field trip saja akan tetapi dikegiatan-kegiatan lainnya. Riduwan selaku Pembina REBONK juga mengatakan hal yang sama dengan Pembina Langit Senja. Yayasan Palung sangat terbuka dengan kegiatan yang seperti ini. Apalagi kegiatan tersebut berkaitan dengan kelestarian lingkungan. “Ayo sama-sama kita bangun generasi muda Kayong Utara menjadi generasi yang peduli terhadap kelestarian lingkungan terutama Bumi Kayong.”
Penulis: Riduwan
Foto dok. Adit
Yayasan Palung

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengajak generasi muda agar peduli dan menjadi kader konservasi. Seperti yang diadakan oleh Yayasan Palung (YP) dengan mengadakan kegiatan workshop di dua Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
Kegiatan Workshop di Ketapang dilakukan pada Rabu (14/5/2025), Yayasan Palung (YP) mengadakan Workshop Rekrutmen Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) Angkatan XIV di Balai Sungai Kedang, Ketapang. Sedangkan Workshop Rekrutmen Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) Angkatan XIV digelar di Pendopo Bupati Kayong Utara, pada Kamis (15/5/2025).
Kegiatan Workshop ini dilaksanakan oleh Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, dengan mengusung tema; “Muda, Peduli, Aksi Nyata untuk Orangutan dan Hutan Kita”.
Kegiatan ini menjadi ajang penting untuk menumbuhkan semangat kepedulian generasi muda terhadap pelestarian hutan dan satwa liar, khususnya orangutan, kata Widiya Octa Selfiany, selaku Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung.
Kegiatan Workshop Rekrutmen Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) di Ketapang, Rabu (14/5) dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Ketapang, Bapak Jamhuri Amir, SH yang menyampaikan apresiasi atas peran anak muda dalam menjaga lingkungan dan mendukung program konservasi di wilayah Kabupaten Ketapang.







Foto dok: Leoni, Vanessa dan Pit/Yayasan Palung
Workshop ini menghadirkan narasumber inspiratif dari berbagai instansi yang berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan; Bapak Ahmad Sirojudin, S.Hut (Balai Taman Nasional Gunung Palung), Bapak Ferry Aryanto, S.Hut (UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan), Bapak Sulidra Fredrik Kurniawan (Manajer Program Penyelamatan Satwa Yayasan Palung) dan Bapak Edi Rahman, S.Sos (Field Director Yayasan Palung), dan Sela Darmiyati pembina RK-TAJAM.
Dalam kesempatan tersebut, dalam kata sambutnya, Wakil Bupati, mengatakan, menyampaikan apresiasi atas peran anak muda dalam menjaga lingkungan dan mendukung program konservasi di wilayah Kabupaten Ketapang. Selain itu juga, wakil bupati berharap dengan diadakan kegiatan ini jangan hanya dimakanai sebagai kegiatan seremonial semata. Akan tetapi dapat lebih dimaknai seutuhnya bagaimana menjaga serta melestarikan lingkungan dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan. Selanjutnya juga, berharap generasi muda bisa menjadi kader yang peduli lingkungan.
Field Direktur Yayasan Palung, Edi Rahman, dalam kesempatan tersebut mengatakan dan berharap, semoga lebih banyak relawan yang bisa bergabung sekaligus peduli dengan lingkungan. Dengan demikian, nantinya para relawan bisa menjadi corong media kampanye konservasi orangutan dan habitatnya.
Di Kayong Utara, kegiatan Workshop Rekrutmen Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) Angkatan XIV digelar di Pendopo Bupati Kayong Utara, pada Kamis (15/5/2025).
Kegiatan ini merupakan langkah awal dari proses pembentukan relawan muda yang akan menjadi garda depan dalam upaya pelestarian hutan dan satwa liar, khususnya orangutan di bentang alam Kayong Utara dan sekitarnya.









Foto dokumen: Simon Tampubolon/Yayasan Palung
Workshop dibuka secara resmi oleh Asisten I Bupati Kayong Utara, Bapak H. Nazril Hijar, S.Ag, yang menyampaikan dukungan penuh terhadap inisiatif Yayasan Palung dalam melibatkan pemuda untuk menjaga kekayaan alam daerah. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat, termasuk pemuda, dalam menjaga kelestarian hutan.
Kegiatan ini juga menghadirkan para narasumber inspiratif dari berbagai instansi yang aktif dalam bidang konservasi lingkungan, yaitu: Bapak Ahmad Sirojudin, S.Hut dari Balai Taman Nasional Gunung Palung, Ibu Agil Ayu Lestari, S.Hut dari UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Kayong Utara, Bapak Sulidra Fredrik Kurniawan selaku Manajer Program Penyelamatan Satwa Yayasan Palung, serta Bapak Edi Rahman, S.Sos selaku Field Director Yayasan Palung dan Pembina REBONK Riduwan. Para narasumber berbagi wawasan, pengalaman, dan motivasi kepada peserta untuk terus bergerak dan terlibat dalam aksi nyata pelestarian lingkungan.
Dengan semangat dan antusiasme yang tinggi dari para peserta, kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari perjalanan panjang REBONK Angkatan XIV dalam menjaga dan merawat hutan serta satwa yang ada di dalamnya. Mari bersama-sama bergerak untuk hutan kita, untuk orangutan kita, dan untuk masa depan bumi yang lebih lestari!.
Yayasan Palung sebagai lembaga yang berfokus pada perlindungan orangutan dan habitatnya di lanskap Gunung Palung, memandang penting peran generasi muda dalam menjawab tantangan keberlangsungan hidup populasi orangutan yang semakin menurun, terutama akibat deforestasi, degradasi hutan dan perburuan, kebakaran hutan dan konflik satwa liar dengan manusia, serta konversi lahan menjadi perkebunan skala besar dan infrastruktur.
Yayasan Palung percaya bahwa keberhasilan konservasi bukan hanya bergantung pada pendekatan ilmiah dan kebijakan, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat, khususnya kaum muda, sebagai agen perubahan. Yayasan Palung mengungkapkan bahwa kesadaran dan kepedulian yang tumbuh sejak dini akan menjadi fondasi kuat dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
Dalam konteks inilah Yayasan Palung mengembangkan kelompok muda binaan, yaitu sebuah wadah kaderisasi dan pembinaan generasi muda di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara yang memiliki minat tinggi terhadap isu lingkungan. Kelompok muda binaan Yayasan Palung di Kabupaten Ketapang adalah Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) yang ada di Kabupaten Kayong Utara yang berperan sebagai perpanjangan tangan Yayasan Palung dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi melalui pendekatan kreatif, edukatif, dan komunikatif. Program ini telah berlangsung selama lebih dari satu dekade, dan telah mencetak puluhan alumni yang kini menjadi pendidik, aktivis lingkungan, hingga penggerak masyarakat di berbagai wilayah. (Widiya Octa Selfiany & Petrus Kanisius-Yayasan Palung)