
Pada awal bulan Maret lalu, Dinas Perumahan dan Pemukiman Lingkungan Hidup (PERKIM-LH) Kabupaten Kayong Utara (KKU) berkunjung ke komunitas masyarakat Kelompok Tani Meteor Garden. Mereka datang untuk menanyakan kepada komunitas tentang kebutuhan-kebutuhan apa-apa saja dalam pertanian organik yang diajukan didalam proposal PERKIM-LH untuk komunitas.
Ranti Naruri, Manager Program Mata Pencaharian Berkelanjutan Yayasan Palung (YP), mengatakan, Saat ini dalam proses pengajuan dalam proposal, adapun kebutuhan yang diajukan antara lain adalah bantuan dalam bentuk bibit holtikultura.
Beberapa bibit dan keperluan yang nantinya dibutuhkan oleh para petani antara lain seperti Kacang panjang, terong Ratih putih 1 boks, cabai rawit merek lentera 1 boks, timun herkolis, 1 boks sawi putih, 1 boks gambas 1 boks waring 6 gulung, pupuk mutiara biru 50 kg, racun hama regen 5 liter, pupuk kcl 50 kg, pupuk mkp10 kg dan kantong 2 kg , kata Ranti.
Lebih lanjut Ranti mengatakan, Rencananya bibit-bibit tersebut akan ditanam di lahan milik petani, Kelompok tani Meteor Garden.
Kelompok Tani Meteor Garden merupakan kelompok tani binaan Program Suistainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung yang ada di Desa Pampang Harapan. Sedangkan Dinas PERKIMLH Kabupaten Kayong Utara (KKU) merupakan Mitra kerja Yayasan Palung.
Pit-YP
Orangutan merupakan pemakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian) dan pemakan buah-buahan hutan (frugivora).
Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari 60% buah-buahan, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap). Tumbuhan dominan yang buahnya dikonsumsi oleh orangutan adalah dari family Sapindaceae (rambutan, kedondong, matoa dan langsat), Lauraceae (alpukat, dan medang), Fagaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae (jenis jambu-jambuan), Moraceae (ficus/kayu ara) dan lain-lainnya. Kesemua buah-buahan hutan itulah yang paling digemari oleh orangutan dan satwa lainnya.
Staf Botanis dan Koordinator Survei Yayasan Palung, Andre Ronaldo mengatakan, ada 9 jenis tumbuhan yang biasa dimakan oleh orangutan.
“Adapun 9 jenis tumbuhan yang menjadi makanan/pakan orangutan, diantaranya adalah Kubing (Artocarpus fulvicortex), Kayu Malam (Diospyros diepenhorstii), Punak (Tetramerista glabra), Ampas Tebu (Gironniera nervosa), Sengkuang (Dracontomelon dao), Keruing (Dipterocarpus sublamellatus), Jantak (Willugbheia angustifolia), Tampui (Baccaurea edulis), dan Teratung (Durio oxleyanus)”, kata Andre.
Kelimpahan dan ketersediaan pohon pakan orangutan di hutan menjadi penanda lingkungan di sekitar masih baik sebagai pendukung keberlanjutan nafas hidup orangutan dan hutan. Seperti diketahui, orangutan merupakan petani hutan yang berperan sebagai penyebar biji. Berpuluh-puluh kilometer si petani ini menyebar biji-bijian/buah-buah hutan (sebagai petani hutan) dilakukan setiap hari.
Sebagai informasi, orangutan merupakan satwa yang sangat dilindungi karena keberadaannya saat ini dari tahun ke tahun jumlahnya semakin menurun akibat pembukaan lahan dan hutan berskala besar.
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) atau Bornean Orangutan masuk dalam daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan status sangat terancam punah (critically endangered).
Berharap semoga tumbuhan dan buah-buah hutan tetap ada di hutan. Karena, semakin melimpah buah dan tumbuhan di hutan maka akan semakin membantu orangutan untuk terus berkembang biak di alam liar dan bisa selalu menjadi petani hutan hingga selamanya.
