Ada Wisata Baru Lho di Kawasan TNGP, Ini Namanya

Peserta yang ikut fieldtrip di Riam Jerunjung. Foto dok : Yayasan Palung

Angin sejuk dan air yang jernih terasa saat berada di wilayah ini. ke khasan lainnya terasa ketika ragam tumbuhan rimbun terlihat mendominasi. Tidak hanya itu, di kawasan ini pun ternyata adalah rumah satwa dilindungi karena dijumpai tanda-tanda keberadaan berupa sarang baru orangutan. Ini kami jumpai saat mengadakan fieldtrip bersama siswa-siswi kelas 9 SMPN 3 Matan Hilir Utara  selama 3 hari di kawasan TNGP dan ternyata wilayah ini wisata baru lho  di Kawasan TNGP.

“Kami beduak dengan Riduwan te, betemu/ meliat sarang baru bah. Itu kayaknye sarang orangutan, tipe sarang kelas A, lah sepertinya” (Kami berdua dengan Riduwan betemu/melihat sarang baru. Itu sepertinya sarang orangutan, tipe sarang kelas A),kata Sidiq,salah seorang Relawan RebonK saat mendampingi peserta Fieldtrip tersebut.

Air sejuk dan ragam tumbuhan yang ada di wilayah ini ternyata tak sekedar sejuk dan rimbunnya tetapi ternyata menjadi media yang sangat berharga bagi peserta fieldtrip. Ragam tumbuhan dan air yang ada di tempat tersebut tak ubah sebagai perpustakaan alam sebagai tempat untuk belajar (ilmu pengetahuan/perpustakaan alam) secara langsung  di alam.

O ya, sampai lupa menyebut nama tempat atau lokasi saat kami fieldtrip, pada tanggal 2-4 Agustus 2019 kemarin itu, Namanya Riam Jerunjung.

“Riam Jerunjung adalah kawasan yang berada dalam kawasan TNGP, secara administratif masuk dalam kawasan Desa Laman Satong. Riam Jerunjung berada di Zona Pemanfaatan TNGP. Oleh pihak desa, kawasan ini dijadikan daerah tujuan baru (tempat wisata baru) berbasis alam. Selain yang sudah ada yaitu Riam Laman Bersolek yang sudah terlebih dahulu di kelola”, ujar Mariamah Achmad, selaku manager pendidikan lingkungan Yayasan Palung yang saat itu mengikuti kegiatan fieldtrip.

Untuk menjangkau Riam Jerunjung, apabila dari Ketapang membutuhkan waktu 1 jam 20 menit  menuju titik pal 12 atau simpang PDAM. Selanjutnya dari simpang PDAM menuju Riam Jerunjung diperlukan waktu 1 jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai ke lokasi (Riam Jerunjung).

Saat fieldtrip, siswa-siswi pun diajak belajar tentang survei satwa, pengamatan satwa malam, sound scape forest (mendengar suara alam), analisis vegetasi dan pengamatan satwa pagi dan pengamatan indikator air bersih.

Beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh peserta saat mengikuti fieldtrip di Riam Jerunjung. Foto dok : Yayasan Palung

Para peserta menggambarkan ketika melakukan presentasi saat melakukan pengamatan satwa. Mereka menemukan kelasi, burung pelatuk dan burung kucicaK hijau atau kucicak daun. Selain itu juga mereka menemukan sarang orangutan. Sedangkan saat melakukan pengamatan indikator air, mereka menemukan jenis udang, kepiting dan ikan. Kualitas air di wilayah tersebut dipastikan sangat baik karena sumber airnya langsung hutan yang masih baik.

Setelah dilakukan pengamatan, selanjutnya peserta fieldtrip melakukan presentasi. Mereka terbagi menjadi 4 kelompok yaitu; orangutan, bekantan, berunang madu dan trenggiling. Mereka pun diminta untuk menyajikan data hasil pengamatan dan mempresentasikannya. Mereka (peserta) juga diajak untuk menampilkan kemampuan mereka dalam malam pentas seni.

Selain itu, peserta fieldtrip juga diajak untuk bermain tubing (arung jeram).  Peserta pun satu persatu mencoba arung jeram dengan mengarungi sungai menggunakan ban bekas. Sebelumnya (di pagi hari) peserta dan panitia fieldtrip melakukan senam pagi bersama.

