
Cheryl D. Knott, PhD, Executive Director GPOCP dalam tulisannya, ia menuliskan judul tulisan tentang #ActLikeAnOrangutan – Practice Social Distancing (Berlatih Jaga Jarak dari Orangutan); Saat dunia manusia berjuang dengan pandemi global COVID-19, kita mungkin bisa belajar sesuatu dari orangutan. Tidak seperti kebanyakan primata, yang dikenal dengan sosialitas tinggi dan perilaku hidup berkelompok, orangutan menghabiskan sebagian besar waktu mereka sendirian. Ada yang bisa diajarkan kera semi-soliter ini tentang hubungan jarak sosial dan penyakit.
Lebih lengkapnya, pada tulisannya tersebut Cheryl menyebutkan beberapa poin penting tentang orangutan, terutama tentang Practice Social Distancing diantaranya ;
Pertama, Spesies manusia sekarang melakukan percobaan di seluruh dunia tentang dampak jarak sosial dan kita dapat melihat sendiri bahwa ini menghentikan penyebaran penyakit. Sebagai penyimpangan sosial alami, orangutan tampaknya memiliki insiden penyakit yang jauh lebih rendah daripada Kera Afrika. Data kami selama dua puluh enam tahun tentang orangutan liar di Taman Nasional Gunung Palung tidak menunjukkan bukti infeksi pernapasan atau penyebaran penyakit menular.
Faktanya, tidak ada kasus infeksi yang tersebar di seluruh populasi orangutan liar. Ini luar biasa mengingat penyakit pernapasan yang telah terlihat merusak banyak populasi studi Kera Afrika (simpanse, bonobo dan gorila). Merekam tanda-tanda penyakit dan menggunakan tes lapangan untuk mencari tanda-tanda penyakit telah menjadi ciri khas penelitian kami sejak pertama kali dimulai pada tahun 1994. Tapi, kami tidak melihat bersin, batuk, dan pilek yang meluas seperti yang rekan kerja kami pelajari tentang simpanse, khususnya, yang sering disaksikan.
Ada perbedaan sistem sosial pada kera besar. Perbedaan ini sebagian besar disebabkan oleh sistem sosial orangutan dan simpanse yang sangat berbeda. Simpanse jauh lebih sosial daripada orangutan. Sistem sosial pada setiap ukuran kelompok mereka bervariasi, tetapi mereka menghabiskan waktu jauh lebih sedikit sendirian.
Subkelompok simpanse terus berubah, artinya individu, dan infeksi apa pun yang mereka bawa, secara teratur mengenai individu lain. Sebaliknya, selama total 26 tahun penelitian kami di Gunung Palung, orangutan menemukan orangutan lain hanya pada 25% dari hari-hari mereka diikuti. Dengan demikian, 75% dari waktu mereka sepenuhnya sendirian.
Pada hari-hari itu mereka memiliki interaksi sosial, mereka menghabiskan rata-rata hanya 40% dari hari mereka bersama pada jarak rata-rata 18m (59 kaki). Tentu saja, ada beberapa hari mereka menghabiskan sepanjang hari bersama dalam jarak dekat, tetapi hari-hari lain pertemuan sosial mungkin hanya dilewati oleh orangutan lain yang berjarak 50 meter (164 kaki) jauhnya! Untuk orangutan, kami menganggap itu sebagai interaksi ‘sosial’. Simpanse, di sisi lain, tidak hanya menghabiskan lebih banyak waktu bersama, tetapi mereka dapat menghabiskan beberapa jam sehari untuk saling merawat dalam kontak tubuh yang dekat.
Kedua, ‘Jarak sosial’ semacam ini pada orangutan berarti bahwa penyakit menular memiliki sedikit peluang untuk bertahan pada orangutan. Bahkan, ini baru saja dimodelkan dalam makalah oleh Carne et al. (2014) yang melihat dampak yang diproyeksikan dari sistem sosial pada penyebaran penyakit pernapasan pada simpanse dan orangutan. Mereka menemukan bahwa orangutan memiliki kemungkinan yang sangat rendah untuk menyebarkan penyakit, walaupun itu sangat menular. Simpanse, di sisi lain, menunjukkan tingkat kerentanan tinggi terhadap penyakit pernapasan menular. Temuan ini didukung oleh pengalaman para peneliti yang mempelajari kedua spesies di alam liar.
Ketiga, Orangutan berkontribusi pada kurangnya transfer penyakit menular dari manusia ke orangutan di alam liar adalah bahwa sifat arboreal orangutan juga membantu memisahkan mereka dari manusia.
Di Gunung Palung, orangutan berada di ketinggian rata-rata di kanopi pohon adalah 20 meter (sekitar 66 kaki), yang berarti bahwa jarak antara mereka dan pengamat manusia biasanya setidaknya 30 meter (98 kaki). Rekomendasi saat ini dari IUCN SSC Wildlife Health Specialist Group and the Primate Special Group, Bagian tentang Kera Besar adalah untuk menjaga jarak 10 meter dari kera untuk menghilangkan segala kemungkinan penyebaran penyakit. Selain itu, penyakit dapat menyebar melalui kontak dengan permukaan, dan gerakan terestrial yang jauh lebih besar dari kera Afrika, serta orangutan yang ditangkap atau direhabilitasi, meningkatkan potensi penularan penyakit.
