
Orangutan yang dibunuh dan di konsumsi oleh pemburu. Borneonews/Roni Sahala
Tidak hanya dibunuh, kejamnya lagi, daging orangutan tersebut mereka makan (para pemburu) beramai-ramai. Tentu perbuatan seperti ini tidak seharusnya dilakukan dan terjadi. Selain juga tindakan (perbuatan) tersebut keji dan melanggar hukum, hal ini terjadi di Kapuas, Kalteng, (14/2/2017) kemarin.
Mengutip dari laman detik.com, peristiwa itu diketahui setelah masyarakat melaporkan kejadian tersebut kepada Wakil Ketua Komisi IV DPR Daniel Johan. Komisi IV sendiri memang membidangi masalah kehutanan.
Baca;https://news.detik.com/berita/d-3422098/anggota-dpr-terima-aduan-orangutan-di-kalteng-dibunuh-dan-dimasak dan http://www.borneonews.co.id/berita/52114-ngeri-bangkai-orangutan-ini-diolah-untuk-dimakan .
Sebagai satwa yang sangat terancam punah (endemik) atau dengan kata lain masuk dalam daftar merah/red list dan dilindungi oleh Undang-undang sudah sepatutnya untuk terus dijaga dan dilindungi apa lagi membunuh atau memakan orangutan sebagai satwa yang dilindungi tersebut. Baca;http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/orangutan-sangat-terancam-punah-apa-yang-harus-dilakukan_5822e879cb23bd1023027133.
Peristiwa yang terjadi ini pun seakan menambah derita panjang tentang nasib satwa yang dilindungi keadaannya (kondisinya) kini semakin terancam akibat semakin menyempit untuk perluasan lahan berskala besar dan diperparah lagi dengan kasus perburuan yang juga masih saja masif terjadi.
Suatu tidakan yang boleh dikatakan keji tersebut sudah seharusnya untuk dikecam dan berharap harus ada sangsi tegas dan tindakan untuk efek jera terhadap pelaku sesuai dengan sanksi tata aturan yang berlaku. Dengan harapan tidak ada lagi terjadi kasus-kasus seperti ini secara berulang dan jangan sampai terjadi pada satwa-satwa dilindungi terlebih orangutan sebagai satwa endemik.
Mengingat, satwa dilindungi semakin terancam dan semakin langka menjelang terkikis habis termasuk habitat satwa berupa hutan. Maka dari itu, perlu upaya-upaya perlindungan dan kelestarian satwa-satwa dilindungi dengan ragam pendekatan kepada masyarakat seperti sosialisasi (penyadartahuan) tentang satwa dilindungi, edukasi dan informasi satwa dilindungi dan beragam kegiatan lainnya yang mungkin bisa untuk mencegah hal ini agar tidak terjadi lagi.
Selain itu juga harus ada sanksi tegas terhadap para pelaku yang melakukan kejahatan terhadap satwa dilindungi. Tentunya, diperlukan peran serta dari semua pihak secara bersama pula tanpa terkecuali untuk menjaga dan melestarikannya (pelestarian), termasuk perlindungan terhadap hak hidup dari satwa dilindungi lainnya.
Nasib hidup satwa dilindungi untuk terus berlanjut dan lestari ada pada kepedulian dari kita semua tidak hanya pemerintah, lembaga-lembaga konservasi lingkungan dan lembaga yang focus pada kelestarian satwa serta siapa saja. Apabila tidak, maka akan dikhawatirkan kasus-kasus seperti ini akan terulang dan satwa dilindungi akan semakin terancam punah bahkan punah di alamnya dalam waktu singkat. Berharap, semoga aparat penegak hukum bertindak tegas dan segera memproses secara hukum supaya kasus seperti ini tidak terulang lagi.
Tulisan ini juga sebelumnya telah dimuat di Kompasiana :Astaga, Ada Pembantaian Keji terhadap Orangutan di Kapuas
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Lomba Menggambar. Foto dok. RebonK
Dalam rangka memperingati hari Primata Indonesia 2017, Relawan RebonK (Relawan Untuk Konservasi) mengadakan lomba menggambar tingkat SMP dan SMA di Kabupaten Kayong Utara.
Lomba dengan mengusung tema; “Jangan Beli Primata”. Gambar karyamu dengan sekreatif mungkin sesuai tema. Gambar karyamu di kertas HVS F4.
Selanjutnya Upload karyamu di Facebook atau Instagram. Jangan lupa tandai ke akun Facebook dan Instagram RebonK, sertakan (Tagar) #REBONK.
Upload karya/gambarmu sebelum tanggal 28 Januari 2017. FB: REBONK YP, Instagram: @efan_juniansyah.
Hadiah bagi pemenang berupa; Tas Adventure, Sendal Gunung dan Topi.
Tertanda
REBONK

Tikar pandan dari kreasi jari jemari pengajin. Foto dok. Yayasan Palung
“ Hasil dari menganyam daun pandan, pengrajin bisa merenovasi rumah dan dapat membeli Perhiasan”
Setidaknya salah satu program pendampingan masyarakat yang berada dikawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) salah satunya adalah untuk mengangkat perekonomian masyarakat melalui bidang kerajinan tradisional yang ada di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Potensi SDA dan SDM yang ada di sekitar TNGP sangat mendukung untuk meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu berupa pandan dan nipah. Hal inilah yang mendorong Yayasan Palung untuk membina para pengrajin hasil hutan bukan kayu (HHBK) hingga para pengrajin menuai cerita sukses, salah satunya dengan mengayam pandan mereka meningkatan ekonomi sehari-hari, tidak terkecuali merenovasi rumah hingga dapat membeli perhiasan.

Dari menganyam, pengrajin bisa merenovsi rumah, membeli kendaraan dan perhiasan. Foto dok. Yayasan Palung
Sudah 5 tahun sejak tahun 2011, Tim Sustainable Livelihood (SL-YP) melakukan pembinaan dan pendampingan kepada komunitas pengrajin tradisional yang ada disekitar TNGP. Banyak cerita sukses yang dialami dan dirasakan masyarakat baik itu peningkatan kapasitas melalui kegiatan pelatihan. Terbangunnya pola fikir dan pengetahuan akan hal-hal yang baru telah mengantar beberapa pengrajin menjadi narasumber atau dengan kata lain menjadi instruktur/pelatihan yang diadakan oleh lembaga mitra bahkan instansi Pemerintah Daerah. Lancarnya pemasaran produk yang terjalin berkat kerjasama (bersama) DEKRANASDA KKU telah membuat komunitas pengrajin menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas yang salah satunya mampu meningkatnya pendapatan komunitas pengrajin secara signifikan pada kehidupan masyarakat atau komunitas pengrajin tersebut.

Para pengrajin sering mengadakan pertemuan rutin. Foto dok. Yayasan Palung
Sudah cukup banyak testimoni (kesaksian) pengrajin yang merasakan hasil dari penjualan kerajinan pandan tersebut dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat pengrajin. Mulai dari membeli kendaraan (motor), membeli perhiasan, merenovasi rumah, membantu biaya pendidikan anak, membeli perabot rumah tangga, hingga kepada pemenuhan akan kebutuhan sandang dan pangan.
Inilah yang dialami dan dirasakan oleh dua orang pengrajin yaitu Ibu Ayu Baiti kelompok HHBK Karya Sejahtera dari Desa Sejahtera dan Ibu Rajemah kelompok HHBK Peramas Indah dari Desa Pangkalan Buton di Kabupaten Kayong Utara.
Melalui penjualan kerajinan pandan Ibu Ayu Baiti dari kelompok HHBK Karya Sejahtera mampu membeli perhiasan berupa gelang dan dua buah cincin emas. Ini adalah desakan dari anak-anaknya karena mengingat usianya yang sudah hampir mencapai 55 tahun. Sebenarnya tidak hanya membeli perhiasan saja, menurut Ibu Ayu Baiti pada tahun 2012 setelah pembentukan kelompok Karya Sejahtera, beliau mendapatkan hasil dari penjualan produk kerajinan pandan melalui event pameran Expo KKU dan mendapatkan hasil sekitar Rp 2,5 juta. Uang yang terkumpul dijadikannya sebagai uang muka untuk beli (kredit) motor dan untuk pembayaran setiap bulannya beliau menggunakan uang dari hasil penjualan kerajinan pandan yang difasilitasi oleh Yayasan Palung dan DEKRANASDA KKU. Hingga 3 tahun lebih lamanya, kredit motor tersebut akhirnya bisa dilunasi oleh Bu Ayu Baiti melalui penjualan kerajinan pandan.

Tikar Pandan. Foto dok. Yayasan Palung
Cerita serupa dialami oleh Ibu Rajemah dari kelompok HHBK Peramas Indah. Pendapatan dari hasil kerajinan pandan digunakannya untuk merenovasi rumahnya yaitu membuat teras rumah dengan menggunakan lantai keramik. Menurut ibu Rajemah ini untuk kenang-kenangan dari hasil kerajinan pandan. Tidak hanya dengan melakukan renovasi rumah, Bu Rajemah bisa membiayai anaknya ke Perguruan Tinggi di Pontianak dari hasil penjualan kerajinan ini. Karena penghasilan setiap bulan dari penjualan ini cukup untuk biaya anak sekolah dan kadang-kadang sudah melebihi dalam pemenuhan akan kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangganya.
Bu Ayu Baiti dan Bu Rajemah merupakan contoh pengrajin yang menikmati hasil dari program ekonomi alternatif Yayasan Palung melalui pendekatan anyaman kerajinan tradisional ini. Sebenarnya masih banyak masyarakat pengrajin atau penerima manfaat yang merasakan hasil dan keuntungan dari program tersebut. Sebut saja Ibu Hatimah, Ibu Aisyah, Ibu Ramlah, Ibu Ida, Ibu Norani, Bu Asnah, Bu Salmiah, Pak Darwani dan masih banyak lagi pengrajin lainnya. Menurut masyarakat pengrajin, hasil penjualan kerajinan mereka sejak bersama Yayasan Palung telah meningkat secara signifikan dan bahkan bisa membuat mereka untuk menabung. Hasil penjualan setiap bulan bisa digunakan untuk kebutuhan biaya makan dan minum dan bahkan bisa digunakan untuk memenuhi keperluan lain selain ditabung.
Ini adalah cerita sukses dari masyarakat pengrajin HHBK yang berada disekitar kawasan TNGP. Informasi yang dituliskan dalam artikel ini diperoleh dari kegiatan monitoring yang secara rutin dilakukan oleh tim SL-YP ke masyarakat pengrajin. Semoga program ini bisa terus bermanfaat bagi masyarakat disekitar TNGP. Salam lestari.
Penulis : Wendi Tamariska, Sy. Abdul Samad dan Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Foto Komik BOCS 2017. Yayasan Palung
Klik di sini untuk melihat komik BOCS 2017 :komik-bocs-tahun-2017-dok-yayasan-palung-dan-bocs
Siapkan Diri Kamu Untuk Peruntungan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan (BOCS). Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Yayasan Palung (YP) bersama dengan Orangutan Republik Foundation (OURF) menyediakan 6 (enam) beasiswa program S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship) 2017.
Mengingat, Yayasan Palung merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Adapun tujuan dari program beasiswa ini antara lain adalah untuk ; Pertama, Melahirkan generasi intelektual Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang mempunyai komitmen dan kepedulian yang tinggi terhadap upaya perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan dan habitatnya. Kedua, Memberikan dukungan moril dan materil kepada generasi muda Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara untuk meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Ketiga, Memajukan kerjasama pendidikan tentang potensi kekayaan alam lokal antara pihak-pihak di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
Sedangkan untuk syarat dan ketentuan Penerima Beasiswa orangutan antara lain; 1. Yang berhak menerima beasiswa ini adalah calon mahasiswa/i yang berasal dari Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, diutamakan yang kurang mampu secara ekonomi. 2. Diusulkan oleh pihak sekolah dan atau atas usulan siswa bersangkutan namun meminta rekomendasi dari pihak sekolah. Setiap sekolah berhak mengusulkan 2 (dua) orang siswa. 3. Diperuntukkan bagi calon mahasiswa/i yang berencana kuliah di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Propinsi Kalimantan Barat. 4. Bersedia melakukan penelitian skripsi berkaitan dengan aspek-aspek perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan. 5. Memiliki prestasi yang baik, berkomitmen untuk konservasi dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar / kuliah hingga selesai.
Sedangkan Persyaratan Pendaftaran: Formulir pendaftaran dapat diperoleh di sekolah masing-masing, diisi dengan lengkap ;
Sedangkan tahap seleksi dimulai dengan seleksi berkas, motivation letter dan esai. Peserta yang lulus seleksi tahap I ini akan mengikuti tahap seleksi II / akhir. Surat pemberitahuan hasil seleksi tahap I akan dikirim ke sekolah-sekolah, juga akan ada pemberitahuan kepada pendaftar melalui telpon dan pesan singkat (sms) pada 17 Maret 2017.
Seleksi lanjutan, yaitu presentasi dan wawancara. Peserta seleksi diwajibkan mempresentasikan motivation letter, alasan memilih fakultas dan jurusan di UNTAN dan esai yang disajikan dalam power point (ppt), serta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tim juri. Seleksi ini akan dilaksanakan pada 28 Maret 2017 di Kantor Yayasan Palung di Ketapang. Nilai seleksi tahap I tidak ditambahkan pada nilai seleksi tahap II, nilai seleksi tahap I hanya untuk penentuan peserta seleksi tahap II.
Sedangkan pengumuman penerima beasiswa yang lulus seleksi tahap akhir akan disampaikan melalui surat resmi kepada pihak sekolah pada tanggal 28 Maret 2017. Selanjutnya, penerima beasiswa yang lulus seleksi akan menandatangani Kesepakatan Penerima Beasiswa pada Malam Anugrah Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan pada Juni 2017 (jadwal masih tentatif).
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Yayasan Palung, Jl. Kol. Sugiono Gg. H. Tarmizi No. 5 Ketapang. (Telp/Fax: 3036367) dan Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung Bentangor, Dusun Pampang Desa Pampang Harapan, Kec. Sukadana, KKU.
By : Yayasan Palung

Katak dan kodok. Foto Capture dari Info Hewan – pinterest.com
Di hutan hujan, terlebih di Indonesia dari Sabang hingga Merauke hampir dipastikan kita akan menjumpai kedua hewan Amfibi ini (hewan yang hidup di air dan darat). Baik katak atau pun kodok sangat sering kita jumpai saat kita berada di hutan, di tepian sungai ataupun di jalan. Katak dan Kodok dilihat sepintas terlihat sama, tetapi ternyata keduanya memiliki perbedaan.
Apa saja perbedaan Katak dan kodok yang dimaksud?. Margie Surahman, Mahasiswa FMIPA Universitas Tanjungpura mempresentasi hasil penelitian skripsinya tentang Katak di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) Kalimantan Barat, pada Kamis (5/1/2017), pekan lalu.
Margie Surahman, Mahasiswa FMIPA Universitas Tanjungpura mempresentasi hasil penelitian skripsinya tentang Katak di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) Kalimantan Barat, pada Kamis (5/1/2017), pekan lalu.

Saat Margie Surahman, Mahasiswa FMIPA Universitas Tanjungpura mempresentasi hasil penelitian skripsinya tentang Katak di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) Kalimantan Barat. Foto dok. Mayi, Yayasan Palung
Margie memaparkan persentasinya di Kantor Yayasan Palung. Margie menjelaskan, segala sesuatu tentang mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak terkecuali Katak dan kodok dapat dilihat dari Morfologi (tampak fisik) dan Morfometri (ukuran dan bentuk) dari hasil analisis dan penelitiannya.
