
Seperti terlihat, beberapa ibu dan Bapak-bapak tampak bersemangat untuk membersihkan lahan yang persis berada di dalam salah satu kebun kelapa milik warga mulai dari kemarin hingga hari ini (20-24/10/2017), mengadakan kegiatan yang bertajuk sekolah lapangan yang berlokasi di Desa Pulau Kumbang, Kayong Utara, Kalbar.
Tak lain, sekolah lapangan yang diadakan itu sebagai salah satu langkah menangkap potensi atau pun peluang jika boleh dikatakan sebagai potensi pendapatan alternatif ekonomi masyarakat yang berkelanjutan, dengan harapan jenis tanaman semusim yang ditanam dan dicampur (agroforestri) dapat menghasilan tanpa terpaku pada satu jenis tanaman.

Kegiatan tersebut dilakukan oleh Yayasan Palung dan ICCTF bersama 5 kelompok mereka berasal dari 5 Desa hutan desa di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar. Seperti diketahui di Wilayah Desa Pulau Kumbang, Desa Pemangkat, Desa Penjalaan, Desa Padu Banjar dan Desa Nipah Kuning merupakan wilayah yang memiliki beberapa tanaman sentra seperti karet, nanas dan kelapa yang menjadi sumber penghasilan dan pendapatan masyarakat selama ini.
Seperti di ketahui, di 5 wilayah Desa itu sebagian besar adalah lahan gambut dalam yang tidak bisa dibuka, namun ada beberapa lahan merupakan yang lahannya tidak gambut dan lahan yang tidak dicampur dengan tanaman lainnya.
Adapun mengapa kegiatan tersebut dilakukan, mengingat di wilayah tersebut beberapa masyarakat sebelumnya menanam tanaman pertanian berbasis pada satu tanaman saja. Namun, tanaman agroforestri sejatinya dapat dicampur dengan jenis tanaman lainnya. Hal tersebut sebagai salah satu tujuan agar petani tidak bergantung kepada satu jenis tanaman saja melainkan dapat berharap banyak kepada jenis tanaman lainnya.
Dalam kegiatan sekolah lapangan tersebut, 5 kelompok dari 5 desa yang terdiri dari 25 orang itu, setelah melakukan pembersihan lahan selanjutnya mereka mencangkul, membuat bedeng setelahnya langsung menanam tanaman campuran (tanaman semusim) tanaman obat dan bumbu seperti jahe, liak merah kunyit, serai dan kencur. Mereka juga menanam pinang sebagai pagar pembatas tanaman dan tanaman pisang. Selain juga tanaman tersebut diselang-seling dengan tanaman nanas. Mereka didampingi oleh tenaga penyuluh pertanian dengan membuat lahan percontohan (demplot) di lahan warga masyarakat dengan luasan kurang lebih 1 hektar.
Tampak seperti terlihat berjejer rapi, tanaman kelapa telah berpadu dengan aneka tanaman semusim lainnya yang baru saja mereka tanam.
Rencananya juga, sekolah lapangan akan dilanjutkan di Desa Padu Banjar dan dilaksanakan pada 25-29 Oktober 2017. Sekolah lapangan tersebut akan melanjutkan penanaman agroforestri berbasis karet.
Pada kegiatan sekolah lapangan tersebut, mereka (peserta) sekolah lapangan didampingi oleh tenaga penyuluh dari Dinas Pertanian Kabupaten Kayong Utara.

Berharap, semoga saja tanaman yang mereka tanam dapat menjadi sumber ekonomi dan berkelanjutan sampai selamanya. Dengan demikian pula, mereka juga bisa berharap banyak kepada tanaman yang mereka tanam bisa menjadi sumber penghasilan baru dan tidak terpaku pada satu jenis tanaman saja. Semoga…
Baca juga tulisan yang sama di Kompasiana : Mengintip Sekolah Lapangan, Belajar Agroforestri, Jangan Terpaku pada Satu Jenis Tanaman
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) kembali digelar tahun ini. Festival yang sudah memasuki penyelenggaraan kedua ini digelar di Taman Menteng, Jakarta, pada 13-15 Oktober 2017, kemarin.
