Mengintip Relawan RebonK Belajar Silsilah Tumbuhan Secara Langsung di Hutan

Penjelasan dari Edward Tang kepada relawan saat praktek identifikasi daun. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Penjelasan dari Edward Tang kepada relawan saat praktek identifikasi daun. Foto dok. Yayasan Palung

Antusiasme dari Relawan RebonK tampak terlihat ketika mereka belajar tentang silsilah tumbuhan saat mereka mengikuti kegiatan penguatan kapasitas sekaligus pelantikan mereka, pada  tanggal 5-6 November 2016  pekan lalu. Kegiatan ini dilaksankan di Kantor Yayasan Palung di Desa Pampang Harapan, Kabupaten kayong Utara.

Sebelum dilantik, para Relawan Bentangor Untuk Konservasi (Relawan RebonK) diajak untuk belajar bersama tentang beberapa materi, diantaranya tentang keorganisasian, dasar-dasar jurnalistik lingkungan dan belajar tentang Taksonomi tumbuhan yang tidak lain adalah silsilah tumbuhan.

Dalam pemberian materi taksonomi tumbuhan tersebut, sebagai pemateri Edward Tang dari Yayasan Palung menjelaskan tentang beberapa hal terkait taksonomi tumbuhan. Salah satunya mereka (Relawan RebonK) setelah diberikan materi, selanjutnya mereka diajak untuk praktek mengidentifikasi ciri-ciri fisik daun dan bentuk daun serta penamaan daun di sekitar hutan yang ada di belakang kantor Yayasan Palung.

Untuk lebih lanjutnya, dapat dilihat selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/mengintip-relawan-rebonk-belajar-silsilah-tumbuhan-secara-langsung-di-hutan_5821a976ee9673bb1867436a

Orangutan Sangat Terancam Punah, Apa yang Harus Dilakukan?


Orangutan remaja yang mendiami hutan hujan di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung.JPG

Orangutan remaja yang mendiami hutan hujan di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Sangat terancam punah dan saat ini membutuhkan perhatian dari semua. Setidaknya itu menjadi sebuah pernyataan tentang keberadaan orangutan saat ini di habitatnya di hutan Kalimantan dan Sumatera. Apa yang bisa dilakukan?.

status-orangutan-kalimantan-masuk-daftar-merah-atau-red-list-foto-data-dok-iucn-2016

Status Orangutan Kalimantan masuk Daftar merah atau red list. Foto data dok. IUCN 2016.

Sangat terancam punah atau dengan kata lain masuk dalam daftar merah (Red List), tentu hal ini terkait keberadaan dan status orangutan di alam ini, tempat, rumah dan hidup mereka serta apakah masih boleh berlanjut dan dengan cara apa yang bisa dilakukan. Belum lagi terkait keberadaan hutan yang semakin berkurang menjelang terkikis habis. Keberadaan populasi orangutan yang mendiami kedua pulau yang menjadi kantong sebaran dari primata semakin hari sangat terancam punah.

Berbagai upaya sudah semestinya dilakukan untuk mengatasi keterancaman orangutan, salah satunya dengan melakukan berbagai kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat.

Untuk lebih lanjut membaca artikel ini, silakan  klik dan lihat  selengkapnya  di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/orangutan-sangat-terancam-punah-apa-yang-harus-dilakukan_5822e879cb23bd1023027133

Ini Tipe dan Ragamnya Sarang Orangutan di Hutan

orangutan-di-tipe-sarang-a-saat-beristirahat-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Orangutan di tipe sarang A, saat beristirahat di hutan hujan Gunung Palung Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Sama halnya dengan manusia, orangutan juga memiliki rumah. Namun, rumah dari orangutan disebut sarang. Manusia juga memiliki model dan tipe rumah, orangutan juga memiliki tipe-tipe (jenis posisi) yang disebut sarang sebagai tempat hidup, berlindung, makan, minum dan beristirahat mereka di hutan. Satwa endemik ini dikenal sebagai makhluk hidup Aboreal (satwa yang menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya di atas pohon untuk makan, minum, istirahat dan tidur di sarang) dan orangutan membuat sarang setiap harinya pada saat sore ataupun malam ketika mereka tidur. Adapun sarang dari orangutan yang wilayah hidupnya di Indonesia, hanya ada di hutan hujan Kalimantan dan Sumatera. Sarang dari orangutan memiliki model (posisi) dan kelas berdasarkan umurnya sarang…

Untuk membaca selengkapnya dapat dilihat di link berikut :

Ternyata Orangutan Juga Membuat Sarang Lho, Ini Tipe dan Ragamnya!