Keempat, dari data kami (GPOCP atau Yayasan Palung), orangutan di Gunung Palung terlihat turun di hadapan kami kurang dari 1% dari waktu. Jika mereka datang ke tanah, mereka hanya menghabiskan sekitar 8% dari waktu mereka di sana. Selain itu, perilaku arboreal orangutan di Kalimantan mungkin secara khusus terlihat di Gunung Palung karena struktur hutan utama kami, dengan pohon-pohon yang lebih tinggi, kemungkinan berkontribusi terhadap tinggi rata-rata yang lebih tinggi, dan lebih sedikit waktu di tanah untuk orangutan dibandingkan dengan banyak lokasi lain.

Sumber Tulisan : Diialihbahasa dan disarikan dari Tulisan Cheryl D Knott, PhD, Direktur Eksekutif GPOCP, yang berjudul ; #ActLikeAnOrangutan – Practice Social Distancing.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di:
https://savegporangutans.org/wp-content/uploads/2020/04/Issue-87-March-2020-new.pdf
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Banyak cara-cara sederhana yang bisa dilakukan untuk bumi sebagai rumah sekaligus ibu bersama (rumah dan ibu) kita.
Kini bumi menanti aksi-aksi nyata, jika bukan kita semua siapa lagi. Bumi menanti asa dari semua orang untuk peduli padanya.
Sudah saatnya kita beraksi nyata dengan cara-cara sederhana agar bumi boleh lestari hingga selamanya.
Berharap bumi boleh lestari hingga nanti agar ia terus mampu memberi nafas kepada semua.
Ayo kita pelihara, kita jaga dan lestarikan bumi dengan cara-cara sederhana.
Selamat hari bumi 2020.
Yuk cek kegiatan kami di:
#haribumi2020
#haribumi
#earthday
#earthday2020
#stayhome
Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5e9fc64ad541df648e26efa2/refleksi-hari-bumi-2020-selamatkan-bumi-karena-ia-sedang-tidak-baik-baik-saja
Petrus Kanisius (@nafas_hidupalamraya)-Yayasan Palung

Usiamu kini tak lagi muda bumiku. Sama seperti bebanmu yang juga sudah semakin sarat. Tak terbayang betapa berat engkau mengemban beban hingga acap kali menangis karena kita.
Tidak bisa disangkal, bumi sebagai rumah dan ibu kita bersama berarti ia harus dirawat dan dijaga dengan baik. Mengapa ia (bumi) sering menangis, pasti memiliki banyak alasan. Bumi menjadi tanda nyata bahwa kita membutuhkannya kini hingga nanti.
Lihatlah ia menangis berarti harus ada cara pula untuk/bagaimana menghentikannya menangis. Semestinya, mustahil jika tidak ada cara untuk ini.
Bumi menangis berarti pula ada sebab. Mungkin saja ia menangisi nasibnya yang saat ini mengalami masa-masa sulit. Tak ubah dengan menangis adalah cara terbaik dari bumi untuk mengadu tentang apa yang ia rasakan, walau sesungguhnya itu juga yang kita rasakan.
Panas yang tak biasa sering kali mendera hingga ia murka dan menciptakan jerami-jerami kering mudah tersulut api dan membuatmu terbatuk hingga menangis karena asap ketika musim kemarau tiba.
Ketika musim hujan tiba, lihatlah di beberapa tempat atau banyak tempat air tak tertampung alias meluber kemana-mana tak jarang pula membuat semua menjadi tidak baik-baik saja. Tajuk-tajuk sebagai penyerap telah kalah berdiri dengan gedung-gedung tinggi. Tengoklah ketika banjir datang, tak jarang terkadang ia membawa cerita baru yang tak kalah pilu mendera seisi rumah ini (bumi).
Semakin pongahnya kita sebagai manusia, tak ubah sebagai raja atas semua makhluk yang cenderung pula mendominasi lalu lupa harmoni membuat bumi semakin ironi dalam ketidakpastian dulu, kini dan mungkin nanti?.
Tanda-tanda bumi ini sakit pun sesungguhnya bukan barang baru. Sedari dulu bumi ini selalu menanti asa karena tangisnya bukan pula karena ia semakin tua renta tetapi menahan derita menanti kasih yang bisa menghidar kala tangisnya semakin menjadi.
Bumi tak pernah berdusta dengan bahasanya. Bumi pun terkadang (tidak/tak) kuat dengan semampunya menahan dan menanggung luka dan derita yang ia alami kini. Tetapi sesungguhnya ia tak kuasa bisa berteriak, ia hanya menangis dengan tangisan akan nasibnya kelak. Dengan bahasanya itu sesungguhnya sebagai tanda nyata dan memperlihatkan kepada kita bagaimana mencari cara.
Hutan, tanah dan air ini isi bumi bersama yang lainnya (semua makhluk) ingin selalu bernafas bahagia bukan tangis dan derita. Tetapi, mampukah kita membuat bumi ini tersenyum dengan cara-cara sederhana yang kita miliki? atau terus melihat bumi ini terus mengeluarkan deraian air mata yang tak kunjung henti? atau kita semakin menertawakan bumi yang kini sebagai rumah sekaligus ibu kita?
Tak ada kata terlambat untuk membuat bumi bisa terhibur dari tangis dan deritanya kini. Masih banyak kiranya cara-cara sederhana yang mampu, boleh dan dapat kita lakukan dengan tingkah polah kita sehari-hari. Terkadang kita terlalu konsumtif, abai dengan personal lingkungan termasuk seenaknya membuang sampah tidak pada tempatnya. Mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja dengan menggantinya dengan tas belanja, atau mengurangi membeli botol plastik dengan menggantinya dengan botol minuman yang bisa dipakai berulang kali dan masih banyak cara lainnya tidak terkecuali mengurangi penggunaan sedotan plastik dengan sedotan tradisional seperti bambu misalnya. Setidaknya itu cara-cara sederhana yang boleh dicoba dan dilakukan oleh siapa saja tanpa terkecuali dan tanpa memaksa pula.
Atau setidaknya bagaimana cara kita merawat dan menjaga bumi (Selamatkan Bumi Dari Rumah) sesuai dengan tema hari bumi yang dirayakan oleh Yayasan Palung, pada 22 April. Mengajak semua masyarakat yang ada di Kalimantan Barat dengan tantangan kreativitas #DIRUMAHAJA #DiRumahAja .
Untuk informasi lengkapnya di :
Dengan cara-cara sederhana, setidaknya kita bisa ikut mengambil peran dan peduli dengan nasib bumi ini kini dan berharap hingga nanti boleh lestari. Nasib bumi dan nafas semua makhluk hidup tergantung bagaimana kita bertindak hari ini pula. Bila bumi ingin terus berlanjut bolehlah kiranya kita semuanya mengambil peran bukannya merengumpat atau menyalahkan bumi dan alam semesta. Berharap pula tidak ada lagi kata ini karena bencana alam atau semua ini karena salah alam/bumi ini. Bumi ini tidak pernah salah, tapi penghuninya yang salah tak lain manusia karena sikapnya yang terkadang pula terlalu serakah.
Bumi tak meminta untuk dikasihani, tetapi setidaknya kita punya rasa yang tak kuasa melihat seringnya ia menangis bukan karena siapa tetapi karena ulah kita. Bila kita bisa menghibur dan menghentikan tangisannya. Dengan demikian pula setidaknya kita bisa berharap dengan usia bumi semakin menua dan tua renta ini masih asa untuk berlanjut dan kita semua boleh harmoni hingga nanti.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tak lama lagi kita akan merayakan hari bumi, tepatnya 22 April nanti. Lalu bagaimana kita menyapa bumi dengan cara-cara sederhana kita?.
Bumi tak lain dan tak (dapat) disangkal sebagai rumah bersama, sebagai rumah ia dinanti untuk disapa karena ia perlu rupa dari semua untuk peduli padanya.
Rumah bersama karena ia (bumi) selalu memberi tentang nafas yang sejatinya harus selalu harmoni.
Seperti hari ini dan kemarin lampau, bumi yang kini semakin menua nasibnya semakin tak tentu.
Derita (bencana) alam yang terasa tak lebih karena sejujurnya bumi sedang sakit. Sakit dan deritanya bukan karena yang lain, tak ada selain manusia yang juga tak cukup ramah kepadanya.
Kini, tak jarang bumi lewat alam bicara dalam bahasanya. Andai kita peka, tanda-tanda nyata alam semesta bicara terlihat dari apa yang kita rasa saat ini.
Merenda asa bagaimana agar ia bisa disapa dengan kemurahan, bukan sebaliknya dengan kemarahan dan amarah yang membuncah.
Sekedar pengingat kiranya, bumi tempat kita berdiam ini sejatinya tak tahu harus seperti apa mengadu, bumi tak bosan-bosannya memberi lewat nafas hidup alam rayanya, lewat birunya laut dan sepoi-sepoi segarnya angin.
Apa yang bisa kita manusia beri untuk bumi ini? Bertanya karena bumi yang selalu memberi kita tentang semua untuk kita agar kita masih boleh berlanjut hingga kini dan berharap hingga nanti dan selamanya.
Disapa? Dirawat? atau apapun itu setidaknya itu tujuan agar bumi sebagai rumah ini bisa sedikit bernafas karena ia tak sekedar renta namun lebih karena ia sering didera.
Disapa, sebab ia menanti kasih yang rela mengasih tanpa pamrih. Kami semua tahu, bumi sebagai rumah bersama, tetapi yang kami selalu bertanya bagaimana agar ia tetap menjadi bumi yang menopang bukan menjadi karang ibarat laut yang tinggal kenangan karena tak kalah seringnya pula dirusak oleh tangan-tangan tak terlihat. Dirawat, karena ia menanti, bukan meminta tangan-tangan tulus tanpa pamrih sebagai pemulih, siapa lagi kalau bukan kita semua.
Bumi pertiwi ini sebagai tanda nyata bahwa ia harus selalu harmoni, yang harusnya juga menjadi tanggungjawab semua agar kita setidaknya boleh memilihara, menjaga serta memupuk harmoni itu agar ia tetap lestari.
Semakin tua renta, inillah adanya bumi ini saat ini. Secerca harap ia bisa selalu memberi, menyapa dengan senyumnya. Seandainya ia bisa terus tersenyum walau kini usianya tidak muda lagi, tetapi setidaknya ia boleh memiliki umur yang panjang hingga ia juga boleh bicara dalam bahasa bahagianya kepada anak cucu.
Bersama untuk bumi yang lebih baik. Setidaknya itu harapan semua agar bumi sebagai rumah boleh lestari hingga nanti dengan cara-cara sederhana yang kita miliki pula. Sebagai pengingat pula, usia bumi ditangan kita semua, apakah ia berlanjut atau tidaknya kuncinya tergantung kepada kita manusia. Semoga pula, sakit penyakit bumi sebagai ibu dan rumah bersama ini segera pulih.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Rabu (8/4/2020) kemarin, dilakukan seleksi tahap akhir penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Barat WBOCS, bertempat di Laboratorium Teknogi Kayu Fahutan Universitas Tajungpura. Pada Seleksi tersebut, terpilih 6 orang yang menjadi penerima beasiswa WBOCS tahun 2020.
Adapun 6 penerima beasiswa WBOCS tersebut adalah Vera Frestia dari SMAN Sandai, Sisilia dari SMAN 1 Sungai Laur, Winda Lasari dari SMAN 1 Sungai Laur, Rizal SMK Al-Aqwam, Muhammad Syainullah dari MAS Hidayaturrahman dan Sonia Utami dari Babussadah.
Vera Frestia mengambil jurusan Hubungan Internasional FISIP UNTAN, Sisilia Sosiologi mengambil jurusan FISIP UNTAN, Winda Lasari mengambil jurusan Kehutanan FAHUTAN UNTAN, Rizal mengambil jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum UNTAN, Muhammad Syainullah mengambil jurusan Kehutanan FAHUTAN UNTAN, Sonia Utami mengambil jurusan Matematika FMIPA UNTAN.
Mariamah Achmad, manager Pendidikan lingkungan Yayasan Palung, mengatakan, “Puncak proses rekrutmen penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (WBOCS) tahun ini dilakukan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ditengah Pandemic Covid-19, kami melakukan perubahan cara seleksi tahap akhir yang biasanya presentasi dan wawancara tatap muka dengan secara online, hal ini untuk antisipasi penyebaran covid-19 dengan social distancing. Peserta yang lolos seleksi tahap 1 diminta untuk membuat ppt dan video presentasi, kemudian mengirimkannya melalui email yang selanjutnya diperiksa oleh para juri”.
Adapun sebagai juri pada seleksi tahap akhir WBOCS tersebut adalah Mariamah Achmad dari Yayasan Palung, ibu Kustiati dari (FMIPA) dan ibu Evy Wardenaar dari (Fahutan).
Lebih lanjut, Mayi, demikian ia disapa sehari-hari, mengatakan, “Dalam proses wawancara terjadi beberapa kali putus sambung saluran telpon dikarenakan beberapa peserta yang berada di perhuluan berada di sinyal telpon yang tidak stabil. Namun secara umum, kami sudah melakukannya dengan baik walaupun terasa sangat kurang karena tidak ada interaksi antara peserta dan peserta, juri dan peserta serta panitia yang sibuk mengatur kelancaran kegiatan, yang biasanya membuat suasana lebih hidup dan kompetitif”.
Dari proses ini kami mendapatkan 6 pemenang WBOCS 2020 dari 12 peserta yang berjuang di seleksi tahap akhir. Selanjutnya para pemenang ini akan berjuang lagi pada seleksi masuk perguruan tinggi. Program ini rutin kami lakukan sejak tahun 2012, namun selalu setiap melakukan proses seleksi ada harapan yang membuncah bahwa proses ini akan menambah orang-orang yang dapat mengubah diri mereka, keluarga dan bahkan masyarakat banyak serta lingkungan hidup menjadi lebih baik, tuturnya lagi.
Seperti diketahui, Program beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) pada tahun 2020 telah memasuki tahun ke Sembilan.
Yayasan Palung merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat.
Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship).
Hingga tahun 2019 terdapat 37 Penerima BOCS yang diantaranya 7 orang sudah menjadi sarjana.
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di : https://pontianak.tribunnews.com/2020/04/12/berikut-peserta-peraih-beasiswa-peduli-orangutan-kalimantan-barat-yang-digelar-yayasan-palung
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tak sedikit para peneliti dalam dan luar negeri yang meneliti di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Banyak hal yang mereka teliti di Gunung Palung yang tak ubah seperti surga kecil karena menyimpan banyak sekali keindahan berupa flora dan fauna (keanekaragaman Hayati tumbuhan dan hewan/ satwa atau primata) seperti orangutan.
Penelitian para peneliti mencakup berbagai aspek, seperti meneliti perilaku, aktivitas dan nutrisi orangutan, beberapa di antaranya meneliti pakan (makanan) orangutan dan beberapa penelitian lainnya terkait terkait tentang sebaran hewan avertebrata di Cabang Panti. Selain itu juga ada peneliti yang meneliti tumbuh-tumbuhan dan ekologi hutan. Sebagian besar peneliti berasal dari luar negeri seperti dari Harvard University, Boston University, Michigan University, (USA) dan Cambridge University (UK). Ada juga peneliti dari dalam negeri (Indonesia) termasuk asisten peneliti yang ikut membantu di Stasiun Riset Cabang Panti. Dari data yang ada, tercatat sebayak 91 orang dari Indonesia yang meneliti di Stasiun Riset Cabang Panti dan 83 orang peneliti dari luar negeri. Jika di total telah ada 174 peneliti yang meneliti di Kawasan TNGP, (data peneliti dari tahun 1986-2015, data Yayasan Palung atau GPOCP sampai dengan Desember 2019 ada 104 asing dan 134 Indonesia.

Yang menarik, beberapa peneliti seperti Timothy Gordon Laman atau lebih dikenal dengan Tim Laman, dari Harvard University (USA) melakukan penelitian di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) pada rentang waktu penelitian (tahun 1987-1988). Campbell Owen Webb, dari Dartmouth College (UK) melakukan penelitian (1991-sekarang), Andrew John Marshall, dari Harvard University dan Michigan University (USA) melakukan penelitian dari (tahun 1996-sekarang). Selain itu ada juga Cheryl Denise Knott, dari Boston University (USA) melakukan penelitian dari tahun 1991-sekarang. Mereka semua masih rutin untuk selalu berkunjung dan masih aktif meneliti di kawasan TNGP, lebih tepatnya di Stasiun Riset Cabang Panti. Beberapa penelitian menarik mereka adalah meneliti perilaku, reproduksi dan nutrisi orangutan, seperti yang diteliti oleh Cheryl Knott. Tim Laman melakukan penelitian, pelatihan jenis-jenis Ficus, sedangkan Andrew John Marshall Andy saat ini focus dengan ekologi hutan dan sebaran hewan vertebrata.

Beberapa perilaku, reproduksi dan tingkat kecerdasan dari orangutan menjadi minat para peneliti. Mengingat, orangutan sebagai kera besar memiliki kemiripan 96,4 % dengan manusia. Orangutan betina juga mengalami datang bulan (menstruasi) dan mengandung 8,5 bulan- hingga ada yang 9 bulan. Hal yang menarik lainnya dari Taman Nasional Gunung Palung, karena; di kawasan ini merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpaceae (jenis kayu meranti) dataran rendah yang terbaik terluas dan masih tersisa di Kalimantan. Taman Nasional Gunung Palung memiliki 7 tipe hutan tropis dan 9 tipe habitat secara keseluruhan. Sedangkan beberapa peneliti dari Indonesia yang melakukan penelitian sebagian besar adalah mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas seperti dari Universitas Tanjungpura, Universitas Nasional, Universitas Gadjah Mada dan beberapa universitas lainnya. Selain itu, ada juga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Adapun menurut data pada tahun 2001, jumlah populasi orangutan yang mendiami kawasan TNGP kurang lebih berjumlah 2.500 individu orangutan, data Yayasan Palung dan BTNGP. Saat ini survei ulang sedang dilakukan oleh Beth dan Andre. Saya piker tinggal analisis hasil saja. Untuk menjangkau Stasiun Riset Cabang Panti, Kawasan TNGP diperlukan waktu 5-7 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Sedangkan, jika menggunakan sampan bermesin bisa ditempuh dengan waktu 6-8 jam.

Hingga saat ini, para peneliti masih melakukan penelitian mereka di Stasiun Riset Cabang Panti di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Para peneliti sangat terbantu karena adanya kerjasama yang baik dengan pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung (BalaiTNGP). Berharap semoga saja mereka bisa memberikan kontribusi bagi dunia ilmu pengetahuan (science), selanjutnya juga semoga orangutan tetap ada, terjaga dan tidak punah. Semoga saja…
Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Editor : Wahyu Susanto- Yayasan Palung (GPOCP)
Selama sepekan saya berkesempatan untuk belajar tentang kegiatan penelitian di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung
Minggu, 22 Maret 2020, adalah hari pertama menuju Camp Stasiun Riset Cabang Panti. Perjalan menuju Camp Cabang Panti kurang lebih menempuh waktu 5 jam dengan berjalan kaki di rimbunnya hutan, dan ditemani hujan.. kadang kami berhenti sejenak untuk melepaskan pacat yang mengigit,, dan melanjutkan perjalanan kembali,, dalam perjalan kami berbincang-bincang dan Azmi berkata “saya belum pernah melihat orangutan secara langsung dialam liar” tak lama kemudian langsung menjumpai 3 ekor Orangutan jantan di jalur RANGKONG, kelasi, babi, kelimpiau dan beruk
Waktu telah menunjukan pukul 18.30 Wib kami sampai di Camp Penelitian Cabang Panti, kami istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah setelah perjalanan,
Setelah lelah hilang, mandi dan makan malam, kami melakukan diskusi kecil tentang apa saja yang akan dilakukan disana.
Hari ke-2 di Cabang Panti, Senin, 23 Maret 2020, Di pagi hari yang sedikit hujan, Kami juga diskusi kecil dengan peneliti dari India, yaitu Swapna dan Assistennya Rindu tentang penelitiannya, setelah hujan reda kami langsung menuju lokasi dimana sample biji di letakan, (biji telah dikasih tanda taging) dan ada beberapa sample yang hilang (dibawa hewan) jadi kami harus mencarinya, ini yang sedikit sulit kita harus teliti karena harus mencari di lantai hutan yang penuh dengan dedaunan, ada yang dibawah pohon tumbang dan ada juga yang hilang hingga 10 meter, setelah semua lokasi sample di cek, Kami kembali ke Camp untuk istirahat.
Cek plot biji dan mencari taging di jalur PR
Hari ke-3 di Cabang Panti, Selasa, 24 Maret 2020, Waktu menunjukan pukul 03.30 Wib kami sudah siap untuk melakukan sensus dan Cek Cuaca di jalur MR 13 hingga GP 107 + Phenology Di MR 0 bersama Asisten One Forest Project (OFP), dikegelapan malam kami sudah harus berjalan menuju lokasi sensus, dengan jalur menanjak cukup menguras tenaga, namun dalam perjalanan sensus kami ditemani nyayian burung yang saling bersahutan dan juga disuguhkan pemandangan dari ketinggian di Jalur GP 80 dan GP 90 dan finish di GP 107, Kami juga mengukur suhu dan curah hujan yang ada di Gunung Palung (di beberapa lokasi) setelah semua lokasi dicek kami kembali turun untuk membuat Phenology (cek pohon di transek MR 0) melihat keadaanya apakah sedang berbuah, tunas baru atau mati, Kami cek satu persatu pohon yang telah ditandai, tak terasa hari telah sore, seharian berjalan untuk sensus dan Phenology, setelah selesai kami kembali turun dan sampai di camp jam 16.30 Wib dan istirahat.
Malamnya kami diskusi bersama Ziva untuk kegiatan diesok hari dan setelah selesai diskusi kami seru seruan dengan bermain kartu Remi.
Hari ke-4 di Cabang Panti, Rabu, 25Maret 2020, Kami terbangun kemudian membuat persiapan dan berangkat pukul 04.30 Wib untuk melakukan Phenology di jalur TK dan ML lagi-lagi di Jalur gunung, dan setelah selesai kembali turun ke camp sampai jam 13.45 Wib dan istirahat. Setiap malam kami selalu briefing (pengarahan) untuk rencana esok harinya.
Hari ke-5, Kamis, 26 Maret 2020, Kami dibagi untuk Sensus dan cek kamera di jalur Rawa, pukul 04.30 Wib kami sudah berjalan menuju lokasi sensus dalam perjalanan kami menjumpai pelanduk (kancil) dan di Jalur sensus juga menjumpai monyet ekor panjang, enggang dan burung burung kecil, dan selesai pukul 12.00 Wib, kami kembali ke camp dan istirahat.
Hari ke-6 di Cabang Panti, Jumat 27Maret 2020, Sembari menunggu hujan reda kami membantu untuk mengemaskan barang dari camp Nyamuk ke camp induk karena mau di renovasi. Sekitar pukul 08.25 Wib kami berangkat menuju lokasi. Kami melakukan sensus dan cek kamera di jalur GP dan Phenology di MR 14 setelah selesai semuanya, kami menyempatkan untuk berkunjung di Air terjun LC dan beberapa mencoba terjun dari atas batu yang cukup tinggi dan beberapa hanya menikmati suasana di sekitar.
Hari ke-7 di Cabang Panti, Sabtu 28 Maret 2020, Hari terkahir di Pusat Penelitian Cabang Panti kami tak mau melewatkan untuk belajar dan mengetahui satwa yang dapat dijumpai di jalur jalur sensus jadi kami ikut kembali sensus di jalur TZ jalur Rawa yang jarang dilewati dan di jalur ini kami menjumpai burung-burung kecil, kelimpiau, enggang raja, kura-kura yang cukup besar dan juga mendengar suara ORANGUTAN namun sayang tidak ketemu setelah semua jalur sensus selesai kami kembali ke camp untuk persiapan turun ke kampong.
Pada malam hari, saya menemukan ular Bungarus (welang) dan pada hari Sabtu pagi (hari terakhir saya di Cabang Panti) ada ular didepan camp lagi santuy di tepi sungai, ular tersebut adalah ular tunggu (viper).
Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman peneliti di Cabang Panti dan kawan-kawan Balai Taman Nasional Gunung Palung atas kebersamaan kita. Berharap ada kesempatan lagi untuk berkunjung kembali.
Penulis : Sidiq Nurhasan (Relawan REBONK, Angkatan ke-3)
Editor : Pit-YP

Ibu Saparidah, ia adalah seorang pengrajin (perajin) sekaligus ketua kelompok di IDA CRAFT. Beberapa waktu lalu, mereka berdua (Ibu Ida dan Lina) diminta oleh Guru dari SDN 06 Tanjung Gunung, Kabupaten Kayong Utara untuk mengajarkan dasar mengayam pada siswa dan siswi di SD tersebut.
Ibu Ida, demikian ia disapa sehari-hari. Ibu Ida mengajak anggotanya yaitu Lina yang juga merupakan salah satu pengrajin muda dikelompok IDA CRAFT ikut membantunya untuk mengajar di SD 06 Tanjung Gunung. Adapun siswa dan siswi yang berkesempatan belajar dengan Ibu Ida siswa dan siswi kelas 3, 4, 5 dan 6, proses mengajar akan dilakukan setiap hari Sabtu, dan hari pertama mengajar dilakukan pada hari Sabtu, 29 Februari 2020, bulan lalu.
Hari Pertama belajar menganyam, siswa dan sisiwi yang diajar adalah siswa dan siswi kelas 3 dan 4, siswa kelas 3 berjumlah 22 orang dan kelas 4 berjumlah 12 orang dan untuk minggu berikutnya akan mengajar lagi siswa dan sisiwi kelas 5 dan 6, dimana siswa dan siswi kelas 5 berjumlah 9 orang dan kelas 6 berjumlah 19 orang. Mereka semua digabung menjadi satu ruangan dikelas 3, para siswa dan siswi sangat antusias mengikuti proses belajar mengayam tersebut. Ibu Ida dan juga Lina juga tidak kalah semangatnya mengajar, apalagi para dewan guru di SD tersebut juga ikut berpartisipasi dalam proses mengajar jadi juga menambah semangat para siswa dan siswi mereka.
Proses mengajar ini akan dilakukan selama 1 semester dan akan terus bergantian proses mengajarnya dari minggu pertama kelas 3 dan 4, minggu berikutnya kelas 5 dan 6 dan begitu seterusnya hingga sampai satu semester selesai.
Profil Singkat Ibu Saparidah (Ibu Ida)
Ibu Saparidah atau yang leih dikenal dengan Ibu Ida adalah masyarakat Dusun Sei Belit, Desa Sejahtera. Ibu Ida merupakan pengrajin binaan Yayasan Palung melalui program SL (Sustainable Livelihood), Ibu Ida mulai bergabung menjadi binaan Yayasan Palung pada tahun 2011 dengan menjadi anggota kelompok Peramas Indah dan mulai membentuk kelompok IDA CRAFT pada tahun 2015.
Ibu Ida sudah mulai belajar mengayam sejak usia sekolah yang didapat dari neneknya, pada awal masa belajar mengayam Ibu Ida masih mengayam dengan lebar rabai (daun pandan) 5mm dan setelah bergabung dikelompok binaan Yayasan Palung dan sering mengikuti pelatihan Ibu Ida sudah mulai memperbaiki kualitas jangatannya menjadi 4 mm dan terkadang ada yang 3mm.
Pada mulanya Ibu Ida hanya mengayam tikar saja, dan setelah sekian lama dan banyaknya tikar yang dibuat oleh kelompok pengrajin lain Ibu Ida mulai mengembangkan produk pengembangan pandan. Diantarnya membuat tas, dompet, tempat pensil, gantungan kunci, kipas, tutup toples dan masih banyak lagi produk pengembangan yang lainnya. Dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun dan selalu aktif mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pihak daerah dan lembaga-lembaga NGO lainnya Ibu Ida sudah banyak dikenal oleh beberapa kalangan masyarakat dan juga sudah banyak diminta oleh instansi ataupun aparatur desa untuk melatih pengembangan produk pandan dan juga perbaikan motif serta mengayam tikar dengan bentuk jangatan yang lebih kecil.
Ibu Ida sudah banyak mengayam didalam daerah, luar daerah dan yang paling jauh Ibu Ida sudah melatih sampai ke Papua sebanyak dua kali. Ibu Ida semangkin banyak dikenal masyarakat desa luar dan rekan pengrajin luar kota karena sering mengikuti pelatihan, ilmu Ibu Ida untuk memperbaiki kualitas produk kembangan pandan pun bertambah luas. Berkat semangat dan selalu konsisten terhadap produk kerajinan yang Ibu Ida buat, Ibu Ida sudah mendapatkan beberapa penghargaan diantaranya penghargaan Pelopor Lingkungan Hidup (2018) dan penghargaan Disney Conservation Hero Award (2019).
Selain penghargaan tersebut Ibu Ida juga sudah berhasil menjadi orang lokal satu-satunya yang bukan orang Dinas terkait yang menjadi pengurus di Dekranasda, Ibu Ida menjadi pengurus di Bidang Kreatif dengan periode 2018-2023. Itu semua Ibu Ida dapatkan karena produk kerajinan yang selalu ia tekuni. Sukses selalu Ibu Ida.
Penulis : Salmah Yayasan Palung
Editor : Pit YP
Pernah dengar MOL? MOL (Mikro Organisme Lokal) merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk dimanfaatkan menjadi pupuk sehingga tidak merusak lingkungan.
Nah, apa manfaat MOL dan bagaimana cara membuatnya? Yukkk, simak video berikut ini :
Semoga bermanfaat

Hutan yang tak lain sebagai rumah bersama. Hutanku dulu dan sekarang/saat ini (kini). Begitu juga dari hutan, banyak manfaat yang kami peroleh dari dulu hingga saat ini.
Hutanku kini dan sekarang tampaknya sudah semakin berbeda. Padahal ia (hutan) merupakan rumah bersama. Rayuan maut bertubi-tubi datang kepadanya. Rayuan itu untuk membuatku rebah tak berdaya hingga enggan bertunas kembali karena terus tergerus saban hari, dari waktu ke waktu.
Dari rumah bersama kita beroleh ruang dan waktu untuk sekedar makan dan bertahan hidup juga memadu kasih agar semua bisa berdampingan serta saling menjaga. Selorohku, selorohmu juga tentang nasib semua makhluk saat ini dan nanti.
Dulu merdunya kicauan memberi sejuta harap tentang cerita manis bagi semua yang mendiami rumah bersama itu (hutan). Hamoni, itu kata yang penah ada. Semua nafas bisa saling bahu-membahu bersama agar tetap boleh dan lestari hingga nanti.
Riang gembira ragam satwa menyapa dengan kata-kata tentang mereka yang saat ini menati kasih. Kasih tentang bagaimana hutanku (hutan kita bersama) kini bisa hingga nanti terus berdiri tanpa berseloroh tentang nasibnya.
Seloroh ragam satwa yang ada sebagai penanda bahwa sesungguhnya hutan itu selalu memberikan keindahan. Keindahan akan ragam manfaat kepada seluruh penghuni yang menghuni rumah bersama yang tak lain hutan rimba belantara.
Tetapi pertanyaannya sekarang, masih adakah asa untuk menyelamatkan rumah bersama, rumah kita semua nafas segala bernyawa?
Saat sekarang, rumah bersama kini tak lagi rumah namun tak ubah gubuk derita yang semakin sepi penghuni.
Segala isi dari rumah bersama itu kini, sepertinya semakin sulit ditinggal karena memang sudah membuat tak betah untuk menetap. Panas terik berbanding lurus dengan robohnya segala tajuk-tajuk pepohonan yang semakin sering tumbang karena kalah bersaing untuk terus dibuka dan diganti dengan tanaman pengganti atau kami digali, namun sudah pasti tak sama.
Riuh rendah kalang kabut tentang bencana pun tak jarang bergema sembari bercerita tentang rumah bersama. Rimba raya yang tak lain juga adalah hutan sebagai rumah bersama kini cenderung dirundung malang.
Cerita riang gembira penghuni rimba raya (hutan) belantara sebagai rumah bersama pun berubah jauh. Bukan ia (hutan) yang tak bersahabat, tetapi sejatinya kita semualah yang membuat rimba raya (hutan) sebagai rumah bersama dan memiliki segalanya bagi keberlajutan semua makhluk pula semestinya. Fakta bercerita dalam bahasanya memberi tanda akan bagaimana sesungguhnya kita bersikap dengan semua ini.
Semua berharap rumah yang ramah itu selalu ada dan tidak berganti gubuk derita yang membuat semua nafas semakin terluka dan menderita, yang sulit bertumbuh dan berkembang karena acap kali rebah tak berdaya.
Bila ia (hutan) sebagai rumah bersama itu tak kunjung dikasihi dengan rasa dan tidakan kasih yang kita semua miliki dengan menanam, memilihara, menjaga dan menuai tanpa harus merusak.
Hutan belantara sebagai rumah bersama yang tak lain pula menjadi tanggung jawab bersama sudah semestinya menjadi perhatian agar kita semua bisa selalu harmoni hingga selamanya. Sebagai pengingat, bukankah kita semua sesungguhnya diciptakan untuk saling harmoni satu dengan yang lain. Hutan perlu penyemai seperti beragam satwa seperti orangutan dan burung enggang. Agar mereka selalu ada, bolehlah kiranya kita semua untuk bersama-sama menjaga sembari berharap kita semua bisa terus hidup berdampingan hingga selamanya. Berharap pula ada asa dan rasa bagi kita semua agar semua bisa harmoni dan lestari hingga nanti. Hutan terjaga, masyarakat sejahtera.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5e69fd77097f362b5c070ca2/cerpen-hutan-sebagai-rumah-bersama-kini-dan-nanti
Petrus Kanisius-Yayasan Palung