Pada saat melakukan kegiatan selalu diselingi dengan permainan/ice breaking. Semua peserta tampak antusias mengikuti semua rangkaian kegiatan.

Adapun peserta yang ikut dalam acara fieldtrip berjumlah 47 orang siswa/siswi SMPN 3 MHU, dua guru pendamping (Didit, Bapak Markus dan Tia) dari BTNGP ( Doni dan Supiandi) dan dari BOCS ( Ifri, Mega, Reni, Sony, Ari dan Fitri) sedangkan dari Yayasan Palung (Mariamah Achmad, Haning dan Riduwan) serta Sidiq dari Relawan RebonK.

Semua Rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2019/08/14/tribunwiki-yuk-kenali-riam-jerunjung-wisata-baru-di-kawasan-taman-nasional-gunung-palung

Berkolaborasi Adakan Training of Trainer Awali Potensi HHBK di 12 Desa

Semua berfoto bersama setelah rangkaian kegiatan selesai. Foto dok : Simon Tampubolon/ Yayasan Palung

Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara melalui Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup, berkolaborasi dengan Yayasan Palung dan Yayasan Pengembangan Sumber Daya Hutan Indonesia (NTFP-EP Indonesia) mengadakan kegiatan Training of Trainer (ToT) untuk menggali potensi HHBK di 12 desa di kecamatan Sukadana dengan memakai pendekatan CLAPS (Community Livelihood Appraisal and Product Scanning), kegiatan tersebut dilaksanakan di kantor Yayasan Palung di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, pekan lalu, tepatnya tanggal 5-8 Agustus 2019.

Selama empat hari pelatihan, beberapa kegiatan dilakukan diantaranya seperti kunjungan ke salah satu pengrajin bambu di desa Pampang harapan, praktek cara validasi sebaran bambu di desa Pampang Harapan. Selain itu, peserta diajak untuk melihat validasi sebaran pandan di Desa Pampang Harapan.

Peserta ToT diajak untuk melihat validasi sebaran pandan di Desa Pampang Harapan. Foto dok : Simon Tampubolon/Yayasan Palung

Setidaknya ada 26 orang peserta yang mengikuti pelatihan, peserta berasal dari Petani Meteor Garden, dari Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup para perajin yang tergabung dalam Ida Craft. Sedangkan sebagai narasumber adalah dari NTFP-EP Indonesia.

Direktur Program Yayasan Palung, Victoria Gehrke, mengatakan;  “Kami sangat berterima kasih dengan terselenggaranya pelatihan CLAPS yang diselenggarakan oleh NTFP-EP Indonesia, dengan bantuan dari Whitley Fund for Nature. Teknik survei ini akan memberikan kami pemahaman, memetakan sumber daya alam untuk perencanaan manajemen pengelolaan lahan yang lebih baik, pembangunan berkelanjutan untuk masyarakat dan satwa liar di sekitarnya. Melalui pembinaan masyarakat dalam segala bagian dari proses, melakukan peninjauan untuk mengambil keputusan, dimana kita akan memperoleh kesuksesan jangka panjang untuk konservasi satwa liar”.

Berharap, dengan diadannya kegiatan ToT CLAPS ini  sebagai salah satu cara untuk menciptakan fasilitator handal yang dapat menggali informasi mengenai potensi HHBK di wilayah Kayong Utara dengan menerapkan metode CLAPS. Selain itu juga dengan adanya pelatihan untuk pelatih ini, kegiatan penggalian potensi hasil Hutan Bukan Kayu yang ada diwilayah Kabupaten Kayong Utara bisa dilakukan oleh Pemerintah Daerah sendiri, berkolaborasi dengan Yayasan Palung dan NTFP-EP Indonesia.

Petrus Kanisius-Yayasan PalungTulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2019/08/14/berkolaborasi-adakan-training-of-trainer-awali-potensi-hhbk-di-12-desa

Ini Informasi Yayasan Palung

Klik link untuk melihat lebih lengkap : http://savegporangutans.org/news/newsletters

Klik link untuk melihat lebih lengkap : https://gpocp.teemill.com

Yayasan Palung Bersama Dekranasda dan Disperindag Gelar Pelatihan Anyaman Pakis Resam

BIMTEK KERAJINAN ANYAMAN RESAM
Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id 

Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) dan Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) Kabupaten Kayong Utara yang diinisiasi oleh Tim Program Sustainable Livelihood Yayasan Palung mengadakan pelatihan anyaman pakis resam dalam rangka pembinaan dan pengembangan produk pengrajin lokal yang digelar di galeri Dekranasda, Minggu (21/07/2019).

