Mengapa Satwa, Hutan dan Manusia Sama-sama Penting dalam Keharmonisan Kehidupan?

Anak orangutan yang dipelihara oleh masyarakat di Kec. Manis Mata, Ketapang. Foto YP
Anak orangutan yang dipelihara oleh masyarakat di Kec. Manis Mata, Ketapang. Foto dok. YP

Semua makhluk hidup menjadi satu kesatuan yang sejatinya tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya (harmonis), namun saat ini apakah masih demikian adanya?. Beragam jenis satwa yang mendiami hutan seperti orangutan, bekantan, kelasi, burung enggang, kelasi dan kelempiau merupakan jenis satwa endemik yang kerap kali hidup berdampingan satu sama lainnya. Misalnya, orangutan yang mendiami wilayah Kalimantan kecuali Kalimantan Selatan sejak dahulu dikenal sebagai penyebar biji-bijian.

Demikian juga halnya orangutan yang ada di Sumatera. Seperti bekantan, kelasi, burung enggang, kelasi dan kelempiau serta jenis satwa lainnya seperti Gajah dan harimau di Sumatera, Cendrawasih dan Papua serta banyak lagi ragam satwa yang berada di wilayah lainnya di Indonesia begitu penting bagi kehidupan, lebih dari itu keberlanjutan tatanan kehidupan semua nafas segala bernyawa di planet ini. Bayangkan saja, bila tidak ada satwa yang menyebar biji-bijian buah hutan dari sisa mereka makan (kotoran satwa) yang selanjutnya tumbuh menjadi tajuk-tajuk pepohonan. Mampukah kita menanam berjuta-juta hektar hutan?.

Memang manusia bisa menanam, tetapi apakah mampu atau sanggup rutin setiap saat?. Mungkin jawabannya kita tidak mampu rutin setiap saat seperti satwa dalam hal konservasi hutan. Nah, bagaimana jika hutan itu tidak ada (tinggal tersisa sedikit) atau dalam artiaan lain diambang terkikis habis? Tidak sedikit fakta yang membukakan mata. Lihat betapa banjir, banjir bandang bersama tanah longsor kerap kali menghampiri. Bumi menghangat melebihi batas normal, manusia pun gerah sepanjang waktu saat ini. Dari hal yang terjadi tersebut pula, sudah barang tentu, satwa dan manusia menjadi satu kesatuan yang sangat penting (tidak terpisahkan) satu dengan yang lainnya. Bagaimana bila satwa, hutan dan manusia salah satunya rusak atau sakit bahkan hilang?.

Keterancaman dari satwa, manusia dan hutan sudah semakin nyata terjadi. Semakin berkurangnya ruang, jelajah dan habitat tempat mereka berdiam sama hal dengan manusia. Satwa kian terancam dengan ulah pemburu yang tidak segan memburu dan menghabisi nyawa satwa endemik yang mengatasnamakan kepentingan perut.  Gajah tidak berdosa diambil gadingnya, paruh enggang dan sisik trenggiling juga demikian adanya. Nasib harimau juga begitu tragis diburu untuk diambil kulitnya. Orangutan, bekantan, beruang madu, ayam hutan, kelempiau dan kelasi juga sudah semakin terjepit dihabitat hidupnya.

Adanya perdagangan gelap menjadi salah satu sebab akibat dari semua ini. Kini, keberadaan satwa sudah semakin langka, langka karena satwa tidak banyak lagi yang tersisa (diambang kepunahan). Demikian juga lahan nan luas berupa hutan kian tergadai. Mega keanekaragaman tumbuh-tumbuhan semakin hilang tidak berbekas. Petani sudah semakin sulit mencari lahan di pegunungan, tempat mereka bercocok tanam. Musim sudah semakin sulit diprediksi, petani sulit mencapai target walau di sawah. Bila kemarau tiba, kering kerontang mendera. Bila musim hujan, padi dan tanaman sayur mayur terendam.

Ini terjadi dan terus melanda ketika para petani menggantungkan hidup mereka dari hasil panen mereka. Hal yang sama pula terjadi pada para nelayan, cuaca tidak menentu berimbas pada daya tangkap dan hasil mereka.  Seisi lautan berupa ikan endemik seperti hiu semakin sulit bertahan hidup. para pemburu sirip semakin banyak menanti menyayat-nyayat sirip-sirip. Keindahan batu karang dan porak poranda oleh racun ikan oleh oknum nelayan yang tidak bertanggungjawab.

Tata aturan acap kali diabaikan oleh para pelaku. Sudah jelas, undang-undang terkait larangan berupa UU no. 5 tahun 1990 tentang: “Keanekaragaman hayati dan ekosistemnya” yang menyatakan; Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memilihara, mengangkut, dan memperniagakan atau memperjualbelikan satwa dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati, tertuang dalam (Pasal 21 ayat 2). Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran sebagaimana ketentuan dimaksud akan dikenakan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah (pasal 40 ayat 2).

