Foto-foto rangkaian kegiatan dalam memperingati hari bumi, 22 April 2016 dan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan. Foto Dok. Yayasan Palung.
Walau telah berlalu beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 22 April 2016 lalu, tetapi setidaknya ini yang dapat kami lakukan untuk memperingati hari bumi dengan berbagai kegiatan.
Dimulai dari kegiatan menyongsong hari bumi pada tanggal senin 18 april 2016, Yayasan Palung dan relawan Konservasi Tajam bersama beberapa Sispala seperti Sispala Care, dari SMAN 2 Ketapang, Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes Ketapang melakukan kampanye untuk bumi melalui Radio Kabupaten Ketapang. Dalam kampanye tersebut, mereka berbicara banyak tentang pesan dan aksi-aksi mereka untuk bumi. Salah satunya, baik relawan maupun sispala telah banyak melakukan aksi seperti menanam pohon dan menyuarakan pesan-pesan lingkungan untuk mengingatkan kepada masyarakat tentang keadaan bumi yang perlu perhatian dari semua pihak.
Selanjutnya, tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung mengadakan ekspedisi di Kecamatan Kendawangan. Ekspedisi tersebut dilakukan selama 5 hari. Rangkaian kegiatan seperti berkunjung ke sekolah-sekolah di tingkat Sekolah Dasar untuk melakukan puppet show (panggung boneka) dan SMA dan SMK untuk melakukan lecture (ceramah lingkungan). Dalam penyampaian cerita melalui puppet show, kami bercerita tentang hutan dan satwa melalui media boneka. Sedangkan lecture, kami mengadakannya lecture di SMKN 1 dan SMN 1 Kendawangan. Pada lecture, Yayasan Palung menyampaikan informasi tentang manfaat hutan dan orangutan bagi manusia. Selain itu juga menyampaikan tentang informasi perilaku orangutan yang hidup di habitatnya (hutan), misalnya membuat sarang selalu berpindah-pindah setiap harinya dan tingkat kecerdasan orangutan saat menggunakan pelindung kepala dengan ranting-ranting dan daun pohon ketika hujan.

Pemutaran Film lingkungan oleh para relawan untuk kampanye penyadartahuan, dalam rangka memperingati hari bumi 2016.
Selain itu juga, kami mengadakan diskusi masyarakat untuk menggali informasi terkait isu-isu kekinian lingkungan seperti hutan dan satwa di Desa mereka. tidak hanya itu, kesempatan lainnya kami gunakan untuk mensosialisasikan tentang perlunya perlindungan terhadap satwa-satwa dilindungi seperti orangutan, kelempiau, kelasi, enggang dan trenggiling. Selain juga perlunya melindungi hewan-hewan laut seperti penyu dan keberadaan beberapa jenis ikan serta terumbu karang juga hutan bakau.

Diskusi Dengan Masyarakat dalam bingkai kegiatan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan tentang manfaat hutan dan perlunya perlindungan satwa. Foto dok. YP.
Pada puncak peringatan hari bumi, saat melakukan ekspedisi pendidikan lingkungan, kami juga mengadakan workshop untuk pembuatan pesan-pesan kampanye lebih khusus memperingati hari bumi. Terlihat sangat antusias dari peserta workshop di SMAN 1, Kendawangan. Pada workshop tersebut, peserta yang ikut terdiri 25 orang yang terdiri dari siswa-siswi dan ikut hadir pula dewan guru mereka. Mereka juga membuat hastag(#) seperti #DariKamiUntukBumi #HariBumi2016 #YayasanPalung#SMANSAKendawangan.

Foto bersama Siswa-Siswi yang ikut dalam worksop pembuatan pesan tentang bumi. Foto dok. YP.
Di tempat terpisah, di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara para relawan yang terdiri dari Relawan Tajam dan RebonK, Yayasan Palung memperingati puncak acara yang dilakukan oleh para relawan untuk memperingati hari bumi 2016, dengan mengambil tema “Jika Tidak Mampu Memperbaiki, Jangan Merusak Bumi”.
Relawan Konservasi Tajam (RK.TAJAM) Yayasan Palung menyiapkan Taman Bacaan yang diperuntukkan bagi anak-anak usia dini dan Puppet show (panggung boneka), bertutur tentang lingkungan dan satwa. Selain itu juga melakukan pemutaran film lingkungan, seperti pemutaran film lingkungan tentang Indonesia Diambang Kepunahan. Ikut hadir juga beberapa Sispala Gersisma (MAN Ketapang), Sispala Genta, (SMK 1 Ketapang), Sispala Repatones (SMA PL. St. Yohanes Ketapang), Sispala CARE (SMAN 2 Ketapang) dan Sispala Tapala (SMKN 2 Ketapang) serta beberapa sukrelawan/relawan dari luar yang sangat antusias membantu.

