
Mendiami hutan hujan Kalimantan dan Sumatera, itulah orangutan primata kunci yang sangat dilindungi itu.
Orangutan merupakan empat kera besar yang ada di dunia. Adapun empat kera besar tersebut terdapat di dua benua; Afrika dan Asia. Kera besar tersebut adalah Gorilla, Simpanse, Bonobo yang mendiami benua Afrika. Sedangkan kera besar lainnya adalah orangutan, yang terdapat di Asia, lebih tetapnya di Indonesia (Pulau Sumatera dan Kalimantan).
Lalu, mengapa orangutan disebut dengan primata kunci? Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi atau disebut sebagai spesies kunci atau biasa juga disebut spesies payung karena hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan.
Peran penting orangutan sebagai petani hutan tidak bisa disangkal, dari biji-bijian dan buah-buahan dari sisa-sisa makanan yang mereka makan kemudian tumbuh menjadi tajuk-tajuk pepohonan yang baru (hutan-hutan baru). Dengan kata lain, orangutan memiliki peran penting sebagai regenerasi hutan.
Selain itu, orangutan juga menjadi penopang bagi satwa atau spesies lainnya. Apabila orangutan punah maka akan berpengaruh pula bagi satwa lainnya pula.
Orangutan sangat dilindungi salah satunya karena nasibnya saat ini dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan. Ruang hidup dari satwa yang sangat dilindungi ini semakin sempit.
Ruang hidup (habitat hidup berupa hutan) semakin menyempit membuat orangutan semakin sulit untuk berkembang biak. Mengingat, orangutan memerlukan waktu yang lama untuk berkembang biak, memerlukan waktu 6 hingga 8 tahun baru berkembang biak. Sedangkan sang bayi bersama ibu (induk orangutan) memerlukan waktu yang sama (6-8 tahun) hingga bayi menjadi remaja. Dalam kurun waktu tersebut bayi orangutan pun perlu belajar banyak untuk selanjutnya siap bertahan hidup di alam liar/hutan yang sangat sulit diprediksi.
Orangutan memiliki DNA (deoxyribonucleic acid) yang mendekati DNA manusia, 97 % DNA orangutan mirip manusia.
Orangutan betina sama halnya dengan perempuan dewasa karena mengalami masa menstruasi. Ibu orangutan juga selalu bersama bayi atau anaknya menjelang masa dewasa.
Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan) memiliki 3 subspesies; Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo Pygmaeus Wrumbii, Pongo pygmaeus morio.
Orangutan Kalimantan tersebar di seluruh wilayah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Orangutan memiliki tiga sub spesies yaitu; Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo wrumbii yang sebarannya di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan di Kalimantan Timur adalah Pongo pygmaeus morio. Sedangkan di luar wilayah Indonesia, orangutan terdapat di Malaysia yaitu di wilayah Sabah; Pongo pygmaeus morio dan di Sarawak; Pongo pygmaeus pygmaeus.
Orangutan Sumatera (Sumatran Orangutan) Orangutan dengan nama latin Pongo abelli habitat hidupnya di Sumatera. Pada bulan Oktober 2017 tahun lalu, para peneliti dunia menemukan Spesies baru orangutan dengan nama Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) habitat hidupnya di Sumatra Utara.
Orangutan masuk dalam daftar satwa yang sangat dilindungi (Critically Endangered/CR) menurut daftar International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List.
Orangutan juga masuk dalam daftar satwa dilindungi yang menyebutkan; barang siapa yang dengan sengaja mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati; (Pasal 21 (1) huruf a), UU no. 5 tahun 1990 juga menyebutkan hal yang sama, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
(Pasal 40 ayat (2)). Selain itu, juga disebutkan bahwa, barang siapa yang sengaja mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. (Pasal 21 (1) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Apa jadinya apabila orangutan yang merupakan primata kunci dan juga sebagai satwa sangat dilindungi itu tinggal cerita? Tentu semua berharap orangutan tidak tinggal cerita.
Tak sedikit fungsi dan peranan yang mereka (orangutan) mainkan bagi semua tatanan keberlanjutan makhluk hidup lainnya agar kiranya boleh harmoni hingga nanti.
