Bencana Akibat Perbuatan, Alam Kah yang Salah?

Banjir Jelai Hulu dan wilayah sekitarnya yang terjadi beberapa waktu lalu. Foto dok. Monga dari berbagai sumber
Banjir Jelai Hulu dan wilayah sekitarnya yang terjadi beberapa waktu lalu. Foto dok. Monga.id dari berbagai sumber

“Banjir dan bencana yang terjadi, ini sebagai tanda alam dan lingkungan mulai tidak bersahabat dengan kita manusia”, itulah kira-kira ungkapan sesorang ketika menyatakan kejadian atau peristiwa seperti banjir  dan bencana lain yang terjadi. Apakah sesungguhnya demikian?.

Rentetan berbagai bencana (banjir, banjir bandang, tanah longsor dan lain akibat perbuatan bukan secara alami) yang terjadi di negeri ini acap kali menjadi sebuah tanda tanya. Tanda tanya tersebut tidak lain kecenderungan tak sedikit orang yang menyalahkan alam (lingkungan) apabila terjadi bencana.

Ada sebab pasti ada akibat, setidaknya itu yang terjadi terkait apapun itu dalam tatananan kehidupan kita. Ketika kaki tersandung cukup keras ke tanah atau batu pasti kaki sakit bahkan bisa luka atau bengkak. Demikian pula halnya dengan alam (lingkungan), Yang Maha Kuasa (Tuhan/Allah) menciptakan langit dan bumi beserta isinya tentu memiliki nilai, guna dan  manfaat.

Bumi dan segala isinya diciptakan untuk suatu keharmonisan bukan untuk keserakahan. Bumi isinya untuk penyambung nyawa, pemberi tak sedikit manfaat. Bumi itu titipan bukan warisan. Tengok saja, bila kita manusia tidak harmonis atau semakin serakah memperlakukan alam wajar saja kita akan menerima akibat (dampak) apa yang ditimbulkan.

Dari dampak ataupun akibat/konsekuensi tersebut bukan berarti alam sebagai biang tetapi mengapa sehingga muncul dampak, apa yang menyebabkan dampak tersebut. Jadi dengan demikian alam (lingkungan)kah yang salah bila terjadi bencana?.

Dulu tidak bisa disangkal, alam dan lingkungan masih sangat harmonis, tapi kini acap kali manusia yang membuat jarak atau membuat jurang pemisah. Lihat, berapa banyak hutan dan segala isinya yang (di/ter)korbankan, dimusnahkan, terkikis menjelang habis. Indonesia dikatakan telah kehilangan 840.000 hektar (3.250 mil persegi) hutan pada tahun 2012, demikan laporan yang disebutkan jurnal Nature Climate Change, melaui rilis mereka pada tahun 2014 lalu. Tidak terelakan pula hilangnya jutaan hektar luasan tutupan hutan sebagai penyerap dan penampung air sedikit banyak berdampak terjadinya banjir, banjir bandang dan tanah longsor.

Melihat data dan fakta tersebut diatas tak benar kiranya alam dan lingkungan yang disalahkan. Salah satu alasannya, alam/lingkungan tidak mungkin membinasakan atau merugikan sekelilingnya. Mengingat, alam (lingkungan) justru menjaga dan memilihara serta memberi manfaat. Bayangkan bila tidak ada hutan sebagai penyedia oksigen, mungkin kita sulit bernafas atau boleh dikata untuk bernafas perlu biaya besar, bila tak ada hutan mungkin  akan kesulitan air bersih.

Bencana alam yang terjadi sejatinya tidaklah menjadi keinginan tetapi dampak yang timbul dari sebab menjadi akibat. Maka dari itu, tidak tepat pula kiranya seseorang menyatakan bila terjadi bencana itu alam yang salah (penyebabnya). Justru dari kita manusia yang acap kali menjadi biang dari sebab musabab yang juga menimbulkan sebab menjadi akibat adanya korban harta dan bahkan terkadang korban nyawa.