Banyak yang tertangkap dan dihukum karena melanggar undang-undang terkait kejahatan terhadap satwa dilindungi. Tetapi, bak jamur tumbuh di musim penghujan. Pelanggaran dan kasus perdagangan, perburuan dan pemeliharaan semakin menjamur.  Apakah ini menjadi pertanda lemahnya hukum atau kesadaran dari para oknum pelaku masih lemah?. Entahlah, tetapi yang pasti, keterancaman satwa (satwa endemik) menjadi tanda keharmonisan dalam kehidupan sudah semakin pudar. Bagaimana bila satu kesatuan antara satwa, hutan dan manusia ada yang hilang lenyap (punah)? Tentu hal ini tidak semua menghendaki. Mengingat, bila salah satu dari antaranya yang punah maka sudah pasti tatanan kehidupan, lebih khusus rantai makanan dan ekosistem akan terganggu. Saat ini pula rantai makanan sudah mulai rusak. Berharap, semoga rantai makanan dan satu kesatuan ekosistem yang ada masih dapat berjalan dengan baik. Salah satu caranya adalah dari kepedulian diri, kelompok dan yang lebih pasti pula adalah perlunya kepedulian dan perhatian dari semua pula.  Dengan demikian segala makhluk segala bernyawa termasuk manusia bisa aman dan nyaman di tempat hidupnya dimanapun dia berada, dengan demikian pula tatanan kehidupan bisa tetap harmonis dan berlanjut. Semoga saja…

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/mengapa-satwa-hutan-dan-manusia-sama-sama-penting-dalam-keharmonisan-kehidupan_5735a9380223bd780734f356

Pantun Hutan

Foggy morning (Pagi berkabut) di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman, Yayasan Palung

Foggy morning (Pagi berkabut) di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman, Yayasan Palung

Ini hutan tidak sembarang hutan

Hutan ini hutan Kalimantan

Apaguna kita manusia menjaga juga memilihara

Untuk  masa boleh berlanjut bukan derita atau bencana

—————-0————–

Ikan belidak, ikan baung

Ikan tapah enak dirempah

Akan apa jadinya gaung

Seakan pepatah meniti latah

—————-00—————-

Rinai hujan menjelang Senja

Sungai tertelan berkubang nestapa

Perangai elang menerkam mangsa

Penyemai hilang menikam derita

——————000——————-

Rimba raya di hutan tropis

Menganga diterpa, ditelan hingga terkikis

Apa guna para aktivis

Berbicara hingga menangis

Menengok derita rimba yang kian habis

————-0000————-

Orangutan, orang kota

Melihat hutan semakin tak berdaya

Ada aturan ada pidana

Sedikit yang di rutan banyak yang tertawa

————-00000—————

Ketapang, 31 Mei 2016, menjelang senja menyapa,

by : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Selengkapnya http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/pantunhutan_574d5ff302b0bd4006d9e021

Mengintip Aktivitas Si Penyemai, Pemelihara, dan Penjaga yang Tersisa dari Desa Laman Satong

Semaian aneka ragam bibit seperti gaharu, buah-buahan milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

Semaian aneka ragam bibit seperti gaharu, buah-buahan milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

Menyemai, memilihara, sekaligus sebagai penjaga hutan Laman Satong, lebih tepatnya hutan di kawasan Dusun Manjau. Setidaknya itu yang ia lakukan dalam mengisi hari-harinya. Kemarin, tepatnya tanggal 18 hingga 22 Mei 2016, saya berkesempatan untuk mengintip aktivitas si penyemai, pemelihara, dan penjaga yang tersisa. Lalu, siapakah sosok tersebut?.

Tanpa paksaan, tanpa disuruh ia terus melakukannya. Si penyemai, pemelihara yang tersisa tersebut adalah Yohanes Terang. Hari-harinya dikenal selalu bersyukur. Mengingat, setiap aktivitas Kek Alui begitu ia sehari-hari disapa karena cucu tertuanya bernama Alui selalu memulai dengan doa dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Demikian pula saat tidur dan bangun tidur. Boleh dikata, beliau sangat religius.

Dikatakan sebagai penyemai hari-harinya menebarkan bibit-bibit yang telah siap ditanam dan menyemai kembali bibit-bibit tanaman kecil di polybag, tanaman pohon yang nantinya menjadi cikal bakal hutan nantinya. Pemelihara karena ia tanpa untuk memelihara, menjaga serta mempertahankan hutan yang tersisa. Sejatinya tidak hanya sekedar sebagai penyemai, pemelihara, dan penjaga, tetapi juga sebagai penabur kasih kepada bumi untuk berlanjut.

Hari pertama mengikuti aktivias Yohanes Terang, saya diajak untuk berkeliling tanaman buah-buahan, kebun pisang, dan ragam tanaman seperti durian, cempedak, dan tanaman gaharu (garu, demikian masyarakat setempat menyebutnya).

Tidak hanya itu, tanaman karet dan berhektar-hektar hutan di belakang rumahnya terlihat menjulang kokoh berjejer rapi, hutan tersebut miliknya. Kolam ikan dan beribu-ribu jenis bibit tertata rapi di tempat pembibitannya. Beragam bibitnya seperti tanaman gaharu, kopi, bibit tanaman buah serta bambu tertata, demikian pula dengan pepohonan rimbun yang tumbuh di sekitar rumahnya.

Bibit bambu milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

 Bibit bambu milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

Setiap pagi menjelang dan senja menyapa, Yohanes Terang selalu rutin untuk menyirami bibit-bibitnya. Di hari kedua, saya bersama dengan Yohanes Terang berkunjung di kebun pisangnya miliknya. Hari itu, kami memanen dua tandan pisang. Terlihat, beberapa pohon pisang sedang berbuah, tetapi belum semuanya matang. Ada pisang raja, ada pisang ambon, pisang nipah. Ketiga, di pagi hari, saya berkempatan untuk melihat karya-karya puisi yang ia tulis.