Keberadaan hutan dan satwa dalam kehidupan sudah sejatinya menjadi hak semua untuk secara bersama-sama menjaga. Semakin terancamnya satwa dan semakin terkikisnya hutan sangat berpengaruh bagi keberlangsungan hidup manusia. Hal ini tentunya sangat beralasan, karena satwa, hutan dan manusia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/61fb65ca8700000bdf30eee2/mengenal-orangutan-primata-kunci-yang-sangat-dilindungi-itu
Sumber tulisan, diolah dari berbagai sumber
Tulisan : Petrus Kanisius
Yayasan Palung

Tahun 2022 ini Yayasan Palung kembali menyediakan enam beasiswa. Program beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) pada tahun 2022 telah memasuki tahun ke sepuluh.
Yayasan Palung merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Sejak 2012 Yayasan Palung dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship). Hingga tahun 2021 terdapat 49 Penerima WBOCS yang diantaranya 11 orang sudah menjadi sarjana.
Adapun tujuan diselenggarakannya program beasiswa ini adalah:
Menambah generasi intelektual yang mempunyai komitmen dan kepedulian yang tinggi terhadap upaya perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan dan habitatnya.
Memberikan dukungan moril dan materil kepada generasi muda untuk meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Memajukan kerjasama pendidikan untuk pengelolaan sumber daya alam yang lestari antara pihak-pihak di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
Adapun Syarat dan Kondisi Penerima Beasiswa adalah :
Berasal dari Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, diutamakan kurang mampu secara ekonomi.
Diusulkan oleh pihak sekolah/usulan siswa bersangkutan namun meminta rekomendasi dari pihak sekolah. Setiap sekolah berhak mengusulkan 2 (dua) orang siswa.
Berencana kuliah di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat.
Bersedia melakukan penelitian skripsi berkaitan dengan aspek-aspek perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan.
Memiliki prestasi yang baik, berkomitmen untuk konservasi dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar/kuliah hingga selesai.
Persyaratan Pendaftaran :
Formulir pendaftaran dapat diperoleh di sekolah masing-masing atau menghubungi kontak Yayasan Palung atau Penerima WBOCS, diisi dengan lengkap.
-Surat pengantar dari Kepala Sekolah
Menyertakan fotocopy berkas sebagai berikut :
a. Fotocopy Raport dari semester 1-5.
b. Fotocopy Kartu Keluarga (KK)
Membuat motivation letter atau pernyataan motivasi yang menceritakan tentang keadaan diri dan keluarga, pengalaman dan prestasi, cita-cita dan hubungannya dengan program studi yang dipilih, dan alasan harus diterima dan mengapa pantas sebagai penerima beasiswa, serta buah pikiran tentang mengapa pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan itu penting. Minimum 200 kata, diserahkan sebanyak 3 (tiga) rangkap tanpa jilid.
Membuat Esai tentang kondisi dan persoalan lingkungan di tempat tinggal anda (hutan, sungai, laut, dll), serta tantangan konservasinya. Esai dibuat dengan ketentuan: buah pikiran sendiri / orisinil dengan panjang 1000 kata, menggunakan gaya bahasa populer dengan kaidah 5 W 1 H (What, Who, When, Where, Why, How), jika mengutip dari tulisan orang lain harus mencantumkan daftar pustaka. Serahkan sebanyak 3 rangkap tanpa jilid.
Berkas pendaftaran dapat diserahkan langsung ke Yayasan Palung (Kantor Ketapang ataupun Bentangor) atau melalui jasa pengiriman paling lambat 18 Maret 2022.
Adapun Tahap Penyeleksian adalah sebagai berikut :
Seleksi Tahap I: seleksi berkas, motivation letter dan esai. Hasil seleksi tahap I akan diberitahukan kepada pendaftar melalui pesan singkat (sms / whatsapp) pada 21 Maret 2022.
Seleksi Tahap Akhir: presentasi dan wawancara. Peserta diwajibkan mempresentasikan esai, motivation letter, dan alasan memilih fakultas dan jurusan di UNTAN, yang disajikan dalam power point (ppt), serta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh panel juri. Seleksi ini akan dilaksanakan pada 28 Maret 2022 di Kantor Yayasan Palung di Ketapang. (Jadwal ini dapat berubah, dan akan diberitahukan kemudian).
Hak Penerima WBOCS
Setiap penerima beasiswa diberikan dana beasiswa, untuk membiayai :
Daftar Masuk Universitas
Daftar Ulang selama 8 semester
Biaya Penelitian
Biaya Penulisan Skripsi
Biaya lain dipenuhi selama masih dalam limit dana beasiswa
Bagi Penerima Beasiswa yang mendapat UKT IV dan V, pembiayaan dihentikan jika sudah mencapai limit dana beasiswa, walaupun tidak memenuhi poin 1-4.
Peningkatan kapasitas dari Yayasan Palung
Kewajiban Penerima WBOCS
1. Selama menempuh pendidikan :
Penerima beasiswa menjadi relawan selama 1 (satu) bulan pada setiap tahunnya di Yayasan Palung atau di lembaga konservasi / lingkungan lainnya.
Penerima beasiswa melakukan aktivitas kampanye konservasi secara sendiri / bersama dengan penerima WBOCS lainnya.
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75 (Grade 4), IPK dibawah yang disyaratkan dengan toleransi 1 (satu) semester atau ditentukan berdasarkan penilaian, jika tetap tidak memenuhi ketentuan, program beasiswa akan dihentikan.
2. Penelitian skripsi harus sesuai dengan syarat dan kondisi dalam beasiswa ini.
Informasi lainnya :
Calon mahasiswa/i hanya dapat memilih jurusan dan fakultas:
-Fakultas FMIPA Jurusan Biologi / Matematika
-Fakultas Kehutanan
-Fakultas Hukum
-Fakultas ISIP Jurusan Hubungan Internasional / Sosiologi / Antropologi
Jika ikut mendaftar SNMPTN, pilih jurusan dan fakultas yang sesuai dengan prasyarat WBOCS.
Info lebih lanjut :
Akan diadakan Webinar “Apa Itu WBOCS”
Pada 10 Februari 2022 untuk siswa/I SMA/SMK yang berminat bisa mendaftar melalui link berikut
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Informasi bisa juga dilihat di : https://yayasanpalung.com/wp-content/uploads/2022/01/rekrutmen-beasiswa-wbocs-2022
Formulir bisa diunduh di link berikut ini : yp_wbocs_formulir-pendaftaran-wbocs
Lihat juga : https://www.instagram.com/p/CZGjlKqvEow
Yayasan Palung juga mengirim berkas Beasiswa WBOCS ke sekolah-sekolah SMA/MA/SMK yang ada di dua Kabupaten (Ketapang dan Kayong Utara).
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Dalam rangka Balek Kampong Project 2022, tim WBOCS di Kayong Utara mengadakan Expo sederhana yang bertajuk “Yayasan Palung Sebagai Solusi Jembatan Konservasi”. Kegiatan ini dilaksanakan di Pantai Pulau Datok, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, pada Minggu (16/1/ 2022).
Adapun rangkaian acara dimulai dari pukul 08.00 WIB. Dalam kegiatan tersebut, tim Balek Kampong Project memamerkan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang diproduksi oleh pengrajin binaan Yayasan Palung.
Tidak hanya pameran HHBK, tetapi dalam kegiatan itu juga diadakan lomba mewarnai bagi anak-anak. Pada pukul 13.00 Wib, pengunjung pantai yang terdiri dari anak-anak bersama orang tuanya berkumpul untuk mengikuti lomba mewarnai gambar orangutan. Dari 12 peserta yang mengikuti lomba, terpilihlah 5 orang anak sebagai pemenang.
Adapun kegiatan lomba mewarnai ini bertujuan untuk memperkenalkan satwa orangutan kepada anak-anak melalui kreatifitas dan inovasi mereka.














Kegiatan expo ini juga menampilkan musik tradisional sape’ dayak khas Kalimantan yang dibawakan oleh @bahmikhtiar untuk menghibur pengunjung pantai.
Di sela-sela kegiatan expo, para penerima WBOCS membagikan suvenir, brosur kampanye orangutan, dan majalah MIaS Yayasan Palung edisi pertama dan edisi terbaru secara gratis kepada pengunjung pantai.
Pada booth expo menyediaan stan informasi mengenai penerimaan WBOCS 2022. Brosur WBOCS juga dibagikan kepada pengunjung pantai (sasaran diutamakan untuk pelajar SMA sederajat).