Tahun ini tema festival PARARA adalah “Jaga Tradisi, Rawat Bumi”. Dikutip dari situs panenrayanusantara.com, menjaga tradisi dan merawat Bumi merupakan bentuk kearifan leluhur bangsa Indonesia yang terbukti berhasil dalam mempertahankan kelestarian sumber daya alamnya.
Leluhur bangsa Indonesia hanya mengambil sumber daya alam sesuai kebutuhan dan secara kolektif melakukan pengawasan akan kelestarian alam. PARARA mengajak masyarakat untuk kembali pada praktik leluhur Indonesia, yaitu menjaga tradisi dan merawat Bumi agar sumber daya alam tetap lestari.
PARARA 2017 bukan sekadar perayaan, namun juga terobosan bagi community enterprises (perusahaan berbasis masyarakat) yang berkelanjutan. Festival ini berusaha menjadi katalisator guna mendukung penjualan produk-produk lokal yang berkelanjutan dengan menggaet para pengambil keputusan serta konsumen.
Isu kebijakan lintas sektoral yang mempengaruhi keberhasilan, atau bahkan kegagalan, inisiatif masyarakat di bidang ini akan dibahas selama festival berlangsung. Melanjutkan kesuksesan penyelenggaraan tahun 2015, PARARA 2017 akan menjadi ruang bersama yang mempertemukan produsen, konsumen, serta para pelaku pendukung lainnya untuk berinteraksi dan berkolaborasi guna mempromosikan konsumsi dan pola produksi berkelanjutan di Indonesia.
Yayasan Palung yang juga merupakan bagian dari konsorsium PARARA ikut ambil bagian dalam kegiatan Festival PARARA 2017 dengan menampilkan produk kewirausahaan dari kelompok perajin dampingan Yayasan Palung dari Kabupaten Kayong Utara.
Dalam rangkaian festival PARARA 2017, Yayasan Palung mengikutsertakan 6 perajin yang tersebar di desa-desa di KKU seperti perajin dari Desa Pangkalan Buton dan Desa Sejatera. Para perajin tersebut berasal dari kelompok UKM Ida Craft, UKM Peramas Indah dan Kelompok Karya Sejahtera.
Adapun kreasi yang ditampilkan melalui Stan pameran, YP menampilkan produk-produk lokal seperti kerajinan dan tananaman obat serta rempah-rempah yang berasal dari produk hutan. Semua produk tersebut merupakan produk-produk hasil hutan bukan kayu (hhbk) yang tersebar di sekitar wilayah Taman Nasional Gunung Palung, Kabupaten Kayong Utara.
Tulisan ini juga dimuat di: https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20171011103628-454-247609/merawat-bumi-di-festival-panen-raya
Video liputan saat PARARA 2017 Digelar
Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Pongo adalah nama panggilanku, namaku ada juga yang menyebutku orang utan atau ada pula yang menyebutku orangutan. O iya terkait namaku banyak sekali, ada juga lho yang menyebutku mayas atau mawas. Aku dan kawan-kawanku pongo lainnya berasal dari hutan-hutan Kalimantan dan Sumatera.
Mengapa kami disebut Pongo ya ?. Pongo merupakan nama latinku yaitu Pongo pygmaeus dari Kalimantan dan Pongo abelli dari Sumatera.
Sepanjang waktu aku selalu mengitari (menjelajahi) hutan mencari makan berupa buah-buahan hutan, kulit kayu, serangga, rayap dan daun-daun muda. Sembari bermain dan bersanda gurau dengan sahabat dan sejenisku. Ketika malam hari kami ingin merasakan tidur yang nyenyak, nyaman dan mimpi yang indah. Menjelang malam, aku selalu selalu disibukan untuk membuat sarang baru.
