Lembaga Desa Pengelola Hutan (LDPH) Selinsing Raya Resmi Menerima Hak Pengelolaan Hutan Desa

Kegiatan verifikasi teknis kawasan hutan desa. (Foto dok. Program Hutan Desa Yayasan Palung).

Program Perhutanan Sosial Indonesia memberikan akses legal kepada masyarakat untuk mengelola kawasan hutan. Skema perhutanan sosial yang cukup populer yang diterapkan di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat adalah “Hutan Desa.”  Skema ini hanya berlaku di kawasan hutan lindung dan produksi yang belum dibebani hak kelola. Dusun Nekdoyan yang terletak di Desa Laman Satong, memiliki kawasan Hutan Lindung yang belum dibebani hak kelola. Bagian Kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak yang berada didataran rendah ini memiliki potensi air bersih, ekowisata, dan tutupan tajuk yang cukup rapat. Masayarakat yang berada di sekitar kawasan lindung tersebut memerlukan akses legal agar dapat mengelola baik dari segi pemanfaatan maupun perlindungan.

Sosialisasi Perhutanan Sosial. (Foto dok. Program Hutan Desa Yayasan Palung).

Pada bulan Agustus tahun 2024, Yayasan palung (YP) bersama dengan UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan melakukan sosialisasi tentang Perhutanan Sosial di Dusun Nekdoyan, Desa Laman Satong. Para pihak yang terlibat dalam sosialisasi ini adalah; UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan, Pemerintah Desa, Tokoh Adat, masyarakat Dusun Nekdoyan, dan Lembaga Yayasan Palung. Setelah mendapatkan pemaparan tentang Perhutanan Sosial, hampir seluruh peserta yang terlibat tertarik mengelola kawasan hutan lindung dengan skema Hutan Desa. Atas dasar musyawarah dan kesepakatan bersama, maka terbentuklah Peraturan Desa (PerDes) tentang Lembaga Desa dan Lembaga Desa Pengelola Hutan (LDPH) yang diberi nama “LDPH Selinsing Raya,” nama tersebut berasal dari sebuah riam (air terjun) yang ada di Dusun Nekdoyan, tepatnya di dalam kawasan hutan lindung Gunung Tarak yang akan diajukan menjadi hutan Desa.

Pengajuan Persetujuan Perhutanan Sosial harus dilakukan melalui LDPH yang dibentuk oleh Pemerintah Desa. Tahapan pertama yang perlu dilakukan adalah penyiapan dokumen permohonan yang ditujukan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (saat ini sudah berganti menjadi Kementrian Kehutanan). Selanjutnya, melalui Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan kemitraan Lingkungan (DirJen PSKL), verifikasi dokumen dilakukan. Tim verifikasi menemukan ada beberapa dokumen yang perlu direvisi seperti data anggota LDPH dan peta permohonan hutan desa. Sekitar dua bulan setelah melengkapi dokumen tepatnya pada bulan November 2024, tim yang terdiri dari (Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, dan Balai Pemantapan Kawasan Hutan) melakukan verifikasi teknis. Kegiatan verifikasi teknis terbagi menjadi dua yakni verfikasi objek calon persetujuan pengelolaan dengan cara melakukan kunjungan langsung ke lokasi untuk melihat potensi, tutupan lahan, dan area yang berbasatan dengan calon hutan desa.

Selanjutnya, verifikasi subjek dilakukan untuk memastikan data penerima manfaat dan dokumen pendukung lainnya sudah terpenuhi. Pada akhirnya, tepat di bulan Desember 2025, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerbitkan Keputusan Nomor: 13539 Tahun 2024 tentang Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa kepada LDPH Selinsing Raya dengan luas ± 4.258 (Empat Ribu Dua Ratus Lima Puluh Delapan) hektare.

Sejauh ini, LDPH Selinsing Raya merupakan satu-satunya dampingan Yayasan Palung yang terletak di Wilayah Kabupaten Ketapang. Persetujuan Pengelolaan yang diterima oleh LDPH telah membuka akses untuk melakukan kegiatan pengelolaan sesuai dengan Hak dan Kewajiban yang tertulis dalam Surat Keputusan, LDPH Selinsing Raya akan melaksanakan kegiatan yang dimulai dengan sosialisasi pasca izin oleh Yayasan Palung, penyusunan Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Sebagai Lembaga Pendamping, Yayasan Palung akan terus mendukung kegiatan LPHD sesuai dengan RKT yang nantinya akan disusun. Peran Pemerintah dalam hakl ini Adalah UPT KPH Wilayah Selatan sebagai pemangku Kawasan sangat penting dalam mendukung kegiatan LDPH. Oleh karena itu kegiatan kolaborasi harus tetap dijalankan agar dapat mencapai manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan.