Narasi : Gilang Ihsan Pratama
Foto : Egi Iskandar

Pada Rabu (12/1/2022) sampai Jumat (14/1/2022), Yayasan Palung melalui tim pendidikan lingkungan melakukan kegiatan lecture (ceramah lingkungan) di sekolah tingkat dasar dan menengah pertama.
Lecture pertama kami lakukan di sekolah MTS Negeri 1 Kayong Utara dengan melakukan sosialisasi “Manfaat Orangutan bagi Hutan dan Manusia”. Peserta kegiatan ini adalah siswa kelas 8 yang diikuti oleh 40 orang.
Keesokan harinya, Kamis (13/1) kegiatan dilanjutkan ke Sekolah SDN 6 Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir. Materi yang disampaikan adalah “Manfaat Hutan Bagi Kehidupan”.



Adapun jumlah peserta yang mengikuti adalah siswa kelas 5 dengan jumlah siswa sebanyak 36 siswa.
Dihari ke tiga tepatnya Jumat (14/1) kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi di SMPN 5 di Desa Padu Banjar, Kec. Simpang Hilir. Materi yang disampaikan adalah “Manfaat Orangutan bagi Hutan dan Manusia”. Peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah siswa kelas 8 dengan jumlah peserta 50 orang.




Alur kegiatan lecture ini dilakukan seperti biasa yaitu diawali dengan perkenalan, kemudian bermain game, penyampaian materi dan terakhir sesi tanya jawab.
Dari kegiatan lecture yang telah dilakukan di tiga sekolah tersebut, ada hal yang menarik ketika kami di SMPN 5 Simpang Hilir. Ketika kami bertanya kepada semua peserta mengenai Orangutan, ternyata mereka selama ini tidak mengetahui bahwa status orangutan itu sangat terancam punah dan dilindungi oleh undang-undang.
Mereka paham dengan satwa orangutan, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa orangutan dilindungi. Nah, dengan kejadian ini sosialisasi mengenai satwa-satwa yang dilindungi perlu dilakukan secara merata. Dengan harapan para generasi muda dapat menyebarkan informasi yang bermanfaat terhadap orang lain.
Narasi : Riduwan-Yayasan Palung
Foto: Agun prayoga dan M. Rizal -WBOCS
Tahun baru telah datang, tahun lalu telah usang
tapi menanti asa itu harap yang masih ada hingga kini
Asa akan nafas semua makhluk ciptaan
tak terkira harapan, harap akan semua bernyawa
Ingatku, hutan belantara perlu jiwa
Jiwa yang peka bukan lupa
jiwa yang ingat asa, ingat karya Sang Pencipta
Menerka banyak yang mengira
tentang satwa dan semua makhluk
Ingatku, hutan belantara, satwa perlu disapa
Menyapa tak sekedar seremoni, tak sekedar kompetisi, tetapi kesanggupan untuk terus ada
Pencipta menitipkan semua kepada semua kita titah agar semua boleh kiranya harmoni
Asa tak sekedar semangat atau pun harapan, akan tetapi boleh kiranya dengan sisa-sisa tenaga
Semua menanti asa di tahun ini, hutan belantara dan bernyawa berlanjut hingga nanti
Semua harap pasti bisa dengan rasa dan tindakan nyata bukan janji belaka.
Tulisan ini juga dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/61e1162280a65a4bbb672fd3/semua-menanti-asa
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Bulan Desember tahun lalu, Yayasan Palung (YP) berkesempatan melakukan kunjungan lapangan (fieldtrip) bersama kelompok dampingan dan mitra ke Lubuk Baji, Taman Nasional Gunung Palung. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari (18-19 Desember 2021).
Adapun tujuan kegiatan tersebut sebagai apresiasi YP terhadap masyarakat dampingan dan mitra YP. Selain itu, untuk membangun kembali program kerjasama tahun 2022 guna mencapai tujuan bersama serta menjadi sarana bagi masyarakat dampingan untuk memberikan pendapat dan masukan kepada YP dan pemerintah terkait kegiatan pemberdayaan.
Ikut serta dalam kegiatan fieldtrip itu antara lain seperti 1 orang perwakilan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong Utara, 1 orang perwakilan dari Kecamatan Simpang Hilir, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari desa Penjalaan, Nipah Kuning, Pemangkat, Pulau Kumbang, dan Padu Banjar. Ikut hadir juga dari kelompok pengrajin kelompok Peramas Indah, Ida Craft, Karya Sejahtera, Meteor Garden, ResamKu, Mina Segua dan Rintis Betunas, masing-masing diwakili 1 orang. Semua peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 30 orang termasuk 1 pendamping dari TANAGUPA, 2 Porter dan 1 guide dari Kelompok Gerhana Palung, Desa Sedahan Jaya. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Palung, dengan dukungan Balai Taman Nasional Gunung Palung dan KPH Kayong Utara.
Foto-foto kegiatan Fieldtrip :








Serangkaian kegiatan dalam fieldtrip tersebut antara lain diskusi tentang rencana program pendampingan YP tahun 2022. Selanjutnya pada pagi atau hari kedua kegiatan dilanjutkan untuk berkunjung ke Batu Bulan yang lokasinya tak jauh dari Lubuk Baji.
Petrus Kanisius
(Yayasan Palung)
Kita terkadang lupa tentang apa yang telah ekologi berikan bagi kita, tetapi acap kali kita mengabaikannya bahkan mempermainkannya (ekologi) dengan sikap atau perilaku kita berupa ego. Benarkah demikian adanya?.
Mulanya hubungan interaksi sesama makhluk hidup berjalan apa adanya sesuai dengan irama titah Sang Pencipta, namun perlahan tetapi pasti semua itu berubah menuju perubahan total. Entah secara sadar atau tidak sadar kita telah ego terhadap ekologi yang merupakan bagian dari ekosistem.
Satu kesatuan makhluk hidup yang mendiami bumi ini sejatinya selalu beriteraksi satu sama lainnya diciptakan untuk saling harmoni pada awal mulanya, seiring berjalannya waktu muncul yang namanya ego dan penyebabnya tak lain karena kita manusia secara tidak langsung atau pun langsung, sadar atau pun tak sadar.
Ekologi dan ego kita, mengapa dikatakan demikian?. Hubungan interaksi sesama makhluk hidup ini tampaknya saat ini telah mulai bergeser. Tentu, ego kita sudah sangat sering mempermainkan ekologi. Kita sudah sering abai, hingga kita sibuk menyalahkan alam sekitar kita.
Lalu apa ego kita dengan ekologis?.
Suguhan menarik tetapi terkadang menakutkan karena akibat yang ditimbulkan oleh ego kita terhadap ekologi. Lihatlah banjir bandang, kebakaran hutan, hilangnya habitat ragam satwa karena ulah tak terkendali oleh ulah kita manusia.
Persoalan klasik pun sering menjadi biang dari ego kita kepada ekologi. Bumi, air dan daratan serta segala isinya sudah menjadi genggaman manusia mengendalikannya atau memperebutkan ekologi. Dengan kata lain hutan, tanah dan air menjadi perebutan semua orang dengan dalih pembangunan tetapi mengabaikan ekologi tanpa memperbaiki atau setidaknya merawatnya.
Selain itu, ketika satu kesatuan ekologi baik darat atau pun laut sedikit banyak tercemar oleh sampah-sampah plastik yang tak hanya merusak tetapi meracun bahkan membunuh satwa dan biota laut tidak terkecuali terumbu karang.
Ulah kita tak jarang membuat terancamnya satwa. Banyak fakta yang terjadi yang tidak sedikit memakan korban jiwa, seperti misalnya kita melihat ikan paus yang mati karena memakan sampah-sampah plastik di lautan, satwa matinya satwa karena jerat/perangkap atau matinya satwa karena tak ada lagi sumber pakan.
Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Aku ingin bercerita, sebelum bercerita perkenalkan namaku sampah.
Inilah ceritaku, dari dulu hingga saat ini kisahku tak kunjung usai. Aku (sampah) selalu diperbincangkan.
Aku dikatakan sampah karena aku selalu dibuang dan menjadi masalah.
Tak jarang juga aku menjadi berkah, tetapi itulah aku.
Ya karena namaku, sampah.
Sampah dan lagi-lagi sampah demikian orang menyebut namaku. Adapun keluargaku seperti sampah plastik, sampah-sampah rumah tangga dan sampah industri.
