Ibu Saparidah dan Lina Ajarkan Cara Menganyam Kepada Siswa-Siswi di SDN 06 Tanjung Gunung

Ibu Saparidah, ia adalah seorang pengrajin (perajin) sekaligus ketua kelompok di IDA CRAFT. Beberapa waktu lalu, mereka berdua (Ibu Ida dan Lina) diminta oleh Guru dari SDN 06 Tanjung Gunung, Kabupaten Kayong Utara untuk mengajarkan dasar mengayam pada siswa dan siswi di SD tersebut.

Ibu Ida, demikian ia disapa sehari-hari. Ibu Ida mengajak anggotanya yaitu Lina yang juga merupakan salah satu pengrajin muda dikelompok IDA CRAFT ikut membantunya untuk mengajar di SD 06 Tanjung Gunung. Adapun siswa dan siswi yang berkesempatan belajar dengan Ibu Ida siswa dan siswi kelas 3, 4, 5 dan 6, proses mengajar akan dilakukan setiap hari Sabtu, dan hari pertama mengajar dilakukan pada hari Sabtu, 29 Februari 2020, bulan lalu.

Hari Pertama belajar menganyam, siswa dan sisiwi yang diajar adalah siswa dan siswi kelas 3 dan 4,  siswa kelas 3 berjumlah 22 orang dan kelas 4 berjumlah 12 orang dan untuk minggu berikutnya akan mengajar lagi siswa dan sisiwi kelas 5 dan 6, dimana siswa dan siswi kelas 5 berjumlah 9 orang dan kelas 6 berjumlah 19 orang. Mereka semua digabung menjadi satu ruangan dikelas 3, para siswa dan siswi sangat antusias mengikuti proses belajar mengayam tersebut. Ibu Ida dan juga Lina juga tidak kalah semangatnya mengajar, apalagi para dewan guru di SD tersebut juga ikut berpartisipasi dalam proses mengajar jadi juga menambah semangat para siswa dan siswi mereka.

Proses mengajar ini akan dilakukan selama 1 semester dan akan terus bergantian proses mengajarnya dari minggu pertama kelas 3 dan 4, minggu berikutnya kelas 5 dan 6 dan begitu seterusnya hingga sampai satu semester selesai.

Profil Singkat Ibu Saparidah (Ibu Ida)

Ibu Saparidah atau yang leih dikenal dengan Ibu Ida adalah masyarakat Dusun Sei Belit, Desa Sejahtera. Ibu Ida  merupakan pengrajin binaan Yayasan Palung melalui program SL (Sustainable Livelihood), Ibu Ida mulai bergabung menjadi binaan Yayasan Palung pada tahun 2011 dengan menjadi anggota kelompok Peramas Indah dan mulai membentuk kelompok IDA CRAFT pada tahun 2015.

Ibu Ida sudah mulai belajar mengayam sejak usia sekolah yang didapat dari neneknya, pada awal masa belajar mengayam Ibu Ida masih mengayam dengan lebar rabai (daun pandan) 5mm dan setelah bergabung dikelompok binaan Yayasan Palung dan sering mengikuti pelatihan Ibu Ida sudah mulai memperbaiki kualitas jangatannya menjadi 4 mm dan terkadang ada yang 3mm.

Pada mulanya Ibu Ida hanya mengayam tikar saja, dan setelah sekian lama dan banyaknya tikar yang dibuat oleh kelompok pengrajin lain Ibu Ida mulai mengembangkan produk pengembangan pandan. Diantarnya membuat tas, dompet, tempat pensil, gantungan kunci, kipas, tutup toples dan masih banyak lagi produk pengembangan yang lainnya. Dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun dan selalu aktif mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pihak daerah dan lembaga-lembaga NGO lainnya Ibu Ida sudah banyak dikenal oleh beberapa kalangan masyarakat dan juga sudah banyak diminta oleh instansi ataupun aparatur desa untuk melatih pengembangan produk pandan dan juga perbaikan motif serta mengayam tikar dengan bentuk jangatan yang lebih kecil.

Ibu Ida sudah banyak mengayam didalam daerah, luar daerah dan yang paling jauh Ibu Ida sudah melatih sampai ke Papua sebanyak dua kali. Ibu Ida semangkin banyak dikenal masyarakat desa luar dan rekan pengrajin luar kota karena sering mengikuti pelatihan, ilmu Ibu Ida untuk memperbaiki kualitas produk kembangan pandan pun bertambah luas. Berkat semangat dan selalu konsisten terhadap produk kerajinan yang Ibu Ida buat, Ibu Ida sudah mendapatkan beberapa penghargaan diantaranya penghargaan Pelopor Lingkungan Hidup (2018) dan penghargaan Disney Conservation Hero Award (2019).

Selain penghargaan tersebut Ibu Ida juga sudah berhasil menjadi orang lokal satu-satunya yang bukan orang Dinas terkait yang menjadi pengurus di Dekranasda, Ibu Ida menjadi pengurus di Bidang Kreatif dengan periode 2018-2023. Itu semua Ibu Ida dapatkan karena produk kerajinan yang selalu ia tekuni. Sukses selalu Ibu Ida.

Penulis : Salmah Yayasan Palung

Editor : Pit YP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: