Hutan dan Orangutan Itu Penting Diselamatkan, tetapi Kesejahteraan Masyarakat yang Utama

Orangutan sebagai satwa (primata) yang dilindungi karena peran dan fungsinya sebagai petani hutan . Foto dok : Yayasan Palung

Tidak hanya hutan dan orangutan penting untuk diselamatkan, tetapi masyarakat di sekitar hutan terlebih dahulu diselamatkan (kesejahteraan masyarakatnya  yang utama), mengapa demikian?

Hutan sebagai sumber dari segalanya, mungkin juga lebih dari itu. Mampukah semua makhluk hidup yang ada di sekitar hutan bisa bertahan, bila semuanya tidak diselamatkan alias tidak dipehatikan.   

Hutan, orangutan dan masyarakat di sekitar hutan sesungguhnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika ingin menyelamatkan hutan dan orangutan, maka terlebih dahulu orang atau manusianya (masyarakat) di sekitar hutan menjadi hal yang pertama dan utama untuk diperhatikan (diselamatkan).

Hutan dan orangutan diinginkan untuk dijaga dan dilestarikan, namun tak sedikit nasib masyarakat terkadang terabaikan alias tidak diperhatikan (diselamatkan).

Keterangan Foto : Sebelum menyelamatkan hutan dan orangutan, terlebih dahulu selamatkan masyarakat yang ada di sekitar hutan. Foto dok : Yayasan Palung

Tak sedikit warga masyarakat yang secara terpaksa untuk menjaga hutan dan orangutan, itu nyata terjadi. Dan ada pula yang menjaga hutan mereka dengan ketulusan (tanpa keterpaksaan). Tetapi, apakah mereka diperhatikan? Sudah sejahterakah mereka, sudah diperhatikan dan sudah diselamatkan atau belum, mereka sejatinya?.

Hutan, orangutan dan manusia (masyarakat) selain sebagai satu kesatuan juga harus harmoni. Tetapi untuk harmoni mereka sama-sama harus diselamatkan. Acap kali kita bicara konservasi orangutan dan hutan namun abai kepada masyarakat yang ada di sekitarnya (masyarakat lokal) yang ada secara langsung dan berinteraksi langsung dengan hutan dan orangutan.

Masyarakat acap kali diminta untuk menjaga hutan dan orangutan dengan larangan-larangan agar hutan dan orangutan jangan dibabat juga tak cukup banyak membantu, malah yang terjadi bertambah parah (hutan semakin terkikis menjelang habis dan orangutan semakin dalam ancaman nyata/sangat terancam dalam keberlangsungan hidupnya).

Hutan sebagai sumber kehidupan, demikian dikatakan. Orangutan sebagai spesies payung dan petani hutan. Sedangkan manusia (masyarakat di sekitar hutan) sebagai penjaga yang semestinya pula untuk diperhatikan.

Sudah adakah sumber alternatif lain bagi masyarakat yang bisa ditawarkan agar semua bersama-sama diselamatkan?. Dalam arti kata apa yang bisa dan sudah ditawarkan sehingga masyarakat mampu mencari cara-cara (alternatif) baru untuk keberlanjutan nafas hidup mereka tanpa merusak dan mengancam hutan sebagai habitat hidup orangutan. 

Masyarakat diminta untuk menjaga, namun terkadang mereka luput dari perhatian (diselamatkan). Cara-cara alternatif sebagai solusi, sebagai tawaran. Jangan hanya larangan-larangan tetapi masyarakat tidak diberi solusi.

Hal lainnya, yang tidak kalah menariknya adalah masyarakat akar rumput selalu dikambing hitamkan apabila hutan terbakar dan orangutan mati. Apakah sesungguhnya mereka pelakukanya? 

Entahlah, tetapi kemungkinan sudah tahu jawabannya. Tak sedikit luasan hutan terbakar, yang menjadi tertuduh adalah petani dan peladang. Sejak dulu mereka berladang dan bercocok tanam tetapi tak pernah menimbulkan bencana kebakaran.

Masyarakat yang hidup di sekitar hutan tahu betul tata kerama dan aturan tentang satu kesatuan dan keharmonisan dengan alam dengan adat dan tradisi yang mereka jalankan. Mereka (masyarakat) memiliki rasa untuk menghormati dan menghargai, menjaga dan memilihara. Seiring dengan perkembangan waktu, hutan semakin terkikis dan otomatis orangutan dan masyarakat pun sama terdesak.

Desi Kurniawati, selaku koordinator Community Forest & Legal Yayasan Palung, mengatakan; “Mensejahterakan masyarak di sekitar hutan itu adalah kewajiban dan kewajiban masyarakat disekitar hutan untuk menjaga hutan disekitarnya, tidak terkecuali orangutan. Dengan arti kata, kewajiban dari semua pihak untuk menjaganya. Masyarakat sejahtera, hutan terjaga”.

Perubahan paradigma sekarang pun sudah semestinya dilakukan, Masyarakat sejatinya menjadi elemen terpenting. Masyarakat menjadi sama-sama penting selain hutan dan orangutan  untuk diselamatkan. Apabila masyarakat sejahtera maka hutan dan orangutan pun bisa terjaga (terselamatkan).

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5cdd37ce6db84306001fba87/hutan-dan-orangutan-itu-penting-untuk-diselamatkan-tetapi-kesejahteraan-masyarakatnya-yang-utama

Petrus Kanisius – Yayasan Palung

Ini Cerita Sabta dan Rekan-rekan Peneliti dari Cabang Panti saat Berkunjung ke Stasiun Penelitian di Tuanan

Saat mereka mengikuti orangutan di Stasiun Penelitian Tuanan. Foto dok : YP/GPOCP

Bulan ini saya mendapatkan kesempatan (bersama 2 asisten lapangan lainnya) untuk mengunjungi stasiun penelitian orangutan lainnya di Indonesia. Kami benar benar sangat antusias untuk mengunjungi Stasiun Penelitian Tuanan di Kalimantan Tengah. Tujuan kami ke sana untuk melihat bagaimana stasiun penelitian lainnya di Indonesia mengambil data tentang perilaku Orangutan. Untuk kesana kami menggunakan pesawat dari Pontianak, Kalimantan Barat menuju Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Berikut cerita singkat saya (Sabta) ketika ke Stasiun Penelitian Tuanan;

Nama saya Sabta Pelari, saya berkerja sebagai asisten penelitian di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung lebih dari 3 tahun. Tugas saya adalah mencari orangutan ketika menemukan mereka, dan mengambil data perilaku mereka sehingga kita memahami bagaimana mereka hidup.

Ketika kami sampai di Palangkaraya, kami disambut oleh manajer dari tuanan, Ipeh, dimana kami semua sudah mengenalnya karena dia adalah mahasiswa yang membuat penelitian di Cabang Panti sebelumnya. Perjalanan kami belum benar-benar selesai. Keesokan harinya kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan mobil dan ditempuh  2 jam dilanjutkan dengan sampan selama 2 jam  perjalanan hingga kami sampai di desa terdekat dari Tuanan juga membutuhkan 20 menit. Ketika kami sampai di desa, karena kami masih harus jalan kaki sepanjang rintis menuju camp. Itu hari yang sangat panjang dan kami semua kelelahan, walaupun kami mabuk perjalanan tapi kami sangat senang pada akhirnya kami sampai di tempat tujuan.

Hutan rawa gambut menjadi habitat/rumah orangutan. Foto dok : YP/GPOCP

Secepatnya ketika kami sampai di camp Tuanan, kami menyadari betapa berbedanya Tuanan dari Cabang Panti. Perbedaan yang paling utama adalah di Cabang Panti  kami mempunyai 8 tipe habitat hutan yang berbeda di area penelitian kami, sedangkan di Tuanan hanya ada hutan rawa gambut. Perbedaan besar lainnya dari Cabang Panti adalah asisten bisa pulang setiap malam ke desa mereka, karena jarak yang dekat, hanya 20 menit dari camp. Di Cabang Panti, kami membutuhkan jarak tempuh selama 4 jam dengan berjalan kaki dan kami harus tinggal  selama 20 hari di camp sebelum mengambil libur.

 Untuk mempelajari bagaimana orangutan liar diteliti di stasiun penelitian Tuanan, kami bergabung dengan relawan dan asisten di Tuanan untuk ikut orangutan keesokan harinya. Orangutan yang saya ikuti adalah ibu-anak yang bernama Milo (ibu) dan Merkur (Anak). Kami meninggalkan camp pukul 04.30 WITA menuju rawa gambut dimana sarangnya berada. Kami menunggu di sana (di sarang) sampai dia bangun diperkirakan sekitar pukul 05.00 WITA, orangutan yang kami ikuti tersebut terlihat sedang makan di pohon buah terdekat. Di Tuanan saya mendapati perbedaan lainnya tentang bagaimana kami mempelajari orangutan di Cabang Panti, asisten di Tuanan mencatat data prilaku orangutan setiap 2 menit, jika kami di CP kami mencatatnya setiap 5 menit. Dan juga, ketika mereka mencatat jenis buah yang orangutan makan mereka menggunakan nama lokal. Sedangkan kami di Cabang Panti kami menggunakan nama latin untuk mencatat dan mengidentifikasi jenis buah.

Di Tuanan semua habitat orangutan adalah rawa gambut, dan hampir semua tipe pohon yang saya temui juga sangat berbeda dari Cabang Panti. Salah satu buah yang paling dominan dan tidak bermusim di Tuanan adalah “Kamundak” (lokal), dimana bisa dipastikan itu adalah bagian dari famili tumbuhan kacang pohon (Fabaceae). Buah ini menyediakan sumber makanan yang melimpah di sana karena memang jenis pohon itu tidak memiliki musim atau selalu berbuah.

Asisten di Tuanan mengatakan kepada kami, jika orangutan di Tuanan akan mudah dan banyak tidur jika mereka banyak memakan buah Kamundak. Manusia juga bisa akan merasakan sakit setelah memakan buah ini, bagaimana kami tau ini?. Karena dulu ada seorang peneliti asing yang membawa buah ini kembali ke camp, menggoreng, lantas memakannya dan dia berakhir dengan sakit kepala dan sakit perut. Saya memcobanya juga tapi hanya sedikit karena saya tidak ingin seperti itu juga!

Hari berikutnya di Tuanan, kami bergabung dengan asisten Tuanan untuk mengikuti Orangutan jantan belimbing bernama Dado. Dia menghabiskan semua waktunya hanya dengan makan buah yang dominan di area itu, nama lokal dikenal dengan “tutup kabali”.

Selama kami berada di Tuanan, kami juga berkesempatan bertemu dengan warga lokal di desa terdekat dan pada malam harinya kami berjalan kaki kesana bersama asisten untuk bermain bola voli dan bermain dengan anak-anak.

Toto, Syahril, Sabta dan Alys Granados Peneliti dari Cabang Panti Saat berkunjung ke Yayasan BOS. Foto dok : YP/GPOCP

Setelah empat hari berada di Tuanan, akhirnya  kami harus berpisah karena harus pulang ke Kalimantan Barat. Tentu kami semua sedih, waktu begitu cepat berlalu dan semua menerima kami dan mereka juga sangat ramah. Meskipun kami tidak lama di sana, kami sudah menjadi sangat dekat dengan mereka dan itu sangat menyenangkan untuk berbagi cerita dengan mereka tentang berkerja di lapangan. Kami belajar banyak dari mereka dan kami harap suatu hari nanti mereka bisa mengunjungi Cabang Panti. Itulah certa singkat saya.