 

Tim Laman Menjadi Pemenang Fotografer Satwa Liar Tahun 2016

tim-laman-saat-menerima-penghargaan-wildlife-photographer-of-the-year-2016-foto-dok-cvfznkbxgaausgd-58088da0be22bd7451632b7e

Tim Laman Saat Menerima penghargaan Wildlife Photographer of the Year 2016. Foto dok. CvFZNkbXgAAuSGd

Foto orangutan yang sedang memanjat kayu ara atau pohon beringin (Ficus) di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Orangutan itu bernama Net. Kegagahannya Net memanjat pohon itulah yang berhasil diabadikan seorang fotografer satwa liar (alam liar) Tim Laman dan foto tersebut mengantarkan Pak Tim, demikian dia disapa sehari-hari menjadi pemenang fotografer satwa liar tahun 2016. Mengabadikan banyak foto tentang keindahan alam dan satwa memang telah lama dilakoni oleh Tim Laman.

orangutan-yang-memanjat-pohon-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-inilah-yang-menghantarkan-tim-laman-sebagai-pemenang-dok-tim-laman

Orangutan yang memanjat pohon di hutan hujan Gunung Palung. Foto inilah yang menghantarkan Tim Laman sebagai pemenang dok. Tim Laman

Untuk Membaca lebih lanjut artikel ini, selengkapnya dapat dilihat dilink : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/potret-orangutan-indonesia-bawa-fotografer-natgeo-raih-penghargaan_58088eae707a61251e4d8b4d

Si Manis Pemakan Semut Itu Kini Terancam Punah

si-manis-javanica-yang-dijumpai-di-bukit-tarak-foto-dok-wawan-pematang-gadung

Si Manis javanica yang dijumpai di Bukit Tarak. Foto dok. Wawan Pematang Gadung

Si Manis bersisik yang unik. Disebut unik karena hewan ini bisa menggulungkan badannya hingga bulat tak ubah seperti bola, membuat sarang di tanah dan memakan semut dan rayap. Sayangnya nasibnya kini sangat terancam punah. Mungkin ada yang tahu dan bisa menebak nama hewan yang dimaksud?

Untuk Membaca Lebih lanjut, selengkapnya  di :http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/si-manis-pemakan-semut-itu-kini-terancam-punah_5805db55a723bd8e158b456b

Puisi : Mengintip Semesta

tentang-hutan-sebagai-penyambung-nyawa-foto-dok-petrus-kanisius

Tentang hutan sebagai penyambung nyawa. Foto dok. Petrus Kanisius

Aku adalah aku yang tidak lain adalah semesta, tempat berdiam ragam nafas. Kosmos yang kini dalam ruang dan waktu yang tak menentu.

Tetapi, apakah aku mampu tanpa dia atau mereka

Aku, karena aku bukan siapa-siapa, aku dicipta di hari pertama dalam kisah penciptaan.

Aku tak lain tak bukan sebagai tempatku hidup yang menjadi alfa dan omega.

Tetapi, Aku tercipta bukan hanya untuk aku semata melainkan untukmu, untuk kita, kita semua juga bersama.

Aku terlahir untuk nafas segala bernyawa hingga waktu entah kapan berakhir.

Tanyaku dalam diam, Sakit, jika terus (ter/di)sakiti mungkin kah masih ada rasa?.

Adakah saling peduli?.

Aku tercipta untuk pemenuhan, pemenuhan akan keberlanjutan.

Cakrawala terkadang meredup ketika bias tingkah polah nafas yang tak kenal ampun.

Ragam yang dikata sebagai bencana kerap menghampiri seolah enggan berlalu.

Embun pagi tak lagi menyejukan jiwa karena menjelma menjadi butiran debu panas menyengat keringat.

Dia, mereka, kita semua akankah ingat akan aku?.

Tentang aku terlahir apa tujuan sesungguhnya.

Menyana, tertera, terlukis, tergambar hingga tersiar, tentang aku semakin rebah terkulai layu. Apakah engkau bahagia, menegokku dengan situasi begini?.

Prihatin?. Peduli?. Atau diam membisu?.

Entahlah hanya Dia, mereka yang tahu. Harapku, senenap nafas segala bernyawa masih boleh bernyanyi jua bersukacita.

@Ketapang, Kalbar 10 Oktober 2016

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/mengintip-semesta_57fb6502567b616f221e2cd9

Tim dari Pusat Lakukan Verifikasi Hutan Desa di Kayong Utara

tim-dari-pusat-lakukan-verifikasi-hutan-desa-di-kayong-utara-foto-dok-yp

Tim dari pusat lakukan verifikasi Hutan Desa di Kayong Utara. Foto dok. YP

Kedatangan Tim Verifikasi Hutan Desa ini menindaklanjuti Surat Rekomendasi Bupati Kabupaten Kayong Nomor: 522/829/Hutbun-C tertanggal 23 Agustus 2016 Perihal Usulan Penetapan Areal Kerja (PAK) Hutan Desa. Tim yang berjumlah 22 orang tersebut, terdiri dari enam orang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 10 orang dari Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Zona Kalimantan, satu orang dari BPKH Wilayah III Kalimantan Barat, dua orang mewakili Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, dan tiga orang dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kayong Utara.

Selengkapnya dapat dibaca di : http://www.pontianakpost.com/hutan-desa-segera-terealisasi

Masyarakat Kayong Lestarikan Lingkungan dengan Membuat Tikar Pandan

tikar-pandan-foto-dok-yayasan-palung
Tikar Pandan, anyaman dari pengrajin. Foto dok. Yayasan Palung

Dahulu kala, tikar pandan dalam masyarakat Melayu di Kabupaten Kayong Utara (KKU) merupakan salah satu bukti nyata bahwa seorang wanita dinyatakan siap menikah apabila wanita tersebut sudah bisa menganyam tikar pandan dan begitu juga sebaliknya wanita tersebut tidak boleh menikah kalau belum bisa menganyam tikar pandan.

Di tahun 2016 ini rata-rata penghasilan dari masing-masing pengrajin yang ada di kelompok Ibu Ida atau “Ida Craft” adalah sebesar Rp.1,500,000/ bulan dari penjualannya kepada pemerintah, selain juga beberapa tas anyaman dari pandan dipesan dari pengrajin untuk gawean (acara) Sail Karimata 2016.

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/masyarakat-kayong-lestarikan-lingkungan-dengan-membuat-tikar-pandan_57eb895d0f93730e14090303

Mengenal Pohon Dipterocarp dan Manfaatnya

pohon-dipterocarp-yang-tumbuh-di-habitat-hidupnya-di-gunung-palung-foto-dok-yayasan-palung-gpocp-dan-tim-laman

Pohon Dipterocarp yang tumbuh di habitat hidupnya di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung, GPOCP dan Tim Laman

Di hutan tropis, lebih khusus di wilayah Kalimantan Barat, tumbuhan yang memiliki damar, dipterocarp demikian tumbuhan ini disebut. Pohon ini juga ternyata memiliki banyak banyak mantaat, selain itu juga penting dan menarik serta termasuk disukai oleh bagi banyak satwa, terutama orangutan yang sangat menyukai buah dari pohon ini.

Pohon dari keluarga Dipterocarpaceae memiliki beberapa jenis. Antara lain adalah jenis-jenis Meranti  (Shorea sp.) dan Keruing (Dipterocarpus sp.). Pohon-pohon Dipterocarp seperti meranti dan keruing memiliki ukuran bisa melebihi satu meter dan memiliki tinggi 30 hingga 60 meter. Pohon Dipterocarpaceae hidup dan tumbuh di datan rendah. Hal yang penting dan menarik dari pohon ini selain menjadi makanan dari banyak satwa. Menariknya, jika pohon tersebut (Dipterocarpaceae) berbuah, maka hampir dipastikan 90% pohon lainnya juga akan menyusul berbuah. Direktur Penelitian Yayasan Palung (GPOCP), Tri Wahyu Susanto yang juga merupakan salah seorang peneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) mengatakan; Jika Pohon Dipterocarpaceae berbuah, maka akan menjadi penanda awal yang mana pohon-pohon buah yang lainnya seperti durian hutan, rambut hutan dan manggis akan menyusul berbuah pula,  biasanya disebut buah raya (mast fruit).

meranti-atau-shorea-sp-yang-sedang-berbuah-merupakan-jenis-pohon-dipterocarpaceae-foto-dok-yayasan-palung-gpocp-dan-tim-laman

Meranti atau Shorea sp. yang sedang berbuah, merupakan jenis pohon Dipterocarpaceae. Foto dok. Yayasan Palung, GPOCP dan Tim Laman

