Stasiun Riset Cabang Panti Dalam Angka

Dokumen milik Yayasan Palung. Desain Grafis : Apolosius/Yayasan Palung

Kuliah Lapangan di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung

Beberapa peserta yang mengikuti kuliah lapangan sedang melakukan pengamatan. Foto dok : Simon Tampubolon/YP/GPOCP

Kuliah Lapangan (Field Course)

Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung bekerjasama dengan University of Michigan, USA mengadakan kuliah lapangan (pelatihan) selama 12 (dua belas) hari. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Kuliah lapangan pada tahun 2019 merupakan kegiatan ke-5 yang dilaksanakan di SRCP.

Peserta kegiatan ini berjumlah 15 orang; peserta dari Taman Nasional Gunung Palung (3 orang), dari Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (3 orang), Yayasan Palung (2 orang), Taman Nasional Kayan Mentarang (1 orang), Yayasan Planet Indonesia (1 orang), Yayasan Alam Sehat Lestari (1 orang), Orangutan Foundation (1 orang), Sebumi (1 orang), Yayasan Titian (1 orang) dan dari Yayasan IAR Indonesia (1 orang).

Pemateri pada kuliah lapangan ini yaitu Prof. Andrew J. Marshall (seorang antropolog biologi, ahli ekologi tropis, biologi konservasi dari Universitas Michigan, Amerika Serikat), Endro Setiawan (seorang parataxonomist yang bekerja sebagai Pengendali Ekosistem Hutan di BTNGP dan Kepala Unit Stasiun Riset Cabang Panti), Kiki Prio Utomo (seorang dosen pada program studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura dan sangat berpengalaman dalam masalah hidrologi dan konservasi air).

Pembukaan Kuliah Lapangan dan Perjalanan ke Lokasi Kegiatan

Pembukaan kuliah lapangan dilakukan pada hari pertama (24/6/2019) di Kantor Balai Taman Nasional Gunung Palung, Ketapang. Diawali dengan sesi perkenalan dan dilanjutkan dengan penyampaian materi awal tentang Pengenalan Hutan Hujan Tropis oleh Andrew J. Marshall dan Perjalanan Fotografi Keanekaragaman Hayati TNGP oleh Endro Setiawan.

Foto-foto kegiatan saat kuliah lapangan di SRCP. Foto dok : Simon Tampubolon/YP/GPOCP

Pada Selasa (25/6/2019) kami melakukan perjalanan menuju tempat kegiatan di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP). Kami berangkat dari Ketapang menuju Dusun Tanjung Gunung dengan perjalanan sekitar 1,5 jam menggunakan mobil. Dari Tanjung Gunung kami mulai berjalan kaki menuju Camp SRCP. Di awal perjalanan kami melewati lahan gambut bekas kebakaran sekitar 40 menit hingga kemudian memasuki hutan yang sejuk. Kami menghabiskan waktu tidak lebih dari 5 jam dengan 3 kali istirahat hingga tiba di Camp SRCP. Menurut panitia, ini merupakan perjalanan yang tercepat dibanding angkatan kuliah lapangan sebelumnya.

Kami disambut jembatan gantung yang ada di depan Camp dengan sungai jernih yang ada di bawahnya. Ingin rasanya langsung terjun ke sungai, namun apa daya badan sudah kelelahan. Sambutan hangat para asisten dan peneliti yang ada di Camp SRCP  juga sejenak mengurangi rasa lelah kami.

Materi Kuliah Lapangan

Adapun Materi yang diberikan pada kuliah lapangan diantaranya Ekologi tumbuhan dan vertebrata hutan hujan tropis, Interaksi tumbuhan dan satwa, Pengenalan survey vertebrata, Kamera Trap, Melacak satwa dan jejak kaki, Evolusi dan taksonomi tumbuhan, Karakteristik Tumbuhan, Fotografi Tumbuhan, Pengenalan penelitian ilmiah, Orangutan, Desain pengambilan sampel dan dasar statistik, Hidrologi dan Konservasi Air.

Secara keseluruhan, materi yang disampaikan sangat berhubungan dengan pekerjaan kami di bidang konservasi. Materi yang sangat menguras konsentrasi kami adalah tentang taksonomi tumbuhan. Dalam waktu yang singkat kami dikenalkan 15 family tumbuhan beserta ciri-ciri umumnya. Kami diajarkan untuk mengidentifikasi tumbuhan dengan melihat jenis daun, letak duduk daun, stipule, getah, dan bau.

Ketika di lapangan kami sangat sulit untuk mengidentifikasi tumbuhan berdasarkan teori yang sudah dijelaskan. Untuk pemula yang baru belajar identifikasi tumbuhan, banyak jenis tumbuhan yang terlihat sama walaupun nyatanya berbeda family.

Di akhir materi ini diadakan kuis identifikasi tumbuhan. Pemateri menyiapkan 15 sampel tumbuhan dengan mengambil tangkai beserta daunnya dan diletakkan di atas meja. Masing-masing peserta diberi waktu untuk menentukan family dari masing-masing sampel tumbuhan tersebut. Dari 15 sampel tumbuhan, hanya 1 peserta yang berhasil mengidentifikasi sebanyak 13 sampel.

Materi berikutnya yang cukup menarik bagi kami adalah tentang hidrologi yang disampaikan oleh Kiki Prio Utomo dari Fakultas Teknik UNTAN. Hal yang baru kami ketahui dari materi ini adalah bahwa ternyata hutan sangat mempengaruhi curah hujan di wilayah hutan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pada tahun 2015 silam, ketika kebakaran besar terjadi di Kalimantan, curah hujan di SRCP sangat tinggi berbeda dengan daerah lainnya.  

Suasana Belajar di Kelas dan Lapangan

Berada di tengah hutan Gunung Palung tidak menyurutkan semangat kami untuk belajar. Dengan suasana belajar yang lebih bebas dan santai membuat kami tidak canggung. Di hari pertama suasana kelas sedikit kaku karena peserta yang belum saling kenal. Namun di hari berikutnya kekakuan itu berubah total menjadi suasana yang hangat dan akrab. Baik di kelas maupun di lapangan kami selalu berhasil membuat suasana menjadi santai dengan gurauan kami.

Ada satu kata yang menjadi jargon kami selama mengikuti kuliah lapangan, yaitu “interesting”yang artinya menarik. Kata ini muncul karena setiap hal yang kami lihat dan kami pelajari disana sangat menarik. Hampir setiap saat kami mengucapkan kata ini baik ketika belajar di kelas maupun disaat istirahat, disaat serius maupun sedang bercanda.

Eksplorasi Habitat Hutan

Pada Minggu (30/6/2019) kami berkesempatan untuk eksplorasi habitat hutan. Kami diberikan pilihan, perjalanan menuju puncak Gunung Palung, GP 90 atau perjalanan menuju air terjun LC. Ada 7 peserta yang memilih perjalanan ke GP 90 dan yang lainnya ke air terjun LC. Dalam perjalanan menuju GP90 kami dipandu oleh Andrew J. Marshall. Sambil melakukan perjalanan kami dikenalkan beberapa tipe vegetasi di hutan tempat kami berdiri. Kami bisa melihat jelas perbedaan antara vegetasi yang satu dengan yang lainnya melalui jenis tanaman yang tumbuh, ketinggian tempat dan kerapatan pepohonan dalam hutan tersebut.

Kami juga menemukan beberapa kamera trap yang terpasang di jalur menuju GP90. Ada yang dipasang di bagian bawah dekat tanah dan dipasang di dahan pohon. Kamera trap ini dipasang untuk memantau satwa-satwa yang ada di hutan Gunung Palung.

Perjalanan ke GP90 cukup melelahkan dengan trek 90% tanjakan. Kami menghabiskan waktu tidak lebih dari 4 jam untuk sampai di GP90. Tidak ada pemandangan yang bagus di sana karena tertutup oleh pepohonan yang masih asri. Di GP90 kami foto bersama dan istirahat makan siang sekitar satu jam. Kami segera turun karena cuaca yang tiba-tiba mendung. Perjalanan turun menuju Camp sedikit lebih cepat, kami hanya perlu waktu tidak lebih dari 3 jam untuk sampai Camp.

Penelitian Ilmiah

Salah satu materi yang kami dapatkan pada kuliah lapangan ini adalah tentang penelitian ilmiah. Kami diajarkan bagaimana tahapan membuat suatu penelitian ilmiah, mulai dari menyusun pertanyaan, membuat hipotesa dan prediksi, pengambilan data dan analisa data.

Selama 4 hari terakhir di SRCP kami mendapatkan tugas yang sangat menarik. Sebagai tamu di Stasiun Riset, kami harus melakukan penelitian terkait dengan materi yang telah kami dapatkan. Kami dibagi menjadi 4 kelompok dengan topik penelitian yang berbeda. Hari pertama masing-masing kelompok mendiskusikan topik penelitian dan mempresentasikan proposal penelitian kepada pemateri dan kelompok lainnya. Ada yang meneliti tentang ngengat, penelitian epifit, penelitian kupu-kupu dan penelitian air. Hari kedua dan ketiga penelitian di lapangan, pengujian sampel, dan menganalisa data yang didapatkan. Hari terakhir saatnya mempresentasikan hasil penelitian.

Empat topik penelitian yang kami kerjakan terbilang sederhana tapi cukup memerlukan keseriusan untuk penyelesaiannya. Beberapa kali kami harus konsultasi kepada Andrew J. Marshall (pemateri penelitian ilmiah) untuk setiap permasalahan yang kami temukan terkait topik penelitian kami. Kami berhasil menyelesaikan penelitian sederhana tersebut dan mempresentasikannya kepada pemateri dan kelompok lainnya.

Binatang di Sekitaran Camp SRCP

Ada seekor babi hutan yang sering datang ke sekitar Camp SRCP. Babi hutan ini diberi nama Edi. Edi terlihat seperti babi peliharaan, berbeda dengan babi hutan lainnya yang akan lari ketika melihat manusia. Edi selalu datang memakan sisa-sisa makanan yang sengaja dibuang untuk babi tersebut. Babi hutan itu terlihat santai walau kita hanya berjarak 5 meter dengannya.

Selain babi hutan, ada juga seekor biawak besar yang sering datang ke sekitar Camp SRCP. Biawak ini juga terlihat santai mencari makanan di bawah lantai Camp seakan-akan tidak terganggu dengan manusia yang ada di Camp.

Di sungai tempat mandi yang berada di depan Camp juga ada banyak penghuninya. Di sungai ini terdapat banyak sekali ikan dan beberapa diantaranya cukup besar. Setiap hari ikan-ikan ini diberi makan nasi sisa. Sayangnya ada larangan untuk menangkap atau memancing di sungai itu. Selain ikan, kadang-kadang juga muncul sepasang labi-labi di sungai tersebut.

Waktu Luang dan Malam Hari

Di waktu luang atau saat malam hari ada banyak sekali hal yang kami lakukan sehingga tidak bosan. Ada yang memanfaatkan waktu luang tersebut untuk belajar mengayam gelang dari bahan resam, mengukir biji buah Canarium menjadi mata kalung, bermain jenga (menyusun balok kayu), bermain catur, bermain tenis meja, ada yang bermain gitar dan bernyanyi bersama dan ada juga yang berbakat untuk membantu tim dapur (memotong sayuran dan mengiris bawang). Sejenak kami melupakan gadget, urusan pekerjaan dan kesibukan lainnya.

Namun terkadang virus gadget juga sangat kuat mempengaruhi sehingga kami harus berusaha mendapatkan jaringan internet meskipun sangat sulit. Ada tempat khusus yang sedikit lebih baik untuk mendapatkan jaringan internet di Camp. Teman-teman asisten sudah menyediakan tempat khusus untuk ponsel, stand holder yang dibuat dari kayu dan pipa. Ketika ada teman yang mendapatkan jaringan internet di ponselnya, maka harus berbagi dengan ikhlas melalui tethering.

Perjalanan Pulang dari CP ke Tanjung Gunung

 Jumat (5/7/2019) pagi, kami harus pulang dari Camp SRCP karena kuliah lapangan sudah selesai. Kami pun berpamitan dengan teman-teman asisten dan peneliti yang ada di Camp. Sebenarnya sedikit sedih untuk meninggalkan mereka dengan pertemanan yang begitu akrab selama kurang dari 2 minggu. Begitu juga dengan peserta dan pemateri, kami harus berpisah dan kembali ke habitat masing-masing.  

Simon Tampubolon – Yayasan Palung

Lakukan Aksi Damai, Kampanye Perlindungan Terhadap Hak-hak Anak dan Perempuan

KPAD KKU (Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Kayong Utara), Dinas Sosial, dan Forum Anak Daerah Kayong Utara. bersama dengan beberapa komunitas dan Sispala menyelenggarakan kegiatan kampanye tentang perlindungan anak dan perempuan, Rabu (3/7/2019) kemarin, di Sukadana. Foto dok : Mina/ Rebonk.

Rabu (3/7/2019) kemarin, Dalam memperingati hari perlindungan anak dan perempuan, KPAD KKU (Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Kayong Utara), Dinas Sosial, dan Forum Anak Daerah Kayong Utara menyelenggarakan kegiatan kampanye tentang perlindungan anak dan perempuan.

Pada kegiatan tersebut, diikuti pula oleh REBONK (Relawan Bentangor untuk Konservasi), Sispala Taruna Pecinta Alam, dan beberapa komunitas seperti Friend Journey, Exsplore Kalimantan serta melibatkan pihak kepolisian dan juga masyarakat setempat.   

Relawan Rebonk yang ikut hadir dalam aksi damai kampanye perlindungan terhadap hak-hak anak dan perempuan. Foto dok : Mina/Rebonk.

Kegiatan kampanye dimulai pada pukul 15.00 Wib, di sekitar Tugu Durian, Sukadana. Dalam kegiatan ini para peserta membagikan brosur tentang perlindungan anak dan perempuan. Selanjutnya dilakukan orasi terkait ajakan untuk peduli terhadap anak-anak dan perempuan. Beberapa kegiatan seperti pertunjukan dilakukan oleh dari Forum Anak Daerah Bumi Betuah.

Kegiatan ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat agar tidak melakukan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Beberapa pesan yang disuarakan dalam aksi damai tersebut diantaranya; Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak. Selain itu pesan ajakan seperti; Akhiri…!!! perdagangan orang sekarang yum !!!…

Selain itu penekanan kepada 10 hak anak seperti : Bermain, pendidikan, perlindungan, dia berhak untuk diberi nama, kebangsaan, makanan, kesehatan, rekreasi, kesamaan, peran dalam pembangunan.