Sabta Pelari- Asisten Peneliti dari Yayasan Palung/GPOCP

Editor : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Dari Lapangan ke Ruang Kelas Para Peneliti Turun Gunung untuk Berbagi Ilmu tentang Orangutan

Saat peneliti berbagi informasi kepada siswa-siswi di sekolah. Foto dok. Yayasan Palung

Baru-baru ini, Asisten Peneliti Yayasan Palung di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) turun gunung (dari lapangan ke ruang kelas) untuk berbagi ilmu pengetahuan/ilmu (informasi) dan mengenalkan kepada siswa-siswi tentang apa saja pekerjaan yang mereka kerjakan/lakukan, terkait penelitian mereka di TNGP ke sekolah-sekolah (ruang kelas).

Adalah Tori Bakely, asisten peneliti Yayasan Palung (GPOCP) bersama Sabta dan Sahril berkesempatan mengunjungi sekolah-sekolah di Sukadana dan berbicara tentang penelitian yang mereka lakukan di Cabang Panti. Adapun sekolah yang beruntung dikunjungi oleh peneliti adalah SMAN 1 Sukadana dan SMAN 2 Sukadana, pada 5 Maret 2019, bulan lalu.

 ”Ini merupakan pengalaman yang luar biasa untuk berbagi pengetahuan saya tentang hutan dan program kami dengan para siswa yang tidak jauh lebih muda dari saya. Saya juga senang mendengar rekan kerja saya berbicara tentang pekerjaan mereka karena mereka berbicara dengan kegembiraan dan hasrat dan mengungkapkan sisi diri mereka yang tidak terlihat di lapangan. Mengizinkan para peneliti untuk berbicara langsung kepada siswa tidak hanya menginspirasi mereka untuk mengejar ilmu pengetahuan, tetapi juga menyoroti bagian penting dari konservasi yang kadang-kadang diabaikan. Saya berharap dapat mengunjungi lebih banyak sekolah di masa depan untuk menunjukkan kepada siswa sekolah menengah tentang pekerjaan yang berlangsung di hutan dan peluang yang ada dalam jangkauan mereka. ”, kata Tori.

Saat berbagi informasi kepada siswa-siswi di sekolah, para peneliti mengenalkan kepada siswa-siswi tentang konsep kerja lapangan seperti  pekerjaan penelitian yang mereka kerjakan, aktivitas, sejarah penelitian di Gunung Palung, pekerjaan para peneliti laboratorium di Stasiun Penelitian Cabang Panti, TNGP. Mereka (peneliti) juga bercerita tentang bagaimana mereka meneliti dan mengikuti orangutan, sekaligus juga memotivasi siswa-siswi siapa tahu diantara siswa-siswi ada yang tertarik menjadi peneliti.

Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung (YP)/ GPOCP mengatakan, “Sosialisasi (berbagi informasi) ke sekolah-sekolah de dilakukan tim peneliti dari proyek orangutan kepada para pelajar sma dirasakan dirasakan cukup tepat. Hal ini secara langsung akan dapat cepat menumbuhkan kesadar tahuan mereka tentang kehidupan orangutan liar, yg sebenarnya dekat dengan kehidupan mereka juga. Mereka, para pelajar sma adalah remaja yang sedang tumbuh berkembang menuju dewasa, sehingga pemikiran merekapun akan bertambah dewasa pula. Dengan demikian, bila mereka sudah mengerti dan memahami tentang pentingnya orangutan bagi kehidupan dan hutan, maka secara dewasa mereka akan lebih bijak dalam menyikapi ancaman-ancaman yang terjadi pada kehidupan orangutan dan habitatnya”.

Pada kesempatan pertama, peneliti berkesempatan berkujung di SMAN 1 Sukadana dan diikuti oleh 59 orang peserta yang hadir dan pada kesempatan kedua di SMAN 2 Sukadana diikuti oleh 80 orang peserta.  

Semua rangkaian kegiatan berbagi informasi ke sekolah-sekolah yang dilakukan oleh para peneliti berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2019/05/07/dari-lapangan-ke-ruang-kelas-para-peneliti-berbagi-ilmu-tentang-orangutan-ke-sekolah-sekolah

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Wendi Tamariska dari Yayasan Palung Raih Penghargaan Lingkungan Hidup Whitley Award 2019 di London


Wendi demikian nama akrabnya sehari-hari, ia  baru-baru ini menerima penghargaan Whitley Award 2019 dari Princess Anne, selaku Patron Whitley Fund for Nature  di Gedung The Royal Geographical Society London, pada 1 Mei 2019, kemarin.

Wendi demikian nama akrabnya sehari-hari, ia  baru-baru ini menerima penghargaan Whitley Award 2019 dari Princess Anne, selaku Patron Whitley Fund for Nature  di Gedung The Royal Geographical Society London, pada 1 Mei 2019, kemarin.

Wendi Tamariska dari Yayasan Palung (YP) / GPOCP meraih penghargaan dari Whitley Awad 2019 atas dedikasinya dibidang konservasi ; “Melindungi orangutan dan hutan hujan melalui program mata pencarian berkelanjutan (Sustainable Livelihood/SL)”, di bentang alam kawasan Taman Nasional Gunung Palung dengan mengajak masyarakat lokal untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan menjadi penghasilan alternatif yang berkelanjutan tanpa merusak hutan.

Penghargaan yang Wendi raih itu bukan tanpa sebab, karena ia (Wendi) melalui Program SL dari Yayasan Palung berhasil merangkul masyarakat seperti para pengrajin tikar pandan melalui  kelompok  binaan yakni  kelompok pengrajin, mereka berhasil dengan mengkreasikan anyaman dari bahan baku pandan menjadi berbagai kreasi seperti tikar, dompet, tas kecil, tas laptop, tempat tisu, tempat untuk nenyimpan pulpen dan pensil, ada pula tempat/wadah untuk menyimpan charger handphone, gantungan kunci dan lain sebagainya. Semuanya dari bahan baku anyaman pandan.  Beberapa pengrajin tikar pandan awalnya adalah penambang batu di sekitar kawasan hutan.  Tetapi setelah menjadi pengrajin tikar, mereka tidak lagi menjadi penambang batu. Tidak berhenti disitu, Wendi juga berhasil membina para petani lokal untuk mengolah lahan yang potensial atau pun lahan yang tidur untuk ditanami dengan berbagai tanaman dengan pola tanam yang ramah lingkungan. Para petani binaan dengan berhasil menggarap lahan mereka dengan menanam aneka tanaman seperti sayur-sayuran, tebu, cabe dan terong. Petani juga menanam bibit durian dan bibit lokal lainnya. Beberapa dari petani sebelum dirangkul dan dibina, mereka adalah perambah hutan. Dengan kata lain, cara yang ditawarkan itu, pengrajin dan petani memiliki cara-cara yang ramah lingkungan dan memiliki alternatif penghasilan  berkelanjutan dan mereka tidak lagi merambah hutan yang menjadi rumah dari orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah. Seperti selogan yang sering dikatan Wendi, Hutan Terjaga masyarakat sejahtera.

Pada Pidatonya, Wendi, kurang lebih mengatakan, Ia sangat berterima kasih kepada Whitley Fund for Nature  atas penghargaan yang ia terima. Wendi berterima kasih kepada keluarga, keluarga besar YP/GPOCP, juga kepada masyarakat lokal, terutama para pengrajin dan petani di Kalimantan, karena bersama mereka, hutan hujan boleh hijau sebagai rumah dari habitat orangutan. Ia sangat bersemangat lagi untuk bersama dan bekerjasama dengan masyarakat lokal. Dengan adanya penghargaan tersebut, program mata pencaharian berkelanjutan yang kita jalankan memiliki misi agar bisa menyelamatkan hutan dari ancaman perkebunan dan pertambangan dan hutan bisa hijau lagi.

Seperti diketahui, Wendi merintis program mata pencarian berkelanjutan (program SL) di Yayasan Palung/GPOCP sejak tahun 2010 silam hingga saat ini dengan berbagai suka duka yang ia lalui.

Pada ajang penghargaan Whitley Award 2019 para pemenangnya adalah :

  1. Caleb Ofori-Boateng – Critical refuge for the Togo slippery frog, Ghana
  2. Nikolai Petkov – Wetlands on the brink: conserving the red-breasted goose, Bulgaria
  3. Vatosoa Rakotondrazafy – MIHARI: a civil society movement to safeguard marine resources, Madagascar
  4. José Sarasola – The Chaco eagle: a flagship for semiarid wildlife conservation, Argentina
  5. Wendi Tamariska – Protecting orangutans and rainforests through sustainable livelihoods, Indonesia (Borneo)
  6. Ilena Zanella – Strengthened sanctuary for the scalloped hammerhead shark, Costa Rica

Sedangkan Pemenang 2019 Whitley Gold Award adalah: Jon Paul Rodríguez – A range-wide plan for the yellow-shouldered parrot.

Victoria Gehrke, selaku Direktur Program Yayasan Palung, mengatakan;  Kami sangat tersanjung dan berterima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada Manajer Program Mata Pencaharian Berkelanjutan (SL) kami Wendi Tamariska yang menerima penghargaan Whitley Fund for Nature internasional yang bergengsi sebagai pengakuan atas karyanya dalam melestarikan orangutan dan habitatnya di bentang alam hutan hujan Taman Nasional Gunung Palung. Penghargaan ini telah memberikan dukungan dan penyemangat baru yang fantastis untuk pengembangan kapasitas, pengakuan dan peluang jaringan (kemitraan). Dukungan dan bimbingan dari The Whitley Foundation akan memungkinkan Wendi dan timnya di Yayasan Palung untuk menerapkan dan mengembangkan cara-cara baru untuk Program Matapencaharian Berkelanjutan di desa-desa baru dan terpencil, sehingga meningkatkan dampak konservasi orangutan dan hutan hujan serta pengembangan masyarakat. Kami sangat bangga dengan Wendi dan timnya, juga kepada semua staf pekerja keras di Yayasan Palung. Kami akan selalu berterima kasih atas dukungan yang telah diberikan oleh donor, penyandang dana dan pendukung kami yang tidak disebutkan satu persatu yang memungkinkan semua  program kami bisa berhasil. Kami berterima kasih kepada The Whitley Award untuk penghargaan ini dan bantuan untuk dapat memperluas program sesuai dengan tujuan dan visi yang kami miliki.

Sumber berita : https://whitleyaward.org/winners/protecting-orangutans-and-rainforests-through-sustainable-livelihoods

Sumber Video :

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak

Petrus Kanisius – Yayasan Palung

Rayakan Hari Bumi Relawan RebonK Tanam 320 Bakau di Pesisir Pantai Pasir Mayang

Rayakan Hari bumi 2019, Relawan melakukan penanaman bakau di Pasir Mayang (27/4), kemarin.

Hari hujan di Sabtu pagi (27/4) kemarin, tidak menyurutkan semangat Relawan RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) saat merayakan hari bumi dengan aksi mulia mereka menanam bibit bakau di pesisir Pantai Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan, Sukadana.

Dalam kegiatan perayaan hari bumi kali ini, terlihat sebelum dilakukan penanaman bibit bakau terlebih dahulu dilakukan kegiatan upacara. Setelah rangkaian upacara selesai dilanjutkan dengan penanaman bakau.

Berikut ini Foto-foto dokumentasi Yayasan Palung tentang Hari Bumi yang dirayakan oleh RebonK dan Yayasan Palung :

Panitia melakukan pengarahan kepada peserta untuk dibagi dua  kelompok penanaman. Kelompok pertama melakukan penanaman di pesisir sebelah kanan pantai Pasir Mayang. Sedangkan kelompok dua di pesisir  pantai sebelah kiri. Setidaknya ada 320 bibit bakau yang ditanam oleh Relawan RebonK (relawan konservasi binaan Yayasan Palung). 

Perayaan hari bumi  dengan rencana penanaman bakau ini telah direncanakan sejak bulan Januari lalu, oleh Relawan RebonK dan Yayasan Palung. Beberapa bibit yang akan ditanam hari itu (27/4), merupakan bibit-bibit bakau yang dikumpulkan oleh  teman-teman relawan dari beberapa tempat, kata Simon Tampubolon, dari Yayasan Palung.

Lebih lanjut Simon sapaan akrabnya mengatakan, penanaman bakau ini penting dilakukan di sekitar Pantai Pasir Mayang sebagai cara dari kami dan relawan untuk antisipasi meluasnya abrasi yang terjadi. Kita juga melihat di bibir pantai pohon-pohon sudah sedikit. Penanaman bakau yang dilakukan hari ini juga merupakan bentuk kerja nyata/aksi kami yang tidak berhenti hari ini. Kami pun tak sekedar menanam, tetapi kami akan memantau bahkan hingga pohon bakau jadi (tumbuh). Jika pun beberapa tanaman yang kami tanam hari ini diantaranya tidak hidup, kami akan menanamnya kembali. Selain juga kami akan rutin untuk memantau dan merawatnya, ujar Simon lagi. 

Lihat Foto-foto kegiatan di Instagram :

Dalam kata sambutannya, Ranti Naruri mewakili Yayasan Palung mengatakan; penanaman pohon bakau yang kita lakukan hari ini sebagai cara kita untuk merawat dan menjaga yang tersisa. Kita semua yang ada di sini, para Relawan, komunitas, Para Sispala dan kelompok pencinta lingkungan sudah sepatutnya untuk peduli dengan lingkungan sekitar. Terutama juga kita harus menghargainya dengan tidak merusak dan tidak membuat pantai menjadi kotor dengan sampah-sampah yang ada. Kepedulian kita hari ini berharap ada manfaatnya untuk generasi kita selanjutnya dan yang pasti aksi dan cinta yang nyata kepada bumi dengan cara-cara sederhana.

Kegiatan penanaman bakau dalam perayaan hari bumi mendapat dukungan yang sangat baik dari berbagai komunitas, kelompok petani dan para Sispala yang ada di Kabupaten Kayong Utara serta peserta perorangan dan Kelompok tani menjadi perayaan hari bumi sangat spesial (khusus) karena mendapat dukungan dari berbagai pihak yang menyempatkan diri hadir dalam kegiatan tersebut.

Adapun teman-teman komunitas yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan hari bumi yang dilakukan oleh Relawan RebonK dan Yayasan Palung dihadiri oleh; Sispala Land (SMKN 1 Sukadana), Sispala Tapal (SMKN 1 Simpang Hilir), Sispala Gardapena (SMAN 2 Simpang Hilir) , Sispala Ganasanda (SMAN 2 Sukadana), Sispala Peramas Sakti (SMAN 1 Sukadana), Muhammad Zulkarnaen (Duta Lingkungan Kayong Utara), Komunitas Pandara Bersaudara, Kelompok Tani Meteor Garden, Comunity Kebersamaan, Tracker Kayong Utara, Ekspedisi Alam Kalbar dan Petani Muda Mandiri.

Setelah dilakukan penanaman bakau, relawan RebonK bersama dengan berbagai pihak melakukan bakti sosial dengan membersihkan sampah di sekitar pantai Pasir Mayang.

Terlihat cukup banyak sampah yang terkumpul dari hasil melakukan bersih-bersih sekitar pantai (bakti sosial/baksos). Sampah plastik, bungkus rokok, tisu, pipet,kaleng dan botol kaca, sendal jepit,  bekas jaring pukat, bungkus mie instan dan botol minuman air mineral terlihat sangat mendominasi. Setidaknya ada 15 kantong besar jumlah sampah yang terkumpul saat kami melakukam baksos setelah penanaman bakau pada perayaan hari bumi tersebut.

Semoga saja tanaman-tanaman bakau yang ditanam tersebut dapat tumbuh dan bisa menjadi pencegah abrasi dan berharap pula kepada pengunjung pantai agar tidak membuang sampah sembarangan di sekitar pantai. 

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Liputan Singkat : Acara Pemilihan Duta Lingkungan Hidup Kabupaten Kayong Utara Tahun 2019


Muhammad Zulkarnaen sebagai pemenang Duta Lingkungan Hidup Kayong Utara
dan Runner Up 1 adalah Heavi Nadiawani Saat Berfoto bersama Wakil Bupati KKU. Foto dok : Rayendra/ PerKimLH KKU.

Yayasan Palung diminta untuk terlibat sebagai pemateri dan juri Duta Pemilihan Lingkungan Hidup Kabupaten Kayong Utara tahun 2019 oleh Dinas PerKimLH Kayong Utara.

Kami menjadi salah satu pemateri dari rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas 10 orang finalis Duta Lingkungan Hidup Kayong Utara tahun 2019, materi yang kami berikan adalah “Membangun Jaringan Penyelamatan Lingkingan Hidup Berbasis Media Sosial” pada 22 April 2019 bertempat di kantor Dinas PerKimLH Kayong Utara. Kemudian pada 24 April 2019 malam kami menjadi salah satu juri di Gedung Pendopo Bupati Kayong Utara. Kegiatan berlangsung meriah dan lancar walaupun agak terlambat dimulai dikarenakan kota Sukadana diguyur hujan lebat. Penjurian dilakukan 3 tahap yaitu penyisihan 5 besar, 3 besar dan tahap akhir adalah penentuan Pemenang, Runner Up 1 dan Runner Up 2.

Pemasangan selempang Duta Lingkungan Hidup Kabupaten Kayong Utara 2019 oleh Duta Lingkungan Hidup Propinsi Tahun 2016. Foto dok : Rayendra/ PerKimLH KKU.

Melalui penjurian ini terpilih pemenang yaitu Muhammad Zulkarnaen, sebagai Runner Up 1 adalah Heavi Nadiawani, dan Runner Up 2 adalah Isma Linanda Umaya, serta Social Media Influencer adalah Ramadani. Pemasangan selempang Duta Lingkungan Hidup Kab. Kayong Utara pemenang disematkan oleh Duta Lingkungan Hidup Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2016 yaitu Relin Megrina Anggia dan penyerahan hadiah dan trophy dilakukan oleh Wakil Bupati Kayong Utara didampingi Kepala Dinas PerKimLH Kab. Kayong Utara. Selanjutnya Pemenang dan Runner-Up 1 akan mewakili Kab. Kayong Utara untuk mengikuti pemilihan Duta Lingkungan Hidup di tingkat Propinsi Kalimantan Barat.

Adapun tema dalam kegiatan ini adalah; “Generasi Muda Peduli, Generasi Muda Beraksi, Untuk Lingkungan Hidup yang lebih baik”. Melalui tema ini mengajak keterlibatan generasi muda untuk aktif dalam pengelolaan lingkungan. Para finalis adalah para pemuda dengan rentang usia 16 – 23 tahun yang berasal dari berbagai kecamatan di Kab. Kayong Utara. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Kab. Kayong Utara, para kepala dinas instansi Kab. Kayong Utara, kepala SPTN 1 Sukadana BTNGP, Organisasi Non Pemerintah dan jajaran Dinas PerKimLH Kab. Kayong Utara sebagai penyelenggara kegiatan ini. Hadir juga para sponsor outfit / dresser dan make up stylist para finalis, dan event organizer.

Penulis : Mariamah Achmad, Manager Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung

Ini Rangkaian Kegiatan Yayasan Palung dan Para Relawan Saat Peringati Hari Bumi 2019

“Ini Cara Sederhana yang Yayasan Palung dan Relawan Lakukan untuk Sayangi Bumi “

Membersihkan sampah-sampah di area Taman Kota Ketapang, Pasar Baru hingga Bundaran SPBU Ketapang Mandiri sembari membawa pesan-pesan kampanye lingkungan sembari berorasi lingkungan. Itu yang dilakukan Relawan Yayasan Palung yaitu Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) saat memperingati hari bumi, Minggu (21/4/2019), kemarin.

Klik satu persatu foto untuk melihat berdasarkan ukurannya

Keterangan Foto : Foto-foto kegiatan saat peringati hari bumi 2019

Kegiatan ini dilakukan dengan cara sederhana oleh Yayasan Palung bersama para relawan Tajam sebagai bentuk aksi nyata untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli dan mau membiasakan diri dalam gaya hidup ramah lingkungan sekaligus sayangi bumi.  Sembari berorasi, para relawan membawa spanduk yang bertuliskan; “Berhenti Penuhi Bumi dengan Sampah”, “Hutan Tetap Ada Tanpa Manusia, Tapi Manusia Takkan Ada Tanpa Hutan”, “Yom Rawat Bumi Same-same”, “Orangutan Punya Rumah dan Keluarga, Manusia Juga. Jagalah Kerukunan Bertetangga”. Inilah beberapa pesan sebagai pengingat kepada kita semua untuk peduli nasib bumi. Hal tersebut sesuai dengan tema yang didengungkan pada hari bumi tahun 2019 ini yaitu; “Jika tidak mampu memperbaiki, maka jangan merusak bumi”.

Dari semua rangkaian bersih-bersih sampah tersebut, terlihat antusias dari berbagai pihak untuk ambil bagian saat memperingati hari bumi. Semua ikut memungut sampah dan berorasi terkait tentang nasib bumi dan lingkungan saat ini. Saya sangat bangga kepada para relawan yang begitu semangat membantu dan ikut memperhatikan nasib bumi, kata Terri Lee Breeden dari Yayasan Palung.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut terlihat antusias dan partisipan yang hadir untuk aksi, tak kurang 65 orang dari kalangan anak muda yang terdiri dari sispala Genta, SPL Sitaring, SMPN 3 Ketapang, SMPN 8 Ketapang, Sispala PASS, Komunitas Raider Adventure Kalbar, Komunitas Muslimah Traveller, Komunitas Pongo Ranger, Komunitas PANDARA, dan Komunitas PUPA. Hadir pula Andrea,  seorang peneliti di Cabang Panti Gunung Palung ikut ambil bagian bersama kami merayakan hari bumi.

Vhe Sartono Tjong, satu dari anggota Relawan Tajam angkatan pertama mengatakan, sangat senang bisa ikut ambil bagian bersama adik-adik sesama relawan ketika memperingati hari bumi dengan aksi nyata seperti ini (bersih-bersih sampah) untuk sayangi bumi dengan cara-cara sederhana.

Cukup banyak sampah-sampah yang terkumpul dari aksi bersih-bersih sampah tersebut. Beberapa komunitas anak sekolah dan relawan tanpa sungkan dan ragu membaur untuk bersama-sama memungut sampah di sepanjang area/rute/jalur kegiatan.

Cintai bumi dengan cara-cara sederhana agar bumi sebagai ibu dari semua makhluk tempat kita tinggal ini bisa lestari hingga nanti, mungkin kata itu cocok untuk dikatakan terhadap nasib bumi saat ini yang perlu kepedulian bersama tanpa terkecuali. 

