Bumi dan Kita yang Sama Bergantung

Ilustrasi: Bumi dan Kita sama bergantung. (Foto dok. Fixabay).

Panas bumi yang tak lagi bersahabat, demikian celoteh dari beberapa dari kita

Bumi yang hangat menyengat, tak lagi sejuk dan yang ada panas membakar kulit tetapi bumi masih saja, tetap saja (di/ter)sakiti

Kekeringan, atau banjir bandang yang kerap kali datang seolah dipandang sebelah mata

Bumi semakin sakit, kita semakin senang membuat/menambah luka deritanya yang ada

Rupa-rupa tanam yang tumbuh semakin rebah tak berdaya seolah tak ada daya dari kita

Tanam tumbuh tak lagi subur, tajuk-tajuk yang menjulang tinggi itu telah enggan berdiri kokoh karena ulah kita pula

Kita merana karena ulah kita

Bumi yang disebut rumah tempat tinggal itu kini nasibnya semakin sakit diusianya yang semakin tua renta

Bumi dan kita sama-sama bergantung

Kita bergantung kepada bumi, bumi tergantung kepada kita

Bumi menghangat, kita berkeringat, keluh kesah pun tak jarang menyalahkan alam

Alam disalahkan, karena katanya tidak bersahabat? apa kita yang tidak bersabahat?

Bumi, alam ini, dan kita semakin membuncah

Ya, bumi menangis, kita tertawa melihatnya didera tanpa jeda

Keluh kesah kita tentang bumi terkadang luput dari pandangan karena keinginan kita yang sulit dibendung

Tingah polah tergantung titah sang pemberi kuasa

Bumi dan kita hanya ingin saling harmoni

Sebab, luka derita bumi yang terjadi luka kita pula.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana: Bumi dan Kita yang Sama Bergantung

Tanah Kayong, Tanah Betuah, 08 April 2025

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Yayasan Palung

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca