Budaya adalah Akar dan Nafas Hidup

Sosbud. (Foto dok. gurusiana).

Tidak bisa disangkal, budaya jika boleh dikata adalah akar sekaligus juga sebagai nafas hidup bagi setiap kita yang mendiami bumi pertiwi (bangsa) ini.

Ada budaya, ada tata cara, ada adat istiadat dan adab yang kita bawa dalam kehidupan kita sehari-hari dalam bersosial dan bermasyarakat.

Akan tetapi, budaya bisa dikatakan sebagai akar dan nafas hidup apabila ia dijalankan sesuai dengan tata aturan, norma yang ada di suatu wilayah tertentu tentu dengan mengedepankan adab.

Ya, budaya tanpa akar yang kuat akan tercerabut oleh arus modern yang selalu berkembang pesat yang tak jarang sulit di saring oleh kita lebih khusus generasi saat ini.

Bukankah budaya kuat akan menjadi penopang dan benteng yang bisa menjadi cerminan kita bangsa yang kuat dan hebat.

Negara-negara maju seperti Jepang sejak dulu hingga saat ini tak luntur budayanya bahkan semakin maju karena budaya sudah berakar dan menjadi adab yang selalu dibawa kemana pun orang Jepang berada. Atau pun negara-negara lainnya yang menomor satukan sopan santun.

Kita Bangsa ini pun sejatinya tak kalah kaya akan budaya (Kita dikenal dengan keanekaragaman budaya), akan tetapi kini sudah pada tahap yang semakin mengkhawatirkan karena sudah semakin terdistorsi oleh budaya-budaya baru yang masuk. Maaf kata, anak muda sekarang sudah semakin bebas hingga lupa akan akar budaya yang ada. Yang menyedihkan adalah anak muda/i sekarang ini lebih memilih budaya baru yang belum tentu pas/cocok dengan budaya tempat kita berpijak. Tentu dengan harapan jangan sampai Budaya hilang ditelan zaman.

Anak muda (muda/i) sekarang pun sudah dirasa semakin malas untuk mempelajari/belajar budaya asli dan cenderung mempelajari atau bahkan menjalankan budaya baru yang sebetulnya tidak cocok atau bahkan bertentangan dengan norma-norma yang ada di tempat kita (budaya Indonesia).

Dulu tak ada telepon pintar, anak-anak muda sering mengisi waktu luang bermain gasing enggrang, lompat tali, bermain air di sawah, mandi di sungai dan mendengarkan nenek atau kakek bertutur mendongeng tentang petuah-petuah dan nasehat warisan yang penuh makna ketika menjelang tidur. Selalu makan bersama keluarga ketika di rumah. Kini, tak sedikit dari anak lupa waktu makan dan terpaku pada telepon pintar.

Tentu kita rindu itu semua, karena zaman berubah dan muda/i pun tak banyak yang ingin belajar atau mempelajari warisan budaya nenek moyang kita dulu. Tentu ini menjadi tantangan kita semua. Berharap budaya jangan sampai tercerabut oleh arus budaya baru dari luar yang tak jarang pula membuat kita terlena hingga lupa akar budaya sendiri. Memang, tak Semua budaya luar itu buruk. Tetapi kita terkadang terbawa oleh budaya hedon dan merusak budaya asal. Kita semakin dimanjakan hingga lupa kesederhanaan.

Terkait budaya, kita bukan anti budaya asing dan lain sebagainya, tetapi tentang bagaimana kesiapan kita menerima arus budaya yang tak kunjung usai dan terus menerus mendera tanpa henti saban waktu. Ada banyak anak muda pandai berbahasa asing tetapi tak bisa berbahasa ibu. Ini bukan soal melarang anak-aanak belajar bahasa asing, tetapi sangat miris karena anak-anak justru takt ahu/tak mengenal bahasa ibunya. Ini tentu juga sebagai pengingat kepada kita, orangtua agar kiranya perlu menanamkan sejak dini tentang pentingnya budaya mengajarkan anak-anak sejak dini tentang bahasa daerah/bahasa ibu kepada anak-anak.

Hal lain lagi adalah anak-anak sekarang sudah semakin sering menggunakan kata-kata yang mengarah kepada kata-kata tak sopan/misuh Ketika sedang main game atau kaget dan Ketika bertegur sapa/bercanda atau yang lebih parah membuli yang kelewat batas. Tak jarang bahasa misuh/makian menjadi ucapan seolah biasa namun bagi Sebagian orang tak pantas/tak cocok dengan budaya yang ada di tempat kita seperti sopan santun dan kelemah lembutan. Tentu, budaya kita tidak ada budaya seperti buli dan lain-lain itu yang sudah pasti merugikan satu sama lainnya.

Budaya bangsa kita adalah ramah-tamah, kelemah lembutan, dan menjunjung adab asli bangsa ini, tentu dengan norma-norma dan adat yang ada.

Kecenderungan dari kita mengambil dan budaya orang lain/budaya luar namun belum tentu siap atau bahkan belum tentu cocok dengan budaya kita sendiri.

Beberapa budaya/adat istiadat yang kini sudah mulai kita lupakan diantaranya sperti; anak-anak tak lagi (jarang sekali) diskusi, mendengarkan cerita-cerita/dongeng dulu ketika hendak tidur. Tak jarang, walaupun tidak semua anak muda, kini sudah semakin enggan lepas dari ponsel karena pengaruh game online yang semakin merajalela hingga lupa waktu jam tidur yang semestinya hingga tak jarang pula berpengaruh ke minat belajar Ketika di sekolah.

Mirisnya, bangsa lain berlomba-lomba belajar tentang budaya, adat istiadat kita dan keramah-tamahan kita. Sementara kita anak muda semakin sibuk memamerkan joget-joget dan ditampiklan di medsos, terkadang yang dipamerkan ini tak pantas dipandang mata. Walau itu hak siapa saja berhak untuk disuguhkan, tetapi parahnya, minimnya pengetahuan untuk memfilter arus informasi yang ada hingga lupa dengan norma-norma yang ada adalah bablas. Lihat, tak sedikit anak muda menampilkan budaya baru yang kiranya kurang cocok dihadirkan. Tak sedikit muda/i cenderung senang memakai pakaian yang kurang bahan (pakaian terbuka) yang tak mengenal tempat. Tidak banyak pula dari anak muda kita saat ini yang semkin sering membuli dan lupa diri hingga mengorankan teman atau bahkan orang lain.  

Tidak hanya itu, ana muda sudah semakin sering kebut-kebutan di jalan raya yang pasti sangat berbahaya dan membahayakan orang lain. Tawuran dan lain sebagainya.

Padahal, tak sedikit budaya kita yang kiranya boleh diwariskan hingga kapan pun seperti budaya bercerita tanpa mencaci, budaya saling menghormati tanpa membuli, tolong menolong dengan tidak acuh tak acuh.

Sebagai pengingat, keragaman budaya yang kita miliki tak lain adalah aset kekayaan sekaligus juga sebagai  budi pekerti bangsa kita. Kita harus bangga dengan budaya yang ada di tempat kita masing-masing tanpa harus mempelajari budaya luar yang belum tentu pas/cocok dengan budaya kita.

 Akar budaya yang kuat sejatinya harus diwarisi tanpa henti tanpa harus berhenti berinovasi. Dunia boleh maju dan berkembang, tetapi budaya dan adat istiadat harus lestari, jangan sampai terkikis bahkan hilang ditelan Zaman.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/689436cced641507ad0e2802/budaya-adalah-akar-dan-nafas-hidup-suatu-bangsa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Yayasan Palung

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca