Akar, Pohon dan Kehidupan

Ilustrasi akar pohon. (Foto dok. UNSPLASH/OMAR RAM via KOMPAS.com).
 

Akar itu bertumbuh, sebagai penyokong, penopang tak hanya tumbuh, tetapi akar hidup untuk kehidupan.

Dengan demikian; ada akar, ada pohon dan sudah pasti ada kehidupan. 

Akar memberi nafas hidup bagi pohon, demikian juga pohon sebagai sumber hidup bagi makhluk hidup lainnya. Ada akar, ada pohon ada kehidupan. Akar tersebut adalah akar kehidupan. Ada akar pohon ada penopang bagi sebagian besar makhluk hidup lainnya.

Jika tidak ada akar maka pohon tidak akan tumbuh/bertumbuh menjadi hutan. Akar pun tak salah kiranya dikatakan sebagai sumber hidup bagi sebagian besar makhluk hidup lainnya.

Ada hutan sama halnya, ada kehidupan. Dan sebaliknya, tidak ada hutan maka sebagian besar makhluk hidup sulit untuk hidup ataupun bertahan hidup.

Akar pun membuat pohon tumbuh hidup dan menjadi naungan bagi sebagian besar makhluk hidup lainnya tidak terkecuali ragam tumbuhan, hewan dan kita manusia.

Ada akar, ada pohon dan ada kehidupan. Segala makhluk bernyawa memberi tanda bahwa semua bermula dari akar. Pohon, hutan tidak bisa hidup tanpa akar yang kokoh dan baik yang tentu harus disirami, dijaga dan dirawat. 

Akar yang kokoh mencengram tanah. Itu tanda tanaman bisa tumbuh, berakar dan berbuah. Tajuk-tajuk pepohonan tanpa akar yang kokoh mungkin sulit berdiri dan menaungi semua ragam makhluk hidup yang ada di sekitarnya.

Kehidupan alam liar yang berdiam di sekitar tanam tumbuh yang hidup di sekitar hutan yang tercerabut tanpa akar akan semakin sulit bertahan kiranya. Sebaliknya akar yang kokoh dan kuat bisa menjadi penopang dan pencegah dari segala petaka, dikalahkan dengan yang ada serba materi, saat ini, kadang akar kalah bertahan karena bencana apapun itu datang tiba-tiba dan saban waktu tanpa ampun, tanpa memilih kasih kepada semua.

Lihatlah, tanam tumbuh yang berakar sudah pasti banyak kehidupan yang mengelilinginya atau berdiam berdampingan di sekitarnya.

Hutan yang dikata sumber kehidupan itu pun menjadi bukti nyata akan keberlanjutan nafas kehidupan sekarang dan sudah pasti hingga nanti harus terjaga, terawat dan harmoni satu dengan yang lainnya.

Karena kita semakin acuh tak acuh karena ego diri yang semakin merajalela hingga lupa akan akar kehidupan yang semestinya harus terus berakar dan bertumbuh. Bukan tercerabut luluh layu. 

Akar acap kali tercerabut, terjerembab, luluh layu hingga sulit tumbuh rindang karena kentara ego kita yang semakin tidak terkendali tanpa mementingkan hari ini dan esok.

Kita munusia yang sudah semakin berani keluar dengan semakin mengubah pola hingga tradisi hingga terkungkung dalam realita merusak sendi kehidupan dan tanpa mau bertanggung jawab dengan apa yang terjadi.

Tidak sedikit dari tanam tumbuh yang hilang bahkan hutan yang dulu raya semakin lapang lindang karena akar semakin tercabut dan tercabut karena ulah polah kita manusia yang tanpa henti merongrong hutan sehingga kehidupan dan rantai makanan semakin terputus dan sulit tersambung berpadu menjadi satu. 

Ya, manusia yang katanya sebagai makhluk yang paling harmoni tetapi menjadi manusia yang semakin beringas tak kentara karena perilaku yang terlalu didominasi alasan perut tetapi semakin kalah oleh oknum segelintir orang yang punya kepentingan sesaat dan ada pula yang sesat bahkan membuat gaduh hingga bersilat lidah sesama tanpa ampun hingga mengorbankan hutan tanah tak bertuan.

Cerita si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin pun menggema ketika akar pohon, dan akar kehidupan tercerabut oleh kepentingan sesaat yang semakin nyata didepan mata terlihat, bahkan biang dari sumber tercerabutnya yang tak lain adalah akar rumput.

Inginku, akar yang masih ada dan masih mampu berdiri kokoh berarti masih bisa menopang hidup ataupun kehidupan yang tersisa ini. Sebab, bila akar masih kuat mencengram tanah, maka pohon pun masih bisa tumbuh memberi makan ragam satwa, juga penolong bagi kita dan ragam tumbuhan yang ada pula. Semoga kita masih bisa memilihara tajuk-tajuk yang masih berdiri kokoh, tentunya dengan langkah nyata aksi dan kepedulian nyata. Tanamlah, maka ia akan berakar bertumbuh. Rawatlah, maka ia akan memberi hidup dan sumber kehidupan.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana. Lihat di: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/68761d19ed641523f65c0992/ada-akar-ada-pohon-ada-kehidupan?page=2&page_images=1

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Yayasan Palung

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca