Selamat Hari Hutan Sedunia 2016 : Surga Terakhir, Bagaimana Nasibmu Kini?

1929380_10153826503075219_1711052432491012841_n

Sumber Foto dok. FAO dan U.S. Embassy, Jakarta-Indonesia, tentang hari hutan sedunia 2016

Tanggal 21 Maret 2015 ditetapkan sebagai hari Hutan Sedunia. Mengapa kita harus memperingati hari hutan dan mengapa hutan itu penting serta bagamana nasib hutan kini?.

Hutan ibarat sebagai  tempat ataupun rumah yang aman, nyaman bagi semua unsur kehidupan tidak terkecuali manusia. Hutan yang menjadi rumah bagi semua makhluk segala bernyawa itupun tidak terelak usianya sudah semakin tua renta hingga semakin kian terkikis menjalang habis.

Keberadaan hutan yang semakin terkikis setidaknya memberikan arti mengapa kita harus memperingati hari hutan sedunia tersebut. Selain itu, mengapa hutan itu penting bagi keberlanjutan makhluk hidup termasuk manusia?. Setidaknya cukup banyak contoh yang terjadi berkaitan dengan nasib hutan kini keadaan dan keberadaannya semakin memprihatinkan.

Mengingat, selain sebagai sumber hidup dan rumah bagi semua makhluk, hutan juga memiliki peran penting dalam proses keseimbangan ekosistem. Adanya hutan  juga menjadikan ragam tumbuhan dan makhluk hidup  seperti  hewan  dapat hidup berkembangbiak dengan baik adanya. Hutan sebagai paru-paru dunia, pelindung sekaligus penjaga dan penyedia. Oksigen, dengan mudahnya kita peroleh ketika hutan masih tersedia. Bagaimana jika tidak ada lagi hutan yang tersisa?. Selain itu, hutan menjadi penyedia sumber air dan pelindung dari segala ancaman seperti banjir, tanah longsor dan perubahan iklim.

Tidak hanya itu, hutan juga sebagai penyaring dari beberapa aktivitas kegiatan manusia dan mesin. Hutan dapat menyaring polusi dari asap kendaraan dan pabrik. Dengan adanya hutan dapat mengurangi laju perubahan iklim. Satwa, tumbuh-tumbuhan dan manusia tidak terdampak, namun jika hutan masih tersisa.

Ragam tumbuh-tumbuhan yang tersedia di hutan sebagai sumber obat-obatan herbal dan tradisional masyarakat bagi manusia bahkan bagi dunia kesehatan.

Akan tetapi, dari tahun ke tahun tidak bisa di sangkal. Hutan semakin kritis menjelang terkikis habis. Hutan tropis dunia termasuk yang ada di Indonesia dan masih tersisa selain hutan di Brazil dan Kongo yang kini menjadi surga terakhir.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebutkan, Saat ini Indonesia termasuk negara dengan tingkat kerusakan hutan yang paling tinggi di dunia atau dapat dikatakan  mencapai sekitar 680.000 hektar per tahun, (dalam tulisan Kompas, 21/3/16).

Forest Watch Indonesia, mencatat;  kerusakan hutan di Indonesia dari tahun  ke tahun terus meningkat. Hingga saat ini, kerusakan hutan Indonesia sudah mencapai 2.000.000 hektar per tahun.

Dari data tersebut, sudah barang tentu hutan dan beragam flora dan fauna dalam ancaman nyata. Tidak terkecuali manusia. Semakin sedikitnya hutan yang tersisa memberikan ancaman baru yang nyata. Tengok saja banjir, longsor, tumbuhan dan satwa semakin sulit berkembangbiak dan bertahan. Hal yang sama juga telah kita rasakan secara langsung, semakin tidak menentunya iklim berdampak besar bagi sebagian besar aktivitas sehari-hari. Banjir, tanah longsor yang terjadi selain sebagai penghambat, juga sebagai pemicu perlambatan ekonomi masyarakat (negara). Berapa kerugian akibat banjir dan tanah longsor?. Yang pasti sangat besar. Arus transportasi terhenti, demikian juga aktivitas lainnya seperti pendidikan, kesehatan, perkantoran dan masih banyak lagi aktivitas-aktivitas masyarakat di luar ruangan seperti petani dan nelayan sudah pasti tidak bisa berjalan.

Sumber kekayaan hutan di Indonesia seperti yang ada di Papua, Kalimantan, Sumatera, Jawa, Maluku dan Bali kini menanti (di) selamatkan. Hutan yang tersisa menjadi surga terakhir bagi keberlanjutan anak cucu hingga nanti menanti untuk dirawat, dijaga, ditanam dan dipupuk kembali. Semua berkewajiban untuk hutan agar tetap berdiri kokoh, tumbuh rimbun sebagai pelindung dan penyedia nafas segala bernyawa yang tak ternilai.  Bila tidak, hanya menunggu waktu hutan akan hilang lenyap. Semoga hutan tetap tumbuh rimbun, menjadi rimba raya. Semoga….

Tulisan ini  juga dimuat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/selamat-hari-hutan-sedunia-2016-surga-terakhir-bagaimana-nasibmu-kini_56efc032c222bd7908c0206a

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Published by

yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.