Kerjasama Yayasan Palung bersama kelompok pengrajin dan Dekranasda Kabupaten Kayong Utara dimulai sejak tahun 2012 silam.

Beberapa kesepakatan yang dibangun dalam kerjasama tersebut diantaranya Dekranasda memberikan pembinaan melalui pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas pengrajin dan pengembangan produk kerajinan, mempromosikan lewat event festival dan membeli produk pengrajin.

Kerjasama ini adalah bentuk dukungan konkrit Dekranasda Kayong Utara kepada kelompok pengrajin yang didampingi oleh Yayasan Palung.

Baca: Berhenti Lakukan Illegal Logging, Kelompok Tani Jalin Kerjasama dengan Dinas Pertanian

Peserta yang hadir pada kegiatan tersebut berjumlah 18 orang dari pengrajin Desa Pemangkat satu orang, pengrajin Desa Penjalaan tiga orang, pengrajin Desa Sutra dua orang, kelompok pengrajin IDA CRAFT lima orang, kelompok pengrajin muda resam lima orang dan dari Yayasan Palung dua orang.

Selaku Ketua Dekranasda Kabupaten Kayong Utara, Julianti Effendy Ahmad, menyampaikan tujuan dari pelatihan ini yaitu untuk pendapatan penghasilan ekonomi masyarakat pengrajin yang ada di Kabupaten Kayong Utara.

Tujuan dari Dekranasda sendiri yaitu meningkatkan kapasitas pengrajin dan meningkatkan hasil kerajinan agar memiliki nilai daya saing tinggi.

“Dekranasda KKU memiliki galeri yang berfungsi sebagai arena pemasaran dan memperkenalkan produk pengrajin, maka dari itu perlu dukungan dari Dinas instansi terkait dan lembaga non pemerintah,” ujarnya.

“Pemerintah Daerah khususnya Dekranasda dan Disperindag KKU sangat berterima kasih kepada Yayasan Palung yang telah konsen mendampingi, memberikan dukungan dan kontribusinya kepada masyarakat yang memiliki potensi sehingga bisa membantu pemerintah daerah membangun kesejahteraan masyarakat yang di KKU,” timpal Julianti.

Selaku Instruktur pelatihan Anyaman Resam, Abdi Nur, menyampaikan bahwa resam memiliki filosofi kekuatan, kebersamaan, dan kesehatan. Resam juga memiliki nilai kesehatan yaitu bisa mengatasi penyakit diare, sakit pinggaang dan lainnya.

“Karena menurut penelitian resam memiliki kandungan antioksidan, dan yang tak kalah pentingnya resam memiliki nilai ekonomi kepada masyarakat,” terang Abdi Nur.

Koordinator Dekranasda Kabupaten Kayong Utara, Nurlaila menyampaikan setelah pelatihan ini diharapkan kepada pengrajin resam ini akan membuat produk anyaman resam motif gelang sesuai bentuk yang sudah dibuat selama pelatihan ini karena pihaknya sudah membuat kesepakatan kerjasama selama satu tahun dengan Instruktur anyaman yaitu Abdi Nur untuk pemasaran produk anyaman resam sebab Abdi Nur dikatakannya sudah memiliki jaringan yang luas baik nasional maupun internasional.

Tim Sustainable Livelihood Yayasan Palung sebagai staf pendamping kelompok pengrajin HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu), Abdul Samad berharap dengan adanya pelatihan anyaman resam ini sampai proses kelanjutan kerjasama antara Dekranasda KKU dengan Instruktur Abdi Nur, bisa menjadi motivasi sehingga menjadi pendapatan penghasilan perekonomian masyarakat dan perajin.



Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Yayasan Palung Bersama Dekranasda dan Disperindag Gelar Pelatihan Anyaman Pakis Resam, https://pontianak.tribunnews.com/2019/08/02/yayasan-palung-bersama-dekranasda-dan-disperindag-gelar-pelatihan-anyaman-pakis-resam.

Yayasan Palung Tingkatkan Potensi Desa, Berbagai Produk Sudah Dipasarkan

KUPS Desa binaan Yayasan Palung saat mengikuti training produksi amplang

Yayasan Palung menggelar training peningkatan Kapasitas Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) sebagai salah satu langkah alternatif yang dilakukan oleh di wilayah-wilayaah Desa binaannya.
Seperti misalnya dalam training ini perwakilan KUPS belajar tentang produksi keripik pisang, keripik ubi, keripik keladi, amplang, manajemen usaha, keuangan, pengemasan serta pemasaran.

Setidaknya saat ini ada 15 orang anggota yang tergabung dalam kelompok-kelompok usaha KUPS yang tersebar di 5 Desa hutan binaan Yayasan Palung. Ada pun jenis usaha yang mereka geluti adalah makanan lokal seperti keripik pisang, keripik singkong dan amplang.

Hingga saat ini, produk-produk hasil kreasi mereka telah dipasarkan di beberapa tempat seperti rumah ke rumah dan pasar lokal.

Yayasan Palung telah bekerja di beberapa Desa di Kecamatan Simpang Hilir seperti di Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar.


Baca Selengkapnya untuk informasi ini di : https://pontianak.tribunnews.com/2019/08/05/yayasan-palung-tingkatkan-potensi-desa-berbagai-produk-sudah-dipasarkan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ini Alasan Orangutan Selalu Berpindah Sarang Setiap Harinya

Orangutan di tipe sarang A, saat beristirahat di hutan hujan Gunung Palung Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Orangutan tidak seperti burung atau pun binatang lain yang bersarang dan selalu menetap di sarang-sarang mereka. Orangutan hampir dipastikan selalu berpindah sarang setiap harinya.

Apa yang menyebabkan orangutan selalu berpindah sarang setiap harinya?. Ada beberapa alasan yang mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Satu di antaranya mungkin karena DNA orangutan mendekati DNA manusia sehingga memiliki tingkat kecerdasan maka orangutan ingin selalu higienis.

Ada rasa jijik (tidak ingin sarangnya kotor) mungkin itu kata yang tepat untuk dikatakakan maka ia (orangutan) selalu berpindah sarang setiap harinya (orangutan ingin selalu bersih).

Selain itu, orangutan dikenal sebagai primata yang selalu berpindah-pindah (tidak berdiam di satu tempat). Orangutan selalu menjelajah hutan/berpindah-pindah dari wilayah satu ke wilayah lainnya.

Selanjutnya, orangutan selalu mencari tempat yang selalu dekat dengan pakan (sumber makanan) mereka, dengan demikian mereka akan mendiami wilayah tersebut hingga beberapa hari karena selain sebagai sumber tetapi juga cadangan makanan.

Dengan kata lain, daya jelajah orangutan 10 hingga 20 kilometer setiap harinya sehingga waktu makan di pagi hari dan siang hari dipastikan di wilayah yang berbeda.

Biasanya orangutan jantan atau pun betina selalu menjelajahi hutan dari pohon satu ke pohon lainnya hanya untuk mencari sumber makanan.

Biasanya juga, apabila orangutan jantan menjelajahi hutan satu dari banyak tujuan utamanya mencari makan juga adalah mencari pasangan (mencari orangutan betina) apabila dimusim kawin apa lagi ketika musim buah raya (musim buah melimpah).

Fakta lainnya, orangutan merupakan satwa yang sangat dilindungi dan memiliki peranan penting untuk keberlanjutan nafas semua makhluk hidup dan orangutan juga dikenal sebagai penyebar biji (petani hutan).

Dikhawatirkan apabila jumlah populasi orangutan semakin berkurang maka akan sangat berdampak pada semakin sulitnya tunas-tunas baru pepohonan untuk tumbuh.

Orangutan selain hidup bersih/higienis, ia juga sangat berperan penting bagi makhluk lainnya. Alasanya adalah karena orangutan disebut sebagai spesies payung.

Disebut spesies payung karena apabila orangutan punah maka akan berdampak pula kepada makhluk lainnya (jika orangutan punah maka makhluk lainnya akan mengikuti/punah pula).

Demikian juga sebaliknya, apabila semua makhluk bisa saling harmoni, maka semua bisa abadi selamanya.

Dengan kata lain semua makhluk hidup sangat membutuhkan/memerlukan hutan sebagai sumber dari segalanya agar berlanjut hingga selamanya.