Bibit kopi milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

Bibit kopi milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

Saya juga berkesempatan untuk mengetikkan karyanya ke dalam bentuk dokumen. Karena, banyak karyanya yang ditulis tangan. Hari keempat, saya berkesempatan berkeliling-keliling, mungkin kata yang cocok. Berkeliling-keliling untuk melihat hamparan hutan miliknya dan beberapa tanaman buah yang keberadaannya berbatasan dengan perusahaan-perusahaan. Tercatat terdapat perusahaan perkebunan yang mendiami wilayah Laman Satong. Di hari terakhir, bertepatan dengan hari Minggu, saya mengikuti aktivitas Bapak Yohanes Terang untuk misa hari Minggu di Gua Kiderun. Setelah misa selesai, saya diajak melakukan panen buah jeruk bali dan melihat Viktor, Bapak Alui, anak sulung Pak Yohanes Terang saat melakukan penyuntikan (inokulasi) untuk beberapa gaharunya. Ia pun berharap, semoga ada hasil yang baik dari penyuntikan gaharunya satu tahun mendatang.

Berikut sekilas tentang Yohanes Terang, kakek usia  60 tahun tersebut sedikit banyak memberikan makna kata dan makna kehidupan yang tertuang beberapa karyanya dan perbuatan nyatanya di masyarakat lebih khusus di wilayah Desa Laman Satong. Boleh dikata, Bapak Yohanes Terang sebagai perintis pertama untuk mendiami wilayah Manjau dan mempertahankan beberapa wilayahnya dari himpitan sawit dan bauksit. Pak Terang juga sebelumnya di era 1980 hingga tahun 2006 pernah dipilih oleh masyarakatnya menjadi kepala desa selama dua periode. Saat ini beliau juga menjadi pengawas di Yayasan Palung.

Hutan, manusia dan satwa sejatinya merupakan satu kesatuan. Menurut Yohanes Terang, hutan sebagai sumber kehidupan bagian semua makhluk hidup. Demikian juga, bumi sebagai sumber hidup bagi makhluk yang mendiaminya. Lebih lanjut, ia berujar, dari hasil buah-buahan di hutan miliknya menjadikan kakek dari 4 orang cucunya itu merasa alam dan lingkungan sebagai sumber kehidupan. Cikal bakal hadirnya Hutan Desa Manjau juga tidak luput dari andilnya. Setidaknya, ada hutan desa 10.70 ha di sana dan beliau menjadi salah seorang yang memiliki keikhlasan untuk menyemai, memilihara, dan menjaga bumi untuk terus berlanjut melalui karya-karyanya.

Pak Yohanes Terang saat memanen Pisang di kebun miliknya. Foto dok. YP

Pak Yohanes Terang saat memanen Pisang di kebun miliknya. Foto dok. YP

Berikut beberapa renungan dan puisi Yohanes Terang yang sedikit banyak memiliki arti dan makna dalam tentang alam, karya dan kepedulian sosialnya :

Alam Menangis

Aku tercipta sangat sempurna tidak ada kepalsuan, semua sepuhan sejati. Aku gagah, megah, indah tak ada yang menandingi.

Aku segalanya bagi semua yang tercipta tanpa kecuali.

Aku merasa kini telah berubah, uzur dan lemah hampir terasa hampir mati.

Kini, tubuhku telah lemah lunglai tak berdaya dari hari kehari. Batinku menjerit, mataku tertusuk pisau berbisa hingga air mata tangis berhenti.

 Zonaku telah rapuh tertikam orang-orang yang tak punya hati dan tak tahu diri.

Nadiku telah putus terhunus pedang sehingga menderita mengeluar darah tak berhenti. Rambut, kumis, alis tercukur pisau oleh tangan yang tak tahu diri, menang sendiri, apa yang akan terjadi?.

 Bulu-bulu, rambut, kumis, alis telah terkikis habis.

Manjau, 25 Maret  2005 Penyampai pesan, Yohanes Terang

 

Hidup Lama Bersama Karya

 Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.

Manusia mati meninggalkan nama dan karyanya.

Nama dan karya dua kata tak terpisakan yang memaknai pelaku dan hasil dalam karyanya yang nyata.

 Bagi orang bijak berpandangan luas dan jauh kedepan, berbuat sesuatu tidak semata bagi dirinya sendiri, tindakannya selalu berguna bagi sesama.

Segala tindakan, yang kurang bijak akan membuat seseorang, nama dan karya tahan lama.

Pejuang sejati, berbuat dengan hati, saling berbagi, mencari solusi menciptakan sesuatu bernilai tinggi dapat diingat dikenang generasi ke generasi, tak habis ditelan waktu, tak hilang digerus usia.

Hari ini, kita semua, tunjukan pada dunia tindakan nyata, menanam tanaman yang berguna pakanan satwa serta menghargai bumi dimana kita sekarang berada.

Laman Satong, 10 Februari 2015 Penyampai pesan, Yohanes Terang

 

Jalan Pintas

Sempurna adalah harapan setiap manusia tak peduli apapun caranya.

 Bagi yang lupa jalan pintas merupakan sebuah pilihan sederhana.

Budak oleh rasa cemas gelisah, kosong hampa dan putus asa.

Nirwana agung, racun, ketamakan orang-orang  buta  arti (narkoba) Bagi yang percaya “narkoba” sebuah bayangan hitam media pencabut nyawa.

 Derita panjang, kurang percaya diri, lemah, duka derita hina.

Bisa terjadi dimana-mana, kota sampai  desa  tak pilih  penguasa, kaya maupun papa.

Dampak dari lemahnya Iman, mencari surga sektika. Ibarat cancer ganas, virusnya menyebar kemana-mana.

Banyak cara yang dipakai untuk mencegahnya namun sia-sia. Orangtua, agama, aparatur negara, sekolah, sebuah baca dapat diguna untuk menghentikan itu semua.

