Video ini merupakan Video Singkat dari Program Sustainable Livelihood (mata pencaharian berkelanjutan) Yayasan Palung
Sutradara : Ranti Naruri (Manager Program SL Yayasan Palung)
Video Editor : Egi Iskandar (WBOCS tahun 2021)
Script Writer : Rahmanisa Rizqi Fariska (Fahutan 2020)
Thanks to :
– Pak Jumakir
– Kelompok Mina Sehati
– Kelompok Rintis Betunas
– Tim SL Yayasan Palung
– Field Director Yayasan Palung
#hutan#masyarakat#pemberdayaanmasyarakat#sustainablelivelihoods#yayasanpalung#kayongutara#ketapang#indonesia
Hutan Desa Nipah Kuning merupakan salah satu kawasan yang masuk kedalam lanskap Hutan Lindung Sungai Paduan yang memiliki luasan ± 2.051 Ha. Kegiatan survei ini di laksanakan oleh Yayasan Palung dan LPHD Hutan Bersama selama lima hari yang terhitung mulai tanggal 23 hingga 27 Juni 2022.
Kegiatan Survei ini bertujuan untuk memperoleh informasi mutakhir mengenai perkiraan populasi orangutan, kualitas habitat orangutan , keberadaan jenis-jenis pohon yang menjadi sumber makanan bagi orangutan, serta jenis-jenis tumbuhan yang mempunyai nilai konservasi tinggi. Disisi lain, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk memperbarui data potensi keanekaragaman jenis satwa liar lainnya, serta menidentifikasi ancaman-ancaman terhadap satwa liar dan habitatnya. Selanjutnya informasi yang diperoleh dari kegiatan survei akan digunakan untuk memberi masukan dalam rencana pengelolaan kawasan hutan.
Video dan Narasi : Robi Kasianus

Belum lama berselang, atau kurang lebih satu pekan, lagi seekor trenggiling kembali ditemukan, kemudian diselamatkan oleh LPHD Banjar Lestari, Padu Banjar dan selanjutnya dilepasliarkan ke Hutan Desa Padu Banjar, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada Rabu (7/7/2022).
Awalnya, trenggiling tersebut dijumpai oleh bapak Abu Bakar di kebun karet miliknya di Dusun A2 , Desa Padu Banjar. Selanjutnya Ia melaporkan kepada Samsidar, selaku ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Banjar Lestari, Padu Banjar.
Trenggiling berjenis kelamin Jantan dan memiliki berat 9 kg dan panjangnya 84 cm tersebut mereka panjat di pohon karet untuk di selamatkan. Setelah direscue (diselamatkan), trenggiling tersebut sempat dibawa ke rumah Ketua LPHD, setelah dua hari berada di rumah ketua LPHD, selanjutnya trenggiling tersebut dilepasliarkan Hutan Desa Padu Banjar. Trenggiling yang dilepasliarkan tersebut mereka berinama Ranggas, karena menurut mereka trenggiling tersebut berada di ranting kayu karet yang meranggas.
Sebelum dilepasliarkan, Ketua LPHD telah berkoordinasi dengan BKSDA SKW 1 Ketapang, dari BKSDA merekomendasikan dan mempesilakan agar trenggiling tersebut boleh langsung dilepasliarkan saja ke dalam kawasan Hutan Desa. Selanjutnya Samsidar bersama kedua rekannya Abu Bakar dan Julkarnaen pun langsung berangkat untuk melepaskan trenggiling tersebut ke dalam Hutan Desa.
Samsidar selaku ketua LPHD Banjar Lestari, Padu Banjar mengatakan, “Dalam bulan ini kami sebagai LPHD Banjar Lestari, Desa Padu Banjar, berhasil melepasliarkan dua ekor satwa yang dilindungi yaitu trenggiling yang mana dua ekor trenggiling tersebut telah memasuki wilayah perkebunan masyarakat desa Padu Banjar. Ini merupakan salah satu bentuk keberhasilan kami sebagai LPHD Banjar Lestari dalam mengemban amanah sebagai penjaga kawasan hutan desa juga satwa liar yang dilindungi.”
kami sebagai LPHD Banjar Lestari akan terus berusaha membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga kawasan hutan dan satwa liar yang dilingdungi, mengingat akan pentingnya kebersamaan kita dalam menjaga kelestarian hutan dan satwa liar yang dilindungi, ujar Samsidar.
Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, Yayasan Palung (YP), Erik Sulidra menyebutkan, Kepedulian mengenai satwa liar seperti ini memang harus selalu ditingkatkan, YP selaku mitra pemerintah akan selalu memberikan dukungan penuh apabila terkait pelestarian SDA. semoga kejadian seperti ini menjadi contoh untuk daerah lain apabila masyarakatnya bertemu dengan satwa liar, misalnya orangutan, masyarakat tidak perlu takut dan heboh, cukup melapor kepada pihak terkait dalam hal ini BKSDA, atau ke YP juga bisa nanti akan kita follow up ke BKSDA, dan nantinya akan dianalisa tindakan apa yg harus dilakukan.
Seperti diketahui, menurut data IUCN (International Union for Conservation of Nature) memasukkan trenggiling dalam daftar sangat terancam punah/kritis di habitatnya (Critically Endangered-CR) dan pemerintah Indonesia menetapkan hewan ini sebagai hewan yang dilindungi oleh Undang-undang nomor 5 tahun 1990 Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Dalam UU tersebut secara jelas melarang siapa untuk memelihara dan memperjualbelikan satwa dilindungi.
Tulisan ini dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/62cb8d2bbb448660e7584292/setelah-diselamatkan-di-kebun-karet-seekor-trenggiling-dilepasliarkan-ke-hutan-desa-padu-banjar
Petrus Kanisius -Yayasan Palung

Universitas Nasional (UNAS) selenggarakan Simposium Tingkat Internasional bertajuk Symposium : Women & Primatology (Simposium : Perempuan dan Primatologi) yang dilaksanakan di Kampus Universitas Nasional (UNAS), pada Kamis (7/7/2022).
Simposium kali ini mengambil tema WHAT ATTRACTS FEMALE INTO SCIENCE AND CONSERVATION OF NON-HUMAN PRIMATES? “Apa yang Membuat Wanita Tertarik dengan Sains dan Konservasi Non Human Primates.”
Seperti diketahui, Indonesia memiliki keanekaragaman primata sebanyak 61 spesies dari 479 spesies primata yang tersebar di dunia dan 38 jenis di antaranya endemik. Kekayaan jenis primata Indonesia juga dipengaruhi oleh keanekaragaman ekosistem dan habitat. Peneliti kera besar, orangutan, dan kera kecil seperti owa telah banyak melakukan penelitian di Indonesia. Hasil penelitian bisa meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan bagi masyarakat. Selain itu, hasil penelitian tersebut dapat digunakan juga sebagai dasar kebijakan konservasi, terutama untuk primata Indonesia, seperti orangutan dan owa.
Penelitinya tidak hanya dari luar negeri tetapi juga dari berasal Indonesia, khususnya dari perguruan tinggi. Peran perempuan sebagai peneliti primata memiliki dilakukan sejak era 1970-an, hingga kini generasi primata perempuan muda peneliti. Para peneliti dari Indonesia ini telah banyak berperan dan menghasilkan karya ilmiah publikasi dan digunakan sebagai dasar kebijakan dan tindakan konservasi di masa depan.
Acara simposium ini dibuka langsung oleh Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M. Apt. (Warek PPMK Universitas Nasional).
Dalam acara ini hadir sebagai Narasumber utama dalam simposium antara lain; seperti Dr. Erin Vogel (dari Rutgers University, US) yang menyampaikan materi tentang : Primates Research Results that are Beneficial to Public Health (Hasil Riset Primata yang Bermanfaat bagi Kesehatan masyarakat). Sebagai moderator, Dr. Sugardjito.
Selain itu juga hadir pula Dr. Cheryl Knott (dari Boston University, US) yang juga merupakan Eksekutif Direktur GPOCP. Cheryl memprensentasikan tentang: Reproduction and Physiology of Orangutans (Reproduksi dan Fisiologi Orangutan).
Selanjutnya juga ada pembicara lainnya seperti Astri Zulfa, M. Si. (dari Universitas Nasional), yang menyampaikan tentang Implication of Secondary Metabolites on Orangutan Feeding (Implikasi Metabolisme Sekunder pada Pemberian Makanan Orangutan). Sebagai moderator adalah : Dr. Nonon Saribanon, M. Si.
Pada sesi kedua, ada empat presentasi disampaikan oleh pembicara Dr Maria van Noordwijk (dari Zurich University, Switzerland), menyampaikan presentasi tentang ; Life History of Orangutan (Sejarah Kehidupan Orangutan). Sebagai moderator: Dr. Fachruddin Mangunjaya, M. Si.
Pembicara selanjutnya adalah Dr. Wuryantari Setiadi, M. Biomed. (dari Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman): Primate Gut Microbiome (Mikrobioma Usus Primata). 2. Putu Mas Itha Pujiantari, M. A. (University of Arkansas and Universitas Nasional) : Primates Evolution (Evolusi Primata). 3. Dr. Fitriah Basalamah (Universitas Nasional): Orangutan Reintroduction Behaviour (Prilaku Reintroduksi Orangutan) 4. Dr. Puji Rianti (IPB University): Phylogenetic of Primates (Filogenetik Primata), dan sebagai Moderator: Dr. Didik Prasetyo.
Selanjutnya disampaikan pula tentang penelitian kelempiau untuk penelitian dan konservasi. Sebagai pembicara; Dr. Sussan Cheyne (dari Oxford Brookes University, UK): Research for the Conservation of Kalimantan Gibbons (Riset Konservasi untuk Owa/Kelempiau Kalimantan). Kemudian dilanjutkan oleh Rahayu Oktaviani, M. Sc. (Yayasan Kiara Indonesia): Research for the Conservation of Javan Gibbons (Riset Konservasi untuk Owa Jawa).
Dalam kegiatan ini juga ada tanya jawab terkait tema simposium. Kemudian, simposium ini dilanjutkan dengan penyampaian ringkasan (rangkuman) yang disampaikan oleh Dr. Sri Suci Utami Atmoko (dari PRP- Universitas Nasional): Vision toward Sustainable Science and Conservation of Non-Human Primates (Visi Terhadap Ilmu Pengetahuan Berkelanjutan dan Konservasi Non-Human Primates). Sebagai Moderator adalah Tri Wahyu Susanto, M. Si.
Peneliti petama Indonesia dari Universitas Nasional telah memainkan peran melalui kolaborasi dengan mitra penelitian dari universitas luar negeri.
Foto-foto :






Foto dokumen : (Wahyu Susanto, Nadya, Shintya)
Oleh karena itu, dalam hal berbagi pengalaman dan meningkatkan kepedulian untuk penelitian dan kelestarian primata bagi generasi muda, Universitas Nasional melalui Fakultas Biologi; Program Magister Sekolah Pascasarjana Biologi; Pusat Penelitian Primata (PRP); Pusat untuk Berkelanjutan Manajemen Energi dan Sumber Daya (ESDM) dan Kantor Kerjasama Internasional (KKI) Universitas Nasional menggelar Simposium Internasional Women And Primatology melibatkan peneliti wanita sebagai pembicara antar negara dan juga peneliti wanita dari Universitas Nasional, IPB dan KIARA Indonesia.
Acara ini dilakukan secara hybrid dan beberapa pembicara melakukan presentasi dari negaranya masing-masing, seperti Dr. Maria van Noordwijk dari Switzerland dan Putu Pujiantari dari USA via Zoom Meeting.
Sebagai penutup kegiatan dilanjutkan dengan Pengumuman Lomba Poster.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/62c7b6f3ef9f6f621f242095/unas-selenggarakan-simposium-internasional-tentang-perempuan-dan-primatologi
Penulis : Petrus Kanisius
(Yayasan Palung)

Yayasan Palung (YP) bersama dengan Universitas Tanjungpura (UNTAN) melakukan kerja sama Perjanjian kerja sama (MoU) di tingkat Universitas, Perjanjian Kerja Sama (PKS) tingkat Fakultas dan Arrangements Implementations tingkat Program Studi di Bidang Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka.
Penandatanganan MoU tersebut dilakukan di Ruang Pertemuan Dekan dan Ruang Bidang Kerjasama UNTAN, pada Jumat 24 Juni dan 27 Juni 2022.
Yayasan Palung merupakan lembaga yang mengemban amanat dari Orang Utan Republik Foundation (OURF) untuk menyalurkan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship/WBOCS) dikhususkan untuk mahasiswa berasal dari Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara yang terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Tanjungpura sesuai kriteria beasiswa WBOCS.
Sejak tahun 2012-2022 sudah 54 orang sebagai penerima beasiswa WBOCS, 18 orang diantaranya kini sudah lulus menjadi Sarjana.
Foto-foto :


Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi merupakan program yang mengelola beasiswa WBOCS, melakukan formula baru pada manajemen beasiswa WBOCS melakukan kerja sama antara Yayasan Palung (YP) dengan Universitas Tanjungpura (UNTAN) melalui Perjanjian kerja sama (MoU) di tingkat Universitas, Perjanjian Kerja Sama (PKS) tingkat Fakultas dan Arrangements Implementations tingkat Program Studi di Bidang Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan harapan kerjasama yang terjalin ini sebagai awal menuju program beasiswa yang menjadi mode penyelamat masa depan putra-putri daerah khususnya yang berasal dari Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara di tingkat pendidikan serta sebagai bentuk dedikasi dalam penyelamatan keberadaan Orangutan di Kalimantan Barat.
Terkait kerja sama ini, Widiya Octa Selfiany, Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan, “Peran pendidikan sangat penting bagi dunia. Melalui pendidikan, satu orang dengan sendirinya bisa mengubah dunia ke arah yang jauh lebih baik. Oleh karena itu, selalu berusaha untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi dan luas agar kita mampu menjadikannya sebagai senjata untuk membawa perubahan yang baik kepada dunia. Melalui program beasiswa WBOCS Yayasan Palung mewujudkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sebagai upaya perubahan bagi masa depan putra-putri daerah khususnya di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara serta sebagai bentuk dedikasi dalam penyelamatan lingkungan terutama bagi satwa-satwa yang dilindungi.”
Tulisan ini dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/62beb2b8bd09461390373273/yp-dan-untan-jalin-kerja-sama-untuk-mewujudkab-mode-baru-beasiswa-peduli-orangutan-kalimantan-barat
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ternyata budaya gotong-royong di masyarakat kita masih ada sampai saat ini. Seperti misalnya, Kelompok Mina Sehati yang baru saja dibentuk di Desa Sejahtera Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, Kabupaten Kayong Utara (KKU) melakukan kegiatan gotong royong bersama seluruh anggota dan Tim Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung (YP) di kediaman Bapak Saparudin selaku ketua kelompok dan pemilik lahan kolam yang akan dibentuk, pada Selasa (7/6/ 2022).
Kegiatan gotong-royong ini dimulai pukul 07.00 WIB-11.30 WIB, kemudian istirahat makan siang dan kembali lagi melakukan kegiatan gotong royong pukul 13.00 WIB – pukul 16.30 WIB hari pertama dan kedua.
Salmah, Asisten Field Officer Program SL Yayasan Palung, mengatakan, adapun kegiatan gotong-royong yang dilakukan pada hari pertama antara lain seperti membelah bambu yang akan digunakan untuk melapisi terpal yang akan dijadikan kolam ikan agar terpal tersebut tidak menggelembung dan lebih kokoh apabila telah diisi air. Gotong royong ini berbagi peran, ada yang membelah bambu, ada yang membersihkan lahan untuk letak lokasi kolam dan ada juga yang akan memasang tiang dari bambu untuk pembuatan kolam tersebut.
Selanjutnya, pada hari kedua, Rabu (8/6/2022), kegiatan gotong-royong dilanjutkan kembali dengan menyelesaikan pekerjaan pertama yang belum selesai. Setelah semua bahan bambu yang dibelah telah siap dan tiang juga sudah terpasang, maka dilanjutkan dengan memasang bambu yang dibelah tersebut pada pinggiran tiang untuk penyangga terpal, pemasangan ini sangat memakan waktu sehingga sampai jam istirahat siang belum juga selesai dipasang, dikarenakan jam istirahat telah sampai maka seluruh anggota istirahat makan siang bersama dahulu kemudian dilanjutkan kembali pada pukul 13.00 WIB, kata Salmah.
Lebih lanjut kata Salmah, Setelah jam istirahat usai, para anggota kelompok bersama tim dari SL Yayasan Palung melanjutkan pemasangan dinding bambu dan setelah dinding bambu selesai dipasang yang rencana awalnya akan dilakukan pemasangan terpal tetapi dibatalkan karena hujan yang sangat deras hingga sore. Sehingga aktivitas pemasangan terpal dan selang pengaturan volume air dilanjutkan kembali pada hari berikutnya. Setelah semua selesai dipasang maka jadilah tiga buah kolam dengan ukuran 2×4 meter untuk satu kolam dan dua kolam ukuran 4×6 meter .Tiga buah kolam ikan tersebut telah diisi dengan ikan nila.



Seperti diketahui, Kelompok Mina Sehati merupakan kelompok dampingan tim Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung. Kelompok Mina Sehati dibentuk pada Maret 2022, Fokus dari kegiatan kelompok ini adalah budidaya ikan di wilayah kawasan Taman Nasional Gunung Palung, tepatnya di Desa Sejahtera Dusun Tanjung Gunung.
Tulisan ini dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/62c26dd0bb448625801de612/yp-dan-kelompok-mina-sehati-buat-kolam-ikan-menggunakan-media-terpal-dengan-cara-gotong-royong
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Padu Banjar yang merupakan binaan dari Yayasan Palung (YP) melakukan Pelepasliaran trenggiling ke habitatnya di Hutan Desa Padu Banjar, Pada Selasa (28/6/2022).
Informasi tentang trenggiling ini berawal dari informasi Kepala Dusun A1 desa Padu Banjar, Suparman (38) yang saat itu tidak sengaja menjumpai seekor trenggiling di halaman masjid tepat dia melaksanakan sholat magrib.
Menurut penuturan Suparman, Trenggiling yang memiliki jenis kelamin betina, memiliki berat 2 kg dan panjang 65 cm tersebut dijumpainya dalam keadaan menggulung dan dalam keadaan lemah karena trenggiling tersebut setelah sebelumnya diserang oleh anjing liar dimana pertama kali ia menjumpainya.
Saat mengetahui bahwa trenggiling tersebut merupakan satwa yang dilindungi, Suparman langsung mengamankan trenggiling tersebut dan dibawa pulang ke rumah. Setelah 2 hari berada di rumahnya, tepatnya hari Senin (27/6/2022) Tim patroli LPHD Padu Banjar yang diketuai langsung oleh Samsidar melakasanakan patroli ke Hutan Desa dan tidak sengaja dijalan berjumpa dengan bapak Suparman kemudian Samsidar menyerahkan trenggiling tersebut kepada LPHD, kata Hendri Gunawan, Koordinator program Hutan Desa Yayasan Palung.
Lebih lanjut Hendri, sapaan akrabnya mengatakan, Diperkirakan, trenggiling tersebut berasal keluar dari Habitanya yang ada di Hutan Desa, Selanjutnya tim patroli membawa pulang hewan langka tersebut dan diamankn kemudin mengkoordinasikan kejadian tersebut kepada Yayasan Palung dan BKSDA SKW 1 Ketapang untuk proses penanganan lebih lanjut.
Samsidar selaku Ketua LPHD Selanjutnya menghubungi Hendri untuk berkoordinasi dengan BKSDA dan menjelaskan kondisinya trenggiling tersebut yang sudah lemah, dan dari BKSDA merekomendasikan dan mempesilakan agar trenggiling tersebut langsung lepasliarkan saja ke dalam kawasan Hutan Desa. Mereka pun langsung berangkat untuk melepaskan ke dalam Hutan Desa.
Trenggiling tersebut lalu mereka namai Madu. Setelah menghubungi pihak Yayasan palung dan BKSDA dan mendapatkan mandat untuk melepasliarkan hewan tersebut ke dalm Kawasan Hutan Desa Padu Banjar. Selanjutnya dengan mandat secara lisan dari BKSDA tim Patroli melepaskan hewan dilindungi tersebut ke dalam kawasan hutan desa padu Banjar tepatnya pada Selasa (28/6/2022), pukul 09.30 WIB.
Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, Yayasan Palung (YP), Erik Sulidra, mengatakan, Hal ini salah satu bentuk keberhasilan program konservasi khususnya dari Yayasan Palung YP) karena selama ini YP fokus kepada pembinaan dan penyadartahuan mengenai habitat dan satwa liar yang dilindungi, terlebih di Wilayah Hutan Desa Padu Banjar yang sudah menjadi dampingan Yayasan Palung.
Ketua LPHD Padu Banjar, Samsidar, mengatakan, Terkait dengan pelepasliarkan salah satu satwa yang di lindungi di dalam kawasan hutan desa Padu Banjar yaitu tenggiling yang diberi nama madu, kami sebagai LPHD “Banjar Lestari” berharap agar madu bisa hidup bebas seperti hewan-hewan lainnya dan dapat berkembang biak lagi hingga populasinya terus meningkat dan berkembang.
Selain itu, kepada seluruh Masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan desa agar bisa sama-sama menjaga dan melindungi semua satwa yang ada di dalam kawasan, kususnya jenis satwa yang dilindungi oleh pemerintah yang sudah termuat di dalam Undang-undang tentang Perlindung satwa, kata Samsidar.
Lebih lanjut Samsidar , mengatakan, dari LPHD juga selalu memberikan sosialisasi kepada masyarat akan pentingnya menjaga satwa yang dilindungi dengan harapan tidak ada lagi ancaman terhadap satwa yang dilindungi tersebut.
Foto-foto :




Dari data IUCN (International Union for Conservation of Nature) memasukkan trenggiling dalam daftar sangat terancam punah/kritis di habitatnya (Critically Endangered-CR) dan pemerintah Indonesia menetapkan hewan ini sebagai hewan yang dilindungi oleh Undang-undang nomor 5 tahun 1990 Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Dalam UU tersebut secara jelas melarang siapa untuk memelihara dan memperjualbelikan satwa dilindungi. Bagi yang melanggar ketentuan akan dipidana penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.
Tulisan ini Sebelumnya dimuat di : https://pontianak.tribunnews.com/2022/07/03/lphd-binaan-yp-lepasliaran-trenggiling-ke-habitatnya-di-hutan-desa-padu-banjar
Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk masyarakat untuk peduli Api. Seperti misalnya yang dilakukan oleh Program Sustainable Livelihood (mata pencaharian berkelanjutan) dan didukung oleh Program Hutan Desa Yayasan Palung (YP) Salah satunya dengan mengadakan pelatihan pemadam kebakaran hutan dan lahan bagi masyarakat dampingan Yayasan Palung.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor YP Bentangor Education Center, di Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, pada Rabu (22/6/2022).
Kegiatan tersebut ditujukan bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera. Sebagai peserta dalam kegiatan tersebut selain dari Masyarakat Peduli Api, juga diikuti oleh Kelompok Budidaya Ikan, perwakilan dari 5 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) binaan Yayasan Palung seperti dari LPHD Desa Padu Banjar, LPHD Desa Pulau Kumbang, LPHD Penjalaan, LPHD Nipah Kuning, LPHD Desa Pemangkat. Selain itu, ikut serta juga dari Kelompok Tani Meteor Garden.
Dalam serangkaian kegiatan pelatihan tersebut, beberapa materi pelatihan yang disampaikan kepada para peserta antara lain seperti teori tentang Materi Dasar Karhutla dan Taktik Stategi Pemadam Kebakaran. Selain itu, peserta pelatihan juga diajak untuk melakukan Praktek dan Simulasi menggunakan alat pemadam kebakaran.
Sebagai pemateri yang dipercaya dalam kegiatan itu adalah Manggala Agni Daops Kalimantan X / Ketapang.
Desi Kuniawati, selaku Manager HRD & Comdev Yayasan Palung, mengatakan, “Pelatihan ini sebagai salah satu upaya meningkatkan atau membantu masyarakat dalam pencegahan Karhutla karena selama ini diberikan pelatihan tetapi belum didukung dengan peralatan pemadam kebakaran.“


Selain itu, Desi sapaan akrabnya lebih lanjut mengatakan, diharapkan pula dengan adanya alat dan pelatihan ini masyarakat bisa lebih aktif untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lingkungan mereka, karena alat yang dibantu oleh Yayasan Palung ini ringan, hanya 11 kilogram jadi sangat mudah untuk dibawa kemana-mana untuk pecegahan dan pemadaman dini.
Selanjutnya juga Desi berharap, dan terbuka kepada pihak lain di luar YP juga bisa untuk berkontribusi untuk perawatan dan biaya operasional atau pun juga penambahan alat karena ini tujuannya untuk peduli kepada pencegahan karhutla.
Kita juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Manggala Angni Daops Kalimantan X / Ketapang yang telah memberikan pelatihan berupa teori dan praktek tentang Pelatihan Pemadam Kebakaran untuk kepada masyarakat binaan Yayasan Palung, kata Desi.
Ucapan terima kasih juga untuk Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai Tanagupa) yang telah mendukung kegiatan ini.
Serangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di kumparan.com : https://kumparan.com/petrus-kanisius/pelatihan-pemadam-kebakaran-untuk-desa-dan-kelompok-dampingan-yayasan-palung-1yLvoptkl7j
Petrus Kanisius
(Yayasan Palung)

Untuk Antisipasi kebakaran hutan dan Lahan, Yayasan Palung (YP) menyerahkan alat pemadam kebakaran di Lima Desa di Kabupaten Kayong Utara (KKU), Rabu (15/6/2022).
Desi Kuniawati, selaku Manager HRD & Comdev Yayasan Palung, mengatakan, adapun desa-desa yang menerima bantuan alat kebakaran tersebut adalah Desa Penjalaan, Desa Pulau Kumbang, Desa Pemangkat, Desa Padu Banjar. Keempat desa ini merupakan wilayah hutan desa binaan dari Program Hutan Desa Yayasan Palung di Simpang Hilir.
Satu Desa lainnya penyerahan alat akan menyusul dilakukan, yaitu di Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, yang merupakan binaan Yayasan Palung dari Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan), ujarnya.
Lebih lanjut Desi, saapaan akrabnya mengatakan, alat pemadam kebakaran ini merupakan alat pemadam dini, mudah dibawa kemana-mana karena ringan hanya 11 kg, sehingga sangat memudahkan ketika melakukan pemadaman, asal ada sumber air.
Penyerahan alat pemadam kebakaran ini diserahkan langsung oleh Edi Rahman, Direktur Lapangan Yayasan Palung dan didampingi oleh ibu Dwi Erlina Susanti, Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Kayong.
Berharap bantuan alat pemadam kebakaran ini bisa membantu masyarakat untuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah mereka masing-masing.
Tulisan ini dimuat di : https://kumparan.com/petrus-kanisius/yayasan-palung-serahkan-alat-pemadam-kebakaran-di-lima-desa-di-kku-1yJw6UwgYps/full
Pit
(Yayasan Palung)
Akhirnya orangutan Kumbang kembali ke rumah (habitatnya) di wilayah hutan lindung Sungai Paduan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Sabtu (11/6/2022).
Pelepasliaran orangutan tersebut dilaksanakan berkat adanya kerjasama yang baik oleh beberapa pihak, yaitu BKSDA SKW 1 Ketapang, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kayong, Yayasan Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung (YP), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nipah Kuning dan LPHD Padu Banjar.
Untuk menuju ke lokasi pelepasliaran bukan pekara mudah. Tim berangkat dari desa Padu Banjar, kemudian melakukan perjalanan susur sungai menuju titik pelepasan di hutan desa Nipah Kuning. Selain air sungai yang agak surut, perahu yang cukup besar karena harus memuat kerangkeng untuk mengangkut orangutan, juga menjadi kendala ketika tim menuju lokasi. Memerlukan waktu kurang lebih tiga setengah jam untuk bisa sampai di titik pelepasliaran dengan perahu mesin.
Adapun kronologi tentang orangutan Kumbang ini berawal pada tanggal 17 Februari 2022 lalu, tim Rescue YIARI bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah 1 Resort Sukadana berhasil menyelamatkan satu individu orangutan jantan remaja di desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara yang kemudian diberi nama “Kumbang” sesuai dengan lokasi ditemukannya orangutan. Sebelumnya, anggota LPHD Pulau Kumbang (binaan Yayasan Palung) yang melakukan monitoring di lapangan menemukan orangutan masuk ke perkebunan masyarakat. Kemudian mereka melaporkan kejadian tersebut kepada Yayasan Palung. YP kemudian langsung melapor kepada BKSDA SKW 1 Ketapang mengenai kejadian ini, dan melaporkan juga bahwa berdasarkan pantauan di lapangan satwa tersebut lengan kirinya terkena jerat pemburu. Kemudian setelah di rescue orangutan tersebut dirawat di PPKO YIARI. Setelah kondisi orangutan benar-benar pulih, kemudian dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk proses pengembalian satwa tersebut ke habitatnya.
Hutan desa Nipah Kuning yang termasuk dalam wilayah hutan lindung Sungai Paduan, menjadi lokasi yang dianggap cocok sebagai lokasi relokasi si Kumbang. Hal ini berdasarkan dari hasil survei habitat yang telah dilakukan oleh YP pada tahun 2021. Sebelum dikembalikan ke daerah tersebut, tim pelepasliaran juga sudah melakukan sosialisasi kepada masyarat mengenai rencana ini.
Di Wilayah Hutan lindung Sungai Paduan yang juga merupakan Hutan Desa Nipah Kuning ini terdapat banyak pakan/makanan orangutan. Erik Sulidra, Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa, Yayasan Palung (YP), mengatakan, hutan desa Nipah Kuning memiliki komposisi pohon makanan orangutan sekitar 70%.
Lihat juga :
Lebih lanjut untuk kondisi wilayah hutan desa Nipah Kuning yang memiliki luas 2.051 Ha yang menjadi rumah baru Kumbang, Erik mengatakan secara umum bila dilihat dari empat hutan desa yang ada di kawasan Hutan Lindung Sungai Paduan, hutan desa Nipah Kuning ini adalah kawasan hutan yang paling baik. Selain ketersediaan pohon makanan yangn cukup banyak, tutupan hutan di sana juga lebih baik. Karena kita tahu bahwa orangutan lebih banyak beraktivitas di atas pohon, sehingga tutupan hutan yang lebat akan sangat membantu ketika orangutan melakukan perpindahan.
Video dokumen : Erik Sulidra, Robi Kasianus
Video Editor : Erik Sulidra
Penulis : Petrus Kanisius
(Yayasan Palung)