Puppet show dan taman baca oleh Relawan Konservasi Tajam dan beberapa Sispala yang ada di Ketapang. Foto dok. YP.
Di Relawan RebonK, Yayasan Palung melakukan aksi dengan berorasi terkait pesan-pesan mereka untuk bumi di Tugu Durian, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Selanjutnya para relawan bersama Sispala Land, SMKN 1 Sukadana, Sispala Granasanda, SMAN 2 Sukadana. Mereka yang berjumlah 50 orang tersebut mengadakan penanaman pohon bakau dan pohon penage sebanyak 83 bibit di lokasi Pantai Pasir Mayang.

Penanaman Pohon oleh Relawan RebonK bersama beberapa Sispala yang berada di Kab. Kayong Utara (KKU). Foto dok. YP.
Semua rangkaian kegiatan hari bumi yang diperingati tersebut sebagai pengingat tentang keadaan bumi saat ini yang telah rusak perlu kepedulian, perhatian dan peran serta semua pihak untuk menjaga serta berperilaku bijaksana terhadap bumi. Demikian juga halnya dengan rangkaian kegiatan ekspedisi pendidikan lingkungan yang dilaksanakan berjalan dengan sukses berkat dukungan kerjasama, dukungan dan dibiayai oleh Riverbanks Zoo yang memiliki perhatian kepada pendidikan lingkungan, hutan dan satwa dilindungi.
Berita terkait dapat dilihat di link : http://pontianak.tribunnews.com/2016/04/26/peringati-hari-bumi-relawan-tajam-dan-rebonk-tanam-83-bibit-pohon-di-pantai-pasir-mayang
By : Pit- Yayasan Palung

Puluhan orang dari Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK. TAJAM), Yayasan Palung dan perwakilan dari Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang terlihat sangat bersemangat sore itu.
Semangat mereka tidak lain untuk mengajak mengenal satwa dan tumbuh-tumbuhan melalui taman baca dan panggung boneka (puppet show) bertempat di Taman Keraton, Mulia Kerta, Kecamatan Benua Kayong, Sabtu (9/4/2016).

Sekitar 60 hingga 100 anak-anak usia dini silih berganti datang untuk melihat, belajar tentang satwa dan tumbuh-tumbuhan melalui taman baca. Di taman baca tersebut, para relawan menyiapkan berbagai buku cerita anak-anak seperti komik, cerpen dan beberapa buku tentang cerita satwa dan tumbuh-tumbuhan.

Ada juga buku-buku tentang cerita tentang pertualangan di hutan dan gambar-gambar satwa. Setidaknya, relawan menyiapkan 150 judul buku yang siap dibaca oleh anak-anak.

Anak-anak yang berumur tiga hingga sembilan tahun terlihat sangat antusias dan senang. Mereka melihat, membuka lembaran demi lembaran buku yang telah disediakan di Taman dan membacanya. Anak-anak tersebut datang bersama ibu mereka, ada juga yang bersama neneknya.
Selain membaca, anak-anak usia dini tersebut juga diajak mengenal satwa melalui panggung boneka. Empat orang relawan betugas untuk bertutur menceritakan tentang satwa-sawa endemik dan dilindungi seperti kelempiau, enggang dan bekantan.
Adapun cerita yang mereka (relawan-red) tuturkan antara lain tempat tinggal satwa-satwa tersebut di hutan yang keadaannya semakin berkurang dan terancam punah. Dalam cerita tersebut pula, anak-anak diajak untuk peduli, mencintai lingkungan dan satwa di habitat hidupnya.
Sebagai pembina Relawan Tajam, Ranti Naruri dari Yayasan Palung mengatakan; kegiatan ini bertujuan untuk mengajak sekaligus juga memberikan pendidikan bagi anak usia dini. Lebih lanjut menurut Ranti, sapaan sehari-harinya menegaskan, pendidikan usia dini itu sangat penting, apalagi lingkungan saat ini.
Menumbuhkan kesadaran (sebagai media penyadartahuan), mengenalkan kepada mereka satwa dilindungi begitu penting karena mereka juga sebagai generasi penerus.
Dengan diadakan kegiatan seperti ini, besar harapan ada tumbuh kecintaan dari anak-anak untuk mencintai lingkungan di sekitar mereka, dengan demikian pula semoga anak-anak bisa mencintai, peduli dengan alam dan satwa di habitatnya.