Luasan tutupan memang tidak bisa disangkal dari tahun ke tahun semakin berkurang namun banyak cara untuk menjaga, melindungi dan menanam kembali hutan yang telah hilang atau rusak agar bisa tegak berdiri kokoh sebagai penopang, pelindung, penyeimbang bagi semua yang mendiami bumi ini.

Alam (lingkungan) sejatinya telah ditakdirkan sebagai titipan bukan warisan, dengan demikian pula sudah menjadi kewajiban dari generasi ke generasi siapapun itu untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai titipan hingga nanti. Semoga saja alam (lingkungan tidak selalu disalahkan) melainkan kita bisa berkaca pada bencana yang terjadi apa penyebabnya.

Lihat video Banjir  dok. santix leader, yang terjadi pekan lalu di daerah di Kec. Tumbang Titi dan Jelai Hulu

Banjir Air Mata Benuaq Tanjung (Film Dokumenter)

Tulisan ini juga dimuat di  Kompasiana: Bencana Akibt Perbuatan, Alam yang Salah?

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Asyiknya Field Trip di Sungai Beringin Taman Nasional Gunung Palung

Foto bersama peserta fieldtrip di Sungai Beringin. Yayasan Palung.jpg
Foto bersama peserta fieldtrip di Sungai Beringin.  Foto : Hen/Yayasan Palung

Selama tiga hari (25-27/8/2017), sejak pagi team Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung  melakukan fieldtrip (kunjungan lapangan) di Sungai Beringin, namun sebelum sampai di Sungai Beringin team fieldtrip terlebih dahulu harus menuju Kilometer 12 Jalan Siduk-Nanga Tayap menggunakan sepeda motor, dengan jarak tempuh  dua jam perjalanan.

Berikut Video saat Fieldtrip : Video Fieldtrip Yayasan Palung bersama SMPN 3 MHU

Setibanya di tempat pembibitan Yayasan ASRI, Yayasan Palung terlebih dahulu berhenti sejenak untuk menunggu  peserta fieldtrip yang terdiri dari murid kelas 9 yang berjumlah 28 orang dan 2 orang guru pendamping dari SMPN 3 Matan Hilir Utara (MHU), Ketapang.

Setelah rombongan peserta tiba, selanjutnya semua peserta harus melewati jalan setapak dan penuh lumpur, beberapa diantara mereka meggunakan sepeda motor dan beberapa diantaranya memilih untuk berjalan kaki saja untuk menuju lokasi fieldtrip.

Peserta dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok orangtan, kelasi, bekantan dan siberuk. Selanjutnya team dan peserta melanjutkan perjalanan menuju Sungai Beringin di Kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung dengan jarak tempuh dua jam berjalan kaki.

Setelah tiba di lokasi, team dan peserta mendirikan tenda dan istirahat, mandi, serta menyiapkan makan malam. Setelah makan malam, peserta melakukan evaluasi perjalanan serta pemberian materi tentang Taman Nasional Gunung Palung oleh mariamah Achmad serta materi tentang analisis satwa pagi yang akan dilaksanakan praktek esok harinya, kemudian mereka istirahat dan tidur.

Hari kedua, Sabtu (26/8) pukul 04.30 WIB, kegiatan yang dilakukan antaran lain seperti pengamatan satwa pagi hingga pukul 06.30 WIB. Kegiatan selanjutnya adalah senam pagi dan mempersiapkan sarapan.

Adapun kegiatan lainnya adalah presentasi tentang hasil pengamatan satwa yang telah diamati. Setelah presentasi selesai dilaksanakan dilanjutkan dengan makan siang.

Peserta fieldtrip juga diberikan muatan materi dan praktek tentang morfologi daun. Sebagai pemateri  adalah  Victor Samudra dan Nursholihin. Selanjutnya juga peserta diajak untuk bermain  (game spider) yang dipandu oleh Hendri Gunawan. Setelah selesai bermain bersama, semua peserta dan team bersih-bersih dan menyiapkan makan malam.

Usai makan malam dilanjutkan dengan malam keakraban yang diisi dengan pentas seni dipandu oleh supriadi, dan kemudian istirahat.

