Sejak 2012, Total Pelajar Yang Dikuliahkan Yayasan Palung Sebanyak 31 Orang

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi
Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Sejak dimulainya Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS).

Khususnya program Penerimaan Beasiswa BOCS atau Besiswa Orangutan Kalimantan sejak 2012 silam.

Pada 2018 ini dengan diterimanya enam pelajar lagi maka total penerima beasiswa tersebut menjadi 31 orang. Ini diungkapkan Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye YP, Mariamah Achmad.

Baca: Ini Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Program YP

Di antaranya empat orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah di (Untan) Universitas Tanjungpura Pontianak.

31 pelajar yang dikuliahkan melalui Program BOCS tersebut. 20 orang dari Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Mereka berasal dari berbagai daerah di dua kabupaten tersebut,” ungkapnya.

Baca: Ini Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Program YP

Mariamah mengaku sangat senang mendapatkan enam pelajr lagi menjadi penerima beasiswa Program BOCS.

“Program ini sudah kami jalankan tujuh tahun. Jadi YP sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Sejak 2012, Total Pelajar Yang Dikuliahkan Yayasan Palung Sebanyak 31 Orang, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/sejak-2012-total-pelajar-yang-dikuliahkanyayasan-palungsebanyak-31-orang.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ada Enam Pelajar Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun ini

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi.JPG
Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melakukan seleksi, Yayasan Palung  resmi mengumumkan enam pelajar penerima beasiswa S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018, pada 29 Maret lalu.

Penerima beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018 dari hasil seleksi tahap akhir yang dilaksanakan pada 29 Maret 2018 adalah:

  1. Mega Oktavia Gunawan (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  2. Aisyah (SMA Negeri 1 Matan Hilir Utara): FISIP Prodi Hubungan Internasional
  3. Cantika Peggi Nur Iskandar Putri (SMK Negeri 1 Sukadana): Fakultas Hukum
  4. Ari Marlina (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  5. Fitri Meliyana (SMA Negeri 3 Simpang Hilir): FMIPA Prodi Biologi
  6. Anju Eranti (SMA Negeri 1 Sandai): FISIP Prodi Hubungan Internasional

Enam penerima beasiswa  BOCS tersebut, sebelumnya terlebih dahulu telah melalui tahapan seleksi dari awal hingga seleksi akhir. Adapun sebagai juri dalam seleksi penerima beasiswa adalah Juri: Ir. Evy Wardenaar, M.P (Fahutan UNTAN), Dr. Wahyono, M.Pd (STAI AL-Hauld), Akhdiyatul, S.ST., M.T (Politeknik Ketapang) dan Mariamah Achmad S.Hut (Yayasan Palung).

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Pa.JPG
Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Palung. Foto dok. YP

Seperti diketahui, Beasiswa Orangutan Kalimantan  atas dasar adanya kerjasama Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF), sejak tahun 2012 silam.

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi.JPG
Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, Program BOCS adalah salah satu favorit saya yang diimplementasikan Yayasan Palung. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi pemuda berpendidikan universitas yang akan bekerja untuk konservasi. Tahun ini, proses seleksi sangat sulit. Kami memiliki banyak pelamar yang luar biasa.

Untuk para pemenang, saya ingin mengucapkan selamat. Saya berharap untuk melihat kerja keras dan semangat terhadap konservasi. Untuk yang lain, saya berharap kepada penerima beasiswa tetap melanjutkan pendidikan tinggi dan bekerja menuju konservasi dalam kehidupan sehari-hari Anda, imbuh Terri lagi.

Mariamah Achmad Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung sekaligus yang menangani program BOCS mengatakan, Sejak dimulainya program BOCS pada tahun 2012 hingga 2018 sudah terdapat 31 orang penerima BOCS, diantaranya 4 orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yaitu 20 orang dari Kabupaten Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Kami sangat senang mendapatkan  enam orang lagi para penerima beasiswa dari program BOCS. Program ini sudah kami jalankan dalam 7 tahun ini. Yayasan Palung sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda di tanah Kayong, sangat baik memperbanyak generasi muda yang peduli terhadap konservasi yang memiliki berbagai latar belakang disiplin ilmu. Ini merupakan salah satu investasi penting untuk masa depan alam dan lingkungan Indonesia”, ujar Mayi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Hak Asasi Manusia dan Hak Asasi Hewan, Bukankah Sama Pentingnya?

Orangutan yang keluar di habitatnya dan mendekati pemukiman masyarakat beberapa waktu lalu, Maret 2018. Foto dok. Yayasan Palung
Orangutan yang keluar di habitatnya dan mendekati pemukiman masyarakat, awal bulan Maret 2018. Foto dok. Yayasan Palung

Hewan hidup di hutan bukan di kandang, tidak terkurung dan tidak dipelihara semestinya demikian adanya. Demikian juga dengan manusia yang menjalani tatanan kehidupannya di dunia ini dengan kebebasan tanpa batas, tetapi tidak sebebas-bebasnya, tidak terpasung, terkurung dan terpenjara.

Hak asasi manusia dan hak asasi hewan sama pentingnya, dengan kata lain (human welfare) dan hewan (animal welfare) keduanya sama-sama memiliki hak pemenuhan untuk berperilaku alami namun sering kali dilanggar.

Kita sesama makhluk hidup telah diciptakan berbeda-beda dan dititahkan untuk hidup berdampingan satu dengan yang lainnya tanpa harus menyakiti atapun mengusik satu sama lainnya pula, memiliki hak yang sama yaitu bebas secara alamiah bukan bebas sebebas-bebasnya atau bebas karena paksaan.

Memiliki rupa yang tidak sama lalu kita mendiskriminasi hak sesorang atau hak kehewanan karena sesuatu kepentingan ataupun oleh ego segelintir orang.  Sebagai contoh; hilangnya habitat hidup hewan yang terusir oleh karena pembukaan lahan berskala besar. Tidak hanya itu, persoalan konflik antara manusia versus hewan juga sering kali terjadi, tentu ini menjadi bukti nyata hak salah satunya dirampas.

Hak-hak dasar hewan non-manusia harus dianggap sederajat (memiliki hak yang sama) sebagaimana hak-hak dasar manusia (lihat Wise, Steven M. “Animal Rights”). Dengan kata lain, hewan hak asasi hewan menyatakan bahwa hewan harus dipandang sebagai orang, bukan benda. Sebagai catatan juga, satu kesatuan makhluk hidup merupakan kesatuan yang utama dan penting di bumi ini sebagai penyeimbang dan saling menghargai satu dengan yang lainnya.

Dari titah Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 pun menegaskan bahwa kesejahteraan hewan dari segala perilakunya wajib kita jalankan dan sejatinya perlu diterapkan dan ditegakkan.

Hak pemenuhan hidup (hak manusia dan hak hewan) dalam menjalani tatanan kehidupan sejatinya tidak bisa dipaksakan untuk berperilaku yang tidak sesuai dengan perilaku alamiah kita dan juga hewan. Jika itu terjadi sudah pasti telah memaksakan kodrat si hewan yang dimaksud karen mereka kehilangan hak alamiahnya.

Satu harapan, semoga saja hak dasar hewan menjadi perhatian kita semua dan bersama untuk menghargai sesama sebagai makhluk hidup ciptaan Ilahi yang saling harmonis.

Petrus Kanisius (Pit)-Yayasan Palung

Yayasan Palung Ajak Pihak Sekolah Berwawasan Lingkungan

Panitia dan peserta pelatihan guru untuk berwawasan lingkungan yang dilaskanakan YP di Kabupaten Kayong Utara (KKU)
Panitia dan peserta pelatihan guru untuk berwawasan lingkungan yang dilaskanakan YP di Kabupaten Kayong Utara (KKU), belum lama ini

Saling berbagi dan belajar, setidaknya itulah yang dilakukan  oleh 29 orang guru yang hadir untuk belajar bersama tentang bagaimana meningkatkan kapasitas sekolah yang berwawasan lingkungan lewat pelatihan guru yang di selenggarakan oleh Yayasan Palung di Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung “Bentangor”, Desa Pampang Harapan, Sukadana, KKU, 26-28 Februari 2018.

Para guru yang menghadiri kegiatan tersebut adalah perwakilan dari 13 sekolah yang ada di KKU dan 1 Sekolah dari Ketapang, merupakan sekolah yang mengikuti program sekolah Adiwiyata Kayong Utara, dan beberapa sekolah diantaranya adalah sekolah dampingan Yayasan Palung. Kegiatan dimulai dengan presentasi profil Yayasan Palung, disampaikan oleh Mariamah Achmad selaku Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung, selain itu juga menjelaskan mengapa pelatihan guru perlu dilakukan, salah satunya karena Yayasan Palung sangat mendukung sekolah-sekolah yang mempunyai tujuan menjadi sekolah yang berwawasan lingkungan. Kegiatan ini juga sebagai ajang untuk saling berbagi dan komunikasi tentang praktek-praktek terbaik, hambatan dan tantangan mewujudkan sekolah yang berwawasan lingkungan antar sekolah.

Selama 3 hari berkegiatan, ragam kegiatan yang mereka lakukan dalam pelatihan guru tersebut antara lain….

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Tribun Pontinak, baca selengkapnya di : YP Ajak Pihak Sekolah Berwawasan Lingkungan

Belajar Tentang Daun Ternyata Menarik Lho

Sesekali suara ombak dari pantai terdengar dan berbaur dengan suara satu persatu peserta yang baru tiba di lokasi. Iya, benar suara tersebut terdengar karena berdekatan dengan lokasi hutan di mana kami melakukan field trip (kunjungan lapangan). Ada banyak hal yang menarik yang kami jumpai salah satunya belajar tentang daun.

Apa yang menarik dari daun? Ternyata banyak hal yang menarik jika kita pelajari melalui materi botani zoologi dan taksonomi tumbuhan. Saat melakukan identifikasi peserta diajak untuk mengetahui bentuk, ciri dan jenis daun yang tumbuh di hutan, mereka juga mengidentifikasi keberagaman tumbuhan yang ada di sekitar hutan…..

Baca selengkapnya di : https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20180219112333-445-277097/belajar-tentang-daun-ternyata-menarik-lho

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hari Kasih Sayang, Tak Hanya Soal Pasangan tetapi “Mereka (Orangutan)” Juga Perlu

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung
Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Kasih sayang sudah menjadi hak dan kewajiban bagi kita semua untuk melaksanakannya (menerapkannya/melakukannya/mempraktekannya) dalam tatanan kehidupan sehari-hari kita kepada siapa saja tanpa memilah dan memilih.

Kecenderungan saat ini, kasih sayang itu hanya identik dengan wanita atau pasangan kita semata. Lalu, bagaimana kasih sayang kita kepada  “mereka”?. siapa mereka itu?.

“Mereka” yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah orangtua kita, saudara/i kita dan sesama kita. Tidak hanya itu, “mereka” satwa, tumbuhan dan lingkungan juga memerlukan cinta dan kasih sayang yang sejatinya tak lekang oleh waktu.

Tidak bisa disangkal, cinta dan kasih sayang kepada sesama, kepada lingkungan (alam semesta), kepada satwa kini serasa sudah semakin memudar.

Tengoklah cinta yang bertepuk sebelah tangan terhadap lingkungan sehingga alam lingkungan berurai air mata tertumpah yang tak jarang menjadi banjir bandang yang menerjang sesuka hatinya. Satwa yang disiksa dan meregang nyawa…

Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a83d762f13344305913c112/hari-kasih-sayang-tak-hanya-soal-pasangan-tetapi-mereka-juga-perlu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Petani Terapkan Budidaya Padi Infari 32 Dengan Metode Hazton

Penananam padi oleh para petani di lokasi. Foto dok. Yayasan Palung
Penananam padi oleh para petani di lokasi. Foto dok. Yayasan Palung

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Sebagian besar penduduk di Kecamatan Simpang HilirKabupaten Kayong Utara merupakan petani dengan cara atau metode bertani tadah hujan. Ini diungkapkan Manager Program Perlindungan Satwa (PPS-Hukum) YP, Edi Rahman.

Ia mengungkapkan namun saat ini petani di Desa Penjalaan dan Pulau Kumbang Kecamtan Simpang Hilir. Hampir semuanya sudah mencoba menggunakan metode hazton dengan membuat demplot untuk budidaya padi infari 32.

“Tidak bisa disangkal bahwa petani memiliki peran sangat penting dalam menyediakan pangan bagi suatu negara,” kata Edi Rahman….

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2018/02/12/petani-terapkanbudidaya-padi-infari-32dengan-metode-hazton

Baca juga di :https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a81219bbde5755c57142dd2/mungkin-ini-cara-bertani-dan-budidaya-padi-yang-bisa-kita-terapkan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Melatih Relawan Lokal Cinta Pelestarian Alam

Para Relawan Yayasan Palung yang tergabung dalam TABONK. Foto dok. Yayasan Palung
Para Relawan Yayasan Palung yang tergabung dalam TABONK. Foto dok. Yayasan Palung

Para pemuda itu tampak antusias mengikuti berbagai kegiatan. Mereka belajar mengenai dasar-dasar kerelawanan, manajemen organisasi, dan berbagai topik lain, khususnya topik mengenai lingkungan. Sebab mereka adalah relawan Tajam dan RebonK.

Kelompok relawan ini kerap menyuarakan mengenai konservasi di Tanah Kayong, Kalimantan Barat. Beberapa waktu lalu, mereka mengikuti semacam pelatihan di kantor Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Sesuai dengan slogan TabonK; “Yom Kite Begabong”, selama tiga hari kegitan tersebut, ragam keceriaan dan ide mereka satukan yang terbingkai dalam diskusi untuk belajar bersama terkait apa yang terjadi saat ini dan mungkin yang akan terjadi di masa depan terkait lingkungan.

Mereka juga mengikuti diskusi mengenai dampak kerusakan hutan. Tak sedikit ide yang mereka cetuskan terkait dengan kerusakan lingkungan dan dampaknya, seperti: dampak sosial, ekonomi, lingkungan, politik, dan dampak secara menyeluruh, termasuk pula pemanasan global.

Dalam diskusi tersebut, muncul ide untuk mengatasi dampak kerusakan hutan antara lain: melakukan reboisasi (penanaman kembali), tidak menebang pohon, dan penegakan hukum dari negara untuk mengatasi persoalan lingkungan….

Untuk membaca selengkapnya di : https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20180207111639-445-274476/melatih-relawan-lokal-cinta-pelestarian-alam

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Apa Salah dan Dosamu Orangutan?

baby kiss sweets. Foto dok. Tim Laman
Baby Kiss Sweets. Foto dok. Tim Laman

Engkau dipuja dan didera ini adanya nyata

Itu yang tersaji kala engkau  hidup dan menetap di habitatmu

Dipuja ketika dirimu disayang dan didera ketika dirimu terus terusik mendera

Letupan demi letupan senapan tak segan merampas hak hidupmu

Derai air matamu terlihat tak kuasa tercurah tumpah mengengok pongahnya dunia

Pahit getir mungkin atau memang ini yang dirasa sebab tak kuasa

Tak kuasa menahan ratusan peluru tak segan bersarang merengkuh hampir di seluruh tubuh,

hingga tak jarang meregang nyawa

berkata mengata,

apa dosamu kini ?

bertanya karena sebab,

sejauh mata memandang terlihat tiada ampun membabat habitat

tanpa ampun dan belas kasihan

memutus jalur alur keturunanmu

dipenjara, dipelihara dan tak jarang disiksa

memutus mata rantai peranmu sebagai penyebar biji, penjaga dan pemilihara tanam tumbuh di rimba raya

Realita tentu sebagai penanda

Kini, apa yang ditakut-takuti benar terjadi

Tajuk menjulang tinggi kini kian terkikis berganti tanam tumbuh baru,

gedung bertingkat pencakar langit

tengok korban di lubang-lubang pengganti,

lihat deru arus menerjang tak beraturan menghantam dan membawa kesegala arah

tanpa ada yang mengira kapan akan terjadi dan berlalu

cumbu belaian kasih kepadamu menanti disapa menyapa

inginku mengalahkan koar suara deru mesin yang tak jemu berisik saban waktu

tetapi mampukah?

Lagi-lagi dan lagi itu yang terjadi, tak bosan terus berulang

Rinai rintik tak lagi sanggup terserap tanah dan akar,

Tak sanggup menampung jua menopang tajuk-tajuk rimbun yang kian rebah karena lelah tak berdaya

Ingin menjalar namun terlanjur dikikis hingga menjelang habis

Rona nanar tak jarang berpadu mengadu,

Mencari, memilah, berkisah

Tentang dirimu yang dipuja juga didera

Tetapi apa dosamu sehingga engkau selalu didera menderita sampai merenggut nyawamu

Satwa endemik yang disematkan kepadamu dan sebutanmu sebagai spesies kunci apakah nanti bisa lestari hingga nanti atau tinggal cerita,

Hanya bertanya, apa dosamu orangutan?

Hanya itu.

 

Tulisan ini sebelumnya telah di muat di Kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a7bf9fecbe5232f000e4e82/puisi-apa-salah-dan-dosamu-orangutan

Ketapang, Kalbar 08 Februari 2018

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Video Keragaman Satwa di Gunung Palung

Banyak hal yang telah dilakukan oleh para peneliti saat mereka melakukan aktivitas penelitian di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Salah satunya keragaman satwa yang berhasil di dokumentasikan lewat video.

Terima kasih kepada Brodie Philp (Manager Penelitian OH) yang telah mendokumentasikan aktivitas satwa melalui video. Terima Kasih juga kepada Rizal Alqadrie yang telah menjahitnya (mengeditnya) menjadi film singkat. Selamat menyaksikandan semoga bermanfaat sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan.

Pit-Yayasan Palung