Untuk melihat foto 9 jenis tumbuhan yang menjadi pakan (makanan) orangutan :
Penulis : Petrus Kanisius
Editor : Dwi Yandhi Febriyanti
Yayasan Palung
Tim Perlindungan dan Penyelamatan Satwa (PPS) Program Hutan Desa Yayasan Palung melakukan survei lokasi di 5 Hutan Desa yang mengajukan proposal dan lolos verifikasi administrasi dari BPSKL (Balai Perhutanan Sosial Wilayah Kalimantan), Senin hingga Rabu (1-3/3/2021) lalu.
Survei tersebut dilakukan untuk memastikan lokasi rencana penanaman bibit pohon dan pemeliharaan ternak yang diajukan oleh 5 kelompok di 5 Hutan Desa di Kecamatan Simpang Hilir yang merupakan binaan Yayasan Palung.
Seperti diketahui, 5 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di 5 Hutan Desa di Kecamatan Simpang Hilir mengajukan proposal ke BPSKL melalui program Pembangunan Perhutanan Sosial Nasional (Bang Pesona).
Beberapa proposal yang diajukan oleh KUPS di 5 Hutan Desa di Kecamatan Simpang Hilir antara lain seperti;
Hendri Gunawan, sebagai Pendamping dari Program Hutan Desa Yayasan Palung mengatakan, Sampai saat ini, proposal yang diajukan sedang dalam proses verifikasi teknis, kita berharap semoga saja ajuan proposal ini diterima.
Rencananya, jika proposal ini diterima, bibit tanaman akan ditanam di lokasi hutan desa, demikian juga halnya dengan ternak, kata pria yang biasa disapa Hendri tersebut. (Pit-YP)
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengajak orang peduli dengan lingkungan. Seperti Puluhan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) bersama melakukan kampanye lingkungan lewat mural di Pantai Cilincing, Desa Sukabaru, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Minggu (8/3/2021), kemarin.
RK-TAJAM, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Celincing Bersatu bersama beberapa teman yang peduli dengan persoalan lingkungan menggambar mural yang bertema lingkungan sekaligus membuat pesan ajakan untuk peduli dengan persoalan lingkungan (ekosistem pantai) satu diantaranya adalah ajakan untuk kebersihan pantai.
Beberapa gambar cantik dan menarik pun tercipta dari kreasi mural yang mereka gambar seperti tumbuhan mangrove, ikan, ubur-ubur dan dugong. Tidak hanya gambar, tetapi mereka juga menuliskan pesan ajakan untuk peduli dengan lingkungan, dengan menuliskan tagar (#) #SAVEDUGONGKETAPANG #YomKiteJagePesisir #SAVESEASORE .
Menariknya lagi, pada kegiatan tersebut hadir pula Galih Hakim Antarnusa, seorang peneliti dugong sekaligus pemerhati pantai, Galih sapaan akrabnya berkesempatan membuat mural tentang dugong.
“Kegiatan seperti ini menarik karena dengan kedekatan intens dengan masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai mitra menurut saya sangat baik. Ditambah pemberdayaan remaja melalui relawan konservasi sangat membantu terbukanya mindset masyarakat bahwa masih banyak dari kita yang perduli dengan mereka”, kata Galih.
Saran saya, buat kegiatan kerjasama dengan masyarakat sebagai mitra, dengan melakukan kegiatan restorasi dan semacamnya. Pendampingan berkala dan intens terhadap masyarakat juga sangat perlu diperhatikan agar masyarakat tidak memiliki pemikiran bahwa kita hanya memanfaatkan mereka, namun kita buat masyarakat berfikir bahwa kita perduli dengan mereka, ujarnya lagi.
Sebelumnya tulisan ini dimuat di : https://monga.id/2021/03/kampanye-lingkungan-lewat-mural-di-pantai-cilincing
Tulisan ini juga dimuat di : https://ruai.tv/ketapang/peduli-duyung-di-perairan-ketapang-relawan-bikin-mural-di-pantai
Penulis : Pit-YP
Ia tumbuh di sekitar kita, datang dari tempat yang jauh kemudian mampu beradaptasi dan berkembang melebihi jenis asli, Kata Endro Setiawan. Lalu tumbuhan apakah itu?
Endro Setiawan sebagai pemateri mengajak Relawan Muda Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) di Kantor Bentangor Yayasan Palung Mengenal Tumbuhan Invasif Alien Spesies, pada Jumat hingga Sabtu (19-20/2/ 2021) lalu.
Dalam kegiatan yang bertajuk Capacity Building (Peningkatan Kapasitas) tentang Survei Invasif Alien Spesies Di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat tersebut pemateri mengajak para relawan mengenal apa itu tumbuhan Invasif Alien Spesies.
Invasif Alien Spesies (IAS) merupakan spesies pendatang di suatu wilayah yang hidup dan berkembang biak di wilayah tersebut dan menjadi ancaman bagi biodiversitas, sosial ekonomi, maupun kesehatan pada tingkat ekosistem, individu, maupun genetik. Berbeda dengan spesies asli yang secara alami hidup di suatu wilayah, spesies pendatang tiba di suatu wilayah dengan campur tangan manusia, baik disengaja atau tidak.
Dalam penyampaian materinya, Endro Setiawan yang juga Staf TNGP yang sedang Karyasiswa pada Prodi Biologi Sekolah Pascasarjana Unas, juga mengatakan, Invasif alien species (IAS) merupakan ancaman serius bagi keanekaragaman hayati kita, mengenalkan sejak dini kepada generasi muda merupakan salah satu upaya dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati.
Endro Sapaan akrabnya pun sembari berharap, dengan adanya pelatihan tersebut, barangkali ada yang berminat mempelajarinya beserta penanggulangannya.
Manager Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Dwi Yandhi Febriyanti, mengatakan, tumbuhan invasif alien spesies merupakan ancaman ekosistem yang perlahan namun pasti akan merusak suatu ekosistem dari dalam ekosistem itu sendiri.
“Pengetahuan tentang invasif alien spesies terutama Bellucia pentamera (jambu monyet atau biasa juga disebut jambu Prancis) bagi teman-teman relawan diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat jika menemukan invasif alien spesies ini bisa langsung memusnahkan sebelum lingkungan sekitar kita dikuasai oleh spesies ini”, katanya.
Sebagai informasi, beberapa tumbuhan invasif alien spesies selain jambu monyet, ada juga tumbuhan lainnya seperti ecen gondok dan apu-apu (apung).
Pada saat pelatihan, peserta yang berjumlah 24 orang dari relawan muda Yayasan Palung (Relawan TAJAM dan REBONK) selain materi, mereka juga diajak untuk melakukan survei sebaran jambu monyet yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung dengan menggunakan aplikasi avenza maps.
Menariknya lagi, selain materi tentang tumbuhan invasif alien spesies, para relawan muda mendapatkan sharing informasi tentang Dugong dari Galih Antar Nusa. Mas Galih (mahasiswa Biologi Pascasarjana Unas) bercerita tentang betapa pentingnya kita untuk melakukan konservasi di Area laut penelitian misalnya Dugong yang ia teliti di Pulau Cempedak, Kendawangan. Bagi Ekosistem laut, dugong sangat penting, kata Galih.
Sebelumnya tulisan ini dimuat di :
Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Hai sobat konservasi, apakah kalian tahu bahwa di dunia ada 8 jenis trenggiling? 4 spesies hidup di Afrika dan 4 spesies lainnya hidup di Asia. Trenggiling tersebut kini hidupnya makin terancam lho, salah satunya adalah karena perburuan mereka secara illegal. Apakah kalian juga tahu bahwa trenggiling yang hidup di hutan-hutan Indonesia termasuk hutan di Kalimantan, khususnya Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara juga tak luput dari ancaman kepunahan. Bahkan, trenggiling yang ada di Indonesia merupakan satu dari dua spesies trenggiling yang kritis terancam punah menurut daftar merah IUCN. Spesies kritis terancam punah lainnya adalah trenggiling Cina yang hampir punah pada pertengahan tahun 1990.
Trenggiling merupakan satu-satunya mamalia yang seluruh tubuhnya tertutup keratin. Sekitar 20% dari jumlah bobot tubuh mereka datang dari sisik. Sisik ini terbuat dari keratin, material serupa yang membentuk kuku kita. Meskipun demikian, masih banyak orang yang percaya bahwa sisik trenggiling bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit (coba saja kuku mu dijadikan bahan untuk obat). Walaupun sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa bagian tubuh dari trenggiling (apalagi kulitnya) memiliki kandungan untuk keperluan obat-obatan.
Komisi Keselamatan Spesies Pangolin IUCN pada tahun 2020 melansir bahwa seekor trenggiling diambil secara ilegal dari alam liar setiap lima menitnya. Hal ini membuat trenggiling menjadi mamalia liar yang paling sering dan banyak diperdagangkan di seluruh dunia. Ditambah lagi dengan lajunya kerusakan habitat tempat mereka berdiam, tidakkah kita merasa perlu melindungi mereka dari ancaman kepunahan?
Penjaga hutan ini telah bertahan ribuan tahun dari perubahan alam, tetapi sekarang mereka berada di ambang kepunahan karena hilangnya habitat dan perburuan ilegal. Lebih dari 1 juta trenggiling dibunuh secara brutal untuk perdagangan pasar gelap dalam 10 tahun terakhir. Setara dengan 11 trenggiling setiap jam (sumber : Tempo.Co)
Sebenarnya, konsumsi daging yang berasal dari hewan liar juga dapat meningkatkan resiko terpapar zoonosis meningkat. Antraks, Ebola, Sars, Flu Burung H5N1, dan Coronavirus (Covid-19) adalah contoh zoonosis yang telah dihadapi manusia di bumi, bahkan saat ini kita masih berjuang untuk melawan Covid-19. Satwa liar berpeluang menjadi inang dari Coronavirus-19 sebelum menjangkiti manusia, hal ini disinyalir menjadi faktor utama munculnya Covid-19. Mirip dengan SARS dan MERS-CoV, novel coronavirus atau 2019-nCoV diduga berasal dari kelelawar. Sel virus yang ada pada kelelawar tersebut diduga berpindah ke trenggiling dan akhirnya dimakan oleh manusia.
Pada masa pandemi ini, merupakan momentum yang baik bagi kita untuk mulai mengurangi konsumsi hewan liar, khususnya yang terancam punah dan dilindungi undang-undang seperti trenggiling. Juga marilah kita menjaga habitat asli mereka. Karena tidak mengganggu satwa liar dan tidak merusak habitat alaminya merupakan solusi yang lebih tepat untuk mencegah terjadinya wabah virus di masa mendatang. Selain mengurangi resiko terpapar zoonosis (penularan penyakit dari satwa ke manusia maupun sebaliknya) juga menghindarkan kita dari ancaman jeruji besi (penjara) akibat memburu atau mengkonsumsi dagingnya. Para peneliti di negeri China telah menetapkan bahwa Trenggiling adalah binatang liar pembawa virus yang berhubungan erat dengan Covid-19. Oleh karena itu, dengan mengurangi hingga menghentikan konsumsi satwa liar, anda sudah berkontribusi dalam mencegah kepunahan hewan tersebut dan mengurangi risiko penularan.
Penulis :Tim Animal and Habitat Protection Yayasan Palung

Yayasan Palung mengadakan serangkaian kegiatan di Objek Wisata Pantai Mutiara, Desa Gunung Sembilan, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Minggu (21/2/ 2021) lalu.
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN 2021) yang diperingati setiap tanggal 21 Februari 2021. Pada kegiatan tersebut Yayasan Palung bekerja sama dengan Desa Gunung Sembilan, Relawan REBONK, Sispala TAPAL, Pengelola Pantai Mutiara POKDARWIS Anak Kaki Gunung Sembilan dan masyarakat di sekitar pantai.
Adapun serangkaian kegiatan yang dilakukan antara lain adalah pemasangan plang tentang ajakan untuk peduli sampah dan kegiatan bakti sosial membersihkan sampah di sekitar pantai.
Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan oleh seluruh peserta kegiatan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan baik dari pihak Yayasan Palung, Kepala Desa dan juga Ketua POKDARWIS Pantai Mutiara.
Dalam sambutannya Kepala Desa Gunung Sembilan dan juga POKDARWIS mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berperan dalam kegiatan Hari Peduli Sampah Nasional tersebut. Pihak Desa dan POKDARWIS berharap dengan adanya kegiatan positif ini dapat memberikan motivasi kepada pengelola Pantai dan juga para pemilik warung sekitar Pantai agar dapat menjaga lingkungan dengan cara membuang sampah pada tempatnya dan juga tetap menjaga kebersihan.
Setelah upacara usai, kegiatan dilanjutkan dengan pemasangan plang tentang lama terurai sampah disebelah kanan dan kiri jalan masuk Pantai Mutiara. Kemudian ada beberapa plang lainnya yang berisi pesan; Jagalah Kebersihan, Buanglah Sampah pada Tempatnya, dan juga plang yang bertuliskan; Ayo!!!! Ke Pantai Mutiara.
Setelah pemasangan plang sampah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan Bakti Sosial yaitu melakukan aksi bersih-bersih sampah disekitar Pantai, alhasil dari kegiatan baksos tersebut sampah yang terkumpul hanya sedikit saja sekitar 3 kantong sampah. Hal ini membuktikan bahwa sampah yang ada di Pantai Mutiara masih terbilang sedikit jika dibandingkan dengan wisata lainnya. Setelah kegiatan Baksos selesai, semua peserta kegiatan istirahat sambil menikmati snack yang telah disediakan oleh Yayasan Palung dan juga Relawan REBONK.
Pesan dari kegiatan Hari Peduli Sampah Nasional ini adalah Indonesia saat ini merupakan penghasil sampah plastik terbesar nomor dua setelah Cina, jika perbuatan buruk ini akan terus dilakukan maka akan berdampak buruk bagi negara kita, misalnya seperti akan terjadi banjir, menyebabkan beberapa penyakit seperti diare dan juga demam berdarah.
Kita sebagai generasi muda seharusnya ikut berperan aktif dalam hal mengurangi terjadinya sampah. Misalnya seperti membawa botol minum bukan sekali pakai pada saat bepergian, mengurangi kantong plastik pada saat berbelanja dengan membawa tas kain, dan pada saat membeli es/jus di cafe tidak menggunakan plastik dan sedotan tetapi menggunakan gelas. Hal-hal kecil ini mungkin bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam mengurangi terjadinya sampah.
Semua kegiatan berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun dan diikuti 50 orang peserta.
Penulis : Riduwan-Yayasan Palung
Baca juga : http://ruai.tv/kayong-utara/bersih-bersih-pantai-di-hari-peduli-sampah-nasional
Kurang lebih selama satu jam, Ahmad Rizal, Asisten Manager Penelitian Yayasan Palung berkesempatan menyampaikan materi tentang “Orangutan: Manfaatnya bagi Manusia dan Hutan” kepada 15 Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM), Rabu (17/2) kemarin.
Dalam materinya, Rizal sapaan akrabnya menyampaikan; “Orangutan merupakan salah satu kera besar yang ada di Asia, lebih tepatnya di Indonesia. Selain saudaranya (kera lainnya) dunia adalah gorila, simpanse dan bonobo dari Afrika. Orangutan juga merupakan satwa masuk kategori sangat terancam punah.