Adapun ciri-ciri katak seperti memiliki kulit halus, berlendir, memiliki kaki yang panjang dan kuat serta berselaput. Dengan memiliki kaki yang panjang terlihat mempermudah katak dalam melompat ataupun memanjat, tutur Margie.
Sedangkan ciri-ciri khusus kodok antara lain adalah memiliki kulit yang kasar, bintik-bintik (bentol-bentol) timbul, lanjutnya lagi. Ukurannya Katak dengan nama latin Paedophryne amauensis merupakan katak terkecil dengan ukuran 7 mm ditemukan di Papua Nugini oleh para ilmuwan, (sumber data: BBC Indonesia).
Untuk Kodok ukuran terbesar di dunia bisa wisatawan jumpai di Kamerun dan sekitarnya. Namanya Goliath Frog dengan panjang 30 cm dan berat 3 kg, (Sumber: Travel Detik).
Makanan kesukaan dari kodok dan katak adalah jenis serangga seperti belalang kecil (jangkrik), kunang-kunang dan nyamuk.
Edward Tang, selaku Koordinator Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan; Katak dan kodok merupakan salah satu bio indikator (indikasi/tanda) yang terdapat di alam. Sehigga bila disalah satu ekosistem masih banyak ditemukan jenis jenis kodok maupun katak, bisa dipastikan bahwa kondisi ekosistem tersebut masih baik alias belum tercemar.
Menurut data dari Info Hewan menyebutkan; Dari segi klasifikasinya, Katak termasuk ke dalam famili Ranidae (ada sekitar 400 spesies), sementara Kodok termasuk ke dalam famili Bufonidae (ada sekitar 300 spesies). Katak memiliki mata yang menonjol, bulat dan berada pada posisi yang tinggi. Sedangkan mata kodok berada pada posisi yang rendah, serta tidak menonjol layaknya Katak.
Tulisan ini juga pernah di muat di Kompasiana, Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/setidaknya-inilah-perbedaan-katak-dan-kodok_5878b4b9537a61440917cd79
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Edward Tang saat menjadi Narasumber di radio RKU. Foto dok. Tang, Yayasan Palung
Sejujurnya tidak sedikit media yang bisa dipakai sebagai sarana penyampain informasi berkaitan dengan konservasi, tidak terkecuali lewat radio. Melalui radio cara ini dapat menggaungkan konservasi kepada masyarakat dapat dilakukan secara sederhana, dikupas dengan menarik dan masyarakat memperoleh informasi baru dengan mudah.
Hal inilah yang dilakukan oleh radio RKU (Radio Kayong Utara) 101,5 FM bersama Yayasan Palung sebagai bentuk kerjasama untuk melakukan kampanye konservasi yang tujuan sebagai bentuk kampanye penyadartahuan kepada masyarakat di Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.
Adapun bentuk kerjasamanya antara lain adalah Yayasan Palung (YP) berkesempatan hadir untuk memberikan informasi, dalam hal ini YP selalu diminta untuk mengisi acara atau pun juga menjadi narasumber terkait tema-tema lingkungan.
Seperti misalnya, di beberapa kesempatan Yayasan Palung memberikan informasi lingkungan dengan mengetengahkan tema dan pembahasan tentang Pemanasan global, pada (18/12/2016), tahun lalu. Sebagai narasumber Edward Tang, Koordinator Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung dan Emiwati, salah satu penyiar radio RKU membahas tentang, peran hutan sebagai salah satu penangkal efek rumah kaca, betapa pentingnya hutan sebagai penyaring pencemaran udara. Demikian juga disampaikan oleh Tang, dengan adanya hutan maka suhu masih bisa tetap stabil atau normal. selian itu karena adanya hutan di sukadana, bisa dibuktikan dengan berlimpahnya ketersediaan air bersih yang tidak dimiliki oleh kabupate lain seperti Ketapang. Apabila hutan tidak cukup banyak tersedia dapat pula menyebabkan anomali cuaca (cuaca tidak menentu) yang tidak jarang juga merugikan masyarakat seperti petani, nelayan dan masyarakat kebanyakan.
Selain itu juga pada (8 Januari 2017) pekan lalu, Edward Tang kembali hadir bersama radio RKU untuk menyampaikan materi terkait “Peran Hutan bagi Kesejahteraan Masyarakat”, materi siaran ini disampaikan sebagai salah satu tujuan penyampaian informasi dan konservasi bagi masyarakat di Wilayah Sukadana dan sekitarnya untuk bersama-sama menjaga hutan sebagai penyambung nafas, sumber kehidupan hingga nanti.
Dalam sesi tanya jawab via telepon radio, ada masukan dari pendengar radio yang mengabarkan terkait Gunung Cik Kadir yang letaknya di Kawasan Pantai Pulau Datok, Sukadana, penelpon mengabarkan bahwa Gunung Cik Kadir tanahnya kerap kali diambil, bahkan bagian gunung ada yang telah hilang karena tanahnya diambil (dikeruk) sehingga sangat mengganggu pemandangan yang seharusnya hijau dan indah karena tepat berada di kawasan wisata Pantai Pulau datok. Selain itu juga, penelpon menanyakan tentang tapal batas mereka dengan Taman Nasional, tetapi untuk menjawab tersebut pemateri radio Edward Tang menjawab; Ia tidak memiliki kewenangan untuk menjelaskan batas-batas Taman Nasional. Lebih lanjut menurutnya, ada instansi yang memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Sekilas tentang Radio RKU. Radio RKU, 101,5 FM merupakan radio lokal milik Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara, Kalbar. Radio tersebut baru berdiri sejak pertengahan tahun 2016 lalu. Radio RKU sebagai media yang disediakan oleh pemerintah setempat dalam menyebarkan informasi kepada masyarakatnya terkait program-program pemerintah, informasi pendidikan, budaya dan lingkungan.
Beberapa relawan REBONK (Relawan Konservasi) binaan Yayasan Palung berkesempatan juga untuk diajak oleh pihak dari radio RKU untuk secara sukarela menyiarkan dan menggaungkan konservasi di Tanah Kayong. Semoga dengan kampanye lewat radio semakin memberikan pengaruh besar bagi masyarakat untuk semakin peduli dengan lingkungan sosial, budaya dan lingkungan hidup di sekitar mereka terutama hutan. semoga saja…
Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana.com : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/lewat-radio-gaungkan-konservasi-lingkungan_5875c32ff49273d8048b456f
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Seperti diketahui, saat ini populasi Orangutan liar di Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Ketapang dan Kabupaten kayong Utara hampir dipastikan secara terus menerus populasi orangutan dalam beberapa decade terakhir ini semakin menurun akibat hilangnya hutan dataran rendah. Berdasarkan rekapitulasi data investigasi dan penyelamatan dari Yayasan Palung dari tahun 2004-2016, menyebutkan jumlah orangutan yang tidak sedikit yang diinvestigasi dan diselamatkan terkait berbagai ancaman terhadap populasi dan habitat orangutan.

Adapun data dari tahun ke tahun terkait rekapitulasi investigasi dan penyelamatan terhadap orangutan di Kalimantan Barat, lebih khusus di dua Kabupaten, Ketapang dan Kayong Utara adalah 161 individu orangutan yang diinvestigasi dan diselamatkan (rescue) ada 150 individu orangutan.
Dari data tersebut, setidaknya hal ini terjadi erat terkaitnya dengan ancaman habitat dan populasi orangutan. Tidak bisa disangkal, kecepatan penurunan populasi orangutan dan habitatnya dengan ditandai masuknya investasi di kawasan hutan yang masih terdapat populasi orangutan diantaranya investasi pembukaan lahan berskala besar seperti perkebunan dan pertambangan.
Hal lain terkait ancaman orangutan di habitat adalah Di tengah upaya penyelamatan orangutan yang gencar didengungkan, tetapi praktek pemusnahan secara terselubung terus saja berlangsung. Perburuan dan perdagangan orangutan menjadi usaha untuk meraup keuntungan. Orangutan di dua Kabupaten ini selalu diburu, ditangkap untuk menjadi hewan peliharaan rumah, dan diperdagangkan. Meski ancaman hukuman bagi pelaku perburuan dan perdagangan orangutan cukup berat namun praktek ini masih marak terjadi. Mengingat, dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan tegas menyebut, “Setiap orang dilarang menangkap, membunuh, memiliki, memelihara dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup, mati atau bagianbagian tubuhnya. Pelanggaran terhadap Undang-undang ini dihukum 5 tahun penjara atau denda 100 juta rupiah”.
Kasus perburuan, pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di dua Kabupaten ini (Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara) juga merupakan salah satu ancaman yang sangat serius bagi kelestarian Orangutan serta satwa lainnya. Perburuan Orangutan di dua kabupaten ini kebanyakan bersifat opurtunis artinya Orangutan bukan menjadi buruan utama para pemburu. Kasus perburuan sering terjadi ketika para pemburu mencari rusa, babi, kijang dan sebagainya secara kebetulan menjumpai Orangutan. Ketika hal itu terjadi biasanya Orangutanlangsung di buru dengan cara membunuh induk serta mengambil anak Orangutan baik untuk dipelihara maupun dijual kepada orang yang memiliki hoby memelihara. Sedangkan induk Orangutan yang mati kadang-kadang diambil untuk di kosumsi sebagai makanan.
Seperti misalnya pada tahun 2004-2014, Akibat masih terjadinya perburuan secara oportunis tersebut membawa dampak terhadap kasus pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan Yayasan Palung sejak tahun 2004 s/d 2014 teridentifikasi 145 kasus pemeliharaan Orangutan, 89 Kelempiau, 28 satwa lainnya (Beruang Madu, Bekantan, Trenggiling, Burung Enggang, dan sebagainya) yang dilakukan masyarakat. Kasus pemeliharaan khususnya Orangutan terjadi baik di pemukiman masyarakat, areal perkebunan sawit, dan areal pertambangan.

Dari 117 satwa lainnya yang teridentifikasi pada tahun 2004 hingga tahun 2014 sebanyak 79 %, 89 ekor adalah Kelempiau. Hal ini membuktikan bahwa kera sangat terancam di daerah Ketapang dan Kayong Utara. Selain itu juga dilihat dari tabel 1 diatas bahwa hasil monitoring setiap tahunnya tidak bisa dijadikan kesimpulan bahwa tingkat kasus pemeliharaan menunjukkan tren penurunan atau kenaikan. Dimana pada tahun 2004, Yayasan Palung mulai melakukan monitoring seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara baik wilayah yang berada di pesisir pantai maupun di wilayah pedalaman.
