Rinduku Pada Rimba Raya Hutan Borneo Yang Masih Utuh: Inginku Mengajak Orangutan Mengunjunginya #Awesomejourney

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Pada suatu hari, aku ingin mengunjungi rimba raya hutan Borneo yang masih utuh. Entah mengapa aku rindu sekali dengan rimba raya atau hutan rimba raya tersebut. Rencananya aku ingin sekali mengajak orangutan. Kerinduanku akan rimbunnya rimba raya bermula ketika aku banyak mendengar cerita ataupun kabar tentang berbagai kisah tentang hutan yang sekarang semakin berkurang diambang sisih tak bersisa. Mengingat juga, orangutan pernah curhat terlontar ditelingaku tentang jerit dan tangis mereka akan hutan sebagai rumah mereka, tempat mereka bertahan hidup semakin sempit.
Kerinduanku itu terus saja merasuki pikiran. Persoalan sekarang adalah kapan ada waktu yang tepat antara aku dan orangutan untuk bisa bersama mengunjunginya. Mengingat, orangutan yang ingin aku ajak semakin sulit kutemui. Sesekali aku pernah berjumpa tetapi hanya sekedar berpapasan saja, belum sempat ngobrol tentang keinginanku mengajak orangutan mengunjungi hutan Borneo yang masih utuh itu . Sepertinya, orangutan yang kuajak tersebut akan senang dan bahagia. Mudah-mudahan saja, harapku.
Hutan Borneo yang rencananya aku kunjungi menurut kabar adalah hutan di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Hutan di Kawasan tersebut sedikit lebih baik dibandingkan dengan hutan-hutan yang berada di luar kawasan. Ada beberapa hutan seperti hutan kemasyarakatan, hutan adat, hutan lindung dan hutan yang berada di dekat prmukiman masyarakat namun kondisinya tidak lagi utuh sepenuhnya.
Suatu pagi, saat aku duduk termenung di pondok ladang seorang diri. Sembari berpikir sejenak bagaimana rencanaku mencari cara mengajak, mengobrol dan berdiskusi dengan orangutan untuk mengunjungi hutan Borneo itu. Tidak disangka, seketika orangutan jantan muncul dan memanggilku dengan suara nyaringnya. Dari bahasanya, sepertinya orangutan tersebut sedang kebingungan. Benar saja, setelah saya mencoba mendekati dan bertanya kepada orangutan itu; ada apa gerangan orangutan?. Terlihat, selain kebingungan, tergesa-gesa dan ketakutan orangutan tersebut juga seperti sedang merasa sedih.
Orangutan itu menjawab pertanyaanku dengan tergesa-gesa seolah sedang berada dalam ancaman dan ketakutan; “hutanku… tempat aku sehari-hari berdiam kini digusur lagi, kemana lagi aku berdiam?”. Demikian jawab orangutan itu kepadaku.
Orangutan tersebut sepertinya sedang berada dalam keputus asaan dan hilang harapan melihat kondisi hutan sebagai habitat hidupnya digusur. Setelah mengabarkan hal yang dialaminya itu, orangutan tersebut kembali bertutur lebih lanjut tentang nasib dari saudara-saudarinya sesama orangutan, kelempiau, kelasi, kera, burung enggang, burung ruai, babi, rusa, kancil, ayam hutan, trenggiling dan beberapa kawanan satwa lainnya yang berada dalam kawanannya. Menurut cerita dari orangutan tersebut terungkap, mereka kini semakin terdesak. Hutan tempat hidup mereka tidak banyak lagi (hutan semakin sempit) tersisa tempat mereka bertahan hidup. Tidak hanya itu, lebih lanjut menurut orangutan jantan dewasa tersebut menceritakan; nasib orangutan dan kawanannya ada yang diburu, diperjualbelikan (diperdagangkan).
Setelah puas berkeluh kesah, orangutan tersebut memohon berpamitan untuk kembali kerumahnya di hutan sekitar kota yang saat ini pun semakin sedikit. Sebelum pulang ke rumahnya, aku mengabarkan rencana keinginanku mengajak serta orangutan tersebut mengunjungi rimba raya hutan Borneo. Mendengar ajakanku, orangutan tersebut sepertinya sangat riang gembira seraya berkata; “Apakah itu mimpi?. Yang benar saja”. Ya, benar ujarku.
Dengan semangatnya, orangutan tersebut menyetujui ajakanku untuk mengunjungi rimba raya hutan Borneo yang ku rindukan itu. Orangutan jantan tersebut diketahui memiliki nama Pongo.
Pongo, orangutan jantan dewasa tersebut berpesan kepadaku; dua atau tiga hari lagi ia akan datang lagi ke pondokku untuk memastikan jadwal berkunjung ke rimba raya hutan Borneo.