Menurut Haning Pertiwi, selaku pembina Relawan Tajam mengatakan; “seluruh peserta sangat antusias mengikuti semua rangkaian kegiatan hari bumi. Serunya ketika long march, panitia mengajak seluruh partisipan menyerukan yel-yel yang dibuat khusus untuk hari bumi”

Victoria Gehrke, Direktur Yayasan Palung mengatakan tentang kegiatan hari bumi tahun ini; “Ini adalah keadaan yang menyedihkan di Indonesia dalam hal pengelolaan limbah yang bertanggungjawab ketika lebih jarang melihat orang asing daripada sampah di tanah. Ketika saya bersama dengan kelompok sukarelawan (Relawan Tajam-red) sangat luar biasa melihat upaya mereka membersihkan taman kota Hari Bumi, ada lebih banyak orang yang terkejut dan berkomentar bahwa kami membersihkan sampah daripada jumlah sampah itu sendiri. ‘’ Mengapa kamu membersihkan sampah di Indonesia? ’Beberapa orang bertanya. “Karena kita semua adalah bagian dari satu planet” jawabku.

Selain itu, saya juga bangga karena saya adalah sukarelawan dari acara ini, saya juga berpikir itu adalah tanggungjawab produsen plastik untuk membantu mengelola limbah dan daur ulang. Pemerintah dan masyarakat memiliki kekuatan sebagai konsumen untuk memberikan tekanan dan peraturan pada perusahaan yang memproduksi produk plastik untuk membantu mengelolanya selama masa pakainya. Bumi adalah untuk kita semua, dan kita semua harus bekerja bersama untuk tetap sehat!”

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan sukses. Terima kasih kepada semua yang telah berpartisisipasi dari awal hingga terlaksananya kegiatan ini. Jika tidak kita semua yang peduli kepada bumi lalu siapa lagi. Karena kepedulian kita sangat berharga untuk kelestarian bumi.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak : http://pontianak.tribunnews.com/2019/04/23/ini-rangkaian-kegiatan-peringati-hari-bumi-oleh-yayasan-palung

Catatan : Sedangkan Relawan Rebonk, relawan binaan Yayasan Palung yang ada di Sukadana akan mengadakan kegiatan untuk peringati hari bumi 2019 dengan melakukan penanaman mangrove (bakau), rencanakan akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 27 April 2019 di Pantai Pasir Mayang.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Brosur Yayasan Palung (GPOCP)

Berikut ini Brosur Yayasan Palung (GPOCP)

Bagi teman-teman yang ingin mengetahui apa saja kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung (GPCP) silakan membaca di brosur.

Klik gambar untuk melihat dan membaca brosur tersebut

Dokumen : Yayasan Palung,

Desain : Apolosius Tms (Volunteer YP)

Penulis : Yayasan Palung

Orangutan Ternyata Vegetarian dan Frugivora, Ingin Tahu Alasannya?

“Orangutan ternyata vegetarian dan frugivora”


Orangutan sedang memakan buah hutan (Artocarpus Sp.), di Gunung Palung. foto dok. Yayasan Palung dan Tim Laman

Orangutan dikenal sebagai satwa yang sangat dilindungi, ternyata ia vegetarian dan frugivora lho, mau tahu apa alasannya?.

Sebagai primata/hewan/satwa terbesar yang menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon (arboreal) orangutan sangat suka memakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian) dan memakan buah-buahan (frugivora).

Orangutan sangat suka menjelajahi hutan dan ia selalu membuat sarang setiap harinya. Sangat jarang sekali orangutan tinggal di sarang yang lama. Hampir dipastikan setiap sarang orangutan selalu berdekatan dengan sumber pakan (sumber makanan) berupa buah-buahan dan tumbuhan.

Dikatakan sebagai vegetarian karena orangutan memakan sumber makan dari tumbuh-tumbuhan berupa daun muda dan kulit kayu. Sedangkan dikatakan sebagai frugivora karena orangutan sangat suka memakan buah-buahan yang ada di hutan. Orangutan bisa dikatakan hewan frugivora karena alasan ia suka berpindah-pindah tempat dan mencari wilayah/area yang banyak pohon buah.

Orangutan bisa kembali ke lokasi awal dimana ia mencari buah ketika di wilyah tersebut banyak buah. Tidak hanya orangutan, ada pula hewan frugivora lainnya diantaranya kelelawar pemakan buah seperti jenis Artibeus jamaicensis dan Pteropus, beberapa jenis ikan dari family Characidae, dan berbagai jenis burung.

Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari: 60% terdiri dari buah, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap).

Buah-buahan hutan termasuk sumber makanan utama (pakan) orangutan. foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Tumbuhan dominan yang dikonsumsi buahnya oleh orangutan adalah dari family Sapindaceae/sapindales (rambutan, kedondong, matoa dan langsat), Lauraceae (alpukat, dan medang), Fagaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae/myrtales (jenis jambu-jambuan), Moraceae (ficus/kayu ara) dan lain-lainnya. Kesemua buah-buahan hutan tersebut, setidaknya itulah yang paling digemari oleh orangutan beserta satwa lainnya.

Setiap harinya orangutan menjelajahi hutan hingga 1 km/hari. Sedangkan luasan jelajah orangutan selama hidupnya adalah 200 ha. Apabila musim buah raya (musim buah) tiba, orangutan selalu mencari daerah-daerah kekuasaannya sebagai area sumber pakan (cor area).

Sepanjang hidupnya, orangutan betina jika ia memiliki anak maka ia akan mengajarkan anaknya untuk mencari makan dan membuat sarang hingga usia anaknya dewasa (umur 6-7) tahun. Sedangkan masa orangutan betina sepanjang hidupnya hanya bisa mengalami 1-2 kali masa kehamilan.

Sedangkan orangutan betina sama halnya dengan manusia saat hamil yaitu 8,5-9 bulan, dan orangutan betina mengalami masa menstruasi. Orangutan memakan buah-buahan sebagai sumber nutrisi dan tumbuh-tumbuhan sebagai makanan tambahan orangutan. Apabila orangutan jantan dewasa memakan cukup buah dan nutrisi maka ia akan tumbuh yang disebut dengan bantalan pipi (cheek pad).

Saat ini, orangutan sangat terancam di habitat hidupnya berupa hutan sebagai rumah mereka untuk berkembang biak karena sebagian besar luasan tutupan hutan semakin berkurang/menjelang terkikis habis.

Sesuatu yang sangat dikhwatirkan apabila hutan semakin berkurang hingga menjelang terkikis habis maka orangutan akan semakin terhimpit di habitat hidupnya dan semakin sulit untuk bertahan hidup hidup hingga berlanjut. Dengan keadaan demikian orangutan sudah hampir pasti semakin sulit mencari sumber makanan dan otomatis mereka pula dalam ancaman nyata.

Berharap, orangutan sebagai satwa yang dilindungi bisa lestari hingga nanti dengan syarat ada kepedulian dari semua. Selain itu, tidak lagi membuka lahan-lahan baru berupa yang sumber pakan mereka seperti tumbuhan dan pohon sumber pakan orangutan di lokasi hidup dan berkembang biaknya orangutan. Dengan adanya kepedulian bersama maka hampir pasti orangutan dan hutan bisa lestari hingga nanti. Semoga saja…

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5cb82659cc528374d8333c42/orangutan-ternyata-vegetarian-dan-frugivora-mau-tahu-alasannya

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Peringati Hari Bumi 2019, Yayasan Palung Ajak Semua untuk Peduli Nasib Bumi

Kutipan :
“Jika tidak mampu memperbaiki, maka jangan merusak bumi”

“Lestarikan yang Tersisa untuk Masa Depan”

Jika tidak mampu memperbaiki, maka jangan merusak bumi. Itu tema yang diambil oleh Yayasan Palung, pada hari bumi 22 April tahun ini dengan mengajak semua siapa saja tanpa terkecuali untuk peduli kepada nasib bumi.

Dalam rangka memperingati hari bumi, Yayasan Palung dan para relawan rencananya akan mengadakan beberapa rangkaian kegiatan untuk peduli terhadap nasib bumi dengan cara-cara sederhana.

Seperti misalnya, Yayasan Palung bersama Relawan Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) sebagai perpanjangan tangan Yayasan Palung untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi ke masyarakat akan melaksakan kegiatan Bakti Sosial dan Long March (jalan santai). Kegiatan tersebut sebagai bentuk aksi nyata untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli dan mau membiasakan diri dengan gaya hidup ramah lingkungan.

Rencananya serangkaian kegiatan hari bumi 2019 yang dilakukan oleh Yayasan Palung dan RK-Tajam akan dilaksanakan di Taman Kota – Area Pasar Baru – Bundaran Ketapang Mandiri, Minggu 21 April 2019, pukul 06.00 WIB-Selesai. Untuk peserta dalam kegiatan tersebut akan melibatkan semua anggota RK-TAJAM, Sispala, Komunitas Pecinta Alam.

“Rencananya, sebelum semua rangkaian kegiatan dimulai, seluruh partisipan berkumpul di Taman Kota dan melakukan pemungutan sampah kemudian berjalan menuju area pasar baru dan di perjalanan sambil memungut sampah di pinggir jalan. Sampai di area pasar baru partisipan akan di bagi mejadi 4 kelompok dan membersihkan 4 titik di area tersebut. Setelah selesai melakukan pungut sampah di area pasar baru peserta kembali ke taman kota melewati bundaran Ketapang Mandiri dan melakukan kampanye dengan bentuk orasi. Partisipan kembali ke Taman kota  untuk sarapan dan doorprize”, ujar Haning Pertiwi dari Yayasan Palung, selaku pembina relawan sekaligus penanggungjawab kegiatan.

Sedangkan di tempat terpisah, Relawan REBONK binaan Yayasan Palung di Kabupaten Kayong Utara, rencananya akan mengadakan serangkaian kegiatan dengan melakukan penanaman mangrove (bakau) dan bersih-bersih pantai. Rencananya kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada Sabtu, 27 April 2019, pukul 07.00 WIB- selesai, di Pantai Pasir Mayang, Kecamatan Sukadana. 

Baner kegiatan Hari Bumi 2019 yang akan dilaksanakan Yayasan Palung dan Relawan Rebonk di Sukadana. Foto dok : Simon/Yayasan Palung

Dalam melakukan penanaman mangrove, Relawan Rebonk dan Yayasan Palung dalam kegiatan ini juga akan melibatkan beberapa komunitas seperti; Sispala Land, Sispala Ganasanda, Sispala Peramasakti, Kelompok Petani, Kelompok Nelayan, SMAN 2 Sukadana, SMP Negeri 5 Sukadana.

Victoria Gehrke, dari Yayasan Palung mengatakan alasan mengapa hari bumi penting untuk diperingati dan mengapa kita harus peduli dengan nasib bumi; “Dunia lebih sadar daripada sebelumnya tentang perlunya kasih sayang dan perlindungan bagi lingkungan dan satwa liar. Orang Indonesia lebih memahami kerusakan lingkungan dan perubahan iklim daripada kebanyakan orang, karena mereka menghadapinya setiap hari dan hidup dengan konsekuensinya. Setiap orang memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan, mari bekerja bersama dan menjadi contoh bagi dunia. Biarkan suara kita didengar untuk melindungi Bumi dan semua yang hidup di dalamnya”.

Berharap semua rangkaian kegiatan hari bumi nantinya bisa berjalan sesuai dengan rencana. Jika bukan kita semua, siapa lagi yang peduli dengan bumi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung