
Ada banyak hal yang mendasari mengapa kita penting merayakan Hari Orangutan Sedunia (World Orangutan Day).
Setiap tanggal 19 Agustus diperingati sebagai Hari Orangutan Sedunia Day (World Orangutan Day). World Orangutan Day (WOD) atau disebut pula International Orangutan Day (IOD) diperingati untuk mendorong masyarakat melestarikan salah satu spesies luar biasa yaitu Orangutan, Orangutan adalah salah satu primata atau satwa yang terancam punah keberadaannya.
Yayasan Palung (YP) sebagai lembaga konservasi yang berfokus kepada pelestarian orangutan dan habitanya juga merayakan Hari Orangutan sedunia. Dengan melakukan ragam kegiatan dan bekerjasama dengan para pihak tentunya. Tahun ini, tema hari orangutan sedunia adalah; “Love for Orangutan, Kawal Jangan Dijual.”
Dalam rangka Hari Orangutan Sedunia 2025, beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung di dua Kabupaten (Ketapang dan Kayong Utara) antara lain seperti;
Sampaikan Lecture dan Lomba
Kegiatan dalam rangka WOD dilakukan pada Jumat (8/8/2025), Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan di Kayong Utara berkesempatan menyampaikan materi lecture (cermah lingkungan) tentang orangutan kepada Komunitas Bentangor Kids. Selain materi tentang orangutan, diadakan pula lomba cerdas cermat dan menyusun puzzle orangutan. Kegiatan ini disampaikan oleh Simon Tampubolon bersama dengan REBONK.

Materi lecture tentang orangutan disampaikan oleh YP bersama REBONK. (Foto dok. Simon Tampubolon/YP).
Kemudian, pada Jumat (15/8/2025) Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan di Kayong Utara berkesempatan memberikan materi lecture tentang orangutan kepada Kelompok Simpang Keramat Kids. Selain itu diadakan pula lomba cerdas cermat dan menyusun puzzle orangutan. Kegiatan ini disampaikan oleh Simon Tampubolon dan Widiya Octa Selfiany.


Selanjutnya Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan di Ketapang melakukan serangkaian kegiatan lecture tentang orangutan ke sekolah-sekolah diantaranya; pada Selasa (12/8/2025) kegiatan lecure dilaksanakan di SMPN 02 Ketapang. Kemudian, pada Rabu (13/8/2025) melakukan kegiatan lecture di SMPN 06 Ketapang dan pada Rabu (20/8/2025) melakukan lecture di SMPN 05 Ketapang.



Lakukan Rehabilitasi di area zona pemanfaatan Hutan desa Padu Banjar
Dalam rangka memperingati Hari Orangutan Sedunia, Pada Sabtu (9/8/2025), Program Hutan Desa Yayasan Palung (YP) bersama UPT Kph Kayong, BABINSA, BHABINKAMTIBMAS, Perwakilan dari LPHD Dampingan YP se Simpang Hilir, perwakilan dari desa Padu Banjar, Yayasan Udara Bersih Indonesia, perwakilan dari Yayasan ASRI, kelompok masyarakat dan Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) melakukan kegiatan penanaman pohon di area zona pemanfaatan Hutan desa Padu Banjar, Simpang Hilir, Kayong Utara.




Dalam kesempatan tersebut, setidaknya ada 450 bibit pohon yang ditanam. Bibit-bibit yang ditanam antara lain seperti bibit durian dan jengkol. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 25 orang peserta.
Pelatihan Pemadam Kebakaran dan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB)
Serangkaian Hari Orangutan Sedunia Day (World Orangutan Day) dilaksanakan di dua Desa, yakni di Desa Lubuk Batu dan Desa Matan Jaya dengan melakukan kegiatan Pelatihan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dengan metode pembuatan bedengan dengan mulsa rumput tanpa olah tanah dan pembuatan pupuk organik cair, kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa (12/8/2025) di Desa Lubuk Batu dan pada Rabu (13/8/2025) di Matan Jaya.



(Foto dok. Sukri, Farih dan Hendri/ HD/YP).
Adapun peserta yang hadir dalam kegiatan pelatihan di Lubuk Batu 12 orang petani dan peserta yang ikut serta di Desa Matan Jaya diikuti oleh 10 orang petani.
Selanjutnya, pada Kamis hingga Jumat (21-22 Agustus 2025) di Simpang Hilir diadakan Pelatihan Pemadaman Kebakaran hutan dan lahan serta pembukaan lahan tanpa bakar.
Hari pertama kegiatan, Kamis (21/8) pagi, pelatihan dilakukan dilaksanakan di Kantor Camat Simpang Hilir, peserta dibekali materi tentang pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB). Selanjutnya di siang harinya, peserta pelatihan diajak praktek pembukaan lahan tanpa bakar. Sebagai pemateri dalam kegiatan adalah dari Yayasan Udara Bersih Indonesia (UBI).
Selanjutnya pada hari kedua kegiatan, Jumat (22/8) peserta pelatihan dibekali materi dan praktek Pemadaman Kebakaran hutan dan lahan. Sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Brigade dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong.
Dalam kesempatan tersebut, para peserta pelatihan dibekali materi tentang Konservasi Orangutan dan Habitatnya yang disampaikan Edi Rahman.





(Foto dok. Sukri, Farih dan Hendri/ HD/YP).
Pelatihan ini di fokuskan bagi masyarakat yang berasal dari 5 Desa (Desa Rantau Panjang, Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar: 4 Orang Tim Patroli Desa Rantau Panjang, 4 Orang Tim Patroli Desa Penjalaan, 4 orang Tim patroli Hutan desa Nipah Kuning, 4 orang tim patrol Hutan Desa Pulau Kumbang, 4 Orang Tim patrol Desa Padu Banjar) dan 6 orang Masayarakat Peduli Api (MPA) Desa Nipah Kuning.
RK TAJAM Gelar Lomba Cosplay Orangutan: “Indonesia Merdeka, Orangutan Terjaga”
Dalam rangka memperingati Hari Orangutan Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 19 Agustus, Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK TAJAM) binaan Yayasan Palung (YP) menyelenggarakan kegiatan Lomba Cosplay Orangutan dengan tema “Indonesia Merdeka, Orangutan Terjaga”. Kegiatan dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung Ketapang, Minggu (17/8/2025).
Kegiatan ini digelar sekaligus merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Dengan penuh semangat, para relawan menampilkan kreativitas mereka dengan menirukan tingkah laku khas orangutan, mulai dari membuat sarang, beraktivitas saat hujan, hingga mengeluarkan suara khas orangutan.




Sela, selaku pembina RK TAJAM mengatakan, kegiatan ini bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi lingkungan.
“Cosplay orangutan ini kami kemas agar menyenangkan dan mudah dipahami, sehingga pesan konservasi dapat tersampaikan dengan lebih dekat dan membekas di hati para relawan maupun masyarakat,” jelasnya.
Peserta dibagi dalam beberapa kelompok, di mana penilaian lomba didasarkan pada kreativitas, kesesuaian dengan perilaku orangutan, serta kemampuan menyampaikan pesan kampanye konservasi. Pemenang ditentukan berdasarkan akumulasi nilai tertinggi dari lomba cosplay dan lomba pesan kampanye orangutan.
Melalui kegiatan ini, RK TAJAM ingin menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kelestarian orangutan dan hutan. Orangutan bukan hanya satwa karismatik Indonesia, tetapi juga penjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.
Selain cosplay, ada beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu: Menyanyikan lagu Indonesia Raya, penyampaian materi tentang Orangutan yang disampaikan oleh Petrus Kanisius dari Yayasan Palung. Selanjutnya peserta diajak untuk membuat pesan kampanye, dan juga lomba Ball To Glass.
Sela berharap, melalui perayaan unik ini, pesan bahwa “Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia dan alam hidup berdampingan secara harmonis” dapat semakin tersampaikan luas di tengah masyarakat.
Siaran Radio dan Membuat Video Pendek tentang Hari Orangutan Sedunia
Yayasan Palung dan Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) berkesempatan melakukan siaran radio di Radio Kabupaten Ketapang (RKK) dalam rangka Hari Orangutan Sedunia. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Riduwan dari YP dan Naysila Fitri dari REBONK bersama Merry Willia Susanti dari RKK. Selanjutnya, REBONK membuat video singkat tentang hari Orangutan Sedunia.
https://www.instagram.com/p/DNmcMGXStdI


(Foto dok. Riduwan/PL/YP).
Yayasan Palung Melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Kecamatan Simpang Dua
Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan berkesempatan melakukan kegiatan ekspedisi Pendidikan Lingkungan dalam rangka hari Orangutan Sedunia 2025 dengan melakukan serangkaian kegiatan Kunjungan ke sekolah-sekolah dari tanggal Selasa hingga Jumat (19-22 Agustus 2024) di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang.




Hari pertama kegiatan, Selasa (19/8/2025), kegiatan ekspedisi dalam rangka Hari Orangutan Sedunia. Perayaan hari Orangutan Sedunia dilaksanakan di SDN 1 Simpang Dua dengan diadakan beberapa perlombaan, seperti perlombaan mewarnai untuk kelas 1 SD dan kelas 2 SD, lomba menggambar untuk kelas 3 dan 4. Lomba test pengetahuan umum terkait orangutan untuk kelas 5 dan 6.
Sebelum perlombaan dimulai siswa-siswi diberikan informasi/materi tentang orangutan dan perkenalkan lembaga Yayasan Palung.
Pada malam hari (19/8/2025) diadakan kegiatan pemutaran film lingkungan/mobile cinema di lapangan SDN 02 Simpang Dua. Beberapa film dokumenter yang disuguhkan antara lain seperti; Lagu Si Pongo, Borneo, 100 % Indonesia, Hari Esok yang Hilang, Mengapa Orangutan? dan film Hari Esok yang Menghilang.
Selanjutnya, pada Rabu (20/8/2025) kegiatan diisi dengan Puppet show (pertunjukan boneka) di SDN 02 Simpang Dua yang mengetengahkan cerita tentang satwa yang dilindungi.
Siang Harinya, Rabu (20/8/2025) disampaikan pula lecture dengan materi tentang orangutan di SMP Usaba 5 Santo Mikael Simpang Dua.
Pada Kamis (21/8/2025) kegiatan ekspedisi dilakukan dengan menyampaikan materi lecture tentang orangutan di SMPN 3 Simpang Dua dan SMAN 01 Simpang Dua.
Hari terakhir kegiatan ekspedisi, Jumat (22/8/2025), kegiatan yang dilakukan adalah lecture dengan menyampaikan materi tentang orangutan, lecture kami sampaikan di SMPN 01 Simpang Dua.
Galeri foto kegiatan:












