Gunung Palung Orangutan Conservation Program
Ilustrasi gambar, tentang cerita pohon/hutan. Foto dok. Yayasan Palung
Rimbunmu tidak ternilai bagi tersedianya nafas segala bernyawa banyak rebah tak berdaya melawan para tamak dan congkaknya duniawi
Sejengkal tanah hingga tidak terhingga menjadi tempat berdiam, beranak pinak sebagai pertanda habitat kian terhimpit melanda pertiwi
Air sebagai sumber segala, kian kering entah dimana lagi tersedia dan tersisa. Jika ada kian surut mendangkal hingga kering kerontang
Genderang kegaduhan jiwa-jiwa acap kali menghampiri, seakan ingin selalu menantang
Menantang jikalau rimbun berganti bersisir hingga gundul
Gersang padang ilalang bersama padi jerami berpadu dengan semak belukar tersisa tunggul
Deru langkah mesin dan gerobolan mengalahkan tegak kokoh berdiri dari megahnya jambul-jambul hingga tunggul bercokol
Hela nafas kian sesak dan tersedak bila Si jago merah mengamuk segenap penjuru nusantara hingga tetangga
Tak terhingga tanah, idaman para pemodal menanti pundi-pundi investasi penimbun harta benda manati benda
Mengadu Karena, bukan menangada tetapi nyata, tentang;
Hutan Semakin terhimpit, panas membakar tubuh
Tanah Kering Kerontang, dahaga jiwa kian meronta Air Keruh lautan samudera, derai tangis mengaduh gaduh
Rimba raya menanti jiwa kasih tanpa mengeluh mendera masa.
@ Ketapang, Kalbar 21/3/2016, Selamat hari puisi. By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Puisi ini dimuat juga di kompasiana, selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/puisi-hari-puisi-21-maret-2016-hutan-tanah-air-mengadu_56ef936b1fafbd3d07cda63d