Orangutan Borneo merupakan salah satu jenis primata yang menjadi bagian penting dari kekayaan keanekaragaman hayati dan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Orangutan Borneo sebagian besar mendiami hutan dataran dan hutan rawa di Sabah, bagian barat daya Sarawak, Kalimantan Timur, serta bagian barat daya Kalimantan antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito. Oleh karena itu, populasi Orangutan Borneo disepakati dibedakan menjadi tiga sub spesies yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang terdapat di bagian barat laut Kalimantan yaitu Utara dari Sungai Kepuas sampai ke timur laut Sarawak, Pongo pygmaeus wurmbii yang hidup dibagian selatan dan barat daya Kalimantan yaitu antara sebelah selatan Sungai Kapuas dan barat Sungai Barito dan Pongo pygmaeus morio yang hidup di Sabah sampai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.
Seperti di ketahui, penyelamatan orangutan dan habitatnya berarti menyelamatkan ekosistem dari kehancuran yang bisa memberi bencana bagi masyarakat luas. Menyelamatkan orangutan dan habitatnya berarti menjamin kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang karena habitat orangutan yang terpelihara dengan baik akan menjamin kelangsungan jasa ekologi yang penting yang diutuhkan oleh masyarakat luas. Sampai saat ini, yang menjadi persoalan lain adalah tempat hidup baru bagi orangutan yang telah diselamatkan. Seperti diketahui, saat ini orangutan yang diselamatkan (rescue) kesulitan rumah baru mereka berupa hutan. Banyak kawasan hutan yang telah terbuka dan tidak layak untuk tempat pelepasliaran orangutan.
Oleh karena itu kepada semua pihak yang terlibat, baik pemerintah pusat, provinsi, Kabupaten pihak swasta serta masyarakat luas harus benar-benar melaksanakan komitmen penyelamatan Orangutan di Kalimantan Barat khususnya di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Semoga orangutan di Tanah Kayong (Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara) dapat terjaga dan semua pihak dalam mendukung konservasi Orangutan sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa yang juga sebagai satwa endemik dapat lestari hingga nanti.
Tulisan ini juga pernah dimuat di Kompasiana.com : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-data-investigasi-dan-penyelamatan-orangutan-tahun-2004-2016-ditanah-kayong_58747d3e4f7a61c9125e61fa
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Beberapa jenis jamur makroskopis. Foto dok. Ogi dan Yayasan Palung
Jamur (Fungi, spp) di masyarakat kita Indonesia secara khusus di hutan tropis banyak terdapat banyak jenis tumbuhan jamur. Tidak terkecuali jamur makroskopis yang ternyata memiliki manfaat dan sekaligus juga ada yang berbahaya.
Berdasarkan hasil penelitian jamur yang dilakukan oleh Ogi Prayogo, Mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak melakukan penelitian di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, awal Desember 2016, tahun lalu.
Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan tersebut tidak lain untuk menginventarisasi jenis-jenis jamur makroskopis yang terdapat di kawasan Cabang Panti Taman Nasional Gunung Palung.
Lalu, apa jamur Makroskopis itu?. Jamur makroskopis merupakan jamur yang memiliki tubuh buah, berukuran besar kurang lebih (1 mm), tersusun atas miselia dan dapat dilihat secara langsung dengan bentuk yang jelas. Jamur makroskopis penting untuk dilestarikan, karena dapat digunakan sebagai bahan pangan, obat-obatan serta berperan pada proses dekomposisi (jenis reaksi kimia dimana senyawa dipecah menjadi komponen yang lebih sederhana).
Dalam penjelasannya pada peresentasinya di Kantor Yayasan Palung pada awal Desember 2016, tahun lalu, Ogi sapaan akrabnya mengatakan; “Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh sekitar 150 jenis jamur yang berbeda dan telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis”.
Dua puluh jenis jamur makroskopis dari hasil penelitian yang teridentifikasi antara lain adalah: Russula sardonia, Russula fragilis, Lactarius vellereus, Lactarius sp., Coltricia perennis, Calostoma sp., Scleroderma sp., Hydnum sp., Marasmius androsaceus, Marasmius sp., Fomes sp., Calocera cornea, Xylaria sp., Xylaria cosmosoides, Auricularia sp., Cookeina tricholoma, Hygrocybe coccinea , Hygrocybe Laeta dan Ganoderma sp.
Jamur makroskopis dapat dijadikan sebagai sumber pangan dan bahan obat-obatan. Jamur makroskopis yang dapat dimakan biasa dimanfaatkan masyarakat sebagai hidangan menu dalam menyantap makanan dan dapat pula digunakan sebagai obat-obatan. Yigibalom dkk. (2014) menyatakan bahwa kandungan protein pada jamur cukup tinggi, hal ini dapat dibuktikan melalui hasil penelitiannya di wilayah Beam, Distrik Makki, Papua terhadap kandungan protein jamur yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat lokal. Jamur yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat lokal Beam memiliki kadar protein antara 18,91% sampai 35,03%. Menurut Montoya dkk. (2002) dalam hasil penelitiannya dikatakan bahwa jamur makroskopis dapat digunakan pada pengobatan tradisional, seperti Lycoperdon perlatum dan Ustilago maydis. Selain sebagai obat, jamur Ustilago maydis juga dapat dimanfaatkan sebagai kosmetik. Jamur makroskopis juga bisa dimanfaatkan sebagai insektisida dan bahan bakar, seperti Amanita muscaria dan Fomitopsis pinicola. (Sumber data dari persentasi Ogi Prayogo, tahun 2016). Jamur makroskopis adalah salah satu dari komponen penting ekosistem hutan. Peran jamur makroskopis bagi ekosistem adalah sebagai dekomposer (pengurai) yang mempercepat siklus materi dalam ekosistem hutan dengan memainkan peran penting pada daur ulang nutrisi (Tapwal dkk. 2013). Jamur makroskopis dapat ditemukan di berbagai bahan organik seperti tanah, humus, kayu, serasah dan kotoran hewan (Widhiastuti dan Nurtjahja, 2013).
Jamur makroskopis ada yang beracun dan tidak beracun jika dikonsumsi. Jamur beracun jika dikonsumsi dapat mengakibatkan gangguan pada saluran pencernaan. Menurut Badsar dkk. (2013) berdasarkan hasil penelitiannya terhadap kasus keracunan jamur pada pasien Rumah Sakit Rasht Iran, menyatakan bahwa gejala yang ditimbulkan dari akibat keracunan jamur adalah iritasi gastrointestinal. Gejala-gejala yang dapat dirasakan pada saat seseorang keracunan jamur adalah diare, sakit perut, mual dan muntah.
Jamur makroskopis juga ternyata memiliki ciri khas (karakteristik) seperti yang dikemukan oleh McKnight dan McKnight (1987) menyatakan bahwa Tudung (cap) pada jamur makroskopis dapat dijadikan karakterisasi untuk mengidentifikasi jenis karena memiliki bentuk morfologi yang berbeda-beda. Bagian-bagian dari tudung yang menjadi karakter identifikasi dikelompokkan menjadi beberapa kategori antara lain tekstur permukaan tudung, tipe sisik permukaan tudung, garis tepi tudung dan irisan membujur tudung. Variasi bentuk dari tudung adalah conic (kerucut), depressed (tertekan), humped (bungkuk), flat (datar), truncate (terpotong), bell-shaped (bentuk jam), funnel–shaped (bentuk corong), elliptic (bulat panjang), ovoid (bulat telur), globose (bundar) dan cylindric (silinder). Tekstur permukaan tudung terdiri dari smooth (halus), powdery (bertepung), felty (berbulu) dan fibrillose (bergaris halus). Tipe sisik permukaan tudung dibagi menjadi recurved (bengkok), pyramidal (piramid), fibrillose (bergaris halus), scurfy (berbutir kasar). Garis tepi tudung dibedakan menjadi entire (rata), scalloped (bergigi), idented (bertakuk), crenate (beringgit), lobed (bercuping). Bentuk irisan memanjang tudung dapat dibagi menjadi straight (lurus), inrolled (melingkar kedalam), incurved (melengkung kedalam), upturned (menengadah), recurved (melengkung keluar).
Proses identifikasi pada bagian tudung dapat dilanjutkan melalui pengamatan bentuk lembaran insang (Lamella) dan jarak antar insang. Lembaran insang berdasarkan bentuknya dapat dibedakan menjadi beberapa tipe, seperti Free (bebas), adnexed (menempel), adnate (menempel lurus), decurrent (menempel sampai kearah bawah stipe) dan notched (bertakik). Jarak antar insang jika dilihat dari kerapatannya bisa dibagi menjadi distant (Jauh), sub-distant (agak jauh), close (dekat), crowded (rapat).
Sebagian besar tumbuhan jamur banyak dijumpai di daerah-daerah hutan hujan tropis yang lembab, dengan kelembaban yang tinggi jamur dapat tumbuh secara baik dan apabila terpapae sinar secara langsung maka jamur akan cepat rusak.
Sumber tulisan Presentasi Ogi dan dari berbagai sumber
Tulisan ini juga pernah dimuat di kompasiana :http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/jamur-makroskopis-manfaat-dan-bahayanya-bagi-kehidupan_586cc6adbb93738d0875e11d
Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Dahulu negeri ini surga bagi yang empunya.
Hutan yang luas menghijau, tanah subur makmur, air jernih satwa berkicau.
Manusianya beradat, bertata krama saling menjaga dan menyapa dari hilir sampai ke hulu.
Hutan penuh pohon raksasa, mengundang selera.
Penguasa dan pengusaha, sebagai barang dagangan dalam negeri sampai ke manca negara.
Satwa langka tak luput dari incaran ibu bapanya dijagal.
Anak-anaknya ditangkap untuk tontonan penghibur putra putri orang miskin yang banyak uangnya.
Perlu kita ingatkan anak cucu.
Kita berharap, masih adakah yang tersisa?.
Kalau tidak ada, perkara besar siap menghadang mereka.

Yohanes Terang. Foto dok. Andi Fahrizal Mongabay
Manjau, 15 Mei 2015
Penyampai pesan, Yohanes Terang (Tokoh Masyarakat, Aktivis lingkungan dan Dewan Pengawas Yayasan Palung)

Walaupun tahun 2016 telah berlalu dan tahun 2017 mulai berjalan, mungkin tidak ada salahnya bagi kita semua untuk melihat, mencatat, mengingat kembali peristiwa lingkungan yang terjadi sepanjang 2016 lalu di Indonesia yang tidak lain karena tidak terlepas dari campur tangan manusia.
Setidaknya dalam rentang waktu selama 12 bulan, di tahun 2016 banyak peristiwa berhadapan langsung (yang dialami secara langsung) dan tak langsung dengan kita semua di beberapa wilayah Tanah Air (Indonesia).
Ragam kejadian tentang lingkungan yang terjadi berdasarkan beberapa catatan singkat yang terjadi di Indonesia antara lain adalah:
Pertama, Banjir di beberapa wilayah di Indonesia seperti yang terjadi pada periode Januari- Februari 2016 antara lain di Bali, Bangka Belitung, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Riau, Daerah Istimewa Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sumatra Selatan (sumber ; CCN Indonesia). Beberapa tempat di beberapa wilayah yang menjadi langganan banjir pun tidak pelak menjadi kegaduan sekaligus peristiwa bencana air mata. Berulang dari bulan ke bulan hingga dari tahun ke tahun seolah banjir tak kunjung pergi. Bahkan di penghunjung tahun 2016, beberapa wilayah di Bandung banjir seolah enggan pergi.

Banjir. Foto dok. Kompas/Ismail Zakaria
Bisa jadi ada benarnya bila banjir datang tak lain dikarenakan daya tampung air telah penuh (resapan air) berupa hutan sudah semakin jauh berkurang ataupun bahkan sudah hilang. Selain juga karena saluran air tersumbat oleh semakin banyaknya sampah. Hadirnya banjir ataupun juga banjir bandang juga terkadang berbarengan dengan terjadinya tanah longsor. Tidak jarang korban memakan korban jiwa serta harta.
Kedua, Kebakaran lahan yang menimbulkan Kabut Asap. Kabut asap yang masih terjadi di beberapa tempat seperti di Sumatera dan Kalimantan pada bulan Agustus tahun lalu walau tidah separah ketika pada tahun 2015 silam. Terjadinya kabut asap tidak lain karena adanya pembakaran lahan. Bahkan di tahun 2016, kepolisian Republik Indonesia telah menangkap 463 individu yang diduga pembakar hutan dan lahan. Jumlah itu meningkat drastis dari 2015, yaitu 196 orang (sumber ; BBC Indonesia). Lumpuhnya transportasi udara menjadi salah satu sebab dari terjadinya bencana kabut asap.

Hal lainnnya juga yang tidak kalah terpengaruh dari dampak kabut asap adalah anak sekolah yang bersekolah, dampak dari adanya kabut asap peserta didik diliburkan. Selain juga negara kita kerap mendapat cap sebagai pengekspor asap. Adanya kabut asap tidak hanya mengganggu tetapi juga menghambat/menghentikan pendapatan bagi beberapa maskapai penerbagan dan yang pasti juga menjadi kerugian bagi para pelaku ekonomi ataupun juga masyarakat biasa yang beraktivitas sehari-hari. Sedangkan bagi anak sekolah, proses belajar mengajar di sekolah menjadi terganggu lagi-lagi karena asap. Semakin luas pembukaan lahan berskala besar menjadi tutupan hutan dari tahun ke tahun semakin berkurang menjelang terkikis habis.
Selanjutnya keterancaman satwa di habitat hidupnya menjadi catatan penting pada tahun 2016, Misalnya, pada tahun 2016 saja berdasarkan data penyelamatan satwa yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat saja telah menyelamatkan 1053 Tumbuhan dan Satwa dilindungi dari tangan para kolektor, dan penjual ilegal. Tidak bisa disangkal, perburuan dan semakin menyempitnya habitat hidup satwa seperti orangutan, kelempiau, burung enggang, trenggiling dan tumbuhan endemik berupa hutan seperti kian menyempit, nyata terancam dan terjadi saat ini.


Paruh Enggang yang diburu oleh para pemburu. Foto dok. Yayasan Palung, Nop 2014
Demikian juga nasib badak, harimau dan beberapa satwa lainnya tidak kalah terancam adalah burung surga (cendrawasih). Bahkan dari tahun ke tahun jumlah dari beberapa makhluk hidup yang disebutkan tersebut kian menurun populasinya (terancam punah).
Kejadian-kejadian (peristiwa) yang terjadi pada semua makhluk hidup sejatinya menjadi sebuah permenungan kita bersama untuk menjadi perhatian bagi semua. Jika lingkungan tempat kita berdiam aman, nyaman maka sudah sepatutnya kita untuk menghargai dan memperlakukan lingkungan hidup (bumi dan segala isinya) untuk kita perlakukan secara bijaksana.
Mengingat, bumi tempat kita hidup bersama beserta segala isinya menjadi sepatutnya untuk kita jaga, rawat dan lestarikan sebagai satu kesatuan makhluk hidup yang memberi dan menerima. Semoga di tahun 2017 lingkungan kita (bumi kita) bisa terjaga dengan baik dan kejadian-kejadian bencana bisa diminimalisir atau dapat dicegah dan tidak memakan korban jiwa dan segala makhluk dapat bernafas dengan lega di tempat hidupnya masing-masing.
Tulisan ini pernah dimuat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/apa-saja-kejadian-lingkungan-yang-terjadi-sepanjang-tahun-2016-di-indonesia_586b6d1ab77a61de061bcb6b
Petrus Kanisius-Yayasan Palung