Banyak slogan tentang aku; Jika sampah diperhatikan maka akan memberi berkah. Demikian pula bila aku diperdulikan dan memanfaatkanku dengan bijaksana maka aku akan memberi manfaat.
Caci maki sering ku terima, karena aku hanya setumpuk sampah. Sayangnya aku terlanjur menumpuk pada segenap penjuru dari ujung kampung hingga ke penjuru negeri hingga negeri antah berantah di bumi ini.
Namaku memang sampah, tetapi bukan aku sesungguhnya menjadi sumber pertama penyebab.
Karena jika aku diperhatikan maka aku bukan penyebab, sebaliknya jika tidak diperhatikan maka aku dikata-katai sebagai penyebab utama.
Aku terlanjur bersedih karena aku selalu dikata sebagai sumber masalah di bumi ini.
Aku pun kiranya ingin bertanya, apakah aku sesungguhnya menjadi biang keladi?
Aku hanya ingin bertanya siapa sejatinya yang menciptakan aku dan memberi namaku dengan nama sampah? Mengapa namaku sampah bukan berkah?
Mengapa aku dibuang di sembarang tempat?
Tak jarang jika ingin melihatku, lihatlah laut, lihatlah sungai, lihatlah selokan, lihatlah tanah atau lingkungan sekitar tak jarang aku berada di tempat-tempat tersebut. Aku dikata sebagai sumber bencana, sumber penyakit dan banyak lagi hal yang lainnya semua seolah salahku.
Masih adakah rasa sayang terhadapku?
Bila ada, aku hanya ingin mengatakan, jangan membuang aku disembarang tempat lagi. Aku pun bersedih, panasnya bumi karena aku takut dikata-katai lagi.
Aku hanya ingin berpesan, bijaksanalah denganku. Karena aku pun sejatinya tahu siapa yang menciptakan hadirnya aku di muka bumi ini.
Maafkan aku wahai manusia, karena kalian sering kali menyalahkanku karena hadirnya aku. Akan tetapi kiranya, berhentilah menciptakan aku sebagai sampah yang tak berguna.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pada tanggal 17-19 Desember 2021 Yayasan Palung melakukan kegiatan Workshop WBOCS di Penginapan Biva, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.
Kegiatan ini merupakan agenda rutin Yayasan Palung terhadap para penerima beasiswa WBOCS guna untuk meningkatkan kapasitas diri mereka yang dilaksanakan setiap akhir tahun.
Kegiatan tersebut dilakukan selama kurang lebih 3 hari dengan jumlah peserta 21 orang dari angkatan WBOCS 2018 sampai angkatan 2021.
Selama 3 hari para penerima mendapatkan berbagai materi seperti penyampaian pembuatan laporan berkembangan WBOCS, personal story, presentasi rencana penelitian WBOCS angkatan 2018, membuat rencana kegiatan WBOCS Balek Kampong, materi media kampanye dan fotografi yang dilanjutkan dengan kegiatan fieldtrip di Wisata Hutan Mangrove Sukadana, materi tentang Stasiun Riset Cabang Panti, serta rencana tindak lanjut rekrutmen WBOCS 2022.
Kegiatan berjalan dengan lancar sesuai dengan yang direncanakan. Dalam kegiatan ini juga ikut hadir Edi Rahman, selaku direktur lapangan Yayasan Palung, beliau menyampaiakan kegiatan seperti ini perlu dilaksanakan untuk menambah wawasan para penerima beasiswa dalam hal seperti public speaking, membuat rencana kegiatan dan kegiatan lainnya.








Disamping itu, Yayasan Palung saat ini juga mempunyai wilayah binaan Hutan Desa di Kecamatan Simpang Hilir yang bisa dijadikan salah satu opsi judul penelitian baik secara ekologi maupun sosialnya.
Selain Direktur Yayasan Palung, Edi Rahman, ikut hadir juga Ahmad Rizal, Asisten Penelitian Stasiun Riset Cabang Panti yang menyampaikan materi tentang Stasiun Riset Cabang Panti. Hal ini, bertujuan agar para penerima beasiswa memiliki gambaran terkait rencana penelitian mereka baik yang berada di lapangan maupun di laboratorium.
Rizal juga menjelaskan beberapa bangunan camp yang ada disana beserta fungsinya. Selain itu, Rizal menjelaskan beberapa judul penelitian yang pernah dilakukan para mahasiswa sebelumnya seperti judul penelitian yang berkaitan dengan pakan orangutan, prilaku orangutan, kotoran orangutan baik urin maupun fesesnya, serta beberapa judul penelitian yang lainnya. Setelah semua rangkaian kegiatan workshop WBOCS selama 3 hari selesai, kegiatan dilanjutkan dengan rencana tindak lanjut workshop WBOCS ditahun 2022 dan sesi foto bersama sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Penulis : Riduwan
Editor : Pit
Yayasan Palung

Hallo, saya Ratiah, WBOCS angkatan 2017. Saat ini sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Kali ini, saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI ) yang bekerjasama Yayasan Palung (YP) di Desa Pangkalan Jihing, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang.
Kegiatan itu adalah kegiatan Rutin. Jika Yayasan ASRI melakukan Pengobatan Keliling. YP melakukan kegiatan Pendidikan Lingkungan (Kesling). Ini merupakan kegiatan bersama ASRI dan YP. Kami melaksanakan kegiatan tersebut pada Selasa 14 Desember 2021. Saya dan Tim Pendidikan Lingkungan (PL) YP beserta ASRI berangkat menuju ke desa Pangkalan Jihing. Untuk sampai ke sana kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih enam jam dan melewati beberapa jalan berbukit. Sesampainya di sana rasa lelah saya karena perjalanan pun terbayarkan setelah melihat antusias anak-anak SDN 20 Pangkalan Jihing ketika kami berkunjung ke sekolah tersebut keesokan harinya.
Mereka (murid-murid Sekolah Dasar) terlihat begitu bersemangat menyambut kedatangan kami. Kami saling berkenalan dan bermain game bersama, setelah itu Bang Riduwan dari Tim PL Yayasan Palung menyampaikan materi mengenai flora dan fauna, kemudian kami dan anak-anak yang telah terbagi menjadi beberapa kelompok turun ke lapangan untuk mengamati flora dan fauna yang ada disekitar sekolah mereka. Lalu setelah itu mempresentasikan hasil pengamatannya di depan kelas. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 Wib hingga 10.00 Wib tersebut berjalan dengan lancar, saya sendiri merasa sangat beruntung dapat kesempatan bertemu mereka yang semangat belajarnya begitu luar biasa. Pada malam harinya kami nonton bareng bersama warga desa Pangkalan Jihing di rumah bapak Sukri tempat kami menginap, sementara itu dari tim @alamsehatlestari mengadakan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan kepada masyarakat di dusun Pangkalan Jihing.












Pada hari terakhir kami 16 Desember 2021, Saya dan Tim (Bang Pit, Bang Wawan, Bang Riduwan dan bang Syainullah) berangkat ke Desa Bayangan, yang jaraknya kurang lebih setengah jam perjalanan dari Desa Pangkalan Jihing. Kami mengunjungi SDN 28 dan SMP 07 Desa Bayangan untuk melakukan kegiatan yang sama. Saya dan Bang Syainullah bertugas untuk memberikan materi dan pendampingan di SD, sedangkan Bang Pit dan Bang Riduwan akan menyampaikan materi Hutan di SMP.
Semua kegiatan kami juga didokumentasikan oleh bang Wawan. Antusias anak-anak di sana pun tidak kalah asik dari sebelumnya. Mereka sangat bersemangat ketika kami ajak mengamati keanekaragaman flora dan fauna yang ada disekitar sekolah mereka, bahkan saya dan anak-anak saling bertukar pengetahuan tentang nama-nama tumbuhan berdasarkan daerah kami masing-masing. Betapa bahagianya ketika mengingat moment dimana mereka tertawa setelah mendengar saya menyebutkan nama bunga dengan sebutan bunga Sugi Nenek begitupan saya ketika mendengar sebutan nama tumbuhan didaerah mereka.
Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa, jika ada kesempatan dilain waktu tentu saya tidak akan melewatkannya.
Penulis : Ratiah-WBOCS angkatan 2017
Editor : Pit
Yayasan Palung