Apa Dosa Satwa Sehingga Kini Kian Terancam?

kelempiau-yang-dipilihara-oleh-masyarakat-di-pasar-sandai-kec-sandai-ketapang-kalbar-foto-tahun-2015-dok-yayasan-palung-56b453bb60afbd3a0839bb38

Kelempiau yang dipilihara oleh masyarakat di Pasar Sandai, Kec. Sandai, Ketapang, Kalbar. Foto tahun 2015, dok. Yayasan Palung.

Ancaman dan kejahahatan terhadap satwa terus saja terjadi. Entah apa yang menjadi sesungguhnya tentang hal ini?. Apa dosa mereka (satwa) ?.

Bisa dikata, dari dulu hingga kini ancaman terhadap satwa terus saja terjadi dan tidak henti-hentinya (semakin marak). Ancaman satwa tersebut terus terjadi di negeri ini, terlebih di wilayah Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Papua. Apa penyebab utama dari persoalan tersebut?. Bila dilihat secara kasat mata begitu nyata terlihat, namun yang terselubung pun begitu juga terjadi (tidak kalah hebatnya) berlomba-lomba mengurangi jumlah luasan ataupun isi bumi pertiwi.

Nasib satwa yang hidup dan tumbuh berkembang di habitus/habitat hidupnya pun kian dalam ancaman nyata. Benar saja, hutan sebagai tempat hidup jumlahnya semakin terbatas jumlahnya (berkurang/menjelang terkikis habis).Tangan-tangan tidak terlihat begitu masif menjamah hutan dan tanah air serta bumi pertiwi entah kapan berhenti mengusik.

Tercatat, dari tahun kasus perburuan, perdagangan dan pemiliharaan satwa masih saja terjadi. Paruh enggang, sisik trenggiling, pemiliharaan primata seperti orangutan, kelempiau masih berlangsung. Perburuan terhadap rusa, perburuan kelasi untuk diambil geliganya menjadi informasi dan kasus baru di Kalimantan Barat. Demikian juga halnya dengan bekantan yang jumlahnya semakin berkurang. Menurut informasi yang di peroleh oleh Yayasan Palung dari masyarakat ada terjadi di beberapa tempat seperti di Wilayah Riam Bunut, Kecamatan Sungai Laur pada tahun 2014-2015 lalu ada para pembeli yang sengaja mencari geliga kelasi, geliga dan enggang dan sisik trenggiling. Para pembeli tersebut berasal dari Luar (luar negeri/Malaysia).  Nasib tragis juga terjadi pada beruang madu dan beruang rambai, sering kali diburu untuk diambil empedu dan dikonsumsi.

Hal lain yang tidak kalah menyedihkan adalah proses penegakan hukum yang bisa dikata masih lemah. Terutama menyangkut pengawasan dan penegakan hukum. Mengapa demikian?. Berbicara tentang pengawasan, acap kali para pemburu sekaligus pembeli/pengoleksi bagian-bagian tubuh satwa tidak pernah berhenti menyeludupkan barang-barang tersebut ke luar negeri. Kulit harimau, gading gajah di Sumatera, paruh enggang di Kalimantan Barat, Burung-burung endemik dari Papua seperti  burung surga (Cendrawasih), perburuan terhadap kangguru juga ada terjadi. Demikian juga dengan beragam jenis burung langka yang masih marak diperjualbelikan di pasar gelap melalui dunia maya. Pemiliharaan terhadap burung hantu dan ayam hutan. Kukang Jawa, kukang Sumatera dan Kalimantan pun begitu sering diperdagangkan di pasar bebas gelap. Yang kerap kali disebut, Tiongkok menjadi penadah dari pasar gelap perdagangan satwa.

Nasib Pongo (Orangutan) juga begitu banyak yang tragis nasibnya. Lahan gambut yang terus berkurang akibat kebakaran tahun lalu sangat berpengaruh membuat orangutan menghampiri pemukiman dan perkebunan warga. Sumber pakan dan makanan sudah semakin sulit mereka (orangutan dan satwa lainnya)  dapatkan. Derita banyak satwa terus berulang dan tak berujung, mengingat dari dulu banyak satwa terlebih orangutan sebagai spesies payung kian terhimpit di habitat hidupnya hingga kini. Data ProFauna, tahun 2015 menyebutkan; setidaknya ada terdapat 50 kasus perburuan, termasuk yang diunggah di media sosial. Sekitar 95 persen primata yang dijual di pasar bebas merupakan hasil perburuan. Kebanyakan, orang berburu itu untuk dijual kembali.

Efek jera terhadap para pelanggar dan pelaku kejahatan terhadap satwa dan kehutanan masih dianggap tidak maksimal. Hukuman ringan terhadap pelanggar tidak membuat jera para pelaku kejahatan. Tata aturan terhadap UU no. 5 tahun 1990, tentang Sumber Daya hayati dan Ekosistem sering kali terabaikan dalam pelaksanaannya.

Kampanye, penyadartahuan dan beberapa edukasi tentang perlindungan terhadap satwa terus dilakukan dari hari ke hari oleh banyak lembaga, institusi dan yayasan, namun pelanggaran terhadap satwa terus terjadi. Ancaman terhadap satwa seolah semakin sulit untuk dihentikan. Kesadaran dari pelaku untuk melindungi masih terbilang minim, alasan yang selalu di utarakan karena  tuntutan perut.

Persoalan tentang ancaman terhadap satwa sejatinya bisa dibendung jika adanya kesadaran, kerjasama yang baik dari seluruh pemegang kebijakan, pengusaha, penegak hukum dan para pemerhati lingkungan. Tata kelola, penegakan hukum dan regulasi yang jelas dan tidak memihak salah satu kepentingan menjadi pilihan yang harus dilakukan.  Menjadi hal yang harus diproritaskan. Apabila tidak, satwa semakin terancam dan akan punah. Mengingat, saat ini dari 44 jenis spesies satwa yang ada, setidaknya 21 diantaranya endemik dan terancam punah (baca; status 25 primata terancam punah 2014-2016 dalam Primates in Peril: The world’s 25 most endangered primates). Sejatinya, satwa dilindungi tidak memiliki dosa namun mereka menanggung derita, termasuk manusia yang bertanggungjawab karena sama-sama mendiami bumi ini. Coba kita selidiki, apa dosa satwa-satwa yang terancam?.

Mungkin jika satwa memiliki akal dan pikiran yang sama dengan manusia bisa saja satwa berdemontrasi kepada manusia. Dampak dan ancaman dengan semakin sedikitnya satwa, jenis burung, tumbuhan dan hutan dapat kita rasakan. Cuaca tidak menentu, banjir siap menghadang jika penghujan datang, demikian pula bila kemarau tiba, ancaman kekeringan dan kurangnya air bersih menjadi persoalan utama saat ini. Rantai makanan mulai ada yang terputus, ada beberap jenis satwa yang kesulitan makanan/pakannya. Kini, tinggal bertanya sebaliknya. Siapa sesungguhnya berdosa dengan semakin terancamnya satwa dan hutan saat ini?.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Baca Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/apa-dosa-satwa-sehingga-kini-kian-terancam_56b455c2c4afbd22094193fa

Siapkan Diri Kamu Untuk Peruntungan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan (BOCS)Tahun 2016

BOCS 2016_1

Keterangan Foto:Profil Penerima BOCS

Kabar  gembira bagi kamu yang sekarang sedang duduk di kelas XII, Siswa-siswi ditingkat akhir SMA/ MA/ SMK di dua wilayah di dua kabupaten.

Yayasan Palung kembali membuka kesempatan beasiswa S1 untuk kamu melalui program Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan  (BOCS). Pada tahun 2016 ini, kami menyediakan 6 beasiswa bagi kamu yang mengikuti seleksi program ini. Kamu yang lulus dalam seleksi program ini, akan menjadi bagian dari 13 penerima beasiswa yang sekarang sedang studi di Universitas Tanjungpura.

Bagi kamu yang sangat memerlukan beasiswa untuk dapat kuliah, jangan lewatkan kesempatan ini!! Daftarkan diri kamu!!!. Formulir pendaftaran dan informasi lengkap dapat kamu peroleh di sekolahmu. Silahkan share ke teman-temanmu yang membutuhkan. O ya, beasiswa ini hanya untuk kamu yang berada di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara ya….

Silakan Klik untuk melihat Persyaratan Pendaftaran + Profil(1)_2016BOCS Brosur_brochure 2016

Semoga bermanfaat dan Salam lestari, terima kasih.

Sampai Kapan Aku (Hutan) Terus Disakiti?

sisa-sisa-pembersihan-lahan-land-clearing-dan-selanjutnya-di-atau-ter-bakar-foto-dok-yayasan-palung-568dfcedb17e61410783dd77

Sisa-sisa pembersihan lahan (land clearing) dan selanjutnya di atau ter bakar . Foto dok. Yayasan Palung

Dari dulu hingga kini (mungkin mendekati ratusan tahun) aku terus disakiti. Beragam bentuk dan cara digunakan oleh banyak orang untuk menyakitiku. Jika di rimba raya aku bebas tampa tersakiti. Namun semakin hari pula aku terus berjuang dengan rasa sakitku, jumlahku di rimba raya pun semakin berkurang jumlahnya. Bisa jadi, rimba raya yang tersisa kini tak banyak lagi diambang kritis terkikis habis demikian juga denganku dan beberapa sahabatku seisi rimba raya. Kini rambut-rambutku semakin botak. Mahkotaku bernama tubuhku dilucuti dan dikuliti. Baris berbarisku berdiri tidak kokoh lagi menahan panas ketika sesamaku terdahulu disuruh/dipaksa rebah. Tidak bisa disangkal pula selain dilucuti dan dikuliti, aku dipotong-potong. Setelah  dipotong-potong terkadang aku tidak luput untuk dijual bahkan rumahku kerap kali dibakar.

Sakit dan tersakiti ku sampaikan, aku telah sering kali mengadu kepada sesamaku manusia untuk terus melindungi dan menjagaku tetapi sering kali aduanku tentang rasa tersakitnya bertepuk sebelah tangan. Banyak diantara sesamaku manusia hanya memanfaatkanku saja, setelah itu aku disakiti. Tidak jarang pula potongan-potongan tubuhku dibuang diladang gersang atau semak belukar dan dibakar. Sejujurnya rambutku, tubuhku dan kakiku sebagai nafas bagi semua. Tidak terkecuali semua sesamaku makhluk hidup lainnya. Aku hanya termenung sejenak, bagaimana sesamaku tampa aku, atau mungkin sesamaku manusia sudah bisa hidup tampaku. Tetapi bagaimana dengan yang lainnya. Ku melihat, sesamaku manusia ada yang bahagia ketika aku tersakiti. Walau ada juga yang sedih dan menangis karena melihat nasibku. Tidak banyak yang kuminta, bisa kah kita semua untuk sama-sama menjaga. Bagaimana jika rumahmu disakiti, wahai manusia?. Aku bertanya dan terus bertanya sampai kapan aku terus disakiti?. Ku berharap pula, semoga aku bisa dirawat. Karena, kini aku sudah semakin tua dan renta. Bila aku tidak bisa berdiri kokoh lagi, aku tidak tahu apa yang terjadi nanti.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/sampai-kapan-aku-hutan-terus-disakiti_568e39d2c823bd5407e18dbf

Banyak yang Mencintai Hutan Tetapi Untuk Merusak, Bukan Merawat

 

orangutan-bersin-krn-asap-foto-dok-dari-berbagai-sumber-568dfc4dce7e6107070d5c31

 Orangutan bersin karena asap dan habitat hidup mereka berupa hutan hilang. foto dok. dari berbagai sumber

Hutan adat, hutan masyarakat, hutan negara, hutan desa yang di sebut dan diperuntukan sebagai perhutanan sosial, selain itu ada hutan konservasi, hutan wisata, hutan produksi dan hutan negara. Setidaknya itulah beberapa penyebutan tentang hutan. Sejujurnya hutan sebagai nafas keberlanjutan untuk terus dirawat hingga nanti. Keberadaan hutan tersebut sebagai salah satu tanda bahwa hutan memiliki peran dan fungsi yang sangat penting bagi kehidupan bagi semua makhluk hidup termasuk manusia. Namun celakanya, keberadaan hutan tersebut banyak yang mencintai tetapi untuk merusaknya bukan untuk merawat, menanam serta menjaganya

Tanda nyata mengapa hutan banyak yang mencintai tetapi untuk merusaknya. Beberapa fakta terpapar menyebutkan, rusaknya semua hutan tersebut akibat aktifitas manusia itu sendiri dan tangan-tangan tidak terlihat (mesin) oleh para oknum pengusaha dan penguasa.

Pertama, Kebijakan; Ijin tentang pembukaan lahan terus saja terbit, pembukaan lahan pun demikian adanya semakin luas. Hutan-hutan yang ada, apapun namanya seperti disebutkan diatas hari demi hari semakin berkurang diambang terkikis habis. Tidak terelakkan nasib tragis menimpa ribuan bahkan mungkin jutaan jenis satwa dan tumbuhan-tumbuhan. Penyempitan habitat hidup mereka (berkurangnya/menyempitnya/terusirnya) mereka di rumah mereka sendiri.

Kedua, Investasi; pembukaan lahan untuk ekonomi, bisnis yang acap kali tidak mengabaikan aspek-aspek kelestrian lingkungan. Tengok saja, hanya segelintiran (tidak banyak) saja proses investasi dari perusahaan pertambangan dan perkebunan yang mematuhi tata aturan dan undang-undangan sebagai kesepakat bersama. Mengingat, tata aturan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak sering kali dilanggar. Tengok saja, pembakaran lahan hingga kasus asap yang merasakan dampak langsung masyarakat dimana investasi itu beroperasi. Tidak hanya itu, kerugian dampak sosial, kesehatan menjadi terabaikan. Bahkan hukum di negeri ini cenderung dipermainkan oleh para oknum-oknum pemilik kepentingan untuk memperkaya diri. Yang miskin semakin dipermiskin dan yang kaya semakin kaya serta merajalela. Masyarakat akar rumput semakin terjepit dan menjerit. Hutan yang ada ada dicintai tetapi memanfaatkan dan merusaknya saja tampa merawatnya, bahkan hutan diambang terkikis habis.