Kami Pongo adalah jenis kera besar yang ada di dunia selain sahabat-sahabat kami seperti Gorila, Simpanse dan Bonobo, mereka tinggal jauh di hutan-hutan Afrika. Mengapa kami disebut kera ya ?, kami disebut kera karena kami tidak memiliki ekor. Sedangkan yang berekor adalah monyet seperti bekantan, kelasi, lutung dan beruk.
Ada juga teman kami sebangsa kera, tetapi mereka kera kecil. Ya, teman-teman kami tersebut adalah kelempiau.
Mengapa kami disebut endemik, ya karena penyebaran populasi dan habitat kami tidak ada di lokasi lain, hanya tersebar di Pulau Borneo dan Sumatera.
Terancam punah karena banyak hal yang terjadi menimpa nasib kami (Pongo) dan sesama kami binatang lainnya. Kami sudah semakin sulit menjelajahi hutan dan berkembang biak. Sedihnya lagi kami selain hilangnya luasan hutan di Sumatera dan Kalimantan juga karena kami sering diburu, dibunuh, dipelihara, diperjualbelikan serta di konsumsi. Itu yang membuat kami (Pongo) sedih teman-temanku manusia.
Jika boleh dikata, aku Pongo dari Kalimantan dan teman-temanku Pongo dari Sumatera kini dilindungi oleh undang-undang lho, tepatnya UU no. 5 tahun 1990. Setiap orang dilarang melukai, membunuh, memilihara satwa dilindungi, mengangkut atau memperdagangkan/memperniagakan. Jika melanggar dihukum dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah. Semoga semua orang dapat peduli dan melindungiku ya?.
Kami (Pongo) dikenal sebagai penyebar biji, dari biji dari sisa-sisa makanan kami kami tebar/sebar/tanam kembali. Adanya kami hutan di sekitar kami pun masih ada, masih bisa tersemai.
Aku dan teman-temanku Pongo yang lainnya kini semakin sulit, hutan sebagai tempat hidup dan berkembang biak kami selama ini sudah semakin habis. Bagaimana nasibku nanti jika hutan sebagai rumah dan nafas hidupku hilang?.
Aku dan sesamaku Pongo yang lainnya hanya bisa berharap, agar hutan sebagai penyambung nyawa kami bisa berlanjut dan sesamaku manusia bisa menjaga melestarikan kami selamanya.
Tulisan ini juga dimuat di :
CNN Indonesia : https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20171013103618-445-248129/si-pongo-endemik-dari-hutan-kalimantan-dan-sumatera
Medium.com : https://medium.com/@petruskanisiuspit/cerpen-si-pongo-endemik-dari-hutan-kalimantan-dan-sumatera-84c46092a7ac
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hari sabtu (7/10/2017) pekan lalu, merupakan hari yang sangat bahagia dan bersejarah bagi Dr. Cheryl Knott dan GPOCP. Alasannya, tak lain karena dihari itu beliau menerima pengargaan lingkungan dengan nama; Pongo Award 2017.
Award tersebut diberikan atas dasar upaya dedikasi Cheryl Knott dalam melakukan penelitian dan melestarikan spesies orangutan di Kalimantan dan memberdayakn masyarakat melalui penyadartahuan selama kurang lebih seperempat abad.
Penghargaan diserahkan secara langsung oleh Yayasan Orangutan Republik di Pasadena, California, Amerika Serikat.
Seperti diketahui Yayasan Orangutan Republik merupakan mitra kami dalam beasiswa peduli orangutan Kalimantan. Terima kasih kepada Orang Utan Republik dan Gary Shapiro untuk menghormati kita dengan cara ini, kata Cheryl Knott dalam sambutannya ketika menerima penghargaan tersebut.
Yayasan OURF (Orang Utan Republik) seperti diketahui merupakan badan amal yang didukung publik dengan misi menyelamatkan orangutan liar melalui inisiatif pendidikan dan proyek kolaboratif yang inovatif. GPOCP sebagai mitra OURF bersama organisasi dan masyarakat Indonesia berupaya untuk mempromosikan pendidikan penjangkauan dan solusi berkelanjutan untuk konservasi orangutan dan habitat hutan hujan jangka panjang salah satunya melalui program beasiswa peduli orangutan. Program pendidikan yang sensitif dan efektif untuk mendorong tindakan konservasi berbasis masyarakat dikembangkan dan dilaksanakan untuk menyelamatkan habitat hutan dan spesiesnya.
Berikut biodata singkat Prof. Cheryl Knott, PhD. Berumur 54 tahun dan merupakan salah seorang profesor Biologi Antropologi di Boston University. Beliau juga mengajar di universitas yang sama. Sebelumnya, Cheryl pernah mengajar di Harvard University. Ibu Cheryl, begitu dia sering disapa juga meneliti tentang orangutan di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sejak tahun 1992 hingga saat ini. Cheryl Knott juga merupakan Eksekutif Direktur Yayasan Palung (YP) atau Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP).
Berharap, semoga hutan dan orangutan bisa lestari hingga nanti sebagai sumber ilmu pengetahuan lebih khusus orangutan sebagai satwa endemik yang saat ini keberadaannya semakin terancam punah.
Tulisan ini juga dimuat di UC News; Ilmuan Cheryl Knott Raih Pongo Award 2017 Atas Konservasi Orangutan di Kalimantan : http://tz.ucweb.com/10_1Eeta
CNN Indonesia : https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20171013161158-454-248216/penghargaan-untuk-sang-pelestari-orangutan
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hamparan hutan yang terlihat masih berdiri kokoh yang berada di Kec. Simpang Dua, Kab. Ketapang, Kalbar, tidak lain berada di Bukit Juring dan bukit Timor tidak bisa disangkal sebagai sumber dari segala sumber bagi sekian banyak warga yang mendiami wilayah tersebut.
Sebuah harapan bila bukit Juring dan Timor akan tetap berdiri kokoh bersama luasan tutupan hutan terakhir biarkan tetap terjaga dengan demikian warga masih boleh berlanjut hingga nanti.
Terkait bukit Juring dan Timor, lebih khusus area hutannya merupakan hutan lindung dan sumber di dalamnya sebagai penghidupan warga. Keberadaan dua bukit (Juring dan Timor) ini diketahui ketika Yayasan Palung mengadakan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Dua Desa (Semandang Kanan dan Gema) di Kec. Simpang Dua, pada 25-29 September 2017 , akhir bulan lalu.
Dalam ekspedisi pendidikan lingkungan yang dilakukan oleh Yayasan Palung selama 5 hari tersebut, salah satu kegiatannya adalah diskusi bersama masyarakat. Dari diskusi tersebutlah diketahui dua bukit (Juring dan Timor) memiliki ragam potensi sebagai nafas bagi kebutuhan hidup bagi tidak sedikit warga.
Ya, bukit Juring yang selama ini masih berdiri kokoh, tepatnya berada di Wilayah Desa Mekaraya dan hilirnya di Desa Semandang Kanan, Kec. Simpang Dua. Demikian juga bukit Timor yang berada di Desa Gema, Kec. Simpang Dua. Kedua bukit (Juring dan Timor) tidak bisa disangkal sebagai nafas hidup bagi banyak warga. Nafas hidup yang dimaksud tidak lain keberadaan hutan yang mengelilingi bukit di wilayah itu sebagai pemenuhan sumber air, penyedia tidak sedikit tanaman obat dan tumbuh-tumbuhan endemik seperti ulin, tengkawang. Hal lainnya yang tidak kalah pentingnya keberadaan hutan yang mengelilingi sebagai penyangga atau pencegah dari berbagai ancaman bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Mengutip dari Kepala Desa Semandang Kanan, Amonius mengatakan; Keberadaan hutan di wilayah bukit Juring sebagai tanda masyarakat masih arif dan bijaksana untuk menjaga lingkungan sekitar. Lebih lanjut menurutnya, pemenuhan akan sumber yang masih tersedia dan gratis diterima oleh warga menjadi satu bukti nyata dan alasan mengapa hutan di sekitar Bukit Juring dan Bukit Timor begitu penting untuk dijaga dan dipelihara keberadaannya.
Peninggalan masyarakat tempo dulu pun seperti jurong (tempat penyimpan padi bagi petani) masih tersedia di wilayah Simpang Dua , mungkin bisa dikelola menjadi menjadi wisata sejarah, jelas Kades Semandang Kanan.
Tersedianya tanaman dan tumbuh-tumbuhan obat yang berada di sekitar hutan pun menjadi sebuah karunia akan kekayaan alam sebagai pemenuhan hidup yang tersedia tanpa harus membeli. Pasak bumi (untuk pemulihan stamina), akar kuning (stamina dan obat hepatitis) sarang semut untuk obat penyakit dalam (kanker), madu kelulut dan lebah (untuk ragam kesehatan), kumis kucing untuk obat panas dalam, proto/patar wali (untuk obat tipes, malaria), akar ilalang untuk obat tipes. Jengkol sebagai sumber pemenuhan kebutuhan sehari-hari, demikian juga halnya dengan pohon aren yang masih terjaga dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pengganti gula pasir, yang tak lain adalah gula aren/gula enau masyarakat setempat menyebutnya.
keberadaan hutan di kedua bukit ini pun menjadi sebuah harapan akan keberlanjutan dan kelestarian lingkungan hidup dan masa depan hingga nanti jika boleh berlanjut.
Hal yang sama juga didukung oleh masyarakat desa lebih khusus di Desa Gema yang berbatasan langsung dengan bukit Timor. Kearifan lokal berupa adat menjadi sesuatu penguat mengapa hutan dan bukit Timor masih ada hingga kini, ungkap Bayen selaku Kepala Desa Gema.
Tidak hanya air, potensi wisata pun menjadi sesuatu hal yang mungkin saja akan dilirik didaerah ini. Keberadaan air terjun Siling Baroban di Desa Gema menjadi tanda nyata sebagai penarik minat yang mulai dikelola saat ini, ujar Kades Gema.
Tidak hanya pentingnya hutan sebagai sumber air tetapi juga sebagai potensi Wisata yang jika dikelola akan menjadi sumber penghasilan di dua wilayah desa tersebut.
Dalam ekspedisi tersebut pula, selain diskusi juga diadakan lecture (ceramah lingkungan) di SMP St. Mikael Simpang Dua, SMPN 3 Simpang Dua, SMAN 1 Simpang Dua dan puppet show (panggung boneka) di SDN 1 Simpang Dua dan SDN 10 Mantuk, Simpang Dua. Selain itu juga mengadakan pemutaran film lingkungan. kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan kampanye penyadartahuan kepada masyarakat terkait hutan, fungsi dan manfaat hutan bagi masyarakat. Pada kesempatan tersebut pula Yayasan Palung mensosialisasikan terkait satwa dilindungi seperti orangutan, enggang, kelasi, kelempiau, trenggiling untuk tidak dipelihara karena diatur oleh undang-undang no 5 tahun 1990 tentang Keanekaragaman hayati dan ekosistem. Bila melanggar maka akan dipenjara 5 tahun penjara dan di denda Rp 100 juta. Mengingat di dua Desa tersebut masih marak terjadi pemiliharaan, perburuan, perdagangan bahkan konsumsi satwa dilindungi.
Hasil diskusi bersama masyarakat tersebut, ada sebuah harapan baik dari warga yang secara tegas menyatakan ingin tetap menjaga lingkungan lebih khusus bukit Juring dan bukit Timor sebagai nafas yang harus berlanjut dengan membiarkan hutan terakhir ini agar tetap terjaga dan terpilihara. Semoga..
Tulisan ini juga dimuat di :
UC News : http://tz.ucweb.com/10_WJzZ
Petrus Kanisius (Pit)-Yayasan Palung

YAYASAN PALUNG merupakan sebuah organisasi konservasi orangutan dan hutan yang mempunyai area kerja di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat membutuhkan 1 orang staf untuk mengisi posisi FIELD OFFICER Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi.