Saat kami melaksanakan fieldtrip banyak hal yang kami jumpai antara lain air sungai yang masih jernih dan kesegarannya dapat kami rasakan. Perjumpaan dengan sarang orangutan dan melihat sepasang burung enggang sedang mengitari lokasi tempat kami berkegiatan. Sayangnya kami tidak  bisa mengabadikan foto enggang karena kami sedang berkegiatan.

Hari ketiga, Minggu (27/8)  pukul 06.00 Wib, peserta dan team melakukan senam pagi, setelah itu peserta mempresentasikan hasil praktek lapangan tentang morfologi daun, kemudian mempersiapkan makan bersama dan makan bersama, setelah itu bersih-bersih di area bivak dan packing barang-barang untuk pulang, setelah semua selesai peserta dan team melakukan game bersama yaitu game samson, kemudian kami berkesempatan untuk berfoto bersama selanjutnya mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan fieldtrip. Seluruh rangkaian kegiatan fieldtrip berjalan sesuai rencana.

Hen & Pit-Yayasan Palung

YP Mengajak Anak Sekolah  Belajar Bersama tentang Gambut  Lewat Puppet dan Lecture

Saat Mariamah Achmad menyampaikan materi tentang Gambut. Foto dok. Yayasan Palung.jpg
Saat Mariamah Achmad menyampaikan materi tentang Gambut. Foto dok. Yayasan Palung

Senin dan Selasa (21-22/8/2017) pekan lalu, kami berkesempatan menyambangi sekolah-sekolah untuk belajar bersama dengan anak sekolah di wilayah Muara Pawan dan Matan Hilir Utara (MHU) tentang gambut.

Tidak bisa disangkal, gambut merupakan salah satu habitat orangutan. Terlebih di wilayah-wilayah yang merupakan kantong habitat orangutan. Pada kesempatan tersebut, kami memberikan penyadartahuan tekait satwa dilindungi dan habitatnya di sekolah-sekolah yang ada di Wilayah Muara Pawan dan Matan Hilir Utara (MHU).

Dalam kesempatan puppet show tersebut, kami menceritakan satwa-satwa dilindungi dan beberapa diantaranya mendiami wilayah gambut.

Di hari pertama, Senin (21/8), kami berkesempatan mengajak anak-anak belajar bersama tentang Gambut. Dalam kegiatan tersebut, Yayasan Palung berkesempatan menyambangi SDN 10 Muara Pawan untuk belajar bersama tentang gambut lewat cerita puppet show (media boneka) dan SMPN 2 Muara Pawan, kami menyampaikan lecture (ceramah lingkungan). Kesempatan kedua, Selasa (22/8), kami berkesempatan mngunjungi SDN 1 dan SMPN 2 Matan Hilir Utara (MHU).

Mariamah Achmad, Sebagai pemateri sekaligus Manager Pendidikan Lingkungan dan media kampanye dari Yayasan Palung menjelaskan saat lecture mengatakaan; Gambut merupakan tanah yang lebih banyak mengandung unsur organik, tanah gambut banyak ditemukan didaerah yang tergenang air serta tanah gambut merupakan jenis tanah yang pembentukannya dihambat oleh kadar asam di airnya terlalu tinggi sehingga memperlambat pembusukan unsur-unsur organik yang ada di dalamnya.

Saat memainkan puppet show dan bercerita satwa dilindungi dan habitatnya. Foto dok. Yayasan Palung.jpg
Saat memainkan puppet show dan bercerita satwa dilindungi dan habitatnya. Foto dok. Yayasan Palung

Lebih lanjut, Mayi sapaan akrabnya menjelaskan, fungsi dari tanah gambut ialah sebagai bahan sumber energi dan juga keseimbangan ekosistem, sedangkan hutan gambut berfungsi sebagai penyuplai air dan mencegah banjir, serta menjadi tempat hidup yang nyaman bagi satwa-satwa yang ada didalamya termasuk orangutan dan juga satwa dan tumbuhan  endemik kalimantan. Beberapa satwa endemik yang mendiami hutan gambut dan rawa gambut seperti bekantan yang hidup ditepian sungai. Ada pula rusa dan beruang. Sedangkan beberapa tumbuhan yang hidup dihutan rawa gambut seperti ramin, meranti, nyatoh, ubah, punak, medang, kantong semar, rotan dan sagu.