Hilangnya hutan dan orangutan di habitatnya sedikit banyak berdampak kepada tatanan kehidupan manusia. Hilangnya sebagian luasan tutupan hutan akan berdampak kepada tersedianya pakan orangutan, atau pun hilangnya habitat mereka untuk berkembang biak.

Selain itu juga, hilangnya akan berdampak kepada lingkungan lainnya (bencana alam). Hilangnya luasan tutupan hutan akan bermuara kepada sulitnya mendapatkan sumber air bersih, banjir atau pun tanah longsor.

Orangutan perlu hutan, hutan juga perlu orangutan. Demikian juga makhluk lainnya tidak terkecuali manusia sangat memerlukan hutan dan orangutan agar nafas boleh berlanjut.

Apakah kita masih boleh melihat hutan bisa tumbuh dan orangutan masih boleh menyemai biji-bijian hutan?

Jika ya, mari kita jaga dan lindungi mereka.

Semua nafas semua makhluk hidup di muka bumi ini sesungguhnya tergantung bagaimana tugas dari kita semua apakah bisa hidup selalu berdampingan dan bijaksana ataukah semakin serakah dengan sesama kita berupa hutan dan orangutan.

Sebagai harapan, bolehkah kita selamatkan mereka, sebelum mereka tinggal cerita. Lestarikan mereka (hutan dan orangutan) agar  makhluk boleh berlanjut hingga nanti. Bukankah kita semua yang mendiami bumi ini dititahkan untuk selalu hidup berdampingan dan harmoni hingga lestari selamanya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5d3aa1300d823002c35d23e2/mengapa-orangutan-selalu-berpindah-sarang-setiap-harinya?page=all

Petrus Kanisius-Yayasan Palung 

BTNGP Raih Juara 3 Peserta Terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata di Bali

(BTNGP)/TANAGUPA atas raihan sebagai juara 3 peserta terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA) yang berlangsung di Bali pada 19-21 Juli 2019. Foto dok : BTNGP dan YP

Ucapan selamat kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP)/TANAGUPA atas raihan sebagai juara 3 peserta terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA) yang berlangsung di Bali pada 19-21 Juli 2019, kemarin.

Pada kesempatan tersebut, BTNGP bersama Yayasan ASRI ikut ambil bagian pada pameran yang berlangsung selama 3 hari itu.

Yayasan Palung juga pada kesempatan tersebut menitipkan beberapa produk hasil hutan bukan kayu seperti madu, tas, gelang resam kepada teman-teman dari TNGP untuk dipamerkan di Stand TNGP. Boneka Si Pongo pun ikut ambil bagian pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA).

Boneka Si Pongo dan beberapa tas, produk madu hutan dan gelang resam yang di pajang di Stand BTNGP saat Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam di Bali. Foto dok : BTNGP dan YP

TNGP  mengajak kita semua untuk berkenalan lebih dekat.  Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) merupakan kawasan pelestarian alam yang berada di Kalimantan Barat http://tngunungpalung.org/letak-luas .

Seperti dikatakan oleh bapak Bambang Hari Trimarsito, selaku Kepala SPTN 1 Sukadana, mengatakan; Kenali! Lihat! dan Kalian akan mencintainya.

Sebagai informasi, Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA) merupakan sarana untuk memperkenalkan secara lebih luas lagi dan mempromosikan  kepada masyarakat Indonesia dan dunia mengenai wisata konservasi yang ada di Indonesia. Ditengah homogenitas obyek wisata yang ditawarkan Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam Indonesia justru menyajikan obyek wisata unik, menantang, mengedukasi dan memberikan pengalaman yang berbeda tanpa meninggalkan konsep pemanfaatan taman nasional sebagai pusat wisata konservasi alam. 

Untuk melihat foto lebih banyak :

Sekali lagi, selamat kepada TNGP atas raihan sebagai peserta terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA). Semoga TNGP semakin baik dan semakin dikenal.

Petrus Kanisius -Yayasan Palung

Banyak Cara yang Bisa Dilakukan untuk Bijak Terhadap Sampah

Mengolah Botol plastik menjadi barang-barang yang bermanfaat (membuat tempat pensil, lampion dan planter dari botol bekas). Foto dok. Mayi/Yayasan Palung

Selama 2 hari (15-16 Juli 2019) kemarin, Tim PPL Yayasan Palung menjalankan kegiatan lecturing (ceramah lingkungan) di SMA Negeri 3 Simpang Hilir. Hari pertama pukul 10.00-12.00 WIB, kegiatan dimulai dengan penyampaian materi terlebih dahulu berjudul Bijak Terhadap Sampah.