Dalam kegiatan tersebut hadir pula pihak dari Kepolisian Kayong Utara yang ikut serta untuk mengamankan lalu lintas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah kegiatan selesai panitia pelaksana membagikan makanan untuk seluruh peserta yg mengikuti kegiatan tersebut. Semua rangkaian kegiatan berakhir pada pukul 17.00 Wib dan berjalan sesuai dengan rencana serta mendapat sambutan baik dari semua peserta.

Penulis : Mina REBONK

Editor : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mohon Uluran Kasih untuk Melda Supaya Bisa Sembuh

Sumber Informasi Tim Peduli Melda. Foto desain : Haning/YP.

Imelda Gea Ayu, pelajar SMP berumur 15 tahun sangat perlu uluran tangan masyarakat yang peduli. Pada 18 April 2019, Melda berboncengan motor dengan temannya, ditabrak oleh motor lainnya (pelaku memberikan bantuan untuk pijat), Melda terjatuh dan dilindas motor lainnya (pelaku tidak mau bertanggungjawab). Akibat dari tabrakan beruntun ini, tulang pangkal paha Melda patah, dibuktikan dengan hasil rontgen yang dikeluarkan oleh RS Fatima, Ketapang.

Sudah lebih dari 2 bulan ini, Melda terbaring tak berdaya dengan nyeri yang selalu datang yang membuatnya terus merintih, tanpa pengobatan yang berarti. RS Fatima merujuknya untuk dioperasi di rumah sakit di Pontianak, namun hingga saat ini masih terkendala biaya. Warga desa Sungai Awan Kanan, Ketapang, Kalbar ini tinggal bersama ayahnya dalam kehidupan ekonomi yang sangat sederhana, ibunya sudah meninggal 3 tahun yang lalu, dan mereka perantau yang tidak mempunyai sanak saudara di Ketapang. Ayahnya bertani sayur menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil.

Mohon uluran kasih untuk Melda supaya bisa sembuh dan bisa sekolah lagi, kita selamatkan Melda dari cacat seumur hidup. Salurkan bantuan anda melalui:

Bank BRI Nomor Rekening: 0208-0105-5926-506 atas nama Mariamah Achmad.

Kontak Koordinator Tim Peduli Melda: Helvina  No. WA 0852-4500-8668.

Sumber  Informasi : Tim Peduli Melda

Peringati Hari Hutan Hujan Sedunia Yayasan Palung dan Relawan Rebonk Tanam Mangrove di Pantai Pasir Mayang

Saat Relawan Rebonk melakukan penanaman mangrove. Foto dok : Simon/ YP

Sabtu (22/6/2019) kemarin,  menjelang pukul 07.00 Wib tiba, beberapa relawan terlihat sibuk menyiapkan bibit-bibit mangrove yang akan mereka tanam. Setelah menyiapkan bibit, mereka langsung menuju lokasi penanaman di pantai Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

 Kebetulan, Sabtu (22/6) kemarin, diperingati sebagai hari hutan hujan sedunia. Yayasan Palung dan para relawan Rebonk yang didukung oleh rekan-rekan Sispala yang ada di Kabupaten Kayong Utara saat melakukan penanaman mangrove.

Adapun teman-teman Sispala yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan penaman mangrove antara lain; Sispala Land, Sispala Ganasanda, Sispala Grepala, Sispala Tapal dan Sispala Cagar Sispasi.

Saat melakukan penanaman, beberapa sukarelawan menyiapkan lubang tanam sehingga memudahkan proses penanaman mangrove bisa berjalan dengan mudah. Beberapa diantaranya terlihat membuat lubang tanam sendiri.

Saat melakukan penanaman mangrove para relawan dan teman-teman dari beberapa Sispala yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut terlihat tanpa ragu membaur dan bersemangat, sesekali mereka bercanda satu sama lainnya.

Penanaman mangrove di lokasi pantai Pasir Mayang begitu penting sebagai upaya dalam pencegahan abrasi. Setidaknya ada 286 bibit mangrove yang ditanam.

Foto-foto kegiatan Penanaman mangrove :

View this post on Instagram

Pada 22 Juni, diperingati sebagai Hari Hutan Hujan Sedunia (World Rainforest Day) YAYASAN PALUNG @yayasan_palung @savegporangutans dan RELAWAN REBONK @rebonk_yp Memperingati Hari Hutan Hujan Sedunia Dengan Melakukan Penanaman Mangrove di Pantai Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kalimantan Barat, pada (22/6/2019). ______________________________________________ Saat melakukan penanaman mangrove di lokasi pantai Pasir Mayang, kami (@yayasan_palung @savegporangutans dan @rebonk_yp didukung oleh para Sispala yang ada di Kabupaten Kayong Utara. Adapun teman-teman Sispala yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan penaman mangrove antara lain; Sispala Land, Sispala Ganasanda, Sispala Grepala, Sispala Tapal dan Sispala Cagar Sispasi. Penanaman mangrove di lokasi pantai Pasir Mayang begitu penting sebagai upaya dalam pencegahan abrasi. Setidaknya ada 286 bibit mangrove yang kami tanam. Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta. Semoga saja apa yang kami tanam hari ini bisa bermanfaat bagi semua nafas kehidupan dan berharap juga semoga hutan hujan bisa terus berlanjut hingga nanti untuk keberlanjutan semua nafas kehidupan. Salam budaya, adil dan lestari… Untuk mengetahui lebih lengkap tentang kami jangan lupa menonton di channel kami. Jangan lupa pula like, share dan subscribe 🙂 Klik : https://m.youtube.com/watch?feature=youtu.be&v=UThh7OywRIE ______________________________________________ Narasi : @petruskanisiuspit 📷 : @sifrx90_backpacker Video : @savegporangutans @yayasan_palung ______________________________________________ #WorldRainforestDay #TakeABreath and #ThankARainforest @worldRainforestDay #rainforest #rainforestlife #biodiversity #borneo #gunungpalungnationalpark #gunungpalung #orangutans #saveforestborneo #mongabay #mongabayindonesia

A post shared by Yayasan Palung (YP) (@yayasan_palung) on

Berdasarkan kesepakatan bersama, tanaman yang di tanam pada hari itu tidak ditinggalkan begitu saja melainkan terus menerus dipantau oleh teman-teman relawan Rebonk, ujar Riduwan dari Yayasan Palung yang saat itu menjadi penanggungjawab kegiatan.

Menurut Egi, satu dari Relawan Rebonk mengatakan, jika tanaman-tanaman mangrove yang ditanam itu seandainya mati atau terbawa gelombang maka mereka siap untuk menggantinya dengan tanaman baru. Selain itu, kami juga siap memonitor tanaman secara rutin setiap minggunya.

Semoga saja apa yang kami tanam hari ini bisa bermanfaat bagi semua nafas kehidupan dan bisa mencegah abrasi, selain itu juga berharap, karena hari ini (22/6) adalah hari hutan hujan, semoga hutan hujan bisa terus berlanjut hingga nanti untuk keberlanjutan semua nafas kehidupan, ujar Riduwan.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta. (Petrus Kanisius-Yayasan Palung)

Hari Hutan Hujan Sedunia, Menghijaukan Bumi Kembali dengan Menanam Pohon Mangrove

Memperingati hari Hutan Hujan Sedunia : Menghijaukan Bumi Kembali dengan Menanam Pohon Mangrove. Foto desain : Haning Pertiwi / Yayasan Palung

Yayasan Palung bersama Relawan RebonK akan memperingati hari hutan hujan 2019 dengan rencana akan melakukan penanaman pohon, rencanaya bibit yang ditanam adalah bibit mangrove.

Tahun ini, tema yang diangkat untuk memperingati hari hutan hujan sedunia kali ini adalah :  “Menghijaukan Kembali  dengan Penanaman Pohon Mangrove”.

Adapun lokasi penanaman pohon mangrove rencanaya akan diadakan; pada hari Sabtu, 22 Juni 2019 di lokasi Pantai Pasir Mayang, Dusun Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan. Waktu kegiatan dimulai pukul 07.00 Wib- selesai.

AYO IKUTI …! dan bergabung bersama untuk peduli pada bumi dan hutan hujan sebagai rumah kita bersama.

Catatan: Bagi yang ingin berpartisipasi, agar membawa botol minuman masing-masing.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Alfred Si Raja Rimba yang Sah di Cabang Panti

Alfred Si Raja Rimba di Cabang Panti. Foto Muhammad Syainullah

Hai, Nama saya Muhammad Syainullah. Saya adalah asisten laboratorium di Stasiun Riset Cabang Panti, yaitu Stasiun Riset dengan Proyek penelitian yang bergerak dibidang penelitian seputar Orangutan di alam liar.

” Suatu hari saya sedang berada dihutan dengan agenda mencari orangutan dan saya bertemu dengan betina remaja, saya sangat senang saat itu. Ketika saya sudah bersiap-siap mengikuti nya saya tidak melihat bahwa dibelakang orangutan betina itu ada jantan dewasa, dialah orangutan Alfred”.

Dan salah satu Orangutan yang kami teliti adalah Alfred, Kali ini saya akan membicarakan tentang Orangutan ini. Pertama kali saya bertemu orangutan ini ketika 3 bulan pertama saya berkerja di Stasiun Riset ini dan saya rasa ini sangat menakjubkan, dan kenapa saya sebut dia adalah raja yang sah di stasiun riset ini? karena pada saat itu dan sampai sekarang Alfred adalah jantan utama yang masih mendominasi pada wilayah penelitian pada daerah tertentu yang biasa ia jelajahi.

Alfred Si Raja Rimba di Cabang Panti. Foto Muhammad Syainullah

Di estimasikan bahwa Alfred lahir pada tahun 1996 sehigga pada saat ini Alfred telah berusia 23 tahun, salah satu yang membuat saya tertarik untuk membuat artikel tentang Alfred adalah karena hingga kini dia masih menjadi satu-satunya jantan utama di sekitaran area penelitian dan masih banyak lagi sebetulnya tapi Orangutan lain nya tidak sebesar dia.

Saya tau dia kurang senang dengan saya karena hampir 1,5 tahun pengalaman saya bersama orangutan sudah cukup membuat saya yakin bahwa tingkah laku nya seperti kurang suka dengan saya.

Pada saat itu saya mencoba untuk tetap tenang tapi Alfred mencoba mengejar saya, seketika itu pula saya berlari menjauh darinya, saya tahu meskipun pada hari itu dia sangat agresif  itu karena dia hanya mencoba melindungi si betina dan biasanya Alfred cukup habituasi dengan para asisten. sebetulnya masih banyak hal yang menarik yang perlu dipelajari tentang Alfred,tentang kerajaan nya, dan tentang orangutan lain. Dan kita hanya perlu menjaga habitat nya untuk mendapatkan hal hal menarik dari mereka untuk kita pelajari.

Penulis : Muhammad Syainullah

Editor : Petrus Kanisius

Yayasan Palung

Dengan Cara Ini Mereka Memiliki Pengasilan Alternatif yang Berkelanjutan dan Bersemangat untuk Menjaga Hutan

Dengan beternak menjadi satu diantara banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk menjaga dan memilihara keberlanjutan hutan. Foto dok : Yayasan Palung

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjaga hutan, dengan cara ini pula mereka bersemangat menjaga hutan mereka.

Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara misalnya, mereka sangat bersemangat untuk menjaga hutan desa mereka dengan cara beternak kambing dan menyiapkan pohon bibit serta menanamnya. Mengapa beternak kambing?, dan mengapa dengan cara menyiapkan bibit tanaman dan selanjutnya mereka menanamnya (tanaman dari berbagai tanaman seperti tanaman buah-buahan, tanaman karet, tanaman pinang dan tanaman lainnya)?. Ini merupakan cara alternatif yang bisa dilakukan oleh masyarakat  sebagai harapan agar hutan terjaga dan masyarakat sejahtera. LPHD di Desa Pulau Kumbang merupakan binaan dari Yayasan Palung.  Lalu, apa hubungan beternak kambing dengan menjaga hutan?.

Beternak kambing, cara yang bisa dilakukan mereka sembari memilihara dan menjaga hutan.  ini merupakan cara alternatif yang berkelajutan. Beternak baru saja mereka lakukan, sedangkan membibit, menanam dan memilihara sejak tahun 2015 silam hingga saat ini.

“Untuk biaya pengadaan bibit tanaman dan beternak kambing, semua biaya berasal dari Bang PeSoNa (Perhutanan Sosial Nusantra). Beberapa desa lainnya yang juga merupakan binaan Yayasan Palung seperti LPHD Padu Banjar, LPHD Penjalaan, LPHD Nipah Kuning dan LPHD Pemangkat mengajukan mendapatkan bantuan serupa pula dari Bang PeSoNa. Semua proses penyusunan dan pengajuan proposal dilakukan melalui kelompok LPHD dan dibantu oleh Yayasan Palung yang selanjutnya direspon baik oleh Bang Pesona hingga dikucurnya dana bantuan kepada kelompok masyarakat yang mengajukan. Dana bantuan yang dikucurkan oleh Bang PeSoNa kepada kelompok LPHD sebesar 50 juta rupiah”, kata Edi Rahman, selaku Manager Program Penyelamatan Satwa (PPS-Hukum) Yayasan Palung.

Direktur Program Yayasan Palung, Victoria Irene Gehrke, mengatakan; “Kambing untuk konservasi? Pelestarian satwa liar bukan hanya tentang satu hewan atau menyelamatkan  beberapa pohon, tetapi juga tentang pengembangan masyarakat (manusia) yang berkelanjutan dan memberikan atau menciptakan solusi serta strategi jangka panjang untuk kepentingan manusia dan satwa liar. Kelompok LPHD di desa Pulau Kumbang yang menjadi binaan YP,  mengelola dana bantuan dari Bang PeSoNa untuk beternak kambing, mereka membeli 20 ekor kambing untuk membantu memberikan opsi ekonomi alternatif yang berkelanjutan yang tujuannya membantu mengurangi deforestasi dan berburu ketika kambing menyediakan daging, susu dan bahkan pupuk untuk mengoptimalkan hasil pertanian dan dengan demikian membatasi kebutuhan untuk ekspansi lebih lanjut dari pertanian yang menjadi habitat utama orangutan”.