Mayi juga mengatan, peran dari semua pihak menjadi sangat penting untuk menjaga dan melindungi lahan gambut, termasuk generasi muda sejak dini.

Saat tanya jawab dengan siswa-siswi yang mengikuti lecture. Foto dok. Yayasan Palung.jpg
Saat tanya jawab dengan siswa-siswi yang mengikuti lecture. Foto dok. Yayasan Palung

Penyampaian puppet show dan lecture kepada anak sekolah di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah sebagai salah satu cara Yayasan Palung untuk mengkampanyekan dan penyadartahun kepada siswa-siswi usia dini terkait perlunya menjaga lahan gambut yang ada karena peran dan fungsi dari gambut yang sangat penting bagi semua makhluk hidup terlebih gambut dalam.

Di tempat terpisah, Syahik Nurbani, Koordinator Survei dari Yayasan Palung mengatakan, Fungsi hutan gambut secara ekologis penyimpan karbon, penghasil oksigen, menjaga keanekaragaman hayati yaitu sebagai tempat pemijahan ikan dan satwa liar lainnya. lebih lanjut menurutnya gambut memiliki fungsi lainnya sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan antara lain memelihara kesuburan tanah, mengatur tata air, mencegah banjir.

Tak kurang  43 murid yang mengikuti kegiatan puppet show di SDN 10 Muara Pawan, 38 murid di SMPN 2 Muara Pawan yang ikut ambil bagian dalam lecture. Sedangkan yang hadir dalam puppet show di SDN 01 diikuti oleh 60 murid dan lecture di SMPN 2 Matan Hilir Utara (MHU) diikuti oleh 81 murid.

Dalam kegiatan puppet show dan lecture di dua kecamatan tersebut dilakukan oleh tim Pendidikan Lingkungan dan media kampanye Yayasan Palung, ikut serta pula penerima beasiswa BOCS.

Kegiatan yang dilasanakan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah serta siswa-siswi yang hadir.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Profesor Cheryl Knott  Berikan Ilmu Pengetahuan tentang Primata

Saat penjelasan tentang taksonomi primata. Foto dok. Yayasan Palung.jpg
Saat  Cheryl Menjelaskan tentang taksonomi primata. Foto dok. Yayasan Palung

Menurut Cheryl untuk membedakan kera dan monyet cukup mudah. Jika berbuntut atau berekor maka disebut monyet sedangkan jika tidak berekor disebut kera. Hal tersebut disampaikan olehnya pada Senin (14/8/2017), pekan lalu.

Cheryl juga memaparkan tentang perilaku dan sejarah hidup dari primata-primata yang dimaksud berdasarkan sejarah hidup banyak. Diantara binatang berkembang biaknya cepat dan sebaliknya primata berkembang biaknya membutuhkan rentang waktu yang lama.

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2017/08/21/profesordariboston-universityberikan-pembelajaran-di-ketapang

Pit-Yayasan Palung

Yayasan Palung Gelar Peringatan Hari Orangutan Sedunia 2017 dengan Ragam Kegiatan

Foto bersama dalam rangkaian Hari Orangutan Sedunia 2017. Foto dok. Yayasan Palung.JPG
Foto bersama dalam rangkaian Hari Orangutan Sedunia 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Yayasan Palung (YP) menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangka memperingati World Orangutan Day (WOD) atau Hari Orangutan Sedunia 2017. Di antaranya bakti sosial, tanam pohon, diskusi dan panggung boneka di Pantai Kinjil Ketapang, Minggu (20/8/2017).

Minggu (20/8) pagi di Kabupaten Kayong Utara (KKU) juga ada dilaksanakn kegiatan. Relawan RebonK Yayasan Palung bersama Sispala Land SMKN 1 KKU,  Perwakilan dari Konsorsium Palung.

Kemudian Kelompok Sadar Wisata Desa Sungai Belit (Kopdarwis), Perwakilan BTNGP dan siswa SMAN 2 KKU memperingati WOD di Bukit Begentar yang lokasinya berada di Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Tulisan Selengkapnya Baca di :

http://pontianak.tribunnews.com/2017/08/22/yayasan-palung-gelar-peringatan-hari-orangutan-sedunia-ini-harapannya

http://www.pontianakpost.co.id/peringatan-hari-orangutan-sedunia-di-ketapang

Pit-Yayasan Palung

Orangutan di TNGP Menarik Minat BBC Untuk Film Dokumenter

20232002_10213756487534829_903233718350449524_o.jpg
Tim Laman beserta keluarga  dan BBC temu kangen dengan Keluarga Besar Yayasan Palung

Setelah Mendapat ijin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pusat Pengembangan Perfilman Indonesia, Tim Laman beserta rombongan bersiap untuk mengambil gambar (membuat/memproduksi) film tentang orangutan di Gunung Palung.

Rencana tersebut diketahui saat  Tim Laman  dan Cheryl Knott ( pasangan suami istri) mengadakan temu kangen bersama keluarga  besar Yayasan Palung.  Ternyata Tim Laman membawa serta keluarga dan rombongan British Broadcasting Corporation (BBC), Kamis (20/7) kemarin malam.

Kebersamaan, keseruan dan kehangatan sangat kami rasakan,  ini terlihat dari raut wajah semua yang hadir saat  temu kangen malam itu.

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2017/07/23/orangutan-di-tngp-tarik-minat-bbc-untuk-pembuatan-film-dokumenter

 

Ucapan Terima Kasih

Oleh2. Dok. YP.jpg
Oleh-oleh dari Disney Conservation FUND dan National Geographic

Kami dari Yayasan Palung  dan (Gunung Palung Orangutan Conservation Program) mengucapkan terima kasih kepada Disney Conservation FUND dan National Geographic atas oleh-olehnya berupa:

  • Buku
  • Baju
  • Topi
  • Pin
  • gantungan kunci
  • Note book dan Magnet Kulkas

 

Hendri Gunawan dari Yayasan Palung memakai topi dari Disney Conservation FUND.jpg
Hendri Gunawan dari Yayasan Palung memakai topi dari Disney Conservation FUND

Semoga semakin bermanfaat untuk konservasi alam liar (wild life).

 

Manfaat Lahan Gambut Bagi Kehidupan yang Kian Tergadai

Kebakaran hutan dan lahan yg terjadi di Desa Pelang, Ketapang, Kalbar tahun 2015.
Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 yang terjadi di Desa Pelang, Ketapang, Kalbar. Foto dok. Yayasan Palung

Indonesia  memiliki hutan dan lahan gambut terluas di dunia, setidaknya kata itu yang cocok untuk dikatakan. Tersedianya lahan gambut yang luasnya mencapai 21-22 juta hektar (sumber data; Mongabay Indonesia) tersebut  sudah pasti pula memiliki sedikit banyak manfaat bagi kehidupan semua makhluk hidup yang mendiami bumi ini.

Lahan gambut  atau tanah gambut memang ditakdirkan untuk tidak subur karena memiliki tingkat keasaman tanah yang tinggi, apa lagi jika diganti dengan tumbuhan atau tanaman lainnya, hanya tumbuhan yang cocoklah yang bisa tumbuh di lahan gambut. Adapun ragam tumbuhan yang dapat tumbuh baik di rawa gambut seperti meranti, punak, jelutung, kompas atau kempas  dan ramin adalah  tanaman asli gambut.

Selain juga tanaman sekunder yang cocok untuk tumbuh di lahan gambut seperti karet, nanas, sagu yang memiliki manfaat ekonomis sebagai alternatif pendapatan masyarakat secara berkelanjutan. Ketersediaan ragam tumbuhan asli gambut pun menyimpan tidak sedikit oksigen dan karbon yang salah satunya sebagai sumber hidup tidak sedikit bagi nafas makhluk hidup.

Bagi nafas dan keberlanjutan makhluk, ini yang menjadi tanda manfaat nyata tekait kondisi gambut saat ini. Luasan lahan gambut begitu banyak yang terampas, tergadai hingga menjelang terkikis habis. Kondisi inilah sejatinya menjadi sebuah tanda tanya, apakah  hutan dan lahan gambut terus menerus akan bisa bertahan dan dapat (di/ter)selamatkan?.

Apabila hutan dan lahan gambut dapat (di/ter)selamatkan, sudah pasti keberlanjutan nafas hidup semua makhluk hidup yang berada di wilayah gambut akan selalu memperoleh manfaat baik. Salah satunya terhindar dari kebakaran, tidak rentan terhadap banjir dan kebakaran lahan dan kabut asap. Hal yang sama juga terjadi baik adanya bagi makhluk hidup seperti satwa/primata, rumah atau habitat mereka (satwa) tetap terjaga.

Demikian juga halnya apabila lahan gambut kian digerus maka akan terjadi sebaliknya kita semua makhluk hidup akan menerima dampak langsung. Tidak sedikit contoh kasus. Lihat dampak kebakaran lahan dan kabut asap, berdasarkan data dari BBC Indonesia menyebutkan; setidaknya dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat kabut asap mencapai 200 trilliun.(Sumber:http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151026_indonesia_kabutasap ).

Hal yang sama juga terjadi, ketika hilangnya luasan hutan dan lahan gambut akan selalu berdampak tidak baik bagi lingkungan hidup dan makhluk hidup disekitarnya atau lingkungan lainnya. Hilangnya luasan hutan dan lahan gambut berarti juga menghilangkan tidak sedikit oksigen dan karbon. Sementara karbon yang ada sangat bermanfaat bagi lingkungan dan keberlangsungan makhluk hidup tidak terkeculi untuk mengatasi terjadinya peningkatan suhu di bumi.

Salah satu cara agar hutan ataupun lahan gambut dapat lestari dan berlanjut tidak lain dengan ada peran serta, perhatian dan tindakan nyata dari semua pihak, siapapun itu tanpa terkecuali. Dengan adanya perhatian dari semua pihak tersebut pula setidaknya mempermudah dalam bagaimana mengelola lahan secara bijaksana dan lestari.

Mengingat, hutan dan lahan gambut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kehidupan makhluk hidup. Tidak sedikit cara yang dapat dilakukan oleh semua untuk menjaga satu kesatuan makhluk hidup lebih khusus lahan gambut sebagai tempat (habitat hidup) semua makhluk hidup pula.

Apabila hutan dan lahan gambut dapat dikelola dengan bijaksana salah satunya agar ada tata aturan yang tegas dapat diberlakukan secara adil dan tidak memihak. Selain itu juga, tidak lagi membuka lahan baru berskala besar lebih khusus hutan gambut, rawa gambut atau lahan gambut  hampir pasti segala makhluk hidup yang mendiami bumi dapat bernyanyi riang dan dapat berlanjut sampai nanti dan lestari.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ulasan Singkat Tentang Perubahan Iklim Sudah Terjadi di Indonesia

 

Peruhan iklim saat ini sudah kita rasakan (sudah terjadi) di Indonesia. Dampak dari perubahan iklim ditandai dengan adanya perubahan suhu bumi yang semakin panas dan cuaca tidak menentu.

Beberapa penyebab terjadinya perubahan iklim itandai adanya perubahan temperatur rerata harian, pola curah hujan, tinggi muka laut, dan variabilitas iklim (misalnya El Niño dan La Niña, Indian Dipole, dan sebagainya).

Beberapa dampak dari terjadinya perubahan iklim sedikit banyak berpengaruh kepada kehidupan sehari-hari lebih khusus semua penghuni bumi, tidak terkecuali manusia.

Berikut ulasan singkat tentang perubahan iklim, ulasan singkat sebagai media kampanye Yayasan Palung untuk peduli terhadap keberlanjutan bumi melalui media Radio.

Silakan klik untuk mendengarkan :https://soundcloud.com/yayasan-palung/pemanasan-global-dan-perubahan-iklim

Semoga bermanfaat, salam lastari.

Ini Cara yang Bisa Kita Dilakukan untuk Melindungi, Menjaga dan Memilihara Lahan Gambut

Setidaknya Ini Penyebab Deforestasi Hutan, lebih khusus lahan gambut di Indonesia dan Dampaknya. Foto dok. Yayasan Palung
Setidaknya Ini Penyebab Deforestasi Hutan, lebih khusus lahan gambut di Indonesia dan Dampaknya. Foto dok. Yayasan Palung

Keberadaan lahan gambut yang ada saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan menjelang terkikis habis. Perlu untuk diingat, lahan gambut banyak menyimpan karbon. Tidak sedikit cara sejatinya yang dapat dilakukan oleh kita semua masyarakat ataupun lembaga, pihak pemerintah untuk melakukan perlindungan terhadap lahan gambut.

Dengan arti kata, segala upaya ataupun cara dari banyak pihak termasuk masyarakat memiliki kewajiban yang sama untuk melindungi, menjaga dan memilihara lahan gambut. Beragam cara juga setidaknya bisa dilakukan demi keberlanjutan gambut yang tentunya banyak manfaat bagi banyak makhluk hidup pula antara lain penyedia karbon untuk mengatasi peningkatan suhu bumi (pemanasan global).

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, tahun 2015. Foto dok. Yayasan Palung
Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, tahun 2015. Foto dok. Yayasan Palung

Seperti diketahui, lahan gambut apabila semakin dalam kedalamannya maka akan menyimpan banyak keanekaragaman hayati (tumbuhan dan hewan), dengan demikian gambut yang dalamnya 50 cm dan gambut dalam  1 meter sampai mencapai 10 meter. Semakin dalam gambut, maka diusahakan lahan gambut tidak dibuka karena kaya sumber manfaat bagi makhluk hidup.

Ilustrasi drainase kubah lahan gambut via mongabay Indonesia, Sumber_ RAN
Ilustrasi drainase kubah lahan gambut via Mongabay Indonesia, Sumber : RAN

Indonesia adalah pemilik kawasan lahan gambut tropis terluas di dunia dengan luasan sekitar 21-22 juta hektar (1,6 kali luas pulau Jawa), kebanyakan tersebar di Kalimantan, Sumatera dan Papua.  Papua adalah yang terluas dengan lebih kurang sepertiga lahan gambut yang ada di Indonesia (Sumber data : Mongabay Indonesia).

Merunut dari data tersebut dapat dikatakan betapa luasnya wilayah lahan gambut yang ada di Indonesia, lebih khusus di tiga wilayah; Sumatera, Kalimantan dan Papua. Di tiga wilayah ini pula dimana luasan lahan gambut dari tahun ke tahun kondisinya selalu menjadi primadona para investor dalam melakukan investasi besar-besaran yang tak jarang mengorbankan lahan gambut itu sendiri dan menimbulkan terjadinya deforestasi dan tidak jarang pula berujung kepada keringnya lahan dan rentannya terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Luas-lahan-gambut-indonesia. sumber data Mongabay Indonesia
Luas lahan gambut Indonesia, sumber data : Mongabay Indonesia

Dari kejadian tersebut pula berimbas juga munculnya kabut asap. Kerentanan lahan gambut yang mudah terbakar tersebutlah yang menjadi dasar mengapa setiap waktunya gambut harus selalu untuk dilindungi, dijaga dan dipelihara.

Tidak sedikit cara yang dilakukan oleh banyak pihak mulai dari pihak pemerintah, lembaga ataupun organisasi ataupun juga masyarakat yang bersentuhan langsung mencari cara  agar lahan gambut dapat menjadi penopang segenap segala bernyawa (seluruh makhluk hidup).