Kegiatan dibuka oleh Bapak Rahmad mewakili pihak dari SMAN 3 Simpang HIlir. Selanjutnya Fitri Melyana, penerima BOCS memberikan game (permainan) Sugesti dan dilanjutkan oleh Riduwan dengan memberikan game Cermin. Dua permainan ini dimaksudkan untuk meningkatkan konsentrasi peserta. Peserta amat antusias dalam mengikuti permainan, dan ruangan dipenuhi oleh tawa siswa. Seusai permainan, Mariamah Achmad memberikan materi mulai dari pengenalan apa itu sampah, asal sampah, dampak, dan solusi mengatasi sampah.

Materi tersebut berkenaan dengan isu-isu terkini mengenai lingkungan, yang menjadi trending topic dunia internasional, seperti berita dimana perut paus sperma penuh dengan sampah. Peserta aktif dalam menjawab pertanyaan selingan yang berguna untuk mengukur wawasan mereka mengenai permasalahan di sekitarnya yang berkaitan dengan sampah.

Dari 50 siswa, 7 diantaranya mendapatkan hadiah berupa buku dan botol karena dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan benar. Selesai penyampaian materi, peserta diberikan pengarahan untuk kegiatan praktek reuse botol kemasan sekali pakai esok harinya, yaitu siswa diminta membawa botol bekas berbahan plastik (2 buah berukuran 600 ml, dan 1 buah berukuran 1500 ml), 12 buah tutup botol, resleting, jarum, benang, gunting, cutter, dan pelubang kertas. Bahan dan alat lainnya disediakan oleh Yayasan Palung.

Hari kedua, pada pukul 09.00-12.00 WIB, Peserta amat antusias dalam melakukan Praktek Reuse yang meliputi pembuatan tempat pensil, lampion dan planter dari botol bekas. Sebelum praktek dilakukan, 2 penerima BOCS yaitu Mega Oktavia Gunawan memberikan game Bis dan Reni Riasari memberikan game Tepuk Filipina, melakukan permainan untuk membuat suasana gembira. Peserta bersemangat untuk memulai kegiatan, ruangan dipenuhi oleh tawa setelah permainan selesai.

Kegiatan dimulai oleh Mariamah Achmad dengan melakukan praktek dan  mencontohkan cara membuat tempat pensil. Sambil memberikan prosedur pembuatan tempat pensil, anggota tim lainnya ikut membantu peserta yang merasa kesulitan, serta memberikan tips dan trik untuk pemotongan botol, melubangi botol dengan alat pelubang kertas, dan style menjahit resleting pada botol baik secara horizontal maupun vertikal.

Tempat pensil, lampion dan planter dari botol bekas. Foto dok : Mayi/Yayasan Palung

Selanjutnya, praktek dilakukan untuk membuat planter, mengutamakan kreativitas agar botol bekas tersebut dibuat semenarik mungkin dan fungsional sebagai wadah tanaman. Yang disarankan akan lebih baik jika pada bagian bawah botol dapat menampung air sehingga jika tidak rutin menyiram setiap hari tanaman tidak mengering. Terakhir, pembuatan lampion. Lampion ini dibuat dengan 10 tutup botol sebagai lingkaran, dan 2 tutup botol sebagai pengapit secara vertikal. Semua siswa berhasil membuat wadah pensil dan hampir setengah dari siswa juga berhasil membuat lampion dan planter.

Dari 37 siswa yang mengikuti kegiatan ini, 5 siswa diantaranya mendapatkan hadiah untuk Kategori Terinovatif, produk yang dihasilkan tidak biasa dan lain dari siswa lainnya, dan Kategori Produk Terbanyak diberikan karena ketiga produk yang dihasilkan dapat dikerjakan dengan baik. Evaluasi dari kegiatan ini adalah kesiapan peserta masih kurang untuk menyediakan alat dan bahan praktek dikarenakan kurang menangkap arahan yang disampaikan oleh tim PPL pada hari sebelumnya, dan kurangnya kesiapan beberapa anggota staf untuk membantu peserta karena belum mendapat pelatihan dalam pembuatan produk. Kegiatan ini adalah bagian dari pembinaan sekolah Adiwiyata Kayong Utara sehingga juga dihadiri oleh Bapak Hadi dari Dinas PerKimLH Kayong Utara. Kegiatan ditutup oleh Bapak Mugi selaku Ketua Tim Adiwiyata SMAN 3 Simpang Hilir.