( Video dan Foto: Simon Tampubolon/PL/YP).
Edi Rahman, Field Director Yayasan Palung, mengatakan, kita dan orangutan sama-sama penting. Sama-sama penting karena memiliki peran yang tidak sedikit. Peduli kepada nasib orangutan berati pula peduli kepada ragam satwa lainnya. Mengingat peran penting orangutan tidak sedikit bagi keberlanjutan nafas sebagian besar makhluk yang lainnya pula. Kita pun yang katanya sebagai makhluk yang paling sempurna setidaknya sama-sama penting pula untuk berperan dan memiliki rasa kepedulian kepada nasib satwa dilindungi terlebih orangutan.
Orangutan satwa yang nasibnya sangat terancam punah sejatinya menjadi salah satu fokus semua kita untuk menjaga dan melestarikannya di alam liar, kata Edi.
Mengapa Orangutan Penting?
Orangutan jika boleh dikata merupakan primata kunci karena perannya yang tak sedikit bagi ragam satwa lainnya dan tentunya bagi kita.
Orangutan yang merupakan spesies dasar dan kunci bagi dunia konservasi atau disebut pula sebagai spesies payung (umbrella spesies), karena apabila orangutan hilang/ punah maka akan berdampak atau berpengaruh pula kepada hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan.
Julukan orangutan sebagai si petani hutan pun tentu sangat patut kita syukuri, karena perannya itu tanam tumbuh, pepohonan masih boleh beregenerasi (hutan masih bisa tumbuh baik dan berdiri kokoh) melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan (seed disperser) dan tentu ini tidak sedikit meiliki manfaat bagi makhluk lainnya, termasuk kita.
Dengan kata lain, orangutan merupakan pembangun hutan, Penjaga keseimbangan dan kesinambungan kehidupan di dalam hutan.
Ada hutan maka ada orangutan. Rimbunnya tajuk-tajuk pepohonan (hutan) pun menjadi dasar nafas kehidupan boleh berlanjut (ada orangutan, ada hutan. Ada hutan ada kehidupan).
Mengingat saat ini, nasib satwa dilindungi, terlebih nasib orangutan semakin menjadi fokus perhatian masyarakat dunia, karena beberapa alasan, salah satunya Tingkat keterancamannya di habitat hidupnya (di alam liar) kian memprihatinkan.
Ditulis oleh: Petrus Kanisius dan Sela Darmiyati
(Yayasan Palung)
Beberapa waktu lalu, Kelompok dampingan Rintis Betunas, Pak Toni Panen 300 kilogram (kg) mentimun di Riam Berasap, Kabupaten Kayong Utara.
Seperti diketahui, Kelompok Rintis Betunas merupakan kelompok tani organik hortikultura dampingan dari Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung (YP).
Mentimun yang sudah dipanen tersebut pun langsung dijual ke tengkulak. Biasanya tengkulak membeli dengan harga Rp 6.000 per kilogramnya, kalau di jual ke warga dengan harga Rp 7.000 per kilogramnya.
Panen timun ini terus dilakukan hingga buahnya habis di panen dan selanjutnya akan dilanjutkan dengan menanam jenis-jenis sayuran kembali/menanam sayur kembali, ujar pak Toni.
Video & foto dok. Dewi Ratna Sari-YP

Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai TANAGUPA) dan Yayasan Palung (YP) berkesempatan mengajak siswa-siswi SMAN 01 Simpang Hilir dan SMKN 01 Simpang Hilir belajar tentang ecoprint, pada Rabu hingga Kamis (6-7/8/2025) di Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Pada kesempatan pertama, Rabu (6/8), Kegiatan ecoprint dilakukan di SMAN 01 Simpang Hilir dan pada Kamis (7/8) di SMKN 01 Simpang Hilir.
Dalam kegiatan tersebut, sebagai narasumber yaitu; 7 orang dari Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang yang didampingi oleh Fadlun Arrayyan Bonde, S.I.P, dari pihak dari Balai TANAGUPA sebagai pelatih ecoprint.
Seperti diketahui, Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang merupakan kelompok perempuan binaan Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung.
Widiya Octa Selfiany, Manajer Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung, mengatakan, Ini merupakan kegiatan Kelompok Edukasi Kembang Desa Rantau Panjang pengambilan sertifikat penilaian hasil menjadi kelompok edukasi kembang desa maka mereka mentransfer ilmu yang mereka dapatkan ke siswa.
Lebih lanjut, Widiya mengatakan, melalui kegiatan ini, peserta belajar teknik ecoprint-seni mencetak motif alami dari tumbuhan sebagai bentuk kreativitas sekaligus upaya ramah lingkungan.
Dengan memanfaatkan bahan alami, kita turut mengurangi limbah dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Terima kasih kepada semua yang telah berpartisipasi! Semoga ilmu hari ini bisa terus dikembangkan dan menginspirasi lebih banyak orang, ujar Widiya.
Foto dok. Simon Tampubolon/Yayasan Palung
Ecoprint dari kata eco asal kata ekosistem (alam) dan print yang artinya mencetak, batik ini dibuat dengan cara mencetak dengan bahan-bahan yang terdapat di alam sekitar sebagai kain, pewarna, maupun pembuat pola motif. Bahan yang digunakan berupa dedaunan, bunga, batang bahkan ranting.
Selain itu, pemanfaatan produk ecoprint sedikit banyak memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Proses pewarnaan yang alami karena menggunakan daun atau bunga mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis yang dapat mencemari lingkungan.
Dari Yayasan Palung (YP) yang hadir dalam kegitan tersebut adalah; Widiya Octa Selfiany dan Simon Tampubolon.
Kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan para peserta yang mengkuti kegiatan ini terlihat sangat antusias belajar bersama tentang ecoprint ini. Dari SMAN 01 Simpang Hilir yang mengikuti kegiatan ini adalah 21 orang dan dari SMKN 01 Simpang Hilir 11 Orang yang berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut.(Pit-YP).
Yayasan Palung

Yayasan Palung melalui Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) dan Hutan Desa Yayasan Palung mengadakan kegiatan pelatihan olahan pangan, di Gedung Graha Praja, Kantor Camat, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada Rabu hingga Kamis (30-31 Juli2025).
Kegiatan tersebut mengusung tema: “HASIL AGROFORESTRI BERBAHAN BAKU PISANG, SINGKONG, DAN LIMBAH KELAPA DI WILAYAH SEKITAR TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG DAN HUTAN DESA KABUPATEN KAYONG UTARA”
Sebagai trainer dalam kegiatan tersebut adalah Ir. Ningrum Dwi Hastuti, STP, MP dari Politeknik Ketapang.
Dalam kegiatan pelatihan tersebut, para peserta dibekali dengan beberapa materi seperti; pengisian materi terkait prosedur pembuatan dan juga pengemasan produk. Mengapa menggunakan bahan baku tersebut karena mudah di peroleh dan juga harga yang terjangkau. Dari bahan baku tersebut di olah menjadi 3 produk makanan. Dalam upaya memanfaatkan potensi hasil agroforestri dan mengurangi limbah organik, peserta yang merupakan ibu rumah tangga itu membuat produk pangan olahan berbasis lokal.






Foto dok. Ratiah/Yayasan Palung
Dalam kesempatan tersebut, peserta diajak untuk mengolah singkong, pisang, dan limbah kelapa menjadi makanan ringan yang di harapkan bisa bernilai jual tinggi, seperti cake pisang, grubi ubi, dan cookies. Melalui proses sederhana namun inovatif ini, produk olahan tidak hanya memberikan tambahan penghasilan, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan ramah lingkungan. Singkong, pisang, dan limbah kelapa yang dulu dianggap sisa, kini berubah menjadi produk yang bisa bernilai tinggi yang digemari konsumen. Proses pembuatan yang sederhana, bahan yang mudah didapat, tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, usaha pangan juga memberikan ruang untuk kreativitas dalam menciptakan rasa, tampilan, dan kemasan yang menarik.
Selain itu, usaha produk pangan bisa dimulai dari skala kecil di rumah dan berkembang secara bertahap sesuai permintaan pasar. Dengan strategi pemasaran yang tepat, seperti promosi melalui media sosial atau bazar lokal, produk olahan rumahan bisa dikenal luas dan membuka peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 34 orang peserta (30 orang perempuan dan 4 orang laki-laki).
Kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang mengikuti kegiatan.
Penulis: Dewi Ratna Sari
Foto-foto dok: Ratiah
(Yayasan Palung)