Wahyu demikian ia disapa sehari-hari, lebih lanjut mengatakan; pada saat musim buah raya tiba, selain buah Ficus (kayu ara), juga buah Dipterocarpaceae menjadi penting bagi satwa seperti orangutan. Seperti kelasi dan kelempiau juga memakan buah ini (Dipterocarpaceae) Biasanya buah raya akan terjadi dalam rentang waktu 4-5 tahun, dan menariknya, setelah buah raya berakhir dipastikan masa reproduksi (musim kawin) tiba. Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, satu tahun setelah musim buah selesai, akan ada bayi orangutan lahir. Menariknya lagi, pohon ini juga memiliki ciri khas selain tinggi dan ukurannya besar, tetapi juga memiliki tutupan kanopi (tutupan pohon). Seperti di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), hampir dipastikan 80% adalah tumbuhan Dipterocarpaceae.

Pohon Dipterocarpaceae, dikenal juga dengan nilai ekonominya yang tinggi dan merupakan tanaman yang langka karena keberadaannya yang semakin berkurang dari tahun ke tahun. Adapun sebaran dari jenis pohon ini tersebar juga di beberapa wilayah seperti di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Bali, Lombok dan Papua.

dafrar-sebabaran-pohon-dipterocarpaceae-di-indonedafrar-sebabaran-pohon-dipterocarpaceae-di-indonesia-capture-data-dari-boy-marpaungsia-capture-data-dari-boy-marpaung

Dafrar sebabaran Pohon Dipterocarpaceae di IndoneDafrar sebabaran Pohon Dipterocarpaceae di Indonesia. Capture data dari Boy Marpaungsia. Capture data dari Boy Marpaung

Mengingat, menurut daftar IUCN, memasukan dafrar Dipterocarpaceae masuk dalam daftar sangat terancam punah (Red List/ RL) karena beberapa sebab, antara lain karena pembukaan lahan secara luas. Semoga saja, Pohon-pohon yang tersebar dibeberapa wilayah Indonesia ini masih dapat lestari hingga nanti.

Tulisan ini juga pernah ditulis di kompasiana selengkapnya dapat dilihat dilink : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/mengenal-pohon-dipterocarp-dan-manfaatnya_57ecdb8090fdfd8728c9d164

 

Yayasan Palung Ikut Membantu Lima Desa di kayong Utara Ajukan Bentuk Hutan Desa

yayasan-palung-saat-menyampaikan-persentasi-kepada-dinas-kehutanan-provinsi-kalbar-tentang-hasil-survei-di-sungai-paduan-foto-dok-yayasan-palung

Yayasan Palung saat menyampaikan persentasi kepada Dinas Kehutanan Provinsi, Kalbar tentang hasil survei di Sungai Paduan. Foto dok. Yayasan Palung

Demi mewujudkan hutan desa di lima desa itu belum lama ini Yayasan Palung Bertandang ke Provinsi Kalimantan Barat. Kita presentasikan hasil survai potensi hutan lindung Sungai Paduan.

Kelima desa tesebut adalah : Desa Penjalaan, Desa Padu Banjar, Desa Nipah Kuning, Desa Pulau Kumbang dan Desa Pemangkat.

Yayasan Palung Dampingi Masyarakat Bentuk Hutan Desa. Foto berita yang dimuat di Suara Pemred. dok. Yayasan Palung.jpg

Yayasan Palung Dampingi Masyarakat Bentuk Hutan Desa. Foto berita yang dimuat di Suara Pemred. dok. Yayasan Palung

data-hasil-survei-di-sungai-paduan-foto-berita-yang-dimuat-di-tribun-pontianak-cetak-dok-yayasan-palung

Data hasil Survei di Sungai Paduan. Foto berita yang dimuat di Tribun Pontianak Cetak. dok. Yayasan Palung.

tim-verifikasi-hutan-desa-berfoto-bersama-bupati-kayong-utara-foto-dok-desi-yayasan-palung

Tim Verifikasi Hutan Desa dari Pusat berfoto bersama Bupati Kayong Utara. Foto dok. Desi, Yayasan Palung

Untuk informasi lebih lanjut, dapat lihat di Link :

http://pontianak.tribunnews.com/2016/09/22/lima-desa-di-kayong-utara-ajukan-bentuk-hutan-desa

http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-ragam-potensi-di-kawasan-hutan-lindung-sungai-paduan-untuk-keberlanjutan-semua-makhluk-hidup_57ea42731497737712033796