Selain dari Relawan Tajam dan dari perwakilan Dishut Ketapang, Yayasan Palung hadir pula asisten peneliti orangutan dari stasiun peneliti Cabang Panti, Gunung Palung (TNGP), Agus Trianto.
Kegiatan ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya pada hari pekan peduli orangutan tahun 2015 lalu. Selanjutnya akan diadakan pada 23 April 2016 yang akan datang di Taman KotaKetapang.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.00 tersebut berakhir pada pukul 17.00 Wib tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pengunjung.
Tulisan ini pernah dimuat di Tribun Pontianak (tribunnews.com), ini link tulisannya : http://pontianak.tribunnews.com/2016/04/12/relawan-ajak-anak-usia-dini-mengenal-satwa-tumbuh-tumbuhan-melalui-taman-baca-dan-panggung-boneka
by : Petrus Kanisius ‘Pit’-Yayasan Palung

Saat Belajar geographic information systems (GIS)di kantor Yayasan Palung.
Asyik, mungkin kata itu yang cocok untuk dipaparkan karena kami berkesempatan langka untuk belajar geographic information systems (GIS), bertempat di kantor Yayasan Palung selama empat hari, tepatnya dari 5 hingga 8 April 2016, kemarin.
Dalam kesempatan belajar GIS tersebut, kami mendapat kesempatan diajarkan oleh Amanda Marie West, Phd. Amanda merupakan salah seorang ahli GIS dan juga sebagai seorang yang ahli ekologi dari Colorado State University, Amerika Serikat.
Hari pertama (5 April 2016), kami diajarkan tentang materi dasar-dasar GIS, selanjutnya belajar menggunakan aplikasi QGIS untuk membuat peta. Kami juga diajari tentang bagaimana memasukan data peta Indonesia, peta Kalimantan, peta Kabupaten (Ketapang dan KKU) untuk pembuatan peta jalur, peta jalan, sebaran populasi orangutan yang ada di Gunung Palung. Pada hari pertama belajar tersebut, kami diajari untuk mengenal sekilas tentang QGIS dan bagaimana menggunakan programnya (aplikasi QGIS).

Di hari kedua (6 April 2016), kami diajarkan tentang bagaimana membuat skala, legenda, temperatur dan menentukan fokus studi area penelitian. Selanjutnya diharuskan untuk mempraktekan dengan membuat skala pada peta, menentukan berapa skala dari peta yang tentukan, misalnya penentuan skala tergantung dari kemauan dari penentuan skala yang kita mau, seperti skala 1: 50 km, 1:100 km dan seterusnya.
Setelah ditentukan skala, selanjutnya peta disimpan dan siap dicetak setelah sebelumnya juga ditentukan legenda.

Pada hari ketiga (7 April 2016), kami diajarkan untuk membuat peta dan memasukan data-data untuk mengetahui peta jalan. Pada pelajaran tersebut, kami diajarkan untuk mengetahui jumlah atau berapa banyak jalan yang ada di Indonesia.
Dalam penentuan peta jalan tersebut, tampak berapa banyak jalan yang ada di Seluruh Indonesia dan perbandingan di pulau mana saja yang paling banyak terdapat jalan.
Keempat (8 April 2016), kami diajarkan untuk membuat peta suhu atau iklim. Dalam penentuan peta suhu atau iklim kami diajarkan untuk membuat data peta suhu Indonesia.
Pada pembuatan peta suhu, terlebih dahulu kami memasukan data temperatur yang ada di Indonesia. Setelah memasukan data, di peta akan terlihat dan dapat diketahui berapa suhu (iklim) yang ada di Indonesia.
Dari hari pertama hingga hari keempat, kami semua yang belajar diharuskan melakukan praktek untuk menyimpan dari hasil belajar GIS yang kami pelajari.
Sekilas tentang profil Amanda M. West, PhD, yang mengajarkan kami dengan secara sukarela dan penuh dengan ketelitian. Amanda merupakan seorang lululusan S3 jurusan Ekologi dari Colorado State University, Amerika Serikat. S1 nya keilmuan lingkungan di University North Carolina Asheville dan S2 di North Carolina State University di Keilmuan Agraria.
Saat ini Amanda bekerja di Laboratorium Natural Resource Ecology (ekologi sumber daya alam), sebelumnya juga Amanda pernah menjadi pengajar geographic information systems (GIS) dan mengajar di Etiopia (Afrika), mengajar di beberapa universitas di sana dan di Amerika Serikat membantu program dari NASA yang dikenal sebagai “DEVELOP”, program khusus di NASA khusus untuk mahasiswa di tiga universitas di AS.
Amanda bekerja bersama Dr. Paul Evangelista dari Colorado State University. Selain itu, Amanda merupakan salah seorang ahli penggunaan GIS untuk perubahan iklim dan spesies konservasi.
Kami merasa sangat beruntung mendapat kesempatan langka dan mendapatkan ilmu secara gratis tentang GIS tersebut. Tentunya juga, Pelatihan QGIS ini tentunyasangat bermanfaat bagi program-program Yayasan Palung Kedepan seperti survei dan untuk mengetahui survei populasi orangutan dan lain sebagainya.
Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Tribun Pontianak (tribunnews.com) online, ini link tulisannya: http://pontianak.tribunnews.com/2016/04/12/asyik-belajar-gis-langsung-dari-ahlinya
By : Petrus Kanisius ‘Pit’-Yayasan Palung

Panggung boneka (puppet show) Mengenalkan satwa di Sekolah bagi anak-anak usia dini. Foto dok. Yayasan Palung
Sejak tahun 2003 Silam, Yayasan Palung telah melakukan kampanye (mengenalkan satwa) melalui media panggung boneka (puppet show). Ragam satwa seperti orangutan, bekantan, kelasi dan kelempiau sebagai satwa dilindungi acapkali dilakukan ketika berkegiatan seperti ekspedisi lingkungan ke kampung-kampung.
Cerita orangutan, kelempiau, kelasi dan juga enggang tidak lupa dituturkan melalui panggung boneka. Panggung boneka biasanya bisa dimainkan oleh 1 hingga 6 orang. Tergantung berapa banyak boneka tangan yang tersedia.

Becerita tentang orangutan dengan media boneka atau puppet show di TK St Theresia Ketapang. Foto dok. YP.
Di Yayasan Palung, Tim Pendidikan Lingkungan (PL) yang selalu memainkan boneka melakukan puppet show. Sebagai panduan bercerita jika ceritanya panjang biasanya menggunakan skrip. Ragam cerita seperti hutan, buah-buah hutan sebagai salah satu hal yang tidak terpisahkan bagi satwa ketika mereka hidup dan makan di hutan.

Bertutur tentang satwa dan hutan dengan menggunakan media boneka (puppet show) di Sekolah Dasar. Foto dok. YP.
Melalui puppet show juga bertujuan untuk mengenalkan satwa kepada anak-anak pada usia dini. Dengan kata lain, panggung boneka seperti yang Yayasan Palung lakukan diperuntukan bagi anak-anak usia dini (anak TK dan SD).
Sebagai pemain utama Puppet show, sebagai pemain yang pasih memainkan, menggerakan dan bertutur/bercerita boneka adalah Ranti Naruri.
Semoga dengan media boneka, anak-anak bisa mengenal satwa-satwa dilindungi sejak dini dan mudah-mudahan ada tumbuh rasa untuk melindungi dan mencintai satwa dilingi di habitat hidupnya (hutan). Selamat hari pertunjukan/ panggung boneka (puppet show) sedunia 2016. (Pit-YP).

Ilustrasi gambar, tentang cerita pohon/hutan. Foto dok. Yayasan Palung
Rimbunmu tidak ternilai bagi tersedianya nafas segala bernyawa banyak rebah tak berdaya melawan para tamak dan congkaknya duniawi
Sejengkal tanah hingga tidak terhingga menjadi tempat berdiam, beranak pinak sebagai pertanda habitat kian terhimpit melanda pertiwi
Air sebagai sumber segala, kian kering entah dimana lagi tersedia dan tersisa. Jika ada kian surut mendangkal hingga kering kerontang
Genderang kegaduhan jiwa-jiwa acap kali menghampiri, seakan ingin selalu menantang
Menantang jikalau rimbun berganti bersisir hingga gundul
Gersang padang ilalang bersama padi jerami berpadu dengan semak belukar tersisa tunggul
Deru langkah mesin dan gerobolan mengalahkan tegak kokoh berdiri dari megahnya jambul-jambul hingga tunggul bercokol
Hela nafas kian sesak dan tersedak bila Si jago merah mengamuk segenap penjuru nusantara hingga tetangga
Tak terhingga tanah, idaman para pemodal menanti pundi-pundi investasi penimbun harta benda manati benda
Mengadu Karena, bukan menangada tetapi nyata, tentang;
Hutan Semakin terhimpit, panas membakar tubuh
Tanah Kering Kerontang, dahaga jiwa kian meronta Air Keruh lautan samudera, derai tangis mengaduh gaduh
Rimba raya menanti jiwa kasih tanpa mengeluh mendera masa.
@ Ketapang, Kalbar 21/3/2016, Selamat hari puisi. By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Puisi ini dimuat juga di kompasiana, selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/puisi-hari-puisi-21-maret-2016-hutan-tanah-air-mengadu_56ef936b1fafbd3d07cda63d

73 % dari 53 sungai utama di Indonesia tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga, data tahun 2014. Sumber data capture dari sumber youtube.com
Bagaimana jika hidup tanpa air?. Masih bolehkah air akan selalu setia mengalir dan menyediakannya bagi kehidupan?.
Bertepatan dengan hari air internasional (hari air sedunia 2016) yang diperingati setiap tanggal 22 maret, mengingatkan kita semua kepada fungsi dan peran penting air bagi kehidupan. Setidaknya refleksi pertanyaan diatas memberikan rambu-rambu kepada kita semua agar air tetap mengalir dengan bagaimana cara dan langkah semua untuk mengatasi hal ini.
Mungkin jika boleh berujar, hingga akhir hayat pun semua makhluk hidup terlebih manusia masih akan selalu membutuhkan atau memerlukan air dalam tatanan kehidupan sehari-hari. Dari tahun ke tahun sudah dipastikan kebutuhan akan air, terutama air bersih sangat diperlukan (kebutuhan utama). Bagi kita manusia saat mandi, mencuci, minum, memasak dan untuk menyiram tanaman (pertanian) tidak terlepas dari air. Dengan kata lain air merupakan salah satu unsur utama masyarakat sehari-hari, terutama bapak dan ibu rumah tangga, petani, industri dan transpotasi sungai atau laut. Demikian juga halnya dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan ketika mereka melepas dahaga dan bertahan hidup.
Sumber air sangat melimpah berada di wilayah Indonesia, sejatinya. Akan tetapi, saat ini keberadaan sumber air terutama air bersih sudah semakin tahun semakin berkurang jumlahnya. Alasannya karena sumber resapan air berupa hutan sudah semakin jauh berkurang (hutan semakin sedikit) sehingga air sudah semakin sulit ditemukan (mata air/ sumber air bersih), keberadaan air sungai pun tidak melimpah lagi, ditambah lagi dengan adanya pencemaran di sana sini akibat aktivitas masyarakat dan lain sebagainya termasuk pabrik dan industri.
Pencemaran air yang terjadi di Indonesia berdasarkan data menyebutkan, 73 persen dari 53 sungai utama di Indonesia sudah tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga, data tahun 2014, capture dari sumber youtube. Artinya, sebagian besar keberadaan sungai yang ada di Indonesia sangat rentan tercemar.
Tentu hal ini menjadi salah satu langkah bagi kita semua untuk bagaimana caranya agar air dapat terjaga dan tidak tercemar. Tata aturan tentang AMDAL dan tata aturan ijin usaha bagi pelaku usaha/bisnis terutama industri, perusahaan sejatinya harus taat dan sejatinya harus tunduk pada regulasi ini. Demikian juga perilaku bijak terhadap penggunaan air bagi kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat sudah sepatutnya dilakukan dengan berhemat menggunakan air.
73 % dari 53 sungai utama di Indonesia tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga, data tahun 2014. Foto capture dari video air sumber youtube. Selain itu, dari data dari US Embassy dan FAO menyatakan, 75 persen kebutuhan air di dunia didapat dari hutan. Dari data ini, setidaknya dapat dikatakan antara air dan hutan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ada hutan air pun ada, mungkin demikian kata singkatnya. Setidaknya 75 % kebutuhan air tawar di dunia didapat/tersedia dari hutan. Sumber data dari FOA Wikipedia via info U.S. Embassy, Jakarta.
Sudah barang tentu, Pasal 33 UUD 1945, terutama ayat 3 yang menyebutkan Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bumi, air dan kekayaan alam yang menjadi poin penting bagi kemakmuran masyarakat seharusnya menjadikan patokan. Namun apakah sudah berjalan seiring sejalan?.
Rusaknya bumi, air dan hutan menjadi bukti nyata kini. Sehingga tidak jarang bumi, air dan hutan sudah semakin sulit untuk kemakmuran rakyat (masyarakat). Tidak bisa disagkal, semakin berkurangnya hutan sama halnya dengan ketersediaan air, terutama air bersih bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari semua unsur kehidupan.
Tidak bisa ditawar-tawar lagi, jika ingin air terus mengalir sebagai pemenuhan kebutuhan primer masyarakat mau tidak mau, harus mau bersama-sama menanam, merawat, memupuk hutan sebagai daya resap (ketersediaan air). Jika hutan ada banyak tumbuh dan bertahan, maka dengan sendirinya air akan melimpah dan tersedia mengalir sampai nanti (selama-lamanya). Akan tetapi apabila hutan tidak banyak berdiri kokoh maka hampir dipastikan air akan semakin sulit didapatkan dan kering kerontang siap menghadang. Semoga ketersediaan air selalu ada dan dapat mengalir tanpa hambatan.
Bukankah benar adanya jika tanpa air, maka tidak ada kehidupan. Selamat hari air Sedunia. Semoga kita bisa berhemat, bijak dalam memanfaatkan air sebagai pemenuhan kebutuhan hidup (Sumber hidup/Kehidupan). Semoga saja…
By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung
Tulisan ini dimuat di kompasina: http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/berharap-air-akan-setia-mengalir-sampai-nanti-bagaimana-caranya-tapi_56f0d3db43afbdab103cc8aa
Lihat juga tulisan terkait tentang air di: http://www.pontianakpost.com/andai-kata-hidup-kehidupan-tanpa-air-apa-jadinya

Sumber Foto dok. FAO dan U.S. Embassy, Jakarta-Indonesia, tentang hari hutan sedunia 2016
Tanggal 21 Maret 2015 ditetapkan sebagai hari Hutan Sedunia. Mengapa kita harus memperingati hari hutan dan mengapa hutan itu penting serta bagamana nasib hutan kini?.
Hutan ibarat sebagai tempat ataupun rumah yang aman, nyaman bagi semua unsur kehidupan tidak terkecuali manusia. Hutan yang menjadi rumah bagi semua makhluk segala bernyawa itupun tidak terelak usianya sudah semakin tua renta hingga semakin kian terkikis menjalang habis.
Keberadaan hutan yang semakin terkikis setidaknya memberikan arti mengapa kita harus memperingati hari hutan sedunia tersebut. Selain itu, mengapa hutan itu penting bagi keberlanjutan makhluk hidup termasuk manusia?. Setidaknya cukup banyak contoh yang terjadi berkaitan dengan nasib hutan kini keadaan dan keberadaannya semakin memprihatinkan.
Mengingat, selain sebagai sumber hidup dan rumah bagi semua makhluk, hutan juga memiliki peran penting dalam proses keseimbangan ekosistem. Adanya hutan juga menjadikan ragam tumbuhan dan makhluk hidup seperti hewan dapat hidup berkembangbiak dengan baik adanya. Hutan sebagai paru-paru dunia, pelindung sekaligus penjaga dan penyedia. Oksigen, dengan mudahnya kita peroleh ketika hutan masih tersedia. Bagaimana jika tidak ada lagi hutan yang tersisa?. Selain itu, hutan menjadi penyedia sumber air dan pelindung dari segala ancaman seperti banjir, tanah longsor dan perubahan iklim.
Tidak hanya itu, hutan juga sebagai penyaring dari beberapa aktivitas kegiatan manusia dan mesin. Hutan dapat menyaring polusi dari asap kendaraan dan pabrik. Dengan adanya hutan dapat mengurangi laju perubahan iklim. Satwa, tumbuh-tumbuhan dan manusia tidak terdampak, namun jika hutan masih tersisa.
Ragam tumbuh-tumbuhan yang tersedia di hutan sebagai sumber obat-obatan herbal dan tradisional masyarakat bagi manusia bahkan bagi dunia kesehatan.
Akan tetapi, dari tahun ke tahun tidak bisa di sangkal. Hutan semakin kritis menjelang terkikis habis. Hutan tropis dunia termasuk yang ada di Indonesia dan masih tersisa selain hutan di Brazil dan Kongo yang kini menjadi surga terakhir.
Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebutkan, Saat ini Indonesia termasuk negara dengan tingkat kerusakan hutan yang paling tinggi di dunia atau dapat dikatakan mencapai sekitar 680.000 hektar per tahun, (dalam tulisan Kompas, 21/3/16).
Forest Watch Indonesia, mencatat; kerusakan hutan di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Hingga saat ini, kerusakan hutan Indonesia sudah mencapai 2.000.000 hektar per tahun.
Dari data tersebut, sudah barang tentu hutan dan beragam flora dan fauna dalam ancaman nyata. Tidak terkecuali manusia. Semakin sedikitnya hutan yang tersisa memberikan ancaman baru yang nyata. Tengok saja banjir, longsor, tumbuhan dan satwa semakin sulit berkembangbiak dan bertahan. Hal yang sama juga telah kita rasakan secara langsung, semakin tidak menentunya iklim berdampak besar bagi sebagian besar aktivitas sehari-hari. Banjir, tanah longsor yang terjadi selain sebagai penghambat, juga sebagai pemicu perlambatan ekonomi masyarakat (negara). Berapa kerugian akibat banjir dan tanah longsor?. Yang pasti sangat besar. Arus transportasi terhenti, demikian juga aktivitas lainnya seperti pendidikan, kesehatan, perkantoran dan masih banyak lagi aktivitas-aktivitas masyarakat di luar ruangan seperti petani dan nelayan sudah pasti tidak bisa berjalan.
Sumber kekayaan hutan di Indonesia seperti yang ada di Papua, Kalimantan, Sumatera, Jawa, Maluku dan Bali kini menanti (di) selamatkan. Hutan yang tersisa menjadi surga terakhir bagi keberlanjutan anak cucu hingga nanti menanti untuk dirawat, dijaga, ditanam dan dipupuk kembali. Semua berkewajiban untuk hutan agar tetap berdiri kokoh, tumbuh rimbun sebagai pelindung dan penyedia nafas segala bernyawa yang tak ternilai. Bila tidak, hanya menunggu waktu hutan akan hilang lenyap. Semoga hutan tetap tumbuh rimbun, menjadi rimba raya. Semoga….
Tulisan ini juga dimuat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/selamat-hari-hutan-sedunia-2016-surga-terakhir-bagaimana-nasibmu-kini_56efc032c222bd7908c0206a
By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Talkshow di Radio Kabupaten Ketapang, Desi K. dari Yayasan Palung bersama Dishut Ir. Adi Mulya, beberapa waktu lalu ttg permasalahan kehutanan dan Hutan Desa
Yayasan Palung melakukan survei online untuk mengetahui hasil siaran, jangkauan terkini dan jumlah pendengar Radio Kabupaten Ketapang (RKK) 95,2 FM,1044 AM 288 Meter, yang mendengarkan program siaran (Acara) “BINCANG HIJAU” dan acara lainnya. Adapun acara Bincang Hijau, merupakan kampanye lingkungan Yayasan Palung melalui siaran radio.
Survei dilakukan secara online dan akan dimulai dari tanggal 18 Maret dan ditutup pada tanggal 30 April 2016. Mengingat, Yayasan Palung telah aktif melakukan kampanye lingkungan melalui media radio bekerjasama dengan Radio Kabupaten Ketapang sejak tahun 1999 hingga saat ini (telah berumur 17 tahun/ “Sweet Seventeen”).
Seperti diketahui, program siaran (acara) Bincang Hijau secara rutin dilakukan secara rutin dua kali siaran dalam satu minggu ( setiap hari senin dan kamis) pukul 13.00 – 14.00 Wib.
Strategi kampanye radio yang efektif kedepanya tentunya sangat kami harapankan. Dengan diadakan survei secara online tersebut juga menjadi landasan dasar bagi kami dari Yayasan Palung dan Radio Kabupaten Ketapang (RKK) untuk mendapatkan saran dan kritik ataupun masukan/umpan balik (feedback) dari pendengar dan yang tidak atau belum pernah mendengarkan siaran radio.
Dengan diadakan survei online juga, kami ingin mengetahui secara pasti tentang pendengar, terkait berapa sering pendengar mendengarkan acara Bincang Hijau dan bagaimana dampak dari siaran tersebut.
Besar harapan kami dalam survei online ini, bagi masyarakat luas secara khusus yang berada di wilayah Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara untuk mengisi survei online yang disediakan. Dalam survei tersebut, kami juga akan memilih 3 orang peserta terbaik yang mengisi survei ini akan mendapatkan hadiah menarik berupa alas piring yang terbuat dari produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) hasil kreasi pengrajin dampingan Yayasan Palung. Atas Perhatian dan kerjasamanya, diucapkan terima kasih.
Silakan untuk mengisi survei pendengar Radio Kabupaten Ketapang di link berikut ini : https://www.surveymonkey.com/r/933DTCH

Orangutan bernama Dewi, di Cabang Panti, TNGP saat memakan juicy bagian dari lembar pandan ini. Disebut fallback foods, Termasuk epiphytes seperti pandan. Foto dok. Yayasan Palung dan GPOCP.
Tidak kurang selama 23 tahun, para peneliti dari GPOCP telah menghabiskan lebih dari 70.000 jam untuk mengikuti, belajar dan meneliti orangutan liar yang ada di Stasiun Riset Cabang Panti, TNGP. Hal ini tercatat dan terhitung, saat para peneliti melakukan penelitian mereka terhadap orangutan.
Selain meneliti perilaku, aktivitas dan nutrisi orangutan, beberapa di antaranya meneliti pakan (makanan) orangutan dan beberapa penelitian lainnya terkait kelempiau, kelasi. Selain itu juga ada peneliti yang meneliti tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar peneliti berasal dari luar negeri seperti dari Harvard University, Boston University, Michigan University, (USA), Cambridge University (UK). Ada juga peneliti dari dalam negeri (Indonesia) termasuk asisten peneliti yang ikut membantu di Stasiun Penelitian Cabang Panti. Dari data yang ada, tercatat sebayak 91 orang dari Indonesia yang meneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti dan 83 orang peneliti dari luar negeri. Jika di total telah ada 174 peneliti yang meneliti di Kawasan TNGP, (data peneliti dari tahun 1986-2015, data Yayasan Palung (GPOCP) dan BTNGP).

Selama 23 tahun, peneliti dari GPOCP telah menghabiskan lebih dari 70,000 jam belajar dan orangutan liar. Foto dok. Yayasan Palung dan GPOCP.

Tim Laman, Cheryl Knott, Jessica Laman dan Russell saat mengamati orangutan di Gunung Palung. Foto dok. Trevor Frost.
Yang menarik, beberapa peneliti seperti Timothy Gordon Laman atau lebih dikenal dengan Tim Laman, dari Harvard University (USA) melakukan penelitian dengan rentang waktu penelitian (tahun 1987-1988). Campbell Owen Webb, dari Dartmouth College (UK) melakukan penelitian (1991-sekarang), Andrew John Marshall, dari Harvard University dan Michigan University (USA) melakukan penelitian dari (tahun 1996-sekarang). Selain itu ada juga Cheryl Denise Knott, dari Boston University (USA) melakukan penelitian dari tahun (1991-sekarang). Mereka masih rutin untuk selalu berkunjung dan masih aktif meneliti di kawasan TNGP, lebih tepatnya di Stasiun Riset Cabang Panti. Beberapa penelitian menarik mereka adalah meneliti perilaku, reproduksi dan nutrisi orangutan, seperti yang diteliti oleh Cheryl Knott. Tim Laman melakukan penelitian, pelatihan manajemen hutan; pertanian, kehutanan sebagai teknik konservasi, sedangkan Andrew John Marshall dan Campbell Owen Webb melakukan penelitian tumbuh-tumbuhan, ekologi dan perilaku orangutan.

Camp Stasiun Penelitian Cabang Panti (TNGP). foto dok. Mariamah Achmad
Beberapa perilaku, reproduksi dan tingkat kecerdasan dari orangutan menjadi minat para peneliti. Mengingat, orangutan sebagai kera besar memiliki kemiripan 96,4 % dengan manusia. Orangutan betina juga mengalami datang bulan (menstruasi) dan mengandung 8,5 bulan- hingga ada yang 9bulan. Hal yang menarik lainnya dari Taman Nasional Gunung Palung, karena; di kawasan ini merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpaceae (jenis kayu meranti) yang terbaik dan terluas di Kalimantan. Taman Nasional Gunung Palung memiliki 7 tipe hutan tropis dan 9 tipe habitat secara keseluruhan. Sedangkan beberapa peneliti dari Indonesia yang melakukan penelitian sebagian besar adalah mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas seperti dari Universitas Tanjungpura, Universitas Nasional, Universitas Gadjah Mada dan beberapa universitas lainnya. Selain itu, ada juga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Willughbeia sp Fam Apocynaceae (buah Jantak) Liana,merupakan makanan kesukaan orangutan. Foto dok. Mariamah Achmad.
Adapun menurut data pada tahun 2001, jumlah populasi orangutan yang mendiami kawasan TNGP kurang lebih berjumlah 2.500 individu orangutan, data Yayasan Palung dan BTNGP. Belum ada data terbaru ataupun survei lagi untuk menghitung populasi di sana. Untuk menjangkau Stasiun Penelitian Cabang Panti, Kawasan TNGP diperlukan waktu 7-8 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Sedangkan jika menggunakan sampan bermesin bisa ditempuh dengan waktu 6-8 jam. Hingga saat ini, para peneliti masih melakukan penelitian mereka di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Para peneliti sangat terbantu karena adanya kerjasama yang baik dengan pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP). Berharap semoga saja mereka bisa memberikan kontribusi bagi dunia ilmu pengetahuan (science), selanjutnya juga semoga orangutan tetap ada, terjaga dan tidak punah. Semoga saja…
Petrus Kanisius ‘Pit’-Yayasan Palung
Tulisan ini pernah dimuat di kompasiana. Lihat tulisanSelengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/23-tahun-70-000-jam-mengikuti-orangutan_56d96c8950937361132be344


Yayasan Palung Lakukan Rapat Tahunan. Foto dok. YP
Senin hingga selasa kemarin (1-2 februari 2016), Yayasan Palung melakukan rapat tahunan. Dalam rapat tahunan tersebut beragam kegiatan penyusunan rencana program dan capaian ataupun kendala pada tahun 2015 lalu. Selain itu, seluruh karyawan YP dan GPOCP melakukan penanaman pohon di hutan belakang kantor (di area fieldtrip Siswa-siswi Sekolah Dasar).

Penanaman Pohon di di hutan (di area fieldtrip Siswa-siswi Sekolah Dasar) di belakang kantor Yayasan Palung. Foto dok. YP
Pada hari pertama, senin (1/2/2016), diadakan persentasi dari masing-masing program. Dari masing-masing program pun memaparkan capaian, kendala dan rencana di tahun 2016 dengan beberapa program yang sudah ada dan beberapa program-program baru.
Di hari ke dua, selasa (2/2/2016), kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan diskusi untuk rencana program di tahun 2016.
Selanjutnya, setelah diskusi selesai kami melakukan penanaman pohon di hutan di belakang kantor.
Beberapa bibit yang kami tanam antara lain; tanaman seperti cempedak, manggis, tengkawang dan ubah. Setidaknya ada 30 bibit tanaman.
Keakraban, kebersamaan berbaur menjadi satu dalam rapat tersebut. Fokus dan serius pun tidak luput dari semua yang hadir. Bernyanyi, berjoget bersama juga kami lakukan dalam acara tersebut.
Kegiatan rapat tahunan yang Yayasan Palung laksanakan berjalan sesuai dengan rencana dan sukses. Kegiatan tersebut dihadiri oleh semua staf Yayasan Palung. (Pit-YP)