Tidak bisa disangkal, budaya jika boleh dikata adalah akar sekaligus juga sebagai nafas hidup bagi setiap kita yang mendiami bumi pertiwi (bangsa) ini.
Ada budaya, ada tata cara, ada adat istiadat dan adab yang kita bawa dalam kehidupan kita sehari-hari dalam bersosial dan bermasyarakat.
Akan tetapi, budaya bisa dikatakan sebagai akar dan nafas hidup apabila ia dijalankan sesuai dengan tata aturan, norma yang ada di suatu wilayah tertentu tentu dengan mengedepankan adab.
Ya, budaya tanpa akar yang kuat akan tercerabut oleh arus modern yang selalu berkembang pesat yang tak jarang sulit di saring oleh kita lebih khusus generasi saat ini.
Bukankah budaya kuat akan menjadi penopang dan benteng yang bisa menjadi cerminan kita bangsa yang kuat dan hebat.
Negara-negara maju seperti Jepang sejak dulu hingga saat ini tak luntur budayanya bahkan semakin maju karena budaya sudah berakar dan menjadi adab yang selalu dibawa kemana pun orang Jepang berada. Atau pun negara-negara lainnya yang menomor satukan sopan santun.
Kita Bangsa ini pun sejatinya tak kalah kaya akan budaya (Kita dikenal dengan keanekaragaman budaya), akan tetapi kini sudah pada tahap yang semakin mengkhawatirkan karena sudah semakin terdistorsi oleh budaya-budaya baru yang masuk. Maaf kata, anak muda sekarang sudah semakin bebas hingga lupa akan akar budaya yang ada. Yang menyedihkan adalah anak muda/i sekarang ini lebih memilih budaya baru yang belum tentu pas/cocok dengan budaya tempat kita berpijak. Tentu dengan harapan jangan sampai Budaya hilang ditelan zaman.
Anak muda (muda/i) sekarang pun sudah dirasa semakin malas untuk mempelajari/belajar budaya asli dan cenderung mempelajari atau bahkan menjalankan budaya baru yang sebetulnya tidak cocok atau bahkan bertentangan dengan norma-norma yang ada di tempat kita (budaya Indonesia).
Dulu tak ada telepon pintar, anak-anak muda sering mengisi waktu luang bermain gasing enggrang, lompat tali, bermain air di sawah, mandi di sungai dan mendengarkan nenek atau kakek bertutur mendongeng tentang petuah-petuah dan nasehat warisan yang penuh makna ketika menjelang tidur. Selalu makan bersama keluarga ketika di rumah. Kini, tak sedikit dari anak lupa waktu makan dan terpaku pada telepon pintar.
Tentu kita rindu itu semua, karena zaman berubah dan muda/i pun tak banyak yang ingin belajar atau mempelajari warisan budaya nenek moyang kita dulu. Tentu ini menjadi tantangan kita semua. Berharap budaya jangan sampai tercerabut oleh arus budaya baru dari luar yang tak jarang pula membuat kita terlena hingga lupa akar budaya sendiri. Memang, tak Semua budaya luar itu buruk. Tetapi kita terkadang terbawa oleh budaya hedon dan merusak budaya asal. Kita semakin dimanjakan hingga lupa kesederhanaan.
Terkait budaya, kita bukan anti budaya asing dan lain sebagainya, tetapi tentang bagaimana kesiapan kita menerima arus budaya yang tak kunjung usai dan terus menerus mendera tanpa henti saban waktu. Ada banyak anak muda pandai berbahasa asing tetapi tak bisa berbahasa ibu. Ini bukan soal melarang anak-aanak belajar bahasa asing, tetapi sangat miris karena anak-anak justru takt ahu/tak mengenal bahasa ibunya. Ini tentu juga sebagai pengingat kepada kita, orangtua agar kiranya perlu menanamkan sejak dini tentang pentingnya budaya mengajarkan anak-anak sejak dini tentang bahasa daerah/bahasa ibu kepada anak-anak.
Hal lain lagi adalah anak-anak sekarang sudah semakin sering menggunakan kata-kata yang mengarah kepada kata-kata tak sopan/misuh Ketika sedang main game atau kaget dan Ketika bertegur sapa/bercanda atau yang lebih parah membuli yang kelewat batas. Tak jarang bahasa misuh/makian menjadi ucapan seolah biasa namun bagi Sebagian orang tak pantas/tak cocok dengan budaya yang ada di tempat kita seperti sopan santun dan kelemah lembutan. Tentu, budaya kita tidak ada budaya seperti buli dan lain-lain itu yang sudah pasti merugikan satu sama lainnya.
Budaya bangsa kita adalah ramah-tamah, kelemah lembutan, dan menjunjung adab asli bangsa ini, tentu dengan norma-norma dan adat yang ada.
Kecenderungan dari kita mengambil dan budaya orang lain/budaya luar namun belum tentu siap atau bahkan belum tentu cocok dengan budaya kita sendiri.
Beberapa budaya/adat istiadat yang kini sudah mulai kita lupakan diantaranya sperti; anak-anak tak lagi (jarang sekali) diskusi, mendengarkan cerita-cerita/dongeng dulu ketika hendak tidur. Tak jarang, walaupun tidak semua anak muda, kini sudah semakin enggan lepas dari ponsel karena pengaruh game online yang semakin merajalela hingga lupa waktu jam tidur yang semestinya hingga tak jarang pula berpengaruh ke minat belajar Ketika di sekolah.
Mirisnya, bangsa lain berlomba-lomba belajar tentang budaya, adat istiadat kita dan keramah-tamahan kita. Sementara kita anak muda semakin sibuk memamerkan joget-joget dan ditampiklan di medsos, terkadang yang dipamerkan ini tak pantas dipandang mata. Walau itu hak siapa saja berhak untuk disuguhkan, tetapi parahnya, minimnya pengetahuan untuk memfilter arus informasi yang ada hingga lupa dengan norma-norma yang ada adalah bablas. Lihat, tak sedikit anak muda menampilkan budaya baru yang kiranya kurang cocok dihadirkan. Tak sedikit muda/i cenderung senang memakai pakaian yang kurang bahan (pakaian terbuka) yang tak mengenal tempat. Tidak banyak pula dari anak muda kita saat ini yang semkin sering membuli dan lupa diri hingga mengorankan teman atau bahkan orang lain.
Tidak hanya itu, ana muda sudah semakin sering kebut-kebutan di jalan raya yang pasti sangat berbahaya dan membahayakan orang lain. Tawuran dan lain sebagainya.
Padahal, tak sedikit budaya kita yang kiranya boleh diwariskan hingga kapan pun seperti budaya bercerita tanpa mencaci, budaya saling menghormati tanpa membuli, tolong menolong dengan tidak acuh tak acuh.
Sebagai pengingat, keragaman budaya yang kita miliki tak lain adalah aset kekayaan sekaligus juga sebagai budi pekerti bangsa kita. Kita harus bangga dengan budaya yang ada di tempat kita masing-masing tanpa harus mempelajari budaya luar yang belum tentu pas/cocok dengan budaya kita.
Akar budaya yang kuat sejatinya harus diwarisi tanpa henti tanpa harus berhenti berinovasi. Dunia boleh maju dan berkembang, tetapi budaya dan adat istiadat harus lestari, jangan sampai terkikis bahkan hilang ditelan Zaman.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/689436cced641507ad0e2802/budaya-adalah-akar-dan-nafas-hidup-suatu-bangsa
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Dalam rangka memperingati Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia yang jatuh pada tanggal 3 Juli, Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK TAJAM) yang merupakan kelompok muda binaan Yayasan Palung (YP) melalui program pendidikan lingkungan menggelar aksi kreatif bertajuk Ecoprint bersama RK TAJAM; “Aksi Cinta Tanpa Plastik” yang dilaksanakan pada Minggu (27/7/2025) di Kantor Yayasan Palung, di Ketapang.
Sela Darmiyati, staf Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung sekaligus juga selaku pembina RK TAJAM, mengatakan, Kegiatan ini diikuti oleh 26 orang yang merupakan relawan dan calon relawan RK TAJAM. Kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata kepedulian generasi muda terhadap lingkungan, kegiatan ini juga sekaligus ajakan untuk beralih dari penggunaan plastik sekali pakai menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Foto-foto kegiatan:



Dengan memanfaatkan dedaunan, bunga, dan pewarna alami, para peserta menuangkan ekspresi cinta alam ke dalam kain melalui teknik ecoprint. Tidak hanya menghasilkan karya seni yang indah, proses ini juga menjadi media edukasi tentang potensi alam sekitar dan pentingnya menjaga lingkungan dari ancaman sampah plastik.
Melalui kegiatan ini, RK TAJAM tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga menanamkan nilai: bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang berkelanjutan. Aksi cinta tanpa plastik bukan sekedar simbol, melainkan gerakan yang terus digaungkan demi masa depan bumi yang lebih hijau.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak:
Penulis: Sela Darmiyati
(Yayasan Palung)

Pada hari Senin hingga Selasa (28–29/7/2025) Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan kembali menggelar kegiatan Training Guru dengan tema “Menanam Nilai Konservasi Sejak Dini: Kolaborasi Pendidikan dan Perlindungan Orangutan” di SDN 06 Sungai Laur.
Kegiatan ini diikuti oleh 29 guru dari empat sekolah, yaitu SDN 06, SDN 02, SDN 22, dan SMPN 03 Sungai Laur. Adapun kegiatan ini bertujuan memperkuat peran guru dalam menyampaikan nilai-nilai lingkungan dan konservasi orangutan di ruang-ruang kelas.
Kegiatan training guru secara resmi dibuka oleh Pengawas SD Kecamatan Sungai Laur, Bapak Akilas, S.Pd yang memberikan apresiasi terhadap sinergi Yayasan Palung dan instansi pendidikan dalam mendukung pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan. Dalam sambutannya, Widiya Octa Selfiany, selaku Manajer Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, menyampaikan pentingnya memperkuat pendidikan karakter guru sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi peduli lingkungan. Menurutnya, “Guru tidak hanya menjadi penyampai materi, tapi juga panutan dalam menginternalisasi nilai-nilai seperti tanggung jawab, kepedulian, dan cinta terhadap alam.”
Kegiatan training guru tersebut dilaksanakan selama dua hari dengan mengetengahkan beberapa materi tentang konservasi orangutan, integrasi kurikulum tematik, serta pembuatan media pembelajaran kreatif yang relevan dengan isu lingkungan sekitar. Para peserta juga dibimbing secara langsung dalam menyusun RPP bertema konservasi dan praktik pembuatan media ajar. Materi diberikan oleh para narasumber profesional dari Balai Taman Nasional Gunung Palung, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Barat, dan tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung.
Foto-foto kegiatan:










Pada hari kedua, peserta mengikuti sesi diskusi panel dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Dalam sesi ini, para guru berkomitmen untuk:
Kegiatan ini ditutup dengan pembagian sertifikat dan harapan besar agar para guru menjadi agen perubahan dalam membentuk karakter generasi muda yang berwawasan konservasi. Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman selama pelatihan, para guru diyakini mampu menjadi ujung tombak pelestarian lingkungan dan orangutan di wilayah Sungai Laur dan sekitarnya.
Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2025/07/31/yayasan-palung-adakan-training-guru-menanam-nilai-konservasi-sejak-dini
Penulis: Widiya Octa Selfiany
Yayasan Palung



Berikut ini dokumentasi sebagian sampel pakan Orangutan di bulan Juli 2025 :
Lokasi: Taman Nasional Gunung Palung
Foto: Marcelita
Deskripsi: Ishma dan Ziya
————————————-
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Biologi Universitas Nasional dan Boston University.