Orangutan ini bernama Codet, dia  seperti raja di Gunung Palung, Codet tidak takut untuk turun dari pohon. Foto dok. Robert R Suro, Yayasan Palung.
Orangutan ini bernama Codet, dia seperti raja di Gunung Palung, Codet tidak takut untuk turun dari pohon. Foto dok. Robert R Suro, Yayasan Palung.

Tiga hari berlalu, Pongo belum juga datang. Akupun bertanya-tanya; apakah pongo lupa dengan janji kami hari ini?. Hingga malam hari aku menunggu, namun pongo belum juga datang. Akupun berpikiran, mungkin si pongo lupa dengan janji kami atau ada halangan lain kenapa pongo belum juga muncul-muncul menemuiku hari itu.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ada kawananan burung enggang terbang rendah sekali diatas pohon hutan dekat pondokku. Sepasang enggang, menghampiri pondokku dan mengetok pintu seraya berkata; ada orang di rumah?.
Ya, ada sahutku. Ooo, burung enggang ternyata. Silahkan masuk ajakku. Burung enggang dan pasangannya pun masuk ke pondokku. Kehadiran saya hari ini menemuimu untuk menyampaikan pesan dari Pongo, dia mengutus aku untuk datang kemari. Ada apa?. Apa yang terjadi dengan orangutan bernama pongo itu?. Tanyaku kepada enggang agak terburu-buru sembari takut terjadi apa-apa dengannya.
Begini, jawab enggang; kemarin atau dua hari yang lalu pongo mengalami musibah, ada beberapa saudara dan saudarinya mengalami nasib malang. Beberapa diantaranya melarikan diri hingga kini belum kembali.
Beberapa rumah tempat berdiam berupa sarang mereka digusur deru mesin dan gergaji. Sampai saat ini, pongo mengajak beberapa satwa lainnya mengadakan rapat untuk mencari jalan keluar tentang musibah yang menimpa keluarga pongo dan kami merasa prihatin sekaligus sedih juga ungkap burung enggang.
Waduh… kasian nasib pongo dan keluarganya, turut prihatin atas kejadian yang menimpa pongo dan kalian semua ungkapku. Terima kasih jawab burung enggang atas rasa keprihatinanmu kepada kami semua. Atas dasar itulah aku diutus untuk datang ke tempatmu hari ini, untuk menyampaikan pesan dari pongo tentang kejadian yang menimpa kami di rumah kami berupa hutan yang semakin sempit dan mungkin akan segera habis dan hilang tidak berbekas. Jangan berkata demikian ungkapku kepada enggang. Pasti ada banyak cara untuk membuat hutan (rimba raya) dapat terus hidup. Jika hutan masih ada, ku yakin kita semua masih mampu bertahan. Tetapi, sekarang tampaknya kita sama-sama berada dalam ketidakpastian tutur burung enggang. lebih lanjut enggang mengatakan; sepertinya antara kita semua makhluk hidup tampa terkecuali sepertinya berada dalam ancaman nyata jelas burung enggang dengan nada-nada tidak bersemangat. Terima kasih burung enggang atas informasinya. Mungkin kita semua bisa saling hidup berdampingan ujarku dengan harapan burung enggang tidak kesal. Seharusnya demikian!!!… kita bisa saling berdampingan, bisa sama-sama menjaga dan dapat saling menghargai ungkap enggang dengan sisa-sisa nada kekesalannya. Menjelang senja, enggang pun berpamitan untuk kembali pulang ke rumahnya.
Setelah sedikit aku melamun, terlintas dipikiranku apa yang dikatakan enggang tersebut sungguh benar adanya dan terjadi.
Satu pekan berselang, setelah kejadian deru mesin dan gergaji yang menimpa pongo dan hampir pasti juga terjadi pula pada satwa serta seluruh makhluk lainnya menjadi beban dan pemikiran seluruh makhluk yang mendiami hutan itu sepertinya, lagi-lagi itu muncul didalam pikiranku.
Keesokan harinya, Pongo datang kembali untuk menagih janji akan rencana kami mengunjungi rimba raya hutan Borneo. Satu jam kurang lebih, pongo menyempatkan bercerita tentang kejadian yang menimpanya dan kerabatnya tempo hari sama persis dengan apa yang diceritakan oleh burung enggang. Menurut pongo, keluarganya ada yang hilang atau mungkin melarikan diri karena ketakutan mendengar suara mesin dan gerjaji. Lebih lanjut pongo bertutur, ada diantara keluarganya yang ditangkap oleh manusia. Kini keadaan rumahnya berupa hutan tidak banyak lagi yang bisa berdiri kokoh.
Aku dan pongo pun akhirnya menyepakati untuk pergi bersama-sama mengunjungi rimba raya hutan Borneo yang masih utuh itu. Rimba raya hutan Borneo yang kami kunjungi itu tidak lain adalah kawasan hutan di sekitar Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Di kawasan hutan ini, inginku melihat segala isinya dan berharap pongo bisa bertemu dengan sanak keluarganya. Taman Nasional yang kami pongo kunjungi itu sangat luas 90.000 hektare luasannya. Berjam-jam kami menempuh perjalanan menuju kawasan itu, aku berjalan kaki, pongo sepertinya sangat gembira sekali menempuh perjalanan itu, pongo bergelayutan dari pohon satu ke pohon lainnya dengan bernyanyi dan sesekali bertegur sapa dengan kerabatnya seperti kelasi, kelempiau dan beberapa burung yang secara kebetulan bertemu (berpapasan) dijalur yang kami tempuh. Sesekali orangutan bernama pongo itu bergembira ria tentang beragamnya jenis pohon, jenis buah, jenis tumbuh-tumbuhan dan sesamanya satwa yang ada dikawasan hutan Gunung Palung. Setelah hampir lima jam perjalanan kami tempuh, akhirnya kami tiba di rimba raya hutan Borneo yang masih utuh nan indah tersebut. Cukup melelahkan terasa karena jauhnya perjalanan yang kami tempuh, namun seketika rasa melelahkan itu hilang terobati oleh bahagianya pongo melihat apa yang baru saja alami yaitu keindahan tajuk-tajuk pepohonan yang menjulang tinggi dan rasa bahagia dari pongo terpancar merona di wajahnya. Senjapun tiba, kami memutuskan untuk menginap di sekitar hutan itu dan keesokan harinya aku dan pongo akan benar-benar menyempatkan diri untuk mengunjungi dan menjelajahi rimba raya.
Luar biasa, itu seruan pertama pongo saat memasuki kawasan hutan Gunung Palung, menurutku pun demikian adanya. Benar saja, kekaguman pongo itu tentang surganya makhluk hidup yang tinggal di rimba raya itu. Lalu Pongo pun kembali berujar; “Seandainya hutanku rimba rayaku ini ada disetiap sudut penjuru Borneo dan mungkin juga ada di tempat lainnya di sekitar kami, mungkin kami akan sangat senang dan bergembira. Senang dan gembiranya karena kami bisa beranak cucu dan bertambah banyak, mungkin juga kami bisa lesari dan tidak punah”.
Tidak terasa, satu pekan sudah aku dan pongo berada di Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Kami pongo pun berencana untuk menyudahi pertualangan kami di rimba raya hutan Borneo itu, rinduku pun terobati melihat indahnya rimba raya hutan Borneo di Hutan sekitar Kawasan Gunung Palung. Satu kata yang terucap dari Pongo tentang keaneragaman hayati dan seluruh makhluk yang mendiami wilayah tersebut, kata itu tentang sebuah harapan baru jika masih mampu dan bisa dipertahankan. Bisa melihat rimba raya hutan Borneo yang masih utuh sebagai harapan untuk kami, kita semua sebagai surga untuk dapat bertahan dan nafas hidup mampu berlanjut dari waktu ke waktu, tegas pongo dengan nada semangat.
Ditulis oleh : Petrus Kanisius, Yayasan Palung

Orangutan Terhimpit di Habitat Hidupnya

Orangutan yang berada di sisa-sisa habitatnya di Desa Sungai besar. Foto dok. Yayasan Palung
Orangutan yang berada di sisa-sisa habitatnya di Desa Sungai besar. Foto dok. Yayasan Palung

Setidaknya, foto orangutan jantan ini menggambarkan bagaimana kondisi, suasana atau keadaannya di habitat hidupnya saat ini. Ya, benar saja. Sarang, sisa-sisa makan berupa tebu dari dikawasan pertanian dan perladangan masyarakat sempat dijumpai saat kami berada di kawasan tersebut yang terletak di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalbar.

Jpeg
Salah satu tanaman tebu yang dimakan oleh orangutan. Foto dok. Yayasan Palung.
Sisa-sisa makanan berupa umbut kelapa milik petani yang dimakan orangutan di desa Sungai besar.Foto dok. Yayasan Palung
Sisa-sisa makanan berupa umbut kelapa milik petani yang dimakan orangutan di desa Sungai besar.Foto dok. Yayasan Palung

Berdasarkan penelusuran Yayasan Palung, beberapa pekan lalu membenarkan orangutan yang berada di kawasan pemukiman masyarakat dan di wilayah perladangan masyarakat di Desa Sungai Besar tersebut benar adanya.

Salah satu sarang orangutan yang ada lahan pertanian masyarakat di Sungai Besar.Foto dok. Yayasan Palung
Salah satu sarang orangutan yang ada lahan pertanian masyarakat di Sungai Besar.Foto dok. Yayasan Palung
Jpeg
Tanaman tebu masyarakat yang dimakan oleh orangutan. Foto dok. Yayasan Palung

Terhimpitnya habitat orangutan tersebut tidak lain karena tempat hidup mereka semakin berkurang akibat semakin meluasnya area pertanian berupa ladang-ladang masyarakat. Tidak hanya itu, di kawasan ditemukan orangutan tersebut jarak jangkauannya dari Kabupaten Ketapang ± 20 – 25 km untuk bisa mencapai wilayah itu. Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/02/19/waduh-orangutan-ini-kian-terhimpit-habitat-hidupnya

Yayasan Palung Telah Berikan Delapan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan

penerima-bocs-2012
Penerima-bocs, tahun 2012, foto dok. YP

Selasa, 27 Januari 2015 22:09 WIB

Citizen Reporter
Petrus Kanisius
Yayasan Palung

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Yayasan Palung Sediakan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan. Keberadaan orangutan Kalimantan hingga saat ini mengalami penurunan, demikian pula yang terjadi dengan alam dan lingkungan yang mengalami kerusakan, sudah semakin sulit dicegah atau dalam artian di ambang kepunahan (terkikis habis).
Melalui beasiswa Peduli Orangutan sebagai salah satu program persiapan masa depan untuk peningkatan sumber daya manusia yang peduli terhadap keberlanjutan konservasi alam dan lingkungan untuk keseimbangan sistem kehidupan.
Tahun ini merupakan tahun ke-4 bagi Yayasan Palung untuk kembali menyediakan beasiswa program S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship /BOCS) untuk dua wilayah di dua Kabupaten, Ketapang dan Kayong Utara.
Di tahun 2014 lalu, empat orang berhasil menjadi penerima beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan. Sedangkan tahun ini, Yayasan Palung (YP) bersama dengan Orangutan Republik Foundation (OURF) menyediakan 5 (lima) beasiswa program S-1.
Sedangkan dari tahun pertama hingga tahun ke-4, sudah delapan orang tercatat sebagai penerima beasiswa. Mereka kuliah diberbagai fakultas di Universitas Tanjungpura. Harapannya ketika mereka lulus kuliah, terdapat berbagai disiplin ilmu yang dapat dikembangkan untuk konservasi orangutan Kalimantan.
Mariamah Achmad, Manager Pendidikan dan Kampanye Kesadaran Konservasi, sekaligus penanggungjawab program BOCS mengatakan, untuk syarat-syarat penerima beasiswa ini, adalah calon mahasiswa/i yang berasal dari Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, diutamakan yang kurang mampu secara ekonomi, diusulkan oleh pihak sekolah dan atau atas usulan siswa bersangkutan namun meminta rekomendasi dari pihak sekolah.
Setiap sekolah berhak mengusulkan 2 (dua) orang siswa. Bagi penerima beasiswa, mereka harus berkomitmen untuk konservasi serta mempunyai motivasi yang tinggi untuk kuliah serta bersedia melakukan penelitian skripsi berkaitan dengan aspek-aspek perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan.
Selanjutnya, Mayi sapaan akrabnya menambahkan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada pemuda yang sudah menamatkan pendidikan SMA-nya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan kuliah.
Yayasan Palung menyasar dua kabupaten yakni Ketapang dan Kayong Utara dikarenakan wilayah ini merupakan habitat Pongo pygmaeus wurmbii yang merupakan sub spesies orangutan yang sangat penting, yang kini hingga di masa depan perlu dilakukan upaya konservasi untuk keberlanjutan keberadaannya.
Para penerima beasiswa ini diharapkan dapat menjadi agen perubahan untuk keberlanjutan hutan dan keanekaragaman hayati di dua kabupaten tersebut, utamanya orangutan sebagai satwa endemik kebanggaan negara kita.
Dari tahun ke tahun, jumlah penerima beasiswa BOCS selalu bertambah jumlahnya. Mudah-mudahan di tahun-tahun mendatang program inidapat terus berlanjut sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar lebih khusus terhadap konservasi lingkungan dan orangutan di Kalimantan.
Penulis: Stefanus Akim
Editor: Mirna Tribun
Sumber: Tribun Pontianak: http://pontianak.tribunnews.com/2015/01/27/yayasan-palung-telah-berikan-delapan-beasiswa-peduli-orangutan-kalimantan

Sispala CARE Tanam 20 Bibit Pohon di Jalan

sispala-care-lakukan-diksar-dengan-menanam-20-bibit
Selasa, 23 Desember 2014 13:58 WIB
Citizen Reporter

Petrus Kanisius ‘Pit’
Yayasan Palung

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Dengan menempuh perjalanan cukup panjang, sekitar tiga jam perjalanan naik turun bukit dan sesekali menjumpai alur sungai di sepanjang jalur fieldtrip di Bukit Peramas menuju di Batu Penage (Kawasan Penyangga TNGP) tampak rombongan Sispala CARE, SMA Negeri 2 Ketapang melakukan pendidikan dasar (diksar) bagi anggota baru mereka dengan bermacam rangkaian kegiatan tersebut dari Rabu (17/12/2014) hingga Jumat (19/12/ 2014).

Sore, sekitar pukul 15.30 WIB, rombongan Sispala Care tiba yang berjumlah 28 orang tiba di hutan Pantai Penage. Setibanya di hutan Pantai Penage, panitia dan peserta mendirikan terlihat istirahat sejenak kemudian membangun tenda. Beberapa peserta dan panitia terlihat ada yang mempersiapkan ranting-ranting kayu dan batu untuk tungku memasak. Beberapa di antaranya ada mengambil air untuk menanak nasi. Setelah tenda berdiri, peserta dan panitia berkumpul dan berbaris untuk memulai kegiatan.

Dihari ke dua, kegiatan sispala Care dibekali materi THAB dengan memanfaatkan bahan tumbuh-tumbuhan dan buah disekitar hutan untuk teknik hidup dialam bebas. Beberapa dari peserta diksar diajarkan untuk mencari sayur-sayur, rebung sebagai rempah dan sayur. Sedangkan bambu digunakan sebagai wadah untuk memasak. Peserta terlihat tidak canggung memasak nasi dan sayur dengan menggunakan bambu.

Selanjutnya peserta dan panitia diajak untuk menjajal kemampuan dengan memanjat tebing di lokasi Batu Penage, Batu Penage tersebut setinggi 12 meter. Peserta clambing didampingi Rudi dari FPTI Ketapang sebagai instruktur satu persatu mencoba memanjat dan menuruni tebing batu tersebut. Satu persatu panitia dan peserta mencoba clambing dan reflingsecara bergiliran. Setelah rangkaian kegiatan panjat memanjat selesai di lanjutkan dengan pelantikan bagi peserta baru, Sispala Care angkatan ke-8 dilantik. Peserta kembali untuk berkemas dan keesokan harinya melanjutkan kegiatan di Desa Pampang Harapan.

Pada hari ke tiga, peserta diksar sispala Care melakukan bakti sosial dengan membersihkan lingkungan di sekitar kantor desa dan membersihkan lingkungan di Masjid Pampang Harapan, selanjutnya mereka menanam bibit sebanyak 20 bibit pohon yang berasal dari pembibitan pohon dari Yayasan Palung. Bibit tersebut di tanam di sekitar jalan.

Menurut Fadli Achmad sebagai guru pendamping Sispala Care mengatakan; Pemantapan materi keorganisasian, manajemen perjalanan, tehnik hidup di alam bebas (THAB), pemahaman koservasi, clambing (memanjat) dan rafling (menuruni tebing), navigasi darat dengan menggunakan kompasdan penanaman pohon serta bakti sosial di desa Pampang Harapan sebagai modal awal (materi dasar) dan kepedulian bagi 13 peserta angkatan baru (angkatan ke-8 Sispala Care) yang harus mereka miliki.

Selain itu, lebih lanjut Fadli menegaskan, kegiatan Diksar tersebut bertujuan sebagai pembentukan mental dan karakter untuk lebih peka terhadap lingkungan.
Dalam kegiatan Diksar tersebut, ikut serta Bedu Tri Nugroho dan Petrus Kanisius dari Yayasan Palung, bersama dengan Nur Rohman dari Relawan RebonK. Setelah rangkaian kegiatan selesai, peserta dan panitia kembali berkemas-kemas untuk pulang dengan menggunakan mobil Satpol PP Kabupaten Ketapang menuju Ketapang.

Penulis: Stefanus Akim
Editor: Mirna Tribun
Sumber: Tribun Pontianak : http://pontianak.tribunnews.com/2014/12/23/sispala-care-tanam-20-bibit-pohon-di-jalan

Laporan Tahunan 2013

Disini kami umumkan laporan tahunan dari 2013 agar kawan-kawan pembaca bisa lebih kenal pekerjaan Yayasan Palung. Semoga bermanfaat!

GPOCP ANNUAL REPORT 2014 Bahasa

Sispala Gersisma MAN 1 Ketapang Bertemu Orangutan Di Gunung Palung

THAB (tehnik hidup di alam bebas)
THAB (Tehnik Hidup di Alam Bebas), peserta fieldtrip. dok. Yayasan Palung.

Citizen Reporter
Oleh : Petrus Kanisius- Ketapang

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Beruntung, mungkin kata itulah yang cocok untuk dikatakan kepada siswa – siswi Sispala Gersisma Madrasah Aliyah Negeri 1 Ketapang, Kalbar. Beruntungnya mereka karena bisa bertemu langsung dengan salah satu satwa endemik Kalimantan. Adalah tiga individu orangutan yang menjadi keberuntungan mereka di ketinggian sekitar 7 meter diatas pohon, ditengah derasnya hujan ketika mereka dalam perjalanan untuk melakukan pendidikan dasar dan pelantikan pada 2-4 Desember 2014, pekan lalu di Lubuk Baji (kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung).
Dimulai dengan melewati dam air berukuran besar, memasuki tipe hutan tersier, sekunder dan primer. Disepanjang perjalan siswa melakukan pengamatan flora dan fauna, banyak sekali yang mereka jumpai seperti kelasi, burung enggang, burung pelatuk, dan beberapa suara binatang. Untuk tumbuhan selain ulin atau belian, siswa juga banyak menemukan pohon medang, kayu malam.
Setidaknya dua jam perjalanan ditempuh untuk tiba di Lubuk Baji. Dua jam perjalanan tersebut di mulai dari Dusun Segua, di Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Sebelumnya mereka membutuhkan dua jam perjalanan pula dari Kabupaten Ketapang menuju sukadana dengan menggunakan kendaraan roda empat.
Dani, salah seorang peserta sekaligus panitia pelantikan anggota baru dari Sispala Gersisma menuturkan; terasa sekali perjalanan cukup melelahkan karena melewati bebukitan yang menanjak, tetapi terobati dengan pemandangan yang indah dan air terjun yang mengalir begitu deras. Sesampai di lokasi camp, peserta membuat BIVAK atau tenda, dan membuat api, sembari istirahat dan menunggu waktu untuk melakukan sholat magrib dan sholat isya berjamaah. Keesokan harinya barulah mereka memulai kegiatan.
Menurut Bedu Tri Nugroho, dari Yayasan Palung selaku pendamping saat Sispala Gersisma melakukan kegiatan, menuturkan; Adapun ketiga orangutan jenis pongo wrumbii yang mereka jumpai tersebut adalah satu induk dan dua anak orangutan yang diperkirakan berusia masih berusia dua bulan dan empat tahun di saat mereka belajar lingkungan di alam secara langsung di Lubuk Baji yang merupakan kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung. Mereka menjumpai orangutan itu saat melakukan pengamatan satwa di Subuh hari sekitar pukul 04.00 wib, ujar pria yang akrab di sapa Bedu tersebut.

Keberuntungan mereka bertambah dan tidak berhenti di situ, karena tidak semua orang yang datang ke Lubuk Baji bisa beruntung dan bisa melihat secara langsung si Pongo (orangutan). Pada hari kedua pengamatan, mereka berjumpa lagi dengan lima sarang orangutan yang tergolong masih baru. Hal menarik dari keberuntungan lainnya saat dimana mereka secara tidak disangka-sangka menyaksikan secara langsung dua ekor burung enggang di saat terbang rendah dan hinggap di sebatang pepohonan yang tak jauh pula jaraknya dari mereka. Selain itu, ternyata mereka juga menjumpai buah rambai hutan yang tengah berbuah, rambai hutan diketahui sebagai makanan favorit burung-burung dan satwa.

Dalam tiga hari berkegiatan dengan Sispala Gersisma, Bedu mengatakan; banyak sekali kegiatan yang mereka lakukan, selain mempraktekan materi – materi yang telah mereka dapat di sekolah, seperti manajemen perjalanan, materi konservasi, game (permainan), pengamatan satwa malam, pengamatan flora dan fauna. Dalam praktek materi THAB, siswa diarahkan untuk memasak menggunakan bambu (cara memasak yang praktis tampa menggunakan alat masakan seperti periuk dan kuali). Hal ini juga mengajarkan kepada mereka untuk mempraktekan THAB (tehnik hidup alam bebas) sekaligus juga erat kaitannya dengan mempelajari budaya lokal setempat yang pernah ada dan sudah mulai jarang digunakan lagi karena kalah akibat perubahan jaman. Tampak dari beberapa diantara peserta yang mencoba dan mempraktekan sembari sesekali bertanya bagaimana cara menanak nasi dan sayur dengan menggunakan bambu. Dari panitia pun terlihat secara terperinci menjelaskan kepada peserta tentang cara-cara memasak dengan media bambu dengan baik dan benar. Seperti misalnya ruas-ruas bambu tersebut disiapkan dan diisi dengan beras di tambah dengan air terus ditanak dengan api seperti dipanggang. Demikian juga memasak sayur, peserta menanaknya dengan memasukan bumbu-bumbu kedalam ruas bambu selanjutnya dijejerkan dan di tanak (istilah kampungnya di pansuh atau memansuh sayur dengan bambu).

Pada kegiatan diksar dan pekantikan Sispala Gersisma tersebut yang hadir terdiri dari terdiri dari tujuh orang anggota baru sispala, tiga anggota terdahulu dan lima orang pendamping dari Yayasan Palung.
Setelah selesai melakukan berbagai kegiatan di kawasan Lubuk Baji, peserta pun diajak secara bersama-sama untuk berkemas dan melakukan operasi semut dengan membersihkan sisa-sisa sampah di sekitar Camp dan sepanjang perjalanan yang dilalui.
Seperti diketahui Lubuk Baji merupakan kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung yang terdapat di dua Desa (Sedahan dan Pampang Harapan). Sampai saat ini wilayah Lubuk Baji belum di ketahui persis luasannya. Akan tetapi indahnya pesona dan keberagaman dari keanekaragaman hayati juga satwa menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang pernah dan akan mengunjungi wilayah ini.

Editor: Galih Nofrio Nanda
SumberTribun Pontianak : http://pontianak.tribunnews.com/2015/01/10/sispala-gersisma-man-1-ketapang-bertemu-orangutan-di-gunung-palung