Laman Satong, 10 November 2015 Penyampai pesan, Yohanes Terang (Berjuang tidak dengan kekerasan).            

Sebelumnya, satu karya kumpulan puisi dan renungan bapak Yohanes Terang pernah diterbitkan oleh Gramedia, tentang “Menjaga Yang Tersisa Dari Laman Satong”.

Siang menjelang sore, saya menyudahi mengikuti aktivitas Si penyemai, pemelihara dan penjaga yang tersisa dari Laman Satong dengan dibekali dengan buah-buahan seperti pisang dan buah srikaya naga untuk kembali ke Ketapang. Saya merasa beruntung bisa mengintip aktivitasnya dengan kesederhanaan, kepedulian dan kerendahan hati serta kepedulian yang belum tentu banyak orang yang memilikinya.

Tulisan ini juga dimuat di blog kompasiana, selengkapnya dapat dilihat di :

http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/mengintip-aktivitas-si-penyemai-pemelihara-dan-penjaga-yang-tersisa-dari-desa-laman-satong_5746a57ec222bdbe068e2dc7

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

 

Pramuka SMA 1 Simpang Hilir  dan Yayasan Palung Melakukan Penanaman Pohon

IMG-20160523-WA0003

Foto 1 : Saat Siswa-siswi melakukan penanaman pohon di sekitar Pantai Mak Bagok. dok. YP

Pada 23 mei 2016 pekan lalu, sebanyak 20 siswa-siswi dari pramuka SMA 1 Simpang Hilir, Kec. Sukadana melakukan penanaman pohon di Pantai Mak Bagok.

Setidaknya ada 48 pohon yang ditanam di lokasi pantai. Penanaman tersebut untuk dilakukan sebagai antisipasi pencegahan abrasi di pantai tersebut.

IMG-20160523-WA0001

Foto 2 : Saat Siswa-siswi melakukan penanaman pohon di sekitar Pantai Mak Bagok. dok. YP

Pohon yang ditanam adalah jenis pohon penage. Pohon ditanam tidak jauh dari pantai.

Kurang lebih selama satu jam penanaman pohon dilakukan, penanaman dilakukan dari pukul 09.00-10.00 Wib.

IMG-20160523-WA0002

Foto 3 : Foto bersama setelah penanaman pohon. dok. YP

Saat penanaman pramuka SMA didampingi satu guru pendamping dan dari Yayasan Palung.

Kegiatan penanaman  pohon tersebut berjalan sesuai dengan rencana.

Ditulis oleh: Hajeral

Bagaimana Jika Kerajinan HHBK Menjadi Bagian Dari Pendidikan?

Pelatihan Kerajinan Pandan SMKN 1 Sukadana (4)

Ibu Ida saat mengajarkan tentang  Kerajinan Pandan kepada Siswa-siswi SMKN 1 Sukadana. Foto dok. Yayasan Palung

Ibu Saparida atau akrab di sapa Ida merupakan salah seorang koordinator kelompok HHBK IDACRAFT yang berasal dari Dusun Sungai Belit, Desa Sejahtera, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara (KKU). Saat ini, Ibu Ida sudah memberikan pendidikan kerajinan ke Sekolahan, khususnya di SMKN 1 Sukadana sebagai bagian dari pendidikan melalui mata pelajaran Mulok Keterampilan, melalui pelajaran anyaman dari anyaman produk HHBK.

Banyak motif dari produk kerajinan pandan yang dihasilkan dan setiap bulan selalu memproduksi baik melalui pesanan dari berbagai pihak atau penjualan ke galeri DEKRANASDA KKU,  karena ibu Ida selalu menjaga kualitas produk.

Sebelumnya pada bulan Januari 2016 bulan lalu, pihak sekolah SMKN 1 Sukadana menghubungi tim program Sustainable Livelihood dari Yayasan Palung dan melakukan diskusi dengan tujuan meminta pengrajin dampingan Yayasan Palung untuk mengisi mata pelajaran (Mulok) keterampilan. Akhirnya Yayasan Palung berdiskusi dengan ibu Ida untuk menerima permintaan dari pihak sekolah SMKN 1 Sukadana dan beliau menerima dengan senang hati untuk menjadi pembina kerajinan bagi siswa-siswi disekolah.

Workshop Training Kerajinan, SMKN 1 Sukadana (2)

Siswa-siswi SMKN 1 saat belajar menganyam kerajinan hhbk. Foto dok. Yayasan Palung

Pada bulan febuari 2016, Ibu Ida, tim Yayasan Palung dan pihak sekolah melalui Kepala Sekolah, SMKN 1 Sukadana berdiskusi untuk membuat kesepakatan dan jadwal pertemuan untuk belajar kerajinan disekolah. Hasil dari diskusi tersebut yaitu jadwal belajar kerajinan  seminggu sekali yaitu setiap hari selasa, pukul  10.00 -12.00 Wib, khusus untuk kelas  sepuluh, (kelas 2) Jurusan Pariwisata dengan jumlah sekitar 21 siswa-siswi yang ikut belajar menganyam kerajinan.

Workshop Training Kerajinan, SMKN 1 Sukadana (3)

Siswa-siswi SMKN 1 Sukadana sedang belajar menganyam lekar, produk hhbk dari lidi nipah. Foto dok. Yayasan Palung 

Proses tahap awal dalam belajar kerajinan yang dilakukan Ibu Ida yaitu perkenalan dasar bahan baku dan alat-alat pendukung produk HHBK langsung ke lokasi bahan baku. Setelah itu untuk praktek pembuatan motif anyaman Pandan hingga saat ini metode yang dilakukan oleh Ibu Ida yaitu dengan langsung melakukan praktek bersama siswa. Ibu Ida tidak sendirian dalam memberikan pelajaran kerajinan ke sekolah SMKN 1 Sukadana, dia (Ida-red) ditemani oleh Ibu Norani.