Lebih lanjut Edi, sapaan akrabnya mengatakan; “Pada tahun 2019 ada 3 kelompok LPHD yang mendapatkan bantuan dari Bang PeSoNa  antara lain adalah LPHD Desa Padu Banjar; mendapatkan bantuan 4 ekor sapi dan 2000 bibit. LPHD Desa Pulau Kumbang; 20 ekor kambing dan 2000 bibit, dan LPHD Desa Nipah Kuning; 32 bok ayam daging dan 2000 bibit. Sebelumnya, LPHD Desa Penjalaan dan LPHD di Pemangkat pada tahun 2018 telah menerima bantuan. Untuk tahun ini pun, proses pengajuan bantuan sedang dalam proses untuk 3 kelompok Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yaitu; 2 kelompok di Desa Padu Banjar, 1 kelompok di Desa Pemangkat dan 1 LPHD desa Padu Banjar”

Adapun bibit tanaman bantuan kepada masyarakat, selanjutnya akan mereka (kelompok lembaga pengelola hutan desa) akan ditanam di lokasi hutan desa dan di lokasi-lokasi eks kebakaran di sekitar kawasan hutan desa dan pemukiman warga di lima desa, hutan desa dampingan Yayasan Palung, kata Edi.

Berharap masyarakat bisa menjaga dan melestarikan hutan desa mereka dengan semangat kebersamaan serta mampu mengelola ternak mereka menjadi sumber penghasilan alternatif yang berkelanjutan.

Tulisan dan informasi ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak, Klik link untuk membaca : https://pontianak.tribunnews.com/2019/06/18/lphd-mencari-penghasilan-alternatif-yang-berkelanjutan-dari-menjaga-hutan

Tulisan ini juga dimuat di Pontianak Post (versi cetak, Selasa 18/4/2019), dengan judul :  Cara LPHD Pulau Kumbang Menjaga Hutan Desa “Gencarkan Gerakan Beternak dan Bercocok Tanam”

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Lahirnya Nafas Baru, Penghuni Baru di Taman Nasional Gunung Palung

Taman Nasional Gunung Palung sedang bersuka cita menyambut kelahiran anggota baru yaitu satu individu bayi orangutan di kawasan SRCP (Stasiun Riset Cabang Panti), Taman Nasional Gunung Palung, demikian ditulis dalam dirilis di laman website Balai Taman Nasional Gunung Palung.

“Nafas baru tersebut tidak lain adalah penghuni baru

(lahirnya bayi orangutan dari Walimah)

di Taman Nasional Gunung Palung”

Iya, suka cita ini sangat beralasan,  lahirnya satu individu orangutan itu sebagai nafas baru di Taman Nasional Gunung Palung. Ini merupakan bayi ke-2 bagi individu Walimah, setelah bayi pertamanya mati (hilang) saat berumur beberapa bulan pada tahun 2015 lalu.

Bayi orangutan yang baru lahir itu belum mempunyai nama dan belum diketahui jenis kelaminnya karena baru beberapa hari lahiran, diperkirakan baru berumur sepekan, bayi orangutan itu merupakan anak dari orangutan bernama Walimah.

Walimah sendiri merupakan orangutan liar yang lahir dan besar di SRCP, Taman Nasional Gunung Palung.

Walimah lahir pada tahun 1999 dari Ibu bernama Marisa dan merupakan salah satu orangutan yang diambil datanya dari bayi hingga melahirkan. Ini adalah kelahiran Walimah yang kedua, kelahiran yang pertama terjadi pada tahun 2015. Namun di usia 4 bulan bayinya menghilang dan Walimah kehilangan 2 jari tangannya pada saat itu. Sampai sekarang masih menjadi misteri, siapakah yang menjadi pelaku peristiwa tersebut. Walimah juga pernah difilmkan oleh BBC, dan National Geographic Television dengan judul Mission Critical: Orangutan on The Edge.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, M. Ari Wibawanto, mengatakan dan berharap; Kelahiran bayi Walimah ini diharapkan dapat mendorong multipihak untuk dapat bersinergi meningkatkan upaya konservasi orangutan, tidak hanya dalam lingkup spesies tetapi juga dalam skala lanskap. Hutan butuh orangutan, begitupun sebaliknya.

Direktur Program Yayasan Palung, Victoria Irene Gehrke, mengatakan, setiap bayi yang baru lahir dari spesies orangutan yang terancam punah memberikan harapan. “Bayi ini kebetulan memiliki seorang ibu yang sudah sangat kita sayangi. Kami berharap dapat melihat si kecil ini tumbuh dan menikmati kehidupan di hutan liar Gunung Palung di tahun-tahun mendatang”, harapnya.

“Termonitornya  penambahan individu orangutan orangutan liar ini berkat program penelitian  jangka panjang yang dilakukan Yayasan Palung  dan bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Gunung Palung”, timpal Direktur Penelitian Yayasan Palung (GPOCP), Wahyu Susanto.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Pontianak Post; Edisi Cetak, Kamis, 30 Mei  2019

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Rimba Raya dan Isinya yang Kini Nasibnya Kian Merana

Rimba raya (hutan) dan segala isinya (semua makhluk hidup) yang kini nasibnya kini kian merana (menderita sakit yang akut) yang belum tahu kapan bisa pulih.

Rimba raya yang rimbun, itu dulu, sekarang tak hanya rimba rayanya namun juga segala isinya kian merana menjelang terkikis habis. Hutan juga seolah tak bertuan tetapi segala isinya raip oleh tangan-tangan tak terlihat. Hal yang sama pula terjadi tak terkecuali manusia (masyarakatnya) yang cenderung terabai di tanah moyang mereka. Tengoklah, lihatlah, tidak sedikit masyarakat yang terasing dan asing di tanah mereka. Apa yang mereka dapatkan?. Tangis dan derita, itu pasti. Tajuk-tajuk tinggi berupa hutan tak lagi kuat berdiri, sesama mereka berupa ragam satwa pun tak sedikit yang menahan derita dan derai air mata. Lihatlah ketika datangnya bencana yang disebabkan oleh ulah tangan-tangan tak terlihat ketika menghantam rimbunnya rimba raya.

Tajuk-tajuk pepohonan itu katanya sebagai pelindung, penjaga dan pemilihara namun luput atau minim sentuhan untuk dikasihani untuk dijaga dan dipelihara. Seringkali manusia sebagai penerima manfaat cenderung lupa atau sengaja lupa untuk bersyukur dari titipan dan pemberian Sang Kuasa itu.

Satwa-satwa (primata) dan manusia (masyarakat) pun tak kalah terlena namun kian merana. Tak salah mengambil manfaat dari hutan atau hasil hutan akan tetapi kebanyakan dari kita yang cenderung dan acap kali terjadi adalah serakah bukannya bersyukur dengan apa yang telah kita terima. Kita sering kali dijajah dan terjajah oleh diri karena terlalu bernafsu hingga lupa akan peran dan fungsi dari rimba raya yang sesungguhnya.

Rimbunnya rimba raya yang masih ada tersisa kini pun tak sedikit menderita dalam genggaman dan bayang-bayang semu yang sulit berlalu.

Laju lalu lalang tangan-tangan tak terlihat bersama para saudagar nan haus akan rimba raya semakin mengitari rimbunnya rimba raya yang tersisa semakin laris manis, tak ubah semut mengerumuni manisnya gula.

Rimbunnya rimba raya dan ragam satwa tak bisa mengadu tetapi mereka berkisah setiap episode-episode baru yang terkadang sulit untuk dilihat dan ditebak. Banjir bandang, tanah longsor, kebakaran lahan hingga hilangnya ribuan, ratusan atau bahkan jutaan nafas segala bernyawa (makhluk hidup) terkadang sudah dianggap biasa namun berulang. Semestinya itu menjadi pemikiran dari semua bukan segelintir saja.

Setelah terjadi barulah sibuk berkelakar dan menyalahkan itu bencana karena ditimbulkan oleh rimba raya atau bencana alam. Ada bara pasti ada api, tak mungkin tanpa sebab, itu singkatnya. Perbuatan-perbuatan oleh tangan tak terlihat itu yang tak bisa disangkal sebagai biang (sebab dan akibat).

Riak dan tangis terjadi, siapa yang mampu jika semua tak bisa dihalangi lagi. ibarat kepala bila masih ada rambut, air-air di kepala masih bisa menyerap/terserap. Sebaliknya jika rambut-rambut di kepala tak bersisa air akan mengalir dengan deras tanpa terhalang. Begitu pun dalam tatanan kehidupan bila rimbunnya rimba raya semakin sedikit tersisa atau bahkan terkikis menjelang habis maka air pun akan mengalir deras (tak terhalang) menghantam pemukiman yang biasa disebut banjir. Bila kemarau tiba, sebaliknya kering kerontang pun mendera.

Kita hanya merasa dampak secara langsung dan tak langsung, lebih khusus akar rumput yang berdampingan dengan rimba raya yang sisanya tak seberapa lagi itu. Satwa-satwa yang diciptakan bukannya tak berguna tetapi ikut dalam lingkaran nasib yang kian merana. Hama belalang yang terjadi di padang ilalang dan tanah gersang karena tanah tercerabut oleh tanaman pengganti yang sangat rakus air pun seakan menjadi tanda keseimbangan dan keharmonisan sesama makhluk semakin terputus (rantai makanan sudah tak seimbang/terputus karena ada satu atau beberapa unsur yang hilang). Kodok, bunglon, kukang, kadal, dan burung sebagai pemakan belalang jumlahnya tak lagi banyak.

Parahnya lagi, primata endemik seperti orangutan dan burung enggang sebagai petani hutan (penyemai) hutan/rimba raya nasibnya kurang lebih sama merananya dengan rimba raya. Hilangnya rimba raya berarti juga hilangnya beragam satwa atau pun primata, karena mereka sebagai satu kesatuan yang harus harmoni.

Perlu tindakan prilaku bijaksana semstinya dari semua agar rimba raya dan segala isinya (makhluk hidup; tumbuhan dan hewan/satwa/primata) bisa berlanjut hingga nanti. Apabila tidak maka bencana dan rimba raya nasibnya kian merana hingga tinggal cerita. Semoga saja ada rasa untuk peduli dan kebijaksanaan dari semua.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung