Gunung Palung Orangutan Conservation Program

Panas bumi yang tak lagi bersahabat, demikian celoteh dari beberapa dari kita
Bumi yang hangat menyengat, tak lagi sejuk dan yang ada panas membakar kulit tetapi bumi masih saja, tetap saja (di/ter)sakiti
Kekeringan, atau banjir bandang yang kerap kali datang seolah dipandang sebelah mata
Bumi semakin sakit, kita semakin senang membuat/menambah luka deritanya yang ada
Rupa-rupa tanam yang tumbuh semakin rebah tak berdaya seolah tak ada daya dari kita
Tanam tumbuh tak lagi subur, tajuk-tajuk yang menjulang tinggi itu telah enggan berdiri kokoh karena ulah kita pula
Kita merana karena ulah kita
Bumi yang disebut rumah tempat tinggal itu kini nasibnya semakin sakit diusianya yang semakin tua renta
Bumi dan kita sama-sama bergantung
Kita bergantung kepada bumi, bumi tergantung kepada kita
Bumi menghangat, kita berkeringat, keluh kesah pun tak jarang menyalahkan alam
Alam disalahkan, karena katanya tidak bersahabat? apa kita yang tidak bersabahat?
Bumi, alam ini, dan kita semakin membuncah
Ya, bumi menangis, kita tertawa melihatnya didera tanpa jeda
Keluh kesah kita tentang bumi terkadang luput dari pandangan karena keinginan kita yang sulit dibendung
Tingah polah tergantung titah sang pemberi kuasa
Bumi dan kita hanya ingin saling harmoni
Sebab, luka derita bumi yang terjadi luka kita pula.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana: Bumi dan Kita yang Sama Bergantung
Tanah Kayong, Tanah Betuah, 08 April 2025
Petrus Kanisius-Yayasan Palung