Bahkan, untuk acara perhelatan Sail Karimata, yag direncanakan pada bulan Oktober 2016 mendatang, para pengrajin melalui IDACRAFT mendapatkan pesanan tas souvenir sebanyak 1.500 tas pandan untuk tamu undangan dengan harga jual Rp.50.000 per tas. Saat ini, para pengrajin sedang mengerjakan pesanan tersebut.

Banyak suka duka dalam mengajar kerajinan HHBK pada siswa-siswi sekolah, yaitu disaat suka para siswa-siswi sangat antusias dalam menerima pelajaran dan banyak yang sudah paham dalam membuat motif produk HHBK. Sedangkan duka nya ada sebagian siswa yang kesulitan dalam memahami tekhnik anyaman jadi perlu tenaga ekstra untuk membimbing mereka hingga paham.

Semua ini dilakukan Ibu Ida dengan harapan agar kerajinan tradisional tidak habis ditelan zaman dan selalu ada generasi penerus untuk mengembangkan kerajinan tradisional ini karena hasil hutan berupa pandan dan kerajinan bukan kayu yang masih tersedia saat ini disekitar Kabupaten Kayong Utara masih bisa dimanfaatkan dan menghasilkan untuk menambah penghasilan masyarakat sekitar.

Wendi Tamariska, selaku manager program SL, Yayasan Palung mengatakan; “Ini adalah bukti bahwa kerajinan anyaman tradisional dalam corak produksi hand-mate (butan tangan) masih diterima dengan baik oleh lingkungan pendidikan. Semoga saja masih ada pihak lain yang mau menghargai budaya dan kearifan lokal dalam masyarakat khususnya yang tinggal di wilayah pedesaan”.

Semoga tradisi dan budaya menganyam kerajinan HHBK dapat lestari dan mampu menjadi pewaris bagi generasi muda khususnya menjadi bagian dari pendidikan sebagai ciri khas daerah serta berkelanjutan. Semoga saja, Salam Lestari.

Ditulis  Oleh: Tim Program Sustainable Livelihood dari Yayasan Palung

Banyak Cara Dilakukan Untuk Merawat Bumi Di Hari Bumi, Salah Satunya Aksi Menanam Pohon

DSC00607.JPG

Menanam pohon untuk Merawat bumi di hari bumi. Foto dok. Yayasan Palung

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk bumi (merawat) bumi di hari bumi. Tepatnya satu hari setelah hari bumi, Sabtu (23/4/2016) kemarin, Yayasan Palung bersama Sispala LAND, Pramuka (SMK1) Sukadana  melakukan penanaman pohon di Sekitar Pantai Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan, Kayong Utara.

Setidaknya, ada 100 pohon yang ditanam. Adapun bibit pohon yang ditanam antara lain adalah jenis durian 20 pohon, cempedak 10 pohon, ubah 35 pohon dan nyatoh 35 pohon.

Adapun Tujuan dari penanaman pohon ini seperti diungkapkan oleh peserta penanamam dari Yayasan palung dan SMKN 1 Sukadana yaitu untuk penghijauan disekitar pantai pasir mayang dengan harapan bisa bermanfaat untuk makhluk dibumi seperti manusia dan hewan dan juga bisa penahan abrasi pantai dikemudian hari nanti, ujar Asbandi.

DSC00595.JPG

DSC00585.JPG

Ini cara kami untuk merawat bumi. Foto dok. Yayasan Palung

Sekitar 41 orang peserta ikut terlibat dalam penanaman pohon tersebut. Mereka adalah siswa-siswi SMKN 1 Sukadana, yang terdiri 30 orang dari Sispala LAND, dari Pramuka 10 orang dan dari Yayasan Palung ikut hadir adalah Asbandi. Penanaman bibit pohon tersebut dilaksanakan sekitar pukul 15.30 Wib hingga menjelang senja menyapa (petang).

20160423_164014

Peserta penanaman pohon saat berfoto bersama. Foto dok. Yayasan Palung  

Pada saat penanaman, terlihat antusias dan semangat dari Sispala dan anggota pramuka dengan suasana yang tertib dan dipenuhi canda tawa walaupun ditengah terik matahari. Kegiatan tersebut terlaksana dengan lancar dan baik.

Penulis : Abdul Samad- Yayasan Palung

Editor : Pit

Setidaknya Ini yang Dapat Kami Lakukan untuk Memperingati Hari Bumi 2016

Foto-foto rangkaian kegiatan dalam memperingati hari bumi, 22 April 2016 dan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan. Foto Dok. Yayasan Palung.

Walau telah berlalu beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 22 April 2016 lalu, tetapi setidaknya ini yang dapat kami lakukan untuk memperingati hari bumi dengan berbagai kegiatan.

Dimulai dari kegiatan menyongsong hari bumi pada tanggal senin 18 april 2016, Yayasan Palung dan  relawan  Konservasi Tajam  bersama beberapa Sispala seperti Sispala Care, dari SMAN 2 Ketapang,  Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes Ketapang melakukan kampanye untuk bumi melalui Radio Kabupaten Ketapang. Dalam kampanye tersebut, mereka berbicara banyak tentang pesan dan aksi-aksi mereka untuk bumi. Salah satunya, baik relawan maupun sispala telah banyak melakukan aksi seperti menanam pohon dan menyuarakan pesan-pesan lingkungan untuk mengingatkan kepada masyarakat tentang keadaan bumi yang perlu perhatian dari semua pihak.