————————————

Kawasan Hutan Desa Selinsing Raya (dikelola oleh LDPH Selinsing) dan dibina oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan, dan didukung oleh Yayasan Palung (YP) sebagai Lembaga pendamping.

Penulis: Hendri Gunawan-Manager Program Hutan Desa Yayasan Palung

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Ayo Jaga dan lindungi satwa dan tumbuhan yang Ada di Sekitar kita

Selamat Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Setiap tanggal 5 November, diperingati sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional sebagai bentuk kepedulian terhadap tumbuhan dan satwa khas di Indonesia.

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional juga sebagai pengingat bagi kita semua untuk semakin mencintai puspa (tumbuhan) dan satwa karena peran pentingnya bagi sebagian besar tatanan kehidupan makhluk hidup lainnya (satu kesatuan yang tidak terpisahkan). Tidak hanya itu, sejatinya kita sebagai makhluk hidup yang beradab diajak untuk saling harmoni dengan keberadaan puspa dan satwa karena peran pentingnya sebagai penjaga keseimbangan ekosistem. Selain itu, Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional juga diperingati sebagai upaya untuk mendorong perlindungan terhadap spesies yang terancam punah.

Baca : Berikut Ini Daftar Tumbuhan dan Satwa di Indonesia yang Dilindungi

Hutan merupakan rumah bagi 80% spesies hewan dan tanaman yang Kita kenali sehari-hari, Hutan hujan tropis yang memiliki luasan wilayah paling luas di Indonesia menjadi rumah yang nyaman bagi berbagai burung yang dilindungi seperti enggang dan orangutan dan yang nasibnya terancam punah di alam liar.

Baca Juga: 6 Satwa Dilindungi di Indonesia ini sudah sangat terancam punah!

Kita bangga memiliki ragam tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Mari kita jaga dan lindungi satwa dan tumbuhan yang ada di sekitar kita agar ia bisa terus memberi tanpa pamrih kepada kita dan makhluk lainnya. (Pit-YP).

(Yayasan Palung)

YP Ajak Kelompok Belajar Anak Simpang Keramat Kids belajar tentang Keanekaragaman Tumbuhan di Sekitar Kita

Adik-adik dari elompok Belajar Anak Simpang Keramat Kids dari Sekolah Dasar Negeri 20 Penjalaan, Simpang Hilir, Kayong Utara, belajar tentang Keanekaragaman Tumbuhan di Sekitar Kita, pada Rabu (15/10/2025). (Foto dok. Simon Tampubolon/YP).

Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan berkesempatan mengajak adik-adik dari Kelompok Belajar Anak Simpang Keramat Kids dari Sekolah Dasar Negeri 20 Penjalaan, Simpang Hilir, Kayong Utara, belajar tentang Keanekaragaman Tumbuhan di Sekitar Kita, pada Rabu (15/10/2025).

Dalam kesempatan itu, adik-adik dari Kelompok Belajar Anak Simpang Keramat Kids didampingi oleh Simon Tampubolon, selaku Koordinator Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung untuk melihat keanekaragaman tumbuhan dengan mengamati perbedaan daun seperti; bentuk, warna dan ukuran pada tumbuhan yang ada di sekitar sekolah.

Seperti terlihat, adik-adik sangat bersemangat untuk belajar tentang keanekaragaman tumbuhan. Pada kesempatan tersebut mereka melakukan praktek dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya jenis daun yang berbeda yang ada di sekitar sekolah dan mereka mengidentifikasi terkait perbedaan daun seperti bentuk, warna dan ukuran. Semakin banyak perbedaan daun tumbuhan yang ditemukan artinya keberagaman tumbuhannya juga tinggi.

Foto-foto kegiatan:

Selain mengamati perbedaan pada daun tumbuhan, anak-anak juga diminta mengamati dan menghitung berapa banyak jumlah tumbuhan budidaya (termasuk tanaman buah dan tanaman peneduh) dan berapa banyak jumlah tumbuhan liar di area pengamatan. Selanjutnya mereka membuat kesimpulan dari pengamatan, membuat pesan lingkungan serta mempresentasikan hasil pengamatan mereka.

Simon Tampubolon, dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk menumbuhkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar. Dengan pengamatan langsung, mereka akan mengetahui seberapa banyak tumbuhan yang ada di sekitar mereka. Mereka juga akan melihat bagaimana keberagaman tumbuh-tumbuhan tersebut mendukung kehidupan makhluk hidup di sekitarnya.

Rangkaian kegiatan tersebut berjalan dengan baik dan mendapat sambutan baik dari adik-adik yang mengikuti kegiatan. (Pit-YP).

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak: https://pontianak.tribunnews.com/kalbar/1147987/yp-ajak-kelompok-belajar-anak-simpang-keramat-kids-belajar-keanekaragaman-tumbuhan-di-sekitar-kita

(Yayasan Palung)

YP Berkesempatan Berbagi Informasi tentang Lingkungan Hidup Kepada Sispala REPATONES

Saat Sela dari Yayasan Palung berkesempatan menyampaikan presentasi tentang lingkungan hidup atas undangan dari Remaja Pecinta Alam Santo Yohanes (REPATONES), pada Rabu (29/10/2025) di SMA PL Santo Yohanes, Ketapang, Kalimantan Barat.(Foto dok. Lioni, Magang SMKN 1 Ketapang).

Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan berkesempatan mengisi materi tentang lingkungan hidup atas undangan dari Remaja Pecinta Alam Santo Yohanes (REPATONES), pada Rabu (29/10/2025) di SMA PL Santo Yohanes, Ketapang, Kalimantan Barat.

Dalam kesempatan tersebut, Sela Darmiyati, Asisten Field Officer Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung berkesempatan menyampaikan materi presentasi tentang Cintai Lingkungan Selamatkan Kehidupan.

Foto-foto:

 Sela, sapaan akrabnya, dalam kesempatan tersebut menyampaikan presentasinya terkait peran penting Lingkungan Hidup dan Satwa Dilindungi bagi kehidupan. Selain juga menekankan peran penting generasi muda untuk menjaga, mencintai lingkungan dan satwa dilindungi.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 51 orang siswa-siswi Remaja Pecinta Alam Santo Yohanes (REPATONES).

(Pit-YP)

(Yayasan Palung)

Bimbingan Teknis Brigade Dalkarhutla UPT KPH Wilayah Kayong

Foto bersama dalam serangkaian kegiatan Bimbingan Teknis bagi Brigade Dalkarhutla UPT KPH Wilayah Kayong. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat. Acara tersebut berlangsung, pada Selasa (21/10/2025) di Ketapang. (Foto dok. Mahendra/YP).

Telah dilaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis bagi Brigade Dalkarhutla UPT KPH Wilayah Kayong. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat. Acara tersebut berlangsung, pada Selasa (21/10/2025) di Ketapang.

Robi Kasianus, Koordinator Program Hutan Desa Yayasan Palung mendapat kesempatan menjadi salah satu narasumber dalam acara Bimbingan Teknis Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan UPT KPH Wilayah Kayong.

Adapun peserta yang hadir dalam acara tersebut terdiri dari Brigade UPT KPH Wilayah Kayong dan beberapa Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak yang sedang melaksankan program Kuliah Magang Berdampak (KMB).

Dalam acara tersebut, Robi berkesempatan berbagi pengalaman Yayasan Palung tentang implementasi Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) Conservation untuk deteksi awal kebakaran Hutan dan lahan. (Robi/YP).

Video & Foto dok. Mahendra/Yayasan Palung

Kolaborasi Gerakan Hijau Pesisir: Bersama Menanam Mangrove untuk Bumi Lestari

Yayasan Tajuk Kalimantan Lestari (TKL) bersama Kelompok Tani Benteng Sejati, Kader Pangan TKL dan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) yang merupakan kelompok muda binaan Yayasan Palung, berinisiatif melaksanakan kegiatan “Gerakan Hijau Pesisir: Bersama Menanam Mangrove untuk Bumi Lestari.” pada Minggu (19/10/2025) di Pesisir Pantai Desa Sukabaru RT 008, Ketapang.

Yayasan Tajuk Kalimantan Lestari (TKL) bersama Kelompok Tani Benteng Sejati, Kader Pangan TKL dan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) yang merupakan kelompok muda binaan Yayasan Palung, berinisiatif melaksanakan kegiatan “Gerakan Hijau Pesisir: Bersama Menanam Mangrove untuk Bumi Lestari.” Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pesisir Pantai Desa Sukabaru RT 008, Ketapang, pada Minggu (19/10/2025).

Dalam kesempatan tersebut peserta yang mengikuti kegiatan berhasil menanam 200 bibit mangrove.

Sebagaimana diketahui, ekosistem mangrove memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan alam di wilayah pesisir. Hutan mangrove berperan sebagai pelindung alami dari abrasi pantai, tempat berkembang biaknya biota laut, penyerap karbon, dan penopang kehidupan masyarakat pesisir. Namun, degradasi ekosistem mangrove akibat aktivitas manusia, alih fungsi lahan, serta perubahan iklim telah mengancam keberlanjutan lingkungan di wilayah pesisir Kabupaten Ketapang.

Dengan demikian, melihat kondisi tersebut, diperlukan gerakan bersama yang melibatkan berbagai pihak untuk melakukan upaya rehabilitasi dan konservasi mangrove secara nyata dan berkelanjutan.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penanaman bibit mangrove, tetapi juga menjadi wadah edukasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta pembelajaran lapangan bagi siswa dan mahasiswa magang binaan TKL. Kolaborasi lintas lembaga ini diharapkan memperkuat jejaring kerja konservasi di Ketapang dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian ekosistem pesisir.

Adapun peserta yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Kader Pangan Tajuk Kalimantan Lestari, Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM), Mahasiswa dan Siswa Magang dari Yayasan Tajuk Kalimantan Lestrai dan Yayasan Palung, Perwakilan Pemerintah Desa Sukabaru dan Anggota Kelompok Tani Benteng Sejati.

Kegiatan “Gerakan Hijau Pesisir: Bersama Menanam Mangrove untuk Bumi Lestari” merupakan langkah konkret untuk memperkuat aksi konservasi berbasis kolaborasi lintas lembaga di Kabupaten Ketapang. Melalui kerja sama antara Yayasan Tajuk Kalimantan Lestari, Yayasan Palung dan Kelompok Tani Benteng Sejati, diharapkan terbentuk gerakan berkelanjutan dalam menjaga pesisir yang sehat, produktif, dan lestari bagi generasi mendatang.

Video dok. Sela, Lioni, Tajuk Kalimantan Lestari & Yayasan Palung

Video editor : Lioni

Pelatihan Demplot Konservasi dan Perekrutan RK-TAJAM Wujud Nyata Pembinaan Generasi Muda Peduli Lingkungan

Foto bersama setelah rangkaian kegiatan pelatihan selesai dilakukan. (Foto dok. Yayasan Palung).

Pada hari Selasa, 21 Oktober 2025, halaman dan aula Kantor UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan dipenuhi suasana semangat dan keceriaan. Sejak pagi, para siswa dari berbagai SMA, SMK, dan MA di Kabupaten Ketapang telah berdatangan, membawa antusiasme dan rasa ingin tahu yang besar. Sebanyak 99 siswa hadir mengikuti kegiatan Pelatihan Demplot Konservasi dan Perekrutan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) yang diselenggarakan oleh Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung bekerja sama dengan UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan. Mereka didampingi oleh 8 guru pendamping dari masing-masing sekolah, yang turut berperan penting dalam memberikan dukungan dan motivasi bagi para siswa selama kegiatan berlangsung.

Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Yayasan Palung untuk memperkuat kesadaran dan pengetahuan generasi muda tentang pentingnya konservasi alam. Program ini tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mengajak peserta untuk langsung mempraktikkan berbagai teknik pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan melalui kegiatan demplot konservasi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah perekrutan anggota baru Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM), yaitu kelompok muda binaan Yayasan Palung yang selama ini aktif melakukan berbagai kegiatan lingkungan di sekolah dan masyarakat.

Acara dimulai pukul 07.00 WIB dengan registrasi peserta, disusul pembukaan yang berlangsung hangat dan inspiratif. Widiya Octa Selfiany, Manajer Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, membuka kegiatan dengan sambutan yang penuh motivasi. Ia menyampaikan bahwa keberadaan generasi muda merupakan kunci keberlanjutan dalam menjaga alam. “Kami ingin menumbuhkan semangat peduli lingkungan sejak dini. Anak-anak muda harus tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka punya peran penting menjaga bumi ini,” ujarnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kuswadi, SP., M.Hut., Kepala UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan, yang secara resmi membuka kegiatan. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan lembaga kehutanan dalam menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian hutan. “Pelestarian alam tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak. Butuh keterlibatan semua lapisan, terutama generasi muda yang akan menjadi penjaga alam di masa depan,” ucapnya.

Setelah sesi pembukaan, para peserta mendapatkan kesempatan untuk menikmati coffee break sejenak sebelum memasuki sesi utama pelatihan. Tim dari UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan kemudian memaparkan berbagai materi yang menarik dan aplikatif. Materi pertama adalah tentang Mini Demplot Agroforestry, yaitu sistem integrasi tanaman kehutanan dan pertanian yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Peserta diajak memahami bahwa konservasi tidak harus mengorbankan kebutuhan ekonomi masyarakat, justru dapat menjadi solusi yang saling menguntungkan antara alam dan manusia.

Foto-foto kegiatan:

Foto-foto dok. Sela Yayasan Palung

Sesi berikutnya memperkenalkan Silvopastura, sistem kombinasi antara tanaman kehutanan dan peternakan. Para peserta belajar bagaimana tanaman pohon dan hewan ternak bisa hidup berdampingan dalam satu kawasan tanpa saling merugikan, justru saling mendukung secara ekologis. Materi ketiga membahas Silvofishery, pengelolaan tambak perikanan dengan pendekatan konservatif melalui penanaman vegetasi seperti mangrove yang berperan menjaga kualitas air dan habitat ikan.

Setelah itu, peserta dikenalkan dengan Persemaian Permanen, yang mengajarkan teknik pembuatan dan pengelolaan persemaian bibit pohon untuk mendukung kegiatan rehabilitasi lahan. Tidak kalah menarik, materi Woodvinegar (Cuka Kayu atau Asap Cair) menjadi perhatian peserta karena memperlihatkan inovasi ramah lingkungan hasil pembakaran kayu tanpa oksigen yang dapat dimanfaatkan untuk pestisida alami dan pupuk organik. Menjelang siang, kegiatan dilanjutkan dengan Simulasi Brigade Dalkarhutla, di mana peserta belajar mengenai teknik dasar pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Mereka diperkenalkan dengan alat-alat pemadaman sederhana dan prosedur keselamatan di lapangan.

Suasana semakin hidup ketika peserta diajak untuk praktik langsung di lapangan. Dalam sesi praktik ini, mereka dibagi dalam beberapa kelompok kecil dan diarahkan oleh tim fasilitator dari UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan serta tim pendidikan lingkungan Yayasan Palung. Para siswa menanam bibit, mengatur pola tanam agroforestry, dan melihat proses pembuatan woodvinegar secara langsung. Guru pendamping tampak aktif memberi semangat, sementara beberapa siswa mencatat dan mendokumentasikan setiap langkah sebagai bahan pembelajaran di sekolah.

Kegiatan ini juga terasa istimewa karena melibatkan siswa PKL dari SMKN 01 Ketapang dan mahasiswa magang dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura . Mereka berperan membantu panitia dan peserta dalam pendampingan teknis, dokumentasi, serta penyusunan laporan kegiatan. Kolaborasi lintas jenjang pendidikan ini menjadi bukti nyata bahwa kegiatan konservasi dapat menjadi ruang belajar bersama bagi semua kalangan.

Sepanjang kegiatan, antusiasme peserta tidak surut sedikit pun. Mereka aktif bertanya dan berdiskusi dengan narasumber, menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai praktik konservasi yang diajarkan. Beberapa peserta bahkan menyampaikan pengalaman pribadi mereka yang sebelumnya belum pernah mengenal langsung kegiatan kehutanan.

Dari total 99 peserta yang mengikuti pelatihan, tercatat 30 siswa menyatakan kesediaannya untuk bergabung menjadi calon anggota Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM). Menariknya, dari jumlah tersebut 29 adalah perempuan dan 1 laki-laki, menunjukkan bahwa semangat konservasi kini banyak tumbuh di kalangan pelajar perempuan. Mereka akan menjadi bagian dari program pembinaan lanjutan Yayasan Palung yang meliputi kampanye lingkungan, penanaman pohon, kegiatan edukasi, dan advokasi lingkungan di sekolah masing-masing.

Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan penyampaian kesan dari beberapa peserta. Banyak siswa mengaku sangat senang bisa belajar langsung dari para ahli dan merasakan pengalaman baru di luar kelas. “Saya baru tahu ternyata menjaga lingkungan bisa dilakukan dengan cara yang menarik seperti ini. Saya ingin ikut RK-TAJAM agar bisa terus belajar dan berkontribusi,” ujar salah satu peserta dari SMAN 01 Ketapang.

Sesi penutupan dipandu oleh Sela Darmiyati dari Yayasan Palung, yang menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan, mulai dari sekolah, guru pendamping, hingga tim KPH Wilayah Ketapang Selatan. Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada peserta yang antusias dan berkomitmen menjadi bagian dari gerakan konservasi muda di Ketapang.

Dalam kesempatan tersebut, Widiya Octa Selfiany menegaskan kembali pentingnya kolaborasi lintas lembaga dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan pelajar. Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan menjadi langkah awal terbentuknya jaringan relawan muda peduli hutan dan lingkungan. “Kami ingin setiap sekolah memiliki agen-agen perubahan yang berani bertindak untuk alam. RK-TAJAM adalah wadah bagi generasi muda untuk belajar dan bertumbuh menjadi penjaga alam sejati,” tuturnya menutup acara.

Baca juga pontianak.tribunnews.com : Yayasan Palung dan KPH Ketapang Selatan Latih Siswa dan Rekrut Relawan Konservasi

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore ini berjalan lancar dan penuh makna. Selain memberikan pengalaman belajar yang nyata, pelatihan ini juga mempererat kerja sama antara Yayasan Palung, UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan, dan pihak sekolah. Dengan sinergi ini, diharapkan semakin banyak pelajar yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.

Semangat para peserta hari itu menjadi bukti bahwa upaya konservasi tidak hanya tentang menanam pohon, tetapi juga menanam nilai-nilai kepedulian di hati generasi muda. Mereka adalah calon-calon penjaga alam masa depan yang siap menjaga keberlanjutan ekosistem hutan di Kabupaten Ketapang dan sekitarnya. Dengan dukungan berbagai pihak, kegiatan seperti ini akan terus menjadi wadah pembelajaran, kolaborasi, dan inspirasi bagi lahirnya generasi muda pelindung bumi yang tangguh dan berkomitmen.

Dokumen foto & video: Tengku Nesya Aulia/Kuliah Magang Berdampak (KMB) Yayasan Palung

Penulis: Widiya Octa Selfiany-Yayasan Palung

Hari Pangan Sedunia (World Food Day) : Ada Petani, Ada Pangan, Ada Kehidupan

Selamat Hari Pangan Sedunia (World Food Day). Diperingati setiap tanggal 16 Oktober oleh masyarakat dunia sebagai bentuk pengakuan dunia akan pentingnya pangan dan upaya global untuk meningkatkan ketahanan gizi serta mengatasi krisis pangan.

Tahun ini, Hari Pangan Sedunia 2025 bertepatan dengan peringatan 80 tahun Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atau Food and Agriculture Organization (FAO).

Hari Pangan Sedunia menjadi momen penting untuk memperkuat kesadaran global tentang masalah kelaparan, malnutrisi, dan ketimpangan akses pangan yang masih menjadi tantangan besar bagi banyak negara.

Tema Hari Pangan Sedunia 2025 adalah Hand in Hand for Better Food and a Better Future atau Bergandengan Tangan untuk Pangan yang Lebih Baik dan Masa Depan yang Lebih Baik.

Tidak terbayangkan, bagaimana jadinya apabila di negeri ini tidak ada petani. Hampir semua produk pangan lokal kita dapatkan dari petani. Adanya petani bisa menyediakan kebutuhan masyarakat kita sehari-hari.

Ajakan kepada semua kita untuk membudidayakan dan menyukai produk dan pangan lokal. Tentu, pangan lokal yang sehat dan terbebas dari bahan kimia, dan langsung dari petani.

Sudah semestinya kita bisa memberikan tawaran akan kemandirian pangan yang berbasis tradisional. Teruslah menjalani tradisi menanam pangan lokal tanpa harus merubahnya/menggantinya dengan produk luar yang belum tentu cocok di suatu wilayah atau tempat tertentu.

Mulailah menanam produk pangan lokal di lingkup keluarga misalnya; menanam sayur,cabe/cabai, kunyit di pekarangan rumah. Jika memungkinkan ada lahan kosong, tanamlah dengan ubi/singkong, jangung, pisang dan tanaman buah-buahan lainnya. Atau jika memungkinkan, peliharalah ayam dan ternak lainnya sebagai sumber/pendukung dalam pemenuhan sumber hidup kita sehari-hari.

Ada petani, ada pangan, ada kehidupan. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan agar berdaulat pangan di negeri sendiri. Mari menanam untuk kehidupan. (Pit-YP).

Tulisan: Diolah dari berbagai sumber

(Yayasan Palung)

Sampaikan Puppet Show di TK Al-Gufron, Pengenalan tentang Satwa Dilindungi

Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan berkesempatan menyampaikan puppet show (pertunjukan boneka) pengenalan tentang satwa dilindungi di TK Al-Gufron Ketapang,Kalbar, pada Selasa (14/10/2025) pagi.

Dalam kesempatan Puppet show tersebut, YP berkesempatan menyampaikan informasi dan bercerita bertutur kepada siswa-siswi tentang satwa dilindungi seperti orangutan, kelasi, burung enggang, trenggiling dan bekantan.

Kami pun berkesempatan bertutur/bercerita tentang peran dan fungsi dari orangutan dan burung enggang sebagai petani hutan, karena mereka (orangutan, kelasi dan enggang) bisa menyebarkan benih-benih dari sisa biji-bijian yang mereka makanan.

Selanjutnya biji-bijian tersebut akan tumbuh menjadi tunas-tunas 🌱baru yaitu pohon🌳🌳🌳 yang bisa menjadi rumah bagi sebagian besar makhluk hidup yang mendiami hutan.

Selain itu, kami juga mengajak siswa-siswi TK Al-Gufron menonton film-film singkat tentang orangutan. Mereka pun terlihat sangat senang saat menonton.

Semoga dengan apa yang kami sampaikan melalui puppet show ini ada informasi baru dan bisa mengedukasi/penyadartahuan bagi adik-adik, dengan demikian pula bisa menumbuhkan semangat cinta lingkungan dan kepedulian terhadap nasib satwa-satwa yang dilindungi.(Pit-YP).

Video : Rudi @rudihartono7461

(Yayasan Palung)

YP Adakan Peningkatan Kapasitas Staf:  Belajar Cara Menerbangkan Drone

Beberapa waktu lalu, YP Menggelar pelatihan drone (pesawat tanpa awak) bagi Farih salah seorang staf Program Hutan Desa, pada Rabu (24/9/2025).Foto dok. Program Penyelamatan Satwa (PPS-Hukum) YP.

Yayasan Palung (YP) melalui Program Penyelamatan Satwa (PPS-Hukum) menggelar pelatihan (Peningkatan Kapasitas/capacity building) bagi Farih salah seorang staf Program Hutan Desa terkait Praktek Cara Menerbangkan Drone (pesawat tanpa awak) di Kantor Yayasan Palung Bentangor Education Center di Desa Pampang Harapan, Rabu (24/9/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Farih belajar materi dan praktek secara langsung dari para mentor yang memberikan pelatihan tersebut, adalah; Gunawan, Susanto dan Erik Sulidra.

Pada Kesempatan itu, Farih tidak hanya belajar tentang cara menerbangkan drone saja, tetapi juga diajari tentang fungsi remote, pengecekan baterai, pengecekan fisik alat sebelum diterbangkan, parameter lingkungan (info cuaca, angin dan lain sebagainya).

Tidak hanya itu, Farih juga diajari tentang; Gerak yaw, pitch, dan roll proses drone meninggalkan landasan dan Pendaratan.

Selain itu, oleh para mentor, dalam kesempatan tersebut, Farih juga diajari bagaimana cara merekam video dan foto pada drone.

Saat praktek menerbangkan drone, drone diterbangkan di sekitar Hutan Mini Yayasan Palung.

Adapun jenis drone yang dipakai pada peningkatan kapasitas tersebut adalah Drone Dji Phantom 4 Pro. (Pit-YP).

(Yayasan Palung)