
Setelah memberikan materi tentang Pengenalan Hutan Mangrove di dalam kelas, Yayasan Palung mengajak siswa-siswa SMP Negeri I Sukadana belajar langsung di Hutan Mangrove sekaligus memanfaatkan waktu class meeting sekolah.
Dalam kegiatan ini dikenalkan jenis-jenis tumbuhan yang ada di hutan mangrove seperti bakau, api-api, lindur, nyirih, nipah dan pidada. Dikenalkan juga jenis perakaran tumbuhan di mangrove seperti akar napas/pasak, akar tunjang, akar gantung, akar papan, akar banirdan akar lutut.
Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari (10-12 Desember 2019) dan diikuti siswa/i kelas 8 A sampai 8 F dengan kuota 2 kelas perhari.
Field Trip ini didampingi oleh Simon Tampubolon (@sifrx90_solotravl ) Riduwan (@mas_duwan20 ) Mahendra (@mahendra7496 ) dari Yayasan Palung, Sidiq Nurhasan ( @sidiq_nurhasan ) dan Joko Suprianto (@joko_supianto87 ) dari relawan. Pada kegiatan tersebut pula dihadiri juga oleh guru pendamping dari SMPN I Sukadana.
Siswa/i ini sangat antusias mengikuti kegiatan. Pihak sekolah juga berterima kasih atas adanya kegiatan ini dan berharap mengadakan kegiatan lainnya untuk menambah wawasan dan pengetahuan siswa.
Penulis : Simon Tampubolon-Yayasan Palung

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengenal keanekaragaman hayati di sekitar sekolah, seperti misalnya lewat Fieldtrip (kunjungan lapangan) sekaligus belajar langsung yang dilaksanakan pada 9-10 Desember 2019 kemarin, di SMPN 1 Ketapang.
Adapun pengamatan yang harus diamati antara lain yaitu mengamati jenis tumbuhan dan hewan yang ada disekitar sekolah. Jumlah siswa yang mengikuti kegiatan tersebut sebanyak 60 siswa setiap harinya (pada hari pertama dan kedua kegiatan fieldtrip), kemudian kegiatan tersebut juga didamping oleh beberapa guru dari SMPN 1 Ketapang sendiri untuk mengarahkan dan mendampingi siswa pada saat pengamatan. Pengamatan keanekaragaman hayati dilakukan di sekitar lingkungan sekitar sekolah SMPN 1 Ketapang.
Beberapa tumbuhan yang ada di sekitar sekolah yang berhasil diidentifikasi oleh siswa-siswi seperti pohon manga, pucuk merah, petai cina, cengkodok dan jambu. Selain tumbuhan, saat pengamatan siswa-siswi berjumpa dengan hewan seperti kodok, ada pula ditemukan jenis serangga; kumbang, semut dan lebah. Selain itu juga ada tumbuh-tumbuhan obat seperti serai, kunyit dan jahe.
Adapun tujuan dari kegiatan tersebut yaitu untuk mengenalkan dan menambah wawasan siswa tentang keanekargaman hayati disekitar lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari, semua rangkaian kegiatan mulai pukul 07.00-12.00 WIB.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembagian kelompok pengamatan dan pembagian mentor (6 orang guru sebagai mentor). Selanjutnya siswa diarahkan untuk melakukan pengamatan yang sudah ditentukan dan masing-masing siswa wajib untuk menggambar dan menulis ciri-ciri tumbuhan atau hewan yang di amati, selanjutnya siswa diarahkan ke pos satu untuk mempresentasikan hasil pengamatan kepada tim dari Yayasan Palung untuk menilai apa yang telah diamati oleh siswa, selanjutnya siswa melanjutkan perjalanan menuju pos dua.
Pada pos dua siswa diarahkan untuk membuat bahan presesntasi untuk dipresentasikan kepada kelompok lainnya, guru dan tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung (Haning Pertiwi, Junardi dan Sumihadi). Ikut serta pula Adam dan Bambang selaku Relawan Tajam Yayasan Palung.
Ada pun bahan presentasi yang dibuat yaitu hasil dari pengamatan individu oleh siswa akan disatukan di kertas plano. Setelah membuat bahan presentasi siswa melanjutkan perjalanan menuju ke pos tiga, pada pos tiga, siswa ditugaskan untuk memilih moderator untuk memandu presentasi dan presenter untuk menyampaikan hasil pengamatan tentang keanekaragaman hayati disekitar sekolah, dan selanjutnya siswa menuju pos empat untuk melakukan presentasi hasil pengamatan di depan Guru pendamping dan Tim Yayasan Palung.
Terlihat keceriaan dan semangat dari siswa-siswi ketika mengikuti kegiatan tersebut dan mendapat sambutan baik pula dari mereka.
Penulis : Junardi-BOCS
Editor : Pit–Yayasan Palung

Tahun ini, Konsorsium Parara kembali menggelar Festival Panen Raya Nusantara (Parara) 2019 di Atrium Plaza Semanggi, Jakarta, pada tanggal 6-8 Desember, kemarin.
Yayasan Palung bersama dengan beberapa Lembaga atau yayasan yang tergabung dalam konsorsium Parara ikut ambil bagian dengan menampilkan berbagai produk kerajinan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Produk-produk hhbk ini tentunya berasal dari hasil hutan bukan kayu yang diolah dan dikreasikan oleh tangan-tangan trampil perajin. Seperti misalnya para pengrajin (perajin) binaan/dampingan Yayasan Palung di wilayah Kayong Utara ikut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Berbagai produk hhbk yang bagus nan cantik seperti tikar pandan, cincin resam, lekar dan lain sebagainya ikut serta dalam pameran selama 3 hari tersebut.
Semoga saja adanya kegiatan ini dapat memperkenalkan berbagai produk-produk lokal yang ada di setiap wilayah Indonesia dan bisa menjadi produk unggulan yang ramah lingkungan serta berkelanjutan.
Berikut ini beberapa informasi tentang Kegiatan PARARA 2019 :
https://www.tribunnews.com/images/editorial/view/1825402/pameran-panen-raya-nusantara
(Pit -YP)

Perkenalkan namaku Pongo. Saban waktu aku selalu tinggal di wilayah hutan Kalimantan dan sahabatku ada juga yang tinggal hutan Sumatera. Selama aku di hutan, aku selalu bermain setiap harinya, dari pagi hingga menjelang malam hari.
Semaktu aku kecil, aku selalu bersama dengan ibuku hingga aku berusia 7-8 tahun. Aku didalam kandungan ibuku sama halnya dengan saudara/saudariku manusia, usia aku didalam kandungan 8,5 bulan hingga 9 bulan. Aku selalu bersama ibuku, setiap kali ibu mencari makan. Aku juga selalu belajar dan diajari tentang kehidupan oleh ibu seperti membuat sarang, mencari makan dan menjelajahi hutan.
Seperti di Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa), aku orangutan perkenalkan aku ya, namaku bayi orangutan; Bayas, Tawni dan Winnie. Kami adalah penghuni rimba raya di Gunung Palung.
Aku tidak bersama bapakku. Karena bapakku hidupnya menyendiri. Lain halnya dengan ibukku yang selalu bersamaku hingga aku menginjak masa remaja.
Makanan favoritku adalah buah-buahan hutan, daun-daun muda, umbi-umbian, rayap dan kulit kayu. Aku sangat suka bergelantungan di pohan satu ke pohon yang lainnya.
Apabila aku sudah dewasa, jika aku jantan maka aku siap mencari pasangan dan bila aku betina aku siap untuk melahirkan. Biasanya umurku mulai dewasa pada usia 8 tahun.
Sewaktu aku masih kecil aku tinggal disarang dengan ibuku. Tetapi setelah aku dewasa, aku tinggal sendiri dan membuat sarang setiap harinya ketika aku ingin berisirahat, makan dan tidur.
O iya, Pongo itu nama panggilanku. Nama lengkapku Pongo pygmaeus, karena aku tinggal di Kalimantan. sedangkan saudara/saudariku di Sumatera, nama lengkap mereka adalah Pongo abelii dan ada pula Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).
Di Dunia aku hanya ada di dua tempat di Indonesia, Aku tinggal di hutan Kalimantan dan hutan Sumatera.
Aku saat ini sangat terancam punah, alasannya karena tempat tinggalku berupa hutan sudah semakin sedikit. Aku takut, ketakutan aku tidak lain ketika rumahku tidak ada lagi maka aku akan sulit untuk bertahan hidup. Jika aku tidak diperhatikan maka aku akan semakin terancam punah dan suatu ketika jika tidak diperdulikan oleh sesamaku manusia maka aku akan punah.
Mengingat aku adalah satwa endemik. Orang bilang sich, aku adalah kera besar yang langka satu-satunya yang ada di Asia.
Sesamaku manusia menyebutku adalah primata (satwa) penyebar biji-bijian yang bisa untuk membantu tumbuhnya pohon-pohon. Biasanya aku bersama burung enggang sebagai penyebar biji.
Aku saat ini juga dilindungi oleh undang-undang no 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Aku tidak boleh dipelihara, tidak boleh dibunuh, tidak boleh juga diperjualbelikan (tidak boleh diperdagangkan) lho. Jika terbukti dari sahabat/saudaraku manusia ada yang memilihara, membunuh atau memperjualbelikan aku ada sanksi dan denda. Sanksinya 5 tahun penjara dan denda 100 juta. Aku harap aku diperhatikan oleh sesamaku manusia untuk hidup bebas di hutan jika boleh.
Setiap hari aku selalu mencari makan, membuat sarang dan menyebar biji-bijian. Kata sesasamaku manusia aku berperan besar untuk membantu manusia. bila biji-bijian yang aku sebar (semai) pohon-pohon bisa tumbuh dan manusia terbantu karena pohon bisa melindungi dari panas sinar matahari. Pohon yang tumbuh dari semaianku itu juga dapat membantu para petani dan masyarakat untuk memperoleh air. Karena pohon banyak menyimpan sumber air.
Semoga ya, aku bisa lebih lama tinggal di hutan hingga selama-lamanya dan aku harap aku dan sesamaku manusia bisa untuk saling menghargai sehingga kita bisa lestari hingga nanti. Demikian perkenalan singkat aku. Sampai nanti ya, aku ingin bermain lagi di hutan bersama dengan sesesamaku satwa lainnya. Aku ingin selalu bahagia hutan. 🙂
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Dipterocarpus sublamellatus ditemukan berukuran tinggi mencapai 30 meter dan diameter mencapai 80 cm, tumbuh berkelompok pada habitat Sandtone (batu berpasir) dengan ketinggian 200 m dpl di Riam Berasap, Taman Nasional Gunung Palung.
Jenis ini ditemukan sedang berbuah tepatnya pada bulan November 2019. Masyarakat lokal lebih mengenalnya dengan sebutan Keruing.
Keruing jenis ini biasanya tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl. Tersebar dari Semenanjung Malaysia, Kalimantan hingga Sumatera. Kayu keruing biasa digunakan sebagai kayu pertukangan. Tingginya tingkat eksploitasi terhadap jenis kayu ini, sehingga saat ini keberadaannya di alam semakin berkurang. Menurut catatan IUCN Redlist, Status Konservasi jenis tersebut tergolong “Endangered” atau terancam punah.
Keruing tumbuh di hutan perawan (primer) pada pelbagai habitat dari permukaan laut hingga ketinggian 1.500 m dpl. Sebagian besar jenisnya tumbuh tersebar, akan tetapi beberapa spesiesnya kerap ditemukan berkelompok atau hidup pada habitat yang khas. Misalnya D. oblongifolius di tepi sungai yang berarus deras, D. elongatus di tanah endapan tepi sungai, D. borneensis di tanah gambut di atas pasir putih, D. gracilis di wilayah beriklim musim, dan beberapa jenis lain yang berspesialisasi tumbuh di punggung-punggung bukit.
Sebaran dari tumbuhan keruing seperti di Malaya, Sumatera (Aceh), Kalimantan (Brunei, Sarawak, Sabah) dan Filipina.
Perlu adanya tindakan konservasi untuk meningkatkan ketersediaan jenis Dipterocarpus sublamellatus pada habitat aslinya. Mari kita mengenal dan mempelajarinya sehingga kita semua dapat melestarikannya.
Sumber tulisan : Dari berbagai sumber
Editor : Pit
Penulis : Andre Ronaldo-Yayasan Palung

Desi Kurniawati dan Hendri Gunawan dari tim PPS Hukum Yayasan Palung ketika mengikuti acara monitoring evaluasi Perhutanan Sosial yang diadakan pada tanggal 19 hingga 20 November 2019 kemarin, di Pontianak.
Pada acara tersebut dihasilkan poin-poin antara lain tentang evaluasi yang telah dilaksankan sampai dimana kemajuan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dan membahas kendala dilapangan yang dihadapi kemudian bagaimana rencana untuk kedepannya.
Selain Itu juga ada pembahasan tentang role model aturan main pendampingan perhutanan sosial, kelola usaha perhutanan sosial dan pemasaran produk usaha pergutanan sosial.
Hendri Gunawan berharap, kegiatan pendampingan perhutanan sosial memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.
Seperti diketahui, Yayasan Palung mendampingi 5 desa binaan di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. 5 desa hutan desa binaan/dampingan Yayasan Palung adalah; Desa Penjalaan, Desa Pemangkat, Desa Nipah Kuning, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar.
Adapun Peserta selain Yayasan Palung, ada pula Sampan Kalimantan, Dinas Kehutanan Provinsi kalbar, Tropenbos Indonesia, KPH, dan beberapa NGO yang bekerja di wilayah Kalimanan Barat, sedangkan dan sebagai narasumber dalam kegiatan itu adalah Balai Perhutanan Sosial Kemitraan Lingkungan (BPSKL) wilayah Kalimantan.

Sebelum mengakhiri kegiatan, semua peserta menyempakan untuk berfoto Bersama. Semua rangkaian kegiatan tersebut pun mendapat sambutan baik dari 50 orang peserta yang hadir.
Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Kemeriahan, keseruan dan kegembiraan dari peserta yang merayakan terlihat dari serangkaian Kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2019 telah usai dilakukan oleh Yayasan Palung dan para relawan (RK-TAJAM dan RK-REBONK), BOCS dan bersama para pihak lainnya. Banyak cara dengan beragam kegiatan pun telah dilaksanakan untuk satwa terancam punah itu (orangutan).
Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap bulan November itu sebagai cara kami untuk peduli, menghargai hak asasi spesies terancam punah. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rentang waktu 15-17 November 2019.
Seperti misalnya Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) melakukan kegiatan dilaksanakan selama 3 hari, setiap harinya dimulai pukul 15.00 sampai pukul 17.00 Wib.
Kegiatan perpustakaan, buku bacaan digelar diatas meja beralaskan terpal ataupun banner bekas, pengunjung bebas membaca di tempat. Panitia juga menyediakan boneka dan dialog, pengunjung diperbolehkan untuk memainkan boneka dengan dialog yang disediakan.
Terlihat pengunjung dari masyarakat umum (orang tua dan anak-anak) bersedia memainkan boneka atau puppet show di Taman Kota Ketapang, 15-17 November 2019, kemarin. Bagi mereka yang berani memainkan boneka diberikan hadiah buku tulis YP dan majalah MIaS. Pengunjung juga akan diminta untuk swafoto ataupun berfoto di photo booth, dan mengunggah foto tersebut di instagram dengan menandai instagram RK-TAJAM. Kegiatan ini terlihat diikuti oleh 30 anak anak yang membaca dan mendengarkan cerita orangutan lewat puppet show selama 3 hari kegiatan. Pada kegiatan tersebut, puluhan Relawan Tajam ikut terlibat dalam semua rangkaian kegiatan.
Sedangkan Relawan Bentangor untuk Konservasi (RK-REBONK), pada hari Sabtu (16/11) kemarin, Di puncak Bukit Mendale, REBONK melakukan pembentangan spanduk yang berisikan tulisan Pekan Peduli Orangutan 2019 dan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya dan melakukan bakti sosial (baksos) membersihkan samph di sekitar. Pada kegiatan tersebut ikut hadir diikuti oleh staf Yayasan Palung 2 orang, staf TNGP 1 orang, BOCS 1 orang, Sispala CARE 5 orang, Sispala LAND 1 orang dan Relawan Rebonk 26 orang. mempublikasikan di media sosial kepada masyarakat mengenai wisata di Bukit Mendale, Kayong Utara. Menyadarkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan terutama sampah di sekitar.
Teman-teman dari Bornean Orangutan Caring Scholarship atau lebih dikenal
dengan BOCS yang merupakan salah satu program beasiswa dari Yayasan Palung juga
mengadakan serangkaian kegiatan pada tanggal 14 dan 16 November 2019 kemarin dan
bekerjasama dengan Pongo Ranger community dan UKM Hiber Untan.
Pada hari pertama (14/11) kemarin, kegiatan diawali dengan Diskusi buku Menjaga Yang Tersisa karya Yohanes Terang dan nonton film Before The Flood sukses dilaksanakan pada rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2019 di Canopy Center di Pontianak.
“Pemantik pada diskusi kali ini kak Mariamah Achmad (Yayasan Palung) dan kak Yeni Mada. Total keseluruhan dalam diskusi buku dan film ada 73 orang yang terdiri 43 peserta dan selebihnya panitia. Semua rangkaian kegiatan ini berjalan dengan lancar dan antusias peserta yang luar biasa. Buku menjaga yang tersisa menggambarkan keprihatinan penulis akan keadaan lingkungan dan alam disekitar desa Laman Satong. Selain itu, pada buku ini juga terdapat pesan untuk kita para generasi penerus bangsa agar menjaga, melindungi, dan melestarikan alam baik itu flora dan faunanya. Pada kegiatan ini juga terdapat diskusi tentang bagaimana menerapkan green lifestyle dikehidupan sehari-hari. Selain itu, sharing diskusi tentang kecintaan dengan orangutan juga membangkitkan semangat peserta untuk tetap terus menjaga keberadaan orangutan yang statusnya hampir terancam punah”, ujar Hanna Runtu (penerima BOCS sekaligus ketua panitia).
Dari kedua pemantik diskusi juga berharap kedepannya semua generasi dapat ikut melestarikan lingkungan, alam, dan orangutan agar kelak kita dapat menikmati dan nyaman untuk tinggal dibumi dan dapat juga mengetahui dan mencintai satwa langka yang mempunyai kedekatan DNA dengan manusia, tutur Hanna lagi.

Kegiatannya talkshow dengan mengetengahkan topik pembahasan; Menghormati Hak Satwa Terancam Punah. Sebagai Narasumber pada talkshow tersebut adalah Ibu Eni Ratnawati dari BKSDA, Ibu Mariamah Achmad dari Yayasan Palung dan Kakak Harnes dari Yayasan Titian.

Selain itu ada juga kegiatan games kahoot.id, tujuannya untuk menguji pengetahuan peserta tentang orangutan dan ada pentas seni dengan penampilan tarian, puisi, dan akustik. Suasananya asik pada sesi talkshow dan game, karena peserta antusias sekali, Ilham Pratama satu dari panitia kegiatan mengatakan PPO 2019 di Pontianak.

Selain itu, ada dua puisi yang disampaikan oleh Pradono Singkawang judulnya Hutan dan Orangutan, tarian pohon, tarian Dayak kreasi, tarian Melayu opening. Selain itu juga ada Akustikan dari D’ERA band dan Merah Jingga. Adapun peserta yang mengikuti kegiatan tersebut diikuti oleh 72 orang peserta.
Victoria Gehrke, Direktur Program Yayasan Palung, mengatakan Karena semakin jelas bahwa melindungi satwa liar melalui hukum mungkin tidak cukup untuk melindungi spesies langka yang membahayakan secara global, kita harus mencari integritas moral kita dan menerapkan etika kita untuk menghormati hak-hak semua hewan liar untuk hidup bebas dan merasa terlindungi. Satwa liar yang terancam punah berarti mereka semua lebih rentan dan lebih jarang, dan ini adalah yang harus kita hargai dan lindungi sebelum mereka sepenuhnya hilang. Terima kasih semua yang telah berpartisipasi dalam pengorganisasian, menghadiri, berbagi, dan berpartisipasi dalam acara untuk Pekan Peduli Orangutan 2019. Ini adalah sukses besar!, kata Victoria lagi.
Semua rangkaian kegiatan PPO 2019 berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta yang hadir.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pada 21 Oktober 2019 kemarin, saya berkesempatan menghadiri konferensi internasional di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Konferensi yang bertajuk “INTERNATIONAL CONFERENCE ON BIODIVERSITY FOR LIFE: SUSTAINABLE DEVELOMPMENT OF INDONESIA BIODIVERSITY” dengan tujuan membawakan presentasi sebagai pengenalan metode penelitian baru kami di Stasiun Riset Cabang Panti tentang suhu tubuh orangutan, presentasi yang saya bawakan berjudul “Fecal Temprature of Wild and Captive Bornean Orangutans As a Proxy For Body Temprature”
Penting halnya memantau kesehatan orangutan di alam liar untuk kita lebih jauh memahami bagaimana cara mereka bertahan hidup dialam liar, nah bagaimana caranya?, yaitu salah satunya dengan cara memantau kesehatan tubuh orangutan melalui suhu tubuhnya sebagai indikator kesehatan tubuh pada orangutan. Hal ini dikarenakan orangutan sebagai primata yang “homeothermic” atau dapat menghasilkan panas tubuhnya sendiri sebagai adaptasi terhadap lingkungannya di alam liar .
Orangutan sebagai hewan yang arboreal cenderung cukup sulit untuk mengambil suhu tubuh nya secara langsung, hal ini membuat kami menggunakan cara lainya untuk mengukur suhu tubuhnya yaitu dengan mengukur suhu feses orangutan sebagai proksi estimasi suhu tubuh.

Tidak hanya sendiri, saya juga ditemani beberapa rekan para peneliti dan Direktur penelitian juga hadir pada saat itu, sebut saja ada Agus Trianto, Ahmad Rizal, Amy Scott, Andrea Blackburn, Endro Setiawan (rekan staf TNGP yang melanjutkan studi pascasarjana di UNAS), hadir pula Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian GPOP dan OFP.
Saya mempresentasikan metode baru mengenai pengukuruan suhu tubuh orangutan melalui media feses tersebut secara detil tentang bagaimana itu berkerja dan hasil sementara yang kami dapatkan dari tahun 2017 sampai sekarang. Banyak respon positif yang saya dapatkan setelah presentasi saya usai, salah satunya adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu peserta konferensi yang berasal dari UNAS yaitu “apakah kebakaran hutan dan lahan mempengaruhi suhu tubuh orangutan dialam liar?” dan saya jawab dengan memuaskan.
Sebelumnya ada beberapa pakar-pakar sains, para profesor-frofesor yang ahli dibidangnya memmerikan presentasi, salah satunya adalah bapak Prof.Dr.Dedy Darnaedi sebagai keynote dari lembaga LIPI yang membawakan presentasi bertajuk “Diversity and the beauty of tropical fern: A new paradigm in managing Indonesian Biodiversity” yang secara khusus waktu itu menjelaskan tentang tumbuhan pakis Asplenium nidus atau yang biasa dikenal dengan nama lokal pakis bakah, tentang pesebaran dan manfaatnya. Dan masih banyak lagi presenter-presenter hebat lainnya.
Konferensi yang dimulai dari pukul 08.30 – 18.00 WIB tersebut, berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik, tak lupa foto bersama dengan para peserta lainnya yang hadir pada hari itu. Harapan saya adalah suatu saat saya akan menjadi bagian dari para pakar-pakar sains yang memberikan presentasi super hebat pada hari ini. Terima kasih.
Editor : Petrus Kanisius
Penulis : Muhammad Syainullah -Yayasan Palung (GPOCP)

Setiap tahunnya di bulan November selalu diperingati sebagai Pekan Peduli Orangutan (PPO). Pekan Peduli Orangutan sebagai cara untuk peduli, Menghargai Hak Asasi Spesies Terancam Punah
Pada PPO Tahun ini, rencana serangkaian kegiatan akan dilaksanakan dalam rentang waktu 15-17 November 2019. Adapun tema kampanye global untuk PPO 2019 adalah “Respecting The Rights Of Critically Endangered Spesies” (Menghargai Hak Asasi Spesies Terancam Punah). Dan sub tema dari PPO di Ketapang adalah “Generasi Milenial Peduli Orangutan dan Habitatnya”.
Seperti misalnya, Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) Yayasan Palung akan mengadakan serangkaian kegiatan di Taman Kota Ketapang, pada 15-17 November 2019. Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain, seperti; Perpustakaan, Puppet Show interaktif dan Photo Booth. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 3 hari, setiap harinya dimulai pukul 15.00 sampai pukul 17.00 WIB. Kegiatan perpustakaan, buku bacaan digelar diatas meja beralaskan terpal ataupun banner bekas, pengunjung bebas membaca di tempat. Panitia juga menyediakan boneka dan dialog, pengunjung diperbolehkan untuk memainkan boneka dengan dialog yang disediakan. Bagi pengunjung yang bersedia memainkan boneka / puppet show akan diberikan hadiah buku tulis YP dan majalah MIaS. Pengunjung juga akan diminta untuk swaphoto ataupun berfoto di photo booth, dan mengunggah foto tersebut di instagram dengan menandai instagram RK-TAJAM. Publikasi di media sosial akan dilakukan saat dan setelah kegiatan dilaksanakan berupa status dengan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya, foto dan video 1 menit untuk dipublikasikan di media sosial Yayasan Palung dan RK-TAJAM (Instagram, Facebook, Whatsapp, Youtube, dll) yang akan menyertakan beberapa hastag #OrangutanCaringWeek2019 #RespectingTheRights #CriticallyEndangeredSpesies #Orangutan #OrangutanBorneo #SaveOrangutanHabitat #NoForestFire #Volunteer #TAJAM #Ketapang #YayasanPalung, dll.
Sedangkan Relawan Bentangor Untuk Konservasi (RK-REBONK) Yayasan Palung akan melakukan kegiatan pendakian di Bukit Mendale, Kayong Utara, pada tanggal 16 atau 17 November 2019. Di puncak Bukit Mendale, rencananya REBONK akan melakukan pembentangan spanduk yang berisikan tulisan Pekan Peduli Orangutan 2019 dan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya. Kegiatan peringatan PPO 2019 berupa pendakian di Bukit Mendale, Kayong Utara. Pada puncak Bukit Mendale, REBONK akan melakukan pembentangan spanduk yang berisikan tulisan Pekan Peduli Orangutan 2019 dan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya. Publikasi di media sosial akan dilakukan saat dan setelah kegiatan dilaksanakan berupa status dengan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya, foto dan video 1 menit untuk dipublikasikan di media sosial Yayasan Palung dan RK-REBONK (Instagram, Facebook, Whatsapp, Youtube,dll) yang akan menyertakan beberapa hastag seperti : #OrangutanCaringWeek2019 #RespectingTheRights #CriticallyEndangeredSpesies #Orangutan #OrangutanBorneo #SaveOrangutanHabitat #NoForestFire #Volunteer #REBONK #KayongUtara #YayasanPalung, dll.
Selanjutnya teman-teman Bornean Orangutan Caring Scholarship atau lebih dikenal dengan BOCS yang merupakan salah satu program beasiswa dari Yayasan Palung akan mengadakan serangkaian kegiatan di Pontianak. Adapun rangkaian kegiatan yang akan mereka lakukan seperti kegiatan diskusi yang akan dilaksanakan, pada Kamis 14 November 2019, pukul 19.00 –22.00 WIB di Canopy Center . Kegiatan Talkshow yang rencananya akan dilakukan pada Sabtu, 16 November 2019 di Canopy Center, pukul 07.30 –11.00 WIB. Kemudian Kegiatan Malam Puncak pada Sabtu, 16 November 2019 di Canopy Center, pukul 19.00 –22.00 WIB. Publikasi di media sosial akan dilakukan saat dan setelah kegiatan dilaksanakan berupa status dengan pesan kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya, foto dan video 1 menit untuk dipublikasikan di media sosial Yayasan Palung, RK-TAJAM dan RK-REBONK (Instagram, Facebook, Whatsapp, Youtube, dll) yang akan menyertakan beberapa hastag: #OrangutanCaringWeek2019 #RespectingTheRights #CriticallyEndangeredSpesies #Orangutan #OrangutanBorneo #SaveOrangutanHabitat #NoForestFire #Volunteer #BOCS #KalimantanBarat #YayasanPalung, dll.
Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan dan meningkatkan kesadartahuan tentang konservasi orangutan dan habitatnya. Selain itu juga, Mempublikasikan di media sosial kepada masyarakat mengenai wisata di Bukit Mendale, Kayong Utara. Menyadarkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan terutama sampah di sekitar.
Berharap, semoga semua rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan sebagai cara untuk peduli dengan nasib satwa dilindungi bisa berjalan sesuai harapan dan dapat meningkatkan penyadartahuan tentang konservasi orangutan dan habitatnya.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ini adalah booklet katalog IDACRAFT yang berisi tentang informasi harga jual produk-produk dari hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Jika anda berminat untuk membeli produk-produk hhbk tersebut silakan menghubungi kami.
Terima kasih