Gunung Palung Orangutan Conservation Program

Keberadaan dan keadaan satwa liar sama seperti kita manusia perlu rumah, kehilangan tempat hidup (rumah) maka akan berdampak kepada sendi-sendi kehidupan demi bisa bertahan hidup.
Hari kehidupan satwa liar sedunia tentunya sudah sepantasnya untuk kita peringati. Mengingat keadaan satwa liar keberadaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Hari Satwa Liar Sedunia atau World Wildlife Day adalah sebuah hari peringatan yang diadakan setiap tahun pada tanggal 3 Maret untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat yang diberikan satwa dan tumbuhan liar di dunia untuk kehidupan manusia dan kesehatan planet bumi.
Lalu, bagaimana keadaanya satwa liar saat ini? sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya itu kata singkat yang bisa mewakili dari banyak kata tentang nafas, keberadaan dan nasib mereka saat ini.
Ancaman akan habitat hidup dari satwa liar dari tahun ke tahun yang terjadi tidak pernah berhenti mendera, membuat tidak sedikit satwa liar yang lari terusir hingga kehilangan tempat hidup/rumah yang tak lain juga adalah hutan alam ini karena banyak sebab,satu diantaranya adalah habitat satwa banyak yang beralih fungsi untuk pembukaan lahan berskala besar, digunakan untuk apapaun sudah pasti akan mengorbankan nasib hidup satwa dan tumbuhan.
Tidak bisa disangkal, ada hutan, ada kehidupan. Ada hutan ada satwa liar yang mendiami (hidup). Sebaliknya kehilangan habitat menjadikan satwa liar, tidak terkecuali orangutan, enggang, kelasi, kelempiau, bekantan akan semakin sulit bertahan hidup di alam liar. Hal yang sama juga terjadi kepada keanekaragaman biodiversitas yang ada, pasti akan berdampak jika hutan alam ini hilang tak bersisa apabila tidak ada perhatian dan kepedulian dari semua kita.
Fakta-fakta lain yang terjadi, tidak sedikit satwa liar yang menjadi tawanan/dipelihara dan terkungkung dalam sangkar, diperjualbelikan tanpa melihat nasib dan kebebasan hidup mereka di alam liar. Bagaimana apabila kita dibuat seperti mereka (satwa liar)? Apakah kita sanggup hidup terkungkung dalam penjara dan diperjualbelikan, sungguh malang tanpa harapan.
Pada tahun 2022, menurut update data terbaru dari International Union for Conservation of Nature’s Red List of Threatened Species menyebutkan; tingkat ancaman kepunahan terhadap keanekaragaman hayati cenderung semakin meningkat. Dalam data tersebut menyebutkan lebih dari 40.000 spesies terancam punah. Selain itu, estimasi spesies yang menghadapi ancaman kepunahan (threatened species) disetiap grup, adalah: cycads (sejenis pakis) 63% (63-64%); amfibi 41% (34-51%); dicots tertentu (birches; cacti; magnolias; maples; oaks; protea family; southern beeches; teas) 39% (34-45%); ikan hiu, pari dan hiu hantu (sharks, rays & chimeras) 37% (32-46%); konifera (conifers) 34% (34-35%); batu karang (reef-forming corals) 33% (27-44%); crustaceans tertentu (seperti lobster dan kepiting) 28% (17-56%); mamalia 26% (23-37%); reptil 21% (18-33%); serangga tertentu (dragonflies & damselflies) 16% (11-40%); burung 13% (13-14%); beberapa gastropods (abalones, cone snails) 10% (8-23%); bony fishes tertentu 6% (5-22%); cephalopods (nautiluses; octopuses; squids) 1.5% (1-57%).
Dari data tersebut, tentu ini ancaman nyata yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Hutan alam ini tentunya sangat memerlukan harmoni dari kita semua. Peran hutan, tumbuhan dan satwa liar tentu tidak sedikit sebagai sumber dari segala sumber penghidupan semua kita, rantai makanan yang saling membutuhkan satu sama lainnya semestinya jangan terputus. Apabila itu terjadi maka akan berpengaruh kepada satwa lainnya termasuk dengan kita manusia. Tentu kita sudah merasakan bagaimana panas yang menyengat tubuh sudah sering kita rasakan, ketika kemarau sulit air, ketika hujan kita kebanjiran.
Satu kekhawatiran yang akan terjadi apabila hutan alam, satwa liar dalam ancaman yang tidak terkendali maka semua kita pun semakin sulit untuk bertahan hidup di dunia yang saat ini sudah semakin sulit diprediksi.
Kepedulian kita semua kepada semua makhluk hidup sudah selayaknya dilakukan, sudah sepantasnya didengungkan dengan tidakan nyata dengan cara-cara sederhana yang bisa kita lakukan seperti tidak memilihara satwa dilindungi dan tidak memperjualbelikan satwa dan tumbuh-tumbuhan dilindungi. Sebaliknya, menjaga dan memiliharanya. Biarkan satwa dilindungi dan tumbuh-tumbuhan bisa hidup di alam liar hingga ia bisa selalu memberi kita sumber hidup dan kehidupan.
Sebagai pengingat kepada kita semua, hutan alam, satwa liar sejatinya memiliki hak yang sama untuk hidup di alam bebas, tetapi terkadang manusia dengan tindakannya lalu mengusik mereka (satwa liat) demi memikirkan kepentingan sesaat tanpa memikirkan keberlanjutan nafas kehidupan makhluk hidup yang lainnya.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di:
https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/67c54ed9c925c407355cbcb2/hari-kehidupan-satwa-liar-sedunia-bagaimana-keberadaan-dan-keadaannya-saat-ini
Petrus Kanisius-Yayasan Palung