Rizal menyebutkan bahwa ada tiga spesies orangutan yang ada di Indonesia; di Kalimantan yaitu Pongo pygmaeus dan yang di Sumatera yaitu Pongo abelii dan Pongo tapanuliensis.
Rizal juga menjelaskan, “perbedaan kera dan monyet. Perbedaannya adalah jika tak berekor itu disebut kera dan yang berekor monyet (kera tak berekor, monyet berekor). Orangutan termasuk dalam golongan kera besar, dan ada juga kera kecil seperti kelempiau atau owa. Sedangkan golongan monyet seperti lutung, kelasi, bekantan dan beruk”.
Selain itu Rizal juga menyebutkan ada perbedaan orangutan jantan dan bertina. Orangutan jantan memiiliki bantalan pipi, sedangkan orangutan betina tidak ada bantalan pipi.
Selanjutnya juga dalam presentasinya, Rizal menerangkan, “Apa fungsi manusia dan orangutan terhadap kelestarian hutan? Manusia berfungsi sebagai pelindung, penjaga, pelestari dan pemanfaat. Sedangkan orangutan sebagai pembangun hutan (penyemai, penabur biji-bijian yang tumbuh menjadi pohon). Selain itu, orangutan sebagai penjaga keseimbangan dan kesinambungan kehidupan di dalam hutan atau dikenal sebagai spesies payung”.
Ahmad Rizal juga mengajak RK-TAJAM untuk menjadi pemuda penyambung lidah Yayasan Palung dalam upaya perlindungan orangutan dan habitat, serta pelestarian lingkungan di Tanah Kayong.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di : http://ruai.tv/ketapang/ini-lho-beda-kera-dengan-monyet
(Pit-YP)

Walau di masa pandemi, Yayasan Palung tetap menyampaikan (melaksanakan) pendidikan lingkungan ke kampung-kampung. Saat berkegiatan, kami tetap mengutamakan protokol kesehatan. Kegiatan tersebut kami sampaikan tepat di kaki Palung (di dua dusun yaitu di Dusun Pangkalan Jihing dan Dusun Bayangan, Kecamatan Nanga Tayap), Selasa hingga Kamis (9-11/2/ 2021) kemarin.
Kegiatan yang bertajuk Kesling (kesehatan lingkungan) tersebut, Yayasan Palung (YP) tidak sendiri, Setiap kali berkegiatan pendidikan lingkungan di dua desa tersebut (dusun Jihing dan Bayangan) selalu bersama dengan Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI).
Tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung melaksanakan kegiatan ke sekolah-sekolah di dua desa itu. Sedangkan ASRI melaksanakan pelayanan kesehatan untuk masyarakat di Dusun Pangkalan Jihing yang letaknya tak jauh dari Kaki Taman Nasional Gunung Palung tersebut.
Pada hari pertama berkegiatan, Rabu (10/2), kami berkunjung ke SDN 20 Nanga Tayap, kami berkesempatan memberikan materi tentang Manfaat dan Fungsi Hutan. Materi tersebut kami sampaikan kepada siswa-siswi kelas 4-6 di sekolah itu. Dalam penyampaian materi terkait manfaat dan fungsi hutan yang disampaikan oleh Dwi Yandhi Febriyanti dari Yayasan Palung.
Kak Yandhi sapaan akrabnya yang juga merupakan Manager Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung dalam penyampaian materinya mengajak siswa-siswi mengenal apa-apa saja manfaat hutan dan fungsi hutan bagi kehidupan. Selain itu juga, Kak Yandhi bertanya apa-apa saja yang ada disekitar kita (didalam kelas) yang berasal dari pohon? Beberapa dari siswa-siswi pun menjawab; Kursi… meja… dan papan tulis. Kak Yandhi pun mengiayakan, beberapa barang/benda yang ada disekitar kita yang berasal dari pohon adalah meja, kursi, dan papan tulis. Selanjutnya Kak Yandhi menjelaskan manusia pun sangat tergantung pada manfaat pohon dan hutan, termasuk memperoleh oksigen secara gratis disediakan oleh hutan.
Pada sore harinya, kegiatan dilanjutkan dengan belajar sembari bermain, kembali siswa-siswi kelas IV-VI diajak untuk mengenal tumbuhan dan hewan yang ada di sekitar mereka. Kegiatan yang dipimpin oleh Haning Pertiwi, Petrus Kanisius, Simon Tampubolon dan Kak Yandhi dari Yayasan Palung tersebut, dalam istilah kerennya mereka diajak untuk mengidentifikasi tumbuhan/tanaman dan hewan.
Tidak sedikit tanaman yang berhasil mereka identifikasi seperti tanaman buah; manga, kelapa, rambutan, jambu dan lain-lainnya hingga tanaman hias seperti keladi pun berhasil mereka identifikasi. Sedangkan hewan yang berhasil mereka identifikasi adalah hewan ternak seperti ayam, kucing dan bebek.
Pada malam harinya, kami melakukan pemutaran film lingkungan yang disuguhkan kepada masyarakat sebagai media penyadartahuan. Dan teman-teman dari Yayasan ASRI melakukan pengobatan kepada masyarakat yang ada di dusun Pangkalan Jihing. Ada yang unik dari sistem pembayaran pengobatan yang dilakukan oleh Yayasan ASRI yaitu tidak dengan dibayar dengan uang tetapi dengan bibit pohon atau pun hasil kerajinan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti misalnya bakul dll.
Keesokan harinya, kamis (11/2), kegiatan kami lanjutkan di SD dan SMPN Satu Atap di dusun Bayangan. Kami terbagi menjadi dua tim, Kak Yandhi dan Haning Pertiwi menyampaikan materi tentang fungsi hutan dan manfaatnya di SDN 28 Nanga Tayap. Sedangkan di SMPN 7 Bayangan, Simon Tampubolon menyampaikan materi tentang Perubahan Iklim dan Dampaknya Bagi Makhluk Hidup.
Dalam penyampaian materi terkait perubahan iklim, Simon Tampubolon menjelaskan tentang dampak-dampak perubahan iklim yang terjadi pada tatanan kehidupan atau makhluk hidup. Dampak-dampak perubahan iklim yang sudah terjadi satu diantaranya seperti anomali cuaca (cuaca tidak menentu/cuaca sulit diprediksi).
Semua rangkaian kegiatan yang kami laksanakan tersebut berjalan dengan baik dan sesuai rencana.
Tulisan ini sebelumnya juga dimuat di : http://ruai.tv/tag/pendidikan-lingkungan
Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Senin pagi (15/2/ 2021), Kelompok Tani Rintis Betunas di Desa Riam Berasap Jaya, Kabupaten Kayong Utara membuat pupuk kompos padat.
Adapun bahan-bahan yang disiapkan untuk membuat pupuk kompos padat adalah sebagai berikut :
Cara pembuatan; Semua bahan-bahan dicampurkan menjadi satu dan diaduk sampai rata. Selanjutnya pupuk kompos padat dibungkus atau ditutup dengan terpal (dipermentasi) selama kurang lebih dua minggu baru bisa digunakan sebagai pupuk tanaman.
Nantinya pupuk tersebut digunakan untuk memupuk tanaman jagung yang rencana akan ditanam dilahan 1 hektare yang telah Kelompok Tani Rintis Betunas siapkan.
Seperti diketahui, Kelompok Tani Rintis Betunas di Jemik Desa Riam Berasap Jaya, Kabupaten Kayong Utara merupakan kelompok binaan Program Suistainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung.
Kelompok Tani Rintis Betunas dibentuk pada bulan Oktober tahun lalu, mereka beranggotakan 10 orang.
Penulis : Asbandi-Yayasan Palung