Ketiga, pembangunan; sektor pembangunan juga ikut memberi andil dalam mencintai hutan tetapi untuk merusaknya. Pembangunan pemukiman secara besar-besaran sering kali mengorbankan hutan. Perluasan areal lahan hutan dan digantikan dengan pemukiman penduduk dan transmigrasi sedikit banyak berdampak langsung ketersediaan hutan semakin berkurang. Dengan banyaknya luasan yang terampas tentu akan mengundang adanya banjir dan tanah longsor, sedangkan bila musim kemarau panjang tiba kering kerontang dan panas membakar tubuh siap menghadang. Dan masih banyak lagi yang lainnya.   Mencintai hutan namun hanya untuk merusaknya saja, itu gambaran jelas dengan apa yang terjadi di negeri kita Indonesia. Contoh yang sangat jelas, hutan yang ada dicintai/mencintai tetapi tingkah polah dengan kebijakan, investasi serta pembangunan sering kali tidak adil bagi mayoritas nafas hidup makhluk hidup. Banyak yang mencintai tetapi untuk merusaknya (merusak hutan) yang tujuannya untuk keuntungan semata ketimbang memiliharanya secara berkelanjutan. Setelah terantuk baru menengadah mungkin itu kata yang tepat tentang dampak dari  semakin berkurangnya jumlah tutupan hutan. Akan tetapi, sebelum terlambat, kita mencintai hutan tetapi sejatinya juga merawat dan menjaganya. Sebagai pengingat saja, jika pohon terakhir telah habis ditebang, barulah kita sadar bahwa uang tidak berguna.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/banyak-yang-mencintai-hutan-tetapi-untuk-merusak-bukan-merawat_568e084ed17a61fd0e935e26

Musim Buah Berkah bagi Masyarakat Sekaligus Merawat Kearifan Lokal dan Lingkungan

langsat-foto-dok-pribadi Pit.jpg

Langsat dari kebun masyarakat. Foto dok. Pribadi

Ketika musim buah tiba, dimulai sejak pertengahan, akhir bulan oktober tahun 2015 lalu dan diperkirakan puncak musim buah berakhir di bulan Februari. Lalu ada apa dengan musim buah sekaligus merawat kearifan lokal masyarakat? Di Kampung-kampung, hampir merata di beberapa wilayah yang ada di Kalimantan Barat ketika musim buah tiba. Seperti misalnya di Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kayong Utara, dan beberapa daerah lainnya dihadapkan dengan musim buah. Musim buah identik dengan berkah atau rejeki nomplok bagi para pemilik tanaman buah-buahan. Benar saja, berbuahnya buah durian, pekawai, duku, langsat, mentawak, rambutan dan kandaria (satar) menjadi berkah karena sumber pendapatan tambahan masyarakat di tengah-tengah harga karet yang semakin anjlok dan meroketnya mayoritas harga kebutuhan sehari-hari. Beberapa buah-buahan tersebut di atas sedikit banyak harapan untuk menambah pemasukan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya musim buah, tidak jarang di kampung-kampung dibanjiri buah-buahan yang terkadang jarang ditemui seperti buah teratong (sejenis buah durian berwarna merah, tetapi ada juga yang berwarna sama seperti durian). Jika musim buah tiba, terutama durian kerap kali sangat diminati untuk dijadikan tempoyak dan lempok. Tempoyak tidak lain merupakan hasil fermentasi dari durian yang dapat dijadikan sebagai penambah lauk, misalnya kebiasaan orang di Kampung, lebih khusus di Ketapang, Kalbar, sudah akrab dengan masakan ikan asam pedas tempoyak. Ikan asam pedas tempoyak pun menjadi salah satu masakan yang sejak dari dulu sudah ada. Jika disantap, masakan tersebut menggugah selera dan rasanya enak sekali. Tetapi bagi yang terbiasa, dan bagi yang belum terbiasa harus mencoba. Jika musim buah durian banjir (persediaan buah melimpah ruah) biasanya harga durian hanya dihargai 1.000 rupiah perbuah. Sedangkan jika persediaan tidak terlalu banyak, harganya kisaran 5.000-15.000 rupiah perbuah. Akan tetapi, apabila kita langsung menyandau (menunggu durian jatuh) biasanya gratis-tis-tis. Beberapa di antara masyarakat seperti di Kecamatan Simpang Dua, ada kelompok masyarakat yang mengolah buah durian untuk dijadikan lempok. Lempok-lempok yang mereka olah beberapa di antaranya dijual ke kota dan bahkan ada yang dijual ke Malaysia. Untuk buah-buahan lainya seperti  buah rambutan dijual dengan harga 4.500 rupiah per kilogramnya jika musim buah raya dan jika tidak musim buah raya harga kisaran 8.000-10.000 rupiah/kg. Sedangkan harga langsat saat ini kisaran harga 5.000 rupiah/kg. Sebelum buah raya tiba, bahkan harga langsat kisaran harga 15.000-20.000 rupiah/kg. Buah mentawak, per buahnya dihargai 5.000 rupiah. Sedangkan buah-buah lainnya seperti manggis dihargai 20.000 rupiah/kg, atau ada juga yang menjual buah manggis perbuahnya 500 rupiah-1.000 rupiah.

buah-langsat-dan-buah-satar-Dok. Pribadi Pit.jpg

buah langsat dan buah satar . Foto Dok. Pribadi Pit

Di Wilayah Kabupaten Kayong Utara, jika musim buah tiba adalah di Desa Sedahan Jaya. Bahkan di bulan Desember tahun 2015 lalu, di desa tersebut menyelenggarakan festival durian.

Mengingat di wilayah tersebut sebagai salah satu tempat yang masyarakatnya banyak menanam atau berkebun durian. Menariknya, sedikit banyak dari adanya buah hutan erat kaitannya dengan kearifan lokal masyarakat. Kearifan lokal yang dimaksud adalah hampir sebagian besar masyarakat di kampung memiliki kampung tembawang dan buah janah. Kampung tembawang tidak lain adalah kawasan kampung/pemukiman, sedangkan buah janah merupakan kebun buah. Seperti diketahui, kebiasaan masyarakat lokal seperti misalnya masyarakat dayak setelah mereka bercocok tanam (berladang) sudah pasti menyiapkan kampong tembawang dan buah janah dengan cara mereka (masyarakat lokal) menanam kembali dengan tanaman kebun buah dan juga kebun karet. Beberapa di antara juga menanam tanaman ramu tarang (tanaman untuk bahan rumah) seperti sungkai, merbau, ulin, bengkirai dan kayu lainnya yang nantinya jika telah besar digunakan untuk bahan bangunan (rumah) masyarakat.

Sedangkan jika dilihat dari fungsi merawat lingkungan, beberapa tanaman buah tidak semudahnya untuk menebang pohon buah tersebut. Pada tahapan kearifan lokal masyarakat, ada yang disebut fungsi menjaga di tanah adat, tanah desa ataupun tanah sesamanya secara sembarangan. Hukum adat (norma adat) berlaku jika merusak tanaman buah. Masyarakat tidak boleh sembarangan merusak kampung tembawang buah janah, mengingat kampung tembawang buah janah memiliki manfaat sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Misalnya dengan menjaga kampung tembawang, masyarakat sedikit banyak terbantu salah satunya ketersediaan buah yang memiliki nilai ekonomi dan sebagai pelestari budaya tradisi dan lingkungan. Pada masyarakat tertentu, kampung tembawang juga memiliki hubungan erat dengan cara pelestarian terhadap tanaman buah tertentu. Seperti misalnya, masyarakat di Desa Laman Satong, khususnya Dusun Manjau, Ketapang, Kalbar menganggap tanaman durian sebagai tanaman yang tidak boleh ditebang. Jika ditebang, masyarakat menganggap menebang pohon durian sama saja dengan membunuh tetua mereka (petinggi adat) di kampung tersebut. Pohon durian si pemilik boleh ditebang jika si pemilik tanaman (yang menanam meninggal dunia). Kampung tembawang secara kasat mata tidak bisa disangkal sebagai warisan nenek moyang (kearifan lokal) yang masih ada hingga kini. Dengan adanya buah-buahan dari tanaman buah menjadikan masyarakat lokal berbangga terhadap apa yang mereka lakukan yaitu menanam kebun buah mudah-mudahan hingga nanti buah-buahan bisa tetap ada dan terjaga serta lestari.

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/musim-buah-berkah-bagi-masyarakat-sekaligus-merawat-kearifan-lokal-dan-lingkungan_568b4502d57a61d00ed00387

Ucapan Selamat Tahun Baru 2016

Ucapan Selamat Tahun Baru 2015

Kami dari Keluarga besar Yayasan Palung mengucapkan Selamat Tahun Baru 2016 Kepada seluruh Masyarakat di Wilayah Kerja Yayasan Palung di dua Kabupaten (Ketapang dan Kayong Utara), Kepada lembaga mitra,  Relawan dan masyarakat luas.

Semoga di Tahun 2016 ini, kita semua semakin baik dari tahun-tahun sebelumnya dan sukses selalu menyertai setiap langkah, cita-cita, karya dan tujuan serta harapan. Amin…

Berjumpa Keindahan Tumbuhan, Satwa dan  Buah Hutan Saat Fiedltrip di Lubuk Baji

Belajar Taksonomi tumbuhan_2

Belajar Taksonomi tumbuhan secara langsung di hutan. Foto dok. YP

Saat pengamatan satwa

Pengamatan satwa saat fieldtrip bersama Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes di Lubuk Baji. Foto dok. YP

Suguhan menarik tidak bisa kami sembunyikan saat kami berjumpa sekaligus belajar tentang tumbuh-tumbuan, mendengarkan suara kelempiau saat menari-nari di pepohonan saat kami melakukan pengamatan satwa pada malam dan subuh hari dan beberapa kegiatan lainnya ketika melakukan Fieldtrip di Lubuk Baji, bersama Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes pada kamis (10/12/2015) hingga sabtu (12/12/2015), pekan lalu.

peserta fieldtrip

Peserta Fieldtrip dari Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes. Foto dok. YP

Dalam melakukan kegiatan fieldtrip tersebut, selain kami disuguhi dengan hal-hal menarik seperti tumbuhan dan berjumpa dengan satwa juga kami belajar mengamati keduanya (tumbuhan dan satwa) secara langsung.

Pengamatan satwa kami lakukan ketika pagi hari sekitar pukul 05.30 Wib. Perilaku satwa ketika bergelantungan dari pohon satu ke pohon lainnya sempat kami saksikan. Bahkan yang menariknya kami melihat kelempiau (Hylobates muelleri) sedang menari-nari sembari bersuara. Kami melihat kelempiau tersebut sekitar setengah jam dari waktu kami mulai melakan pengamatan atau sekitar pukul 06.00 Wib. Sesekali kepak sayap burung enggang terdengar sekaligus terlihat hinggap di dahan pohon dan terlihat sedang memakan buah kayu ara (Ficus crassiramea).

Tidak hanya itu, belajar bersama tentang taksonomi tumbuhan dan pengamatan air  (untuk mengetahui indikator air apakah bersih atau tidak). Dalam pengamatan tumbuhan tersebut, Sispala Repatones diajak untuk belajar bersama untuk melakukan praktek identifikasi ciri-ciri fisik daun, jenis dan bentuk daun. Sebelum melakukan identifikasi tumbuhan, peserta dari Sispala Repatones yang berjumlah 21 orang tersebut diberikan materi tentang taksonomi tumbuhan oleh Edward Tang dari Yayasan Palung.

Yang sangat menariknya, kami juga banyak menjumpai buah-buahan hutan yang sedang berbuah. Beberapa buah hutan tersebut terlihat ada yang tidak utuh karena telah dimakan oleh satwa-satwa terlebih khusus pakan/makanan orangutan yang mendiami tempat tersebut. Beberapa buah-buahan hutan tersebut diantaranya seperti Dillenia borneensis (Simpur Laki), Connarus sp (Belungai), Baccaurea dulcis (rambai hutan), Artocarpus elasticus (terap), Aporosa nitida (Belian air) dan Dysoxylum cyrtobotryum (Lantupak), merupakan makanan kesukaan burung enggang.

Baccaurea dulcis (rambai hutan)

Baccaurea dulcis (rambai hutan) yang merupakan makan kesukaan orangutan. Foto dok. YP 

Dysoxylum cyrtobotryum (Lantupak)

Dysoxylum cyrtobotryum (Lantupak). Foto dok. YP

Dillenia borneensis (Simpur Laki)

Dillenia borneensis (Simpur Laki). Foto dok. YP

Connarus sp (Belungai)

Connarus sp (Belungai). Foto dok. YP

Artocarpus elasticus (terap)

Artocarpus elasticus (terap). Foto dok. YP

Aporosa nitida (Belian air)

Aporosa nitida (Belian air). Foto dok. YP

 

Sebagian besar buah-buahan hutan tersebut merupakan pakan utama bagi sebagian besar primata dan beberapa burung di wilayah hutan lubuk baji (zona penyangga dari Taman Nasional Gunung Palung).

Saat kami melakukan pengamatan pada malam hari, kami banyak berjumpa dengan jenis serangga, kumbang hutan, semut dan kodok unik yang ukurannya terbilang kecil (kurang lebih sebesar kelingking orang dewasa). Kami juga berjumpa dengan jamur bercahaya di malam hari, jamur tersebut memperlihatkan cahayanya ketika lampu senter dimatikan.

IMG_8232

 

Pengamatan indikator air. Foto dok. YP

Esok harinya, sebelum matahari bersinar, kami bergegas bersama untuk melihat sinarnya memancar di Batu Bulan, Lubuk Baji dan melihat indahnya persawahan masyarakat di Desa Sedahan dan KKU. Setelah kami melihat matahari bersinar, selanjutnya kami kembali ke Camp Lubuk Baji. Setibanya kami kembali di Camp, kegiatan selanjutnya adalah bersih-bersih sampah di sekitar tempat kami berkegiatan berlanjut dan bersiap berkemas-kemas untuk persiapan pulang.

Dalam fieldtrip (kunjungan lapangan) tersebut, 21 orang dari Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes, 2 guru pendamping ( Hendri dan Agnes), dari Yayasan Palung ( Edward Tang, Petrus Kanisius, Hadjral) dan Wawan, relawan Yayasan Palung.

Kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta fieldtrip. (Petrus Kanisius- Yayasan Palung)

Tulisan ini pernah dimuat di http://pontianak.tribunnews.com/2015/12/15/pesona-keindahan-tumbuhan-dan-satwa-di-lubuk-hijau

 

 

 

Temu Kenal dan Berbagi Cerita Dari Pengrajin HHBK KKU Dengan Lembaga Mitra

pertemuan tahunan kelompok penganyam se-kalimantan (jaringan craft kalimantan), foto dok. Yayasan Palung

Pertemuan tahunan kelompok penganyam se-kalimantan (jaringan craft kalimantan), foto dok. Yayasan Palung

Tiga pengrajin hasil hutan bukan kayu (hhbk) dari  Kabupaten Kayong Utara, terlihat sangat bersemangat untuk temu kenal dan berbagi cerita pengrajin (shearing) dengan berbagai lembaga mitra dan pihak pemerintah  bertempat di kantor Yayasan Palung Ketapang, senin (30/11/ 2015), kemarin.

Dalam temu kenal dan berbagi cerita terlontor dari pengrajin hhbk seperti misalnya Ibu Ida, pengrajin menganyam berbagai bentuk kreasi anyaman seperti tikar pandan bermotif pucuk rebung, kreasi tikar pandan yang dipadukan dengan anyaman lekar untuk dijadikan lampu hias.

Tidak hanya itu, kreasi anyaman pandan ada yang dibikin menjadi aksesoris seperti anting, gelang, tas, dompet dan kalung. Bahkan ada sajadah yang dibuat dari tikar pandan dengan beberapa motif lainnya seperti motif pagar. Ada juga kopiah dari pandan.

Ketiga pengrajin yang diwakili oleh Ibu Ida, Ibu Hatimah dan bapak Darwani juga berbagi cerita diantaranyamereka pernah diberi kepercayaan menjadi pelatih anyaman dibeberapa tempat seperti di beberapa tempat di beberapa kabupaten di Kalbar bahkan hingga ke Papua.

Beberapa produk hasil dari hhbk seperti lekar tikar, gelang, anting dan lekar dari lidi nipah. foto dok. Yayasan Palung_ foto 1

Beberapa produk hasil dari hhbk seperti lekar tikar, gelang, anting dan lekar dari lidi nipah. foto dok. Yayasan Palung

Dari pengrajin, ada success story (cerita sukses) dari pengrajin. Salah satunya adalah Ibu Vina (37 tahun), di Dusun Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan. Sebelum menjadi pengrajin ibu Vina pekerjaan sehari-harinya sebagai penambang batu. Namun kini, ibu Vina menjadi pengrajin tikar pandan. Dengan kata lain, cerita sukses ibu Vina ikut berkontribusi untuk perlindungan kawasan dan habitat orangutan di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Hal yang menarik lainnya dari pengrajin hhbk di Kabupaten Kayong Utara (KKU) menjadi tempat belajar bagi generasi muda, khususnya siswa-siswi SMKN 1 Sukadana. Bahkan pihak sekolah berencana menjadikan anyaman hhbk sebagai muatan lokal (mulok) atau prakarya di sekolah mereka. Kini, siswa-siswi SMKN 1 Sukadana sudah aktif belajar langsung ke rumah-rumah pengrajin. Mengingat, anyaman tikar pandan sebagai warisan leluhur tradisional di wilayah KKU.

Workshop Training Kerajinan, SMKN 1 Sukadana. foto dok. Yayasan Palung

Workshop Training Kerajinan, SMKN 1 Sukadana. foto dok. Yayasan Palung

Monitoring HHBK di Desa Batu Barat, foto dok. Yayasan Palung (1)

Ibu-ibu Sedang Menganyam Tikar  HHBK di Desa Batu Barat, foto dok. Yayasan Palung 

Menurut Frederik Wendy Tamariska, Manager Sustainable Livelihoods Yayasan Palung mengatakan; Ini merupakan pertemuan testimonial yang diadakan di Ketapang. Testimonial para pengrajin yang sudah berjalan selama 4 tahun. Selain itu juga, pertemuaan ini selain menceritakaan pengalaman penjualan produk tetapi juga, pengrajin memaparkan mengenai partisipasinya sebagai kom lokal dalm perlindungan Orangutan dan kawasan TNGP melalui aktivitas kerajinan hhbk. Harapannya semua pihak bisa mendukung inisiatif lokal dalam membangun kesempatan bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam setiap aspek pembangunan. Pengajin pernah menjadi pengrajin di Menyumbung, Kecamatan Sandai, Ketapang. Selanjutnya juga, pengrajin hhbk dari KKU yang merupakan binaan Yayasan Palung  terlibat aktif dalam  Craft Kalimantan; Barat, Tengah dan Timur.

Dalam rangka promosi, sementara ini pengrajin Yayasan Palung aktif terlibat dalam pameran tingkat lokal dan nasional. Untuk kedepan, Anyaman dari pengrajin berpartisipasi dalam pameran internasional di Santa Fe, New Mexico atau IFAM (nama pamerannya-red) yang diadakan setiap bulan juli.

Pada temu kenal dan berbagi cerita senin kemarin (13/11),  beberapa lembaga mitra melakui perwakilannya ikut hadir seperti BTNGP, JICA-REDD+, pihak sekolah (SMA Yohanes Ketapang), Disperindagkop Kabupaten Ketapang,  Dishut Ketapang, Relawan Konservasi Tajam ikut hadir.

Acara yang dimulai sekitar pukul 13.00 wib tersebut, mendapat sambutan baik dari peserta undangan. Danel Maryono, selaku Kasi bimbingan industri dan pencegah dan pencemaran bidang industri dinas koperasi, ukm, perindustrian dan perdagangan Kabupaten Ketapang mengatakan; menyambut baik, mendukung kegiatan seperti yang dilakukan oleh pengrajin. Lebih lanjut menurutnya, pengrajin anyaman pandan, lekar tradisional sebagai pewaris budaya lokal yang harus dilestarikan dan berkelanjutan (ada generasi penerus).

Produk tradisional seperti anyaman-anyaman tradisional hhbk dengan aneka kreasi anyaman yang cukup menjanjikan sebagai penambah pendapatan sehari-hari. Tidak hanya itu, kualitas dari anyaman dari pengrajin hhbk binaan YP juga mendapat dukukungan dari berbagai pihak seperti dekranasda KKU, BTNGP dan beberapa lembaga seperti JICA-REDD+ dan pihak lainnya.

Foto SaatTemu Kenal dan Berbagi Cerita Dari Pengrajin HHBK KKU Dengan Lembaga Mitra dan Pemerintah Di Ketapang, bertempat di Yayasan Palung

Saat temu kenal dan berbagi cerita dari pengrajin HHBK KKU dengan Lembaga Mitra dan Pemerintah di Ketapang, bertempat di Yayasan Palung

 

Dari temu kenal dan berbagi cerita tersebut sebagai permintaan dari pengrajin untuk berbagi informasi kepada lembaga mitra. Kegiatan tersebut berakhir sekitar pukul 15.20 wib sesuai dengan rencana. (Petrus Kanisius- Yayasan Palung)

Tulisan ini juga pernah dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/12/01/cerita-sukses-pengrajin-asal-kayong-utara

 

 

 

 

Media Informasi Pencinta Satwa

Majalah MIaS Yayasan Palung 2015
Majalah MIaS Yayasan Palung 2015

Pembaca setia, berikut ini merupakan Media Informasi Pencinta Satwa (MIaS) Yayasan Palung. MIaS kali ini merupakan edisi khusus tahun 2015.

silakan klik untuk membaca  :MIas 20 Halaman

Selamat membaca, Terima Kasih

 

 

Siswa-Siswi SMPN 3 Matan Hilir Utara Belajar Mengenal Daun di Hutan Secara Langsung

fieldtrip-smpn-3-matan-hilir-utara_20151124_153921

Fieldtrip SMPN 3 Matan Hilir Utara Saat Belajar Taksonomi Tumbuhan. foto dok. YP

Sejumlah 25 orang siswa-siswi SMPN 3 Matan Hilir Utara terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan Fieldtrip (kunjungan lapangan) di hutan Beringin di Kawasan Reboisasi Taman Nasional Gunung Palung , Jumat (20/15/2015) hingga Minggu (22/11/2015), kemarin.

Untuk mencapai tempat fieldtrip, semua peserta harus melewati jalan setapak dan jalan berlumpur dan titian (jembatan mini dari papan seadanya) namun sangat menantang dan memacu semangat saat semua menaiki kendaraan bermotor untuk sampai di tempat tujuan.

Hujan cukup deras tidak menyurutkan peserta fieldtrip untuk belajar morfologi daun menjadi salah satu hal yang tampak menarik diikuti oleh peserta fieldtrip. Mereka secara seksama mendengarkan materi dan melakukan praktek identifikasi ciri-ciri fisik daun, jenis dan bentuk daun.

Peserta fieldtrip juga dikenalkan sejak dini dengan materi dan praktek pengamatan satwa. Kemudian dilanjutkan materi pengamatan indikator air. Adapun tujuan pemberian materi tersebut sebagai pengenalan awal kepada siswa-siswi untuk mengenali lingkungannya secara langsung.

Selama tiga hari melakukan kegiatan fieldrip, peserta juga diajak untuk bermain game (permainan) untuk kekompakan. Peserta dibagi dalam tiga kelompok (kelompok pertama; Si Beruk, kedua; Kelasi dan Kelompok bekantan) mereka bermain jaring laba-laba, menyanyi bersama, senam kesehatan di pagi hari.

Setiap kelompok fieldtrip mendirikan tenda masing-masing. Mereka juga membuat tungku perapian dan masak perkelompok. Pada malam harinya terakhirnya kegiatan, semua peserta berkumpul untuk menyampaikan persentasi dan dilanjutkan dengan acara bebas. Beberapa murid-murid tampak antusias untuk mengisi malam dengan nyanyian, puisi tentang alam dan lingkungan serta pesan dan kesan selama mengikuti fieldtrip.

Dalam melakukan 3 hari rangkaian fieldtrip tersebut, dari SMPN 3 MHU didampingi oleh bapak ibu guru mereka (Bapak David, Ibu Didit, bapak Woni Ordinator), sedangkan dari Yayasan Palung yang ikut bagian dalam kegiatan tersebut antara lain Mriamah Achmad, Edward Tang, Petrus Kanisius, Hadjral dan Wawan Ones (relawan sekaligus aktivis lingkungan).

Kegiatan fieldtrip tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan keesokan harinya, Minggu (22/11/2015) kami menyudahi semua rangkaian kegiatan fieldrip. (Petrus Kanisius-Yayasan Palung).

Tulisan ini pernah dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/24/25-siswa-smpn-3-matan-hilir-belajar-mengenal-daun-di-hutan