Rimba Raya dan Isinya yang Kini Nasibnya Kian Merana

Rimba raya (hutan) dan segala isinya (semua makhluk hidup) yang kini nasibnya kini kian merana (menderita sakit yang akut) yang belum tahu kapan bisa pulih.

Rimba raya yang rimbun, itu dulu, sekarang tak hanya rimba rayanya namun juga segala isinya kian merana menjelang terkikis habis. Hutan juga seolah tak bertuan tetapi segala isinya raip oleh tangan-tangan tak terlihat. Hal yang sama pula terjadi tak terkecuali manusia (masyarakatnya) yang cenderung terabai di tanah moyang mereka. Tengoklah, lihatlah, tidak sedikit masyarakat yang terasing dan asing di tanah mereka. Apa yang mereka dapatkan?. Tangis dan derita, itu pasti. Tajuk-tajuk tinggi berupa hutan tak lagi kuat berdiri, sesama mereka berupa ragam satwa pun tak sedikit yang menahan derita dan derai air mata. Lihatlah ketika datangnya bencana yang disebabkan oleh ulah tangan-tangan tak terlihat ketika menghantam rimbunnya rimba raya.

Tajuk-tajuk pepohonan itu katanya sebagai pelindung, penjaga dan pemilihara namun luput atau minim sentuhan untuk dikasihani untuk dijaga dan dipelihara. Seringkali manusia sebagai penerima manfaat cenderung lupa atau sengaja lupa untuk bersyukur dari titipan dan pemberian Sang Kuasa itu.

Satwa-satwa (primata) dan manusia (masyarakat) pun tak kalah terlena namun kian merana. Tak salah mengambil manfaat dari hutan atau hasil hutan akan tetapi kebanyakan dari kita yang cenderung dan acap kali terjadi adalah serakah bukannya bersyukur dengan apa yang telah kita terima. Kita sering kali dijajah dan terjajah oleh diri karena terlalu bernafsu hingga lupa akan peran dan fungsi dari rimba raya yang sesungguhnya.

Rimbunnya rimba raya yang masih ada tersisa kini pun tak sedikit menderita dalam genggaman dan bayang-bayang semu yang sulit berlalu.

Laju lalu lalang tangan-tangan tak terlihat bersama para saudagar nan haus akan rimba raya semakin mengitari rimbunnya rimba raya yang tersisa semakin laris manis, tak ubah semut mengerumuni manisnya gula.

Rimbunnya rimba raya dan ragam satwa tak bisa mengadu tetapi mereka berkisah setiap episode-episode baru yang terkadang sulit untuk dilihat dan ditebak. Banjir bandang, tanah longsor, kebakaran lahan hingga hilangnya ribuan, ratusan atau bahkan jutaan nafas segala bernyawa (makhluk hidup) terkadang sudah dianggap biasa namun berulang. Semestinya itu menjadi pemikiran dari semua bukan segelintir saja.

Setelah terjadi barulah sibuk berkelakar dan menyalahkan itu bencana karena ditimbulkan oleh rimba raya atau bencana alam. Ada bara pasti ada api, tak mungkin tanpa sebab, itu singkatnya. Perbuatan-perbuatan oleh tangan tak terlihat itu yang tak bisa disangkal sebagai biang (sebab dan akibat).

Riak dan tangis terjadi, siapa yang mampu jika semua tak bisa dihalangi lagi. ibarat kepala bila masih ada rambut, air-air di kepala masih bisa menyerap/terserap. Sebaliknya jika rambut-rambut di kepala tak bersisa air akan mengalir dengan deras tanpa terhalang. Begitu pun dalam tatanan kehidupan bila rimbunnya rimba raya semakin sedikit tersisa atau bahkan terkikis menjelang habis maka air pun akan mengalir deras (tak terhalang) menghantam pemukiman yang biasa disebut banjir. Bila kemarau tiba, sebaliknya kering kerontang pun mendera.

Kita hanya merasa dampak secara langsung dan tak langsung, lebih khusus akar rumput yang berdampingan dengan rimba raya yang sisanya tak seberapa lagi itu. Satwa-satwa yang diciptakan bukannya tak berguna tetapi ikut dalam lingkaran nasib yang kian merana. Hama belalang yang terjadi di padang ilalang dan tanah gersang karena tanah tercerabut oleh tanaman pengganti yang sangat rakus air pun seakan menjadi tanda keseimbangan dan keharmonisan sesama makhluk semakin terputus (rantai makanan sudah tak seimbang/terputus karena ada satu atau beberapa unsur yang hilang). Kodok, bunglon, kukang, kadal, dan burung sebagai pemakan belalang jumlahnya tak lagi banyak.

Parahnya lagi, primata endemik seperti orangutan dan burung enggang sebagai petani hutan (penyemai) hutan/rimba raya nasibnya kurang lebih sama merananya dengan rimba raya. Hilangnya rimba raya berarti juga hilangnya beragam satwa atau pun primata, karena mereka sebagai satu kesatuan yang harus harmoni.

Perlu tindakan prilaku bijaksana semstinya dari semua agar rimba raya dan segala isinya (makhluk hidup; tumbuhan dan hewan/satwa/primata) bisa berlanjut hingga nanti. Apabila tidak maka bencana dan rimba raya nasibnya kian merana hingga tinggal cerita. Semoga saja ada rasa untuk peduli dan kebijaksanaan dari semua.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Posted in YP

Published by

yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.