Selanjutnya, tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung mengadakan ekspedisi di Kecamatan Kendawangan. Ekspedisi tersebut dilakukan selama 5 hari. Rangkaian kegiatan seperti berkunjung ke sekolah-sekolah di tingkat Sekolah Dasar untuk melakukan puppet show (panggung boneka) dan SMA dan SMK untuk melakukan lecture (ceramah lingkungan). Dalam penyampaian cerita melalui puppet show, kami bercerita tentang hutan dan satwa melalui media boneka. Sedangkan lecture, kami mengadakannya lecture di SMKN 1  dan SMN 1 Kendawangan. Pada lecture, Yayasan Palung menyampaikan informasi tentang manfaat hutan dan orangutan bagi manusia. Selain itu juga menyampaikan tentang informasi perilaku orangutan yang hidup di habitatnya (hutan), misalnya membuat sarang  selalu berpindah-pindah setiap harinya dan tingkat kecerdasan orangutan saat menggunakan pelindung kepala dengan ranting-ranting dan daun pohon ketika hujan.

IMG_1581

Pemutaran Film lingkungan oleh para relawan untuk kampanye penyadartahuan, dalam rangka memperingati hari bumi 2016.

Selain itu juga, kami mengadakan diskusi masyarakat untuk menggali informasi terkait isu-isu kekinian lingkungan seperti hutan dan satwa di Desa mereka. tidak hanya itu, kesempatan lainnya kami gunakan untuk mensosialisasikan tentang perlunya perlindungan terhadap satwa-satwa dilindungi seperti orangutan, kelempiau, kelasi, enggang dan trenggiling. Selain juga perlunya melindungi hewan-hewan laut seperti penyu dan keberadaan beberapa jenis ikan serta terumbu karang juga hutan bakau.

IMG_2580

Diskusi Dengan Masyarakat dalam bingkai kegiatan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan tentang manfaat hutan dan perlunya perlindungan satwa. Foto dok. YP.  

Pada puncak peringatan hari bumi, saat melakukan ekspedisi pendidikan lingkungan, kami juga mengadakan workshop untuk pembuatan pesan-pesan kampanye lebih khusus memperingati hari bumi. Terlihat sangat antusias dari peserta workshop di SMAN 1, Kendawangan. Pada workshop tersebut, peserta yang ikut terdiri 25 orang yang terdiri dari siswa-siswi dan ikut hadir pula dewan guru mereka. Mereka juga membuat hastag(#) seperti  #‎DariKamiUntukBumi ‪#‎HariBumi2016 ‪#‎YayasanPalung‪#‎SMANSAKendawangan.

13072706_10208481098721181_4273299638042574564_o

Foto bersama Siswa-Siswi yang ikut dalam worksop pembuatan pesan tentang bumi. Foto dok. YP.

Di tempat terpisah, di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara para relawan yang terdiri dari Relawan Tajam dan RebonK, Yayasan Palung memperingati puncak acara yang dilakukan oleh para relawan untuk memperingati hari bumi 2016, dengan mengambil tema “Jika Tidak Mampu Memperbaiki, Jangan Merusak Bumi”.

Relawan Konservasi Tajam (RK.TAJAM) Yayasan Palung menyiapkan Taman Bacaan yang diperuntukkan bagi anak-anak usia dini dan Puppet show (panggung boneka), bertutur tentang lingkungan dan satwa. Selain itu juga melakukan pemutaran film lingkungan, seperti pemutaran film lingkungan tentang Indonesia Diambang Kepunahan. Ikut hadir juga beberapa Sispala Gersisma (MAN Ketapang), Sispala Genta, (SMK 1 Ketapang), Sispala Repatones (SMA PL. St. Yohanes Ketapang), Sispala CARE (SMAN 2 Ketapang) dan Sispala Tapala (SMKN 2 Ketapang) serta beberapa sukrelawan/relawan dari luar yang sangat antusias membantu.

IMG_1453

Puppet show dan taman baca oleh Relawan Konservasi Tajam dan beberapa Sispala yang ada di Ketapang. Foto dok. YP.

Di  Relawan RebonK, Yayasan Palung melakukan aksi dengan berorasi terkait pesan-pesan mereka untuk bumi di Tugu Durian, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Selanjutnya para relawan bersama Sispala Land, SMKN 1 Sukadana, Sispala Granasanda, SMAN 2 Sukadana. Mereka yang berjumlah 50 orang tersebut mengadakan penanaman pohon bakau dan pohon penage sebanyak 83 bibit di lokasi Pantai Pasir Mayang.

IMG-20160426-WA0008

Penanaman Pohon oleh Relawan RebonK bersama beberapa Sispala yang berada di Kab. Kayong Utara (KKU). Foto dok. YP.

Semua rangkaian kegiatan hari bumi yang diperingati tersebut sebagai pengingat tentang keadaan bumi saat ini yang telah rusak perlu kepedulian, perhatian dan peran serta semua pihak untuk menjaga serta berperilaku bijaksana terhadap bumi. Demikian juga halnya dengan rangkaian kegiatan ekspedisi pendidikan lingkungan yang dilaksanakan berjalan dengan sukses berkat dukungan kerjasama, dukungan dan dibiayai oleh Riverbanks Zoo yang memiliki perhatian kepada pendidikan lingkungan, hutan dan satwa dilindungi.