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi, menjaga dan memilihara gambut antara lain  dengan cara antara lain;

Pertama, melakukan penanaman kembali hutan gambut yang telah terdegradasi menjadi salah satu cara yang harus dilakukan agar hutan tetap tumbuh  menjadi sumber utama penyedia karbon. Sedapat mungkin  ditanam dengan tanaman asli gambut seperti tanaman meranti, kompas/kempas, ramin, jelutong dan tumbuhan-tumbuhan seperti palem dan kantong semar.  Dengan demikian, tatanan kehidupan makhluk hidup yang hidup disekitar lahan gambut dapat terselamatkan termasuk kita manusia. Tanaman asli gambut seperti diketahui bila tetap tumbuh dapat menyimpan unsur hara gambut dan menampung banyak lagi oksigen dan karbon. Manfaat lainnya juga dengan masih adanya pohon dan tumbuh-tumbuhan di sekitar lahan gambut memungkinkan segala satwa seperti misalnya; orangutan (di Sumatera dan Kalimantan), bekantan (di Kalimantan), harimau sumatera (sumatera) monyet ekor panjang (Sumatera dan Kalimantan) dan ragam jenis ikan seperti toman, tapah ataupun reptil seperti buaya muara (buaya senyulong) tidak kehilangan rumah atau habitat mereka.  Sedangkan di Papua adalah tanaman pohon sagu yang menjadi sumber makanan pokok warga masyarakat.

Kedua, kanal-kanal buatan atau yang dibangun oleh perusahaan yang katanya tujuan untuk mengeringkan lahan gambut harus dibuat sekat kanal. Dibuatnya sekat kanal salah satu tujuannya agar air dapat mengalir dan gambut selalu dalam keadaan basah. Intinya lahan gambut jangan dibuat kanal. Namun, kanal-kanal yang ada sedapat mungkin disekat agar dapat menampung dan mengaliri yang ada dan berada didalam kanal agar lahan gambut tetap basah.

Pembuatan sekat kanal sebagai salah satu cara agar lahan gambut tetap basah untuk mencegah Kebakaran hutan dan lahan. Foto dok. Yayasan Palung.jpg
Pembuatan sekat kanal sebagai salah satu cara agar lahan gambut tetap basah untuk mencegah Kebakaran hutan dan lahan. Foto dok. Yayasan Palung

Klik link berikut untuk melihat Video Sekat Kanal

Ketiga, lahan gambut yang tersedia berupa hutan sekunder atau hutan tersier, bila telah ditanam sebaiknya di remajakan dan diganti dengan tanaman campuran yang seperti tanaman nanas, karet dan  kelapa (tanaman agroforestri). Tujuannya bila tanaman tersebut dapat menghasilkan buah maka dapat dijadikan sumber penghasilan atau pendapatan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.

Turun lapangan atau praktek lapangan saat pelatihan, melihat dan mengukur kedalaman gambut. Foto dok. Yayasan Palung.jpg
Turun lapangan atau praktek lapangan saat pelatihan, melihat dan mengukur kedalaman gambut. Foto dok. Yayasan Palung

Selanjutnya yang terpenting untuk melindungi, menjaga dan memilihara serta melestarikan lahan gambut diperlukan sosialisasi secara terus menerus terutama kampanye penyadartahuan kepada masyarakat salah satunya juga mencari solusi pendapatan yang berkelanjutan tanpa merusak lahan gambut. Selain juga, perlunya kerjasama semua pihak secara bersama agar lahan gambut di Indonesia dapat memberikan sumber penghidupan bagi semua makhluk hidup hingga selamanya dan lestari.  Semoga…

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung  

Bahan dan sumber bacaan tulisan :

http://blog.cifor.org/26501/hilangnya-lahan-gambut-mengemisi-karbon-senilai-2-800-tahun-dalam-sekejap-mata-riset?fnl=id

http://readersblog.mongabay.co.id/rb/2017/03/17/sosialisasi-program-mitigasi-berbasis-lahan-dan-penyusunan-program-unggulan-yang-berkelanjutan

http://www.mongabay.co.id/2014/06/20/gambut-for-beginners-tujuh-jawaban-penting-untuk-pemula