Kualifikasi:
– Sarjana Strata 1, diutamakan dari jurusan Kehutanan, Biologi, Komunikasi, dan Keguruan (Sosial / Biologi / Bahasa).
– Berpengalaman kerja selama 3 tahun dalam bidang mengajar, fasilitasi kegiatan, mengelola program pendidikan luar sekolah atau yang terkait dengan konservasi dan lingkungan
– Menyenangi bekerja dengan anak-anak dalam berbagai tingkatan umur di dalam dan luar ruangan (hutan, pantai, dll)
– Bersedia melakukan perjalanan di berbagai kondisi lapangan (pedesaan, hutan, pantai, dll)
– Menyukai kegiatan-kegiatan kreatif bersama kaum muda
– Bersedia tinggal di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat
Surat lamaran kerja dan curriculum vitae dapat disampaikan melalui email: savegporangutans@gmail.com atau mayi.eugenia@gmail.com paling lambat 27 Oktober 2017, cantumkan dalam judul email “Lamaran Kerja EEFO”.
Yayasan Palung

Bahan bacaan ini merupakan presentasi dari Cheryl Knoot salah satu hasil penelitian terkait primata (kera besar) yang ada didunia.
Baca di sini : Presentasi Ibu Cheryl Knott tentang Primata (Kera Besar)

Rabu pagi (20/9/2017), tampak berbeda dari hari-hari biasanya di Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak. Berbedanya, tidak lain ialah karena adanya kuliah umum yang disampaikan oleh Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP) terkait penelitian, konservasi primata di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).
Pada kuliah umum yang dimulai sejak pukul 08.00 Wib tersebut, acara dibuka langsung oleh wakil dekan I Fakultas MIPA Untan, Mulyadi S. Si, M.Si.
Kuliah umum yang disampaikan terdiri dari empat presentasi. Pertama, terkait konservasi orangutan di Gunung Palung yang disampaikan Terri Lee Breeden, selaku direktur Program Konservasi Yayasan Palung.
Kedua di Brodie Philp (Manager Peneliti Orangutan), terkait penelitian orangutan. Ketiga, disampaikan Elizabeth Barrow, dari program Kelempiau dan Kelasi (KKL) terkait penelitian primata.
Selanjutnya juga disampaikan presentasi terkait prosedur untuk kegiatan magang dan penelitian di Cabang Panti, TNGP. Sebagai pemateri adalah Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung.
Dalam pemaparannya pada presentasi, Terri menjelaskan terkait program konservasi yang Yayasan Palung lakukan terkait ancaman dan strategi. Salah satunya, saat ini berdasarkan data dapat dikatakan bahwa masih terjadinya orangutan kehilangan habitatnya di Zona Penyangga TNGP, masih maraknya perburuan liar, masih minimnya peluang pendapatan ekonomi masyarakat lokal, masih rendahnya pengetahuan masalah lingkungan dan kepedulian serta masih minimnya informasi terkait populasi dan status orangutan. Dengan demikian perlu strategi untuk mengatasi masalah tersebut diantaranya dengan melakukan berbagai kegiatan atau program konservasi seperti; Hutan desa, penyelamatan satwa, mata pencaharian berkelanjutan, pendidikan lingkungan dan kampanye penyadartahuan.

Brodie menyampaikan sejarah dimulainya penelitian di Cabang Panti, Gunung Palung sejak tahun 1985 silam. Selain itu juga keunikan tipe habitat hutan di gunung palung yang boleh dikatakan terlengkap karena memiliki 8 tipe habitat yaitu; hutan rawa gambut (peat swamp forest), hutan rawa air tawar (fresh water forest), hutan tanah alluvial (alluvial forest), hutan dataran rendah berbatu (lowland granite forest), hutan dataran rendah berbatu-pasir (lowland sandstone forest), hutan dataran tinggi berbatu (upland granite forest) dan hutan pegunungan (montane forest).