Berita terkait dapat dilihat di link : http://pontianak.tribunnews.com/2016/04/26/peringati-hari-bumi-relawan-tajam-dan-rebonk-tanam-83-bibit-pohon-di-pantai-pasir-mayang

By : Pit- Yayasan Palung

 

 

 

 

Relawan Ajak Anak Usia Dini Mengenal Satwa, Tumbuh-tumbuhan Melalui Taman Baca dan Panggung Boneka

relawan-ajak-anak-usia-dini_20160412_105736

Puluhan orang dari Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK. TAJAM), Yayasan Palung dan perwakilan dari Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang terlihat sangat bersemangat sore itu.

Semangat mereka tidak lain untuk mengajak mengenal satwa dan tumbuh-tumbuhan melalui taman baca dan panggung boneka (puppet show) bertempat di Taman Keraton, Mulia Kerta, Kecamatan Benua Kayong, Sabtu (9/4/2016).

12967374_10204098136333302_3412322994996888769_o

Sekitar 60 hingga 100 anak-anak usia dini silih berganti datang untuk melihat, belajar tentang satwa dan tumbuh-tumbuhan melalui taman baca. Di taman baca tersebut, para relawan menyiapkan berbagai buku cerita anak-anak seperti komik, cerpen dan beberapa buku tentang cerita satwa dan tumbuh-tumbuhan.

12973190_10204098135493281_186665098778658659_o

Ada juga buku-buku tentang cerita tentang pertualangan di hutan dan gambar-gambar satwa. Setidaknya, relawan menyiapkan 150 judul buku yang siap dibaca oleh anak-anak.

12976843_10204098135613284_5082463525551674830_o

Anak-anak yang berumur tiga hingga sembilan tahun terlihat sangat antusias dan senang. Mereka melihat, membuka lembaran demi lembaran buku yang telah disediakan di Taman dan membacanya. Anak-anak tersebut datang bersama ibu mereka, ada juga yang bersama neneknya.

Selain membaca, anak-anak usia dini tersebut juga diajak mengenal satwa melalui panggung boneka. Empat orang relawan betugas untuk bertutur menceritakan tentang satwa-sawa endemik dan dilindungi seperti kelempiau, enggang dan bekantan.

Adapun cerita yang mereka (relawan-red) tuturkan antara lain tempat tinggal satwa-satwa tersebut di hutan yang keadaannya semakin berkurang dan terancam punah. Dalam cerita tersebut pula, anak-anak diajak untuk peduli, mencintai lingkungan dan satwa di habitat hidupnya.

Sebagai pembina Relawan Tajam, Ranti Naruri dari Yayasan Palung mengatakan; kegiatan ini bertujuan untuk mengajak sekaligus juga memberikan pendidikan bagi anak usia dini. Lebih lanjut menurut Ranti, sapaan sehari-harinya menegaskan, pendidikan usia dini itu sangat penting, apalagi lingkungan saat ini.

Menumbuhkan kesadaran (sebagai media penyadartahuan), mengenalkan kepada mereka satwa dilindungi begitu penting karena mereka juga sebagai generasi penerus.

Dengan diadakan kegiatan seperti ini, besar harapan ada tumbuh kecintaan dari anak-anak untuk mencintai lingkungan di sekitar mereka, dengan demikian pula semoga anak-anak bisa mencintai, peduli dengan alam dan satwa di habitatnya.

IMG_1242 (1)

Selain dari Relawan Tajam dan dari perwakilan Dishut Ketapang, Yayasan Palung hadir pula asisten peneliti orangutan dari stasiun peneliti Cabang Panti, Gunung Palung (TNGP), Agus Trianto.

Kegiatan ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya pada hari pekan peduli orangutan tahun 2015 lalu. Selanjutnya akan diadakan pada 23 April 2016 yang akan datang di Taman KotaKetapang.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.00 tersebut berakhir pada pukul 17.00 Wib tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pengunjung.

Tulisan ini pernah dimuat di Tribun Pontianak (tribunnews.com), ini  link tulisannya : http://pontianak.tribunnews.com/2016/04/12/relawan-ajak-anak-usia-dini-mengenal-satwa-tumbuh-tumbuhan-melalui-taman-baca-dan-panggung-boneka

by : Petrus Kanisius ‘Pit’-Yayasan Palung

Asyik, Belajar GIS Langsung dari Ahlinya

 

IMG-20160412-WA0000

Saat Belajar geographic information systems (GIS)di kantor Yayasan Palung.

Asyik, mungkin kata itu yang cocok untuk dipaparkan karena kami berkesempatan langka untuk belajar geographic information systems (GIS), bertempat di kantor Yayasan Palung selama empat hari, tepatnya dari 5 hingga 8 April 2016, kemarin.

Dalam kesempatan belajar GIS tersebut, kami mendapat kesempatan diajarkan oleh Amanda Marie West, Phd. Amanda merupakan salah seorang ahli GIS dan juga sebagai seorang yang ahli ekologi dari Colorado State University, Amerika Serikat.

Hari pertama (5 April 2016), kami diajarkan tentang materi dasar-dasar GIS, selanjutnya belajar menggunakan aplikasi QGIS untuk membuat peta. Kami juga diajari tentang bagaimana memasukan data peta Indonesia, peta Kalimantan, peta Kabupaten (Ketapang dan KKU) untuk pembuatan peta jalur, peta jalan, sebaran populasi orangutan yang ada di Gunung Palung. Pada hari pertama belajar tersebut, kami diajari untuk mengenal sekilas tentang QGIS dan bagaimana menggunakan programnya (aplikasi QGIS).

12967977_10208372291361065_804290117320335818_o

Di hari kedua (6 April 2016), kami diajarkan tentang bagaimana membuat skala, legenda, temperatur dan menentukan fokus studi area penelitian. Selanjutnya diharuskan untuk mempraktekan dengan membuat skala pada peta, menentukan berapa skala dari peta yang tentukan, misalnya penentuan skala tergantung dari kemauan dari penentuan skala yang kita mau, seperti skala 1: 50 km, 1:100 km dan seterusnya.

Setelah ditentukan skala, selanjutnya peta disimpan dan siap dicetak setelah sebelumnya juga ditentukan legenda.

20160408_164514

Pada hari ketiga (7 April 2016), kami diajarkan untuk membuat peta dan memasukan data-data untuk mengetahui peta jalan. Pada pelajaran tersebut, kami diajarkan untuk mengetahui jumlah atau berapa banyak jalan yang ada di Indonesia.

Dalam penentuan peta jalan tersebut, tampak berapa banyak jalan yang ada di Seluruh Indonesia dan perbandingan di pulau mana saja yang paling banyak terdapat jalan.

Keempat (8 April 2016), kami diajarkan untuk membuat peta suhu atau iklim. Dalam penentuan peta suhu atau iklim kami diajarkan untuk membuat data peta suhu Indonesia.

Pada pembuatan peta suhu, terlebih dahulu kami memasukan data temperatur yang ada di Indonesia. Setelah memasukan data, di peta akan terlihat dan dapat diketahui berapa suhu (iklim) yang ada di Indonesia.

Bljr 5_peta suhuDari hari pertama hingga hari keempat, kami semua yang belajar diharuskan melakukan praktek untuk menyimpan dari hasil belajar GIS yang kami pelajari.

Sekilas tentang profil Amanda M. West, PhD, yang mengajarkan kami dengan secara sukarela dan penuh dengan ketelitian. Amanda merupakan seorang lululusan S3 jurusan Ekologi dari Colorado State University, Amerika Serikat. S1 nya keilmuan lingkungan di University North Carolina Asheville dan S2 di North Carolina State University di Keilmuan Agraria.

Saat ini Amanda bekerja di Laboratorium Natural Resource Ecology (ekologi sumber daya alam), sebelumnya juga Amanda pernah menjadi pengajar geographic information systems (GIS) dan mengajar di Etiopia (Afrika), mengajar di beberapa universitas di sana dan di Amerika Serikat membantu program dari NASA yang dikenal sebagai “DEVELOP”, program khusus di NASA khusus untuk mahasiswa di tiga universitas di AS.

Amanda bekerja bersama Dr. Paul Evangelista dari Colorado State University. Selain itu, Amanda merupakan salah seorang ahli penggunaan GIS untuk perubahan iklim dan spesies konservasi.

Kami merasa sangat beruntung mendapat kesempatan langka dan mendapatkan ilmu secara gratis tentang GIS tersebut. Tentunya juga, Pelatihan QGIS ini tentunyasangat bermanfaat bagi program-program Yayasan Palung Kedepan seperti survei dan untuk mengetahui survei populasi orangutan dan lain sebagainya.

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Tribun Pontianak (tribunnews.com) online, ini link tulisannya: http://pontianak.tribunnews.com/2016/04/12/asyik-belajar-gis-langsung-dari-ahlinya

By : Petrus Kanisius ‘Pit’-Yayasan Palung

 

Mengenalkan Satwa Melalui Media Panggung Boneka (Puppet Show) Bagi Anak-anak

IMG_1883

Panggung boneka (puppet show)  Mengenalkan satwa di Sekolah bagi anak-anak usia dini. Foto dok. Yayasan Palung

Sejak tahun 2003 Silam, Yayasan Palung telah melakukan kampanye (mengenalkan satwa) melalui media panggung boneka (puppet show). Ragam satwa seperti orangutan, bekantan, kelasi dan kelempiau sebagai satwa dilindungi acapkali dilakukan ketika berkegiatan seperti ekspedisi lingkungan ke kampung-kampung.

Cerita orangutan, kelempiau, kelasi dan juga enggang tidak lupa dituturkan melalui panggung boneka. Panggung boneka biasanya bisa dimainkan oleh 1 hingga 6 orang. Tergantung berapa banyak boneka tangan yang tersedia.

becerita tentang orangutan dengan media boneka atau puppet show di TK St Theresia Ketapang.jpg_foto 2

Becerita tentang orangutan dengan media boneka atau puppet show di TK St Theresia Ketapang. Foto dok. YP.

Di Yayasan Palung, Tim Pendidikan Lingkungan (PL) yang selalu memainkan boneka melakukan puppet show. Sebagai panduan bercerita jika ceritanya panjang biasanya menggunakan skrip.  Ragam cerita seperti hutan, buah-buah hutan sebagai salah satu hal yang tidak terpisahkan bagi satwa ketika mereka hidup dan makan di hutan.

puppet-show-sdn-19-delta-pawan

Bertutur tentang satwa dan hutan dengan menggunakan media boneka (puppet show) di Sekolah Dasar. Foto dok. YP.

Melalui puppet show juga bertujuan untuk mengenalkan satwa kepada anak-anak pada usia dini. Dengan kata lain, panggung boneka seperti yang Yayasan Palung lakukan diperuntukan bagi anak-anak usia dini (anak TK dan SD).

Sebagai pemain utama Puppet show, sebagai pemain yang pasih memainkan, menggerakan dan bertutur/bercerita boneka adalah Ranti Naruri.

Semoga dengan media boneka, anak-anak bisa mengenal satwa-satwa dilindungi sejak dini dan mudah-mudahan ada tumbuh rasa untuk melindungi dan mencintai satwa dilingi di habitat hidupnya (hutan). Selamat hari pertunjukan/ panggung boneka (puppet show) sedunia 2016. (Pit-YP).