Mariamah Achmad-Yayasan Palung

Dua Ilmuan Luar Negeri Berikan Kuliah Umum dan Pelatihan di UNAS

Cheryl Knott , Ph.D saat memberikan kuliah umum di UNAS bersama dengan Andrew J. Marshall, Ph.D , pekan lalu di Universitas Nasional (UNAS) . Foto dok : Wahyu Susanto/YP/GPOCP

Dua ilmuan luar negeri berkesempatan untuk memberikan kuliah umum dan pelatihan di Universitas Nasional (UNAS) tentang konservasi, beberapa waktu lalu.

Mereka adalah Cheryl Knott , Ph.D dan Andrew J. Marshall, Ph.D. Dua ilmuan ini sudah tidak asing di Taman Nasional Gunung Palung karena aktivitas penelitian mereka.

Selaku Direktur Eksekutif GPOCP Yayasan Palung (Gunung Palung Orangutan Conservation Program)/ Gunung Palung Orangutan Project, Cheryl Knott mengatakan; “Saya merasa terhormat untuk berbicara di UNAS (Universitas Nasional, Indonesia, di Jakarta) 9-11 Juli 2019, minggu lalu”.

Pada kesempatan tersebut, Cheryl Knott, Ph.D yang juga dosen dari Universitas Boston, USA dan Andrew J. Marshall, Ph.D selaku anggota dewan pengawas GPOCP dan sebagai Direktur  One Forest Project dan dosen di Universitas Michigan, USA berkesempatan memberikan materi kuliah umum dan pelatihan kepada Mahasiswa Pascasarjana, Fakultas Biologi, Universitas Nasional.

Sedangkan Andrew J. Marshall membahas tentang ekologi vertebrata di Taman Nasional Gunung Palung ketika memberikan kuliah umum di UNAS pekan lalu. Foto dok : Wahyu Susanto/YP/GPOCP

Pada kesempatan memberikan kuliah umum (9/7/2019) kemarin, Cheryl Knott mengupas (membahas) tentang perkembangan orangutan remaja di Taman Nasional Gunung Palung. Sedangkan Andrew J. Marshall membahas tentang ekologi vertebrata di Taman Nasional Gunung Palung.

“Kami sangat senang melihat begitu banyak rekan-rekan di Indonesia yang selama ini telah banyak mendukung kami”, ujar Cheryl.

Pada hari kedua dan ketiga  (10-11 Juli 2019) dilanjutkan dengan pelatihan yang diberikan oleh Andrew J. Marshall kepada mahasiswa Pascasarjana Biologi UNAS tentang Statistik “R”.

Statistik R merupakan analisis yang sudah umum digunakan atau dipakai oleh peneliti dunia selain metode, analisis penelitiannya. “Statistik R  akan  sangat membantu  mahasiswa dalam menganalisis hasil penelitian mereka”, ujar Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung (GPOCP).

Peserta yang mengikuti Kuliah umum dan Pelatihan. Foto dok. Wahyu Susanto/YP/GPOCP

Lebih lanjut Wahyu Susanto mengatakan, “Terselenggaranya kuliah umum dan Pelatihan di UNAS tersebut juga berkat adanya kerjasama antara Univertas Nasional (UNAS),  Universitas Boston dan Universitas Michigan sebagai kontribusi peneliti asing”.

Pada kesempatan tersebut pula Endro Setiawan dari (BTNGP) mendapatkan beasiswa pada program Pascasarjana di Program Biologi Universitas Nasional.

Endro Setiawan, Cheryl Knott dan Andrew J. Marshall. Foto dok : Wahyu Susanto/ YP/GPOCP

Setidaknya 50 orang peserta mengikuti kuliah umum dan 30 orang mengikuti pelatihan Statistik R.

Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang mengikuti kuliah dan pelatihan tersebut.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Info Grafis Capaian Program Yayasan Palung

Dokumen Info Grafis Capaian Program Yayasan Palung. Foto Dok : Apolosius Tms/YP