Sedangkan Elizabeth Barrow menyampaikan materi tentang keberadaan populasi kelempiau. Terkait dinamika populasi kelempiau yang ada di Cabang Panti, seperti populasi kelempiau yang hidup diatas 800 mdpl lebih sedikit dibandingkan populasi kelemipau yang berada dibawah 800 mdpl ternyata lebih banyak dan subur.

Sedangkan Wahyu Susanto menyampaikan beberapa prosedur terkait magang dan penelitian diataranya, Mahasiswa/i harus terlebih dahulu mengurusi surat ijin atau surat tugas magang atau penelitian dari kampus dan mengurus surat ijin masuk kawasan (SIMAKSI) terlebih dahulu kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP).

Terkait kuliah umum yang disampaikan tersebut tampak antusias dari peserta mengikuti kegiatan. Beberapa peserta menyakan terkait daerah jelajah orangutan dan kelempiau, ternyata daerah wilayah jelajahnya terjadi tumbang tindih. Menariknya, dari informasi dari para peneliti menjelaskan berdasarkan penelitian mereka menyatakan bahwa tidak masalah adanya tumbang tindih antara orangutan dengan kelasi dan kelempiau. Akan tetapi yang sering terjadi konflik malah antara kelempiau dan kelasi.
Selain itu juga mahasiswa menanyakan terkait pengaruh cuaca dan perilaku orangutan, bila orangutan pada musim hujan bisa membuat payung dan pada musim panas orangutan keseringan membuat sarang.
Jenis penyakit yang ada terdapat pada orangutan berdasarkan sampel feses. Terkait jenis penyakit, orangutan dapat menularkan penyakit diantaranya adalah parasit apakah penyakit berasal dari orangutan atau dari manusia. dari suhu feses juga peneliti dapat mengetahui orangutan sakit atau tidaknya, misalnya sakit demam.
Adapun tujuan dari kuliah umum ini diselenggara tidak lain adalah sebagai bentuk untuk berbagi ilmu pengetahuan tentang dunia konservasi orangutan dan primata yang dikhususkan bagi mahasiswa, ujar Wahyu Susanto.
Terselenggaranya kegiatan ini juga atas dasar kerjasama program penelitian dari GOPCP (Yayasan Palung) dan Universitas Tanjungpura Pontianak, khususnya Fakultas MIPA dan Kehutanan, kata Wahyu.

Dalam kuliah umum tersebut dihadiri lebih dari 50 peserta dari Fakultas MIPA, Kehutanan, beberapa peserta juga dari fakultas lain dan dari mahasiswa penerima beasiswa orangutan (BOCS). Kegiatan berakhir pukul 11.00 Wib dan mendapat sambutan baik dari para peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak cetak dan online, untuk membaca klik di : GPOCP Beri Kuliah umum tentang Orangutan
Dimuat juga di URI.co.id , untuk membaca klik : GPOCP Beri Kuliah Umum Tentang Observasi Orangutan
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Memilah dan peduli sampah setidaknya itulah yang Yayasan Palung lakukan ketika kami mengikuti kegiatan Kesling (Kesehatan Lingkungan) bersama Yayasan ASRI (12-14/9/2017) kemarin di Dua Desa yaitu di Matan Jaya dan Pangkalan Jihing.
Perjalanan panjang menyusuri waktu, mungkin kata itu yang boleh kami katakan. Ya, selain membutuhkan watu yang lama tetapi juga situasi jalan yang kami lalui menjadi salah satu cerita kami sepanjang perjalanan sebelum sampai di tempat tujuan.
Sepanjang jalan yang kami lalui, kami melihat tumbuhan sejenis yang mendominasi. Bahkan Bukit Batu Daya yang letaknya tak jauh di Wilayah Matan Jaya kini terlihat sudah dikelilingi tumbuhan sejenis yang tak lain adalah perkebunan sawit. Pohon-pohon yang tersisa boleh dikata tak sebanding dengan tumbuhan sawit yang menjamur di sekitaran wilayah tersebut.
Sesampainya di Desa Matan Jaya, Tim dari Yayasan ASRI (Alam Sehat Lestari) mengadakan pengobatan gratis kepada warga masyarakat pada malam harinya (12/9), sedangkan kami dari Yayasan Palung melakukan pemutaran film lingkungan.


Keesokan harinya, Rabu (13/9) kami melakukan kunjungan ke Sekolah Dasar Negeri 17 Desa Matan Jaya, Kabupaten Kayong Utara (KKU). Di Sekolah tersebut, kami memberikan materi lingkungan tentang sampah. Lebih khusus mengajak siswa-siswi (anak usia dini) SD untuk memilah dan peduli sampah. Sebelum memulai materi kami mengajak siswa-siswi terlebih dahulu menyanyikan lagu-lagu nasional diantaranya Indonesia Raya dan Garuda Pancasila serta lagu Si Pongo (lagu tentang orangutan). Selanjutnya, kami mengajak anak-anak bermain sekaligus belajar tentang sampah. Siswa-siswi dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dengan nama kelompok sampah organik dan kelompok sampah anorganik. Siswa-siswi yang terdiri dari kelas 4 dan 5 tersebut ditugaskan untuk mengenal, memilah dan peduli sampah (organik dan anorganik) di sekitar sekolah mereka. Anak-anak juga diajak untuk membersihkan tangan setiap selesai buang atau membersihkan sampah.
Sebelum mereka membentuk kelompok, terlebih dahulu kami menyampaikan kilasan bahwa sampah organik itu mudah hancur seperti kertas, daun dan sisa-sisa rumah tangga dan anorganik itu tidak mudah hancur seperti botol, plastik, styrofoam (gabus), besi dan kaleng.
Beberapa diantara mereka (siswa-siswi) ternyata boleh dikata dapat menangkap maksud kami, mereka dapat membedakan, memilah sampah mana yang mudah hancur dan mana yang sulit hancur. Kedua kelompok tersebut pula mengumpulkan sampah-sampah yang tertinggal di sekitar sekolah mereka. Dari hasil pengumpulan sampah ternyata yang banyak terkumpul adalah sampah tidak mudah hancur, siswa-siswi banyak mengumpulkan sampah plastik dan kaleng.
Siang harinya kami berkesempatan hadir di SMPN 08 Matan Jaya, KKU. Pada kesempatan di SMPN 08 Matan Jaya, kami menyampaikan lecture (ceramah lingkungan) tentang sampah; dampak dan manfaat sampah. Kami bercerita, bila sampah tidak dipedulikan maka akan menjadi musuh, tetapi jika dimanfaatkan maka akan memberikan manfaat bahkan nilai ekonomi bagi siapa saja yang peduli.
Sedangkan di hari berikutnya, Kamis (14/9) kami beralih tempat ke Desa Pangkalan Jihing, Ketapang. Kami tiba di Desa Pangkalan Jihing pukul 08.00 Wib lantaran kami di perjalanan beberapa kali amblas (mobil tersangkut) di jalan berlumpur dan cukup rusak di beberapa ruas jalan dari Matan menuju Desa Pangkalan Jihing. Pada kesempatan tersebut, kami menyampaikan puppet show melalui media boneka dan bercerita tentang hutan, orangutan dan sampah di SDN 33 di Dusun Cali.
Teman-teman dari Yayasan ASRI setelah malam sebelumnya di Desa Matan Jaya, selanjutnya dari pagi hingga siangnya melayani warga masyarakat untuk pengobatan di Desa Pangkalan Jihing. Terlihat, ibu-ibu, anak-anak maupun bapak-bapak bersemangat untuk berobat (pengobatan), beberapa diantararnya melakukan pemeriksaan kesehatan kesehatan mereka diantaranya batuk pilek dan beberapa diantaranya memeriksakan kesehatan pendengaran dan sakit pinggang.
Selama kegiatan Kesling di dua desa yang kami laksanakan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah dan masyarakat tempat kami melaksanakan kegiatan.
Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana: Kesling ASRI dan Yayasan Palung
Petrus Kanisius-Yayasan Palung