Akar itu bertumbuh, sebagai penyokong, penopang tak hanya tumbuh, tetapi akar hidup untuk kehidupan.
Dengan demikian; ada akar, ada pohon dan sudah pasti ada kehidupan.
Akar memberi nafas hidup bagi pohon, demikian juga pohon sebagai sumber hidup bagi makhluk hidup lainnya. Ada akar, ada pohon ada kehidupan. Akar tersebut adalah akar kehidupan. Ada akar pohon ada penopang bagi sebagian besar makhluk hidup lainnya.
Jika tidak ada akar maka pohon tidak akan tumbuh/bertumbuh menjadi hutan. Akar pun tak salah kiranya dikatakan sebagai sumber hidup bagi sebagian besar makhluk hidup lainnya.
Ada hutan sama halnya, ada kehidupan. Dan sebaliknya, tidak ada hutan maka sebagian besar makhluk hidup sulit untuk hidup ataupun bertahan hidup.
Akar pun membuat pohon tumbuh hidup dan menjadi naungan bagi sebagian besar makhluk hidup lainnya tidak terkecuali ragam tumbuhan, hewan dan kita manusia.
Ada akar, ada pohon dan ada kehidupan. Segala makhluk bernyawa memberi tanda bahwa semua bermula dari akar. Pohon, hutan tidak bisa hidup tanpa akar yang kokoh dan baik yang tentu harus disirami, dijaga dan dirawat.
Akar yang kokoh mencengram tanah. Itu tanda tanaman bisa tumbuh, berakar dan berbuah. Tajuk-tajuk pepohonan tanpa akar yang kokoh mungkin sulit berdiri dan menaungi semua ragam makhluk hidup yang ada di sekitarnya.
Kehidupan alam liar yang berdiam di sekitar tanam tumbuh yang hidup di sekitar hutan yang tercerabut tanpa akar akan semakin sulit bertahan kiranya. Sebaliknya akar yang kokoh dan kuat bisa menjadi penopang dan pencegah dari segala petaka, dikalahkan dengan yang ada serba materi, saat ini, kadang akar kalah bertahan karena bencana apapun itu datang tiba-tiba dan saban waktu tanpa ampun, tanpa memilih kasih kepada semua.
Lihatlah, tanam tumbuh yang berakar sudah pasti banyak kehidupan yang mengelilinginya atau berdiam berdampingan di sekitarnya.
Hutan yang dikata sumber kehidupan itu pun menjadi bukti nyata akan keberlanjutan nafas kehidupan sekarang dan sudah pasti hingga nanti harus terjaga, terawat dan harmoni satu dengan yang lainnya.
Karena kita semakin acuh tak acuh karena ego diri yang semakin merajalela hingga lupa akan akar kehidupan yang semestinya harus terus berakar dan bertumbuh. Bukan tercerabut luluh layu.
Akar acap kali tercerabut, terjerembab, luluh layu hingga sulit tumbuh rindang karena kentara ego kita yang semakin tidak terkendali tanpa mementingkan hari ini dan esok.
Kita munusia yang sudah semakin berani keluar dengan semakin mengubah pola hingga tradisi hingga terkungkung dalam realita merusak sendi kehidupan dan tanpa mau bertanggung jawab dengan apa yang terjadi.
Tidak sedikit dari tanam tumbuh yang hilang bahkan hutan yang dulu raya semakin lapang lindang karena akar semakin tercabut dan tercabut karena ulah polah kita manusia yang tanpa henti merongrong hutan sehingga kehidupan dan rantai makanan semakin terputus dan sulit tersambung berpadu menjadi satu.
Ya, manusia yang katanya sebagai makhluk yang paling harmoni tetapi menjadi manusia yang semakin beringas tak kentara karena perilaku yang terlalu didominasi alasan perut tetapi semakin kalah oleh oknum segelintir orang yang punya kepentingan sesaat dan ada pula yang sesat bahkan membuat gaduh hingga bersilat lidah sesama tanpa ampun hingga mengorbankan hutan tanah tak bertuan.
Cerita si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin pun menggema ketika akar pohon, dan akar kehidupan tercerabut oleh kepentingan sesaat yang semakin nyata didepan mata terlihat, bahkan biang dari sumber tercerabutnya yang tak lain adalah akar rumput.
Inginku, akar yang masih ada dan masih mampu berdiri kokoh berarti masih bisa menopang hidup ataupun kehidupan yang tersisa ini. Sebab, bila akar masih kuat mencengram tanah, maka pohon pun masih bisa tumbuh memberi makan ragam satwa, juga penolong bagi kita dan ragam tumbuhan yang ada pula. Semoga kita masih bisa memilihara tajuk-tajuk yang masih berdiri kokoh, tentunya dengan langkah nyata aksi dan kepedulian nyata. Tanamlah, maka ia akan berakar bertumbuh. Rawatlah, maka ia akan memberi hidup dan sumber kehidupan.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana. Lihat di: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/68761d19ed641523f65c0992/ada-akar-ada-pohon-ada-kehidupan?page=2&page_images=1
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pada Sabtu (12/7/2025) Balai TANAGUPA dan Yayasan Palung (YP) bersama komunitas pecinta alam melakukan kegiatan field trip (kunjungan lapangan) dan baksos (bakti sosial) dengan melakukan aksi bersih-bersih sampah dalam rangka memperingati hari bebas kantong plastik internasional yang diperingati setiap tanggal 3 juli.
Adapun komunitas pecinta alam yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut antara lain adalah; REBONK, Langit Senja, ASRI Teens, Ganasanda, Pramassakti, dan MAN KU. Kegiatan ini dilakukan di dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Palung tepatnya di Pantai Air Intan.
Dalam kegiatan tersebut, selain Yayasan Palung, ada pula pihak dari Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) yang ikut mendampingi sekaligus memberikan materi pada kegiatan tersebut.
Kegiatan yang dimulai pada pukul 07.00 WIB itu, peserta melakukan titik kumpul disisi sebelah kiri Pantai Pulau Datok. Kemudian setelah peserta kegiatan berkumpul dilakukan pengarahan dan teknis selama berkegiatan. Kegiatan pertama adalah melakukan perjalanan field trip dari titik kumpul menuju Pantai Air Intan yang ditempuh selama kurang lebih 20 menit.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapat tugas yaitu selama melakukan perjalanan, mereka diajak untuk melakukan pengamatan keanekaragaman hayati di sekitar jalur field trip. Mereka melakukan pengamatan terkait Keanekaragaman hayati yang ada di sekitar jalur yang mereka lewati meliputi jenis-jenis flora dan fauna yang ditemukan yang kemudian nanti akan direview pada saat sesi pengenalan Kawasan Taman Nasional Gunung Palung.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 20 menit, peserta melakukan istirahat sejenak sambil menikmati keindahan dan suasana di Pantai Air Intan. Setelah istirahat dirasa cukup, peserta melakukan kegiatan berikutnya dilokasi yang sudah ditentukan oleh panitia. Adapun sesi berikutnya adalah materi tentang pengenalan Kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang disampaikan oleh Muhammad Badri Staf dari Balai TANAGUPA. Bang Badri, demikian ia biasa disapa sehari-hari, menjelaskan bahwa Taman Nasional Gunung Palung memiliki luas sekitar 108.043, 90 Ha dimana Taman Nasional ini memiliki ekosistem yang cukup lengkap mulai dari ekosistem pantai hingga ekosistem pegunungan. Setidaknya ada dua jenis satwa yang sangat endemik di TANAGUPA yaitu Orangutan dan Bekantan yang statusnya saat ini dilindungi oleh undang-undang. Bang Badri juga pada kesempatan tersebut menjelaskan tentang apa-apa saja manfaat dan fungsi Taman Nasional antara lain seperti penelitian, Pendidikan, ekowisata, hingga pemanfaatan lainnya. Kegiatan ini lebih fokus pada sharing dan diskusi. Ada beberapa peserta juga ikut aktif dalam kegiatan tersebut.
Pada sesi berikutnya, kegiatan dilanjutkan dengan materi tentang pengenalan jenis-jenis sampah yang disampaikan oleh Simon Tampubolon dari Yayasan Palung (YP). Materi ini perlu disampaikan sesuai dengan tema kegiatan yaitu memperingati hari bebas kantong plastik internasional. Bang Simon, sapaan akrabnya menjelaskan tentang sampah. Ia menjelaskan sampah mulai dari sampah berdasarkan sumbernya, berdasarkan jenisnya seperti organik dan nonorganik, kemudian menjelaskan bahaya sampah bagi mahluk hidup. Bahkan sampah saat ini tidak hanya berada dilingkungan sekitar saja namun juga sudah terdapat didalam tubuh manusia seperti mikro plastik dan lain sebagainya.
Foto-foto kegiatan:
(Foto dok. Adittia Saputra/Yayasan Palung)
Simon juga menjelaskan beberapa langkah atau tindakan yang bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik misalnya, seperti; membawa botol minum yang bukan sekali pakai, membawa wadah makanan sendiri, membawa tas belanja dan beberapa langkah lainnya. Setelah sesi dari Bang Simon selesai, kegiatan dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih sampah dari Pantai Air Intan menuju jalur pulang (titik awal saat berkumpul pertama), dan hasil dari baksos tersebut setidaknya terkumpul sekitar 20 kantong plastik besar sampah non organik.
Dalam kesempatan tersebut, adapun sampah yang berhasil dikumpulkan didominasi oleh sampah plastik dari bekas botol air mineral dan bungkus makanan. Kegiatan baksos bersih-bersih sampah dilakukan hingga pukul 12.00 WIB dan terakhir kegiatan diakhiri dengan pemasangan plang tentang lama terurai sampah, sesi foto dan makan siang bersama.
Pada kegiatan tersebut Riduwan, selaku Pembina REBONK berharap semoga Masyarakat yang berada di sekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung tetap menjaga kebersihan lingkungan terutama dari sampah plastik. Lebih lanjut, Riduwan mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang terlibat terutama kepada pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung yang telah memberikan izin kepada Yayasan Palung untuk melakukan kegiatan di dalam Kawasan.
Sebelumnya, tulisan ini dimuat di: https://pontianak.tribunnews.com/2025/07/15/yp-dan-balai-tanagupa-bersama-komunitas-pecinta-alam-lakukan-field-trip-dan-baksos-bersihkan-sampah
Penulis: Riduwan
(Yayasan Palung)