
Selain meneliti perilaku, aktivitas dan nutrisi orangutan, beberapa di antaranya meneliti pakan (makanan) orangutan dan beberapa penelitian lainnya terkait kelempiau, kelasi. Selain itu juga ada peneliti yang meneliti tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar peneliti berasal dari luar negeri seperti dari Harvard University, Boston University, Michigan University, (USA), Cambridge University (UK). Ada juga peneliti dari dalam negeri (Indonesia) termasuk asisten peneliti yang ikut membantu di Stasiun Penelitian Cabang Panti. Dari data yang ada, tercatat sebayak 91 orang dari Indonesia yang meneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti dan 83 orang peneliti dari luar negeri. Jika di total telah ada 174 peneliti yang meneliti di Kawasan TNGP, (data peneliti dari tahun 1986-2015, data Yayasan Palung (GPOCP) dan BTNGP).
Yang menarik, beberapa peneliti seperti Timothy Gordon Laman atau lebih dikenal dengan Tim Laman, dari Harvard University (USA) melakukan penelitian dengan rentang waktu penelitian (tahun 1987-1988). Campbell Owen Webb, dari Dartmouth College (UK) melakukan penelitian (1991-sekarang), Andrew John Marshall, dari Harvard University dan Michigan University (USA) melakukan penelitian dari (tahun 1996-sekarang). Selain itu ada juga Cheryl Denise Knott, dari Boston University (USA) melakukan penelitian dari tahun (1991-sekarang). Mereka masih rutin untuk selalu berkunjung dan masih aktif meneliti di kawasan TNGP, lebih tepatnya di Stasiun Riset Cabang Panti. Beberapa penelitian menarik mereka adalah meneliti perilaku, reproduksi dan nutrisi orangutan, seperti yang diteliti oleh Cheryl Knott. Tim Laman melakukan penelitian, pelatihan manajemen hutan; pertanian, kehutanan sebagai teknik konservasi, sedangkan Andrew John Marshall dan Campbell Owen Webb melakukan penelitian tumbuh-tumbuhan, ekologi dan perilaku orangutan.

Beberapa perilaku, reproduksi dan tingkat kecerdasan dari orangutan menjadi minat para peneliti. Mengingat, orangutan sebagai kera besar memiliki kemiripan 96,4 % dengan manusia. Orangutan betina juga mengalami datang bulan (menstruasi) dan mengandung 8,5 bulan- hingga ada yang 9bulan. Hal yang menarik lainnya dari Taman Nasional Gunung Palung, karena; di kawasan ini merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpaceae (jenis kayu meranti) yang terbaik dan terluas di Kalimantan. Taman Nasional Gunung Palung memiliki 7 tipe hutan tropis dan 9 tipe habitat secara keseluruhan. Sedangkan beberapa peneliti dari Indonesia yang melakukan penelitian sebagian besar adalah mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas seperti dari Universitas Tanjungpura, Universitas Nasional, Universitas Gadjah Mada dan beberapa universitas lainnya. Selain itu, ada juga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Adapun menurut data pada tahun 2001, jumlah populasi orangutan yang mendiami kawasan TNGP kurang lebih berjumlah 2.500 individu orangutan, data Yayasan Palung dan BTNGP. Belum ada data terbaru ataupun survei lagi untuk menghitung populasi di sana. Untuk menjangkau Stasiun Penelitian Cabang Panti, Kawasan TNGP diperlukan waktu 7-8 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Sedangkan jika menggunakan sampan bermesin bisa ditempuh dengan waktu 6-8 jam. Hingga saat ini, para peneliti masih melakukan penelitian mereka di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Para peneliti sangat terbantu karena adanya kerjasama yang baik dengan pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP). Berharap semoga saja mereka bisa memberikan kontribusi bagi dunia ilmu pengetahuan (science), selanjutnya juga semoga orangutan tetap ada, terjaga dan tidak punah. Semoga saja… (Pit-YP)

Banyak cara kreatif yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan sampah secara bijaksana menjadi barang bermanfaat, seperti yang dilakukan beberapa orang anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, di Kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center, Sukadana, KKU, Kalbar, Kamis (12/7/2018) kemarin.
Ya, Kelompok Bentangor Kids belajar sembari bermain, mereka berhasil membuat kreasi dengan cara mengolah sampah menjadi barang-barang bermanfaat tidak terkecuali seperti topi.
Terlihat, mereka sangat asyik menggunting dan mengukur, dan diantaranya juga ada yang menempel (merekatkan) lem pada bagian-bagian dan sisi-sisi kardus yang telah dirancang dengan berbagai bentuk topi, topi-topi hasil kreasi mereka yang telah dibuat selanjutnya dipercantik dengan ikatan pita agar terlihat menarik. Topi yang terbuat dari kardus pun selesai mereka kerjakan. Topi kardus, ya karena topi-topi yang mereka buat tersebut terbuat dari kardus.
Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, mereka rela meluangkan waktu dan tenaga untuk bersama-sama belajar sembari bermain sekaligus memanfaatkan sampah dari sisa-sisa kardus yang tidak terpakai lagi itu selanjutnya mereka olah menjadi topi yang bagus, menarik dan bisa dipakai/digunakan walau hanya terbuat dari kardus.

Dari hasil kreasi dan kreatif mereka (Bentangor Kids) terciptalah topi yang cantik dan menarik yang setidaknya bisa melindungi kepala dari teriknya mata hari ketika bermain.
Tidak disangka, sampah dari sisa-sisa rumah tangga ternyata bisa dimanfaatkan dan diolah dengan berbagai cara kreatif seperti ini, kata Simon Tampubolon, selaku pembimbing dan pembina anak-anak Bentangor Kids.
Lebih lanjut menurut Simon, dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan mengolah (mendaurnya) menjadi sesuatu yang bermanfaat, maka persoalan sampah lebih khusus sampah rumah tangga bisa diminimalisir dan sudah sepatutnya cara mereka seperti ini untuk diikuti sebagai langkah bersama peduli dengan persoalan sampah yang selama ini belum juga kunjung usai.
Mengingat, persoalan sampah yang ada saat ini memang memerlukan cara kreatif bagaimana untuk mengolahnya. Apa lagi persoalan hingga kini pun belum kunjung usai, ditambah lagi oleh prilaku oknum tertentu yang enggan dan empati tanpa peduli. Banyak diantara kita di Indonesia yang acuh-tak acuh dengan sampah, salah satunya membuang sampah sembarangan tanpa peduli dan tanpa melihat dampak atau pun peluang (manfaat) dari sampah itu apa sejatinya.
Saat mereka berkreasi membuat topi yang terbuat dari kardus, mereka didampingi oleh kakak-kakak mereka dari RebonK (relawan Yayasan Palung) dan dari Yayasan Palung.
Hal lainnya pula, persoalan sampah bisa dikatakan sudah menjadi tugas bersama siapa pun itu untuk saling bahu membahu mencari cara untuk kreatif dan bijaksana dengan persoalan.
Berharap, semoga ada lagi kreasi-kreasi lainnya yang bisa diciptakan oleh anak-anak ini salah satunya dengan cara sederhana dan kreatif seperti ini benar-benar bisa diikuti oleh siapa saja, dengan demikian secara tidak langsung pula peduli dengan lingkungan sekitar dan memilihara bumi setidaknya dengan cara-cara seperti ini.

Semoga saja cara-cara kreatif seperti yang dilakukan oleh anak-anak dari Kelompok Bentangor Kids ini bisa diikuti oleh yang lainnya seusianya.
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b4845e1cf01b45f610dbe33/ajari-cara-kreatif-kepada-anak-anak-untuk-memanfaatkan-sampah
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Judul di atas menjadi salah satu cara atau ajakan kepada masyarakat untuk melakukan sesuatu, salah satunya lewat pelatihan dasar budidaya ikan air tawar dan air payau yang dilakukan selama 3 hari (3-5/7/2018) kemarin, di Kantor Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center, KKU, Kalbar.
Yum Kite Budidaye Ikan merupakan bahasa lokal atau bahasa Melayu masyarakat di Kayong Utara yang kurang lebih artinya; Ayo Kita Budidaya Ikan. Ya, ajakan tersebut dilakukan oleh Yayasan Palung kepada masyarakat sebagai salah satu cara agar masyarakat (lebih khusus petani) mampu mencari cara pendapatan alternatif tanpa harus merusak hutan.

Seperti diketahui, penghasilan petani pasti dari hasil bertani (berladang dan berkebun sayur) dan pasti itu memerlukan lahan yang cukup banyak. Budidaya ikan air tawar dan air payau merupakan selain sebagai alternatif pendapatan masyarakat, juga sebagai langkah untuk mengurangi aktivitas masyarakat membuka lahan.
merupakan suatu cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat dengan biaya yang cukup murah. Mengapa dikatakan cukup murah, jika ingin memilihara ikan tidak mesti harus mengeluarkan banyak biaya, kolam yang bisa digunakan untuk budidaya ikan air tawar dan air payau adalah Kolam buatan, seperti kolam terpal dengan biaya terbatas atau pun kolam permanen seperti kolam tanah atau pun kolam semen jika mampu dengan biaya cukup besar.
Sedangkan untuk bibit, Petani akan di bantu oleh Yayasan Palung untuk menjebatani dan mendistribusikan bantuan bibit dari Dinas Perikanan dan Yayasan Palung sendiri akan memberikan bantuan bibit, ujar Abdul Samad , staf dari tim SL Yayasan Palung.
Lebih lanjut Samad, demikian ia disapa sehari-hari mengatakan; Dari dinas perikanan KKU akan membantu dan mensuport kepada petani budidaya ikan dalam hal kebutuhan yang diperlukan dalam budidaya ikan, dengan menggunakan proposal. Selanjutnya juga dinas perikananan akan membantu kapan saja kepada petani jika berkeinginan melakukan budidaya ikan memerlukan bantuan teknis dari dinas perikanan akan siap.
“Sedangkan dari dinas lingkungan hidup, akan membantu dan mendukung dari segi pengelolaan dalam dampak terhadap lingkungan seperti : uji Ph air dan tanah (menguji tingkat keasaman tanah).
Dalam pelatihan budidaya ikan tersebut hadir sebagai pemateri adalah Samson Tarigan dari Sumatra Utara. Pada kesempatan tersebut, peserta diberikan pelatihan bagaimana cara membudidayakan ikan yang baik.

Pada kesempatan tersebut pula, peserta pelatihan diajak untuk praktek budidaya ikan nila di kolam milik masyarakat yaitu pak Azhari dan ikan lele di kolam pak Jamhuri.
Peserta yang ikut hadir dalam pelatihan dasar budidaya air tawar dan air payau tersebut diikuti oleh 15 orang yang tediri dari masyarakat dari Desa Pampang, Desa Harapan Mulia dan desa pangkalan buton. Selain itu juga ada 2 orang peserta dari Dinas Perikanan Kab. Kayong Utara, dan 2 orang dari Dinas Lingkungan Hidup, KKU dan 5 orang dari Yayasan Palung.
“Pada pelatihan budidaya ikan air tawar dan air payau tersebut, mendapat respon yang sangat baik dari para peserta pelatihan, bahkan mereka berencana akan membuat kolam ikan”, ujar F. Wendi Tamariska selaku manager program Sustainable Livelihood (SL) Yayasan Palung sekaligus penggagas adanya pelatihan budidaya ikan tersebut.
Lebih lanjut menurut Wendi, demikian ia disapa sehari-hari mengatakan; Berharap, semakin banyak masyarakat yang berkeinginan untuk melakukan budidaya ikan air tawar. Mengingat, selain memiliki manfaat ekonomis (bisa dijual) juga bisa sebagai penambah gizi yang menyehatkan dan gratis. Selain juga dengan cara budidaya ikan air tawar seperti ini menjadi satu cara agar mengurangi aktifitas masyarakat di hutan (membuka) lahan, dengan adanya budidaya. Yum kite budidaye ikan!, masyarakat sejahtera dan hutan terjaga, tuturnya lagi.
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b4dc3beab12ae014425d2f5/yum-kite-budidaya-ikan-petani-sejahtera-hutan-terjaga
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Selama ini banyak yang menyatakan bunga bangkai itu sama dengan raflesia. Tidak sedikit pula dari kita yang menyangka bunga bangkai nama latinnya raflesia. Namun, tenyata keduanya sesungguhnya berbeda.
Tentu ini menjadi salah satu ke khawatiran jika kita salah menjelaskannya kepada orang lain terkait menyamakan dan salah penafsiran terkait bunga bangkai dan raflesia itu sama. Salah kaprah dan sudah pasti itu menjelaskan sesuatu menjadi salah kepada orang lain jika terus menerus tidak diluruskan. Karena hal tersebut sudah terjadi sejak lama. Ya, benar saja anggapan selama ini bahwa bunga bangkai itu sama raflesia, pada hal nyatanya keduanya sangat berbeda.
Lalu apa perbedaan bunga bangkai dan raflesia?
Dari nama saja berbeda, bunga raflesia nama latinya Rafflesia dan bunga bangkai nama latinnya Amorphpophallus titanium. Bunga raflesia terdiri dari beberapa jenis, demikian juga dengan bunga bangkai yang memiliki banyak jenis.
Bunga raflesia seperti di Bengkulu, Sumatera dengan nama latinnya Rafflesia arnoldii (status keberadaannya saat ini berdasarkan data IUCN adalah rentan/Vurnerable-VU). Ada pula Rafflesia magnifica(status IUCN menyebutkan keberadaannya sangat terancam punah/Critically Endangered- CR).
Sedangkang jenis bunga bangkai cukup banyak seperti; Amorphophallus gigas dan jenis lainnya adalah Amorphophallus moeleri dan Amorphophallus variabilis. Berdasarkan data IUCN memasukkan bunga bangkai dalam status rentan/Vurnerable-VU.
Bunga bangkai, sudah pasti menimbulkan (mengeluarkan) bau yang sangat busuk menusuk hidung. Bau yang ditimbulkan bunga raflesia dan bunga bangkai tersebut tidak lain sebagai cara bagi bunga untuk menarik minat serangga ketika bunga dalam proses penyerbukan.
Adapun habitat bunga bangkai umumnya merupakan tumbuhan khas dataran rendah yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis mulai dari kawasan Afrika barat hingga ke Kepulauan Pasifik, termasuk di Indonesia. Bunga Titan Arum dapat ditemukan pada habitat hutan tropis di Sumatera dan Kalimantan, khususnya pada ketinggian diantara 120 sampai 365 meter diatas permukaan laut, (data dari WWF).
Bunga Raflesia merupakan ikon Indonesia di Internasional (dalam Kompas travel), karena tananaman ini langka. Bunga raflesia termasuk tumbuhan parasit (tumbuhan yang menumpang pada tumbuhan lainnya).
Ciri-ciri fisik dari tumbuhan (raflesia dan bunga bangkai) juga berbeda. Perbedaan yang paling terlihat antara kedua bunga ini adalah bunga Rafflesia berwarna merah dan memiliki bentuk bunga melingkar dengan diameter mencapai 1 meter dan ketinggian 0,5 meter. Sedangkan bunga bangkai berwarna merah dan hijau dan memiliki ketinggian 4 meter dan diameter 1,5 meter, (Adi Pancoro, dalam catatan anak bertanya guru menjawab).
Ada pun cara berkembang biak, dalam satu tanaman bunga rafflesia memiliki dua jenis kelamin atau disebut bunga berumah dua. Sedangkan Amorphopallus itu ada yang berkelamin jantan, ada juga yang berkelamin betina, berbeda tumbuhan. Amorphophallus relatif lebih mudah dibiakkan dengan biji. Sebaliknya biji Rafflesia sulit didapat karena bunga jantan dan betina sukar didapati mekar bersamaan (sumber Kompas Travel).
Selain berbeda (bunga bangkai dan raflesia) ternyata raflesia juga unik. Uniknya bunga raflesia tidak memiliki akar, daun dan tangkai. Bunga Rafflesia hanya memiliki mahkota dan hanya bertahan selama satu minggu. Terlebih, tumbuhan ini pun tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis (Tirto).
Semoga saja kita tidak salah dan bisa membedakan mana bunga raflesia dan mana bunga bangkai (bisa membedakan), selain juga kita berharap agar tumbuhan ini bisa lestari hingga nanti, mengingat beragam ancaman yang ada saat ini seperti perluasan lahan yang semakin masif menjadi satu kekhawatiran saat ini. Dengan kata lain, apabila hutan terjaga dan masih tersisa maka tumbuhan bunga raflesia dan bunga bangkai bisa tumbuh dan lestari hingga selamanya.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b3f34355e13733c22010a93/bunga-bangkai-dan-raflesia-keduanya-sering-dianggap-sama-tetapi-sesungguhnya-berbeda
Sumber tulisan: Diolah dari berbagi sumber
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tidak bisa dielakkan, tatanan kehidupan masyarakat dunia dan lebih khusus Indonesia setiap harinya selalu akrab dengan kantong dan sedotan plastik. Akan tetapi, ternyata kantong plastik dan sedotan plastik sesungguhnya berbahaya bagi tatanan kehidupan pula.
Setiap kali beberbelanja ke mana pun itu namanya seperti di toko, pasar, mall dan tempat di mana dilakukan transaksi jual beli hampir dipastikan kantong plastik selalu ada. Demikian juga dengan sedotan plastik yang selalu hadir ketika kita makan dan minum. Ketika minum es yang disajikan di dalam gelas hampir pasti sedotan plastik pun ada.
Ternyata semakin banyak penggunaan kantong plastik dan sedotan plastik sedikit banyak berdampak (memiliki dampak) kepada tatanan kedidupan baik secara langsung atau pun tak langsung.
Dari data dari Eco Watch menyebutkan; manusia di dunia menggunakan (mengkonsumsi) 5 milyar kantong plastik/tahun atau 1 juta kantong plstik/menit.
Apa sesungguhnya bahaya kantong plastik dan sedotan plastik?
Bahaya kantong plastik
Pertama, semakin banyak kantong plastik yang kita gunakan maka akan berdampak pada munculnya persoalan baru yaitu sampah plastik. Sampah plastik yang dimaksud apabila sudah menumpuk maka akan menciptakan sumber penyakit. Hampir dipastikan sampah-sampah plastik bekas yang (ter/di) buang tersebut akan dikerumuni oleh lalat. Seperti diketahui, pada tubuh lalat lebih khusus lengan dan tungkai (ekstremitas pada lalat/Drosopila) memiliki banyak bakteri yang bisa menyebabkan/menularkan kuman penyakit seperti sakit perut dan diare ketika dia hinggap pada tubuh manusia.
Kedua, kantong plastik dari sisa-sisa pemakaian baik yang (di/ter) buang ke tanah atau pun ke sungai atau juga ke lautan sangat berdampak kepada makhluk hidup (hewan) yang mendiami wilayah darat, sungai dan lautan sebut saja seperti burung bisa saja tak sengaja memakan plastik yang mereka kira adalah makanan mereka. sama halnya dengan ikan, penyu bisa saja memakan plastik yang dibuang oleh tangan-tangan tidak kelihatan. Atau apabila mereka tidak sengaja memakan plastik, bisa saja mereka terperangkap kantong plastik yang (di/ter)buang tersebut.
Ketiga, pembuatan kantong plastik dan sampah plastik sangat berbahaya karena bisa memicu peningkatan suhu bumi atau pun boleh dikata juga sebagai pemicu perubahan iklim.
Keempat, penggunaan kantong plastik untuk wadah makanan sedikit banyak bisa mempengaruhi kesehatan manusia karena zat pewarna dari kantong plastik bisa menyerap pada makanan.
Kelima, sampah plastik yang menumpuk di tanah akan terurai sangat lama karena membutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun. Selain juga sampah plastik dapat mempengaruhi tanaman yang ada di sekitar (menghambat/menghalangi/membunuh pertumbuhan tanaman) karena tanaman tidak bisa tumbuh maksimal.
Bahaya Sedotan Plastik
Dikatakan dalam banyak sumber mejelaskan bahaya terkait sedotan plastik yang menyebutkan minum menggunakan sedotan dapat menyebabkan keriput di sekitar mulut. Keriput dapat terjadi ketika kita mengerutkan bibir saat meminum dari sedotan plastik secara terus menerus (rutin) setiap harinya.
Sedangkan sedotan plastik tidak kalah berbahayanya dengan kantong plastik. Eco Watch menyebutkan setidaknya ada 500 juta sedotan plastik/hari dibuang oleh masyarakat dunia setelah 1 kali pakai. Hal lainnya juga terkait sampah plastik 50 % sampah plastik hanya digunakan satu kali pakai lalu dibuang. Terdapat 80 % sampah lautan berasal dari daratan.
Tidak semua sampah plastik bisa diatasi alias tidak bisa semua terangkut dan hampir pasti menumpuk. Dikhawatirkan pula sampah sedotan plastik dapat mencemari lautan dan berpengaruh juga kepada hewan laut seperti ikan dan penyu yang terkadang menyangka sedotan plastik seperti makanan sehingga hal tersebut pun dapst menjadi ancaman akan keberlangsungan hidup mereka (hewan di laut) bisa saja mereka mati karena sampah plastik.
Hal lainnya sedotan plastik dapat menyebabkan perut kembung karena saat kita minum air lewat sedotan plastik maka kita menelan udara lebih banyak dari biasanya sehingga menyebabkan kembung dan rasa tak nyaman akibat gas dari udara yang masuk lewat sedotan.
Persoalan terkait dampak sampah plastik dan sedotan plastik setidaknya saat ini menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan dan menakutkan saat ini jika tidak cepat ditanggulangi. Mengingat, Pemakaian sedotan plastik di Indonesia diperkirakan setiap harinya bisa mencapai 93 juta batang sedotan, sampah sedotan plastik tersebut berasal dari restoran, minuman kemasan dan sumber lainnya (packed straw).
Mengatasi persoalan sampah bagi masyarakat dunia menjadi salah satu target yang harus dilakukan. Negara-negara maju seperti di Inggris memberlakukan larangan penggunaan plastik. Bahkan di negara China baru-baru ini memberlakukan berhenti untuk membeli barang-barang dari bahan plastik yang berasal dari negara-negara berkembang.
Ada cara sederhana sebetulnya untuk mengatasi persoalan sampah plastik selain dengan cara daur ulang, salah satunya adalah diet kantong plastik saat berbelanja. Mulailah dari diri kita saat berbelanja ke pasar agar membiasakan menggunakan tas belanja dengan demikian penggunaan kantong plastik dapat dikurangi. Hal yang sama juga bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik dan membiasakan diri untuk mengurangi/berhenti membeli air minum kemasan botol dengan cara membawa wadah dan air minum dari rumah.
Membuat peraturan larangan penggunaan kantong dan sedotan yang berasal dari plastik, atau pun membatasi penggunaan kantong plastik dengan cara sososialisasi yang harus dimulai dari lingkup rumah tangga, sekolah dan masyarakat menjadi salah satu tawaran untuk solusi mengatasi persoalan sampah plastik.
Berharap pula agar kita bisa memulai dari diri sendiri untuk bijaksana dan peduli dengan persoalan sampah lebih khusus sampah-sampah yang berasal dari bahan plastik. Stop membuang sampah plastik!!!… Stop menggunakan sedotan plastik!!!… Ayo Peduli dengan sampah!!!… Apabila kita bisa memulai untuk peduli dengan sampah dengan cara-cara sederhana maka kita ikut berkontribusi memilihara dan menjaga kesehatan bumi.
Sumber tulisan : Diolah dari berbagai sumber
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b3db83c5e1373761931cca2/ini-bahaya-kantong-dan-sedotan-plastik-bagi-kehidupan
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ada cara efektif untuk mengurangi biaya belanja. Salah satunya dengan membuat racun rumput dengan campuran air kelapa dan bahan lainnya.
Cara ini dilakukan oleh Asbandi dari tim SL Yayasan Palung , ia bersama Wawan Angriandi yang juga dari Yayasan Palung membuat racun rumput dengan mencampurkan air kelapa dan ragi dan dipermentasikan minimal dua minggu (semakin lama lebih baik).
Berikut bahan-bahan untuk membuat racun rumput :
Semua bahan-bahan tersebut dicampur dan diaduk pada suatu wadah atau tempat hingga merata. Selanjutnya, racun rumput ditutup rapat (dipermentasikan). Setelah 2 minggu racun rumput dengan campuran air kelapa siap untuk dipakai.
Cara penggunaan racun rumput :
Racun tumput tersebut dapat digunakan untuk membasmi rumput, kita terlebih dahulu menakar/mencampurkan 3 gelas racun (tiga gelas/tiga cangkir/tiga cawan) dengan air untuk 1 tangki penyemprot.
Untuk takaran 1 liter indukan racun rumput dapat digunakan pada lahan 1 hektar sawah yang telah dibuka (sawah jadi).
Pit-Yayasan Palung

Banyak cara dan kreasi anak-anak belajar sembari bermain, salah satunya membuat kerajinan tangan (making craft) dari bahan Tali Kur, Kamis (28/6/2018) di saung Kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center, KKU, Kalbar.
Setidaknya ada 9 orang anak yang tergabung dalam Bentangor Kids ikut serta dalam pembuatan kerajinan tangan dari bahan tali kur tersebut.
Pada kesempatan tersebut anak-anak yang memerlukan waktu 2 jam mereka dan berhasil membuat 12 gelang yang anak-anak anyam dan dijadikan gelang tangan.
Anak-anak terlihat antusias mebuat tali kur yang dianyam dan dijadikan gelang tangan.

Anak-anak dalam proses pembuatan kerajinan didampingi oleh Simon Tampubolon dari Yayasan Palung.
Berharap anak-anak semakin berkembang untuk berkreasi belajar sembari bermain. Minggu sebelumnya, mereka belajar tentang bahasa Inggris belajar Self indoduction (perkenalan diri).
Pit-Yayasan Palung

Melihat, tetapi juga merasakan tajuk-tajuk pepohonan yang mulai menghilang, setidaknya itu yang kualami dan kulalui ketika melewati sepajang jalan mudik menuju kampung halaman untuk mengisi hari libur panjang di bulan Juni yang juga bertepatan dengan hari libur Idul Fitri, kemarin.
Tajuk-tajuk yang dimaksud tak lain adalah rebahnya pepohonan yang semakin sulit dan kalah bersaing untuk berdiri kokoh. Sama halnya dengan batu daya yang sudah semakin terhimpit tak berdaya. Hal ini mengingatkanku kepada World Rainforest Day (hari hutan hujan dunia) yang diperingati pada 22 Juni, besok.
Alasannya tak lain, seluas mata memandang ketika melewati jalur alternatif (jalan perusahaan) begitu tampak terlihat tajuk-tajuk pepohonan semakin rebah tak berdaya kalah bersaing dengan tanaman pengganti yang bukan tanaman asli. Sedih, itu rasa yang kurasakan. Namun, sedih itu tak bertepi, apa mungkin hutan-hutan itu bisa kembali tumbuh menjulang tinggi?. Entahlah… hanya bisa berharap, hutan-hutan masih bisa nantinya menjulang tinggi untuk berjuta-juta kehidupan boleh berlanjut hingga nanti.
Pemandangan yang kontras dan ironi, itu sebagai penanda tanda. Iya, kontras dan ironinya di sekitar area tajuk-tajuk pepohonan yang rebah tak berdaya itu ada pemandangan yang sangat menarik yaitu Batu Daya. Dibalik keindahannya tetapi juga ancaman nyata mulai nyata terlihat. Ancaman apa itu?. Satu yang pasti, balutan batu yang dulunya berpadu indah dengan berdiri kokohnya tajuk-tajuk pepohonan kini sudah semakin sempit terhimpit.
Andai kata hutan-hutan (tajuk-tajuk pepohonan) itu menghilang bagaimana nasib-nasib ragam kehidupan lain tidak terkecuali manusia, tumbuhan dan hewan (satwa/primata) yang berada di wilayah tersebut. Seperti di ketahui, Batu Daya, letaknya di Kec. Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalbar.
Batu Daya, sedikit memikat dengan panoramanya sebagai para penikmat keindahan, namun sudah sedikit dirusak keindahannya dan keutuhannya, bukan tak mungkin batu yang berdiri kokok itu semakin tegak berdirinya. Apabila boleh dikata, Batu Daya yang sudah kehilangan daya. Andai kata hutan terkikis habis, tak sedikit dampak yang mengancam. Dampak kekeringan mungkin itu yang pasti terjadi ketika hutan tak bersisa, banjir juga mungkin akan menghampiri bila tajuk-tajuk itu jikalau nantinya tinggal cerita.
Bukan tidak mungkin primata seperti orangutan, kelempiau dan kelasi akan terkena pula imbasnya. Demikian juga nasib enggang dan satwa lainnya. hal yang sama pula pasti terjadi pada tumbuhan atau pun tanaman endemik yang ada di wilayah tersebut.
Satu harapan agar hutan hujan boleh berlanjut dengan syarat ada perhatian dari semuanya secara bersama pula. Perhatian sederhana dari hal-hal kecil dan kepedulian mungkin sebagai satu cara seperti penanaman dan aturan tata kelola yang berkelanjutan. Serta hal yang terpenting lainnya adalah tidak membuka lahan baru lagi di kawasan itu.
Apabila hal tersebut bisa dilakukan maka hutan hujan tropis yang juga letaknya tak jauh dari Taman Nasional Gunung Palung tersebut sebagai penyangga yang kiranya juga sayang rasanya jika hilang tak bersisa di kemudian hari.
Banyak contoh yang terjadi ketika hutan hujan tak lagi bersisa, banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran sudah menunjuk taringnya serta kita terkena imbasnya.
Mengingat, hutan hujan memiliki fungsi yang tak terkira bagi tatanan kehidupan semua makhluk hingga kapanpun. Nafas hidup semua makhluk hidup tergantung kepada keadaan hutan hujan tropis saat ini. Tidak terbayangkan apabila tatanan kehidupan tanpa hutan hujan apakah bisa berlanjut atau tidak. Semoga ada asa untuk menyelamatkan hutan hujan yang semakin terhimpit dan sempit ini agar nafas bisa berlanjut.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b2b3175ab12ae20a855af22/melihat-hutan-hujan-sebagai-nafas-yang-mulai-menghilang-dan-tak-berdaya
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Bermain sembari belajar atau sebaliknya, itulah mereka Kelompok Bentangor Kids. Mereka pun bisa belajar bersama dengan sesama mereka, atau terkadang belajar dengan kakak-kakak dari Yayasan Palung.
Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, biasanyas selepas mereka pulang sekolah manfaatkan waktu luang untuk berkunjung ke Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center di Desa Pampang Harapan, KKU, Kalbar.
Mereka biasanya bermain, belajar dan membaca buku. Kebetulan di Bentangor ada perpustakaan mini, beberapa buku memang diperuntukan bagi anak-anak. Seperti misalnya buku-buku cerita daerah, buku tentang lingkungan, hewan dan alam serta buku-buku tentang satwa. Tak jarang, selain mereka berkunjung untuk bermain mereka juga belajar. Mereka juga belajar bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan matematika.
Mereka (Kelompok Bentangor Kids) secara resmi dibentuk pada hari Selasa (29/5/2018) kemarin, walaupun sesungguhnya aktivitas mereka sudah ada sejak beberapa tahun silam.
Pada kesempatan kemarin, Yayasan Palung akan memberikan materi-materi konservasi lingkungan, kerajinan tangan, permainan tradisional, outbound dan aktivitas-aktivitas lainnya yang bisa membangun karakter anak.
Adapun tujuan dari BukBer tersebut sebagai sarana silaturahmi dan sosialisasi tentang pusat Pendidikan Lingkungan “Bentangor” Yayasan Palung.
Inisiatif untuk memberikan nama Bentangor Kids adalah teman-teman kantor Yayasan Palung. Bentangor merupakan kepanjangan yang memiliki arti; Belajar tentang orangutan. Kelompok Bentangor Kids merupakan anak-anak yang berdomisili di sekitar Pusat Pendidikan Lingkungan “Bentangor” Yayasan Palung mengetahui program Yayasan Palung dan mengenal staf Yayasan Palung.
Bentangor Kids merupakan anak-anak yang berusia 8-12 tahun (anak-anak seusia Sekolah Dasar dan mereka masih aktif sekolah). Sebagai bagian dari peningkatan kapasitas masyarakat yang berdiam di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Palung bekerjasama dengan Relawan Konservasi RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) berencana menjalankan Program Bentangor Kids.
Sebagai pendamping mereka (Kelompok Bentangor Kids) didampingi oleh Kakak-kakak dari Yayasan Palung seperti Simon Tampubolon, Hendri Gunawan dan Wawan Anggriandi selain juga ada kakak-kakak dari Relawan RebonK.
Berharap, Kelompok Bentangor Kids bisa belajar dan mendapat ilmu pengetahuan agar mereka pun memiliki peningkatan kapasitas untuk semakin mencintai lingkungan, alam di sekitar mereka.
Baca juga :Asyiknya Bisa Buka bersama Anak-anak Kelompok Belajar Bentangor Kids
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Memiliki banyak manfaat bagi kehidupan tetapi ada juga yang bisa merenggut kehidupan. Tidak bisa dielakkan, tidak sedikit makhluk hidup terbantu dan bisa bertahan hidup karena tumbuhan ini. Lalu pertanyaannya, tumbuhan apakah itu?
Kebanyakan orang menyebutnya kayu ara, atau nama ilmiahnya disebut Ficus spp., disebut fig trees atau figs dalam bahasa Inggris. Di Indonesia banyak sekali penamaan untuk pohon ini. Selain kayu ara, ada yang menyebutnya pohon beringin, kayu are atau keraye di Kalimantan Barat, lebih khusus di Tanah Kayong (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara).
Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat bagi kehidupan mulai dari akar-akarnya bisa menampung air untuk mahluk hidup, hingga buahnya sebagai sumber pakan bagi burung enggang maupun jenis burung-burung kecil lainnya. Monyet dan orangutan juga gemar menyantap buahnya….
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b029c05f13344379c7b1b02/pohon-ini-memiliki-manfaat-tak-terkira-untuk-kehidupan-tetapi-ada-juga-yang-membunuh
Petrus Kanisius- Yayasan Palung